Anda di halaman 1dari 16

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadiran Tuhan Yang Maha Esa, karena
atas rahmat_Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini. Mengingat
akan fungsi makalah ini yaitu untuk tugas mata kuliah Pengantar teknologi
mineral.
Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih terdapat
banyak kekurangan- kekurangan, oleh karena itu kami mengharapkan kritik
dan saran yang sifatnya membangun untuk lebih baik lagi.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembacanya. Sekian dan
terima kasih.

Yogyakarta , 22 september 2016

Penyusun

1 | Page
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...............................................................................................
DAFTAR ISIBAB I PENDAHULUAN.....................................................................
1.1 Latar belakang..................................................................................................
1.2 Maksud dan Tujuan..........................................................................................
BAB II PEMBAHASAN..........................................................................................
2.1 Bahan Galian Kelompok Mineral Logam
2.2 Bahan Galian Kelompok Mineral Non Logam
2.3 Bahan Galian Kelompok Batuan
2.4 Bahan Galian Kelompk Batubara
2.5 Bahan galian Kelompok Radioaktif
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Dolomit, salah satu variasi batu gamping, merupakan bahan baku
penting yang digunakan industri gelas dan kaca lembaran, industri keramik dan
porselin, industri refraktori, pupuk dan pertanian. Dalam industri hilir,

2 | Page
pemakaian dolomit dapat diginakan secara langsung maupun dalam bentuk
kimia dolomit.
Potensi dolomit dolomit di Indonesia cukup besar dan terbesar mulai dari
Provinsi DI Aceh hingga Irian Jaya dengan spesifikasi yang berbeda,
sedangkan dolomit saat in baru diketahui terdapat di daerah Sedayu, dan
Tuban, Jawa Timur.

1.2 Maksud dan Tujuan


1. Untuk memenuhi tugas mata kuliah Pengantar Teknologi Mineral
2. Untuk mengetahui ganesa bahan galian dolomit
3. Untuk mengetahui rumus kimia dolomit
4. Untuk mengetahui keterdapatan dolomit di Indonesia
5. Untuk mengetahui pemanfaatan dolomit

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Ganesa bahan galian Dolomit


2.1.1 Mula jadi
Dolomit yang baru dikenal aejak tahun 1882, merupakan variasi batu
gamping yang mengandung > 50% karbonat. Istilah dolomit pertmama kali

3 | Page
digunakan untuk batuan karbonat tertentu yang terdapat di daerah Tyrolean
Alpina (Pettijohn. F.J. 1956). Dolomit dapat terbentuk, baik karena proses
primer maupun sekunder.
Secara sekunder, dolomit umumnya terjadi karena proses pelindian.
(leaching) atau peresapanunsur magnesium dariair laut ke dalam batu
gamping, atau yanglebih dikenal dengan proses dolomitisasi, yaitu proses
perubahan mineral kalsit menjadi dolomit. Selain itu, dolomit sekunder dapat
juga terbentuk karena diendapkan secara tersendiri sebagai endapan evaporit.
Pembentukan dolomit sekunder dapat terjadi karena beberapa faktor,
diantaranya adalah tekanan air yang banyak mengandung unsur magnesium
dan prosesnya berlangsung dalam waktu lama. Dengan semakin tua umur batu
gamping, semnakin besar kemungkinannya untuk berubah menjadi dolomit.
Dolomit primer umumnya berbentuk urat, yang terbentuk bersama-sama dalam
cebakan bijih.

2.1.2 Mineralogi
Sebagai satu rumpun mineral karbonat, dolomit mempunyai struktur
kristal rhombohedral yang mempunyai komposisi kimia CaMg(CaCO) 2 atau
mengandolomit dan berkommposisi MgFe(CaCO3)2 atauferrodolomit.
Umumnya dolomit berwarnaputih keabu-abuan atau kebiru-biruan denga
kekerasan lebih lunak. Dari batu gamping (berkisar antara 3,5-4), bersifat pejal,
berat jenis antara 2,8 2,9 yang berbutir halus hingga kasar dan mempunyai
sifat mudah menyerap air serta mudah dihancurkan.
Batuan ini merupakanb atu kapur yang sebagian dari unsur kalsiumnya
diganti oleh magnesium. Kandungan unsur magnesium menentukan nama
dolomit tersebut. Misalnya batu kapur yang mengandung 10 % MgCO 3
disebut kapur dolomitan, sedangkan bila mengandung 19 % MgCO 3 disebut
dolomit.

2.1.3 Potensi dan Penyebaran


Tushadi (1990) menyatakan bahwa penyebaran dolomit yang cukup
besar terdapat di Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur,

4 | Page
dan Madura,Timor Timur, dan Irian Jaya. Selain itu , sebenarnya dolomit juga
tersebar di daerah lain, namun jumlahnya relatif jauh lebih kecil, dan hanya
berupa lensa-lensa pada endapan batu gamping.
a. Provinsi Jawa Barat
Dijumpai di daerahCibinong, Bogor yaitu di Pasir Gedogan. Dolomit
di daerah ini umumnya berwarna putih abu-abu dan putih, serta
termasuk batu gamping dolomitan yang bersifat keras kompak dan
kristalin.
b. Provinsi Jawa Tengah
Dijumpai di daerah Pamotan, tepatnya sekitar 1 km di sebelah timur
laut Pamotan. Cebakan di daerah ini berupa batuan dolomit dan batu
gamping dolomitan.
c. Provinsi Jawa Timur
Dijumpai di beberapa daerah, yaitu :
Di daerah G. Ngaten dan G. Ngembang, Tuban yang terdapat
pada bagian atau formasi batu gamping yang berumur
Pliosen. Cadangan dolomit dengan kandungan MgO 18,5 %
sebesar 9 juta m3 , sedangkan dengan kandungan MgO 14,5
% sebesar 3 juta m3.
Di daerah Sekapuk, endapan dolomit terdapat di sebelah
Utara Kampung Sekapuk yang terletak antara Sedayu-Tuban.
Endapan batu gamping dan dolomit di daerah ini membentuk
bukit Sekapuk, Kaklak, dan Malang. Batuan dolomit di daerah
ini terdapat pada formasi gamping berumur pliosen, denga
ketebalan 50 m dan mempunyai sifat lunak serta berwarna
putih. Jumlah cadanga sekitar 50 juta m3.
Di daerah Pacitan, Sentul, dan Pancen umumnya batu
gamping yang mengandung dolomit 45,5 90,4 % berumur
Pliosen. Di daerah G. Kaklak, Tuban cebakan dolomit terdapat
dalam formasi batu gamping pliosen dengan ketebalan sekitar
35 m danbesar cadangan diperkiraka sekitar 70 juta m 3.
d. Provinsi Sumatera Barat
Dijumapi di daerah G. Kajai. Analisa batu gaming yang diambil dari
bongkahan lepas yang berasal dari dapur bakar batu gamping dekat
Kajai (antara Bukittinggi - Payakumbuh).diperkirakan berumur
Permokarbon.
e. Provinsi Sulawesi Selatan

5 | Page
Dijumpai di darah Tonasa, beberapa contoh batu gamping yang
berasal dari Tonasa telah dianalisa, hasilnya menunjukkan bahwa
contoh tersebut adalah dolomit yang berumur Eosen dan merupakan
lensa-lensa dalam batu gamping.
f. Provinsi Irian Jaya
Terdapat di daerah Abe Pantai, sekitar gunung Sejahiro, G. Mer dan
Tanah Hitam dengan Kandungan MgO = 10,7 % - 21,8 %merupakan
lensa-lensa dan kantong-kantong dalam batu gamping.

2.2 Rumus kimia Dolomit


2.2.1 Rumus kimia dolomit
Dolomit termasuk rumpun mineral karbonat, mineral dolomit murni secara
teoritis mengandung 45,6% MgCO3 atau 21,9% MgO dan 54,3% CaCO3 atau
30,4% CaO. Rumus kimia mineral dolomit dapat ditulis meliputi
CaCO3.MgCO3, CaMg(CO3)2 atau CaxMg1-xCO3, dengan nilai x lebih kecil
dari satu. Dolomit di alam jarang yang murni, karena umumnya mineral ini
selalu terdapat bersama-sama dengan batu gamping, kwarsa, rijang, pirit dan
lempung. Dalam mineral dolomit terdapat juga pengotor, terutama
ion besi. Dolomit berwarna putih keabu-abuan atau kebiru-biruan dengan
kekerasan lebih lunak dari batugamping, yaitu berkisar antara 3,50 - 4,00,
bersifat pejal, berat jenis antara 2,80 - 2,90, berbutir halus hingga kasar dan
mempunyai sifat mudah menyerap air serta mudah dihancurkan.
2.3 Keterdapatan Dolomit di Indonesia
2.3.1 Potensi dan penyebaran
Tushadi (1990) menyatakan bahwa penyebaran dolomit yang cukup besar
terdapat di Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan
Madura,Timor Timur, dan Irian Jaya. Selain itu , sebenarnya dolomit juga
tersebar di daerah lain, namun jumlahnya relatif jauh lebih kecil, dan hanya
berupa lensa-lensa pada endapan batu gamping.
g. Provinsi Jawa Barat
Dijumpai di daerahCibinong, Bogor yaitu di Pasir Gedogan. Dolomit
di daerah ini umumnya berwarna putih abu-abu dan putih, serta
termasuk batu gamping dolomitan yang bersifat keras kompak dan
kristalin.

6 | Page
h. Provinsi Jawa Tengah
Dijumpai di daerah Pamotan, tepatnya sekitar 1 km di sebelah timur
laut Pamotan. Cebakan di daerah ini berupa batuan dolomit dan batu
gamping dolomitan.
i. Provinsi Jawa Timur
Dijumpai di beberapa daerah, yaitu :
Di daerah G. Ngaten dan G. Ngembang, Tuban yang terdapat
pada bagian atau formasi batu gamping yang berumur
Pliosen. Cadangan dolomit dengan kandungan MgO 18,5 %
sebesar 9 juta m3 , sedangkan dengan kandungan MgO 14,5
% sebesar 3 juta m3.
Di daerah Sekapuk, endapan dolomit terdapat di sebelah
Utara Kampung Sekapuk yang terletak antara Sedayu-Tuban.
Endapan batu gamping dan dolomit di daerah ini membentuk
bukit Sekapuk, Kaklak, dan Malang. Batuan dolomit di daerah
ini terdapat pada formasi gamping berumur pliosen, denga
ketebalan 50 m dan mempunyai sifat lunak serta berwarna
putih. Jumlah cadanga sekitar 50 juta m3.
Di daerah Pacitan, Sentul, dan Pancen umumnya batu
gamping yang mengandung dolomit 45,5 90,4 % berumur
Pliosen. Di daerah G. Kaklak, Tuban cebakan dolomit terdapat
dalam formasi batu gamping pliosen dengan ketebalan sekitar
35 m danbesar cadangan diperkiraka sekitar 70 juta m 3.
j. Provinsi Sumatera Barat
Dijumapi di daerah G. Kajai. Analisa batu gaming yang diambil dari
bongkahan lepas yang berasal dari dapur bakar batu gamping dekat
Kajai (antara Bukittinggi - Payakumbuh).diperkirakan berumur
Permokarbon.
k. Provinsi Sulawesi Selatan
Dijumpai di darah Tonasa, beberapa contoh batu gamping yang
berasal dari Tonasa telah dianalisa, hasilnya menunjukkan bahwa
contoh tersebut adalah dolomit yang berumur Eosen dan merupakan
lensa-lensa dalam batu gamping.
l. Provinsi Irian Jaya
Terdapat di daerah Abe Pantai, sekitar gunung Sejahiro, G. Mer dan
Tanah Hitam dengan Kandungan MgO = 10,7 % - 21,8 %merupakan
lensa-lensa dan kantong-kantong dalam batu gamping.

7 | Page
2.4 Pemanfaatan Dolomit
Dolomit banyak digunakan baik untuk keperluan bahan bangunan, pertanian,
ataupundalam industri. Dolomit banyak digunakan sebagai komoditi pada :
Industri refraktori
Dalam tungku pemanasan atau tungku pencairan
Dalam pupuk digunakan unsur Mg untuk meningkatkan Ph tanah
Industri kaca, plastik, dan kertas
Bahan pembuat semen
Industri alkali
Pembersih air
Industri ban
Industri obat-obatan dan kosmetik
Campuran makanan ternak
Industri keramik
Bahan penggosok

Dalam kaitannya dengan pengunaan dalam industri di Indonesia, dibatasi


hanya dalam beberapa ssektor industri saja,sesuaidengan yang terdatar di
departemen perindustrian, seperti industri gelas dan kaca lembaran, industri
keramik dan porselin, industri refraktori, pertanian khususnya perkebunan,
industri peleburan dan pemurnian logam, industri galian nonlogam.
Dari sekian banyak cara pemanfaatannya penggunaan dolomit dapat
dikelompokkan menjadi 3 yakni :
1. Penggunaan dolomit secara langsung
2. Penggunaan dolomit yang telah dikalsinasi
3. Penggunaan kimia dolomit

2.4.1 Penggunaan Dolomit secara langsung


Penggunaan dolomit secara langsung digunakan untuk pertanian,
semen klinker mortar, klinker dolomit, penyemenan atau dempul untuk rekahan-
rekahan.sedangkan di Kwait saat ini dolomit digunakan sebagai materail untuk
jalan.

a. Pertanian

8 | Page
Dolomit digunakan untuk menetralisir tanah yang sudah asam dan
digunakan untuk menahan keasaman yang ditimbulkan oleh
penggunaan pupuk seperti urea. Dolomit menetralisir keasamaan
melalui petukaran ion, dan kation kalsium dan magnesium,
menghilangkan ion hidrogen didalam tanah. Berdasarkan hasil penilitian
proses in dapat meningkatkan sekitar 15 40% produksi tanaman.
Dalam sektor pertanian dolomit dipergunakan untuk menaikkan ph
tanah asam dan sebagai sumber magnesium. Pada tanah masam unsur
yang , yang mengakibatkan banyak terkandung adlah Mn dan Fe serta
kekurangan unsur Mg, yang mengakibatkan tanaman tidak dapat
mengasimilasi co2.
Karena pupuk dolomit bersifat alkalis termasuk salah satu jenis bahan
kapur pertanian , penggunaan terus menerus dapat menurunkan
keasaman tanah atau meningkatkan ph tanah. Perubahan sifat tanah ini
dapat menyebabkan beberapa unsur hara makoro dan mikro, terutama
P, K, Cu, dan Zn menjadi tidak tersidia atau penyerapanya oleh akar
tanaman akan terganggu.
Fakto- faktor yang mempengaruhi keaktifan dolomit sebagai pupuk
Mg untuk tanaman perkebunan belum sepenuhnya diketahui dan perlu
diteliti lebih jauh. Penelitian yang perlu mendapatkan prioritas antara lain
:
Kehalusan butir,
Jenis dan kadar unsur yang terkandung,
Metode analisis pupuk untuk mendapatkan keefektifan dolomit bagi
tanaman perkebunan,
Kemungkinan penggunaan dolomit untuk berbagai macam tanaman
perkebunanpada tanah beraksi netral sampai alkalin.

b. Semen klinker mortar


Penambahan dolomit sampai 40% terhadap semen mempercepat
hidrasi semen. Butiran halus dolomit berkisar 1.150 hingga10.300 cm 2/g.
Untuk membuat semen portland, material halus dolomit ini ditambahkan
dengan rasio 1 : 2,75 ke mortar, yang secara alamiah membentuk pasir
silisius dan yaitu dolomit yang perbandingan harganya saat in 1 : 6.

9 | Page
Mempunyai berat jenis mendekati 2,63 g/cm 3, kandungan dolomit antara
10 40% dari berat semen akan merubah volume pasir, rasio air antara
30 :70 . Dari hasil penelitian ternyata batu gamping pun pada dasarnya
menghasilkan nilai yang hapir sama.

c. Klinker dolomit
Untuk pembuatan klinker dolomit ( Mamykin dan Invanova 1971 ) bahwa
spesifikasi dolomit yang dapat digunakan adalah :
CaO 32,51%
MgO 20,59%
SiO2 sedikit
Fe2O3 0,13%
Al2O3 0,05%
TiO2 0,04%
Lol 46,25%

Dolomit dipanaskan dan ditambahkan kalsium florida pada temperatur


1.5000c , memperlambat hidrasi dan mempercepat kristalisai MgO.

d. Dempul Rekahan
Selain batu gamping , dolomit atau campuran keduanya dapat
digunakan untuk membuat dempul sebagai dempul penyemenan
rekahan-rekahan pada kayu. Komposisi untuk dempul ini, kandungan
dolomitnya sekitar 85% dari keseluruhanya. Untuk filler kandungan
dolomitnya kurang dari 95% harus lebih kecil dari 150 mikron dan bila
kurang 50% dari beratnya harus lebih kecil dari 53 mikron.

2.4.2 Dolomit Kalsinasi


a. Semen Magnesium Oksiklorida
Magnesium oksiklorida dapat dibuat dari Mg-CaCO 3 melalui proses
kalsinasi pada dolomit. Caranya adalah penambahan terhadap 100 bagian
MgO dengan 100 bagian magnesium klorida dicampur dalam 30 ml air dan 1
bagian sodium heksame-tafosfat. Reaksi antara oksigen dan magnesium
klorida menghasilkan semen magnesium oksiklorida (5MgO.MgCl 2.9H2O).
semen ini dapat digunakan dalam industri polister (SMC) yang akan
membentuk garam dengan karboksiklorida dan kelompok molekul polister.

10 | P a g e
Kecepatan reaksi penebalannya dapat dikontrol di daerah permukaan atau dari
ukuran butir magnesiumnya. SMC banyak digunakan dalam industri komponen
kendaraan mobil.
Semen ini cukup keras, tetapi tidak tahan terhadap air. Untuk
menghindarkannya dapat dilindungi dengan pemolesan dengan menggunakan
serpentin. Semen ini sering digunakan sebagai material dasar. Penggunaan
lainnya adalah untuk matrik penyemenan dalam berbagai variasi. Hampir
keseluruhan komposisi semen ini tahan terhadap pelarut, kuat akan tekanan
dan tarikan harga bersaing, dan tahan terhadap api dan serangga.
b. Semen Magnesium Oksisulfat
Saat ini telah ditemukan cara untuk menghaluskan karbonat dari dolomit
dan kalsium sulfat untuk menghasilkan larutan dengan bebas dari unsur besi,
yakni dengan proses :
MgCO3 + CaSO4 MgSO4 + CaCO3
Magnesium Gypsum Magnesium Kalsium

Karbonat Sulfat Karbonat

Untuk menghasilkan semen magnesium oksisulfat maka perlu disiapkan bahan


dasar berupa MgSO47H2O (magnesium sulfat heptahidrat). Pertama-tama
sediakan 50% larutan konsentrat MgSO 4 7H2O, kemudian tambahkan sodium
heksametafosfat ( 6% dari berat MgSO 4 7H2O), lalu tambahkan magnesium
oksida dari dolomit yang sudah dikalsinasi. Sehingga proses ini akan
menghasilkan 5MgSO4. MgSO4. 8H2O.
Penambahan fosfat ke dalam reaksi ini mengandung banyak maksud, yaitu
diantaranya sebagai perubah viskositas, bereaksi dengan magnesium oksida
membentuk magnesium polifosfat komplek, dan juga sebagai binder.
Hal penting adalah bahwa penambahan fosfat adalah membantu mengikat
kembali kalsium oksida dari kalsinasi dolomit, sehingga mencegah bentukan
dari kalsium hidroksida, karena kalau hal ini terjadi maka akan terjadi
penurunan kualitas semennya. Semen ini banyak digunakan untuk
mempercepat pembuatan jalan raya, pavement dan berbagai konstruksi serta
untuk mengisi rekahan-rekahan (Limes and Russel, 1975).
c. Busa Magnesium Anorganik

11 | P a g e
Sejenis busa dari bahan anorganik dapat dibuat dengan mereaksikan
oksida megnesium dengan asam polifosforik. Jenis produknya antar lain adalah
untuk bahan pintu, pelapis, dinding tahan api, bata penyekat , dan pencegah
keliling baja dari korosi.
d. Bata Silika t
Prosesnya dimulai dengan memisahkan bagian yang terutama
mengandung partikel dengan ukuran 106 mikron dari dolomit yang dikalsinasi.
Bagian ini kemudian ditambahkan ke bagian penghidrasian dari oksidasi
magnesium dan oksidasi kalsium. Pemisahan bagian ini dapat dilakukan
dengan penyaringan atau dengan mengunakan pemisahan udara, sementara
partikel pasiran di buang.
Partikel pasiran terutama mengandung oksidasi magnesium dan bagian
mengandung sebagian dari oksidasi magnesium yang berukuran 106 mikro.
Bagian ini dapat digunakan untuk industri bata silikat

2.4.3 Pengunanan Dolomit dari Kimia Dolomit


Viswanathan ( 1979) telah melakukam proses pemisahan magnesium
karbonat dan kalsium karbonat dari dolomit atau batu gamping dolomitan.
Magnesium karbonat telah digunakan sebagai pengganti kalsium karbonat
dalam industry refraktory dasar dan kimiawi magnesium juga digunakan
sebagai pengisi (filler) dalam industri plastik. Bagian yang kaya akan batu
gamping dapat dimanfaatkan untuk industi semen .
a. Magnesium oksidasi
Magnesium oksidasi dari dolomit banyak digunakan di beberapa industri,
diantaranya industri gelas dan kaca , keramik dan untuk refraktori.
. Industri gelas dan kaca lembaran
Dalam industri kaca diperlukan bahan bahan seperti : pasir silika, soda
(Na2CO3), kapur, dolomit dan lain lainnya. Dolomit yang dipakai mempunyai
standar Perancis, untuk industri kaca diperlukan oksida oksida
termasuk di dalamnya magnesium oksida dari dolomit dengan spesifikasi
sebagai berikut :
SiO2 :0,15%
Fe2O3 : 0,03%

12 | P a g e
Al2O3 : 0,05%
MgO : 20,80%
CaO : 31,80%
Sedangkan komposisinya adalah :
SiO2 : 70 72%
Al2O3 :02%
CaO : 6 12%
Na2O3 : 12 - 16%
MgO : 0 4%
Sedangkan dalam industri kacayang memproduksi kaca tak berwarna, dolomit
dipergunakan sebagai bahan tambahan, dengan spesifikasinya antara lain ;
Kadar air bebas : maks. 5,00%
MgO : min 19,00%
CaO : min. 33,00%
Fe2O3 : maks. 0,05%
Dengan besar ukuran butir :
Ukuran lubang ayakan : berat (%)
+2,0 : nihil
+0,83 : maks. 15
-0,15 : maks. 20

Industri keramik dan porselin


Dalam industri keramik dan porselin, dolomit yang dipergunakan diantaranya
harus mempunyai spesifikasi antara lain :
MgO : min. 17,5% (dari dolomit)
CaO : min 27,5%
Fe2O : maks 0,5%

Industri Refaktori
Bahan refaktori ( bahan tahan api ) adalah bahan non metal yang mempunyai
kemantapan ukuran sifat fisik dan kimia pada suhu tinggi dan kondisi kerja
yang stabil waktu dipergunakan.

13 | P a g e
Dolomit adalah batuan karbonat yang banyak mengandung CaCO 3.MgCO3,
secara teoritis komposisinya adalah :
CaO : 30,4%
MgO : 21,9%
CO2 : 47,7%

Dolomit biasanya banyak digunakan untuk pembuatan barang tahan api, yang
digunakan dalam industri baja karena bahan ini sangat mudah didapat dan
murah. Akan tetapi, karena CaO dalam dolomit sangat sukar dibakar mati
(dead burn) maka penggunaan bahan ini tergeser oleh magnesit.
Persyaratan dolomit untuk bata tahan api ini adalah sebagai berikut :
MgO : min 19%
SiO2 : maks. 2%
R2O3 (Al2O3 + Fe2O3 + Mn3O4 : maks. 2 %
Dolomit adalah salah satu bahan pembentuk barang tahan api basa, tempat
barang tahan api tersebut ada beberapa jenis, yaitu : magnesit, dolomit, krom,
krom magnesit ( kadar krom lebih banyak) dan magnesit krom (kadar magnesit
lebih banyak). Cara pembuatan bata-bata basa ini ada dua macam yaitu
dibakar atau tidak dibakar.
Magnesit lebih banyak dipergunakan dari pada dolomit, karena magnesit jauh
lebih stabil. Dolomit mempunyai kerugian antara lain :
- Kecenderungan untuk slacking (bereaksi dengan air dan CO 2).
- Bata dolomit rapuh,
- Bata dolomit mempunyai kecenderungan untuk menjadi bubuk.
Magnesit dan dolomit selain dibuat bata juga sebagai mortar, pembuatan bata
magnesit dapat disingkat sebagai berikut :
a. Kalsinasi bahan mentah untuk menghilangkan CO 2nya
b. Bahan yang sudah dikalsinasi ini digiling dengan dry pan atau roller mill
hingga mencapai butiran 6 mesh.
c. Hasil saringan ditambah bdengan air 5-7% dengan perekat organik
dicampur dengan menggunakan wet pan.
d. Bahan campuran dibentuk dengan tekanan tinggi, setelah itu dikeringkan
dalam pengeringan terowongan.
e. Bata mentah ini kemudian dibakar dalam tungku selama 18-21 hari pada
temperatur 2.075-2.768o F.

Industri Peleburan dan Pedmurnian Logam


Dalam industri peleburan dan pemurnian dolomit dipakai sebagai bahan imbuh
(influx) yang berfungsi untuk menurunkan titik lebur. Pada peleburan biji besi
unsur-unsur ikutan seperti silika dan alumina akan bersenyawa dengan bahan
imbuhan yang mengapung diatas lelehan besi sehingga dipisahkan.
Penyebaran panas pada talur metalurgi harus baik, maka dolomit yang akan
digunakan harus memiliki sifat-sifat :

14 | P a g e
- Sarang keras
- Lunak dan hancur sebelum mencapai titik lebur logamnya
- MgO antara 17-19%
- SiO2 maksimal 6%
- Al2O3 + Fe2O3 + MgO maksimal 5%
2.3.4 Industri Lainnya
Selain pemakaian dalm industri-industri seperti diatas penggunaan
dolomit lainnya adalah :
- Dalam industri alkali diperlukan batu gamping dolomitan dengan
kandungan MgO 6%
- Sebagai pengikat senyawa sulfur dari bahan-bahan yang banyak
mengandung sulfur
- Dolomitan dipakai sebagai pembersih air, untuk mengikat SiO 2
dalam air
- Sebagai bahan pengisi dalam industri ban, cat, kertas, dan
sebagainya
- Sebagai bahan baku obat-obatan dan kosmetik
- Sebagai campuran makanan ternak

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dolomit dapat digunakan oleh beberapa industri hilir. Di antaranya
oleh industri gelas dan kaca lembaran, industri keramik, pertanian, dan
lain-lain. Digunakan sebagai bahan baku utama maupun sebagai bahan
baku penolong. Potensi dolomit di Indonesia cukup banyak, yang
tersebar di seluruh Indonesia, dengan kualitas yang berbeda.

15 | P a g e
DAFTAR PUSTAKA
Corr D.D. and Roony LF, Limestone and Dolomit, Industrial Mineral,

March 1990.
Dhadar J.R., Bahan Galian Indonesia, Direktorat Jenderal Pajak

Pertambangan Umum. 1990.


Thampan, P.K., Hanbook on Coconut Palm, Oxford & IBM Publising Co.,

1981.

16 | P a g e