Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

"Perseteruan" Antasari Azhar vs Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ramai


jadi perbincangan sejak minggu lalu hingga saat ini masih menggema. Berawal
dari kehadiran Antasari di Bareskrim Polri, Selasa (14/2/2017) yang mendesak
SBY untuk mengungkapkan kriminalisasi yang telah menjeratnya. Antasari
menuding SBY sebagai aktor intelektual di balik kasus Nasruddin. Ia merasa
dikriminalisasi karena enggan menuruti keinginanan SBY agar besannya, Aulia
Pohan tidak ditahan KPK. Tudingan ini menjadi kilas balik terhadap ungkapan
Yusril di balik Kasus Antasari hingga Susno Duadji yang pernah ditulis
Tribunnews.com 4 Oktober 2010 silam.

Setelah menjalani dua pertiga masa hukuman, akhirnya Antasari Azhar


mantan ketua KPK ke-2 yang menjabat tahun 2007-2009 bisa merasakan udara
bebas, meski bebas bersyarat. Bebasnya Antasari terbilang istimewa, karena
bertepatan dengan hari pahlawan, sehingga pada momen kebebasannya yang
cukup mengharukan itu, tidak aneh ketika ada yang berteriak Merdeka!
Merdeka!. Prestasi Antasari ketika menjadi ketua KPK cukup membanggakan. Ia
dengan berani dan lancang menangkap para pejabat kelas kakap demi
penegakan hukum. Kasus-kasus besar syarat kepentingan turut menjadi
incarannya.

Keberaniannya itulah yang membuat banyak pihak merasa gerah,


sehingga Antasari dijebloskan dalam lingkaran kasus yang sama sekali tak
diakuinya. Kegagahan itulah yang ditengarai banyak orang menjadi jalan
mulusnya ke penjara karena terlalu berani ngobrak-ngabrik halaman rumah
penguasa. Sebelum masuk pada bahasan utama terkait judul di atas, mari kita
bernostalgia sejenak.

Dalam banyak berita, analisa, atau laporan yang bisa kita temukan dimana-
mana, dihukumnya Antasari erat kaitannya dengan penguasa saat itu. Katanya,
SBY merasa geram dan marah ketika Antasari berani menahan besannya. Hanya
saja, waktu itu SBY menahan diri demi pencitraan karena hasratnya untuk
kembali mencalonkan Presiden periode 2009-2014. Antasari juga berhasrat untuk
membongkar skandal Bank Century yang secara dramatis tak pernah selesai
hingga sekarang.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Bebasnya Antasari, Sinyal Bahaya Untuk SBY & Agus Harimurti


Setelah menjalani dua pertiga masa hukuman, akhirnya Antasari Azhar
mantan ketua KPK ke-2 yang menjabat tahun 2007-2009 bisa merasakan udara
bebas, meski bebas bersyarat. Bebasnya Antasari terbilang istimewa, karena
bertepatan dengan hari pahlawan, sehingga pada momen kebebasannya yang
cukup mengharukan itu, tidak aneh ketika ada yang berteriak Merdeka!
Merdeka!. Prestasi Antasari ketika menjadi ketua KPK cukup membanggakan. Ia
dengan berani dan lancang menangkap para pejabat kelas kakap demi
penegakan hukum. Kasus-kasus besar syarat kepentingan turut menjadi
incarannya.
Keberaniannya itulah yang membuat banyak pihak merasa gerah,
sehingga Antasari dijebloskan dalam lingkaran kasus yang sama sekali tak
diakuinya. Kegagahan itulah yang ditengarai banyak orang menjadi jalan
mulusnya ke penjara karena terlalu berani ngobrak-ngabrik halaman rumah
penguasa. Sebelum masuk pada bahasan utama terkait judul di atas, mari kita
bernostalgia sejenak. Dalam banyak berita, analisa, atau laporan yang bisa kita
temukan dimana-mana, dihukumnya Antasari erat kaitannya dengan penguasa saat
itu. Katanya, SBY merasa geram dan marah ketika Antasari berani menahan
besannya. Hanya saja, waktu itu SBY menahan diri demi pencitraan karena
hasratnya untuk kembali mencalonkan Presiden periode 2009-2014. Antasari juga
berhasrat untuk membongkar skandal Bank Century yang secara dramatis tak
pernah selesai hingga sekarang. Tidak hanya itu, Antasari juga mengancam akan
membongkar proyek IT KPU yang ketika itu, tendernya dimenangkan oleh
perusahaan Hartati Murdaya (Bendahara DPP Partai Demokrat). Ia menjadi bola
liar, yang membahayakan posisi banyak orang, termasuk para lingkaran dalam
SBY ketika itu. Sebelumnya, SBY menjadi pusat perhatian ketika ditengarai
menjadi aktor politik yang menunggangi aksi damai 4 November lalu. Tercium
juga adanya aroma mengikis legitimasi Presiden Joko Widodo. Jokowi tidak
tinggal diam. Dengan informasi penting yang dimilikinya sebagai Presiden,
Jokowi mulai berpikir serius atas ancaman tersebut, dan mulai memberikan
sinyal-sinyal sebagai lampu indikasi dan perhatian. Lembaga konstitusional
digerakkan untuk mendalami kasus-kasus yang mangkrak ketika SBY masih
berkuasa. Untuk mendukung usaha itu, Jokowi mempunyai kartu As yang mampu
dimainkan dan menjadi kunci untuk membongkar kejahatan masa lalu yang keji
dan kelam. Kartu itu bernama Antasa Azhar, tumbal kebrutalan penguasa. Nah,
sekarang kita mulai menemukan titik temunya, kenapa dibalik bebasnya Antasari
merupakan sinyal bahaya untuk SBY.
Presiden Jokowi terlihat akan segera mengabulkan pengajuan grasi
Antasari sebagai syarat diperolehnya kembali hak-hak konstitusional yang sampai
sekarang belum didapatkannya. Dengan itu, Antasari bisa kembali beraktivitas
sebagaimana biasa seperti sedia kala. Perlu diketahui, sebelum diperolehnya grasi,
Antasari tidak bisa ngapa-ngapain, ia akan jadi pengangguran dan gelandangan.
Rencana pun dimulai. Antasari diproyeksikan untuk memegang jabatan kembali
sebagai ketua KPK. Bagaimana caranya? Perlu diketahui, ketua KPK Agus
Rahardjo yang saat ini sedang menjabat diduga tersangkut kasus korupsi e-KTP
sehingga proses penggantiannya relatif lebih mudah. Atau kalau tidak, Antasari
akan diplot untuk menduduki posisi Jaksa Agung. Ketika ini terealisasi, maka
SBY dan keluarganya harus berhati-hati. Jokowi, secara pelan dan cantik, ingin
membongkar kasus SBY. Gurita Cikeas yang dulu sempat dianggap sumir,
ternyata sedikit demi sedikit menemukan titik terangnya. Cikeas yang dari dulu
santer didengar berada di pusaran kasus korupsi, harus hati-hati. Target yang akan
ditembak, tentu beberapa proyek yang mangkrak, pada saat SBY berkuasa. Tidak
tanggung-tanggung, kerugian negara ditaksir triliunan dari proyek-proyek
tersebut. Jokowi sudah secara pasti meminta KPK untuk menyelidiki proyek yang
mangkrak selama tujuh sampai delapan tahun itu. Jokowi bahkan menodong
BPKP untuk segera menyelesaikan audit dan segera melapor kepadanya (Kompas,
3/11/2016).
Proyek yang diduga merugikan negara itu adalah proyek pengadaan 7.000
megawatt listrik, yang sampai hari ini tak juga selesai. Hitung-hitungan yang
dilakukan oleh BPKP, menurut Pramono Anung, untuk membayar 34 proyek dari
7.000 megawatt itu, negara menghabiskan Rp4,94 triliun!. 12 proyek, dari 34
proyek itu, dipastikan tidak bisa dilanjutkan dan berpotensi merugikan negara
3,76 triliun, sementara 22 proyek lainnya bisa dilanjutkan lagi asalkan ada
tambahan biaya baru sebesar Rp4,68-Rp7,25 triliun (wartakota.tribunnews,
3/11/2016). Selain proyek yang mangkrak itu, tentu saja kasus mangkrak yang
merugikan negara triliunan rupiah bernama Mega Skandal Bank Century.
Terutama ketika banyak pihak menyebutkan, bahwa Anggodo dan Anggoro
termasuk penyumbang dana terbesar bagi kemenangan SBY saat mencalonkan
lagi pada tahun 2009. Tak kalah sadis dari proyek itu, adalah proyek Hambalang
yang menyeret-nyeret nama Ibas namun sampai saat ini masih untouchable, meski
namanya beberapa kali telah disebut dalam persidangan, termasuk oleh Angelina
Sondakh (rimanews, 7/1/2016). Ibas akan menjadi incaran untuk menindak-lanjuti
kasus Hambalang, yang ketika Jokowi menyempatkan diri untuk berkunjung
kesana, ia hanya geleng-geleng kepala. Hambalang telah memakan banyak
korban, termasuk Anas Urbaningrum yang telah menjadi tumbal karena berani
melawan rezim. Ibas. Ya, Ibas. Anak muda dengan kekayaan fantastis dengan
tanpa sumber penghasilan yang jelas!. Tidak hanya Hambalang, Ibas diduga
terlibat dalam beberapa kasus korupsi pada zaman bapaknya berkuasa. Sebut saja
ketika namanya, pada tahun 2009, disebut sebagai orang yang ikut menikmati
dana talangan sebesar Rp 500 miliar. Pada tahun 2013, ia juga dikaitkan dengan
kasus korupsi SKK Migas. Sutan Bhatoegana bahkan secara gamblang menyebut
bahwa Ibas menekan mantan kepala Migas Rudi Rubiandini. Sutan akhirnya
berani jujur, saat SBY tak lagi menjabat sebagai presiden. Dosa-dosa Ibas mulai
tampak terang, ketika sebelumnya hanya remang-remang.
Dengan fakta-fakta yang mulai terungkap dan kemungkinan akan diproses
itu, tentu kita tidak kaget ketika pihak-pihak Cikeas mempunyai sumber dana
yang kuat. Tidak hanya untuk memobilisasi massa, tapi juga untuk ditabur-
taburkan menjadi bingkisan sembako saat Agus berkampanye kemarin. Sehingga
tidak aneh, ketika bendera Agus berkibar dikantong-kantong penduduk miskin,
seperti Kemayoran, misalnya. Selain itu, tentu kita tidak bisa menutup mata
terhadap pemberitaan di media yang memperlihatkan keakraban Agus dengan
Habieb Riziq, yang semakin menguatkan dugaan publik, bahwa memang ada
aktor-aktor politik yang menunggangi dibalik demonstrasi 411 kemarin. Pantas
saja Jokowi marah. Ia menyadari ini merupakan cara licik, yang tidak hanya ingin
menghancurkan Ahok (dengan dugaan penistaan agama), tapi juga ingin
meniarapkan Anies (mengait-ngaitkannya dengan sosok Buni Yani yang sekarang
juga lagi diobral). SBY, saat ini bukanlah siapa-siapa kecuali sebagai mantan
presiden dan ketua partai. Ia tidak punya akses lagi untuk tuding sana-tuding sini.
Ia bukanlah pemegang kendali, bukan pula penerima informasi urgen dari
lembaga negara bernama BIN. Begitu pula dengan keluarganya. Ibas sepertinya
mulai ketar-ketir, dan begitu juga dengan Agus yang mulai menunjukkan perilaku
hampir serupa. Bebasnya Antasari menjadi sinyal, bahwa keluarga SBY berada
dalam bahaya. Antasari merasakan dinginnya hotel prodeo untuk kasus
pembunuhan, yang sampai sejauh ini tidak pernah dibenarkannya. Berbagai upaya
hukum mental, meski dalam kasusnya ditemukan banyak kejanggalan dan
keanehan. Ada banyak rekayasa dan settingan. Hal ini diakuinya beberapa saat
setelah menghirup udara bebas, dengan sangat yakin ia mengatakan ada yang
mendatanginya untuk meminta ini-itu dan melarang ini-itu, tapi ia menolaknya.
Setelah itu, ia selesai. Sebagai orang hukum, ia legowo dan menghormati
keputusan. Sinyal bahaya ini, bukan untuk membalas dendam. Bukan. Tapi
Antasari akan senang bekerja untuk menegakkan hukum yang telah lama
ditiarapkan; untuk menegakkan kebenaran. Ini adalah sinyal yang mengerikan
untuk SBY, Ibas dan Agus Harimurti. Presiden Jokowi adalah presiden yang
cerdas, dia tahu siapa yang bermain api, maka dia akan meniupkan badai agar
pembakar api ludes terbakar. Dan publik akan semakin cerdas membaca pola
politik Pilgub rasa Pilpres ini.

B. Di Balik Kriminalisasi Antasasi Azhar , dan Keterlibatan SBY


Apa yang terjadi selama ini sebetulnya bukanlah kasus yang sebenarnya,
tetapi hanya sebuah ujung dari konspirasi besar yang memang bertujuan
mengkriminalisasi institusi KPK. Dengan cara terlebih dahulu mengkriminalisasi
pimpinan, kemudian menggantinya sesuai dengan orang-orang yang sudah dipilih
oleh sang sutradara, akibatnya, meskipun nanti lembaga ini masih ada namun
tetap akan dimandulkan.
Agar Anda semua bisa melihat persoalan ini lebih jernih, mari kita telusuri
mulai dari kasus Antasari Azhar. Sebagai pimpinan KPK yang baru, menggantikan
Taufiqurahman Ruqi, gerakan Antasari memang luar biasa. Dia main tabrak kanan
dan kiri, siapa pun dibabat, termasuk besan Presiden SBY.
Antasari yang disebut-sebut sebagai orangnya Megawati (PDIP), ini tidak
pandang bulu karena siapapun yang terkait korupsi langsung disikat. Bahkan,
beberapa konglomerat hitam yang kasusnya masih menggantung pada era
sebelum era Antasari, sudah masuk dalam agenda pemeriksaaanya.
Tindakan Antasari yang hajar kanan-kiri, dinilai Jaksa Agung Hendarman
sebagai bentuk balasan dari sikap Kejaksaan Agung yang tebang pilih, dimana
waktu Hendraman jadi Jampindsus, dialah yang paling rajin menangkapi Kepala
Daerah dari Fraksi PDIP. Bahkan atas sukses menjebloskan Kepala Daerah dari
PDIP, dan orang-orang yang dianggap orangnya Megawati, seperti ECW Neloe,
maka Hendarman pun dihadiahi jabatan sebagai Jaksa Agung.
Setelah menjadi Jaksa Agung, Hendarman makin resah, karena waktu itu
banyak pihak termasuk DPR menghendaki agar kasus BLBI yang melibatkan
banyak konglomerat hitam dan kasusnya masih terkatung katung di Kejaksaan
dan Kepolisian untuk dilimpahkan atau diambilalih KPK. Tentu saja hal ini sangat
tidak diterima kalangan kejaksaan, dan Bareskrim, karena selama ini para
pengusaha ini adalah tambang duit dari para aparat Kejaksaan dan Kepolisian,
khususnya Bareskrim. Sekedar diketahui Bareskrim adalah supplier keungan
untuk Kapolri dan jajaran perwira polisi lainnya.
Sikap Antasari yang berani menahan besan SBY, sebetulnya membuat
SBY sangat marah kala itu. Hanya, waktu itu ia harus menahan diri, karena dia
harus menjaga citra, apalagi moment penahanan besannya mendekati Pemilu,
dimana dia akan mencalonkan lagi. SBY juga dinasehati oleh orang-orang
dekatnya agar moment itu nantinya dapat dipakai untuk bahan kampanye, bahwa
seorang SBY tidak pandang bulu dalam memberantas korupsi. SBY terus
mendendam apalagi, setiap ketemu menantunya Anisa Pohan , suka menangis
sambil menanyakan nasib ayahnya.
Dendam SBY yang membara inilah yang dimanfaatkan oleh Kapolri dan
Jaksa Agung untuk mendekati SBY, dan menyusun rencana untuk melenyapkan
Antasari. Tak hanya itu, Jaksa Agung dan Kapolri juga membawa konglomerat
hitam pengemplang BLBI [seperti Syamsul Nursalim, Agus Anwar, Liem Sioe
Liong, dan lain-lainnya), dan konglomerat yang tersandung kasus lainnya seperti
James Riyadi (kasus penyuapan yang melibatkan salah satu putra mahkota Lippo,
Billy Sindoro terhadap oknun KPPU dalam masalah Lipo-enet/Astro, dimana
waktu itu Billy langsung ditangkap KPK dan ditahan), Harry Tanoe (kasus NCD
Bodong dan Sisminbakum yang selama masih mengantung di KPK), Tommy
Winata (kasus perusahaan ikan di Kendari, Tommy baru sekali diperiksa KPK),
Sukanto Tanoto (penggelapan pajak Asian Agri), dan beberapa konglomerat
lainnya].
Para konglomerat hitam itu berjanji akan membiayai pemilu SBY, namun
mereka minta agar kasus BLBI , dan kasus-kasus lainnya tidak ditangani KPK.
Jalur pintas yang mereka tempuh untuk menghabisi Antasari adalah lewat
media. Waktu itu sekitar bulan Februari- Maret 2008 semua wartawan Kepolisian
dan juga Kejaksaan (sebagian besar adalah wartawan brodex wartawan yang
juga doyan suap) diajak rapat di Hotel Bellagio Kuningan. Ada dana yang sangat
besar untuk membayar media, di mana tugas media mencari sekecil apapun
kesalahan Antasari. Intinya media harus mengkriminalisasi Antasari, sehingga ada
alasan menggusur Antasari.
Nyatanya, tidak semua wartawan itu hitam, namun ada juga wartawan
yang masih putih, sehingga gerakan mengkriminalisaai Antasari lewat media tidak
berhasil.
Antasari sendiri bukan tidak tahu gerakan-gerakan yang dilakukan Kapolri
dan Jaksa Agung yang di back up SBY untuk menjatuhkannya. Antasari bukannya
malah nurut atau takut, justeru malah menjadi-hadi dan terkesan melawan SBY.
Misalnya Antasari yang mengetahui Bank Century telah dijadikan alat untuk
mengeluarkan duit negara untuk membiayai kampanye SBY, justru berkoar akan
membongkar skandal bank itu. Antasari sangat tahu siapa saja operator operator
Century, dimana Sri Mulyani dan Budiono bertugas mengucurkan duit dari kas
negara, kemudian Hartati Mudaya, dan Budi Sampurna, (adik Putra Sanpurna)
bertindak sebagai nasabah besar yang seolah-olah menyimpan dana di Century,
sehingga dapat ganti rugi, dan uang inilah yang digunakan untuk biaya kampanye
SBY.
Tentu saja, dana tersebut dijalankan oleh Hartati Murdaya, dalam
kapasitasnya sebagai Bendahara Paratai Demokrat, dan diawasi oleh Eddy
Baskoro plus Djoko Sujanto (Menkolhukam) yang waktu itu jadi Bendahara Tim
Sukses SBY. Modus penggerogotan duit Negara ini biar rapi maka harus
melibatkan orang bank (agar terkesan Bank Century diselamatkan pemerintah),
maka ditugaskan lah Agus Martowardoyo (Dirut Bank Mandiri), yang kabarnya
akan dijadikan Gubernur BI ini. Agus Marto lalu menyuruh Sumaryono (pejabat
Bank Mandiri yang terkenal lici dan korup) untuk memimpin Bank Century saat
pemerintah mulai mengalirkan duit 6,7 T ke Bank Century.
Antasari bukan hanya akan membongkar Century, tetapi dia juga
mengancam akan membongkar proyek IT di KPU, dimana dalam tendernya
dimenangkan oleh perusahaannya Hartati Murdaya (Bendahara Demokrat).
Antasari sudah menjadi bola liar, ia membahayakan bukan hanya SBY tetapi juga
Kepolisian, Kejaksaan, dan para konglomerat , serta para innercycle SBY.
Akhirnya Kapolri dan Kejaksaan Agung membungkam Antasari. Melalui para
intel akhirnya diketahui orang-orang dekat Antasari untuk menggunakan menjerat
Antasari.
Orang pertama yang digunakan adalah Nasrudin Zulkarnaen. Nasrudin
memang cukup dekat Antasari sejak Antasari menjadi Kajari, dan Nasrudin masih
menjadi pegawai. Maklum Nasrudin ini memang dikenal sebagai Markus
(Makelar Kasus). Dan ketika Antasari menjadi Ketua KPK, Nasrudin melaporkan
kalau ada korupsi di tubuh PT Rajawali Nusantara Indonesia (induk Rajawali
Putra Banjaran). Antasari minta data-data tersebut, Nasrudin menyanggupi, tetapi
dengan catatan Antasari harus menjerat seluruh jajaran direksi PT Rajawali, dan
merekomendasarkan ke Menteri BUMN agar ia yang dipilih menjadi dirut PT
RNI, begitu jajaran direksi PT RNI ditangkap KPK.
Antasari tadinya menyanggupi transaksi ini, namun data yang diberikan
Nasrudin ternyata tidak cukup bukti untuk menyeret direksi RNI, sehingga
Antasari belum bisa memenuhi permintaan Nasrudin. Seorang intel polsi yang
mencium kekecewaan Nasrudin, akhirnya mengajak Nasrudin untuk bergabung
untuk melindas Antasari. Dengan iming-iming, jasanya akan dilaporkan ke
Presiden SBY dan akan diberi uang yang banyak, maka skenario pun disusun,
dimana Nasrudin disuruh mengumpan Rani Yulianti untuk menjebak Antasari.
Rupanya dalam rapat antara Kapolri dan Kejaksaan, yang diikuti
Kabareskrim. melihat kalau skenario menurunkan Antasari hanya dengan umpan
perempuan, maka alasan untuk mengganti Antasari sangat lemah. Oleh karena itu
tercetuslah ide untuk melenyapkan Nasrudin, dimana dibuat skenario seolah yang
melakukan Antasari. Agar lebih sempurna, maka dilibatkanlah pengusaha Sigit
Hario Wibisono. Mengapa polisi dan kejaksaan memilih Sigit, karena seperti
Nasrudin, Sigit adalah kawan Antasari, yang kebetulan juga akan dibidik oleh
Antasari dalam kasus penggelapan dana di Departemen Sosial sebasar Rp 400
miliar.
Sigit yang pernah menjadi staf ahli di Depsos ini ternyata menggelapakan
dana bantuan tsunami sebesar Rp 400 miliar. Sebagai teman, Antasari,
mengingatkan agar Sigit lebih baik mengaku, sehingga tidak harus dipaksa
KPK. Nah Sigit yang juga punya hubungan dekat dengan Polisi dan Kejaksaan,
mengaku merasa ditekan Antasari. Di situlah kemudian Polisi dan Kejaksaan
melibatkan Sigit dengan meminta untuk memancing Antasari ke rumahnya, dan
diajak ngobrol seputar tekana-tekanan yang dilakukan oleh Nasrudin. Terutama,
yang berkait dengan terjebaknya: Antasari di sebuah hotel dengan istri ketiga
Nasrudin.
Nasrudin yang sudah berbunga-bunga, tidak pernah menyangka, bahwa
akhirnya dirinyalah yang dijadikan korban, untuk melengserkan Antasari selama-
laamnya dari KPK. Dan akhirnya disusun skenario yang sekarang seperti diajukan
polisi dalam BAP-nya. Kalau mau jujur, eksekutor Nasrudin buknalah tiga orang
yangs sekarang ditahan polisi, tetapi seorang polisi (Brimob ) yang terlatih.
Bibit dan Chandra. Lalu bagaimana dengan Bibit dan Chandra?
Kepolisian dan Kejaksaan berpikir dengan dibuinya Antasari, maka KPK akan
melemah. Dalam kenyataannya, tidak demikian. Bibit dan Chandra , termasuk
yang rajin meneruskan pekerjaan Antasari. Seminggu sebelum Antasari ditangkap,
Antasari pesan wanti-wanti agar apabila terjadi apa-apa pada dirinya, maka
penelusuran Bank Century dan IT KPU harus diteruskan.
Itulah sebabnya KPK terus akan menyelidiki Bank Century, dengan terus
melakukan penyadapan-penyadapan. Nah saat melakukan berbagai penyadapan,
nyangkutlah Susno yang lagi terima duit dari Budi Sammpoerna sebesar Rp 10
miliar, saat Budi mencairkan tahap pertama sebasar US $ 18 juta atau 180 miliar
dari Bank Century. Sebetulnya ini bukan berkait dengan peran Susno yang telah
membuat surat ke Bank Century (itu dibuat seperti itu biar seolaholah duit
komisi), duit itu merupakan pembagian dari hasil jarahan Bank Century untuk
para perwira Polri. Hal ini bisa dipahami, soalnya polisi kan tahu modus operansi
pembobolan duit negara melalui Century oleh inner cycle SBY.
Bibit dan Chandra adalah dua pimpinan KPK yang intens akan membuka
skandal bank Bank Century. Nah, karena dua orang ini membahayakan, Susno
pun ditugasi untuk mencari-cari kesalahan Bibit dan Chandra. Melalui seorang
Markus (Eddy Sumarsono) diketahui, bahwa Bibit dan Chandra mengeluarkan
surat cekal untuk Anggoro. Maka dari situlah kemudian dibuat Bibit dan Chandra
melakukan penyalahgunaan wewenang.
Nah, saat masih dituduh menyalahgunakan wewenang, rupanya Bibit dan
Chandra bersama para pengacara terus melawan, karena alibi itu sangat lemah,
maka disusunlah skenario terjadinya pemerasan. Di sinilah Antasari dibujuk
dengan iming-iming, ia akan dibebaskan dengan bertahap (dihukum tapi tidak
berat), namun dia harus membuat testimony, bahwa Bibit dan Chandra melakukan
pemerasan.
Berbagai cara dilakukan, Anggoro yang memang dibidik KPK, dijanjikan
akan diselsaikan masalahnya Kepolisian dan Jaksa, maka disusunlah berbagai
skenario yang melibatkanAnggodo, karena Angodo juga selama ini sudah biasa
menjadi Markus. Persoalan menjadi runyam, ketika media mulai mengeluarkan
sedikir rekaman yang ada kalimat R1-nya. Saat dimuat media, SBY konon sangat
gusar, juga orang-orang dekatnya, apalagi Bibit dan Chandra sangat tahu kasus
Bank Century. Kapolri dan Jaksa Agung konon ditegur habis Presiden SBY agar
persoalan tidak meluas, maka ditahanlah Bibit dan Chandra ditahan. Tanpa
diduga, rupanya penahaan Bibit dan Chandra mendapat reaksi yang luar biasa dari
publik maka Presiden pun sempat keder dan menugaskan Denny Indrayana untuk
menghubungi para pakar hokum untuk membentuk Tim Pencari Fakta (TPF).
Demikian, sebetulnya bahwa ujung persoalan adalah SBY, Jaksa Agung,
Kapolri, Joko Suyanto, dan para kongloemrat hitam, serta innercycle SBY
(pengumpul duit untk pemilu legislative dan presiden). RASANYA ENDING
PERSOALAN INI AKAN PANJANG, KARENA SBY PASTI TIDAK AKAN
BERANI BERSIKAP. Satu catatan, Anggoro dan Anggodo, termasuk
penyumbang Pemilu yang paling besar.

C. Babak Baru Perang Dingin Antasari Azhar dengan SBY

Antasari Azhar, sebagai ketua KPK merupakan sosok yang berani untuk
mengusut kasus besan SBY, yaitu Aulia Pohan. Tentu saja ini mengegerkan, yang
dipenjarakan pak Antasari merupakan bagian dari keluarga Presiden. Meski
lawannya merupakan anggota cikeas, pak Antasari tidak gentar dan tidak
menghentikan jalannya kasus hanya karena orang tersebut merupakan besan
seorang Presiden. (Baca juga: Cuitan Anas Dibalik Jeruji Bikin SBY Tidak Bisa
Tidur)

Namun, setelah kasus tersebut selesai, tiba-tiba Antasari tersandung kasus


pembunuhan. Kasus ini tentu saja heboh, bukan hanya karena mirip di film-film
dimana disewanya pembunuh bayaran, namun juga karena banyaknya
kejanggalan. Keluarga Antasari banyak diteror setelah kejadian itu. Sampai
sekarang siapa dalang teror belum ditemukan.
Sekarang Antasari sudah bebas. Bebas dalam artian bebas fisik dan bebas
untuk bernyanyi. Tentu saja kita semua menunggu nyanyian beliau. Entah siapa
yang akan Antasari ungkapkan dalam nyanyiannya. Antasari divonis 18 tahun
penjara untuk kejahatan yang katanya dia lakukan. 7,5 tahun sudah dijalankan dan
sudah jelas waktu selama itu bukanlah singkat. (Baca juga: Antasari Minta SBY
Tidak Bikin Gaduh)

D. Hubungan Antasari Dengan Presiden SBY

Hubungan antara Mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)


Antasari Azhar dengan Presiden keenam yang juga Ketua Umum Partai Demokrat
Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) diketahui tak harmonis. Di antara keduanya
seolah terjadi perang dingin.

Antasari menyindir SBY karena cuitannya soal juru fitnah dan penyebar
hoax tengah berkuasa. Dia menyarankan agar SBY lebih baik membuka kasus
pembunuhan bos PT Rajawali, Nasrudin Zulkarnaen, yang menyeretnya
ketimbang mengeluh di media sosial. (Baca juga: Jokowi Lawan Hoax, SBY
Baper di Twitter; Negara Kok Jadi Gini?)

Dalam kasus ini, Antasari harus menjalani hukuman selama 18 tahun


penjara di mana saat itu SBY sedang menjabat Presiden. Antasari merupakan
terpidana kasus pembunuhan bos PT Rajawali, Nasrudin Zulkarnaen. Dia resmi
menjalani masa pembebasan bersyarat. Antasari diwajibkan lapor dalam jangka
waktu tertentu meskipun sudah dibebaskan.

Saya justru minta bantu SBY, kalau beliau ingin ciut-cuitan, bantu
ungkap kasus saya. SBY bongkar kasus saya. Siapa pelaku sesungguhnya,
katanya, Selasa (24/01).
Daripada beliau cuit-cuit enggak karuan mending bantu saya. Bikin cuit-
cuit di Twitter, kapan negara ini kacau. Orang enggak kacau, sambungnya.

Antasari berharap kegaduhan ini tidak terus dilakukan oleh SBY. Dia
menceritakan bagaimana dirinya di dalam penjara selama delapan tahun.

Saya pernah di dalam (penjara) delapan tahun, apa saya pernah teriak-
teriak? ujarnya.

Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat Agus Hermanto pun angkat
bicara. Agus pasang badan dan membela SBY saat disentil Antasari. (Baca juga:
#DennySiregar dan Tamparan Keras Jokowi Kepada Sang Mantan SBY)

Agus menegaskan, apabila Antasari merasa ada yang janggal dengan


kasusnya maka lebih baik menyelesaikannya dengan aparat penegak hukum.
Semuanya sudah dijalankan semua juga sudah ada. Namun apabila Pak Antasari
Azhar ada hal-hal yang dirasakan kurang biar lah diselesaikan dengan aparat
penegak hukum, kata Agus di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu
(25/1). Wakil Ketua DPR ini memastikan pihaknya akan membantu mengawal
proses hukum kasus yang menjerat Antasari. Penegakan hukum itu yang harus
kita awasi. Siapa yang harus kita awasi, media juga mengawasi, DPR juga
mengawasi mari lah kita semua mengawasi penegakan hukum itu, terangnya.
Teranyar, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengabulkan grasi mantan Ketua KPK
Antasari Azhar. Hukuman terpidana kasus pembunuhan itu pun dikurangi 6 tahun.
Alhamdulillah apa pun bentuknya, isinya ketika presiden berikan grasi sebagai
hak konstitusi beliau, saya sampaikan Alhamdulillah, katanya kepada
merdeka.com, Rabu (25/1).

Antasari mendapat bebas bersyarat setelah menjalani dua pertiga dari


vonis 18 tahun penjara. Dengan keluarnya Keputusan Presiden (Keppres) soal
permohonan grasi, Antasari menghitung dirinya bebas murni tahun ini. (Baca
juga: Jokowi Bikin Mati Kutu sang Mantan SBY) Diketahui, pada Kamis 10
November 2016, Antasari Azhar meninggalkan Lembaga Pemasyarakatan
Tangerang dengan status bebas bersyarat sejak ditahan pada Mei 2009. Azhar
divonis 18 tahun penjara oleh PN Jakarta Selatan setelah dinyatakan terbukti
membunuh Nasrudin Zulkarnaen, Direktur Putra Rajawali Banjaran.

Azhar melalui kuasa hukumnya mengajukan banding, kasasi, serta


peninjauan kembali, namun ia tetap dihukum. Antasari kemudian mengajukan
grasi ulang ke Presiden Joko widodo Pada 8 Agustus 2016.

E. Ada Sesuatu Di Kasus Antasari

Ini bukan orang sembarang yang mengatakannya, tapi langsung dari


Menkumham Menurut saya, dari dasar pertimbangan Presiden ya benar saja.
Seperti yang pernah saya bilang sebetulnya, ada sesuatu sebetulnya mengenai
kasus beliau.

Pemerintah secara terbuka sudah menyatakan adanya kejanggalan dalam


kasus ini hingga Presiden sendiri turun tangan untuk memberikan grasi kepada
Antasari. Ini bukan perkara kecil, Presiden hingga mau memberikan grasi kepada
tersangka pembunuhan. Alasan pemberiannya pun bukan karena kasihan, tapi
karena adanya yang janggal. Apakah kita sedang menyaksikan pertarungan politik
tingkat tinggi? Apakah Jokowi sedang membidik seseorang? Hanya Jokowi yang
tahu. Mari kita lihat dahulu, pemberian grasi ini terjadi pada saat yang sangat
kebetulan. Sekarang situasi politik di Indonesia sedang memanas karena Pilgub
DKI dan kasus Ahok. Ditambah lagi ditangkapnya pelaku makar yang
menunggangi demo yang katanya membela umat Islam. Yang menjadi masalah
besar adalah adanya rumor adanya seseorang yang mendalangi aksi makar ini
dibalik layar. Yang dituduh dalam rumor pun bukan orang sembarangan.
Tentu saja Jokowi berang, makar itu bukan perkara sepele. Bila Jokowi
sekejam Erdorgan maka bisa dijamin para pelaku makar sudah menghilang dari
peredaran. Tapi Jokowi bermain cantik, dipancingnya dalang makar secara
perlahan. TNI dan Polri juga begitu setia kepada Jokowi, pelaku makar tidak bisa
bergerak leluasa.

Kita hanya bisa menunggu, apakah akan ada ikan besar yang terjerat. Atau
malah ada gurita yang terjerat dan menarik semua orang yang berhubungan di
dalamnya.

F. Pengakuan tak terduga Antasari Azhar ini bikin SBY marah besar

Mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Antasari Azhar


mengungkap aktor di balik rekayasa kasus yang menyeretnya ke penjara selama 8
tahun. Sebelumnya dia divonis 18 tahun karena dituding terlibat pembunuhan bos
PT Putra Rajawali Bantaran, Nasrudin Zulkarnain.

Meski kini telah menghirup udara bebas setelah mendapat grasi dari
Presiden Joko Widodo. Usai membuat laporan di kantor sementara Bareskrim di
gedung Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Antasari mulai menyebut
beberapa nama di balik kasusnya, termasuk peran mantan Presiden Susilo
Bambang Yudhoyono. Tak pelak, pengakuan tak terduga Antasari Azhar itu bikin
berang SBY. Ketua Umum Partai Demokrat itu sempat membalas lewat kicauan
di akun Twitter resminya. Nah, berikut poin-poin pengakuan Antasari Azhar
dihimpun

1. Antasari meminta SBY jujur soal rekayasan kasusnya.

Antasari meyakini bahwa dirinya telah dikriminalisasi ketika SBY


menjabat presiden. Dia menduga langkah tersebut dilakukan SBY lantaran
Aulia Pohan, besannya ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK saat
dipimpinnya. "Sejak kecil saya diajari kejujuran oleh orangtua saya. Untuk
itulah saya minta kepada Susilo Bambang Yudhoyono jujur. Beliau tahu
perkara ini, kalau beliau jujur dia harus cerita apa yang beliau alami dan
apa yang beliau perbuat. Beliau perintahkan siapa," kata Antasari,

2. Antasari sebut SBY utus Hary Tanoe lobi batalkan penahanan Aulia
Pohan.

Antasari menceritakan, pada bulan Mei 2007 rumahnya didatangi Ketua


Partai Perindo Hary Tanoesoedibjo tengah malam. HT, sapaan akrabnya
datang ke rumahnya karena membawa pesan penting dari Cikeas. Dia juga
mengaku memiliki bukti terkait pertemuannya dengan Harry
Tanoesoedibjo di rumahnya pada Maret 2009 lalu. "Ada orang malam-
malam ke rumah saya. Orang itu, Hary Tanoesoedibjo. Dia diutus Cikeas,
siapa orang Cikeas? Dia diminta untuk bilang ke saya tak menahan Aulia
Pohan," terang Antasari.

"Dia (HT) bilang 'Saya datang membawa misi menemui bapak," kata
Antasari menirukan ucapan Harry Tanoe saat itu.

3. Antasari mengaku SBY menggunakan petinggi Polri untuk


mengkriminalisasinya.

Selain menyebut nama Hary Tanoesoedibjo sebagai pelobi, Antasari juga


mengaku SBY melibatkan petinggi Polri untuk mengkriminalisasi dirinya.
Namun, Antasari masih enggan mengungkap identitas petinggi Polri
tersebut."Yang saya sayangkan kok beliau (SBY) melibatkan petinggi
Polri. Ini akan berkembang makanya saya laporkan apakah mereka-mereka
itu gimana biarlah penyidik yang mengungkapkan, yang penting saya
sudah laporkan dan saya sudah berharap jangan ada lagi yang menjadi
seperti saya lagi," kata Antasari.
4. Antasari sebut Edhie Baskoro Yudhoyono terkait pengadaan alat IT
KPU.

Antasari Azhar juga buka suara tentang isu 'permainan' Informasi


Teknologi (IT) KPU pada Pemilu 2009. Dia bahkan menyebut, ada
keterlibatan Putra SBY, Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) dalam kasus
tersebut. "Yang mengadakan alat IT KPU itu salah satu putra SBY, Ibas
pengadaan IT KPU," terangnya. Dia menceritakan, dugaan keterlibatan
Ibas itu berupa laporan ke KPK. Antasari pun hendak mengusut kasus itu,
sayang dia sudah lebih dulu ditangkap karena terlibat kasus pembunuhan
Nasruddin Zulkarnain. "Informasi masuk ke kami seperti itu, kami
telusuri, tetapi belum sampai ke sana, saya sudah masuk duluan,"
imbuhnya.

G. Aksi Cepat SBY Tangkal Serangan Antasari Azhar

Mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) marah besar dituding


mantan Ketua KPK Antasari Azhar sebagai aktor di balik kasus pembunuhan
Nasruddin Zulkarnain. Antasari dinilai menyebar fitnah untuk merusak nama
baiknya dan keluarga. Tak hanya itu, SBY menduga ada aktor-aktor politik yang
membekingi Antasari Azhar. Pengakuan Antasari Azhar ini diduga berhubungan
dengan gelaran Pilkada DKI Jakarta. Tak mau berlama-lama, SBY langsung
merespons 'nyanyian' Antasari Azhar. Tampaknya ketua Umum Partai Demokrat
ini tak mau pengakuan Antasari menjadi polemik berkepanjangan. Berikut 5 aksi
cepat SBY tanggapi tudingan Antasari Azhar dihimpun

1. SBY laporkan Antasari Azhar ke Bareskrim Polri

Kuasa Hukum Susilo Bambang Yudhoyono, Didi Irawadi Syamsuddin resmi


melaporkan mantan Ketua KPK Antasari Azhar ke polisi. Antasari dilaporkan
atas tuduhan pencemaran nama baik karena menyebut SBY aktor di balik
kasus kriminalisasi pembunuhan Nasruddin Zulkarnain. "Kami mewakili Pak
SBY hari ini menyampaikan surat laporan pencemaran nama baik yang
dilakukan saudara Antasari Azhar," kata Didi Irawadi Syamsuddin di
Bareskrim Polri, Gambir, Jakarta.

2. SBY tantang Polri buka lagi kasus Antasari Azhar

Mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tak mau tinggal diam
dituding dalang pembunuhan Bos PT Putra Rajawali Banjaran Nasruddin
Zulkarnain. Antasari yang sempat terjerat kasus pembunuhan itu menuding
SBY mengkriminalisasinya karena besannya Aulia Pohan ditahan KPK.
"Antasari menuduh saya insiator dari kasus hukumnya, seolah dia tidak
bersalah, jadi korban. Dengan izin Allah, tuduhan itu sangat tidak benar,
tuduhan itu tanpa dasar, tuduhan itu liar," kata SBY di kediamannya bilangan
Kuningan, Jakarta Selatan. SBY lantas menantang penegak hukum untuk
membuka kembali kasus yang melibatkan Antasari itu. Tidak ada sama sekali
kaitannya dirinya dengan kasus pembunuhan Nasruddin tersebut. "Ungkap
semua fakta, data dan kebenaran dengan gamblang, segamblang-
gamblangnya, saya kira para penegak hukum yang memproses kasus Antasari
masih ada semua, mantan Kapolri masih ada, Jaksa penuntut masih ada,
mantan jaksa agung masih ada," terang SBY.

3. SBY sebut ada aktor politik di belakang Antasari Azhar

Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) didampingi


mantan menteri Kabinet Indonesia Bersatu seperti EE Mangindaan, Syarif
Hasan dan Amir Syamsuddin menggelar jumpa pers menanggapi tuduhan
yang dilancarkan Antasari Azhar. SBY menyebut pengakuan Antasari sebagai
kampanye hitam jelang pencoblosan Pilkada DKI Jakarta. "Tiba-tiba hari ini
ada serangan, blacak campaign yang disampaikan saudara Antasari, mantan
narapidana yang baru mendapat grasi Presiden Jokowi," ujar SBY di
kediamannya Mega Kuningan, Jakarta Selatan. Dia menuding pernyataan
Antasari adalah fitnah untuk merusak namanya dan keluarga. Termasuk putera
sulungnya yang maju di Pilkada DKI Jakarta, Agus Harimurti Yudhoyono.
"Sepertinya ada misi untuk menyerang dan merusak nama saya juga keluarga
saya. Serangan ini diluncurkan dan dilancarkan satu hari sebelum pemungutan
suara, coblosan pilkada Jakarta. Sulit tidak mengatakan bahwa serangan fitnah
dan pembunuhan karakter terkait langsung pilkada esok hari," terangnya. "Dan
hal itu benar terjadi hari ini. Saya duga ini direncanakan. Tidak muncul tiba-
tiba oleh Antasari dan aktor politik di belakangnya. Tujuannya jelas saudara-
saudara, siapapun tahu, agar nama SBY dan Agus Yudhoyono rusak,
tercoreng, akhirnya yang diharapkan dalam Pilkada Jakarta esok hari, Agus-
Sylvi kalah," tambahnya.

4. SBY tuding pengakuan Antasari bertujuan agar Agus Yudhoyono kalah

Mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menanggapi pengakuan


mantan Ketua KPK Antasari Azhar yang menyebutnya aktor di balik
pembunuhan bos Putra Rajawali Banjaran, Nasrudin Zulkarnaen. Dia
menduga tujuan Antasari sangat bermuatan politik. "Luar biasa negara ini.
Naudzubillah. Sejak November tahun lalu saya diserang nama baik saya
dengan tujuan agar elektabilitas Agus drop dan menurut hingga akhirnya
kalah. Tampaknya belum puas, di jam terakhir pemungutan suara ada fitnah
kasar dan tak masuk akal," ujar SBY di rumahnya kawasan Kuningan, Jakarta
Selatan.

5. SBY yakin serangan Antasari direstui penguasa

Mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) marah dituding dalang di


balik pembunuhan Nasruddin Zulkarnain yang melibatkan Antasari Azhar. Dia
meyakini, matan Ketua KPK itu berani menuduhnya karena ada beking dari
penguasa.
BAB III
KESIMPULAN

Antasari Azhar, sebagai ketua KPK merupakan sosok yang berani untuk
mengusut kasus besan SBY, yaitu Aulia Pohan. Tentu saja ini mengegerkan, yang
dipenjarakan pak Antasari merupakan bagian dari keluarga Presiden. Meski
lawannya merupakan anggota cikeas, pak Antasari tidak gentar dan tidak
menghentikan jalannya kasus hanya karena orang tersebut merupakan besan
seorang Presiden.

Namun, setelah kasus tersebut selesai, tiba-tiba Antasari tersandung kasus


pembunuhan. Kasus ini tentu saja heboh, bukan hanya karena mirip di film-film
dimana disewanya pembunuh bayaran, namun juga karena banyaknya
kejanggalan. Keluarga Antasari banyak diteror setelah kejadian itu. Sampai
sekarang siapa dalang teror belum ditemukan.

Sekarang Antasari sudah bebas. Bebas dalam artian bebas fisik dan bebas
untuk bernyanyi. Tentu saja kita semua menunggu nyanyian beliau. Entah siapa
yang akan Antasari ungkapkan dalam nyanyiannya. Antasari divonis 18 tahun
penjara untuk kejahatan yang katanya dia lakukan. 7,5 tahun sudah dijalankan dan
sudah jelas waktu selama itu bukanlah singkat. (Baca juga: Antasari Minta SBY
Tidak Bikin Gaduh)

Hubungan antara Mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)


Antasari Azhar dengan Presiden keenam yang juga Ketua Umum Partai Demokrat
Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) diketahui tak harmonis. Di antara keduanya
seolah terjadi perang dingin.

Antasari menyindir SBY karena cuitannya soal juru fitnah dan penyebar
hoax tengah berkuasa. Dia menyarankan agar SBY lebih baik membuka kasus
pembunuhan bos PT Rajawali, Nasrudin Zulkarnaen, yang menyeretnya
ketimbang mengeluh di media sosial.
SUMBER BACAAN

http://www.liputan6.com/tag/antasari-azhar
http://www.bbc.com/indonesia/trensosial-38968519
http://www.kompasiana.com/mahesajanuar08/di-balik-bebasnya-antasari-sinyal-
bahaya-untuk-sby-agus-harimurti_5825ca2421afbd5b0d8b4568
https://faktakriminalisasi.wordpress.com/2009/11/12/fakta-di-balik-kriminalisasi-
kpk-dan-keterlibatan-sby/