Anda di halaman 1dari 15

GAMETOGENESIS

LAPORAN

UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH

Struktur Perkembangan Hewan II

yang dibimbing oleh Ibu Nursasi Handayani

Disusun oleh :

Kelompok 7

Dewi Karomika (150341601038)

Difandini Rizky Firdaus (150341606658)

Nailul Minnah (150341601078)

Tristanti Rakhmaningrum (150341603788)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

JURUSAN BIOLOGI

September 2016
A. Tujuan
Mempelajari proses pembentukan sel kelamin jantan dan betina melalui
pengamatan preparat histologis

B. Dasar Teori
Gametogenesis adalah proses pembentukan gamet (sel kelamin), baik gamet
jantan maupun betina. Pembelahan sel pada gametogenesis terjadi secara meiosis.
Setelah meiosis, terjadi pematangan sel untuk menjadi sel gamet sesuai spesies
makhluk hidup. Keseluruhan gametogenesis dibagi menjadi tiga tahap yaitu: tahap
perbanyakan (proliferasi), tumbuh dan pematangan (Kholil, 2009). Gamet dihasilkan
dalam gonad. Gamet jantan spermatozoon (jamak: spermatozoa) dihasilkan dalam
gonad jantan, disebut testis. Gamet betina: ovum (jamak: ova), dihasilkan dalam gonad
betina, disebut ovarium (Yatim, 1990). Proses pembentukan gamet jantan disebut
spermatogenesis sedangkan proses pembentukan gamet betina disebut oogenesis.
Gamet jantan disebut spermatogonium, pada betina oogonium. Gametosit pada jantan
disebut spermatosit dan pada betina disebut oosit. Gamet pada jantan disebut spermatid
dan pada betina disebut ootid. Pada jantan, satu spermatosit I tumbuh menjadi 4
spermatozoa sedang pada betina, satu oosit I tumbuh menjadi 1 ovum (Mukayat,
1994).
Menurut Adnan (2008), gametogenesis melibatkan sejumlah perubahan-
perubahan, baik pada kromosom maupun pada sitoplasma. Seumlah perubahan-
perubahan tersebut bertujuan untuk:
1. Mengurangi jumlah kromosom menjadi setengah jumlah normal dalam sel
somatik melalui pembelahan meiosis. Pembelahan meiosis dimasukkan agar
individu baru yang dihasilkan tidak memiliki jumlah kromosom yang lipat dua
kali dari induknya.
2. Mengubah bentuk sel-sel kelamin sebagai persiapan untuk pembuahan. Sel
kelamin pria mula-mula besar dan bulat, praktis kehilangan semua sitoplasmanya
dan membentuk kepala, leher dan ekor. Sel benih wanita sebaliknya berangsur-
angsur menjadi lebih besar akibat terjadinya prtambahan sitoplasma. Pada saat
mencapai kematangan, oosit kira-kira berukuran 120 m.
Proses Spermatogenesis
Spermatogenesis adalah suatu rangkaian perkembangan sel spermatogonia dari
epitel tubulus seminiferus yang mengadakan proliferasi dan selanjutnya berubah
menjadi spermatozoa yang bebas. Spermatogenesis berlangsung pada epitel germinal.
Rangkaian perkembangan ini dapat dibagi menjadi tiga tahap. Tahap pertama, sel
spermatogonia mengadakan pembelahan mitosis menghasilkan spermatosit dan sel
induk spermatogonia. Tahap kedua, pembelahan meiosis (reduksi) spermatosit primer
dan sekunder menghasilkan spermatid yang haploid. Tahap ketiga, perkembangan
spermatid menjadi spermatozoa melalui serangkaian metamorfosa yang panjang dan
kompleks disebut spermiogenesis (Syahrum, 1994).
Spermatogenesis terjadi di dalam tubulus seminiferus dalam testis. Tingkatan
perkembangan sel germa dalam tubulus seminiferus adalah spermatogonium,
spermatosit I, spermatosit II, spermatid, spermatozoid (Kholil, 2009).
Proses Oogenesis
Oogenesis merupakan pembentukan gamet betina, oogenesis berlangsung di dalam
ovarium organ kelamin betina. Gamet betina atau ovum dibentuk di dalam satu paket
sel yang disebut folikel yang terdapat dalam ovarium. Dalam oogenesis sel germa
berkembang di dalam folikel-folikel telur, diantaranya folikel primordial, folikel
primer, folikel sekunder, folikel tersier, folikel matang (folikel Graaf) (Kholil, 2009).
Folikel primordial terdiri dari satu oosit I (primer). Oosit I tumbuh dari mitosis
oogonium, disusul dengan meiosis I sampai tingkat profase saja, lalu berhenti dan
folikel itu menjadi dorman. Ia akan tumbuh jika dapat giliran nanti setelah wanita
pemiliknya dewasa. Folikel primordial yang tumbuh jadi folikel matang lalu terjadi
ovulasi (Yatim, 1996). Pada Mammalia, selesai meiosis I pada betina, terjadi satu oosit
II dan satu polosit (badan kutub). Polosit jauh lebih kecil dari oosit, karena sitoplasma
sedikit sekali. Selesai meiosis II terjadi satu ootid dan satu polosit II. Sementara itu
polosit I membelah pula jadi dua, tapi jarang terjadi, keburu berdegenerasi. Polosit
yang tiga buah itu nanti akan berdegenerasi lalu diresap kembali oleh tubuh
(Sudarwati, 1993).

C. Alat dan Bahan


Alat
- Mikroskop cahaya
Bahan
- Preparat awetan histologis testis
- Preparat awetan histologis ovarium

D. Prosedur Observasi
Menyiapkan mikroskop dan preparat awetan testis

Mengamati preparat testis di bawah mikroskop

Menggambar sebuah tubulus seminiferus beserta sel-sel germa yang berkembang di


dalamnya, menggambar sel-sel intertisial (sel Leydig yang terdapat di ruang antar
tubulus

Menyiapkan mikroskop dan preparat awetan ovarium

Mengamati preparat ovarium di bawah mikroskop

Menggambar masing-masing folikel telur yang berkembang di dalamnya dan


menyebutkan bagian-bagiannya dengan lengkap

E. Hasil Pengamatan
Dari pengamatan yang telah kami lakukan maka dapat diperoleh hasil sebagai berikut:

5.1 Testis Marmut Guinea pig


Gambar Pengamatan Gambar Literatur Keterangan

a.Spermatogonium
b.Spermatid
c.Spermatosit
sekunder
d.Spermatozoid
e.Sel sertoli
f. Spermatosit primer
g.Membran basalis
h.Sel leydig
i. Lumen
Perbesaran 10x10

5.2 Ovarium Marmut Guinea pig


5.2.1 Fase Folikel Primordial
Gambar Pengamatan Gambar Literatur Keterangan
a. Sel epitel pipih
selapis
b.Inti oosit primer

Perbesaran 10x10 Sumber: Cui et al, 2011

5.2.2 Fase Folikel Primer


Gambar Pengamatan Gambar Literatur Keterangan
a.Folikel Perimer Monolaminar

a. Sel-sel granulosa
b. Oosit primer
c. Lamina basalis
d. Zona pelusida

Perbesaran 10x10 Sumber: Cui et al, 2011

b.Folikel Perimer Multilaminar


a. Sel-sel granulosa
b.Oosit primer
c. Zona pelusida
d.Teka interna

Perbesaran 10x10 Sumber: Cui et al, 2011

5.2.3 Fase Folikel Sekunder


Gambar Pengamatan Gambar Literatur Keterangan

a. Antrum
b.Folikel primer
c. Teka eksterna
d.Teka interna
e. Sel-sel granulosa

Perbesaran 10x10 Sumber: Cui et al, 2011

5.2.4 Fase Folikel Graaf


Gambar Pengamatan Gambar Literatur Keterangan

a. Oosit sekunder
b.Kumulus ooforus
c. Korona radiata
d.Sel-sel granulosa
e. Teka eksterna
f. Teka interna
g.Antrum

Perbesaran 10x10 Sumber: Cui et al, 2011

F. Analisis dan Pembahasan


1. Preparat awetan testis
Pengamatan dilakukan dengan mikroskop yang menggunakan perbesaran 10x10
terhadap preparat histologi testis. Bagian yang diamati adalah tubulus seminiferus,
yang di dalamnya terdapat lumen, sel-sel spermatosit dan sperma. Pada pengamatan
preparat testis terlihat bagian-bagian atau fase-fasenya, yaitu bagian terluar dekat
dengan dinding tubulus seminiferus adalah spermatogonium berwarna lebih gelap dari
sel-sel lainnya dan memiliki ukuran yang relatif kecil, kemudian spermatosit I,
spermatosit II, spermatid dan paling akhir adalah spermatozoa yang dekat dengan
lumen.
Struktural sel spermatogenik yang kami amati pada dinding tubulus seminiferus
berturut-turut dan luar ke dalam sebagai berikut:
1) Spermatogonium: inti berbentuk oval, sel-sel yang mengawali proses
spermatogenesis dan berasal dari sel-sel germinal primordial testis embrio. Sel ini
berada pada bagian basal dinding tubulus seminiferus. Tampak pada mikroskop
bahwa ukuran relatif kecil, bentuk agak oval, inti berwarna kurang terang, terletak
berderet di dekat atau melekat pada membran basalis.
2) Spermatosit I: sel-sel spermatogonium yang berdiferensiasi, memiliki ukuran
paling besar, bentuk bulat, inti berwarna kuat, letak agak menjauh dari membran
basalis.
3) Spermatosit II: sel-sel yang berasal dari diferensiasi spermatosit primer dan
memiliki ukuran agak kecil (setengah kali dari spermatosit I), bentuk bulat, warna
inti lebih kuat, letak makin menjauhi membran basalis (mendekati lumen).
4) Spermatid: sel-sel yang berasal dari diferensiasi spermatosit sekunder dan
memiliki ukuran kecil, bentuk agak oval, warna inti kuat, kadang-kadang piknotis,
terletak di dekat lumen.
5) Spermatozoa: melekat secara bergerombol pada sel sertoli, yang muda terdapat di
dalam lumen (Tenzer, 2001).
Berdasarkan preparat testis yang kami amati, diantara tubulus seminiferus
terdapat sel khusus yang berbentuk poliglonal yang disebut sel intersisial Leydig. Sel
Leydig memproduksi hormon testosteron. Adapula sel sertoli yang berbentuk panjang,
berdasar luas, melekat pada membrana basalis, berfungsi merawat dan memberi nutrisi
pada sel spermatozoa yang baru saja terbentuk, menghasilkan semacam hormon
(inhibin), menghasilkan protein pembawa hormon jantan (ABP=Androgen Binding
Protein) dan menghasilkan cairan testis. Testis sebagai organ kelamin primer
mempunyai dua fungsi yaitu mengahasilkan spermatozoa atau sel-sel kelamin jantan,
dan mensekresikan hormon kelamin jantan (testosteron). Spermatozoa dihasilkan
dalam tubuli seminiferi atas pengaruh FSH (Follicle Stimulating Hormone), sedangkan
testosteron diproduksi oleh sel-sel intertitial dari Leydig atas pengaruh ICSH
(Intertitial Cell Stimulating Hormone) (Anonim, 2013).
Spermatogenesis berlangsung di dalam testis tepatnya pada tubulus seminiferus.
Proses spermatogenesis berlangsung dari tepi ke bagian dalam (lumen). Tahap awal
dari spermatogenesis yaitu peristiwa pembelahan spermatogonium menjadi
spermatosit I secara mitosis dalam tubulus seminiferus yang disebut
spermatositogenesis. Sel-sel spermatogonium tersusun dalam 4-8 lapisan yang
menempati ruang antara membran basalis dan lumen tubulus. Spermatosit I memiliki
kromosom diploid (2n). Spermatosit II dihasilkan melalui pembelahan meiosis I, dan
bersifat haploid (n). Spermatid dihasilkan dari pembelahan meiosis II dan melekat
pada sel sertoli, juga bersifat haploid (n) yang akan berdiferensiasi menjadi
spermatozoa. Selanjutnya adalah perubahan spermatid menjadi sperma yang matur
yang disebut spermiogenesis.

Spermatogenesis
Sumber: Campbell et al., 2008

Tahapan spermatogenesis adalah:


1) Pada dinding tubulus seminiferus telah ada calon sperma (spermatogonium) yang
berjumlah ribuan.
2) Setiap spermatogonia melakukan pembelahan mitosis kemudian mengakhiri sel
somatisnya membentuk spermatosit primer yang disebut spermatositogenesis.
Spermatogonia mendapatkan nutrisi dari sel-sel sertoli dan berkembang
menjadi spermatosit primer. Spermatogonia bersifat diploid (2n atau mengandung
23 kromosom berpasangan), berkumpul di tepi membran epitel germinal yang
disebut spermatogonia tipe A. Spermatogonia tipe A membelah secara mitosis
menjadi spermatogonia tipe B. Kemudian, setelah beberapa kali membelah, sel-sel
ini akhirnya menjadi spermatosit primer.
3) Spermatosit primer mengandung kromosom diploid (2n) melakukan pembelahan
meiosis I untuk menghasilkan 2 spermatosit sekunder (n).
4) Tiap spermatosit sekunder melakukan pembelahan meiosis II, menghasilkan 4
spermatid yang bersifat haploid (n).
5) Spermatid berkembang (transformasi) menjadi sperma matang yang bersifat haploid
yang semua fungsional. Sperma yang matang akan terlihat bentuk yang terdiri dari
kepala dan ekor. Seperma kemudian akan menuju epididimis - vas deferens -
vesicula seminalis - urethra dan berakhir dengan ejakulasi.
2. Preparat awetan ovarium
Berdasarkan hasil pengamatan dengan mikroskop yang menggunakan perbesaran
10x10 bahwa ovarium terbagi menjadi 2 daerah yaitu korteks dan medula.
Korteks adalah bagian kulit ovarium, di bawah epitel germinal. Terdiri dari
jaringan ikat interstisial, yang disebut stroma. Korteks ovarium mengandung
banyak folikel telur yang masing-masing terdiri atas sebuah oosit yang diselaputi
oleh sel-sel folikel. Berbatasan dengan epitel germinal, stroma memadat
membentuk lapisan, disebut tunca albuginea. Stroma banyak mengandung serat
retikuler dan sel bentuk gelendong mirip fibroblast (Anonim, 2013).
Medula adalah bagian sumsum ovarium. Batas korteks dan medula tidak tampak.
Medula terdiri atas jaringan ikat. Bagian ini banyak mengandung pembuluh darah,
sehingga sumsum disebut juga zona vasculosa. Dalam stroma terdapat banyak
folikel. Folikel sudah terbentuk pada masa embrio. Ketika usia lanjut, folikelnya
kian susut dan mengalami degenerasi yang disebut atresia. Ketika atresia, mitosis
folikel terhenti, dan sel-sel lepas dari susunannya menyelaputi oosit. Oosit sendiri
jadi mati dan autolysis. Tempat folikel yang atresia itu diisi oleh jaringan stroma
(Anonim, 2013).
Perkembangan folikel (Sumber: Junquera et al, 2007)

Berdasarkan hasil pengamatan kami, di bagian korteks ovarium terdapat macam-


macam folikel telur pink keunguan. Sel yang menyusun folikel berwarna lebih gelap
sedangkan dibagian oosit berwarna lebih terang. Macam folikel telur yang kami amati
diantaranya:
1) Folikel primordial: merupakan folikel utama yang terdapat sebelum lahir. Terdiri
atas oosit primer yang dilapisi oleh selapis sel folikel berbentuk pipih.
2) Folikel tumbuh terdiri dari:
a) Folikel primer monolaminar terdiri dari oosit primer yang dilapisi oleh selapis
sel folikuler (sel granulosa) berbentuk kubus. Terjadi pembentukan zona pelusida
yaitu suatu lapisan glikoprotein yang terdapat diantara oosit dan sel granulosa.
b) Folikel primer multilaminar terdiri dari oosit primer yang dilapisi oleh beberapa
sel granulosa berbentuk kubus (stratum granulosa), dan zona pellucida semakin
terlihat jelas.
3) Folikel sekunder: terdiri atas oosit primer yang dilapisi oleh beberapa lapis sel
granulosa berbentuk kubus (stratum granulosa), terdapat beberapa antrum diantara
sel-sel granulosa. Jaringan ikat stroma mulai membentuk teka interna dan teka
eksterna yang terdapat di luar stratum granulosa.
4) Folikel de Graaf: berukuran paling besar, lebih menonjol ke permukaan ovarium,
oosit sekunder dilapisi oleh beberapa sel granulosa. Antrum menjadi sebuah rongga
besar yang berisi cairan folikel (liquor foliculli). Oosit sekunder dikelilingi oleh sel
granulosa yang disebut korona radiata, dihubungkan dengan sel-sel granulosa tepi
oleh tangkai penghubung yang disebut kumulus ooforus. Pada tahapan ini
merupakan tahap terakhir, atau bisa disebut folikel pematangan.
Dalam literatur petunjuk praktikum perkembangan hewan oleh Tenzer et al
(2001) ada pula jenis folikel tersier. Folikel tersier merupakan folikel yang mempunyai
volume stratum granulosum besar/banyak yang melapisi oosit I, memiliki beberapa
celah (antrum) diantara sel-sel granulosa, dan jaringan ikat stroma di luar stratum
granulosa membentuk teka interna dan eksterna. Kami menemukan folikel yang sama
dengan karakteristik folikel tersier, namun kami mengelompokkan dalam folikel
sekunder. Karena folikel sekunder merupakan folikel tumbuh pertama yang telah
memiliki antrum di dalamnya sebelum memasuki folikel tersier.
Oogenesis adalah proses pembentukan gamet betina atau sel telur dari oogonia.
Oogenesis terjadi di dalam ovarium. Menurut Campbell (2008), produksi ovum atau
sel telur dimulai dengan pembelahan mitosis sel germinal primordial dalam embrio.
Selanjutnya sel germinal primordial berdeferensiasi menjadi oogonium diploid (2n).
Kemudian oogonium mengalami pembelahan mitosis, sebagian kecil dari hasil
pembelahan mitosis tersebut tumbuh membesar menjadi oosit primer. Oosit primer
kemudian mengadakan replikasi DNA dan memasuki proses meiosis I sampai tahap
profase. Pada masa pubertas meiosis I dilanjutkan kembali karena FSH menstimulasi
follikel untuk tumbuh dan menginduksi oosit primer menyelesaikan pembelahan
meiosis I sehingga terbentuk satu oosit sekunder yang bersifat haploid (n) dan satu
badan polar 1 (polosit primer). Polosit akan berdegenerasi secara berangsur. Disisi lain
oosit sekunder mengalami ovulasi, kemudian melanjutkan pembelahan meiosis II dan
terhenti pada tahap metafase II. Pembelahan dilanjutkan kembali jika sperma
menembus sel telur. Hasil dari pembelahan meiosis II adalah 1 ootid dan satu badan
polar II (polosit sekunder). Sementara itu polosit primer ikut bermeiosis II sehingga
terbentuk polosit pada akhir pembelahan dan secara berangsur akan mengalami
degenerasi sehingga hanya 1 ovum yang fungsional.

Oogenesis
Sumber: Campbell et al., 2008
G. Diskusi

1. Bagan proses Spermatogenesis


Spermatogonia (2n)
Spermatosit Primer (2n)

Spermatosit Sekunder (n) Spermatosit Sekunder (n)

Spermatid (n) Spermatid (n) Spermatid (n) Spermatid (n)

Spermatozoa (n) Spermatozoa (n) Spermatozoa (n) Spermatozoa (n)

2. Bagan proses Oogenesis

Oogonium (2n)

Oosit Primer (2n)

Badan Polar I (n) Oosit Sekunder (n)

Badan Polar II (n) Badan Polar II (n)

Badan Polar II (n) Ootid (n)

Badan polar mengalami degenerasi Ovum (n)

H. Kesimpulan.
Gametogenesis merupakan proses pembentukan gamet atau sel kelamin. Tahapan
gametogenesis yaitu tahap perbanyakan (proliferasi), tumbuh dan pematangan.
Gametogenesis pada jantan disebut spermatogenesis yang dihasilkan oleh gonad
jantan yaitu testis. Spermatogenesis terjadi di tubulus seminiferus. Perkembangan
spermatogenesis dimulai dari spermatogonium, spermatosit I, spermatosit II,
spermatid, dan terakhir spermatozoid. Setiap tahap pada perkembangan sel gamet
jantan memiliki ciri dan ukuran yang berbeda sesuai tahap perkembangannya.
Gametogenesis pada betina disebut oogenesis yang dihasilkan oleh gonad betina
yaitu ovarium. Oogenesis terjadi di korteks ovarium. Pada oogenesis, sel germa
berkembang dalam folikel-folikel telur. Perkembangan folikel telur dimulai dengan
folikel primordial, folikel tumbuh yang meliputi folikel primer (folikel primer
monolaminar & folikel primer multilaminar), folikel sekunder dan tersier, dan folikel
matang yang disebut folikel de Graaf. Setiap tahap pada perkembangan folikel
memiliki ciri dan ukuran yang berbeda sesuai dengan tahap perkembangannya.

DAFTAR PUSTAKA
Adnan. 2008. Perkembangan Hewan. Makassar: Jurusan Biologi FMIPA UNM.
Anonim. 2013. Histologi Ovarium dan Testis.
(http://inikahjawaban.blogspot.co.id/2013/04/-histologi-ovarium-dan-testis.html),
diakses pada 2 September 2016
Campbell, Neil A Reece JB., Urry, LA., Cain, ML., Wasserman, SA., Minorsky, PV. 2008.
Biologi Jilid III. Jakarta: Erlangga.
Cui, Dongmei., Naftel, J.P., Lynch, J.C., Yang, Gongchao., Daley, W.P. 2011. Atlas of
Histology with Functional & Clinical Correlations. Lippincott Williams & Wilkins,
a Wolters Kluwer business.
Junqueira, L.C., Carneiro, J. 2007. Histologi Dasar Teks dan Atlas. Ed.10. Jakarta: EGC.
441 446.
Kholil, Anwar. 2009. Hakikat Pembelajaran Ipa.
( http://anwarkholil.hakikat-pembelajaran-ipa.html) diakses pada 1 September 2016
Mukayat, D. B. 1994. Zoologi Dasar. Jakarta: Erlangga.
Ross, H. Michael., Powlina, Wojcieh., 2011. Histology A Text and Atlas with Correlated
Celland Molecular Biology 6th Ed. Lippincott Williams & Wilkins, a Wolters Kluwer
business.
Sudarwati, S. 1993. Perkembangan Hewan. Bandung : ITB
Syahrum M. H., Kamaludin dan A. Tjokronegoro. 1994. Reproduksi dan Embriologi :
Dari Satu Sel Menjadi Organisme. Jakarta: BalaiPenerbit FKUI
Tenzer, Amy., Hadayani, Nursasi., Lestari, Umie., Listyorini, Dwi., Judani, Titi., Gofur,
Abdul. 2001. Petunjuk Praktikum Perkembangan Hewan. Malang: Fmipa UM.
Yatim, Wildan.1990. Reproduksi dan Embriologi. Bandung: Penerbit Transito.

Anda mungkin juga menyukai