Anda di halaman 1dari 11

1.

METODOLOGI DAN PELAKSANAAN SURVEY LAPANGAN

2.1 Orientasi Lapangan


Orientasi Lapangan bertujuan untuk memperoleh gambaran serta
informasi lokasi survey secara lebih mendalam sebelum memulai
pekerjaan di lapangan.
2.2 Titik Referensi Benchmark
2.2.1 Parameter Geodetik

Parameter geodetik yang digunakan sebagai acuan dalam pekerjaan ini


adalah :
Tabel 1 Parameter Geodetik
Spheroid : WGS 1984 Projection : UTM
Datum : WGS 1984 Zone No. : 48 S
Semi Major Axis (a) : Units : Meters
6378137.000 Central Meridian : 105 East
Semi Minor Axis (b) : Latitude of Origin : 0
6356752.314 False Easting : 500
Inverse Flattening (f) : 000 m
298.2572236 False Northing : 10 000 000 m
Eccentricity (e2) : 0.006694380 Scale Factor on Central
Meridian : 0.9996

2.2.2 Benchmark

Benchmark yang digunakan adalah BM eksisting seperti pada peta dasar.


Selain sebagai koordinat referensi awal pemetaan, koordinate dari kedua BM
pada masing masing lokasi juga digunakan untuk menghitung sudut azimut
awal atau orientasi pemetaan

2.2.3 Perhitungan Sudut Azimuth atau Orientasi Awal Pemetaan

Azimuth adalah sudut mendatar yang dihitung dari arah utara searah jarum
jam sampai ke arah yang dimaksud (Jacob Rais, 1998). Nilai sudut Azimuth
awal diperlukan sebagai orientasi arah dalampemetaan.
Ada dua metode penentuan sudut azimuth yang paling sering digunakan
yaitu;
- Pengamatan Azimuth matahari, Syarat yang diperlukan dengan metode ini
adalah harus diketahui koordinat salah 1 titik acuan beserta buku almanak
matahari.
- Perhitungan menggunakan dua titik tetap yang diketahui koordinat
globalnya, Syarat yang diperlukan metode ini adalah dibutuhkan dua buah
titik yang telah diketahui koordinat globalnya dan saling terlihat satu dengan
yang lain.
Pada pekerjaan ini metode yang digunakan adalah metode kedua yaitu
dengan cara perhitungan koordinat, hal ini mengingat telah ditentukan
koordinat global dari dua benchmark yang ada pada setiap lokasi dengan
metode pengamatan GPS Geodetik.

Menghitung azimuth dari dua titik tetap Diketahui 2 titik : BM 1 (X1, Y1) dan
titik BM 2 (X2,Y2)

12 = arc Tg [(X2-X1) / (Y2-Y1)]


12 = Azimuth titik BM 1 ke BM 2

Dalam perhitungan tersebut perlu diperhatikan ketentuan atau syarat


kuadran sebagai berikut;

Tabel 2 Syarat Kuadran pada Perhitungan Sudut Azimuth


Kuadr Azimuth
an X2-X1 Y2-Y1 ()
I + + 12
180 - (
II + - 12)
180 + (
III - - 12)
360
- (
IV - + 12)

2.2.4 Pengukuran Beda Tinggi atau Leveling

Pengukuran beda tinggi dengan metode sipat datar dilakukan dengan cara
membagi jarak antar titik tersebut dengan jumlah yang genap dan berjarak
sama. Kemudian alat berdiri ditengah-tengah dengan jarak yang sama pula,
seperti pada contoh gambar dibawah ini. Pengukuran dilakukan dengan cara
double stand atau 2 (dua) kali berdiri alat dengan ketelitian beda tinggi yang
dihasilkan yaitu 2 mm.

Gambar 1 Ilustrasi metode pengukuran sipat datar


2.3 Survey Topograf
2.3.1 Pengukuran Kerangka Dasar Horizontal

Kerangka Dasar Horizontal (KDH) adalah titik-titik kontrol pengukuran yang


sudah diketahui koordinatnya, yang terikat pada system referensi koordinat
planimetrik. Metode pengukuran yang digunakan dalam pengukuran KDH
adalah metode poligon. Poligon adalah suatu metode pengukuran untuk
mereduksi pengaruh perambatan kesalahan yang terdapat dalam kegiatan
pengukuran.

Prinsip pengukuran KDH dengan metode polygon, dalam hal ini yang
digunakan adalah polygon tertutup, adalah pengukuran jarak dan sudut
dengan jalur yang saling terikat satu sama lain, seperti pada contoh gambar
dibawah ini. Pengukuran sudut dilakukan dengan pembacaan double seri
yaitu keadaan teropong biasa dan luar biasa, dimana besar sudut yang akan
dipakai adalah nilai rata rata dari pembacaan tersebut. Sedangkan jarak
antara titik titik polygon tersebut dikontrol dengan jarak bolak balik.

Gambar 2 Contoh Poligon terutup


Pada pelaksanaan ini maka argumen yang diambil untuk mendapatkan data
koordinat adalah ukuran sudut dan jarak serta sudut jurusan pada sisi-sisi
poligon dengan persamaan sebagai berikut :
X j X i Dij Sin ij
Y j Yi Dij Cos ij

Dimana :

= sudut jurusan atau azimuth
D = jarak datar
i, = argumen titik
j

Pengukuran KDH atau polygon dilakukan dengan menggunakan alat ukur


Total Station. Titik-titik polygon terikat sempurna ke titik referensi atau BM
GPS. Titik-titik poligon berfungsi sebagai titik acuan untuk pengukuran detail
situasi. Kegiatan pengukuran polygon yang dilakukan seperti pada gambar
dibawah ini.
Berikut spesifikasi teknis pengukuran poligon :
Alat Total Station dengan ketelitian sudut 5 (lima detik).
Metode poligon yang digunakan adalah poligon tertutup (loop).
Pengolahan data menggunakan metode Least Square.
Bererefensi pada titik referensi Benchmark dengan datum WGS
84.

2.3.2 Pengukuran Kerangka Dasar Vertikal

Kerangka Dasar Vertikal (KDV) adalah titik-titik kontrol pengukuran yang


sudah diketahui elevasinya, yang terikat pada system referensi tinggi
tertentu. Sistem referensi tinggi yang digunakan mengacu pada LWS (Low
Water Spring), yang diperoleh dari analisis data pasang surut selama 15 hari
di pelabuhan.

Metode pengukuran elevasi yang digunakan adalah metode leveling atau


sipat datar yang telah dijelaskan sebelumnya. Berikut beberapa spesifikasi
pengukuran KDV dengan sipat datar atau leveling

Pengukuran sipat datar dari Bench Mark ke Bench Mark dengan alat
waterpass dilakukan dengan teliti, dengan kesalahan penutup tidak
boleh lebih dari (3 Vd) mm dimana d= jarak jalur pengukuran (dalam
km).

Semua ketinggian harus mengacu pada LWS.

Pengukuran sipat datar dilakukan dengan cara double stand (pulang


pergi). Selisih bacaan setiap stand maksimum 2 mm dan selisih hasil
ukuran total antara pergi dan pulang tidak boleh lebih dari (8 Vd) mm,
dimana d= jarak jalur pengukuran dalam km

2.3.3 Pengukuran Detail Situasi

Metode pengukuran detail situasi yang digunakan adalah metode


tachymetri. Metode tachymetri dilakukan dengan cara mengukur sudut atau
arah ( ) dan jarak ( d ) titik-titik detail dari titik-titik poligon secara polar
atau horizontal, seperti gambar dibawah. Selain pengukuran sudut dan jarak
secara bersamaan dilakukan juga pengukuran beda tinggi untuk
memperoleh elevasi titik-titik detail situasi. Metode pengukuran elevasi yang
digunakan adalah metode trigonometric.
d

Gambar 2.9 Pengukuran sudut dan jarak

Pengukuran detail situasi dilakukan dengan menggunakan alat Total Station,


dengan cara mengukur besar sudut dari salah satu titik polygon kearah titik
detail yang mengacu pada titik polygon terdekat lainnya. Selain itu dilakukan
juga pengukuran jarak dari titik polygon ke titik detail dengan build in EDM
pada total station Topcon GTS-235 .

Pengukuran detail situasi dilakukan terhadap semua objek dan utilitas yang
ada di lapangan yang mempunyai pengaruh dan manfaat pada proses
perencanaan dan pelaksanaan pembangunan infrastruktur. Untuk area yang
relative datar, kerapatan titiknya dibuat seragam, sedangkan untuk area
yang cukup ekstrim, kerapatan titiknya disesuaikan dengan kondisi tanah.
Kegiatan pengukuran detail situasi seperti pada gambar dibawah ini.

2.4 Survei Batimetri


Pemeruman adalah istilah yang digunakan untuk proses akuisisi data bathimetri atau
pengukurang kedalaman perairan. Pada saat melakukan pemeruman diperlukan lajur survei
atau grid yang digunakan sebagai acuan pergerakan yang akan dilintasi wahana survei yang
membawa alat perum gema atau echosounder. Berikut adalah ilustrasi dari lajur survei yang
dimaksud.
Gambar Metode pemeruman dengan lajur survei
Lajur survei yang digunakan pada saat akuisisi batimetri adalah tegak lurus garis pantai
untuk lajur utama dan sejajar untuk lajur silang. Interval lajur yang digunakan adalah 50
meter untuk area keseluruhan dengan mencakup area kolam putar pelabuhan dan rencana
alur hingga mencapai kedalaman yang ditargetkan.

Alur Masuk dan Area Putar di Pelabuhan Labuhan Lombok


Kapal nelayan sepanjang 8 meter dan draft sebesar 40cm digunakan sebagai wahan survei
dalam pelaksanaan proses akuisisi. Untuk mendapatkan data kedalaman dengan akurasi
yang baik maka digunakan high frequency sebesar 200khz dalam pengaturan echosunder.
Proses integrasi antara posisi horizontal dari GPS secara realtime dengan data kedalaman
yang didapatkan dilakukan pada perangkat akuisisi QPS Qinsy. Berikut adalah diagram dari
instalasi instrument dalam pemeruman.
Gambar Mekanisme instalasi instrumen pemeruman
Kedalaman yang didapat kemudian dikoreksi dengan data pasang surut yang
diamati kemudian di referensikan kepada bidang LWS yang diperoleh dari
analysis data pasang surut sesuai dengan standar yang berlaku pada
pemetaan bathimetri. Penjelasan lebih lanjut mengenai penetapan LWS akan
dibahas pada metodologi pengamatan pasang surut.

Echosounder yang digunakan dalam pekerjaan ini adalah Odom Echotrac


MKII Digital & Analog SBES yang digunakan untuk merekam kedalaman air di
lokasi survei. Parameter perekaman yang digunakan dalam survei ini adalah
frekuensi tinggi yaitu 200 kHz.

Data kedalaman yang diukur, direkam secara kontinyu dan disimpan dalam
bentuk soft copy pada Software Akuisisi dan Navigasi QPS Qinsy. Secara
bersamaan, posisi (koordinat) dari data kedalaman tersebut secara otomatis
tersimpan juga dalam hard disk komputer bersama dengan data kedalaman.

Secara teori, ketelitian data kedalaman echosounder memiliki akurasi sub-


sentimeter dalam kondisi ideal. Namun dalam kenyataannya, kondisi laut
dan jenis penyusun dasar laut biasanya membuat tingkat akurasi lebih
rendah. Untuk koreksi kecepatan rambat suara dalam air maka sebelum
survei dimulai dilakukan kalibrasi barcheck.

2.4.1 Sistem Navigasi Realtime

Sistem navigasi GPS yang digunakan dalam kegiatan survey ini,


menggunakan referensi global dari satelit. Penentuan posisi dapat dilakukan
secara realtime selama survei berlangsung. Instrumen yang digunakan sama
dengan pada saat penentuan koordinat BM yaitu Trimble 5700 dual
frequency. Namun metode yang digunakan berbeda yaitu realtime
positioning dimana receiver disetting agar mengirimkan data posisi secara
realtime dengan format NMEA agar dapat dikenali oleh perangkat lunak
akuisisi data.

Prinsip GPS adalah menentukan posisi menggunakan metode pengukuran


reseksi dari satelit, setidaknya minimum 4 satelit. Akurasi posisi tergantung
pada kondisi atmosfer, lokasi survei, dan jumlah satelit yang tersedia di
wilayah tersebut pada saat itu.

Gambar 3 Posisi kapal secara realtime pada perangkat lunak akuisisi QPS Qinsy

2.4.2 Perangkat Lunak Akuisisi dan Navigasi

Data posisi dari Sistem GPS realtime, dihubungkan pada software navigasi
QPS Qinsy. Sistem navigasi tersebut terdiri dari komputer, monitor, dan
output display yang sudah terintegrasi.

Software QPS Qinsy dijalankan pada computer, yang dapat terkoneksi ke port
tambahan untuk input dan output alat lainnya. QPS Qinsy dapat menerima
data posisi dari receiver GPS yang dapat memberikan data real time berupa
numerik atau tampilan grafis untuk melakukan navigasi pada computer atau
monitor eksternal. Data yang diterima dari echo sounder dan GPS juga dapat
ditampilkan dan disimpan dalam bentuk file database survei.
2.5 Pengamatan Pasang Surut
Setiap daerah laut memiliki karakteristik pasang surut yang berbeda, yang
disebabkan oleh efek gravitasi bulan dan matahari dan efek dari rotasi bumi,
yang artinya bahwa pasang surut dipengaruhi oleh posisi astronomi (posisi
bumi relatif terhadap bulan dan matahari). Untuk itu, kedalaman atau tingkat
pasang surut pada hari-hari dan waktu yang berbeda, tidak sama.

Data pengamatan selama survei atau 15 hari, kemudian diolah dengan


menggunakan metode Least Square dan Admiralty sebagai pembanding
untuk menentukan komponen pasang surut. Komponen ini akan digunakan
untuk menentukan elevasi penting pasang surut seperti Low Water Spring
(LWS). . Koreksi pasang surut juga akan digunakan sebagai koreksi
kedalaman yang mengacu pada datum yang sama.

Stasiun pasang surut harus diikatkan pada BM agar nilai elevasi penting
seperti LWS dapat didefinisikan referensi nilai nilai tersebut dengan mudah di
kemudian hari jika diperlukan.

BT. 2 BT. 1

Beda tinggi
hasil ukuran
T.P

Elevasi BM
dari 0 LWS
0 LWS
Nol Peilscaal

Gambar Ilustrasi pengikatan vertical nilai LWS ke BM

2.6 Pengukuran Arus


Pengamatan dilakukan dengan menggunakan alat ukur arus yaitu current
meter. Kecepatan arus diukur pada kedalaman 0.2d, 0.6d dan 0.8d (dimana d
= kedalaman air dalam meter). Pengukuran dilakukan setiap dua menit pada
setiap kedalaman selama 25 jam. Data yang diperoleh kemudian dihitung
dan posisi pengukuran arus ditandai dengan menggunakan GPS yang akan
ditampilkan pada peta bathymetri. Pengukuran arus dilakukan pada saat
Spring dan Neap tide pada bulan yang sama.
Berikut adalah ilustrasi pengukuran kuat arus dengan alat tipe propeller
Gambar 2.12 Ilustrasi pengukuran kuat arus dengan current meter

2.7 Pengambilan Sampel Sedimen dan Air laut


Pengambilan Sampel Sedimen dasar dilakukan pada posisi pengamatan arus
dengan menggunakan Grab Sampler. Sampel kemudian di uji di laboratorium
sedimen pusair untuk mengetahui properti dari sampel sedimen tersebut.
Pada saat pelaksanaanya sampel sedimen dasar yang didapat di pelabuhan
sebalang berupa patahan karang sehingga tidak memungkinkan untuk
dilakukan uji pada sampel tersebut. Pada pelabuhan Sebesi didapat sampel
sedimen dasar berupa lumpur dan dapat dilakukan uji di laboratorium.

Cara kerja dari grab sampler yang digunakan untuk mendapatkan sampel
sedimen adalah alat diturunkan ke dasar perairan dengan menggunakan tali
rantai, kemudian ketika tiba di dasar perairan alat lalu mengambil sampel
sedimen dengan mekanisme yang diperlihatkan pada ilustrasi berikut.

Gambar 2.14 Mekanisme penggunaan Grab Sampler


Bersamaan dengan pengambilan sedimen dasar, dilakukan juga
pengambilan sampel sedimen air laut untuk uji salinitas atau kadar garam.
Pengambilan sampel air laut dilakukan pada 3 titik dan uji laboratorium yang
dilakukan mengacu kepada metode SMEWW-2520. Untuk mendapatkan
sampel air laut digunakan alat Nansen botller, alat tersebut diilustrasikan
pada gambar berikut.

Gambar 2.15 Ilustrasi Nansen Bottler


Alat diturunkan pada kedalaman tertentu kemudian dengan mekanisme kerja
alat tersebut katup pada botol dapt dibuka dan air laut pada kedalaman yang
diinginkan akan masuk kedalam penampung berupa botol kemudian katup
akan menutup saat alat diangkat sehingga tidak terjadi kontaminasi air.