Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN KASUS

SERVISITIS GONORE

Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Syarat

Mengikuti Kepaniteraan Klinik Bagian Ilmu Kulit Dan Kelamin

Diajukan Kepada Yth :

dr. Hiendarto, Sp.KK

Diajukan Oleh :

Rosiana Afida Rohmawati

15102211002

BAGIAN ILMU KULIT DAN KELAMIN

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN JAKARTA

RSUD AMBARAWA

2016
LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN KASUS

SERVISITIS GONORE

Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Syarat

Mengikuti Ujian Kepaniteraan Klinik Bagian Ilmu Kulit Dan Kelamin

Di RSUD AMBARAWA

Diajukan Oleh :

Rosiana Afida Rohmawati

1510211002

Mengetahui,

dr. Hiendarto, Sp.KK

NIP : 197308042009091001
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT karena atas berkat dan
rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan laporan kasus ini selesai pada
waktunya.Laporan kasus ini diajukkan untuk memenuhi salah satu syarat ujian
Kepaniteraan Klinik Kulit dan Kelamin.
Penyusunan laporan kasus ini terselesaikan atas bantuan dari banyak pihak
yang turut membantu. Untuk itu dalam kesempatan ini penulis menyampaikan terima
kasih yang sebesar-besarnya kepada dr. Hiendarto, Sp.KK selaku pembimbing serta
kepada teman-teman di kepaniteraan klinik Kulit dan Kelamin atas kerjasamanya
selama penyusunan makalah ini.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat baik bagi penulis sendiri, pembaca
maupun bagi semua pihak-pihak yang berkepentingan.

Ambarawa, 24 Oktober 2016

Penulis

BAB I
TINJAUAN PUSTAKA

I.1. Definisi
Servisitis gonore adalah penyakit kelamin, peradangan pada servix yang
disebabkan oleh Neisseria gonorrhoeae, suatu diplokokus Gram negatif yang
reservoir alaminya adalah manusia.
I.2. Epidemiologi
Di Amerika Serikat pada abad ke-20, terdapat 200 juta kasus gonore baru per
tahun. Epidemiologinya dipengaruhi oleh faktor behavior, termasuk
peningkatan aktivitas seksual, populasi yang tinggi, dan peningkatan infeksi
yang berulang.
Infeksi gonokokal 1,5 kali lebih banyak terjadi pada pria dibanding wanita,
dan lebih sering terjadi pada pria yang melakukan hubungan seksual dengan
sesama pria. Infeksi ini prevalensinya lebih tinggi pada kelompok usia 15
sampai 35 tahun. Pada tahun 2000, wanita yang lebih banyak terinfeksi adalah
pada kelompok usia 15 sampai 19 tahun, sedangkan pria yang lebih banyak
terinfeksi adalah pada kelompok usia 20 sampai 24 tahun.
Insidensi gonore meningkat karena ada N. gonorrhoeae yang resisten terhadap
antibiotik, yaitu Penicillinase Producing Neisseria gonorrhoeae (PPNG).
Bakteri ini meningkat di banyak negeri, termasuk di Indonesia.

I.3. Etiologi
Penyebab gonore adalah Neisseria gonorrhoeae, suatu diplokokus Gram
negatif. Gonokok ini ditemukan oleh Neisser pada tahun 1879 dan baru diumumkan
pada tahun 1882. Kuman tersebut dimasukkan dalam kelompok Neisseria, sebagai
Neisseria gonorrhoeae. Selain spesies itu, terdapat 3 spesies lain, yaitu
N.meningitidis, dan 2 lainnya yang bersifat komensal N.catarrhalis serta N.pharyngi
sicca. Keempat spesies ini sukar dibedakan kecuali dengan tes fermentasi.
Gonokok termasuk golongan diplokok berbentuk biji kopi, yang memiliki
ukuran lebar 0,8 m dan panjang 1,6 m, bersifat tahan asam. Pada sediaan langsung
dengan pewarnaan Gram bersifat Gram negatif, terlihat di luar dan di dalam leukosit,
tidak tahan lama di udara bebas, cepat mati dalam keadaan kering, tidak tahan suhu di
atas 39C, dan tidak tahan zat disinfektan.
Secara morfologik, gonokok ini terdiri atas 4 tipe, yaitu tipe 1 dan 2 yang
mempunyai pili dan bersifat virulen, serta tipe 3 dan 4 yang tidak mempunyai pili dan
bersifat nonvirulen. Pili akan melekat pada mukosa epitel dan akan menimbulkan
reaksi radang. Daerah yang paling mudah terinfeksi adalah daerah dengan mukosa
epitel kuboid atau lapis gepeng yang belum berkembang, yaitu pada vagina wanita
sebelum pubertas.
Faktor virulensi lain adalah produksi kapsular in vivo, resistensi terhadap aksi
imun bakterisidal pada serum, dan kemampuan gonokok untuk bertahan di antara
berbagai organisme komensal yang bersaing. Semua Neisseria tahan terhadap
kelembaban membran mukosa. Akibat hal-hal tersebut, meningokokus dan
gonokokus dapat berproliferasi dengan cepat dan bahkan masuk ke aliran darah.
Gambar. Neisseria gonorrhoeae

I.4. Patogenesis
Gonococci menampakkan beberapa tipe morfologi dari koloninya, tetapi
hanya bakteri berpili yang tampak virulen. Gonococci yang berbentuk koloni yang
pekat ( opaque ) saja yang diisolasi dari manusia dengan gejala uretritis dan dari
kultur uterine cervical pada siklus pertengahan. Gonococci yang koloninya berbentuk
transparan diisolasi dari manusia dari infeksi uretral yang tidak bergejala, dari
menstruasi dan dari bentuk invasif dari gonorrhea, termasuk salpingitis dan infeksi
diseminasi.
Pada wanita, tipe koloni terbentuk dari sebuah strain gonococcus yang
berubah selama siklus menstruasi. Gonococci yang diisolasi dari pasien membentuk
koloni-koloni yang pekat atau transparan, tetapi mereka umumnya memiliki 1-3 Opa
protein pada saat tumbuh di kultur primer yang sedang diuji.
Gonococci dengan koloni transparan dan tanpa Opa protein hampir tidak
pernah ditemukan secara klinis tetapi dapat dispesifikasi melalui penelitian di
laboratorium. Gonococci menyerang membrane selaput lendir dari saluran
genitourinaria, mata, rectum dan tenggorokan, menghasilkan nanah yang akut yang
mengarah ke invaginasi jaringan, hal yang diikuti dengan inflamasi kronis dan
fibrosis. Pada pria, biasanya terjadi peradangan uretra ( uretritis ), nanah berwarna
kuning dan kental, disertai rasa sakit ketika kencing.
Kuman ini mempunyai pili dan beberapa protein permukaan, sehingga dapat
melekat pada sel epitel kolumner dan menuju ruang subepitelial. Dengan adanya
lipooligosakarida akan menimbulkan invasi dan destruksi sel epitel mukosa dan
lapisan submukosa secara progresif, disertai dengan respons dari lekosit
polimorfonuklear yang hebat. Peradangan dan destruksi sel epitel tersebut
menimbulkan duh tubuh mukopurulen

I.5. Faktor Resiko


Pada umumnya, penularan gonore melalui hubungan kelamin yaitu secara
genito-genital, oro-genital, dan ano-genital. Tetapi dapat juga menular melalui
alatalat, pakaian, handuk, dan sebagainya.
Beberapa faktor risiko infeksi ini:
Melakukan hubungan seksual dengan orang yang terinfeksi tanpa pelindung
dan partner seksual yang banyak.
Pada anak-anak infeksi ini dapat terjadi akibat pelecehan seksual yang dilakukan
oleh orang yang terinfeksi.
Pada bayi saat melewati jalan kelahiran dari ibu yang terinfeksi.

I.6. Manifestasi Klinis


Masa tunas gonore sangat singkat, pada pria umumnya bervariai antara 2-5
hari, kadang-kadang lebih lama hal ini disebabkan karena penderita telah mengobati
diri sendiri, tetapi dengan dosis yang tidak cukup atau gejala yang sama sehingga
tidak diperhatikan oleh penderita. Pada wanita masa tunas sulit ditentukan karena
pada umumnya asimtomatik.
Pada pria
Infeksi pertama Komplikasi
Uretritis Lokal: Tysonitis
Parauretritis
Littritis
Cowperitis
Asenden:
Prostatitis
Vesikulitis
Vas deferentitis/funikulitis
Vas deferntitis
Epididimitis
Trigonitis
Pada wanita
Infeksi pertama Komplikasi
Uretritis Lokal: Parauretritis
Bartholinitis
Servisitis Asenden:
Salpingitis
PID (Pelvic Infalmmatory Disease)
Komplikasi diseminata pada pria dan wanita dapat berupa:
- Artritis - Perikarditis
- Miokarditis - Meningitis
- Endokarditis - Dermatitis

1. Pada pria
Uretritis
Yang paling sering dijumpai adalah uretritis anterior akuta dan dapat
menjalar ke proksimal, selanjutnya mengakibatkan komplikasi lokal, asenden,
dan diseminata. Keluhan subyetif berupa rasa gatal, panas di bagian distal
uretra di sekitar orifisium uretra eksternum, kemudian disusul disuria,
polakisuria, keluar duh tubuh dari ujung uretra yang kadang-kadang disertai
darah, dan disertai perasaan nyeri pada waktu ereksi.
Pada pemeriksaan tampak orifisium uretra eksternum eritematosa,
edematosa, dan ektropion. Tampak duh tubuh mukopurulen dan dapat terjadi
pembesaran kelenjar getah bening inguinal unilateral dan bilateral.

Gambar Servisitis gonore


2. Pada wanita
Gambaran klinis dan perjalanan penyakit pada wanita berbeda dengan
pria. Hal ini disebabkan oleh perbedaan anatomi dan fisiologi alat kelamin
pria dan wanita. Pada wanita, baik penyakitnya akut maupun kronik, gejala
subyektif jarang ditemukan dan hampir tidak pernah didapati kelainan
obyektif. Pada umumnya wanita datang kalau sudah ada komplikasi. Sebagian
besar penderita ditemukan pada waktu pemeriksaan antenatal atau
pemeriksaan keluarga berencana.
Di samping itu wanita mengalami tiga masa perkembangan:
1. Masa prepubertas: epitel vagina dalam keadaan belum berkembang
(sangat tipis), sehingga terjadi vaginitis gonore.
2. Masa reproduktif: lapisan selaput lendir vagina menjadi matang, dan tebal
dengan banyak gllikogen dan basil Dderlein. Basil Dderlein akan
memecahkan glikogen sehingga suasana menjadi asam dan suasana ini
tidak menguntungkan untuk tumbuhnya kuman gonokok.
3. Masa menopause: selaput lendir vagina menjadi atrofi, kadar glikogen
menurun, dan basil Dderlein juga berkurang, sehingga suasana asam
berkurang dan suasana ini menguntungkan untuk pertumbuhan kuman
gonokok, jadi dapat terjadi vaginitis gonore.
Pada mulanya hanya tampak serviks uteri yang terkena infeksi. Duh
tubuh yang mukopurulen dan mengandung banyak gonokok mengalir ke luar
dan menyerang uretra, duktus parauretra, kelenjar Bartholin, rektum, dan
dapat juga naik ke atas sampai pada daerah kandung telur.
Gambar. Algoritma Nyeri saat berkemih dengan duh tubuh

Diagnosis ditegakkan atas dasar anamnesis, pemeriksaan klinis, dan


pemeriksaan pembantu yang terdiri atas 5 tahapan.

A. Sediaan langsung
Pada gonore akut, sediaan langsung dengan pewarnaan Gram akan
ditemukan gonokok negatif-Gram intraselular. Bahan duh tubuh pada pria
diambil dari daerah fosa navikularis, sedangkan pada wanita diambil dari
uretra, muara kelenjar Bartholin, serviks, dan rektum.

B. Kultur
Untuk indentifikasi perlu dilakukan pembiakan (kultur). Dua macam
media yang dapat digunakan:
1. media transpor
2. media pertumbuhan
Contoh media transpor:

- Media Stuart
Hanya untuk transpor saja, sehingga perlu ditanam kembali pada
media pertumbuhan
- Media Transgrow
Media ini selektif dan nutritif untuk N.gonorrhoeae dan
N.meningitidis; dalam perjalanan dapat bertahan hingga 96 jam dan
merupakan gabungan media transpor dan media pertumbuhan,
sehingga tidka perlu ditanam pada media pertumbuhan. Media ini
merupakan modifikasi media Thayer Martin dengan menambahkan
trimetoprim untuk mematikan Proteus spp
Contoh media pertumbuhan:
- Mc Leods chocolate agar
Berisi agar coklat, agar serum, dan agar hidrokel. Selain kuman
gonokok, kuman-kuman yang lain juga dapat tumbuh.
- Media Thayer Martin
Media ini selektif untuk mengisolasi gonokok. Mengandung
vankomisin untuk menekan pertumbuhan kuman positif-Gram,
kolestimetat untuk menekan pertumbuhan bakteri negatif-Gram, dan
nistatin untuk menekan pertumbuhan jamur.

- Modified Thayer Martin agar


Isinya ditambah dengan trimetoprim untuk mencegah pertumbuhan
kuman Proteus spp.
C. Tes difinitif
1. Tes oksidasi
Reagen oksidasi yang mengandung larutan tetrametil-p-
fenilendiamin hidroklorida 1% ditambahkan pada koloni gonokok
tersangka. Semua Neisseria memberi reaksi positif dengan
perubahan warna koloni yang semula bening berubah menjadi
merah muda sampai merah lembayung.
2. Tes fermentasi
Tes oksidasi positif dilanjutkan dengan tes fermentasi memakai
glukosa, maltosa, dan sukrosa. Kuman gonokok hanya meragikan
glukosa.

D. Tes beta-laktamase
Pemeriksaan beta-laktamase dengan menggunakan cefinase TM disc.
BBL 961192 yang mengandung chromogenic cephalosporin, akan
menyebabkan perubahan warna dari kuning menjadi merah apabila kuman
mengandung enzim beta-laktamase.

E. Tes Thomson
Tes Thomson ini berguna untuk mengetahui sampai di mana infeksi
sudah berlangsung. Dahulu pemeriksaan ini perlu dilakukan karena
pengobatan pada waktu itu ialah pengobatan setempat.

Pada tes ini ada syarat yang perlu diperhatikan:

- sebaiknya dilakukan setelah bangun pagi


- urin dibagi dalam dua gelas
- tidak boleh menahan kencing dari gelas I ke gelas II
Syarat mutlak adalah kandung kencing harus mengandung air seni
paling sedikit 80-10ml, jika air seni kurang dari 80 ml, maka gelas
sukar dinilai karena menguras uretra anterior.
Hasil pembacaan:
Gelas I Gelas II Arti
Jernih jernih tidak ada infeksi
Keruh jernih infeksi uretritis anterior
Keruh keruh panuretritis
Jernih keruh tidak mungkin

Rekomendasi pemeriksaan laboratorium

I.7. Pengobatan
1. Medikamentosa
Gonore tanpa komplikasi
Ceftriaxone 250 mg IM dosis tunggal + Azithromycin 1g PO dosis tunggal
Cefixime 400 mg PO dosis tunggal + Azithromycin 1 g PO dosis tunggal

Ceftriaxone 250 mg IM dosis tunggal and Azithromycin 2 g PO dosis


tunggal

2. Non-medikamentosa
Memberikan pendidikan kepada klien dengan menjelaskan tentang:
- Bahaya penyakit menular seksual
- Pentingnya mematuhi pengobatan yang diberikan
- Cara penularan PMS dan perlunya pengobatan untuk pasangan seks tetapnya
- Hindari hubungan seksual sebelum sembuh dan memakai kondom jika tidak
dapat dihindari.
- Cara-cara menghindari infeksi PMS di masa yang akan datang.

Obat yang digunakan untuk IMS disemua fasilitas pelayanan kesehatan


sekurangkurangnya harus mempunyai tingkat efektifitas 90-95%.
Pemilihan obat-obatan untuk IMS harus memenuhi kriteria sebagai berikut :
- Angka kesembuhan/ kemanjuran tinggi (sekurang-kurangnya 90-95%
diwilayahnya.
- Harga murah
- Toksisitas dan toleransi yang masih dapat diterima
- Diberikan dalam dosis tunggal
- Cara pemberian peroral
- Tidak merupakan kontraindikasi pada ibu hamil atau ibu menyusui
Obat-obatan yang digunakan sebaiknya termasuk dalam Daftar Obat Esensial
Nasional (DOEN), dan dalam memilih obat-obatan tersebut harus dipertimbangkan
tingkat kemampuan dan pengalaman dari tenaga kesehatan yang ada.

Pengobatan IMS Menggunakan Pendekatan Sindrom


Keberhasilan penatalaksanaan IMS memerlukan sikap petugas yang
menghormati dan tidak menghakimi pasien. Pemeriksaan agar dilakukan dalam
suasana yang bersahabat dengan menjaga perasaan pribadi maupun kerahasiaan
pasien. semua wanita yang menunjukkan tanda -tanda duh tubuh vagina agar diobati
juga untuk trikomoniasis dan vaginosis bakterial

Untuk duh tubuh vagina pengobatan yang dianjurkan adalah sebagai berikut :
Pengobatan untuk gonore tanpa komplikasi
DITAMBAH
- Pengobatan untuk klamidiosis
Gambar. Pengobatan Duh Tubuh Vagina karena Servisitis

Diagnosis Banding
1. Trikomoniasis : pada wanita akan terlihat sekret vagina seropurulen
kekuning-kuningan ,kuning-hijau, berbusa, dapat disertai uretritis.Untuk
mendiagnosa trikomiasis dapat dipakai sediaan basah dicampur dengan
garam faal dan dapat dilihat pergerakan aktif.
2. Kandidosis vulvovaginitis sering menimbulkan gejala klinis gatal dengan
eksudat berupa gumpalan-gumpalan seperti kepala susu berwarna putih
kekuningan.Diagnosis tergantung dari identifikasi dengan smear dan
kultur.
3. Vaginosis Bakterial: duh tubuh vagina berwarna abu-abu, homogen berbau,
dan pada pemeriksaan ditemukan clue cells( yaitu sel epitel vagina yang
granular diliputi oleh kokobasil sehingga batas sel tidak jelas).
4. Uretritis non spesifik pada pria menimbulkan gejala berupa disuria
ringan,perasaan tidak enak di uretra, sering kencing dan keluarnya duh
tubuh seropurulen.Dibandingkan dengan gonore,perjalanan penyakit lebih
lama.Sedangkan uretritis non spesifik pada wanita seperti gonore
umumnya tidak menunjukkan gejala.
Diagnosis banding dari infeksi gonokokus genitourinari pada perempuan
antara lain:
Infeksi Trichomonas vaginalis. Biasanya memberi gambaran salin positif
untuk protozoa.
Infeksi Candida albicans. Gambarannya gatal dengan eksudat kental atau
curdy, dan diagnosis ditentukan dari kultur/smear organisme.
Garnerella vaginalis/ bacterial vaginosis. Ditandai dnegan sindrom well
define, sekret malodorous, keabu-abuan dan acidic. Pada pemeriksaan smear
ditemukan clue cell, yields a fishy, amine odor pada alkalinisasi dengan
potassium hidroksida. Semua pasien dengan duh tubuh vagina harus dikultur
untuk gonokokus. Walaupun inflamasi vaginitis jarang terjadi bersamaan
dengan gonorrhoe tetapi infeksi campuran sering terjadi.

Komplikasi
Komplikasi gonore sangat erat hubungannya dengan susunan anatomi dan faal
genitalia. Komplikasi lokal pada pria bisa berupa tisonitis (radang kelenjar Tyson),
parauretritis, littritis (radang kelnjar Littre), dan cowperitis (radang kelenjar Cowper).
Namun, penyulit yang paling sering adalah epididimoorkitis. Selain itu, infeksi dapat
pula menjalar ke atas (asendens), sehingga terjadi prostatitis, vesikulitis, funikulitis,
epididimitis, yang dapat menimbulkan infertilitas. Infeksi dari uretra pars posterior,
dapat mengenai trigonum kandung kemih menimbulkan trigonitis, yang memberi
gejala poliuria, disuria terminal, dan hematuria. Komplikasi diseminata pada pria dan
wanita dapat berupa artritis, miokarditis, endokarditis, perikarditis, meningitis, dan
dermatitis. Kelainan yang timbul akibat hubungan kelamin selain cara genito-genital,
pada pria dan wanita dapat berupa infeksi nongenital, yaitu orofaringitis, proktitis,
dan konjungtivitis.
BAB II

LAPORAN KASUS

I. Idensitas Pasien
Nama : Nn. EF
Tanggal Lahir / Usia : 12 Maret 1997 / 19 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Alamat : Lodoyong, Ambarawa, Kab. Semarang
No Rekam Medis : 064101-2014
Tanggal Masuk RS : 22-10-2016
Ruang Rawat : Asoka

II. Anamnesa (Bangsal Asoka, 23 Oktober 2016, pukul 13.45 WIB)


a. Keluhan utama
Nyeri saat berkemih sejak 5 hari SMRS
b. Riwayat penyakit sekarang
Pasien datang ke IGD RSUD Ambarawa dengan keluhan nyeri saat berkemih sejak 5
hari SMRS. Keluhan nyeri dirasakan hilang timbul, dan semakin hari semakin memberat.
Karena rasa nyeri tersebut, menyebabkan pasien cenderung menahan keinginan untuk
berkemih.

Pasien juga mengatakan bahwa 7 hari SMRS, keluar keputihan berwarna putih
seperti susu dengan konsistensi kental, bau (-), dan terdapat bercak flek seperti darah dengan
warna kecoklatan pada panty liner pasien. Saat berkemih terkadang keluar darah yang
bercampur dengan urin. Pasien menyangkal bahwa saat itu sedang menstruasi, haid terakhir
pasien pada tanggal 19 Oktober 2016.

Demam yang tidak terlalu tinggi juga dikeluhkan oleh pasien sejak 7 hari SMRS,
pasien sudah berobat ke klinik dan mendapatkan obat paracetamol tablet dan doksisiklin
tablet. Pasien sudah mengkonsumsi kedua obat tersebut selama 3 hari, tetapi karena tidak ada
perbaikan, pasien tidak lagi mengkonsumsi kedua obat tersebut.
c. Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien menyangkal pernah mengalami keluhan serupa
d. Riwayat Penyakit Keluarga
Pasien menyangkal bahwa terdapat keluarga yang pernah mengalami keluhan
serupa
e. Riwayat Seksual
Pasien melakukan hubungan seksual untuk pertama kali dengan pacarnya 9
bulan yang lalu. Dengan frekuensi hubungan seksual sebanyak 1 2 kali/
bulan. Pasien mengaku bahwa tidak pernah berganti ganti pasangan. Setiap
berhubungan seksual pasien mengatakan bahwa pacar pasien menggunakan
kondom.
f. Riwayat Pengobatan
Sebelumnya pasien pernah berobat ke klinik, mendapatkan obat paracetamol
tablet dan doksisiklin tablet

III.Pemeriksaan Fisik (23-10-2016)


Keadaan Umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran : Compos Mentis
Tanda Vital : TD : 110/70 mmHg
Nadi : 65 kali/menit, regular, kuat angkat.
Respirasi : 20 kali/menit.
Suhu : 36.7 C (aksila)

Status Generalis :
Gizi : Tampak baik
Kepala : Normochepal, deformitas (-)
o Rambut: Warna rambut hitam, tidak mudah dicabut, distribusi merata
o Mata : konjungtiva anemis (-/-), sklera ikteris (-/-), eksoftalmus (-/-),
pupil isokor 2 mm/2 mm, refleks cahaya +/+
o Telinga : Sekret (-/-)
o Hidung : Sekret (-/-), deviasi (-)
o Mulut : Mukosa tampak kering, hiperemis (-), sianosis (-) .
o Leher : Simetris, pembesaran KGB (-)
Cor: Inspeksi : Iktus cordis tidak tampak
Palpasi : Iktus cordis teraba
Perkusi : Batas atas jantung ICS 3 linea parastenal kiri
Batas kanan jantung ICS 5 linea parasternal
kanan
Batas kiri jantung ICS 5 linea midclavicula
kiri

Auskultasi : Bunyi jantung I&II reguler, murmur (-), gallop


(-)
Pulmo: Inspeksi : Pergerakan dinding dada simetris saat statis
dan dinamis, retraksi (-)
Palpasi : Vocal fremitus teraba diseluruh lapang paru
Perkusi : Sonor pada kedua lapang paru kiri dan kanan
Auskultasi : Suara nafas dasar vesikuler, rhonki -/-,
wheezing -/-
Abdomen : Inspeksi : Dinding abdomen datar, distensi (-)
Auskultasi : Bising usus (N)
Perkusi : Timpani
Palpasi : Supel, hepar dan lien teraba (-),
undulasi (-), nyeri tekan epigastrium (-)
Genitalia: - Klitoris tampak eritema disertai edema
- Terdapat laserasi dan benjolan pada perineum
- Status Venerologi
Lokasi: Vagina
UKK : Tampak laserasi disertai eritem, duh tubuh (+),
berwarna putih kekuningan, bau (+)
Ekstremitas:
Superior Inferior
Akral hangat +/+ +/+
Edema -/- -/-
Capillary Refill < 2 detik < 2 detik

IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG


A. Pemeriksaan Laboratorium Darah Rutin
(23-10-2016), Lab. RSUD Ambarawa
Hasil Nilai Rujukan
Hemoglobin 10.8 gr/dl * 11,7-15,5 gr/dl
Hematokrit 32,1% * 35-47 %
Eritrosit 3,58 106 / ul * 3,8-5,2 106 / ul
Trombosit 226.000 / ul 150.000-440.000 / ul
Leukosit 8,0 m3 3,5-11,0 m3
MCV 88,7 82 98 fl
MCH 30,2 27-32 pg
MCHC 33,6 32-37 g/dL
Limfosit 1,4 1,0 4,5
Monosit 0,2 0,2 1,0
Eosinofil 0,0 0,01 - 0,8
Basofil 0,1 0 0,2
Neutrofil 4,3 1,8 7,5
PCT 0,173 0,2 0,5

B. Pemeriksaan Sekret Vagina

Pemeriksaan Gram :

Diplococcus gram negative : Positif ekstrasel dan intrasel

Kuman batang gram negative : Positif

Clue cell : Positif

Jumlah Leukosit : Penuh

Epitel : 0 3/LPB

VI. DIAGNOSIS

- Servisitis Gonorea
- Vaginitis Bakterial

VII. TATA LAKSANA


a. Medikamentosa
- IVFD RL 20 tpm
- Paracetamol tablet 500 mg (3 x 1 tablet)
- Azitromicine 1 gram PO
- Metronidazole tablet 500 mg (2 x 1 tablet)
- Injeksi Ceftriaxone 250 mg IM
b. Non-medikamentosa
- Bed rest
- Jaga higienitas
- Menjelaskan tentang penyakit yang diderita serta upaya
pengobatannya
- Menjelaskan tentang pentingnya minum obat
- Jangan berhubungan seks sebelum sembuh
- Pasangan pasien juga harus diperiksa dan diobati

VIII. PROGNOSIS
- Quo ad vitam: ad bonam
- Quo ad functionam: ad bonam
- Quo ad sanationam : ad bonam

IX. Follow up
Tgl S O A P

24/10/20 Demam (-), Ku Kes: TSS/CM - Servisit IVFD RL 20 tpm


TD : 110/70 - Paracetamol
16 nyeri saat is
mmHg tablet 500 mg (3 x
BAK (+), Gonore
N: 65 x/m
1 tablet)
keluar darah RR: 20 x/m a
- Azitromicine 1
S: 36.0 C (axilla)
pervaginam
- Vaginiti gram PO
(-) - Metronidazole
s
tablet 500 mg (2 x
Bakteri
1 tablet)
al - Injeksi
Ceftriaxone 250
mg IM

Tgl S O A P

25/10/20 Demam (-), Ku Kes: TSS/CM - Servisit IVFD RL 20 tpm


TD : 110/60 - Paracetamol
16 nyeri saat is
mmHg tablet 500 mg (3 x
BAK (+), Gonore
N: 70 x/m
1 tablet)
keluar darah RR: 18 x/m a
- Metronidazole
S: 36.0 C (axilla)
pervaginam
- Vaginiti tablet 500 mg (2 x
(-)
s 1 tablet)
Bakteri
al
Gambar. Kontrol pasien post perawatan

Hasil Pemeriksaan Mikrobiologi (31 Oktober 2016)


Bahan : Sekret Vagina
Pemeriksaan Gram : Diplococcus Gram Negatif : Positif
Jumlah Leukosit : 3 5 /LPB
Clue cell : Negatif
Trichomonas : Negatif
Daftar Pustaka

1. Barakbah, J. 2005. Pedoman Diagnosis dan Terapi Ilmu Penyakit Kulit dan
Kelamin. Surabaya : Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga

2. Wolff K, Richard AJ, Dick S. 2005. fitzpatrick's color atlas and synopsis of
clinical dermatology. English: McGraw-Hill Professional.

3. Devrajani, Bikha R. 2010. Frequency And Pattern Of Gonorrhoea At Liaquat


University Hospital, Hyderabad (A hospital Based Descriptive Study).

4. Marcus, Ulrich. 2010. Reported Incidence Of Gonorrhoea And Syphilis In East


And West Germany.

5. Freedberg, IM. 2003. Fitzpatrick's Dermatology in General Medicine. USA:


McGraw-Hill

6. Manuaba, IBG. 2008. Gawat Darurat Obstetric-Ginekologi Dan Obstetric-


Ginekologi Sosial Untuk Profesi Bidan. Jakarta: EGC. Hlm: 296-299.

7. Djuanda, Adhi, Mochtar, Aisah, Siti. 2008. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin.
Edisi Kelima. Jakarta : FKUI

8. Siregar,R.S.2004. Sari Pati Penyakit Kulit. EGC : Jakarta, hal : 299


9. Wilson, Walter R. 2009. Current Diagnosis & Treatment In Infectious Diseases.
USA: The McGraw- -Hill Companies.

10. Daili, S.F., 2009. Gonore. In: Daili, S.F., et al., Infeksi Menular Seksual. 4th ed.
Jakarta: Balai Penerbitan FKUI, 65-76.

11. Wong, Brian. 2011. Gonococcal Infections. diakses 1 November 2013 dari
http://emedicine.medscape.com/article/218059-overview