Anda di halaman 1dari 19

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha


Esa karena telah memberikan kekuatan dan kemampuan
sehingga makalah ini bisa selesai tepat pada waktunya. Adapun
tujuan dari penyusunan makalah ini adalah untuk memenuhi
tugas dengan judul Tantangan Global yang dapat
mengancam Pertahanan, Persatuan dan Kesatuan NKRI,
Pancasila, UUD 45 serta Bhineka Tunggal Ika.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak
yang telah membantu dan mendukung dalam penyusunan
makalah ini.
Penulis sadar makalah ini belum sempurna dan
memerlukan berbagai perbaikan, oleh karena itu kritik dan saran
yang membangun sangat dibutuhkan.
Akhir kata, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi
para pembaca dan semua pihak.

Jatinangor, Januari 2017

Penulis,

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.....................................................................i
DAFTAR ISI...............................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN...............................................................1
1.1 Latar Belakang.................................................................1
1.2 Rumusan Masalah............................................................2
BAB II TINJAUAN TEORITIS.......................................................3
2.1 Pengertian dari ancaman non-militer...............................3
2.2 Strategi untuk menghadapi Ancaman di Bidang Ideologi. 3
2.3 Strategi untuk menghadapi Ancaman di Bidang Politik....3
2.4 Strategi untuk menghadapi Ancaman di Bidang Ekonomi 4
2.5 Strategi untuk menghadapi Ancaman di Bidang Sosial
Budaya....................................................................................4
2.6 Strategi untuk menghadapi Ancaman di Bidang Teknologi
dan Informasi..........................................................................5
2.7Strategi untuk menghadapi Ancaman di Bidang
Keselamatan Umum................................................................5
BAB III PEMBAHASAN...............................................................6
3.1 Potensi dan ancaman di NKRI............................................6
3.2 Indonesia dan ancaman disintegrasi.................................8
3.3 Cara penanggulangan ancaman disintegrasi bangsa.......9
3.4 Kedudukan dan fungsi ketahanan nasional.....................12
3.5 Konsepsi ketahanan nasional.........................................13
BAB IV PENUTUP....................................................................14
A. Kesimpulan.......................................................................14
B. Saran...............................................................................14
DAFTAR PUSTAKA..................................................................15

2
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Terbentuknya negara Indonesia dilatar belakangi oleh
perjuangan seluruh bangsa. Sudah sejak lama Indonesia menjadi
incaran banyak negara atau bangsa lain, karena potensinya yang
besar dilihat dari wilayahnya yang luas dengan kekayaan alam
yang banyak. Kenyataannya ancaman datang tidak hanya dari
luar, tetapi juga dari dalam. Terbukti, setelah perjuangan bangsa
tercapai dengan terbentuknya NKRI, ancaman dan gangguan dari
dalam juga timbul dari yang bersifat kegiatan fisik sampai yang
idiologis. Meski demikian, bangsa Indonesia memegang satu
komitmen bersama untuk tegaknya negara kesatuan Indonesia.
Dorongan kesadaran bangsa yang dipengaruhi kondisi dan letak
geografis dengan dihadapkan pada lingkungan dunia yang serba
berubah akan memberikan motivasi dlam menciptakan suasana
damai.
Ancaman disintegrasi bangsa dibeberapa bagian wilayah
sudah berkembang sedemikian kuat. Bahkan mendapatkan
dukungan kuat sebagian masyarakat, segelintir elite politik lokal
maupun elite politik nasional dengan menggunakan beberapa
issue global Issue tersebut meliputi issu demokratisasi, HAM,
lingkungan hidup dan lemahnya penegakan hukum serta sistem
keamanan wilayah perbatasan. Oleh sebab itu, pengaruh
lingkungan global dan regional mampu menggeser dan merubah
tata nilai dan tata laku sosial budaya masyarakat Indonesia yang
pada akhirnya dapat membawa pengaruh besar terhadap
berbagai aspek kehidupan termasuk pertahanan keamanan.
Untuk itu pembangunan dan pengamanan wilayah NKRI
harus dilakukan melalui pendekatan beberapa aspek, terutama
aspek demarkasi dan delimitasi garis batas negara, disamping itu
melalui pendekatan pembangunan kesejahteraan, politik, hukum,
dan keamanan. Pembangunan nasional yang diharapkan dapat
menghasilkan kemajuan di berbagai bidang kehidupan
masyarakat. Sehingga dapat dijadikan sebagai landasan yang
kokoh dalam upaya mencapai masyarakat Indonesia yang maju
dan mandiri dalam suasana tentram dan sejahtera lahir dan
batin, dalam tata kehidupan masyarakat, bangsa dan negara
yang berlandaskan Pancasila, pada kenyataannya belum
terwujud. Pancasila sebagai ideologi negara yang lahir dari
ide-ide bangsa yang mengandung nilai-nilai hakiki semakin
terkikis oleh ideologi asing. Inilah berbagai permasalahan yang
kita hadapi dan menjadi tantangan kita bersama.

1
Menghadapi situasi dan kondisi demikian kita harus
memiliki satu visi. Baik para pemimpin pemerintahan, sipil
maupun militer, juga para elite politik, tokoh masyarakat, tokoh
agama dan tokoh partai serta media massa. Penyamaan visi itu
penting untuk mengatasi perbedaan-perbedaan yang ada dan
dapat menimbulkan permusuhan. Karena tidak ada satu
negarapun didunia toleran terhadap aspirasi rakyat di sebagian
wilayah teritorial yang berniat mengembangkan wacana dan
berkeinginan memisahkan diri akibat dari ketidakpuasan yang
mendasar, terhadap keadilan sosial, keseimbangan
pembangunan, pemerataan hasil pembangunan dan hal-hal
sejenisnya. Oleh karena itu diharapkan setiap warga negara
harus dapat mengendalikan emosi, sabar, dan tidak terlalu
sensitif, sehingga bangsa dan negara kita dapat terhindar dari
semua situasi dan kondisi yang bernuansa konflik dan dapat
mengakibatkan disintegrasi bangsa.

1.2 Rumusan Masalah

A. Bagaimana potensi dan ancaman di NKRI?


B. Apa penyebab ancaman disintetegrasi di Indonesia?
C. Bagaimana cara penanggulangan ancaman disintegrasi
bangsa?
D. Bagaiman kedudukan dan fungsi ketahanan nasional?
E. Bagaimana konsepsi ketahanan nasional?

2
BAB II
TINJAUAN TEORITIS

2.1 Pengertian dari ancaman non-militer


Ancaman Non-militer adalah ancaman yang tidak
menggunakan kekuatan senjata tetapi jika dibiarkan akan
membahayakan kedaulatan negara, keutuhan wilayah negara,
dan keselamatan segenap bangsa. Ancaman non-militer dapat
berasal dari luar negeri atau dapat pula bersumber dari dalam
negeri. Yang bertugas menghadapi ancaman non-militer adalah
lembaga pemerintah di luar bidang pertahanan sesuai dengan
bentuk dan sifat ancaman yang dihadapi dengan di dukung oleh
unsur unsur lain dari kekuatan bangsa.
Inti pertahanan nonmiliter adalah pertahanan secara nonfisik
yang tidak menggunakan senjata, tetapi pemberdayaan faktor-
faktor ideologi, politik, ekonomi, psikologi, sosial budaya, dan
teknologi melalui profesi, pengetahuan dan keahlian serta
kecerdasan untuk mencapai kesejahteraan masyarakat yang
berkeadilan. Sehingga dalam menghadapi ancaman nonmiliter
menempatkan lembaga pemerintah di luar bidang pertahanan
sebagai unsur utama, sesuai dengan bentuk dan sifat ancaman
yang dihadapi dengan di dukung oleh unsur-unsur lain dari
kekuatan bangsa.

2.2 Strategi untuk menghadapi Ancaman di Bidang


Ideologi
Strategi di bidang ideologi ditujukan untuk mengatasi segala
ancaman, tantangan, hambatan, serta gangguan yang akan
membahayakan kelangsungan kehidupan Pancasila sebagai
dasar filsafat bangsa dan negara. Strategi di bidang ideologi
menurut Noor Ms Bakry dirumuskan sebagai kondisi mental
bangsa Indonesia yang berlandaskan keyakinan kebenaran
ideologi Pancasila yang mengandung kemampuan untuk
menggalang dan memelihara persatuan dan kesatuan nasional
dan kemampuan untuk menangkal penetrasi ideologi asing serta
nilai-nilai yang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa.
Salah satu ancaman nonmiliter yang membahayakan
kehidupan berbangsa dan bernegara adalah ancaman yang
berdimensi ideologi. Upaya menghadapi ancaman ini adalah
dengan kebijakan dan langkah-langkah politik yang tepat dan
intensif untuk mencegah meluasnya pengaruh ideologi lain
terhadap ideologi Pancasila.

3
2.3 Strategi untuk menghadapi Ancaman di Bidang Politik
Dalam menghadapi ancaman yang berdimensi politik,
strategi pertahanan di bidang politik ditentukan oleh
kemampuan sistem politik dalam menanggulangi segala bentuk
ancaman yang ditujukan kepada keidupan politik bangsa
Indonesia. Menurut Noor Ms Bakry, strategi di bidag politik
terwujud dengan adanya kehidupan politik bangsa yang
berlandaskan demokrasi Pancasila yang telah mampu
memelihara stabilitas politik yang sehat dan dinamis serta
mampu melaksanakan politik luar negri bebas aktif.

2.4 Strategi untuk menghadapi Ancaman di Bidang


Ekonomi
Pembangunan di bidang ekonomi ditujukan untuk
menciptakan kehidupan perekonomian bangsa Indonesia yang
berlandaskan demokrasi ekonomi yang mampu memelihara
stabilitas ekonomi yang sehat dan dinamis serta mampu
menciptakan kemandirian ekonomi nasional berdaya saing yang
tinggi. Kondisi tersebut dapat tercipta apabila Negara Indonesia
mempunyai strategi yang tepat untuk menghadapi berbagai
ancaman di bidang ekonomi.
Dalam menghadapi ancaman yang berdimensi ekonomi,
sistem dan upaya pertahanan negara yang ditempuh adalah
dengan membangun ketahanan di bidang ekonomi melalui
penataan sistem ekonomi nasional yang sehat dan berdaya
saing. Sasaran pembangunan bidang ekonomi adalah
pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi bagi perwujudan
stabilitas ekonomi yang memberikan efek kesejahteraan dan
penangkalan yang efektif sekaligus mampu menjadi pemenang
dalam era globalisasi. Untuk menghadapi tantangan tersebut,
diperlukan upaya akselerasi pembangunan perekonomian
nasional yang berdaya saing melalui pertumbuhan ekonomi yang
cukup tinggi.

2.5 Strategi untuk menghadapi Ancaman di Bidang Sosial


Budaya
Ancaman yang berdimensi sosial budaya dapat dibedakan
atas ancaman dari dalam dan ancaman dari luar. Ancaman dari
dalam didorong oleh isu kemiskinan, kebodohan,
keterbelakangan, dan ketidakadilan. Isu-isu tersebut menjadi titik
pangkal segala permasalahan , seperti separatisme, terorisme,
kekerasan yang mengancam persatuan dan kesatuan bangsa,
nasionalisme, dan patriotisme.
Ancaman dari luar berupa penetrasi nilai-nilai budaya dari luar
negri yang sulit dibendung mempengaruhi tata nilai sampai pada

4
tingkat lokal. Kemajuan teknologi informasi mengakibatkan dunia
menjadi desa global tempat interaksi antarmasyarakat terjadi
secara langsung. Sebagai akibatmya, terjadi benturan tata nilai
sehingga lambat-laun nilai-nilai persatuan dan kesatuan bangsa
semakin terdesak misalnya oleh nilai-nilai individualisme,
konsumerisme, dan hedonisme.
Dalam menghadapi pengaruh dari luar yang dapat
membahayakan kelangsungan hidup sosial budaya, Bangsa
Indonesia berusaha memelihara keseimbangan dan keselarasan
fundamental, yaitu keseimbangan antara manusia dengan alam
semesta, manusia dengan masyarakat, manusia dengan Tuhan,
keseimbangan kemajuan lahir dan kesejahteraan batin.
Kesadaran akan perlunya keseimbangan dan keserasian
melahirkan toleransi yang tinggi, sehingga menjadi bangsa yang
berbhinneka dan bertekad untuk selalu hidup bersatu dengan
memperhatikan perkembangan tradisi, pendidikan,
kepemimpinan, integrasi nasional, kepribadian bangsa,
persatuan dan kesatuan bangsa, dan pelestarian alam.

2.6 Strategi untuk menghadapi Ancaman di Bidang


Teknologi dan Informasi
Perkembangan teknologi dan informasi semakin lama semakin
pesat. Sebagai negara yang ingin masyarakatnya maju dan tidak
mau tertinggal dengan negara-negara lain, Indonesia harus
mengikuti perkembangan tersebut. Ancaman di bidang teknologi
dan informasi tidak jauh berbeda dengan bidang sosial budaya,
yaitu melalui perkembangan IPTEK banyak pengaruh budaya dan
kebudayaan luar yang sesuai ataupun tidak sesuai dengan
kepribadian bangsa Indonesia masuk dengan mudahnya. Selain
itu, dengan perkembangan teknologi semakin marak terjadi
kejahatan teknologi atau cybercrime.
Strategi bangsa Indonesia dalam mencegah terjadinya
ancaman bidang teknologi dan informasi adalah dengan
membatasi diri dalam mengakses internet. Selain itu, dengan
peningkatan pemahaman terhadap agama dan Pancasila
sehingga dapat menjadi benteng terhadap hal-hal yang
bertentangan dengan kepribadian kita, misalnya gaya hidup,
sikap dan budaya asing.

2.7Strategi untuk menghadapi Ancaman di Bidang


Keselamatan Umum
Ancaman bagi keselamatan umum dapat terjadi karena
bencana alam, misalnya gempa bumi, meletusnya gunung, dan
tsunami. Ancaman karena manusia, misalnya penggunaan obat-
obatan dan bahan kimia, pembuangan limbah industry,

5
kebakaran, serta kecelakaan transportasi. Strategi dalam
menghadapi ancaman keselamatan umum misalnya sebagai
berikut:
1. Menjaga keseimbangan alam.
2. Menjaga kebersihan lingkungan.
3. Membuat kebijakan atau peraturan yang jelas dan tegas
terhadap pemakaian obat-obatan sesuai dosisnya.
4. Menegakkan hukum terhadap pemakaian bahan kimia yang
melebihi dosis yang dapat membahayakan manusia khususnya
dan makhluk hidup lain pada umumnya.

6
BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Potensi dan ancaman di NKRI


Bela negara adalah upaya setiap warga negara untuk
mempertahankan NKRI terhadap ancaman baik dari dalam
maupun dari luar negeri.
A. Ancaman dari dalam negeri.
Potensi yang dihadapi NKRI dari dalam negeri, antara lain :
a. Disintegrasi bangsa, melalui gerakan-gerakan separatis
berdasarkan sentimen kesukuan atau pemberontakan akibat
ketidakpuasan daerah terhadap kebijakan pemerintah pusat.
b. Keresahan sosial akibat ketimpangan kebijakan ekonomi dan
pelanggaran Hak Azasi Manusia yang pada gilirannya dapat
menyebabkan huru hara/kerusuhan massa.
c. Upaya penggantian ideologi Pancasila dengan ideologi lain
yang ekstrim atau tidak sesuai dengan jiwa dan semangat
perjuangan bangsa Indonesia.
d. Potensi konflik antar kelompok/golongan baik perbedaan
pendapat dalam masalah politik, maupun akibat masalah SARA.
e. Makar atau penggulingan pemerintah yang sah dan
konstitusional.

Di masa transisi ke arah demokrasi sesuai tuntutan


reformasi, potensi konflik antar kelompok/golongan dalam
masyarakat sangatlah besar. Perbedaan pendapat justru adalah
esensi dari demokrasi akan menjadi potensi konflik yang serius
apabila salah satu pihak berkeras dalam mempertahankan
pendapat atau pendiriannya, sementara pihak yang lain berkeras
memaksakan kehendaknya. Contoh kasus FPI dengan Aliansi
Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan
(AKKB). Namun cara yang sesungguhnya merupakan ciri khas
budaya bangsa Indonesia itu tampaknya sudah dianggap kuno.
Masalahnya, cara pengambilan keputusan melalui pengambilan
suara terbanyakpun (yang dianggap sebagai cara yang paling
demokratis dalam menyelesaikan perbedaan pendapat)
seringkali menimbulkan rasa tidak puas bagi pihak yang kalah,
sehingga mereka memilih cara pengerahan massa atau
melakukan tindak kekerasan untuk memaksakan kehendaknya.

B. Ancaman dari luar negeri.

Dengan berakhirnya Perang Dingin pada awal tahun


1990an, maka ketegangan regional di dunia umumnya, dan di
kawasan Asia Tenggara khususnya dapat dikatakan berkurang.

7
Meskipun masih terdapat potensi konflik perbatasan khususnya
di wilayah Laut Cina Selatan, misalnya sengketa kepulauan
Spratly yang melibatkan beberapa negara di kawasan tersebut,
namun diperkirakan semua pihak terkait tidak akan
menyelesaikan masalah tersebut melalui kekerasan bersenjata.
Dapat dikatakan bahwa ancaman dalam bentuk agresi dari luar
relatif kecil. Potensi ancaman dari luar tampaknya akan lebih
berbentuk upaya menghancurkan moral dan budaya bangsa
melalui disinformasi, propaganda, peredaran narkoba, film-film
porno atau berbagai kegiatan kebudayaan asing yang
mempengaruhi bangsa Indonesia, terutama generasi muda, dan
merusak budaya bangsa. Potensi ancaman lainnya adalah dalam
bentuk penjarahan sumber daya alam melalui eksploitasi
sumber daya alam yang tidak terkontrol sehingga merusak
lingkungan, seperti illegal loging, illegal fishing, dsb.

Semua potensi ancaman tersebut dapat diatasi dengan


meningkatkan Ketahanan Nasional melalui berbagai cara, antara
lain :
1. Pembekalan mental spiritual di kalangan masyarakat agar
dapat menangkal pengaruh budaya asing yang tidak sesuai
dengan norma kehidupan bangsa Indonesia.
2. Upaya peningkatan perasaan cinta tanah air (patriotisme)
melalui pemahaman dan penghayatan (bukan sekedar
penghafalan) sejarah perjuangan bangsa.
3. Pengawasan yang ketat terhadap eksploitasi sumber daya
nasional serta terciptanya pemerintahan yang bersih dan
berwibawa (legitimasi, bebas KKN, dan konsisten
melaksanakan peraturan/undang-undang).
4. Kegiatan yang bersifat kecintaan terhadap tanah air serta
menanamkan semangat juang untuk membela negara,
bangsa dan tanah air serta mempertahankan Pancasila
sebagai ideologi negara dan UUD 1945sebagai landasan
berbangsa dan bernegara.
5. Untuk menghadapi potensi agresi bersenjata dari luar,
meskipun kemungkinannya relatif sangat kecil, selain
menggunakan unsur komponen utama (TNI), tentu saja dapat
menggunakan komponen cadangan dan komponen
pendukung (UU komponen cadangan dan komponen
pendukung masih dalam proses persetujuan anggota Dewan
yang terhormat).
Dapatlah disimpulkan bahwa potensi ancaman
terhadapkeamanan nasional dan pertahanan negara dapat
datang dari mana saja. Namun potensi ancaman yang lebih
besar adalah dari dalam negeri. Pengalaman menunjukkan

8
bahwa instabilitas dalam negeri seringkali mengundang campur
tangan asing baik langsung maupun tidak langsung.

3.2 Indonesia dan ancaman disintegrasi

Bangsa Indonesia yang kaya dengan keragaman yang


dimiliki masyarakatnya menempatkan dirinya sebagai
masyarakat yang plural. Masyarakat yang plural juga berpotensi
dan sangat rentan kekerasan etnik, baik yang dikonstruksi secara
kultural maupun politik. Bila etnisitas, agama, atau elemen
premordial lain muncul di pentas politik sebagai prinsip paling
dominan dalam pengaturan negara dan bangsa, apalagi
berkeinginan merubah sistem yang selama ini berlaku, bukan
tidak mungkin ancaman disintegrasi bangsa dalam arti yang
sebenarnya akan terjadi di Indonesia.

Maraknya fenomena formalisasi syariat Islam kedalam


konstitusi formal dan tertulis dibeberapa daerah di Indonesia
menjadi pro kontra, dan bukan tidak mungkin ancaman
disintegrasi bangsa itu akan berpotensi muncul. Formalisasi
syariat Islam merupakan bentuk pelanggaran kebebasan
beragama dilakukan kelompok agama dominan dengan
memberangus, mengkebiri, dan menghalang, maupun
memberikan stigmatisasi terhadapi penganut agama minoritas
atau kelompok agama yang berpemahaman dan melaksanakan
praktek ritus yang berbeda dengan arus dominan. Tidak boleh
hukum publik didasarkan pada ajaran agama tertentu. Sebab,
hukum harus menjamin toleransi hidup beragama yang
berkeadaban. Negara tidak bisa memberlakukan secara formal
hukum-hukum agama. Tapi, negara harus memfasilitasi warga
negara yang ingin melaksanakan ajaran agamanya secara
sukarela agar tidak terjadi benturan-benturan atau penelantaran.

Konflik-konflik yang sering terjadi di tingkatan elite,


khususnya menjelang pelaksanaan dan pasca Pilkada, juga
sering memicu konflik di tingkat bawah yang dapat berujung
pada kekerasan antar massa pendukung elite. Masyarakat yang
seharusnya di posisikan sebagai subjek, tetapi saat ini justru
lebih banyak yang di jadikan objek dan tumbal untuk
kepentingan pragmatis elite. Sehingga masyarakat bawah yang

9
secara pemahaman masih cukup ngamblang dan mudah
terprovokasi, cenderung dapat berbuat sesuai arah si pemberi
perintah, bahkan termasuk untuk merusak tatanan ketentraman
masyarakat bawah yang selama ini hanya terus- menerus
sebagai obyek eksploitasi.

Mungkin sekilas permasalahan tersebuat nampak biasa


saja, namun apabila hal ini berlarut-larut terus terjadi dan tidak
ada usaha atau perhatian pemerintah untuk menyelesaikan
persoalan tersebut, bukan tidak mungkin disintegrasi yang
selama ini di khawatirkan akan terwujud. Pemerintah harus dapat
merumuskan kebijakan dan regulasi yang konkret, tegas dan
tepat dalam aspek kehidupan dan pembangunan bangsa, yang
mencerminkan keadilan bagi semua pihak, semua wilayah.

3.3 Cara penanggulangan ancaman disintegrasi bangsa

a. Ancaman Disintegrasi Bangsa Pasca Reformasi.


Ancaman Pasca reformasi berbagai bentuk kekerasan telah
terjadi diberbagai tempat dalam bingkai NKRI. Citra NKRI sebagai
negara yang ramah dan penuh santun mulai luntur bahkan
hilang ditelan gelombang dan derasnya arus reformasi.
Munculnya konflik yang berbasis sentimen primordial dengan
sebab-sebab yang tidak terduga telah memberikan wajah baru
pada NKRI. Konflik yang muncul tidak berada dalam ruang
hampa. Namun berada diatas timbunan dibawah karpet tebal
kesatuan dan persatuan yang menghimpit ke Bhinekaan
pada jaman Orde Baru. Reformasi telah membuka semua saluran
yang dimampatkan dengan pendekatan keamanan, membuat
beragam kepentingan yang lama terpendam mencuat keatas
permukaan.

Gambarannya semakin jelas, khususnya pasca reformasi


ketika relasi-relasi kekuasaan yang semula mapan menjadi
tergoyahkan dan batas-batas identitas kembali digugat. Dalam
situasi seperti ini konflik menjadi suatu keniscayaan, berbagai
konflik seperti hal biasa misalnya dalam Pemilihan Kepala
Daerah (PILKADA) dan pemekaran wilayah yang dalam banyak
hal tampaknya lebih didasari kepentingan politik daripada
ketimbang kesejahteraan rakyat.

Karakteristik konflik tak bisa diisolasi satu dengan yang


lainnya. Konflik yang menggunakan sentimen agama dan etnis
bisa saja hanya bungkus untuk menutupi kepentingan lain yang
bersifat pragmatis dan kepentingan jangka pendek. Terkadang

10
inti persoalannya terkait dengan isu-isu politik dan marjinalisasi
masyarakat adat akibat kebijakan pemerintah. Seperti yang
dikatakan Presiden Soekarno bahwa karakter bangsa harus terus-
menerus dibangun melalui pemimpin-peminpin yang memahami
peta sosio-kultural-ekologis setiap wilayahnya dan
masyarakatnya. Hal inipun harus tercermin dalam berbagai
produk per undang-undangan yang menentukan hajat hidup
warga negara. Kondisi NKRI yang terdiri dari ribuan kebudayaan
dan tersebar diribuan pulau dengan perbedaan yang ekstreem,
isu yang paling rentan adalah yang terkait dengan masalah etnis
dan agama.

Politisasi identitas dua isu itu yang paling banyak digunakan


dalam konflik dan kekerasan untuk membungkus kepentingan
pribadi dan politik oleh para elit politik. Terkait dengan timbulnya
persoaalan yang mendasar dalam hubungan antara agama dan
negara, ketika negara menentukan yang mana agama dan bukan
agama, implikasinya sangat luas. Para penganut keyakinan diluar
enam agama yang resmi akan dicap animisme, bahkan yang
tidak beragama dianggap komunis.

Permasalahan kasus kekerasan terkait dengan kebebasan


beragama saja pada tahun 2007 telah terjadi 185 kasus. Konflik
kekerasan yang bernuansa sentimen agama sangat komplek dan
rumit, baik menyangkut konstruksi paham maupun faktor-faktor
sosiologis tak jarang konflik itu terbungkus dalam relasi sosial
yang bersifat hegemonil ketika dihubungkan antar pemeluk
agama berada dalam pola hubungan mayoritas dan minoritas
yang sarat ketegangan.

b. Keaneka ragaman masyarakat Indonesia.

Pandangan bahwa pruralitas, suku, agama, ras dan antar


golongan sebagi penyebab konflik atau kekerasan massal, tidak
dapat diterima begitu saja. Pendapat ini benar mungkin untuk
sebuah kasus, tapi belum tentu benar untuk kasus yang lain.
Segala macam peristiwa dan gejolak sosial budaya termasuk
konflik dan kekerasan massal pada dasarnya tidaklah lahir begitu
saja, akan tetapi ada kondisi-kondisi struktural dan kultural
tertentu dalam masyarakat yang beraneka ragam, tetapi bukan
tanpa batas dan merupakan hasil dari suatu proses sejarah yang
bersifat khusus.

c. Konflik-konflik Pacsa Reformasi.

11
Secara sadar kita harus mengakui bahwa pasca reformasi
telah terjadi ancaman disintegrasi bangsa yang mencakup lima
wilayah sbb:
1. Kekerasan memisahkan diri di Timor-Timor setelah jajak
pendapat tahun 1999 yang pada akhirnya lepas dari NKRI, di
Aceh sebelum perundingan Helsinki dan beberapa kasus di
Papua.
2. Kekerasan komunal berskala besar, baik antar agama, intra
agama, dan antar etnis yang terjadi Kalimatan Barat, Maluku,
Sulawesi Tengah, dan Kalimatan Tengah.
3. Kekerasan yang terjadi dalam skala kota dan berlansung
beberapa hari seperti peristiwa Mei 1998, huru-hara anti Cina di
Tasikmalaya, Banjarmasin, Situbondo dan Makassar.
4. Kekerasan sosial akibat main hakim sendiri seperti pertikaian
antar desa dan pembunuhan dukun santet di Jawa Timur 1998.
5. Kekerasan yang terkait dengan terorisme seperti yang terjadi
di Bali dan Jakarta.

d. Stabilitas Keamanan yang mantap dan dinamis.

Dalam rangka menjaga keutuhan bangsa dan negara kondisi


stabilitas keamanan yang mantap dan dinamis diseluruh wilayah
tanah air merupakan syarat mutlak. Artinya setiap gangguan dan
ancaman yang datang disebagian wilayah NKRI pada hakekatnya
ancaman bagi seluruh wilayah NKRI. Menciptakan keamanan
merupakan tanggung jawab semua pihak (Warga Negara)
dengan pihak aparat keamanan (TNI dan POLRI) sesuai dengan
ketentuan hukum yang berlaku. Dengan mencermati dan
memperhatikan kondisi keamanan diberbagai daerah saat ini
dan kondisi bangsa yang sedang krisis kepercayaan dan
mutlidimensi, maka terciptanya kondisi stabilitas keamanan yang
mantap dan dinamis amat diperlukan. Hal ini selain merupakan
kebutuhan dasar manusia yaitu kebutuhan rasa aman, nyaman,
tentram dan adanya tata kehidupan masyarakat yang tertib juga
untuk meningkatkan kepercayaan dunia usaha yang
membutuhkan adanya kepastian dan jaminan investasi. Tanpa
adanya stabilitas keamanan di suatu daerah, sudah dapat
dipastikan akan terganggu roda pembangunan dalam banyak
hal. Oleh karena itu gangguan keamanan/konflik yang terjadi di
beberapa daerah perlu dilakukan penangganan yang serius agar
tidak terjadi sikap balas dendam dan luka yang terus berlanjut
bahkan dapat mengancam perpecahan bangsa.

e. Stabilitas Keamanan yang mendukung Integrasi Bangsa.

12
Mencermati masalah keamanan dibeberapa daerah yang
cukup serius dan segera harus diselesaikan melalui langkah-
langkah yang komprehensif. Guna mendorong kembalinya
semangatnya persatuan bangsa dan kesatuan wilayah yang telah
dimiliki dan guna mencegah disintegrasi bangsa tidak ada
alternatif lain mengembalikan kondisi aman yang didambakan
oleh seluruh masyarakat dan bangsa Indonesia. Stabilitas
keamanan di daerah konflik yang cenderung mengarah kepada
disintegrasi bangsa harus terus diciptakan dengan pendekatan
komprehensif baik dari aspek ekonomi, sosial budaya, politik
maupun dari pendekatan hukum dengan dibantu aparat hukum
yang terus melakukan tindakan konkrit dan koordinatif serta
tetap mengedepankan semangat kebersamaan dalam
menciptakan keutuhan bangsa dan negara.

f. Menegakkan Peraturan Hukum yang berlaku.

Melihat, memperhatikan dan mencermati kondisi


keamanan diberbagai daerah yang rawan konflik saat ini serta
kondisi bangsa supaya tidak terjadi ancaman disintegrasi bangsa
pemerintah pusat, instansi maupun daerah dalam hal ini pihak
keamanan/aparat keamanan harus menegakkan aturan hukum
dan perundang-undangan yang berlaku serta melakukan
tindakan persuasif dan pendekatan keamanan secara bertahap
dan disesuaikan dengan kondisi daerah masing-masing. Guna
mendorong kembali semangat persatuan, kesatuan wilayah dan
bela negara sebaiknya pemerintah mencari terobosan lain untuk
mensosialisasikan Pancasila agar dapat dihayati dan diamalkan
dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Namun yang paling
penting adalah bagaimana contoh dan ketauladan dari semua
penyelenggara negara, tokoh formal maupun informal terhadap
rakyatnya dalam berpikir, bersikap dan bertindak yang pada
berdasarkan Pancasila sebagai ideologi, pandangan hidup serta
dasar negara.

3.4 Kedudukan dan fungsi ketahanan nasional


Kedudukan dan fungsi ketahanan nasional dapat dijelaskan
sebagai berikut :
a) Kedudukan

ketahanan nasional merupakan suatu ajaran yang diyakini


kebenarannya oleh seluruh bangsa Indonesia serta merupakan
cara terbaik yang perlu di implementasikan secara berlanjut
dalam rangka membina kondisi kehidupan nasional yang ingin
diwujudkan, wawasan nusantara dan ketahanan nasional
berkedudukan sebagai landasan konseptual, yang didasari oleh

13
Pancasil sebagai landasan ideal dan UUD sebagai landasan
konstisional dalam paradigma pembangunan nasional.

b) Fungsi

Ketahanan nasional nasional dalam fungsinya sebagai


doktrin dasar nasional perlu dipahami untuk menjamin tetap
terjadinya pola pikir, pola sikap, pola tindak dan pola kerja dalam
menyatukan langkah bangsa yang bersifat inter regional
(wilayah), inter sektoral maupun multi disiplin. Konsep doktriner
ini perlu supaya tidak ada cara berfikir yang terkotak-kotak
(sektoral). Satu alasan adalah bahwa bila penyimpangan terjadi,
maka akan timbul pemborosan waktu, tenaga dan sarana, yang
bahkan berpotensi dalam cita-cita nasional. Ketahanan nasional
juga berfungsi sebagai pola dasar pembangunan nasional. Pada
hakikatnya merupakan arah dan pedoman dalam pelaksanaan
pembangunman nasional disegala bidang dan sektor
pembangunan secara terpadu, yang dilaksanakan sesuai dengan
rancangan program.

3.5 Konsepsi ketahanan nasional

1) Ketangguhan
Adalah kekuatan yang menyebabkan seseorang atau sesuatu
dapat bertahan, kuat menderita atau dapat menanggulangi
beban yang dipikulnya.

2) Keuletan
Adalah usaha secara giat dengan kemampuan yang keras dalam
menggunakan kemampuan tersebut diatas untuk mencapai
tujuan.

3) Identitas
Yaitu ciri khas suatu bangsa atau negara dilihat secara
keseluruhan. Negara dilihat dalam pengertian sebagai suatu
organisasi masyarakat yang dibatasi oleh wilayah dengan
penduduk, sejarah, pemerintahan, dan tujuan nasional serta
dengan peran internasionalnya.

4) Integritas

14
Yaitu kesatuan menyeluruh dalam kehidupan nasional suatu
bangsa baik unsur sosial maupun alamiah, baik bersifat
potensional maupun fungsional.

5) Ancaman
Yang dimaksud disini adalah hal/usaha yang bersifat mengubah
atau merombak kebijaksanaan dan usaha ini dilakukan secara
konseptual, kriminal dan politis.

6) Hambatan dan gangguan


Adalah hal atau usaha yang berasal dari luar dan dari diri
sendiri yang bersifat dan bertujuan melemahkan atau
menghalangi secara tidak konsepsional.

15
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Kondisi NKRI secara nyata harus diakui oleh setiap
warganegara bila ditinjau dari kondisi geografi, demografi, dan
kondisi sosial yang ada akan terlihat bahwa pluralitas, suku,
agama, ras dan antar golongan dijadikan pangkal penyebab
konflik atau kekerasan massal, tidak bisa diterima begitu saja.
Pendapat ini bisa benar untuk sebuah kasus tapi belum tentu
benar untuk kasus yang lain. Namun ada kondisi-kondisi
struktural dan kultural tertentu dalam masyarakat yang beraneka
ragam yang terkadang terjadi akibat dari suatu proses sejarah
atau peninggalan penjajah masa lalu, sehingga memerlukan
penanganan khusus dengan pendekatan yang arif namun tegas
walaupun aspek hukum, keadilan dan sosial budaya merupakan
faktor berpengaruh dan perlu pemikiran sendiri.

B. Saran

Adapun beberapa saran yang kami sampaikan kepada


pemerintah dengan harapan adanya perubahan dimasa depan:
1. Untuk mendukung terciptanya keberhasilan suatu kebijakan
dan strategi pertahanan serta upaya-upaya apa yang akan
ditempuh, maka disarankan beberapa langkah sebagai berikut
:
2. Pemerintah perlu mengadakan kajian secara akademik dan
terus menerus agar didapatkan suatu rumusan bahwa
nasionalisme yang berbasis multi kultural dapat dijadikan
ajaran untuk mengelola setiap perbedaan agar muncul
pengakuan secara sadar/tanpa paksaan dari setiap warga
negara atas kemejemukan dengan segala perbedaannya.
3. Setiap pemimpin dari tingkat desa sampai dengan tingkat
tertinggi , dalam membuat aturan atau kebijakan haruslah
dapat memenuhi keterwakilan semua elemen masyarakat
sebagai warga negara.
4. Setiap warga negara agar memiliki kepatuhan terhadap
semua aturan dan tatanan yang berlaku, kalau perlu diambil
sumpah seperti halnya setiap prajurit yang akan menjadi
anggota TNI dan tata cara penyumpahan diatur dengan
Undang-undang.
5. Sebaiknya diadakan suatu konsensus nasional yang berisi
pernyataan bahwa setiap warga negara Indonesia cinta
damai, persatuan dan kesatuan dan rela berkorban untuk

16
mementingkan kepentingan nasional diatas kepentingan
pribadi atau golongan.

DAFTAR PUSTAKA

Amirul Isnaini, Mayor Jenderal TNI, Mencegah Keinginan


Beberapa Daerah Untuk Memisahkan Diri Tegak Utuhnya
NKRI, Jakarta, Lemhannas 2001.

Budi Utomo, ancamn disintegrasi bansa ,diakses tanggal 10 Juni


2013 dari
http://budiutomo79.blogspot.com/2007/09/pembangunan-
wilayah-perbatasan.html

HB. Amiruddin Maula, Drs, SH, Msi, Menjaga Kepentingan


Nasional Melalui Pelaksanaan Otonomi Daerah Guna
Mencegah Terjadinya Disintegrasi Bangsa, Jakarta,
Lemhannas, 2001.

17