Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Suatu perusahaan harus kreatif dan inovatif guna menghadapi persaingan dunia bisnis
yang dari waktu ke waktu kian kompetitif. Hal ini juga dirasakan oleh perusahaan yang
bergerak di bidang perdagangan. Perusahaan dagang adalah perusahaan yang kegiatannya
membeli barang dan menjualnya kembali tanpa mengubah bentuk barang tersebut terlebih
dahulu, dan tujuan penjualan ini untuk memperoleh keuntungan. Diperlukan pengelolahan
dan pemeriksaan yang memadai terhadap persediaan barang dagang.

Pengelolaan dapat meliputi pencatatan yang baik dan akurat sesuai dengan kebutuhan.
Pemeriksaan persediaan merupakan fungsi manajerial yang sangat penting, karena
pemeriksaan atas persediaan ini banyak melibatkan investasi rupiah dan mempengaruhi
efektivitas dan efisiensi kegiatan perusahaan. Oleh karena itu, audit atas persediaan barang
dagang sangat diperlukan untuk mengurangi resiko terjadinya selisih, kehilangan,
mengantisipasi kemungkinan terjadinya kecurangan dan memastikan bahwa prosedur telah
dilakukan dengan baik sehingga kemudian dapat dibuatlah perbaikan.

Secara intern, kesalahan penyajian nilai persediaan barang dagang dapat menimbulkan
kesalahan pengambilan keputusan produksi. Kegiatan pemasaran dan bahan pembelanjaan
perusahaan. Bagi pihak ekstern, kesalahan tersebut dapat memberikan informasi yang
menyesatkan mengenai profitabilitas dan bahkan kemampuan perusahaan untuk dapat
menyelesaikan kewajiban-kewajiban keuangan.

Oleh karena itu untuk memenuhi kebutuhan berbagai pihak akan informasi akuntansi
mengenai persediaan barang dagang dibutuhkan pengujian kesusaian antara praktek akuntansi
persediaan barang dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum. Proses pengujian tersebut di
kenal dengan istilah Auditing yang di lakukan oleh akuntan publik sebagai pihak yang
indipenden dari penyelenggaraan kegiatan, pemilikan dan hubungan baik lainnya dengan
organisasi perusahaan yang dapat mempengaruhi indipenden tersebut.

B. Rumusan Masalah

1. Jelaskan Apa itu Audit Persediaan?


2. Apa tujuan dari Audit Persediaan?
3. Bagaimana prosedur Audit Persediaan diterapkan?

1
BAB II

PEMBAHASAN

1. AUDIT PERSEDIAAN

Audit Persediaan adalah merupakan bagian dari aset perusahaan yang pada umumnya
nilainya cukup material dan rawan oleh tindakan pencurian ataupun penyalahgunaan. Oleh
karena itu, biasanya akun persediaan menjadi salah satu perhatian utama auditor dalam
pemeriksaan atas laporan keuangan perusahaan. Menurut Standar Akuntansi Keuangan
(PSAK No.14, hal 14.1 s/d 14.2 & 14.9 IAI, 2002, persediaan adalah aktiva:

1. yang tersedia untuk dijual dalam kegiatan usaha normal.

2. dalam proses produksi dan atau dalam perjalanan; atau

3. dalam bentuk bahan atau perlengkapan (supplies) untuk digunakan dalam proses atau
pemberian jasa.

Persediaan meliputi barang yang dibeli dan disimpan untuk dijual kembali, misalnya barang
dagang dibeli oleh pengecer untuk dijual kembali, atau pengadaan tanah dan properti lainnya
untuk dijual kembali. Persediaan juga mencakup barang jadi yang telah diproduksi, atau
barang dalam penyelesaian yang sedang diproduksi perusahaan, dan termasuk bahan serta
perlengkapan yang akan digunakan dalam proses produksi.
Biaya persediaan harus meliputi semua biaya pembelian, biaya konversi, dan biaya lain yang
timbul sampai persediaan berada dalam kondisi dan tempat yang siap untuk dijual atau
dipakai.

2. TUJUAN AUDIT PERSEDIAAN

Adapun tujuan utama pemeriksaan persediaan adalah untuk menentukan bahwa :

1. Untuk memeriksa apakah terdapat internal control yang cukup baik atas persediaan,

2. Untuk memeriksa apakah persediaan yang tercantum di neraca betul-betul ada dan
dimiliki oleh perusahaan pada tanggal neraca.

3. Untuk memeriksa apakah metode penilaian persediaan (valuation) sesuai dengan


prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia/Standar Akuntansi Keuangan.

4. untuk memeriksa apakah sistem pencatatan persediaan sesuai dengan prinsip


akuntansi yang berlaku umum di Indonesia/SAK.

5. Untuk memeriksa apakah terhadap barang-barang yang rusak (defective), bergerak


lambat (s/ow moving) dan ketinggalan mode (absolescence) sudah dibuatkan
allowance yang cukup.

2
6. Untuk mengetahui apakah ada persediaan yang dijadikan jaminan kredit.

7. Untuk mengetahui apakah persediaan diasuransikan dengan nilai pertanggungan yang


cukup.

8. Untuk mengetahui apakah ada perjanjian pembelian/penjualan persediaan (purchasel


sales commitment) yang mempunyai pengaruh yang besar terhadap laporan keuangan,

9. Untuk memeriksa apakah penyajian persediaan dalam laporan keuangan sudah sesuai
dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia/SAK.

Walaupun tujuan-tujuan audit yang disebutkan di atas diarahkan terutama atas eksistensi
dan valuasi persediaan dalam neraca, tetapi auditor harus selalu ingat bahwa audit terhadap
akun persediaan yang dilakukannya harus berhubungan dengan harga pokok penjualan dan
akun-akun terkait lainnya dalam laporan laba rugi.

3. TAHAP-TAHAP AUDIT PERSEDIAAN


Beberapa tahapan prosedur audit yang harus dilakukan auditor dalam melakukan pemeriksaan
atas akun persediaan diantaranya adalah :
1. Pemahaman Bisnis Klien kecukupan pemahaman atas bisnis perusahaan merupakan
dasar terhadap audit persediaan. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh auditor
melalui Kuesioner Pemahaman Bisnis dan Jenis Usaha Klien akan memberikan auditor
pemahaman mengenai aspek-aspek unik dari bisnis dan jenis usaha, seperti faktor
musiman dan siklus, sifat dari keuangan, metode dan kebijaksanaan penjualan, kondisi
persaingan usaha, bahan baku dan sumbernya, tenaga kerja dan fasilitas pabrik yang
berkaitan dengan kebijaksanaan operasi perusahaan serta karakteristik sistim informasi
termasuk metode costing. Pemahaman ini memungkinkan auditor untuk mencapai
kesimpulan mengenai aspek-aspek laporan keuangan sehubungan dengan persediaan.
2. Penilaian Pengendalian Intern tujuan pengendalian intern atas persediaan adalah untuk
meyakinkan bahwa :
(a) adanya pengendalian yang memadai terhadap mutasi persediaan,
(b) semua transaksi persediaan telah dicatat dan diklasifikasikan dengan tepat,
(c) penghitungan fisik persediaan telah dijalankan sesuai dengan prosedur yang telah
ditetapkan,
(d) harga perolehan persediaan telah ditentukan dengan tepat,
(e) penyesuaian atas persediaan yang bergerak lambat (slow moving), usang dan rusak telah
dilakukan dengan tepat.
3
3. Pengujian Substantif tujuan utama pengujian substantif terhadap persediaan adalah
untuk memberikan bukti nyata dari keberadaan dan penilaian persediaan. Pengujian ini
meliputi observasi dan pengujian penghitungan fisik (stock taking), pengujian ringkasan
dan pengujian harga.

4. PENGUJIAN SUBSTANTIF TERHADAP SALDO SEDIAAN

Prosedur Audit Awal

Sebelum membuktikan apakah saldo sediaan yang diacantumkan oleh klien di neracanya
sesuai dengan sediaan yang benar-benar ada pada tanggal neraca, auditro melakukan
rekonsiliasi antara informasi sediaan yang dicantumkan dineraca dengan catatan akuntansi
yang mendukungnya. Rekonsiliasi ini perlu dilakukan agar auditor memperoleh keyakinan
bahwa informasi sediaan yang dicantumkan di neraca didukung dengan catatan akuntansio
yang dapat dipercaya. Oleh karena itu, auditor melakukan 5 prosedur audit berikut ini dalam
melakukan rekonsiliasi informasi sediaan di neraca dengan catatan akuntansi yang
bersangkutan:

1. Usut saldo sediaan yang tercantum di neraca ke saldo akun sediaan yang bersangkutan
didalam buku besar.

2. Hiotung kembali saldo akun sediaandi buku besar.

3. Usut saldo akun sediaan ke kertas kerja tahun yang lalu.

4. Usut posting pendebitan dan pengkreditan akun sediaan ke jurnal yang bersangkutan.

5. Lakukan rekonsiliasi buku pembantu sediaan dengan akun kontrol sediaan di buku besar.

Prosedur Analitik

Prosedur analitik ini merupakan pengecekan secara menyeluruh mengenai kewajaran sediaan
yang disajikan di neraca. Dalam prosedur ini, auditor menghitung bernagai ratio yang
bersangkutan dengan sediaan, misalnya tingkat perputaran berbagai kelompok sediaan, dan
jika terdapat fluktuasi ratio tertentu dari ratio tahun sebelumnya, auditor berkewajiban
mendapatkan penjelasan mengenai penyebab terjadinya fluktuasi tersebut. Hubungan antara
tingkat perputaran sediaan, tingkat sediaan pada tanggal neraca, dan volume penjualan
semunay harus mendukung pengujian pengujian substantif yang telah dilakukan oleh
auditor.

Berbagai ratio tersebut jika dihitung oleh auditor dan kemudian dibandingkan dengan angka
harapan (ratio yang sama dari data masa lalu, data industri, jumlah yang dianggarkan, atau
data lain) akan dapat memberikan indikasi bagi auditor ke fokus mana perhatian auditor perlu
diarahkan dalam pelaksanaan pengujian transaksi rinci dan saldo akun rinci.
4
5
Pengujian terhadap Transaksi Rinci

Keandalan saldo sediaan sangat ditentuka oleh keterjadian transaksi berikut ini yang di debit
dan dikreditkan kedalam akun piutang usaha :

1. Transaksi pembelian

2. Transaksi penjualan

3. Transaksi pemakain

Disamping itu, keandalan saldo akun sediaan ditentukan pula oleh ketepatan pisah batas yang
digunakan untuk mencatat berbagai tarnsaksi tersebut di atas. Oleh karena itu, auditor
melakukan pengujian substantif terhadap transasksi rinci yang mendebit dan mengkredit akun
sediaan dan pengujian pisah batas yang digunakan untuk mencatat transaksi yang berkaitan
dengan akun tersebut.

Perikas Sampel Transaksi yang Tercatat dalam Akun Sediaan ke Dokumen yang Mendukung
Timbulnya Transaksi Tersebut.

1. Periksa pendebitan akun sediaan ke dokumen pendukung : bukti kas keluar, faktur
pembelian, laporan penerimaan barang, dan surat order pembelian.

2. Periksa pengkreditan akun sediaan ke dokumen pendukung : faktur penjualan, laporan


pengiriman barang, bukti pemakain barang gudang, memo debit untuk return pembelian.

Pengujian Pisah Batas Transaksi yang Berkaitan dengan Sediaan

Verifikasi pisah batas dimaksudkan untuk membuktikan apakah klien menggunakan pisah
batas yang konsisten dalam memperhitungkan tarnsaksi pembeliaan, penjualan, dan pemakain
sediaan yang termasuk dalam tahun yang diaudit di banding dengantahun sebelumnya. Jika
klien tidak menggunakan tanggal pisah batas yang konsisten, akibatnya adalah transaksi
pembelian, penjualan, dan pemakain sediaan yang seharusnya diakui sebagai pendapatan atau
biaya dalam tahun berikutnya, di cata oleh klien sebagai pendapatan atau biaya dalam tahun
yang diaudit. Dipihak lain , transaksi pembelian, penjualan, dan pemakaian dalam tahun yang
diaudit dapat diakui oleh klien sebagai pendfapatan atau biaya tahun berikutnya. Dengan
demikian, jika klien tidak konsisten dalam menggunakan tanggal pisah batas, perhitngan laba
rugi tahun yang diauidt akan berpengaruh langsung. Oleh karena itu, auditor melakukan
pemeriksaan terhadap transaski pembelian, penjualan, dan pemakaian sediaan dalam
beberapa minggu sebelum dan sesudah tanggal neraca, untuk menentukan perlakuan yang
tepat terhadap pengakuan pendapatan dan biaya.

1. Periksa dokumen yang mendukung transaksi pembelian dalam minggu terakhir tahun yang
diaudit dan minggu pertama setelah tanggal neraca.

6
2. Periksa dokumen yang mendukung berkurangnya sediaan (karena transaksi penjualan atau
pemakaian sendiri ) dalam minggu terakhir tahun yang diaudit dan minggu pertama setelah
tanggal neraca.

Pengujian terhadap Saldo Akun Rinci

Pengamatan terhadap perhitungan fisik sediaan :

1. Periksa instruksi tertulis mengenai perhitungan fisik sediaan

2. Lakukan pengamatan terhadap perhitungan fisik sediaan yang dilakukan oleh klien

Kirmkan surat konfirmasi sediaan yang disimpan di gudang pihak luar

1. Mintalah informasi mengenai barang barang klien yang dijual secara konsinyasi dan
barang barang titipan yang ada di tangan klien.

2. Mintalah informasi mengenai sediaan yangh dijadikan jaminan penarikan utang

3. Lakukanh pengujian terhadap penilain sediaan

4. Mintalah informasi mengenai metode penilaian sediaan yang digunakan oleh klien

5. Periksa kesesuain kos per satuan sediaan dengan prinsip akuntansi berterima umum

6. Periksa catatan pendukung yang bersangkutan dengan data kos per satuan sediaan

7. Bandingkan dengan laba bruto tahun yang diaudit dengan laba bruto tahun sebelumnya

8. Lakukan pengamatan terhadap unsur sediaan ayng rusak

9. Hitung tingkat perputaran sediaan dan bandingkan dengan tingkat perputaran sediaan tahun
sebelumnya

10. Lakukan pengamatan terhadapa sediaan yang lambat pemakaiannya atau penjulannya.

11. Mintalah surat representasi sediaan dari klien

Pemeriksaan Penyajian dan Pengungkapan Sediaan di Neraca

Atasa dasar prinsip akuntansi berterima umum , auditor melakuakn verifikasi penyajian
sediaan di neraca dengan cara :

1. Periksa klasifikasi sediaan di neraca

2. Periksa penjelasan/ pengungkapan yang bersangkutan dengan sediaan

3. Lakukan analytical review terhadap sediaan

7
Contoh Prosedur Pengendalian Intern Persediaan Barang Dagang :

1) Prosedur Permintaan Pembelian dan Pemesanan Barang

Langkah-langkah pengesahan formulir permintaan pembelian (PP) di CV. Kamdatu


melibatkan bagian Gudang, dan Bagian
Pembelian. Formulir PP dibuat oleh bagian gudang setelah mengetahui ada beberapa
barang dagang yang perlu dipesan karena
jumlahnya yang sedikit serta tidak mencukupi jumlah yang diminta bagian penjualan. Hal
ini dilakukan bagian gudang untuk menjamin
bahwa barang-barang itu benar-benar diperlukan dan jumlah barang yang diminta tidak
berlebihan.
2) Prosedur Penerimaan dan Penyimpanan Barang

Dalam CV. Kamdatu pihak yang berwenang menerima barang adalah Bagian
Gudang yang sekaligus merangkap sebagai
seksi penyimpanan. Perusahaan tidak menyediakan lembar laporan penerimaan
barang (LPB), namun tanggung jawab kelengkapan jumlah dan kondisi barang yang
diterima, diserahkan sepenuhnya kepada Bagian Gudang. Apabila ada masalah dalam proses
penerimaan, misalnya barang yang
diterima kurang atau cacat, maka Bagian
Gudang akan menambahkan catatan atau keterangan di lembar surat jalan.
3) Prosedur Pengeluaran Barang
Dalam prosedur ini jumlah barang yang dikeluarkan haruslah sesuai dengan
surat
jalan pengiriman barang. Setiap hari bagian gudang CV. Kamdatu mencatat transaksi
keluar barang dalam buku harian keluar masuk barang kemudian baru mempostingnya
ke kartu persediaan. Selain itu barang yang
dikeluarkan diutamakan barang yang merupakan persediaan yang lebih dahulu
masuk, hal ini untuk mencegah persediaan tersimpan terlalu lama agar tidak rusak.

8
Pembahasan :

1. Pemahaman Terhadap Sistem Informasi Akuntansi untuk Pelaksanaan


Transaksi
Pada tahap awal program audit yang dilakukan untuk pengujian pengendalian atas
pengelolaan persediaan barang dagangan yaitu dengan menetapkan tujuan audit, dan
tujuannya adalah untuk menilai efektivitas pengendalian intern dalam mencapai tujuan
tertentu yang telah ditetapkan, kemudian merencanakan perbaikan yang diperlukan penulis
telah membuat langkah kerja dalam rangka proses pengumpulan informasi yang
berhubungan dengan prosedur pengelolaan persediaan barang dagang, antara lain:

1. Melakukan pengamatan atau observasi pada kegiatan pengelolaan persediaan barang


dagang pada CV. Kamdatu Palembang.

2. Melakukan wawancara atau interview kepada bagian gudang.


3. Mengumpulkan informasi yang tertulis yang berhubungan dengan pengelolaan
persediaan barang dagang perusahaan.
Dengan mengetahui semua informasi yang berhubungan dengan pengelolaan barang
dagang pada CV. Kamdatu Palembang, maka penulis dapat lebih mudah melakukan audit
dan menganalisis pengelolaan persediaan barang dagang.
Pada tahap awal ini penulis hanya memperoleh informasi yang meliputi data organisasi,
prosedur permintaan pembelian, pemesanan barang dagang, penerimaan dan penyimpanan
barang, pengiriman barang, dan pengamatan fisik secara langsung serta wawancara
dengan bagian gudang.
2. Penentuan Kemungkinan Salah Saji Potensial dalam Setiap Tahap Pelaksanaan
Transaksi

Dari hasil pengujian ini, penulis dapat lebih memahami pengendalian yang berlaku pada
CV. Kamdatu sehingga lebih mudah mengetahui potensi potensi terjadinya kelemahan
pada berbagai aktivitas yang dilakukan. Kuesioner pengendalian intern terdiri dari lima
kolom yaitu kolom pertama adalah nomor urut, kolom kedua pertanyaan, kolom ketiga dan
keempat jawaban untuk ya dan tidak, kolom terakhir adalah keterangan.

9
10
Dari hasil evaluasi terhadap pengendalian internal atas pengelolaan persediaan
barang dagang di CV. Kamdatu dapat diketahui bahwa pengendalian intern yang telah
ditetapkan perusahaan cukup memadai, namun berdasarkan kuesioner
pengendalian internal, terdapat beberapa kelemahan di dalam pelaksanaan intern
atas pengelolaan persediaan antara lain bagian gudang CV. Kamdatu tidak membuat
formulir permintaan pembelian sesuai dengan prinsip titik pesan kembali, tidak adanya
pemeriksaan mendadak ke gudang, tidak ada pedoman baku penentuan waktu
pemesanan barang, fungsi penerimaan dan penyimpanan barang dipegang oleh satu
orang, perancangan layout gudang yang tidak dilakukan secara rutin yang dapat
mengakibatkan tidak terjaminnya kondisi barang di gudang, dan tidak ada pedoman
tertulis untuk pengambilan barang di gudang

3. Penentuan Aktivitas Pengendalian yang Diperlukan untuk Mendeteksi dan


Mencegah Salah Saji Potensial dalam Setiap Tahap Pelaksanaan Transaksi

Aktivitas pengendalian ini diperlukan untuk mencegah salah saji material


yang dapat terjadi dalam proses pengelolaan persediaan. Karena aktivitas persediaan
barang dagang begitu kompleks, sehingga diperlukan pengendalian yang memadai.
Setelah aktivitas pengendalian ditentukan, maka penulis dapat merancang prosedur
audit untuk pengujian pengendalian. Berikut ini disajikan penjelasan aktivitas
pengendaliaan yang diperlukan dalam pengelolaan persediaan barang dagang.

11
Berikut penjelasan aktivitas pengendalian dari masing-masing kondisi yang ada antara
lain :
Permintaan Pembelian

Review kinerja secara periodik untuk fungsi permintaan pembelian.


Bagian gudang di CV. Kamdatu merangkap fungsi sebagai fungsi permintaan pembelian,
juga pencatatan persediaan barang dagang. Fungsi yang kompleks ini mendorong
terjadinya manipulasi laporan jumlah persediaan di buku persediaan dan menutupi selisih
jumlah fisik yang ada, sehingga apabila pemesanan terus dilakukan berlebih maka
selisih yang ada akan lebih sulit dideteksi. Karena itu perlu pengawasan dalam
permintaan pembelian terutama untuk barang dagang yang termasuk fast moving.

Otorisasi umum dan khusus untuk setiap barang yang akan dibeli.
Bagian keuangan CV. Kamdatu yang bertugas membuat anggaran perusahaan,
mempunyai otorisasi umum dalam membentuk anggaran pembelanjaan barang.
sedangkan bagian pemesanan barang (pembelian) mempunyai otorisasi bersifat khusus
dimana setiap kali anggaran akan direalisasikan untuk proses pembelian barang, harus
mendapat persetujuan dari bagian beberapa bagian, termasuk bagian keuangan.
pelaksanaan otorisasi ini melalui penggunaan formulir permintaan pembelian.

Pemesanan Barang

Membuat pedoman baku penentuan waktu pemesanan barang


Pemasok yang dipakai oleh CV. Kamdatu mayoritas berada di Jakarta, sedangkan
pengiriman dilakukan melalui ekspedisi Ratu Berlian. Membutuhkan waktu seminggu
bahkan tiga minggu sampai barang masuk ke Palembang. Karena itu pedoman baku

12
diperlukan untuk barang yang sulit sampai ke Palembang dapat dipesan segera setelah
formulir permintaan pembelian diterima.

Setiap order pembelian harus didasarkan pada surat permintaan pembelian yang
telah diotorisasi.
Order pembelian di CV. Kamdatu berupa memo yang bernomor urut cetak kemudian di
fax ke pabrik. Memo ini harus dikeluarkan sesuai dengan formulir permintaan pembelian
yang telah diotorisasi dari bagian gudang dan bagian keuangan (anggaran).

Setiap penerimaan barang harus terdapat surat order pembelian yang telah
diotorisasi.
Tidak ada barang dan jasa yang diterima tanpa adanya order pembelian yang dilakukan
oleh perusahaan. Karena itu fungsi penerimaan barang CV. Kamdatu tidak diperbolehkan
untuk menerima barang jika fungsi tersebut tidak menerima tembusan order
pembelian dari fungsi pembelian. Aktivitas ini untuk menjamin asersi keberadaan atau
keterjadian transaksi pembelian.

13
BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Audit Persediaan adalah merupakan bagian dari aset perusahaan yang pada
umumnya nilainya cukup material dan rawan oleh tindakan pencurian ataupun
penyalahgunaan. P e r s e d i a a n m e r u p a k a n s u a t u b a g i a n t e r b e s a r d a r i
a s s e t y a n g b i s a mempengeruhi neraca dan laporan rugi laba yang perlu di
jaga keberadaannya baik dengan membuat sistem penyimpanan yang baik
maupun dengan sistem pencatatan dan penilaian sesuai dengan prinsip-prinsip
akuntansi Indonesia yang diterapkan secara konsisten. Adapun tujuan utama
pemeriksaan persediaan adalah untuk menentukan bahwa :
Persediaan secara fisik benar-benar ada
Prosedur pisah batas (cut-off) persediaan telah dilakukan dengan memuaskan
Persediaan telah dinilai sesuai dengan Prinsip Akuntansi Berlaku Umum (PSAK)
yang diterapkan secara konsisten
Persediaan yang bergerak lambat (slow moving), usang, rusak, dapat diidentifikasika
dengan tepat dan dicadangkan dalam jumlah yang memadai
Penghitungan matematis dalam daftar persediaan telah dibuat dengan cermat.
Untuk itu diperlukan suatu pemeriksaan yang rutin dengan prosedur yang sudah
ditetapkan. A d a p u n p e m e r i k s a a n a t a s p e r s e d i a a n y a n g d a p a t d i t e r a p k a n
yaitu pemeriksaan di tengah-tengah tahun dan pemeriksaan akhir
t a h u n , h a l i n i tujuaannya untuk menjamin sistem pengendalian intern atas persediaan
barangd terepkan sebagaimana seharusnya. Selain itu juga perlu adanya
pengamatan a t a s p e r h i t u n g a n b a r a n g y a n g d i l a k u k a n o l e h p e l a n g g a n
d e n g a n b e r b a g a i persiapan dan prosedur yang ada.
Bagian terpenting dari pengamatan persediaan yaitu menentukan apakah
perhitungan persediaan secara fisik yang dilakukan sesuai dengan instruksi klien atau
tidak. Prosedur audit pengujian terinci atas saldo yang umum dilakukan untuk pengamatan
persediaan secara fisik. Sebagai tambahan atas prosedur terinci, auditor harus menelusuri
semua bagian dimana peresediaan digudangkan untuk memastikan bahwa semua
persediaan telah dihitung dan diberi kartu yang memadai.

B. DAFTAR PUSTAKA

https://iangenerous.blogspot.co.id/2013/09/pengertian-audit-persediaan.html

http://eprints.mdp.ac.id/692/1/JURNAL%202009210017%20NAMA_OKTAVIANI
%20PRIHATININGSIH.pdf

Mulyadi. 2008. Auditing. Edisi ke 6. Jakarta: Salemba Empat

14