Anda di halaman 1dari 14

INTERFERENSI DAN INTEGRASI

Bahasa selalu mengalami perkembangan dan perubahan. Perkembangan dan


perubahan itu terjadi karena adanya perubahan sosial, ekonomi, dan budaya.
Perkembangan bahasa yang cukup pesat terjadi pada bidang ilmu pengetahuan dan
teknologi. Kontak pada bidang politik, ekonomi, ilmu pengetahuan, dan lainnya
dapat menyebabkan suatu bahasa terpengaruh oleh bahasa yang lain. Proses saling
memengaruhi antara bahasa yang satu dengan bahasa yang lain tidak dapat
dihindarkan. Bahasa sebagai bagian integral kebudayaan tidak dapat lepas dari
masalah di atas. Saling memengaruhi antarbahasa pasti terjadi, misalnya kosakata
bahasa yang bersangkutan, mengingat kosakata itu memiliki sifat terbuka.
Menurut Weinrich (dalam Chaer dan Agustina 1995:159) kontak bahasa merupakan
peristiwa pemakaian dua bahasa oleh penutur yang sama secara bergantian. Dari
kontak bahasa itu terjadi transfer atau pemindahan unsur bahasa yang satu ke dalam
bahasa yang lain yang mencakup semua tataran. Sebagai konsekuensinya, proses
pinjam meminjam dan saling mempengaruhi terhadap unsur bahasa yang lain tidak
dapat dihindari. Suwito (1985:39-40) mengatakan bahwa apabila dua bahasa atau
lebih digunakan secara bergantian oleh penutur yang sama, dapat dikatakan bahwa
bahasa tesebut dalam keadaan saling kontak. Dalam setiap kontak bahasa terjadi
proses saling mempengaruhi antara bahasa satu dengan bahasa yang lain. Sebagai
akibatnya, interferensi akan muncul, baik secara lisan maupun tertulis.
Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis mengajukan beberapa rumusan
masalah, yaitu: (1) apakah yang dimaksud dengan interferensi dalam kajian bahasa?,
(2) apakah yang dimaksud dengan integrasi dalam kajian bahasa?, dan (3)
bagaimana kaitan antara interferensi dan integrasi dalam pembelajaran bahasa?
PEMBAHASAN

Interferensi
Istilah interferensi kali pertama digunakan oleh Weinreich (1953) untuk menyebut
adanya perubahan sistem suatu bahasa sehubungan dengan adanya persentuhan
bahasa tersebut dengan unsur-unsur bahasa lain yang dilakukan oleh penutur
bilingual. Weinreich menganggap bahwa interferensi sebagai gejala penyimpangan
dari norma-norma kebahasaan yang terjadi pada penggunaan bahasa seorang
penutur sebagai akibat pengenalannya terhadap lebih dari satu bahasa, yakni akibat
kontak bahasa. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, dan ditegaskan pula dalam
handout Sosiolinguistik, Jurnal Universitas Pendidikan Indonesia, interferensi ialah
masuknya unsur suatu bahasa ke dalam bahasa lain yang mengakibatkan
pelanggaran kaidah bahasa yang dimasukinya baik pelanggaran kaidah fonologis,
gramatikal, leksikal maupun semantis. Ada dua faktor yang menyebabkan terjadinya
interferensi yang pertama ialah faktor kontak bahasa disini bahasa-bahasa yang
digunakan dalam masyarakat itu saling berhubungan sehingga perlu digunakan alat
pengungkap gagasan. Faktor tersebut menyebabkan terdapat interferensi
performansi atau interferensi sistemis. Yang kedua ialah faktor kemampuan
berbahasa yang akan mengakibatkan interferensi belajar muncul. Jika kita melihat
dari segi unsur bahasa yang dikuasai terdapat interferensi progesif (interferensi
terjadi dalam bentuk masuknya unsur bahasa yang sudah dikuasai ke bahasa yang
dikuasai sebelumnya) dan interferensi regresif (masuknya unsur bahasa yang
dikuasai kemudian ke bahasa yang sudah dikuasai).
Dari contoh di atas terjadi interferensi bahasa Bali ke dalam bahasa Indonesia, yaitu
digunakannya akhiran ne dalam bahasa Bali yang berubah menjadi nya dalam
bahasa Indonesia.
Hartman dan Stork (1972:15) tidak menyebut interferensi sebagai pengacauan
atau kekacauan, melainkan kekeliruan yang terjadi sebagai akibat terbawanya
kebiasaan-kebiasaan ujaran bahasa ibu atau dialek ke dalam bahasa kedua (Jurnal
Humaniora karya Ratrika Dewi, tahun 2012). Faktor utama yang dapat
menyebabkan interferensi itu antara lain adalah adanya perbedaan di antara bahasa
sumber dan bahasa sasaran. Perbedaan yang tidak saja dalam struktur bahasa
melainkan juga keragaman kosakatanya. Gejala itu sendiri terjadi sebagai akibat
pengenalan atau pengidentifikasian penutur terhadap unsur-unsur tertentu dari
bahasa sumber, kemudian memakainya dalam bahasa sasaran.
Jenis Interferensi
Interferensi bunyi/Fonetik
Interferensi terjadi bila penutur itu mengidentifikasi fonem sistem bahasa pertama
(bahasa sumber atau bahasa yang sangat kuat memengaruhi seorang penutur) dan
kemudian memakainya dalam sistem bahasa kedua (bahasa sasaran). Dalam
mengucapkan kembali bunyi itu, dia menyesuaikan pengucapannya dengan aturan
fonetik bahasa pertama. Penutur dari jawa selalu menambahkan bunyi nasal yang
homorgan di muka kata-kata yang dimulai dengan konsonan /b/, /d/, /g/, dan /j/,
misalnya pada kata:/mBandung/, /mBali/, /nDaging/, /nDepok/, /ngGombong/,
/nyJambi/ dalam pengucapan kata-kata tersebut telah terjadi interferensi tata bunyi
bahasa Jawa dalam bahasa Indonesia.
Interferensi Tatabahasa/Morfologi
Terjadi apabila seorang penutur mengidentifikasi morfem atau tata bahasa pertama
dan kemudian menggunakannya dalam bahasa kedua. Interferensi tata bentuk kata
atau morfologi terjadi bila dalam pembentukan kata-kata bahasa pertama penutur
menggunakan atau menyerap awalan atau akhiran bahasa kedua. Misalnya awalan
ke- dalam kata ketabrak, seharusnya tertabrak, kejebak seharusnya terjebak,
kekecilan seharusnya terlalu kecil. Dalam bahasa Arab ada sufiks -wi dan -ni untuk
membentuk adjektif seperti dalam kata-kata manusiawi, inderawi, dan gerejani. Tipe
lain interferensi ini adalah interferensi struktur. Yaitu pemakaian struktur bahasa
pertama dalam bahasa kedua. Misalnya kalimat dalam bahasa Inggris, I and my
friend tell that story to my father sebagai hasil terjemahan dari saya dan teman saya
menceritakan cerita itu kepada ayah saya. Dalam kalimat bahasa Inggris tersebut
tampak penggunaan struktur bahasa dalam bahasa Indonesia. Padahal terjemahan
yang baik tersebut sebenarnya adalah My friend and i tell that story to my father.
Interferensi Kosakata/Sintaksis
Interferensi ini terjadi karena pemindahan morfem atau kata bahasa pertama ke
dalam pemakaian bahasa kedua. Bisa juga terjadi perluasan pemakaian kata bahasa
pertama, yakni memperluas makna kata yang sudah ada sehingga kata dasar
tersebut memperoleh kata baru atau bahkan gabungan dari kedua kemungkinan di
atas. Misalnya, Rumahnya ayahnya Ali yang besar sendiri di kampung itu, atau
Makanan itu telah dimakan oleh saya, atau Hal itu saya telah katakan kepadamu
kemarin. Bentuk tersebut merupakan bentuk interferensi karena sebenarnya ada
padanan bentuk tersebut yang dianggap lebih gramatikal yaitu: Rumah ayah Ali
yang besar di kampung ini, Makanan itu telah saya makan, dan Hal itu telah saya
katakan kepadamu kemarin.
Interferensi Tatamakna/Semantik
Interferensi dalam tata makna dapat dibagi menjadi tiga bagian.
Interferensi perluasan makna atau expansive interference, yakni peristiwa
penyerapan unsur-unsur kosakata ke dalam bahasa lainnya. Misalnya konsep kata
Distanz yang berasal dari kosakata bahasa Inggris distance menjadi kosakata bahasa
Jerman. Atau kata democration menjadi Demokration dan demokrasi.
Interferensi penambahan makna atau additive interference, yakni penambahan
kosakata baru dengan makna yang agak khusus meskipun kosakata lama masih tetap
dipergunakan dan masih mempunyai makna lengkap. Misalnya kata Father dalam
bahasa Inggris atau Vater dalam bahasa Jerman menjadi Vati. Pada usaha-usaha
menghaluskan makna juga terjadi interferensi, misalnya: penghalusan kata
gelandangan menjadi tunawisma dan tahanan menjadi narapidana.
Interferensi penggantian makna atau replasive interference, yakni interferensi yang
terjadi karena penggantian kosakata yang disebabkan adanya perubahan makna
seperti kata saya yang berasal dari bahasa melayu sahaya.
Bahasa yang mempunyai latar belakang sosial budaya, pemakaian yang luas dan
mempunyai kosakata yang sangat banyak, akan banyak memberi kontribusi kosakata
kepada bahsa-bahasa yang berkembang dan mempunyai kontak dengan bahasa
tersebut. Dalam proses ini bahasa yang memberi atau memengaruhi disebut bahasa
sumber atau bahasa donor, dan bahasa yang menerima disebut bahasa penyerap
atau bahas resepien, sedangkan unsur yang diberikan disebut unsur serapan atau
inportasi. Menurut Soewito (1983:59) interferensi dalam bahasa indonesia dan
bahasa-bahasa nusantara berlaku bolak balik, artinya, unsur bahasa daerah bisa
memasuki bahasa indonesia dan bahasa indonesia banyak memasuki bahasa daerah.
Tetapi dengan bahasa asing, bahasa indonesia hanya menjadi penerima dan tidak
pernah menjadi pemberi.Sekurang- kurangnya ada tiga unsur penting yang
mengambil peranan dalam terjadinya proses interferensi yaitu:
Bahasa sumber (source language) atau biasa dikenal dengan sebutan bahasa
donor. Bahasa donor adalah bahasa yang dominan dalam suatu masyarakat bahasa
sehingga unsur-unsur bahasa itu kerapkali dipinjam untuk kepentingan komunikasi
antar warga masyarakat.
Bahasa sasaran atau bahasa penyerap (recipient). Bahasa penyerap adalah bahasa
yang menerima unsur- unsur asing itu dan kemudian menyelaraskan kaidah- kaidah
pelafalan dan penulisannya ke dalam bahsa penerima tersebut.
Unsur serapannya atau importasi (importation). Hal yang dimaksud di sini
adalah beralihnya unsur- unsur dari bahasa asing menjadi bahasa penerima.
Secara umum, Ardiana (dalam Interferensi dan Integrasi Bahasa, 1940:14) membagi
interferensi menjadi lima macam, yaitu
(1) Interferensi kultural dapat tercermin melalui bahasa yang digunakan oleh
dwibahasawan. Dalam tuturan dwibahasawan tersebut muncul unsur-unsur asing
sebagai akibat usaha penutur untuk menyatakan fenomena atau pengalaman baru.
(2) Interferensi semantik adalah interferensi yang terjadi dalam penggunaan kata
yang mempunyai variabel dalam suatu bahasa.
(3) Interferensi leksikal, harus dibedakan dengan kata pinjaman. Kata pinjaman
atau integrasi telah menyatu dengan bahasa kedua, sedangkan interferensi belum
dapat diterima sebagai bagian bahasa kedua. Masuknya unsur leksikal bahasa
pertama atau bahasa asing ke dalam bahasa kedua itu bersifat mengganggu.
(4) Interferensi fonologis mencakup intonasi, irama penjedaan dan artikulasi.
(5) Interferensi gramatikal meliputi interferensi morfologis, fraseologis dan
sintaksis.
Interferensi menurut Jendra (1991:106-114) dapat dilihat dari berbagai sudut
sehingga akan menimbulkan berbagai macam interferensi antara lain:
(1) Interferensi ditinjau dari asal unsur serapan
Kontak bahasa bisa terjadi antara bahasa yang masih dalam satu kerabat maupun
bahasa yang tidak satu kerabat. Interferensi antarbahasa sekeluarga disebut dengan
penyusupan sekeluarga (internal interference) misalnya interferensi bahasa
Indonesia dengan bahasa Jawa. Sedangkan interferensi antarbahasa yang tidak
sekeluarga disebut penyusupan bukan sekeluarga (external interference) misalnya
bahasa interferensi bahasa Inggris dengan bahasa Indonesia.
(2) Interferensi ditinjau dari arah unsur serapan
Komponen interferensi terdiri atas tiga unsur yaitu bahasa sumber, bahasa
penyerap, dan bahasa penerima. Setiap bahasa akan sangat mungkin untuk menjadi
bahasa sumber maupun bahasa penerima. Interferensi yang timbal balik seperti itu
kita sebut dengan interferensi produktif. Di samping itu, ada pula bahasa yang hanya
berkedudukan sebagai bahasa sumber terhadap bahasa lain atau interferensi
sepihak. Interferensi yang seperti ini disebut interferensi reseptif.
(3) Interferensi ditinjau dari segi pelaku
Interferensi ditinjau dari segi pelakunya bersifat perorangan dan dianggap sebagai
gejala penyimpangan dalam kehidupan bahasa karena unsur serapan itu
sesungguhnya telah ada dalam bahasa penerima. Interferensi produktif atau reseptif
pada pelaku bahasa perorangan disebut interferensi perlakuan atau performance
interference. Interferensi perlakuan pada awal orang belajar bahasa asing disebut
interferensi perkembangan atau interferensi belajar.
(4) Interferensi ditinjau dari segi bidang.
Pengaruh interferensi terhadap bahasa penarima bisa merasuk ke dalam secara
intensif dan bisa pula hanya di permukaan yang tidak menyebabkan sistem bahasa
penerima terpengaruh. Bila interferensi itu sampai menimbulkan perubahan dalan
sistem bahasa penerima disebut interferensi sistemik. Interferensi dapat terjadi pada
berbagai aspek kebahasaan antara lain, pada sistem tata bunyi (fonologi), tata
bentukan kata (morfologi), tata kalimat (sintaksis), kosakata (leksikon), dan bisa
pula menyusup pada bidang tata makna (semantik).
Dennes dkk. (1994:17) yang mengacu pada pendapat Weinrich mengidentifikasi
interferensi atas empat, yang masing-masing dijelaskan sebagai berikut.
(1)Peminjaman unsur suatu bahasa ke dalam tuturan bahasa lain dan dalam
peminjaman itu ada aspek tertentu yang ditransfer. Hubungan antar bahasa yang
unsur-unsurnya dipinjam disebut bahasa sumber, sedangkan bahasa penerima
disebut bahasa peminjam.
(2)Penggantian unsur suatu bahasa dengan padanannya ke dalam suatu tuturan
bahasa yang lain. Dalam penggantian itu ada aspek dari suatu bahasa disalin ke
dalam bahasa lain yang disebut substitusi.
(3)Penerapan hubungan ketatabahasaan bahasa A ke dalam morfem bahasa B juga
dalam kaitan tuturan bahasa B., atau pengingkaran hubungan ketatabahasaan
bahasa B yang tidak ada modelnya dalam bahasa A.
(4)Perubahan fungsi morfem melalui jati diri antara suatu morfem bahasa B tertentu
dengan morfem bahasa A tertentu, yang menimbulkan perubahan fungsi morfem
bahasa B berdasarkan satu model tata bahasa A
Faktor Penyebab Terjadinya Interferensi
Selain kontak bahasa, menurut Weinrich (1970:64-65) ada beberapa faktor yang
menyebabkan terjadinya interferensi, antara lain:
(1)Kedwibahasaan peserta tutur
Kedwibahasaan peserta tutur merupakan pangkal terjadinya interferensi dan
berbagai pengaruh lain dari bahasa sumber, baik dari bahasa daerah maupun bahasa
asing. Hal itu disebabkan terjadinya kontak bahasa dalam diri penutur yang
dwibahasawan, yang pada akhirnya dapat menimbulkan interferensi.
2)Tipisnya kesetiaan pemakai bahasa penerima
Tipisnya kesetiaan dwibahasawan terhadap bahasa penerima cenderung akan
menimbulkan sikap kurang positif. Hal itu menyebabkan pengabaian kaidah bahasa
penerima yang digunakan dan pengambilan unsur-unsur bahasa sumber yang
dikuasai penutur secara tidak terkontrol. Sebagai akibatnya akan muncul bentuk
interferensi dalam bahasa penerima yang sedang digunakan oleh penutur, baik
secara lisan maupun tertulis.
3)Tidak cukupnya kosakata bahasa penerima
Perbendaharaan kata suatu bahasa pada umumnya hanya terbatas pada
pengungkapan berbagai segi kehidupan yang terdapat di dalam masyarakat yang
bersangkutan, serta segi kehidupan lain yang dikenalnya. Oleh karena itu, jika
masyarakat itu bergaul dengan segi kehidupan baru dari luar, akan bertemu dan
mengenal konsep baru yang dipandang perlu. Karena mereka belum mempunyai
kosakata untuk mengungkapkan konsep baru tersebut, lalu mereka menggunakan
kosakata bahasa sumber untuk mengungkapkannya, secara sengaja pemakai bahasa
akan menyerap atau meminjam kosakata bahasa sumber untuk mengungkapkan
konsep baru tersebut. Faktor ketidak cukupan atau terbatasnya kosakata bahasa
penerima untuk mengungkapkan suatu konsep baru dalam bahasa sumber,
cenderung akan menimbulkan terjadinya interferensi.Interferensi yang timbul
karena kebutuhan kosakata baru, cenderung dilakukan secara sengaja oleh pemakai
bahasa. Kosakata baru yang diperoleh dari interferensi ini cenderung akan lebih
cepat terintegrasi karena unsur tersebut memang sangat diperlukan untuk
memperkaya perbendaharaan kata bahasa penerima.
4) Menghilangnya kata-kata yang jarang digunakan
Kosakata dalam suatu bahasa yang jarang dipergunakan cenderung akan
menghilang. Jika hal ini terjadi, berarti kosakata bahasa yang bersangkutan akan
menjadi kian menipis. Apabila bahasa tersebut dihadapkan pada konsep baru dari
luar, di satu pihak akan memanfaatkan kembali kosakata yang sudah menghilang
dan di lain pihak akan menyebabkan terjadinya interferensi, yaitu penyerapan atau
peminjaman kosakata baru dari bahasa sumber. Interferensi yang disebabkan oleh
menghilangnya kosakata yang jarang dipergunakan tersebut akan berakibat seperti
interferensi yang disebabkan tidak cukupnya kosakata bahasa penerima, yaitu unsur
serapan atau unsur pinjaman itu akan lebih cepat diintegrasikan karena unsur
tersebut dibutuhkan dalam bahasa penerima.
5) Kebutuhan akan sinonim
Sinonim dalam pemakaian bahasa mempunyai fungsi yang cukup penting, yakni
sebagai variasi dalam pemilihan kata untuk menghindari pemakaian kata yang sama
secara berulang-ulang yang bisa mengakibatkan kejenuhan. Dengan adanya kata
yang bersinonim, pemakai bahasa dapat mempunyai variasi kosakata yang
dipergunakan untuk menghindari pemakaian kata secara berulang-ulang.
Karena adanya sinonim ini cukup penting, pemakai bahasa sering melakukan
interferensi dalam bentuk penyerapan atau peminjaman kosakata baru dari bahasa
sumber untuk memberikan sinonim pada bahasa penerima. Dengan demikian,
kebutuhan kosakata yang bersinonim dapat mendorong timbulnya interferensi.
6)Prestise bahasa sumber dan gaya bahasa
Prestise bahasa sumber dapat mendorong timbulnya interferensi, karena pemakai
bahasa ingin menunjukkan bahwa dirinya dapat menguasai bahasa yang dianggap
berprestise tersebut. Prestise bahasa sumber dapat juga berkaitan dengan keinginan
pemakai bahasa untuk bergaya dalam berbahasa. Interferensi yang timbul karena
faktor itu biasanya berupa pamakaian unsur-unsur bahasa sumber pada bahasa
penerima yang dipergunakan
7)Terbawanya kebiasaan dalam bahasa ibu
Terbawanya kebiasaan dalam bahasa ibu pada bahasa penerima yang sedang
digunakan, pada umumnya terjadi karena kurangnya kontrol bahasa dan kurangnya
penguasaan terhadap bahasa penerima. Hal ini dapat terjadi pada dwibahasawan
yang sedang belajar bahasa kedua, baik bahasa nasional maupun bahasa asing.
Dalam penggunaan bahasa kedua, pemakai bahasa kadang-kadang kurang kontrol.
Karena kedwibahasaan mereka itulah kadang-kadang pada saat berbicara atau
menulis dengan menggunakan bahasa kedua yang muncul adalah kosakata bahasa
ibu yang sudah lebih dulu dikenal dan dikuasainya.
Integrasi
Integrasi adalah penggunaan unsur bahasa lain secara sistematis seolah-olah
merupakan bagian dari suatu bahasa tanpa disadari oleh pemakainya (Kridalaksana:
1993:84). Salah satu proses integrasi adalah peminjaman kata dari satu bahasa ke
dalam bahasa lain. Oleh sebagian sosiolinguis, masalah integrasi merupakan
masalah yang sulit dibedakan dari interferensi. Chair dan Agustina (1995:168)
mengacu pada pendapat Mackey, menyatakan bahwa integrasi adalah unsur-unsur
bahasa lain yang digunakan dalam bahasa tertentu dan dianggap sudah menjadi
bagian dari bahasa tersebut. Tidak dianggap lagi sebagai unsur pinjaman atau
pungutan.Weinrich (1970:11) mengemukakan bahwa jika suatu unsur interferensi
terjadi secara berulang-ulang dalam tuturan seseorang atau sekelompok orang
sehingga semakin lama unsur itu semakin diterima sebagai bagian dari sistem
bahasa mereka, maka terjadilah integrasi. Dari pengertian ini dapat diartikan bahwa
interferensi masih dalam proses, sedangkan integrasi sudah menetap dan diakui
sebagai bagian dari bahasa penerima. Berkaitan dengan hal tersebut, ukuran yang
digunakan untuk menentukan keintegrasian suatu unsur serapan adalah kamus.
Dalam hal ini, jika suatu unsur serapan atau interferensi sudah dicantumkan dalam
kamus bahasa penerima, dapat dikatakan unsur itu sudah terintegrasi. Sebaliknya,
jika unsur tersebut belum tercantum dalam kamus bahasa penerima unsur itu belum
terintegrasi.
Dalam proses integrasi unsur serapan itu telah disesuaikan dengan sistem atau
kaidah bahasa penyerapnya, sehingga tidak terasa lagi keasingannya. Penyesuaian
bentuk unsur integrasi itu tidak selamanya terjadi begitu cepat, bisa saja berlangsung
agak lama. Proses penyesuaian unsur integrasi akan lebih cepat apabila bahasa
sumber dengan bahasa penyerapnya memiliki banyak persamaan dibandingkan
unsur serapan yang berasal dari bahasa sumber yang sangat berbeda sistem dan
kaidah-kaidahnya. Cepat lambatnya unsur serapan itu menyesuaikan diri terikat
pula pada segi kadar kebutuhan bahasa penyerapnya. Sikap penutur bahasa
penyerap merupakan faktor kunci dalam kaitan penyesuaian bentuk serapan itu.
Jangka waktu penyesuaian unsur integrasi tergantung pada tiga faktor antara lain
(1) perbedaan dan persamaan sistem bahasa sumber dengan bahasa penyerapnya,
(2) unsur serapan itu sendiri, apakah sangat dibutuhkan atau hanya sekedarnya
sebagai pelengkap, dan (3) sikap bahasa pada penutur bahasa penyerapnya (dalam
jurnal ilmiah dengan judul Interferensi dan integrasi dalam situasi
keanekabahasaan; kongres bahasa Indonesia ke-3 pada tg. 28 Okt. - 3 Nop. 1978 di
Jakarta; oleh Soepomo Poedjosoedarmo).
Kaitan interferensi dan integrasi dalam pembelajaran bahasa
Roman Jakobson (1972: 491) memberikan keterangan bahwa interferensi dan juga
integrasi hanya akan berpengaruh terhadap sistem bahasa sepanjang ada
kemungkinan pembaharuan dalam system bahasa penerima itu, sedangkan
Weinreich (1968: 1-2), dengan lebih dulu memberi keterangan bahwa interferensi
mengandung pengertian penyusunan kembali pola-pola bahasa donor menurut
system bahasa penyerap, memberikan penegasan bahwa bagaimanapun juga sedikit
atau banyak peristiwa interferensi itu akan mempunyai pengaruh bagi system bahasa
penyerapnya.
Pemakaian bahasa dalam dunia pembelajaran tidak bisa lepas sepenuhnya dari
interferensi dan campur kode dari bahasa lain. Penelitian sederhana ini
dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana siswa menggunakan interfensi dan
campur kode dalam penggunaan bahasa dalam keseharian mereka. Menurut Soewito
(dalam Chaer dan Agustina, 1995:167), ia membuat bagan sebagai berikut:
Sehubungan dengan adanya bahasa yang kaya dengan kosakata, dan bahasa yang
masih bekembang yang kosakatanya belum banyak, timbul pertanyaan, apakah
hanya bahasa kaya yang bisa menjadi donor, dan bahasa miskin hanya menjadi
resipien, ataukah sebaliknya : bahasa miskin juga bisa menjadi donor pada bahasa
kaya. Menurut logika, memang hanya bahasa kayalah yang memunyai peluang
untuk menjadi donor., sedangkan bahasa miskin hanya sebagai resipien, dan tak
berpeluang menjadi bahasa donor. Namun, dalam kenyataannya, karena bahasa itu
erat kaitannya dengan budaya masyarakat penuturnya, maka dapat dikatakan tidak
sejalan dengan pendapat tersebut. bahwa kenyataanya bahasa yang dianggap miskin
juga dapat menjadi donor kosakata pada bahasa kaya.
Jadi, bisa disimpulkan bahwa interfensi leksikal bukanlah ditentukan oleh kaya dan
miskinnya suatu bahasa, melainkan oleh pengaruh budaya masyarakat bahasa yang
melekat pada bahasa itu. Karena dari contoh data yang diambil juga, para mahasiswa
yang terlibat komunikasi, masing-masing berlatar belakang budaya yang berbeda,
ada jawa, madura, dan sebagainya. Bentuk-bentuk interferensi dalam proses
pengajaran di SMP
Banyak ditemukan interferensi pada dwibahasawan yang sangat kuat dengan bahasa
ibunya, baik itu usia anak maupun usia deawa dalam bahasa tuturan. Begitu juga
dapat dilihat dari bahasa lisan yang digunakan oleh guru pada waktu mengajar.
(1) Ada undangan mantenan atau ada undangan apa sehingga lupa belajarnya.
Interferensi ini termasuk interferensi di bidang leksikal.
(mantenan: Jawa=pernikahan: Indonesia)
(2) Yang lain ada ndak?
(Ndak: Jawa= tidak: Indonesia)
Interferensi ini termasuk interferensi di bidang tata bahasa.
(3) Ndak mau?
(Ndak: Jawa= tidak: Indonesia)
Termasuk interferensi di bidang tata bahasa.
(4) Masa ndak ada Mantovani yang lain?
(Ndak: Jawa= tidak: Indonesia)
Termasuk interferensi di bidang tata bahasa.
(5) Saiki ditulis!
(saiki: Jawa = sekarang: Indonesia)
Termasuk interferensi dalam bidang leksikal dalam bentuk kata dasar.
(6) Alat apa yang digunakan?
Garisan, pulpen
(garisan: Jawa = penggaris atau mistar: Indonesia)
Interferensi ini termasuk interferensi dalam bidang tata bahasa yaitu pada
penggunaan kata dasar.
(7) Entar
(entar: dialek Betawi= nanti: Indonesia)
(8) Karena selesai pulang langsung seger
Contoh : Saya belum dapat baca bukunya! (ketika siswa menjawab pertanyaan
guru mengenai kesediaan siswa menjelaskan isi sebuah buku)
Temuan menarik terkait interferensi dan integrasi dalam pembelajaran
bahasa Indonesia
Tetapi dengan bahasa asing, bahasa indonesia hanya menjadi penerima dan tidak
pernah menjadi pemberi.
Sejumlah kosakata bahasa Indonesia masih dipergunakan di Afrika Selatan,
terutama di Cape Town. Istilah seperti labarang, messang, dan koeber, diadopsi dari
bahasa Indonesia untuk istilah lebaran, nisan dan kubur.
Hal itu misalnya antara lain bisa ditemukan di komplek pekuburan Spaanchemat
River Muslim Cemetry di daerah Constantia yang sudah agak pinggiran Cape Town.
Di papan pengumuman yang terpampang di pintu masuk disebutkan, jika
berkepentingan dengan pemakaman, dapat mengubungi tuwang koeber atau tuan
kubur. Ada beberapa kata yang demikian sering dipakai, misalnya minta maaf dan
tarima kasih. Kalimat itu menjadi bahasa lokal yang kerap terdengar. Demikian
juga maniengal yang artinya meninggal, puasa atau terkadang ditulis pwasa, dan
boeka puasa atau boeka pwasa yang artinya juga buka puasa. Bahkan ada kosakata
yang masih dipakai di Cape Town, padahal sudah jarang dipergunakan di Indonesia,
yakni jamang yang sama maknanya dengan kata jamban. Sementara makanan yang
dibawa dari rumah yang melakukan kegiatan, masih disebut barakat atau istilah
Indonesia yang disebut berkat. Walau asal bahasa itu aslinya dari bahasa Arab,
barokah. (Sumber: Artikel Bahasa Indonesia Mendunia, Kompas.com).
Bahasa Indonesia, Bahasa Yang Malu-malu Namun Tidak Memalukan
Seperti yang tersebut diatas bahwa Bahasa Indonesia yang kita agung-agungkan
tersebut berasal dari Bahasa Melayu Tinggi (begitu orang Belanda menyebutnya)
yang berakar dari bahasa Sansekerta. Bahasa ini kemudian dibakukan sebagai
bahasa persatuan didalam Sumpah Pemuda tertanggal 28 Oktober 1928. Kedudukan
Bahasa Indonesia tetap tak tergoyahkan sebagai bahasa nasional kita didalam
perundang-undangan negara Indonesia walaupun kita mengalami tiga macam
perubahan dalam sistem perundang-undangan negara kita. UUD 45, UUD RIS, dan
UUDS 1950 adalah ketetapan negara yang pernah disahkan dalam era Orde Lama.
Bahasa Indonesia telah sejak lama menduduki fungsi dasar sebagai urat nadi
pemersatu dari bangsa Indonesia yang terdiri lebih dari tiga belas ribu pulau
tersebut. Dikemudian hari, Bahasa Indonesia banyak mengadopsi perbendaharaan
kata dari beberapa bahasa asing, misalnya bahasa Belanda dan bahasa Inggris.
Demi mengulas kebhinnekaan dalam perbendaharaan kita, marilah kita sedikit
bermain-main dari kekayaan kosakata bahasa kita. Saya ambil contoh kata padi
yang dalam bahasa Inggris dapat diterjemahkan secara langsung menjadi paddy.
Namun bagaimana halnya dengan kata gabah untuk padi yang sudah digiling?
Bagaimana dengan kata kerak untuk melambangkan nasi yang sudah menjadi
kering? Adakah kata yang tepat didalam American Webster Dictionary untuk
melukiskan kata-kata tersebut? Jika kita sendiri malu akan bahasa nasional kita,
apakah kita juga malu jika kita bertemu orang asing yang mengekspresikan betapa
nikmatnya durian atau betapa uniknya orang utan, yang jelas-jelas telah disadap
dari bahasa kita sendiri? Bagaimana mungkin mereka akan mensubstitusikan orang
utan dengan jungle man, sementara si Tarzan akan berteriak-teriak minta keadilan
ketika mengetahui gelar ningratnya diambil orang, oh maaf, binatang?
78 % hasil penelitian mengngkapkan bahwa dalam pembelajaran bahasa, khususnya
yang berkaitan dengan interferensi dinyatakan bahwa bahasa pertama yang dikuasai
cenderung menghadirkan interferensi pada pemakaian bahasa yang merusak kaidah
bahasa yang digunakan, misalnya adanya interferensi bahasa Bali ke dalam bahasa
Indonesia Garamnya sudah habis, berasal dari kaidah bahasa Bali, uyahe sube
telah. Tetapi dalam penelitian yang dilakukan Sifa Masnaif, tahun 2010 yang
berjudul Interferensi sintaksis bahasa Indonesia dalam bahasa Melayu Ambon pada
tulisan nonilmiah dapat saya ungkap simpulannya adalah interferensi antara BI dan
BMA sebenarnya merupakan interferensi yang bertolak belakang dengan interferensi
yang lazim terjadi. Bahasa Indonesia yang dipelajari sebagai bahasa kedua di
Ambon, menjadi bahasa yang memberikan pengaruh pada BMA. Contoh dia pigi
deng ana lai lari. Kata deng menurut penutur berarti dengan, padahal dalam
bahasa asli Ambon, untuk makna dengan itu digunakan kata dengang, penutur
beranggapan bahwa deng itu merupakan bentuk ringkas dari dengan dalam bahasa
Indonesia.
interferensi itu muncul bukan hanya pada tataran bahasa lisan saja, melainkan bisa
juga muncul pada tataran bahasa tulis.
Dari hasil uji statistik terhadap data-data yang dikumpulkan di lapangan tampak
bahwa bahasa pertama memengaruhi bahasa tulisan anak-anak Minang dalam hal
gaya bahasa (style) dan susunan kalimat (syntax). Sementara bahasa lisan tidak
dipengaruhi oleh bahasa pertama anak-anak. Perilaku berbahasa anak yang berbeda
berdasarkan gender tidak memengaruhi kemampuan Bahasa Indonesia lisan dan
tulis anak-anak. Perbedaan dalam hal usia juga tidak menentukan kemampuan anak
dalam BI tulis dan lisan. Namun, tidak bisa ditelusuri dalam penelitian ini apakah
sikap bahasa anak berpengaruh terhadap kemampuan BI lisan dan tulis mereka
(PENGARUH BAHASA PERTAMA TERHADAP KEMAMPUAN BAHASA
INDONESIA LISAN DAN TULIS ANAK-ANAK MINANGKABAU, RINA MARNITA
DAN LUCY SURAIYA)
Banyak yang berpendapat bahwa interferensi dan campur kode adalah sesuatu yang
sama, tetapi penyebutannya berbeda. Dengan contoh-contoh di atas maka dapat
dibedakan antara campur kode dengan inteferensi. Campur kode mengacu pada
penggunaan serpihan bahasa lain dalam suatu bahasa, sedangkan interferensi
mengacu pada penyimpangan dalam penggunaan suatu bahasa dengan memasukkan
sistem bahasa lain. Tetapi serpihan-serpihan berupa klausa dari bahasa lain dalam
suatu kalimat bahasa lain masih bisa dianggap sebagai peristiwa campur kode dan
juga interferensi. Dari segi kemurnian bahasa, interferensi dapat merusak bahasa.
Dari segi pengembangan bahasa, interferensi merupakan suatu mekanisme yang
sangat penting untuk memperkaya dan mengembangkan suatu bahasa untuk
mencapai taraf kesempurnaan bahasa sehingga dapat digunakan dalam segala
bidang kegiatan. Bahkan Hocket (1958) mengatakan bahwa interferensi merupakan
suatu gejala terbesar, terpenting dan paling dominan dalam bahasa. Kontribusi
utama interferensi yaitu bidang kosakata.
Hal-Hal yang Perlu Dilakukan
Sehubungan dengan semakin meningkatnya tingkat interfensi bahasa yang terjadi di
Indonesia, maka perlu adanya tindakan nyata dari semua pihak yang peduli
terhadap eksistensi bahasa Indonesia yang merupakan bahasa nasional, bahasa
persatuan, dan bahasa pengantar dalam dunia pendidikan. Berkaitan dengan
interferesi ke dalam bahasa Indonesia tersebut di atas, maka ada hal-hal yang perlu
dilakukan.
Pertama, menyadarkan masyarakat Indonesia terutama para generasi penerus
bangsa ini bahwa bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional harus kita utamakan
penggunaannya. Penyadaran ini dapat dilakukan oleh para orang tua di rumah
kepada anak-anak mereka. Dapat pula dilakukan oleh para guru kepada para siswa
mereka. Selain itu, pihak pemerintah dapat bertindak secara bijak dalam
menyadarkan masyarakat untuk mengutamakan penggunaan bahasa Indonesia di
negara kita. Sebagai contoh, pemerintah menerbitkan Undang-Undang Kebahasaan.
Kedua, menanamkan semangat persatuan dan kesatuan dalam diri generasi bangsa
dan juga masyarakat luas untuk memperkukuh bangsa Indonesia dengan
penggunaan bahasa Indonesia. Sebagaimana kita ketahui bahwa bahasa Indonesia
merupakan bahasa persatuan yang dapat kita gunakan untuk merekatkan persatuan
dan kesatuan bangsa Indonesia. Cara menanamkannya dapat dilakukan di rumah,
sekolah, dan di masyarakat.
Ketiga, pemerintah Indonesia harus menekankan penggunaan bahasa Indonesia
yang baik dan benar dalam cerita fiksi, baik film,maupun karangan yang berbentuk
tulisan lainnya. Dengan penggunaan bahasa Indonesia secara benar oleh misalnya
para pelaku dalam film nasional yang diperankan aktor dan aktris idola masyarakat,
masyarakat luas juga akan mengunakan bahasa Indonesia seperti para idola mereka
tersebut.
Keempat, meningkatkan pengajaran bahasa Indonesia di sekolah dan di perguruan
tinggi. Para siswa dan mahasiswa dapat diberikan tugas praktik berbahasa Indonesia
dalam bentuk dialog dan monolog pada kegiatan bermain drama, dalam bentuk
diskusi kelompok, penulisan artikel dan makalah, dan juga dalam bentuk penulisan
sastra seperti cerita pendek dan puisi. Dengan praktik-praktik berbahasa Indonesia
tersebut, dapat mengembangkan kreativitas berbahasa Indonesia mereka dan juga
dapat membiasakan mereka berbahasa Indonesia secar baik dan benar.