Anda di halaman 1dari 11

Rhinitis alergi dan dampaknya terhadap asma (ARIA): pencapaian yang dibutuhkan dalam

sepuluh tahun dan kedepannya

Rinitis alergi (RA) dan asma merupakan masalah kesehatan yang mendunia untuk seluruh
kelompok umur. Asma dan rhinitis sering muncul secara bersamaan pada satu individu. Rhinitis
alergi dan dampaknya terhadap asma (ARIA) diprakarsai saat rapat kerja World Health
Organization pada tahun 1999 (dipublikasikan pada tahun 2001). ARIA telah mengklasifikasikan
rhinitis alergi menjadi ringan, sedang, berat dan intermiten persisten. Klasifikasi ini dibuat
berdasarkan kebutuhan pasien dan menjadi dasar hubungan antara rinitis dan asma. Pasien,
klinisi, dan ahli kesehatan lainnya memiliki banyak pilihan terapi dalam menangani rhinitis.
Banyaknya pilihan terapi ini memberikan variasi-variasi yang dapat digunakan dalam praktis
klinis, dan diseluruh dunia, pasien, klinisi, dan ahli kesehatan lainnya dihadapkan pada
ketidakpastian antara manfaat dan kerugian dari berbagai variasi pengobatan yang ada. Pada
revisi 2010 ini, ARIA mengembangkan panduan praktis klinis untuk penanganan rinitis alergi
dan komorbiditas asma berdasarkan sistem derajat Rekomendasi, Asesmen, Developmen, dan
Evaluasi (RADE). ARIA telah disebarluaskan dan diimplementasikan pada lebih dari lima puluh
negara di seluruh dunia. Sepuluh tahun setelah dipublikasikannya laporan rapat kerja World
Health Organization, perlu dibuat suatu tinjauan dari hasilnya serta mengidentifikasi beberapa
klinis, penelitian dan implementasi yang dibutuhkan untuk mendukung dan memperkuat jurnal
2011 European Union Priority pada alergi dan asma pada anak-anak.

Rhinitis alergi dan asma sering muncul secara bersamaan pada satu pasien dan merupakan
masalah kesehatan yang telah mendunia. Pasien, klinisi, dan ahli kesehatan lainnya di seluruh
dunia dihadapkan dengan manfaat dan kerugian dari berbagai macam pilihan terapi.
Perkembangan panduan praktis klinis untuk penanganan rhinitis alergi selama 15 tahun
belakangan telah meningkatkan pelayanan pada pasien dengan rhinitis alergi.

Hasil dari rapat kerja para ahli yang dilaksanakan oleh World Health Organization pada
desember tahun 1999 (rhinitis alergi dan dampaknya terhadap asma [ARIA]) yang
dipublikasikan pada tahun 2001. Laporan rapat kerja ARIA berinovasi dalam:

Menciptakan klasifikasi rhinitis alergi yang baru berdasarkan persistensi dan beratnya
gejala
Mempromosikan konsep komorbiditas asma dan rinitis sebagai faktor penentu dalam
penanganan pasien
Mengembangkan panduan dengan bekerja sama dengan seluruh pemegang saham,
termasuk dokter dan pasien
Menyertakan ahli dari negara maju dan negara berkembang
Melakukan pendekatan berdasarkan bukti untuk pertama kalinya pada panduan rhinitis
Memulai implementasi global diantara ahli kesehatan dan pasien

Pada akhirnya, panduan International Primary Care Respiratory Group mengenai rhinitis alergi
dibuat berdasarkan laporan rapat kerja ARIA.

Panduan harus terus diperbaharui. Pembaharuan ARIA telah dipublikasikan pada tahun 2008
dengan menggunakan model yang sama yaitu berdasarkan bukti. Hal ini merupakan proses yang
berkelanjutan yang mengawali tinjauan literatur dari suatu aspek yang sebelumnya belum
dibahas (pengobatan komplementer dan alternative dan olahraga), pembaharuan hubungan antara
rhinitis dan asma, serta pencegahan dan penanganannya.

Namun, laporan yang transparan mengenai panduan dibutuhkan untuk membuat laporan lebih
dapat dimengerti dan diterima. ARIA merupakan panduan penyakit respirasi kronik pertama
yang menggunakan derajat system Rekomendasi, Asesmen, Developmen, dan Evaluasi (RADE),
sebuah metodologi evaluasi bukti tingkat lanjut. Revisi ARIA telah dipublikasikan pada tahun
2010.

Sepuluh tahun setelah publikasi laporan rapat kerja World Health Organization, perlu dibuat
suatu tinjauan mengenai hasilnya serta mengidentifikasi kebutuhan klinis dan penelitian yang
belum tercapai.

Publikasi ilmiah menggunakan klasifikasi ARIA

Pencarian Medline yang dilakukan pada 1 agustus 2011, mengumpulkan 251 artikel yang
dilakukan di 43 negara yang menggunakan klasifikasi ARIA untuk rinitis alergi intermiten dan
persisten. Penelitian ini melibatkan lebih dari 170.000 subyek (lihat table E1 pada artike Online
Repository di www.jacionline.org), termasuk anak balita, namu tidak terdapat penelitian yang
secara khusus meneliti orang tua. Artikel tersebut menyertakan epidemiologi pada populasi
umum (potong lintang dan kohort), uji observasional diantara dokter layanan primer dan dokter
ahli, uji intervensional, termasuk skala 5 besar, double blinds, uji control placebo. Tiga tinjauan
kolaborasi Cochrane menggunakan klasifikasi ARIA telah diselesaikan, sementara yang lain
masih menunggu.

Klasifikasi ARIA mengenai rinitis alergi sesuai dengan kebutuhan pasien

Klasifikasi rinitis alergi telah direvisi oleh ARIA pada tahun 2001. Sebuah perubahan besar yaitu
pengenalan istilah intermiten dan persisten. Sebelumnya, rinitis alergi diklasifikasikan
berdasarkan waktu dan jenis pemaparan dan gejalanya berdasarkan musiman, perenial, dan
okupasional. Namun, klasifikasi ini tidak sepenuhnya memuaskan Karena hal-hal sebagai
berikut:

Pada beberapa daerah, serbuk sari dan jamur merupakan alergen perenial, dan dimana
debu rumah merupakan alergen yang bersifat musiman,
Kebanyakan pasien telah tersensitisasi terhadap banyak alergen yang berbeda dan telah
terpapar sepanjang tahun,
Pada populasi umumnya terdapat sejumlah besar pasien dengan alergi debu rumah yang
memiliki rinitis intermiten
Karena pengaruh mukosa hidung yang terinduksi oleh alergen serbuk sari dalam kadar
kecil dan inflamasi hidung persisten yang minimal pada pasien rinitis tanpa gejala, gejala
biasanya tidak berhubungan dengan musim alergen.
Klasifikasi ARIA dapat dilihat lebih memperhatikan kebutuhan pasien dibandingkan
klasifikasi sebelumnya.
Argumen mengenai istilah intermiten dan persisten dibutuhkan untuk menghubungkan
rinitis alergi dengan asma, dua kondisi yang sama-sama terjadi pada saluran nafas.

Fenotip dari rinitis musiman dan perenial tidak dapat digunakan bergantian dengan klasifikasi
ARIA karena tidak sesuai dengan tingkat penyakit. Oleh karena itu, intermiten dan persisten
tidak sinonim dengan musiman dan perenial. Pada tahun 2008, parameter klinis rinitis di
Amerika Serikat mengusulkan penggunaan istilah rinitis episodik. Istilah ini belum divalidasi,
meskipun istilah ini dapat merujuk pada rinitis alergi intermiten.

Komorbiditas antara asma dan rinitis

Hubungan antara rinitis dan asma telah diidentifikasi dua abad lalu. Namun, sebelum rapat kerja
ARIA, komorbiditas asma dan rinitis masih dikesampingkan, bahkan pada tahun 2012, beberapa
panduan tidak menyertakan hubungan antara asma dan rinitis yang cukup. Namun pembaharuan
tinjauan ARIA dengan jelas mendukung hubungan antara saluran nafas atas dan saluran nafas
bawah. Kebanyakan pasien dengan asma ( baik alergik dan non alergik) juga memiliki rinitis,
dimana sekitar 10% hingga 40% pasien dengan rinitis alergi memiliki komorbid asma. Beberapa,
walaupun tidak semua, penelitian menyatakan asma lebih sering didapatkan pada pasien dengan
rinitis persisten sedang hingga berat dibandingkan dengan berbagai jenis rinitis lainnya.
Hubungan yang erat antara asma dan rinitis karena lingkungan okupasional.

Sebuah penelitian besar menemukan hubungan antara tingkat keparahan dan atau kontrol untuk
kedua penyakit ini pada dewasa dan anak-anak. Selain itu, pasien dengan asma yang tidak
terkontrol biasanya memiliki penyakit hidung yang lebih berat (biasanya rinosinusitis kronik).

Rinitis biasanya bukan merupakan gejala pertama yang timbul pada anak-anak balita yang
atopik. Namun, pada subyek yang memiliki rinitis yang tidak disertai dengan asma merupakan
faktor risiko timbulnya asma baik pada dewasa maupun anak-anak. Pada dewasa, timbulnya
asma pada pasien rinitis biasanya tidak berhubungan dengan alergi, yang dimana pada anak-
anak, biasanya berhubungan dengan alergi.

Pengaruh klinis klasifikasi ARIA

Sebuah penelitian observasional potong lintang yang besar menemukan bahwa tingkat keparahan
(ringan-sedang-berat) dan persistensi (intermiten-persisten) merupakan hal yang berbeda dan
kemungkinan tidak berhubungan.

Pada penelitian yang biasanya dilakukan pada pelayanan primer, pasien dewasa maupun anak-
anak dengan rinitis sedang hingga berat berdampak pada kurangnya produktivitas dan kualitas
hidup yang sama meskipun pasien tersebut memiliki rinitis intermiten maupun persisten.
Kuisioner kualitas hidup rinokongjuntivitis ataupun nilai Visual Analog Scale (VAS) biasanya
memberikan hasil yang lebih tinggi pada pasien dengan rinitis sedang hingga berat dibandingkan
pasien dengan rinitis ringan.

Subfenotip pasien dengan rinitis alergi

Tingkat keparahan merupakan salah satu karakteristik fenotip penyakit alergi yang membutuhkan
perhatian khusus. Tingkat keparahan meningkat dari tahun ke tahun akibat pemaparan alergen.
Beberapa pasien yang membutuhkan penanganan medis biasanya telah terkena rinitis alergi
sedang hingga berat, meskipun pada orang kebanyakan biasanya hanya terkena rinitis alergi
ringan. Penyakit saluran nafas atas yang kronik dan berat, seperti yang diutarakan oleh kelompok
ahli alergi sedunia, didefinisikan sebagai pasien dengan gejala yang tidak terkontrol meskipun
telah mendapatkan penanganan farmakologik yang sesuai panduan (efektif, aman, dan dapat
diterima). Pasien ini memiliki kualitas hidup yang kurang baik, mempengaruhi fungsi sosial,
tidur, dan performa di sekolah maupun tempat bekerja. Konsep definisi yang berdasarkan pasien
ini sekarang telah banyak diadaptasi untuk seluruh penyakit alergi oleh kelompok ahli alergen
sedunia.

Fenotip subtipe dapat menjelaskan dan memprediksi keparahan penyakit, perkembangan, dan
respon terhadap terapi dan dapat membantu mengindentifikasi target untuk penanganan.
Heterogeneitas juga timbul pada setiap dimensi penyakit (eosinofil dan keparahan asma),
penyakit seberang (eosinofil pada asma), dan pada hubungannya dengan komorbid. Fenotip
dapat berubah seiring waktu, yang kemungkinan disebabkan karena alergi, infeksi, maupun
pemicu lainnya.

Pernyataan ARIA, posisi tinjauan, dan rekomendasi

Panelis ahli ARIA telah menghasilkan beberapa rekomendasi, pernyataan, dan posisi penelitian,
yang sering bekerja sama dengan organisasi lain seperti pusat asma dan rinitis WHO (tabel 1)

ARIA telah mengeluarkan panduan bertahap (gambar 1)

Revisi ARIA 2010

Revisi ARIA 2010 dikembangkan melalui pendekatan sistem derajar RADE oleh panelis
panduan ARIA-GA LEN yang berbeda dari sektor pribadi. Telah dijabarkan keuntungan dan
kerugian yang mendasari rekomendasi, telah terdapat juga asumsi mengenai nilai dan preferensi
yang mempengaruhi kekuatan dan arah rekomendasi.

Dua metodologi independen mengembangkan tinjauan bukti dengan bantuan informasi dari
peneliti dengan pengalaman pada derajat RADE dan dua ahli biostatistik. Delapan member
klinisi berpengalaman dari komite eksekutif ARIA melengkapi peserta panelis.

Mengolah rekomendasi termasuk mempertimbangkan kualitas bukti, konsekuensi-konsekuensi


yang dapat timbul akibat suatu tindakan, dan nilai serta preferensi terhadap obyek rekomendasi
ini dimaksudkan. Untuk kebanyakan rekomendasi, penggunaan sumber daya biaya yang
dibutuhkan juga dipertimbangkan dalam penelitian ini.

Delapan puluh dokter (spesialis alergi; spesialis anak; spesialis penyakit dalam; spesialis telinga
hidung tenggorokan; spesialis paru; dokter layanan primer; perawat; dan farmasi) dan pasien
yang berasal dari lebih 50 negara telah diminta penjelasan. Sebagai hasil yang diterima,
pencarian bibliografi tambahan juga dilakukan untuk penelitian dengan 30 pertanyaan, dan
konsultasi yang lebih baru dilakukan untuk melengkapi revisi ARIA.

Dengan memandang pasien dewasa dan anak-anak, terdapat total 59 rekomendasi yang
dikeluarkan: sebelas untuk pencegahan, 31 untuk farmakoterapi, sebelas untuk imunoterapi
alergen, lima untuk pengobatan alternatif dan komplementer, dan satu untuk biologi.

ARIA seharusnya dianggap sebagai panduan umum, dan dokter perlu menggunakan rekomendasi
ini untuk setiap pasien dengan tetap memperhatikan perbedaan lingkungan serta setiap orang
memiliki rangkaian genetik yang berbeda responnya terhadap alergi dan pengobatan.

Tinjauan literatur ini telah mengidentifikasi beberapa area dengan penelitian kecil atau hanya
dengan penelitian dengan tingkat bias yang tinggi (tabel 2). Beberapa area dirasakan masih
membutuhkan tinjauan sistematik yang lebih sulit atau juga dapat dilakukan dengan cara
memperbaharui tinjauan sistematik yang telah ada.

Penelitian dengan waktu yang sesungguhnya dibutuhkan untuk mengkonfirmasi relevansi dari
suatu bukti yang didapatkan dari uji kontrol acak yang diterjemahkan ke pengaturan praktis
harian. Uji acak pragmatis telah menemukan bahwa penanganan rinitis alergi berdasarkan
panduan lebih efektif dibandingkan pilihan terapi bebas.

Meskipun demikian, panelis panduan ARIA mempercayai bahwa rekomendasi merupakan


penanganan yang terbaik saat ini untuk pasien rinitis alergi.

Penelitian perlu dilakukan pada populasi spesial, termasuk anak kecil, pasien lanjut usia, pasien
dengan rinitis alergi okupasional dan asma, serta pasien yang tinggal di negara dengan sumber
daya rendah.

Setelah revisi ARIA dipublikasikan, beberapa tanggapan oleh para ahli juga dipublikasikan.
Tanggapan ini berfungsi bukan untuk mengubah kesimpulan yang telah dipublikasikan namun
dapat berfungsi untuh meningkatkan transparansi bahwa terjadinya diskusi mengenai bukti yang
ada.

Diseminasi dan implementasi

Panduan perlu disederhanakan dan hasil edukasional berdasarkan aktivitas, yang dirasa perlu
untuk proses implementasi. Panduan edisi buku saku mulai dikeluarkan setelah laporan rapat
kerja ARIA diterjemahkan ke dalam lebih dari lima puluh bahasa. Versi untuk apoteker juga telah
dibuat.

Pembaharuan tinjauan eksekutif 2008 juga telah diterjemahkan kedalam lebih dari tiga puluh
bahasa. Di Amerika Serikat, sebuah kelompok meminta untuk mengadaptasi ARIA.

Seluruh pemegang saham, termasuk spesialis, dokter layanan primer, ahli kesehatan, pasien,
orang awam, dan media perlu didorong untuk menggunakan panduan ini dan harus terlibat dalam
pembuatan tinjauan panduan dan bahan edukasi.

Di banyak negara, panduan ARIA telah dikenali oleh dokter layanan primer dan spesialis.

Penerapan ARIA secara global dan kebutuhan yang tidak terpenuhi

Banyak kebutuhan yang tidak terpenuhi untuk rinitis alergi telah dipublikasikan. Pada dokumen
ini, beberapa kebutuhan yang tidak terpenuhi ARIA telah diajukan dari dokumen ARIA.

1. Fenotip rinitis alergi


Rinitis alergi secara erat berhubungan dengan mekanisme imun, dan untuk alergen
inhalan, hanya terbatas pada mekanisme IgE. Namun, mekanisme non alergik dapat
tetap berjalan bersama dengan mekanisme alergik.
Subfenotip dari rinitis alergi: menggunakan metode statistik tertentu (analisa kluster
atau faktor) untuk suatu populasi akan memberikan definisi terhadap jenis fenotip.
Pengendalian penyakit: pengendalian dan keparahan tidak diuraikan secara lengkap
pada pasien dengan rinitis. Penyakit saluran nafas atas kronik yang berat telah
didefinisikan sebagai rinitis alergi yang tidak terkontrol. Tindakan untuk
pengendalian rinitis alergi termasuk nilai gejala, nilai visual analog scale, nilai
kualitas hidup, atau nilai terhadap beberapa obyek. Peneliti sebaiknya
mengidentifikasi uji kontrol rinitis alergi yang paling cocok yang dapat diterapkan
diseluruh dunia dan dalam berbagai lingkungan.
Rinitis alergi dan asma: hubungan antara rinitis alergi dan asma telah banyak
diketahui, namun metode statistik yang tidak perlu diawasi perlu dilakukan untuk
pandangan yang obyektif terhadap hubungan ini.
Pediatrik: dokumen ARIA selalu mempehatikan masalah pediatri. Namun, rinitis
alergi sering dikesampingkan dan sering kurang didiagnosis, terutama pada anak-anak
balita.
Pasien usia lanjut: banyak pasien dengan rinitis alergi berusia lebih dari 65 tahun.
Timbulnya penyakit serta efikasi dan keamanan pengobatan dapat berbeda pada
pasien yang lebih tua, meskipun belum terdapat data yang menunjukkan hal tersebut.
Selain itu, efek komorbid dari penanganan rinitis alergi masih belum jelas.
Pengobatan personalisasi: masalah utama untuk penyakit alergi di abad 21 yaitu untuk
mengerti kompleksitasnya. Kebanyakan pasien dengan rinitis alergi dapat dirawat
dengan algoritma sederhana, namun terdapat juga beberapa gejala yang tidak
terkontrol selama pengobatan dan membutuhkan pendekatan personal.
2. Penanganan rinitis alergi
Pembaharuan revisi ARIA: panduan harus terus diperbaharui dengan data-data
terbaru bahwan penanganan yang lebih baru (seperti kombinasi anti histamin dan
kortikosteroid intranasal atau kortikosteroid intranasal dengan hidrofluroalkan).
ARIA pada pelayanan primer: kebanyakan pasien dengan rinitis alergi dapat dilihat
pada pelayanan primer, dan panduan ini sebaiknya disesuaikan dengan lingkungan
tersebut. Adaptasi revisi ARIA 2010 merupakan kolaborasi terus menerus dengan
Internasional Primary Care Respiratoy Group.
Perbandingan ARIA dengan panduan lain: panduan untuk penanganan rinitis alergi
agak berbeda karena klasifikasi rinitis alergi tapi juga karena rekomendasi mengenai
penanganan. Penting untuk membandingkan pilihan yang berbeda dan menilai
mengapa terdapat suatu perbedaan.
Apoteker dan dokter: kebanyakan pengobatan rinitis alergi dapat ditemui di
kebanyakan negara, namun beberapa obat mengandung sedatif pada antihistamin oral.
Oleh karena itu, penting bagi apoteker untuk mengedukasi pasien. Penanganan alergi
pada anak di sekolah juga penting.
3. Pemberdayaan pasien
Asma dan rinitis alergi sebaiknya didiagnosis dan dikontrol dengan tepat untuk
memuaskan harapan pasien. Pasien perlu dilibatkan dalam pelayanan itu sendiri; hal
ini dapat dilakukan dengan edukasi pasien dan rencana manajemen diri sendiri.
Konfigurasi pasien juga telah dilibatkan pada pembentukan, penyebarluasan, dan
implementasi ARIA.
4. Uji klinis
Pada RCT, perlu adanya suatu pencerahan mengenai definisi penyakit, keparahan,
kontrol, serta komorbid dan faktor risiko (seperti merokok). Hasil RCT harus
divalidasi dan distandarisasi, sehingga terdapat perbandingan yang bermakna antara
RCT dapat disusun.
5. Negara berkembang
Definisi rinitis alergi dapat diterapkan pada kondisi geografi pada seluruh negara,
fenotip, dan faktor risiko. Implementasi ARIA pada negara berkembang harus
meningkatkan ketersediaan dan kesanggupan dari pengobatan yang efektif.
6. Penelitian
Penelitian lebih lanjut pada penyakit alergi berat segera dibutuhkan untuk lebih
memahami penyakit dan menyediakan pendekatan terapeutik. Kerjasama perlu
ditingkatkan untuk memastikan penerapan metodologi standar dan protokol dalam
pengumpulan dan penyusunan sampel dan data.
7. Epidemiologi
Di epidemiologi, definisi yang baku merupakan pokok suatu penelitian, untuk
memahami faktor risiko, dan untuk dapat membandingkan penelitian dengan populasi
yang berbeda. Mekanisme Development of Allergy (McDALL) telah mengembangkan
definisi baku rinitis alergi pada anak.
8. Perencanaan kesehatan masyarakat
Pada kesehatan masyarakat, definisi rinitis alergi dan keparahannya dibutuhkan untuk
mengidentifikasi prevalensi, beban, dan biaya; untuk meningkatkan kualitas
pelayanan; dan mengoptimalkan kebijakan dan pelayanan kesehatan.
9. Pembaharuan revisi ARIA
Analisa seksama terhadap bukti yang tersedia dapat menyimpulkan bahwa tidak
adanya nilai kualitas sedang atau tinggi pada celah penelitian, khususnya jika
menghasilkan rekomendasi kondisional atau lemah. Pada rekomendasi yang kuat,
celah penelitian kurang dapat mempengaruhi tindakan.
10. Akses terbuka untuk keanggotaan ARIA
ARIA terbuka untuk seluruh pemegang saham di seluruh dunia, dan permintaan untuk
keanggotaan dapat ditujukan kepada WHO Collaborating Center for Asthma and
Rhinitis.

Interaksi dengan sektor pribadi


Sektor pribadi telah dilibatkan dengan ARIA dengan status sebagai pengamat, seperti yang
disebutkan berdasarkan WHO Global Alliance Against Chronic Respiratory Diseases (GARD).

Organisasi asosiasi industri mempersembahkan pembuatan reagen diagnostik, alat,


obat-obatan, atau produk lainnya yang relevan untuk pengawasan, pencegahan, dan
pengendalian penyakit respirasi dan alergi dan
Perusahaan komersial dan entitas sektor pribadi

Peran pengawas juga berdasarkan WHO Global Alliance Against Chronic Respiratory Diseases
(GARD).

Tidak terdapat wewenang dalam proses pengambilan keputusan, khususnya pada


pengembangan panduan.
Pengawas dapat memberikan pernyataan untuk menjelaskan pandangan dan posisi
dari suatu masalah hanya dengan mengundang direktur (setelah disetujui oleh komite
eksekutif).
Sektor pribadi dihubungkan dengan implementasi dan diseminasi ARIA

ARIA dalam agenda politik

ARIA diinisiasi ketika rapat kerja World Health Organization (1999) dan dipublikasikan dengan
kerjasama dari World Health Organization. ARIA kemudian dilibatkan dalam aktivitas World
Health Organization Collaborating Center for Asthma and Rhinitis (Montpellier). Pembaharuan
2008 dikeluarkan dengan kolaborasi bersama WHO, GA LEN dan AllerGEN

Perwakilan medis eropa telah menerima klasifikasi ARIA tentang rinitis intermiten dan persisten.

ARIA telah digunakan pada berbagai panduan yang direkomendasi oleh perwakilan kesehatan
pemerintah (seperti Brazil, Portugal, Singapore, dan Finlandia) atau lingkungan ilmiah. Pada
negara tertentu, Health Technology Assessment telah dimulai dengan menggunakan revisi ARIA
2010 dalam kolaborasinya dengan Canadian Society for International Health.

Prioritas utama presiden Polandia 2011 dari konsil uni eropa yaitu untuk mengurangi
ketidaksamaan kualitas kesehatan di seluruh daerah eropa dan dalam strukturnya, untuk
meningkatkan pencegahan dan pengendalian penyakit respirasi pada anak. Penelitan ARIA akan
memperkuat kesimpulan dari prioritas tersebut untuk mengurangi beban dari alergi dan asma
pada anak untuk meningkatkan proses pendewasaan yang sehat dan aktif.