Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Taman merupakan salah satu syarat yang penting dan tentunya harus
tersedia disetiap tempat yang menunjukan adanya suatu aktivitas, seperti
perkantoran, ruang publik dan rumah hunian. Fungsi pertamanan sangat
penting untuk memenuhi kebutuhan masyarakat luas akan tempat hiburan,
tempat untuk melepaskan lelah dari ketegangan-ketegangan pikiran setelah
bekerja secara terus-menerus (Eva, 2016). Di banyak Negara taman
berkembang sangat beragam mulai dari yang berukuran kecil atau minimalis
sampai taman yang luasnya mencapai ratusan hektar. Setiap daerah memiliki
ciri tersendiri terkait dengan bentuk, komponen dan desain dari tamannya. Hal
ini disesuaikan dengan kondisi latar belakang geografis atau topografi daerah
itu. Tentunya terbentuknya suatu taman tersebut tidaklah hanya dengan
sekedar menanam suatu pohon, membuat air mancur ataupun menambahkan
bebatuan di suatu ruang. Pande Artadi, (tahun 2012 dalam Jurnalnya yang
berjudul Rekontekstualisasi Keunggulan Lokal Taman Peninggalan Kerajaan-
Kerajaan di Bali pada Era Globalisasi) menyatakan bahwa dalam sejarah
peradaban manusia, arsitektur lansekap yang dirancang sebagai suatu
lingkungan binaan mulai dari skala yang paling kecil (rumah dengan
halamannya) sampai skala yang paling besar (negara dengan kota-kota dan
taman raya), adalah hasil dari suatu proses peradaban. Lingkungan binaan
yang mempunyai makna, fungsi dan bentuk menurut kebutuhan dan
kehidupan manusia, sangat ditentukan oleh kondisi alam, proses peradaban
dan perkembangan kebudayaan manusia.
Di era globalisasi ini perkembangan berbagai macam kebudayaan di
suluruh belahan dunia sangat pesat. Hal ini memungkinkan terjadi kondisi
tarik menarik antara kebudayaan lokal dengan tantangan dan pengaruh
globalisasi. Tak terkecuali kebudayaan yang ada di Bali. Sejak era kolonial,
Bali sudah dikunjungi wisatawan asing. Kebudayaan Bali kemudian banyak
diteliti dan dipublikasi berupa artikel atau buku yang ditulis oleh orang asing.
Dan tidak sedikit para wisatawan tersebut yang merasakan aura yang berbeda
ketika berada di Bali hingga akhirnya rela meninggalkan negara asalnya lalu
menetap di Bali. Salah satu keunggulan lokal Bali yang bisa diaktualisasikan
dalam konteks global adalah desain taman tradisionalnya. Bali cukup banyak
memiliki desain pertamanan yang merupakan peninggalan kerajaan-kerajaan,
baik yang berasal dari Zaman Bali Kuna maupun yang berasal dari Zaman
Bali Madya (setelah pengaruh Majapahit). Raja-raja Bali sebenarnya telah
banyak berperanan dalam penataan alam binaan di Bali. Antara lain dalam
bentuk karya-kaya desain pertamanan untuk tempat suci, tempat rekreasi dan
taman permandian. Berbagai gubahan bentuk dan ruang dapat kita saksikan
pada peninggalan karya-karya desain pertamanannya. Taman tradisional Bali
menurut Mugi Raharja sangat erat kaitannya dengan arsitektur tradisional
Bali. Perencanaan dan perancangan arsitekturnya sekaligus melahirkan taman
(ruang luar), yang terbentuk akibat peletakan massa-massa bangunannya dan
fungsinya untuk tempat bersenang-senang (rekreasi/lilacita). (Rahardja,
2010).
Berkaitan dengan hal terebut, desain taman menurut kebudayaan Bali
sangat menarik untuk dikaji. Berbagai macam kajian telah dilakukan oleh para
ilmuan asing terkait dengan budaya Bali. Di jaman yang serba canggih ini,
sudah sepatutnya para pemuda Indonesia khususnya Bali juga harus lebih di
depan dalam mengetahui apa yang telah diciptakan para leluhurnya. Sehingga
kita sebagai generasi penerus, mampu menghargai dan menjaga mahakarya
tersebut terutamanya di bidang arsitektur lanskap.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana konsep taman menurut kebudayaan Bali ?
2. Bagaimana konsep taman peninggalan kerajaan-kerajaan yang ada di Bali?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui konsep taman menurut kebudayaan Bali.
2. Untuk mengetahui konsep taman peninggalan kerajaan-kerajaan yang ada
di Bali.

1.4 Manfaat
Adapun manfaat yang ingin dicapai dari penyusunan makalah ini adalah
sebagai berikut :
1. Secara Teoritis
Secara teoritis makalah ini bermanfaat dalam memberikan tambahan
informasi mengenai konsep pertamanan menurut kebudayaan Bali
yang mana konsep tersebut pengaplikasiannya dapat dilihat pada
taman-taman yang dibuat oleh kerajaan-kerajaan yang ada di Bali.
2. Secara Praktis
a. Bagi Mahasiswa
Membantu mahasiswa dalam upaya menambah wawasan,
khususnya dalam bidang pertamanan.
b. Bagi Dosen
Dapat menjadi bahan refrensi untuk melakukan penilaian.
c. Bagi Penulis
Penulis dapat menambah kemampuan jurnalistik dalam menulis
tulisan ilmiah dan memiliki wawasan tambahan terkait dengan
pertamanan kerajaan yang ada di Bali.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Konsep Taman Menurut Kebudayaan Bali


Taman dari sudut pandang masyarakat Bali adalah tempat untuk
bersenang-senang (rekreasi/lilacita) milik raja atau dewa, seperti yang
dijumpai pada lontar Sutasoma, Arjuna Wiwaha dan Kidung Malat.
Dilukiskan pula bahwa di dalam taman akan dijumpai bunga-bunga yang
indah dan harum, pepohonan, kolam/telaga yang kadang-kadang dilengkapi
bangunan di tengah kolam. Pertamanan tradisional Bali sangat erat kaitannya
dengan arsitekturnya. Perencanaan dan perancangan arsitekturnya sekaligus
melahirkan taman (ruang luar), yang terbentuk akibat peletakan massa-massa
bangunannya. Dalam areal perumahan, ruang luar yang terbesar terdapat di
tengah-tengah areal rumah, yang disebut dengan natah (halaman rumah) atau
natar (Rahardja, 2012).
2.1.1 Konsep Filosofi Pertamanan Bali
Pertamanan Tradisional Bali mempunyai filosofi yang sangat tinggi,
sehingga dimuat di berbagai lontar dan kitab suci. Filosofi Pertamanan
Tradisional Bali diawali oleh cerita pemutaran Gunung / Mandara Giri. Dalam
lontar Adi Parwa halaman VXIX disebutkan bahwa dalam pemutaran Mandra
Giri di Ksirarnawa memunculkan beberapa komponen yaitu :
1. Ardha Chandra, atau bulan sabit, yaitu unsur keras dan keindahan
merupakan aspek bangunan dengan segala bentuk dan keindahannya.
2. Kayu Kasta Gumani, sebagai unsur tanaman yang memberi kehidupan
atau kalpataru, memunculkan Panca Wriksa yaitu lima tanaman pertama
yang tumbuh dan memberi kehidupan, yaitu :
a. Beringin (Ficus bengalensis) yang dapat memberikan keteduhan dan
kedamaian hidup
b. Ancak atau pohon bodhi (Hemandia pellata) sebagai tempat meditasi
untuk berhubungan dengan Tuhan, memohon kehidupan dan
kedamaian.
c. Pisang (Musa sp.), yang merupakan makanan yang memberikan
kehidupan
d. Tanaman uduh (Caryota mitis) yang merupakan tempat menerima
pituduh/wangsit atau petuah
e. Tanaman peji, sebagai tempat memuji atau menyembah kebesaran
Tuhan.
3. Air yang mengental, sebagai pelambang air kehidupan yang merupakan
unsur terpenting yang dapat memberikan kesejukan, baik kesejukan
pikiran maupun kesejukan lingkungan, jadi merupakan air amertha atau air
kamandalu, karena amertha berarti tidak mati atau kehidupan yang
langgeng. Penjabaran lebih jauh dari air ini, menghasilkan Pancara,
yaitu rekayasa air untuk lingkungan, yang meliputi : seta atau jembatan,
tama atau tetaman, tambak atau perikanan, telaga atau ekositem dan peken
atau pasar.
4. Dewi Laksmi, sebagai pelambang keindahan, baik dalam keindahan
kedamaian, keserasian, keharmonisan dan lingkungan, yang bermuara
memberikan amertha kehidupan bagi manusia dan makhluk hidup lainnya.
5. Kuda Oncersrawa (kuda putih), sebagai pelambang kreativitas tata ruang.
6. Bongkah, adalah sebagai pelambang bentuk yang tidak beraturan seperti
bebatuan, tanah.
7. Prelaya, adalah kehancuran, kematian atau tidak utuh.
Pemunculan komponen tersebut yang dipakai landasan dalam membuat
atau mendisain sebuah taman atau lanskap di Bali, yang harus sesuai pula
dengan unsur Satyam (kebenaran), Siwam (kebersihan, kesucian, kemuliaan),
Sundaram (keindahan, kecantikan, keharmonisan) yang menjiwai konsep Tri
Hita Karana, Tri Mandala, Tri Angga maupun Asta Dala (Prajoko, 2012).
Tri Hita Karana adalah tiga sebab yang memberikan kebahagiaan, yaitu
hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan sesama dan
hubungan manusia dengan lingkungannya. Konsep Tri Mandala (tiga areal)
juga dipakai dalam konsep ini, yaitu Utama Mandala nya adalah Parhyangan
atau tempat suci atau pemerajan atau sanggah, Madya Mandala nya adalah
pekarangan rumah yang meliputi bangunan tempat tinggal, dapur, kamar
mandi, kerumpu atau jineng dan teba atau tegalan, sedangkan Nista
Mandala nya adalah pekarangan luar rumah atau jaba atau pekarangan
sebelum memasuki pekarangan rumah. Selain itu juga memasukkan unsur Tri
Angga (tiga bagian badan), yaitu Ulu (kepala), Badan dan Kaki. Ulu (kepala)
adalah gunung, akan memberikan tuntutan berhubungan dengan Tuhan Yang
Maha Esa, agar mendapatkan kedamaian, kesejahteraan dan kebahagiaan lahir
dan batin. Badan adalah perkampungan dengan perkotaannya tempat
masyarakat mencari penghidupan, sedangkan Kakinya adalah lautan, tempat
membuang segala mala petaka dan kotoran lahir dan batin lainnya. Asta Dala
adalah delapan penjuru arah mata angin, yaitu Utara, Timur Laut, Timur,
Tenggara, Selatan, Barat Daya, Barat, Barat Laut (Prajoko, 2012).
2.1.2 Unsur-Unsur dalam Taman Bali
Dalam perwujudannya secara umum, taman tradisional Bali
menggambarkan hubungan antara taman sebagai mikrokosmos dengan alam
raya sebagai makrokosmos. Hubungan ini bisa terlihat dari unsur16 unsur
dalam taman yang terdiri dari lima unsur alam yang disebut Panca
Mahabhuta, yaitu: (1) apah, merupakan segala unsur cair di dalam taman; (2)
teja, merupakan segala unsur cahaya yang ada di dalam taman; (3) bayu,
adalah udara/angin; (4) akasa, adalah gas/eter/angkasa yang merupakan batas
imajinasi dalam ruang atau batas pandangan (cakrawala/horison/langit); (5)
pertiwi, adalah unsur tanah atau segala unsur padat di dalam taman.
Unsur tanaman yang ada di dalam taman tradisional Bali, secara umum
bersumber pada Lontar Taru Premana. Dalam lontar ini diuraikan khasiat
tanaman untuk obat. Penempatan tanaman dalam suatu tapak (site area)
taman, dapat disesuaikan dengan tata nilai ruang dan fungsi religi tanaman
tersebut. Dalam ajaran Agama Hindu, bunga memiliki dua fungsi, yaitu
sebagai simbol Tuhan (Siwa) dan kedua, sebagai sarana persembahan. Bunga
mempunyai pengaruh kesucian yang tinggi untuk membantu konsentrasi di
dalam melakukan pemujaan kepada Tuhan. Kekuatan suci dari bunga mampu
membawa keharmonisan alam sekitarnya. Penggunaan tanaman dengan
menggunakan konsep Catur Desa, diman konsep ini menggunakan pola mata
angin dalam menentukan warna tanaman yang digunakan. Berikut ini arah
mata angin beserta warna tanaman yang disarankan.
Utara : tanaman berwarna gelap (hijau tua, ungu)
Selatan : tanaman berbunga merah
Barat : tanaman berwarna kuning
Timur : tanaman berwarna terang (putih, kuning, krem)
Arah utara dan timur dipercaya sebagai arah yang suci sedangkan arah
barat dan selatan dipercaya sebagai arah yang tidak baik. Sebagai contoh,
tanaman pinang (Areca catechu) sebaiknya ditanam di bagian Selatan sebagai
pelambang dari Sang Hyang Brahma. Warna dari buah pinang adalah merah.
Warna merah drepresentasikan sebagai sesuatu yang buruk atau jahat.
Tanaman siulan (Aglaia odorata) sebaiknya ditanam di bagian Barat. Tanaman
ini bewarna kuning. Warna kuning ini dapat diartikan sebagai imej buruk yaitu
cemburu dan dengki. Tanaman ini biasanya banyak dipakai dalam kwangen
(sarana sembahyang). Tanaman teleng biru (Clitoria ternatea) dapat ditanam
di bagian Utara, digunakan dalam setiap sesaji. Bagian timur dapat
menggunakan tanaman melati (Jasminum sambac).
Jenis bunga yang digunakan dalam kegiatan ritual keagamaan disesuaikan
dengan warna yang dipilih sesuai dengan Asta Dala dan baunya yang harum.
Beberapa jenis bunga yang baik dipakai dalam persembahyangan masing-
masing Dewa yang dipuja adalah sebagai berikut:
1. Dewa Wisnu : bunga kenanga atau teleng,
2. Dewa Brahma : bunga mawar merah, bunga soka, kenyeri, kembang
kertas merah,
3. Dewa Iswara : bunga teratai putih, kamboja petak (putih), cempaka
putih.
4. Dewa Mahadewa : bunga teratai kuning, cempaka kuning, atau alamanda
Unsur bangunan yang ada pada taman tradisional Bali, jenis dan
bentuk bangunannya disesuaikan dengan fungsi suatu taman. Untuk taman
yang berfungsi sebagai tempat kegiatan keagamaan, maka akan dilengkapi
dengan jenis dan bentuk bangunan-bangunan suci. Sedangkan untuk taman
yang lebih banyak untuk fungsi rekreasi, bangunannya berupa balai
peristirahatan, seperti Bale kambang. Elemen-elemen taman yang bersifat fisik
dan menunjang estetika taman tradisional Bali, secara umum berupa menara
atau candi air mancur, patung dewadewi, patung-patung dari dunia
pewayangan atau patung-patung binatang yang diambil dari ceritera rakyat

2.2 Konsep Taman Peninggalan Kerajaan-Kerajaan yang Ada di Bali


Di zaman kerajaan, raja-raja Bali sangat berperanan dalam terciptanya
desain arsitekstur pertamanan di Bali. Karya arsitektur pertamanan itu
diwujudkan diantaranya dalam bentuk taman untuk tempat suci, tempat
rekreasi kerajaan dan taman permandian. Beberapa peninggalan arsitektur
pertamanan kerajaan-kerajaan di Bali masih dapat kita lihat di beberapa
kabupaten diantaranya adalah Gianyar (Pura Tirta Empul & Goa Gajah),
Badung (Pura Taman Ayun), Klungkung (Taman Gili Kertha Gosa) dan
Karangasem (Taman Soekasada Ujung & Taman Tirta Gangga).
2.2.1 Pura Tirta Empul
Taman Permandian Tirta Empul, kini berada di lingkungan Pura Tirta
Empul, Tampaksiring, Kabupaten Gianyar. Berdasarkan prasasti batu di Pura
Sakenan Desa Manukaya, yang dibaca oleh Prof. Dr. Stutterheim (Belanda),
disebutkan bahwa permandian ini dibangun oleh Raja Sri Candrabhaya Singha
Warmadewa pada 962 Masehi, di bulan Kartika (Oktober), saat bulan terang
tanggal 13 (dua hari sebelum purnama), hari pasaran Kajeng. Kemudian hasil
pembacaan ulang yang dilakukan oleh Dr. L C Damais (Perancis), meyebutkan
bahwa raja yang membangun permandian Tirta Empul adalah Edra Jaya
Singha Warmadewa pada 882 Saka atau 960 Masehi (Achadiati, 1988).
Selanjutnya pada masa pemerintahan pasangan Raja Sri Dhanadhiraja
Lancana Sri Dhanadewi Ketu (Masula Masuli) yang memerintah pada
1178 1255, dibangunlah Pura Tirta Empul. Pembangunan Pura Tirta Empul
ini dimaksudkan sebagai tempat suci (padharman) Bathara Indra, dirancang
oleh I Bandesa Wayah. Semua pancuran di Taman Permandian Tirta Empul
kemudian diberi tanda sesuai dengan fungsinya (Mugi Rahardja, 2009).
Gambar 1. Pura Tirta Empul
Mata air Tirta Empul berada di halaman dalam (Jeroan) Pura Tirta
Empul ditampung dalam sebuah kolam besar dan dinamakan Taman Suci.
Kolam dengan pancuran yang ada di sisi barat Pura disebut Tirta Surya Bulan
Bintang. Sedangkan Taman Permandian Tirta Empul berada di sisi selatan
Pura, terdiri dua buah kolam yang dipisahkan oleh jalan menuju ke dalam
Pura. Kolam permandian dengan 13 pancuran yang ada di barat jalan
berfungsi untuk pembersihan rohani dan untuk air suci upacara kematian.
Kolam dengan pancuran di timur jalan berfungsi untuk air suci upacara
keagamaan. Di halaman luar (Jabaan) Pura Tirta Empul juga dibangun kolam
renang, serta permandian umum untuk pria dan wanita, berupa pancuran di
bagian tenggara halaman.

Gambar 2. Taman Pemandian di Pura Tirta Empul


2.2.2 Taman Permandian Gua Gajah
Taman permandian Gua Gajah terletak di obyek purbakala Gua Gajah,
yang berada di Banjar (dusun) Goa, desa Bedulu, Kecamatan Blahbatuh,
wilayah Kabupaten Gianyar. Taman permandian yang berupa kolam dan
pancuran ini ditemukan pada 1954 oleh Krijgsman dari Dinas Purbakala,
sedangkan guanya sendiri ditemukan lebih awal, yakni pada 1923 (kempers,
1960: 39 dan 42). Kolam permandian Gua Gajah berada di depan gua dengan
letak lebih rendah dari gua. Di sebelah timur permandian tersebut dibangun
Pura Gua Gajah, yang dulunya berada di lokasi Taman Permandian, saat
permandian tersebut masih tertimbun tanah.

Gambar 3. Pura Goa Gajah


Permandian Gua Gajah menghadap ke barat, terdiri dari 2 kelompok
permandian yang dipisah oleh sebuah kolam kecil di tengah-tengahnya. Arca-
arca pancuran berbentuk wanita yang semula ditemukan di depan gua,
kemudian dikembalikan pada tempatnya di permandian, serta difungsikan
sebagai arca pancuran. Sumber air pancuran dialirkan dari timur gua melalui
saluran aslinya, yang berupa terowongan di dalam tanah.

Gambar 4. Taman Pemandian di Pura Goa Gajah


Arca-arca pancuran Permandian Gua Gajah terbuat dari batu cadas, di
pasang secara berjajar di atas lapik teratai dalam dua kelompok menghadap ke
barat. Tiga buah di ruang permandian sebelah utara, tiga buah di ruang
permandian sebelah selatan dan di kolam tengah dipasang sebuah arca laki-
laki. Bentuk arca-arca pancuran ini sama dengan arca-arca pancuran di
permandian Belahan pada lereng timur Gunung Penanggungan (Jatim), yang
merupakan padharman Raja Airlangga (1019-1049). Hanya saja air yang
keluar dari arca pancuran permandian Belahan yang berwujud wanita, keluar
dari susunya. Sedangkan yang di permandian Gua Gajah keluar dari kendi
yang dipegang arca pancuran berwujud wanita (Ardana, 1971: 50).
2.2.3 Pura Taman Ayun

Gambar 5. Jaba Pura Taman Ayun


Pura Taman Ayun merupakan tempat suci dan taman peninggalan
Kerajaan Mengwi. Pura Taman Ayun ini berada di luar lingkungan keraton
(Puri) Mengwi, yakni sekitar 100 meter di timur keraton. Sebagai sebuah
karya arsitektur pertamanan, wujud rancangan Taman Ayun sangat menarik,
karena berupa sebuah daratan di tengah telaga yang membentang dari utara ke
selatan. Wujud ini diperoleh dengan cara membendung 2 buah aliran sungai
kecil sehingga diperoleh daratan yang dikelilingi telaga (Raharja, 1999).
Sebagai penghubung antara daratan yang dikelilingi telaga dengan jalan raya,
dibuatlah jembatan di atas telaga pada ujung selatan dan drainasenya ada di
bagian tenggara dari telaga tersebut.
Ditinjau dari segi etimologinya, Taman Ayun berarti taman yang indah
yang menjadi sumber kebahagiaan di dunia. Taman Ayun juga memiliki
makna taman yang memiliki tata nilai utama. Sebab, selain sebagai tempat
rekreasi, fungsi Taman Ayun yang utama adalah sebagai tempat suci (pura)
untuk memuja Tuhan dan energi tempat-tempat suci (pura) besar di Bali,
untuk memuja roh suci pendeta yang berjasa di Bali, tempat memuja roh-roh
suci leluhur Kerajaan Mengwi, dan roh suci leluhur klan warga Pasek Badak
di Mengwi.

Gambar 6. Kolam yang mengelilingi Pura Taman Ayun

Menurut Cokorde Gede dalam Raharja (1994), pada Babad Mengwi


disebutkan bahwa Taman Ayun dibangun bersamaan dengan pembangunan
Puri Mengwi pada 1627. Taman Ayun dibangun atas prakarsa pendiri Kerajaan
Mengwi, I Gusti Agung Ngurah Made Agung yang bergelar Ida Cokorda Sakti
Blambangan. Penobatannya dilakukan di Taman Ayun, bersamaan dengan
peresmian (pemelaspasan) Pura Taman Ayun tahun 1634. Dan untuk
mengingatkan pertalian hubungan kekerabatan antara Kerajaan Mengwi
dengan Kerajaan Klungkung, maka bentuk Kori Agung Pura Taman Ayun
dibuat mirip dengan Kori Agung Puri Semarapura Kerajaan Klungkung.
Taman Ayun pernah direnovasi pada 1750, dibantu oleh Hobin Ho, seniman
ahli bangunan (artisan) dari China. Hobin Ho sebelumnya berada di Kerajaan
Blambangan (Jatim), saat Blambangan menjadi wilayah Kerajaan Mengwi
Hobin Ho kemudian diajak ke Mengwi untuk membantu merenovasi Taman
Ayun pada 1750.

Gambar 7. Kolam beserta air mancur di salah satu sudut Pura Taman Ayun
Sebagai tempat suci di tengah taman, Pura Taman Ayun dibagi dalam
tiga strata ruang (Tri Mandala). Pada bagian hulu tapak, disebut Jeroan
(Utama Mandala) merupakan zona tersuci, antara lain dibangun Padmasana
untuk tempat pemujaan Tuhan dan Meru untuk tempat pemujaan manifestasi
kekuatan Tuhan dari beberapa pura besar Bali. Khusus untuk tempat pemujaan
roh-roh suci leluhur keluarga Kerajaan Mengwi, bangunannya disebut Gedong
Paibon. Dan bagi keluarga parjurit kerajaan Bala Putra Teruna Bata Batu
dibuatkan tempat suci khusus bagi roh suci Pasek Badak yang dihormatinya.
Di zona tempat suci Utama Mandala, dikelilingi oleh kolam kecil, sehingga
antara tapak tempat suci dengan tembok pembatas (penyengker) Pura Taman
Ayun seakan betul-betul terpisah.
Pada halaman tengah (Jaba Tengah) yang merupakan ruang transisi
(Madya mandala), antara lain terdapat bangunan Bale Pangubengan
(bangunan khusus ruang peralihan) yang berfungsi mengalihkan pola sirkulasi
aksial (poros) dari halaman luar. Pola sirkulasi ini secara sosial politik
menunjukkan makna aristokrasi kekuasaan yang bersifat keduniawian. Bale
Pengubengan yang dihias dengan ornamen Dewata Nawasanga (manifesatsi
Tuhan di sembilan penjuru mata angin) dapat menyadarkan umat, bahwa
dirinya ada di ruang peralihan, antara ruang provan dengan ruang suci. Pola
sirkulasi aksial ini diputus saat memasuki Kori Agung Pura, dalam bentuk
tembok yang disebut Aling-aling. Selain Bale Pangubengan, di Jaba Tengah
juga terdapat bangunan Gedong Alit Pura Bekak, untuk energi tempat suci
yang pernah ada sebelum Taman Ayun dibuat, Bale Kulkul (tempat
kentongan), Bale Loji (bangunan untuk penjaga pura) dan dapur (pawaregan).
Antara halaman tengah dengan halaman dalam dipisahkan lagi dengan tembok
pembatas yang menyatu dengan pintu gerbang utama (Pemedal Agung/Kori
Agung) Pura Taman Ayun.

Gambar 7. Utamaning Mandala di Pura Taman Ayun


Pada halaman luar (Jabaan) yang merupakan ruang bernilai provan
(Nista Mandala), dimanfaatkan sebagai ruang persiapan dan penunjang
kegiatan ritual di Pura Taman Ayun. Pada halaman terluar ini (paling selatan)
terdapat wantilan, sebagai bangunan untuk kegiatan sosial dan pertunjukan,
Bale Bengong berupa balai bundar bertiang 8 (delapan) untuk beristirahat, dan
kolam dengan candi air mancur. Antara halaman luar dengan halaman tengah
dipisahkan dengan tembok pembatas dan candi bentar.
2.2.4 Taman Gili Kertha Gosa
Taman Gili berada di pusat Kota Smarapura (Klungkung), yakni di
sudut barat daya perempatan Kota Smarapura (Jl. Surapati Jl. Raya Gelgel).
Pada era 1980-an, pintu masuk ke area Taman Gili adalah dari arah utara (Jl.
Surapati). Tetapi di era 2000-an, pintu masuk utara tidak difungsikan. Pintu
masuk baru dibuat di bagian timur (J. Raya Gelgel). Taman Gili adalah karya
desain pertamanan peninggalan Kerajaan Klungkung.
Gambar 8. Taman Gili

Taman ini diperkirakan dibuat sekitar tahun 1710 oleh Raja I Dewa
Agung Jambe, bersamaan dengan pembangunan Keraton (Puri) Semarapura.
Pada mulanya Taman Gili hanya disebut Bale Kambang, dengan dimensi
tidak begitu besar. Tetapi pada zaman kolonial Belanda dimensinya diperbesar
dan kemudian ditetapkan dengan nama Taman Gili pada tahun 1929 oleh
Dewa Agung Oka Geg, Kepala Pemerintahan Swapraja saat itu.
Letak Taman Gili dalam tata ruang keraton adalah di bagian timur laut
keraton atau di timur halaman depan (bencingah) keraton Kerajaan
Klungkung. Di sudut timur laut area Taman Gili terdapat bangunan Bale
Kertha Gosa, yang pada zaman kerajaan digunakan sebagai balai pertemuan
raja-raja Bali dan di zaman kolonial digunakan sebagai balai sidang
pengadilan Rad van Kertha.
Fungsi Taman Gili di jaman kerajaan adalah sebagai taman
peristirahatan dan kadang-kadang juga dimanfaatkan sebagai tempat kegiatan
upacara bagi keluarga kerajaan, seperti upacara Potong Gigi. Selain itu Taman
Gili juga pernah difungsikan sebagai markas Pasukan Kawal Kehormatan
Istana. Dan setelah Belanda menguasai Klungkung, fungsi Taman Gili
menjadi tidak jelas (Warsika, 1986).
Gambar 9. Bangunan Bale Kertha Gosa

Wujud desain Taman Gili adalah berupa balai peristirahatan terbuka di


tengah kolam (Bale Kambang). Pondasi bangunannya dirancang berbentuk
penyu raksasa di tengah kolam segi empat. Untuk menghubungkan Bale
Kambang dengan tepi kolam dibangun sebuah jembatan di tengah kolam
bagian utara.
2.2.5 Taman Soekasada Ujung
Taman Soekasada adalah taman peninggalan Kerajaan Karangasem, yang
dibangun pada sebuah lembah perbukitan di Desa Ujung, sehingga taman ini
juga disebut Taman Ujung. Sebelum Perang Dunia II, Taman Ujung dikenal
sebagai Istana Air (Water Palace) Kerajaan Karangasem. Fungsi Taman Ujung
adalah sebagai taman rekreasi dan peristirahatan raja Karangasem dan
keluarga, serta tamu-tamu besar yang mengunjungi Kerajaan Karangasem.
Tamu-tamu besar kerajaan yang pernah mengujungi Taman Ujung antara lain
Raja Siam (Thailand), Gubernur Jenderal Belanda, Koochin China (Gubernur
Jenderal Perancis), Mangku Negara VII, Sultan Paku Buwana dan Paku Alam.
Sejak tahun 1928 Taman Ujung sudah sering dikunjungi wisatawan asing.
Pada 1970 seorang warga negara Australia asal Belanda bernama De Neeve,
pernah mendapat izin menetap di Taman Ujung untuk memugar taman yang
mengalami kerusakan akibat meletusnya Gunung Agung pada 1963.
Gambar 10. Taman Ujung

Kerusakan Taman Ujung bertambah parah setelah gempa bumi


(1976, 1978, 1980), sehingga tidak pernah lagi dikunjungi wisatawan.
Usaha perbaikan kemudian dilakukan oleh Kantor Suaka Peninggalan
Sejarah Bali, dengan melakukan rekonstruksi awal pada 1998. Selanjutnya
dilakukan perbaikan dan rekonstruksi oleh Dinas Pariwisata Karangasem
pada 2001. Peresmian revitalisai Taman Soekasada di Desa Ujung
Karangasem, dilakukan oleh Gubernur Bali Dewa Brata, dengan
penandatanganan prasasti pada Sabtu, 18 September 2004. Taman Ujung
yang dibangun di sebuah lembah perbukitan, seluruh lansekapnya terlihat
dari punggung bukit di utara. Lansekap sawah bertangga (terasteras)
nampak membentuk perbukitan melingkar di bagian barat. Perbukitan
yang ada di bagian timur Taman Ujung nampak melingkar dari selatan ke
utara.

Gambar 11. Taman Ujung

Sumber: newspembaharuindonesia.wordpress.com
Wujud desain Taman Ujung nampak didominasi oleh unsur air,
yang ditampung dalam empat buah kolam. Kolam yang terbesar adalah
Kolam IV, yang terkecil Kolam III, dan yang berukuran sedang adalah
Kolam I dan II. Di tengah Kolam I, terdapat bangunan peristirahatan
utama (Gili A) yang dihubungkan oleh dua buah jalan di atas kolam dan
dilengkapi gardu jaga (Kanofi) di kedua ujung jalan. Bangunan
peristirahatan utama (Gili A) yang berada di tengah Kolam I, bangunannya
seperti paviliun dengan 4 buah kamar peristirahatan untuk raja. Ruang
tengahnya berisi aula, tempat menerima tamu kerajaan. Ruang ini dihiasi
pajangan foto-foto keluarga raja. Di tepi barat Kolam I, dibuat permukaan
tanah agak tinggi untuk bangunan Bale Bundar bertiang 12 (dua belas). Di
tengah Kolam II, dibuat bangunan peristirahatan Bale Kambang (Gili B)
yang dihubungkan oleh jalan di atas kolam. Di sebelah barat Kolam IV,
pada permukaan tanah yang meninggi (bukit utara), dibangun tempat
peristirahatan yang diberi nama Bale Warak, karena dilengkapi patung
badak (warak) bercula satu dan air mancur. Menurut informasi A.A.
Ngurah, penglingsir Puri Gede Karangasem, patung badak itu dibuat
sebagai kenangan terhadap binatang badak yang digunakan sebagai
pelengkap upacara Dewa Yadnya dan Maligia di Puri Agung Kawan
Karangasem.
Taman Ujung yang dibangun oleh Ida Anak Agung Bagus Jelantik
atau Ida Anak Agung Anglurah Ktut Karangasem, adalah raja Karangasem
terakhir (Stedehouder II) yang memerintah pada1908-1950 . Taman Ujung
dibangun bersamaan dengan pengembangan Puri Agung Kanginan pada
1909 (Mirsa (et.al), 1978: 80). Puri Agung Kanginan telah dibangun pada
1896, saat Anak Agung Gde Jelantik menjadi raja (Stedehouder I).
Pembangunan Puri Kanginan dibantu oleh artisan dari China, setelah
pembangunan Taman Narmada di Lombok.
Gambar 12. Taman Ujung dilihat dari arah Barat.

Dengan ikut sertanya artisan dari China yang ikut membangun Puri
Kanginan, menyebabkan pintu gerbang Puri Kanginan bentuknya
menyerupai menara. Di dalam lingkungan puri (keraton), ada juga
bangunan persembahyangan menyerupai bentuk bangunan klenteng.
Kemegahan beberapa bangunan yang dihias dengan ornament China masih
bisa dilihat sampai tahun 1940. Taman Soekasada di Desa Ujung,
diperkirakan sudah menjadi tempat rekreasi bagi keluarga Kerajaan
Karangasem, jauh sebelum Taman Ujung dibangun oleh Anak Agung
Bagus Jelantik.
Untuk masuk ke area Taman Ujung, dapat dilalui melalui tiga pintu
masuk. Bila masuk dari pintu masuk pertama (Gapura I) yang ada di
sebelah barat, akan melewati bangunan yang disebut Bale Kapal,
selanjutnya akan menuruni perbukitan melalui beberapa anak tangga.
Pintu masuk kedua (Gapura II) di sebelah selatan, untuk pengunjung yang
menggunakan kendaraan. Jalan masuknya diapit oleh Kolam II dan III.
Kolam paling selatan (Kolam III), menurut informasi yang dipasang di
bangunan paviliun, merupakan kolam yang mengawali pembangunan
Taman Ujung pada 1901. Di kolam ini, dahulu ditebar ikan hias, ditanami
bunga teratai dan rumput ganggang yang disebut Rangdenggirah, sehingga
kolam ini juga disebut Kolam Dirah. Pintu masuk ketiga (Gapura III) ada
di sebelah timur, merupakan pintu masuk yang paling sering digunakan,
sebab paling dekat dengan pusat pertamanan yang dilengkapi air mancur.
Jalan masuk Gapura III diapit oleh Kolam III dan persawahan.
2.2.6 Taman Tirta Gangga

Gambar 13. Taman Pemandian Tirta Gangga


Taman Tirta Gangga juga merupakan taman peninggalan Kerajaan
Karangasem, yang terletak di desa Ababi, Kecamatan Abang, Kabupaten
Karangasem. Sebagai obyek wisata, di bagian dalam area Taman Tirta
Gangga dilengkapi penginapan untuk disewakan, restoran, dan tempat
peristirahatan keluarga Puri Karangasem (dr. A. A. Made Djelantik). Di
luar area Taman Tirta Gangga, terdapat restoran, warung cinderamata,
serta warung kecil untuk makan dan minum. Fungsi Taman Tirta Gangga
selain untuk tempat rekreasi keluarga raja Karangasem, juga memiliki
fungsi sosial, karena sumber airnya juga dimanfaatkan untuk mengairi
sawah-sawah penduduk di sekitarnya. Selain itu Taman Tirta Gangga juga
memiliki fungsi religius, sebab mata airnya yang ada di barat laut taman
pada topografi yang agak tinggi, digunakan sebagai air suci (tirta) kegiatan
keagamaan. Mata air ini diberi bangunan pelindung air. Daun pohon
beringin yang ada di tempat suci mata air Tirta Gangga, juga digunakan
sebagai pelengkap upacara pitra yadnya. Mata air khusus untuk taman,
terdapat di sebelah utara area taman, yang dulu ditumbuhi pohon rijasa
(anyang-anyang, Alaecarpur Grandi). Itulah sebabnya taman ini juga
disebut Taman Rijasa.
Gambar 13 . Taman Tirta Gangga

Pembangunan Taman Tirta Gangga merupakan kelanjutan dari


pembangunan taman-taman besar oleh raja Karangasem terakhir
(Stedehouder II), Anak Agung Bagus Jelantik (Ida Anak Agung Anglurah
Ktut Karangasem). Sebelum dibangun taman, di lokasi ini telah ada
sumber mata air (kelebutan) yang terletak pada kaki perbukitan di barat
laut area taman. Sumber mata air ini sering digunakan untuk air suci (tirta)
dan untuk mengairi sawah oleh masyarakat setempat. Raja Anak Agung
Bagus Jelantik atau Ida Anak Agung Anglurah Ktut Karangasem tertarik
menjadikan kawasan ini sebagai taman kerajaan. Lalu dibangunlah Taman
Tirta Gangga pada 1948 di lokasi ini

Gambar 14. Salah satu patung berbentuk Singa Raja di kawasan Tirta Gangga

Wujud desain Taman Tirta Gangga didominasi oleh unsur air, yang
ditampung dalam beberapa buah kolam yang berpola geometris (persegi
dan lingkaran). Kolam air ini terbagi menjadi petak besar dan kecil karena
dipisah oleh jalan atau sirkulasi pada kolam. Adanya perbedaan letak
kolam, juga disebabkan oleh perbedaan topografi permukaan tanah. Kolam
yang ada di sebelah utara jalan masuk, terbagi dalam tiga kelompok
fungsi. Kolam paling timur, merupakan kolam hias dengan air mengucur
dari patung-patung binatang di tepi kolam. Kolam ini, sekarang diisi
betonbeton sebagai alas pijakan, agar dapat berjalan di atas permukaan air
kolam. Kolam di bagian tengah, merupakan kolam hias berbentuk
lingkaran, dengan titik pusat berupa Menara Air Jalatunda, yang menjadi
daya tarik Taman Tirta Gangga. Dalam bahasa kawi (Jawa kuno), jala
berarti air, tunda berarti bertingkat-tingkat atau paruh burung.
Dengan demikian Jalatunda berarti air yang bertingkat-tingkat
seperti paruh burung, mengecil ke atas. Karena itulah air mancur ini
dirancang bersusun mengecil ke atas seperti bentuk menara. Kolam
Menara Air Jala Tunda, juga dihias dengan air yang mengucur dari arca-
arca kepala naga di sekeliling kolam yang berbentuk lingkaran, kemudian
dicurahkan ke kolam di luarnya yang berbentuk persegi. Kemudian kolam
di sebelah baratnya merupakan kolam permandian umum, dengan air yang
mengucur dari patung-patung binatang di tepi kolam.
BAB III
PENUTUP

3.1 Simpulan
Terdapat banyak taman yang ada di Bali, seperti Taman Gili Kertha Gosa,
Taman Permandian Tirta Empul, Taman Pemandian Goa Gajah, Taman Ayun,
Taman Soekasada Ujung (Taman Ujung), dan Taman Tirta Gangga (Rijasa). Dari
seluruh taman tersebut terdapat sejarah dan peninggalan dari raja-raja yang
terdahulu mendiami tempat tersebut sehingga sampai saat ini masih dilestarikan
dan dijaga keasliannya.

3.2 Saran
Bagi pembaca, agar tetap menjaga dan melestarikan taman-taman
peninggalan sejarah dengan tidak merusaknya dan menjadikan makalah ini
sebagai salah satu media referensi untuk menambah pengetahuan pembaca
mengenai taman-taman tradisional yang terdapat di Bali.
DAFTAR PUSTAKA

Achadiati, S.Y. dkk. 1988. Sejarah Peradaban Manusia Zaman Bali Kuno.
Penerbit Gita Karya. Jakarta

Hakim, Luqmanul. 2013. Kajian Arsitektur Lanskap Rumah Tradisional


Bali sebagai Pendekatan Desain Arsitektur Ekologis. Economic
Development Analysis Journal, Volume 1, No. 2, Oktober 2013.
Semarang: Universitas Negeri Semarang

Gelebet, Nyoman. 1986. Arsitektur Tradisional Daerah Bali. Proyek


Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah Bali. Denpasar

Mirsha (et.al). 1978. Petunjuk Wisatawan di Bali. Denpasar: Proyek sasana


Budaya Bali.

Raharja, I Gede Mugi (et.al.). 1994. Pertamanan Pura Taman Ayun


Mengwi Di Kabupaten Badung (Suatu Analisis Disain). Denpasar:
Laporan Penelitian Program Studi Seni Rupa Dan Desain Universitas
Udayana.

Raharja, I Gede Mugi. 1999. Makna Ruang Arsitektur Pertamanan


Peninggalan Kerajaan- Kerajaan di Bali Sebuah Pendekatan
Hermeneutik. Badung: Thesis Pascasarjana Seni Rupa dan Desain, PS
Seni Rupa Dan Disain Universitas Udayana.

Raharja, I Gede Mugi. 2013. Studi Bentuk dan Ruang Desain Pertamanan
Tradisional Peninggalan Kerajaan Kerajaan di Bali . Denpasar:
Jurnal Jurusan Seni Rupa dan Desain, PS Seni Rupa Dan Disain.
Institut Seni Indonesia Denpasar.

Prajoko, Ahmad. 2012. Pertamanan Tradisional Bali Berlandaskan Unsur


Satyam, Siwam, Sundaram, Relegi Dan Usada. Jakarta