Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PENDAHULUAN

KEPERAWATAN ANAK

Dengue Haemoragic Fever ( DHF)

Oleh :
DEDI IRAWAN
1401100021

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG


JURUSAN KEPERAWATAN
PRODI D-III KEPERAWATAN MALANG
TAHUN 2016
LEMBAR PENGESAHAN

Tanggal :
Nama mahasiswa :
NIM :

Mengetahui :

Pembimbing Institusi Pembimbing Lahan

( ) ( )
NIP. NIP.
A. Definisi
Dengue haemoragic fever adalah infeksi akut yang disebabkan oleh arbovirus
(arthropodborn virus) dan di tularkan melalui gigitan nyamuk Aedes (Aedes
albopictus dan Aedes aegypti).(ngastiyah,2005 : 368 )
Demam berdarah dengue adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus
dengue (arbovirus) yang masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk Aedes
aegypti.(Suriadi,Rita Yuliani,2006 : 57 )
Demam berdarah dengue adalah penyakit demam akut yang disebabkan oleh 4
tipe serotipe virus dengue dan ditandai dengan 4 gejala klinis utama yaitu demam
yang tinggi, manifestasi perdarahan, hepatomegali, dan tanda tanda kegagalan
sirkulasi sampai timbulnya renjatan ( sindrom renjatan dengue) sebagai akibat
dari kebocoran plasma yang dapat menyebabkan kematian.(Abdul
Rohim,dkk,2002 : 45)
Dengue haemoragic fever ( DHF) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus
dengue sejenis virus yang tergolong arbovirus dan masuk ke dalam tubuh
penderita melalui gigitan nyamuk aedes aegypti ( betina).DHF terutama
menyerang anak remaja dan dewasa dan sering kali menyebabkan kematian bagi
penderita.(Christantie,Effendy,1995)
Demam dengue / DHF dan demam berdarah dengue / DBD ( Dengue
haemoragic fever / DHF) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus
dengue dengan manifestasi klinis demam,nyeri otot dan / atau nyeri sendi yang
disertai lekopenia, ruam, limfadenopati, trombositopenia dan diatesis haemoragic.
(Suhendro,dkk,2007 : 1709)
Demam berdarah dengue ( dengue haemoragic fever, selanjutnya disingkat
DHF ),ialah penyakit yang terdapat pada anak dan dewasa dengan gejala utama
demam, nyeri otot dan sendi, yang biasanya memburuk setelah 2 hari pertama.
(Hendarwanto :417)
B. Etiologi

Penyebab utama : virus dengue tergolong albovirus


Vektor utama :
o Aedes aegypti.
o Aedes albopictus.
Adanya vektor tesebut berhubungan dengan :
1. kebiasaan masyarakat menampung air bersih untuk keperlauan sehari hari.
2. Sanitasi lingkungan yang kurang baik.
3. Penyediaan air bersih yang langka.
Daerah yang terjangkit DHF adalah wilayah padat penduduk karena.
1. Antar rumah jaraknya berdekatan yang memungkinkan penularan karena
jarak terbang aedes aegypti 40-100 m.
2. Aedes aegypti betina mempunyai kebiasaan menggigit berulang (multiple
biters) yaitu menggigit beberapa orang secara bergantian dalam waktu
singkat, (Noer, 1999).

C. Klasifikasi
Klasifikasi DHF berdasarkan patokan dari WHO (1999) DBD dibagi menjadi 4
derajat:
1. Derajat I
Demam disertai gejala klinis lain, tanoa perdarahan spontan uji torniquet (+),
trombositopenia dan hemokonsentrasi.
2. Derajat II
Derajat I dan disertai perdarahan spontan pada kulit atau di tempat lain.
3. Derajat III
Ditemukan kegagalan sirkulasi, yaitu nadi cepat dan lemah, tekanan darah
rendah (hipotensi), gelisah, sianosis sekitar mulut, hidung dan ujung jari.
4. Derajat IV
Renjatan berat (DSS) dengan nadi tak teraba dan tekanan darah tak dapat
diukur.
Dengue Shock Syndrome ( DSS )
Dengue shock syndrome ( DSS ) adalah sindroma syok yang terjadi pada
penderita Dengue Hemorrhagic Fever ( DHF ) atau demam berdarah dengue.
Dengue syok sindrom bukan saja merupakan suatu permasalahan kesehatan
masyarakat yang menyebar dengan luas atau tiba tiba, tetapi juga
merupakan suatu permasalahan klinis, karena 30 50 % penderita demam
berdarah dengue akan mengalami renjatan dan berakhir dengan demam suatu
kematian terutama bila tidak ditangani secara dini dan adekuat.

D. Manifestasi Klinis
Gambaran klinis DHF seringkali mirip dengan beberapa penyakit lain seperti :
1. Demam chiku nguya.
Dimana serangan demam lebih mendadak dan lebih pendek tapi suhu di
atas 400C disertai ruam dan infeksi konjungtiva ada rasa nyeri sendi dan
otot.
2. Demam typhoid
Biasanya timbul tanda klinis khas seperti pola demam, bradikardi relatif,
adanya leukopenia, limfositosis relatif.
3. Anemia aplastic
Penderita tampak anemis, timbul juga perdarahan pada stadium lanjut,
demam timbul karena infeksi sekunder, pemeriksaan darah tepi
menunjukkan pansitopenia.
4. Purpura trombositopenia idiopati (ITP)
Purpura umumnya terlihat lebih menyeluruh, demam lebih cepat
menghilang, tidak terjadi hemokonsentrasi.

Meningkatnya suhu tubuh


Nyeri pada otot seluruh tubuh
Nyeri kepala menyeluruh atau berpusat pada supra orbita, retroorbita
Suara serak
Batuk
Epistaksis
Disuria
Nafsu makan menurun
Muntah
Ptekie
Ekimosis
Perdarahan gusi
Muntah darah
Hematuria massif
Melena
a. Derajat I :
Demam disertai gejala klinis lain atau perdarahan spontan, uji turniket positi,
trombositopeni dan hemokonsentrasi.
b. Derajat II :
Manifestasi klinik pada derajat I dengan manifestasi perdarahan spontan di
bawah kulit seperti peteki, hematoma dan perdarahan dari lain tempat.
c. Derajat III :
Manifestasi klinik pada derajat II ditambah dengan ditemukan manifestasi
kegagalan system sirkulasi berupa nadi yang cepat dan lemah, hipotensi
dengan kulit yang lembab, dingin dan penderita gelisah.
d. Derajat IV :
Manifestasi klinik pada penderita derajat III ditambah dengan ditemukan
manifestasi renjatan yang berat dengan ditandai tensi tak terukur dan nadi tak
teraba.
E. Pathway

F. Pemeriksaan Laboratorium
a. Darah
Pada DHF umumnya dijumpai trombositopenia dan hemokonsentrasi. Uji
tourniquetyang positif merupakan pemeriksaan penting.
Masa pembekuan masih dalam batas normal, tetapi masa perdarahan biasanya
memanjang. Pada analisis kuantitatif ditemukan penurunan faktor II, V, VII,
IX, dan X. Pada pemeriksaan kimia darah tampak hipoproteinemia,
hiponatremia, serta hipokloremia. SGPT, SGOT, ureum dan pH darahmungkin
meningkat, sedangkan reserve alkali merendah.
b. Air Seni
Mungkin ditemukan albuminuria ringan.
c. Sumsum Tulang
Pada awal sakit biasanya hiposelular, kemudian menjadi hiperselular pada hari
ke 5 dengan gangguan maturasi sedangkan pada hari ke 10 biasanya sudah
kembali normal untuk semua sistem.
d. Serologi
Uji serulogi untuk infeksi dengue dapat dikategorikan atas dua kelompok
besar, yaitu :
1. Uji serulogi memakai serum ganda, yaitu serum yang diambil pada masa
akut dan masa konvalesen. Pada uji ini yang dicari adalah kenaikan
antibodi antidengue sebanyak minimal empat kali. Termasuk dalam uji ini
pengikatan komplemen ( PK ), uji neutralisasi ( NT ) dan uji dengue blot.
2. Uji serulogi memakai serum tunggal. Pada uji ini yang dicari ada tidaknya
atau titer tertentu antibodi antidengue. Termasuk dalam golongan ini
adalah uji dengue blot yang mengukur antibodi antidengue tanpa
memandang kelas antibodinya ; uji IgM antidengue yang mengukur hanya
antibodi antidengue dari kelas IgM.
G. Penatalaksanaan Medis
Penatalaksanaan penderita dengan DHF adalah sebagai berikut :
1. Tirah baring atau istirahat baring.
2. Diet makan lunak.
3. Minum banyak (2 2,5 liter/24 jam) dapat berupa : susu, teh manis, sirup
dan beri penderita sedikit oralit, pemberian cairan merupakan hal yang
paling penting bagi penderita DHF.
4. Pemberian cairan intravena (biasanya ringer laktat, NaCl Faali)
merupakan cairan yang paling sering digunakan.
5. Monitor tanda-tanda vital tiap 3 jam (suhu, nadi, tensi, pernafasan) jika
kondisi pasien memburuk, observasi ketat tiap jam.
6. Periksa Hb, Ht dan trombosit setiap hari.
7. Pemberian obat antipiretik sebaiknya dari golongan asetaminopen.

Monitor tanda-tanda perdarahan lebih lanjut.


1. Pemberian antibiotik bila terdapat kekuatiran infeksi sekunder.
2. Monitor tanda-tanda dan renjatan meliputi keadaan umum, perubahan
tanda-tanda vital, hasil pemeriksaan laboratorium yang memburuk.
3. Bila timbul kejang dapat diberikan Diazepam.

Pencegahan
Prinsip yang tepat dalam pencegahan DHF ialah sebagai berikut :
1. Memanfaatkan perubahan keadaan nyamuk akibat pengaruh alamiah
dengan melaksanakan pemberantasan vektor pada saat sedikit terdapatnya
kasus DHF.
2. Memutuskan lingkaran penularan dengan menahan kepadatan vektor pada
tingkat sangat rendah untuk memberikan kesempatan penderita viremia
sembuh secara spontan.
3. Mengusahakan pemberantasan vektor di pusat daerah penyebaran yaitu di
sekolah, rumah sakit termasuk pula daerah penyangga sekitarnya.
4. Mengusahakan pemberantasan vektor di semua daerah berpotensi
penularan tinggi.

Ada 2 macam pemberantasan vektor antara lain :


1. Menggunakan insektisida.
Yang lazim digunakan dalam program pemberantasan demam berdarah
dengue adalah malathion untuk membunuh nyamuk dewasa dan temephos
(abate) untuk membunuh jentik (larvasida). Cara penggunaan malathion
ialah dengan pengasapan atau pengabutan. Cara penggunaan temephos
(abate) ialah dengan pasir abate ke dalam sarang-sarang nyamuk aedes
yaitu bejana tempat penampungan air bersih, dosis yang digunakan ialah 1
ppm atau 1 gram abate SG 1 % per 10 liter air.
2. Tanpa insektisida
Caranya adalah:
a. Menguras bak mandi, tempayan dan tempat penampungan air
minimal 1 x seminggu (perkembangan telur nyamuk lamanya 7
10 hari).
b. Menutup tempat penampungan air rapat-rapat.
c. Membersihkan halaman rumah dari kaleng bekas, botol pecah dan
benda lain yang memungkinkan nyamuk bersarang.
Konsep Asuhan Keperawatan

I. Pengkajian Keperawatan
1. Identitas
Nama, umur. Alamat, status, dll
2. Riwayat kesehatan
3. Riwayat kesehatan sekarang
a. Waktu terjadinya sakit : seberapa lama terjadinya sakit
b. Proses terjadinya sakit : kapan mulai terjadinya sakit
c. Upaya yang telah dilakukan : sudah berobat dimana, obat yang pernah
dikonsumsi
d. Hasil pemeriksaan sementara / sekarang : TTV, radiologi,
patofisiologi, lab
4. Riwayat kesehatan keluarga
5. Riwatar kesehatan terdahulu : pernah MRS, pengobatan terdahulu
6. Genogram
7. Riwayat kesehatan lingkungan : kondisi lingkungan, keadaan lingkungan
8. Pola fungsi kesehatan
9. Pemeriksaan fisik
a. Data klinik : TTV
b. Data pemeriksaan yang mungkin ditemukan
1. Mata
- konjungtiva pucat (karena anemia)
- konjungtiva anemis (karena hipoksemia)
- konjungtiva terdapat pethechia (karena emboli lemak atau
endokarditis)
2. Kulit
- Sianosis perifer (vasokontriksi dan menurunnya aliran darah perifer)
- Penurunan turgor (dehidrasi)
- Edema.
- Edema periorbital.
3. Jari dan kuku
- Sianosis
- Clubbing finger.
4. Mulut dan bibir
- membrane mukosa sianosis
- bernapas dengan mengerutkan mulut.
5. Hidung
- pernapasan dengan cuping hidung, deviasi sputum, dan kesimetrisan
6. Vena leher
- adanya distensi / bendungan.
7. Dada
Inspeksi
Pemeriksaan mulai dada posterior
Observasi dada pada semua sisi
Dada posterior amati adanya lesi, masa serta gangguan tulang
belakang (lordosis, kifosis, skoliosis)
Catat jumlah, irama, kedalaman pernapasan, dan kesimetrisan
pergerakan dada
Observasi pernapasan cepat, seperti cuping hidung, atau
pernapasan diafragma serta penggunaan otot bantu pernapasan
Observasi durasi inspirasi dan ekspirasi, ekspirasi yang
panjang mengandalkan / menandakan adanya obstruksi jalan
nafas,
Kaji konfigurasi dada
Kelainan bentuk dada (barrel chest, funnel chest, pigeon chest,
kafiskolosis)
Observasi kesimetrisan pergerakan dada, mengindikasi adanya
penyakit
Palpasi
Untuk mengkaji kesimetrisan pergerakan dada dan
mengobservasi abnormalitas, mengidentifikasi keadaan kulit,
dan mengetahui taktilfremitus
Perkusi
Mengkaji resonansi pulmoner, organ yang ada disekitar dan
pengembangan (ekskursi) diafragma.
Auskultasi
Suara nafas normal
Jenis suara tambahan
Wheezing : suara nyaring
Ronchi : suara mengorok
Pleura friction rub : suara kasar / bersiul
8. Pola pernapasan
- pernapasan normal(eupnea)
- pernapasan cepat (tacypnea)
- pernapasan lambat (bradypnea)
Data obyektif yang sering ditemukan menurut Christianti Effendy, 1995 yaitu :
1) Lemah.
2) Panas atau demam.
3) Sakit kepala.
4) Anoreksia, mual, haus, sakit saat menelan.
5) Nyeri ulu hati.
6) Nyeri pada otot dan sendi.
7) Pegal-pegal pada seluruh tubuh.
8) Konstipasi (sembelit).
Adalah data yang diperoleh berdasarkan pengamatan perawat atas kondisi pasien.

Data obyektif yang sering dijumpai pada penderita DHF antara lain:
1) Suhu tubuh tinggi, menggigil, wajah tampak kemerahan.
2) Mukosa mulut kering, perdarahan gusi, lidah kotor.
3) Tampak bintik merah pada kulit (petekia), uji torniquet (+), epistaksis,
ekimosis, hematoma, hematemesis, melena.
4) Hiperemia pada tenggorokan.
5) Nyeri tekan pada epigastrik.
6) Pada palpasi teraba adanya pembesaran hati dan limpa.
7) Pada renjatan (derajat IV) nadi cepat dan lemah, hipotensi, ekstremitas
dingin, gelisah, sianosis perifer, nafas dangkal.

Pemeriksaan laboratorium pada DHF akan dijumpai :


1) Ig G dengue positif.
2) Trombositopenia.
3) Hemoglobin meningkat > 20 %.
4) Hemokonsentrasi (hematokrit meningkat).
5) Hasil pemeriksaan kimia darah menunjukkan hipoproteinemia,
hiponatremia, hipokloremia.

Pada hari ke-2 dan ke-3 terjadi leukopenia, netropenia, aneosinofilia, peningkatan
limfosit, monosit, dan basofil
1) SGOT/SGPT mungkin meningkat.
2) Ureum dan pH darah mungkin meningkat.
3) Waktu perdarahan memanjang.
4) Asidosis metabolik.
5) Pada pemeriksaan urine dijumpai albuminuria ringan.

II. Diagnosa Keperawatan


1. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses penyakit (viremia).
2. Nyeri berhubungan dengan proses patologis penyakit
3. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi, kurang dari kebutuhan berhubungan
dengan mual, muntah, anoreksia.
4. Kurangnya volume cairan tubuh berhubungan dengan peningkatan
permeabilitas dinding plasma.
5. Keterbatasan mobilitas fisik berhubungan dengan rasa nyeri, terapi tirah
baring.
6. Resiko terjadinya syok hypovolemik berhubungan dengan kurangnya volume
cairan tubuh.
7. Resiko terjadinya perdarahan lebih lanjut berhubungan dengan
trombositopenia.

III. Rencana Asuhan Keperawatan


1. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses penyakit (viremia)
Tujuan dan kriteria hasil:
Setelah dilakukan perawatan .. x 24 jam diharapkan suhu tubuh pasien dapat
berkurang dengan kriteria hasil:
1. Pasien mengatakan kondisi tubuhnya nyaman.
2. Suhu 36,80C-37,50C
3. Tekanan darah 120/80 mmHg
4. Respirasi 16-24 x/mnt
5. Nadi 60-100 x/mnt

Intervensi:
1. Kaji saat timbulnya demam.
2. Observasi tanda vital (suhu, nadi, tensi, pernafasan) setiap 3 jam
3. Anjurkan pasien untuk banyak minum (2,5 liter/24 jam)
4. Berikan kompres hangat
5. Anjurkan untuk tidak memakai selimut dan pakaian yang tebal
6. Berikan terapi cairan intravena dan obat-obatan sesuai program dokter

Rasional:
1. Untuk mengidentifikasi pola demam pasien.
2. Tanda vital merupakan acuan untuk mengetahui keadaan umum
pasien.
3. Peningkatan suhu tubuh mengakibatkan penguapan tubuh meningkat
sehingga perlu diimbangi dengan asupan cairan yang banyak.
4. Dengan vasodilatasi dapat meningkatkan penguapan yang
mempercepat penurunan suhu tubuh.
5. Pakaian tipis membantu mengurangi penguapan tubuh
6. Pemberian cairan sangat penting bagi pasien dengan suhu tinggi
2. Nyeri berhubungan dengan proses patologis penyakit
Tujuan dan kriteria hasil:
Setelah dilakukan perawatan .. x 24 jam diharapkan nyeri pasien dapat
berkurang dan menghilang dengan kriteria hasil:
1. Pasien mengatakan nyerinya hilang
2. Nyeri berada pada skala 0-3
3. Tekanan darah 120/80 mmHg
4. Suhu 36,80C-37,50C
5. Respirasi 16-24 x/mnt
6. Nadi 60-100 x/mnt

Intervensi:
1. Observasi tingkat nyeri pasien (skala, frekuensi, durasi)
2. Berikan lingkungan yang tenang dan nyaman dan tindakan
kenyamanan
3. Berikan aktifitas hiburan yang tepat
4. Libatkan keluarga dalam asuhan keperawatan.
5. Ajarkan pasien teknik relaksasi
6. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat analgetik

Rasional:
1. Mengindikasi kebutuhan untuk intervensi dan juga tanda-tanda
perkembangan/resolusi komplikasi.
2. Lingkungan yang nyaman akan membantu proses relaksasi
3. Memfokuskan kembali perhatian; meningkatkan kemampuan untuk
menanggulangi nyeri.
4. Keluarga akan membantu proses penyembuhan dengan melatih pasien
relaksasi.
5. Relaksasi akan memindahkan rasa nyeri ke hal lain.
6. Memberikan penurunan nyeri.

3. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi, kurang dari kebutuhan


berhubungan dengan mual, muntah, anoreksia
Tujuan dan kriteria hasil:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama x 24 jam diharapkan
perubahan status nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh dapat teratasi dengan
kriteria:
1. Mencerna jumlah kalori/nutrien yang tepat
2. Menunjukkan tingkat energi biasanya
3. Berat badan stabil atau bertambah

Intervensi:
1. Observasi keadaan umam pasien dan keluhan pasien.
2. Tentukan program diet dan pola makan pasien dan bandingkan dengan
makanan yang dapat dihabiskan oleh pasien
3. Timbang berat badan setiap hari atau sesuai indikasi
4. Identifikasi makanan yang disukai atau dikehendaki yang sesuai
dengan program diit.
5. Ajarkan pasien dan Libatkan keluarga pasien pada perencanaan makan
sesuai indikasi.
6. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat anti mual.

Rasional:
1. Mengetahui kebutuhan yang diperlukan oleh pasien.
2. Mengidentifikasi kekurangan dan penyimpangan dari kebutuhan
terapeutik
3. Mengkaji pemasukan makanan yang adekuat (termasuk absorbsi dan
utilisasinya)
4. Jika makanan yang disukai pasien dapat dimasukkan dalam
pencernaan makan, kerjasama ini dapat diupayakan setelah pulang
5. Meningkatkan rasa keterlibatannya; Memberikan informasi kepada
keluarga untuk memahami nutrisi pasien
6. Pemberian obat antimual dapat mengurangi rasa mual sehingga
kebutuhan nutrisi pasien tercukupi.

4. Kurangnya volume cairan tubuh berhubungan dengan peningkatan


permeabilitas dinding plasma
Tujuan dan kriteria hasil:
Setelah dilakukan perawatan selama x 24 jam diharapkan kebutuhan cairan
terpenuhi dengan kriteria hasil:
1. TD 120/80 mmHg
2. RR 16-24 x/mnt
3. Nadi 60-100 x/mnt
4. Turgor kulit baik
5. Haluaran urin tepat secara individu
6. Kadar elektrolit dalam batas normal.

Intervensi:
1. Pantau tanda-tanda vital, catat adanya perubahan tanda vital.
2. Pantau pola nafas seperti adanya pernafasan kusmaul
3. Kaji suhu warna kulit dan kelembabannya
4. Kaji nadi perifer, pengisian kapiler, turgor kulit dan membran mukosa
5. Pantau masukan dan pengeluaran cairan
6. Pertahankan untuk memberikan cairan paling sedikit 2500 ml/hari
dalam batas yang dapat ditoleransi jantung.
7. Catat hal-hal seperti mual, muntah dan distensi lambung.
8. Observasi adanya kelelahan yang meningkat, edema, peningkatan BB,
nadi tidak teratur
9. Berikan terapi cairan normal salin dengan atau tanpa dextrosa, pantau
pemeriksaan laboratorium(Ht, BUN, Na, K)

Rasional:
1. Hipovolemia dapat dimanisfestasikan oleh hipotensi dan takikardi
2. Pernapasan yang berbau aseton berhubungan dengan pemecahan asam
aseto-asetat dan harus berkurang bila ketosis harus terkoreksi
3. Demam dengan kulit kemerahan, kering menunjukkan dehidrasi.
4. Merupakan indicator dari dehidrasi.
5. Memberi perkiraan akan cairan pengganti, fungsi ginjal, dan program
pengobatan.
6. Mempertahankan volume sirkulasi.
7. Kekurangan cairan dan elektrolit menimbulkan muntah sehingga
kekurangan cairan dan elektrolit.
8. Pemberian cairan untuk perbaikan yang cepat berpotensi menimbulkan
kelebihan beban cairan
9. Mempercepat proses penyembuhan untuk memenuhi kebutuhan cairan

5. Keterbatasan mobilitas fisik berhubungan dengan rasa nyeri, terapi tirah


baring
Tujuan dan kriteria hasil:
Setelah dilakukan perawatan selama x 24 jam diharapkan pasien dapat
mencapai kemampuan aktivitas yang optimal, dengan kriteria hasil:
1. Pergerakan pasien bertambah luas
2. Pasien dpt melaksanakan aktivitas sesuai dengan kemampuan (duduk,
berdiri, berjalan)
3. Rasa nyeri berkurang
4. Pasien dapat memenuhi kebutuhan sendiri secara bertahap sesuai
dengan kemampuan

Intervensi:
1. Kaji dan identifikasi tingkat kekuatan otot pada kaki pasien.
2. Beri penjelasan tentang pentingnya melakukan aktivitas.
3. Anjurkan pasien untuk menggerakkan/mengangkat ekstrimitas bawah
sesui kemampuan.
4. Bantu pasien dalam memenuhi kebutuhannya
5. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain: dokter (pemberian analgesik)

Rasional:
1. Mengetahui derajat kekuatan otot-otot kaki pasien.
2. Pasien mengerti pentingnya aktivitas sehingga dapat kooperatif dalam
tindakan keperawatan
3. Melatih otot otot kaki sehingga berfungsi dengan baik
4. Agar kebutuhan pasien tetap dapat terpenuhi
5. Analgesik dapat membantu mengurangi rasa nyeri.

6. Resiko terjadinya syok hypovolemik berhubungan dengan kurangnya


volume cairan tubuh
Tujuan dan kriteria hasil:
Setelah dilakukan perawatan .. x 24 jam diharapkan tidak terjadi syok
hipovolemik dengan kriteria hasil:
1. TD 120/80 mmHg
2. RR 16-24 x/mnt
3. Nadi 60-100 x/mnt
4. Turgor kulit baik
5. Haluaran urin tepat secara individu
6. Kadar elektrolit dalam batas normal.

Intervensi:
1. Monitor keadaan umum pasien
2. Observasi tanda-tanda vital tiap 2 sampai 3 jam.
3. Monitor tanda perdarahan
4. Chek haemoglobin, hematokrit, trombosit
5. Berikan transfusi sesuai program dokter
6. Lapor dokter bila tampak syok hipovolemik.

Rasional:
1. Memantau kondisi pasien selama masa perawatan terutama pada saat
terjadi perdarahan sehingga segera diketahui tanda syok dan dapat
segera ditangani.
2. Tanda vital normal menandakan keadaan umum baik.
3. Perdarahan cepat diketahui dan dapat diatasi sehingga pasien tidak
sampai syok hipovolemik
4. Untuk mengetahui tingkat kebocoran pembuluh darah yang dialami
pasien sebagai acuan melakukan tindakan lebih lanjut.
5. Untuk menggantikan volume darah serta komponen darah yang hilang.
6. Untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut sesegera mungkin

7. Resiko terjadinya perdarahan lebih lanjut berhubungan dengan


trombositopenia
Tujuan dan kriteria hasil:
Setelah dilakukan perawatan .. x 24 jam diharapkan tidak terjadi perdarahan
dengan kriteria hasil:
1. Tekanan darah 120/80 mmHg
2. Trombosit 150.000-400.000

Intervensi:
1. Monitor tanda penurunan trombosit yang disertai gejala klinis
2. Anjurkan pasien untuk banyak istirahat
3. Beri penjelasan untuk segera melapor bila ada tanda perdarahan lebih
lanjut
4. Jelaskan obat yang diberikan dan manfaatnya

Rasional:
1. Penurunan trombosit merupakan tanda kebocoran pembuluh darah.
2. Aktivitas pasien yang tidak terkontrol dapat menyebabkan perdarahan
3. Membantu pasien mendapatkan penanganan sedini mungkin.
4. Memotivasi pasien untuk mau minum obat sesuai dosis yang
diberikan.
DAFTAR PUSTAKA

Sunaryo, Soemarno, (1998), Demam Berdarah Pada Anak, UI ; Jakarta.


Effendy, Christantie, (1995), Perawatan Pasien DHF, EGC ; Jakarta.
Hendarwanto, (1996), Ilmu Penyakit Dalam, jilid I, edisi ketiga, FKUI ; Jakarta.
Doenges, Marilynn E, dkk, (2000), Penerapan Proses Keperawatan dan Diagnosa
Keperawatan, EGC ; Jakarta.