Anda di halaman 1dari 24

BUDIDAYA IKAN DAN UDANG DI AIR LAUT

BALAI BENIH IKAN PANTAI TABLOLONG

PAKAN ALAMI
Persiapan tempat untuk budidaya pakan alami dilakukan dengan
pembersihan kolam, pengisian air, pemberian kaporit dengan kadar dan
konsentrasi air 1 ton 10 gram dan kultur dilakukan pada siang hari (sistem aerasi).
Pemupukan mengunakan urea sp36, edta tsp 10. Pemupukan berfungsi sebagai
sumber makanan bagi fitoplankton. Bibit berasal dari situbundo.

Kolam yang digunakan untuk budidaya pakan alami terbagi menjadi dua
yaitu kolam fitoplankton dan kolam zooplankton. Kedua kolam ini terhubung
secara otomatis menggunakan pipa. Di kolam pertama dilakukan budidaya
fitoplankton yang kemudian akan diberikan untuk menjadi makanan dari
zooplankton di kolam ke dua. Dan zooplanktonlah yang menjadi pakan alami bagi
larva ikan dan udang. Di masing-masing kolam telah dilengkapi dengan
kompresor yang mana berfungsi untuk menjaga sirkulasi udara agar kecukupan
oksigen di dalam air tetap terjaga.
Fitoplankton merupakan mikroorganisme nabati yang hidup melayang-
layang di dalam air, relatif tidak mempunyai daya gerak sehingga keberadaanya
dipengaruhi oleh gerakan air serta mampu berfotosintesis (Samawi, 2002).
Fitoplankton disebut juga plankton nabati, adalah tumbuhan yang hidupnya
mengapung atau melayang dilaut. Ukurannya sangat kecil sehingga tidak dapat
dilihat oleh mata telanjang. Umumnya fitoplankton berukuran 2-200 m (1 m =
0,001 mm). Fitoplankton umumnya berupa individu bersel tunggal, tetapi juga ada
yang berbentuk rantai. Fitoplankton merupakan organisme autotroph utama dalam
kehidupan di laut. Melalui proses fotosisntesis yang dilakukannya, fitoplankton
mampu menjadi sumber energi bagi seluruh biota laut lewat mekanisme rantai
makanan. Walaupun memiliki ukuran yang kecil namun memiliki jumlah yang
tinggi sehingga mampu menjadi pondasi dalam piramida makanan di laut
(Sunarto, 2010). Karena kemampuannya yang dapat membuat makanan sendiri
fitoplanton mempunyai kedudukan yang sebagai produsen primer. Tanpa
fitoplankton diperkirakan laut yang sangat luas tidak akan dihuni oleh beberapa
jenis biota yang mampu hidup dari rantai kehidupan lainnya (Notji, 2002).
Zooplankton merupakan biota yang sangat penting peranannya dalam
rantai makanan dilautan. Mereka menjadi kunci utama dalam transfer energi dari
produsen utama ke konsumen pada tingkatan pertama dalam tropik ekologi,
seperti ikan laut, mamalia laut, penyu dan hewan terbesar dilaut seperti halnya
paus pemakan zooplankton (Notji, 2002). Budidaya zooplankton biasanya 3 hari
sampai panen

(Gambar 2. Persiapan kolam untuk tempat pakan alami fitoplankton)

(Gambar 3. Proses pemeliharaan untuk budidaya pakan alami bagi larva ikan
dan udang. Kedalaman kolam 1,5 M )

IKAN KERAPU MACAN


Ikan Kerapu Macan (Epinephelus fuscoguttatus) merupakan ikan yang
habitat hidupnya di karang dan di dasar perairan berbatu, berdiam diri di dalam
lubang-lubang untuk menunggu mangsa. Dapat hidup di air laut maupun air payau
karena mempunyai toleransi tinggi terhadap salinitas yaitu 15-35 ppt. Kerapu
macan mempunyai sifat hidup soliter, dimana hidupnya tidak bergerombol, baik
saat mencari makan maupun dalam keadaan bahaya. Namun pada saat akan
memijah kerapu macan akan bergerombol. Di Indonesia, musim pemijahan ikan
kerapu macan terjadi bulan Juli-September dan November-Februari. Dalam satu
tahun musim pemijahan terjadi sebanyak 6-8 kali, sedangkan pemijahan pertama
(prespawning) terjadi 1-2 kali pemijahan dalam setahun (Basyarie, A. 1989).

Ikan Kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) umumnya dikenal dengan


istilah groupers dan merupakan salah satu komoditas perikanan yang
mempunyai peluang baik dipasarkan domestik maupun pada internasional dan
selain itu nilai jualnya cukup tinggi. Kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus)
mempunyai sifat-sifat yang menguntungkan untuk dibudidayakan karena
pertumbuhannya cepat dan dapat diproduksi massal untuk melayani permintaan
pasar ikan kerapu dalam keadaan hidup.

(Gambar 4. Kolam pembenihan dan kolam bibit yang siap di lepas ke


keramba di laut)

Morfologi Ikan Kerapu Macan (Epinephelus fuscoguttatus)


Ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) mempunyai bentuk badan
yang pipih memanjang dan agak membulat (Mucharie, A; et.al. 1991). Mulut
lebar dan di dalamnya terdapat gigi kecil yang runcing (Kordi, 2001),
menjelaskan bahwa rahang bawah dan atas dilengkapi dengan gigi yang
berderet 2 baris lancip dan kuat.

Kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) mempunyai jari-jari sirip yang


keras pada sirip punggung 11 buah, sirip dubur 3 buah, sirip dada 1 buah dan
sirip perut 1 buah. Jari-jari sirip yang lemah pada sirip puggung terdapat 15-16
buah, sirip dubur 8 buah, sirip dada 17 buah dan sirip perut 5 buah. Kerapu
macan (Epinephelus fuscoguttatus) memiliki warna seperti sawo matang
dengan tubuh bagian verikal agak putih. Pada permukaan tubuh terdapat 4-6
pita vertical berwarna gelap serta terdapat noda berwarna merah seperti warna
sawo (Mucharie, A; et.al. 1991).

Reproduksi Ikan Kerapu Macan (Ephinepelus fuscoguttatus)


Ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) bersifat hermaprodit
protogini yang berarti setelah mencapai ukuran tertentu, akan berganti kelamin
(change sex) dari betina dewasa menjadi jantan. Perubahan jenis kelamin ini
memerlukan dalam waktu cukup lama dan terjadi secara alami. Biasanya
perubahan kelamin terjadi ketika ikan mencapai berat 7 kg. (Sudjiharno,
2003).

Ciri-ciri induk ikan kerapu macan yang sehat yaitu berwarna coklat
kehitaman, tubuh tidak cacat, gerakan agresif (lincah). Ciri-ciri induk jantan
yang matang gonad yaitu berwarna lebih terang atau lebih cerah, ukuran badan
panjang, agresif, lubang genital bewarna kemerahan. Sedangkan cirri-ciri
induk betina yang matang gonad yaitu perut gendut, gerakan tidak begitu
agresif, lubang genital berwarna kemerahan dan apabila distriping akan
mengeluarkan telur.
Ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) betina ketika akan
memijah akan mendekati ikan jantan. Bila waktu memijah tiba, ikan jantan
dan ikan betina akan berenang bersama- sama di permukaan air. Pemijahan
biasanya terjadi pada malam hari pada saat bulan gelap. Jumlah telur yang
dihasilkan dalam satu kali pemijahan tergantung dari berat tubuh ikan betina.
Misalnya ikan yang beratnya 8 Kg dapat menghasilkan telur 1.500.000 telur.
Telur yang telah dibuahi bersifat non adhesive yaitu telur yang satu tidak
melekat pada telur yang lainnya. Bentuk telur adalah bulat dan transparan
dengan garis tengah sekitar 0,80-0,85 mm. Telur yang dibuahi akan menetas
menjadi benih yang aktif berenang (Sudjiharno, 2003)

(Gambar 5.Indukan kerapu)

Cara Makan dan Jenis Makanan Ikan Kerapu Macan (Epinephelus


fuscoguttatus)
Ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) merupakan hewan
karnifora yang memangsa ikan-ikan kecil, kepiting, dan udang-udangan,
sedangkan larva ikan kerapu macan memangsa larva moluska. Ikan kerapu
macan (Epinephelus fuscoguttatus) bersifat karnifora dan cenderung
menangkap/memangsa yang aktif bergerak di dalam air (Sudjiharno, 2003),
ikan kerapu macan juga bersifat kanibal. Biasanya mulai terjadi saat larva
kerapu berumur 30 hari, dimana pada saat itu larva cenderung berkumpul di
suatu tempat dengan kepadatan tinggi.
Ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) mencari makan hingga
menyergap mangsa dari tempat persembunyiannya dengan cara makannya
dengan memakan satu per satu makanan yang diberikan sebelum makanan
tersebut sampai ke dasar perairan (Sudjiharno, 2003). Di BBIP pemberian
pakan untuk indukan ikan menggunanan ikan-ikan kecil.

UDANG VANAME
Kondisi kolam atau tambak
Kolam atau tambak yang dipakai dalam budidaya pembenihan udang
vannamei yaitu tambak udang tiberias dan tambak udang siloam dengan ukuran 4
meter, kepadatannya 400.000 ekor dan padat penebarannya 1000 ekor.
Penebaran awal benih dengan ukuran PL = 10-11cm, asal benih dari Polan
PT CP PRIMA, Surabaya dan SR yang diberikan 80% dengan sistem ini bisa
100%. Manajemen pemberian pakan 8 kali sehari. 1 kali pemberian pakan = 7 kg.
pakan yang digunakan berupa chorella dan rotifera (zooplankton) dan
menggunakan pakan buatan berupa pellet dalam 1 kolam dapat diberikan 7,5 ton,
dan usia 1 minggu bisa diberikan pakan buatan. Semakin besar udang, maka
semakin besar oksigen yang dibutuhkan. Umur udang dapat dipanen berkirasar 26
hari-60 hari.
(Gambar 7. Jadwal perberian pakan pada udang)

(Gambar 8. Pakan buatan untuk udang)


Probiotik
Penanaman probiotik di tambak sebagai salah satu upaya agar terjadi
dominsi bakteri pilihan yang bermanfaat di dalam air dan tanah dasar sehingga
mengurangi kepadatan bakteri pathogen sebagai penyebab penyakit udang. Jenis
probiotik yang dipakai yaitu: mingrow, fytogrow, sedangkan dosisnya mingrow 1
kg menambah mineral, fytogrow 3 kg penumbuhan plankton, bactogrow 200 kg
bakteri.

Kualitas air
Kualitas air tambak berkaitan erat dengan kondisi kesehatan udang.
Kualias air yang baik mampu mendukung pertumbuhan udang secara optimal.
Kualitas air harus dikontrol tiap hari 4 kali pengontrolan,dengan ukuran udang 29
hari, jika pH naik maka perlu pergantian air. Halini berhubungan dengan faktor
stress udang akibat perubahan kualitas air di tambak. Beberapa parameter kualitas
air yang harus selalu dipantau yaitu suhu, salinitas, pH air, kandungan oksigen
terlarut dan ammonia. Parameter-parameter tersebut akan mempengaruhi proses
metabolisme tubuh udang, seperti keaktifan mencari makan, proses pencernaan
dan pertumbuhan udang.
Teknologi
Teknologi yang digunakan dalam prasarana yaitu kincir angin untuk
mensuplai oksigen, jika sering menggunakan kincir maka akan menggumpalkan
kotoran ke tengah. Dalam waktu 30 hari dapat dilakukan sampling pada udang.
Teknologi lainnya yaitu : mesin otometrik feeder (tempat pemberian pakan),
mesin blower (mensuplai oksigen) dan pipa aerasi.

(Gambar 11. Kincir untuk mensuplai oksigen dan menggumpalkan kotoran ke


tengah)
(Gambar 12. Mesin otometrik feeder (tempat pemberian pakan)
Panen
Udang vannamei dapat di panen pertama secara parsial 65 hari 100 ekor,
panen ke dua 75 hari total panen 90 hari dengan ukuran 50 kg setelah berumur
120 hari (DOC 120, DOC = day of culture) dengan berat berkisar 16-20 gr/ekor.
Pemanenan udang dapat dilakukan kapan saja, tetapi umumnya pemanenan
dilakukan pada malam hari. Selain untuk menghindari terik matahari, panen pada
malam hari juga bertujuan untuk mengurangi risiko udang ganti kulit selama
panen akibat stress, karena udang yang ganti kulit akan menyebabkan penurunan
harga jual.
BUDIDAYA IKAN AIR TAWAR
DI BALAI BENIH IKAN AIR TAWAR NOEKELE

IKAN KARPER
Ikan karper atau ikan mas (Cyorinus carpio, L.) merupakan spesies ikan
air tawar yang sudah lama dibudidayakan di Noekele, Kabupaten Kupang.

A. Persiapan Kolam

Proses pemeliharaan dimulai dengan persiapan kolam. Kolam terlebih


dahulu dikeringkan, lalu dilakukan pembalikan tanah, ditabur kapur dan
dikeringkan lagi. Proses pengeringan biasanya berlangsung 3 hari, hal ini di
sesuaikan dengan kondisi pencahayaan atau sinar matahari. Jika sinar matahari
kurang, proses pengeringan biasanya berlangsung 5-7 hari. Setelah kering
dilakukan lagi pembalikan tanah dan kemudian dimasukan air ke dalam kolam
tersebut. Jika pada musim musim hujan, tidak dilakukan pengeringan tanah
kolam, namun diberikan kapur dalam jumlah yang lebih banyak. Misalnya saat
musim panas menggunakan kapur sebanyak 50 kg, pada musim hujan jumlah
kapur menjadi 100 kg.

Kolam untuk benih, biasanya ditambahkan pupuk yang berasal dari


kotoran ayam. Kotoran ayam berfungsi untuk menumbuhkan pakan alami. Pupuk
bisa langsung ditebar ke kolam, bisa juga dengan di taburkan lewat saluran-
saluran pemasukan air. Pemupukan bisanya dibiarkan hingga 1 minggu, kemudian
dimasukan benih setelah di lihat air yang telah diberi pupuk menjadi keruh.
Keruhnya air menandakan bahwa pakan alami telah tersedia.

B. Pembenihan

Induk jantan dan induk betina dipacu dengan pakan yang berkualitas yang
terbuat dari pakan buatan pellet dengan kandungan protein 25%.. Pakan diberikan
2x sehari. Untuk indukan pakan di berikan dengan komposisi 3% dikali biomasa.
Untuk benih dipakai 5 % dikali biomasa. Proses perhitungannya dimulai dengan
penimbangan ikan yang diambil dengan metode sampling (misanya 5 ekor). Ikan
tesebut ditimbang dan di rata-ratakan hasilnya dan dikalikan dengan biomassa.

Proses pengawinan biasanya secara alami dan buatan. Secara alami


indukan jantan dan betina di taruh dalam satu kolam yang sama, sedangkan proses
buatan dilakukan dengan teknik pemijahan. Setelah proses perkawinan alami ikan
kemudian dipisahkan dengan cara memberi sekat pada kolam.

Induk dipelihara di kolam khusus secara terpisah antara jantan dan betina.
Induk karper jantan atau betina dipelihara secara terpisah, dengan maksud agar
tidak terjadi perkawinan dini. Karena dalam proses perkawinan induk yang dipilih
haruslah induk yang terbaik dan betul-betul telah matang gonad. Induk yang telah
matang gonad akan menghasilkan benih yang banyak dan berkualitas. Perkawinan
semi alami biasanya menggunakan perangsang (ovaprin) dengan cara injeksi. 1 kg
berat jantan dosis yang diberikan 0,2 ml dan betina 0,3 ml/kg. Setelah 10 jam
setelah penyuntikan baru dilakukan proses perkawinan. Perkawinan karpel
dilakukan 2x/bulan pada minggu ke dua dan ke 4.

Untuk membedakan jantan dan betina dapat dilakukan dengan jalan


mengurut perut kearah ekor. Betina perutnya buncit, dan ketika dipegang perutnya
lembek dan pergerakannya lambat. Ketika bagian perut di pijat, maka akan keluar
telur. Sel telur berwarna kuning kecoklatan. Jantan cenderung lebih gesit,
tubuhnya lebih ramping dan jika di urut bagian perutnya maka akan menghasilkan
selsperma dan berwarnaputih kental. Umur untuk menjadi indukan biasanya
berkisar dari 8 bulan sampai 1 tahun.

Ikan betina yang diseleksi sudah dapat dipijahkan setelah berumur 1,5-2
tahun dengan bobot >2 kg. Sedangkan induk jantan berumur 8 bulan dengan
bobot > 0,5 kg. Pemijahan dilakukan di kolam pemijahan. Ikan setelah
dikawinkan dimasukan ke kolam khusus atau bak yang terbuat dari fiber. Telur di
tetaskan di tempat yang telah diberikan substrat berupa sabut kelapa. Sabut kelapa
(kakaban) berfungsi sebagai tempat melekatnya telur. Telur biasanya menetas 24
jam kemudian atau 1-3 hari. Dalam usia ini, larva tidak di beri makan. Karena
masih ada sisa-sisa dari sel telur di tubuhnya. Pada hari ke empat barulah larva
diberikan makan berupa kuning telur yang dicampur dengan susu kental manis. 2
butir telur dicampur dengan 3 sendok susu kental manis dan air sebanyak 1 liter.
Setelah menetas, pemanenan dilakukan pada hari ke 7. Larva dipindahan ke bak
pendederan dan dipelihara selama sebulan. Kemudian baru dilepaskan ke bak
pertumbuhan. Benih di jual per cm. 3-5 cm dijual dengan harga 500/ekor dan
benih dengan ukuran 5-8 cm dijual dengan harga 1000/ekor.

C. Pembesaran

Ikan karper dipelihara di kolam tanah atau kolam tembok secara semi
intensif. Luas kolam untuk pembesaran, idealnya berukuran minimal 1 are.
Persipan kolam sebelum ditebari benih sama seperti persiapan saat pendederan,
yakni meliputi perbaikan pematang dan pengolahan tanah. Kolam juga perlu
dipupuk dan diberi kapur. Selama masa pemeliharaan air diusahakan selalu
mengalir. Selain itu, pemberian pakan berupa pelet dengan dosis 3 persen juga
perlu dilakukan setiap hari. Frekunesi pemberian 2 kali/hari.

Penyakit yang selama ini menyerang ikan karpel biasanya disebabkan oleh
parasit, yaitu liernea dan arbulus. Penanggulangannya dengan menggunakan
garam dan pengolahan kolam dengan sterilisasi kolam. Metodenya dengan
pengguanaan kapurdan penyaringan. Penggunaaan garam dilakukan dengan
metode perendaman. Ikan di rendam dulu, lalu dimasukan ke kolam. Ada juga
yang menggunakan abate. Dimana abate di tabur di sekeliling saluran dari kolom.
Proses pembasmian arbulus dapat dilakukan juga dimasukanya iakn nila kedam
kolam. Hal ini dikarenakan ikan nila memakan arbulus itusendiri. Hama yang
menyerang ikan adalah belut dan katak. Penanggulangan hama belut yaitu dengan
mematikanbelut jika ditemukan. Penanggulangan katak yaitu dengan
menggunakan kapur. Kapur diberikan sesuai dengan luas kolam biasanya untuk 1
kolam menggunakan 50-100 gr.

Pengukuran kualitas air menggunakan dosimeter (DO) untuk mengetahui


kadar oksigen di dalam air, pengukuran pH (normalnya 7-8), suhu untuk
pemijahan 240C. Suhu terpanas ditempat pemeliharaan dapat mencapai 310C. suhu
yang baik untuk penetasan yaitu 26-270C.

(Gambar 13. DO=Mengukur kandungan oksigen di dalam air)

IKAN NILA
Ikan nila termasuk hewan pemakan segala atau omnivora. Makanan
alaminya plankton, plankton, tumbuhan air dan berbagai hewan air lainnya. Pakan
buatan untuk budidaya ikan nila sebaiknya berkadar protein sekitar 25%. Biaya
pakan untuk budidaya ikan nila relatif lebih murah. Tidak seperti budidaya ikan
mas atau ikan lele yang membutuhkan pakan dengan kadar protein tinggi, sekitar
30-45%. Untuk memulai budidaya ikan nila ada beberapa faktor penting yang
harus diperhatikan, yakni pemilihan benih, persiapan kolam, pemberian pakan,
hingga penanganan penyakit.

Ikan nila masih satu kerabat dengan ikan mujair. Kedua ikan ini
mempunyai kemiripan sifat. Mudah berkembang biak dan mempunyai
kemampuan adaptasi yang baik. Di alam bebas, ikan nila banyak ditemukan di
perairan air tawar seperti sungai, danau, waduk dan rawa. Suhu optimal bagi
pertumbuhan ikan nila berkisar 25-30oC dengan pH air 7-8.

Memilih benih ikan nila


Pemilihan benih merupakan faktor penting yang menentukan tingkat
keberhasilan budidaya ikan nila. Untuk hasil maksimal sebaiknya gunakan benih
ikan berjenis kelamin jantan. Karena pertumbuhan ikan nila jantan 40% lebih
cepat dari pada ikan nila betina.Budidaya ikan nila secara monosex (berkelamin
semua) lebih produktif dibanding campuran. Karena ikan nila mempunyai sifat
gampang memijah (melakukan perkawinan). Sehingga bila budidaya dilakukan
secara campuran, energi ikan akan habis untuk memijah dan pertumbuhan bobot
ikan sedikit terhambat.

Persiapan kolam budidaya


Budidaya ikan nila bisa menggunakan berbagai jenis kolam, mulai dari
kolam tanah, kolam semen, kolam terpal, jaring terapung hingga tambak air
payau. Dari sekian jenis kolam tersebut, kolam tanah paling banyak digunakan
karena cara membuatnya cukup mudah dan biaya konstruksinya murah.

Keunggulan lain kolam tanah adalah bisa menjadi tempat tumbuh berbagai
tumbuhan dan hewan yang bermanfaat sebagai pakan alami bagi ikan. Sehingga
bisa mengurangi biaya pembelian pakan buatan atau pelet. Untuk memulai
budidaya ikan nila di kolam tanah, perlu langkah-langkah persiapan pengolahan
tanah. Mulai dari penjemuran, pembajakan tanah, pengapuran, pemupukan hingga
pengairan.

Berikut langkah-langkahnya:

Langkah pertama adalah pengeringan dasar kolam. Kolam dikeringkan


dengan cara dijemur. Penjemuran biasanya berlangsung selama 3-7 hari,
tergantung kondisi cuaca. Sebagai patokan, penjemuran sudah cukup bila
permukaan tanah terlihat retak-retak, namun tidak sampai membatu. Bila diinjak
masih meninggalkan jejak kaki sedalam 1-2 cm.

Selanjutnya, permukaan tanah dibajak atau dicangkul sedalam kurang


lebih 10 cm. Sampah, kerikil dan kotoran lainnya dibersihkan dari dasar kolam.
Bersihkan juga lumpur hitam yang berbau busuk, biasanya berasal dari sisa pakan
yang tidak habis.

Kolam yang telah dipakai biasanya memiliki tingkat keasaman tinggi (pH
rendah), kurang dari 6. Padahal kondisi pH optimal untuk budidaya ikan nila ada
pada kisaran 7-8. Untuk menetralkannya lakukan pengapuran dengan dolomit atau
kapur pertanian. Dosis pengapuran disesuaikan dengan keasaman tanah. Untuk pH
tanah 6 sebanyak 500 kg/ha, untuk pH tanah 5-6 sebanyak 500-1500 kg/ha, untuk
pH tanah 4-5 sebanyak 1-3 ton/ha. Kapur diaduk secara merata. Usahakan agar
kapur bisa masuk ke dalam permukaan tanah sedalam 10 cm. Kemudian diamkan
selama 2-3 hari.

Setelah itu lakukan pemupukan. Gunakan pupuk organik sebagai pupuk


dasar. Jenisnya bisa pupuk kompos atau pupuk kandang. Pemberian pupuk
organik berguna untuk mengembalikan kesuburan tanah. Dosisnya sebanyak 1-2
ton per hektar. Pupuk ditebar merata di dasar kolam. Biarkan selama 1-2 minggu.
Setelah itu, bila dipandang perlu bisa ditambahkan pupuk kimia berupa urea 50-70
kg/ha dan TSP 25-30 kg/ha, diamkan 1-2 hari. Tujuan pemupukan untuk
memberikan nutrisi bagi hewan dan tumbuhan renik yang ada di lingkungan
kolam. Sehingga hewan atau tumbuhan tersebut bisa dimanfaatkan sebagai pakan
alami ikan.

Langkah selanjutnya, kolam digenangi dengan air. Pengairan dilakukan


secara bertahap. Pertama, alirkan air ke dalam kolam sedalam 10-20 cm. Diamkan
selama 3-5 hari. Biarkan sinar matahari menembus dasar kolam dengan sempurna,
untuk memberikan kesempatan pada ganggag atau organisme air lainnya tumbuh.
Setelah itu isi kolam hingga ketinggian air mencapai 60-75 cm.

Penebaran benih ikan nila


Kolam yang telah terisi air sedalam 60-75 cm siap untuk ditebari benih
ikan nila. Padat tebar kolam tanah untuk budidaya ikan nila sebanyak 15-30
ekor/m2. Dengan asumsi, ukuran benih sebesar 10-20 gram/ekor dan akan
dipanen dengan ukuran 300 gram/ekor. Sebelum benih ditebar, hendaknya
melewati tahap adaptasi terlebih dahulu. Gunanya agar benih ikan terbiasa dengan
kondisi kolam, sehingga resiko kematian benih bisa ditekan. Caranya, masukkan
wadah yang berisi benih ikan nila ke dalam air kolam. Biarkan selama beberapa
jam. Kemudian miringkan atau buka wadah tersebut. Biarkan ikan keluar dan
lepas dengan sendirinya.

Pemeliharaan budidaya ikan nila


Setelah semua persiapan selesai dilakukan dan benih sudah ditebarkan ke
dalam kolam, langkah selanjutnya adalah merawat ikan hingga usia panen. Tiga
hal yang paling penting dalam pemeliharaan budidaya ikan nila adalah
pengelolaan air, pemberian pakan dan pengendalian hama penyakit.

a. Pengelolaan air

Agar pertumbuhan budidaya ikan nila maksimal, pantau kualitas air


kolam. Parameter penentu kualitas air adalah kandungan oksigen dan pH air. Bisa
juga dilakukan pemantauan kadar CO2, NH3 dan H2S bila memungkinkan. Bila
kandungan oksigen dalam kolam menurun, perderas sirkulasi air dengan
memperbesar aliran debit air. Bila kolam sudah banyak mengandung NH3 dan
H2S yang ditandai dengan bau busuk, segera lakukan penggantian air. Caranya
dengan mengeluarkan air kotor sebesar nya, kemudian menambahkan air baru.
Dalam keadaan normal,pada kolam seluas 100 m2 atur debit air sebesar 1
liter/detik.

b. Pemberian pakan

Pengelolaan pakan sangat penting dalam budidaya ikan nila. Biaya pakan
merupakan komponen biaya paling besar dalam budidaya ikan nila. Berikan pakan
berupa pelet dengan kadar protein 20-30%. Ikan nila membutuhkan pakan
sebanyak 3% dari bobot tubuhnya setiap hari. Pemberian pakan bisa dilakukan
pada pagi dan sore hari. Setiap dua minggu sekali, ambil sampel ikan nila secara
acak kemudian timbang bobotnya. Lalu sesuaikan jumlah pakan yang harus
diberikan.
Perhitungan dosis pakan budidaya ikan nila:

Dalam satu kolam terdapat 1500 ekor ikan nila berukuran 10-20
gram/ekor. Rata-rata bobot ikan (10+20)/2 = 15 gram/ekor. Perhitungan
pakannya 15 x 1500 x 3% = 675 gram = 6,75 kg per hari. Cek bobot ikan
setiap dua minggu untuk menyesuaikan jumlah pakan.

c. Pengendalian hama dan penyakit

Bila budidaya ikan nila sudah dilakukan secara intensif dan massal, resiko
serangan penyakit harus diwaspadai. Penyebaran penyakit ikan sangat cepat,
khususnya untuk jenis penyakit infeksi yang menular. Media penularan biasanya
melewati air. Jadi bisa menjangkau satu atau lebih kawasan kolam.

Pemanenan ikan nila


Waktu yang diperlukan untuk budidaya ikan nila mulai dari penebaran
benih hingga panen mengacu pada kebutuhan pasar. Ukuran ikan nila untuk pasar
domestik berkisar 300-500 gram/ekor. Untuk memelihara ikan nila dari ukuran
10-20 gram hingga menjadi 300-500 gram dibutuhkan waktu sekitar 4-6 bulan.

IKAN LELE
Ikan lele merupakan salah satu jenis ikan yang sanggup hidup dalam
kepadatan tinggi. Ikan ini memiliki tingkat konversi pakan menjadi bobot tubuh
yang baik. Dengan sifat seperti ini, budidaya ikan lele akan sangat
menguntungkan bila dilakukan secara intensif. Terdapat dua segmen usaha
budidaya ikan lele, yaitu segmen pembenihan dan segmen pembesaran. Segmen
pembenihan bertujuan untuk menghasilkan benih ikan lele, sedangkan segmen
pembesaran bertujuan untuk menghasilkan ikan lele siap konsumsi.

Penyiapan kolam tempat budidaya ikan lele


Ada berbagai macam tipe kolam yang bisa digunakan untuk tempat
budidaya ikan lele. Setiap tipe kolam memiliki keunggulan dan kelemahan
masing-masing bila ditinjau dari segi usaha budidaya. Untuk memutuskan kolam
apa yang cocok, dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi lingkungan,
ketersediaan tenaga kerja dan sumber dana ada.

Tipe-tipe kolam yang umum digunakan dalam budidaya ikan lele adalah
kolam tanah, kolam semen, kolam terpal, jaring apung dan keramba. Namun jenis
kolam tanah yang paling banyak digunakan. Tahapan yang harus dilakukan dalam
menyiapkan kolam tanah adalah sebagai berikut:

a. Pengeringan dan pengolahan tanah

Sebelum benih ikan lele ditebarkan, kolam harus dikeringkan telebih


dahulu. Lama pegeringan berkisar 3-7 hari atau bergantung pada teriknya sinar
matahari. Sebagai patokan, apabila permukaan tanah sudah retak-retak, kolam
bisa dianggap sudah cukup kering.

Pengeringan kolam bertujuan untuk memutus keberadaan mikroorganisme


jahat yang menyebabkan bibit penyakit. Mikroorganisme tersebut bisa bekembang
dari periode budidaya ikan lele sebelumnya. Dengan pengeringan dan
penjemuran, sebagian besar mikroorganisme patogen akan mati. Setelah
dikeringkan, permukaan tanah dibajak atau dibalik dengan cangkul. Pembajakan
tanah diperlukan untuk memperbaiki kegemburan tanah dan membuang gas
beracun yang tertimbun di dalam tanah. Bersamaan dengan proses pembajakan,
angkat lapisan lumpur hitam yang terdapat di dasar kolam. Lumpur tersebut
biasanya berbau busuk karena menyimpan gas-gas beracun seperti amonia dan
hidrogen sulfida. Gas-gas itu terbentuk dari tumpukan sisa pakan yang tidak
dimakan ikan.

b. Pengapuran dan pemupukan

Pengapuran berfungsi untuk menyeimbangkan keasaman kolam dan


membantu memberantas mikroorganisme patogen. Pengapuran dilakukan dengan
cara ditebar secara merata di permukaan dasar kolam. Setelah ditebari kapur, balik
tanah agar kapur meresap ke bagian dalam. Dosis yang diperlukan untuk
pengapuran adalah 250-750 gram per meter persegi, atau tergantung pada derajat
keasaman tanah. Semakin asam tanah semakin banyak kapur yang dibutuhkan.

Langkah selanjutnya adalah pemupukan. Gunakan paduan pupuk organik


ditambah urea dan TSP. Jenis pupuk organik yang dianjurkan adalah pupuk
kandang atau pupuk kompos. Dosisnya sebanyak 250-500 gram per meter persegi.
Sedangkan pupuk kimianya adalah urea dan TSP masing-masing 15 gram dan 10
gram per meter persegi. Pemupukan dasar kolam bertujuan untuk menyediakan
nutrisi bagi biota air seperti fitoplankton dan cacing. Biota tersebut berguna untuk
makanan alami ikan lele.

c. Pengaturan air kolam

Ketinggian air yang ideal untuk budidaya ikan lele adalah 100-120 cm.
Pengisian kolam dilakukan secara bertahap. Setelah kolam dipupuk, isi dengan air
sampai batas 30-40 cm. Biarkan kolam tersinari matahari selama satu minggu.
Dengan kedalaman seperti itu, sinar matahari masih bisa tembus hingga dasar
kolam dan memungkinkan biota dasar kolam seperti fitoplankton tumbuh dengan
baik. Air kolam yang sudah ditumbuhi fitoplankton berwarna kehijauan. Setelah
satu minggu, benih ikan lele siap ditebar. Selanjutnya, air kolam ditambah secara
berkala sesuai dengan pertumbuhan ikan lele sampai pada ketinggian ideal.

Pemilihan benih ikan lele


Tingkat kesuksesan budidaya ikan lele sangat ditentukan oleh kualitas
benih yang ditebar. Ikan lele sangkuriang merupakan hasil perbaikan dari lele
dumbo. Benih ikan lele bisa didapatkan dengan cara membeli atau melakukan
pembenihan ikan lele sendiri. Untuk membuat pembenihan sendiri dengan teknik
pemijahan ikan lele.

a. Syarat benih unggul

Benih yang ditebar harus benih yang benar-benar sehat. Ciri-ciri benih
yang sehat gerakannya lincah, tidak terdapat cacat atau luka dipermukaan
tubuhnya, bebas dari bibit penyakit dan gerakan renangnya normal. Untuk
menguji gerakannya, tempatkan ikan pada arus air. Jika ikan tersebut menantang
arah arus air dan bisa bertahan berarti gerakan renangnya baik. Ukuran benih
untuk budidaya ikan lele biasanya memiliki panjang sekitar 5-7 cm. Usahakan
ukurannya rata agar ikan bisa tumbuh dan berkembang serempak. Dari benih
sebesar itu, dalam jangka waktu pemeliharaan 2,5-3,5 bulan akan didapatkan lele
ukuran konsumsi sebesar 9-12 ekor per kilogram.

b. Cara menebar benih

Sebelum benih ditebar, lakukan penyesuaian iklim terlebih dahulu.


Caranya, masukan benih dengan wadahnya (ember/jeriken) ke dalam kolam.
Biarkan selama 15 menit agar terjadi penyesuaian suhu tempat benih dengan suhu
kolam sebagai lingkungan barunya. Miringkan wadah dan biarkan benih keluar
dengan sendirinya. Metode ini bermanfaat mencegah stres pada benih. Tebarkan
benih ikan lele ke dalam kolam dengan kepadatan 200-400 ekor per meter persegi.
Semakin baik kualitas air kolam, semakin tinggi jumlah benih yang bisa
ditampung. Hendaknya tinggi air tidak lebih dari 40 cm saat benih ditebar. Hal ini
menjaga agar benih ikan bisa menjangkau permukaan air untuk mengambil pakan
atau bernapas. Pengisian kolam berikutnya disesuaikan dengan ukuran tubuh ikan
sampai mencapai ketinggian air yang ideal.

Menentukan kapasitas kolam


Berikut ini cara menghitung kapasitas kolam untuk budidaya ikan lele
secara intensif. Asumsi kedalaman kolam 1-1,5 meter (kedalaman yang
dianjurkan). Maka kepadatan tebar bibit lele yang dianjurkan adalah 200-400 ekor
per meter persegi. Contoh, untuk kolam berukuran 3x4 meter maka jumlah bibit
ikannya minimal (34) x 200 = 2400 ekor, maksimal (34) x 400 = 4800 ekor.
(kolam tanah kapaistasnya lebih sedikit dari kolam tembok).

Pakan untuk budidaya ikan lele


Pakan merupakan komponen biaya terbesar dalam budidaya ikan lele. Ada
banyak sekali merek dan ragam pakan di pasaran. Pakan ikan lele yang baik
adalah pakan yang menawarkan Food Convertion Ratio (FCR) lebih kecil dari
satu. FCR adalah rasio jumlah pakan berbanding pertumbuhan daging. Semakin
kecil nilai FCR, semakin baik kualitas pakan. Untuk mencapai hasil maksimal
dengan biaya yang minimal, terapkan pemberian pakan utama dan pakan
tambahan secara berimbang.

a. Pemberian pakan utama

Sebagai ikan karnivora, pakan ikan lele harus banyak mengandung protein
hewani. Secara umum kandungan nutrisi yang dibutuhkan ikan lele adalah protein
(minimal 30%), lemak (4-16%), karbohidrat (15-20%), vitamin dan mineral.
Berbagai pelet yang dijual di pasaran rata-rata sudah dilengkapi dengan
keterangan kandungan nutrisi. Tinggal kita pandai-pandai memilih mana yang
bisa dipercaya.

Pakan harus diberikan sesuai dengan kebutuhan. Secara umum setiap


harinya ikan lele memerlukan pakan 3-6% dari bobot tubuhnya. Misalnya, ikan
lele dengan bobot 50 gram memerlukan pakan sebanyak 2,5 gram (5% bobot
tubuh) per ekor. Kemudian setiap 10 hari ambil samplingnya, lalu timbang dan
sesuaikan lagi jumlah pakan yang diberikan. Dua minggu menjelang panen,
persentase pemberian pakan dikurangi menjadi 3% dari bobot tubuh.

Jadwal pemberian pakan sebaiknya disesuaikan dengan nafsu makan ikan.


Frekuensinya 4-5 kali sehari. Frekuensi pemberian pakan pada ikan yang masih
kecil harus lebih sering. Waktu pemberian pakan bisa pagi, siang, sore dan malam
hari.

Ikan lele merupakan hewan nokturnal, aktif pada malam hari.


Pertimbangkan pemberian pakan lebih banyak pada sore dan malam hari. Berikan
pakan saat ikan lele agresif menyantap pakan dan berhenti apabila ikan sudah
terlihat malas untuk menyantapnya.

b. Pemberian pakan tambahan

Selain pakan utama, bisa dipertimbangkan juga untuk memberi pakan


tambahan. Pemberian pakan tambahan sangat menolong menghemat biaya
pengeluaran pakan yang menguras kantong. Keong mas dan limbah ayam bisa
diberikan dengan pengolahan terlebih dahulu. Pengolahannya bisa dilakukan
dengan perebusan. Kemudian pisahkan daging keong mas dengan cangkangnya,
lalu dicincang. Untuk limbah ayam bersihkan bulu-bulunya sebelum diumpankan
pada lele. Satu hal yang harus diperhatikan dalam memberikan pakan ikan lele,
jangan sampai telat atau kurang. Karena ikan lele mempunyai sifat kanibal, yakni
suka memangsa sejenisnya. Apabila kekurangan pakan, ikan-ikan yang lebih besar
ukurannya akan memangsa ikan yang lebih kecil.

Pengelolaan air
Hal penting lain dalam budidaya ikan lele adalah pengelolaan air kolam.
Untuk mendapatkan hasil maksimal kualitas dan kuantitas air harus tetap terjaga.
Awasi kualitas air dari timbunan sisa pakan yang tidak habis di dasar kolam.
Timbunan tersebut akan menimbulkan gas amonia atau hidrogen sulfida yang
dicirikan dengan adanya bau busuk. Apabila sudah muncul bau busuk, buang
sepertiga air bagian bawah. Kemudian isi lagi dengan air baru. Frekuensi
pembuangan air sangat tergantung pada kebiasaan pemberian pakan. Apabila
dalam pemberian pakan banyak menimbulkan sisa, pergantian air akan lebih
sering dilakukan.

Panen budidaya ikan lele


Ikan lele bisa dipanen setelah mencapai ukuran 9-12 ekor per kg. Ukuran
sebesar itu bisa dicapai dalam tempo 2,5-3,5 bulan dari benih berukuran 5-7 cm.
Berbeda dengan konsumsi domestik, ikan lele untuk tujuan ekspor biasanya
mencapai ukuran 500 gram per ekor. Satu hari (24 jam) sebelum panen, sebaiknya
ikan lele tidak diberi pakan agar tidak buang kotoran saat diangkut. Pada saat ikan
lele dipanen lakukan sortasi untuk misahkan lele berdasarkan ukurannya.
Pemisahan ukuran berdampak pada harga. Ikan lele yang sudah disortasi
berdasarkan ukuran akan meningkatkan pendapatan.
DAFTAR PUSTAKA

Anggoro, S. 1983. Permasalahan Kesuburan Perairan Bagi Peningkatan


Produksi ikan di Tambak. Paper Kolokium. Jurusan Ilmu Perairan.
Fakultas Pasca Sarjana. IPB. Bogor
Chua,T. E and S.K. Teng. 1978. Effect of frequency on the growth of estuary
grouper Epinephelus tauvina cultureed in floating net cages.
Aquaculture. 14: 31-47.
Sidatik. 2011. Statistik Ekspor Hasil Perikanan 2010. Kementerian Kelatan dan
Perikanan. Jakarta
Supratno, T. 2006. Evaluasi Lahan Tambak Wilayah Pesisir Jepara Untuk
Pemanfaatan Budiaya Ikan Kerapu. Tesis Program Studi Magister
Manajemen Sumberdaya Pantai. Unversiatas Diponegoro. Semarang
Supratno, KP, T dan Kusnendar, E. 2001. Teknologi dan Kelayakan Usaha
Budidaya Kerapu Tikus di Tambak. Balai Besar Pengembangan
Budidaya Air Payau Jepara. Prosiding Lokakarya Nasional 2001
Pengembangan Agribisnis Kerapu. BPPT, Jakarta.
Zaidi, A. 1992. Pengelolaan Kualitas Habitat Tambak Dalam Menunjang Proses
Produksi Budidaya Udang Windu (P.monodon Fab) Di Proyek Pandu
TIR Karawang. Thesis S-2 IPB, Bogor.
Chumaidi dan Priyadi, A. 2003. Pengaruh Perbedaan Dosis Pakan Alami (Tubifex
sp) dan Padat Penebaran Benih Ikan Gurame (Osphronemus gouramy Lac)
Terhadap Efisiensi Pakan.Prosiding Volume 4. Sekolah Tinggi Perikanan.
Jakarta.

Feliatra., I. Effendi dan E. Suryadi. 2004. Isolasi dan Identifikasi Bakteri


Probiotik dari Ikan Kerapu Macan (Ephinephelus fuscogatus) dalam
Upaya Efisiensi Pakan Ikan. Jurnal
Hadie, W dan J. Supriatna. 2000. Teknik Budidaya Bandeng. Bhratara. Jakarta

http : //Materi-Mata-Kuliah-Planktonologi-Laut.html.com/. Diakses pada :


Rabu, 2 November 2016.

Basyarie, A. 1989. Pengendalian hama dan penyakit ikan. Sub balai penelitian
budidaya pantai.Bojonegoro. 26 hal.

Mucharie, A. Sapriatna. T. Ahmad, dan kohno. 1991. Pepeliharaan Larva Kerapu


Macan, (Ephinepelus fuscoguttatu)s.pen. Perikanan. (terbitan Khusus). 34
hal.

Sudjiharno, 2003. Perkembangan Usaha Budidaya Kerapu di Keramba Jaring


Apung di Wilaya lampung. 53 Hal