Anda di halaman 1dari 16

HIDROLISIS PATI ENZIMATIS

Abdurrahman Faris, 230110150154


Perikanan B, Kelompok 11

ABSTRAK

Polisakarida adalah senyawa yang terdiri dari unit terkecil monosakarida yang dihubungkan oleh
ikatan glikosidik. Polisakarida akan menjadi monosakarida bila dihidrolisis secara lengkap. Pati
merupakan polimer dari 1,4--D-glukosa yang terdiri dari amilosa dan amilopektin. Hidrolisis
lengkap dari polisakarida akan menghasilkan monosakarida. Glikogen dan amilum merupakan
polimer glukosa. Polisakarida terpenting adalah selulosa dan pati/amilum. Pati terbentuk lebih
dari 500 molekul monosakarida. Merupakan polimer dari glukosa. Pati terdapat dalam umbi-
umbian sebagai cadangan makanan pada tumbuhan. Monosakarida adalah karbohidrat yang tidak
dapat dihidrolisis menjadi bentuk yang lebih sederhana. Monosakarida meliputi glukosa,
galaktosa, dan fruktosa. Hidrolisis pati oleh -amilase akan menghasilkan dekstrin sebagai
produk utama, dimana hidrolisis lengkap akan menghasilkan glukosa sebagai produk akhir.
Praktikum Hidrolisis Pati Enzimatis ini dilaksanakan pada 21 November 2016 dimulai pada
pukul 10.00 WIB bertempat di laboratorium Fisiologi Hewan Air, Gedung 2 Fakultas Peikanan
dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran. Hasil akhir yang didapatkan oleh kelompok 11
adalah nilai konsentrasi glukosa yang terkandung dalam sampel berupa tepung Meizena adalah
sebesar 97,1030305 gr/ml pada sampel dengan 3 tetes amilase dan sebesar 51,0021325 gr/ml
pada sampel dengan 5 tetes amilase.

Kata Kunci: Amilase, Enzim, Glukosa, Hidrolisis, Monosakarida, Pati, Polisakarida

ABSTRACT

Polysaccharides are compounds consisting of the smallest units of monosaccharides linked by


glycosidic bonds. Polysaccharides will be monosaccharides when hydrolysis is complete. Starch
is a polymer of 1,4--D-glucose which is composed of amylose and amylopectin. Complete
hydrolysis of polysaccharides will produce monosaccharides. Glycogen and starch are polymers
of glucose. The most important polysaccharides are cellulose and starch / starch. Pati formed
more than 500 monosaccharide molecules. Is a polymer of glucose. Starch contained in tubers
as food reserves in plants. Monosaccharide is a carbohydrate that can not be hydrolyzed into
simpler forms. Monosaccharides include glucose, galactose and fructose. Hydrolysis of starch
by -amylase will produce dextrin as the main products, which will result in complete hydrolysis
of glucose as an end product. Starch Hydrolysis Enzymatic practicum was held on 21 November
2016 starting at 10:00 pm located at Air Animal Physiology Laboratory, Building 2 Faculty of
Fisheries and Marines Science Padjadjaran University. The final result obtained by a group of
11 is the concentration of glucose contained in the sample in the form of flour Meizena is equal
to 97.1030305 grams / ml on samples with 3 drops of amylase and at 51.0021325 gr / ml sample
with 5 drops of amylase.

Keywords: Amylase, Enzyme, Glucose, Hydrolysis, Monosaccharides, Pati, Polysaccharides


PENDAHULUAN
Polisakarida adalah senyawa yang terdiri dari unit terkecil monosakarida yang
dihubungkan oleh ikatan glikosidik. Polisakarida akan menjadi monosakarida bila dihidrolisis
secara lengkap. Pati merupakan polimer dari 1,4--D-glukosa yang terdiri dari amilosa dan
amilopektin. Amilosa akan berubah menjadi warna biru bila diwarnai dengan reagen iodin.
Polisakarida merupakan polimer dari monosakarida, mengandung banyak satuan
monosakarida yang dihubungkan oleh ikata nglikosida. Hidrolisis lengkap dari polisakarida akan
menghasilkan monosakarida. Glikogen dan amilum merupakan polimer glukosa. Berikut
beberapa polisakarida terpenting.
a. Selulosa
Selulosa merupakan polisakarida yang banyak dijumpai dalam dinding sel pelindung
seperti batang, dahan, daun dari tumbuh-tumbuhan. Selulosa merupakan polimer yang berantai
panjang dan tidak bercabang. Suatu molekul tunggal selulosa merupakan polimer rantai lurus
dari 1,4--D-glukosa. Hidrolisis selulosa dalam HCl 4% dalam air menghasilkan D-glukosa.

Gambar 1. Struktur Selulosa


b. Pati / Amilum
Pati terbentuk lebih dari 500 molekul monosakarida. Merupakan polimer dari glukosa. Pati
terdapat dalam umbi-umbian sebagai cadangan makanan pada tumbuhan. Jika dilarutkan dalam
air panas, pati dapat dipisahkan menjadi dua fraksi utama, yaitu amilosa dan amilopektin.
Perbedaan terletak pada bentuk rantai dan jumlah monomernya.
Amilosa adalah polimer linier dari -D-glukosa yang dihubungkan dengan ikatan 1,4-.
Dalam satu molekul amilosa terdapat 250 satuan glukosa atau lebih. Amilosa membentuk
senyawa kompleks berwarna biru dengan iodium. Warna ini merupakan uji untuk
mengidentifikasi adanya pati.

Gambar 2. Struktur Amilosa


Molekul amilopektin lebih besar dari amilosa. Strukturnya bercabang. Rantai utama
mengandung -D-glukosa yang dihubungkan oleh ikatan 1,4'-. Tiap molekul glukosa pada titik
percabangan dihubungkan oleh ikatan 1,6'-.

Gambar 3. Struktur Amilopektin


Karbohidrat adalah senyawa makro molekul yang mengandung C, H dan O dengan rumus
(CH2O)n, yaitu senyawa yang n atom karbonnya terhidrasi oleh n air. Senyawa karbohidrat
memiliki sifat pereduksi karena mengandung gugus karbonil aldehid atau keton dan gugus
hidroksil yang sangat banyak.
Monosakarida adalah senyawa karbohidrat sederhana yang mengandung gugus fungsi
karbonil. Secara umum senyawa ini dibagi menjadi dua kelompok besar yaitu aldosa jika
mengandung gugus aldehid dan ketosa jika mengandung gugus keton. Monosakarida juga sering
dinamai sesuai jumlah atom karbon penyusunnya seperti triosa, pentosa, heksosa dan lain
sebagainya.
Monosakarida adalah karbohidrat yang tidak dapat dihidrolisis menjadi bentuk yang lebih
sederhana. Monosakarida meliputi glukosa, galaktosa, fruktosa, manosa, dan lain-lain.
a. Glukosa
Glukosa merupakan suatu aldoheksosa, disebut juga dekstrosa karena memutar bidang
polarisasi ke kanan. Glukosa merupakan komponen utama gula darah, menyusun 0,065- 0,11%
darah kita.
Glukosa dapat terbentuk dari hidrolisis pati, glikogen, dan maltosa. Glukosa sangat penting
bagi kita karena sel tubuh kita menggunakannya langsung untuk menghasilkan energi. Glukosa
dapat dioksidasi oleh zat pengoksidasi lembut seperti pereaksi Tollens sehingga sering disebut
sebagai gula pereduksi.
b. Galaktosa
Galaktosa merupakan suatu aldoheksosa. Monosakarida ini jarang terdapat bebas di alam.
Umumnya berikatan dengan glukosa dalam bentuk laktosa, yaitu gula yang terdapat dalam susu.
Galaktosa mempunyai rasa kurang manis jika dibandingkan dengan glukosa dan kurang larut
dalam air. Seperti halnya glukosa, galaktosa juga merupakan gula pereduksi.
c. Fruktosa
Fruktosa adalah suatu heksulosa, disebut juga levulosa karena memutar bidang polarisasi
ke kiri. Merupakan satu-satunya heksulosa yang terdapat di alam. Fruktosa merupakan gula
termanis, terdapat dalam madu dan buah-buahan bersama glukosa.
Fruktosa dapat terbentuk dari hidrolisis suatu disakarida yang disebut sukrosa. Sama
seperti glukosa, fruktosa adalah suatu gula pereduksi.
Enzim merupakan satu atau beberapa gugusan dari polipeptida (protein) yang
berfungsi sebagai katalis(senyawa yang dapat mempercepat proses reaksi tanpa habis
bereaksi) dalam suatu reaksi kimia. Enzim bekerja dengan cara menempel pada permukaan
molekul zat-zat yang bereaksi dan dengan demikian mempercepat proses reaksi. Percepatan
terjadi karena enzim menurunkan energi pengaktifan atau juga disebut dengan energi aktivasi
dimana dengan sendirinya akan mempermudah terjadinya reaksi. Sebagian besar enzim bekerja
secara khas, yang artinya setiap jenis enzim hanya dapat bekerja pada satu macam senyawa atau
reaksi kimia. Hal ini disebabkan perbedaanstruktur kimia tiap enzim yang bersifat tetap. Sebagai
contoh, enzim - amilase hanya dapat digunakan pada proses perombakan pati menjadi
glukosa.
Hidrolisis lengkap pati akan menghasilkan D-glukosa. Hidrolisis dengan enzim tertentu
akan menghasilkan dextrin dan maltosa. Pati atau amilum adalah karbohidrat kompleks yang
tidak larut dalam air, berwujud bubuk putih, tawar dan tidak berbau.Pati merupakan bahan
utama yang dihasilkan oleh tumbuhan untuk menyimpan kelebihan glukosa (sebagai produk
fotosintesis) dalam jangka panjang.Hewan dan manusia juga menjadikan pati sebagai sumber
energi yang penting.
Hidrolisis pati oleh -amilase akan menghasilkan dekstrin sebagai produk utama, dimana
hidrolisis lengkap akan menghasilkan glukosa sebagai produk akhir. Enzim ini dapat diperoleh
dari hewan, tumbuhan, dan mikroba.

METODOLOGI
Praktikum Hidrolisis Pati Enzimatis ini dilaksanakan pada 21 November 2016 dimulai
pada pukul 10.00 WIB bertempat di laboratorium Fisiologi Hewan Air, Gedung 2 Fakultas
Perikanan dan Ilmu Kelautan UNPAD Jatinangor.
Adapun alat-alatyang digunakan pada praktikum Hidrolisis Pati Enzimatis ini adalah gelas
ukur, yang berfungsi untuk mengukur volume sampel; gelas kimia, yang berfungsi untuk wadah
sampel; spatula, yang berfungsi untuk mengambil sampel tepung; hot plate, yang berfungsi untuk
menghomogenkan sampel tepung dan akuades; tabung reaksi, yang berfungsi sebagai wadah
sampel saat mereaksikan sampel; pipet tetes, berfungsi untuk memindahkan larutan enzim
amilase dan reagen iodine; inkubator, berfungsi untuk memanaskan sampel; dan
spektrofotometer, untuk mengukur nilai absorban hasil.
Sedangkan bahan yang digunakan pada praktikum ini yaitu pati (dari tepung beras, tepung
maizena, tepung aci, tepung terigu), sebagai sampel yang menggandung pati yang digunakan;
aquades, untuk melarutkan tepung; enzim amilase, untuk menghidrolisis pati yang berasal dari
tepung; dan reagen iodine, untuk mempermudah pengamatan adanya pati/tidak dengan
memberikan warna.
Prosedur kerja praktikum ini adalah sebagai berikut:

Disiapkan sampel pati yang terdiri dari aci, meizena, terigu, dan tepung beras.
Setiap sampel terdiri dari 0,1 gram. Sampel disimpan dalam alumunium foil.
Sampel dilarutkan menjadikan sampel tersebut menjadi 4 ml, dan 5 ml. Kemudian
sampel disimpan dalam tabung reaksi.

Ditamambahkan larutan iodin sebanyak 2 tetes pada setiap sampel yang telah
disimpan dalam tabung reaksi. Lalu sampel diamati

Kemudian ditambahakan enzim amilase sebanyak 3 tetes dan 5 tetes pada setiap
sampel yang telah disimpan dalam tabung reaksi, Sampel dipanaskan, lalu diamati

Setiap sampel diinkubasi dalam tabung reaksi pada suhu 55 oC selama 15 menit,
setelah itu perubahan diamati pada larutan tersebut.

Sampel kembali dipanaskan setelah diinkubasi

Sampel diambil dari larutan tersebut dan menyipannya didalam kuvet, lalu
absorbansi dihitung larutan sampel tersebut dengan menggunakan
spektofotomter, kemudian diamati perubahan yang terjadi.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Tabel 1. Tabel Pengamatan Kelompok 11
Nilai
Vol Iodine Amilae Inkubasi (15') Pemanasan 2 (5') absorban
Sampe Pemanas
Akuad (1 3
l an 1 (5')
es (ml) tetes) 5 tete 5
3 tetes tetes 3 tetes 5 tetes 3 tetes 5 tetes s tetes
Warn
2 Biru Warna Warna
a Warna Tidak Tidak 1.24 0,65
lapisan, tua biru kunin
buru kuning terjadi terjadi 8 5
bawah dan tua g
pekat
putih, terdap dan benin kecoklat perubah perubah
Tepun
dan atas at terdap g, an, an an
g
4 endap at terdap terdapat
Meize
an at
na
bening endap endap endapan
an an

Tabel 2. Tabel Glukosa Standar


X (Konsentrasi Y (Nilai
No X.Y X
Glukosa) Absorban)
12,0825594 93,732
1 9,681538 1,248 2 2
26,214
2 5,12 0,655 3,3536 4
15,4361594
Jumlah 14,801538 1,903 2 119,947

Perhitungan Glukosa Standar


2
x

n 2
x
a=
( x ) y x xy
2

( 119,947 ) (1,903 )(14,801538)(15,43615942)


a=
2 ( 119,947 )( 14,801538 ) 2

( 228,259141 ) (228,4789 )
a=
( 239,894 ) ( 29,603076 )

0,219759
a=
210,290924

a=0.001045024
2
x

n 2
b= x
n xy x y

2 ( 15,43615942 )(14,801538)(1,903)
b=
2 ( 119,947 )( 14,801538 ) 2

( 30,8723188 ) (28,1673268)
b=
210,290924

2,704992
b=
210,290924

b=0,01286309

Sehingga, Y =
Kurva Standar Glukosa
1.40
1.20
f(x) = 0.13x - 0.01
1.00 R = 1
0.80 Absorban
Nilai Absorban 0.60 Linear (Absorban)
0.40
0.20
0.00
4.00 6.00 8.00 10.00

Konsentrasi Glukosa

Dimana nilai R2 adalah 1 yang menunjukkan koefisien korelasi sangat tinggi.


Perhitungan Konsentrasi Glukosa Kelompok
Jika nilai absorbansi dari pati berupa tepung kentang yang sudah dihitung adalah 1,248 maka
dimasukkan ke dalam persamaan:
Y =0.001045024+ 0,01286309 x

1,248=0.001045024+ 0,01286309 x

1,24904502=0,01286309 x

x=97,1030305

Jika nilai absorbansi dari pati berupa tepung kentang yang sudah dihitung adalah 0,655 maka
dimasukkan ke dalam persamaan:
Y =0.001045024+ 0,01286309 x

0,655=0.001045024+ 0,01286309 x

0,65604502=0,01286309 x

x=51,0021325

Tabel 3. Hasil Perhitungan Konsentrasi Glukosa Kelas B

Kelompo Sampel Konsentrasi Glukosa


k 3 tetes enzim amilase 5 tetes enzim amilase

1 1.135385 0.002533
9 Tepung 1.027692 3.10462
2 Aci 1.258462 1.22
10 4.466154 9.73846

3 3.550769 2.42769
11 Tepung 9.681538 5.12
4 Maizena 0.82 1.44308
12 0.3276923 1.02

5 8.743077 3.86615
13 Tepung 5.873846 1.00969
6 Terigu 4.866154 7.50462
14 1.358462 7.76615

7 0.5507692 0.889231
15 Tepung 0.9738462 0.242769
8 Beras 0.5430769 0.0673846
16 0.2396923 0.202769

Tabel 1 diatas merupakan data yang didapatkan saat pengamatan pada saat praktikum.
Tabel 2 menunjukan nilai glukosa standar. Tabel 3 menunjukan data hasil perhitungan
konsentrasi glukosa yang diperoleh kelas Perikanan B. Kelompok 11 yang mendapatkan sampel
berupa tepung Meizena dan akuades dengan volume akuades 4 ml, mendapatkan nilai
konsentrasi glukosa yang terkandung dalam tepung meizena tersebut sangat tinggi. Kelompok 11
mempunyai nilai konsentrasi paling tinggi pada sampel yang diberi 3 tetes enzim amilase,
sedangkan pada sampel yang diberi 5 tetes amilase yang memperoleh nilai konsentrasi glukosa
tertinggi adalah kelompok 10 dengan sampel tepung aci.
Kelompok 11 mendapatkan hasil akhir pada sampelnya dengan karekteristik larutan
berwarna kuning bening dengan masih adanya tepung meizena yang belum homogen pada
sampel yang diberi 3 tetes enzim amilase dan berwarna kuning kecoklatan dengan masih adanya
tepung meizena yang belum homogen pada sampel yang diberi 5 tetes enzim amilase. Adanya
tepung meizena yang belum homogen adalah dikarenakan kurangnya pengadukan oleh praktikan
pada saat menghomogenkan tepung dengan akuades di waterbath.
Kelompok 11 mendapatkan nilai absorban sebesar 1,248 pada sampel yang diberi 3 tetes
enzim amilase, dan 0,655 pada sampel yang diberi 5 tetes enzim amilase. Nilai konsentrasi
glukosa yang didapat oleh kelompok 11 adalah 9,681538 pada sampel dengan 3 tetes amilase dan
5,12 pada sampel dengan 5 tetes amilase. Dengan nilai absorban dan konsentrasi yang cukup
tinggi itu, didapat persamaan:

Y= 0.001045024+0,01286309 x

Dari persamaan diatas, didapat nilai konsentrasi glukosa pada sampel tepung Meizena yang
digunakan oleh kelompok 11 adalah sebesar 97,1030305 gr/ml pada sampel dengan 3 tetes
amilase dan sebesar 51,0021325 gr/ml pada sampel dengan 5 tetes amilase.
Hasil yang didapat diatas menunjukan bahwa pada sampel yang digunakan oleh kelompok
11 pada sampel yang diberi lebih sedikit enzim amilase mengandung konsentrasi glukosan lebih
tinggi dibanding dengan sampel yang diberi enzim amilase lebih. Akan tetapi, banyaknya enzim
amilase yang dimasukan kedalam sampel tidak mempengaruhi konsentrasi glukosa pada sampel
tersebut, hal ini dapat dilihat pada Tabel 3, dimana beberapa kelompok mendapatkan nilai
konsetrasi yang lebih tinggi pada sampel yang diberi 5 tetes enzim amilase dan sebagian lagi
mendapatkan nilai konsentrasi yang lebih tinggi pada sampel yang diberi 3 tetes enzim amilase.
Hal tersebut menunjukan bahwa banyaknya enzim amilase yang dimasukan kedalam sampel
tidak mempengaruhi nilai konsentrasi glukosa pada sampel
Sama halnya juga nilai absorban, banyaknya enzim amilase yang diberikan pada praktikum
ini tidak seperti mempengaruhi nilai absorban. Pada praktikum ini, dua kelompok mendapatkan
sampel yang sama dan perlakuan yang sama, tetapi mendapatkan hasil yang berbeda, missalnya
kelompok 3 dan kelompok 11 yang menggunakan tepung meizena dengan volume akuades 4 ml,
pada saat perlakuan inkubasi selama 15 menit pada sampel yang ditetesi oleh enzim amilase
sebanyak 3 tetes, kelompok 3 menyatakan bahwa warna larutan berubah menjadi warna kuning
kerung, tetapi kelompok 11 mendapat larutan dengan warna kuning bening.
Adanya perbedaan pada saat pengamatan menjadikan adanya perbedaan dalam nilai
absorbansi dan nilai konsentrasi yang didapat yang menjadikan adanya perbedaan pada jumlah
kandungan konsentrasi glukosa pada sampel tersebut. Adanaya perbedaan tersebut mungkin
karena adanya perbedaan ketelitian dan perlakuan yang dilakukan pada saat praktikum karena
bedanya tangan. Karena kesalahan yang dilakukan yang dilakukan tersebut, menjadikan data
agak sulit di analisis karena datanya tidak pasti.
Perbedaan ini wajar terjadi karena beberapa faktor, misalkan faktor-faktor pada saat
prosedur percobaan berlangsung, begitu pula dengan kelompok lainnya yang memilik nilai
aborbansi yang berbeda beda pula. Dimana perbedaan data tersebut telah dituliskan pada table
data aborbansi dan konsenterasi glukosa diatas.
Pengujian hidrolisis pati enzimatis ini sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor yang dapat
menyebabkan keberhasilan dalam pengujian. Data yang menyebabkan nilai absorbansi diatas
satu adalah warna larutan yang akan diabsorbansi terlalu pekat dikarenakan konsenterasi larutan
yang terlalu pekat, hal tersebut dapat disebabkan dari pemberian iodine yang terlalu banyak pada
larutan sehingga nilai absorbansinya terlalu tinggi yaitu lebih dari satu. Selain itu juga hal yang
dapat menyebabkan nilai absorbansinya terlalu tinggi yaitu pada saat pemanasan pada lrutan,
tidak dilakukan pengadukan, atau pengudukan kuarng maksimal, sehingga sampel dalam larutan
cepat bergumpal. Faktor lainnya juga yaitu pada saat pemanasan suhu penangas air yang kurang
panas, ataupun pemanasan larutan yang kurang lama, atau juga bias disebakan karena larutan
tidak homogen.
Hal-hal tersebut dapat menyebabkan larutan yang telah dihomogenkan tetap berwarna biru
pekat sehingga tidak dapat terbaca oleh spektofotometer, atau nilai yang tertera di
spektofotometer lebih dari satu atau terlalu besar, jika nilai yang didapatkan dari spektofotometer
lebih dari satu maka dapat dikatakan bahwa sampel kurang baik, karena data yang baik untuk
larutan ialah jika nilai absorbansi pada larutan tersebut kurang dari satu, namun jika terlalu
mendekati nol pun tidak terlalu baik, karena nilai yang terlalu mendekati nol disebabkan karena
larutan terlalu encer, jika nilai absorbansinya semakin baik maka konsenterasi glukosa dapat
dihitung mendekati keakuratan

KESIMPULAN
Kesimpulan yang dapat diambil dari praktikum Hidrolisis Pati Enzimatis ini adalah
Konsenterasi larutan dapat diketahui dengan mengukur absorbansi larutan oleh spektofotometer.
Jika nilai aborbansi dibawah satu maka data semakin akurat, namun jika data diatas satu maka
data kurang baik. Data yang menyebabkan nilai absorbansi diatas satu adalah warna larutan yang
akan diabsorbansi terlalu pekat dikarenakan konsenterasi larutan yang terlalu pekat, hal tersebut
dapat disebabkan dari pemberian iodine yang terlalu banyak pada larutan sehingga nilai
absorbansinya terlalu tinggi yaitu lebih dari satu. Selain itu juga hal yang dapat menyebabkan
nilai absorbansinya terlalu tinggi yaitu pada saat pemanasan pada lrutan, tidak dilakukan
pengadukan, atau pengudukan kuarng maksimal, sehingga sampel dalam larutan cepat
bergumpal. Faktor lainnya juga yaitu pada saat pemanasan suhu penangas air yang kurang panas,
ataupun pemanasan larutan yang kurang lama, atau juga bias disebakan karena larutan tidak
homogen.

DAFTAR PUSTAKA
Tim Dosen Biokimia. 2014. Modul Praktikum Biokimia. Sumedang: Universitas Padjadjaran
Keenan. 1991. Kimia untuk Universitas. Jakarta: Erlangga
Hart,H, 1987, Kimia Organik, alih bahasa: Sumanir Ahmadi, Erlangga, Jakarta.
Poedjiadi,Anna, 1994. Dasar-Dasar Biokimia. Penerbit UI-Press: Jakarta.
Winarno, F.G, 1997, Kimia Pangan Dan Gizi, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

LAMPIRAN

Gambar 1. Tabung Reaksi Gambar 2. Waterbath


Gambar 3. Akuades Gambar 6. Enzim Amilase

Gambar 4. Tepung Meizena Gambar 7. Reagen Iodine

Gambar 5. Penjepit Kayu Gambar 8. Pengambilan Akuades


Gambar 9. Penimbangan tepung Gambar 12. Hasil pemanasan 1

Gambar 10. Penambahan akuades Gambar 13. Penambahan enzim amilase

Gambar 11. Pemanasan 1 Gambar 14. Penambahan iodine


Gambar 15. Setelah penambahan amilase Gambar 16. Pemanasan 2
dan iodeine

Gambar 17. Hasil Akhir