Anda di halaman 1dari 25

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan
karunia-Nya, sehingga saya selaku penyusun makalah pengolahan bahan galian
dapat menyusun dan menyelesaikan makalah ini dengan sebagaimana mestinya
karena tanpa penyertaan dan bimbingan-Nya saya tidak mungkin menyelesaikan
semuanya ini.
Demikianlah makalah ini dibuat dengan harapan akan berguna baik untuk
saya sebagai penyusun, pembaca, maupun bagi orang lain yang memerlukannya.
Seandainya ada kekurangan-kekurangan yang tidak sengaja terjadi, dalam arti
penulisan kata-kata dan lain sebagainya, penyusun dengan rendah hati mohon
maaf yang sebesar-besarnya.

Yogyakarta, 29 Desember 2016

Penyusun

21
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...............................................................................................1
DAFTAR ISI............................................................................................................2
BAB I.......................................................................................................................3
PENDAHULUAN...................................................................................................3
1.1 Latar belakang................................................................................................3
1.2 Maksud dan tujuan..........................................................................................3
BAB II......................................................................................................................5
PEMBAHASAN......................................................................................................5
2.1.DESKRIPSI UMUM LOKASI.......................................................................5
2.2.KEGIATAN YANG DILAKSANAKAN.......................................................6
1. Pembentukan disposal dan pengaturan permukaan...................................6
2 Perlindungan Top soil.....................................................................................7
3. Penghamparan top soil..............................................................................9
4. Pengendalian erosi.....................................................................................9
5. Persemaian...............................................................................................10
6. Penanaman...............................................................................................11
2.3. HASIL..........................................................................................................13
2.3.KENDALA DAN PERMASALAHAN........................................................21
2.4. HARAPAN YANG DIINGINKAN.............................................................21
BAB III..................................................................................................................22
PENUTUP..............................................................................................................22
3.1 KESIMPULAN DAN SARAN....................................................................22
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................23

21
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

PT Adaro Indonesia adalah salah satu kontraktor Perjanjian Karya


Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) yang melakukan
kegiatan eksplorasi dan penambangan batubara di Kabupaten Balangan
dan Kabupaten Tabalong, Propinsi Kalimantan Selatan. Luas wilayah
pertambangan (mining area) Perjanjian Karya Pengusahaan
Pertambangan Batubara PT Adaro Indonesia seluas 35.800 Ha (tiga puluh
lima ribu delapan ratus hektar) yang berlaku mulai tanggal 29 April 1998.
Metoda penambangan yang diterapkan adalah tambang terbuka
dengan menggunakan kombinasi kerja alat gali-muat dan angkut.
Pengelolaan lingkungan merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan
dari bagian operasional tambang. Salah satu pengelolaan lingkungan
yang dilakukan oleh PT Adaro Indonesia adalah dengan melakukan
kegiatan reklamasi.
Pengertian dari reklamasi yaitu suatu usaha memperbaiki atau
memulihkan kembali lahan dan vegetasi dalam kawasan hutan atau bukan
kawasan hutan yang rusak sebagai akibat kegiatan usaha pertambangan
dan energi agar dapat berfungsi secara optimal sesuai dengan
peruntukannya.
Sesuai dengan definisinya, tujuan utama reklamasi adalah
menjadikan kawasan yang rusak atau tak berguna menjadi lebih baik dan
bermanfaat. Kawasan baru tersebut, biasanya dimanfaatkan untuk
kawasan pemukiman, perindustrian, bisnis dan pertokoan, pertanian, serta
objek wisata.

1.2 Maksud dan tujuan

1. Memenuhi tugas pengantar teknologi mineral


2. Mengetahui rancangan reklamasi Pt.Andaro persero
3. Mengetahui metode reklamasi Pt.Andaro persero
4. Mengetahui hasil dari reklamasi yang dilakukan oleh Pt.Andaro persero

21
BAB II

PEMBAHASAN

2.1.DESKRIPSI UMUM LOKASI

Lokasi penambangan terletak di Kabupaten Balangan dan


Kabupaten Tabalong Propinsi Kalimantan Selatan, berjarak lebih kurang
220 km dari kota Banjarmasin ke arah utara yang dapat ditempuh melalui
jalan darat, dengan waktu tempuh sekitar lima (5) jam. Jika ditempuh
melalui udara (Pelita Air Service) dapat ditempuh sekitar 45 menit dari
Banjarmasin.
Lokasi pengolahan batubara (crushing plant) dan Pelabuhan
Khusus batubara berada di Kabupaten Barito Selatan Propinsi Kalimantan
Tengah. Lokasi jalan khusus angkutan batubara yang menghubungkan
area penambangan dengan pengolahan dan pelabuhan batubara
dibangun oleh PT Adaro Indonesia berjarak 84 km. Lokasi jalan ini
melintasi dan berada di wilayah Kabupaten Tabalong, Kabupaten Barito
Timur dan Kabupaten Barito Selatan.

Gambar 1. Lokasi Tambang Adaro

Kegiatan pertambangan batubara berada pada lokasi :

Tambang Tutupan, meliputi :


- Desa Padang Panjang Kecamatan Tanta Kabupaten Tabalong Propinsi

21
Kalimantan Selatan.
- Desa Buntu Karau Kecamatan Juai Kabupaten Balangan Propinsi
Kalimantan Selatan.
- Desa Lamida Atas Kecamatan Paringin Kabupaten Balangan Propinsi
Kalimantan Selatan.

Tambang Paringin, meliputi :


- Desa Lasung Batu Kecamatan Paringin Kabupaten Balangan Propinsi
Kalimantan Selatan.
- Desa Sungai Ketapi Kecamatan Paringin Kabupaten Balangan Propinsi
Kalimantan Selatan.
- Desa Dahai Kecamatan Paringin Kabupaten Balangan Propinsi
Kalimantan Selatan.

Pengolahan dan Pelabuhan batubara, meliputi :


- Desa Kelanis Kecamatan Dusun Hilir Kabupaten Barito Selatan Propinsi
Kalimantan Tengah.

2.2.KEGIATAN YANG DILAKSANAKAN

Bahan dan Alat

1. Pengelolaan Top Soil


Menggunakan peralatan seperti dozer, excavator dan dump truck
2. Revegetasi
Penanaman secara manual dan menggunakan metode hydroseeding
dengan alat hydroseeder
3. Pengendalian erosi
Menggunakan peralatan seperti dozer, excavator, dump truck.
Konstruksi pengendali erosi seperti drainase permanen, drainase drop
structure menggunakan ban ban bekas, bronjong.

Prosedur Kerja
Prosedur kerja dalam pelaksanaan kegiatan reklamasi PT Adaro
Indonesia melalui beberapa tahap :

1. Pembentukan disposal dan pengaturan


permukaan
a. Tujuan
menciptakan tempat penimbunan lapisan tanah penutup yang
stabil
menyediakan lokasi penanaman kembali yang sesuai untuk
pertumbuhan tanaman
meminimalkan erosi

21
21
b. Target:
segera dapat dilakukan penanaman kembali

c. Kegiatan
membentuk waste dump dengan slope 1 : 2,8, tinggi jenjang 12
m, lebar 24 m (Gambar 2)
membentuk back slope dan cross fall dengan grade maksimum
2% (Gambar 3)
mengatur grade permukaan lahan maksimum 2%

Kemiringan 2 %

Kemiringan 2 %

12 m

Lebar bench Slope Lebar bench Slope Lebar bench Slope


24 m 20 derajat 24 m 20 derajat 24 m 20 derajat

Gambar 2. Pengaturan permukaan slope, tinggi jenjang dan lebar

2%
20

20

Gambar 3. Back slope dan cross fall

Gambar 4. Kegiatan Pembentukan disposal dan Pengaturan


Permukaan

2 Perlindungan Top soil

a. Tujuan :
mengamankan lapisan top soil/tanah humus yang kaya dengan
unsur-unsur hara yang diperlukan bagi pertumbuhan tanaman
dan kaya dengan benih-benih tanaman local

21
b. Target
Mencegah kehilangan volume top soil saat pengupasan dan
pemindahan top soil
c. Kegiatan
Mengupas top soil pada lokasi yang akan digunakan untuk
operasional, ketebalan pengupasan sampai pada zona
pengakaran tanaman.
Memindahkan top soil ke lokasi penyimpanan sementara atau
penghamparan pada area yang telah siap.
Tatacara penimbunan top soil di tempat penyimpanan
sementara, dengan mempertimbangkan beberapa faktor :
aman dari banjir atau terganggu untuk operasional
dimensi penimbunan : tinggi timbunan per layer 3 meter,
maksimum tinggi timbunan 6 meter, lebar jenjang 8 meter,
kemiringan slope maksimum 21 derajat (Gambar 4)
Menanami top soil dengan tanaman penutup (LCC)
sesegera mungkin di lokasi penimbunan sementara
menanami top soil dengan LCC untuk mencegah erosi
Kemiringan 2 %

Kemiringan 2 %

6m

Lebar bench Slope Lebar bench Slope Lebar bench Slope


12 m 20 derajat 12 m 20 derajat 12 m 20 derajat

Crest line

Toeline Crest line

6 M
12 m 20 2%
Toeline

6 m
12 m 20

Gambar 5. Tata cara dan dimensi penimbunan top soil

Gambar 6. Kegiatan Perlindungan Top Soil

21
3. Penghamparan top soil
a. Tujuan :
mengembalikan top soil untuk media tumbuh tanaman
b. Target :
Luas area tercover top soil sesuai dengan volume top soil yang
dipindahkan
c. Kegiatan :
penghamparan top soil di lakukan segera setelah waste dump
final sudah terbentuk
penghamparan top soil dilakukan sedemikian rupa sehingga
jumlah top soil yang ada dapat mencukupi untuk meng cover
luas waste dump, dengan ketebalan maksimum 10 cm.

Gambar 7. Kegiatan Penghamparan Top Soil

4. Pengendalian erosi :
a. Tujuan
Meminimalkan terjadinya erosi akibat aliran air permukaan
Menjaga kestabilan waste dump
b. Target
Kondisi drainage yang baik dan stabil sehingga dapat
mengurangi laju erosi pada area yang dilalui aliran air
permukaan
c. Kegiatan
Membuat sarana kendali erosi seperti: check dam, drop struktur,
guludan, parit dengan mempertimbangkan debit air, jenis
material, kesediaan bahan , grade
Melakukan penanaman pada dinding drainage
Melakukan pemeriksaan dan perawatan

21
Gambar 8. Bangunan Pengendali Erosi

5. Persemaian
a. Tujuan
Memproduksi benih/bibit berkualitas yang siap untuk di tanam.
Mengembangkan jenis-jenis tanaman pionner, endemic dan
estitika (Ketapang, Sengon, Johar, Meranti, Alaban, Eukiptus,
Cemara, Mahoni, Pinus, Pulai, Bambu, Trembesi, Gmelina,
Waru, Jabon, dll).
b. Target
Menyiapkan bibit tanaman yang mampu beradaptasi dengan
kondisi di lapang, sehingga dapat diminimalkan tanaman yang
mati
Menyiapkan bibit tanaman sesuai dengan rencana reklamasi
c. Kegiatan
Membangun tempat persemaian yang terdiri dari : rumah kasa,
bedeng sapih
Menyediakan peralatan dan bahan yang diperlukan seperti:
a. alat pengolah media : Pencacah sabuk kelapa, sterilisasi
media (steamer), mesin pengaduk media
b. media tanaman : pupuk, arang sekam, politube,
c. Obat-obatan : zat perangsang tumbuh tanaman, insektisida
perawatan tanaman : penyiraman, pemupukan pencegahan
penyakit
metoda persemaian: stek pucuk, cabutan, putaran, semai benih,
cangkok

21
Gambar 9. Mesin Pengolah Sabut Kelapa dan Kegiatan Nursery

6. Penanaman
a. Tujuan
Mencegah terjadinya erosi di area reklamasi
Memulihkan lahan bekas operasional penambangan dengan
berbagai jenis tanaman tahunan , local yang mempunyai
manfaat secara ekologi dan ekonomi
b. Target
Tertutupnya permukaan lahan dengan tanaman penutup (LCC)
sesegera mungkin setelah penanaman
Menanam tanaman tahunan yang sesuai dengan kondisi lapang
sesegera mungkin setelah kondisi lahan sesuai untuk tumbuh
tanaman
c. Kegiatan
Menanam tanaman penutup lahan dengan :
a. Metoda: hydroseeding, hand seeding
b. Material dan bahan: pupuk organik, zat perangsang tumbuh,
pupuk anorganik, zat perekat, air yang sesuai, mulsa,
legume, benin pohon cepat tumbuh, rumput
c. Perawatan tanaman, pengendalian hama dan penyakit
Menanam tanaman tahunan dengan :
a. metoda : planting dengan membuat lubang tanam
ukuran 40 x 40 cmx 40cm
b. jarak tanam : 3 x 3 m sampai 3 x 4 meter
c. pupuk : organik
d. penyulaman tanaman yang mati atau tidak sehat
Perawatan tanaman dengan :
melakukan penyiangan
membersihkan lilitan
pemupukan ulang
pembasmian hama dan penyakit tanaman
pencegahan kebakaran

21
Pemantauan :
kesuburan tanah : unsur kimia dan fisik tanah
kesuburan tanaman : fisik (lingkar batang, tinggi, canopy),
kimia (analisa daun)

Gambar 10. Revegetasi dan Budidaya Tanaman Hutan

21
2.3. HASIL

Tujuan tahapan tahapan reklamasi seperti yang dijelaskan diatas


adalah untuk menjadikan lahan bekas tambang sebagai area yang stabil
dengan fungsi lingkungan yang pulih kembali. Sampai saat ini luasan
lahan yang telah direklamasi adalah sebagai berikut :

Tabel 1. Luas Lahan yang telah direklamasi Kumulatif Sampai Juni 2009
dan Luasan Periode Triwulan 2 tahun 2009.
Reklamasi (Ha)
No. Tambang
In Pit Out pit Lain-lain *)
1 Paringin 72.77 108.54 17.94
2 Tutupan 73,53 1.424,58 3,42

Untuk melihat area yang stabil dan fungsi lingkungan yang pulih
dapat dilihat dari dua aspek utama yaitu aspek tanah (lahan) dan aspek
tanaman (vegetasi).

1. Aspek Tanah (Lahan)


Tanah disposal sesuai dengan karakteristiknya secara umum
adalah tanah yang miskin hara (Lampiran 1) dan struktur yang labil
sehingga memerlukan perlakuan tertentu agar dapat dilakukan
revegetasi. Ketersediaan nutrisi yang sangat rendah dilokasi bekas
tambang harus direkayasa agar upaya revegetasi dapat berhasil.
Upaya yang dapat dilakukan adalah dengan penambahan bahan
organik dari luar sehingga diharapkan kesuburan tanah dapat
meningkat dan fungsi ekologi lahan tersebut dapat berjalan secara
alami. Putra et.al (2009) menjelaskan penambahan bahan organik
pada lahan bekas tambang terbukti mampu meningkatkan kelimpahan
artropoda dan mikrobia yang berfungsi sebagai pengurai sehingga
bahan terurai yang dapat digunakan kembali oleh tumbuhan semakin
berlimpah (Lampiran 2, 3 dan 5). Selain itu Purnomo et.al (2007)
membuktikan dengan menggunakan kompos (IMO) dengan dosis
tertentu dapat menggantikan penggunaan top soil pada lahan bekas
tambang, dan membuat pertumbuhan tanaman menjadi lebih baik
(Lampiran 8).
Struktur tanah yang labil akan menyebabkan tanah memiliki
tingkat erosi yang tinggi. Dengan tahapan tahapan reklamasi yang
telah dilakukan maka pengendalian erosi dapat menurunkan tingkat
erosi. Pembuatan bangunan pengendali erosi seperti check dam, drop
strcture, guludan, parit, dll dapat menurunkan tingkat erosi yang terjadi.
Selain pembangunan sarana pengendali erosi, penanaman segera
pada lahan yang telah diserah terimakan dari bagian operasional juga
dapat mengurangi tingkat erosi yang terjadi. Hal ini dapat dilakukan
dengan metoda hydroseeding yang memiliki kemampuan dalam hal
kecepatannya menghijaukan lahan dalam berbagai kondisi tanah
(sand, clay, sub soil bahkan over burden), juga berbagai wilayah

21
0 0
disposal dan kemiringan lahan (0 60 ) (Ghems Enviro, 2007)..
Kecepatan tanam dengan metoda ini terutama ditujukan untuk keperluan
antisipasi resiko erosi. Selain itu jenis tanaman yang ditanam dengan
metoda ini secara ekologis juga berperan menguntungkan bagi ekosistem,
misalnya sebagai habitat cendawan mikoriza (Putra et.al, 2009) (Lampiran
6). Dengan pengendalian erosi yang baik kualitas air yang dihasilkan atau
keluar dari area tambang juga akan semakin baik. Data berikut
menunjukkan kualitas air limbah yang terukur pada outlet

450 450
400
400
350
350

(m g / L )
300
300 250
T S S (m g / L )

250 200

TSS
200 150
100
150 50

100 0
14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26
50
0 Triwulan I 2009 Triwulan II 2009
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Baku mutu (400 mg/L) Baku Mutu (200 mg/L)

8 8.00
7 7.00
Fe-total(mg/L)

6 6.00
Fe-total(mg/L)

5.00
5 4.00
4
3.00
3 2.00
2 1.00
1 0.00
0 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Triwulan I 2009 Triwulan II 2009 Baku mutu (7 mg/L)
4 4

3.5 3.5
(mg/L)
g/L)

2.5 3
3 2.5
Mn-total
n-total(m

1.5 2
1

2 1.5
M

1 0.5

0.5 0
0 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Triwulan I 2009 Triwulan II 2009 Baku mutu (4 mg/L)

21
10 10
9 9
8
8 7
7 6

pH air
6 5
pH air 4
5 3
4 2
3 1
0
2
14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26
1
0 Triwulan I 2009 Triwulan II 2009
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Baku mutu max (pH 9) Baku mutu min (pH 6)

* SK KepMen LH No 113 Tahun 2003


Sumber : Balai Riset dan Standarisasi Industri Banjarbaru
Keterangan No :
1. Outlet SP-C4B(TA -3) 12. Outlet-1A HW 2(TA -15) 22. Outlet TP-2(PA -1)
2. Outlet SP-20(TA -4) 13. Outlet SP-2 HW1(TA -16) 23. Outlet SP-Kelanis(KA -1)
3. Outlet SP-9(TA -5) 14. Outlet SP-3 HW2(TA -17) 24. Outlet SP-Gampa (GA -1 )
4. Outlet SP-6B(TA -6) 15. Outlet SP-4 HW2(TA -18) 25. Outlet SP-C7 (TA -25)
5. Outlet SP-5C(TA -7) 16. Outlet SP-6 HW3(TA - 19) 26. Outlet SP 7(TA -26)
6. Outlet SP-4B(TA -8) 17. Outlet SP-8 HW4(TA -20)
7. Outlet SP-21(TA -9) 18. Outlet SP-9(TA -21)
8. Outlet SP-C3B(TA -11) 19. Outlet SP-C5(TA -22)
9. Outlet SP-C2B( TA -12) 20. Outlet SP-C6 (TA -23)
10. Outlet SP-13(TA -13) 21. Outlet SP-10(TA -24)
11. Outlet SP-1 HW1(TA -14)

Gambar 11. Kualitas Air Limbah Bulan Juni 2009

Dari gambar diatas terlihat bahwa kualitas air pada parameter terpilih
menunjukkan hasil yang sesuai dengan peraturan yang berlaku.

2. Aspek Tanaman (Vegetasi)


Dengan tanah yang stabil dan kesuburan yang relatif meningkat
diharapkan pertumbuhan tanaman akan meningkat dan memenuhi
kriteria yang ditetapkan. Pemantauan yang dilakukan sampai saat ini
menunjukkan pertumbuhan tanaman hasil reklamasi yang terus
meningkat. Hal ini dapat dilihat pada gambar hasil pemantauan
revegetasi dibawah :

21
(b) Tinggi Tanaman 14
70 (a)Keliling Batang 0.6

60 12
0.5
1060
50 10
rata-ratakelilingbatang

(cm)
Pertambahan(cm)

rata-ratatinggitanama
0.4
(cm)

Pertambahan
40 8

)(cm
0.3 1040
30 6

0.2
20 4
1020

0.1
10 2

0 0.0 1000 0
09 09 1 09 09 1
I Tahu
n 20

II Tahu
n 20
Keliling Batang hun 20 hun 20 Tinggi Tanaman
iw
Tr
ulan Tr
ulan
iw
iwul
an I Ta
iwul
an II Ta

Pertambahan Tr Tr Pertambahan

650 5
(c)Proyeksi Tajuk

600
4
rata- RataproyeksiTajuk

550
3

Pertambahan(cm)
500
(cm)

450

1
400

0
09 09 1
Proyeksi tajuk
n 20 n 20

n I Tahu n II Tahu
ula ula
Triw Triw pertambahan

Gambar 12. Perkembangan revegetasi tanaman sengon di tambang


paringin umur > 4 tahun
85 (a)Keliling Batang 1.6 1700 (b) Tinggi Tanaman 6

1.4
80 1600 5
1.2
(cm)

(cm)
rata- ratakelilingbatang

Pertam bahan(cm )

Pertambahan
rata- ratatinggitanama
65 1500 2
75 1.0 4

1400

)(cm
70 0.8 3

0.6 1300

0.4
1200
1
60 0.2
1100
0.0 0
09 09 1
hun 20 hun 20 Keliling Batang 2009 2009 1
ulanI Ta ulanII Ta hun hun
ulanI Ta ulan II Ta

Pertambahan
Triw Triw

Triw Triw
Tinggi Tanaman Pertambahan

900 2.5
(c)Proyeksi Tajuk

800 2.0
rata- RataproyeksiTajuk

700
1.5

Pertambahan(cm)
600
(cm)

1.0

500
0.5

400
0.0
un 2009 hun 2009 1
iwul
an I Tah ula
n II Ta
Tr Triw

Proyeksi tajuk pertambahan

Gambar 13. Perkembangan revegetasi tanaman hutan di tambang


Paringin umur > 4 tahun

Tanaman hutan diamati adalah dari jenis cemara, eucalyptus,


akasia dan sengon. Dari gambar diatas terlihat perkembangan
tanaman revegetasi yang terus meningkat. Hal ini juga menunjukkan
tanaman hasil revegetasi dapat bertahan (sustain) pada areal
reklamasi bekas tambang. Data lebih lengkap pada lampiran 7.
Tanaman revegetasi yang ditanam juga disesuaikan dengan
karakteristik wilayah yang dalam hal ini diusahakan juga penanaman
tanaman lokal dan tanaman yang bernilai ekonomi tinggi seperti
gaharu dan meranti.

Tabel 2. Tanaman Jenis dan Jumlah Bibit Tanaman di Lokasi Nursery


Triwulan II Tahun 2009

No. Jenis tanaman Jumlah pohon

1 Akasia 29.594
2 Albazia / Sengon 6.730
3 Aren 725
4 Bambu 74
5 Beringin 18
6 Bunga Tanjung 109
7 Cemara 445
8 Dadap -
9 Ebone 812
10 Eucalyptus 2.730
11 Gaharu -
12 Gamal 619
13 Gamelina 4.490
14 Halaban 1.243
15 Jarak 7.890
16 Johar 22.547
17 Kaliandra 19.283
18 Kaliandra Putih 1.836
19 Kapuk 1.836
20 Kayu Putih 450
21 Kayu Manis 6.336
22 Ketapang -
23 Kupang 1.050
24 Kayu Hutan/pioneer 2.187
25 Lamtoro 3.562
26 Mahoni 230
27 Meranti -
28 Palm 2.966
29 Pinang 4.568
30 Pinus 600
31 Plamboyan 845
32 Pulai 509
33 Saga 432
34 Sengon 34.017
35 Spatudea -
Tabel 2. Lanjutan

No. Jenis tanaman Jumlah pohon

36 Trembesi 18.096
37 Turi 2.330
38 Waru 6.716
39 Rosela 1.100
40 Tanaman Buah 6.898
Total 231.986

Bibit yang ditanam berasal dari nursery PT Adaro dan dibantu


dengan program kerjasama pembibitan dari masyarakat sekitar
tambang. Program usaha pembibitan dari masyarakat sekitar ini
bertujuan untuk meningkatkan peran serta masyarakat lokal sebagai
penyedia bibit yang berlangsung sejak Desember 1999 hingga
sekarang.
Pada lahan reklamasi diluar kawasan hutan pinjam pakai juga
ditanam tanaman perkebunan yaitu Sawit. Luas lahan reklamasi yang
ditanami sawit adalah 107,6 Ha (2006-2008) dan 88,8 Ha pada tahun
2009.

Gambar 14. Areal Penanaman Sawit di Lahan Reklamasi

Dari gambar terlihat bahwa pertumbuhan sawit di lahan reklamasi


tergolong baik dan mampu berproduksi dengan baik pula. Hal ini
membuktikan bahwa dengan tahapan - tahapan dan pemilihan
vegetasi sesuai karakteristik lahan dapat meningkatkan keberhasilan
reklamasi.
Untuk menunjang penyediaan bibit tanaman yang berkualitas
telah dilakukan kerjasama antara PT Adaro Indonesia dengan
PT Komatsu Indonesia. Kerjasama yang dilakukan berupa pembuatan nursery dan
penyediaan bibit tanaman Meranti. Diharapkan dengan kerjasama ini akan didapat bibit
tanaman yang berkualitas dan metoda revegetasi yang unggul sehingga menjadi
percepatan dalam proses reklamasi dilahan tambang PT Adaro Indonesia.
Dengan pertumbuhan tanaman yang baik dan berkelanjutan diharapkan fungsi
ekologi pada lahan akan meningkat sehingga keanekaragaman hayati akan semakin
membaik. Hal ini terbukti pada hasil penelitian Putra et.al (2009), dimana pada lahan
reklamasi yang perkembangan tanamannya berkelanjutan dan keanekaragamannya
tinggi terdapat kelimpahan mikoriza yang cenderung lebih tinggi sehingga siklus ekologi
pada lahan tersebut berjalan dengan baik dan terus meningkat. (Lampiran 4 dan 6).
Pertumbuhan tanaman yang baik sebagai indikator keberhasilan reklamasi dan
rehabilitasi lahan juga dapat dinilai dari segi ekonomi. Udiansyah (2007) dari hasil
penelitian menyebutkan bahwa revegetasi di PT Adaro Indonesia memiliki potensi untuk
mengikuti program perdagangan karbon (carbon trade program). Dari 2 jenis tanaman
revegetasi yaitu Eucalypthus deglupta dan Albizia falcataria diketahui harga karbon dari
kedua jenis tanaman tersebut berurutan adalah Rp. 926.004,- dan Rp. 620.200,- per
hektar. Nilai ini dengan asumsi harga karbon di Amerika Serikat $4 / ton dan US $ 1
setara dengan Rp. 9.080,-.

Gambar 15. Hasil Revegetasi dengan menggunakan metode hydroseeding dan direct
seeding
Pada gambar diatas terlihat hasil revegetasi pada lokasi yang
berbeda. Pada areal tersebut diharapkan fungsi ekologi telah berjalan
dengan baik dan keanekaragaman hayati semakin membaik. Untuk evaluasi
sejauh mana tingkat keberhasilan reklamasi tentu saja dengan melakukan
penelitian diberbagai faktor reklamasi. Hal ini terbukti dari hasil beberapa
penelitian diatas mampu menyampaikan keadaan faktual dilapangan
tentang tingkat keberhasilan reklamasi.

2.3.KENDALA DAN PERMASALAHAN

Kendala yang sering dihadapi pada pelaksanaan reklamasi pada umumnya


hanya terdapat pada saat operasional pelaksanaan reklamasi. Sedangkan pada
metode pelaksanaan hampir tidak ditemukan permasalahan. Adapun kendala
operasional antara lain :
1. Musim kemarau tidak bisa dilakukan penanaman karena tanaman yang
baru ditanam kemungkinan besar tidak akan bertahan.

2.4. HARAPAN YANG DIINGINKAN

Harapan yang diinginkan adalah menjadikan lahan bekas tambang sebagai


area yang stabil, dengan fungsi lingkungan yang pulih kembali, mempunyai
manfaat ekonomi secara berkesinambungan dengan mengacu kepada rencana
tataguna lahan dan tataruang wilayah.
Dari hal tersebut kriteria keberhasilan reklamasi adalah
1. Biaya reklamasi
2. Kesuburan tanah dari waktu ke waktu semakin meningkat
3. Pertumbuhan tanaman memenuhi kriteria yang ditetapkan
4. Jenis tanaman sesuai dengan kesesuaian lahan dan kondisi lingkungan
5. Lahan yang telah diserah terimakan dari bagian operasional dapat
segera direklamasi
Adapun indikator keberhasilan reklamasi adalah
1. Tanaman reklamasi sustain (berkelanjutan)
2. Erosi di area reklamasi semakin kecil dan kualitas air yang dihasilkan
semakin baik
3. Keanekaragaman hayati yang semakin membaik
BAB III

PENUTUP

3.1 KESIMPULAN DAN SARAN

1. Dari aspek tanah dan tanaman terlihat hasil reklamasi yang cukup baik.
Hal ini adalah sebagai hasil pelaksanaan secara intensif tahapan
tahapan reklamasi (best reclamation practice) yang dilakukan oleh PT
Adaro Indonesia.
2. Penelitian penelitian (research and development) sebagai usaha
percepatan reklamasi harus terus dilakukan untuk mendapatkan hasil
yang lebih baik.
DAFTAR PUSTAKA

Adaro Indonesia PT. 2009. Laporan Pelaksanaan RKL/RPL Triwulan II tahun


2009 Tambang Tutupan Kalimantan Selatan. Jakarta.

Adaro Indonesia PT. 2009. Laporan Pelaksanaan Reklamasi Periode Januari


Desember 2008. Tutupan.

Ghems Enviro. 2007. Final Report of Hydroseeding Operations Project Stage


VIII (100 Ha). Banjarbaru.

Putra, Nugroho Susetya., Sitepu, Irnayuli., Kastono, Dody., Nurudin, Makhruf.,


Purnomo, Erry., Turjaman, Maman., Purwanto, Benito Heru. 2009.
Usaha Pengembalian Fungsi Ekosistem di Lahan Penambangan
Batubara : Teknik, dan Potensi Keberhasilan. Yogyakarta.

Purnomo, Erry., Sujarwo, Iswan., Subandrio, Agus., Tambunan, Ronny., Osaki,


Mitsuru. 2007. The Use of Various Compost to Overcome Top Soil
Shortage in Disposal Area. MoU PT Adaro Indonesia Universitas
Lambung Mangkurat Hokkaido University. Tanjung.

Udiansyah. 2007. Revegetation Stand Valuation On The Ex Coal Mining Area of


PT Adaro Indonesia. MoU PT Adaro Indonesia Universitas Lambung
Mangkurat Hokkaido University. Banjarbaru.
www.andaro.co.id, rencana reklamasi pt Andaro persero, kalimantan selatan
2009, Pukul 21.35