Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam memperoleh suatu data penting diperlukan survey lapangan, survey


kebumian dapat dilakukan pada permukaan dan bawah permukaan. Untuk melakukan
survey bawah permukaan atau subsurface perlu menggunakan metode khusus karena
tidak dapat dilakukan menggunakan mata telanjang. Survey untuk subsurface
menggunakan metode geofisika yaitu survey dengan memanfaatkan parameter fisika
dari suatu batuan atau litologinya untuk mengetahui keadaan pada bawah permukaan
bumi. Untuk melakukan survey metode geofisika diperlukan teori khusus dan
instrumen yang mendukung agar memperoleh data yang berkualitas sesuai target
survey.
Salah satu metode geofisika yang sering digunakan adalah metode gaya berat
atau Gravity. Metode Gravity ini mengunakan parameter fisika berupa gaya gravitasi,
karena gaya gravitasi terbentuk dari potensial suatu massa objek dan jarak yang
terbentuk diantaranya. Metode ini secara relatif merupakan metode yang ekonomis,
tidak destruktif dan mengganggu lingkungan.Tujuan menggunakan metode ini adalah
untuk memperoleh densitas atau rapat massa dari target survey, yang mana suatu
densitas dapat diperoleh dari persamaan rumus gaya gravitasi. Densitas tiap batuan
berbeda-beda maka dari itu dapat menjadi penciri untuk interpretasi selanjutnya.
Pengukuran metode Gravity dilakukan untuk mendapatkan nilai gravitasi
relatif hasil dari observasi di lapangan. Nilai gravitasi yang diperoleh hasil observasi
dan sudah dikoreksi disebut nilai Gobs atau G Observasi. Nilai GObs diperlukan
untuk menjadi penguat dalam interpretasi. Penyajiannya dapat berupa grafik atau
suatu peta yang menggambarkan persebaran nilai Gobs.

1
1.2 Maksud dan Tujuan

Maksud dalam penyusunan laporan ini adalah untuk memahami metode


Gravity dengan benar berdasarkan teori yang ada. Dan tujuan dari penyusunan
laporan ini adalah untuk mengetahui nilai GOBS dan hubungannya dengan nilai
elevasi tiap titik

2
BAB II

DASAR TEORI

2.1. Metode Gravity

Metode Gravity atau dikenal juga sebagai eksplorasi medan potensial


memberikan geosaintis suatu cara yang tidak langsung untuk memprediksi keadaan
bawah permukaan bumi dengan mengetahui sifat fisikanya. Metode Gravitasi
mengukur variasi medan gravitasi bumi yang disebabkan oleh perbedaan densitas dari
batuan di bawah permukaan bumi. Metode ini dapat memprediksi keterdapatan
mineral, struktur geologi, reservoir air tanah dan petrolium. Survey medan potensial
merupakan survey yang secara relatif dapat dikatakan ekonomis dan dapat dengan
cepat mencangkup daerah yang luas. Tujuan utama dari metode ini adalah untuk
meningkatkan pemahaman terhadap geologi bawah permukaan bumi. Metode ini
relatif ekonomis, tidak merusak dan ramah lingkungan, cocok untuk digunakan pada
daerah berpenduduk. Termasuk dalam metode geofisika yang pasif karena tidak
membutuhkan sumber energi atau perangsang agar objek memberikan respon.
.

2.2. Hukum Dasar Metode Gravity

Teori yang mendasari Metode Gravitasi pada Geofisika adalah hukum


gravitasi Newton dan teori medan potensial. Di bawah ini adalah penjelasan
mengenai kedua hukum tersebut.

2.2.1. Hukum Newton

Teori yang mendasari Metode Gaya Berat adalah Hukum gravitasi yang
dikemukakan oleh Sir Isaac Newton (1642-1727), menyatakan bahwa gaya
tarikmenarik antara dua buah partikel sebanding dengan perkalian kedua

3
massanya dan berbanding terbalik dengan kuadrat jarak antara pusat
keduanya, jadi semakin jauh jarak kedua benda tersebut maka gaya gravitasi
semakin kecil dan apabila jarak kedua benda semakin kecil maka gaya
gravitasi juga akan menjadi besar. Hukum gravitasi Newton menyatakan
bahwa gaya antara dua buah partikel bermassa m1 dan m2 berbanding
langsung dengan hasil kali kedua massa tersebut dibagi dengan kuadrat
jaraknya, seperti pada persamaan berikut:

m1 m2
F=G (2.1)
r2

Dimana : Gaya interaksi antara dua massa (N)


: Jarak antara m1 dan m2 (m)
m1 dan m2 : Massa 1 dan Massa 2 (Kg)
: Vektor satuan yang arahnya dari ke
m 2
6,6732 1011 N ( )
G : Konstanta gravitasi umum kg

Dari persamaan di atas dapat diketahui bahwa besarnya medan gaya
berat oleh di sebesar :

m1
E ( r )=G 2
(2.2)
r

2.2.2. Medan Potensial 3-D

Tinjau suatu massa yang berbentuk tidak beraturan, dengan pusat massa
berhimpit dengan pusat koordinat kartesian. Potensial dan percepatan gravitasi
pada suatu titik yang berjarak r dari pusat massa P(x,y,z), dapat dihitung
dengan memecah massa tersebut menjadi elemen-elemen kecil, kemudian
diintegrasikannya untuk mendapatkan pengaruh potensial seluruh massanya.
Potensial yang disebabkan oleh eleman massa dm pada jarak r dari titik
p adalah:

4
Gdm G
dU = = dxdydz (2.3)
r r

Dimana adalah densitas dari r2 = x2+y2+z2Oleh karena itu potensial


seluruh massa:

1
U=G dxdydz
xyz
r (2.4)

Sedangkan percepatan gravitasinya dalam arah Z:

U z
gz = =G 3 dxdydz
Z xyz r
(2.5)

Bila digunakan koordinat silinder : dxdydz = r dr d d dz persamaan


potensial akibat massa m:

U=G drddz
xz (2.6)

Sedangkan percepatan gravitasi pada arah z dalam koordinat silinder ini:


Bila digunakan koordinat bola: dx dy dz = r2 sin dr d dz persamaan
potensialnya menjadi:

U=G r sin dr d d (2.7)

Sedangkan percepatan gravitasi pada arah Z dalam koordinat bola:

z
gz =G sin dr d d
r
r (2.8)

G sin cos dr d d
r (2.9)

5
2.3. Faktor yang Mempengaruhi Gravitasi

Pada kenyataannya bumi tidak bulat sempurna, tetapi berbentuk elipsoid


dan berotasi dengan kecepatan sudut tetap terhadap sumbu tetap. Karena bentuk
dan rotasi bumi tersebut maka percepatan gaya berat di kutub lebih besar
daripada percepatan di khatulistiwa.
Karena bentuk bumi bukan merupakan bola pejal yang sempurna, dengan
relif yang tidak rata, berotasi serta ber revolusi dalam sistem matahari, tidak
homogen. Dengan demikian variasi gayaberat di setiap titik permukaan bumi
akan dipengaruhi oleh 5 faktor, yaitu :
1. Posisi garis lintang
Bentuk bumi tidaklah bulat sempurna, tetapi lebih mendekati bentuk
spheroid bumi, agak pepat dikutubnya. Akibatnya terdapat variasi radius
bumi selain itu, perbedaan percepatan sentrifugal di kitub dan di equator.
Percepatan sentrifugal maksimum di equator dan nol di kutub. Sehingga nilai
g di kutub lebih besar dibandingkan dengan g di equator.
1. Kedudukan matahari dan bulan terhadap bumi
Harganya berubah setiap waktu secara priodik tergantung dari
kedudukan benda-benda langit tersebut. Besarnya 0.3 mgal dengan priode
12 jam. Bumi mengalami tarikan maupun dorongan dari posisi normalnya.
2. Elevasi
Perbedaan ketinggian menyebabkann perbedaan nilai gravitasi.
Permukaan bumi yang lebih tinggi (pegunungan/perbukitan) memiliki nilai
gravitasi yang lebih rendah dibandingkan permukaan bumi yang lebih
rendah (lembah).
3. Keadaan topografi di sekitar titik pengukuran
Adanya efek massa di sekitar titik observasi mempengaruhi nilai
gravitasi pada titik pengamatan. Adanya bukit dan lembah di sekitar titik
amat akan mengurangi besarnya gaya berat yang sebenarnya.

6
4. Variasi rapat massa batuan di bawah permukaan (anomaly/target)
Dengan adanya suatu massa yang berbeda densitas dibawah
permukaan bumi menyebabkan terjadi perbedaan nilai gravitasi pada
permukaan. Nilainya bergantung gaya tarik antar massa yang menandakan
perubahan nilai gravitasi.

2.4. Tahapan Pengolahan Data Gravity

1. Konversi Pembacaan Gravitymeter


Untuk memperoleh nilai gravitasi harus melakukan konversi dari skala
pembacaan gravitymeter kedalam satuan gaya berat (mGal). Dengan
beredarnya alat gravitymeter, maka bermacam macam table konversi alat.
Konversi pada alat tergantung pada alat dan table yang digunakan.
2. Konversi Feedback
Konversi feedback merupakan konversi pembacaan pada alat dalam
skala pembacaan dan dikonversi kesatuan gaya berat yaitu mgal. Konversi
tersebut megunakan rumus

Konversi feedback = Konstanta Konversi x 1/m x Feedback (2.10)

3. Koreksi Tinggi Alat


Tinggi alat merupakan jarak antara permukaan atas gravitymeter
dengan titik ukur GPS. Tujuannya agar pembacaan gravitasi disetiap
pengukuran mempunyai posisi ketinggian yang sama dengan pengukuran
hasil data GPS.

KTA = 0,3086 x TA (2.11)

4. Koreksi Pasang Surut


Berdasarkan hukum Newton yang melandasi konsep gravitasi maka
kedudukan bintang-bintang dan planet pada sistem tata surya akan
dipengaruhi besar kecilnya gaya gravitasi. Benda langit tersebut yang paling
dominan pengaruhnya adalah bulan dan matahari.
Pada umumnya besarnya koreksi pasang surut telah ditabelkan, dan
telah dibuat banyak sekali software yang menghitung koreksi tersebut. Salah
satunya dengan memasukkan data lintang dan bujur dalam derajat dan menit,

7
tinggi titik ukur dalam meter, selang waktu pencuplikan, tanggal mulai dan
akhir.
5. Koreksi Drift
Pengukuran gravitasi berulang pada suatu tempat akan memberikan
hasil yang berbeda, meskipun secara teoritis harga gravitasi suatu tempat
dianggap konstan Koreksi apungan timbul dari konsekuensi penggunaan alat
yang menggunakan pegas yaitu adanya factor kelelahan. Selain factor
kelelahan koreksi apungan juga disebabkan sifat pegas yang tidak elastic
sempurna sebagai penyebab timbulnya perubahan harga standar alat ukur yang
ditandai dengan pergeseran titik nol. Penyebab lain adalah goncangan yang
terjadi saat alat dipindahkan dalam keadaan alat tidak diklem.
Koreksi apungan adalah koreksi yang disebabkan oleh alat itu sendiri
yang menunjukan perubahan harga setiap waktu yang dapat dianggap linear
untuk jangka waktu yang relative pendek.

t so - tso} x (G rerata soG rerata so


tsit so ) (2.12)
KD=

Dimana DC : Koreksi Apungan pada titik amat (mGal)


tsi : Waktu saat pengukuran ke-i
tso : Waktu saat pengukuran pertama
tso : Waktu saat pengukuran terakhir
G so : Nilai G pengukuran terakhir
Gso : Nilai G pengukuran pertama

2.5 Metode Looping

Pada umumnya, pengambilan data metode gravitasi dilakukan dengan


proses looping. Proses looping dimulai dari titik yang telah ditentukan dan
berakhir pula dititik tersebut. Tujuan proses looping ialah agar dapat diperoleh
koreksi kelelahan alat (drift) yang disebabkan karena perubahan pembacaan alat
akibat gangguan berupa guncangan pegas alat gravimeter selama perjalanan.
Koreksi Kelelahan alat (drift) dilakukan untuk menghilangkan pengaruh
perubahan kondisi alat (gravity meter) terhadap nilai pembacaan. Koreksi

8
apungan muncul karena gravity meter selama digunakan untuk melakukan
pengukuran akan mengalami goncangan, sehingga akan menyebabkan
bergesernya pembacaan titik nol pada alat tersebut. Koreksi ini dilakukan dengan
cara melakukan pengukuran dengan metode looping, yaitu dengan pembacaan
ulang pada titik ikat (base station) dalam satu kali looping, sehingga nilai
penyimpangannya diketahui.

Gambar 2.1. Diagram Looping

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Diagram Alir Pengolahan Data

MULAI

Data Sintetik
f

Konversi Skala

9
Koreksi Pasang Surut

Koreksi Tinggi Alat

Gravitasi Relatif

Gravitasi Rata-Rata

Koreksi Drift

G Observasi

Grafik dan Peta

Pembahasan

Kesimpulan

Selesai

Gambar 3.1 Diagram Alir Pengolahan Data

3.2 Pembahasan Diagram Alir Pengolahan Data

10
Dari diagram alir pengolahan data langkah langkah pengolahan data sintetik
untuk memperoleh G Observasi adalah sebagai berikut:

A. Data Sintetik
Data sintetik atau data hasil rekayasa yang berupa waktu pengukuran tiap
titik, hasil skala pembacaan, dan tinggi alat untuk diolah menggunakan rumus
perhitungan dan koreksi koreksi untuk akhirnya memperoleh nilai G
Observasi pada tiap titik mulai dari titik base hingga titik loop.
B. Konversi Skala Pembacaan
Nilai yang diperoleh pada skala pembacaan di Gravitimeter belum pada
satuan yang tepat, perlu dirubah secara setara atau dikonversi kedalam satuan

cm
mga, dimana 1 gal sama dengan 1 s 2 . Rumus untuk mengkonversinya

adalah sebagai berikut :


nilai dalam mgal + ( skala pembacaancounter reading ) x internal factor

C. Koreksi Pasang Surut (Pasut)


Faktor yang mempengaruhi nilai gravitasi dalah satunya adalah fenomena
pasang surut. Untuk mengatasinya dilakukan koreksi pasang surut dengan
menggunakan software Pasut yang disesuaikan dengan waktu harian. Nilai
koreksi akan diperoleh dari software tersebut dan harus dikonversi ke satuan
mgal.
D. Koreksi Tinggi Alat
Karena pengaruh dari gravitasi dan jari jari bumi dapat mempengaruhi nilai
gravitasi maka untuk mengatasinya digunakan koreksi tinggi alat. Yaitu

dengan rumus : Tinggi alat ( m ) x0.3068 . Angka -0.3086 merupakan hasil

dari turunan persamaan Hukum Gravitasi Newton dan Hukum Newton II


sehingga dapat diperoleh angka tersebut.
E. Gravitasi Relatif (G)
Gravitasi relatif adalah nilai gravitasi yang diperoleh dari hasil pengukuran
dilapangan yang sifatnya relatif. Nilai G ini bersifat relatif yang berarti dapat

11
berubah-ubah sesuai faktor eksternal seperti pasang surut dan tinggi alat.
Untuk menghitungnya menggunakan rumus :
Nilai Konversi Skala+ Nilai Koreksi Tinggi AlatNilai Koreksi Pasut

F. Gravitasi Rata-rata
Dari tiga nilai pengukuran gravitasi pada satu titik dilakukan perhitungan rata
rata gravitasinya. Gravitasi rata rata dihitung per titik pengukuran dari data

G
yang diperoleh tiap selisih waktunya. Rumusnya : n

G. Koreksi Drift
Pada alat terdapat error akibat pegas dalam yang mengalami perpindahan
sehingga terjadi kemoloran pegas. Sebagai antisipasi akan hal ini karena
mengakibatkan perubahan dalam pembacaan nilai gravitasi sehingga kurang
tepat maka dilakukan koreksi drift. Untuk selanjutnya memperoleh nilai G
terkoreksi drift.
H. Nilai G
Nilai delta G atau selisih G ini merupakan nilai dari selisih yang terbentuk
antara nilai G terkoreksi awal base dan nilai G pada titik pengukuran.
I. G Observasi
Dari pengolahan dan koreksi data yang sudah dilakukan akan diperoleh nilai
Gobs atau Gravitasi Observasi. Gravitasi observasi merupakan nilai gravitasi
yang dapat digunakan untuk memberikan keterangan variasi nilai gravitasi di
lapangan tempat pengukuran. Nilai Gravitasi observasi diperoleh dari jumlah
G dengan nilai gravitasi mutlak atau absolut di bumi. Satuan berupa mgal
sesuai satuan internasional gaya gravitasi.
J. Grafik dan Peta
Setelah diperoleh nilai G Obs dan koordinat serta elevasi tiap titik pengukuran
untuk mengetahui gambaran medan lapangan maka dibuat visual berupa
grafik dan peta. Grafik elevasi dan nilai G Obs serta gabungannya dibuat
dengan bantuan software Microsoft Office Excel berupa grafik Cartesian
dengan sumbu x offset pengukuran dan Y nilai elevasi untuk grafik elevasi
dan nilai G Obs untuk grafik G obs. Dalam pembuatan peta elevasi, peta G
Obs dan gabungannya menggunakan software Surfer 11.
K. Pembahasan

12
Dari grafik dan peta yang dibuat dibahas dalam pembahasan. Grafik elevasi,
G Obs dan gabungannya akan dijelaskan serta hubungan yang terbentuk
antara suatu elevasi dengan nilai gravitasi observasinya. Pada pembahasan
peta tidak jauh berbeda dengan pembahasan grafik tetapi pembahasan dibahas
secara meluas.
L. Kesimpulan
Penarikan kesimpulan dari berbagai proses dan hasil yang diperoleh dilakukan
agar memberikan gagasan pemikiran mengenai data gravitasi untuk
selanjutnya dapat dilakukan interpretasi yang baik.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Tabel Pengolahan Data Lintasan 1

13
Tabel 4.1 Hasil Pengolahan Data G Obs

4.2 Pembahasan Grafik

4.2.1. Grafik Elevasi Lintasan 1

14
Gambar 4.2.1. Grafik Elevasi Lintasan 1

Dari data elevasi pada lintasan 1 yang diperoleh pada empat titik offset
pengukuran diperoleh elevasi dengan pola semakin naik terhadap offset yang
semakin jauh. Dalam grafik elevasi di atas pada offset satu memiliki elevasi
96 meter, lalu pada offset 2 memiliki elevasi setinggi 266 meter, pada offset 3
nilai elevasi setinggi 325 meter dan pada offset 4 memiliki nilai elevasi
setinggi 356 meter. Berdasarkan hubungan dari titik offset dan titik elevasi
maka line 1 memliki pola grafik elevasi yang semakin naik terhadap titik
offset yang semakin jauh dari offset 1 sampai dengan offset 4.

4.2.2. Grafik G Obs Lintasan 1

15
Gambar 4.2.2. Grafik G Obs Lintasan 1

Grafik nilai gravitasi observasi atau G Obs pada lintasan 1 memiliki


hasil yang berbeda dari grafik elevasi lintasan 1 yaitu membentuk pola
menurun terhadap titik offset. Dari grafik dijelaskan bahwa pada titik offset 1
memiliki nilai G Obs sebesar 978186,0247 mgal, pada titik offset 2 memiliki
nilai G Obs sebesar 978153,6237 mgal, pada titik offset 3 memiliki nilai G
Obs sebesar 978141,2297 mgal dan pada titik offset 4 memiliki nilai G Obs
sebesar 978130,6427 mgal. Sesuai pola yang terbentuk pada grafik dapat
diketahui bahwa pada lintasan 1 semakin jauh offset dari offset 1 hingga offset
4 terjadi penurunan nilai G Obs yang signifikan sehingga grafik membentuk
pola menurun.

4.2.3. Grafik G Obs VS Elevasi

16
Gambar 4.2.3. Grafik G Obs VS Elevasi Lintasan 1

Dari dua grafik yang sebelumnya yaitu grafik elevasi dan grafik G Obs
lintasan satu dibuat grafik gabungan sebagai perbandingan dari dua grafik yang
membentuk pola berbeda tersebut. Pada grafik elevasi akan semakin naik jika offset
semakin jauh sedangkan grafik G Obs akan semakin turun jika offset semakin jauh.
Yang kita ketahui dari faktor yang mempengaruhi gaya gravitasi bahwa jarak yang
semakin jauh dalam hal ini berupa elevasi, akan menciptakan gaya gravitasi yang
semakin lemah. Dari teori tersebut maka diperoleh hubungan mengapa grafik elevasi
berbanding terbalik dengan grafik G Obs karena elevasi yang semakin tinggi akan
menyebabkan nilai gaya gravitasi yaitu gravitasi observasi yang semakin lemah dari
tiap offsetnya.

4.3 Pembahasan Peta

17
4.3.1. Peta Elevasi Lintasan 1-8

Gambar 4.3.1. Peta Elevasi Lintasan 1-8

Dari data elevasi dan koordinat lintasan 1 sampai 8 digambarkan


dalam sebuah peta elevasi berupa kontur dengan gradasi warna pelangi. Pada
peta warna ungu hingga biru menggambarkan elevasi yang rendah yaitu 60
sampai dengan 150 meter. Dan untuk elevasi diatas 150 meter hingga 380
meter ditandai dengan warna gradasi hijau muda sampai merah tua. Dalam
peta terdapat dominasi elevasi rendah dengan elevasi tinggi pada arah timur
laut.

4.3.2. Peta G Obs Lintasan 1-8

18
Gambar 4.3.2. Peta G Obs Lintasan 1-8

Peta G Obs disusun dari data koordinat (x,y) dan nilai G Obs sebagai
titik z karena mewakilkan nilai yang akan dijadikan parameter seperti pada
peta kontur. Pada peta G obs diatas nilai G Obs rendah ditandai dengan warna
gradasi ungu muda hingga hjau muda, dari peta diatas nilai G Obs rendah
terdapat pada timur laut peta dan titik di tengah yaitu bernilai 978145 hingga
978155 mgal. Nilai G Obs tinggi ditandai dengan gradasi warna kuning muda
hingga merah yang mana tersebar hampir dominan pada peta yaitu bernilai
978170 hingga 978195 mgal. Peta yang terbentuk berbanding terbalik dengan
peta elevasi lintasan 1 sampai 8 sebelumnya.

4.3.3. Hubungan Peta G Obs Lintasan 1-8

19
Gambar 4.3.3. Peta G Obs VS Elevasi Lintasan 1-8

20
Peta elevasi lintasan 1 dan peta G Obs lintasan satu digabungkan
secara overlay untuk menggambarakan hubungan yang terbentuk diantara
kedua peta elevasi dan peta G Obs. Dari hasil peta kedua peta diposisikan
sedemikian rupa sehingga overlay, peta elevasi lintasan 1 sampai 8
diposisikan pada paling atas dan di bawahnya adalah peta G Obs lintasan 1
sampai 8 lalu dihubungkan untuk memberikan efek tumpang susun yang
setara. Peta elevasi lintasan 1 sampai 8 didominasi nilai elevasi yang rendah
berkisar 120 sampai 140 meter sedangkan peta G Obs lintasan 1 sampai 8
didominasi nilai G Obs yang cukup tinggi yaitu berkisar 978175 sampai
978190 mgal. Menurut teori faktor yang mempengaruhi gaya gravitasi, nilai
elevasi berbanding terbalik dengan nilai gravitasi yang terukur dan teori itu
dibuktikan dengan gambaran pada hubungan peta diatas. Pada bagian timur
laut peta elevasi memiliki elevasi yang tinggi tetapi pada peta G Obs memiliki
nilai G Obs yang rendah.

21
BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan peta topografi elevasi lintasan 1 sampai 8 yang tersusun dari data
elevasi (z) dan koordinat (x,y) nilai elevasi tinggi terdapat pada arah timur laut
peta dengan elevasi hingga 340 meter. Peta elevasi lintasan 1 sampai 8 sendiri
didominasi dengan elevasi yang rendah pada bagian tengah peta berkisar 100
sampai 140 meter.
Berdasarkan dari peta gravitasi observasi atau G Obs lintasan 1 sampai 8
tersebar nilai G Obs yang bervariasi. Pada peta dominan terdapat G Obs
bernilai tinggi berkisar 978170 hingga 978195 mgal.
Hubungan elevasi dan nilai G Obs berbanding terbalik. Saat nilai elevasi
rendah maka nilai G obs tinggi dan saat nilai elevasi tinggi maka nilai G Obs
rendah. Contohnya pada elevasi 96 meter memiliki nilai G Obs 978186,024
mgal dan pada elevasi 356 meter memiliki nilai G Obs 978130,64 mgal.

22
5.2 Saran

Menurut saya data sintetik yang diberikan dapat menggunakan persebaran


data yang lebih baik lagi sehingga hasil peta dapat mencerminkan dengan keadaan
data dalam bentuk 2 dimensi. Selain itu software yang diberikan sebaik mungkin
dapat up to date sehingga processing dapat lebih cepat seperti pencarian nilai pasut.

23