Anda di halaman 1dari 3

Sehat di Usia Senja

Hari Sabtu, Tanggal 21 Februari 2009

Keinginan untuk tetap tampil muda dan sehat sudah muncul sejak berabad-abad lampau.
Orang Mesir rela berendam dalam lumpur karena kepercayaan lumpur bisa mengencangkan
kulit. Sampai-sampai lahir dongeng tentang air terjun yang bisa membuat orang awet muda di
berbagai negara.

Di Indonesia sendiri konon orang yang mencuci muka dengan air terjun Tirto Sari di Magetan,
Jawa Timur, bisa tetap cantik dan tetap terlihat muda.

Hingga kini, para ahli medis dan bioteknologi juga merasa tertantang untuk menyibak misteri
menunda ketuaan. Padahal kunci untuk tetap sehat dan awet muda itu ada dalam kehidupan
kita sehari-hari.

Orang tidak mau cepat tua tidak selalu identik dengan ingin tampil cantik atau tampan. Ada
juga faktor penyebab lain, yakni tidak ingin menderita sakit, ujar Maria Sulindro MD, Direktur
Medis Pasadena Anti-Aging Clinic di Jakarta, beberapa waktu lalu. Cukup banyak penyakit
yang mengancam akibat penuaan, seperti diabetes, osteoporosis, hipertensi dan sejenisnya.

Belum lagi berbagai efek samping dari obat-obatan yang sudah cukup lama dikonsumsi sejak
usia muda. Efek samping ini bisa berupa aneka ragam penyakit yang tidak kita alami di usia
belia. Ditambah dengan kondisi tubuh yang mengalami somatopause, yaitu saat di mana tubuh
berhenti memproduksi hormon-hormon yang sangat diperlukan seperti testoteron, progesteron,
estrogen dan sejenisnya. Pada kaum Adam, masa ini lebih populer dengan sebutan
andropause, sedangkan pada perempuan dikenal dengan nama menopause. Keduanya sama-
sama ditakuti sebab selain mengundang berbagai jenis penyakit penuaan juga mengurangi
keindahan penampilan.

Baik pada lelaki maupun perempuan, kehilangan hormon akan menurunkan aktivitas tubuh.
Penampilan mereka tidak lagi sesegar di saat belum memasuki masa somatopause.

Memang cukup banyak obat-obat dan layanan medis yang menjanjikan bisa menunda
penuaan. Namun tetap saja cara alami adalah yang terbaik. Ada beberapa program awet muda
yang di antaranya bisa kita terapkan sendiri dalam hidup sehari-hari. Hanya saja kebanyakan
orang merasa sangat sulit mempraktikkannya, komentar Maria yang lulusan American Board of
Anti-Aging Medicine di bawah naungan Harvard University ini.

Tidak Tiba-tiba

Penuaan tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan atas beberapa fase. Fase pertama adalah
subklinikal yang terjadi pada usia antara 25-35 tahun. Di fase ini hormon kita mulai mengalami
penurunan produksi. Penurunan ini mencapai 14 persen ketika seseorang berusia 35 tahun.
Polusi udara, diet yang tak sehat dan stres merupakan serangan radikal bebas yang dapat
merusak sel-sel tubuh. Di fase ini orang mungkin merasa sehat-sehat saja, padahal kerusakan
sel sudah mulai menyerang.

Fase berikut adalah transisi, yakni saat mencapai usia 35-45 tahun. Hormon manusia pada fase
ini menurun hingga 25 persen sehingga tubuh mulai mengalami tanda penuaan. Biasanya fase
ini ditandai dengan lemahnya penglihatan, tumbuh uban, berkurangnya stamina dan energi.
Repotnya, pada usia ini seseorang sangat berisiko terkena kanker sebagai akibat dari gaya
hidup yang tidak sehat sedari usia muda.

Dan puncak dari itu semua adalah fase klinikal, yakni di usia 45 tahun ke atas. Karena produksi
hormon terus berkurang hingga berhenti sama sekali, maka di fase ini kulit akan mengalami
dehidrasi dan tubuh cepat lelah. Penyakit kronis seperti hipertensi dan diabetes menjadi momok
yang mengerikan.

Karena proses penuaan ini terjadi dalam beberapa fase, maka sesungguhnya ada banyak
waktu tersedia untuk menghambatnya. Cepat atau lambatnya penuaan dipengaruhi oleh faktor
genetika alias keturunan sebanyak 30 persen. Sisanya, 70 persen lebih dipengaruhi oleh gaya
hidup. Seseorang yang rajin berolahraga, tidak perlu olah raga keras, terbukti bisa menangkal
sejumlah penyakit kardiovaskuler. Kian jauh seseorang dari derita penyakit jantung, stroke dan
sejenisnya, kian berbahagialah hidupnya. Dan kebahagiaan itu di sini merupakan salah satu
peran terbesar penunda penuaan. Tidak mungkin rasanya orang bisa terlihat sehat dan awet
muda kalau tubuhnya dihinggapi berbagai jenis penyakit berbahaya.

Olah raga yang dimaksud di sini adalah olah raga ringan yang kita bisa lakukan di sela aktivitas
keseharian. Kita tidak perlu menjadi seorang atlit. Senam kecil, lari atau jalan cepat agaknya
bukan aktivitas yang mengganggu untuk sering-sering dilakukan.

Hal kedua yang seharusnya bisa menjadi penunjang penunda penuaan adalah faktor diet dan
nutrisi. Tentu kita tak asing dengan idiom yang berbunyi you are is what you eat, yang artinya
kurang lebih apa yang kita makan menentukan seperti apakah tubuh kita. Menurut Maria yang
sudah 20 tahun bergelut di bidang medis ini, diet dan nutrisi sangat berperan dalam
menentukan proses penuaan dan kesehatan seseorang. Pada beberapa eksperimen oleh
ilmuwan, terbukti bahwa jumlah kalori yang berlebihan dalam tubuh makhluk hidup bisa
menyebabkan usia lebih pendek. Hal ini berlaku juga pada manusia. Maka sebaiknya
janganlah makan terlalu kenyang dan jangan tergoda untuk makan sebelum merasa lapar,
tutur Maria. Tentu saja tindakan bijak macam ini memerlukan usaha keras yang tidak mudah.
Tapi makin lama orang akan terbiasa dengan pola makan sehat.

Sulih Hormon ?

Kebiasaan menyantap cemilan atau kudapan juga berakibat buruk pada tubuh. Sayangnya,
kebiasaan macam ini sudah melekat sejak usia anak-anak. Sedari kecil kita sudah biasa
mengonsumsi permen dan kue-kue yang berasa manis dan mengandung kadar gula cukup
tinggi. Padahal makin banyak kadar gula yang masuk ke tubuh kita, makin berisiko pula kita
terkena kanker. Ini disebabkan sel kanker senang tumbuh pada tubuh yang memproduksi
insulin tinggi. Namun mengurangi konsumsi gula juga harus tetap seimbang jangan sampai
tubuh kekurangan zat satu ini.

Dan satu lagi kebiasaan buruk kita adalah senang makan ketika larut malam tiba. Padahal
menurut Maria, jam makan paling malam yang ideal bagi kesehatan adalah pukul enam sore.
Setelah lewat pukul enam sebaiknya orang tidak lagi mengonsumsi makanan berat seperti nasi,
gandum dan sejenisnya. Makanan-makanan berat ini akan memperberat kinerja hormon di saat
kita tertidur.

Selain makanan, adalagi hal lain yang harus diperhatikan, yakni stres. Benar kata pepatah
bahwa banyak marah bikin orang cepat tua. Stres yang berkepanjangan ada baiknya
dimanajemeni sedemikian rupa sehingga tidak terlalu menyiksa jiwa dan tubuh. Di saat stres,
terjadi stimulasi hormon kortisol yang justru mempercepat penuaan. Lebih dari itu, stres yang
berkepanjangan juga mengganggu jantung dan otak.
Ketiga hal ini sebenarnya bisa kita terapkan dalam keseharian, namun cukup sulit memang
untuk mempraktikkannya. Kebanyakan orang merasa malas atau berargumen tidak ada waktu
untuk berolah raga atau mengawasi jumlah makanan yang dilahap.

Padahal kalau saja ketiga hal itu bisa dilakukan, orang tidak perlu bersusah payah menjalani
pelbagai jenis pengobatan di untuk menunda penuaan. Memang di masa kini sudah cukup
banyak kemajuan medis yang bisa menjanjikan obat awet muda. Terapi sulih hormon
misalnya, bisa membuat orang berusia lanjut kembali memiliki stamina dan penampilan usia
belia. Namun menurut Maria, terapi sulih hormon yang dilakukan tidak sesuai prosedur justru
membahayakan pasien. Hormon estrogen yang tidak berasal dari bahan alami bisa
menyebabkan kanker rahim dan kanker payudara, demikian Maria. (mer)