Anda di halaman 1dari 5

KEBIDANAN DALAM ISLAM

Hikmah Di Balik Haramnya Jimak Saat Haid dan Nifas

Oleh :

Linda Yulyani
1610104261

7D Kebidanan Annvulen

UNIVERSITAS AISYIYAH YOGYAKARTA


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
PRODI D4 BIDAN PENDIDIK
T.A. 2016/2017

A. Pengertian Haid dan Nifas


Ditinjau dari sisi bahasa Haid berarti sailaanu yaitu aliran (lisanul Arab, 7/142).
Ditinjau dari istilah Syari, para ulama fikih dari empat madzab berbeda-beda dalam
mendefinisikan kata haid. Meskipun Demikian, defenisi yang mereka sampaikan saling
berdekatan. Defenisi paling lengkap dinyarakan pada ulama madzab Hanbali. Mereka
mendefiniskan, Haida adalah darah keibiasaab yang keluar saat kondisi sehat, bukan
karena persalinan, keluar dari dalam rahim. Darah ini menjadi kebiasaan wanita yang
telah baligh.
Nifas adalah darah yang keluar dari rahim kerena melahirkan, baik bersama dengan
kelahiran atau sebelumnya dua atau tiga hari yang disertai dengan rasa sakit/ kontraksi.
Hukum darah nifas sebagaimna darah haid terhadap sesuatu yang dihalalkan dan
diharamkan baginya, serta yang mewajibkan dan menggugurkannya, sebagaimana
gugurnya kewajiban shalat dan puasa, tidak dihalalkan bagi seorang suami
menyetubuhinya hingga dirinya suci, wajib bersuci atau mandi bila telah berhenti
masanya. Semua ini berlaku bagi wanita haid dan nifas.

B. Perbedaan darah Haid dengan darah Istihadhah


Darah Istihadhah secara fisik berbeda dengan darah haid. Darah istihadhah dapat kita
ketahui dari tanda-tanda sebagaimana yang diseutkan dalam Shahih Fiqh Sunnah I/2016,
diantara tanda tersebut :
1. Darah istihadhah mengalir diluar waktu haid dan waktu nifas.
2. Tidak bersambung dengan darah haod dan darah nfas.
3. Bukah darah kebiasaan dan bukan darah alamiah, akan tetapi darah isthihadah keluar
karena urat yang terputus.
4. Darah isthihadah berwarna merah segar seperti perdarahan.
5. Tidak berhenti sampai sembuh uratnya. Berbeda dengan Haid yang putus sendiri
ketika masa siklus haid.

C. Hukum Menyetubuhi wanita yang haid atau nifas

Allah Taala berfirman :

Mereka bertanya kepadamu tentang haid.Katakanlah,Haid itu adalah suatu


kotoran.Oleh karena itu hendaklah engkau menjauhkan diri dari wanita di waktu
haid,dan janganlah kamu mendekati mereka,sampai mereka suci.Apabila mereka telah
suci,maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu (QS.
A-Baqarah: 222).
Allah azza wa jalla menjelaskan bahwa haid adalah kotoran. Tentu merupakan suatu
hikmah Allah melarang seorang suami menggauli istrinya ketika haid.Karena itu Allah
berfirman:

Hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid,

artinya, menjauhi tempat keluarnya haid, yaitu jangan melakukan jima di kemaluan.
Perbuatan ini hukumnya haram berdasarkan ijma (kesepakatan ulama).

Perintah untuk menjauhi tempat haid menunjukkan bahwa bercumbu dengan istri yang
haid, menyentuhnya tanpa berjima pada kemaluannya, hukumnya diperbolehkan.

Larangan ini menunjukkan, seorang suami hendaknya tidak mencumbu bagian yang dekat
dengan kemaluan, yaitu daerah antara pusar dan lutut. Dan inilah yang dituntunkan Nabi
shallallahu alaihi wasallam ketika istri beliau sedang haid. Bila beliau akan mencumbu
istrinya ketika sedang haid, beliau memerintahkan kepadanya untuk memakai kain lalu
beliau mencumbuinya.

D. Hikmah Larangan Jimak pada saat Haid dan Nifas


Para fukaha telah bersepakat (ijm/konsesnsus), bahwa menyetubuhi isteri yang
sedang nifas itu hukumnya haram. Hal ini diqiyskan kepada haid. Allah mengharamkan
bersetubuh di saat haid dan nifas, tentunya dengan hikmah yang sangat jelas. Terlebih
dalam mencegah penyakit berbahaya yang diakibatkan bersetubuh pada masa itu. Sebuah
penyakit yang berbahaya yang kerap diperingatkan para dokter.
Dr. Hamid Al-Ghawabi berkata: Sungguh jelas, vagina seorang wanita saat itu
kerap mengeluarkan cairan khusus. Cairan ini mengandung zat asam reaktif yang terdiri
dari zat asam leavenic.4 Cairan ini akan mencegah tumbuhnya bakteri-bakteri (di dalam
rahim). Apabila zat ini kemudian menjadi semacam zat alkali5atau setengah bereaksi,
maka bakteri-bakteri yang merusak yang menempel serta membahayakan vagina dan
rahim itu dapat dihilangkan. Kotoran tersebut mengalir dalam seluruh alat kelamin
wanita. Adanya darah pada saat haid, menjadi pembasmi zat asam ini hingga tidak sampai
menjadi zat alkali yang terus tumbuh berkembang hingga menjadi bakteri yang
membahayakan. Pada saat bersetubuh, bakteri-bakteri yang berbahaya itu akan terus
mengalir di dalam lorong kemaluan, terkadang juga mengalir melalui kandung kemih,
dua payudara, atau melalui prostat,6 dua biji kemaluan, maupun alat anggota reproduksi
lainnya. Zat inilah yang sering menyebabkan sakit saat kencing, bahkan tak jarang
menyebabkan kemandulan.
Zat ini bukan saja bahaya bagi pihak lelaki saja, tetapi juga bagi perempuan.
Hubungan seksual merupakan cara effektif dalam menularkan kuman (microbic) yang
merupakan bagian dari bakteri-bakteri yang ada di dalam vagina wanita itu. Tengah-
tengah lubang vagina di saat haid dapat mempersubur pertumbuhannyaSehingga, dapat
menginfeksi seluruh alat reproduksi dan terkadang dapat mengakibatkan kemandulan.

E. Analisis Jurnal Yang Mendukung


A. Analisis Jurnal Ilmiah Terkait Tema
1. Judul Penelitian
Hubungan Pengetahuan Suami Dengan Minat Berhubungan Intim Ibu Post Partum Di
Rumah Sakit Dustira Cimahi
2. Nama Peneliti
Yayat Suryati dan Ova Elliya
3. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Dustira Cimahi

4. Tujuan Penlitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada hubungan antara pengetahuan
suami dengan minat berhubungan seksual ibu post partum di Rumah Sakit Dustira
Cimahi.
5. Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif
korelasi dengan menggunakan rancangan penelitian cross sectional.
6. Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah semua suami dari ibu yang telah melahirkan di
Rumah sakit Dustira Cimahai. Pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan
dengan teknik aksidental sampling, sehingga didapatkan sampel sebesar 62 orang.
7. Instrumen Penelitian
Instrumen Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Kuisioner.
8. Hasil Penelitian
Dari hasil penelitian ini diketahui bahwa sebgaian responden (40,3%) memiliki
pengetahuan yang cukup, dan (54,8%) memiliki minat yang rendah untuk melakukan
hubungan seksual. Hal ini menunjukkan bahwa responden sudah cukup memahami
tentang bagaimana berhubungan seksual setelah istri melahirkan. hasil analisa
Bivariat menunjukkan ada hubungan antara pengetahuan dengan minat melakukan
hubungan seksual (Pv = 0,000).
9. Pembahasan
Dari hasil penelitian ini dapat dilihat bahwa pengetahuan tentang bagaiman
hukum berhubungan seksual pada saat masa nifas sangat mempengaruhi minat untuk
melakukan hubungan seksual. Oleh karena itu, perlu dilakukan edukasi yang lebih
merata dan komprehensif kepada pasangan yang baru memiliki adank adan sedang
dlam masa nifas tentang bagaimana berhubungan seksual pada masa nifas. Tenaga
kesehatan yang terkait seperti dokter, perawat terutama bidan dalam memberikan KIE
pada ibu nifas diharpkan tidak luput dari penyampaian hal ini.