Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kehidupan manusia akan terjadi suatu siklus hidup dimana manusia akan

mengalami berbagai peristiwa penting di dalam hidupnya. Siklus hidup,

pengalaman dan peristiwa penting itu antara lain adalah kelahiran, perkawinan,

perceraian, kematian, dan berbagai peristiwa penting lainnya. Peristiwa-peristiwa

penting tersebut perlu dilakukan pencatatan karena sangat mempengaruhi

pengalaman hidup setiap manusia dan apabila peristiwa itu terjadi pasti akan

selalu membawa akibat hukum bagi orang yang bersangkutan maupun bagi

masyarakat di sekitarnya. Mengingat begitu pentingnya peristiwa-peristiwa

tersebut, maka demi terciptanya keadaan masyarakat yang tertib dan teratur serta

demi terjaminnya kepastian hukum, maka diperlukan suatu peraturan untuk

mengaturnya. Peraturan yang dimaksud tersebut adalah peraturan dibidang

pencatatan sipil yang dilaksanakan oleh lembaga pencatatan sipil yaitu Kantor

Catatan Sipil.

Pencatatan sipil merupakan hak dari setiap warga negara dalam arti hak

memperoleh akta autentik dari pejabat negara. Masih jarang penduduk menyadari

betapa pentingnya sebuah akta bagi dirinya dalam menopang hidupnya. Misalnya

anak lahir tanpa akta kelahiran, ia akan memperoleh kesulitan pada saat ia

memasuki pendidikan. Demikian pula dalam masalah perkawinan, kematian, dan

status anak. Banyak manfaat yang membawa akibat hukum bagi diri seseorang.
Sebuah akta perkawinan yang diterbitkan oleh pejabat Kantor Catatan Sipil,

memiliki arti yang sangat besar di kemudian hari, manakala terjadi sesuatu.

Misalnya untuk kepentingan menentukan ahli waris, menentukan dan memastikan

bahwa mereka adalah muhkrimnya, atau dapat memberi arah ke pengadilan mana

ia mengajukan cerai dan lain-lain yang tanpa disadari akta-akta tersebut sangat

penting artinya bagi kehidupan seseorang. Catatan Sipil merupakan suatu catatan

yang menyangkut kedudukan hukum seseorang. Bahwa untuk dapat dijadikan

dasar kepastian hukum seseorang maka data atau catatan peristiwa penting

seseorang, seperti : perkawinan, perceraian, kelahiran, kematian, pengakuan

anak dan pengesahan anak, perlu didaftarkan ke Kantor Catatan Sipil, oleh karena

Kantor Catatan Sipil adalah suatu lembaga resmi Pemerintah yang menangani hal-

hal seperti di atas. yang sengaja diadakan oleh Pemerintah, dan bertugas untuk

mencatat, mendaftarkan serta membukukan selengkap mungkin setiap peristiwa

penting bagi status keperdataan seseorang.

Seluruh peristiwa penting yang terjadi dalam keluarga (yang memiliki

aspek hukum), perlu didaftarkan dan dibukukan, sehingga baik yang bersangkutan

maupun orang lain yang berkepentingan mempunyai bukti yang outentik tentang

peristiwa-peristiwa tersebut, dengan demikian maka kedudukan hukum seseorang

menjadi tegas dan jelas. Dalam rangka memperoleh atau mendapatkan kepastian

kedudukan hukum seseorang, perlu adanya bukti bukti outentik yang sifat bukti

itu dapat dipedomani untuk membuktikan tentang kedudukan hukumnya. Sampai

saat ini di Indonesia belum ada peraturan tentang pencatatan sipil itu sendiri,

karena itu sampai sekarang di Indonesia masih mempergunakan peraturan tentang


pencatatan sipil peninggalan Kolonial Belanda. Yang sebenarnya sudah tidak

sesuai atau kurang sesuai lagi dengan jiwa dan kepribadian bangsa Indonesia.

Sebab di dalam peraturan peninggalan Kolonial Belanda tersebut masih bersifat

ras diskriminasi atau masih membeda-bedakan harkat dan martabat kemanusiaan.

Pada masa pemerintahan Hindia Belanda, kantor Burgerlijk Stand (Kantor Catatan

Sipil) bertugas mencatat keadaan penduduk dari segi kelahiran, perkawinan dan

kematian. Selanjutnya pemerintah Hindia Belanda mewajibkan semua warga

golongan Eropa mendaftarkan diri atas peristiwa kelahiran, perkawinan,

perceraian dan kematian (Staatblad 1849 No.25). Melalui upaya ini pemerintah

Hindia Belanda dapat mengetahui secara pasti berapa banyak orang Eropa dan

berapa pertambahannya. Dengan berlandaskan kepada daftar yang diperoleh

melalui Burgerlijk Stand ini, Pemerintah Hindia Belanda secara mudah

menyiapkan segala keperluan sejak dari masalah sandang, pangan sampai dengan

papan serta kepentingan umum lainnya, sehingga nampak sekali golongan ini

lebih sejahtera dibandingkan dengan golongan lainnya. Pada waktu itu penduduk

Indonesia terbagi menjadi beberapa golongan. Sebagai konsekuensinya, peraturan

dalam bidang catatan sipil yang berlaku bagi masing-masing golongan penduduk

itu tidak sama. Atau dengan kata lain masing-masing golongan penduduk

memiliki peraturan catatan sipil sendiri-sendiri. Hal ini menimbulkan kesan

adanya diskriminasi di kalangan masyarakat, yang dapat berakibat terhambatnya

pelaksanaan pencatatan sipil di Indonesia.


BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Akta Kematian dan Dasar Hukumnya

Sebagai negara yang pernah mengalami masa penjajahan maka pengaturan

tentang pencatatan sipil di Indonesia sebelum UU Administrasi Kependudukan

(UU Adminduk) diberlakukan pada tahun 2013, masih menggunakan aturan

kolonial Belanda. Pemerintah Hindia Belanda pada waktu itu membagi penduduk

atas dasar etnik golongan Eropa, Timur Asing dan Bumi Putra. Penggolongan itu

menghasilkan peraturan yang membedakan penduduk. Pembedaannya tidak

terbatas pada penggolongan etnik saja, tetapi termasuk dalam bidang

kependudukan yang mana pencatatan kelahiran dibedakan baik dari sisi

administrasi maupun agama. Secara garis besar aturan tentang Catatan Sipil dapat

dibagi kedalam dua periode yaitu masa sebelum kemerdekaan Republik Indonesia

dan setelah kemerdekaan.

Pada masa sebelum Indonesia merdeka berlaku aturan kolonoial Belanda

yaitu :

1. Bagi bangsa Eropa diatur dalam S. 1849 No 25 dan perubahan-perubahannya.

2. Bagi bangsa Thionghoa diatur menurut S. 1917 No. 130 Jo. S 1919 No. 81 dan

perubahan-perubahannya.
3. Bagi bangsa Indonesia Bumi Putera dari Jawa dan Madura, diatur menurut S.

1920 No 751 Jo. S. 1927 No. 564 dan perubahan-perubahannya.

4. Bagi bangsa Indonesia Bumi Putera Kristen di Jawa, Madura dan Minahasa,

diatur menurut S.1933 No.75 dan perubahan-perubahan lainnya.

5. Peraturan Perkawinan Campuran diatur dalam S. 1986 No. 23 Jo. S 1898 No.

158 dan perubahan-perubahannya.

Pada masa setelah kemerdekaan Republik Indonesia sampai sekarang:

a. Instruksi Presidium Kabinet No 314/4/IN/12/1966.

b. Undang-undang No.4 tahun 1961 tentang perubahan nama keluarga.

c. Keputusan Presidium Kabinet No 127/4/Kep/12/1966 tentang Ganti Nama

WNI yang memakai nama Cina.

d. Undang-undang Administrasi Kependudukan.

Sejak Indonesia merdeka pada tahun 1945 maka baru pada tahun 2006 negara

mempunyai aturan pencatatan sipil yang bersifat nasional. Dengan demikian

sebelum tahun 2013, Indonesia masih memakai aturan kolonial Belanda.

Padahal sesuai dengan pertimbangan yang terdapat Instruksi Presidium

Kabinet No 314/4/IN/12/1966, sudah direncanakan pengaturan tentang

pencatatan sipil nasional di dalam perundang-undangan.

Suatu peristiwa yang tidak dapat dihindari setiap manusia adalah

kematian, karena kematian adalah suatu peritiwa yang datangnya di luar

kekuasaan manusia. Kematian merupakan takdir Tuhan Yang Maha Esa yang

tidak dapat dipungkiri oleh manusia karena cepat atau lambat manusia akan

kembali kepangkuan-Nya.
Hal mana dapat diketahui bahwa bagi orang-orang yang beriman atau

beragama bahwa kematian adalah suatu panggilan Ilahi terhadap umat manusia

yang dilakukan oleh Tuhan sebagai penciptanya. Namun sebagai umat manusia

yang masih terikat dengan sifat-sifat keduniawian, sehingga peristiwa kematianini

penting sekali didaftarkan pada suatu lembaga guna mendapatkan suatu akta, agar

kepada orang-orang yang masih hidup mengetahui siapa-siapa sebenarnya

anggota keluarga almarhum yang terdekat.

Hal ini perlu dilakukan karena sangat berguna untuk mengetahui siapa-

siapa yang sebenarnya menjadi ahli waris dari almarhum (pewaris) demikian pula

terhadap janda yang ditinggalkannya. Kedudukan hukum dari si janda (isteri)

dapat lebih positif apabila didukung dengan sebuah bukti yang tertulis dan otentik

yang berupa akta yang dikeluarkan oleh sebuah lembaga yang ditunjuk oleh

Negara. Serta mempunyai wewenang untuk menyelenggarakan dan menerbitkan

akta kematian tersebut, karena akta kematian menerangkan secara tegas nama

suami, isteri yang ditinggalkan oleh si mati.

Akta Kematian" Umum adalah "Akta Kematian" yang diperoleh sebelum

melampaui batas waktu pelaporannya, yakni 30 (tiga puluh) hari sejak tanggal

"kematian"nya. Bagi Warga Negara Indonesia yang meninggal dunia di Luar

Negeri, wajib dilaporkan ke Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil selambat-

lambatnya 60 (enam puluh) hari sejak keluarga yang bersangkutan kembali ke

Indonesia
Akta kematian adalah suatu akta yang dibuat dan diterbitkan oleh Dinas

Kependudukan yang membuktikan secara pasti tentang kematian seseorang.

Kematian merupakan salah satu peristiwa penting yang dialami oleh setiap orang,

yang harus dicatat dan dikukuhkan oleh negara dalam bentuk Akta Kematian.

Dengan akta kematian, dapat dijadikan bukti outentik mengenai peristiwa

kematian seseorang. Yang dimaksud kematian dalam kontek pencatatan ini adalah

berhentinya fungsi seluruh organ tubuh seseorang yang dinyatakan dengan surat
17
keterangan dokter/para medis/ pejabat lain yang berwenang

Akta kematian digolongkan menjadi 2 jenis, yaitu:

1. Akta Kematian Umum

Akta Kematian Umum adalah akta kematian yang diperoleh sebelum

melampaui batas waktu pelaporan (10 hari untuk WNI dan 3 hari untuk WNA/

golongan Eropa).

2. Akta Kematian Istimewa

Akta Kematian Istimewa adalah akta kematian yang diperoleh setelah

lewat batas waktu pelaporan dengan penetapan Pengadilan Negeri setempat bagi

WNI keturunan dan WNA.

Pencatatan kematian itu merupakan salah satu wewenang dari

lembagacatatan sipil, tetapi di dalam prakteknya terutama di desa-desa pencatatan

kematian dilakukan oleh kepala desa yang akan membuat surat keterangan

kematian, tetapi sebelumnya harus ada pengantar dari kepala dusun. Sedangkan

yang melakukan pendaftaran peristiwa ini dilakukan oleh para ahli warisnya atau
keluarganya dengan melengkapi semua persyaratan yang telah ditentukan untuk

keperluan itu.

Administrasi kependudukan menurut Undang-undang Nomor 24 Tahun

2013 dalam Pasal 1 ayat (1) adalah rangkaian kegiatan penataan dan penertiban

dalam penerbitan dokumen dan Data Kependudukan melalui Pendaftaran

Penduduk, Pencatatan Sipil, pengelolaan informasi Administrasi Kependudukan

serta pendayagunaan hasilnya untuk pelayanan publik dan pembangunan sektor

lain. Pencatatan kematian merupakan salah satu pencatatan peristiwa penting

dalam kehidupan seseorang sebagai bukti atas kematian seseorang setelah dicatat

oleh Kantor Kependudukan dan Catatan Sipil. Dalam Undang-undang Nomor 24

Tahun 2013 Pasal 44 ayat (1) disebutkan bahwa Setiap kematian wajib dilaporkan

oleh ketua rukun tetangga atau nama lainnya di domisili Penduduk kepada

Instansi Pelaksana setempat paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak tanggal

kematian, Berdasarkan laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pejabat

Pencatatan Sipil mencatat pada Register Akta Kematian dan menerbitkan Kutipan

Akta Kematian.(3) Pencatatan kematian sebagaimana dimaksud pada ayat (2)

dilakukan berdasarkan keterangan kematian dari pihak yang berwenang.(4) Dalam

hal terjadi ketidakjelasan keberadaan seseorang karena hilang atau mati tetapi

tidak ditemukan jenazahnya, pencatatan oleh Pejabat Pencatatan Sipil baru

dilakukan setelah adanya penetapan pengadilan. (5) Dalam hal terjadi kematian

seseorang yang tidak jelas identitasnya, Instansi Pelaksana melakukan pencatatan

kematian berdasarkan keterangan dari kepolisian.


Dasar Hukum Penyelenggaraan Catatan Sipil di Indonesia Secara garis

besar aturan tentang Catatan Sipil dapat dibagi ke dalam dua periode yaitu masa

sebelum kemerdekaan dan setelah kemerdekaan Republik Indonesia. Pada masa

sebelum Indonesia merdeka berlaku aturan kolonial Belanda yaitu :

1. Bagi bangsa Eropa diatur dalam S.1849 No. 25 dan perubahan-

perubahannya.

2. Bagi bangsa Thionghoa diatur menurut S.1917 No.130 jo. S. 1919 No. 81

dan perubahan-perubahannya.

3. Bagi bangsa Indonesia Bumi Putera dari Jawa dan Madura diatur menurut

S. 1920 No. 751 jo. S. 1927 No.564 dan perubahan-perubahannya.

4. Bagi bangsa Indonesia Bumi Putera Kristen di Jawa, Madura dan

Minahasa diatur menurut S. 1933 No. 75 dan perubahan-perubahannya.

5. Peraturan Perkawinan Campuran diatur dalam S. 1886 No. 23 jo. S. 1898

No. 158 dan perubahan-perubahannya

E. Tujuan dan Manfaat Akta Kematian

Pencatatan peristiwa hukum untuk memastikan status perdata seseorang,

ada empat peristiwa hukum dalam kehidupan manusia yang perlu dilakukan

pencatatan antara lain :

1. Untuk persyaratan pengurusan pembagian waris, baik bagi isteri atau

suami maupun anak.


2. Bagi janda atau duda (terutama bagi Pegawai Negeri) diperlukan sebagai

syarat dalam menikah lagi.

3. Diperlukan untuk mengurus pensiun bagi ahli warisnya.

4. Untuk mengurus uang duka, tunjangan kecelakaan, Taspen, Asuransi dan

lain sebagainya.

Pasal 285 Rechtsieglement Buitengewesten (RBg), menentukan akta

otentik adalah akta yang dibuat oleh atau dihadapan pejabat yang diberi

wewenang untuk itu, merupakan bukti lengkap kedua belah pihak dan ahli

warisnya serta orang yang mendapat hak daripadanya, tentang segala apa yang

19
tersebut dalam surat itu.

Akta otentik merupakan bukti yang cukup, itu berarti bahwa dengan

adanya suatu akta kematian, misalnya sudah terbukti secara sempurna tentang

kematian seseorang. Bukti yang cukup ini juga disebut bukti sempurna, artinya isi

akta tersebut oleh hakim dianggap benar kecuali apabila diajukan bukti

20
perlawanan.

Pencatatan sipil yang menghasilkan dokumen catatan sipil memiliki

beberapa manfaat sekaligus, yaitu manfaat bagi individu, dan manfaat bagi
21
Negara:

1. Manfaat bagi individu, adalah menyediakan perlindungan hak-hak asasi

manusia berkenaan dengan status sosial dan manfaat-manfaat individual.

Untuk peristiwa Kematian, menyediakan bukti kematian seseorang untuk

dipergunakan oleh ahli waris yang berkepentingan seperti dalam

pengurusan asuransi, Sementara bagi janda atau duda diperlukan sebagai


syarat dalam menikah lagi. Akte kematian juga diperlukan untuk

mengurus pensiun bagi ahli warisnya, untuk mengurus uang duka,

tunjangan kecelakaan, Taspen, dan lain sebagainya.

2. Manfaat bagi Negara, yaitu bagi administratif dan statistik Negara. Untuk

itu sistim pencatatan sipil harus bersifat menyeluruhdalam arti

menyangkut seluruh penduduk, seluruh kejadian vital dan dalam waktu

yang ditetapkan. Adapun beberapa manfaat administratif umum data

catatan sipil. Untuk peristiwa kematian adalah : untuk penentuan daftar

pemilih tetap pada pemilihan umum, untuk merencanakan program

kesehatan, pengendalian penyakit. Untuk program keamanan masyarakat,

pencegahan kecelakaan, dan kejahatan, untuk penelitian kematian ibu dan

anak, wabah penyakit, untuk penelitian demografis, historis, dan

kecenderungan usia.

F. Instansi yang berwenang menerbitkan Akta Kematian

Salah satu fungsi utama dalam penyelenggaraan pemerintahan yang

menjadi kewajiban aparatur pemerintah adalah penyelenggaraan pelayanan

publik. Didalam hukum administrasi Negara Indonesia, berdasarkan pengertian

umum istilah pelayanan publik diartikan sebagai segala kegiatan pelayanan yang

dilaksanakan oleh instansi pemerintah sebagai upaya pemenuhan kebutuhan


orang, masyarakat, instansi pemerintah dan badan hukum maupun pelaksanaan

22
ketentuan peraturan perundang-undangan.

Undang-undang Nomor 24 Tahun 2013 Tentang Administrasi

Kependudukan mengatur bahwa penyelenggara dari Administrasi Kependudukan

adalah pemerintah, pemerintah provinsi, dan pemerintah kabupaten/kota yang

bertanggung jawab dan berwenang dalam urusan Administrasi Kependudukan.

Dan yang menjadi instansi pelaksana adalah perangkat pemerintah kabupaten/kota

yang bertanggung jawab dan berwenang melaksanakan pelayanan dalam urusan

Administrasi Kependudukan.

Pasal 2 Peraturan Pemerintah RI Nomor 37 Tahun 2007 tentang

Pelaksanaan Undang-undang Nomor 24 Tahun 2013 tentang Administrasi

Kependudukan, mengatur: urusan Administrasi Kependudukan diselenggarakan

oleh pemerintah, pemerintah provinsi, dan pemerintah kabupaten/kota.Pasal 27

ayat (1) dalam peraturan yang sama juga mengatur :Dalam menyelenggarakan

urusan Administrasi Kependudukan di kabupaten/kota, dibentuk Dinas

Kependudukan dan Pencatatan Sipil sebagai instansi Pelaksana yang di atur dalam

Peraturan Daerah.Berdasarkan penjelasan tersebut di atas dapat diketahui bahwa

instansi yang berwenang dalam melakukan pencatatan kematian sehingga akan

menerbitkan akta kematian merupakan salah satu wewenang dari pemerintah

daerah kabupaten/ kota yang di laksanakan oleh Dinas Kependudukan dan Catatan

Sipil.
BAB III
KESIMPULAN

Pencatatan Kematian merupakan salah satu dari berbagai peristiwa penting yang
wajib dicatatkan di Dinas Kependudukan dan Catat an sipil. Hal ini di atur dalam Pasal
44 ayat (1) Undang-undang Nomor 24 Tahun 2013 tentang Administrasi Kependudukan
yang berbunyi : Setiap kematian wajib dilaporkan oleh ketua rukun tetangga atau nama
lainnya di domisili Penduduk kepada Instansi Pelaksana setempat paling lambat tiga
puluh hari sejak tanggal kematian. Adapun yang menjadi permasalahan dalam penelitian
ini adalah pengaturan penerbitan akta kematian berdasarkan Undang-Undang Nomor 24
Tahun 2013. Prosedur penerbitan akta kematian di kota Medan dan kendala dalam
penerbitan akta kematian di kota Medan. Jenis penelitian adalah penelitian hukum yuridis
normatif, yaitu tipe Penelitian yang difokuskan untuk mengkaji penerapan kaidah-kaidah
atau norma-norma dalam hukum positif. Pengaturan penerbitan akta kematian
berdasarkan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2013, yaitu Pasal 44 ayat (1) Setiap
kematian wajib dilaporkan oleh ketua rukun tetangga atau nama lainnya di domisili
Penduduk kepada Instansi Pelaksana setempat paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak
tanggal kematian. Prosedur penerbitan akta kematian di kota Medan, yaitu Pemohon
datang ke Instansi Pelaksana melakukan pendaftaran dengan mengisi Formulir Pelaporan
Kematian (FPM-Orang Asing) dan melampirkan persyaratan yang diperlukan. Petugas
Registrasi Pencatatan Sipil menerima dan meneliti FPM-Orang Asing beserta berkas
pelaporan dan persyaratan; Kendala dalam penerbitan akta kematian di kota Medan
antara lain aspek landasan hukum Pemerintah dalam melaksanakan proses pelayanan
public dalam penerbitan dokumen kependudukan sangat lamban dalam merespon
berbagai perkembangan yang terjadi. Pelaksanaan pelayanan publik dalam penerbitan
dokumen kependudukan didasarkan pada Undang-undang nomor 24 Tahun 2013 Tentang
administrasi Kependudukan belum dilaksanakan. Aspek Kelembagaan dan sumber Daya
Manusia (SDM) pelaksanaan administrasi kependudukan yang ada di tingkat
kabuapaten/kota belum didukung oleh perkembangan struktur kelembagaan. Pada tingkat
tersebut tidak ada lembaga atau organisasi yang konsen dalam menyuarakan persoalan
pelaksanaan administrasi kependudukan.
DAFTAR PUSTAKA

A. Buku

Arif, Saiful Reformasi Pelayanan Publik.Malang : Averroes Press. 2008.

Hock, Lie Oen,Lembaga Catatan Sipil, Keng.Po, Edisi Revisi Jakarta.2001

Indofa, Sudhar, Pengertian Riwayat dan Masalah Catatan Sipil, sebagai sumbang
pemikiran dalam Pembangunan Bidang Administrasi Kependudukan dan
Catatan Sipil, Jakarta, Departemen Dalam Negeri, 2000.

Moenir. Manajemen Pelayanan Umum di Indonesia. Jakarta : Bumi Aksara, 2010

Muhammad, Abdulkadir, Hukum Acara Perdata Indonesia, Bandung, Citra Aditya


Bakti, cetakan kelima, 1992.

R. Tjtrosoedibro, Subekti dan, Kamus Hukum, Jakarta, Pradnya Paramita, 2009.

Ridwan, Juniarso & Achmad Sodik Sudrajat, Hukum Administrasi Negara dan
Kebijakan Pelayanan Publik, Bandung:Nuansa, 2009.

Saleh, A.Rasyid, Diklat Training Of Trainer Catatan Sipil Tahun 2005, Jakarta,
Departemen Dalam Negeri Badan Pendidikan dan Pelatihan Pusat Diklat
Pembangunan dan Kependudukan, 2005.

Sinambela, Poltak. Reformasi Pelayanan PublikTeori, Kebijakan dan


Implementasi Jakarta : Bumi Aksara, 2006.

Situmorang, Victor M. dan Cormentyna Sitanggang. Aspek Hukum Akta Catatan


Sipil di Indonesia. Jakarta: Sinar Grafika, 1991.

Soekanto, Soerjono dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif suatu Tinjauan
Singkat Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2001

Soekanto, Soerjono, Pengantar Penelitian Hukum, Jakarta: Universitas Indonesia


Press, 2008.

Sutantio, Retnowulan, Hukum Acara Perdata dalam Teori dan Praktek, Bandung,
Mandar Maju, 1989.
Sutedi, Adrian, Hukum Perizinan dalam Sektor Pelayanan Publik, Jakarta, Sinar
Grafika, 2010.

Vollmar H.F.A.,Pengantar Studi hukum Perdata, jilid I, Rajawali Pers. Jakarta,


2009

B. Peraturan Perundang-Undangan

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia1945.

Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2013 Tentang Administrasi Kependudukan.

Undangt-Undang Nomor 23 tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 37 tahun 2007 tentang Pelaksanaan


UU No. 24 tahun 2013 tentang Administrasi Kependudukan.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 25 tahun 2008 tentang Persyaratan


dan Tata Cara Pendaftaran Penduduk dan Pencatatan Sipil.

Peraturan Daerah Kota Medan Nomor 3 Tahun 2009 tentang Pembentukan


Organisasi dan Tata Kerja Perangkat Daerah Kota Medan.