Anda di halaman 1dari 29

TINDAKAN KEPERAWATAN PADA INFEKSI TB PARU

DIRUTAN KELAS IIB RAHA

OLEH :

YUSLY
NIP. 19820105 201001 1 021

1
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Secara umum, penyakit tuberculosis paru merupakan penyakit infeksi yang masih
menjadi masalah kesehatan dalam masyarakat kita. Penyakit tuberculosis paru
dimulai dari tuberculosis, yang berarti suatu penyakit infeksi yang disebabkan
bakteri berbentuk (basil) yang dikenal dengan nama Mycobacterium tuberculosis.
Penularan penyakit ini melalui perantaraan ludah atau dahak penderita yang
mengandung basil berkulosis paru. Pada saat penderita batuk, butir-butir air ludah
bertebangan di udara dan terhisap oleh orang sehat, sehingga masuk kedalam
paru-parunya, yang kemudian menyebabkan penyakit tuberculosis paru. (Sholeh
S.Naga,2014)
Menurut data dari Poli Klinik RUTAN KELAS IIB RAHA didapatkan bahwa data
penderita Tuberkulosis Paru yang didapatkan pada tahun 2015 sebanyak 12 orang
dan pada tahun 2016 sebanyak 4 orang dengan kasus baru. Dengan demikian
jumlah penderita Tuberkulosis paru secara keseluruhan adalah sebanyak 16 orang
penderita.

B. Ruang lingkup penulisan


Ruang lingkup penulisan Karya Tulis Ilmiah ini adalah TINDAKAN
KEPERAWATAN PADA INFEKSI TB PARU DIRUTAN KELAS IIB RAHA.
C. Tujuan penulisan
1. Tujuan Umum
Tujuan umum yang ingin dicapai dalam studi kasus ini adalah mendapatkan
pengalaman nyata dan menerapkan Tindakan Keperawatan Pada Infeksi TB
PARU DI RUTAN KELAS IIB RAHA.

2
2. Tujuan khusus
Diperoleh pengalaman nyata dalam :
a. Melakukan pengkajian Tindakan Keperawatan Pada Infeksi TB PARU DI
RUTAN KELAS IIB RAHA
b. Menegakkan diagnosa Tindakan Keperawatan Pada Infeksi TB PARU DI
RUTAN KELAS IIB RAHA
c. Menyusun perencanaan Tindakan Keperawatan Pada Infeksi TB PARU DI
RUTAN KELAS IIB RAHA
d. Melakukan implementasi Tindakan Keperawatan Pada Infeksi TB PARU
DI RUTAN KELAS IIB RAHA
e. Melakukan evaluasi Tindakan Keperawatan Pada InfeksiI TB PARU DI
RUTAN KELAS IIB RAHA
f. Menganalisa kesenjangan antara teori Tindakan Keperawatan Pada Infeksi
TB PARU DI RUTAN KELAS IIB RAHA
g. Melakukan pendokumentasian Tindakan Keperawatan Pada Infeksi TB
PARU DI RUTAN KELAS IIB RAHA
D. Manfaat Penulisan
1. Poli Klinik Rutan Kelas IIB Raha
Sebagai masukan bagi perawat Poli Klinik Rutan Kelas IIB Raha dalam rangka
mengambil kebijakan untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan khususnya
pada pasien yang mengalami Gangguan System Pernafasan Tuberculosis Paru
3. Klien Tahanan/Narapidana
Dapat meningkatkan pengetahuan klien Tahanan/Narapidana tentang bagaimana
merawat diri dengan gangguan system pernafasan Tuberkulosis Paru
khususnya dalam memenuhi kebutuhan dasarnya.
4. Penulis
Penulis dapat memperoleh pengetahuan dan pengalaman dalam memberikan
tindakan keperawatan serta mengaplikasikan ilmu yang telah diperoleh selama
Pendidikan.

E. Metode Penulisan
a. Tempat dan waktu

3
Dalam menyusun karya tulis ilmiah penulis melakukan asuhan keperawatan pada
Klien Tahanan/Narapidana dengan Sistem Pernafasan Tuberkulosis Paru di Poli
Klinik Rutan Kelas IIB Raha
b. Teknik pengumpulan data
Untuk mendapatkan data- data yang dibutuhkan dalam penyusunan karya tulis
ilmiah, metode penulisan yang digunakan antara lain :
1) Studi kepustakaan
Dengan mempelajari berbagai literatur atau referensi yang berhubungan dengan
karya tulis ilmiah ini antara lain buku buku, internet dan catatan kuliah yang
berkaitan dengan masalah yang dibahas sebagai dasar teoritis.
2) Studi kasus
Studi kasus dilakukan dengan pendekatan proses keperawatan dari pengkajian
data, perencanaan, pelaksanaan sampai evaluasi melalui teknik:
(a) Wawancara
Untuk mendapatkan data lebih lengkap tentang masalah yang timbul pada klien
Tahanan/Narapidana, dilakukan dengan cara auto dan allo anamnese.
(b) Observasi
Mengamati langsung perubahan yang terjadi pada klien Tahanan/Narapidana yang
mengalami gangguan system pernafasan Tuberkulosis paru
(c) Pemeriksaan fisik
Menunjang data-data yang didapatkan ketika observasi yang dilakukan dengan
cara inspeksi, palpasi, perkusi, auskultasi pada Gangguan System Pernafasan
Tuberkulosis Paru
(d) Diskusi
Bila ada masalah atau kendala yang didapatkan dalam pelaksanaan asuhan
keperawatan pada klien Tahanan/Narapidana, penulis mengkonsultasikan dengan
tenaga kesehatan yang terkait.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

I. Konsep Dasar
1. Anatomi dan fisiologi system pernapasan
a. Anatomi system pernafasan
Sistem pernapasan terdiri dari saluran nafas bagian atas : rongga hidung, faring,
dan laring, saluran nafas bagian bawah : trachea, bronkus, bronkuolus, alveolus,
dan paru-paru. (Evelyn C. Pearce, 2011]
1) System pernafasan atas

4
(a) Rongga hidung
Rongga hidung bagian ekternal berbentuk pyramid disertai dengan satu akar dan
dasar. Bagian ini tersusun dari kerangka kerja tulang, kartilago hialin dan jaringan
fibrioareolar. Bagian internal hidung adalah rongga berlorong yang dipisahkan
menjadi rongga hidung kanan dan kiri oleh pembagi vertikal yang sempit, yang
disebut septum. Rongga hidung dilapisi selaput lendir yang sangat kaya akan
pembuluh darah, bersambung dengan lapisan faring dan selaput lendir semua
sinus yang mempunyai lubang masuk ke dalam rongga hidung. Daerah
pernapasan dilapisi epithelium silinder dan sel epitel berambut yang mengandung
sel cangkir atau sel lendir. Sekresi sel itu membuat permukaan nares basah dan
berlendir. (Evelyn C. Pearce, 2011)
(b) Faring
Faring (tekak) adalah pipa berotot berukuran 12,5 cm yang berjalan dari dasar
tengkorak sampai persambungan dengan esophagus pada ketinggian tulang rawan
krikoid. Maka letaknya dibelakang hidung (nasofaring), dibelakang mulut
(orofaring) dan dibelakang laring (faring laryngeal). (Evelyn C. Pearce, 2011)
(c) Laring
Laring (tenggorok) terletak didepan bagian terendah faring yang memisahkannya
dari kolumna vertebra, berjalan dari faring sampai ketinggian vertebra servikalis
dan masuk kedalam trakhe bawahnya. Laring ditopang oleh Sembilan kartilago;
tiga berpasang dan tiga tidak berpasang. (Evelyn C. Pearce, 2011)
2) System pernafasan bawah
(a) Trachea
Trakea adalah tuba dengan panjang 10 cm samapai 12 cm diameter 2,5 cm serta
terletak diatas permukaan anterior esophagus. Tuba ini berjalan dari laring sampai
kira-kira ketinggian vertebra torakalis kelima dan ditempat ini bercabang menjadi
dua bronkus. Trakea dilapisi selaput lendir yang terdiri dari epithelium bersilia
dan sel cangkir. Silia ini bergerak menuju atas ke arah laring. (Evelyn C. Pearce,
2011)
(b) Bronkus
Bronkus terbentuk dari belahan dua trakea pada ketinggian kira-kira vertebra
torakalis kelima mempunyai struktur serupa dengan trakea dan dilapisi oleh jenis
sel yang sama. Bronkus-bronkus itu berjalan kebawah dan kesamping ke arah
tampak paru-paru. (Evelyn C. Pearce, 2011)
(c) Bronkiolus

5
Bronkiolus adalah anak cabang dari batang tenggorok yang terdapat dalam rongga
tenggorokan dan akan memanjang sampai ke paru-paru. Jumlah cabang
bronkiolus yang menuju paru-paru kanan dan kiri tidak sama. Bronkiolus yang
menuju paru-paru kanan mempunyai 3 cabang, sedangkan bronkiolus yang
menuju paru-paru sebelah kiri hanya 2 cabang. Ciri khas bronkiolus adalah tidak
adanya tulang rawan dan kelenjar pada mukosanya, pada bagian awal dari cabang
bronkiolus hanya memiliki sebaran sel globet dan epitel. (Evelyn C. Pearce, 2011)
(d) Alveolus
Alveolus adalah struktur anatomi yang memiliki bentuk berongga. Terdapat pada
parenkim paru-paru, yang merupakan ujung dari saluran pernapasan. Ukurannya
bervariasi, tergantung lokasi anatomisnya, semakin negatif tekanan intrapleura di
apeks, ukuran alveolus akan semakin besar. Ada dua tipe sel epitel alveolus. Tipe I
berukuran besar, datar dan berbentuk skuamosa, bertanggungjawab untuk
pertukaran udara. Sedangkan tipe II, yaitu pneumosit granular, tidak ikut serta
dalam pertukaran udara. Sel-sel tipe II inilah yang memproduksi surfaktan, yang
melapisi alveolus dan memcegah kolapsnya alveolus. (Evelyn C. Pearce, 2011)

(e) Paru-paru
Paru-paru merupakan alat pernapasan utama. Paru-paru mengisi rongga dada.
Terletak disebelah kanan dan kiri dan di tengah dipisahkan oleh jantung beserta
pembuluh darah besarnya dan struktur lainnya yang terletak didalam mediastrum.
Paru-paru adalah organ yang berbentuk kerucut dengan apeks (puncak) di atas dan
muncul sedikit lebih tinggi dari klavikula didalam dasar leher. Pangkal paru-paru
duduk diatas landai rongga toraks, diatas diafragma. Paru-paru mempunyai
permukaan luar yang menyentuh iga-iga, permukaan dalam yang memuat tumpuk
paru-paru, sisi belakang menyentuh tulang belakang, dan sisi depan menutupi
sebagian sisi depan jantung. (Evelyn C. Pearce, 2011)
b. Fisiologi system pernafasan
1) System pernafasan bawah
(a) Rongga hidung
Udara dari luar akan masuk lewat rongga hidung (cavum nasalis). Rongga hidung
berlapis selaput lendir, di dalamnya terdapat kelenjar minyak (kelenjar sebasea)
dan kelenjar keringat (kelenjar sudorifera). Selaput lendir berfungsi menangkap
benda asing yang masuk lewat saluran pernapasan. Selain itu, terdapat juga

6
rambut pendek dan tebal yang berfungsi menyaring partikel kotoran yang masuk
bersama udara. Juga terdapat konka yang mempunyai banyak kapiler darah yang
berfungsi menghangatkan udara yang masuk.
Di dalam rongga hidung terjadi penyesuaian suhu dan kelembapan udara sehingga
udara yang masuk ke paru-paru tidak terlalu kering ataupun terlalu lembap. Udara
bebas tidak hanya mengandung oksigen saja, namun juga gas-gas yang lain.
Misalnya, karbon dioksida (CO2), belerang (S), dan nitrogen (N2). Selain sebagai
organ pernapasan, hidung juga merupakan indra pembau yang sangat sensitif.
Dengan kemampuan tersebut, manusia dapat terhindar dari menghirup gas-gas
yang beracun atau berbau busuk yang mungkin mengandung bakteri dan bahan
penyakit lainnya. Dari rongga hidung, udara selanjutnya akan mengalir ke faring.
(Syaifuddin, 2011)

(b) Faring
Pada bagian belakang faring (posterior) terdapat laring (tekak) tempat terletaknya
pita suara (pita vocalis). Masuknya udara melalui faring akan menyebabkan pita
suara bergetar dan terdengar sebagai suara. Faring juga berfungsi untuk
menyediakan saluran pada traktus respiratorius dan digestif. (Syaifuddin, 2011)
(c) Laring
Laring adalah saluran pernapasan yang membawa udara menuju ke trakea Fungsi
utama laring adalah untuk melindungi saluran pernapasan dibawahnya dengan
cara menutup secara cepat pada stimulasi mekanik, sehingga mencegah masuknya
benda asing ke dalam saluran napas. Laring mengandung pita suara (vocal cord).
(Syaifuddin, 2011)
2) System pernafasan bawah
(a) Trakea
Trakea dilapisi selaput lendir yang terdiri dari epithelium bersilia dan sel cangkir.
Silia ini bergerak menuju atas ke arah laring. maka dengan gerakan ini debu-debu
dan butir-butirhalus lainnya yang turu masuk bersama dengan pernapasan dapat
dikeluarkan. (Evelyn C. Pearce, 2011)
(b) Bronkus
Bronkus adalah kaliber jalan udara pada sistem pernapasan yang membawa udara
ke paru-paru. Tidak terdapat pertukaran udara yang terjadi pada bagian paru-paru
ini. (Syaifuddin, 2011)
(c) Bronkiolus

7
Bronkiolus mengadung kelenjar submukosa yang memproduksi lendir yang
membentuk selimut tidak terputus untuk melapisi bagian dalam jalan napas.
(Evelyn C. Pearce, 2011)
(d) Alveolus
kedua sisi dari alveolus merupakan tempat pertukaran udara dengan darah.
Membran alveolaris adalah permukaan tempat terjadinya pertukaran gas. Darah
yang kaya karbondioksida dipompa dari seluruh tubuh ke dalam pembuluh darah
alveolaris, dimana, melalui difusi, ia melepaskan karbon dioksida dan menyerap
oksigen. (Syaifuddin, 2011)
(e) Paru-paru
Fungsi paru-paru adalah pertukaran gas oksigen dan karbon dioksida. Pada
pernapasan melaluai paru-paru atau pernapasan eksterna, oksigen dipungut
melalui hidung dan mulut pada waktu bernapas; oksigen masuk melalui trakea
dan pipa bronkhial ke alveoli, dan dapat berhubungan erat dengan darah di dalam
kapiler pulmonaris.
Hanya satu lapis membran, yaitu membran alveoli-kapiler, yang memisahkan
oksigen dari darah. Oksigen menembus membran ini dan dipungut oleh
hemoglobin sel darah merah dan dibawah kejantung. Dari sini dipompa ke dalam
arteri ke semua bagian tubuh.
Di dalam paru-paru, salah satu hasil buangan metabolisme, menembus membran
alveoler-kapiler dari kapiler darah ke alveoli, dan setelah melalui pipa bronkial
dan trakea, dinapaskan keluar melalui hidung dan mulut.
(Evelyn C. Pearce, 2011)
2. Pengertian Tuberculosis Paru
Tuberculosis (TB) adalah suatu penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh M.
tuberculosis. Sebagian besar infeksi TB menyebar lewat udara, melalui
terhirupnya nucleus droplet yang berisikan organisme basil tuberkel dari seorang
yang terinfeksi. (Sylfia A. price &Lorraine M. Willson,2012)
Tuberculosis paru adalah penyakit radang parenkim paru karena infeksi
kuman Mycobacterium tuberculosis. Tuberculosis paru termasuk suatu
pneumonia, yaitu pneumonia yang disebabkan oleh M. tuberculosis. (Dr.
R.Darmanto D, 2009)
3. Etiologi

8
a. Agen infeksius utama, Mycobacterium tuberculosis adalah bakteri aerobic
tahan asam yang tumbuh dengan lambat dan sensitif terhadap panas dan sinar
ultraviolet. (Andra S.F & Yessie M.P, 2012)
b. Mycobacterium tuberculosis adalah bakteri penyebab terjadinya penyakit
tuberculosis. (Sholeh S.Naga,2014)

5. Patofisiologi
Basil tuberkel yang mencapai permukaan alveolus biasanya diinhalasi sebagai unit
yang terdiri dari satu sampai tiga basil. Gumpalan basil yang lebih besar
cenderung bertahan di saluran hidung dan cabang besar bronkus dan tidak
menyebabkan penyakit. Setelah berada dalam ruang alveolus, biasanya dibagian
bawah lobus atas paru atau dibagian atas lobus bawah, basil tuberkel ini
membangkitkan reaksi peradangan. Leukosit polimorfunuklear tampak pada
tempat tersebut. Sesudah sehari-hari pertama, leukosit diganti oleh makrofag.
Alveoli yang terserang akan mengalami konsolidasi, dan timbul peneumonia akut.
Pneumonia selulur ini dapat sembuh dengan sendirinya, sehingga tidak ada sisa
yang tertinggal, atau proses dapat berjalan terus, dan bakteri terus difagosit atau
berkembang biak di dalam sel. Basil juga menyebar melalui getah bening menuju
ke getah bening regional. Makrofag yang mengadakan infiltrasi menjadi lebih
panjang dan sebagaian bersatu sehingga membentuk sel tuberkel epiteloid, yang
dikelilingi oleh limfosit. Reaksi ini biasanya membutuhkan waktu sampai 10-12
hari.
Lesi primer paru disebut focus ghon dan gabungan terserangnya kelenjar
getah bening regional dan lesi primer disebut kompleks ghon. Kompleks ghon
yang mengalami perkapuran ini dapat dilihat pada orang sehat yang kebetulan
menjalani pemeriksaan radiogram rutin. Namun, kebanyakan infeksi TB paru
tidak terlihat secara klinis atau dengan radiografi.
Respons lain yang dapat terjadi pada daerah nekrosis adalah pencairan,
yaitu bahan cair lepas ke dalam bronkus yang berhubungan dan menimbulkan
kavitas. Bahan tubercular yang dilepaskan dari didinding kavitas akan masuk
kedalam percabangan trakeobronkial. Proses ini dapat berulang kembali di bagian
lain dari paru, atau basil dapat terbawa sampai ke laring, telinga tengah atau usus.

9
Walaupun tanpa pengobatan, kavitas yang kecil dapat menutup dan
meninggalkan jaringan parut fibrosis. Bila, peradangan mereda, lumen bronkus
dapat menyempit dan menutup oleh jaringan parut yang terdapat dekat dengan
taut bronkus dan rongga. Bahan perkijuan dapat mengental dan tidak dapat
mengalir melalaui saluran penghubung, sehingga kavitas penuh dengan bahan
perkijuan, dan lesi mirip dengan lesi berkapsul yang tidak terlepas. Keadaan ini
tidak dapat menimbulkan gejala dalam waktu lama atau membentuk lagi
hubungan dengan bronkus dan menjadi tempat peradangan aktif.
Penyakit dapat menyebar melalui getah bening atau pembuluh darah.
Organisme yang lolos dari kelenjar getah bening akan mencapai aliran darah
dalam jumlah kecil, yang kadang-kandang dapat menimbulkan lesi pada berbagai
organ lain. Jenis penyebaran ini dikenal sebagai penyebaran limfahematogen,
yang biasanya sembuh sendiri. Penyebaran hematogen merupakan suatu fenomena
akut yang biasanya meyebabkan TB milier, ini terjadi apabila fokus nekrotik
merusak pembuluh darah sehingga banyak organisme masuk kedalam sistem
vaskuler dan tersebar ke organ-organ tubuh.
(Sylfia & Lorraine,2012)
6. Manifestasi Klinik
Terdapat beberapa pendapat tentang manifestasi klinik dari Tuberculosis paru
yaitu:
a. Menurut Zulkifli Amin & Asril Bahar, 2009 keluhan yang dirasakan pasien
tuberculosis dapat bermacam-macam atau malah banyak pasien ditemukan TB
paru tanpa keluhan sama sekali dalam pemeriksaan kesehatan. Keluhan yang
terbanyak adalah :
1) Demam
Biasanya subfebril menyerupai demam influenza. Tetapi kadang-kadang panas
badan dapat mencapai 40-41oC. Serangan demam pertama dapat sembuh
sebentar, tetapi kemudian dapat timbul kembali. Begitulah seterusnya hilang
timbulnya demam influenza ini, sehingga pasien merasa tidak pernah terbebas dari
serangan demam influenza. Keadaan ini sangat dipengaruhi oleh daya tahan tubuh
pasien dan berat ringannya infeksi tuberculosis yang masuk.
2) Batuk/batuk berdarah
Batuk ini terjadi karena ada iritasi pada bronkus. Batuk ini diperlukan untuk
membuang produk-produk radang keluar. Karena terlibatnya bronkus pada setiap

10
penyakit tidak sama. Mungkin saja batuk baru ada setelah penyakit berkembang
dalam jaringan paru yakni setelah berminggu-minggu atau berbulan-bulan
peradangan bermula. Sifat batuk ini dimulai dari batuk kering (non-produktif)
kemudian setelah timbul peradangan menjadi produktif (menghsilkan sputum).
Keadaan yang lanjut adalah berupa batuk darah karena terdapat pembuluh darah
yang pecah. Kebanyakan batuk darah pada tuberculosis pada kavitas, tetapi dapat
juga terjadi pada ulkus dinding bronkus.
3) Sesak napas
Pada penyakit yang ringan (baru kambuh) belum dirasakan sesak napas. Sesak
napas akan ditemukan pada penyakit yang sudah lanjut yang infiltrasinya sudah
meliputi setengah bagian paru-paru.
4) Nyeri dada
Gejala ini agak jarang ditemukan. Nyeri dada timbul bila infiltrasi radang sudah
samapi ke pleura sehingga menimbulkan pleuritis. Terjadi gesekan kedua pleura
sewaktu pasien menarik melepaskan napasnya.
5) Malaise
Penyakit tuberculosis bersifat radang yang radang menahun. Gejala malaise sering
ditemukan berupa anoreksia tidak ada nafsu makan, badan makin kurus (berat
badan turun), sakit kepala, meriang, nyeri otot, keringat malam, dll. Gejala
malaise ini makin lama makin berat dan terjadi hilang timbul secara tidak teratur.
b. Menurut Andra S.F & Yessie M.P, 2012 gambran klinik Tb paru dapat
digolongkan menjadi 2 golongan, gejala respiratorik dan gejala sistematik
Gejala respiratorik :
1) Batuk
Gejala batuk timbul paling dini dan merupakan gangguan yang paling sering
dikeluhkan. Mula-mula bersifat non-produktif kemudian berdahak bahkan
bercampur darah bila sudah ada kerusakan jaringan.
2) Batuk berdarah
Darah yang dikeluarkan dalam dahak bervariasi, mungkin tampak berupa garis
bercak-bercak darah, gumpalan darah atau darah segar dalam jumlah yang sangat
banyak. Batuk darah terjadi karena pecahhya pembuluh darah. Berat ringannya
batuk darah tergantung dari besar kecilnya pembuluh darah yang pecah.

3) Sesak napas
Gejala ini ditemukan bila kerusakan parenkim paru sudah luas atau ada karena
hal-hal yang menyertai seperti efusi pleura, pneumotorax, anemia dan lain-lain.

11
4) Nyeri dada
Nyeri dada pada TB paru termasuk nyeri preulitik yang ringan. Gejala ini timbul
apabila system persarafan di pleura terkena.
7. Test Diagnostic
Test diagnostic menurut Andra S.F & Yessie M.P, 2012
JENIS PEMERIKSAAN
INTERPRETASI HASIL
1) Sputum
a. Kultur
b. Ziehl-Neelsen
2) Tes Kulit (PPD, Mantoux, Vollmer)
3) Foto Thorax
4) Histology atau kultur jaringan (termasuk bilasan lambung, urin, cairan
serebrospinal, biopsy kulit)
5) Biopsy jarum pada jaringan paru
6) Darah:
a. LED
b. Limfosit
c. Elektrolit
d. Analisa Gas Darah
7) Tes Faal Paru
Mycobacterium tuberculosis positif pada tahap aktif, penting untuk menetapkan
dignosa pasti dan menetukan uji kepekaan terhadap obat.
BTA positif.
Reaksi posistif (area indurasi 10 mm atau lebih) menunjukkan infeksi masa lalu
dan adanya antibody tetapi tidak berarti untuk menunjukkan keaktivan penyakit.
Dapat menunjukkan infiltrasi lesi awal area paru, simpanan kalsium lesi sembuh
primer, efusi cairan, akumulasi udara, area cavitas, area fibrosa dan penyimpangan
struktur mediastinal.
Hasil positif dapat menunjukkan serangan ekstrapulmonal
Positif untuk granuloma TB, adanya giant cell menunjukkan nekrosis Indicator
stabilitas biologic penderita, respon terhadap pongobatan dan prediksi tingkat
penyembuhan. Sering meningkat pada proses aktif. Menggambarkan status
imunitas penderita (normal atau supresi) Hiponatremia dapat terjadi akibat retensi
cairan pada TB paru kronis luas. Hasil bervariasi tergantung lokasi dan beratnya
kerusakan paru.
Penurunan kapitas vital, peningkatan ruang mati, peningkatan rasio udara residu
dan kapitas paru total, penurunan saturasi oksigen sebagai akibat dari infiltrasi
parenkim/fibrosis, kehilangan jaringan paru dan penyakit pleural.

12
8. Penatalaksanaan Medic
Menurut Dr. Taufan Nugroho, 2011 ada beberapa pentalaksanaan medic TBC
yaitu:
Kriteria diagnosa :
a. Batuk > 4 minggu, batuk berdahak, nyeri dada
b. Demam, malaise, kadang terdapat gejala flu
c. Keringat malam, nafsu makan kurang, BB kurang, sesak nafas
Klasifikasi :
a. TB tersangka : gejala klinis adalah ronsens sesuai TB, BTA
b. TB paru : gejala klinis dan ronsens sesuai TB, BTA 2 kali berturut-turut
+/biakan positif
c. Bekas TB : BTA -, ronsens lesi sisa (fibrosis, klasifikasi, penebalan
pleura)
Pemeriksaan penunjang
a. Ronsens torak
b. BTA 3 kali biakan
c. LED meningkat, hitung jenis limfosit meningkat
Terapi
a. Perbaiki gizi
b. Pankes
c. OAT
Penyulit
a. Hemoptisis masif
b. Penyebaran milier
c. Efusi pleura/empisema
d. Pneumotorak
Lama rawatan : tergantung penyulit
9. Komplikasi
Penyakit tuberkulosis apabila tidak ditangani dengan benar akan menimbulkan
komplikasi. Komplikasi dibagi atas komplikasi dini dan komplikasi lanjut.
a. Komplikasi dini : Pleuritis, efusi pleura, empiema, laryngitis, usus, poncets
arthopathy
b. Komplikasi lanjut: Obstruksi jalan nafas,kerusakan parenkim berat
->fibrosis paru, kuch pulmonal, amiloidosis, karsinoma paru, sidrom gagal nafas
dewasa (ARDS) sering terjadi pada TB milier dan kavitas TB. (Zulkifli Amin &
Asril Bahar, 2009)
10. Pencegahan
Menurut Sholeh S. Naga, 2014 banyak hal yang bisa dilakukan mencegah
terjangkitnya TBC paru. Pencegahan-pencegahan berikut dapat dikerjakan oleh
penderita, masyarakat, maupun petugas kesehatan:

13
a. Bagi penderita : pencegahan penularan dapat dilakukan dengan menutup
mulut saat batuk, dan membuang dahak tidak sembarang tempat.
b. Bagi masyarakat : pencegahan penularan dapat dilakukan dengan
meningkatkan ketahanan terhdap bayi, yaitu dengan memberikan vaksinasi BCG.
c. Bagi petugas kesehatan : pencegahan dapat diakukan dengan memberikan
penyuluhan tentang penyakit TBC, yang meliputi gejala, bahaya, dan akibat yang
ditimbulkannya terhadap kehidupan masyarakat pada umumnya.
d. Petugas kesehatan juga harus segera melakukan pengisolasian dan
pemeriksaan terhadap orang-orang yang terinfeksi, atau dengan memberikan
pengobatan khusus kepada penderita TBC ini.
e. Pencegahan penularan juga dapat dicegah dengan melaksanakan desinfeksi
seperti cuci tangan, kebersihan rumah yang ketat, perhatian khusus terhadap
muntahan atau ludah anggota keluarga yang terjangkit penyakit ini (piring, tempat
tidur, pakaian), dan menyediakan ventilasi rumah dan sinar matahari yang cukup.
f. Melakukan imunisasi orang-orang yang melakukan kontak langsung dengan
penderita, seperti keluarga, perawat, dokter, petugas kesehatan, dan orang lain
yang terindikasi, dengan vaksin BCG dan tindak lanjut bagi yang positif tertular.
g. Melakukan penyelidikan terhadap orang-orang kontak. Perlu dilakukan Tes
Tuberkulin bagi seluruh anggota keluarga. Apabila cara ini menunjukkan hasil
negative, perlu diulang pemeriksaan tiap bulan selama 3 bulan dan perlu
penyelidikan intensif.
11. Pengobatan
Pengobatan Tuberkulosisi paru menggunakan Obat Anti Tuberculosis (OAT)
dengan metode Directly Observed Treatment Shortcourse (DOTS).
a. Kategeori I (2 HRZE/4 H3R3) untuk pasien TBC baru
b. Kategori II ( 2 HRZES/HRZE/5 H3R3E3) utuk pasien ulangan (pasien yang
pengobatan kategori I-nya gagal atau pasien yang kambuh)
c. Kategori III (2 HRZ/4 H3R3) untuk pasien baru dengan BTA (-), Ro (+)
d. Sisipan (HRZE) digunakan sebagai tambahan bila pada pemeriksaan akhir
tahap intensif dari pengobatan dengan kategori I atau kategori II ditemukan BTA
(+)
Obat diminum sekaligus 1 jam sebelum makan pagi.
Kategori I
a. Tahap permulaan diberikan setiap hari selama 2 bulan (2 HRZE):
1) INH (H) : 300 mg 1 tablet
2) Rimfampisin (R) : 450 mg 1 kaplet
3) Pirazinamid (Z) : 1500 mg 3 kaplet @500 mg

14
4) Etambutol (E) : 750 mg 3 kaplet @250 mg
Obat tersebut diminun setiap hari secara intensif sebanyak 60 kali. Regimen ini
disebut kombipak II
b. Tahap lanjutan diberikan 3 kali dalam seminggu selama 4 bulan (4 H3R3):
1) INH (H) : 600 mg 2 tablet @ 300 mg
2) Rimfampisin (R) : 450 mg 1 kaplet
Obat diminum 3 kali dalam seminggu (intermiten) sebanyak 54 kali. Regimen ini
disebut kombipak III. (Widoyono, 2011)
II. Konsep Asuhan Keperawatan
Konsep keperawatan Tuberkulosis paru menurut Arif Muttaqin, 2009 meliputi :
1. Pengkajian
a. Anamnesis
1) Keluhan utama
Keluhan yang sering menyebabkan klien dengan TB paru meminta pertolongan
pada tenaga medis dibagi menjadi 2 keluhan yaitu :
(a) Batuk
Keluhan batuk timbul paling awal dan paling sering dikeluhkan, apakah batuk
besifat produktif/nonproduktif, sputum bercampur darah
(b) Batuk darah
Seberapa banyak darah yang keluar atau hanya blood streak, berupa garis, atau
bercak-bercak darah

(c) Sesak napas


Keluhan ini ditemukan bila kerusakan parenkim paru sudah luas atau karena atau
ada hal-hal yang menyertai seperti efusi pleura, pneumotoraks, anemia dll
(d) Nyeri dada
Gejala ini timbul apabila system persarafan di pleural terkena Tb
2) Keluhan sistematis
(a) Demam
Keluhan ini sering dijumpai yang biasanya timbul pada soreh hari atau pada
malam hari mirip dengan influenza
(b) Keluhan sistematis lain
Keluhan yang timbul antra lain : keringat malam, anoreksia, penurunan berat
badan, dan malaise
b. Riwayat kesehatan
1) Riwayat kesehatan sekarang :
(a) Keadaan pernapasan (napas pendek)
(b) Nyeri dada
(c) Batuk, dan
(d) Sputum
2) Kesehatan dahulu :
Jenis gangguan kesehatan yang baru saja dialami, cedera, dan pembedahan

15
3) Kesehatan keluarga
Adakah anggota keluarga yang menderita empisema, asama, alergi, dan TB
c. Pemeriksaan fisik
1) Keadaan umum dan tanda-tanda vital
Hasil pemeriksaan tanda-tanda vital klien biasanya didapatakan peningkatan suhu
tubuh secara signifikan, frekuensi napas meningkat disertai sesak napas, denyut
madi meningkat seirama dengan peningkatan suhu tubuh dan frekuensi
pernapasan, dan tekanan darah biasanya sesuai dengan adanya penyakit penyulit
seperti hipertensi
2) Breathing
Inspeksi :
(a) Bentuk dada dan gerakan pernapasan
Klien dengan Tb paru biasanya terlihat kurus sehingga pada bentuk dada terlihat
adanya penurunan proporsi anterior-posterior bading prosprsi diameter lateral
(b) Batuk dan sputum
Batuk produktif disertai adanya peningkatan produksi secret dan sekresi sputum
yang purulen.

Palpasi :
Gerakan dinding toraks anterior/ekskrusi pernapasan. Tb paru tanpa komplikasi
pada saat dilakukan palpasi, gerakan dada biasanya normal dan seimbang bagian
kiri dan kanan. Adanya penurunan gerakan dinding pernapasan biasanya
ditemukan pada klien Tb paru dengan kerusakan parenkim paru yang luas.
Taktil fremitus
Adanya penurunan taktil fremitus pada klien TB paru biasanya ditemukan pada
klien yang disertai komplikasi efusi pleural massif, sehingga hantaran suara
menurun.
Perkusi :
Pada klien Tb paru tanpa komplikasi biasanya ditemukan resonan atau sonor pada
seluruh lapang paru. Pada klien dengan komplikasi efusi pleura didapatakn bunyi
redup sampai pekak pada sisi yang sakit sesuai dengan akumulasi cairan.
Aukultasi :
Pada klien Tb paru bunyi nafas tambahan ronki pada sisi yang sakit.
3) Brain
Kesadaran biasanya composmentis, ditemukan adanya sianosis perifer apabila
gangguan perfusi jaringan berat. Pengkajian objekif, klien tampak wajah meringis,

16
menangis, merintih. Pada saat dilakukan pengakajian pada mata, biasanya
didapatakan konjungtiva anemis pada Tb paru yang hemaptu, dan ikterik pada
pasien Tb paru dengan gangguan fungsi hati.
4) Bledder
Pengukuran volume output urin berhubungan dengan intake cairan. Memonitor
adanya oliguria karena hal tersebut merupakan tanda awal syok.
5) Bowel
Klien biasanya mengalami mual, muntah, penurunan nafsu makan, dan penurunan
berat badan
6) Bone
Aktivitas sehari-hari berkurang banyak pada klien Tb paru. Gejala yang muncul
antara lain kelemahan, kelelahan, insomnia, pola hidup menetap

3. Dignosa keperawatan
a. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas b.d sekresi mucus yang kental,
hemoptisis, kelemahan, upaya batuk buruk, edema tracheal/faringeal.
b. Ketidakefektifan pola pernapasan b.d menurunnya ekspansi paru sekunder
terhadap penumpukan cairan dalam rongga pleura
c. Resiko tinggi gangguan pertukaran gas b.d penurunan jaringan efekif
paru, atelaktasis, kerusakan membrane alveolar kapiler, dan edema
bronchial
d. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d keletihan, anoreksia,
dan atau dipsnea, dan peningkatan metabolisme tubuh
e. Kurang informasi dan pengetahuan mengenal kondisi, aturan pengobatan,
proses penyakit dan penatalaksanaan perawatan dirumah
f. Cemas b.d adanya ancaman kematian yang dibayangkan (ketidakmampuan
untuk bernapas) dan prognosis penyakit yang belum jelas.

4. Intervensi keperawatan

DX I : Ketidakefektifan bersihan jalan nafas b.d sekresi mucus yang kental,

hemoptisis, kelemahan, upaya batuk buruk, edema tracheal/faringeal.

Tujuan : bersihan jalan nafas kembali menjadi efektif

Kretieria evaluasi :

a. Klien mampu melakukan batuk efektif

17
b. Pernapasan klien normal (16-20x/menit) tanpa ada penggunaan otot bantu

nafas, bunyi nafas normal dan pergerakan pernapasan normal

INTERVENSI RASIONAL
Mandiri a. Penurunan bunyi nafas

a. Kaji fungsi pernapasan (bunyi menunjukkan atelaktasis, ronkhi

nafas, kecepatan, irama, kedalaman, dan menunjukkan akumulasi secret dan

penggunaan otot bantu pernapasan) ketidakefekifan pengeluaran secret

yang selanjutnya menimbulkan

penggunaan otot bantu nafas dan

peningkatan kerja pernapasan.


b. Pengeluaran akan sulit bila secret

b. Kaji kemampuan mengeluarkan kental (efek infeksi dan hidrasi yang

secret, catat karakter, warna sputum, tidak adekuat). Sputum berdarah bila

adanya hemoptisis ada kerusakan kavitas paru atau luka

bronchial dan memerlukan intervensi

lebih lanjut.
c. Posisi fowler memaksimalkan

c. Berikan posisi fowler/ semi fowler ekspansi paru dan menurunkan upaya

dan bantu klien berlatih napas dalam napas. Ventilasi maksimal membuka

dan batuk efektif area atelaktasis dan meningkatkan

gerakan secret ke jalan napas besar

untuk di keluarkan.
d. Hidrasi yang adekuat membantu

d. Pertahankan volume cairan mengencerkan secret dan

18
sedikitnya 2500 ml/ hari anjurkan mengefektifkan jalan napas.

minum dalam kondisi hangat jika tidak e. Mencegah obstrukasi dan

ada kontraindikasi aspirasi. Pengisapan diperlukan bila


e. Bersihkan secret dari mulut dan
klien tidak mampu mengeluarkan
trakea bila perlu lakukan pengisapan
secret.
(suction)

Kalaborasi Pemberian obat sesuai f. Pengobatan tuberculosis terbagi

indikasi : menjadi 2 fase, yaitu fase intensif (2-

f. OAT 3 bulan) dan fase lanjutan (4-7

bulan). Paduan obat yang digunakan

terdiri atas obat utama yang


g. Agen mukolitik
digunakan sesuai dengan

rekomendasi WHO adalah

rifampisin, INH, pirazinamide,

streptomycin, dan etambutol


h. Bronkodilator g. Agen mukolitik menurunkan

kekentalan dan perlengketan secret

paru untuk memudahkan

pembersihan
i. Kortikosteroid h. Bronkodilator meningkatkan

diameter lumen percabangan

trakheobronkhial sehingga

menurunkan tahanan terhadap aliran

udara.
i. Kortikosteroid berguna dalam

19
keterlibatan luas hipoksemia dan bila

reaksi inflamasi mengancam

kehidupan.
Table 2.2 : Intervensi diagnosa keperawatan 1

Dx II : Ketidakefektifan pola pernapasan b.d menurunnya ekspansi paru

sekunder terhadap penumpukan cairan dalam rongga pleura

Tujuan : pola napas kembali efekif

Kreteria evaluasi :

a. Klien mampu melakukan batuk efektif


b. Irama, frekuensi, dan kedalaman pernapasan berada dalam batas normal, pada

pemeriksaan rontgen dada tidak ditemukan adanya akumulasi cairan, dan bunyi

napas terdengar jelas.

RENCANA INTERVENSI RASIONAL


a. Identifikasi factor penyebab a. Dengan mengidentifikasikan

penyebab, kita dapat menentukan jenis

b. Kaji fungsi pernapasan, catat efusi pleura sehingga dapat mengambil

kecepatan pernapasan, dispnea, tindakan yang tepat


b. Distress pernapasan dan perubahan
sianosis, dan perubahan tanda vital
tanda vital dapat terjadi sebagai akibat

c. Berikan posisi semifowler/fowler stress fisiologi dan nyeri atau dapat

tinggi dan miring pada sisi yang sakit, menunjukkan terjadinya syok akibat

bantu klien napas dalam, dan batuk hipoksia


c. Posisi fowler memaksimalkan
efektif
ekspansi paru dan menurunkan upaya

bernapas. Ventilasi maksimal membuka

20
d. Auskultasi bunyi napas area atelaktasis dan meningkatkan

gerakan sekret ke jalan napas besar

untuk dikeluarkan
d. Bunyi napas dapat menurun/tidak
e. Kaji pengembangan dada dan
ada pada area kolaps yang meliputi satu
posisi trakea
lobus, segmen paru, atau seluruh area

paru
e. Ekspansi paru menurun pada area

f. Kalaborasi untuk tindakan kolaps. Deviasi trakea kearah sisi lain

torakosentesis atau kalau perlu WSD yang sehat pada tension pneumotoraks
g. Bila dipasanag WSD: periksa f. Bertujuan sebagai evakuasi caiaran

pengontrol penghisap dan jumlah atau udara dan memudahkan ekspansi

isapan yang benar paru secara maksimal


h. Periksa batas cairan pada botol g. Mempertahankan tekanan negative

penghisap dan perahankan pada batas intrapleural yang meningkatkan

yang ditentukan ekspansi paru optimum


h. Air dalam botol penampungan
i. Observasi gelembung udara dalam
berfungsi sebagai sekat yang mencegah
botol penampungan
udara atmosfer masuk kedalam pleura
i. Gelembung udara selama ekspirasi

menunjukkan keluarnya udara dari

pleura sesuai dengan yang diharapkan.

Gelembung biasanya menurun seiring

dengan bertambahnya ekspansi paru.

Tidak adanya gelembung udara dapat

menunjukkan bahwa ekspansi paru

21
sudah optimal atau tersumbatnya selang

j. Setelah WSD di lepas, tutup sisi drainase


j. Deteksi dini terjadinya komplikasi
lubang masuk dengan kasa steril dan
penting seperti berulangnya
observasi tanda yang dapat
pneumotoraks
menunjukkan berulangnya

pneumotoraks seperti napas pendek,

keluhan nyeri
Tabel 3.2: Intervensi diagnosa keperawatan 2

Dx III :Resiko tinggi gangguan pertukaran gas b.d penurunan jaringan efekif

paru, atelaktasis, kerusakan membrane alveolar kapiler, dan edema bronchial

Tujuan : Gangguan pertukaran gas tidak terjadi.

Kretria evaluasi :
a. Melaporkan tidak adanya/penurunan dipsnea
b. Klien menunjukkan tidak ada distress pernapasan
c. Menunjukkan perubahan ventilasi dan kadar oksigen jaringan adekuat dengan

gas darah arteri dalam rentang normal

INTERVENSI RASIONAL
Mandiri

a. Kaji dispnea, takipnea, bunyi a. Tb paru mengakibatkan efek luas

napas, peningkatan upaya pernapasan, pada paru dari bagian kecil

ekspansi toraks, dan kelemahan bronkopneomunia sampai inflamasi

difus yang luas, nekrosis,efusi pleura,

b. Evaluasi perubahan tingkat dan fibrosis yang luas

22
kesadaran, catat sianosis dan b. Akumulasi secret dan

perubahan warna kulit, termasuk berkurangnnya jaringan paru yang sehat

membrane mukosa dan kuku dapat mengganggu oksigenasi organ


c. Tujukkan dan dukung pernapasan
vital dan jaringan tubuh
bibir selama ekspirasi khususnya c. Membuat tahanan yang melawan

untuk pasien dengan fibrosis dan udara luar untuk mencegah

kerusakan parekim paru kolpas/penyempitan jalan napas

sehingga membantu penyebaran udara

melalui paru dan mengurangi napas

d. Tingkatkan tirah baring, batasi pendek


d. Menurunkan konsumsi oksigen
aktivitas, dan bantu kebutuhan
selama periode penurunan pernapasan
perawatan sehari-hari sesuai keadaan
dan dapat menurunkan beratnya gejala
klien

Kalaborasi
e. Penurunan kadar O2 (PO2) dan
e. Pemeriksaan AGD
atau saturasi dan peningkatan PCO2

menunjukkan kebutuhan untuk

intervensi/perubahan program terapi


f. Terapi oksigen dapat mengoreksi

f. Pemberian oksigen sesuai hipoksemia terjadi akibat penurunan

kebutuhan tambahan ventilasi /menurunnya permukaan

alveolar paru
g. Kortikosteroid berguna dengan

keterlibatan luas pada hipoksemia dan


g. Kortikosteroid
bila reaksi inflamasi mengancam

23
kehidupan.
Table 4.2 : Intervensi diagnosa keperawatan 3

Dx IV :Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d keletihan, anoreksia,

dan atau dipsnea, dan peningkatan metabolisme tubuh


Tujuan : intake nutrisi klien terpenuhi
kriteria evaluasi :
a. Klien dapat mempertahankan status nutrisinya dari yang semula kurang

menjadi adekuat
b. Pernyataan motivasi kuat untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya

INTERVENSI RASIONAL
a. Kaji status nutrisi klien, turgor a. Memvalidasi dan menetapkan

kulit, berat badan, derajat penurunan derajat masalah untuk menetapkan

berat badan, integritas mukosa oral, pilihan intervensi yang tepat

kemampuan menelan, riwayat

mual/muntah, dan diare


b. Fasilitasi klien untuk memperoleh

diet biasa yang disukai klien (sesuai


b. Memperhitungkan keinginan
indikasi)
c. Pantau intake dan output, timbang individu dapat memperbaiki intake

berat badan secara periodic (sekali nutrisi


c. Berguna untuk mengukur kefektifan
seminggu)
d. Lakukan dan ajarkan perawatan intake nutrisi dan dukungan cairan

mulut sebelum dan sesudah makan

d. Menurunkan rasa tidak enak karena

sisa makanan, sisa sputum, atau obat

pada pengobatan sistem pernapasan

24
e. Kalaborasi dengan ahli gizi untuk yang dapat merangsang pusat muntah
e. Merencanakan diet dengan
menetapkan komposisi dan jenis diet
kandungan gizi yang cukup untuk
yang tepat
memenuhi peningkatan kebutuhan

energy dan kalori sehubungan dengan

status hipermetabolik klien


f. Kalaborasi untuk pemeriksaan f. Menilai kemajuan terapi diet dan

laboratorium khususnya BUN, protein membantu perencanaan intervensi

serum dan albumin selanjutnya

Table 5.2: Intervensi keperawatan 4

Dx V : Kurang informasi dan pengetahuan mengenal kondisi, aturan pengobatan,

proses penyakit dan penatalaksanaan perawatan dirumah

Tujuan: klien mampu melaksanakan apa yang telah di informasikan

kriteria evaluasi :

Klien terlihat mengalami penurunan potensi menularkan penyakit

INTERVENSI RASIONAL
a. Kaji kemampuan klien untuk a. Keberhasilan proses pembelajaran

mengikuti pembelajaran (tingkat dipengaruhi oleh kesiapan fisik,

kecemasan, kelelahan umum, emosional, dan lingkungan yang

pengetahuan klien sebelumnya, dan kondusif

suasana yang tepat) b. Meningkatkan partisipasi klien


b. Jelasakan tentang dosis obat,
dalam program pengobatan dan
frekuensi pemberian, kerja yang
mencegah putus obat karena
diharapkan, dan alasan mengapa
membaiknya kondisi fisik klien
pengobatan TB berlangsung dalam

25
waktu yang lama sebelum jadwal terapi selesai
c. Ajarkan dan nilai kemampuan c. Dapat menunjukkan pengaktifan

klien untuk mengidentifikasi ulang proses penyakit dan efek obat

gejala/tanda reaktivasi penyakit yang memerlukan evaluasi lanjut

(hemoptisis, demam, nyeri dada,

kesulitan bernapas, kehilangan

pendengaran, dan vertigo) d. Diet TKTP dan cairan yang


d. Tekankan pentingnya
adekuat memenuhi peningkatan
mempertahankan intake nutrisi yang
kebutuhan metabolic tubuh. Pendidikan
mengandung protein dan kalori yang
kesehatan tentang hal ini akan
tinggi serta intake cairan yang cukup
meningkatkan kemandirian klien dalam
setiap hari.
perawatan penyakitnya
Table 6.2: Intervensi diagnosa keperawatan 5

Dx VI :Cemas b.d adanya ancaman kematian yang dibayangkan

(ketidakmampuan untuk bernapas) dan prognosis penyaki yang belum jelas.

Tujuan : klien mampu memahami dan menerima keadaaanya sehingga tidak

terjadi kecemasan

kriteria evaluasi :

Klien terlihat mampu bernapas secara normal dan mampu beradaptasi dengan

keadaannya sehingga tidak terjadi kecemasan.

INTERVENSI RASIONAL
a. Bantu dalam mengidentifikasi a. Pemanfaatan sumber koping yang

sumber koping yang ada ada secara konstruktif sangat

bermanfaat dalam mengatasi stress


b. Mengurangi ketegangan otot dan
b. Ajarkan teknik relaksasi

26
kecemasan
c. Hubungan saling percaya
c. Pertahankan hubungan saling
membantu memperlancar proses
percaya antara perawat dan klien
d. Kaji factor yang menyebabkan terapeutik
d. Tindakan yang tepat diperlukan
timbulnya rasa cemas
dalam mengatasi masalah yang

diahadapi klien dan membangun

kepercayaan dalam mengurangi

kecemasan
e. Bantu klien mengenali dan e. Rasa cemas merupakan efek emosi

mengakui rasa cemasnya sehingga apabila sudah teridentifikasi

dengan baik, maka perasaan yang

mengganggu dapat diketahui.


Table 7.2 : Intervensi diagnosa keperawatan 6

5. Implementasi keperawatan
Implementasi keperawatan merupakan langkah keempat dalam tahap
proses keperawatan dengan melaksanakan berbagai strategi keperawatan yang
telah direncanakan dalam intervensi keperawatan. Dalam tahap ini perawat harus
mengetahui berbagai hal diantaranya bahaya-bahaya fisik dan perlindungan pada
klien, teknik komunikasi, kemampuan dalam prosedur tindakan, pemahaman
tentang hak-hak dari pasien serta dalam memahami tingkat perkembangan pasien.
Dalam pelaksanaan tindakan keperawatan terdapat dua jenis tindakan yaitu
tindakan keperawatan mandiri atau yang dikenal dengan tindakan independent dan
tindakan kalaborasi atau dikenal dengan tindakan interdependent. Sebagai profesi,
perawat mempunyai kewenangan dan tanggung jawab dalam menentukan asuhan
keperawatan. (A. Aziz Alimul Hidayat, 2009)
6. Evaluasi

27
Evaluasi merupakan langkah terakhir dari proses keperawatan dengan cara
melakuakan identifikasi seajauh mana tujuan dari rencana keperawatan tercapai
atau tidak. Dalam melakukan evaluasi perawat seharusnya memiliki pengetahuan
dan kemampuan dalam memahami respon terhadap intervensi keperawatan,
kemampuan menggambarkan kesimpulan tentang tujuan yang ingin diacapai serta
kemampuan dalam menghubungkan tindakan keperawatan pada kriteria hasil. (A.
Aziz Alimul Hidayat, 2009)

DAFTAR PUSTAKA

Naga S. Sholeh 2014, Paduan Lengkap Ilmu Penyakit Dalam, Penerbit Diva
Press, yogyakarta
Andra F.S & Yessie M.P 2013, Keperawatan Medikal Bedah, Penerbit Nuha
Medika, Yogyakarta
Muttaqin Arif 2009. Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan Sistem
Pernafasan , Penerbit Salemba Medika, Jakarta.
A. Price Sylvia, M. Lorainne Wilson 2012, Patofisiologis: Konsep Klinis Proses-
Proses Penyakit, edisi ke 6, Penerbit Buku Kedokteran, EGC, Jakarta.
Aru Sudoyono W, Dkk 2009, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam edisi ke 5, Penerbit
Buku Kedokteran, Internal Publishing, Jakarta.
Dr.Widyono, 2011. Penyakit Tropis: epidemiologi, penularan, pencegahan &
Pemberantasannya, edisi ke 2, Penerbit Erlangga, Jakarta.
A. Alimul Aziz Hidayat, 2009. Pengantar Konsep Dasar Keperawatan, Penerbit
Salemba Madika, Jakarta.
Syaifuddin, 2011. Fisiologi Tubuh Manusia, Penerbit Salemba Medika, Jakarta.
C. Evelyn Pearce, 2011. Anatomi Fisiologi Tubuh Manusia Untuk Paramedis,
Penerbit Internal, Jakarta.

28
29