Anda di halaman 1dari 16

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Konsep Dasar Masa Nifas


2.1.1 Pengertian
Masa nifas (puerperium) adalah masa pulih kembali mulai dari persalinan
selesai sampai alat alat kandungan kembali seperti pra hamil, lama masa nifas
adalah 6 8 minggu (Mochtar, 2011). Pada waktu hamil dapat terjadi perubahan
besar pada otot rahim yang mengalami pembesaran ukuran karena pembesaran
selnya (hipertrofi) dan selnya (hiperplasi) sehingga dapat menampung
pertumbuhan dan perkembangan janin sampai cukup bulan dengan berat > 2500
gram. Berat rahim menjadi sekitar 1 kg yang semula hanya 30 gr, setelah
persalinan terjadi proses sebaliknya yang disebut involusi (kembalinya rahim
keukuran semula) dimana secara berangsur angsur mengecil kembali sampai
berat semula pada minggu ke 7 (42 hari) proses ini begitu cepat dengan
perkiraan urutan setelah persalinan (Manuaba, 2012).
Masa nifas atau masa puerperium mulai setelah partus selesai dan berakhir
setelah kira kira 6 minggu. Akan tetapi seluruh alat genital baru pulih kembali
seperti sebelum ada kehamilan dalam 3 bulan (Prawirohardjo, 2010).
Pada masa ini terjadi perubahan-perubahan fisiologi, yaitu :
Perubahan fisik
Involusi uterus dan pengeluaran lokhia
Laktasi/pengeluaran air susu ibu
Perubahan sistem tubuh lainnya
Perubahan psikis
Tujuan asuhan masa nifas :
- Menjaga kesehatan ibu dan bayinya, baik fisik maupun psikologik.
- Melaksanakan skrining yang komprehensif, mendeteksi masalah,
mengobati, atau merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu maupun pada
bayinya.
- Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri, nutrisi,
keluarga berencana, menyusui, pemberian imunisasi kepada bayinya dan
perawatan bayi sehat.
- Memberikan pelayanan keluarga berencana (Saifuddin, 2010).

1
2.1.2 Pembagian Masa Nifas
Menurut Mochtar Rustam (2012), nifas dibagi menjadi 3 periode:
a. Puerperium dini yaitu kepulihan kembali dimana ibu telah diperbolehkan
berdiri dan berjalan jalan, dalam agama Islam dianggap telah bersih
dan boleh bekerja setelah 40 hari.
b. Puerperium intermedial yaitu kepulihan menyeluruh di genetalia yang
lamanya 6 8 minggu.
c. Remote Puerperium yaitu waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat
sempurna terutama bila selama masa hamil dan waktu persalinan
mempunyai komplikasi, waktu untuk sehat sempurna bisa berminggu
minggu, bulan bahkan tahunan.

2.1.3 Kebijakan Program Nasional Masa Nifas


Selama ibu berada pada masa nifas, paling sedikit 4 kali bidan harus
melakukan kunjungan, dilakukan untuk menilai keadaan ibu dan bayi baru lahir,
dan untuk mencegah, mendeteksi dan menangani masalah-masalah yang terjadi.
Seorang bidan pada saat memberikan asuhan kepada ibu dalam masa nifas, ada
beberapa hal yang harus dilakukan, akan tetapi pemberian asuhan kebidanan pada
ibu masa nifas tergantung dari kondisi ibu sesuai dengan tahapan
perkembangannya.
Kunjungan ke-1 (6-8 jam setelah persalinan): mencegah perdarahan masa
nifas karena atonia uteri, mendeteksi dan merawat penyebab lain perdarahan,
rujuk bila perdarahan berlanjut, memberikan konseling pada ibu atau salah satu
anggota keluarga bagaimana cara mencegah perdarahan masa nifas karena atonia
uteri, pemberian ASI awal, melakukan hubungan antara ibu dan bayi baru lahir,
menjaga bayi tetap sehat dengan cara mencegah hipotermi. Jika petugas kesehatan
menolong persalinan, ia harus tinggal dengan ibu dan bayi baru lahir 2 jam
pertama setelah kelahiran, atau sampai ibu dan bayi dalam keadaan sehat.
Kunjungan ke-2 (6 hari setelah persalinan): memastikan involusi uterus
berjalan normal, uterus berkontraksi, fundus di bawah umbilikus, tidak ada
perdarahan abnormal, tidak ada bau, menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi
atau perdarahan abnormal, memastikan ibu mendapat cukup makanan, cairan, dan
istirahat, memastikan ibu menyusui dengan baik dan tak memperlihatkan tanda-

2
tanda penyulit, memberikan konseling pada ibu mengenai asuhan pada bayi, tali
pusat, menjaga bayi tetap hangat dan merawat bayi sehari-hari.
Kunjungan ke-3 (2 minggu setelah persalinan), sama seperti kunjungan hari
keenam.
Kunjungan ke-4 (6 minggu setelah persalinan): menanyakan pada ibu
tentang penyulit penyulit yang ia atau bayi alami, memberikan konseling untuk
KB secara dini (Suherni, 2011).

2.1.4 Perubahan Fisiologis Masa Nifas


a. Uterus
Involusi uterus merupakan suatu porses kembalinya uterus ke keadaan
sebelum hamil dengan berat sekitar 60 gram. Proses ini dimulai segera setelah
plasenta lahir akibat kontraksi otot-otot polos uterus (Ambarwati, 2010).
Segera setelah persalinan terjadi retraksi dan kontraksi uterus yang secara
anatomis merupakan suatu bentuk anyaman, sehingga pembuluh darah akan
tertutup rapat. Penutupan pembuluh darah ini akan diikuti dengan pembentukan
thrombus dan timbunan fibrin sehingga perdarahan makin kecil terjadi. Secara
rinci perubahan uterus pada masa nifas yaitu segera setelah persalinan, sekitar
1000gr, terjadi involusi uterus oleh jaringan ikat, berat uterus dan tingginya
semakin kecil, hari ke-7 500gr, hari ke-14 300gr, hari ke-28 50gr, dan setelah
satu bulan fundus uteri tidak lagi diatas simpisis (Manuaba, 2010).

Tabel I. tinggi fundus uteri dan berat uterus menurut masa involusi.
Involusi Tinggi fundus uteri Berat
uterus
Bayi Setinggi pusat 1000 gram
lahir
Uri lahir 2 jari di bawah pusat 750 gram
1 Pertengahan 500 gram
minggu pusat sympisis
2 Tidak teraba 350 gram
minggu di atas sympisis
6 Bertambah kecil 50 gram
minggu
8 Sebesar normal 30 gram
minggu
(Mochtar, 2011).

3
b. Kerusakan dan Perbaikan Jaringan Lunak
Vagina
Segera setelah melahirkan, vagina tampak halus, lunak, dan edema. Estrogen
pascapartum yang menurun berperan dalam penipisan mukosa vagina dan
hilangnya rugae. Elastisitas jaringan kembali dalam beberapa hari. Karena
vagina memiliki vaskularisasi ekstensif, episiotomy dan robekan biasanya
cepat sembuh. Rugae vagina kembali terbentuk pada sekitar minggu keempat,
tetapi kurang menonjol dibandingkan sebelum hamil. Pada umumnya rugae
akan memipih secara permanen. (Bobak, 2007).
Perineum
Selama persalinan tidak jarang terjadi kerusakan pada jaringan lunak.
Trauma pada saluran genetalia wanita dijelaskan sebagai berikut:
- Superficial hal ini biasanya berupa lecet pada kulit tempat epidermis
terpisah akibat tekanan peregangan. Luka ini tidak memerlukan pengobatan,
namun kelainan ini sering menimbulkan rasa tidak nyaman karena
terganggunya banyak ujung syaraf yang terletak di lapisan superficial
jaringan.
- Derajat satu adalah robekan kulit dan jaringan superficial di bawahnya
(tidak termasuk otot). Luka sering sembuh sendiri karena tepi luka biasanya
berhadapan langsung.
- Derajat dua apabila robekan menyebabkan kerusakan otot perineum. Luka
ini biasanya dijahit untuk membantu penyembuhan
- Derajat tiga otot sfingter anus terkena. Harus dilakukan perbaikan obstetric
sehingga penyulit inkontinensia feses dapat dihindari.
- Derajat empat apabila robekanny sangat luas, sfingter anus dapat terputus
dan robekan mencapai mukosa rectum. Diperlukan perbaikan bedah spesialis
agar fungsi anus kembali normal.
- Episiotomi ini adalah insisi bedah untuk memperbesar introitus vagina agar
bayi mudah keluar. Episiotomy termasuk dalam kategori robekan derajat dua.
c. Afterpains
Afterpain adalah rasa sakit saat kontraksi yang dialami oleh ibu multipara
selama 3 sampai 4 hari pertama postpartum. Nyeri ini tidak biasa terjadi pada
kehamilan pertama, tetapi dengan kehamilan berikutnya rasa sakit tersebut
menjadi lebih berat. Karena menyusui merangsang kontraksi uterus, maka

4
afterpain umum terjadi saat ibu menyusui bayinya. Obat analgesik memberikan
sedikit bantuan penurunan rasa nyeri (Hamilton, 2005).
d. Lochea
Lochea adalah ekskresi cairan rahim selama masa nifas dan mempunyai
reaksi basa atau alkalis yang dapat membuat organisme berkembang lebih
cepat dari pada kondisi asam yang ada pada vagina normal. Selama dua jam
pertama setelah bayi lahir, jumlah cairan yang keluar dari uterus tidak boleh
lebih dari jumlah maksimal yang keluar selama menstruasi. Setelah waktu
tersebut, aliran lokhea yang keluar harus semakin berkurang (Maryunani,
2011).
Lochea berbau amis atau anyir dengan volume yang berbeda-beda pada
setiap wanita. Lochea yang berbau tidak sedap menandakan adanya infeksi.
Lochea yang mempunyai perubahan warna dan volume itu dikarenakan adanya
proses involusi (Sulistyawati, 2009).
Perubahan lokhea terjadi dalam 3 tahap yaitu: (Ambarwati, 2010) dan
(Sulistyawati, 2009).
Lokhea rubra (merah kehitaman): Lochea ini muncul pada hari ke 1-4 masa
postpartum. Cairan yang keluar berwarna merah karena berisi darah segar,
jaringan sisasisa plasenta, dinding rahim, lemak bayi, lanugo, dan mekonium.
Lokhea sanguinolenta (merah muda): Cairan berwarna merah kecoklatan dan
berlendir. Berlangsung dari hari ke-4 sampai ke-7 postpartum.
Lokhea serosa: Lochea ini berwarna kuning kecoklatan karena mengandung
serum, dan leukosit. Muncul pada hari ke-7 sampai ke-14 postpartum.
Lochea alba: Mengandung leukosit, desidua, epitel, lendir serviks dan serabut
jaringan yang mati. Lochea ini berlangsung selama 2-6 minggu postpartum.
Lokhea purulenta: terjadi infeksi, keluar cairan seperti nanah berbau busuk.
Lokheaostasis: lokhea tidak lancar keluarnya.
e. Serviks
Servix berwarna merah kehitaman karena penuh dengan pembuluh darah.
Konsistensinya lunak, kadang terdapat laserasi atau perlukaan kecil. Karena
robekan kecil yang terjadi selama berdilatasi maka servix tidak akan pernah
kembali lagi ke keadaan seperti sebelum hamil (Sulistyawati, 2009).
f. Perineum
Segera setelah melahirkan, perineum menjadi kendur karena sebelumnya
terenggang oleh tekanan bayi yang bergerak maju. Pada postpartum hari ke 5,

5
perineum sudah mendapatkan kembali sebagian tonusnya, sekalipun tetap lebih
kendur daripada keadaan sebelum hamil (Sulistyawati, 2009).
g. Vulva Vagina
Pada masa nifas biasanya terdapat luka jalan lahir. Luka pada vagina umumnya
tidak seberapa luas dan akan sembuh secara perpriman (sembuh dengan
sendirinya), kecuali apabila terdapat infeksi. Infeksi mungkin menyebabkan
sellulitis yang dapat menjalar sampai sepsis (Sulistyawati, 2009).
h. Payudara
Saat hamil payudara disiapkan untuk memberikan ASI melalui pengaruh
hormonal. Lobus kelenjar mamae sekitar 15-25 buah dan akan terus bercabang
sehingga dapat acinus, sebagai tempat produksi ASI. Saat hamil sudah dapat
dibentuk ASI, tetapi pengeluarannya dihalangi oleh hormon plasenta. Setelah
plasenta lahir maka terdapat 2 komponen dominan yang dapat mengeluarkan ASI,
yaitu isapan langsung bayi pada puting susu dan hormon hipofisis posterior yaitu
prolaktin dan oksitosin. Dengan menyusui involusio uteri terjadi lebih cepat,
karena inisiasi menyusui dan pengisapan puting pada payudara oleh bayi pada
awal masa nifas memperkuat stimulasi pengeluaran oksitosin, sehingga hormon
oksitosin merangsang kontraksi endometrium, dan juga membantu pengosongan
rongga uterus (Manuaba, 2010).
i. Sistem Pencernaan
Biasanya ibu akan mengalami konstipasi setelah persalinan. Hal ini disebabkan
karena pada waktu persalinan, alat pencernaan mengalami tekanan yang
menyebabkan colon menjadi kosong, pengeluaran cairan berlebih waktu
persalinan, kurangnya asupan cairan dan makanan, serta kurangnya aktivitas
tubuh. Agar BAB kembali normal, dapat diatasi dengan diet tinggi serat,
peningkatan asupan cairan, dan ambulasi awal. Selain konstipasi, ibu juga
mengalami anoreksia akibat penurunan dari sekresi kelenjar pencernaan, serta
penurunan kebutuhan kalori yang menyebabkan kurang nafsu makan
(Sulistyawati, 2009).
j. Sistem Urinarius
Vesika urinaria pada masa nifas dapat mengalami gangguan fungsi akibat
persalinan yang lama atau akibat pemakaian kateterisasi sebelumnya. Dapat
terjadi disuria atau distensi yang memerlukan penanganan lebih lanjut. Pada kasus
yang sedang dengan distensi vesika urinaria perlu dipasang dauer katether.

6
Pengobatan antibiotika diperlukan tetapi sebaiknya dikonsultasikan dulu sama ahli
urinaria. Dapat terjadi ganguan yang diakibatkan oleh episiotomi, persalinan yang
lama, dan bayi besar (Manuaba, 2010).
Setelah proses persalinan berlangsung, biasanya ibu akan kesulitan untuk
BAK dalam 24 jam pertama. Kemungkinan penyebab dari keadaan ini adalah
terdapat sfinkter dan edema leher kandung kemih sesudah bagian ini mengalami
kompresi (tekanan) antara kepala janin dan tulang pubis selama persalinan
berlangsung. Urine dalam jumlah besar akan dihasilkan dalam 12-36 jam
postpartum. Kadar hormon estrogen yang bersifat menahan air akan mengalami
penurunan yang mencolok, keadaan tersebut disebut diuresis. Ureter berdilatasi
akan kembali normal dalam 6 minggu. Dinding kandung kemih memperlihatkan
odem dan hyperemia, kadang oedem trigonum yang menimbulkan alostaksi dari
uretra sehingga menjadi retensio urine. Kandung kemih dalam masa nifas menjadi
kurang sensitif dan kapasitas bertambah sehingga setiap kali kencing masih
tertinggal urine residual (normal kurang lebih 15cc). Dalam hal ini, sisa urine dan
trauma pada kandung kemih sewaktu persalinan dapat menyebabkan infeksi
(Sulistyawati, 2009).
k. Perubahan sistem muskuloskeletal
Otot-otot uterus berkontraksi segera setelah partus. Pembuluh darah yang
berada diantara anyaman otot-otot uterus akan terjepit. Proses ini akan
menghentikan perdarahan setelah plasenta dilahirkan. Ligamen-ligamen,
diagfragma pelvis, serta fasia yang meregang pada waktu persalinan, secara
berangsur-angsur menjadi ciut dan pulih kembali sehingga tak jarang uterus jatuh
ke belakang dan menjadi retrofleksi karena ligamentum rotundum menjadi kendor.
Stabilisasi secara sempurna terjadi pada 6-8 minggu setelah persalinan. Sebagai
akibat putusnya serat-serat elastik kulit dan distensi yang berlangsung lama akibat
besarnya uterus pada waktu hamil, dinding abdomen masih agak lunak dan
kendor untuk sementara waktu. Untuk memulihkan kembali jaringan-jaringan
penunjang dianjurkan untuk melakukan latihan tertentu. Pada 2 hari postpartum
sudah dapat fisioterapi (Sulistyawati, 2009).
l. Sistem Endokrin
Adapun klasifikasi perubahan sistem endokrin yaitu:
1) Hormon plasenta (HCG)

7
Selama periode postpartum terjadi perubahan hormon yang besar. Pengeluaran
plasenta menyebabkan penurunan signifikan hormon-hormon yang diproduksi
oleh plasenta. Hormon plasenta (HCG) menurun secara cepat dan menetap sampai
10% dalam 3 jam hingga hari ke-7 postpartum dan sebagai onset pemenuhan
mamae pada hari ke-3 postpartum (Sulistyawati, 2009).
2) Hormon pituitary
Prolaktin darah meningkat dengan cepat, pada wanita tidak menyusui menurun
dalam waktu 2 minggu. FSH dan LH meningkat pada fase konsentrasi folikuler
pada minggu ke-3, dan LH tetap rendah sehingga ovulasi terjadi (Sulistyawati,
2009).
3) Hormon oksitosin
Oksitosin dikeluarkan dari kelenjar bawah otak bagian belakang (posterior),
bekerja terhadap otot uterus dan jaringan payudara. Pada wanita yang memilih
menyusui bayinya, isapan sang bayi merangsang keluarnya oksitosin lagi dan ini
membantu uterus kembali ke bentuk normal dan pengeluaran air susu (Wulandari,
2010).
4) Hipotalamik pituitary ovarium
Untuk wanita yang menyusui dan tidak menyusui akan mempengaruhi lamanya
mendapatkan menstruasi (Wulandari, 2010). Lamanya seorang wanita
mendapatkan menstruasi juga dipengaruhi oleh faktor menyusui. Seringkali
menstruasi pertama ini bersifat anovulasi karena rendahnya kadar esterogen dan
progresteron (Sulistyawati, 2009).
Setelah persalinan, terjadi penurunan kadar esterogen yang bermakna sehingga
aktivitas prolaktin yang juga sedang meningkat dapat mempengaruhi kelenjar
mamae dalam menghasilkan ASI (Sulistyawati, 2009).
m. Sistem Kardiovaskuler
Selama kehamilan, volume darah normal digunakan untuk menampung aliran
darah yang meningkat, yang diperlukan oleh plasenta dan pembuluh darah uteri.
Penarikan kembali esterogen menyebabkan diuresis yang terjadi secara cepat
sehingga mengurangi volume plasma kembali pada proporsi normal. Aliran ini
terjadi dalam 2-4 jam pertama setelah kelahiran bayi. Setelah persalinan shunt
akan menghilang dengan tiba tiba. Volume darah akan bertambah, keadaan ini
menyebabkan beban jantung dan menimbulkan decompensatio cordis pada pasien
dengan vitum cardio. Keadaan ini dapat diatasi dengan mekanisme kompensasi,

8
tumbuhnya haemokonsentrasi sehingga volume darah kembali seperti semula, ini
terjadi pada 3-5 hari postpartum (Sulistyawati, 2009).
Setelah postpartum, kontraksi otot uterus menyebabkan aliran balik vena
makin meningkat sehingga terjadi kompensasi berupa peningkatan curah jantung
yang berlangsung 48 jam. Setelah 14 hari keseimbangan terjadi dan fungsi
kardiovaskuler menjadi normal (Manuaba, 2010).

n. Tanda tanda Vital


Suhu badan
Dalam hari pertama postpartum, suhu badan akan naik sedikit (37,5-38) akibat
kerja keras sewaktu melahirkan, kehilangan cairan dan kelelahan. Apabila
keadaan normal, suhu badan menjadi biasa. Biasanya pada hari ke-3 suhu badan
naik lagi karena adanya pembentukan ASI. Payudara menjadi bengkak dan
berwarna merah karena banyaknya ASI. Bila suhu tidak turun ada kemungkinan
infeksi pada endometrium (mastitis, tracus genetalis, dan sistem lain).
Nadi
Denyut nadi normal orang dewasa adalah 60-80 kali per menit. Denyut nadi
sehabis melahirkan biasanya akan lebih cepat. Setiap denyut nadi yang melebihi
100 kali per menit adalah abnormal dan hal ini menunjukkan adanya
kemungkinan infeksi.
Tekanan darah
Tekanan darah biasanya tidak berubah. Kemungkinan tekanan darah akan lebih
rendah setelah ibu melahirkan, karena ada perdarahan. Tekanan darah tinggi pada
saat postpartum dapat menandakan terjadinya preeklamsi postpartum.
Pernafasan
Keadaan pernafasan selalu berhubungan dengan suhu dan denyut nadi. Bila suhu
dan nadi tidak normal maka pernafasan juga akan mengikutinya, kecuali bila ada
gangguan khusus pada saluran pencernaan (Sulistyawati, 2009).
o. Komponen Darah
Selama minggu terakhir kehamilan, kadar fibrinogen dan plasma, serta
pembekuan darah makin meningkat. Pada hari ke-1 postpartum, kadar
fibrinogen dan plasma akan sedikit menurun, tetapi darah akan mengental,
sehingga meningkatkan faktor pembekuan darah. Leukositosis yang meningkat
dengan jumlah sel darah putih dapat mencapai 15.000 selama proses persalinan
akan tetap tinggi dalam beberapa hari postpartum. Jumlah sel darah tersebut

9
masih dapat naik lagi sampai 25.00030.000 tanpa adanya kondisi patologis
jika wanita tersebut mengalami persalinan lama. Jumlah Hb, Hmt dan eritrosit
sangat bervariasi pada saat awal-awal masa postpartum sebagai akibat dari
volume darah, plasenta, dan tingkat volume darah yang berubah. Semua
tingkatan ini akan dipengaruhi oleh status gizi dan hidrasi wanita tersebut.
Selama kelahiran dan postpartum, terjadi kehilangan darah sekitar 200-500 ml.
Penurunan volume dan peningkatan sel darah pada kehamilan diasosiasikan
dengan peningkatan Hmt dan Hb pada hari ke-7 postpartum, akan kembali
normal dalam 4-5 minggu postpartum (Sulistyawati, 2009).

2.1.6 Komplikasi Masa Nifas


a. Perdarahan pervaginam
1) Atonia Uteri
Gejala: Syok berat, nadi lemah dan cepat 110 x/menit, tekanan darah sangat
rendah, tekanan sistolik <90 mmHg, napas 30 x/menit, urin 30 cc/jam,
bingung, gelisah atau pingsan, berkeringat/kulit terasa dingin.
2) Robekan Jalan Lahir
Robekan jalan lahir sering kali menjadi sumber perdarahan, baik luka perineum
maupun luka Sc sangat rentan terjadi perdarahan karena terdapat
diskontinyuitas jaringan yang memungkinkan adanya pembuluh darah yang
terbuka.
b. Infeksi Masa Nifas
Peradangan yang disebakan masuknya kuman-kuman kedalam alat genital pada
waktu persalinan dan nifas. Ditandai dengan kenaikan suhu sampai dengan
38C atau lebih selama 2 hari dalam 10 hari pertama post partum.
c. Payudara
1) Bendungan ASI
Biasa terjadi pada ibu yang banyinya belum dapat menyusu denagn baik.
Akibatnya ASI tidak dapat dikosongkan dengan sempurna sehingga terjadi
bendungan pada payudara
2) Mastitis
infeksi peradangan pada payudara, terutama pada primipara yang biasanya
disebabkan oleh staphylococcus aureus, infeksi terjadi melalui luka pada
putting susu, tetapi mungkin juga mungkin juga melalui peredaran darah.
d. Gangguan psikis saat nifas
1) Maternity Blues (Baby Blues) : kesedihan pasca persalinan yang bersifat
sementara dan biasanya akan menghilang setelah 2 minggu.

10
2) Depresi Postpartum: depresi yang bervariasi dari hari ke hari dengan
menunjukkan kelelahan, mudah marah, gangguan nafsu makan, dan kehilangan
libido. Depresi pasca persalinan yang berlangsung berminggu-minggu bahkan
sampai berbulan-bulan.
3) Postpartum psychosis: Terjadinya tekanan jiwa yang sangat berat dan bisa
menetap sampai setahun dan memungkinkan untuk kambuh setiap pasca
melahirkan.
2.1.7 Tanda bahaya nifas
Tanda-tanda bahaya yang sering terjadi pada masa nifas adalah sebagai berikut :
1. Kelelahan dan sulit tidur. Kelelahan dan sulit tidur bisa timbul dari depresi,
kekhawatiran berlebih, atau merupakan refleksi dari adanya tanda-tanda
bahaya yang lain.
2. Demam. Deman merupakan salah satu tanda infeksi.
3. Nyeri atau terasa panas ketika buang air kecil. Hal ini bisa disebabkan karena
adanya infeksi pada traktus urinarius.
4. Sembelit atau haemoroid. Adanya sembelit / haemoroid ini bisa diperparah jika
ibu mengalami BAB yang susah / keras.
5. Sakit kepala terus menerus, nyeri, bengkak. Merupakan gejala awal dari
preeklampsia postpartum.
6. Nyeri abdomen. Bisa karena diastasis muskulus rektus abdominalis yang
abnormal karena kehamilan yang overdistensi.
7. Cairan vagina (lokhea) berbau busuk. Hal ini merupakan salah satu tanda
infeksi.
8. Sangat sakit saat payudara disentuh, pembengkakan, puting yang pecah-pecah.
Hal ini dapat meningkatkan morbiditas ibu serta kesulitan dalam menyusui.
9. Kesulitan dalam menyusui. Hal ini dapat membuat ibu gelisah dan merasakan
ketidakmampuan dalam merawat bayi. Jika hal itu terus berlanjut dapat
menyebabkan bayi kekurangan nutrisi yang dibutuhkan.
10. Kesedihan dan merasa kurang mampu merawat bayi secara memadai. Dua hal
di atas dapat membuat ibu jatuh ke dalam depresi yang tentu saja akan lebih
mengganggu perawatan yang optimal terhadap bayi.
11. Rabun senja. Merupakan gangguan mata akibat kekurangan vitamin A, ibu
berkurang daya penglihatannya menjelang matahari terbenam (saat senja)

11
12. Tromboflebitis. Gejala-gejalanya adalah rasa sakit yang sangat, merah, lunak,
dan/atau pembengkakan pada kaki.
13. Perdarahan vagina yang banyak atau tiba-tiba bertambah banyak (lebih dari
perdarahan haid biasa atau bila memerlukan penggantian pembalut 2 kali
dalam setengah jam)
14. Kehilangan nafsu makan dalam waktu yang lama, sangat letih, atau nafas
terengah-engah.

2.1.8 Perawatan Masa Nifas


Perawatan masa nifas adalah perawatan terhadap wanita hamil yang telah selesai
bersalin sampai alat-alat kandungan kembali seperti sebelum hamil, lamanya kira-
kira 6-8 minggu. Perawatan masa nifas dimulai sebenarnya sejak kala uri dengan
menghindarkan adanya kemungkinan-kemungkinan perdarahan post partum dan
infeksi. Bila ada perlukaan jalan lahir atau luka bekas episiotomi, lakukan
penjahitan dan perawatan luka dengan sebaik-baiknya.
Penolong persalinan harus tetap waspada sekurang-kurangnya 1 jam sesudah
melahirkan, untuk mengatasi kemungkinan terjadinya perdarahan post partum.
Pada saat masa nifas penting bagi bidan untuk melakukan hal-hal berikut ini:
1. Observasi terjadinya keadaan patologis masa nifas awal
2. Keputusan klinik kebutuhan kolaborasi/rujukan dalam penanganan
komplikasi pada masa nifas.
3. Konseling pada ibu dan atau satah satu anggota keluarga mengenai tanda
bahaya nifas, cara mendeteksi, tindakan yang harus dilakukan, dan pencegahan
4. Konseling kebutuhan dasar ibu nifas (biopsikososiokultural)
5. Pemberian ASI awal ASI Eksklusif
6. Membangun hubungan antara ibu dan bayi baru lahir
7. Perawatan bayi baru lahir identifikasi tanda bahaya
8. Jika petugas kesehatan menolong persalinan, ia harus tinggal dengan ibu dan
bayi baru lahir untuk 2 jam pertama setelah kelahiran atau sampai ibu dan bayi
dalam keadaan stabil.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam perawatan masa nifas
1. Mobilisasi

12
Umumnya wanita sangat lelah setelah melahirkan, lebih-lebih bila persalinan
berlangsung lama, karena si ibu harus cukup beristirahat, dimana ia harus tidur
terlentang selama 8 jam post partum untuk memcegah perdarahan post partum.
Kemudian ia boleh miring ke kiri dan ke kanan untuk mencegah terjadinya
trombosis dan tromboemboli. Pada hari kedua telah dapat duduk, hari ketiga
telah dapat jalan-jalan dan hari keempat atau kelima boleh pulang. Mobilisasi
ini tidak mutlak, bervariasi tergantung pada adanya komplikasi persalinan,
nifas, dan sembuhnya luka.
2. Diet / Makanan
Makanan yang diberikan harus bermutu tinggi dan cukup kalori, yang
mengandung cukup protein, banyak cairan, serta banyak buah-buahan dan
sayuran karena ibu mengalami hemokosentrasi. Pada Ibu yang mengalami
perdarahan pascapersalinan jaga status hidrasi ibu, anjurkan Ibu untuk minum
sedikitnya 3 liter/hari dan dapat diberikan sulfas ferrosus 600 mg atau ferrous
fumarat 120 mg ditambah asam folat 400 mcg peroral sekali sehari selama 6
bulan. Selain itu penting pula untuk menganjurkan ibu untuk mengkonsumsi
makanan yang mengandung zat besi.
3. Buang Air Kecil
Buang air kecil harus secepatnya dilakukan sendiri. Kadang-kadang wanita
sulit kencing karena pada persalinan m.sphicter vesica et urethare mengalami
tekanan oleh kepala janin dan spasme oleh iritasi musc. sphincter ani. Juga oleh
karena adanya oedem kandungan kemih yang terjadi selama persalinan.
Bila kandung kemih penuh dengan wanita sulit kencing sebaiknya lakukan
kateterisasi, sebab hal ini dapat mengundang terjadinya infeksi. Bila infeksi
telah terjadi (urethritis, cystitis, pyelitis), maka pemberian antibiotika sudah
pada tempatnya. Pada ibu yang mengalami perdarahan pascapersalinann
penting untuk mengevaluasi input dan output cair untuk menilai status hidrasi.
4. Buang Air Besar
Buang air besar harus sudah ada dalam 3-4 hari post partum. Bila ada obstipasi
dan timbul berak yang keras, dapat kita lakukan pemberian obat pencahar
(laxantia) peroral atau parenterala, atau dilakukan klisma bila masih belum
berakhir. Karena jika tidak, feses dapat tertimbun di rektum, dan menimbulkan

13
demam. Pada Ibu yang mengalami perdarahan pasca persalinan akibat trauma
jalan lahir terutama trauma jalan lahir grade 3, penting untuk memberikan obat
pencahar dan diet makanan lunak serta banyak mengandung serat.
5. Demam
Sesudah bersalin, suhu badan ibu naik 0,5o C dari keadaan normal, tapi tidak
melebihi 38o C. Dan sesudah 12 jam pertama suhu badan akan kembali normal.
Bila suhu lebih dari 38o C/ mungkin telah ada infeksi.
6. Mules-mules
Hal ini timbul akibat kontraksi uterus dan biasanya lebih terasa sedang
menyusui. Hal ini dialami selama 2-3 hari sesudah bersalin. Perasaan sakit ini
juga timbul bila masih ada sisa selaput ketuban, plasenta atau gumpalan dari di
cavum uteri. Bila si ibu sangat mengeluh, dapat diberikan analgetik atau
sedativa supaya ia dapat beristirahat tidur. Dapat menjadi informasi penting
untuk menilai kontraksi uterus yang penting untuk penghentian perdarahan.
Selain itu harus dinilai tinggi fundus uteri untuk mencegah terjadinya sub
involusi.
7. Laktasi
8 jam sesudah persalinan ibu disuruh mencoba menyusui bayinya untuk
merangsang timbulnya laktasi, kecuali ada kontraindikasi untuk menyusui
bayinya, misalnya: menderita thypus abdominalis, tuberkulosis aktif,
thyrotoxicosis, DM berat, psikosi atau puting susu tertarik ke dalam, leprae.
Atau kelainan pada bayinya sendiri misalnya pada bayi sumbing (labiognato
palatoschizis) sehingga ia tidak dapat menyusu oleh karena tidak dapat
menghisap, minuman harus diberikan melalui sonde. Bila Ibu masih lemas
setelah mengalami perdarahan pasca persalinan maka laktasi dapat ditunda, dan
bayi diberikan susu formula namun tidak dengan menggunakan botol tapi
gunakan sendok agar bayi tidak malas untuk menghisap putting saat Ibu sudah
mampu untuk menyusui.
8. Kebersihan diri
Selama masa nifas penting unuk menilai pola kebersihan Ibu. Bila Ibu kurang
menjaga kebersihan terutama kebersihan alat kelamin dapat diberikan edukasi
pentingnya kebersihan diri terutama alat kelamin untuk mencegah infeksi. Bila

14
ibu tidak mampu melakukan kebersihan diri secara mandiri karena belum dapat
melakukan mobilisasi dini perawat maupun bidan dapat membantu melakukan
vulva hygiene untuk menjaga agar tidak terjadi infeksi pada luka jahitan.

2.1.9 Peran Dan Tanggung Jawab Bidan


Bidan memiliki peranan yang sangat penting dalam pemberian asuhan
post partum. Adapun peran dan tanggung jawab dalam masa nifas antara lain :
1. Memberikan dukungan secara berkesinambungan selama masa nifas sesuai
dengan kebutuhan ibu untuk mengurangi ketegangan fisik dan psikologis
selama masa nifas.
2. Sebagai promotor hubungan antara ibu dan bayi serta keluarga.
3. Mendorong ibu untuk menyusui bayinya dengan meningkatkan rasa nyaman.
4. Membuat kebijakan, perencana program kesehatan yang berkaitan ibu dan anak
dan mampu melakukan kegiatan administrasi.
5. Mendeteksi komplikasi dan perlunya rujukan.
6. Memberikan konseling untuk ibu dan keluarganya mengenai cara mencegah
perdarahan, mengenali tanda-tanda bahaya, menjaga gizi yang baik, serta
mempraktekkan kebersihan yang aman.
7. Melakukan manajemen asuhan dengan cara mengumpulkan data, menetapkan
diagnosa dan rencana tindakan serta melaksanakannya untuk mempercepat
proses pemulihan, mencegah komplikasi dengan memenuhi kebutuhan ibu dan
bayi selama priode nifas.
8. Memberikan asuhan secara professional.

Faktor Resiko di Masyarakat

Tidak adanya transportasi dan sarana lain


Jarak rumah ibu yang jauh ke fasilitas kesehatan
Status sosio-ekonomi yang rendah
Faktor-faktor kultural yang memperlambat pencarian perawatan
kesehatan, status wanita yang rendah

15
Kuranngnya pengetahuan tentang tanda-tanda dan gejala sepsis
puerpuralis

Faktor Resiko di Pelayanan Kesehatan

Pemantauan suhu badan yang tidak adekuat pada persalinan


lama dan setelah persalinan
Tidak adanya asepsis selama persalinan
Pemeriksaan bakteriologis yang tidak adekuat pada ibu yang
mengalami sepsis puerpuralis
Kehabisan persediaan darah untuk transfusi
Penatalaksanaan yang tidak adekuat dengan antibiotik yang
tepat atau intervensi operatif selanjutnya
Ketidaktersediaan antibiotik yang tepat

16