Anda di halaman 1dari 41

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN

PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR SERVIKAL

OLEH:

NI LUH VENY WIDHI UDAYANI 16089142049

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BULELENG


PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
PROGRAM PROFESI NERS
2017
Lembar Pengesahan

Telah Diterima Dan Disahkan Oleh Clinical Teacher (CT) Dan Clinical
Instructure Stase Gadar Sebagai Syarat Memperoleh Penilaian Dari Department
Gadar Ners STIKES Buleleng.

Denpasar, 2017

Clinical Instruktur (CI) Clinical Teacher (CT),

Ruang Medical Surgical Stase Gadar

RSUP Sanglah STIKES Buleleng


LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN
PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR SERVIKAL

A. KONSEP DASAR PENYAKIT


1. DEFINISI
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis
dan luasnya (Smletzer & Bare, 2002).
Fraktur adalah hilangnya kontinuitas tulang, tulang rawan, baik yang
bersifat total maupun sebagian (Muttaqin, 2008).
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang, tulang rawan yang
umumnya disebabkan oleh rudapaksa (Mansjoer dkk, 2000).
Cedera tulang belakang adalah cedera mengenai cervicalis, vertebralis dan
lumbalis akibat trauma; jatuh dari ketinggian, kecelakakan lalu lintas,
kecelakakan olah raga dsb ( Sjamsuhidayat, 1997)
2. EPIDEMIOLOGI
Insiden fraktur terbuka sebesar 4% dari seluruh fraktur dengan
perbandingan laki-laki dan perempuan sebesar 3,64 berbanding 1, dengan
kejadian terbanyak pada kelompok umur dekade kedua dan ketiga yang relatif
mempunyai aktivitas fisik dan mobilitas yang tinggi. Analisis epidemiologi
menunjukkan bahwa 40% fraktur terbuka terjadi pada ekstremitas bawah,
terutama daerah tibia dan femur tengah sedangkan suatu penelitian yang
dilakukan oleh Kilbourne et al di Baltimore tahun 2008 mendapatkan pasien
fraktur tertutup sebanyak 291 (56%) orang. Menurut Kahlon et al yang melakukan
analisis terhadap penanganan emergensi pasien trauma di bagian ortopedi Rumah
Sakit Umum Lahore terhadap 1289 pasien tahun 2004, didapatkan jumlah kasus
fraktur tertutup sebanyak 915 (71%) pasien. Suatu penelitian yang dilakukan
Armis di Indonesia tahun 2001 mendapatkan pasien fraktur tertutup sebesar 96 %
dari seluruh fraktur. Tingginya insiden fraktur tertutup ini disebabkan karena
tingginya angka kecelakaan lalu lintas. Di Indonesia kematian akibat kecelakaan
lalu lintas mencapai 12.000 orang per tahun.

3. ETIOLOGI
Penyebab fraktur dapat dibagi menjadi tiga yaitu :
a) Cedera traumatik
Dapat disebabkan oleh :
Cedera langsung berarti pukulan langsung terhadap tulang sehingga
tulang patah secara spontan.
Cedera tidak langsung berarti pukulan langsung berada jauh dari lokasi
benturan misalnya jatuh dengan kaki berjulur sehingga menyebabkan
fraktur
Fraktur yang disebabkan kontraksi keras yang mendadak dari otot
yang kuat
b) Fraktur patologik
Dalam hal ini, kerusakan tulang akibat proses penyakit dimana dengan
trauma minor dapat mengakibatkan fraktur yang dapat terjadi pada
berbagai keadaan berikut :
Tumor tulang (jinak atau ganas) : pertumbuhan jaringan baru yang
tidak terkendali dan progresif
Infeksi seperti osteomielitis : dapat terjadi sebagai akibat infeksi akut
atau dapat timbul sebagai salah satu proses yang progresif, lambat dan
nyeri
Rakhitis : suatu penyakit tulang yang disebabkan oleh defisiensi
vitamin D yang mempengaruhi semua jaringan skeletal lain biasanya
disebabkan oleh defisiensi diet, tetapi kadang-kadang dapat disebabkan
kegagalan absorbsi vitamin D atau oleh karena asupan kalsium dan
fosfat yang rendah.
Osteoporosis
c) Secara spontan
Disebabkan oleh stress tulang yang terus menerus misalnya pada penyakit
polio dan orang yang bertugas di kemiliteran.

4. PATOFISIOLOGI
Tulang bersifat rapuh namun cukup mempunyai kekuatan dan gaya pegas
untuk menahan tekanan (Apley, 1993). Namun, apabila tekanan eksternal yang
datang lebih besar dari yang dapat diserap tulang maka terjadilah trauma pada
tulang yang mengakibatkan rusaknya atau terputusnya kontinuitas tulang
(Carpenito, 1995). Setelah terjadi fraktur, periosteum dan pembuluh darah serta
saraf dalam korteks, marrow, dan jaringan lunak yang membungkus tulang rusak.
Perdarahan terjadi karena kerusakan tersebut dan terbentuklah hematoma di
rongga medula tulang. Jaringan tulang segera berdekatan ke bagian tulang yang
patah. Jaringan yang mengalami nekrosis ini menstimulasi terjadinya respon
inflamasi yang ditandai dengan vasodilatasi, eksudasi plasma dan leukosit, dan
infiltrasi sel darah putih. Kejadian inilah yang merupakan dasar dari proses
penyembuhan tulang nantinya (Black, 1995)

a) Faktor-faktor yang mempengaruhi fraktur


1) Faktor Ekstrinsik
Adanya tekanan dari luar yang bereaksi pada tulang yang tergantung
terhadap besar, waktu, dan arah tekanan yang dapat menyebabkan fraktur.
2) Faktor Intrinsik
Beberapa sifat yang terpenting dari tulang yang menentukan daya tahan
untuk timbulnya fraktur seperti kapasitas absorbsi dari tekanan, elastisitas,
kelelahan, dan kepadatan atau kekerasan tulang (Donna, 1995).

b) Biologi penyembuhan tulang


Tulang bisa beregenerasi sama seperti jaringan tubuh yang lain. Fraktur
merangsang tubuh untuk menyembuhkan tulang yang patah dengan jalan
membentuk tulang baru diantara ujung patahan tulang. Tulang baru dibentuk
oleh aktivitas sel-sel tulang.

Ada lima stadium penyembuhan tulang, yaitu:


1) Stadium I-Pembentukan Hematoma
Pembuluh darah robek dan terbentuk hematoma disekitar daerah fraktur. Sel-
sel darah membentuk fibrin guna melindungi tulang yang rusak dan sebagai
tempat tumbuhnya kapiler baru dan fibroblast. Stadium ini berlangsung 24
48 jam dan perdarahan berhenti sama sekali. Setelah 24 jam supalai darah
disekitar fraktur meningkat

2) Stadium II-Proliferasi Seluler


Pada stadium ini terjadi proliferasi dan differensiasi sel menjadi fibro kartilago
yang berasal dari periosteum,`endosteum,dan bone marrow yang telah
mengalami trauma. Sel-sel yang mengalami proliferasi ini terus masuk ke
dalam lapisan yang lebih dalam dan disanalah osteoblast beregenerasi dan
terjadi proses osteogenesis. Dalam beberapa hari terbentuklah tulang baru
yang menggabungkan kedua fragmen tulang yang patah. Fase ini berlangsung
selama 8 jam setelah fraktur sampai selesai, tergantung jenis frakturnya.

3) Stadium III-Pembentukan Kallus


Selsel yang berkembang memiliki potensi yang kondrogenik dan osteogenik,
bila diberikan keadaan yang tepat, sel itu akan mulai membentuk tulang dan
juga kartilago. Populasi sel ini dipengaruhi oleh kegiatan osteoblast dan
osteoklast mulai berfungsi dengan mengabsorbsi sel-sel tulang yang mati.
Massa sel yang tebal dengan tulang yang imatur dan kartilago, membentuk
kallus atau bebat pada permukaan endosteal dan periosteal. Sementara tulang
yang imatur (anyaman tulang) menjadi lebih padat sehingga gerakan pada
tempat fraktur berkurang pada 4 minggu setelah fraktur menyatu.

4) Stadium IV-Konsolidasi
Bila aktivitas osteoclast dan osteoblast berlanjut, anyaman tulang berubah
menjadi lamellar. Sistem ini sekarang cukup kaku dan memungkinkan
osteoclast menerobos melalui reruntuhan pada garis fraktur dan tepat
dibelakangnya osteoclast mengisi celah-celah yang tersisa diantara fragmen
dengan tulang yang baru. Ini adalah proses yang lambat dan mungkin perlu
beberapa bulan sebelum tulang kuat untuk membawa beban yang normal.
5) Stadium Lima-Remodelling
Fraktur telah dijembatani oleh suatu manset tulang yang padat. Selama
beberapa bulan atau tahun, pengelasan kasar ini dibentuk ulang oleh proses
resorbsi dan pembentukan tulang yang terus-menerus. Lamellae yang lebih
tebal diletakkan pada tempat yang tekanannya lebih tinggi, dinding yang tidak
dikehendaki dibuang, rongga sumsum dibentuk, dan akhirnya dibentuk
struktur yang mirip dengan normalnya (Black, 1993 dan Apley,1993)

5. KLASIFIKASI
Berdasarkan hubungan dengan dunia luar:
a) Fraktur tertutup adalah fraktur tanpa adanya komplikasi, kulit masih
utuh, tulang tidak menonjol melalui kulit
b) Fraktur terbuka adalah fraktur yang merusak jaringan kulit, karena
adanya hubungan dengan lingkungan luar, maka fraktur terbuka
potensial terjadi infeksi.
Berdasarkan luas dan garis fraktur:
a) Fraktur complete adalah patah atau diskontinuitas jaringan tulang yang
luas sehingga tulang terbagi menjadi dua bagian dan garis patahnya
menyeberangkan dari satu sisi ke sisi lain serta mengenai seluruh
korteks.
b) Fraktur incomplete adalah patah atau diskontinuitas jaringan tulang
dengan garis patah tidak menyeberang, sehingga tidak mengenai korteks
(masih ada korteks yang utuh)
Berdasarkan garis patah tulang:
a) Green Stick yaitu pada sebelah sisi dari tulang
b) Transverse yaitu patah melintang
c) Longitudinal yaitu patah memanjang
d) Obligue yaitu garis patah miring
e) Spiral yaitu patah melingkar

Berdasarkan klasifikasi ASIA (American Spinal injury Association)


ASIA A : Complete (kehilangan fungsi motoris dan sensoris termasuk
pada segmen sacral S4-S5 )
ASIA B : Incomplete (kehilangan fungsi motoris, namun fungsi sensoris
tidak hanya dibawah level lesi dan termasuk segmen sacral S4-S5)
ASIA C : Incomplete (fungsi motoris dan sensoris masih terpelihara tetapi
tidak fungsional dengan kekuatan otot < 3)
ASIA D : Incomplete (fungsi motoris dan sensoris masih terpelihara dan
fungsional dengan kekuatan otot > 3)
ASIA E : Normal (fungsi sensoris dan motoris normal) Cedera servikal
dapat digolongkan menjadi:
Cedera fleksi
Fraktur kompresi : disebabkan karena fleksi yang tiba-tiba.
Fraktur fleksi teardrop : melibatkan seluruh columna ruang interspinosus
melebar dan dapat menyebabkan cedera medulla spinalis. Subluksasi
anterior
: kompleks ligamentum superior mengalami ruptur sedangkan ligamentum
anterior tetap utuh.
Dislokasi faset bilateral : disebabkan fleksi yang berlebihan
Fraktur karena dorongan : terjadi karena fleksi leher yang tiba-tiba selain
itu bisa juga terjadi karena fraktur langsung di prosesus spinosus, trauma
oksipital, tarikan yang sangat kuat di ligamentum supraspinosus.
Cedera Fleksi-rotasi
Dislokasi faset unilateral : terjadi saat fleksi bersamaan dengan rotasi
sehingga ligamentum dan kapsul teregang maksimal.
Dislokasi kedepan pada vertebra di atas dengan atau tanpa di sertai
kerusakan tulang.
Dislokasi antlantoaxial : terjadi karena hiperekstensi, terjadi pergeseran
sendi antara C1 dan C2 dan biasanya fatal. Cedera ini dapat menyebabkan
rheumatoid arthritis.
Cedera ekstensi
Fraktur menggantung : terjadi pada C2 yang disebabkan karena
hiperekstensi dan kompresi yang tiba-tiba.
Ekstensi teardrop : hiperekstensi mendadak dan terjadi akibat tarikan
oleh ligamentum longitudinal.
Cedera compresi axial
Fraktur jefferson : terjadi pada C1 dan disebabkan karena kompresi yang
sangat hebat. Kerusakan terjadi di arkus anterior dan posterior. Fraktur
remuk vertebra : penekanan corpus vertebra secara langsung dan tulang
menjadi hancur.
Fragmen tulang masuk ke kanalis spinalis kemudian menekan medulla
spinalis sehingga terjadi gangguan saraf parsial
Fraktur atlas :
Tipe I dan II : fraktur stabil karena terjadi pada arkus anterior dan
posterior.
Tipe III : terjadi pada lateral C1
Tipe IV : sering disebut sebagai fraktur jefferson
Karena anatomi dan catu vaskuler kord spinal yang unik, berbagai
sindroma tidak lengkap dapat dijumpai pada cedera kord spinal servikal. Pada
sindroma ini, fungsi sensori dan motor tertentu terganggu atau hilang, namun
lainnya tetap utuh.
1. Sindroma kord sentral
Paling sering dijumpai setelah suatu cedera hiperekstensi servikal. Karena
sebab tertentu seperti keadaan mekanik dan catu vaskuler dari kord, bagian
sentral dapat mengalami kontusi walau bagian lateral hanya mengalami
cedera ringan. Khas pasien mengeluh disestesi rasa terbakar yang berat
pada lengan, mungkin karena kerusakan serabut spinotalamik, mungkin
saat ia menyilang komisura anterior. Pemeriksaan fisik menunjukkan
kelemahan lengan, dengan utuhnya kekuatan ekstremitas bawah. Sebagai
tambahan, sensasi nyeri dan suhu hilang dalam distribusi seperti tanjung.
Semua lesi yang menyebabkan cedera primer terhadap kord spinal sentral
dapat menimbulkan gambaran defisit serupa, seperti siringo- mielia, tomor
kord spinal intrinsik, dan hidromielia. Sindroma ini secara jarang dapat
terjadi pada kord spinal bawah (konus medularis).
2. Sindroma arteria spinal anterior
Terjadi karena arteria ini mencatu substansi kelabu dan putih bagian
ventrolateral dan posterolateral kord spinal. Kerusakan arteria ini berakibat
sindroma klinis paralisis bi- lateral dan hilangnya sensasi nyeri serta suhu
dibawah tingkat cedera, namun sensasi posisi dan vibrasi (fungsi kolom
posterior) utuh. Lesi arteria ini bisa karena cedera tulang belakang,
neoplasma yang terletak anterior (biasanya metastasis) dan cedera aortik.
3. Sindroma Brown-Sequard
Bentuk yang murni, menunjukkan akibat dari hemiseksi kord spinal.
Defisit neurologis berupa hilangnya fungsi motor ipsilateral, sensasi
vibrasi dan posisi. Sebagai tambahan, sensasi nyeri serta suhu kontralateral
hilang. Luka tembus dan peluru dapat menimbulkan sindroma Brown-
Sequard 'lengkap', namun manifestasi tak lengkap sindroma ini tampak
dengan berbagai ragam pada lesi lain, termasuk trauma dan neoplasma.
4. Sindroma kolom posterior
Terjadi bila kolom posterior rusak secara selektif, berakibat hilangnya
sensasi vibrasi dan proprioseptif bilateral dibawah lesi. Temuan ini
tersering dijumpai sekunder terhadap kelainan sistemik (neurosifilis),
namun secara jarang dijumpai setelah trauma kord spinal.

6. MANIFESTASI KLINIS
Lewis (2006) menyampaikan gejala klinis dari fraktur adalah sebagai berikut:

a) Nyeri
Nyeri dirasakan langsung setelah terjadi trauma. Hal ini dikarenakan
adanya spasme otot, tekanan dari patahan tulang atau kerusakan jaringan
sekitarnya. Nyeri dirasakan terus menerus dan bertambah beratnya sampai
fragmen tulang diimobilisasi. Spasme otot yang menyertai fraktur
merupakan bentuk bidai alamiah yang dirancang untuk meminimalkan
gerakan antar fragmen tulang.
b) Bengkak/edama
Edema muncul lebih cepat dikarenakan cairan serosa yang terlokalisir pada
daerah fraktur dan extravasi daerah di jaringan sekitarnya.
c) Memar/ekimosis
Merupakan perubahan warna kulit sebagai akibat dari extravasi daerah di
jaringan sekitarnya.
d) Spame otot
Merupakan kontraksi otot involunter yang terjadi disekitar fraktur.
e) Penurunan sensasi
Terjadi karena kerusakan syaraf, terkenanya syaraf karena edema.
f) Gangguan fungsi
Terjadi karena ketidakstabilan tulang yang frkatur, nyeri atau spasme otot,
paralysis dapat terjadi karena kerusakan syaraf.
g) Mobilitas abnormal
Mobilitas abnormal adalah pergerakan yang terjadi pada bagian-bagian
yang pada kondisi normalnya tidak terjadi pergerakan. Ini terjadi pada
fraktur tulang panjang.
h) Krepitasi
Krepitasi merupakan rasa gemeretak yang terjadi jika bagian-bagaian
tulang digerakkan. Krepitasi yang teraba akibat gesekan antara fragmen
satu dengan lainnya. Uji krepitus dapat mengakibatkan kerusakan jaringan
lunak yang lebih berat.
i) Deformitas
Abnormalnya posisi dari tulang sebagai hasil dari kecelakaan atau trauma
dan pergerakan otot yang mendorong fragmen tulang ke posisi abnormal,
akan menyebabkan tulang kehilangan bentuk normalnya.
j) Syok hipovolemik
Syok terjadi sebagai kompensasi jika terjadi perdarahan hebat. Ditandai
dengan nadi cepat, kerja jantung meningkat, vasokontriksi.

k) Pemendekan tulang
Pada fraktur panjang terjadi pemendekan tulang yang sebenarnya
karena kontraksi otot yang melekat di atas dan bawah tempat fraktur.
Fragmen sering saling melingkupi satu sama lain sampai 2,5 sampai 5 cm
(1 sampai 2 inci)

7. PEMERIKSAAN FISIK
a) Mengidentifikasi tipe fraktur
b) Inspeksi daerah mana yang terkena
Deformitas yang nampak jelas
Edema, ekimosis sekitar lokasi cedera
Laserasi
Perubahan warna kulit
Kehilangan fungsi daerah yang cidera
Penonjolan yang abnormal, angulasi, rotasi, pemendekan
Kulit robek atau utuh
Perhatikan adanya sindrom kompartemen pada bagian distal fraktur
femur.
c) Palpasi
Bengkak, adanya nyeri dan penyebaran
Krepitasi pada daerah paha
Nadi, dingin
Observasi spasme otot sekitar daerah fraktur
Terdapat nyeri tekan setempat
d) Movement
Krepitus dan gerakan abnormal dapat ditemukan, tetapi lebih penting
untuk menanyakan apakah pasien dapat menggerakan sendi-sendi dibagian
distal cedera. Gerakan yang dilihat adalah gerakan pasif dan aktif.
Berdasarkan pemeriksaan didapatkan adanya gangguan/keterbatasan gerak
tungkai, ketidakmampuan menggerakkan kaki, dan penurunan kekuatan
otot ekstremitas bawah dalam melakukan pergerakan

8. PEMERIKSAAN PENUNJANG
a) Pemeriksaan Radiologi
Sebagai penunjang, pemeriksaan yang penting adalah pencitraan
menggunakan sinar rontgen (x-ray). Untuk mendapatkan gambaran 3
dimensi keadaan dan kedudukan tulang yang sulit, maka diperlukan 2
proyeksi yaitu AP atau PA dan lateral. Dalam keadaan tertentu diperlukan
proyeksi tambahan (khusus) ada indikasi untuk memperlihatkan pathologi
yang dicari karena adanya superposisi. Perlu disadari bahwa permintaan x-
ray harus atas dasar indikasi kegunaan pemeriksaan penunjang dan
hasilnya dibaca sesuai dengan permintaan. Hal yang harus dibaca pada x-
ray:
Bayangan jaringan lunak.
Tipis tebalnya korteks sebagai akibat reaksi periosteum atau
biomekanik atau juga rotasi.
Trobukulasi ada tidaknya rare fraction.
Sela sendi serta bentuknya arsitektur sendi.
Selain foto polos x-ray (plane x-ray) mungkin perlu teknik khususnya
seperti:
Tomografi: menggambarkan tidak satu struktur saja tapi struktur yang
lain tertutup yang sulit divisualisasi. Pada kasus ini ditemukan
kerusakan struktur yang kompleks dimana tidak pada satu struktur saja
tapi pada struktur lain juga mengalaminya.
Myelografi: menggambarkan cabang-cabang saraf spinal dan pembuluh
darah di ruang tulang vertebrae yang mengalami kerusakan akibat
trauma.
Arthrografi: menggambarkan jaringan-jaringan ikat yang rusak karena
ruda paksa.
Computed Tomografi-Scanning: menggambarkan potongan secara
transversal dari tulang dimana didapatkan suatu struktur tulang yang
rusak.
b) Pemeriksaan Laboratorium
Kalsium Serum dan Fosfor Serum meningkat pada tahap penyembuhan
tulang.
Alkalin Fosfat meningkat pada kerusakan tulang dan menunjukkan
kegiatan osteoblastik dalam membentuk tulang.
Enzim otot seperti Kreatinin Kinase, Laktat Dehidrogenase (LDH-5),
Aspartat Amino Transferase (AST), Aldolase yang meningkat pada
tahap penyembuhan tulang.
c) Pemeriksaan lain-lain
Pemeriksaan mikroorganisme kultur dan test sensitivitas: didapatkan
mikroorganisme penyebab infeksi.
Biopsi tulang dan otot: pada intinya pemeriksaan ini sama dengan
pemeriksaan diatas tapi lebih dindikasikan bila terjadi infeksi.
Elektromyografi: terdapat kerusakan konduksi saraf yang diakibatkan
fraktur.
Arthroscopy: didapatkan jaringan ikat yang rusak atau sobek karena
trauma yang berlebihan.
Indium Imaging: pada pemeriksaan ini didapatkan adanya infeksi pada
tulang.
MRI: menggambarkan semua kerusakan akibat fraktur.

9. DIAGNOSIS/KRITERIA DIAGNOSIS
a) Anamnesis : pada penderita didapatkan riwayat trauma ataupun cedera
dengan keluhan bagian dari tungkai tidak dapat digerakkan
b) Pemeriksaan fisik :
Look: Pembengkakan, memar dan deformitas (penonjolan yang
abnormal, angulasi, rotasi, pemendekan) mungkin terlihat jelas, tetapi
hal yang penting adalah apakah kulit itu utuh; kalau kulit robek dan
luka memiliki hubungan dengan fraktur, cedera terbuka
Feel: Terdapat nyeri tekan setempat, tetapi perlu juga memeriksa
bagian distal dari fraktur untuk merasakan nadi dan untuk menguji
sensasi. Cedera pembuluh darah adalah keadaan darurat yang
memerlukan pembedahan
Movement: Krepitus dan gerakan abnormal dapat ditemukan, tetapi
lebih penting untuk menanyakan apakah pasien dapat menggerakan
sendi-sendi di bagian distal cedera.

10. TERAPI/TINDAKAN PENANGANAN

a. Pertolongan Pertama untuk Fraktur Servikal

Setiap cedera kepala atau leher harus dievaluasi adanya fraktur


servikalis. Sebuah fraktur servikal merupakan suatu keadaan darurat
medis yang membutuhkan perawatan segera. Spine trauma mungkin
terkait cedera saraf tulang belakang dan dapat mengakibatkan
kelumpuhan, sehingga sangat penting untuk menjaga leher .
Jika ada kemungkinan patah tulang leher, leher pasien tidak boleh
digerakkan sampai tindakan medis diberikan dan X-ray dapat diambil. Itu
jalan terbaik untuk mengasumsikan adanya cedera leher bagi siapa saja
yang terkena benturan, jatuh atau tabrakan.
Gejala fraktur servikal termasuk parah dengan rasa sakit pada
kepala, nyeri yang menjalar ke bahu atau lengan,memar dan bengkak di
bagian belakang leher.

b. Penanganan Operasi

Goal dari penanganan operasi adalah: Reduksi mal aligment,


decompresi elemen neural dan restorasi spinal stability. Operasi anterior
dan posterior
Anterior approach, indikasi:
1) ventral kompresi
2) kerusakan anterior collum
3) kemahiran neuro surgeon
Posterior approach, indikasi:
1) dorsal kompresi pada struktur neural
2) kerusakan posterior collum Keuntungan:
3) dikenal banyak neurosurgeon
4) lebih mudah
5) medan operasi lebih luas dapat membuka beberapa segmen
6) minimal morbility

c. Pembatasan aktivitas
Studi spesifik yang membandingkan keluaran dengan atau tanpa
pembatasan aktivitas belum ada. Jadi toleransi terhadap respon
pengobatan yang bersifat individual sebaiknya menjadi panduan bagi
praktisi. Pada tahap akut sebaiknya hindari pekerjaan yang mengharuskan
gerak leher berlebihan. Pemberian edukasi mengenai posisi leher yang
benar sangatlah membantu untuk menghindari iritasi radiks saraf lebih
jauh. Seperti contohnya : penggunaan telepon dengan posisi leher
menekuk dapat dikurangi dengan menggunakan headset, menghindari
penggunaan kacamata bifokal dengan ekstensi leher yang berlebihan,
posisi tidur yang salah. Saat menonton pertandingan pada lapangan
terbuka, maupun layar lebar sebaiknya menghindari tempat duduk yang
menyebabkan kepala menoleh/berotasi ke sisi lesi.
d. Penggunaan collar brace
Ada banyak jenis kolar yang telah dipelajari untuk membatasi
gerak leher. Kolar kaku/ keras memberikan pembatasan gerak yang lebih
banyak dibandingkan kolar lunak (soft collars ), kecuali pada gerak fleksi
dan ekstensi. Kelebihan kolar lunak : memberikan kenyamanan yang lebih
pada pasien. Pada salah satu studi menunjukkan bahwa tingkat kepatuhan
pasien untuk menggunakan kolar berkisar 68-72%. Penggunaan kolar
sebaiknya selama mungkin sepanjang hari. Setelah gejala membaik, kolar
dapat digunakan hanya pada keadaan khusus , seperti saat menyetir
kendaraan dan dapat tidak digunakan lagi bila gejala sudah menghilang.
Sangatlah sulit untuk menyatakan waktu yang tepat kolar tidak perlu
digunakan lagi, namun dengan berpatokan : hilangnya rasa nyeri,
hilangnya tanda spurling dan perbaikan defisit motorik dapat dijadikan
sebagai petunjuk.
e. Modalitas terapi lain
Termoterapi dapat digunakan untuk membantu menghilangkan
nyeri. Modalitas terapi ini dapat digunakan sebelum atau pada saat traksi
servikal untuk relaksasi otot. Kompres dingin dapat diberikan selama 15-
30 menit, 1 sampai 4 kali sehari, atau kompres panas /pemanasan selama
30 menit , 2 sampai 3 kali sehari jika dengan kompres dingin/pendinginan
tidak efektif. Pilihan antara modalitas panas atau dingin sangatlah
pragmatik tergantung pada persepsi pasien terhadap pengurangan nyeri.
Traksi leher merupakan salah satu terapi yang banyak digunakan
meskipun efektifitasnya belum dibuktikan dan dapat menimbulkan
komplikasi sendi temporomandibular. Ada beberapa jenis traksi, namun
yang dapat dilakukan di rumah adalah door traction. Traksi dapat
dilakukan 3 kali sehari selama 15 menit , dan dapat dilakukan dengan
frekuensi yang lebih sedikit selama 4 sampai 6 minggu. Setelah keluhan
nyeri hilang pun traksi masih dapat dianjurkan. Traksi dikontraindikasikan
pada pasien dengan spondilosis berat dengan mielopati dan adanya
arthritis dengan subluksasi atlanto-aksial. Latihan yang menggerakan leher
maupun merangsang nyeri sebaiknya dihindari pada fase akut. Saat nyeri
hilang latihan penguatan otot leher isometrik lebih dianjurkan.
Penggunaan terapi farmakologik dapat membantu mengurangi rasa
nyeri dan mungkin mengurangi inflamasi di sekitar radiks saraf (meskipun
inflamasi sebenarnya tidak pernah dapat dibuktikan di radiks saraf maupun
diskus). Jika gejala membaik dengan berbagai modalitas terapi di atas,
aktivitas dapat secara progresif ditingkatkan dan terapi dihentikan atau
kualitas diturunkan. Jika tidak ada perbaikan atau justru mengalami
perburukan sebaiknya dilakukan eksplorasi yang lebih jauh termasuk
pemeriksaan MRI dan dipertimbangkan dilakukan intervensi seperti
pemberian steroid epidural maupun terapi operatif. Tidak ada patokan
sampai berapa lama terapi non-operatif dilanjutkan sebelum tindakan
operatif. Defisit neurologis pada herniasi diskus daerah lumbal yang cukup
besar dilaporkan bisa terjadi perbaikan tanpa operasi. Mungkin hal ini juga
bisa terjadi pada herniasi diskus di servikal.

11. KOMPLIKASI
Komplikasi awal
a) Syok
Syok hipovolemik atau traumatik akibat perdarahan (baik kehilangan
darah eksterna maupun yang tidak kelihatan) dan kehilangan cairan
ekstrasel ke jaringan yang rusak.
b) Sindrom emboli lemak
Setelah terjadi fraktur femur dapat terjadi emboli lemak khususnya pada
dewasa muda (20-30 tahun) pria. Pada saat terjadi fraktur, globula lemak
dapat masuk ke dalam darah karena tekanan sumsum tulang lebih tinggi
dari tekanan kapiler atau karena katekolamin yang dilepaskan oleh reaksi
stres pasien akan memobilisasi asam lemak dan memudahkan terjadinya
globula lemak dalam aliran darah. Globula lemak akan bergabung dengan
trombosit membentuk emboli yang kemudian menyumbat pembuluh darah
kecil yang memasok otak, paru, ginjal dan organ lain. Awitan gejalanya
sangat cepat, dapat terjadi dari beberapa jam sampai satu minggu setelah
cedera, namun paling sering terjadi dalam 24 sampai 72 jam. Gambaran
khasnya berupa hipoksia, takipnea, takikardia dan pireksia. Gangguan
cerebral diperlihatkan dengan adanya perubahan status mental yang
bervariasi dari agitasi ringan dan kebingungan sampai delirium dan koma
yang terjadi sebagai respon terhadap hipoksia, akibat penyumbatan emboli
lemak di otak.
c) Sindrom kompertemen
Sindrom kompartemen disebabkan karena penurunan ukuran
kompartemen otot karena fasia yang membungkus otot terlalu ketat atau
gips atau balutan yang menjerat, atau peningkatan isi kompartemen otot
karena edema atau perdarahan sehubungan dengan berbagai masalah.
Pasien mengeluh adanya nyeri dalam, berdenyut tak tertahankan. Palpasi
pada otot akan terasa pembengkakan dan keras.
Komplikasi lambat
a) Penyatuan terlambat atau tidak ada penyatuan
Penyatuan terlambat terjadi bila penyembuhan tidak terjadi dengan
kecepatan normal untuk jenis dan tempat fraktur tertentu. Penyatuan
terlambat mungkin berhubungan dengan infeksi sistemik atau distraksi
fragmen tulang. Tidak ada penyatuan terjadi karena kegagalan penyatuan
ujung-ujung patahan tulang.
Malunion : tulang patah telah sembuh dalam posisi yang tidak
seharusnya.
Delayed union : proses penyembuhan yang terus berjalan tetapi dengan
kecepatan yang lebih lambat dari keadaan normal.
Non union : tulang yang tidak menyambung kembali
b) Nekrosis avaskuler tulang
Nekrosis avaskuler terjadi bila tulang kehilangan asupan darah dan mati,
dapat terjadi setelah fraktur khususnya pada kolum femoris. Tulang yang
mati mengalami kolaps atau diabsorbsi dan diganti dengan tulang baru.
Pasien mengalami nyeri dan keterbatasan gerak.
c) Reaksi terhadap alat fiksasi interna
Alat fiksasi interna biasanya diambil setelah penyatuan tulang telah terjadi,
namun pada kebanyakan pasien alat tersebut tidak diangkat sampai
menimbulkan gejala. Nyeri dan penurunan fungsi merupakan indikator
utama telah terjadi masalah. Masalah tersebut meliputi pemasangan dan
stabilisasi yang tidak memadai, alat yang cacat atau rusak, berkaratnya alat
menyebabkan inflamasi lokal, respon alergi terhadap campuran logam
yang digunakan dan remodeling osteoporotik di sekitar alat fiksasi.

B. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN


1. PENGKAJIAN
a. Pola Pemeliharaan dan Persepsi Terhadap Kesehatan
Pada kasus fraktur akan timbul ketidakutan akan terjadinya kecacatan pada
dirinya dan harus menjalani penatalaksanaan kesehatan untuk membantu
penyembuhan tulangnya. Selain itu, pengkajian juga meliputi kebiasaan
hidup pasien seperti penggunaan obat steroid yang dapat mengganggu
metabolisme kalsium, pengkonsumsian alkohol yang bisa mengganggu
keseimbangannya dan apakah pasien melakukan olahraga atau tidak.
(Ignatavicius, 1995).

b. Pola Nutrisi dan Metabolik


Pada pasien fraktur harus mengkonsumsi nutrisi melebihi kebutuhan
sehari-harinya seperti kalsium, zat besi, protein, vit. C dan lainnya untuk
membantu proses penyembuhan tulang. Evaluasi terhadap pola nutrisi
pasien bisa membantu menentukan penyebab masalah muskuloskeletal dan
mengantisipasi komplikasi dari nutrisi yang tidak adekuat terutama
kalsium atau protein dan terpapar sinar matahari yang kurang merupakan
faktor predisposisi masalah muskuloskeletal terutama pada lansia. Selain
itu juga obesitas juga menghambat degenerasi dan mobilitas pasien.

c. Pola Eliminasi
Untuk kasus fraktur humerus tidak ada gangguan pada pola eliminasi, tapi
walaupun begitu perlu juga dikaji frekuensi, konsistensi, warna serta bau
feces pada pola eliminasi alvi. Sedangkan pada pola eliminasi uri dikaji
frekuensi, kepekatannya, warna, bau, dan jumlah. Pada kedua pola ini juga
dikaji ada kesulitan atau tidak (Doenges, 1999).

d. Pola Tidur dan Istirahat


Semua pasien fraktur timbul rasa nyeri, keterbatasan gerak, sehingga hal
ini dapat mengganggu pola dan kebutuhan tidur pasien. Selain itu juga,
pengkajian dilaksanakan pada lamanya tidur, suasana lingkungan,
kebiasaan tidur, dan kesulitan tidur serta penggunaan obat tidur (Doenges,
1999).

e. Pola Aktivitas dan latihan


Karena timbulnya nyeri, keterbatasan gerak, maka semua bentuk kegiatan
pasien menjadi berkurang dan kebutuhan pasien perlu banyak dibantu oleh
orang lain. Hal lain yang perlu dikaji adalah bentuk aktivitas pasien
terutama pekerjaan pasien. Karena ada beberapa bentuk pekerjaan beresiko
untuk terjadinya fraktur dibanding pekerjaan yang lain (Ignatavicius,
1995).

f. Pola Hubungan dan Peran


Pasien akan kehilangan peran dalam keluarga dan dalam masyarakat.
Karena pasien harus menjalani rawat inap (Ignatavicius, 1995).

g. Pola Persepsi Diri


Dampak yang timbul pada pasien fraktur yaitu timbul ketidakutan akan
kecacatan akibat frakturnya, rasa cemas, rasa ketidakmampuan untuk
melakukan aktivitas secara optimal, dan pandangan terhadap dirinya yang
salah (gangguan body image) (Ignatavicius, 1995).
h. Pola Perseptual
Pada pasien fraktur daya rabanya berkurang terutama pada bagian distal
fraktur, sedang pada indera yang lain tidak timbul gangguan. Begitu juga
pada kognitifnya tidak mengalami gangguan. Selain itu juga, timbul rasa
nyeri akibat fraktur (Ignatavicius, 1995).

i. Pola Seksual & Reproduksi


Dampak pada pasien fraktur yaitu, pasien tidak bisa melakukan hubungan
seksual karena harus menjalani rawat inap dan keterbatasan gerak serta
rasa nyeri yang dialami pasien. Selain itu juga, perlu dikaji status
perkawinannya termasuk jumlah anak, lama perkawinannya (Ignatavicius,
1995).

j. Pola Manajemen Koping Stress


Pada pasien fraktur timbul rasa cemas tentang keadaan dirinya, yaitu
ketidakutan timbul kecacatan pada diri dan fungsi tubuhnya. Mekanisme
koping yang ditempuh pasien bisa tidak efektif (Ignatavicius, 1995).

k. Pola Nilai dan Keyakinan


Untuk pasien fraktur tidak dapat melaksanakan kebutuhan beribadah
dengan baik terutama frekuensi dan konsentrasi. Hal ini bisa disebabkan
karena nyeri dan keterbatasan gerak pasien (Ignatavicius, 1995)

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1) Ketidakefektifan pola napas yang berhubungan dengan kerusakan tulang
punggung, disfungsi neurovaskular, kerusakan sistem muskuloskeletal.
2) Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan ketidakseimbangan perfusi
ventilasi dan perubahan membran alveolar kapiler.
3) Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan
ketidakmampuan untuk membersihkan sekret yang menumpuk.
4) Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera fisik (desakan fragmen
cedera pada jaringan lunak) ditandai dengan pasien tampak meringis,
laporan secara verbal terasa nyeri, perubahan posisi untuk menghindari
nyeri.
5) Hipertermi berhubungan dengan respon inflamasi sistemik ditandai
dengan peningkatan suhu tubuh > 37,5 C, akral teraba hangat.
6) Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan kontraktur otot ditandai
dengan pasien tidak mampu menggerakkan daerah yang mengalami
fraktur, pasien mengeluh nyeri saat menggeser bagian yang fraktur.
7) Gangguan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan gangguan
vaskularisasi ditandai dengan oedema ekstremitas, sianosis, perubahan
temperatur kulit.
8) PK: Perdarahan
9) PK: Anemia
10) Ansietas berhubungan perubahan kondisi fisik (patah tulang) ditandali
dengan pasien mengeluh merasa cemas dengan situasi fisiknya, pasien
tampak gelisah.
11) Risiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasif aibat tindakan
ORIF/OREF
3. INTERVENSI KEPERAWATAN
1) Ketidakefektifan pola napas yang berhubungan dengan kerusakan
tulang punggung, disfungsi neurovaskular, kerusakan sistem
muskuloskeletal.
Tujuan: setelah diberikan asuhan keperawatan selam .x24 jam, klien
mampu menunjukan perilaku pola napas efektif, dengn kriteria hasil:
NOC Label >> Respiratory status: ventilation, Respiratory status:
Airway patency
Mendemonstrasikan batuk efektif dan suara napas yang bersih, tidak ada
sianosis dan dyspnea.
Menunjukkan jalan napas yang paten.
Mampu mengidentifikasikan dan mencegah faktor yang dapat
menghambat jalan napas
Intervensi:
NIC Label >> Airway management
1. Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi
2. Lakukan fisioterapi dada bila perlu
3. Keluarkan secret dengan batuk dan suctioning
4. Auskultasi suara napas, catat adanya suara napas tambahan
5. Berikan bronkodilator bila perlu
6. Atur intake dan ouput untuk mengoptimalkan keseimbangan.

2) Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan ketidakseimbangan


perfusi ventilasi dan perubahan membran alveolar kapiler.
Tujuan: setelah diberikan asuhan keperawatan selama .x24 jam, diharapkan
klien menunjukan perbaikan ventilasi dan oksigen jaringan dengan GDA
dalam rentang normal dan tidak ada gejala distress pernafasan dengan kriteria
hasil:
NOC Label >> Respiratory status: Gas exchange, Respiratory status:
ventilation, Vital sign status
Mendemonstrasikan peningkatan ventilasi dan oksigenasi yang adekuat
Memelihara kebersihan paru-paru dan bebas dari tanda-tanda distress
pernafasan
Mendemonstrasikan batuk efektif dan suara napas yang bersih, tidak ada
sianosis dan dispena
Tanda-tanda vital dalam rentang normal
Intervensi:
NIC Label >> Airway management
1. Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi
2. Lakukan fisioterapi dada bila perlu
3. Keluarkan secret dengan batuk dan suctioning
4. Auskultasi suara napas, catat adanya suara napas tambahan
5. Berikan bronkodilator bila perlu
6. Atur intake dan ouput untuk mengoptimalkan keseimbangan.

3) Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan


ketidakmampuan untuk membersihkan sekret yang menumpuk.
Tujuan: setelah diberikan asuhan keperawatan selam .x24 jam, klien
mampu menunjukan perilaku mencapai bersihan jalan nafas dengan, kriteria
hasil:
NOC Label >> Respiratory status: ventilation, Respiratory status:
Airway patency
Mendemonstrasikan batuk efektif dan suara napas yang bersih, tidak ada
sianosis dan dyspnea.
Menunjukkan jalan napas yang paten.
Mampu mengidentifikasikan dan mencegah faktor yang dapat
menghambat jalan napas
Intervensi:
NIC Label >> Airway management
1. Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi
2. Lakukan fisioterapi dada bila perlu
3. Keluarkan secret dengan batuk dan suctioning
4. Auskultasi suara napas, catat adanya suara napas tambahan
5. Berikan bronkodilator bila perlu
6. Atur intake dan ouput untuk mengoptimalkan keseimbangan.

4) Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera fisik (desakan fragmen


cedera pada jaringan lunak) ditandai dengan pasien tampak meringis,
laporan secara verbal terasa nyeri, perubahan posisi untuk menghindari
nyeri.
Tujuan:
Setelah diberikan asuhan keperawatan selama..x . jam, diharapkan nyeri
dapat berkurang dengan kriteria hasil:
NOC Label >> Pain Control
Pasien mengenali onset nyeri.
Pasien dapat mendeskripsikan faktor penyebab.
Pasien menerapkan teknik manajemen nyeri non farmakologis.
Pasien menggunakan analgesik sesuai rekomendasi.
NOC Label >> Pain Level
Pasien tidak melaporkan adanya nyeri
Ekspresi wajah terhadap nyeri
Diaphoresis
RR dalam batas normal (16-20 kali/menit)
Nadi dalam batas normal (60-100 kali/menit)
Tekanan darah dalam batas normal (120/80 mmHg)
Intervensi :
NIC Label >> Pain Management
1. Kaji karakteristik nyeri meliputi lokasi, waktu, frekuensi, kualitas, faktor
pencetus, dan intensitas nyeri
Rasional : Untuk mengetahui tingkat rasa nyeri sehingga dapat
menentukan jenis tindakan selanjutnya.
2. Kaji faktor-faktor yang dapat memperburuk nyeri pasien
Rasional : Dengan mengetahui faktor-faktor yang dapat memperburuk
nyeri, dapat mencegah terjadinya faktor pencetus dan menentukan
intervensi apabila nyeri terjadi.
3. Monitor status TTV sebelum dan sesudah pemberian analgetik
Rasional : mencegah kontraindikasi dan efek samping pemberian analgetik
4. Memastikan pasien mendapat terapi analgesik yang tepat
Rasional : Analgesik yang dapat membantu mengurangi rasa nyeri dan
tidak mengakibatkan adanya reaksi alergi terhadap obat.
5. Eliminasi faktor-faktor pencetus nyeri
Rasional : Dengan mengeleminasi faktor-faktor pencetus nyeri, dapat
mengurangi risiko munculnya nyeri (mengurangi awitan terjadinya nyeri)
6. Ajarkan teknik nonfarmakologi (misalnya teknik relaksasi, guided
imagery, terapi musik, dan distraksi) yang dapat digunakan saat nyeri
timbul.
Rasional : Dengan teknik manajemen nyeri, pasien bisa mengalihkan nyeri
sehingga rasa nyeri yang dirasakan berkurang.
7. Berikan dukungan selama pengobatan nyeri berlangsung
Rasional : Dukungan yang diberikan dapat membantu meningkatkan rasa
percaya terhadap perawat.
8. Kolaborasi pemberian analgetik
Rasional : Pemberian analgetik dapat memblok reseptor nyeri.

5) Hipertermi berhubungan dengan respon inflamasi sistemik ditandai


dengan peningkatan suhu tubuh > 37,5 C, akral teraba hangat.
Tujuan:
Setelah diberikan asuhan keperawatan selama x jam, diharapkan
suhu pasien dalam batas normal dengan kriteria hasil :
NOC Label >> Thermoregulation
Suhu tubuh pasien normal (36-370,5C)
Melaporkan rasa nyaman
Tidak menggigil
NOC Label >> Vital Signs
Suhu : 36-370,5C
Nadi: 60-100x/menit
RR: 16-20 x/menit
TD: 120/80 mmHg
Intervensi :
NIC Label >> Fever Treatment
1. Monitor suhu tubuh, tekanan darah, denyut nadi, dan respirasi rate
secara berkala.
Rasional: peningkatan suhu menunjukkan proses adanya infeksius akut
maupun dehidrasi. Menggigil sering mendahului puncak suhu.
2. Berikan kompres hangat.
Rasional: membuat vasodilatasi pembuluh darah sehingga dapat
membantu mengurangi demam.
3. Anjurkan pasien untuk mempertahankan asupan cairan adekuat.
Rasional: untuk mencegah dehidrasi akibat penguapan cairan karena
suhu tubuh yang tinggi.
4. Kolaborasi pemberian obat antipiretik sesuai indikasi.
Rasional: digunakan untuk mengurangi demam dengan aksi sentralnya
pada hipotalamus.

6) Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan kontraktur otot


ditandai dengan pasien tidak mampu menggerakkan daerah yang
mengalami fraktur, pasien mengeluh nyeri saat menggeser bagian
yang fraktur.
Tujuan:
Setelah diberikan asuhan keperawatan ... x jam, diharapkan kekakuan
otot tidak terjadi dengan kriteria hasil:
Fleksbilitas sendi dapat dipertahankan
Otot tidak mengalami atropi
Otot tidak mengalami kontraktur
Intervensi:
NIC Label >> Bed Rest care
1. Jelaskan pada pasien tentang kemungkinan untuk bed rest selama
beberapa waktu.
Rasional: Memberitahukan kemungkinan yang terjadi bila pasien tidak
mampu bergerak dalam waktu lama sehingga tidak menimbulkan
kecemasan bagi pasien dank lien dapat turut berperan dalam proses
penyembuhannya.
2. Jaga agar linen tetap bersih dan kering.
Rasional: Untuk mencegah terjadinya infeksi dan dekubitus pada
pasien.
3. Bantu pasien dalam melakukan ADL.
Rasional: Pasien yang mengalami imobilisasi/bed rest tidak dapat
melakukan ADL, maka perawat harus membantu pasien.
4. Bersama pasien batasi gerak bagian tubuh tubuh yang mengalami
fraktur.
Rasional: Mempercepat proses penyembuhan tulang belakang dan
mencegah kerusakan yang berkepanjangan dari medulla spinalis.
NIC Label >> Exercise promotion
1. Beritahukan pasien mengenai manfaat, prosedur dari latihan untuk
kesembuhan ekstremitasnya.
Rasional: Penjelasan yang diberikan dapat menjawab ketikdak tahuan
pasien mengenai segala intervensi yang akan diberikan, dengan
demikian pasien akan dapat mengikuti intervensi yang diberikan
dengan baik dan mematuhi peraturan.
2. Kaji kemampuan pasien dalam melakukan aktivitas dan fungsi
persendian, otot dan kekuatan otot pasien.
Rasional: Pengkajian dapat memberikan informasi mengenai
kemampuan motorik pasien dan hasilnya dapat disesuaikan antara
intervensi yang akan diberikan dengan kondisi pasien.
3. Ajarkan pasien untuk melatih pesendian dan otot (misalnya: gerakan
ekstensi dan fleksi, memutar kemudian relaks dan mengkontrasikan
otot).
Rasional: Latihan pasif tersebut dapat membantu dalam mengurangi
kekakuan otot dan sendi serta dapat memperlanjar peredaran darah
sehingga mempercepat penyembuhan.
4. Observasi hasil dari latihan yang dilakukan (misalnya : pernafasan,
nadi, nyeri)
Rasional: Gejala seperti berkurangnya frekuensi nafas, nadi cepat,
pucat, pusing, dan nyeri pada persendian dan otot saat latihan
merupakan tanda-tanda yang harus diantisipasi yang dapat
mengindikasikan ketidakstabilan kondisi pasien dan latihan harus
dihentikan.
5. Ajarkan pada pasien cara-cara dalam melakukan perubahan posisi
(misalnya: dengan menggeser keseluruhan ekstremitas secara
bersamaan dan tidak mengangkat ekstremitas tanpa penopang).
Rasional: Pada pasien dengan gangguan pada komposisi tulang tidak
boleh melakuakan melakuakan perubahan posisi tanpa arahan karena
dapat memperburuk kondisi penyusunan kembali komponen tulang.
6. Dampingi pasien dalam melakukan pergerakan (misalnya : duduk,
berdiri, berjalan pada jarak tertentu dan berbaring).
Rasional: Pasien akan merasa lebih aman dan nyaman saat didampingi
sewaktu melakukan terapi mobilisasi, sehingga pasien dapat mengikuti
terapi dengan baik.
7. Dampingi pasien saat melakukan latihan pasif/aktif pergerakan sendi
Rasional: Dapat membantu agar pasien dapat melakukan latihan secara
optimal
8. Anjurkan pasien untuk melakukan latihan ROM
Rasional: ROM merupakan aktivitas yang dilakukan untuk melatih
kemampuan otot dan persendian, sehingga dengan ROM dapat
mengurangi kekakuan otot dan sendi serta dapat mempercepat
pemulihan serta mencegah atropi otot.
9. Monitoring posisi kesejajaran tubuh
Rasional: Perubahan posisi pasien dapat mempengaruhi perubahan
pada gaya tarik pada traksi dan mempengaruhi posisi tulang yang
sudah direposisi, posisi pasien yang tidak sejajar dapat menimbulkan
deformitas.
10. Monitoring posisi tempat tidur dan ketinggian tempat tidur pasien
Responsi: Tempat tidur pasien sudah diatur sesuai dengan jenis traksi
yang digunakan pasien, sehingga perubahan posisi dan ketinggian
tempat tidur dapat mempengaruhi komponen pada traksi.
11. Monitoring fiksasi eksternal pasien
Rasional: Fiksasi yang lama, terlalu ketat dan lain-lain dapat
mempengaruhi keutuhan kulit dan kestabilan pada saraf dan pembuluh
darah pada ekstremitas pasien, sehingga dapat mempengaruhi
perkembangan kemampuan mobilitas pasien.
12. Konsultasikan pada physical therapy untuk merencanakan aktivitas
ambulasi pasien.
Rasional: Physical therapy akan dapat membantu tugas perawat dalam
merencanakan intervensi untuk pemberian ambulasi yang tepat untuk
pasien sesuai dengan kondisi pasien.
NIC Label >> Traction/Immobilization Care
1. Pertahankan traksi pada bagian tubuh yang fraktur agar tetap terpasang
dengan baik.
Rasional: Membantu proses penyembuahan bagian tulang yang fraktur.

7) Gangguan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan gangguan


vaskularisasi ditandai dengan oedema ekstremitas, sianosis,
perubahan temperatur kulit.
Tujuan:
Setelah diberikan asuhan keperawatan selama .x jam, diharapkan
perfusi jaringan perifer kembali efektif dengan kriteria hasil:
NOC Label >> Tissue Perfussion: Peripheral
Tidak ada nekrosis pada jari-jari.
CRT dalam batas normal (kurang dari 3 detik).
Akral hangat.
Tidak ada sianosis pada kuku kaki ataupun tangan.
Intervensi:
NIC Label >> Haemodynamic Regulation
1. Awasi tanda vital, kaji pengisian kapiler, warna kulit/membran
mukosa.
Rasional: Memberikan informasi tentang derajat/keadekuatan perfusi
jaringan dan membantu menentukan kebutuhan intervensi
2. Kaji untuk respon verbal melambat, mudah teransang agitasi,
gangguan memori, bingung.
Rasional: Dapat mengindikasikan gangguan fungsi serebral karena
hipoksia.
3. Pantau pucat, sianosis, kulit dingin/lembab.
Rasional: Vasokontriksi sistemik diakibatkan oleh penurunan curah
jantung mungkin dibuktikan oleh penurunan perfusi
4. Vasokontriksi sistemik diakibatkan oleh penurunan curah jantung
mungkin dibuktikan oleh penurunan perfusi.
Rasional: Penurunan pemasukan/mual terus menerus dapat
mengakibatkan penurunan volume sirkulasi yang berdampak negatif
pada perfusi dan fungsi organ.
5. Pantau pemeriksaan diagnostik dan laboratorium mis EKG, elektrolit,
GDA (Pa O2, Pa CO2 dan saturasi O2) dan pemberian oksigen.
Rasional: Indikator perfusi/fungsi organ
8) PK: Perdarahan
Setelah di berikan asuhan keperawatan selama x jam, diharapakan
komplikasi perdarahan dapat dicegah dengan kriteria hasil:
NOC label >> Blood Loss Severity
Tidak terjadi kehilangan darah yang nyata
Tidak terjadi penurunan tekanan darah sistolik
Tidak terjadi penurunan tekanan darah diastolic
Tidak terjadi peningkatan nadi apical
Tidak terjadi penurunan suhu tubuh
Tidak terjadi penurunan kognisi
Tidak terjadi penurunan hemoglobin
Tidak terjadi penurunan hematocrit
Intervensi
NIC Label >> Shock management
1. Monitor vital sign, tekanan darah orthostatic, mental status, dan
haluaran urin.
2. Monitor pemeriksaan labolatorium yang terkain perfusi jaringan
(peningkatan asam laktat , penurnan PH arteri)
3. Administrasikan crystalloid IV sesuai indikasi
4. Administrasikan medikasi vasoaktif sesuai indikasi
5. Beri terapi oksigen dan mekanikal ventilasi jika diperlukan
6. Monitor parameter hemodinamic ( central venous pressure. Pulmonary
capilary)
7. Monitor nadi untuk bradikardi (<110kali/menit) atau taki kardia (>160
kali/menit) hingga 10 menit terkahir sesuai indikasi
8. Pertahankan patensi akses IV
9. Catat takikardia/bradikardia, penurunan tekanan darah, tekanan nadi
perifer, pucat, sianosis, dan diaphoresis
10. Pertahankan ekspektasi realistik pada pasien dan keluarga
NIC Label >> Bleeding reduction
1. Identifikasi penyebab perdarahan
2. Monitor pasien dengan teliti pada hemoragi
3. Monitor kehilangan darah
4. Catat hemoglobin dan hemotocrite setelah kehilangan darah sesuai
indikasi
5. Monitor parameter hemodinamik PT, PTT, fibrinogen, dan platelet
6. Monitor hantaran oksigen pada jaringan PaO2, SaO2, hemoglobin, dan
cardiac output.
7. Jelaskan pada pasien dan keluarga mengenai perdarahan yang terjadi
dan tindakan yang akan dilakukan.
8. Lakukan transfusi darah jika diperlukan.
9. Pertahankan akses IV.
10. Administrasikan produk darah (platelets, frozen plasma, dan lain-lain).
11. Aplikasikan pressure dressing jika diperlukan.

9) PK: Anemia
Setelah diberikan asuhan keperawatan selama x jam, perawat dapat
meminimalkan komplikasi anemia yang terjadi, dengan kriteria hasil:
NOC Label >> Vital Signs
- Tekanan darah dalam batas normal (110/70-130/90 mmHg) atau
terkontrol
- Nadi dalam batas normal (60-100x/mnt)
- RR dalam batas normal (16-20 x/mnt)
- Suhu tubuh dalam batas normal (36-37,5C)
NOC Label >> Tissue Perfussion: Peripheral
- CRT < 3 detik
- Akral hangat
- Pasien tidak pucat
- Konjungtiva berwarna merah muda
NOC Label >> Blood Loss Severity
- Hb pasien dalam batas normal (12-16 g/dL)
- HCT dalam batas normal (45-55%)
- Mukosa bibir lembab
- Pasien tidak mengalami lemas dan lesu
Intervensi:
1. Pantau tanda dan gejala anemia yang terjadi.
Rasional: memantau gejala anemia pasien penting dilakukan agar tidak
terjadi komplikasi yang lebih lanjut.
2. Pantau tanda-tanda vital pasien.
Rasional: perubahan tanda vital menunujukkan perubahan pada
kondisi pasien.
3. Anjurkan pasien mengkonsumsi makanan yang mengandung banyak
zat besi dan vit B12.
Rasional: Makanan yang mengandung vitamin B12 dan asam folat
dapat menstimulasi pembentukan Hemoglobin.
4. Minimalkan prosedur yang bisa menyebabkan perdarahan.
Rasional: Dapat memperparah kondisi pasien yang mengalami anemia.
5. Pantau nilai PT dan PTT
Rasional: Untuk mengkaji apakah terjadi perpanjangan waktu
pembekuan darah
6. Pantau hasil lab Hb dan HCT
Rasional: Penurunan Hb dan perubahan nilai HCT menunjukkan
terjadi anemia pada pasien
NIC Label >> Blood Products Administration
7. Kolaborasi pemberian tranfusi darah sesuai indikasi.
Rasional: transfusi darah diperlukan jika kondisi anemia pasien buruk
untuk menambah jumlah darah dalam tubuh.

10) Ansietas berhubungan perubahan kondisi fisik (patah tulang)


ditandali dengan pasien mengeluh merasa cemas dengan situasi
fisiknya, pasien tampak gelisah.
Setelah diberikan asuhan keperawatan selama ..x. jam, diharapkan
kecemasan pasien terhadap penyakit pasien dapat berkurang dengan
kriteria hasil :
NOC Label >> Anxiety Level
Mengatakan secara verbal tentang kecemasan
Mengatakan secara verbal tentang ketakutan
Kepanikan berkurang
NOC Label >> Anxiety Self-Control
Mampu mengurangi penyebab cemas
Mengontrol respon cemas
Intervensi
NIC Label >> Anxiety Reduction
1) Observasi adanya tanda tanda cemas/ansietas baik secara verbal
maupun nonverbal.
Rasional: Pengungkapan kecemasan secara langsung tentang
kecemasan dari pasien, dapat menandakan level cemas pasien.
2) Bantu pasien untuk mengidentifikasi situasi yang dapat menstimulus
kecemasan.
Rasional: Agar pasien dapat mengatasi dan menanggulangi kecemasan
pasien.
3) Jelaskan segala sesuatu mengenai penyakit yang pasien derita.
Rasional: Menambah wawasan pasien tentang penyakit pasien dapat
meningkatkan pengertian pasien tentang penyakitnya, sehingga dapat
mengurangi kecemasan pasien.
4) Ajarkan pasien teknik relaksasi, seperti menarik napas dalam.
Rasional: Dapat memberi efek ketenangan pada pasien
5) Kolaborasi pemberian medikasi berupa obat penenang.
Rasional: Menurunkan ansietas pasien yang terjadi secara berlebihan.

11) Risiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasif akibat tindakan


ORIF/OREF
Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama .....x jam diharapkan
tidak terjadi infeksi, dengan kriteria hasil :
NOC Label >> Infection Severity
- Tidak ada kemerahan
- Tidak terjadi hipertermia
- Tidak ada nyeri
- Tidak ada pembengkakan
- Tidak ada drainase purulen
- WBC dalam batas normal
NOC Label >> Vital Signs
- Suhu dalam batas normal (36,5o 37oC)
- Tekanan darah dalam batas normal (120/80 mmHg)
- Nadi dalam batas normal (60-100 x/mnt)
- RR dalam batas normal (12-20 x/mnt)
NOC Label >> Risk Control
- Pasien mampu menyebutkan faktor-faktor risiko penyebab infeksi
- Pasien mampu memonitor lingkungan penyebab infeksi
- Pasien mampu memonitor tingkah laku penyebab infeksi
- Tidak terjadi paparan saat tindakan keperawatan
- Keluarga Pasien mampu memonitor efek pengobatan terapeutik
Intervensi
NIC Label >> Infection Control
1. Jaga agar barier kulit yang terbuka tidak terpapar lingkungan dengan
cara menutup dengan kasa steril.
Rasional: Mengurangi paparan dari lingkungan.
2. Batasi jumlah pengunjung.
Rasional: Mengurangi organisme patogen masuk ke tubuh pasien.
3. Ajarkan pasien dan keluarga tekhnik mencuci tangan yang benar.
Rasional: Mencegah terjadinya infeksi dari mikroorganisme yang ada
di tangan.
4. Gunakan sabun anti mikrobial untuk mencuci tangan.
Rasional: Mencuci tangan menggunakan sabun lebih efektif untuk
membunuh bakteri.
5. Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan keperawatan.
Rasional: Mencegah infeksi nosokomial.
6. Ajarkan pasien dan keluarga untuk menghindari infeksi.
Rasional: infeksi lebih lanjut dapat memperburuk risiko infeksi pada
pasien.
7. Ajarkan pada pasien dan keluarga tanda-tanda infeksi.
Rasional: agar dapat melaporkan kepada petugas lebih cepat, sehingga
penangan lebih efisien.
8. Kolaborasi pemberian antibiotik bila perlu.
Rasional: untuk mempercepat perbaikan kondisi pasien
NIC Label >> Infection Protection
1. Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik/lokal
Rasional: Memudahkan pengambilan intervensi
2. Monitor hitung granulosit, WBC
Rasional: sebagai monitor adanya reaksi infeksi.
3. Berikan perawatan kulit.
Rasional: kulit merupakan pertahanan pertama dari bakteri.
4. Inspeksi kulit dan membran mukosa terhadap kemerahan, panas dan
drainase
Rasional: merupakan tanda-tanda terjadinya infeksi.
NIC Label >> Wound care
1. Monitor karakteristik luka, meliputi warna, ukuran, bau dan
pengeluaran pada luka
Rasional : memonitor karakteristik luka dapat membantu perawat
dalam menentukan perawatan luka dan penangan yang sesuai untuk
pasien
2. Bersihkan luka dengan normal salin
Rasional : normal salin adalah cairan fisologis yang mirip dengan
cairan tubuh sehingga aman digunakan untuk membersihkan dan
merawat luka.
3. Lakukan pembalutan pada luka sesuai dengan kondisi luka
Rasional: permbalutan luka dilakukan untuk mempercepat proses
penutupan luka. Pemilihan bahan dan cara balutan disesuaikan dengan
jenis luka pasien.
4. Pertahankan teknik steril dalam perawatan luka pasien
Rasional: perawatan luka dengan tetap menjaga kesterilan dapat
menghindarkan pasien dari infeksi.

4. IMPLEMENTASI
Implementasi dilakukan sesuai dengan rencana keperawatan yang sudah
dilakukan

5. EVALUASI
No. Diagnosa keperawatan Evaluasi
Dx
1 Ketidakefektifan pola napas yang NOC Label >> Respiratory status:
berhubungan dengan kerusakan tulang ventilation, Respiratory status: Airway
punggung, disfungsi neurovaskular, patency
kerusakan sistem muskuloskeletal. Mendemonstrasikan batuk efektif dan
suara napas yang bersih, tidak ada sianosis
dan dyspnea.
Menunjukkan jalan napas yang paten.

Mampu mengidentifikasikan dan


mencegah faktor yang dapat menghambat
jalan napas
2 Gangguan pertukaran gas berhubungan NOC Label >> Respiratory status: Gas
dengan ketidakseimbangan perfusi exchange, Respiratory status: ventilation,
ventilasi dan perubahan membran Vital sign status
Mendemonstrasikan peningkatan ventilasi
alveolar kapiler.
dan oksigenasi yang adekuat
Memelihara kebersihan paru-paru dan bebas
dari tanda-tanda distress pernafasan
Mendemonstrasikan batuk efektif dan suara
napas yang bersih, tidak ada sianosis dan
dispena
Tanda-tanda vital dalam rentang normal
3 Ketidakefektifan bersihan jalan nafas NOC Label >> Respiratory status:
berhubungan dengan ketidakmampuan ventilation, Respiratory status: Airway
untuk membersihkan sekret yang patency
menumpuk. Mendemonstrasikan batuk efektif dan
suara napas yang bersih, tidak ada sianosis
dan dyspnea.
Menunjukkan jalan napas yang paten.
Mampu mengidentifikasikan dan
mencegah faktor yang dapat menghambat
jalan napas
4 Nyeri akut berhubungan dengan agen NOC Label >> Pain Control
cedera fisik (desakan fragmen cedera Pasien mengenali onset nyeri.
Pasien dapat mendeskripsikan faktor
pada jaringan lunak) ditandai dengan
penyebab.
pasien tampak meringis, laporan secara Pasien menerapkan teknik manajemen
verbal terasa nyeri, perubahan posisi nyeri non farmakologis.
untuk menghindari nyeri. Pasien menggunakan analgesik sesuai
rekomendasi.
NOC Label >> Pain Level
Pasien tidak melaporkan adanya nyeri
Ekspresi wajah terhadap nyeri
Diaphoresis
RR dalam batas normal (16-20 kali/menit)
Nadi dalam batas normal (60-100
kali/menit)
Tekanan darah dalam batas normal
(120/80 mmHg)
5 Hipertermi berhubungan dengan respon NOC Label >> Thermoregulation
inflamasi sistemik ditandai dengan
Suhu tubuh pasien normal (36-370,5C)
peningkatan suhu tubuh > 37,5 C, akral
Melaporkan rasa nyaman
teraba hangat.
Tidak menggigil
NOC Label >> Vital Signs

Suhu : 36-370,5C
Nadi: 60-100x/menit
RR: 16-20 x/menit
TD: 120/80 mmHg
6 Hambatan mobilitas fisik berhubungan Fleksbilitas sendi dapat dipertahankan
dengan kontraktur otot ditandai dengan Otot tidak mengalami atropi
pasien tidak mampu menggerakkan
Otot tidak mengalami kontraktur
daerah yang mengalami fraktur, pasien
mengeluh nyeri saat menggeser bagian
yang fraktur.

7 Gangguan perfusi jaringan


perifer NOC Label >> Tissue Perfussion: Peripheral
berhubungan dengan gangguan Tidak ada nekrosis pada jari-jari.
CRT dalam batas normal (kurang dari 3
vaskularisasi ditandai dengan oedema
detik).
ekstremitas, sianosis, perubahan Akral hangat.
temperatur kulit. Tidak ada sianosis pada kuku kaki ataupun
tangan.
8 PK: Perdarahan Tidak terjadi kehilangan darah yang nyata
Tidak terjadi penurunan tekanan darah
sistolik
Tidak terjadi penurunan tekanan darah
diastolic
Tidak terjadi peningkatan nadi apical
Tidak terjadi penurunan suhu tubuh
Tidak terjadi penurunan kognisi
Tidak terjadi penurunan hemoglobin
Tidak terjadi penurunan hematocrit
9 PK: Anemia Tidak terjadi penurunan tekanan darah
sistolik
Tidak terjadi penurunan tekanan darah
diastolic
Tidak terjadi peningkatan nadi apical
Tidak terjadi penurunan suhu tubuh
Tidak terjadi penurunan kognisi
Hemoglobin dalam batas normal
Hematocrit dalam batas normal
Tidak terjadi peningkatan nadi apical
Tidak terjadi penurunan TD
Tidak terjadi demam
Tidak terjadi gatal dan kemerahan
Tidak terjadi kelemahan
Tidak terjadi mual
Tidak terjadi hemoglobinuria
Tidak terjadi nyeri dada
10 Ansietas berhubungan perubahan kondisi NOC Label >> Anxiety Level
fisik (patah tulang) ditandali dengan Mengatakan secara verbal tentang

pasien mengeluh merasa cemas dengan kecemasan


Mengatakan secara verbal tentang
situasi fisiknya, pasien tampak gelisah.
ketakutan
Kepanikan berkurang
NOC Label >> Anxiety Self-Control
Mampu mengurangi penyebab cemas
Mengontrol respon cemas

11 Risiko infeksi berhubungan dengan NOC Label >> Infection Severity


prosedur invasif aibat tindakan Tidak ada kemerahan
Tidak terjadi hipertermia
ORIF/OREF Tidak ada nyeri
Tidak ada pembengkakan
Tidak ada drainase purulen
WBC dalam batas normal
NOC Label >> Vital Signs
Suhu dalam batas normal (36,5o 37oC)
Tekanan darah dalam batas normal (120/80
mmHg)
Nadi dalam batas normal (60-100 x/mnt)
RR dalam batas normal (12-20 x/mnt)
NOC Label >> Risk Control
Pasien mampu menyebutkan faktor-faktor
risiko penyebab infeksi
Pasien mampu memonitor lingkungan
penyebab infeksi
Pasien mampu memonitor tingkah laku
penyebab infeksi
Tidak terjadi paparan saat tindakan
keperawatan
Keluarga Pasien mampu memonitor efek
pengobatan terapeutik
DAFTAR PUSTAKA

Apley, A. Graham. 1995. Buku Ajar Ortopedi dan Fraktur Sistem Apley. Jakarta :
Widya Medika
Black, J.M, et al. 1995. Luckman and Sorensens Medikal Nursing : A Nursing
Process Approach, 4 th Edition, W.B. Saunder Company.
Carpenito, Lynda Juall. 1999. Rencana Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan.
Jakarta : EGC.
Doenges M.E. 2000. Nursing Care Plan, Guidlines for Planning Patient Care (2nd
ed). Philadelpia, F.A. Davis Company
Dorland, W.A. Newman. 2002. Kamus Kedokteran Dorland Edisi 29. Jakarta:
EGC
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1999. Sistem Kesehatan Nasional.
Jakarta
Henderson, M.A. 1992. Ilmu Bedah untuk Perawat. Yogyakarta: Yayasan
Essentia Medika
Hudak and Gallo. 1994. Keperawatan Kritis. Jakarta : EGC.
Ignatavicius, Donna D. 1995. Medical Surgical Nursing : A Nursing Process
Approach, W.B. Saunder Company.
Long, Barbara C. 1996. Perawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC.
Mansjoer, Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : Medika Aesculapius.
Muttaqin, A. 2008. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Pasien Gangguan Sistem
Muskuloskletal. Jakarta : EGC
Oswari, E. 1993. Bedah dan Perawatannya. Jakarta : PT Gramedia Pustaka
Utama.
Price, Evelyn .1997. Anatomi dan Fisiologi Untuk Paramedis. Jakarta : Gramedia.
Price Sylvia, A. 1994. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit.
Jakarta: EGC.
Sylvia, A. 1994. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit.Jakarta:
EGC
Smeltzer & Bare. 2002. Buku Ajar Medikal Bedah, Brunner & Suddart. Jakarta:
EGC
Reksoprodjo, Soelarto. 1995. Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. Jakarta : Binarupa
Aksara
Tucker, Susan Martin. 1998. Standar Perawatan Pasien. Jakarta : EGC.

Anda mungkin juga menyukai