Anda di halaman 1dari 14

ANABOLISME KARBOHIDRAT

MAKALAH

Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah

Biokimia

Yang dibina oleh Ibu Frida Kunti Setiowati, S.T, M.Si

Disusun oleh :

Kelompok 9

Anggi Klaritasari 160342606275

Miftakhul Ramadhani 160342606253

Dwi Junita Sari 140342600431

UNIVERSITAS NEGERI MALANG

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

S1 BIOLOGI

Februari 2017
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Salah satu ciri dari mahluk hidup ialah melakukan proses di dalam tubuhnya.
Metabolisme adalah segala proses reaksi kimia yang terjadi di dalam makhluk hidup, mulai
makhluk hidup bersel satu yang sangat sederhana seperti bakteri, protozoa, jamur, tumbuhan,
hewan, sampai mkhluk yang susunan tubuhnya kompleks seperti manusia. Di dalam proses
ini, makhluk hidup mendapat, mengubah dan memakai senyawa kimia dari sekitarnya untuk
mempertahankan hidupnya (Amin, 2009).
Metabolisme adalah semua reaksi kimia yang terjadi di dalam organisme, termasuk
yang terjadi di tingkat selular. Secara umum, metabolisme memiliki dua arah lintasan reaksi
kimia organik, yaitu katabolisme dan anabolisme. Kedua arah lintasan metabolisme
diperlukan setiap organisme untuk dapat bertahan hidup. Arah lintasan metabolisme
ditentukan oleh suatu senyawa yang disebut sebagai hormon, dan dipercepatkan oleh
senyawa organik yang disebut sebagai enzim. Pada senyawa organik, penentu arah reaksi
kimia disebut promoter dan penentu percepatan reaksi kimia disebut katalis
(Wirahadikusumah, 1983).
Pada setiap arah metabolisme, reaksi kimiawi melibatkan sejumlah substrat yang
berinteraksi dengan enzim pada jenjang-jenjang reaksi guna menghasilkan senyawa
intermediaet yang disebut dengan metabolit, yakni substrat pada jenjang reaksi berikutnya.
Seperti halnya lintasan kimia anabolisme yang merupakan reaksi yang merangkai senyawa
organik dari molekul-molekul tertentu, untuk diserap oleh sel tubuh. Setiap sel di dalam
tubuh organisme, pada dasarnya berfungsi layaknya sebuah miniatur pabrik yang
melaksanakan berbagai reaksi biokimia serta produk yang berbeda-beda sehingga dapat
menunjang kelangsungan hidup makhluk hidup itu sendiri (Wirahadikusumah, 1983).
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, penulis ingin mengetahui tentang
pengertian dan proses anabolisme, fungsi anabolisme, serta beberapa contoh reaksinya dalam
tubuh tumbuhan, hewan, dan manusia.
1.2 Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian anabolisme
2. Proses dan contoh anabolisme
1.3 Manfaat
Manfaat dari makalah ini adalah:
1. Menambah pengetahuan tentang pengertian anabolisme
2. Memperoleh pengetahuan tentang proses yang terjadi pada anabolisme
3. Memperoleh informasi tentang contoh reaksi anabolisme pada tumbuhan, hewan, dan
manusia
4. Menambah informasi mengenai fungsi anabolisme bagi tumbuhan, hewan, dan
manusia.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Anabolisme


Metabolisme adalah pertukaran zat antara suatu sel atau suatu organisme secara
keseluruhan dengan zat antara suatu sel atau organisme secara keseluruhan dengan
lingkungannya (Lehninger&Abert,1982). Metabolisme intermediet ini mencakup bidang luas
yang tidak hanya proses metabolik yang dialami oleh masing-masing molekul saja, tetapi
juga interelasi dan mekanisme yang mengatur arus metabolit untuk dapat melewati proses-
proses atau tahapan-tahapan tersebut. Proses metabolisme itu kemudian digolongkan menjadi
3 macam, yaitu:
1. Anabolime (penyatuan/pembentukan)

2. Katabolisme (pemecahan)

3. Amfibolisme (persimpangan)
Anabolisme adalah lintasan metabolisme yang menyusun beberapa senyawa organik
sederhana menjadi senyawa kimia atau molekul kompleks (Toha, 2001). Proses ini
membutuhkan energi dari luar. Energi yang digunakan dalam reaksi ini dapat berupa energi
cahaya ataupun energi kimia. Energi tersebut, selanjutnya digunakan untuk mengikat
senyawa-senyawa sederhana tersebut menjadi senyawa yang lebih kompleks. Jadi, dalam
proses ini energi yang diperlukan tersebut tidak hilang, tetapi tersimpan dalam bentuk ikatan-
ikatan kimia pada senyawa kompleks yang terbentuk.
Selain dua macam energi diatas, reaksi anabolisme juga menggunakan energi dari
hasil reaksi katabolisme, yang berupa ATP. Agar asam amino dapat disusun menjadi protein,
asam amino tersebut harus diaktifkan terlebih dahulu. Energi untuk aktivasi asam amino
tersebut berasal dari ATP. Agar molekul glukosa dapat disusun dalam pati atau selulosa, maka
molekul itu juga harus diaktifkan terlebih dahulu, dan energi yang diperlukan juga didapat
dari ATP. Proses sintesis lemak juga memerlukan ATP.
Anabolisme meliputi tiga tahapan dasar (Wirahadikusumah, M. 1983). Pertama, produksi
prekursor seperti asam amino, monosakarida, dan nukleotida. Kedua, adalah aktivasi
senyawa-senyawa tersebut menjadi bentuk reaktif menggunakan energi dari ATP. Ketiga,
penggabungan prekursor tersebut menjadi molekul kompleks, seperti protein, polisakarida,
lemak, dan asam nukleat. Anabolisme yang menggunakan energi cahaya dikenal dengan
fotosintesis, sedangkan anabolisme yang menggunakan energy kimia dikenal dengan
kemosintesis.
Anabolisme karbohidrat merupakan serangkaian reaksi kimia yang substrat awalnya
adalah molekul kecil dan produk akhirnya adalah molekul besar atau dengan kata lain reaksi
yang bertujuan untuk penyusunan atau sintesis molekul.
2.2 Proses Anabolisme
Jalur anabolisme yang membentuk senyawa-senyawa dari prekursor sederhana
mencakup glikogenesis dan glukeogenesis (Lehninger, 1982). Glikogenesis adalah lintasan
metabolisme yang mengkonversi glukosa menjadi glikogen untuk disimpan di dalam hati.
Sintesis glikogen terjadi setelah makan, ketika kadar glukosa dalam darah meningkat
(Lehninger, 1982). Reaksi glikogenesis yaitu:
1. Glukosa mengalami fosforilasi menjadi glukosa 6-fosfat (reaksi yang lazim terjadi
juga pada lintasan glikolisis). Di otot reaksi ini dikatalisir oleh enzim heksokinase
sedangkan di hati oleh enzim glukokinase.
2. Sintesis glukosa-1-fosfat. Glukosa-6-fosfat diubah menjadi glukosa-1-fosfat oleh
enzim phosphoglucomutase.

3. Glukosa 1-fosfat bereaksi dengan uridin trifosfat (UTP) untuk membentuk uridin
difosfat glukosa (UDPGlc). Reaksi ini dikatalisir oleh enzim UDPGlc pirofosforilase.
UDPGlc + PPi UTP + Glukosa 1-fosfat

4. Hidrolisis pirofosfat inorganic berikutnya oleh enzim pirofosfatase inorganik


akan menarik reaksi kearah kanan persamaan reaksi.
5. Atom C1 pada glukosa yang diaktifkan oleh UDPGlc membentuk ikatan glikosidik
dengan atom C4 pada residu glukosa terminal glikogen, sehingga membebaskan
uridin difosfat. Reaksi ini dikatalisir oleh enzim glikogen sintase. Molekul glikogen
yang sudah ada sebelumnya (disebut glikogen primer) harus ada untuk memulai
reaksi ini. Glikogen primer selanjutnya dapat terbentuk pada primer protein yang
dikenal sebagai glikogenin.
Pada dasarnya glukoneogenesis adalah sintesis glukosa dari senyawa bukan
karbohidrat, misalnya asam laktat dan beberapa asam amino. Menurut McCloskey, J. C. &
Bulechek, G. M. (1996) Proses glukoneogenesis berlangsung terutama dalam hati. Asam
laktat yang terjadi pada proses glikolisis dapat dibawa oleh darah ke hati. Di sini asam laktat
diubah menjadi glukosa kembali melalui serangkaian reaksi dalam suatu proses yaitu
glukoneogenesis (pembentukan gula baru). Glukoneogenesis yang dilakukan oleh hati atau
ginjal, menyediakan suplai glukosa yang tetap. Kebanyakan karbon yang digunakan untuk
sintesis glukosa akhirnya berasal dari katabolisme asam amino. Laktat yang dihasilkan dalam
sel darah merah dan otot dalam keadaan anaerobik juga dapat berperan sebagai substrat untuk
glukoneogenesis. Glukoneogenesis mempunyai banyak enzim yang sama dengan glikolisis,
tetapi glukoneogenesis bukan kebalikan dari proses glikolisis karena ada tiga tahap reaksi
dalam glikolisis yang tidak reversibel, artinya diperlukan enzim lain untuk reaksi
kebalikannya.
1. Glukokinase
Glukosa + ATP Glukosa-6-fosfat + ADP
2. Fosfofruktokinase
Fruktosa-6-fosfat + ATP fruktosa-1,6-difosfat + ADP
3. piruvatkinase
Fosfenol piruvat + ADP asam piruvat + ATP
Enzim glikolitik yang terdiri dari glukokinase, fosfofruktokinase, dan piruvat kinase
mengkatalisis reaksi yang ireversibel sehingga tidak dapat digunakan untuk sintesis glukosa.
Dengan adanya tiga tahap reaksi yang tidak reversibel tersebut, maka proses glukoneogenesis
berlangsung melalui tahap reaksi lain. Reaksi tahap pertama glukoneogenesis merupakan
suatu reaksi kompleks yang melibatkan beberapa enzim dan organel sel (mitokondrion), yang
diperlukan untuk mengubah piruvat menjadi malat sebelum terbentuk fosfoenolpiruvat.

1. Pengubahan piruvat menjadi oksaloasetat, dikatalisis oleh enzim piruvat karboksilase.


(Oksaloasetat pada reaksi di atas terdapat pada mitokondria dan harus dikeluarkan
menuju sitoplasma, namun molekul tersebut tidak dapat melelui membran
mitokondria sebeum diubah menjadi malat. Jadi oksaloasetat akan diubah menjadi
malat agar dapat keluar menuju sitoplasma dan akan segera diubah kembali menjadi
oksaloasetat). Pengubahan oksaloasetat menjadi malat, dikatalisis oleh enzim malat
dehidrogenase. Malat keluar dari mitokondria menuju sitoplasma. Di sitoplasma,
malat diubah manjadi oksaloasetat kembali yang dikatalisis oleh enzim malat
dehidrogenase.
2. Oksaloasetat kemudian akan diubah menjadi phospoenol piruvat, dikatalisis oleh
enzim phospoenolpiruvat karboksilase.
3. Phospoenol piruvat akan diubah menjadi 2-fosfogliserat, dikatalisis oleh enzim
enolase.
4. 2-fosfogliserat akan diubah menjadi 3-fosfogliserat yang dikatalisis enzim
fosfogliseromutase.
5. 3-fosfogliserat kemudian diubah manjadi 1,3 bifosfogliserat yang dikatalisis enzim
fosfogliserokinase.
6. 1,3 bifosfogliserat akan diubah menjadi gliseraldehida 3 fosfat, reaksi ini dikatalisis
oleh enzim gliseraldehida 3 fosfat dehidrogenase.
7. Gliseraldehida 3 fosfat dapat diubah menjadi dihidroksi aseton fosfat (dengan reaksi
yang dapat bolak-balik) yang dikatalisis oleh enzim isomerase.
8. Gliseraldehida 3 fosfat dan dihidroksi aseton fosfat akan disatukan dan menjadi
fruktosa 1,6 bifosfat yang dkatalisis enzim enolase.
9. Fruktosa 1,6 bifosfat akan diubah manjadi fruktosa 6 fosfat oleh enzim fruktosa
difosfatase.
10. Fruktosa 6 fosfat akan diubah menjadi glukosa 6 fosfat oleh enzim
fosfoglukoisomerase.
11. Terakhir glukosa 6 fosfat akan diubah manjadi glukosa yang dikatalisis oleh enzim
glukosa 6 fosfatase.
Berdasarkan uraian tentang jalur anabolisme di atas berikut adalah contoh peristiwa
anabolisme, yakni:
1. Fotosintesis
Anabolisme yang menggunakan energi cahaya dikenal dengan fotosintesis,
fotosintesis adalah proses pengubahan zat organik (karbohidrat) dengan bantuan cahaya, yang
digunakan dalam proses fetosintesis adalah spektrum cahaya tampak, dari ungu sampai
merah, infra merah dari matahari (Poedjiadi, 2005). Organel yang berperan dalam fotosintesis
adalah kloroplas. Di dalam kloroplas inilah penyerapan sinar oleh klorofil dimulai pada
proses fotosntesis. Kloroplas dibungkus oleh dua lapisan (membran). Membran dalam
berupa suatu membran yang kompleks. Pada membran ini terdapat beberapa lapisan kantong
yang rata, disebut granum. Di dalam seluruh granum terdapat larutan protein yang disebut
stroma.
. Dalam fotosintesis, dihasilkan karbohidrat dan oksigen, oksigen sebagai hasil
sampingan dari fotosintesis, volumenya dapat diukur, oleh sebab itu untuk mengetahui
tingkat produksi fotosintesis adalah dengan mengatur volume oksigen yang dikeluarkan dari
tubuh tumbuhan. Senyawa kompleks yang disintesis organisme tersebut adalah senyawa
organik atau senyawa hidrokarbon (Girindra, 1986). Autotrof, seperti tumbuhan, dapat
membentuk molekul organik kompleks di sel seperti polisakarida dan protein dari molekul
sederhana seperti karbon dioksida dan air. Di lain pihak, heterotrof, seperti manusia dan
hewan, tidak dapat menyusun senyawa organik sendiri. Jika organisme yang menyintesis
senyawa organik menggunakan energi cahaya disebut fotoautotrof, sementara itu organisme
yang menyintesis senyawa organik menggunakan energi kimia disebut kemoautotrof.
Komponen yang melakukan reaksi fotosintesis adalah kloroplas yang mengandung
pigmen fotosintetik yang menyerap cahaya tampak dengan = 400-700 nm (kecuali warna
hijau dan kuning). Kloroplas terdapat banyak pada jaringan palisade dan sedikit pada jaringan
spons pada mesofil daun.

Proses fotosintesis yang terjadi di kloroplas berlangsung melalui dua tahap reaksi yaitu,
reaksi terang (memerlukan cahaya) terjadi di tilakoid (grana) dan reaksi gelap (tidak
memerlukan cahaya) yang terjadi di stroma.

a. Reaksi terang
Pada tahap pertama, energi matahari ditangkap oleh pigmen penyerap cahaya dan diubah
menjadi bentuk energi kimia, ATP, dan senyawa pereduksi NADPH, proses ini disebut tahap
reaksi terang (Poedjiadi, 2005). Atom hidrogen dari molekul H2O dipakai untuk mereduksi
NADP+ menjadi NADPH, dan O2 dilepaskan sebagai hasil samping reaksi fotosintesis.
Reaksi ini juga dirangkaikan dengan reaksi endergonik, membentuk ATP dari ADP + Pi.
Pembentukan ATP dari ADP + Pi, merupakan suatu mekanisme penyimpanan energi matahari
yang diserap kemudian diubah menjadi bentuk energi kimia. Proses ini disebut fosforilasi
fotosintesis atau fotofosforilasi. Pada reaksi terang yang terjadi di grana, energi cahaya
memacu pelepasan elektron dari fotosistem di dalam membran tilakoid. Fotosistem adalah
tempat berkumpulnya beratus-ratus molekul pigmen fotosintesis. Aliran elektron melalui
sistem transpor menghasilkan ATP dan NADPH. ATP dan NADPH dapat terbentuk melalui
jalur non siklik, yaitu elektron mengalir dari molekul air, kemudian melalui fotosistem II dan
fotosistem I. Elektron dan ion hidrogen akan membentuk NADPH dan ATP. Oksigen yang
dibebaskan berguna untuk respirasi aerob. Pusat reaksi pada fotosistem I mengandung
klorofil a, disebut sebagai P700, karena dapat menyerap foton terbaik pada panjang
gelombang 700 nm. Pusat reaksi pada fotosistem II mengandung klorofil a yang disebut
sebagai P680, karena dapat menyerap foton terbaik pada panjang gelombang 680 nm
(Poedjiadi, 2005).

b. Reaksi gelap (reaksi tidak tergantung cahaya)


Disebut juga siklus Calvin-Benson. Reaksi ini disebut reaksi gelap, karena tidak
tergantung secara langsung dengan cahaya matahari (Wirahadikusumah, 1983). Reaksi gelap
terjadi di stroma. Namun demikian, reaksi ini tidak mutlak terjadi hanya pada kondisi gelap.
Reaksi gelap memerlukan ATP, hidrogen, dan elektron dari NADPH, karbon dan oksigen dari
karbondioksida, enzim yang mengkatalisis setiap reaksi, dan RuBp (Ribulosa bifosfat) yang
merupakan suatu senyawa yang mempunyai 5 atom karbon.
Reaksi gelap terjadi melalui beberapa tahapan, yaitu:
a) Karbondioksida diikat oleh RuBp (Ribulosa bifosfat yang terdiri atas 5 karbon) menjadi
senyawa 6 karbon yang labil. Senyawa 6 karbon ini kemudian memecah menjadi 2
fosfogliserat (PGA).
b) Masing-masing PGA menerima gugus pfosfat dari ATP dan menerima hidrogen serta e-
dari NADPH. Reaksi ini menghasilkan PGAL (fosfogliseraldehida).
c) Tiap 6 molekul karbon dioksida yang diikat dihasilkan 12 PGAL.
d) Dari 12 PGAL, 10 molekul kembali ke tahap awal menjadi RuBp, dan seterusnya RuBp
akan mengikat CO2 yang baru.
e) Dua PGAL lainnya akan berkondensasi menjadi glukosa 6 fosfat. Molekul ini merupakan
prekursor (bahan baku) untuk produk akhir menjadi molekul sukrosa yang merupakan
karbohidrat untuk diangkut ke tempat penimbunan tepung pati yang merupakan karbohidrat
yang tersimpan sebagai cadangan makanan.

2. Kemosintesis
Kemosintesis terjadi pada organisme autotrof, tepatnya kemo-autotrof, yang mampu
menghasilkan senyawa organik yang dibutuhkan dari zat-zat anorganik dengan bantuan
energi kimia, yang dimaksud dengan energi kimia di sini adalah energi yang diperoleh dari
suatu reaksi kimia yang berasal dari reaksi oksidasi (Wirahadikusumah, 1983). Kemampuan
mengadakan kemosintesis ini, terdapat pada mikroorganisme dan bakteri autotrof. Bakteri
Sulfur yang tidak berwarna memperoleh energi dari proses oksidasi senyawa H2S. Jangan
disamakan dengan bakteri sulfur yang berwarna kelabu-keunguan yang mampu mengadakan
fotosintesis karena memiliki klorofil, dengan reaksi sebagai berikut:
H2S +

Tidak semua tumbuhan dapat melakukan asimilasi C menggunakan cahaya sebagai


sumber energi. Beberapa macam bakteri yang tidak mempunyai klorofil dapat mengadakan
asimilasi C dengan menggunakan energi yang berasal dan reaksi-reaksi kimia, misalnya
bakteri sulfur, bakteri nitrat, bakteri nitrit, bakteri besi dan lain-lain. Bakteri-bakteri tersebut
memperoleh energi dari hasil oksidasi senyawa-senyawa tertentu. Bakteri besi memperoleh
energi kimia dengan cara oksidasi Fe2+ (ferro) menjadi Fe3+ (ferri). Bakteri Nitrosomonas
dan Nitrosococcus memperoleh energi dengan cara mengoksidasi NH3, tepatnya Amonium
Karbonat menjadi asam nitrit dengan reaksi:

Nitrosomonas
(NH4)2CO3 + 3 O2 > 2 HNO2 + CO2 + 3 H20 + Energi
Nitrosococcus

Reaksi anabolisme menghasilkan senyawa-senyawa yang sangat dibutuhkan oleh


banyak organisme, baik organisme produsen (tumbuhan) maupun organisme konsumen
(hewan, manusia). Beberapa contoh hasil anabolisme adalah glikogen, lemak, dan protein
berguna sebagai bahan bakar cadangan untuk katabolisme, serta molekul protein, protein-
karbohidrat, dan protein lipid yang merupakan komponen struktural yang esensial dari
organisme, baik ekstrasel maupun intrasel.
BAB III

PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
1. Anabolisme karbohidrat adalah lintasan metabolisme yang menyusun beberapa
senyawa organik sederhana menjadi senyawa kimia atau molekul kompleks.
Anabolisme meliputi tiga tahapan dasar. Pertama, produksi prekursor seperti asam
amino, monosakarida, dan nukleotida. Kedua, adalah aktivasi senyawa-senyawa
tersebut menjadi bentuk reaktif menggunakan energi dari ATP. Ketiga,
penggabungan prekursor tersebut menjadi molekul kompleks, seperti protein,
polisakarida, lemak, dan asam nukleat.
2. Jalur anabolisme yang membentuk senyawa-senyawa dari prekursor sederhana
mencakup glikogenesis dan glukeogenesis. Contoh dari anabolisme karbohidrat
adalah Fotosintesis dan kemosintesis.
DAFTAR RUJUKAN

Amin, M. 2009. Biologi. Jakarta: PT Bumi Aksara.


Girindra, A. 1986. Biokimia. Jakarta : Gramedia
Lehninger, A.L. 1982. Biochemistry. New york : Worth Publisher Inc
McCloskey, J. C. & Bulechek, G. M. 1996. Nursing Interventions Classification (NIC). USA:
Mosby
Poedjiadi,A.2005.Dasar-dasar Biokimia.UI-Press,Jakarta
Toha, A, H, H. 2001. Biokimia Metabolisme Biomolekul. Bandung: Alfabeta
Wirahadikusumah, M. 1983. Biokimia. Bandung : Penerbit ITB.