Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM

ANALISIS OBAT, KOSMETIKA, DAN MAKANAN

ANALISIS KUANTITATIF TABLET CTM

DENGAN SPEKTROFOTOMETRI UV

Disusun oleh:

1. Zwista Dimas Haryanto (09560)

2. Muhammad Hanif P (09561)

3. Sephia Putri Rahmawati(09562)

4. Fatimah Zaroh (09563)

5. Rias Reno Andini (09564)

Gol/Kel : II/ A

Kelas : A 2015

Dosen Jaga : Prof. Dr. Edy Meiyanto, M.Si., Apt.

Asisten Jaga :

Tanggal Praktikum : 11 Maret 2015

LABORATORIUM ANALISIS OBAT, KOSMETIKA, DAN MAKANAN


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2015
ANALISIS KADAR OBAT CTM

I. TUJUAN
Mengetahui senawa aktif pada tablet obat CTM
Mahasiswa mampu menganalisis secara kuantitatif kandungan CTM
dalam tablet CTM menggunakan spektrofotometri UV-Vis

II. DASAR TEORI


Tablet adalah bentuk sediaan padat farmasetik yang mengandung satu
atau lebih bahan obat dengan atau tanpa zat tambahan yang cocok dalam
bentuk pipih, sirkuer, permukaannya datar atau cembung, yang dibuat
dengan metode pengempaan atau pencetakan atau dengan cara lain
sesuai dengan punch dan die,dibawah tekanan beberapa ratus kg/cm 2
.Salah satu persyaratan yang harus dipenuhi sediaan tablet adalah
keseragaman bobot dan keseragaman kandungan zat aktif.
Spektrofotometri UV-Vis adalah anggota teknis analisis spektroskopi
yang memakai sumber radiasi elektromagnetik ultraviolet dekat (190-380
nm) dan sinar tampak (380-780 nm) dengan memakai instrumen
spektrofotometer. Spektrofotometri UV-Vis melibatkan energi elektronik
yang cukup besar pada molekul yang dianalisis, sehingga spektrofotometri
UV-Vis lebih banyak dipakai untuk analisis kuantitatif dibandingkan
dengan analisis kualitatif (Mulya, 1995). Peralatan yang digunakan dalam
spektrofotometri disebut spektrofotometer.
Komponen dari suatu spektrofotometer, secara skema ditunjukkan
dalam gambar sebagai berikut (Pecsok, 1968;Underwood, 2002):

Sumber cahaya Monokromator Kuvet

Detektor

Pencatat

Skema diagram komponen utama dari spektrofotometer.

Prinsipnya menggunakan radiasi elektromagnetik (REM) yakni


sinar yang digunakan pada sinar Ultraviolet dan sinar visible dapat
dianggap sebagai energi yang merambat dalam bentuk gelombang.
Adapun yang diukur pada spektrofotometri adalah nilai absorban (A)
yakni adanya absorbsi pada panjang gelombang maksimum yang
kemudian dihitung konsentarsinya. Metode ini disebut metode basah
karena sampel yang digunakan adalah larutan dimana harus diketahui
batas konsentrasi terkecil sampel yang diukur.
Aspek Kualitatif dan Kuantitatif Spektrofotometri UV-Vis
Spekra UV-Vis dapat digunakan untuk informasi kualitatif dan
sekaligus dapat digunakan untuk analisis kuantitatif.
1. Aspek Kualitatif ;
Data spektra UV-Vis bila digunakan secara tersendiri, tidak dapat
digunakan unutk identifikasi kualitatif obat atau metabolitnya. Akan
tetapi, bila digabung dengan cara lain seperti spektroskopi infra merah,
resonansi magnet inti, dan spektroskoppi massa, maka dapat digunakan
untuk maksud analisis kualitatif suatu senyawa tersebut.
Data yang diperoleh dari spektroskopi UV dan Vis adalah panjang
gelombang maksimal, intensitas, efek, pH, dan pelarut yang kesemuanya
dapat dibandingkan dengan data yang sudah dipublikasikan.
Dari spektra yang diperoleh dapat dilihat, misalnya :
a. Ada tidaknya perubahan Serapan (absorbansi) karena perubahan pH
b. Obat-obat yang netral misalnya kafein, kloramfenikol atau obat-obat
yang berisi ausokrom yang tidak terkonjugasi seperti amfetamin,
siklizin, dan pensiklidin.
2. Aspek Kuantitatif ;
Suatu berkas radiasi dikenakan pada larutan sampel (cuplikan) dan
intensitas sinar radiasi yang diteruskan diukur besarnya. Intensitas atau
kekuatan radiasi cahaya sebanding dengan jumlah foton yang melalui
satu satuan luas penampang per detik.
Serapan dapat terjadi jika foton/radiasi yang mengenai cuplikan
memiliki energi yang sama dengan energi yang dibutuhkan untuk
menyebabkan terjadinya perubahan tenaga. Jika sinar monokromatik
dilewatkan melalui suatu lapisan larutan dengan ketebalan db, maka
penurunan intesitas sinar (dl) karena melewati lapisan larutan tersebut
berbanding langsung dengan intensitas radiasi (I), konsentrasi spesies
yang menyerap (c), dan dengan ketebalan lapisan larutan (db). Secara
matematis, pernyataan ini dapat dituliskan :
-dI = kIcdb
bila diintergralkan maka diperoleh persamaan ini : I = I0 e-kbc
dan bila persamaan di atas diubah menjadi logaritma basis 10, maka akan
diperoleh persamaan
I = I0 10-kbc
dimana : k/2,303 = a , maka persamaan di atas dapa diubah menjadi
persamaan :
Log I0/I = abc atau A = abc (Hukum Lambert-Beer)
dimana : A= Absorban
a= absorptivitas
b = tebal kuvet (cm)
c = konsentrasi
Bila Absorbansi (A) dihubungkan dengan Transmittan (T) = I/I0 maka
dapat diperoleh
A=log 1/T .
Absorptivitas (a) merupakan suatu konstanta yang tidak tergantung
pada konsentrasi, tebal kuvet, dan intensitas radiasi yang mengenai
larutan sampel. Tetapi tergantung pada suhu, pelarut, struktur molekul,
dan panjang gelombang radiasi.

Jika absorbansi suatu seri konsentrasi larutan diukur pada panjang


gelombang, suhu, kondisi pelarut yang sama, dan absorbansi masing-
masing larutan diplotkan terhadap konsentrasinya maka suatu garis lurus
akan teramati sesuai dengan persamaan hukum Lambert-Beer yaitu
A=a.b.c (Gandjar, 2007).

Pada Hukum Lambert-Beer, terdapat beberapa batasan, antara lain :


1. Sinar yang digunakan dianggap monokromatis
2. Penyerapan terjadi dalam suatu volume yang mempunyai penampang luas
yang sama
3. Senyawa yang menyerap dalam larutan tersebut tidak tergantung terhadap
yang lain llllllllllllllldalam larutan
4. Tidak terjadi peristiwa flouresensi atau fosforisensi
5. Indeks bias tidak tergantung pada konsentrasi larutan.
Salah satu hal yang penting juga diingat adalah untuk menganalisis
secara spektrofotometri UV-Vis diperlukan panjang gelombang maksimal.
Adapun beberapa alasan mengapa harus menggunakan panjang
gelombang maksimal, yaitu :
1. Pada panjang gelombang maksimal, kepekaannya juga maksimal karena
pada panjang gelombang maksimal tersebut, perubahan absorbansi
untuk setiap konsentrasi adalah yang paling besar
2. Di sekitar panjang gelombang maksimal, bentuk kurva absorbansi datar
dan pada kondisi tersebut hukum Lambert-Berr akan terpenuhi
3. Jika dilakukan pengukuran ulang, maka kesalahan yang disebabkan oleh
pemasangan ulang panjang gelombang akan kecil sekali, ketika
digunakan panjang gelombang maksimal.

Tablet menurut Farmakope Indonesia IV, adalah sediaan padat


mengandung bahan obat dengan atau tanpa bahan pengisi. Tablet CTM
mempunyai zat aktif, yaitu Klorfeniramin maleat.
Klorfeniramin maleat mengandung tidak kurang dari 98,0% dan
tidak lebih dari 100,5% C6H19ClN2.C4H4O4, dihitung terhadap zat yang
telah dikeringkan dan memiliki berat molekul 390,67. Klorfeniramin
maleat berupa serbuk hablur, putih; tidak berbau, larutan mempunyai
pH antara 4 dan 5, mudah larut dalam air, larut dalam etanol dan
kloroform; sukar larut dalam eter dan dalam benzena (Farmakope IV,
1995).
CH 2 CH 2N(CH3)2

N CH
HC COOH
.

Cl
HC COOH

Struktur Kimia Klorfeniramin Maleat


Klorfeniramin maleat merupakan obat golongan antihistamin
penghambat reseptor H1 (AH1) (Siswandono, 1995). Pemasukan gugus
klor pada posisi para cincin aromatik feniramin maleat akan
meningkatkan aktifitas antihistamin. Berdasarkan struktur molekulnya,
memiliki gugus kromofor berupa cincin pirimidin, cincin benzen, dan
ikatan C=C- yang mengandung elektron pi () terkonjugasi yang dapat
mengabsorpsi sinar pada panjang gelombang tertentu di daerah UV
(200-400 nm), sehingga dapat memberikan nilai serapan (Silverstein,
1986;Rohman, 2007).
Spektrum serapan UV klorfeniramin maleat bergantung kepada
pelarutnya.Pada suasana netral klorfeniramin maleat memberikan
serapan maksimum pada panjang gelombang 261 nm, sedangkan
dalam metanol klorfeniramin maleat memberikan serapan maksimum
pada panjang gelombang 250-275 nm.

III. ALAT DAN BAHAN


ALAT
1. Labu takar 10 ml, 50 ml, 100 ml dan 500 ml
2. Erlenmeyer 250 ml
3. Gelas ukur 10 ml, 50 ml dan 100 ml
4. Corong
5. Pipet
6. Mikropipet
7. Blue tip dan yellow tip
8. Kuvet
9. Spektrofotometer UV
10. Gelas beaker
11. Pipet volume 10 ml

BAHAN
1. Tablet CTM
2. Serbuk CTM standar
3. HCL pekat
4. Aquadest

IV. CARA KERJA


a. Pembuatan HCL 0,1 N 500 ml
Dimasukkan 250 aquadest ke dalam labu takar 500 ml

Diambil dan dimasukkan 4,17 ml HCL 37 % melalui dinding tabung


secara perlahan

Digojok pelan hingga homogen

Ditambah aquadest hingga tanda tera


b. Pembuatan larutan induk
Ditimbang 20 mg CTM murni

Dilarutkan dalam 100 ml HCL 0,1 N

Digojok hingga larut


c. Pembuatan kurva baku
Diambil beberapa l dari larutan induk (500, 600, 700, 800, 900 dan
1000 l)

Ditambah HCL sampai batas tanda (labu takar 10 ml)

Diukur absorbansi pada 200-400 nm (scanning )

Dilakukan pengukuran absorbansi pada seri kadar


d. Pengujian sampel
Uji keseragaman bobot tablet
Ditimbang sebanyak 20 tablet satu persatu dan dicatat bobotnya

Dihitung bobot tablet rata-rata

Pengujian sampel tablet CTM


Digerus 20 tablet CTM dengan mortir dan stamper

Ditimbang 200 mg serbuk yang setara dengan 4 mg CTM

Dilarutkan dalam HCL 0,1 N sampai 50 ml

Diambil 1 ml, lalu ditambahkan HCL 0,1 N hingga tanda tera pada
labu takar 10 ml

Dibaca absorbansi pada maksimum

Dihitung kadar tablet CTM dan lakukan replikasi 3 kali


V. DATA DAN PERHITUNGAN
Uji organoleptis tablet CTM

Bentuk : serbuk halus


Warna : kuning
Rasa : pahit keasaman
Bau : tidak berbau
Uji organoleptis CTM murni
Bentuk : serbuk halus
Warna : putih
Data Uji Keseragaman Bobot Tablet
N Berat tablet No Berat tablet (mg)
o (mg)
1 182,0 11 186,0
2 184,6 12 188,9
3 189,1 13 185,7
4 185,7 14 189,5
5 183,6 15 185,4
6 187,5 16 185,6
7 188,5 17 188,5
8 186,7 18 185,8
9 184,2 19 188,4
1 188,4 20 186,1
0

Rata-rata = 186,56 mg
SD = 2,0374
2,0374
CV = 186,56 x 100% = 1,0921 %

Batas penyimpangan
Tidak ada lebih dari dua tablet menyimpang 7,5% dari bobot
rerata tablet yaitu 172,568 mg 200,552 mg
Tidak ada satu tablet pun yang menyimpang 15 % dari bobot
rerata tablet yaitu 158,576 mg 214,544 mg
Sehingga dapat disimpulkan tablet sdah memenuhi syarat
keseragaman bobot tablet sesuai FI IV

Data Penimbangan

No Bobot Kertas + Bobot Kertas + sisa Bobot Sampel


sampel (mg) sampel (mg) (mg)
1 402,2 204,3 197,9
2 395,9 195,5 200,4
3 396,9 195,6 201,3
4 396,7 197,1 199,6

Pembuatan HCL 0,1 N dari HCL pekat


HCL pekat = 37%
x x 1000
N HCL pekat = BM
37 %x1 ,19 x 1000
= 36,5
= 12,06 N
Pengenceran N1 x V1 = N2 X V2
12,6 N x V1 = 0,1 N x 500 ml
V1 = 4,17 ml
Jadi, diambil HCL 37% sebanyak 4,17 ml
Scanning panjang gelombang maksimal : 263,5 nm
Pembuatan Kurva Baku
Larutan Induk yang digunakan : 0,2 mg/ml

No Konsentrasi (PPM) Absorban


1 8 ppm 0,215
2 10 ppm 0,273
3 12 ppm 0,326
4 14 ppm 0,359
5 16 ppm 0,406
6 18 ppm 0,420
7 20 ppm 0,452

Kurva Baku Kadar vs Absorbansi


A 0.5
b 0.4
s f(x) = 0.02x + 0.06
o 0.3 R = 0.99
r
b 0.2
a
0.1
n
s 0
i 9 10 11 12 13 14 15 16 17

kadar (ppm)

Persamaan kurva baku y = 0,0216x + 0,062


Dengan nilai r = 0,9964
Data absorbansi sampel :
I = 0,329
II = 0,311
III = 0,322
IV =0,343
Konsentrasi Regresi
y 0,062
X= 0,0216
x1 = 12,36
x2 = 11,52
x3 = 12,03
x4 = 13,01
Kadar mg/mg sampel
konsentrasiregresi x faktor pengenceran x v sampel
Kadar = bobot sampel x 1000 mg/mg

sampel
12,36 x 10 x 50
Kadar1 = 197,9 x 1000 = 0,0312 mg/mg sampel

11,52 x 10 x 50
Kadar2 = 204,1 x 1000 = 0,0287 mg/mg sampel

12,03 x 10 x 50
Kadar3 = 201,3 x 1000 = 0,0298 mg/mg sampel

13,01 x 10 x 50
Kadar4 = 199,6 x 1000 = 0,0326 mg/mg sampel

Kadar mg/tablet
Kadar = kadar mg/mg sampel x bobot rata-rata
Kadar1 = 186,56 x 0,0312 = 5,8206 mg/tablet
Kadar2 = 186,56 x 0,0287 = 5,3542 mg/tablet
Kadar3 = 186,56 x 0,0312 = 5,5594 mg/tablet
Kadar4 = 186,56 x 0,0312 = 6,0818 mg/tablet
Perhitungan Recovery
Recovery 1 Recovery 1

kdr terhitung
x 100
kdr dalam etiket mg
5,3542
tablet
Recovery 1 x 100
mg
4
tablet

mg Recovery 133,855
5,8206 1
tablet Recovery
x 100 1
mg
4
tablet
kdr terhitung
x 100
Recovery 145,515 kdr dalam etiket
1

Recovery 1
Recovery 1

kdr terhitung mg
x 100 5,5594
kdr dalam etiket tablet
x 100
mg
4
tablet

Recovery 138,985
1
Recovery 1
Recovery 1

kdr terhitung mg
x 100 6,0818
kdr dalam etiket tablet
x 100
mg
4
tablet

Recovery 152,045
1

Tablet CTM mengandung CTM tidak kurang dari 93,00% dan tidak
lebih dari 107,00% dari jumlah yang tertera dalam etiket
Keterangan dalam etiket 4 mg
Kandungan CTM yang dibolehkan
93,00% x 4 mg x 107,00% x 4 mg
3,72 mg x 4,28 mg
Uji pencilan
6,08185,8206
Nilai Q = 6,08185,3542 = 0,359

Karena nilai Q ( 0,359) < 0,83 maka 6,0818 bukan sebuah pencilan
Kadar Tablet rata-rata
5,8206+ 5,3542+5,5594 +6,0818
Kadar tablet rata-rata = 4 = 5,7040

mg/tablet

SD = 0,316 x x x +
0,316
CV = 5,704 x 100% 5,7040,5027 x 5,704 +0,5027
5,2013 x 6,2067
=5,539 %

SD 0,316 Limit of Detection (LOD)


SE= = =0,158
n 4
3 SD
=t . SE LOD=
slope
=3,182 . 0,158
3 . 0,316
LOD=
= 0,5027 0,0216
mg
LOD=43,8889
Rentang kadar 100 ml
Limit of Quantification 10 . 0,316
LOQ=
0,0216
(LOQ)
mg
LOQ=146,2963
10 SD 100 ml
LOQ=
slope
VI. PEMBAHASAN
Tujuan dari praktikum ini adalah analisa kadar CTM secara
kuantitatif dalam sediaan tablet CTM dengan menggunakan metode
spektrofotometer UV, dimana tablet CTM ini mengandung zat aktif
Chlorpheniramine maleat. Metode ini dipilih berdasarkan standar yang
telah ditetapkan dalam Farmakope Indonesia Edisi IV. Tablet CTM yang
dianalisis tidak diketahui waktu kadaluarsanya karena saat pemberian
tablet tidak terdapat bungkus / informasi yang tersedia.
Klorfeniramin maleat merupakan obat golongan antihistamin
penghambat reseptor H1 (AH1) (Siswandono, 1995). Pemasukan gugus klor
pada posisi para cincin aromatik feniramin maleat akan meningkatkan
aktifitas antihistamin. Berdasarkan struktur molekulnya, memiliki gugus
kromofor berupa cincin pirimidin, cincin benzen, dan ikatan C=C- yang

N
mengandung elektron pi () terkonjugasi yang dapat mengabsorpsi sinar

H
C
pada panjang gelombang tertentu di daerah UV (200-400 nm), sehingga

N
dapat memberikan nilai serapan (Silverstein, 1986; Rohman, 2007).

3
C
H
Struktur CTM adalah sebagai berikut :

3Cl Molekul CTM di atas merupakan molekul utuh pada suasana netral.
Nantinya saat akan dianalisis dengan spektrofotometer UV, sampel yang
mengandung CTM akan dilarutkan dalam asam klorida karena sifat CTM
yang merupakan basa lewis dapat terlarut di dalam suatu asam
membentuk ion sebagai berikut:
H
C
N
H
C
3
+H
N
+
3C l Klorfeniramin maleat mengandung tidak kurang dari 98,0% dan
tidak lebih dari 100,5% C6H19ClN2.C4H4O4, dihitung terhadap zat yang telah
dikeringkan dan memiliki berat molekul 390,67. Klorfeniramin maleat
berupa serbuk hablur, putih; tidak berbau, larutan mempunyai pH antara
4 dan 5, mudah larut dalam air, larut dalam etanol dan kloroform; sukar
larut dalam eter dan dalam benzena (Farmakope IV, 1995).

Pada percobaan ini, penetapan kadar CTM dilakukan dengan


menggunakan metode spektrofotometri UV menurut Farmakope Indonesia
edisi IV. Metode ini dipilih karena mudah, murah, cepat, sensitif, selektif,
akurat, dan teliti sehingga sangat tepat diaplikasikan dalam penetapan
kadar CTM dalam tablet CTM. Selain itu, Spektrofotometri dipilih karena
CTM memiliki ikatan rangkap terkonjugasi (kromofor) yang cukup panjang
sehingga dapat menyerap energi (absorpsi) yang diberikan pada panjang
gelombang tertentu, serta atom yang mempunyai pasangan elektron
bebas yang terikat langsung pada ikatan rangkap terkonjugasi
(auksokrom) yaitu gugus Cl sehingga dapat meningkatkan intensitas
absorbsinya. Setiap senyawa memiliki panjang gelombang maksimal yang
spesifik akibat perbedaan pada sistem kromofor dan auksokromnya. Hal
tersebut menyebabkan setiap senyawa memiliki pita serapan yang khas.
Jadi, sifat fisika-kimia yang dapat digunakan sebagai dasar pemilihan
metode penetapan kadar Parasetamol adalah struktur kimianya yang
memiliki ikatan rangkap terkonjugasi yang cukup panjang, sehingga
memungkinkan penggunaan spektrofotometri UV untuk penetapan
kadarnya.
Langkah pertama yang dilakukan adalah dilakukan pengujian
keseragaman bobot tablet. Uji ini dilakukan dengan cara menimbang
bobot 20 tablet satu per satu kemudian dihitung rata-ratanya. Kemudian
dihitung rentang 7,5% dari bobot tablet rata-rata yaitu 172,568 mg
200,552 mg dan dihitung rentang 15% dari bobot tablet rata-rata yaitu
158,576 mg 214,544 mg. Hasil yang didapat adalah tidak ada satu pun
tablet yang menyimpang lebih besar dari 7,5% dan 15% dari bobot tablet
rata-rata. Kemudian ke-20 tablet tersebut digerus dengan menggunakan
mortir dan stamper.
Lalu dibuat larutan HCl 0,1 N sebanyak 500ml. Caranya yaitu
dengan memasukkan 250ml aquades ke dalam labu takar 500ml,
kemudian diambil HCl 37% sebanyak 4,17ml dan di masukkan kedalam
labu takar tersebut secara perlahan-lahan melalui dinding labu takar,
digojog pelan-pelan agar homogen. Selanjutnya labu takar di ad aquades
hingga tanta tera.
Pengenceran larutan asam klorida dilakukan di dalam labu takar,
karena labu takar merupakan instrument volumetrik yang didesain
memiliki presisi dan akurasi yang tinggi untuk melakukan pengenceran,
yang dapat dilakukan kalibrasi secara berkala sehingga akurasinya selalu
terjaga. Sedangkan untuk memipet sejumlah tertentu larutan stok dapat
digunakan pipet ukur, buret atau propipet. Skala yang digunakan juga
sebaiknya menyesuaikan seberapa banyak volume yang akan diambil.
Dalam analisis kali ini digunakan asam klorida dengan konsentrasi 0,1 N
sesuai dalam ketentuan dalam Farmakope Indonesia Edisi IV.
Lalu disiapkan larutan seri kadar CTM yang selanjutnya digunakan
untuk membuat kurva baku (metode multi-point calibration). Yang
pertama dilakukan pada tahap ini adalah menimbang dengan seksama
CTM baku tunggal sebanyak 20 mg, kemudian dimasukkan ke dalam labu
takar 100 mg. Kemudian dilakukan pelarutan dengan larutan asam klorida
0,1 N baku tadi sampai batas yang tertera pada labu takar. Digojog
homogen hingga mendapat larutan yang jernih, dimana semua serbuk
CTM terlarut sempurna di dalam larutan asam klorida. Setelah itu
menyiapkan labu takar 10 mL untuk dilakukan pengenceran dengan hasil
akhir CTM yang memiliki berbagai konsentrasi yang telah ditentukan.
Secara berturut-turut larutan awal CTM tadi dipipet sebanyak 500, 600,
700, 800, 900, 1000 L.
Setelah larutan seri kadar siap, dilakukan scanning panjang
gelombang. Hal ini perlu dilakukan untuk memastikan serapan UV
maksimal oleh larutan sari kadar tersebut. Karena dimungkinkan terjadi
perubahan nilai panjang gelombang yang minor akibat perbedaan
perlakuan selama preparasi larutan seri kadar. Pada proses ini dilakukan
scanning dengan menggunakan larutan seri kadar yang paling kecil.
Scanning dilakukan pada panjang gelombang 200 sampai 400 nm. Hal ini
diharapkan pada kadar terkecil pun masih dapat menyerap sinar UV
secara maksimal, pada panjang gelombang tertentu. Hasilnya diperoleh
absorbansi maksimal pada panjang gelombang 263,5 nm.
Setelah didapatkan panjang gelombang yang memberikan
absorbansi maksimal, kemudian segera dilakukan penetapan absorbansi
tiap-tiap seri kadar. Sehingga akhirnya dapat ditentukan untuk membuat
suatu persamaan kurva baku yang baik, untuk kemudian digunakan untuk
penetapan kadar CTM dalam sampel tablet tunggal CTM yang ada dalam
perdagangan.
Dari seri absorbansi yang diperoleh, dapat dibuat regresi linier kadar
(x) vs absorbansi (y) untuk memperoleh kurva baku. Ketika semua data
dihitung, diperoleh nilai r yang sudah bagus..Dari hasil regresi linier kurva
baku didapat persamaan kurva baku Y= 0,0216X + 0,062 dengan r =
0,9964. Persamaan ini sudah cukup bagus mewakilkan respon yang timbul
sebagai perubahan kadar.
Setelah 20 tablet tadi digerus hingga halus. Kemudian diambil
dengan seksama sejumlah 200 mg serbuk dimana bobot tersebut
diasumsikan mengandung 4 mg CTM. Setelah itu sejumlah serbuk tadi
dimasukkan ke dalam labu takar 50 mL dan kemudian dilarutkan dengan
asam klorida 0,1 N hingga tanda tera. Dilakukan penambahan pelarut
berupa asam klorida 0,1 N adalah untuk melarutkan CTM yang bersifat
basa, sehingga dapat larut dalam suatu larutan asam dan membentuk
garamnya. Kemudian dilakukan penyaringan dengan menggunakan kertas
saring untuk menyaring residu padatan yang tidak ikut larut dalam pelarut
yang digunakan tersebut. Laruta diharapkan jernih dan tidak ada zat yang
tidak larut yang dapat mengganggu pembacaan. Kemudian filtrat tersebut
diencerkan 10x yaitu dengan memipet filtrat sebanyak 1ml dimasukkan
kedalam labu takar 10 ml, di ad asam klorida 0,1 N sampai tanda tera.
Setelah itu diukur absorbansinya pada panjang gelombang 263,5 nm dan
percobaan ini diulangi sebanyak 3 kali. Dalam praktikum ini tidak
dilakukan proses ekstraksi seperti yang tertulis di Farmakope Indonesia IV
karena untuk menghindari kesalahan kerja yang semakin besar pada saat
preparasi sampel yang diakibatkan kurangnya kemampuan dan
kepahaman praktikan untuk mengatasi permasalahan yang terjadi saat
proses ekstraksi. Karena apabila semakin banyak kesalahan dalam
preparasi sampel akan berakibat kepada hasil analisis yang tidak tepat
dan tidak teliti.
Absorbansi sampel yang didapat adalah 0,329; 0,311; 0,322 dan
0,343. Lalu dapat dihitung konsentrasi regresi dengan menggunakan
persamaan kurva baku dimana y adalah absorbansi dan x adalah kadar
yang akan dicari. Didapat konsentrasi regresi 12,36; 11,52; 12,03 dan
13,01 ppm. Dari konsentrasi regresi dapat dihitung kadar mg/mg sampel,
didapat data 0,0312; 0,0287; 0,0298; 0,0326 mg/mg sampel. Kemudian
dari data tersebut barulah didapat kadar sampel tiap tabletnya.
Didapatkan rata-rata kadar tiap tabletnya adalah 5,704 mg/tablet. Hal ini
tidak sesuai dengan kadar yang ditemui pada umumnya yakni tiap 200
mg tablet mengandung 4 mg CTM.
Kadar hasil analisis yang didapat lebih besar daripada yang
seharusnya bisa disebabkan karena saat penggerusan kurang halus dan
homogen, dan kurang baik dalam penyaringan, sehingga dimungkinkan
terdapat partikel walau kecil yang tidak larut, sehingga absorbansi yang
terbaca menjadi sedikit lebih besar. Hal ini dapat diatasi saat penggerusan
dilakukan sampai halus dan homogen serta saat penyaringan digunakan
kertas saring yang lebih dari 1 (3 atau lebih) sehingga tidak
memungkinkan adanya partikel walaupun hanya kecil yang melewati
kertas saring. Karena pada dasarnya metode spektrofotometri harus
memenuhi syarat bahwa sampel yang dimasukkan kuvet harus berupa
larutan (tanpa adanya partikel).
Adapun Standar deviasi yang didapat adalah 0,316 dan CV sebesar
5,539 %. CV disini menyatakan validitas data yang diukur dari
perbandingan standar deviasi dengan mean data yang ada. Jika CV
dibawah 5 menunjukkan data presisi. Karena CV perhitungan kadar
didapat lebih dari 5%, maka dapat dikatakan data yang diperoleh kurang
presisi. Adapun kadar CTM dalam tablet yang diperbolehkan sesuai
persyaratan dalam Farmakope Indonesia IV adalah 92.5 sampai 107.5%
dari yang disebutkan di label. Rentang kadar yang diperbolehkan pada
tablet CTM adalah sebesar 3,72 mg x 4,28 mg. Sedangkan rentang
kadar yang diperoleh dari analisis sampel adalah 5,2013 x 6,2067 mg.
Hal tersebut menunjukan kadar CTM dalam tablet yang dianalisis memiliki
kadar diatas batas rentang kadar yang telah ditentukan dalam Farmakope
Indonesia.
Suatu metode analisis dapat diterima kebenarannya apabila sudah
tervalidasi dengan cara telah memenuhi beberapa persyaratan yang ada
antara lain akurasi, presisi dan linieritas. Validasi metode analisis sendiri
adalah suatu proses penilaian terhadap parameter analitik tertentu,
berdasarkan percobaan laboratorium, untuk membuktikan bahwa
parameter tersebut memenuhi syarat untuk tujuan penggunaannya, yaitu
memperoleh hasil analisis yang valid atau absah, dapat
dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan dapat menunjukkan kesesuaian
dengan tujuan pengujian (Mulja, 2003).
1. Akurasi
Akurasi didefinisikan sebagai ukuran yang menunjukkan derajat
kedekatan hasil analisis dengan kadar yang sebenarnya. Kriteria
ketepatan yaitu 90-110% dengan RSD kurang dari atau sama dengan 2%
sesuai dengan spesifikasi yang ada dalam Farmakope Indonesia (Mulja,
2003). Terdapat tiga cara yang dapat digunakan untuk menentukan
akurasi metode yaitu membandingkan dengan standar baku, uji perolehan
kembali dengan memasukkan analit ke dalam matriks dan penambahan
baku pada analit. Dalam percobaan ini, akurasi hanya dilihat dari nilai
perolehan kembali atau recovery. Recovery yang didapat:
Sampel 1= 145,515 %
Sampel 2=133,855 %
Sampel 3=138,985 %
Sampel 4=152,045 %
Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa sampel 1,2,3 dan 4 tidak
memenuhi syarat recovery 90-110%.
2. Presisi
Presisi merupakan ukuran yang menunjukkan kedekatan hasil
pengukuran paralel atau pengukuran berulang kali. Pemeriksaan presisi
mencakup replikasi dan reproduksibilitas, replikasi adalah pembuktian
bahwa prosedur yang diulang berkali-kali akan memberikan hasil yang
sama, sedangkan reproduksibilitas adalah pembuktian bahwa produk
yang dibuat berulang kali akan memberikan hasil yang sama. Syarat
ketelitian akan terpenuhi jika RSD untuk replikasi kurang atau sama
dengan 1.0% dan RSD untuk reproduksibilitas kurang dari atau sama
dengan 3.0% (Mulja, 2003).
Nilai CV yang didapat 5,539% sehingga dapat disimpulkan bahwa
hasil yang didapat tidak presisi.
3. Lineraitas
Linieritas didefinisikan sebagai kemampuan metode analisis untuk
memberikan hasil pengukuran yang secara langsung proporsional dengan
rentang konsentrasi yang diberikan. Linieritas ditentukan dengan
menghitung koefisien korelasi (r) yang harus lebih besar atau sama
dengan 0,995 (Mulja, 2003). Sebagai parameter adanya hubungan linier
digunakan koefisien korelasi r pada analisis regresi linier y = a + bx.
Hubungan linier yang ideal dicapai jika nilai b = 0 dan r = +1 atau 1
bergantung pada arah garis.
Dalam percobaan kali ini didapat regresi linear Y=0,0216X+0,062
dengan korelasi liniernya adalah 0,9964 sehingga dapat disimpulkan
bahwa persamaan memiliki korelasi yang baik.
4. Limit of Detection (LOD) dan Limit of Quantitation (LOQ)
Batas deteksi didefinisikan sebagai konsentrasi analit terendah
dalam sampel yang masih dapat dideteksi, meskipun tidak selalu dapat
dikuantifikasi, LOD menyatakan apakah analit di atas atau di bawah nilai
tertentu. (Gandjar, 2007) Dari data percobaan didapat bahwa harga LOD
pada sampel adalah sebesar 43,8889 mg/100 ml.
Batas kuantifikasi didefinisikan sebagai konsentrasi analit terendah
dalam sampel yang dapat ditentukan dengan presisi dan akurasi yang
dapat diterima pada kondisi operasional metode yang digunakan.
Sebagaimana LOD, LOQ juga diekspresikan sebagai konsentrasi (dengan
akurasi dan presisi juga dilaporkan). (Gandjar, 2007) Dari data percobaan
didapat bahwa harga LOD pada sampel adalah sebesar 146,2963
mg/100ml
Dari beberapa penjabaran kriteria validasi diatas dapat disimpulkan
metode yang digunakan praktikan belum bisa memberikan hasil analisis
yang baik. Hal tersebut dapat terjadi disebabkan dari proses preparasi
sampel yang kurang optimum sehingga masih ada pengotor yang
mengganggu proses analisis,

VII. KESIMPULAN
1. Analisis kadar CTM dalam tablet CTM pada praktikum ini
menggunakan metode spektrofotometri UV.
2. Panjang gelombang maksimum dari CTM adalah 263,5 nm.
3. Tablet memenuhi persyaratan keseragaman bobot.
4. Rata-rata kadar CTM tiap tablet adalah 5,704 mg.
5. Berdasar hasil analisis yang dilakukan, kadar CTM dalam tablet CTM
tidak sesuai dengan etiket yang tertulis
6. Rentang kadar 5,2013 x 6,2067 mg / tablet
VIII. DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 1995, Farmakope Indonesia, Edisi IV, Departemen Kesehatan
Republik Indonesia,
Jakarta
Florey, K, 1983, Analytical Profiles of Drug Substance, Volume 12, 4th
Edition, London,
Academic Press
Gandjar, I.G., dan Abdul, R., 2007, Kimia Farmasi Analisis, Pustaka Pelajar,
Yogyakarta
Mulja, M., dan Hanwar, D., 2003, Prinsip-Prinsip Cara Berlaboratorium
yang Baik (Good Laboratory Practice), Majalah Farmasi Airlangga,
Vol. III, No.2, 71-76
Mulya, M., dan Suherman, 1995, Analisis Instrumen, Airlangga University,
Surabaya
Pecsok, et al, 1968, Modern Methods of Chemical Analysis, 2th edition,
Canada
Silverstein, et al, 1986, Penyidikan Spektrometrik Senyawa Organik, Edisi
IV, Erlangga,
Jakarta, hlm. 305-309.
Underwood, AL & Day RA, 2002, Analisis Kimia Kuantitatif, Erlangga,
Jakarta

Yogyakarta, 18 Maret
2015
Praktikan,

1. Zwista Dimas Haryanto (09560)


2. Muhammad Hanif P (09561)
3. Sephia Putri Rahmawati (09562)
4. Fatimah Zaroh (09563)
5. Rias Reno Andini (09564)