Anda di halaman 1dari 15

TUGAS MATA KULIAH MUTU KEBIDANAN

Peningkatan Kualitas Pendidikan dalam Meningkatkan Pelayanan Kesehatan


Primer

OLEH :
Kelompok 1
Aisha Hannifajrina Z P07124114001
Kartika Wijayanti P07124114014
Nurul Anisa P071241140
-

JURUSAN KEBIDANAN
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN
YOGYAKARTA
2016
A. Latar Belakang Terbentuknya Layanan Kesehatan Primer

Primary Health Care (PHC) diperkenalkan oleh World Health


Organization (WHO) sekitar tahun 70-an, dengan tujuan untuk
meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang
berkualitas. Di Indonesia, PHC memiliki 3 (tiga) strategi utama, yaitu
kerjasama multisektoral, partisipasi masyarakat, dan penerapan teknologi
yang sesuai dengan kebutuhan dengan pelaksanaan di masyarakat (dr.
Endang, Menkes saat membuka secara resmi the 14 Medical Association
of South East Asian Nation (MASEAN) Mid-term Meeting di Savoy
Homann, Bandung (17/06).

Menurut Deklarasi Alma Ata (1978) PHC adalah kontak pertama


individu, keluarga, atau masyarakat dengan sistem pelayanan. Pengertian
ini sesuai dengan definisi Sistem Kesehatan Nasional (SKN) tahun 2009,
yang menyatakan bahwa Upaya Kesehatan Primer adalah upaya kesehatan
dasar dimana terjadi kontak pertama perorangan atau masyarakat dengan
pelayanan kesehatan.

Pelayanan kesehatan primer menitikberatkan pada promosi dan


prevensi. Di mana kedua program tersebut dibuat dengan tujuan untuk
membantu masyarakat agar dapat mengakses pelayanan kesehatan dengan
mudah dan agar masyarakat mendapat pelayanan kesehatan dengan mudah
dan agar masyarakat mendapat pelayanan kesehatan yang berkualitas dan
setara bagi semua jenjang tanpa memandang status sosial ekonomi dan
semua hal tersebut diharapkan dapat terwujud lewat usaha pelayanan
kesehatan primer yang diselenggarakan untuk menunjang pelaksanaan
Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) dan Sistem Kesehatan Nasional
(SKN).

Dari fakta-fakta tersebut dapat kita ketahui bahwa Primary Health


Care di Indonesia memilki banyak tujuan yang ingin dicapai. Namun,
seiring dengan perkembangan zaman yang mulai bertransformasi ke dunia
modern Primary Health Care negara Indonesia jauh tertinggal dari negara
lain, sedangkan menurut Undang undang No.17 Tahun 2007 tentang
Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJP-N), Tahun 2005-
2025 dinyatakan untuk mewujudkan bangsa yang berdaya saing,
pembangunan nasional diarahkan untuk mengedepankan pembangunan
Sumber Daya Manusia. (Rosdiana H R, 2014)

B. Primary Health Care Pelayanan kesehatan primer


Pelayanan kesehatan primer adalah pelayanan kesehatan
berdasarkan bukti ilmiah dan dapat diterima masyarakat serta dapat
diakses atau dijangkau oleh komunitas melalui partisipasi penuh
masyarakat dengan harga yang terjangkau dan bertujuan untuk ketahanan
dan kemandirian.
Primary Health Care atau pelayanan kesehatan primer adalah
pelayanan kesehatan yang diterima di masyarakat, biasanya dari dokter
keluarga, komunitas perawat, staf di klinik lokal atau profesional
kesehatan lainnya. Ini harus dapat diakses secara universal bagi individu
dan keluarga dengan cara yang dapat diterima bagi mereka, dengan
partisipasi penuh dan dengan biaya yang masyarakat dan negara mampu.
Primary Health Care ( PHC ) adalah pelayanan kesehatan pokok
yang berdasarkan kepada metode dan teknologi praktis, ilmiah dan sosial
yang dapat diterima secara umum baik oleh individu maupun keluarga
dalam masyarakat melalui partisipasi mereka sepenuhnya, serta dengan
biaya yang dapat terjangkau oleh masyarakat dan negara untuk
memelihara setiap tingkat perkembangan mereka dalam semangat untuk
hidup mandiri (self reliance) dan menentukan nasib sendiri (self
determination).

Prinsip dasar :
1. pemerataan pelayanan kesehatan
2. peran serta masyarakat
3. pengembangan SDM masyarakat
4. penggunaan teknologi tepat guna
5. pendekatan multi sektor (WHO, 1978 dalam Rosdiana H R, 2014)

Setiap hari dan dari hari ke hari, setiap individu, keluarga dan
kelompok masyarakat semakin tergantung pada pelayanan kesehatan dasar yang
semakin kompleks. Pelayanan kesehatan dasar harus terselenggara atau tersedia
untuk menjamin hak azasi semua orang untuk hidup sehat. Penyelenggaraan atau
penyediaan pelayanan kesehatan dasar ini harus secara nyata menunjukkan
keberpihakannya kepada kelompok masyarakat risiko tinggi termasuk didalamnya
kelompok masyarakat miskin. Bahkan lebih jauh lagi, ruang lingkup pelayanan
kesehatan dasar tersebut harus mencakup setiap upaya kesehatan yang menjadi
komitmen komunitas global, regional, nasional maupun lokal. (Menkes)

C. Peran Keberhasilan Pelayanan Kesehatan Primer


Keberhasilan Pelayanan Kesehatan Primer akan mendukung pelaksanaan
Jaminan Kesehatan Nasional, dimana akan mengurangi jumlah pasien yang di
rujuk dan juga diharapkan dapat mengurangi biaya pelayanan kesehatan yang bersifat
kuratif . Pelaksanaan pelayanan kesehatan primer di daerah yang baik akan mendukung
Pembangunan Kesehatan Nasional. Tantangan strategis yang dihadapi pada
pelaksanaan Pelayanan Kesehatan Primer, antara lain :
Keterbatasan kualitas dan kuantitas SDM
Akses jangkauan dan disparitas
Fokus Pelayanan Kesehatan Primer pada kuratif
Sarana, prasarana, dan alat kesehatan

Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasyankes Primer


(Permenkes No.5/2014) menetapkan standar pelayanan di fasilitas
kesehatan primer. Setiap dokter yang bertugas di Fasilitas Pelayanan
Kesehatan Primer diharapkan dapat menguasai 155 jenis penyakit, dan
dokter juga diharapkan mampu mendiagnosa, melakukan penatalaksanaan
tuntas/sementara dan melakukan rujukan yang tepat sesuai indikasi. Penguatan
Pelayanan Kesehatan Primer dilakukan dengan cara :
1. Peningkatan akses 2.Peningkatan mutu
3. Regionalisasi rujukan
D. Pelayanan kesehatan tingkat pertama (primer)
Pelayanan yang lebih mengutamakan pelayanan yang bersifat dasar dan dilakukan
bersama masyarakat dan dimotori oleh:
a. Dokter Umum (Tenaga Medis)
b. Perawat Mantri (Tenaga Paramedis)
Pelayanan kesehatan primer (primary health care), atau pelayanan kesehatan
masyarakat adalah pelayanan kesehatan yang paling depan, yang pertama kali
diperlukan masyarakat pada saat mereka mengalami gangguan kesehatan atau
kecelakaan. Primary health care pada pokoknya ditunjukan kepada masyarakat
yang sebagian besarnya bermukim di pedesaan, serta masyarakat yang
berpenghasilan rendah di perkotaan. Pelayanan kesehatan ini sifatnya berobat
jalan (Ambulatory Services). Diperlukan untuk masyarakat yang sakit ringan dan
masyarakat yang sehat untuk meningkatkan kesehatan mereka atau promosi
kesehatan. Contoh : Puskesmas, Puskesmas keliling, klinik.

E. Peran Tenaga Kesehatan dalam memperkuat Pelayanan Kesehatan Primer


Layanan kesehatan di tingkat primer merupakan tulang punggung pelayanan
kesehatan di Indonesia terutama dalam era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
Saat ini, terdapat sebanyak 9599 Puskesmas tersebar di seluruh Nusantara dan
para tenaga kesehatan (Nakes) didalamnya memiliki peran penting dalam
tercapainya cita-cita pembangunan kesehatan.
Sistem pelayanan kesehatan di Indonesia digambarkan dalam piramid, yaitu
pelayanan primer, sekunder, dan tersier. Bahwa sebenarnya yang paling besar
peranannya adalah yang berada di posisi di bawah, yaitu pelayanan primer.
(Direktur Jenderal Bina Upaya Kesehatan, Prof. Dr. dr. Akmal Taher, Sp.U(K))

F. Pelayanan Kesehatan Primer di Indonesia


Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada
tahun 2007 menghasilkan berbagai peta masalah kesehatan, diantaranya:
Berdasarkan gabungan hasil pengukuran Gizi Buruk dan Gizi Kurang
menunjukkan bahwa sebanyak 19 provinsi mempunyai prevalensi Gizi
Buruk dan Gizi Kurang diatas prevalensi nasional sebesar 18,4%. Ini
berarti, target Rencana Pembangunan Jangka Menengah untuk pencapaian
program perbaikan gizi yang diproyeksikan sebesar 20%, dan target
Millenium Development Goals sebesar 18,5% pada 2015, telah dapat
dicapai pada 2007.
Di Indonesia, pelaksanaan Primary Health
Care secara umum dilaksanakan melaui pusat kesehatan dan di bawahnya
(termasuk sub-pusat kesehatan, pusat kesehatan berjalan) dan banyak
kegiatan berbasis kesehatan masyarakat seperti Rumah Bersalin Desa dan
Pelayanan Kesehatan Desa seperti Layanan Pos Terpadu (ISP atau
Posyandu).
Secara administratif, Indonesia terdiri dari 33
provinsi, 349 Kabupaten dan 91 Kotamadya, 5.263 Kecamatan dan 62.806
desa.
Untuk strategi ketiga, Kementerian Kesehatan saat ini memiliki salah satu
program yaitu saintifikasi jamu yang dimulai sejak tahun 2010 dan
bertujuan untuk meningkatkan akses dan keterjangkauan masyarakat
terhadap obat-obatan.
Program ini memungkinkan jamu yang
merupakan obat-obat herbal tradisional yang sudah lazim digunakan oleh
masyarakat Indonesia, dapat teregister dan memiliki izin edar sehingga
dapat diintegrasikan di dalam pelayanan kesehatan formal. Untuk
mencapai keberhasilan penyelenggaraan PHC bagi masyarakat, diperlukan
kerjasama baik lintas sektoral maupun regional, khususnya di kawasan
Asia Tenggara.
Dalam penerapannya ada beberapa masalah
yang terjadi di Indonesia. Permasalahan yang utama ialah bagaimana
primary health care belum dapat dijalankan sebagaimana semestinya. Oleh
karena itu, ada beberapa target yang seharusnya dilaksanakan dan dicapai
yaitu:
1. Memantapkan Kemenkes berguna untuk menguatkan dan
meningkatkan kualitas pelayanan dan mencegah kesalahpahaman
antara pusat keehatan dan masyarakat
2. Pusat Kesehatan yang bersahabat merupakan metode alernatif untuk
menerapkan paradigma sehat pada pelaksana pelayanan kesehatan.
3. Pelayanan kesehatan primer masih penting pemberdayaan masyarakat
dalam bidang kesehatan.
4. Pada era desentralisasi, variasi pelayanan kesehatan primer semakin
melebar dan semakin dekat pada budaya lokal.

G. Tantangan yang dihadapi dalam perkembangan kesehatan primer


Tantangan strategis yang dihadapi pada
pelaksanaan Pelayanan Kesehatan Primer, yaitu :

Keterbatasan kualitas dan kuantitas SDM


Upaya pemenuhan kebutuhan Sumber Daya
Manusia (SDM) Kesehatan belum memadai, baik jumlah, jenis,
maupun kualitas tenaga kesehatan yang dibutuhkan. Selain itu,
distribusi tenaga kesehatan masih belum merata. Jumlah dokter
Indonesia masih termasuk rendah, yaitu 19 per 100.000 penduduk bila
dibandingkan dengan negara lain di ASEAN, seperti Filipina 58 per
100.000 penduduk dan Malaysia 70 per 100.000 pada tahun 2007.
Masalah strategis SDM Kesehatan yang
dihadapi dewasa ini dan di masa depan adalah:
a) Pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan belum dapat
memenuhi kebutuhan SDM untuk pembangunan kesehatan;
b) Perencanaan kebijakan dan program SDM Kesehatan masih lemah dan
belum didukung sistem informasi SDM Kesehatan yang memadai;
c) Masih kurang serasinya antara kebutuhan dan pengadaan berbagai
jenis SDM Kesehatan. Kualitas hasil pendidikan SDM Kesehatan dan
pelatihan kesehatan pada umumnya masih belum memadai;
d) Dalam pendayagunaan SDM Kesehatan, pemerataan SDM Kesehatan
berkualitas masih kurang. Pengembangan karier, sistem penghargaan,
dan sanksi belum sebagaimana mestinya. Regulasi untuk mendukung
SDM Kesehatan masih terbatas;
e) Pembinaan dan pengawasan SDM Kesehatan serta dukungan sumber
daya SDM Kesehatan masih kurang.
Akses, jangkauan dan disparitas
Luasnya wilayah indonesia dengan disparitas yang sangat beragam
karena kondisi geografi dan iklim, memerlukan pola pendekatan
khusus sesuai kondisi wilayah
Fokus Pelayanan Kesehatan Primer pada kuratif
Pemahaman pelaksana maupun stake holder bahwa pelayanan
kesehatan primer adalah pelayanan kuartif mengakibatkan
terbatasnya pembiayaan dan kegiatan UKM
Sarana, prasarana, dan alat kesehatan
Keterbatasan pemenuhan sarana prasarana dan akses untuk
mendukung pelaksanaan pelayanan seringkali akibat kurangnya
pemahaman dan perencanaan daerah dalam menterjemahkan pola
pelayanan kesehatan

H. Pentinya Kualitas Pendidikan Untuk Peningkatan Pelayanan Kesehatan


Primer
Pendidikan merupakan salah satu pilar terpenting dalam
meningkatkan kualitas manusia, yang juga merupakan komponen
variabel dalam menghitung Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Oleh
karena itu pembangunan pendidikan menjadi hal yang berperan penting
terutama dalam menjadikan kualitas Sumber Daya Manusia yang baik,
sehingga dari faktor tersebut dapat mempengaruhi petugas atau tenaga
kesehatan yangmelayani menjadi lebih baik sengingga diharapkan
outcomenya adalah terjadinya peningkatan pelayanan kesehatan terutama
di Layanan Kesehatan Primer.
Dalam penerapannya juga diperlukan untu mampu menjamin
pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan
mutu serta relevansi dan efisiensi manajemen pendidikan untuk
menghadapi tantangan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan
di masa depan. (Anonim, 2010)
I. Peran Tenaga Medis dalam Peningkatan Pendidikan Untuk Peningkatan
Pelayanan Kesehatan Primer

Berbagai studi menunjukkan bahwa tenaga kesehatan / medis merupakan kunci


utama dalam keberhasilan pencapaian tujuan pembangunan kesehatan. Menurut
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan,
disebutkan pada pasal 1 bahwa tenaga kesehatan / medis adalah setiap orang yang
mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta 39 memiliki pengetahuan dan/atau
keterampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu
memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan.
Peningkatan kuantitas dan kualitas tenaga medis perlu untuk terus dilaksanakan.
Pengembangan tenaga medis meliputi perencanaan kebutuhan tenaga medis,
pengadaan/pendidikan, pendayagunaan, serta pembinaan dan pengawasan mutu
tenaga medis. Tenaga medis di Indonesia dewasa ini sangat banyak jenisnya
antara lain yaitu dokter spesialis, dokter umum, dokter gigi, perawat, bidan,
perawat gigi, apoteker, asisten apoteker, sanitarian, tenaga gizi, tenaga kesehatan
masyarakat, tenaga keterapian fisik, dan tenaga keteknisian medis.
J. Peran Peminaan Tenaga Kesehatan Melalui Pendidikan
Pembinaan tenaga kesehatan adalah upaya untuk mengarahkan, memberikan
dukungan, serta mengawasi pengembangan tenaga kesehatan. Pembinaan tenaga
kesehatan dapat dilakukan secara langsung/aktif dengan mengunjungi objek yang
menjadi sasaran pembinaan, maupun secara tidak langsung yaitu dengan
melakukan pengujian dan analisis atas laporan penyelenggaraan pembinaan
tenaga kesehatan oleh institusi yang menggunakan/mendayagunakan tenaga
kesehatan. Kegiatan pembinaan pada institusi, ditekankan pada asupan (input),
proses dan keluaran (output) dari penyelenggaraan pembinaan tenaga kesehatan
yang meliputi administrasi, teknis/substansi, fisik, dan pembinaan etika profesi.
Pembinaan tenaga kesehatan terhadap individu tenaga kesehatan diarahkan untuk
meningkatkan kinerja dan pengabdian profesi tenaga kesehatan, yang dilakukan
melalui pembinaan karir, penegakan disiplin dan pembinaan profesi tenaga
kesehatan. Pembinaan karir tenaga kesehatan meliputi kenaikan 47 pangkat,
jabatan dan pemberian penghargaan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan yang berlaku. Penegakan disiplin tenaga kesehatan menjadi
tanggung jawab penyelenggara dan/atau pimpinan institusi/fasilitas/sarana
kesehatan yang bersangkutan. Pembinaan profesi tenaga kesehatan dilaksanakan
melalui bimbingan, pendidikan dan pelatihan berkelanjutan termasuk continuing
professional development, serta penetapan standar profesi tenaga kesehatan.
Pembinaan profesi tenaga kesehatan diarahkan untuk meningkatkan mutu
pelayanan kesehatan yang dilakukan oleh pemerintah bersama dengan organisasi
profesi.
K. Peningkatan Pendidikan Bagi Tenaga Kesehatan
Pengembangan sistem pendidikan tenaga kesehatan adalah untuk
membentuk keahlian dan keterampilan tenaga kesehatan di bidang-
bidang teknologi yang strategis serta mengantisipasi timbulnya
kesenjangan keahlian sebagai akibat kemajuan teknologi.
Pengembangan sistem pendidikan tenaga kesehatan tidak terlepas dari
sistem pendidikan nasional. Pengembangan sistem pendidikan nasional
merupakan tanggung jawab Kementerian Pendidikan Nasional, namun
pembinaan teknis pendidikan tenaga kesehatan merupakan
kewenangan Kementerian Kesehatan. Dalam upaya pengembangan
sistem pendidikan tenaga kesehatan, maka perlu perpaduan antara
Kementerian Pendidikan Nasional dan Kementerian Kesehatan.
Pada era otonomi daerah diterbitkan beberapa keputusankeputusan
antara lain, Keputusan Mendiknas No. 234 Tahun 2000 tentang
Pedoman Pendidikan Tinggi dan Peraturan Menkes No. 1192 Tahun
2004 tentang Pendirian Diploma Bidang Kesehatan dapat
diselenggarakan berdasarkan ijin dari Menteri Pendidikan Nasional
setelah mendapat rekomendasi dari Menkes Republik Indonesia.
Perkembangan institusi pendidikan tenaga kesehatan cukup tinggi.
Jenjang pendidikan yang besar pertumbuhannya adalah jenjang
pendidikan D3 dan S1.
Berikut ini adalah perkembangan program studi di bidang kesehatan
dari tahun 2004 sampai dengan tahun 2008.

Berdasarkan data Evaluasi Program Studi Berbasis Evaluasi Diri


(EPSBED) tahun 2010, diketahui bahwa program studi bidan
merupakan yang terbanyak dibandingkan program studi tenaga
kesehatan lainnya. Kondisi tersebut didorong oleh adanya kebijakan
pemerintah tentang penempatan bidan pada setiap desa dalam
kerangka Desa Siaga. Hal ini dapat dilihat dalam Tabel II-2 berikut ini:
Institusi pendidikan tenaga kesehatan yang ada saat ini masih belum
memenuhi standar kualitas pendidikan. Berdasarkan data yang ada,
67% institusi pendidikan tenaga kesehatan belum terakreditasi.
Bahkan institusi pendidikan untuk perawat mencapai 82% institusi
yang belum terakreditasi. Pendirian institusi pendidikan tenaga
kesehatan yang belum terencana sesuai dengan standar mutu dapat
berdampak terhadap tidak terpenuhinya kompetensi tenaga
kesehatan. Pada Tabel II-3 di bawah ini dapat dilihat jumlah institusi
pendidikan (program studi) tenaga kesehatan yang sudah
terakreditasi.
DAFTAR PUSTAKA
Iqbal Mubarak, Wahid; Ilmu Kesehatan Masyarakat; Jakarta : Salemba
medika; 2012
Adisasmito, Wiku; Sistem Kesehatan; Jakarta : Rajawali Pers; 2007
Thabrany, Hasbullah; Jaminan Kesehatan Nasional; Jakarta : Raja
Grafindo Persada; 2014
http://www.depkes.go.id/article/view/849/pembangunan-kesehatan-
berbasis-preventif-dan-promotif.html
http://www.euro.who.int/en/health-topics/Health-systems/primary-health-
care/primary-health-care
www.health.govt.nz
http://www.depkes.go.id/article/view/2244/jaminan-kesehatan-nasional-
harus-diperkuat-dengan-dukungan-primary-health-care-yang--sedekat-
mungkin.html#sthash.6K4cGdfC.dpuf
http://www.depkes.go.id/article/view/14010012/kemenkes-saksikan-
pencanangan-jaminan-kesehatan-nasional-di-provinsi-dki-jakarta.html
www.primaryhealthcare.com.au
http://www.depkes.go.id/article/view/1558/implementasi-primary-health-
care-di-indonesia.html
www.who.int
Rosdiana H R. 2014. Tantangan Pengembangan Pelayanan Kesehatan
Primer di Indonesia dalam menunjang pelaksanaan Jaminan Kesehatan
Nasional. Diunduh dari
https://www.academia.edu/11702860/Tantangan_Pengembangan_Pelayana
n_Kesehatan_Primer_di_Indonesia_dalam_menunjang_pelaksanaan_Jami
nan_Kesehatan_Nasional?auto=download
Anonim.2010. http://mz-pendidikan.blogspot.com/2010/09/peningkatan-
kualitas-pelayanan.html
KKK OL. 2013. PENINGKATAN KUALITAS KINERJA SDM
TENAGA MEDIS PADA PELAYANAN KESEHATAN DI KABUPATEN
SEMARANG PROVINSI JAWA TENGAH. Yogyakarta:_______

Mentri Kesehatan RI. 2011. RENCANA PENGEMBANGAN TENAGA


KESEHATAN TAHUN 2011 2025. Jakarta:_______

Anda mungkin juga menyukai