Anda di halaman 1dari 41

MODUL PEMBELAJARAN

PENGAUDITAN 2
AUDIT SIKLUS PENDAPATAN : PENGUJIAN
SUBSTANTIF
Pengujian Pengendalian Siklus Pendapatan dan Pengujian
Substantif Transakasi

OLEH :

NURUL INSANIA

A31114024

PROGRAM STUDI AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS HASANUDDIN
KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas
limpahan rahmat-Nya sehingga modul pembelajaran ini dapat
terselesaikan dengan baik dan tepat waktu.
Penyusun mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang
telah memberi waktu untuk berdiskusi dan sumbangsi yang sangat
bermanfaat dalam penyusunan modul ini. Penyusun menyadari bahwa
masih banyak kesalahan dan kekurangan dalam modul ini, oleh sebab itu
penyusun senantiasa menanti kritik dan saran yang membangun dari
semua pihak untuk penyempurnaan modul ini.
Penyusun berharap modul ini dapat memberi apresiasi dan manfaat
kepada pengguna dan utamanya kepada penyusun sendiri.
Aamiin.

Makas
sar, 6 Februari 2017

Penyusun

2
DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL 1

KATA PENGANTAR 2

DAFTAR ISI 3

BAGIAN I TINJAUAN MATA KULIAH


4

BAGIAN II PENDAHULUAN
10

BAGIAN III MATERI PEMBELAJARAN 12

BAGIAN IV LATIHAN 31

BAGIAN V RANGKUMAN
32

BAGIAN VI TES FORMATIF


33

BAGIAN VII UMPAN BALIK ATAU TINDAK LANJUT


35

BAGIAN VIII KUNCI TES FORMATIF


36

BAGIAN IX DAFTAR PUSTAKA


37

3
BAGIAN I

TINJAUAN MATA KULIAH

1. DESKRIPSI MATA KULIAH


Mata kuliah Pengauditan II merupakan mata kaliah lanjutan dari
Pengauditan I. Dimana dalam Pengauditan II ini membahas mengenai
audit siklus transaksi mulai dari audit siklus pendapatan, audit siklus
pengeluaran, audit siklus produksi, audit siklus jasa personalia, audit
siklus investasi, audit siklus pembiayaan dan juga membahas mengenai
audit saldo kas, penyelesaan audit dan tanggungjawab pasca audit,
penyusunan laporan audit atas laporan keuangan yang telah diaudit,
serta jasa jasa lain akuntan dan pelaporannya hingga BAPEPAM dan
akuntan Publik.

2. KEGUNAAN MATA KULIAH


Kompetensi Utama
Mampu melaksanakan proses pengauditan dan penyusunan laporan
auditan suatu entitas secara professional dan berstandar
internasional.

Kompetensi Pendukung
Selain itu mahasiswa juga diharapkan memiliki kompetensi
pendukung seperti :
1. Mampu melaksanakan dan menerapkan proses pengauditan
berdasarkan siklus akuntansi perusahaan
2. Mampu melaksanakan dan memahami pengauditan berbasis
resiko (ISA)
3. Mampu menilai, mendeteksi dan merespon resiko kecurangan
terjadi;

4
4. Mampu menggunakan pengetahuan akuntansi dan komputerisasi

Kompetensi Lainnya
1. Mampu membuat prosedur audit atas siklus akuntansi
2. Mampu memahami struktur pengendalian intern perusahaan
3. Mampu membuat perencanaan audit, menilai resiko deteksi
pengendalian, dan cara-cara pengambilan sampel atas bukti yang
diperiksa
4. Mampu menggunakan pengetahuan akuntansi dan komputerisasi
5. Mampu untuk bekerjasama, baik sebagai pimpinan maupun
sebagai anggota kelompok

3. SASARAN BELAJAR
Menyiapkan tenaga auditor yang siap pakai dan proffesional yang
berstandar internasional dan memiliki keterampilan pada level
manajerial dan operasional dalam bidang pengauditan yang memiliki
kemampuan :

Melaksanakan pengauditan siklus atas penjualan dan pengumpulan


piutang

Melaksanakan sampling audit untuk pengendalian substantive


transaksi

Merancang penyelesaian pengujian dalam siklus penjualan dan


piutang

Melaksanakan sampling audit untuk pengujian rinci terhadap saldo

Melaksanakan pengauditan siklus pembelian dan pembayaran

Melaksanakan penyelesaian pengujian dalam siklus pembelian dan


pembayaran

Melaksanakan pengauditan siklus pembelian dan pembayaran

Melaksanakan pengauditan siklus penggajian dan personalia

Melaksanakan pengauditan siklus investasi dan pendanaan

Melaksanakan pengauditan kas dan instrument keuangan lainnya

Menyelesaikan audit atas laporan keuangan

5
Perkuliahan dilakukan selama 16 kali pertemuan, 2 pertemuan akan
digunakan untuk evaluasi (Mid dan Final) dan 14 pertemuan
didistribusikan sasaran-sasaran pembelajaran yang ingin dicapai
sebagai berikut :

PERTEMUAN SASARAN PEMBELAJARAN


Mampu memahami GBRP dan kerangka
1.
konseptual auditing II
Mampu memahami sifat pendapatan
Mampu memahami aktivitas pengendalian
transaksi penjualan kredit
Mampu memahami aktivitas pengendalian
2. transaksi penerimaan kas
Mampu memahami aktivitas pengendalian
Mampu memahami transaksi penyusuaian
penjualan
Mampu memahami pengujian substantif atau
piutang usaha
Mampu memahami penentuan risiko deteksi
Mampu memahami perancangan pengujian
3. substantif
Mampu memahami prosedur awal dan analitis
Mampu memahami pengujian rincian transaksi
Mampu memahami pengujian rincian saldo
Mampu memahami sifat siklus pengeluaran
Mampu memahami komponen pengendalian
intern

4. Mampu memahami aktifitas pengendalian


transaksi pengendalian
Mampu memahami aktifitas pengendalian
transaksi pengeluaran kas

6
Mampu memahami pengujian substansi atas
saldo utang usaha
Mampu memahami penentuan risiko deteksi
Mampu memahami perancangan pengujian
substansi
5.
Mampu memahami prosedur awal
Mampu memahami prosedur analisis
Mampu memahami penujian rincian transaksi
Mampu memahami pengujian rincian saldo
Mampu memahami sifat siklus produksi
Mampu memahami aktivitas pengendalian

6. transaksi pabrikasi
Mampu memahami pengujian substansi atas
saldo persediaan
Mampu memahami sifat siklus jasa personalia
Mampu memahami tujuan audit jasa personalia
Mampu memahami aktivitas pengendalian
7 transaksi penggajian
Mampu memahami pengujian substansi atas
saldo gaji dan upah

8 Mid Semester
Mampu memahami sifat siklus investasi
Mampu memahami tujuan audit siklus investasi
Mampu memahami pertimbangan perencanaan
audit
9 Mampu memahami pengujian substantif atas
saldo utang jangka panjang
Mampu memahami pengujian substantif atas
saldo ekuitas pemegang saham
Mampu memahami sifat siklus pembiayaan
10.
Mampu memahami tujuann audit siklus
pembiayaan
Mampu memahami pengujian substantif atas

7
saldo utang jangka panjang
Mampu memahami pengujian substantif atas
saldo ekuitas pemegang saham
Mampu memahami sifat siklus kas
Mampu memahami tujuan audit kas
Mampu memahami penyusunan program audit
kas

11 Mampu memahami penerapan proses audit


Mampu memahami pengujian saldo kas
sebelum tanggal neraca
Mampu memahami pengujian saldo kas setelah
tanggal neraca
Mampu memahami menyelesaikan pekerjaan
lapangan
Mampu memahami mengevaluasi temuan
12 Mampu memahami komunikasi dengan klien
Mampu memahami tanggung jawab setelah
audit
Mampu memahami standar pelaporan
Mampu memahami laporan auditor
Mampu memahami laporan standar
Mampu memahami penyimpanan dari laporan
13
standar
Mampu memahami pengaruh situasi yang
menyebabkan penyimpangan dari laporan
standar
Mampu memahami penerimaan dan
pelaksanaan penugasan atestasi
Mampu memahami standar atestasi

14 Mampu memahami penugasan yang


dilaksanakan menurut standar atestasi
Mampu memahami penugasan yang
dilaksanakan menurut standar atestasi

8
Mampu memahami struktur BAPEPAM
Mampu memahami komponen BAPEPAM dan
pasar modal
Mampu memahami kualifikasi dan registrasi

15 akuntan publik di BAPEPAM


Mampu memahami keterkitan BAPEPAM dengan
auditor independen
Mampu memahami tanggung jawab akuntan
publik terhadap BAPEPAM

16 Final Test

4. URUTAN PENYAJIAN

Audit siklus pendapatan

Audit siklus pengeluaran

Audit siklus produksi

Audit siklus jasa personalia

Audit siklus investasi

Audit siklus pembiayaan

Audit siklus saldo kas

Penyelesaian audit dan tanggungjawab pasca audit

Laporan audit atas laporan keuangan yang telah diaudit

Jasa-jasa lain akuntan dan pelaporannya

Bapepam dan akuntan publik

9
5. PETUNJUK BELAJAR BAGI MAHASISWA

Modul ini berisikan materi pembelajaran yang diharapkan dapat


menjadi refernsi bagi mahasiswa dalam belajar yang dapat
dikombinasikan dengan referensi yang lain. Modul ini juga disertai
dengan soal latihan dan setelah latihan diselesaikan, mahasiswa dapat
mencocokkan jawabannya dengan kunci jawaban yang disediakan
untuk mengukur tingkat kepahaman mahasiswa terhadap materi yang
telah disajikan.

BAGIAN II

PENDAHULUAN

1. SASARAN PEMBELAJARAN YANG INGIN DICAPAI


Adapun sasaran pembelajaran yang ingin dicapai pada saat mengikuti
pembelajaran ini :

Mampu memahami pengujian substantif atau piutang usaha


Mampu memahami penentuan risiko deteksi
Mampu memahami perancangan pengujian substantif

10
Mampu memahami prosedur awal dan analitis
Mampu memahami pengujian rincian transaksi
Mampu memahami pengujian rincian saldo

2. RUANG LINGKUP BAHAN MODUL


Modul ini akan membahas tentang Audit Siklus Pendapatan :
Pengujian Substantif tehadap Piutang. Modul ini diawali dengan
deskripsi piutang, dan dilanjutkan dengan prinsip akuntansi berterima
umum dalam penyajian unsur piutang di neraca dan tujuan pengujian
substantif terhadap. Selain itu akan ada pembahasan mengenai
perancangan pengujian substantif terhadap piutang.

3. MANFAAT MEMPELAJARI MODUL


Setelah mempelajari modul ini diharapkan :
a. Dapat menjelaskan pengujian substantif atau piutang usaha.
b. Dapat menjelaskan penentuan risiko deteksi.
c. Dapat menjelaskan perancangan pengujian substantif.
d. Dapat menjelaskan prosedur awal dan analitis.
e. Dapat menjelaskan pengujian rincian transaksi.
f. Dapar menjelaskan pengujian rincian saldo.

4. URUTAN PEMABAHASAN
a. Pengujian substantif atas piutang usaha

b. Penentuan risiko deteksi

c. Perancangan pengujian substantif

d. Prosedur awal dan analitis

e. Pengujian rincian transaksi

f. Pengujian rincian saldo

11
BAGIAN III

MATERI PEMBELAJARAN

A. PENGUJIAN SUBSTANTIF ATAS PIUTANG USAHA


Piutang merupakan klaim kepada pihak lain atas uang, barang, atau
jasa yang dapat diterima dalam jangka waktu satu tahun, atau dalam
satu siklus kegiatan perusahaan. Piutang umumnya disajikan di neraca
dalam dua kelompok: (1) piutang usaha dan (2) piutang nonusaha.
Piutang usaha adalah piutang yang timbul dari transaksi penjualan
barang atau jasa dalam kegiatan normal perusahaan. Piutang usaha ini
umumnya merupakan jumlah yang material di neraca bila dibandingkan
dengan piutang non usaha. Piutang nnusaha timbul dari transaksi selain

12
penjualan barang dan jasa kepada pihak luar, seperti misalnya piutang
kepada karyawan, piutang penjualan saham, piutang klaim asuransi,
piutang pengembalian pajak, piutang dividen dan bunga. (Mulyadi:87)
Piutang meliputi jumlah yang harus dibayar pelanggan, karyawan, dan
afiliasi atas akun terbuka seperti wesel, serta pinjaman dan bunga
akrual atas saldo semacam itu. Pertimbangan yang akan berikan dalam
hal ini adalah piutang kotor dari para pelanggan atas transaksi
penjualan kredit dan yang berhubungan dengan akun kontra, yaitu
penyisihan untuk piutang tak tertagih. Merupakan hal yang penting
untuk mengingat kembali bahwa dengan mengaudit piutang usaha
auditor dapat mengaudit penjualan berkaitan. Penjualan yang paling
mungkin menghadirkan potensi salah saji adalah penjualan yang tidak
dapat ditagih. Untuk merancang pengujian substantif atas akun akun
ini, auditor pertama tama harus menentukan tingkat risiko pengujian
rincian yang dapat diterima oleh setiap asersi signifikan yang berkaitan.

Sebelum membahas pengujian substantif terhadap piutang perlu


diketahui lebih dahulu prinsip akuntansi berterima umum dalam
penyajian piutang di neraca berikut ini:
1. Piutang usaha harus disajikan di neraca sebesar jumlah yang
diperkirakan dapat ditagih dari debitur pada tanggal neraca. Piutang
usaha disajikan di neraca dalam jumlah bruto dikurangi dengan
taksiran kerugian tidak tertagihnya piutang.
2. Jika perusahaan tidak membantuk cadangan kerugian piutang usaha,
harus dicantumkan pengungkapannya di neraca bahwa saldo piutang
usahs tersebut adalah jumlah bersih (neto).
3. Jika piutang usaha bersaldo material pada tanggal neraca. Harus
disajikan rinciannya di neraca.
4. Piutang usaha yang bersaldo kredit (terdapat di dalam kartu piutang)
pada tanggal neraca harus disajikan dalam kelompok utang lancar.
5. Jika jumlahnya material, piutang nonusaha harus disajikan terpisah
dari piutang usaha.

B. PENENTUAN RISIKO DETEKSI

13
Ingat kembali bahwa untuk tingkat risko audit tertentu, risiko pengujian
rincian berhubungan terbalik dengan penelitian tingkat risiko inheren,
risiko prosedur analitis, dan risiko pengendalian. Jadi, faktor-faktor yang
berkaitan dengan penilaian ini harus dipertimbangkan dalam penentuan
tingkat risiko pengujian rincian yang dapat diterima untuk setiap asersi
piutang usaha.

Beberapa faktor risiko inheren pervasif yang mempengaruhi piutang


kotor dan bersih serta faktor-faktor spesifik yang siklus pendapatan.
Pengaruh gabungan dari faktor-faktor ini, khususnya yang menyebabkan
risiko penjualan kredit ditetapkan terlalu besar dan penyisihan piutang
tak tertagih ditetapkan terlalu rendah, masing-masing dapat
menyebabkan penilaian risiko inheren yang tinggi untuk asersi
eksistensi atau kejadian dan penilaian atau alokasi untuk akun
penyisishan terkait. Bahkan ketika kasus ini terjadi, penialain risiko
inheren yang lebih rendah mungkin sesuai untuk asersi-asersi lainnya.

Penilaian risiko pengendalian untuk asersi piutang usaha tergantung


pada penilaian risiko pengendalian terkait untuk kelompok transaksi ini
dalam hal ini penjualan kredit, penrimaan kas, dan penyesuaian
penjualan yang mempengaruhi saldo piutang usaha. Ingat kembali
bahwa penialaian atas asersi kelompok transaksi memperngaruhi asersi
saldo akun yang sama untuk akun yang dipengaruhi oleh transaksi ini
dengan pengecualaian sebagai berikut: penilaian risiko pengendalian
untuk asersi eksistensi atau kejadian dan kelengakapan untuk kelompok
transaksi yang menurunkan saldo akun mempengaruhi penialain atas
asersi eksistensi atau kejadian dan kelengkapan untuk kelompok
transaksi yang menurunkan saldo akun mempengaruhi penialain atas
asersi akun yang berlawanan. Jadi, baik penerimaan kas maupun
transaksi penyesuaian penjualan menurunkan saldo piutang usaha,
maka penialaian atas asersi eksistensi atau kejadian untuk kelompok
transaksi ini akan memepenagruhi penilaian gabungan atas asersi
kelengkapan untuk piutang usaha. Demikian juga, penialaian atas asersi

14
kelengkapan untuk kelompok transaksi ini mempengaruhi penilaian
gabungan atas asersi eksistensi atau kejadian untuk piutang usaha.

Penilaian tingkat risiko inheren yang direncanakan, risiko prosedru


analitis, dan risiko pengendalian yang tepat telah digunakan dalam
model risiko audit, yaitu pada fase perencanaan, guna mencapai tingkat
risiko pegujian rincian yang tepat dan tingkat pengujian substantif
terkait dengan yang direncanakan, yang ditetapkan dalam strategi audit
pendahuluan untuk setiap asersi. Jika penilaian aktual atau akhir
berbeda dengan penilaian yang direncanakan, maka model risiko audit
akan digunakan sekali lagi dengan data aktual untuk menentukan
tingkat risiko pengujian rincian yang dapat diterima yang telah direvisi
dan tingkat pengujian substantif terkait yang telah direvisi untuk setiap
asersi. Baik tingkat yang direncanakan, jika didukung, maupun tingkat
yang direvisi telah digunakan dalam penyelesaian perancangan
pengujian substantif yang sesuai.

C. PERANCANGAN PENGUJIAN SUBSTANTIF


TUJUAN PENGUJIANN SUBSTANTIF TERHADAP PIUTANG USAHA
Tujuan pengujian substantif terhadap piutang usaha adalah :
1. Memperoleh keyakinan tentang keandalan catatan akkuntansi yang
bersangkutan dengan piutang usaha.
2. Memberikan keberadaan piutang usaha dan keterjadian transaksi
yang berkaitan dengan piutang usaha yang dicantumkan di neraca.
3. Membuktikan hak kepemilikan klien atas piutang usaha yang
dicantumkan di neraca.
4. Membuktikan hak kepemilikan klien atas piutang usaha yang
dicantumkan di neraca.
5. Membuktikan kewajaran penilaian piutang usaha yang di cantumkan
di neraca.
6. Membuktikan kewajaran penyajian dan pengungkapan piutang di
neraca.

Memperoleh keyakinan tentang keandalan catatan akuntansi


yang bersangkutan dengan piutang.

15
Sebelum auditor melakukan pengujian mengenai kewajaran saldo
piutang yang dicantumkan di neraca, ia harus memperoleh keyakinan
mengenai ketelitian dan keandalan catatan akuntansi yang
mendukung informasi piutang disajikan di neraca. Untuk itu auditor
melakukan rekonsiliasi antara saldo piutang yang dicantumkan di
neraca denganakunpiutang di dalam buku besar dan selanjutnya ke
jurnal penjualan, jurnal penerimaan kas, dan jurnal umum.

Membuktikan asesrsi keberadaan atau keterjadian piutang


usaha yang dicantumkan di neraca.

Dalam pengujian substantif terhadap aktivapada umumnya,


pengujian ditujukkan untuk membuktikan apakah aktiva yang
dicantumkan di neraca sesuai dengan aktiva yang sesungguhnya ada
dan berasal dari transaksi yang benar-benar terjadi. Untuk
membuktikan asersi keberadaan aktiva dan keterjadian transaksi
yang bersangkutan dengan aktiva tersebut auditor melakukan
berbagai pengujian substantif berikut ini:

1. Pengujian analitik
2. Pemeriksaan bukti pendukung transaksi yang berkaitan dengan
piutang usaha
3. Pemeriksaan pisah batas transaksi yang berkaitan dengan piutang
usaha
4. Konfirmasi piutang usaha

Membuktikan asesrsi kelengkapan piutang usaha yang


dicantumkan di neraca.

Untuk membuktikan bahwa piutang usaha yang dicantumkan di


neraca mencakup semua klaim klien kepada debitur pada tanggal
neraca dan mencakup semua transaksi yang berkaitan dengan
piutang usaha dalam tahun yang diaudit, auditor melakukan berbagai
pengujian substantif berikut ini:

1. Pengujian analitik
2. Pemeriksaan bukti pendukung transaksi yang berkaitan dengan
piutang usaha

16
3. Pemeriksaan pisah batas transaksi yang berkaitan dengan piutang
usaha
4. Konfirmasi piutang usaha

Transaksi yang berkaitan dengan timbul dan berkurangnya piutang


usaha mempunyai pengaruh yang langsung terhadap perhitungan
saldo piutang usaha pada tanggal neraca, sehingga ketidak tepatan
dalam penetapan pisah batas transaksi yang bersangkutan dengan
piutang usaha akan berdampak langsung terhadap perhitungan akun
piutang usaha dan pendapatan penjualan (sale revenues). Oleh
karena itu, salah satu pengujian substantif untuk membuktikan asersi
kelengkapan piutang usaha adalah pemeriksaan terhadapa ketepatan
pisah batas transaksi yang bersangkutan dengan piutang usaha.

Membuktikan asersi hak kepemilikan klien atas piutang usaha


yang dicantumkan di neraca.

Piutang usaha yang ada pada tanggal neraca belum tentu merupakan
hak milik klien, karena piutang tersebut telah dijual kepada
perusahaan penagih atau digadaikan sebagai jaminan penarikan
utang. Untuk membuktikan hak kepemilikan klien atas piutang usaha
yang dicantumkan di neraca, auditor melakukan pengujian substantif
berikut ini:

1. Pemeriksaan bukti pendukung transaksi yang berkaitan dengan


piutang usaha
2. Konfirmasi piutang usaha

Membuktikan asersi penilaian piutang usaha yang


dicantumkan di neraca.

Seperti tersebut dalam prinsip akuntansi berterima umum, piutang


usaha harus disajian di neraca pada nilai bersih yang dapat
direalisasikan pada tanggal neraca atau dengan kata lain sebesar
jumlah yang diperkirakan dapat ditagih dari debitur pada tanggal
neraca. Piutang usaha disajikan di neraca dalam jumlah bruto
dikurangi dengan taksiran kerugian tidak tertagihnya piutang usaha.
Dengan demikian akun Cadangan Kerugian Piutang Usaha merupakan

17
akun penilaian (valuation account) untuk mengurangi saldo piutang
usaha menjadi sebesar nilai yang diperkirakan dapat ditagih dari
debitur. Untuk membuktikan kewajaran penentuan jumlah akun
Cadangan Kerugian Piutang Usaha yang dicantumkan dineraca,
auditor melakukan pengujian substantif berikut ini:

1. Prosedur audit awal


2. Pengujian analitik
3. Pemeriksaan bukti pendukung transaksi yang berkaitan dengan
piutang usaha
4. Konfirmasi piutang usaha
5. Penilaian terhadap kecukupan akun cadangan kerugian piutang
6. Pembandingan penyajian piutang usaha di neraca dengan prinsip
akuntansi berterima umum.

Membuktikan asersi penyajian dan pengungkapan piutang


usaha di neraca.

Penyajian dan pengungkapan unsur-unsur laporan keuangan harus


didasarkan pada prinsip-prinsip akuntansi berterima umum. Pengujian
substantif terhadap piutang usaha diarahkan untuk mencapai salah
satu tujuan membuktikan apakah unsur piutang usaha telah disajikan
dan diungkapkan oleh klien di neracanya sesuai dengan prinsip
akuntansi berterima umum. Satu-satunya pengujian substantif untuk
membuktikan asersi penyajian dan pengungkapan piutang usaha di
neraca adalah dengan membandingkan penyajian dan pengungkapan
piutang usaha di neraca yang diaudit dengan prinsip akuntansi
berterima umum.

Tujuan utama pengujian substantif terhadap piutang usaha adalah


membuktikan bahwa saldo akun piutang usaha dan akun penilaiannya
(valuation account) yang dicantumkan dalam neraca mencerminkan
saldo akun piutang usaha dan saldo akun cadangan kerugian piutang
usaha yang sesungguhnya pada tanggal neraca tersebut. Untuk
mencapai tujuan tersebut dirancang pengujian substantif yang
digolongkan ke dalam lima kelompok: (1) prosedur audit awal, (2)
prosedur analitik, (3) pengujian terhadap transaksi rinci, (4) pengujian

18
terhadap saldo akun rinci, (5) verifikasi terhadap penyajian dan
pengungkapan. Kelima kelompok pengujian substantif tersebut
ditujukan untuk memverifikasi limaasersi manajemen yang terkadung
dalam akun piutang usaha dan akun penilaiannya: (1) keberadaan atau
keterjadian, (2) kelengkapan, (3) penilaian, (4) hak kepemilikan, dan (5)
penyajian dan pengungkapan.

PROGRAM PENGUJIAN SUBSTANTIF TERHADAP PIUTANG USAHA

Program audit untuk pengujian substantif terhadap piutang usaha berisi


prosedur audit yang dirancang untuk mencapai tujuan audit seperti
yang telah diuraikan diatas. Tahap-tahap prosedur audit dimulai dari
peemeriksaan yang bersifat luas dan umum sampai ke pemeriksaan
yang bersifat rinci. Berbagai prosedur audit dilaksanakan dalam lima
tahap berikut ini:
1. Prosedur audit awal
2. Prosedur analitik
3. Pengujian terhadap transaksi rinci
4. Pengujian terhadap saldo akun rinci
5. Verifikasi terhadap penyajian dan pengungkapan

Pada tahap awal, auditor menempuh prosedur audit untuk memperoleh


keyakinan bahwa informasi yang disajikan oleh klien dalam laporan
keuangan didukung dengan catatan akuntansi. Pada tahap berikutnya,
dalam prosedur analitik, auditor mengumpulkan berbagai ratio dan
perbandingan untuk memfokuskan kemana pengujian terhadap
transaksi dan saldo akun rinci diarahkan. Pada tahap-tahap akhir,
auditor melaksanakan pengujian terhadap transaksi dan saldo akun
rinci, serta verifikasi terhadap penyajian dan pengungkapan saldo akun
dalam laporan keuangan.

Prosedur Audit Awal

19
1. Lakukan prosedur audit awal atas saldo akun piutang usaha yang
akan diuji lebih lanjut.

a. Usut saldo piutang usaha yang tercantum di dalam neraca ke


saldo akun piutang usaha yang bersangkutan di dalam buku
besar.

b. Hitung kembali saldo akun piutang usaha di dalam buku besar.

c. Lakukan review terhadap mutasi luar biasa dalam jumlah dan


sumber posting dalam akun piutang usaha dan akun cadangan
kerugian piutang usaha.

d. Usut saldo awal akun piutang usaha dan akun cadangan kerugian
piutang ke kertas kerja tahun yang lalu.

e. Usut posting pendebitan akun piutang usaha ke dalam jurnal


yang besangkutan.

f. Lakukan rekonsiliasi akun kontrol piutang usaha dalam buku


besar ke buku pembantu piutang usaha.

Prosedur Analitik

2. Lakukan prosedur analitik

a. Hitung ratio berikut:

1) Tingkat perputaran piutang usaha

2) Ratio piutang usaha dengan aktiva lancar

3) Rate of return on sales

4) Ratio kerugian piutang usaha dengan penjualan kredit

5) Ratio kerugian piutang usaha dengan jumlah piutang usaha


yang sesungguhnya tidak tertagih.

20
b. Lakukan analisis hasil prosedur analitik denga harapan yang
didasarkan pada data masa lalu, data industri, jumlah yang
dianggarkan, atau data lain.

Pengujian terhadap Transakdi Rinci

3. Penyajian sampel transaksi piutang yang tercatat ke dokumen yang


mendukung timbulnya piutang usaha.

a. Periksa pendebitan akun piutang usaha ke dokumen pendukung:


faktur penjualan, laporan pengiriman barang, dan order
penjualan.

b. Periksa pengkreditan akun piutang usaha ke dokumen


pendukung: bukti kas masuk, memo kredit untuk retur dan rabat
penjualan atau penghapusan piutang.

4. Lakukan verifikasi pisah batas (cutof) transaksi penjualan dan retur


penjualan

a. Periksa dokumen yang mendukung timbulnya piutang usaha


dalam minggu terakhir tahun yang diaudit dan minggu pertama
setelah tanggal neraca.

b. Periksa dokumen yang mendukung berkurangnya piutang usaha


dalam minggu terakhir tahun yang diaudit dan minggu pertama
setelah tanggal neraca.

5. Lakukan verifkasi pisah batas (cutof) transaksi penerimaan kas.

a. Lakukan observasi apakah semua kas yang diterima pada hari


terakhir tahun yang diaudit telah dimasukkan ke dalam kas di
tangan atau setoran dalam perjalanan dan penerimaan kas
dalam tahun berikutnya tidak dimasukkan sebagai penerimaan
kas tahun yang diaudit.

21
b. Lakukan review terhadap dokumentasi berikut ini: ringkasan
transaksi kas harian, copy bukti setor, rekening koran bank
beberapa hari sebelum.

Pengujian terhadap Saldo Akun Rinci

6. Lakukan konfirmasi piutang

a. Tentukan metode, saat, dan luas kpnfirmasi yang akan


dilaksanakan.

b. Pilih debitur yang akan dikirimi surat konfirmasi dan kirimkan


konfirmasi

c. Untuk konfirmasi positif yang tidak diperoleh jawabbanya,


laksanakan prosedur alternatif berikut ini:

1) Periksa dokumen yang mendukung pencatatan penerimaan


kas dari debitur yang terjadi setelah tanggal neraca.

2) Periksa dokumen yang mendukung pendebitan akun piutang


kepada debitur yang bersangkutan.

7. Lakukan evaluasi terhadap kecukupan cadangan kerugian piutang


yang dibentuk oleh klien.

a. Lakukan footing dan cross-footing daftar saldo piutang dan


cocokkan jumlahnya dengan akun piutang dalam buku besar.

b. Lakukan pengujian penentuan umur piutang usaha yang dibuat


oleh klien.

c. Bandingkan cadangan kerugian piutang usaha yang tercantum di


neraca tahun yang diaudit dengan cadangan tersebut yang
tercantum di neraca tahun sebelumnya.

d. Periksa catatan kredit untuk debitur yang utangnya telah


kadaluwarsa (lewat waktu).

Verifkasi Penyajian dan Pengungkapan

22
8. Bandingkan penyajian piutang usaha di eraca dengan prinsip
akuntansi berterima umum.

a. Periksa klasifikasi piutang usaha ke dalam kelompok aktiva


lancar dan aktiva tidak lancar.

b. Periksa jawaban konfirmasi bank

c. Periksa klasifikasi piutang ke dalam kelompok piutang usaha dan


piutang nonusaha

d. Periksa kecukupan pengungkapan dan akuntansi unyuk piutang


antarpihak yang memiliki hubungan istimewa, piutang yang
digadaikan, anjak piutang.

e. Periksa surat representasi klien mengenai piutang. Sesudah


tanggal neraca, untuk menentukan ketepatan pisah batas.

D. PROSEDUR AWAL DAN ANALITIS


PROSEDUR AWAL
Titik awal untuk memulai setiap pengujian audit adalah memperoleh
pemahaman tentang bisnis dan industry klien. Sebagaimana telah
dibahas sebelumnya, adalah penting untuk memahami kebijakan
perusahaan mengenai pengakuan pendapatan, seperti pemicu ekonomi
yang mendasari perusahaan yang akanmempengaruhi total pendapatan
dan marjin kotor. Auditor juga harus memahami persyaratan
perdagangan standar, pengalaman penagihan dengan klien dan indutri,
aspek musiman dari industri tersebut, dan luas konsentrasi bisnis
dengan pelanggan tertentu. Pengetahuan ini memberikan konteks untuk
mengevaluasi hasil prosedur analitis, pengujian pengendalian, dan
pengijian substantive. Sebagai contoh, bukti yang diperoleh ketika
melakukan pengujian rincian transaksi dan saldo, seperti harga faktur
atau besarnya piutang, untuk pelanggan tertentu, harus konsisten
dengan harapan atau ekspektasi tentang persaingan industri, kapasitas
waktu produksi perusahaan, dan eksistensi pelanggan utama.

23
Prosedur awal yang penting untuk memverifikasi piutang usaha dan
akun penyisihan piutang terkait adalah menelusuri saldo awal periode
berjalan ke saldo akhir yang telah diaudit dalam kertas kerja tahun
sebelumnya (jika dapat dilakukan). Selanjutnya, aktivitas periode
berjalan dalam akun pengendali buku besar dan akun penyisihan terkait
harus direview untuk setiap ayat jurnal yang signifikan, yang tidak biasa
dari segi sifat atau jumlah, yang memerlukan investigasi khusus.
Sebagai contoh auditor harus menginvestigasi setiap piutang dan
pendapatan yang belum dibukukan dengan cara mencatat faktur
penjualan dalam jurnal penjualan. Disamping itu, daftar dari saldo
pelanggan, yang disebut neraca saldo piutang usaha (accounts
recevable trial balance) juga tealh diperoleh (biasanya dalam bentuk
digital). Auditor biasanya menggunakan perangkat lunak audit
tergeneralisai untuk memeriksa penjumlahan secara vertikal (foot)
dalam neraca saldo piutang usaha dan totalnya harus dibandingkan
dengan (1) total buku pembantu atau file induk yang telah disiapkan
dan (2) akun pengendali buku besar. Auditor juga harus
membandingkan saldo pelanggan, yang ditunjukkan pada neraca saldo,
dengan yang ada dalam buku pembantu dan sebaliknya untuk
menentukan bahwa neraca saldo telah akurat serta kelengkapan
representasi yang mendasari catatan akuntansi. Hal ini kemudian dapat
berfungsi sebagai representasi fisik atau populasi piutang usaha yang
akan mendapatkan pengujian substantif yang lebih lanjut.
Selain itu, auditor juga dapat membuat neraca saldo piutang usaha
secara langsung dari file induk klien dengan menggunakan perangkat
lunak audit. Jika auditr dapat memperoleh catatan klien dalam mesin
yang dapat membaca formulir, maka ia juga akan dapat menggunakan
perangat lunak audit yang tergeneralisasi untuk mengidentifikasi
pelanggan yang signifikan, menganalsis volume transaksi dengan
pelanggan dan mengidentifikasi transaksi yang tidak biasa atau
transaksi dengan volume tinggi yang mendekati akhir tahun.

PROSEDUR ANALITIS
Tujuan auditor dalam melakukan prosedur analitis adalah
mengembangkan ekspektasi atas saldo piutang usaha, hubungna
24
piutang usaha dengan penjualan, margin kotor perusahaan. Beberapa
prosedur analitis yang dapat dilaksanakan untuk memberikan bukti
tentang uatang usaha. Auditor harus mengarahkan perhatian utamanya
pada kenaikan piutang usaha dan pendapatan yang tidak diharapakan.
Prosedur analitis akan dilaksanakan dalam tahap akhir dari penugasan
untuk memastikan bahwa bukti yang dievaluasi dalam pengujian rincian
konsisten dengan gambaran menyeluruh yang dilaporkan pada laporan
keuangan.

E. PENGUJIAN RINCIAN TRANSAKSI


Seperti telah dibahas sebelumnya, pengujian rincian transaksi tertentu
dapat dilaksanakan selama pekerjaan interim bersama dengan
pengujian pengendalian dalam bentuk pegujian bertujuan ganda (dual
purpose test). Hal ini meliputi pengujian yang akan dijelaskan dalam
bagian berikut. Pengujian pisah batas (cut of test) selalu dilaksanakan
sebagai bagian pekerjaan akhir tahun. Akhirnya pengujian saldo yang
juga merupakan pengujian transaksi dan transaksi pendapatan yang
belum ditagih, yang telah termasuk dalam piutang usaha, memiliki
risiko salah saji yang lebih tinggi dari pada yang telah tertagih.

MEMVOUCHING CATATAN PIUTANG KE TRANSAKSI PENDUKUNG


File akun pelanggan yang diselenggarakan oleh klien harus berisi
dokumen seperti pesanan pelanggan, pesanan penjualan, dokumen
pengiriman, faktur penjualan, momerandum kredit, dan korespondensi.
Dalam melakukan pengujian ini, sampel debet ke akun pelanggan dapat
divouching ke faktur penjualan pendukung dan dicocokkan ke dokumen
dokumen itu untuk memberiakn bukti yang berkaitan dengan asersi
eksistensi atau kejadian, hak dan kewajiabn, serta penilaian atau
alokasi. Kredit dapat divouching ke bukti penerimaan uang dan otorisasi
penyesuaian penjualan. Bukti bahwa pengurangan pelanggan ini telah
sah beserta dengan asersi kelengkapan untuk piutang usaha.
Pengujian ini dapat dilaksanakan secara lebih ekstensif apabila tingkat
deteksi yang berlaku yang akan dicapai adalah rendah, apabila prosedur

25
konfirmasi tidak praktis, atau untuk melengkapi prosedur konfirmasi
apabila situasi tertentu terjadi.

MELAKUKAN PENGUJIAN PISAH BATAS UNTUK PENJUALAN DAN


RETUR PENJUALAN
Pengujian pisah batas penjualan (sales cut-of test) dirancang untuk
memperoleh kepastian yang layak bahwa (1) penjualan dan piutang
usaha telah dicatat dalam periode akuntansi dimana transaksi tersebut
terjadi dan (2) ayat jurnal yang berkaitan dengan persediaan dan harga
pokok penjualan telah dibuat dalam periode yang sama.
Penjualan harus dicatat dalam periode ketiak hak hokum atas barang
telah berpindah tangan ke pembeli. Apabila barang tealh dikirim dari
persediaan dengan system FOB (free on board) shipping point, maka
hak akan berpindah pada tanggal pengiriman. Jika persyaratan
penjualan adalah FOB destination, maka ha katas barang belum
berpindah ke pembeli sampai barang itu diterima oleh pembeli. Dalam
kasus seperti ini, cara yang praktis adalah penjual dapat menambah
satu atau beberapa hari sampai tanggal pengiriman untuk
mengestimasi tanggal barang itu sampai ditempat tujuan sebagai dasar
penentuan tanggal pencatatan penjualan. Dalam kasus ini, dimana
barang produksi menurut pesanan oleh pembeli, hak akan berpindah
dan penjualan dapat dicatat segera setelah barang barang siap
dikirimkan, sekalipun barang belum dikirimkan sampai tanggal terakhir.
Auditor harus mencurahkan perhatian khusus pada pengakuan
pendapatan dalam kasus proyek kosntruksi jangaka panjang dimana
klien menggunakan metode persentase penyelesaian (percentage of
completion method)
Pengujian pisah batas penjualan akan dilakukan pada tanggal neraca.
Untuk penjualan barang dari persediaan, pengujian akan mencakup
perbandingan sampel penjualan yang akan dicatat dalam beberapa hari
terakhir periode berjalan dan beberapa hari pertama periode berikutnya
dengan dokumen pengiriman untuk menentukan apakah transaksi tealh
dicatat dalam periode yang benar.apabila dokumen bernomor urut
diterbitkan secara berurutan dan auditor sedang mengobservasi nomor
dokumen pengriman terakhir yang digunakan dalam periode berjalan,

26
dans etiap transaksi penjualan yang dicatat sebelum akhir tahun
didukung oleh dokumen pengiriman dengan nomor yang diterbitkan
selama periode berikutnya. Untuk barang yang diproduksi menurut
pesanan, auditor mungkin perlu untu memeriksa kesepakatan penjualan
yang berhubungan. Hal tersebut juga dibutuhkan untuk menentukan
keakuratan pisah batas setiap pengiriman terakhir yang dilakukan
pemasok klien secara langsung kepada pelanggan klien.
Pengujian pisah batas memberikan bukti mengenai asersi eksistensi
atau kejadian dan kelengkapan untuk piutang usaha serta penjualan.
Untuk tahun kalender klien, jika penjualan bulan januri dicatat dalam
bualn desember, maka ada salah saji dalam asersi eksistensi atau
kejadian. Sebaliknya, jika penjualan bulan desember belum dicatat
sampai bulan januari, maka ada salah saji dalam asersi kelengkapan.
Pengujian pisah batas retur penjualan (sales return cutof test) adalah
serupa dan terutama diarahkan langsung pada kemungkinan bahwa
retur yang dilakukan belum akhir tahun sebelum dicatat sampai setelah
akhir tahun, sehingga menakibatakan piutang dan penjualanditetapkan
terlalu tinggi. Penentuan waktu yang tepat dapat ditentukan memeriksa
tanggal laporan penerimaan barang barang yang dikembalikan dan
korespondensi dengan pelanggan. Auditor jga harus waspada pada
kemungkinan bahwa volume retur pnjualan yang sangat besar yang
tidak biasa setelah akhir tahun (mungkin pada akhir pekerjaan lapangan
dan tanggal laporan) dapat menandakan adanya penggelembungan
penjualan dan piutang yang dicatat.

MELAKUKAN PENGUJIAN PISAH BATAS ATAS PENERIMAAN KAS


Pengujian pisah batas penerimaan kas (cash receipts cuttof test)
dirancang untuk memperoleh kepastian yang layak bahwa penerimaan
kas telah dicatat dalam periode akuntansi yang tepat. Pisah batas yang
tepat pada tanggal neraca merupakan hal yang penting untuk
menyajikan secara baik kas maupun piutang usaha. Sebagai contoh, jika
penagihan dari pelanggan pada bulan Desember belum dicatat sampai
bulan Januari, maka piutang usaha akan ditetapkan terlalu tinggi dan
kas akan ditetapkan terlalu rendah pada tanggal neraca. Sebaliknya,
jika penagihan yang dilakukan pada bulan Januari dicatat dalam bulan

27
Desember, maka kas akan ditetapkan terlalu tinggi dan piutang usaha
akan ditetapkan terlalu rendah. Dengan demikian, pengujian ini
berhubungan dengan asersi eksistensi atau kejadian dan kelengkapan
baik untuk kas maupun piutang usaha.
Observasi terhadapa personil atau review dokumentasi dapat
memberikan bukti mengenai ketepatan waktu pisah batas. Jika auditor
dapat menyajikan pada tanggal akhir bulan, maka dia dapat
mengobservasi bahwa seluruh penagihan yang diterima sebelum
penutupan usaha telah dimasukkan ke kas ditangan atau setoran dalam
perjalanan, serta dikreditkan je piutang usaha. Selain melakukan
observasi atas personil, auditor juga dapat mereview dokumentasi
pendukung, seperti ikhtisar kas harian dan slip seroran yang telah
disahkan selama hari terakhir tahun berjalan. Tujuan review ini adalah
untuk menentukan bahwa total slip setoran telah sesuai dengan
penerimaan yang ditujukan dalam ikhtisar kas harian. Disamping itu,
auditor juga harus menetukan bahwa penerimaan telah dicatat pada
tanggal penutupan.

F. PENGUJIAN RINCIAN SALDO


Pengujian terhadap saldo akun rinci dalam siklus pendapatan difokuskan
ke saldo piutang usaha dan akun penilainya (akun cadangan kerugian
piutang). tujuan pengujian saldo akun piutang usaha rinci adalah untuk
memverifikasi:
1. Keberadaan atau keterjadiaan
2. Kelengkapan
3. Hak kepemilikan
4. Penilaian

Keberadaan, kelengkapan, hak kepemilikan atas piutang usaha yang


dicantumkan di neraca dibuktikan oleh auditor dengan mengirimkan
surat konfirmasi kepada debitur. Piutang usaha yang dicantumkan di
neraca perlu diverifikasi hak kepemilikannya, karena adakalanya klien
telah menjual piutang usaha tersebut kepada perusahaan penagihan
(collection agency) telah mendiskontokan wesel tagih kepada bank,
atau telah menjadikan piutang usaha sebagai jaminan penarikan kredit

28
dan bank. Untuk memverifikasi hak kepemilikan klien terhadap piutang
usasha yang disajikan di neraca, auditor melakukan pemeriksaan
terhadap dokumen pendukung terjadinya piutang usaha, memeriksa
jawaban konfirmasi baik dari bank, dan ,meminta surat representasi
mengenai piutang dari klien.

Mengapa konfirmasi merupakan prosedur yang wajib dilaksanakan oleh


auditor dalam auditor terhadap piutang usaha? Dokumen sumber dan
dokumen pendukung yang dipakai sebagai dasar pencatatan piutang
usaha seluruhnya merupakan dokumen yang dibuat oleh klien, yang
ditinjau dari segi kompetesinnya lebih rendah bila dibandingkan dengan
dokumen-dokumen yang berasal dari pihak luar perusahaan. Dengan
demikian, jika struktur pengendalian intern klien lemah, terbuka
kemungkinan untuk mencatat transaksi penjualan fiktif, karena seluruh
dokumen yang dipakai sebagai dasar pencatatan transaksi penjualan
dapat dibuat sendiri oleh klien. Untuk itu, auditor menempuh prosedur
konfirmasi.

KONFIRMASI PIUTANG
Tujuan utama dari konfirmasi piutang usaha adalah untuk memenuhi
tujuan keberadaan, ketelitian, dan pisah batas. Konfirmasi adalah satu
dari delapan jenis bukti audit yang telah diperkenalkan sebelumnya.
Konfirmasi eksternal adalah bukti audit yang diperoleh sebagai uatu
respons tertulis langsung kepada auditor dari pihak ketiga (pihak yang
dikonfirmasi), baik dalam bentuk kertas, atau secara elektronik, atau
media lainnya. Meskipun jawaban lisan juga merupakan bukti audit,
namun tidak bisa disebut sebagai konfirmasi.
Ketentuan dalam standar audit
Standar audit (SA) 505 berhubungan dengan penggunaan prosedur
konfirmasi eksternal oleh auditor untuk memperoleh bukti audit
berdasarkan ketentuan SA 330 (Respons Auditor terhadap Risiko yang
Telah Dinilai) dan SA 500 (Bukti Audit).
SA 500 mengindikasikan bahwa keandalan bukti audit dipengaruhi oleh
sumber dan sifatnya, dan ini tergantung pada kondisi individual yang

29
dari situ bukti audit tersebut diperoleh. SA juga mencakup generalisasi
berikut yang relevan terhadap bukti audit:
Bukti audit lebih andal ketika diperoleh dari sumber independen
diluar entitas
Bukti audit yang diperoleh secara langsung oleh auditor lebih
andal daripada bukti audit yang diperoleh secara tidak langsung
atau melalui penarikan kesimpulan.
Bukti audit lebih andal dalam bentuk format dokumen, baik
dalam bentuk kertas, elektronik, atau dalam bentuk lainnya.
LAKUKAN KONFIRMASI PIUTANG

Ada tiga tahap yang harus ditempuh oleh auditor dalam mengirimkan
surat konfirmasi kepada debitur:

a. Tentukan metode, saat, dan luas konfirmasi yang akan dilaksanakan


b. Pilih debitur yang akan dikirimi surat konfirmasi, dan
c. Kirimkan surat konfirmasi

Prosedur ini ditempuh oleh auditor dengan tujuan untuk membuktikan


keberadaan debitur perusahaan pada tanggal neraca dan memiliki
utang pada tanggal tersebut kepada klien sebesar yang dicatat oleh
klien.

Tentukan metode, saat, dan luas konfirmasi yang akan


dilaksanakan.
Terdapat dua metode konfirmasi piutang yang dapat digunakan
auditor: (1) Metode konfirmasi positif dan (2) Metode konfirmasi
negatif. Metode konfirmasi positif adalah metode konfirmasi yang
auditor meminta jawaban penegasan dari debitur, baik dalam hal
terhadap kesesuaian maupun ketidaksesuaian antara saldo hutang
debitur menurut catatan akuntansi nya dengan saldo hutangnya yang
tercantum di dalam surat konfirmasi tersebut. Metode konfirmasi
negatif adalah metode konfirmasi yang auditor meminta jawaban
penegasan dari debitur hanya jika terdapat ketidaksesuaian antara
saldo utang debitur menurut catatan akuntansinya dengan saldo
utangnya yang tercantum di dalam surat konfirmasi tersebut.

30
Biasanya metode konfirmasi negatif berupa cap yang dibubuhkan
pada surat pernyataan piutang yang dikirimkan kepada debitur klien.
Kirimkan surat konfirmasi kepada debitur.
Prosdur pengiriman surat konfirmasi kepada debitur dan penerimaan
jawaban surat konfirmasi.
Periksa dokumen yang mendukung timbulnya piutang usaha.
Untuk konfirmasi positif yang tidak diperoleh jawabannya, laksanakan
prosedur alternatif berikut ini:
1. Periksa sokumen yang mendukung pencatatan penerimaan kas dari
debitur yang terjadi setalah tanggal neraca.
2. Periksa dokumen yang mendukung pendebitan dan pengkreditan
akun piutang usaha kepada debitur yang bersangkutan.

Periksa dokumen yang mendukung pencatatan penerimaan


kas dari debitur yang terjadi setelah tanggal neraca
Ini memberikan informasi kepada auditor mengenai keberadaaan
debitur yang saldo piutang kepadanya dicantumkan di neraca klien.
Prosedur audit ini juga merupakna prosedur audit alternatif, jika
surat konfirmasi yang dikirimkan kepada debitur tidak diperoleh
jawaban.
Periksa dokumen pendukung timbulnya piutang usaha
Auditor pertama kali harus memeriksa dokumen yang mendukung
transaksi timbulnya piutang usaha. Tujuannya, (1) Untuk
membuktikan keberadaan piutang usaha (2) untuk membuktikan
hak milik atas piutang usaha yang dicantumkan dineraca.
Periksa jawaban konfirmasi bank
Dari jawaban konfirmasi bank ini auditor dapat mengetahui Wesel
tagih yang didiskontokan ke bank dan piutang usaha yang
dijaminkan dalam penarikan kredit dari bank. Jawaban konfirmasi
dari bank dapat pula dipakai oleh auditor untuk menilai apakah
pengungkapan (disclosures) terhadap piutang yang dibuat oleh
klien di dalam laporan keuangannya telah memadai.
Mintalah surat representasi piutang dari klien
Menyadarkan klien bahwa tanggungjawab atas kewajaran informasi
yang disajikan di dalam laporan keuangan berada di tangan klien,

31
bukan ditangan auditor. Surat representasi piutang berisi
pernyataan klien mengenai piutang usaha yang disajikan di neraca.

LAKUKAN EVALUASI TERHADAP KECUKUPAN CADANGAN


KERUGIAN PIUTANG USAHA YANG DIBUAT OLEH KLIEN

Prosedur ini di tempuh oleh auditor untuk memverifikasi penilaian


piutang usaha yang dicantumkan di neraca. Menurut prinsip akuntansi
berterima umum, piutang usaha disajikan dalam neraca pada nilai
bersih yang dapat ditagih dari debitur (net realizable value) pada
tanggal neraca. Nilai piutang dapat dihitung dengan formula berikut ini:

Piutang Usaha Bruto xx


Cadangan Kerugian Piutang Usaha xx
Piutang Usaha Bersih xx

Hitung kembali cadangan kerugian piutang usaha yang dibuat


oleh klien.
Cadangan kerugian piutang usaha umumnya ditentukan berdasarkan
pengalam perusahaan dalam pengumpulan piutang usaha dari
drbiturnya. Cadangan tersebut biasanya dihitung berdasarkan
persentase tertentu dari pendapatan penjualan atau sebagai
persentase tertentu dari saldo piutang usaha pada tanggal neraca.
Selanjutnya auditor biasanya juga menghitung ratio ini untuk
beberapa tahun sebelumnya guna menilai kewajaran jumlah
cadangan kerugian piutang usaha :
a. Tingkat perputaran piutang usaha yang dihitung dengan rumus:
pendapatan penjualan dibagi rerata saldo piutang usaha.
b. Jumlah hari pengumpulan piutang usaha (days sales to collection)
yang dihitung dengan rumus: 365 dibagi tingkat perputaran
piutang usaha.

Periksa penentuan umur piutang usaha yang dibuat oleh


klien.

Langkah pertama dalam memverifikasi kewajaran penilaian piutang


usaha adalah meminta dari klien daftar umur piutang per tanggal

32
neraca. Terhadap daftar umur piutang usaha tersebut auditor
melakukan prosedur audit berikut ini:

1. Lakukan footing dan cross footing terhadap daftar umur piutang


usaha tersebut
2. Bandingkan jumlah piutang usaha menurut daftar umur piutang
keakun piutang usaha di dalam buku besar
3. Usut saldo piutang usaha kepada setiap debitur kedalam kartu
piutang yang bersangkutan
4. Periksa penentuan umur piutang kepada setiap debitur dengan
menggunakan informasi berikut ini :
a. Periksa syarat penjualan yang berlaku
b. Periksa tanggal faktur yang belum dibayar oleh debitur pada
tanggal neraca
c. Hitung kembali umur piutang kepada setiap debitur sejak tanggal
faktur tersebut pada butir 3b sampai dengan tanggal neraca.

Bandingkan cadangan kerugian piutang usaha yang


tercantum di neraca tahun yang diaudit dengan cadangan
tersebut yang tercantum di neraca sebelumnya.
Untuk menilai cukup tidaknya cadangan kerugian piutang yang
dicantumkan di neraca klien, auditor membandingkan cadangan
kerugian piutang usaha yang dibentuk oleh klien di neraca sekarang
dengan yang dibentuk di neraca tahun sebelumnya. Dengan
membandingkan pengalaman pengumpulan piutang tahun
sebelumnya auditor akan memperoleh gambaran mengenai cukup
tidaknya cadangan kerugian piutang usaha yang dibentuk oleh klien
di neraca yang sekarang diaudit oleh auditor.

Periksa catatan kredit untuk debitur yang utangnya telah


kadaluwarsa
Dari daftar umur piutang usaha, auditor dapat memperoleh informasi
nama debitur yang piutang kepadanya telah lama kadaluwarsa. Dari
informasi ini kemudian auditor akan memeriksa catatan kredit dan

33
arsip korespondensi dengan debitur yang bersangkutan untuk
memperoleh gambaran mengenai kemungkinan dapat ditagih atau
tidaknya piutang kepada para debitur tersebut. Auditor juga
mengajukan pertanyaan kepada klien mengenai kemungkinan dapat
ditagih atau tidaknya piutang yang telah lama kadaluwarsa tersebut.

BAGIAN IV

LATIHAN

Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut dengan tepat dan benar :

1. Jelaskan yang dimaksud dengan piutang usaha dan piutang nonusaha !


2. Sebut dan jelaskan tujuan pengujian substantif terhadap piutang !
3. Pengujian pisah batas apa yang dilakukan untuk piutang usaha,
bagaimana hal tersebut dapat dilakukan, dan apakah tujuan audit atas
akun tersebut meberikan bukti ?
4. Untuk membutikan bahwa unsur piutang yang dicantumkan di neraca
didukung dengan catatan akuntansi yang memadai, prosedur audit
apakah yang ditempuh oleh auditor ?
5. Faktor-faktor apa yang dipertimbangkann dalam menentukan bentuk
permintaan konfirmasi ?

34
BAGIAN V

RANGKUMAN

Pengujian substantif terhadap piutang usaha ditujukan untuk


memperoleh keyakinan tentang keandalan catatan akuntansi yang
bersangkutan dengan piutang usaha, membuktikan keberadaan piutang
usaha dan keterjadian transaksi yang berkaitan dengan piutang usaha
yang dicantumkan di neraca, membuktikan kelengkapan transaksi yang
dicatat dalam catatan akuntansi dan kelengkapan saldo piutang usaha
yang disajikan dalam neraca, membutikan kewajaran penilaian piutang
usaha yang dicantumkan di neraca, membuktikan kewajaran penyajian
dan pengungkapan piutang usaha dinerca.
Dalam prosedur awal, auditor membuktikan keandalan catatan
akuntansi piutang usaha yang diselenggarakan oleh klien. Dalam prosedur
analitik, auditor menghitung berbagai ratio: tingkat perputaran piutang

35
usaha, piutang usaha dengan aktiva laancar, rate of return on sales, ratio
kerugian piutang usaha dengan pendapatan penjualan bersih, ratio
kerugian piutang usaha denhan piutang usaha yang sesungguhnya tidak
tetrtagih.Dalam pengujian terhadap akun rinci, auditor melakukan
prosedur audit berikut ini (1) memeriksa sampel transaksi piutang usaha
yang tercatat ke dokumen yang mendukung timbulnya piutang usaha, (2)
melakukan verifikasi pisaha batas transaksi penjualan, dan transaksi
penerimaan kas.
Dalam pengujian terhadap akun rinci, auditor menempuh prosedur
audit berikut ini: (1) melakukan konfirmasi piutang, (2) melakukann
evaluasi terhadap kecukupan akun cadangan kerugian piutang usaha yang
dibentuk oleh klien. Dalam memverifikasi penyajian dan pengungkapan
utang jangka panjang di neraca, auditor membandingkan penyajian utang
usaha di neraca dengan prinsip akuntansi berterima umum.

BAGIAN VI

TES FORMATIF

Pilih satu jawaban yang benar di antara empat pilihan jawaban yang
tersedia dengan cara melingkari huruf di muka jawaban yang benar.

1. Berikut ini merupakan prinsip akuntansi berterima umum dalam


penyajian piutang di neraca, kecuali:
a. Jika perusahaan tidak membentuk cadangan kerugian piutang, harus
dicantumkan pengungkapannya di neraca bahwa saldo piutang usaha
tersebut adalah jumlah bersih
b. Piutang usaha yang bersaldo kredit pada tanggal neraca disajikan
dalam kelompok utang lancar
c. Piutang usaha disajikan di neraca sebesar nilai nominalnya

36
d. Piutang nonusaha disajikan terpisah dari piutang usaha, jika saldo
piutang nonusaha tersebut material

2. Yang termasuk dalam lima asersi manajemen, kecuali ...


a. Keberadaan atau keterjadian
b. Prosedur analitik
c. Hak kepemilikan
d. Penilaian

3. Konfrimasi positif adalah ...


a. Konfirmasi yang auditor meminta jawaban penegasan dari debitur,
naik dalam hal terdapat kesesuaian maupun ketidaksesuaian antara
saldo utang debitur menurut catatan akuntansinya dengan saldo
utangnya yang tercantum di dalam surat konfirmasi
b. Konfirmasi yang auditor meminta jawaban penegasan dari debitur
hanya jika terdapat ketidaksesuaian antara saldo utang debitur
menurut catatan akuntansinya dengan saldo utangnya yang
tercantum di dalam surat konfirmasi tersebut
c. Konfirmasi yang dikrimkan kepada debitur yang jumlah piutang usaha
kepadanya bersaldo kecil pada tanggal neraca
d. Konfirmasi yang digunakan oleh auditor dalam keadaan pengawasan
intern klien terhadap piutangnya dinilai baik oleh auditor

4. 5 tahap yang dilakukan dalam program pengujian substantif terhadap


piutang usaha, kecuali :
a. Prosedur audit awal
b. Verifikasi terhadap penyajian dan pengungkapan
c. Prosedur audit akhir

37
BAGIAN VII

UMPAN BALIK ATAU TINDAK LANJUT

Kunci jawaban dari tes formatif terdapat di akhir bagian modul. Dengan
adanya kunci jawaban tersebut maka anda dapat menilai sejauh mana
memahami dan menguasai materi yang terdapat pada modul. Untuk
mengetahui sejauh mana materi yang anda ketahui dalam modul ini,
maka anda dapat menghitung jawaban benar yang ada, dengan rumus
perhitungan sebagai berikut :

Jumlah jawaban benar


Nilai= x 100
Jumlah soal

Penilaian:

90 - 100 = Amat Baik

80 - 89 = Baik

70 - 79 = Cukup Baik

60 - 69 = Cukup

38
< 60 = Kurang

Ketika hasil penilaian sudah mencapai keterangan baik maka tetap


pertahankan pemaham anda mengenai isi modul. Ketika hasil penilaian
masih hanya cukup maka anda perlu mempelajari kembali modul yang
telah dibuat.

BAGIAN VIII

KUNCI TES FORMATIF

1. A. Jika perusahaan tidak membentuk cadangan kerugian piutang,


harus dicantumkan pengungkapannya di neraca bahwa saldo piutang
usaha tersebut adalah jumlah bersih
2. B. Prosedur analitik
3. A. Gambar visual tidak langsung untu pelanggan dengan jumlah
penjualan tunai dan kas yang diajukan Konfirmasi yang auditor meminta
jawaban penegasan dari debitur, naik dalam hal terdapat kesesuaian
maupun ketidaksesuaian antara saldo utang debitur menurut catatan
akuntansinya dengan saldo utangnya yang tercantum di dalam surat
konfirmasi
4. D. Prosedur audit akhir

39
BAGIAN IX

DAFTAR PUSTAKA

Boynton, William C., Johnson, Raymond N., and Kell, Welter G. 2003.
Modern Auditing Edisi Ketujuh Jilid II. Erlangga. Jakarta.

Jusup, Al. Haryono. 2001. Auditing. STIE YKPN. Yogyakarta.

Mulyadi. Auditing. Edisi ke-6 Jakarta: Salemba Empat, 2014.

40
41