Anda di halaman 1dari 32

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Senyawa Antioksidan dalam Kulit Biji Kopi


Kopi merupakan salah satu tumbuhan tropis dengan kandungan senyawa
antioksidan dalam jumlah yang cukup banyak. Kandungan antioksidan dalam kopi
lebih banyak dibandingkan antioksidan pada teh dan coklat (Farida dkk., 2013).
Dilaporkan limbah kulit biji kopi mengandung beberapa senyawa metabolit
sekunder yaitu seperti kafein dan golongan polifenol (Esquivel dan Jimenez, 2012).
Limbah kulit biji kopi merupakan salah satu bagian dari buah kopi yang
belum maksimal pemanfaatannya. Warna merah pada kulit kopi menunjukkan
adanya kandungan senyawa antosianin yang merupakan bagian dari senyawa
flavonoid. Flavonoid adalah kelompok senyawa fenolik dengan struktur kimia C6-
C3-C6 yang banyak terkandung dalam jaringan tanaman dan diyakini sebagai salah
satu kelompok senyawa fenolik yang memiliki sifat antioksidan. Sifat antioksidatif
ini dapat mencegah kerusakan sel dan komponen selularnya oleh radikal bebas
reaktif misalnya mengatasi penyakit jantung koroner, kanker payudara, prostat,
pangkreas, kolon, ovari, dan endometrium (Redha, 2010). Senyawa ini merupakan
salah satu kelompok polifenol. Polifenol adalah kelompok senyawa penting yang
tersebar luas dalam tumbuh-tumbuhan. Sebagian besar jenis buah-buahan
merupakan sumber utama polifenol. Selain itu dilaporkan polifenol juga bisa
diperoleh dari sayur-sayuran, tumbuhan polong-polongan, biji-bijian, dan minuman
seperti teh dan kopi (Ibtisam, 2013).

Gambar 2.1 Kerangka C6-C3-C6 flavonoid


5

Suatu senyawa dapat dikatakan sebagai antioksidan apabila senyawa tersebut


mampu melindungi sel dengan menghambat reaksi pembentukan radikal bebas
yang berbahaya. Senyawa polifenol dapat berperan sebagai antioksidan karena
senyawa ini memiliki beberapa gugus fenolik yang mampu menyumbangkan atom
H nya kepada suatu radikal bebas, sehingga menstabilkan radikal bebas tersebut
sehingga tidak lagi berbahaya (Mahesa, 2012). Mekanisme kerja antioksidan dalam
menstabilkan radikal bebas ditampilkan pada Gambar 2.2.

Gambar 2.2 Mekanisme kerja antioksidan (Mahesa, 2012)

2.2 Pengertian Membran


Membran merupakan lembaran semipermeable yang dapat menghalang dan
memisahkan secara selektif salah satu komponen larutan atau suspensi sehingga
dapat digunakan dalam proses pemisahan (Kesting, 1985). Sifat selektif permeabel
tersebut mampu menghambat laju dari perpindahan massa yang bersifat spesifik
bagi setiap komponen (Pinem dan Angela, 2011).
Membran bersifat semipermeabel yang dapat menahan spesi yang lebih besar
dari ukuran pori membran dan melewatkan spesi lainnya yang lebih kecil dari
ukuran pori membran. Proses pemisahan pada membran dapat berlangsung karena
adanya gaya dorong (driving force) dalam umpan yang berupa beda tekanan (P),
beda konsentrasi (C), beda potensial listrik (E) dan beda temperatur (T) serta
selektifitas membran yang dinyatakan dengan rejeksi. Seperti yang ditampilkan
pada Gambar 2.3.
6

Gambar 2.3 Skema pemisahan dengan menggunakan membran (Mulder,1996)

2.3 Membran dan Aplikasinya dalam Proses Pemisahan


Dewasa ini studi tentang membran terus mengalami kemajuan, berbagai
penelitian dikembangkan untuk mendapatkan teknologi pemisahan dengan
menggunakan membran karena pemisahan dapat dilakukan secara terus menerus,
mudah pengoperasiannya, konsumsi energi yang umumnya rendah, dan dapat
dikombinasikan dengan proses pemisahan lainnya (pengolahan hibrida), up-
scaling, karakteristiknya dapat disesuaikan dan dimodifikasi sesuai kebutuhan.

Gambar 2.4 Rentang pengaplikasian berbagai variasi membran (Mulder,1996)


7

Berkembangnya ilmu pengetahuan terutama dalam bidang teknologi telah


mampu memberikan solusi untuk pemisahan suatu senyawa dari tanaman, bahan
makanan ataupun minuman. Membran Ultrafiltrasi/nanofiltrasi menjadi alternatif
dalam pemisahan tersebut. Membran ini telah digunakan dalam proses pemisahan
konjak glukoman dari umbi porang yang mampu memisahkan polisakarida dari
molekul co-extracted, oligosakarida kecil, dan garam untuk memekatkan larutan
(Afriyani dkk., 2013). Dari sejumlah penelitian skala laboratorium membuktikan
bahwa penggunaan teknologi pemisahan dengan membran dilaporkan memiliki
banyak keunggulan yang tidak dimiliki oleh metode-metode pemisahan lainnya.
Keunggulan yang dimilikinya yaitu sederhana, tidak membutuhkan zat kimia
tambahan. Selain itu, membran telah banyak digunakan dalam proses pemisahan
dikarenakan proses pemisahannya yang terbukti cepat dan penggunaan energi yang
efisien serta tidak terjadi perubahan fasa dalam larutan yang dipisahkan
(Kurniawan dkk., 2011., Aprillia dan Amin, 2011). Penelitian yang telah dilakukan
oleh Kurniawan dkk. (2011) membuktikan penggunaan membran ultrafiltrasi pada
pemurnian susu sapi dapat mempertahankan kadar protein tetap. Produksi susu sapi
diperoleh susu dengan kadar lemak yang lebih rendah, kadar protein yang tinggi
dan jumlah mikroorganisme yang minimal.

2.4 Klasifikasi Membran


Membran dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa perbedaan, di
antaranya:
Material membran
a. Membran alam
b. Membran sintetik

Struktur dan prinsip pemisahan


Menurut Mulder (1996), berdasarkan struktur dan prinsip
pemisahannya membran dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
8

a. Membran berpori
Membran berpori adalah membran yang prinsip pemisahan berdasarkan
perbedaan ukuran partikel umpan dengan ukuran pori membran. Membran
jenis ini biasanya digunakan untuk proses mikrofiltrasi dan ultrafiltrasi.
b. Membran tak berpori
Membran tak berpori adalah membran yang mampu memisahkan molekul
dengan ukuran yang sangat kecil dan tidak dapat dipisahkan dengan
membran berpori. Prinsip pemisahannya berdasarkan perbedaan kelarutan
dan atau kemampuan berdifusi. Sifat intrinsik bahan polimer membran
menentukan tingkat selektivitas dan permeabilitas. Membran tak berpori
digunakan pada proses pemisahan gas dialisis dan pervaporasi.
c. Membran carrier
Membran carrier adalah membran yang pemisahannya ditentukan oleh
sifat spesifik molekul pembawanya bukan karakteristik ataupun bahan
pembentuk membran tersebut. Media pembawa merupakan cairan yang
terdapat dalam pori-pori membran berpori. Permeselektivitas terhadap
suatu komponen bergantung terutama pada kespesifikan molekul
pembawa. Komponen yang dipisahkan dapat berupa gas atau liquid, ionic
atau non-ionic, kinerja membran jenis ini seperti membran sel.

porous membrane nonporous membrane carrier membrane

Gambar 2.5 Jenis membran berdasarkan struktur dan prinsip pemisahan


9

Menurut Limo (2013), berdasarkan gradien tekanan sebagai daya dorong dan
permeabilitasnya membran dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
a. Mikrofiltrasi (MF)
Membran ini beroperasi dengan tekanan sekitar 0,1 2 bar dan
permeabilitasnya lebih besar dari 50 L/m2.jam.bar. Contoh aplikasi dari
teknologi membran Mikrofiltrasi ini adalah pada industri susu dan produk
susu, dimana membran digunakan untuk mengklarifikasi dadih keju,
menghilangkan lemak atau disebut de-fat dan juga untuk mengurangi
kandungan mikroba yang terdapat pada susu.

b. Ultrafiltrasi (UF)
Membran ini beroperasi dengan tekanan berkisar 1-5 bar dan
permeabilitasnya 10 50 L/m2.jam.bar. Contohnya dalam industri susu.
UF dipakai untuk memfraksionasi susu untuk memproduksi susu dimana
di dalam permeatnya terkandung protein, lemak, dan garam tak larut
sedangkan di dalam retentatenya terkandung laktosa dan garam terlarut.

c. Nanofiltrasi (NF)
Membran ini beroperasi dengan tekanan berkisar 5 20 bar dan
permeabilitasnya mencapai 1,4 12 L/m2.jam.bar. Contohnya adalah pada
proses pemekatan sirup jagung (corn syrup).

d. Reserve Osmosis (RO)


Membran ini beroperasi dengan tekanan berkisar 10 100 bar dan
permeabilitasnya mencapai 0,005 1,4 L/m2.jam.bar. contohnya adalah
pada proses desalinasi air laut.

e. Electrodialysis (ED)
Teknologi electrodialysis digunakan dalam proses demineralisasi susu dan
dadih susu, pengurangan keasaman (de-acidfy) dalam jus buah,
penghilangan komponen terlarut (de-ash) dari larutan gula (dextrose).
Perkembangan terbaru dari teknologi ED adalah kombinasi/hybrid dari ED
dengan IEX yang dikenal dengan istilah electrodeionization.
10

2.5 Teknik Pembuatan Membran


Membran dapat dibuat dengan beberapa teknik, beberapa teknik yang paling
penting adalah sebagai berikut:

1. Sintering
Bahan membran yang berbentuk ditekan dan dipanaskan pada suhu yang
tinggi sehingga antarmuka partikel yang berdekatan akan menghilang dan timbul
pori-pori. Metode ini digunakan untuk menghasilkan membran organik dan
anorganik yang berpori dengan ukuran pori antara 0,1-10 m.

2. Stretching
Pada metode ini film yang terbuat dari polimer semikristal ditarik searah
dengan arah ekstrusi sehingga bagian kristal dari polimer terletak sejajar dengan
arah ekstrusi. Porositas membran yang dihasilkan dengan metode ini lebih banyak
dibanding dengan metode sintering. Ukuran pori yang terbentuk antara 0,1-3 m.

3. Track-etching (Litografi)
Film dari polimer ditembak dengan partikel radiasi berenergi tinggi pada arah
tegak lurus terhadap film. Partikel radiasi akan membentuk lintasan pada matriks
film. Pada saat film dimasukkan ke dalam bak asam atau basa, maka polimer akan
terbentuk sepanjang lintasan. Pori yang dihasilkan berukuran seragam (simetri)
dengan ukuran pori yang berkisar antara 0,02-10 m.

4. Template leaching
Teknik ini dilakukan dengan melepas salah satu komponen film sehingga
dihasilkan membran berpori. Sebagai contoh, leburan homogen dari tiga sistem
komponen (Na2O-B2O3-SiO2) didinginkan dan sistem akan berpisah menjadi dua
fasa. Fasa pertama adalah fasa yang tidak larut dan mengandung SiO2, sedangkan
fasa kedua adalah fasa yang larut. Fasa yang kedua ini terlepas dengan penambahan
asam atau basa. Ukuran pori yang dihasilkan berukuran minimum sekitar 5 nm.

5. Coating
Polimer membran yang rapat akan menghasilkan nilai fluks yang rendah.
Untuk meningkatkan laju fluks, maka ketebalan membran harus diperkecil dengan
membentuk membran komposit. Membran komposit terdiri dari atas dua material.
11

Material yang sangat selektif diletakkan di bagian atas membran. Bagian ini
menentukan selektivitas membran. Sedangkan pada lapisan bawahnya dilapisi
dengan material berpori besar. Coating dapat dilakukan dengan cara dip-coating,
polimerisasi plasma, polimerisasi antarmuka dan polimerisasi in situ.

6. Inversi Fasa
Inversi fasa merupakan metode yang paling sering digunakan untuk
membuat membran. Inversi fasa adalah proses tranformasi polimer dari fasa cair ke
fasa padat. Proses pemadatan (solidifikasi) ini diawali dengan perubahan satu fasa
cair menjadi dua fasa cair yang saling campur. Peristiwa ini disebut pemisahan
cair-cair (liquid-liquid demixing). Salah satu fasa cair tersebut adalah fasa yang
kaya polimer. Fasa ini akan memadat selama proses inversi fasa sehingga
membentuk matriks padat atau yang disebut membran (Pinem dan Angela, 2011).
Menurut Nur dkk., (2003) proses pembuatan membran dengan cara
pemisahan phasa dapat dibedakan menjadi 4 jenis: .
- Non-solvent induced phase separation, dimana larutan antara polimer dan
pelarut yang homogen dicetak pada media support yang kemudian direndam
ke dalam non-pelarut, sehingga terjadi pemisahan fasa dan pembentukan
membran karena induksi non-pelarut kedalam larutan polimer dan leach out
pelarut dari larutan polimer.
- Thermally induced phase separation, dimana larutan polimer dibuat dengan
temperatur yang tinggi, yang kemudian direndam ke dalam quenching bath
yang berisi nonpelarut, perubahan temperatur yang mendadak menyebabkan
terjadinya demixing.
- Evaporation induced phase separation, dimana polimer dilarutkan di dalam
pelarut yang mudah menguap. Proses pemisahan fasa atau demixing dapat
terjadi karena pelarut dibiarkan menguap.
- Vapor-Induced phase separation, dimana larutan polimer yang telah
homogen dicetak dan dibiarkan pada udara terbuka yang mengandung
partikel non-pelarut (biasanya air), penyerapan partikel air menyebabkan
terjadinya phase separation separation dan solidifikasi membran.
11

Preparasi membran dengan proses NIPS dapat dibedakan dalam tiga teknik
utama yaitu metode air-casting of polymer solution, precipitation from the vapor
phase dan immersion precipitation. Menurut Arahman (2012) Teknik immersion
precipitation adalah teknik yang paling sering digunakan dimana polimer
dilarutkan dalam pelarut tertentu pada suhu kamar hingga homogen membentuk
larutan dope kemudian dicetak pada media support atau dialirkan melalui media
bentukan tertentu (spinneret) dan selanjutnya dimasukkan ke dalam media yang
berisi larutan non-solvent. Proses pemisahan fasa dan pembentukan membran dapat
terjadi karena induksi non-solvent ke dalam larutan polimer, larutan non-solvent
bisa berupa air atau etanol. Mekanisme pembentukan membran dengan metode
immersion precipitation diperlihatkan pada Gambar 2.6.

Gambar 2.6. Proses pembentukan membran dengan metode NIPS


(Arahman, 2012).

2.6 Polimer Polietersulfon


Polietersulfon merupakan salah satu jenis polimer penting yang digunakan
dalam pembuatan membran. Sifat mekanik dari PES sangat baik, memiliki sifat
yang transparan dan amorf, memiliki resistensi yang baik terhadap temperatur yang
mencapai 225oC, tahan terhadap senyawa kimia, dan juga mudah dibentuk modul
dalam berbagai bentuk (Ahmad dkk., 2013., Arrahman dkk., 2013).

SO2 O
n

Gambar 2.7 Rumus bangun Polietersulfon


13

Kinerja pemisahan dengan membran sering kali terganggu akibat penurunan


fluks yang terjadi akibat terjadinya fouling yang disebabkan oleh karakteristik
membran dan interaksinya dengan material yang akan difiltrasi. Maka, untuk
menghindari fouling dapat dilakukan modifikasi permukaan membran dengan cara
pencampuran (blending) selama proses pembuatan ( Nur dkk., 2013). Penambahan
bahan organik atau inorganik ke dalam larutan dapat berfungsi sebagai agen
pembentuk pori dan pemodifikasi struktur membran, sehingga dapat mengatasi
terjadinya fouling (Arifin dkk., 2012).
Penambahan nanopartikel pada membran akan meningkatkan porositas
membran yang dihasilkan, seperti yang dilaporkan oleh Shen dkk. (2011) (Gambar
2.8). Selain mengubah struktur membran, nanopartikel juga dapat meningkatkan
sifat hidrofilisitas serta mempengaruhi sifat membran sesuai zat aktif yang
terkandung di dalam zat aditif nano partikel tersebut misalnya membawa sifat
antibakteri sehingga meningkatkan performa membran.

Gambar 2.8 Gambar SEM dari potongan melintang membran PES/SiO2


dengan (a) 0, (b) 1, (c) 2 dan (d) 4 % berat SiO2 (Shen dkk., 2011).
14

2.7 Nanopartikel Moringa oleifera (kelor) sebagai Zat Aditif


Kelor merupakan jenis tanaman obat dari family moringaceae. Tanaman asli
dari India ini kaya akan nutrisi dan efek terapi yang baik. Kelor sangat bermanfaat
bagi manusia karena bahan aktif yang terdapat dalam tanaman ini berpotensi dalam
mencegah kanker (Kristina dkk., 2014). Berbagai bagian dari tanaman ini seperti
daun, akar, biji, kulit kayu, buah, bunga memiliki efek antikanker, antiinflamasi,
antijamur, antihipertensi, dan antibakteri (Anwar dkk., 2007). Kelor mengandung
zat aktif 4--4-rhamonsiloxy-benzil-isothiocyanate yang dilaporkan dapat menjadi
senyawa yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri. Seperti yang dilaporkan
pada penelitian Nurlianti (2013), hasil penelitian menunjukkan bahwa biji kelor
mampu membersihkan 90% dari total bakteri E. coli dalam 1 liter air sungai dalam
waktu 20 menit.

Gambar 2.9 Struktur 4--4-rhamonsiloxy-benzil-isothiocyanate (Nurlianti, 2013)

Penambahan zat aditif juga dapat mengontrol struktur pori membran.


Berdasarkan penelitian, zat additif dapat mempengaruhi morfologi membran
mencakup kondisi fisik dan kinerja membran yang dihasilkan (Indarti dkk., 2013).
Penambahan zat aditif tepung biji kelor ini diharapkan dapat memodifikasi struktur
pori membran, menghasilkan sifat hidrofilitas dan juga menghasilkan membran
yang memiliki antibakteria dari polietersulfon membran yang dihasilkan.

2.8 Karakteristik Membran


Karakteristik pada membran meliputi uji struktur morfologi menggunakan
scanning electron microscopy (SEM) dan analisis gugus fungsi membran
menggunakan Fourier transform Infrared spectroscopy (FTIR).
15

2.8.1 Struktur Morfologi Membran


Struktur morfologi membran dapat dipelajari dengan melihat struktur
permukaan (surface) dan penampang melintang (cross section) membran dengan
menggunakan scanning elektron microscopy (SEM). Analisa SEM dilakukan
dengan cara menempelkan sampel membran kering pada sample holder. Membran
kering adalah membran yang telah dibekukan dengan nitrogen cair sehingga
mudah dipatahkan dan tidak merubah struktur membran tersebut. Selanjutnya
membran dilapisi emas lalu dimasukkan ke dalam chamber dan dilakukan
pemotretan (Aufiyah dan Damayanti, 2013).

2.8.2 Analisis Gugus Fungsi


Gugus fungsi sampel dapat diketahui berdasarkan perbedaan spektrum yang
dihasilkan pada analisa menggunakan Fourier transform infrared spectroscopy
(FTIR). FTIR merupakan suatu instrumen untuk mengetahui gugus fungsi dari
suatu sampel dengan interaksi molekul berupa absorbansi atau transmitan dari sinar
infra merah yang diberikan pada sampel. Setiap serapan pada panjang gelombang
tertentu menggambarkan adanya suatu gugus fungsi spesifik.

2.8.3 Permeabilitas
Permeabilitas merupakan kecepatan permeasi diartikan sebagai volume yang
melewati membran persatuan luas dalam satuan waktu tertentu dengan gaya
penggerak berupa tekanan. Permeabilitas membran dilihat dari fluks. Fluks adalah
kecepatan aliran melewati membran dihitung persatuan waktu dan luas permukaan
membran dengan persamaan:
v
J =
A .t
Dimana :
J = fluks (L/m2. jam)
V = volume permeat (L)
A = luas permukaan (m2)
t = waktu (jam)
16

Grafik fluks terhadap tekanan akan menghasilkan garis lurus dan


kemiringan (slope) merupakan konstanta permeabilitas sesuai dengan persamaan:

J= Lp . P atau L =

Dimana :
Lp = koefisien permeabilitas (L/m2.jam.bar)
J = fluks air (L/m2.jam)
p = perubahan tekanan (bar)

2.9 Kinerja Membran


Kinerja membran yang diuji mencakup evaluasi aktivitas antibakteri
membran, kemampuan membran dalam menyaring suatu zat atau molekul
diketahui dari selektifitas/rejeksi membran. Selain itu dalam penelitian ini juga
dilakukan evaluasi aktivitas antioksidan flavonoid dengan metode DPPH.

2.9.1 Evaluasi Aktivitas Antibakteri


Untuk mengetahui pengaruh penambahan nanopartikel biji kelor sebagai
antibakteri dianalisa dengan metode halo zone yaitu dengan cara membiakkan
bakteri pada media agar, kemudian diletakkan masing-masing membran yang
dihasilkan pada permukaan media dan dilakukan pengamatan selama masa
inkubasi. Sifat antibakteri dari membran diukur berdasarkan luasnya diameter
daerah bening yang terbentuk di sekeliling membran. Seperti yang dilaporkan pada
penelitian Sawada dkk. (2012) aktivitas antibakteri pada membran polimer yang
mengandung nano partikel perak diuji menggunakan bakteri E.Coli. Setelah sampel
diinkubasi selama 8 jam pada suhu 37C, pertumbuhan bakteri ditampilkan pada
Gambar 2.10.
17

Gambar 2.10 Pengukuran sifat antibakterial dengan metode halo zone (a)
Membran PES (150 kDa), (b) Membran Ag-Am-PES (GA: 3,44
mg/cm2, konsentrasi AgNO3 selama pembentukan nanopartikel: 1,0
10-2 mol/dm3) dan (c) membran Ag-Am-PES (GA: 3,44 mg/cm2,
konsentrasi selama pembentukan nanopartikel: 1,0 10-1 mol/dm3

Berdasarkan Gambar 2.10 dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan


membran PES tanpa aditif dengan membran PES + aditif, dimana membran tanpa
aditif antibakteri tidak ada terbentuk ruang kosong di sekeliling membran
sedangkan pada membran dengan penambahan zat aditif terbentuk ruang kosong di
sekeliling membran, semakin banyak aditif yang ditambahkan semakin besar pula
luas ruang kosong yang tidak ditumbuhi bakteri. Hal ini berarti untuk menambah
performa antibakteri dari membran PES perlu ditambahkan zat aditif yang
membawa sifat antibakteri.

2.9.2 Selektifitas
Selektifitas menggambarkan kemampuan membran memisahkan satu jenis
spesi dari campurannya. Selektifitas dinyatakan oleh 2 parameter, yaitu rejeksi (R)
dan faktor pemisahan (a). Parameter rejeksi berlaku pada sistem pemisahan padat-
cair, sedangkan faktor pemisahan ditentukan pada sistem pemisahan gas-gas dan
cair-cair. Koefisien rejeksi (R) merupakan gambaran dari selektifitas membran
yang dirumuskan sebagai berikut:
C
R = 1 100%
C

Dimana: R = koefisien rejeksi


Cp = konsentrasi zat terlarut di dalam permeat
Cf = rata-rata konsentrasi zat terlarut di dalam feed dan retentat
Konsentrasi permeat dan retentat dapat diukur dengan spektrofotometri UV-Vis.
18

2.9.3 Evaluasi Aktivitas Antioksidan


Untuk mengevaluasi aktivitas antioksidan dari flavonoid yang diperoleh
dilakukan uji dengan menggunakan metode DPPH (2,2-difenil-1-pikrilhidrazil).
DPPH adalah radikal bebas yang stabil pada suhu kamar. Sebanyak 0,0095 gram
DPPH dilarutkan dalam 100 ml metanol, kemudian diambil 20 ml dan diencerkan
dalam 50 ml metanol sebagai larutan induk. Selanjutnya dimasukkan sampel
sebanyk 0,2 mL kedalam tabung reaksi dan ditambahkan 3,8 mL DPPH kemudian
diinkubasi pada ruang tertutup selama 30 menit. Interaksi antioksidan dengan
DPPH baik secara transfer elektron atau radikal hidrogen pada DPPH akan
menetralkan karakter radikal bebas dari DPPH. Jika semua elektron pada radikal
bebas DPPH berpasangan maka warna larutan berubah dari ungu tua menjadi
kuning terang dan absorbansi pada panjang gelombang 517 nm akan hilang
(Erawati, 2012). Dalam penelitian ini dipilih metode DPPH karena metode ini
hanya memerlukan sedikit sampel dalam pengujiannya, cara kerja yang sederhana,
mudah, cepat, dan peka untuk mengevaluasi antioksidan dari senyawa-senyawa
bahan alam (Ikhlas, 2013).
BAB III
METODELOGI PENELITIAN

3.1 Waktu dan Tempat Penelitian


Penelitian ini berlangsung selama 7 bulan mulai dari April s/d Oktober
2016. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Material Polimer, Jurusan Teknik
Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Syiah Kuala.

3.2 Alat dan Bahan


Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini antara lain: gelas beker,
pengaduk magnetic, spatula, plat kaca, erlenmeyer, gelas ukur 100 mL,
aluminium foil, timbangan digital, ballmill, cawan porselin, modul membran,
instrumen Fourier transform infrared spectroscopy (FTIR),
spectrophotometer UV-Visible SHIMADZU UV-Pharmaspec 1700.
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain: Tepung biji kelor dari
CV. Waringin Jaya Agro, polimer polietersulfon (PES) dari BASF Co.
(Ludwigshafen, Jerman), pelarut N-methylpyrrolidone (NMP) dari Millipore
Indonesia, aquadest diambil dari produksi BARISTAND (Balai Riset dan
Standarisasi) Banda Aceh, kulit buah kopi dari Takengon, larutan standar
flavonoid (quercetin)..

3.3 Variabel Penelitian


3.3.1 Variabel Tetap
Variabel tetap dalam penelitian ini adalah jenis pelarut yang digunakan dalam
pembuatan membran yaitu pelarut N-methylpyrrolidone (NMP) dan konsentrasi
polimer polietersulfon (PES) yang digunakan adalah 15% berat.

3.3.2 Variabel Tidak Tetap


Konsentrasi zat additif nanopartikel Moringa oleifera: 0% (A1), 0,5% (A2),
dan 1% (A3). Dari variabel penelitian yang dirancang akan diperoleh kombinasi
perlakuan sebanyak A 3 = 3 kali, kombinasi perlakuan (sampel), seperti yang
tertera pada Tabel 3.1.

18
19

Tabel 3.1 Kombinasi perlakuan pada sampel


%berat zat additif
%berat polimer dan Kombinasi perlakuan
nanopartikel Moringa
pelarut (K)
oleifera (A)
0% K1
Pelarut NMP dan
0,5% K2
Polimer PES 15%
1% K3

3.4 Prosedur Penelitian


Untuk mencapai target penelitian, disusun tahapan secara skematis seperti
Gambar 3.1.

Pembuatan
Nanopartikel Moringa Pembuatan Membran Pemurnian Flavonoid
oleifera (kelor)

Biji kelor Polimer, Pelarut, Limbah Kulit Kopi


dihancurkan
dan Additif
Preparasi
dilarutkan
Maserasi Larutan
Larutan Dope
Umpan
Tabung
Penyaringan Casting Umpan
Penyaringan
Penjemuran Solidifikasi menggunakan membran
Diballmill dengan aliran dead-end
filtration
Membran
Nanopartikel Biji
Kelor Karakterisasi
& uji kinerja Analisa

Gambar 3.1 Diagram alir rangkaian penelitian

3.4.1 Pembuatan Nanopartikel Moringa oleifera (kelor)


Biji kelor diperkirakan masih mengandung lemak yang dapat memicu
terjadinya fouling pada membran, maka perlu dilakukan proses penghilangan
lemak dan minyaknya. Pembuatan nanopartikel biji kelor bebas lemak dilakukan
dengan memodifikasi penelitian Purnomo dan Surodjo (2012), dengan cara: Biji
kelor di hancurkan dan di maserasi dengan etanol selama 24 jam dalam 5 hari.
Setelah itu, disaring menggunakan kertas saring dan dikeringkan pada suhu
20

ruangan hingga diperoleh berat yang konstan. Kemudian, ukurannya kembali


dihaluskan dengan cara di-ballmill kemudian disaring untuk menghasilkan
nanopartikel biji kelor yang seragam.

3.4.2 Pembuatan Membran


Pada proses pembuatan membran digunakan polimer polietersulfon dengan
kadar 15% berat keseluruhan dengan variasi konsentrasi zat aditif 0; 0,5; dan 1%.
Variasi polimer PES dan konsentrasi zat aditif nanopartikel biji kelor dilarutkan ke
dalam pelarut NMP dan diaduk dengan menggunakan magnetic stirrer di atas hot
plate sampai semua polimer PES terlarut sempurna yang selanjutnya disebut
dengan larutan dope. Larutan dope didiamkan selama 24 jam di dalam kulkas
dengan tujuan untuk mencegah tumbuhnya bakteri selama masa penghilangan
gelembung yang mungkin muncul akibat pengadukan. Selanjutnya membran dibuat
dengan cara non-solvent induced separation (NIPS) dengan metode immersion
precipitation, larutan dope dicetak pada media support berupa plat kaca, kemudian
plat kaca dan film tipis yang terbentuk dicelupkan ke dalam bak koagulasi yang
berisikan larutan non-solvent yang dalam penelitian ini digunakan aquadest.
Larutan non-solvent mempunyai peranan penting dalam proses solidifikasi,
pembentukan pori dan struktur membran. Gambaran umum dari proses pencetakan
membran (casting) ditampilkan pada Gambar 3.2.

Variasi Proses pencetakan Perendaman dalam bak


membran (casting) koagulasi
larutan dope

Gambar 3.2 Proses pembuatan membran secara NIPS

Karakteristik membran yang dianalisa meliputi uji struktur morfologi


menggunakan scanning electron microscopy (SEM), analisis gugus fungsi
membran menggunakan Fourier transform Infrared spectroscopy (FTIR), dan
21

pengujian permeabilitas air murni membran. Sedangkan untuk kinerja membran


dilakukan uji aktivitas anti bakteri menggunakan metode halo zone, uji selektivitas
pemisahan flavonoid, dan uji aktivitas antioksidan dengan menggunakan metode DPPH
(2,2-difenil-1-pikrilhidrazil).

3.4.3 Pemurnian Flavonoid


Pemisahan flavonoid dilakukan melalui beberapa tahap, yaitu:
1. Tahap pembuatan larutan umpan
Larutan umpan yang digunakan adalah slurry limbah kulit kopi yang dibuat
dengan cara: Kulit biji kopi dihaluskan kemudian diekstrak dengan
menggunakan pelarut aquadest dengan konsentrasi dan suhu tertentu.
2. Tahap pengkonsentrasian flavonoid
Pengkonsentrasian dilakukan menggunakan membran dengan aliran dead-
end filtration (aliran searah).
Membran yang dihasilkan disesuaikan ukurannya dan diisi ke dalam modul,
selanjutnya larutan umpan dimasukkan ke dalam tabung umpan untuk dilakukan
penyaringan dan hasilnya di analisa. Gambaran proses ultrafiltrasi untuk pemisahan
dan pemekatan senyawa flavonoid ditampilkan pada Gambar 3.3.

Keran
regulator

Tabung
umpan Selang permeat

Gelas ukur

support
Membran flat

Tabung gas

Gambar 3.3 Desain modul ultrafiltrasi flat membran


22
23

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

Flavonoid merupakan salah satu jenis antioksidan alami yang terkandung di


dalam berbagai jenis tumbuhan. Dalam beberapa kasus, manfaat kebaikan dari
flavonoid tidak serta-merta dapat dikonsumsi oleh manusia seperti flavonoid dalam
limbah kulit kopi. Untuk itu diperlukan inovasi teknologi pemurnian flavonoid dari
berbagai sumber sehingga dapat dimanfaatkan untuk kepentingan manusia.
Teknologi membran ultrafiltrasi dipilih karena jenis membran ini merupakan media
penyaringan yang umum digunakan pada pemurnian dan pemisahan makromolekul
atau suspensi dengan ukuran partikel yang sangat halus (Susanto, 2011).
Hasil yang diperoleh dari penelitian yang telah dilakukan adalah
mendapatkan data karakteristik dan kinerja dari variasi membran yang dihasilkan.

4.1 Karakteristik Membran


4.1.1 Hasil Analisa Scanning Elektron Microskopy (SEM)
Analisa SEM dilakukan untuk mengetahui perubahan struktur dari
membran terhadap penambahan zat additif baik pada permukaan maupun
penampang melintang dari membran yang dihasilkan.

(a)
24

(b)

(c)

Gambar 4.1 Struktur Permukaan membran (a) PES/NMP; (b) PES/NMP + 0,5%
Additif; (c) PES/NMP + 1% Additif (10.000x perbesaraan)

Pada Gambar 4.1 dapat dilihat hasil analisa SEM permukaan membran
dengan perbersaran 10.000x. Seperti yang diharapkan, penambahan zat additif
25

Moringa oleifera memberikan efek penambahan sebaran pori membran, dimana


terlihat bahwa pada membran PES/NMP dengan penambahan 1% additif memiliki
penyebaran pori yang lebih banyak dan merata dibandingkan dengan penambahan
0,5% dan 0 % additif

(a)

(b)
26

(c)

Gambar 4.2 Struktur Permukaan membran (a) PES/NMP; (b) PES/NMP + 0,5%
Additif; (c) PES/NMP + 1% Additif (20.000x perbesaraan)

Jika dilihat dengan perbesaran 20.000x pada Gambar 4.2 terlihat bahwa
ukuran pori yang terbentuk pada membran PES/NMP + 0,5% additif paling besar,
sehingga otomatis menghasilkan fluks yang paling besar pula.

(a)
27

(b)

(c)
Gambar 4.3 Struktur melintang (a) PES/NMP; (b) PES/NMP + 0,5% Additif; (c)
PES/NMP + 1% Additif

Berdasarkan pengamatan secara melintang pada Gambar 4.3, terlihat bahwa


lapisan atas ketiga membran berpori lebih rapat daripada lapisan bawah. Selain itu
pada membran juga tampak rongga berbentuk menjari (finger like), sehingga dapat
disimpulkan bahwa membran yang dihasilkan memiliki struktur pori asimetris.
Struktur finger like terbaik terbentuk pada membran PES/NMP + 0,5% aditif.
28

4.1.2 Hasil Analisa Fourier Transform Infrared (FTIR) spektrofotometri


Analisa menggunakan instrumen FTIR bertujuan untuk mengetahui apakah
pelarut atau zat aditif terikat di dalam membran berdasarkan pengukuran interaksi
molekul berupa absorbansi atau transmitan dari sinar infra merah. Gambar 4.4
merupakan hasil analisa FTIR dari membran PES/NMP dengan variasi zat additif
0; 0,5; dan 1 %.

5
Eter Arom atik
C-O-C
4.5 PES/NM P Cincin Arom atik
C=C-C
4 PES/NM P + 0,5% Additif
3.5 PES/NM P + 1% Additif
Absorbansi (a.u)

3 M oringa Oleifera

2.5

2
1.5

1
0.5

0
-0.5
4000 3600 3200 2800 2400 2000 1600 1200 800 400
-1
Bilangan Gelombang (cm )
Gambar 4.4 Spektrum FTIR membran dan zat additif Moringa oleifera (biji kelor)

Hasil analisa dengan FTIR pada Gambar 4.4 memperlihatkan bahwa ketiga
variasi membran hampir menunjukkan pola yang sama dikarenakan polimer dasar
penyusun masing-masing membran yang digunakan adalah PES. Ketiga spektra
masih menunjukkan spektra khas PES, yaitu ikatan aromatik pada sekitaran
bilangan gelombang 1575 cm-1 dari cincin benzena dan ikatan eter aromatik pada
bilangan gelombang sekitar 1240 cm-1 (Susanto, 2011). Tidak ada perubahan
spektra yang signifikan baik pada membran dengan konsentrasi additif 0; 0,5;
maupun 1 %, hal ini menunjukkan bahwa zat additif nanopartikel biji kelor yang
terperangkap di dalam membran tidak teralu terdeteksi pada FTIR, yang dapat
disebabkan karena konsentrasi zat additif yang ditambahkan terlalu kecil, selain itu
29

zat additif nanopartikel biji kelor juga memiliki nilai absorbansi serapan yang
relatif lebih rendah yaitu hanya sekitar 0,3 a.u (absorbance unit) sedangkan
absorbansi serapan pada PES mencapai 4.3 a.u.
Berdasarkan Gambar 4.4 juga dapat dilihat bahwa secara umum serapan
absorbansi pada membran dengan penambahan zat additif Moringa oleifera lebih
rendah dari pada membran PES/NMP tanpa penambahan zat additif Moringa
oleifera. Hal ini disebabkan karena keberadaan zat additif dapat menghalangi
serapan terhadap PES pada membran, semakin banyak konsentrasi zat additif yang
ditambahkan maka akan semakin rendah pula serapan absorbansi PES pada
membran tersebut.

4.1.3 Fluks Air Murni


Fluks air merupakan salah satu parameter yang menentukan kinerja
membran. Fluks air dipengaruhi oleh tekanan dan komposisi membran. Tabel 4.1
memperlihatkan bahwa pada tiap komposisi membran yang sama dan tekanan
dinaikkan, secara umum fluks juga mengalami peningkatan, kecuali pada membran
PES/NMP dengan penambahan 1% additif yang menghasilkan fluks yang tidak
stabil, dimana fluks air yang dihasilkan pada tekanan 1 bar; 1,5 bar; 2 bar; dan 2,5
bar secara berturut-turut adalah 32,07 L/m2.jam; 42,57 L/m2.jam ; 39, 8089 L/m2.jam
dan 42,0205 L/m2.jam. data tersebut menunjukkan fluks air mengalami
penurunanan ketika tekanan dinaikkan menjadi 2 bar. Hal ini diduga karena
membran mengalami kompaksi selama pengukuran fluks dilakukan. Kompaksi
membran merupakan peristiwa terjadinya perubahan mekanik pada struktur
membran polimer karena pengaruh tekanan. Kompaksi menyebabkan densifikasi
(pori-pori pada permukaan membran tertutup) lapisan membran sehingga fluks air
menjadi rendah (Surgayani, 2008).
30

Tabel 4.1 Data fluks air murni masing-masing jenis membran pada setiap tekanan
Tekanan Fluks
Jenis Membran
P (bar) J (L/m2.jam)
1 2,764508
1,5 4,423213
PES/NMP
2 6,63482
2,5 9,399328
1 1,658705
PES/NMP + 0,5% 1,5 53,63146
additif 2 55,29016
2,5 70,77141
1 32,06829
PES/NMP + 1% 1,5 42,57343
additif 2 39,80892
2,5 42,02052

Data fluks air pada tabel 4.1 juga memberikan informasi bahwa adanya
pengaruh penambahan additif pada membran terhadap fluks yang dihasilkan.
Penambahan additif Moringa oleifera menyebabkan nilai fluks meningkat yang
menandakan additif tersebut mampu mengubah sifat hidrofilisitas membran.

4.1.4 Koefisien Permeabilias Membran


Nilai koefisien permeabilitas membran ditentukan berdasarkan harga fluks.
Permeabilitas membran adalah jumlah air yang mampu dilewatkan membran
berdasarkan tekanan yang digunakan (Yosephani, 2013). Penentuan nilai
permeabilitas diperlukan untuk mengetahui efektifitas dari suatu membran yang
pada umumnya semakin besar nilai permeabilitas, maka kinerja membran semakin
baik (Rahayu, 2013). Nilai permeabilitas membran dipengaruhi oleh beberapa
faktor, salah satunya adalah jumlah aditif yang digunakan.

Tabel 4.2 Koefisien permeabilitas pada setiap variasi membran


Permeabilitas Lp
Variasi Membran Jenis Membran
(L/m2.h.bar)
PES/NMP 4,423 Nanofiltrasi
PES/NMP + 0,5% Additif 41,79 Ultrafiltrasi
PES/NMP + 1% Additif 5,418 Nanofiltrasi
31

Koefisien permeabilitas membran (Lp) dapat dilihat pada Tabel 4.2,


dimana membran PES/NMP memiliki nilai Lp 4,423 L/m2.h.bar, membran
PES/NMP dengan penambahan aditif 0,5 % aditif memiliki nilai Lp 41,79
L/m2.h.bar. Sedangkan nilai Lp untuk membran PES/NMP + 1% aditif adalah
5,418 L/m2.h.bar. Secara umum penambahan aditif Moringa oleifera berpotensi
meningkatkan nilai koefisien membran PES/NMP. Dari data tersebut menunjukkan
bahwa membran yang memiliki kemampuan melewatkan air paling baik adalah
membran PES/NMP + 0,5% aditif. Berdasarkan nilai permeabilitasnya diperoleh
bahwa hanya membran dengan penambahan 0,5% additif yang masuk kedalam
jenis membran ultrafiltrasi seperti yang diharapkan, sedangkan membran dengan
penambahan 0% dan 1% additif masuk ke dalam rentang permeabilitas membran
nanofiltrasi. Sehingga hanya membran PES/NMP + 0,5% additif yang digunakan
untuk pengujian pemisahan flavonoid dari limbah kulit kopi.

4.2 Kinerja Membran


4.2.1 Uji Aktivitas Antibakteri
Antibakteri merupakan senyawa yang diharapkan mampu mengendalikan
pertumbuhan bakteri merugikan yang dapat dilakukan dengan cara menghambat
sintesis dinding sel bakteri sehingga dinding sel akan rusak dan lisis (pecah) yang
menyebabkan keluarnya sumber makanan dari dalam sel. Pengujian aktivitas
antibakteri salah satunya dapat dilakukan dengan metode halo zone menggunakan
medium agar sebagai media pembiakan, dimana sampel ditanam di dalam agar
yang telah diinokulasi dengan bakteri kemudian diinkubasi dan dilakukan
pengamatan terhadap luas zona bening yang dihasilkan. Diameter zona bening
mengindikasikan besarnya kekuatan hambat atau respon dari antibakteri dalam
berdifusi melawan bakteri di sekeliling sampel (Simon, 2012).
32

(a) (b)

Gambar 4.5 Pengujian sifat antibakterial metode halo zone (a) Variabel kontrol
(PES/NMP) dan (b) Variabel analisa PES/NMP + 0,5% additif dan
PES/NMP + 1% additif
Gambar 4.5 menunjukkan hasil analisa aktivitas antibakteri dengan metode
halo zone . Dalam penelitian ini dilakukan pengujian pada 2 buah cawan petri yaitu
cawan petri (a) yang ditanam membran PES/NMP tanpa penambahan zat additif
sebagai variabel kontrol dan cawan petri (b) yang ditanamkan membran PES/NMP
dengan penambahan zat additif 0,5 dan 1% sebagai variabel analisa. Berdasarkan
Gambar 4.5 terlihat bahwa aktivitas antibakteri belum dapat teramati dengan baik,
hal ini dapat disebabkan karena konsentrasi zat additif Moringa oleifera yang
ditambahkan sangat sedikit, sehingga belum mampu untuk menghambat
pertumbuhan bakteri, maka perlu dilakukan metode pengujian aktivitas antibakteri
lainnya seperti dengan metode Contact killing atau dengan metode immersion test.

4.2.2 Uji selektifitas pemurnian Flavonoid


Uji selektifitas pemurnian flavonoid dilakukan dengan cara menghaluskan
sebanyak 30 gram limbah kulit kopi kemudian diencerkan kedalam 60 ml aquadest
dan di saring menggunakan kertas saring. Filtrat yang dihasilkan kemudian
diumpankan ke dalam modul untuk dilakukan penyaringan dan pemekatan dengan
membran pada tekanan maksimum dari membran yang dihasilkan yaitu 2,5 bar.
Konsentrasi larutan umpan (Cf) dan larutan permeat (Cp) ditentukan dengan
menggunakan instrumen Spektrofotometri UV-Vis pada panjang gelombang 254
nm. Seperti yang diharapkan bahwa proses penyaringan dengan menggunakan
33

membran dapat memekatkan senyawa flavonoid di dalam larutan karena dapat


menahan flavonoid dan melewatkan air seperti yang terlihat pada Gambar 4.6.

(a) (b)

Gambar 4.6 Filtrat kulit kopi: (a) sebelum penyaringan dan (b) sesudah penyaringan

Berdasarkan hasil pengujian menggunakan Spektrofotometri UV-Vis


diperoleh konsentrasi sampel Cf sebesar 383,4275 dan Cp sebesar 106,7525 ppm,
dengan koefisien rejeksi sebesar 72,158%.

4.2.3 Uji Aktivitas Antioksidan


Aktivitas antioksidan dari flavonoid dapat dianalisa dengan menggunakan
metode DPPH (2,2 Difenil-1 Pikrilhidrazil). Kemampuan antioksidan dalam filtrat
kulit kopi menangkap dan menstabilkan radikal DPPH menunjukkan koefisien
aktivitas antioksidan yang dinyatakan sebagai %penghambat. Keberadaan
antioksidan di dalam filtrat kulit kopi akan mereduksi radikal DPPH dengan cara
mendonorkan satu atom H-nya membentuk DPPHH. Ketika DPPHH terbentuk
warna larutan akan memucat dari ungu hingga kuning dan absorbansinya yang
diukur dengan Spektrofotometri pada panjang gelombang 517 nm akan semakin
mengecil (Yulianto dkk., 2015). Hasil pengamatan sampel setelah diberi DPPH
ditunjukkan pada Gambar 4.7.
34

Gambar 4.7 Larutan sampel ditambahkan dengan radikal DPPH

Berdasarkan Gambar 4.7 tidak dapat diamati secara langsung pemucatan


sebagai tanda terjadinya aktivitas antioksidan didalam larutan, namun dapat
dilakukan dianalisa dengan menggunakan Spektrofotometer UV-Vis dan diperoleh
% Penghambat pada sampel retentat dan permeat masing-masing adalah
9,195402% dan 0,623053%.
Hasil tersebut sesuai dengan konsentrasi masing-masing sampel dimana
juga diperoleh konsentrasi flavonoid di dalam retentat lebih tinggi dibandingkan
dengan konsentrasi flavonoid di dalam permeat. Hal ini mendukung rancangan
manfaat dari penelitian ini karena flavonoid dapat dipisahkan dan dipekatkan
dengan menggunakan membran ultrafiltrasi polietersulfon yang dimodifikasi
dengan nanopartikel Moringa oleifera.