Anda di halaman 1dari 77

Percobaan ke -3

Identifikasi Kelarutan, Kemagnetan dan Reaksi

Senyawa Anorganik

Rabu, 12 oktober 2016

I. Tujuan

1. Menentukan kelarutan suatu senyawa anorganik


2. Menentukan sifat kemagnetan suatu senyawa anorganik
3. Mengidentifikasi reaksi senyawa anorganik saat direaksikan dengan pereaksi NaOH,
NaCl, Na2SO4, Na2CO3, Na2S, NH4OH, EDTA, NH4Cl, dan NaH2PO4

II. Dasar Teori


Alam semesta ini kaya akan kadungan unsur-unsur kimia. Hingga saat ini, unsur-unsur
kimia berjumlah sekitar 114 unsur. Unsur-unsur tersebut dikelompokkan berdasarkan
kesamaan sifatnya ke dalam beberapa golongan, yaitu golongan A (golongan utama) dan
golongan B (golongan transisi). Selain itu, unsur-unsur kimia dapat dikelompokkan menjadi
unsur logam, nonlogam, semilogam, dan gas mulia

Beberapa usur logam dan nonlogam, dalam bentuk unsur maupun senyawa, banyak
dimanfaatkan didalam kehidupan sehari-hari. Penggunaan beberapa unsur logam dan
nonlogam meningkat dengan berkembang pesatnya industri, baik sebagai alat, bahan dasar,
maupun sumber energi.

Unsur-unsur logam umumnya diperoleh sebagai bijih logam dalam batuan. Alam
Indonesia sangat kaya akan sumber mineral bijih logam, karena itu perlu penguasaan
teknologi untuk mengolahnya menjadi logam yang dibutuhkan.

Unsur Logam yang sudah akrab dengan kehidupan kita sehari-hari diantaranya adalah,
besi, tembaga, atau perak. Ternyata unsur natrium pun bersifat logam. Namun, karena tak
stabil dalam keadaan unsurnya, ia lebih banyak kita temui dalam bentuk senyawanya.

Keberadaan unsur-unsur kimia di alam sangat melipah. Sumber unsur-


Unsur kimia terdapat di kerak bumi, dasar laut, dan atmosfer, baik dalam bentuk unsur bebas,
senyawa ataupun campurannya. Unsur-unsur kimia yang terdapat di alam dalam bentuk unsur
bebasnya (tidak bersenyawa dengan unsur lainnya), diantaranya logam platina (Pt), emas
(Au), karbon (C), gas nitrogen (N2), oksigen (O2), dan gas-gas mulia. Adapun unsur-unsur
lainnya ditemukan dalam bentuk bijih logam. Bijih logam merupakan campuran antara
mineral yang mengandung unsur-unsur kimia dan pengotornya. Mineral-mineral tersebut
berbentuk senyawa oksida, halida, fosfat, silikat, karbonat, sulfat, dan sulfida. Logam platina
(Pt) dan emas (Au) disebut logam mulia. Sumber logam mulia dan mineral-mineral dapat
ditemukan di kerak bumi, sedangkan sumber gas oksigen, nitrogen, dan gas mulia (kecuali
He) terdapat di lapisan atmosfer.

III. Sifat Fisik dan Sifat Kimia / MSDS

N Bahan Sifat Fisik Sifat Kimia


o
1. HCl (Asam Cairan berwarna kuning Merupakan asam kuat
Klorida) Massa atom 36,45 g/mol Bersifat toxic dan korosif
Titik didih 318,4oC Merupakan oksidator kuat
Titik leleh 1390oC Dapat larut dalam alkali
Massa jenis 3,21 g/cm3 hidroxida, eter dan
kloroform
2. NaOH (Natrium Padatan berwarna putih Bersifat higroskopis
Hidroksida) Berat Molekul 40 g/mol Merupakan basa kuat
Titik didih 318oC Bersifat korosif
Titik leleh 1390oC Larut dalam air dan
methanol
3. Na2CO3 (Natrium Padatan berwarna putih Sedikit higroskopis
Karbonat) Berat molekul 106 g/mol Larut dalam air
Titik didih 400oC Tidak larut dalam etanol
Titik leleh 85oC Dapat dititrasi dengan
indicator fenolftalein
4. NaCl (Natrium Padatan berwarna putih Larut dalam gliserol dan
Klorida) Berat Molekul 58,44 g/mol ammoniak
Titik didih 1413oC Sedikit larut dalam HCl
Titik leleh 801oC Tidak larut dalam alcohol
Merupakan eektrolit kuat
5. Na2SO4 (Natrium Padatan berwarna putih Bersifat irritant
Sulfat) Berat molekul 142,06 Bersifat higroskopis
Tidak mudah terbakar
g/mol
Titik didih 800 C
o Tidak larut dalam alcohol
Titik leleh 1429oC

6. NH4OH Cairan tak berwarna Berifat irritant


(Amonium Massa molar 17 g/mol Bersifat korosif
Titik didih -33,34oC
Hidroksida)
Titik leleh 1429oC
7. EDTA Padatan berwarna putih Larut dalm air
(Etilendiamin Berat molekul 292,24 Keasaman 1,72
Kebasaan 12,125
tetraasetat) g/mol
Massa jenis 860 mg/ml Merupakan ligan
heksadentat
8. H2O (Akuades) Cairan tak berwarna Terikat secara kovalen
Massa molar 18 g/mol Berifat polar
Massa jenis 0,99 g/cm3 Merupakan pelarut untuk
Titik didih 100oC banyak zat kimia
Titik leleh 0oC BerpH 7
Memiliki ikatan hydrogen
9. HNO3 (Asam Cairan tak berwarna Bersifat korosif
Nitrat) Titik didih 83oC Larut dalam air
Titik leleh -42oC Merupakan oksidator kuat
Massa jenis 1,522 kg/m3 Bersifat toxic dan
flammable
10 Aqua Regia Massa jeis 1,01-1,21 g/cm3 Bersifat korosif
. Titik leleh -42oC Dapat melarutkan raksa,
Titik didih 108oC emas, timbal, platina dll
(deret mulia)
Bersifat harmful
Mengeluarkan uap berwarna
kuning yang beracun
11 NH4Cl Padatan berwarna putih Bersifat higroskopis
. Titik didih 520oC Non-flammble (tidak mudah
Titik leleh 338oC terbakar)
Massa molar 53,5 g/mol Bersifat asam lemah
Larut dalam air
12 Na2S (Dinatrium Padatan kekuningan Bersifat korosif
. Sulfida) Massa molar 240,18 g/mol Bersifat irritant
Titik didih Larut dalam air
Titik leleh 1,76oC

IV. Alat dan Bahan

1. Alat:

N Alat Ukuran Jumlah


o
1 Spatula - 2 buah
2 Neraca analitik - 1buah
3 Tabung reaksi - 24 buah
4 Rak tabung reaksi - 2 buah
5 Batang pengaduk - 1 buah
6 Statif - 2 buah
7 Gelas kimia 250ml 1 buah
8 Magnet - 1 buah
9 Gelas ukur 10ml 1 buah
10 Plat tetes - 1 buah
11 Kertas lakmus - 16 potong
12 Kaca arloji - 12 buah
13 Kaki tiga - 1 buah
14 Kawat kassa - 1 buah
15 Spirtus - 1 buah
16 pH indicator - 8 potong
17 Pipet tetes - 2 buah

2. Bahan:

N Bahan Satuan Jumlah


o
1 HCl encer 6M 50ml
2 HCl pekat 6M 50ml
3 HNO3 encer 10M 50ml
4 HNO3 pekat 10M 50ml
5 Larutan NaOH 0,05 mol 50ml
6 Larutan NaCl 0,05 mol 50ml
7 Larutan Na2SO4 0,05 mol 50ml
8 Larutan Na2CO3 0,05 mol 50ml
9 Larutan Na2S 0,05 mol 50ml
10 Larutan NH4OH 0,05 mol 50ml
11 Larutan EDTA 0,05 mol 50ml
12 Larutan NH4Cl 0,05 mol 50ml
13 Larutan NaH2PO4 0,05 mol 50ml
14 Al2(SO4)3 - 1gram
15 CuCH3(COO)2 - 1gram
16 NaH2PO4 - 1gram
17 NiSO4 - 1gram
18 MgSO4 - 1gram
19 K2Cr2O7 - 1gram
20 MnO2 - 1gram
21 Silika gel - 1gram
22 Karbon - 1gram
23 FeSO4 - 1gram
24 PbSO4 - 1gram
25 Zn - 1gram
26 CaCO3 - 1gram
27 CaCl2 - 1gram
28 KCl - 1gram
29 BaCl2 - 1gram
30 Aqua Regia - 5ml
31 Akuades - Secukupnya

V. Prosedur Kerja

1. Pembuatan larutan pereaksi


Menimbang dan mengukur volume masing-masing zat (NaOH, NaCl, Na2SO4, Na2CO3,
Na2S, NH4OH, EDTA, NH4Cl, dan NaH2PO4) untuk menghasilkan 0,05 mol dalam 50 ml.
Kemudian dimasukkan pada gelas kimia 100 ml dan dilarutkan dengan 50 ml akuades .
2. Uji Kelarutan
Sampel padatan, yang terdiri dari 16 zat yaitu Al 2(SO4)3, CuCH3(COO)2, NaH2PO4, NiSO4,
MgSO4, K2Cr2O7, MnO2, Silika gel, Karbon, FeSO4, PbSO4, Zn, CaCO3, CaCl2, KCl, dan
BaCl2, timbang sebanyak 1 gram. Kemudian sebanyak seujung spatula dilarutkan dalam
tabung reaksi dengan pelarut yang sesuai yakni mampu untuk melarutkan zat-zat tersebut.
Untuk itulah digunakan urutan tingkat daya pelarut sebagai berikut: akuades, akuades
panas, HCl encer, HCl pekat, HNO3 encer, HNO3 pekat dan terakhir menggunakan aqua
regia.
3. Uji Kemagnetan
a. Sampel padat
Keenam belas (16) sampel padatan sisa dari uji kelarutan didekatkan dengan magnet ke
posisi zat berada, dan diamati interaksi atau gerakannya.
b. Sampel larutan
Keenam belas (16) sampel yang telah dilarutkan dalam tabung reaksi digantungkan
menggunakan benang pada statif. Kemudian didekatkan dengan magnet ke posisi zat
berada, dan diamati interaksi atau gerakannya.
4. Uji Reaksi
Semua sampel larutan dan supernatan yang telah dilakukan uji kelarutan, masing-masing
dimasukkan kedalam plat tetes. Kemudian direaksikan dengan pereaksi NaOH, NaCl,
Na2SO4, Na2CO3, Na2S, NH4OH, EDTA, NH4Cl, dan NaH2PO4. Lalu diamati perubahan
yang terjadi yang akan menjadi cirri-ciri adanya reaksi.

VI. Hasil Pengamatan

a. Uji kelarutan
N Zat (bahan) +akuade +akuade + HCl + HCl +HNO3 +HNO3 +aqua
o s s panas encer pekat encer pekat regia
1 Karbon
Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak
(padatan
larut larut larut larut larut larut larut
berwarna hitam)
2 FeSO4
(Padatan
Larut
berwarna biru
muda)
3 PbSO4
Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak
(Serbuk
larut larut larut larut larut larut larut
berwarna putih)
4 Zn
(lempengan
berwarna abu
5 CaCO3
Tidak Tidak Tidak
(Serbuk Larut
larut larut larut
berwarna putih)
6 CaCl2
(padatan Larut
berwarna putih)
7 KCl
(padatan Larut
berwarna putih)
8 BaCl2
(Serbuk Larut
berwarna putih)
9 MgSO4
(serbuk berwarna Larut
putih)
10 CuCH3(COO)2
(Serbuk Tidak
Larut
berwarna biru larut
tosca)
11 Al2(SO4)3
(serbuk berwarna Larut
putih)
12 NaH2PO4
Tidak
(Kristal berwarna Larut
larut
putih)
13 NiSO4
Tidak
(Kristal berwarna Larut
larut
hijau tosca)
14 K2Cr2O7
Tidak
(serbuk berwarna Larut
larut
orange)
15 Silica gel
Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak
(serbuk berwarna
larut larut larut larut larut larut larut
putih)
16 MnO2
(Serbuk Larut
berwarna hitam)

b. Uji kemagnetan
N Karakteristik Kemagnetan Hasil
Bahan Padatan Cairan Padatan Cairan
o Netral
1 Larutan
berwarna
padatan Larutan kuning
Karbon
berwarna berendapan (+) (-) (----)
hitam hitam terdapat
endapan
hitam
2 Padatan Larutan (+) (-) Larutan
FeSO4
berwarna larutan tak
biru muda kuning (-) berwarna
terdapat
endapan
hijau
3 Larutan
Serbuk Larutan
berwarna
PbSO4 berwarna berwarna (-) (-)
kuning (+
putih kuning (+++)
++)
4 lempengan Larutan Larutan
Zn berwarna berwarna (-) (-) tak
abu kuning berwarna
5 Terdapat
2fasa:
Fasa atas,
larutan
tak
Serbuk
Larutan tak berwarn
CaCO3 berwarna (-) (-)
berwarna a
putih Fasa
bawah,
larutan
berwarn
a putih
6 padatan Larutan
Larutan tak
CaCl2 berwarna (-) (-) tak
berwarna
putih berwarna
7 padatan Larutan
Larutan tak
KCl berwarna (-) (-) tak
berwarna
putih berwarna
8 Serbuk Larutan
Larutan tak
BaCl2 berwarna (-) (-) tak
berwarna
putih berwarna
9 serbuk Larutan
Larutan tak
MgSO4 berwarna (-) (-) tak
berwarna
putih berwarna
10 Serbuk Larutan Larutan
CuCH3(COO)2 berwarna berwarna (-) (-) berwarna
biru tosca biru (++) biru
11 serbuk Larutan
Larutan tak
Al2(SO4)3 berwarna (-) (-) tak
berwarna
putih berwarna
12 Kristal Larutan
Larutan tak
NaH2PO4 berwarna (-) (-) tak
berwarna
putih berwarna
13 NiSO4 Kristal Larutan (-) (-) Larutan
berwarna berwarna berwarna
hijau tosca hijau toska hijau
14 serbuk Larutan Larutan
K2Cr2O7 berwarna berwarna (-) (-) berwarna
orange jingga jingga
15 Larutan
serbuk Larutan
berwarna
Silica gel berwarna berwarna (-) (-)
kuning (+
putih kuning (+++)
++)
16 Serbuk Larutan Larutan
MnO2 berwarna berwarna (-) (-) berwarna
hitam hitam hitam
Keterangan: Tanda (+) menunjukan pergerakan

Tanda (-) menunjukan tidak ada pergerakan


c. Uji Reaksi

+Na2SO +NH4O
Larutan +NaOH +NaCl +Na2CO3 +Na2S +EDTA +NH4Cl +NaH2PO4
No 4 H
Bahan 0,05mol 0,05mol 0,05mol 0,05mol 0,05mol 0,05mol 0,05mol
0,05mol 0,05mol
1 Karbon Larutan Larutan Larutan Larutan Larutan Larutan Larutan Larutan Larutan
tak tak tak tak tak tak tak tak tak
berwarn berwarn berwarn berwarna berwarna berwarna berwarn berwarn berwarna
a a a a a
2 FeSO4 Larutan Larutan Larutan Larutan Larutan Larutan Larutan Larutan Larutan
berwarn berwarn berwarn berwarna berwarna berwarna berwarn berwarn berwarna
a hijau a kuning a kuning kuning (+ kuning (+ hijau (++ a kuning a kuning hitam
(+) (+++) (++) +) +++) +) (++++) (+)
3 PbSO4 Larutan Larutan Larutan Larutan Larutan Larutan Larutan Larutan Larutan
tak tak berwarn tak coklat (--) berwarna tak tak berwarna
berwarn berwarn a kuning berwarna terdapat kuning berwarn berwarn jingga
a a (----) endapan (-) a a
4 Zn Larutan Larutan Larutan Larutan Larutan Larutan Larutan Larutan Larutan
tak tak tak tak tak tak tak tak tak
berwarn berwarn berwarn berwarna berwarna berwarna berwarn berwarn berwarna
a a a a a
5 CaCO3 Terdapat Larutan Larutan Terdapat Larutan Larutan Larutan Larutan Larutan
endapan tak tak endapan tak tak tak tak tak
putih berwarn berwarn putih berwarna berwarna berwarn berwarn berwarna
a a a a
6 CaCl2 Larutan Larutan Larutan Terdapat Larutan Larutan Larutan Larutan Larutan
tak tak tak endapan tak tak tak tak tak
berwarn berwarn berwarn putih berwarna berwarna berwarn berwarn berwarna
a a a a a
7 KCl Larutan Larutan Larutan Larutan Larutan Larutan Larutan Larutan Larutan
tak tak tak tak tak tak tak tak tak
berwarn berwarn berwarn berwarna berwarna berwarna berwarn berwarn berwarna
a a a a a
8 BaCl2 Larutan Larutan Larutan Terdapat Larutan Larutan Larutan Larutan Larutan
tak tak tak endapan berwarna tak tak tak tak
berwarn berwarn berwarn putih biru keruh berwarna berwarn berwarn berwarna
a a a a a
9 MgSO4 Larutan Larutan Larutan Larutan Larutan Larutan Larutan Larutan Larutan
tak tak tak tak tak tak tak tak tak
berwarn berwarn berwarn berwarna berwarna berwarna berwarn berwarn berwarna
a a a a a
10 CuCH3(CO Larutan Larutan Larutan Larutan Larutan Larutan Larutan Larutan Larutan
O)2 ungu hijau hijau coklat ungu ungu biru biru hijau tosca
kebiruan tosca (-) tosca (--) dan kebiruan kebiruan tosca (+ tosca (+) (-)
terdapat +)
endapan
hitam
11 Al2(SO4)3 Larutan Larutan Larutan Larutan Larutan Larutan Larutan Larutan Larutan
tak tak tak tak tak tak berwarn tak tak
berwarn berwarn berwarn berwarna berwarna berwarna a putih berwarn berwarna
a a a a
12 NaH2PO4 Larutan Larutan Larutan Larutan Larutan Larutan Larutan Larutan Larutan
tak tak tak tak tak tak tak tak tak
berwarn berwarn berwarn berwarna berwarna berwarna berwarn berwarn berwarna
a a a a a

13 NiSO4 Larutan Larutan Larutan Larutan Larutan Larutan Larutan larutan larutan
berwarn berwarn berwarn berwarna berwarna berwarna berwarn berwarn berwarna
a hijau a hijau a hijau hijau (-) hitam biru (+) a biru (+ a hijau hijau (-)
(+) (--) (-) +) (-)
14 K2Cr2O7 Larutan Larutan Larutan Larutan Larutan Larutan Larutan Larutan Larutan
berwarn berwarn berwarn berwarna berwarna berwarna berwarn berwarn berwarna
a kuning a kuning a kuning kuning (-) kuning (-) kuning a kuning a kuning kuning (++
(--) (+) (++) (-) (+++) (++) ++)
15 Silica gel Larutan Larutan Larutan Larutan Larutan Larutan Larutan Larutan Larutan
tak tak tak hijau hijau tak tak tak tak
berwarn berwarn berwarn kehitama kehitaman berwarna berwarn berwarn berwarna
a a a n a a
16 MnO2 Larutan Larutan Larutan Larutan Larutan Larutan Larutan Larutan Larutan
berwarn berwarn berwarn berwarna berwarna berwarna berwarn berwarn berwarna
a hitam a hitam a hitam hitam (-) hitam hitam (+ a hitam a hitam hitam (+)
(++) (+) (-) kecoklata ++) (+) (++)
n

VIII. Perhitungan dan Persamaan Reaksi

a) Perhitungan
1. 0,05mol NaOH dalam 50ml massa 1000
n 0,05mol 3. M= Mr v
2. M= v = 0,05 L =

1M
massa n 0,05mol
4. 1M= 40 g /mol 17. M= v = 0,05 L =

1M
1000 massa 1000
50 ml 18. M= Mr v
5. (=) massa = 2 gram massa
6. 0,05mol NaCl dalam 50ml 19. 1M= 78,042 g/mol
n 0,05mol
7. M= v = 0,05 L =
1000
1M 50 ml
20. (=) massa = 3,9023 gram
massa 1000 21. 0,05mol NaH2PO4 dalam 50ml
8. M= Mr v n 0,05mol
22.
M= v = 0,05 L =

mas sa 1M
9. 1M= 58,5 g/mol
massa 1000
23. M= Mr v

1000 massa
50 ml 24. 1M= 119,98 g /mol

10. (=) massa = 2,925 gram 1000


50 ml
11. 0,05mol Na2SO4 dalam 50ml
25. (=) massa = 5,999 gram
n 0,05mol 26. 0,05mol NH4OH dalam 50ml
12. M= v = 0,05 L = a 10
27. M= Mr =
1M

massa 1000 25 0,91 g /cm3 10


13. M= Mr v 35,05 g /mol = 6,49 M

V1 M =V M
28. 1 2 1
massa
14. 1M= 29. V1 6,49M = 50ml
142,06 g /mol

1M
1000
30. (=) V1 = 7,7041ml
50 ml
31. 0,05mol EDTA dalam 50ml
n 0,05mol
32.M = v = 0,05 L = 1M
15. (=) massa = 7,103 gram

16. 0,05mol Na2S dalam 50ml


massa 1000 41. 0,05mol NH4Cl dalam 50ml
33.M = Mr v n 0,05mol
42. M= v = 0,05 L =
massa
34.1 M = 372,24 g /mol
1M
massa 1000
43. M= Mr v
1000
50 ml massa
44. 1M= 53,5 g/mol
35.(=) massa = 18,61 gram
36. 0,05mol Na2CO3 dalam 50ml
n 0,05mol
1000
37. M = v = 0,05 L = 1M
50 ml
massa 1000 45. (=) massa = 2,675 gram
38. M = Mr v 46. Aqua Regia 50ml
47. HCl : HNO3 1:3
massa 3
39. 1 M = 105,99 g/mol
48. HCl = 50ml 4 =

37,5ml
1000 1
50 ml 49. HNO3 = 50ml =
4
40. (=) massa = 5,2995 gram
12,5ml
50.

b) Persamaan reaksi
Uji Kelarutan
51. Karbon
52. C(s) + H2O(l) C(s) + H2O(l)
53. C(s) + HCl(l) C(s) + HCl(l)
54. C(s) + HNO3(l) C(s) + HNO3(l)
55. C(s) + HCl(l) + HNO3(l) C(s) + HCl(l) + HNO3(l)
56. FeSO4
57. FeSO4(s) + H2O(l) FeSO4(aq) + H2O(aq)
58. PbSO4
59. PbSO4(s) + H2O(l) PbSO4 (s) + H2O(l)
60. PbSO4(s) + HCl(l) PbSO4(s) + HCl(l)
61. PbSO4(s) + HNO3(l) PbSO4(s) + HNO3(l)
62. PbSO4(s) + HCl(l) + HNO3(l) PbSO4 (s) + HCl(l) + HNO3(l)
63. Zn
64. Zn(s) + H2O(l) Zn(s) + H2O(l)
65. Zn(s) + HCl(l) Zn(s) + HCl(l)
66. Zn(s) + HNO3(l) ZnNO3(aq) + H+(aq)
67. CaCO3
68. CaCO3(s) + H2O(l) CaCO3(s) + H2O(l)
69. CaCO3(s) + HCl(l) CaCl2(aq) + HCO3(aq)
70. CaCl2
71. CaCl2(s) + H2O(l) CaCl2(aq)
72. KCl
73. KCl(s) + H2O(l) KCl(aq)
74. BaCl2
75. BaCl2(s) + H2O(l) BaCl2(aq)
76. Al2(SO4)3
77. Al2(SO4)3(s) + H2O(l) Al2(SO4)3(aq)
78. NaH2PO4
79. NaH2PO4(s) + H2O(l) NaH2PO4(aq)
80. MgSO4
81. MgSO4(s) + H2O(l) MgSO4(aq)
82. CuCH3(COO)2
83. CuCH3(COO)2(s) + H2O(l) CuCH3(COO)2(aq)
84. NiSO4
85. NiSO4(s) + H2O(l) NiSO4(aq)
86. K2Cr2O7
87. K2Cr2O7(s) + H2O(l) K2Cr2O7(aq)
88. Silica gel
89. Si(s) + H2O(l) Si(s) + H2O(l)
90. Si(s) + HCl(l) Si(s) + HCl(l)
91. Si(s) + HNO3(l) Si(s) + HNO3(l)
92. Si(s) + HCl(l) + HNO3(l) Si(s) + HCl(l) + HNO3(l)
93. MnO2
94. MnO2(s) + H2O(l) MnO2(aq)
Reaksi uji
95. Karbon
96. C(aq)
97. FeSO4

98. FeSO4(aq) + 2NaOH(aq) Fe (OH)2 (s) + Na2SO4 (aq)

99. FeSO4(aq) + 2NaCl (aq) FeCl2(aq) + Na2SO4(aq)

100. FeSO4(aq) + Na2S aq) FeS(aq) + Na2SO4(aq)

101. FeSO4(aq) + NaH2PO4 (aq)

102. FeSO4(aq) + Na2SO4 (aq) FeSO4(aq) + Na2SO4(aq)

103. FeSO4(aq) + EDTA (aq) Fe-(EDTA)

104. FeSO4(aq) + NH4OH aq) Fe (OH)2 (aq) + (NH4)2SO4 (aq)

105. FeSO4(aq) + Na2CO3aq) FeCO3(aq) + Na2SO4(aq)

106. FeSO4(aq) + 2NH4Cl (aq) FeCl2(aq) + (NH4)2SO4(aq)

107.

108. PbSO4

109. PbSO4 (aq) + NaOH(aq)

110. PbSO4 (aq) + NaCl (aq)

111. PbSO4 (aq) + Na2S aq)

112. PbSO4 (aq) + NaH2PO4 (aq) Na2SO4 (aq) + Pb(H2PO4)3 (aq)

113. PbSO4 (aq) + Na2SO4 (aq) PbSO4(aq) + Na2SO4(aq)

114. PbSO4 (aq) + EDTA (aq)

115. PbSO4 (aq) + NH4OH aq) (NH4)2SO4 (aq) + Pb (OH)2 (s)

116. PbSO4 (aq) + Na2CO3aq)

117. PbSO4 (aq) + 2NH4Cl (aq)

118. Zn
119. Zn(aq)

120. CaCO3

121. CaCO3 (aq)

122. CaCl2

123. CaCl2 (aq) + NaOH(aq)

124. CaCl2 (aq) + NaCl (aq)

125. CaCl2 (aq) + Na2S aq)

126. CaCl2 (aq) + NaH2PO4 (aq)

127. CaCl2 (aq) + Na2SO4 (aq)

128. CaCl2 (aq) + EDTA (aq)

129. CaCl2 (aq) + NH4OH aq)

130. CaCl2 (aq) + Na2CO3aq) CaCO3 (aq) + 2 NaCl (s)

131. CaCl2 (aq) + 2NH4Cl (aq)

132. KCl

133. KCl (aq)

134. BaCl2

135. BaCl2 (aq) + NaOH(aq)

136. BaCl2 (aq) + NaCl (aq)

137. BaCl2 (aq) + Na2S aq) BaS (aq) + 2 NaCl (aq)

138. BaCl2 (aq) + NaH2PO4 (aq)

139. BaCl2 (aq) + Na2SO4 (aq)

140. BaCl2 (aq) + EDTA (aq)


141. BaCl2 (aq) + NH4OH aq)

142. BaCl2 (aq) + Na2CO3aq) BaCO3 (aq) + 2 NaCl (s)

143. BaCl2 (aq) + 2NH4Cl (aq)

144. NaH2PO4

145. NaH2PO4(aq)

146. Al2(SO4)3

147. Al2(SO4)3 (aq) + NaOH(aq)

148. Al2(SO4)3 (aq) + NaCl (aq)

149. Al2(SO4)3 (aq) + Na2S aq)

150. Al2(SO4)3 (aq) + NaH2PO4 (aq)

151. Al2(SO4)3 (aq) + Na2SO4 (aq)

152. Al2(SO4)3 (aq) + EDTA (aq) [Al(EDTA)] (aq) + 3 MgSO4 (aq)

153. Al2(SO4)3 (aq) + NH4OH aq)

154. Al2(SO4)3 (aq) + Na2CO3aq)

155. Al2(SO4)3 (aq) + 2NH4Cl (aq)

156. MgSO4

157. MgSO4(aq)

158. Cu(CH3COO)2

159. Cu(CH3COO)2 (aq) + NaOH(aq) Cu(OH)2 (s) +


Na2CH3(COO)2 (aq)

160. Cu(CH3COO)2 (aq) + 2NaCl (aq) CuCl2(aq) + CH3COONa (aq)

161. Cu(CH3COO)2 (aq) + Na2S aq) CuS(aq) + CH3COONa(aq)


162. Cu(CH3COO)2 (aq) + NaH2PO4 (aq) Cu (H2PO4) (aq) +
Na2CH3(COO)2 (aq)

163. Cu(CH3COO)2 (aq) + Na2SO4 (aq) CuCl(aq) + CH3COONa(aq)

164. Cu(CH3COO)2 (aq) + EDTA (aq)

165. Cu(CH3COO)2 (aq) + NH4OH aq) Cu (OH)2 (aq) +


(NH4)CH3COO2 (aq)

166. Cu(CH3COO)2 (aq) + Na2CO3aq) CuCO3(aq) +


CH3COONa(aq)

167. Cu(CH3COO)2 (aq) + 2NH4Cl (aq)

168. Silica gel

169. Si2+ (aq)

170. MnO2

171. MnO2 (aq)

172. NiSO4

173. NiSO4(aq) + NaOH(aq)

174. NiSO4(aq) + NaCl (aq)

175. NiSO4(aq) + Na2S aq) NiS (aq) + Na2SO4 (aq)

176. NiSO4(aq) + NaH2PO4 (aq)

177. NiSO4(aq) + Na2SO4 (aq) NiSO4 (aq) + Na2SO4(aq)

178. NiSO4(aq) + EDTA (aq) Ni-(EDTA)

179. NiSO4(aq) + NH4OH aq) Ni (OH)2 (aq) + (NH4)2SO4 (aq)

180. NiSO4(aq) + Na2CO3aq)

181. NiSO4(aq) + 2NH4Cl (aq)


182. K2Cr2O7

183. K2Cr2O7(aq) + 2NaOH(aq) 2KOH(aq) + Na2Cr2O7(aq)

184. K2Cr2O7 (aq) + 2NaCl (aq) 2KCl(aq) + Na2Cr2O7(aq)

185. K2Cr2O7 (aq) + Na2S aq) K2S (aq) + Na2Cr2O7(aq)

186. K2Cr2O7 (aq) + 2NaH2PO4 (aq) 2KH2PO4 (aq) + Na2Cr2O7(aq)

187. K2Cr2O7 (aq) + Na2SO4 (aq)K2SO4 (aq) + Na2Cr2O7(aq)

188. K2Cr2O7 aq) + EDTA (aq) K-(EDTA)

189. K2Cr2O7 (aq) + NH4OH aq) KOH(aq) + (NH4)2Cr2O7(aq)

190. K2Cr2O7 (aq) + Na2CO3aq) K2CO3(aq) + Na2Cr2O7(aq)

191. K2Cr2O7(aq) + 2NH4Cl (aq) KCl(aq) + (NH4)2Cr2O7(aq)


192.
193.
194.
195.
196.
197.
198.
199.IX. Pembahasan

200. Abdul Hakim (1147040001)

201. Percobaan kali ini bertujuan untuk pemisahan


dan pembuatan unsur-unsur kimia, sampel padatan
dilarutkan terlebih dahulu, ini dikarenakan agar terdisosiasi
dan terbentuk senyawa baru yang diinginkan dengan
pelarut, tingkat pelarut dan kelarutan zat yang dilakukan
berbeda-beda, seperti CaCO3 yang larut dalam HCl pekat
tetapi tidak dalam air ini dikarenakan CaCO3 adalah garam
yang sukar larut dalam air, dengan reaksi kesetimbangan :

202. CaCO3(s) <==> Ca+(aq) + CO32-(aq)...(1)


203. dengan kehadiran HCl , CO3- akan membentuk
kesetimbangan dengan H+ dari HCl menurut reaksi:

204. 2H+(aq) + CO32-(aq) <==> H2O(l) + CO2(g) ....


(2)

205. Hal ini menyebabkan CO32- pada reaksi (1)


makin berkurang, sehingga kesetimbangan (1) akan
bergeser ke kanan, yang berarti CaCO3 larut.

206. Kemudian untuk sampel lain (yaitu


NaH2PO4, Cu(CH3COO)2, NiSO4, K2Cr2O7) dapat larut
dengan aquades panas. Sebenernya untuk sampel
ini larutan dalam aquades, akan tetapi untuk larut
dalam aquades yag dingin membutuhkan waktu
yang lama atau sukar larut. Hal ini disebabkan oleh
bantuan katalis (dalam hal ini energi panas) yang
mempercepat pelarutan sampel tersebut. Untuk
sampel yang lain semuanya larut (kecuali karbon
karena sudah terbentuk senyawa yang stabil dalam
bentuk padatan hitam) meskipun untuk melarut
setiap sampel berbeda-beda waktunya dikarena
setiap sampel memiliki ciri khas masing-masing

207. Pada reaksi yang terjadi senyawa kompleks


semua unsur transisi dapat membentuk ion kompleks,
yaitu suatu struktur dimana kation logam dikelilingi oleh
dua atau lebih anion atau molekul netral yang disebut
ligan. Antara ion pusat dengan ligan terjadi ikatan kovalen
koordinasi, dimana ligan berfungsi sebagai basa Lewis
(penyedia pasangan elektron).

208. Mg, Pb, Al berwarna putih keruh. Ini


dikarenakan. Senyawa unsur transisi umumnya berwarna.
Hal ini disebabkan perpindahan elektron yang terjadi pada
pengisian subkulit d dengan pengabsorbsi sinar tampak.
Senyawa Sc dan Zn tidak berwarna.

209. Pada FeSO4 dan NiSO4 yang ditambahkan air


terjadi perubahan warna hijau untuk Ni, dan oranye untuk
Fe, ini karena warna pada senyawa yang mengandung
logam transisi pada umumnya disebabkan oleh transisi
elektron dalam dua tipe:

210. Transfer muatan kompleks. Sebuah elektron


dapat melompat dari orbit ligan ke orbit logam,
membentuk ligant to metal charge transfer (LMCT). Hal ini
dapat dilihat dengan mudah jika logam sedang pada
bilangan oksidasi yang tinggi. Sebagai contoh, warna pada
ion kromat, dikromat, dan permanganat termasuk tipe ini.
Contoh lainnya adalah pada raksa(II) iodida yang berwarna
merah larena transisi LMCT.

211. Transisi metal to ligand charge transfer (MLCT)


terjadi ketika logam dalam bilangan oksidasi yang rendah
sehingga ligan dengan mudah tereduksi.

212. Pada kompleks Fe dan Ni terbentuk Transisi d-d.


Sebuah elektron melompat dadi satu orbit d ke orbit yang
lain. Pada senyawa logam transisi yang kompleks,
antarorbit d tidak mempunyai tingkat energi yang sama.
Pola pemisahan orbit d dapat dihitung dengan teori medan
kristal. Tingkat pemisahan tergantung pada jenis logam,
bilangan oksidasi, dan sifat dari ligan.

213. Tingkat energi elektron pada unsur-unsur


transisi yang hampir sama menyebabkan timbulnya warna
pada ion-ion logam transisi. Hal ini terjadi karena elektron
dapat bergerak ke tingkat yang lebih tinggi dengan
mengabsorpsi sinar tampak. Pada golongan transisi,
subkulit 3d yang belum terisi penuh menyebabkan elektron
pada subkulit itu menyerap energi cahaya, sehingga
elektronnya tereksitasi dan memancarkan energi cahaya
dengan warna yang sesuai dengan warna cahaya yang
dapat dipantulkan pada saat kembali ke keadaan dasar.

214. Sifat Kemagnetan

215. Ketika didekatkan dengan magnet terjadi


tarikan dan dorongan, ini dikarenakan, setiap atom dan
molekul mempunyai sifat magnetik, yaitu paramagnetik, di
mana atom, molekul, atau ion sedikit dapat ditarik oleh
medan magnet karena ada elektron yang tidak
berpasangan pada orbitalnya dan molekul mempunyai sifat
diamagnetik, di mana atom, molekul, atau ion dapat ditolak
oleh medan magnet karena seluruh elektron pada orbitnya
berpasangan. Dari pengamatan unsur-unsur transisi
(semua sampel ) bersifat diamagnetik. Hal ini dikarenakan
setiap sampel mungkin sudah bersifat diamagnetik karena
terlalu lama disimpan atau karena magnet yang digunakan
kurang sensitif terhadap kepekaan sifat magnet (magnet
terpotong menjadi dan terpisah dar kutub U dan S ). Dari
literatur logam Al bersifat paramagnetik, sedangkan Cu,Zn,
Na, Mg, Mn, dan lainnya bersifat diamagnetik. Untuk Fe,
dan Ni bersifat feromagnetik, yaitu kondisi yang sama
dengan paramagnetik hanya saja dalam keadaan padat.

216. Tugas

217. Sifat Kemagnetan


218. Ketika didekatkan dengan magnet terjadi
tarikan dan dorongan, ini dikarenakan, setiap atom dan
molekul mempunyai sifat magnetik, yaitu paramagnetik, di
mana atom, molekul, atau ion sedikit dapat ditarik oleh
medan magnet karena ada elektron yang tidak
berpasangan pada orbitalnya dan molekul mempunyai sifat
diamagnetik, di mana atom, molekul, atau ion dapat ditolak
oleh medan magnet karena seluruh elektron pada orbitnya
berpasangan. Dari pengamatan unsur-unsur transisi
(semua sampel ) bersifat diamagnetik. Hal ini dikarenakan
setiap sampel mungkin sudah bersifat diamagnetik karena
terlalu lama disimpan atau karena magnet yang digunakan
kurang sensitif terhadap kepekaan sifat magnet (magnet
terpotong menjadi dan terpisah dar kutub U dan S ). Dari
literatur logam Al bersifat paramagnetik, sedangkan Cu,Zn,
Na, Mg, Mn, dan lainnya bersifat diamagnetik. Untuk Fe,
dan Ni bersifat feromagnetik, yaitu kondisi yang sama
dengan paramagnetik hanya saja dalam keadaan padat.

219.

220.

221. Aida Rismawati (1147040006)

222. Pada praktikum mengenai kimia unsur


dilakukan 3 perlakuan yaitu uji kelarutan, uji
kemagnetan, dan uji reaksi. Sampel yang dipakai
sebanyak 16 sampel yaitu, C (carbon), FeSO 4,
PbSO4, Zn (Zink), CaCO3, CaCl2, KCl, BaCl2, NaH2PO4,
Al2(SO4)3, MgSO4, Cu(CH3COO)2, Silika gel, MnO2,
NiSO4, K2Cr2O7.

Uji Kelarutan:
223. Pada percobaan dilkukan uji kelarutan pada semua sampel
oleh beberapa pelarut. Penggunaan pelarut ini bertujuan untuk
mengidentifikasi terjadinya kelarutan pada sampel padatan. Pemberian
pelarut ini dilakukan secara berurutan sesuai dengan tingkat daya
pelarutnya. Pertama, semua sampel padatan dilarutkan dengan pelarut
sebagai berikut akuades, akuades panas, HCl encer, HCl pekat, HNO3
encer, HNO3 pekat dan air raja.

224. Dari hasil yang didapatkan sampel yang larut dalam


akuades adalah sampel FeSO4, CaCl2, KCl, BaCl2, Al2(SO4)3, MgSO4 dan
MnO2, sampel ini dapat larut dalam akuades karena sampel merupakan
zat-zat yang memiliki nilai Ksp yang besar, sehingga senyawa akan
memiliki kelarutan yang besar dan memungkinkan semakin mudah larut
senyawa tersebut.

225. Lalu sampel yang larut dalam aquades panas adalah sampel
NaH2PO4, Cu(CH3COO)2, NiSO4 dan K2Cr2O7 , sampel ini dapat larut
dalam aquades panas karena sampel-sampel ini merupakan zat yang
memiliki kelarutan yang besar. Sehingga panas yang dibutuhkan untuk
mengatasi daya tarik diantara ion-ion juga besar, sehingga titik leleh dan
titik didihnya juga tinggi. Maka dari itu sampel ini dapat larut dalam
aquades panas.

226. Lalu sampel yang larut dalam HCl pekat adalah sampel
CaCO3. Apabila kalsium karbonat ini ditambahkan air, reaksinya akan
berjalan dengan sangat kuat dan cepat apabila dalam bentuk serbuk, serbuk
kalsium karbonat akan melepaskan kalor. Molekul dari CaCO 3 akan segera
mengikat molekul air (H2O) yang akan membentuk kalsium hidroksida, zat
yang lunak seperti pasta (zat mengendap). Sebagaimana ditunjukkan pada
reaksi sebagai berikut:
227. CaCO3 (aq) + H2O (l) Ca(OH)2 (s) + CO2 (aq)
228. Untuk uji kelarutan dengan menggunakan HCl pekat,
hasilnya larut. Endapan Ca(OH)2 yang dihasilkan bereaksi hebat dengan
berbagai asam, dengan adanya air. Sehingga dapat larut. Berikut
persamaan reaksinya :
229. CaCO3 (aq) + 2 HCl (aq) CaCl2 (aq) + H2CO3 (aq)
230. Lalu sampel yang larut dalam HNO 3 encer adalah sampel
Zn, sampel ini dapat larut dalam HNO 3 encer karena logam Zn sangat
sukar larut di dalam air, tetapi dapat larut dalam larutan asam.
231. Sedangkan sampel yang tidak larut walaupun ditambahkan
pelarut air raja adalah sampel C, PbSO4 dan Silika gel, sampel ini tidak
dapat larut bisa dikarenakan zat ini tidak dapat bereaksi didalam air dan
pelarut asam, tetapi hanya bisa larut dalam pelarut organik.

232. Sehingga dapat dilihat bahwa pada semua sampel yang


digunakan tidak semua sampel dapat bereaksi dengan pelarut. Dimana
dapat dilihat terlebih dahulu sampel yang digunakan dan pelarut yang
cocok untuk melarutkannya, serta dapat dilihat dari harga Ksp nya dimana
semakin besar harga Ksp suatu zat semakin mudah larut senyawa tersebut.
Dan terjadi persamaan reaksi dari reaksi-reaksi kelarutan sebagai berikut:

233. Karbon
234. C(s) + H2O(l) C(s) + H2O(l)
235. C(s) + HCl(l) C(s) + HCl(l)
236. C(s) + HNO3(l) C(s) + HNO3(l)
237. C(s) + HCl(l) + HNO3(l) C(s) + HCl(l) + HNO3(l)
238. FeSO4
239. FeSO4(s) + H2O(l) FeSO4(aq) + H2O(aq)
240. PbSO4
241. PbSO4(s) + H2O(l) PbSO4 (s) + H2O(l)
242. PbSO4(s) + HCl(l) PbSO4(s) + HCl(l)
243. PbSO4(s) + HNO3(l) PbSO4(s) + HNO3(l)
244. PbSO4(s) + HCl(l) + HNO3(l) PbSO4 (s) + HCl(l) + HNO3(l)
245. Zn
246. Zn(s) + H2O(l) Zn(s) + H2O(l)
247. Zn(s) + HCl(l) Zn(s) + HCl(l)
248. Zn(s) + HNO3(l) ZnNO3(aq) + H+(aq)
249. CaCO3
250. CaCO3(s) + H2O(l) CaCO3(s) + H2O(l)
251. CaCO3(s) + HCl(l) CaCl2(aq) + HCO3(aq)
252. CaCl2
253. CaCl2(s) + H2O(l) CaCl2(aq)
254. KCl
255. KCl(s) + H2O(l) KCl(aq)
256. BaCl2
257. BaCl2(s) + H2O(l) BaCl2(aq)
258. Al2(SO4)3
259. Al2(SO4)3(s) + H2O(l) Al2(SO4)3(aq)
260. NaH2PO4
261. NaH2PO4(s) + H2O(l) NaH2PO4(aq)
262. MgSO4
263. MgSO4(s) + H2O(l) MgSO4(aq)
264. CuCH3(COO)2
265. CuCH3(COO)2(s) + H2O(l) CuCH3(COO)2(aq)
266. NiSO4
267. NiSO4(s) + H2O(l) NiSO4(aq)
268. K2Cr2O7
269. K2Cr2O7(s) + H2O(l) K2Cr2O7(aq)
270. Silica gel
271. Si(s) + H2O(l) Si(s) + H2O(l)
272. Si(s) + HCl(l) Si(s) + HCl(l)
273. Si(s) + HNO3(l) Si(s) + HNO3(l)
274. Si(s) + HCl(l) + HNO3(l) Si(s) + HCl(l) + HNO3(l)
275. MnO2
276. MnO2(s) + H2O(l) MnO2(aq)

277.

278.

Uji Kemagnetan

279. Pertama, semua sampel yang berupa padatan didekatkan


pada batang magnet. Dari hasil yang didapatkan pada semua sampel
padatan yang tertarik atau terdorong oleh magnet yaitu hanya sampel
Karbon (C) dan FeSO4, ini dikarenakan zat bersifat paramagnetik (adanya
elektron yang tidak berpasangan), sedangkan zat Fe sendiri termasuk zat
yang bersifat fero magnetik (zat yang sangat kuat interaksinya dengan
magnet). Sedangkan sampel padatan yang lainnya tidak mengalami tarikan
atau dorongan. Ini bisa dikarenakan sampel tidak bersifat paramagnetik,
melainkan bersifat diamagnetik (sedikit ditolak keluar medan magnet) dan
faktor alat yang digunakan yaitu batang magnet yang digunakan sudah
mengalami kerusakan. Sehingga tidak terjadi interaksi pada saat
larutannya pada magnet.

280. Kedua, semua sampel yang berupa cairan didekatkan pada


batang magnet. Dari hasil yang didapatkan pada semua sampel cairan tidak
mengalami tarikan atau dorongan pada batang magnet. Tidak terjadinya
tarikan dengan magnet bisa dikarenakan faktor alat yang digunakan yaitu
batang magnet yang digunakan sudah mengalami kerusakan.

281. Sehingga dapat dilihat bahwa sifat magnetik suatu zat


terdiri atas atom, ion atau molekul ditentukan oleh struktur elektronnya.
Interaksi antara zat dan medan magnet dibedakan menjadi dua, yaitu
diamagnetik dan paramagnetik. Zat paramagnetik tertarik oleh medan
magnet, sedangkan zat diamagnetik tidak tertarik magnet. Banyak unsur
transisi dan senyawa yang bersifat paramagnetik. Hal ini disebabkan
adanya elektron yang tidak berpasangan. Sifat magnet zat berkaitan
dengan konfigurasi elektronnya. Zat yang bersifat paramagnetik
mempunyai setidaknya satu elektron tak berpasangan. Semakin banyak
elektron tak berpasangan, semakin bersifat paramagnetik. Pengukuran sifat
magnet dapat digunakan untuk menentukan jumlah elektron tak
berpasangan dalam satu spesi.

Uji Reaksi dengan Reagen

282. Pada semua sampel berupa larutan akan direaksikan dengan


beberapa pereaksi yaitu pereaksi NaOH, NaCl, Na2S, NaH2PO4, Na2SO4,
EDTA, NH4OH, Na2CO3 dan NH4Cl.

283. Sampel pertama, yaitu karbon (C). Setelah ditambahkan


dengan semua pereaksi, hasil yang didapatkan adalah sampel karbon
berupa larutan tidak berwarna. Ini menandakan pada sampel karbon tidak
mengalami perubahan warna atau tidak adanya reaksi yang terjadi. Ini bisa
dikarenakan sifat dari zat karbon yang tidak dapat larut dalam pereaksi
biasa dan hanya dapat larut dalam pereaksi organik yang dapat melarutkan.
Dengan persamaan reaksi :

284. C(aq)

285. Sampel kedua, yaitu FeSO4. Larutan FeSO4 berupa larutan


tidak berwarna dengan terdapat endapan berwarna hijau. Setelah
ditambahkan dengan semua pereaksi, hasil yang didapatkan adalah
kebanyakan sampel menjadi warna hijau dan kuning. Ini menandakan pada
sampel FeSO4 mengalami perubahan warna atau adanya reaksi yang
terjadi. Tetapi hanya pada saat direaksikan dengan larutan NaH 2PO4,
larutan tidak mengalami perubahan warna yaitu tetap larutan tidak
berwarna, ini dikarenakan pereaksi tersebut tidak dapat membentuk suatu
senyawa yang baru dengan larutan FeSO4. Dengan persamaan reaksi ;

286. FeSO4(aq) + 2NaOH(aq) Fe (OH)2 (s) + Na2SO4 (aq)

287. FeSO4(aq) + 2NaCl (aq) FeCl2(aq) + Na2SO4(aq)

288. FeSO4(aq) + Na2S aq) FeS(aq) + Na2SO4(aq)

289. FeSO4(aq) + NaH2PO4 (aq)

290. FeSO4(aq) + Na2SO4 (aq) FeSO4(aq) + Na2SO4(aq)

291. FeSO4(aq) + EDTA (aq) Fe-(EDTA)

292. FeSO4(aq) + NH4OH aq) Fe (OH)2 (aq) + (NH4)2SO4 (aq)

293. FeSO4(aq) + Na2CO3aq) FeCO3(aq) + Na2SO4(aq)

294. FeSO4(aq) + 2NH4Cl (aq) FeCl2(aq) + (NH4)2SO4(aq)

295. Sampel ketiga, yaitu PbSO4. Larutan PbSO4 berupa larutan


tidak berwarna dengan terdapat endapan berwarna putih. Setelah
ditambahkan dengan semua pereaksi, hasil yang didapatkan adalah
kebanyakan sampel tidak bereaksi. Ini menandakan pada sampel FeSO4
tidak mengalami perubahan warna atau tidak adanya reaksi yang terjadi.
Tetapi hanya pada saat direaksikan dengan larutan Na2SO4, NH4OH, dan
NaH2PO4, berurutan larutan mengalami perubahan warna menjadi larutan
berwarna kuning (---), kuning (-), dan jingga. Ini dikarenakan pereaksi
tersebut dapat membentuk suatu senyawa yang baru dengan larutan
PbSO4, walaupun reaksi yang terjadi sangat lemah. Deangan persamaan
reaksi :

296. PbSO4 (aq) + NaOH(aq)


297. PbSO4 (aq) + NaCl (aq)

298. PbSO4 (aq) + Na2S aq)

299. PbSO4 (aq) + NaH2PO4 (aq) Na2SO4 (aq) + Pb(H2PO4)3 (aq)

300. PbSO4 (aq) + Na2SO4 (aq) PbSO4(aq) + Na2SO4(aq)

301. PbSO4 (aq) + EDTA (aq)

302. PbSO4 (aq) + NH4OH aq) (NH4)2SO4 (aq) + Pb (OH)2 (s)

303. PbSO4 (aq) + Na2CO3aq)

304. PbSO4 (aq) + 2NH4Cl (aq)

305. Sampel keempat, yaitu Seng (Zn). Larutan Zn berupa


larutan tidak berwarna. Setelah ditambahkan dengan semua pereaksi, hasil
yang didapatkan adalah sampel Zn berupa larutan tidak berwarna. Ini
menandakan pada sampel Zn tidak mengalami perubahan warna atau tidak
adanya reaksi yang terjadi. Ini dikarenakan Zn merupakan salah satu unsur
transisi, logam Zn sangat sukat larut di dalam air. Deangan persamaan
reaksi :

306. Zn(aq)

307. Sampel kelima, yaitu CaCO3. Larutan CaCO3 berupa


larutan tidak berwarna dan terdapat endapan putih. Setelah ditambahkan
dengan semua pereaksi, hasil yang didapatkan adalah sampel CaCO3
berupa latutan tidak berwarna dan terdapat endapan putih. Ini menandakan
pada sampel CaCO3 tidak mengalami perubahan warna atau tidak adanya
reaksi yang terjadi. Ini dikarenakan pereaksi tersebut tidak dapat
membentuk suatu senyawa yang baru dengan larutan CaCO3. Dengan
persamaan reaksi :

308. CaCO3 (aq)


309. Sampel keenam, yaitu CaCl2. Larutan CaCl2 berupa larutan
tidak berwarna. Setelah ditambahkan dengan semua pereaksi, hasil yang
didapatkan hampir keseluruhan reaksi adalah sampel CaCl2 berupa larutan
tidak berwarna. Ini menandakan pada sampel CaCl2 tidak mengalami
perubahan warna atau tidak adanya reaksi yang terjadi. Tetapi hanya pada
saat direaksikan dengan larutan Na2CO3, larutan mengalami perubahan
menjadi terdapat endapan putih pada larutan. Ini dikarenakan pereaksi
tersebut dapat membentuk suatu senyawa yang baru dengan larutan CaCl 2,
walaupun reaksi yang terjadi sangat lemah. Dengan persamaan reaksi :

310. CaCl2 (aq) + NaOH(aq)

311. CaCl2 (aq) + NaCl (aq)

312. CaCl2 (aq) + Na2S aq)

313. CaCl2 (aq) + NaH2PO4 (aq)

314. CaCl2 (aq) + Na2SO4 (aq)

315. CaCl2 (aq) + EDTA (aq)

316. CaCl2 (aq) + NH4OH aq)

317. CaCl2 (aq) + Na2CO3aq) CaCO3 (aq) + 2 NaCl (s)

318. CaCl2 (aq) + 2NH4Cl (aq)

319. Sampel ketujuh, yaitu KCl. Larutan KCl berupa larutan


tidak berwarna. Setelah ditambahkan dengan semua pereaksi, hasil yang
didapatkan adalah sampel KCl berupa larutan tidak berwarna. Ini
menandakan pada sampel KCl tidak mengalami perubahan warna atau
tidak adanya reaksi yang terjadi. Ini dikarenakan pereaksi tersebut tidak
dapat membentuk suatu senyawa yang baru dengan larutan KCl. Dengan
persamaan reaksi :

320. KCl (aq)


321. Sampel ke-8, yaitu BaCl2. Larutan BaCl2 berupa larutan
tidak berwarna. Setelah ditambahkan dengan semua pereaksi, hasil yang
didapatkan adalah kebanyakan sampel tidak bereaksi. Ini menandakan
pada sampel BaCl2 tidak mengalami perubahan warna atau tidak adanya
reaksi yang terjadi. Tetapi hanya pada saat direaksikan dengan larutan
Na2CO3 dan Na2S, berurutan larutan mengalami perubahan terdapat
endapan putih dan larutan biru. Ini dikarenakan pereaksi tersebut dapat
membentuk suatu senyawa yang baru dengan larutan BaCl2, walaupun
reaksi yang terjadi sangat lemah. Dengan persamaan reaksi :

322. BaCl2 (aq) + NaOH(aq)

323. BaCl2 (aq) + NaCl (aq)

324. BaCl2 (aq) + Na2S aq) BaS (aq) + 2 NaCl (aq)

325. BaCl2 (aq) + NaH2PO4 (aq)

326. BaCl2 (aq) + Na2SO4 (aq)

327. BaCl2 (aq) + EDTA (aq)

328. BaCl2 (aq) + NH4OH aq)

329. BaCl2 (aq) + Na2CO3aq) BaCO3 (aq) + 2 NaCl (s)

330. BaCl2 (aq) + 2NH4Cl (aq)

331. Sampel ke-9, yaitu NaH2PO4. Larutan NaH2PO4 berupa


larutan tidak berwarna. Setelah ditambahkan dengan semua pereaksi, hasil
yang didapatkan adalah sampel NaH 2PO4 berupa larutan tidak berwarna.
Ini menandakan pada sampel NaH2PO4 tidak mengalami perubahan warna
atau tidak adanya reaksi yang terjadi. Ini dikarenakan pereaksi tersebut
tidak dapat membentuk suatu senyawa yang baru dengan larutan
NaH2PO4. Dengan persamaan reaksi :

332. NaH2PO4(aq)
333. Sampel ke-10, yaitu Al2(SO4)3. Larutan Al2(SO4)3 berupa
larutan tidak berwarna. Setelah ditambahkan dengan semua pereaksi, hasil
yang didapatkan adalah kebanyakan sampel tidak bereaksi. Ini
menandakan pada sampel Al2(SO4)3 tidak mengalami perubahan warna
atau tidak adanya reaksi yang terjadi. Tetapi hanya pada saat direaksikan
dengan larutan EDTA, larutan mengalami perubahan menjadi larutan putih.
Ini dikarenakan pereaksi tersebut dapat membentuk suatu senyawa yang
baru dengan larutan Al2(SO4)3, walaupun reaksi yang terjadi sangat lemah.
Dengan persamaan reaksi :

334. Al2(SO4)3 (aq) + NaOH(aq)

335. Al2(SO4)3 (aq) + NaCl (aq)

336. Al2(SO4)3 (aq) + Na2S aq)

337. Al2(SO4)3 (aq) + NaH2PO4 (aq)

338. Al2(SO4)3 (aq) + Na2SO4 (aq)

339. Al2(SO4)3 (aq) + EDTA (aq) [Al(EDTA)] (aq) + 3 MgSO4 (aq)

340. Al2(SO4)3 (aq) + NH4OH aq)

341. Al2(SO4)3 (aq) + Na2CO3aq)

342. Al2(SO4)3 (aq) + 2NH4Cl (aq)

343. Sampel ke-11, yaitu MgSO4. Larutan MgSO4 berupa larutan


tidak berwarna. Setelah ditambahkan dengan semua pereaksi, hasil yang
didapatkan adalah sampel MgSO4 berupa larutan tidak berwarna. Ini
menandakan pada sampel MgSO4 tidak mengalami perubahan warna atau
tidak adanya reaksi yang terjadi. Ini dikarenakan pereaksi tersebut tidak
dapat membentuk suatu senyawa yang baru dengan larutan MgSO 4.
Dengan persamaan reaksi :

344. MgSO4(aq)
345. Sampel ke-12, yaitu Cu(CH3COO)2. Larutan Cu(CH3COO)2
berupa larutan berwarna biru. Setelah ditambahkan dengan semua
pereaksi, hasil yang didapatkan adalah kebanyakan sampel bereaksi yaitu
warna ungu kebiruan, larutan hijau dan larutan coklat (Na 2S) . Ini
menandakan pada sampel Cu(CH3COO)2 membentuk senyawa lain dengan
pereaksi. Tetapi hanya pada saat direaksikan dengan larutan NH 4Cl dan
EDTA, larutan tidak mengalami perubahan. Ini dikarenakan pereaksi
tersebut tidak dapat membentuk suatu senyawa yang baru dengan larutan
Cu(CH3COO)2, walaupun reaksi yang terjadi sangat lemah. Dengan
persamaan reaksi :

346. Cu(CH3COO)2 (aq) + NaOH(aq) Cu(OH)2 (s) +


Na2CH3(COO)2 (aq)

347. Cu(CH3COO)2 (aq) + 2NaCl (aq) CuCl2(aq) + CH3COONa (aq)

348. Cu(CH3COO)2 (aq) + Na2S aq) CuS(aq) + CH3COONa(aq)

349. Cu(CH3COO)2 (aq) + NaH2PO4 (aq) Cu (H2PO4) (aq) +


Na2CH3(COO)2 (aq)

350. Cu(CH3COO)2 (aq) + Na2SO4 (aq) CuCl(aq) + CH3COONa(aq)

351. Cu(CH3COO)2 (aq) + EDTA (aq)

352. Cu(CH3COO)2 (aq) + NH4OH aq) Cu (OH)2 (aq) +


(NH4)CH3COO2 (aq)

353. Cu(CH3COO)2 (aq) + Na2CO3aq) CuCO3(aq) +


CH3COONa(aq)

354. Cu(CH3COO)2 (aq) + 2NH4Cl (aq)

355. Sampel ke-13, yaitu silika gel. Larutan silika berupa larutan
berwarna kuning. Setelah ditambahkan dengan semua pereaksi, hasil yang
didapatkan adalah sampel silika berupa larutan tidak berwarna. Ini
menandakan pada sampel silika tidak mengalami perubahan warna atau
tidak adanya reaksi yang terjadi. Ini dikarenakan pereaksi tersebut tidak
dapat membentuk suatu senyawa yang baru dengan larutan silika. Dengan
persamaan reaksi :

356. Si2+ (aq)

357. Sampel ke-14, yaitu MnO2. Larutan MnO2 berupa larutan


berwarna hitam. Setelah ditambahkan dengan semua pereaksi, hasil yang
didapatkan adalah sampel MnO2 berupa larutan berwarna hitam. Ini
menandakan pada sampel MnO2 tidak mengalami perubahan warna atau
tidak adanya reaksi yang terjadi. Ini dikarenakan pereaksi tersebut tidak
dapat membentuk suatu senyawa yang baru dengan larutan MnO2.
Seharusnya zat Mangan ini dapat menghasilkan rekasi karna sifat umum
zat Mangan yaitu senyawa yang larut dalam air. Dengan persamaan reaksi
:

358. MnO2 (aq)

359. Sampel ke-15, yaitu NiSO4. Larutan NiSO4 berupa larutan


berwarna hijau. Setelah ditambahkan dengan semua pereaksi, hasil yang
didapatkan adalah kebanyakan sampel tidak bereaksi. Ini menandakan
pada sampel NiSO4 tidak membentuk senyawa lain dengan pereaksi.
Tetapi hanya pada saat direaksikan dengan larutan NH 4OH dan EDTA,
larutan mengalami perubahan menjadi larutan biru. Ini dikarenakan
pereaksi tersebut dapat membentuk suatu senyawa yang baru dengan
larutan NiSO4, walaupun reaksi yang terjadi sangat lemah. Dengan
persamaan reaksi :

360. NiSO4(aq) + NaOH(aq)

361. NiSO4(aq) + NaCl (aq)

362. NiSO4(aq) + Na2S aq) NiS (aq) + Na2SO4 (aq)

363. NiSO4(aq) + NaH2PO4 (aq)

364. NiSO4(aq) + Na2SO4 (aq) NiSO4 (aq) + Na2SO4(aq)


365. NiSO4(aq) + EDTA (aq) Ni-(EDTA)

366. NiSO4(aq) + NH4OH aq) Ni (OH)2 (aq) + (NH4)2SO4 (aq)

367. NiSO4(aq) + Na2CO3aq)

368. NiSO4(aq) + 2NH4Cl (aq)

369. Sampel ke-16, yaitu K2Cr2O7. Larutan K2Cr2O7 berupa


larutan berwarna jingga. Setelah ditambahkan dengan semua pereaksi,
hasil yang didapatkan adalah semua sampel bereaksi. Dimana larutan
berubah menjadi berwarna kuning. Ini menandakan pada sampel K 2Cr2O7
membentuk senyawa lain dengan pereaksi. Dengan persamaan reaksi :

370. K2Cr2O7(aq) + 2NaOH(aq) 2KOH(aq) + Na2Cr2O7(aq)

371. K2Cr2O7 (aq) + 2NaCl (aq) 2KCl(aq) + Na2Cr2O7(aq)

372. K2Cr2O7 (aq) + Na2S aq) K2S (aq) + Na2Cr2O7(aq)

373. K2Cr2O7 (aq) + 2NaH2PO4 (aq) 2KH2PO4 (aq) + Na2Cr2O7(aq)

374. K2Cr2O7 (aq) + Na2SO4 (aq)K2SO4 (aq) + Na2Cr2O7(aq)

375. K2Cr2O7 aq) + EDTA (aq) K-(EDTA)

376. K2Cr2O7 (aq) + NH4OH aq) KOH(aq) + (NH4)2Cr2O7(aq)

377. K2Cr2O7 (aq) + Na2CO3aq) K2CO3(aq) + Na2Cr2O7(aq)

378. K2Cr2O7(aq) + 2NH4Cl (aq) KCl(aq) + (NH4)2Cr2O7(aq)

379. Emay Maesaroh (1147040024)

380. Percobaan kali ini berjudul uji kelarutan dan sifat


unsur zat kimia. Tujuan dari percobaan ini yaitu untuk
mengidentifikasi sifat atau tingkat kelarutan sampel kimia berupa
padatan dan larutan dalam berbagai macam pelarut, Mengetahui
reaksi yang timbul dari suatu pelarut apabila direaksikan dengan
suatu zat atau reagen.
1. Uji kelarutan pada sampel dengan berbagai macam pelarut
381. Pelarut pelarut yang digunakan pada ppercobaan kali ini
yaitu aquades, aquades panas, HCl encer, HCl pekat, HNO 3 encer, HNO3
pekat dan aquaregia.
a. Karbon
382. Karbon adalah salah satu unsur golongan IVA yang
merupakan unsur nonlogam dan merupakan unsur penyusun
senyawa-senyawa organik. Atom karbon memiliki empat elektron
valensi, keempat elektron valensi tersebut dapat membentuk empat
ikatan kovalen melalui penggunaan bersama pasangan elektron
dengan atom-atom lain. Atom- atom karbon dapat mengadakan
katenasi yaitu kemampuan untuk membentuk rantai karbon. Ada
dua bentuk rantai karbon, yaitu terbuka (alifatik, yang terdiri atas
rantai lurus dan rantai bercabang) dan tertutup (siklik). Akibat dari
katenasi itu adalah timbulnya peristiwa isomeri, yaitu zat - zat
kimia yang mempunyai rumus molekul yang sama tetapi rumus
strukturnya berbeda. karbon sangat sukar larut dalam aquades,
sehingga pada saat dilarutkan dalam aquades hingga air raja karbon
sama sekali tidak larut.
b. FeSO4
383. FeSO4 berwarna biru, unsur yang diteliti kelarutannya
adalah Fe. Berdasarkan percobaan, FeSO4 larut dalam aquades,
Logam murni besi sangat reaktif secara kimiawi dan mudah
terkorosi, khususnya di udara yang lembab atau ketika terdapat
peningkatan suhu. Memiliki bentuk allotroik ferit, yakni alfa, beta,
gamma dan omega dengansuhu transisi 700, 928, dan 1530oC.
Bentuk alfa bersifat magnetik, tapi ketika berubah menjadi beta,
sifat magnetnya menghilang meski pola geometris molekul tidak
berubah. Mudah bereaksi dengan unsur-unsur non logam seperti
halogen, sulfur, pospor, boron, karbon dan silikon. Larut dalam
asam-asam mineral encer. Oksidanya bersifat amfoter.
384.
FeSO + H O Fe2+ + SO 2-
4(s) 2 (l) (s) 4 (s)

c. PbSO4
385. Unsur yang akan diuji kelarutannya pada sampel ini yaitu
Pb atau timbal yang merupakan logam berwarna abu abu, Timbal
tidak ditemukan bebas dialam akan tetapi biasanya ditemukan
sebagai biji mineral bersama dengan logam lain misalnya seng,
perak, dan tembaga. Sumber mineral timbal yang utama adalah
Galena (PbS) yang mengandung 86,6% Pb dengan proses
pemanggangan, Cerussite (PbCO3), dan
Anglesite(PbSO4).timbal organik ditemukan dalam bentuk
senyawa Tetra Ethyl Lead (TEL) dan Tetra Methyl Lead(TML).
386.
PbSO + H O Pb2+ + SO 2-
4(s) 2 (l) (s) 4 (s)

387.
d. CaCO3
388. CaCO3 berupa sebuk berwarna putih. Pada saat diuji
kelarutannya baik dengan aquades ataupun aquades panas CaCO3 tidak
larut dan membentuk endapan berwarna putih, apabila CaCO 3
ditambahkan air,reaksinya akan berjalan dengan cepat, apabila dalam
bentuk serbuk, sebuk CaCO3 akan melepaskan kalor, molekul CaCO 3
akan segera mengikat air, yang akan membentuk kalsium hidroksida.
Pada saat ditambahkan HCl pekat CaCO3 larut dalam HCl pekat,
endapan kalsium hidroksida bereaksi hebat dengan asam dengan
adanya air, sehingga CaCO3 dapat larut. Berikut persamaan reaksinya:
389. CaCO + H O Ca(OH) +
3(s) 2 (l) (s)

CO2(s)
e. NiSO4
390. NiSO4 merupakan garam berwarna biru, setelah diuji
kelarutannya NiSO4 larut dalam air, NiSO4 merupakan anhidrat hidrat
ionik, semua hidrat ionik sangat larut dalam air. Berikut persamaan
reaksinya:
391.
NiSO4(s) + H2O(l) Ni2+ +
(s)

SO42-(s)
f. Al2(SO4)3
392. Al2(SO4)3 pada saat diuji kelarutannya Al2(SO4)3 larut dalam
air.
g. BaCl2
393. BaCl2 pada saat diuji kelarutannya BaCl2 larut dalam air.
h. Zn
394. Zn merupakan logam transisi, logam Zn sangat sukar larut
dalam air,pada saat dilarutkan dengan aquades, aquades panas zn tidak
larut, setelah ditambahkan HCl encer zn larut dalam HCl encer.
i. MnO2
395. Mangan dalam air umumnya berbentuk ion Fe2+ atau Mn2+
unsur yang mudah larut dalam air dan tidak berwarna.
j. KCl
396. KCl berbentuk padatan putih merupakan unsur yang dapat
larut dalam aquades.
397.
KCl(s) + H2O(l) K+ (aq) + Cl--(aq)
2. Uji kekuatan interaksi larutan dengan menggunakan magnet
398. Percobaan selanjutnya yaitu menguji kekuatan interaksi
sampel dengan menggunakan magnet. Larutan sampel dalam tabung
reaksi didekatkan dengan magnet, jika menghasilkan reaksi larutan
dalam tabung akan bereaksi karena adanya tarikan oleh magnet. Pada
sampel FeSO4 dan karbon terjadinya interaksi namun hanya sedikit dan
sampel lainnya tidak terjadinya interaksi. Pada dasarnya magnet dapat
menarik alat magnetik, zat paramagnetik karakteristik, maka
ditentukan oleh sifat dari magnet itu sendiri. Interaksi antara zat dan
medan magnet dibedakan menjadi dua yaitu: diamagnetik, dan
paramagnetik. Zat paramagnetik tertarik oleh medan magnet,
sedangkan zat diamagnetik tidak. Banyak unsur transisi dan
senyawanya bersifat paramagnetik. Hal ini disebabkan adanya elektron
yang tidak berpasangan.
399. Semua sampel yang bereaksi dengan magnet, terutama
yang interaksinya tidak cukup kuat itu termasuk kedalam zat
paramagnetik, terkecuali untuk sampel yang mengandung FeSO4
karena FeSO4 termasuk kedalam zat fero magnetik, zat yang
merupakan sangat kuat interaksinya dengan magnet. Sifat magnet zat
didasarkan pada konfigurasi elektronnya zat yang bersifat
paramagnetik setidaknya memiliki satu yang tidak berpasangan,
semakin bersifat paramagnetik, pengukuran sifat magnet dapat
digunakan untuk menentukan jumlah elektron tak berpasangan dalam
satu spesi.
3. Uji Reaksi dengan beberapa reagen
400. Pada percobaan yang ketiga uji reaksi dengan beberapa
reagen yang bertujuan untuk mengetahui sifat dari beberapa unsur.
Berdasarkan percobaan didapat bahwa FeSO4 merupakan unsur transisi
dan termasuk kedalam senyawa kompleks karena menghasilkan warna
hijau dengan persamaan reaksinya:
401.
FeSO4(aq) + 2NaOH(aq) Fe(OH)2(s) + Na2SO4(aq)
FeSO + 2NaCl FeCl + Na SO
402. 4(aq) (aq) 2 (aq) 2 4(aq)

403. FeSO4(aq) + NaS(aq) FeS(aq) + Na2SO4(aq)

404. FeSO4(aq) + NaH2(PO4)(aq) FeH2(PO4) (aq) +

Na2SO4(aq)
405. FeSO4(aq) + NaSO4 (aq) FeSO4 (aq) + NaSO4(aq)
FeSO + EDTA Fe(EDTA) + SO4
406. 4(aq) (aq) (aq) (aq)

407. FeSO4(aq) + NH4(OH) (aq) (NH4)2SO4 (aq) + Fe

(OH)2(s)
408. FeSO4(aq) + Na2CO3(aq) FeCO3 (aq) + Na2SO4(aq)
FeSO + 2NH Cl FeCl +
409. 4(aq) 4 (aq) 2 (aq)

(NH4)2SO4(aq)
410. Kemudian Cu(CH3COO)2 direaksikan dengan beberapa reagen
menghasilkan warna berwarna hijau, kemudian berwarna biru, warna biru
ini didasarkan pada sifat khas dari unsur Cu yang berwarna biru dengan
persamaan reaksinya:
Cu(CH3COO)2(aq) + 2NaOH(aq) 2CH3COONa +
411. (aq)

Cu(OH)2(aq)
Cu(CH3COO)2(aq) + 2NaCl(aq) 2CH3COONa +
412. (aq)

CuCl2 (aq)
413. Cu(CH3COO)2(aq) + NaS(aq) 2CH3COONa (aq) + CuS

(aq)

414. Cu(CH3COO)2(aq) + NaH2(PO4)(aq) 2CH3COONa (aq) +

Cu H2(PO4)(aq)
415. Cu(CH3COO)2(aq) + 2NaSO4 (aq) 2CH3COONa (aq) +

CuS04 (aq)
Cu(CH3COO)2(aq) + EDTA(aq) CH3COO- +
416. (aq)

Cu(EDTA) (aq)
417. Cu(CH3COO)2(aq) + NH4(OH) (aq) (NH4) CH3COO (aq)

+ Cu(OH)2 (s)
418. Cu(CH3COO)2(aq) + Na2CO3(aq) 2NaCH3COO- (aq) +

CuCO3(aq)
419. Cu(CH3COO)2(aq) + 2NH4Cl(aq) CH3COONH4 (aq) +

CuCl2 (aq)
420.
421. Ketika MnO2 direaksikan dengan beberapa reagen menghasilkan
warna hitam Mangan dalam air umumnya berbentuk ion Fe2+ atau Mn2+
unsur yang mudah larut dalam berbagai reagen mangan menjadi larutan
berwarna hitam dengan persamaan reaksinya:
MnO2(aq) + NaOH(aq) NaO3(aq) +
422.

Mn(OH)2(s)
MnO2(aq) + 2NaCl(aq) Na O + MnCl
423. 2 3(aq) 2(s)

424. NiSO4 merupakan garam berwarna hijau kebiruan, setelah diuji


kelarutannya NiSO4 menghasilkan warna hijau, NiSO4 merupakan anhidrat
hidrat ionik, semua hidrat ionik sangat larut dalam air. Berikut persamaan
reaksinya:
425.
NiSO4(aq) + 2NaOH(aq) Ni(OH)2(s) + Na2SO4(aq)
NiSO + 2NaCl NiCl + Na SO
426. 4(aq) (aq) 2 (aq) 2 4(aq)

427. NiSO4(aq) + NaS(aq) NiS(aq) + Na2SO4(aq)

428. NiSO4(aq) + NaH2(PO4)(aq) NiH2(PO4) (aq) +

Na2SO4(aq)
429. NiSO4(aq) + NaSO4 (aq) Ni SO4 (aq) + NaSO4(aq)

430. NiSO4(aq) + EDTA(aq) Ni(EDTA) (aq) + SO4(aq)


NiSO + NH (OH) (NH ) SO +
431. 4(aq) 4 (aq) 4 2 4 (aq)

Ni(OH)2(s)
432. NiSO4(aq) + Na2CO3(aq) NiCO3 (aq) + Na2SO4(aq)
NiSO + 2NH Cl NiCl +
433. 4(aq) 4 (aq) 2 (aq)

(NH4)2SO4(aq)
434.
435. Sedangkan sampel lainnya tidak menghasilkan perubahan warna,
sehingga bukan merupakan kedalam senyawa kompleks.

436. Ai Kusmiati (1147040004)

437. Pada praktikum mengenai kimia unsur


dilakukan 3 perlakuan yaitu uji kelarutan, uji
kemagnetan, dan uji reaksi. Sampel yang dipakai
sebanyak 16 sampel yaitu, C (carbon), FeSO 4,
PbSO4, Zn (Zink), CaCO3, CaCl2, KCl, BaCl2, NaH2PO4,
Al2(SO4)3, MgSO4, Cu(CH3COO)2, Silika gel, MnO2,
NiSO4, K2Cr2O7.

438. Hal yang pertama dilakukan adalah uji


kelarutan. Semua sampel yang berupa padatan diambil
sebanyak 1 gram dan diambil sebagian kecil untuk
diidentifikasi kelarutannya. Pelarut yang digunakan adalah
aquades, aquades panas, HCl encer, HCl pekat, HNO 3
encer, HNO3 pekat dan air raja. Setiap bahan dilarutkan
pada pelarut secara bertahap sampai bahan tersebut larut.
Tujuan dari uji kelarutan ini adalah agar terdisosiasi
sehingga membentuk senyawa baru yang diinginkan.
Terdapat banyak sample yang larut dalam aquades.
Larutan yang larut dalam aquades memiliki kelarutan yang
besar artinya sangat mudah larut, dan sample tersebut
merupakan suatu polar karena aquades merupakan cairan
yang sangat polar. Akan tetapi ada yang tidak larut sampai
ditambahkan dengan air raja. Artinya sample tersebut
sangat sukar larut dan memiliki nilai kelarutan yang sangat
kecil. Sample padatan yang larut dalam aquades
diantaranya adalah FeSO4, CaCl2, KCl, BaCl2, Al2(SO4)3,
MgSO4, MnO2. Kemudian sample padatan yang larut dalam
air panas adalah NaH2PO4, Cu(CH3COO)2, NiSO4, K2Cr2O7
sample tersebut memiliki kelarutan yang besar pula akan
tetapi suhu yang dapat mempengaruhi suatu kelarutan.
Jadi sample padatan tersebut lebih mudah larut jika
dilarutkan dengan air panas. Selanjutnya yang larut dalam
HCl pekat adalah CaCO3, sample tersebut memiliki
kelarutan yang cukup rendah karena larutnya pada pelarut
yang bersifat asam kuat dan pekat. Sample tersebut
memang sukar larut dalam air. Selanjutnya untuk karbon,
PbSO4 dan silika gel tidak dapat larut meskipun telah
ditambahkan dengan air raja. Dengan demikian larutan
tersebut tidak dapat bereaksi dengan larutan asam dan
polar. Kemungkinan sample tersebut dapat larut dalam
pelarut yang bersifat nonpolar seperti pelarut-pelarut
organik. Dari percobaan dapat diketahui bahwa setiap
unsur kimia memiliki sifat kelarutan yang berbeda-beda.

439. Selanjutnya yang kedua adalah uji


kemagnetan, pad percobaan inisample padatan dan cairan
didekatkan dengan magnet. Apabila memiliki sifat
kemagnetan maka cairan atau padatan tersebut dapat
tertarik ke atas atau dapat bergerak ke atas. Akan tetapi
pada percobaan hampir semua padatan tidak dapat
tertarik keatas. Hal ini kemungkinan diakibat oleh magnet
yang digunakan kurang maksimal karena patah.
Seharusnya setiap sample dapat tertarik karenasetip undur
memiliki sifat kemagnetan. Pada sample yang
mengandung unsur Fe, Zn, Cu, Ni, Mn, Al, Na dan Mg
bersifat paramgnetik. Dan untuk sample lainnya bersifat
diamagnetik. Akan tetapi pada percobaan ini yang dapat
tertarik hanya karbon dan FeSO4.

440. Yang ketiga yaitu uji reaksi, setiap sample yang


sebelumnya telah diuji kelarutan kemudian di uji reaksi
dengan menggunakan sembilan pereaksi yaitu, NaOH, NaCl,
Na2S, NaH2PO4, Na2SO4, EDTA, NH4OH, Na2CO3 dan NH4Cl. Sample
yang pertama adalah karbon, ketika dilakukan penambahan pereaksi
sampel karbon tidak dapat bereaksi hal ini dapat dilihat dari tidak adanya
perubahan pada larutan. Larutan tetap tidak berwarna, hal ini karena
karbon merupakan suatu atom yang dapat bereaksi dengan pereaksi yang
bersifat nonpolar. Persamaan reaksinya adalah :

441. C(aq)

442. Sampel yang kedua adalah FeSO4, larutan


awalnya merupakan larutan tidak berwarna yang memiliki
endapan berwarna hijau. Setelah direaksikan mengalami
perubahan warna menjadi berwarna kuning, berwarna hijau
dan larutan tidak berwarna. Hal ini menunjukkan bahwa
FeSO4 bereaksi dengan senyawa senyawa polar. Akan tetapi
dengan beberapa pereaksi tidak terjadi reaksi seperti
dengan NaOH, NaH2PO4, EDTA dan NH4OH. Seharusnya
pada senyawa basa seperti NaOH dan NH4OH terbentuk
endapan. Persamaan reaksinya adalah :

443. FeSO4(aq) + NaOH(aq)

444. FeSO4(aq) + 2NaCl (aq) FeCl2(aq) + Na2SO4(aq)

445. FeSO4(aq) + Na2S aq) FeS(aq) + Na2SO4(aq)

446. FeSO4(aq) + NaH2PO4 (aq)

447. FeSO4(aq) + Na2SO4 (aq) FeSO4 (aq) + Na2SO4(aq)

448. FeSO4(aq) + EDTA (aq) Fe-(EDTA)


449. FeSO4(aq) + NH4OH aq)

450. FeSO4(aq) + Na2CO3aq) FeCO3(aq) + Na2SO4(aq)

451. FeSO4(aq) + 2NH4Cl (aq) FeCl2(aq) + (NH4)2SO4(aq)

452. Selanjutnya pada sample PbSO4, Zn (Zink),


CaCl2, KCl, BaCl2, NaH2PO4, Al2(SO4)3, dan MgSO4. Semua
sample tidak dapat bereaksi dengan pereaksi tidak
terdapat endapan dan tidak terjadi perubahan warna.
Semua sampel tetap larutan tidak berwarna. Seaharusnya
beberapa sampel membentuk endapan berwarna putih
yang merupakan garam. Persamaan reaksinya adalah :

453. PbSO4 (aq)

454. Zn(aq)

455. CaCl2 (aq)

456. KCl (aq)

457. BaCl2 (aq)

458. NaH2PO4 (aq)

459. Al2(SO4)3 (aq)

460. MgSO4 (aq)

461. Selanjutnya adalah pada sampel CaCO3 hanya


dapat bereaksi dengan satu pereaksi yaitu NaOH, dengan
perekasi tersebut membentuk endapan berwarna putih.
Sedangkan dengan 8 pereaksinya lainnya tidak bereaksi
ditunjukkan dengan tidak adanya perubahan warna dan
tidak adanya endapan pada sampel. Persamaan reaksinya
adalah :

462. CaCO3(aq) + 2NaOH(aq) Ca(OH)2(s) + Na2CO3


463. Selanjutnya pada sampel silika gel dan MnO2
pada sampel tidak bereaksi dengan ke 9 pereaksi.
Dilihat dengan tidak adanya perubahan warna dan
pembentukan endapan.

464. Selanjutnya pada sampel Cu(CH3COO)2,


Cu(CH3COO)2 setelah di larutkan membentuk larutan berwarna biru serta
adanya endapan berwarna hijau kemudian direaksikan dengan ke-9
pereaksi. Setelah direaksikan terjadi perubahan warna menjadi warna
hijau, biru dan coklat. Hal ini menunjukkan terjadinya reaksi dan
terbentuknya senyawa baru. Akan tetapi ketika direaksikan dengan
pereaksi basa tidak terbentuk endapan padahal menurut literatur ketika
direaksikan dengan suatu basa akan membentuk endapan Cu(OH) 2(s),
berarti dalam hal ini hanya mengalami perubahan warna tanpa terjadi
pembentukan endapan. Persamaan reaksinya adalah :

465. Cu(CH3COO)2 (aq) + NaOH(aq)

466. Cu(CH3COO)2 (aq) + 2NaCl (aq) CuCl2(aq) + CH3COONa (aq)

467. Cu(CH3COO)2 (aq) + Na2S aq) CuS(aq) + CH3COONa(aq)

468. Cu(CH3COO)2 (aq) + NaH2PO4 (aq)

469. Cu(CH3COO)2 (aq) + Na2SO4 (aq) CuCl(aq) + CH3COONa(aq)

470. Cu(CH3COO)2 (aq) + EDTA (aq) Cu-(EDTA)

471. Cu(CH3COO)2 (aq) + NH4OH aq)

472. Cu(CH3COO)2 (aq) + Na2CO3aq) CuCO3(aq) +


CH3COONa(aq)

473. Cu(CH3COO)2 (aq) + 2NH4Cl (aq) CuCl2(aq) +


CH3COONH4(aq)

474. Sampel selanjutnya NiSO4, sebelumnya NiSO4 larutan


berwarna hijau. Setelah ditambahkan dengan beberapa pereaksi
mengalami perubahan warna menjadi warna biru dan hitam adapula yang
tetap berwarna hijau. sama halnya dengan sampel sebelumnya sampel ini
tidak terbentuk ketika ditambahkan dengan pereaksi basa hanya terjadi
perubahan warna larutan. Persamaan reaksinya adalah:

475. NiSO4(aq) + NaOH(aq)

476. NiSO4(aq) + 2NaCl (aq) NiCl2(aq) + Na2SO4(aq)

477. NiSO4(aq) + Na2S aq) NiS(aq) + Na2SO4(aq)

478. NiSO4(aq) + NaH2PO4 (aq)

479. NiSO4(aq) + Na2SO4 (aq) NiSO4 (aq) + Na2SO4(aq)

480. NiSO4(aq) + EDTA (aq) Ni-(EDTA)

481. NiSO4(aq) + NH4OH aq)

482. NiSO4(aq) + Na2CO3aq) NiCO3(aq) + Na2SO4(aq)

483. NiSO4(aq) + 2NH4Cl (aq) NiCl2(aq) + (NH4)2SO4(aq)

484. Sampel terakhir yaitu K2Cr2O7, K2Cr2O7 sebelumnya larutan


berwarna jingga kemudian direaksikan dengan ke-9 pereaksi. Setelah
direaksikan dengan ke 9 pereaksi terjadi perubahan menjadi warna kuning
dengan tingkat warna yang berbeda beda mulai dari kuning tua sampai
kuning muda. Hal ini menunjukkan terjadinya reaksi. Persamaan reaksinya
adalah :

485. K2Cr2O7(aq) + 2NaOH(aq) 2KOH(aq) + Na2Cr2O7(aq)

486. K2Cr2O7 (aq) + 2NaCl (aq) 2KCl(aq) + Na2Cr2O7(aq)

487. K2Cr2O7 (aq) + Na2S aq) K2S (aq) + Na2Cr2O7(aq)

488. K2Cr2O7 (aq) + 2NaH2PO4 (aq) 2KH2PO4 (aq) + Na2Cr2O7(aq)

489. K2Cr2O7 (aq) + Na2SO4 (aq)K2SO4 (aq) + Na2Cr2O7(aq)

490. K2Cr2O7 aq) + EDTA (aq) K-(EDTA)


491. K2Cr2O7 (aq) + NH4OH aq) KOH(aq) + (NH4)2Cr2O7(aq)

492. K2Cr2O7 (aq) + Na2CO3aq) K2CO3(aq) + Na2Cr2O7(aq)

493. K2Cr2O7(aq) + 2NH4Cl (aq) KCl(aq) + (NH4)2Cr2O7(aq)

494. M. Alfathan Rahman (1147040039)

495. Pada percobaan kali ini kami melakukan percobaan dengan


tema Kimia Unsur. Pada dasarnya kami melakukan uji sifat magnetic, sifat
kelarutan dan mengetahui reaksi yang timbul pada bahan. Bahan yang
kami gunakan pada praktikum kali ini adalah NaOH 0,1 M; Nacl 0,1 mol;
Na2SO4 0,1 mol; Na2CO3 0,1 mol; Na2S 0,1 mol; NH4OH 0,1 mol;
Mg.EDTA 0,1 mol; NH4Cl 0,1 mol; Na3PO4 0,1 mol; HCl, dan aquades.

496. Kami juga menggunakan bahan yg mengandung unsur Na,


K, Mg, Cu, Bu, B, Al, C, Si, Sn, Pb, N, P, O, S, F, Cl, Br, I, Ti, V, Cr, Mn,
Fe, Co, Ni, Ca, Zn, Mg, Ag. Kami memasukkan bahan bahan tersebut
kedalam tabung reaksi yang berbeda. Pada uji pelarutan Kami hanya
mendapati unsure Fe2SO4, CaCl2, KCl, BaCl2, Al2(SO4)3, MgSO4, dan
MnCl yang memiloiki kelarutan yang baik. Ini dikarenakan pada proses
pelarutan cukup hanya dengan aquades saja bahan bahan tersebut bisa
larut secara homogen dalam aquades. Sementara itu bahan bahan lainnya
sukar larut meskipun sudah dilarutkan ke dalam air raja.

497. Bahan seperti NaH2PO4, NiSO4, dan K2CrO4 mampu


larut ketika dicoba dilarutkan dengan aquades panas. Selanjutnya kami
melakukan uji kemagnetan pada seluruh bahan tersebut. Pada bentuk
cairan kami tidak mendapati adanya sifat kemagnetan pada bahan bahan
tersebut, namun pada kondisi padat kami mendapati adanya sifat magnet
pada karbon dan FeSO4. Ini menandakan kedua bahan tersebut memiliki
sifat kemagnetan yang baik, sesuai dengan literatur.

498. Setelah itu kami melakukan proses penetralan pada bahan


bahan tersebut. Penetralan pada bahan bahan tersebut ditujukkan untuk
mempermudah direaksikan kembali dengan pereaksi yang lain. Karena
pada perlakuan selanjutnya bahan tersebut akan dicampurkan dengan
beberapa pereaksi untuk mengetahui perubahan senyawanya.

499. Bahan direaksikan dengan pelarut yang ada yaitu NaOH,


NaCl, Na2S, NaH2PO4, Na2SO4, EDTA, NH4OH, Na2CO3, dan NH4Cl.
Sampel pertama yang direaksikan yaitu Carbon, Setelah dilarutkan tidak
bereaksi dengan semua pelarut. Pada intinya Carbon hanjya bisa larut pada
pelarut organic yang bersifat non polar. Selanjutnya yaitu sampel Fe2SO4.
Setelah direaksikan pada pelarut hanya dengan NaH2PO4 saja sampel
tidak bereaksi. Ini dikarenakan larutan pelarut membuat larutan sampel
untuk tidak membentuk senyawa yang lain.

500. Sampel ketiga yang direaksikan yaitu PbSO4. Larutan


sampel ini tidak bereaksi dengan semua pelarut yang ada. Ini dikarenakan
sama seperti Karbon, Sampel PbSO4 hanya larut dengan pelarut organic
dan bersifat non polar. Sampel keempat yang direaksikan adalah Seng
(Zn). Sampel ini tidak mengalami perubahan ketika direaksikan dengan
pelarut, begitu juga dengan pelarut yang bersifat basa. Notabennya Zn
nmerupakan logam transisi yang semestinya membentuk endapan ketika
direaksikan dengan pereaksi basa.

501. Selanjutnya adalah sampel CaCO3, CaCl2, KCl, BaCl2,


NaH2PO4, dan Al2(SO4)3. Semua sampel tersebut memiliki kesamaan
dimana ketika direaksikan dengan ke-9 pelarut, tidak beraksi sama sekali.
Sampel sampel tersebut juga memiliki klarekateristik yang sama yaitu
tidak berwarna. Sampel selanjutnya adalah MgSO4. Setelah dilarutkan
dengan semua pereaksi, terdapat endapan berwarna hijau namun warna
larutan tidak berwarna. Ini menandakan larutan sampel tidak bereaksi.
Sampel selanjutnya yaitu larutan Cu(CH3COO)2. Setelah direaksikan
larutan tersebut memiliki perubahan warna dan juga endapan. Warna
tersebut diantaranya warna hijau, ungu maupun biru tua. Maka dari itu
larutan sampel ini dapat bereaksi dengan pelarut yang ada.
502. Selanjutnya yaitu sampel silica. Ketika direaksikan, larutan
sampel tidak berwarna ddan juga tidak bereaksi dengan larutan pelarut.
Ketika direaksikan larutan sampel ini tidak mengalami perubahan sama
sekali. Maka larutan larutan tersebut tidak dapat bereaksi dengan semua
pelarut.

503. Pada sampel selanjutnya yaitu NiSO4, setelah dirreaksikan


dengan pelarut sampel tersebut mengalami perubahan warna seperti warna
hijau, biru, dan hitam. Namun tidak terbentuk senyawa baru setelah
direaksikan dengan pelarut tersebut.

504. Sampel terakhir yaitu K2Cr2O7, Sampel tersebut


direaksikan dengan pelarut pelarut tersebut. Setelah direaksikan sampel
tersebut memiliki perubahan, seperti pada warnanya menjadi berwarna
jingga dan berwarna kuning. Hampir semua laruitan sampel membentuk
senyawa baru ketika direaksikan dengan pelarut-pelarut.

505. Hidayah (1147040033)


506. Pada percobaan uji kelarutan, daya hantar listrik dan
kekuatan interaksinya dalam unsur unsur kimia dilakukan beberapa
percobaan yaitu uji kelarutan sampel dalam beberapa pelarut, uji
kemagnetan dan uji reaksi pada sampel.
1. Uji kelarutan pada sampel dengan berbagai macam pelarut
507. Pelarut pelarut yang digunakan pada percobaan ini yaitu
aquadest, aquadest panas, HCl encer, HCl pekat, HNO 3 encer, HNO3 pekat
dan air raja.
a. Carbon
508. Berdasarkan percobaan karbon tidak larut dalam aquadest,
aquadest panas, HCl encer, HCl pekat, HNO3 encer, HNO3 pekat dan air
raja karena carbon bersifat inert atau stabil sehingga carbon tidak larut
dalam pelarut polar.
b. FeSO4 , Cacl2, KCl, BaCl2, Al2(SO4)3, MgSO4, dan MnO2
509. Berdasarkan percobaan FeSO4 , Cacl2, KCl, BaCl2, Al2(SO4)3,
MgSO4, dan MnO2
510. larut dalam pelarut aquadest, hal ini terjadi karena senyawa FeSO 4 ,
Cacl2, KCl, BaCl2, Al2(SO4)3, MgSO4, dan MnO2 merupakan senyawa
polar dan aquadest merupakan pelarut polar sehingga dapat saling
melarutkan. Selain itu pada senyawa ini memiliki kelarutan yang baik
atau mudah larut dan tingkat kelarutan nya sangat baik.
c. PbSO4
511. Uji kelarutan PbSO4 tidak larut dalam pelarut aquadest, aquadest
panas, HCl encer, HCl pekat, HNO3 encer, HNO3 pekat dan air raja.
Karena garam sulfat pada senyawa ini sukar larut dan memiliki tingkat
kelarutan yang sangat sulit.
d. Zn
512. Zn merupakan jenis logam transisi yang tidak larut dalam aquadest,
aquadest panas, HCl encer, HCl pekat dan hanya mampu larut dalam
HNO3 dan aqua regia.
e. CaCO3
513. Pada saat diuji kelarutannya baik itu dengan aquadest ataupun
aquadest panas , kalsium karbonat tidak larut dan membentuk endapan
putih dan reaksinya akan berjalan sangat kuat, terbentuk endapan karena
kalsium karbonat akan mengikat air sehingga terbentuk endapan berwarna
putih. Untuk uji kelarutan dengan menggunakan HCl pekat hasilnya larut
asam karbonat akan bereaksi hebat hebat dengan berbagai asam dengan
adanya air sehingga dapat larut.
f. Na2HPO4, Cu(CH3COO)2, NiSO4 dan K2Cr2O7
514. Uji kelarutan pada senyawa ini larut pada aquadest panas karena
pada pemanasan senyawa ini akan cepat larut sempurna dan senyawa ini
memiliki tingkat kelarutan yang sedikit baik.
g. Silika
515. Silika merupakan sejenis metaloid tetravalen yang kurang reaktif,
senyawa ini tidak larut dalam aquadest, aquadest panas, HCl encer, HCl
pekat, HNO3 encer, HNO3 pekat dan air raja. Silika bisa larut dalam suhu
tinggi.
2. Uji kekuatan interaksi larutan dengan magnet
516. Pada sampel karbon dan FeSO4 terjadi interaksi dengan magnet,
karena pada sampel ini bersifat paramagnetik yang dapat berinteraksi
dengan magnet sedangkan pada sampel lainnya bersifat diamagnetik
sehingga sedikit ditolak keluar oleh magnet. Sifat magnet zat berkaitan
dengan konfigurasi elektronnya. Zat yang bersifat paramagnetik
setidaknya memilki satu elektron yang tidak berpasangan, semakin banyak
elektron yang tidak berpasangan semakin bersifat paramagnetik dan
semakin kuat interaksinya dengan magnet.
3. Uji reaksi sampel
517. Pada uji reaksi pada sampel senyawa logam transisi dapat
membentuk kompleks dengan pereaksi pada sampel ini dan pereaksi pada
sampel ini dapat berfungsi sebagai ligan. Pada percobaan ini sampel
bereaksi dengan pereaksi dengan ditandai adanya perubahan warna.
Sampel yang bereaksi pada percobaan ini yaitu :
1. FeSO4
518. Persamaan reaksinya adalah :
519. FeSO4(aq) + 2NaOH(aq) Na2SO4(aq) + Fe(OH)2 (s)
520. FeSO4(aq) + 2NaCl (aq) Na2SO4(aq) + FeCl2 (aq)
521. FeSO4(aq) + Na2S (aq) Na2SO4(aq) + FeS (aq)
522. FeSO4(aq) + 2Na2HPO4(aq) Na2SO4(aq) +
Fe(H2PO4)2 (aq)
523. FeSO4(aq) + Na2SO4 (aq) Na2SO4(aq) + FeSO4 (aq)
524. FeSO4(aq) + EDTA (aq) SO42-(aq) + Fe - EDTA (aq)
525. FeSO4(aq) + 2NH4OH(aq) (NH4)2SO4(aq) +
Fe(OH)2 (s)
526. FeSO4(aq) + Na2CO3(aq) Na2SO4(aq) + FeCO3 (aq)
527. FeSO4(aq) + 2NH4Cl(aq) (NH4)2SO4(aq) + FeCl2 (s)
2. CaCO3
528. CaCO3 (aq) + NaOH(aq) Na2CO3(aq) + Ca(OH)2(s)
529. CaCO3 (aq) +Na2CO3(aq) Na2CO3(aq) + CaCO3 (aq)
3. PbSO4
530. PbSO4(aq) + Na2SO4 (aq) Na2SO4 (aq) + PbSO4(aq)
531. PbSO 4(aq) + 2NH 4 OH (aq) (NH4)2SO4(aq) + Pb(OH)2(s)
532. PbSO4(aq) + 2Na2HPO4(aq) Na2SO4(aq) +
Pb(H2PO4)2 (aq)
533. PbSO4(aq) + Na2S (aq) Na2SO4(aq) + PbS (aq)
4. BaCl2
534. BaCl2(aq) + Na2CO3(aq) 2NaCl (aq) +BaCO3 (aq)
535. BaCl2(aq) + Na2S (aq) 2NaCl (aq) +BaS (aq)
5. Al2(SO4)3(aq) + EDTA Al-(EDTA)(aq) + 3SO43-(aq)
6. Cu(CH3COO)2
536. Cu(CH3COO)2(aq) + 2NaOH(aq) 2
CH3COONa(aq) + Cu(OH)2 (s)
537. Cu(CH3COO)2(aq)+ 2NaCl (aq) 2 CH3COONa(aq) +
CuCl2 (aq)
538. Cu(CH3COO)2(aq) + Na2S (aq) 2 CH3COONa(aq) +
CuS (aq)
539. Cu(CH3COO)2(aq) + 2Na2HPO4(aq) 2 CH3COONa(aq)
+ Cu (H2PO4)2 (aq)
540. Cu(CH3COO)2(aq) + Na2SO4 (aq) 2
CH3COONa(aq) + CuSO4 (aq)
541. Cu(CH3COO)2(aq) +EDTA (aq) CH3COO-(aq) + Cu -
EDTA (aq)
542. Cu(CH3COO)2 + 2NH4OH(aq) 2
CH3COONH4(aq) + Cu(OH)2 (s)
543. Cu(CH3COO)2 + Na2CO3(aq) 2 CH3COONH4(aq) +
CuCO3 (aq)
544. Cu(CH3COO)2 + 2NH4Cl(aq) 2 CH3COONH4(aq) +
CuCl2 (s)
545.
7. Si(aq) + Na2S (aq) SiS(aq) + 2Na+ (aq)
8. MnO2
546. MnO2(aq) 2NaOH(aq) Na2O2(aq) + Mn(OH)2 (s)
547. MnO2(aq) + 2NaCl (aq) Na2O2(aq) + MnCl2 (aq)
548. MnO2(aq)+ Na2S (aq) Na2O2(aq) + MnS (aq)
549. MnO2(aq) + 2Na2HPO4(aq) Na2O2(aq) +
Mn(H2PO4)2 (aq)
550. MnO2 (aq) + Na2SO4 (aq) Na2O2(aq) + MnSO4 (aq)
551. MnO2(aq) + EDTA (aq) O-(aq) + Mn - EDTA (aq)
552. MnO2 (aq) + 2NH4OH(aq) (NH4)2O2(aq) +
Mn(OH)2 (s)
553. MnO2 (aq)+ Na2CO3(aq) Na2O2(aq) + Mn(CO3)2 (aq)
554. MnO2 (aq) + 2NH4Cl(aq) (NH4)2O2(aq) + MnCl2 (s)
9. NiSO4
555. NiSO4(aq) + 2NaOH(aq) Na2SO4(aq) + Ni(OH)2 (s)
556. NiSO4(aq)+ 2NaCl (aq) Na2SO4(aq) + NiCl2 (aq)
557. NiSO4 (aq)+ Na2S (aq) Na2SO4(aq) + NiS (aq)
558. NiSO4 (aq) + 2Na2HPO4(aq) Na2SO4 (aq) +
Ni(H2PO4)2 (aq)
559. NiSO4 (aq) + Na2SO4 (aq) Na2SO4 (aq) + NiSO4 (aq)
560. NiSO4 (aq) + EDTA (aq) SO42-(aq) + Ni - EDTA (aq)
561. NiSO4 (aq) + 2NH4OH(aq) (NH4)2SO4(aq) +
Ni(OH)2 (s)
562. NiSO4 (aq)+ Na2CO3(aq) Na2SO4 (aq) + Ni(CO3)2 (aq)
563. NiSO 4 (aq) + 2NH4Cl(aq) (NH4)2 SO4 (aq) + NiCl2 (s)
10. K2Cr2O7
564. K2Cr2O7 (aq) + 2NaOH(aq) Na2Cr2O7 (aq) +
2KOH (aq)
565. K2Cr2O7 (aq)+ 2NaCl (aq) Na2Cr2O7 (aq) +2 KCl
(aq)
566. K2Cr2O7 (aq))+ Na2S (aq) Na2Cr2O7 (aq) + K2S (aq)
567. K2Cr2O7 (aq) + 2Na2HPO4(aq) Na2Cr2O7 (aq) +
2KH2PO4 (aq)
568. K2Cr2O7 (aq) + Na2SO4 (aq) Na2Cr2O7 (aq) +
K2SO4 (aq)
569. K2Cr2O7 (aq) + EDTA (aq) Cr2O72-(aq) + K -
EDTA (aq)
570. K2Cr2O7 (aq) + 2NH4OH(aq) (NH4) Cr2O7 + 2KOH (aq)
571. K2Cr2O7 (aq)+ Na2CO3(aq) Na2Cr2O7+ K2CO3
(aq)
572.
573. Hadya Ayu Hajayasti (1147040032)

574. Pada praktikum kali ini bertujuan untuk mengidentifikasi


tingkat kelarutan suatu sampel yang digunakan berupa padatan
dan cairan, mengidentifikasi reaksi yang timbul dari suatu pelarut
apabila direaksikan dengan suatu zat (sampel), dan
mengidentifikasi sifat magnet dari suatu zat (sampel) dengan
menggunakan magnet. Adapun sampel yang digunakan yaitu
sampel C, FeSO4, PbSO4, Zn, CaCO3, CaCl2, KCl, BaCl2,
NaH2PO4, Al2(SO4)3, MgSO4, Cu(CH3COO)2, Silika gel, MnO2,
NiSO4,dan K2Cr2O7.

575. Pada percobaan pertama, yaitu uji kelarutan semua


sampel pada beberapa pelarut. Penggunaan pelarut ini bertujuan
untuk mengidentifikasi terjadinya kelarutan pada sampel padatan.
Pemberian pelarut ini dilakukan secara berurutan sesuai dengan
tingkat daya pelarutnya. Pertama, semua sampel padatan
dilarutkan dengan pelarut sebagai berikut aquades, aquades panas,
HCl encer, HCl pekat, HNO3 encer, HNO3 pekat dan air raja.

576. Dari hasil yang didapatkan sampel yang larut dalam


aquades adalah sampel FeSO4, CaCl2, KCl, BaCl2, Al2(SO4)3,
MgSO4 dan MnO2, sampel ini dapat larut dalam aquades karena
sampel merupakan zat-zat yang memiliki nilai Ksp yang besar,
sehingga senyawa akan memiliki kelarutan yang besar dan
memungkinkan semakin mudah larut senyawa tersebut.

577. Lalu sampel yang larut dalam aquades panas adalah sampel
NaH2PO4, Cu(CH3COO)2, NiSO4 dan K2Cr2O7 , sampel ini dapat
larut dalam aquades panas karena sampel-sampel ini merupakan
zat yang memiliki kelarutan yang besar. Sehingga panas yang
dibutuhkan untuk mengatasi daya tarik diantara ion-ion juga
besar, sehingga titik leleh dan titik didihnya juga tinggi. Maka
dari itu sampel ini dapat larut dalam aquades panas.

578. Lalu sampel yang larut dalam HCl pekat adalah sampel
CaCO3. Apabila kalsium karbonat ini ditambahkan air, reaksinya
akan berjalan dengan sangat kuat dan cepat apabila dalam bentuk
serbuk, serbuk kalsium karbonat akan melepaskan kalor. Molekul
dari CaCO3 akan segera mengikat molekul air (H2O) yang akan
membentuk kalsium hidroksida, zat yang lunak seperti pasta (zat
mengendap). Sebagaimana ditunjukkan pada reaksi sebagai
berikut:
579. CaCO3 (aq) + H2O (l) Ca(OH)2 (s) + CO2 (aq)
580. Untuk uji kelarutan dengan menggunakan HCl pekat,
hasilnya larut. Endapan Ca(OH)2 yang dihasilkan bereaksi hebat
dengan berbagai asam, dengan adanya air. Sehingga dapat larut.
Berikut persamaan reaksinya :
581. CaCO3 (aq) + 2 HCl (aq) CaCl2 (aq) + H2CO3 (aq)
582. Lalu sampel yang larut dalam HNO 3 encer adalah sampel
Zn, sampel ini dapat larut dalam HNO3 encer karena logam Zn
sangat sukar larut di dalam air, tetapi dapat larut dalam larutan
asam.
583. Sedangkan sampel yang tidak larut walaupun ditambahkan
pelarut air raja adalah sampel C, PbSO4 dan Silika gel, sampel ini
tidak dapat larut bisa dikarenakan zat ini tidak dapat bereaksi
didalam air dan pelarut asam, tetapi hanya bisa larut dalam
pelarut organik.

584. Sehingga dapat dilihat bahwa pada semua sampel yang


digunakan tidak semua sampel dapat bereaksi dengan pelarut.
Dimana dapat dilihat terlebih dahulu sampel yang digunakan dan
pelarut yang cocok untuk melarutkannya, serta dapat dilihat dari
harga Ksp nya dimana semakin besar harga Ksp suatu zat
semakin mudah larut senyawa tersebut.

585. Pada percobaan kedua, yaitu uji kemagnetan pada


semua sampel. Pertama, semua sampel yang berupa padatan
didekatkan pada batang magnet. Dari hasil yang didapatkan pada
semua sampel padatan yang tertarik atau terdorong oleh magnet
yaitu hanya sampel Karbon (C) dan FeSO 4, ini dikarenakan zat
bersifat paramagnetik (adanya elektron yang tidak berpasangan),
sedangkan zat Fe sendiri termasuk zat yang bersifat fero magnetik
(zat yang sangat kuat interaksinya dengan magnet). Sedangkan
sampel padatan yang lainnya tidak mengalami tarikan atau
dorongan. Ini bisa dikarenakan sampel tidak bersifat
paramagnetik, melainkan bersifat diamagnetik (sedikit ditolak
keluar medan magnet) dan faktor alat yang digunakan yaitu
batang magnet yang digunakan sudah mengalami kerusakan.
Sehingga tidak terjadi interaksi pada saat larutannya pada magnet.

586. Kedua, semua sampel yang berupa cairan didekatkan pada


batang magnet. Dari hasil yang didapatkan pada semua sampel cairan tidak
mengalami tarikan atau dorongan pada batang magnet. Tidak terjadinya
tarikan dengan magnet bisa dikarenakan faktor alat yang digunakan yaitu
batang magnet yang digunakan sudah mengalami kerusakan.

587. Sehingga dapat dilihat bahwa sifat magnetik suatu zat


terdiri atas atom, ion atau molekul ditentukan oleh struktur
elektronnya. Interaksi antara zat dan medan magnet dibedakan
menjadi dua, yaitu diamagnetik dan paramagnetik. Zat
paramagnetik tertarik oleh medan magnet, sedangkan zat
diamagnetik tidak tertarik magnet. Banyak unsur transisi dan
senyawa yang bersifat paramagnetik. Hal ini disebabkan adanya
elektron yang tidak berpasangan. Sifat magnet zat berkaitan
dengan konfigurasi elektronnya. Zat yang bersifat paramagnetik
mempunyai setidaknya satu elektron tak berpasangan. Semakin
banyak elektron tak berpasangan, semakin bersifat paramagnetik.
Pengukuran sifat magnet dapat digunakan untuk menentukan
jumlah elektron tak berpasangan dalam satu spesi.

588. Pada percobaan ketiga, yaitu uji reaksi pada semua


sampel. Dimana pada semua sampel berupa larutan akan
direaksikan dengan beberapa pereaksi yaitu pereaksi NaOH,
NaCl, Na2S, NaH2PO4, Na2SO4, EDTA, NH4OH, Na2CO3 dan
NH4Cl.

589. Sampel pertama, yaitu karbon (C). Setelah ditambahkan


dengan semua pereaksi, hasil yang didapatkan adalah sampel karbon
berupa larutan tidak berwarna. Ini menandakan pada sampel karbon tidak
mengalami perubahan warna atau tidak adanya reaksi yang terjadi. Ini bisa
dikarenakan sifat dari zat karbon yang tidak dapat larut dalam pereaksi
biasa dan hanya dapat larut dalam pereaksi organik yang dapat melarutkan

590. Berdasarkan persamaan reaksi :

591. C(aq)

592. Sampel kedua, yaitu FeSO4. Larutan FeSO4 berupa larutan


tidak berwarna dengan terdapat endapan berwarna hijau. Setelah
ditambahkan dengan semua pereaksi, hasil yang didapatkan adalah
kebanyakan sampel menjadi warna hijau dan kuning. Ini menandakan pada
sampel FeSO4 mengalami perubahan warna atau adanya reaksi yang
terjadi. Tetapi hanya pada saat direaksikan dengan larutan NaH 2PO4,
larutan tidak mengalami perubahan warna yaitu tetap larutan tidak
berwarna, ini dikarenakan pereaksi tersebut tidak dapat membentuk suatu
senyawa yang baru dengan larutan FeSO4.

593. Berdasarkan persamaan reaksi ;

594. FeSO4(aq) + 2NaOH(aq) Fe (OH)2 (s) + Na2SO4 (aq)

595. FeSO4(aq) + 2NaCl (aq) FeCl2(aq) + Na2SO4(aq)

596. FeSO4(aq) + Na2S aq) FeS(aq) + Na2SO4(aq)

597. FeSO4(aq) + NaH2PO4 (aq)

598. FeSO4(aq) + Na2SO4 (aq) FeSO4(aq) + Na2SO4(aq)

599. FeSO4(aq) + EDTA (aq) Fe-(EDTA)

600. FeSO4(aq) + NH4OH aq) Fe (OH)2 (aq) + (NH4)2SO4 (aq)

601. FeSO4(aq) + Na2CO3aq) FeCO3(aq) + Na2SO4(aq)

602. FeSO4(aq) + 2NH4Cl (aq) FeCl2(aq) + (NH4)2SO4(aq)

603. Sampel ketiga, yaitu PbSO4. Larutan PbSO4 berupa larutan


tidak berwarna dengan terdapat endapan berwarna putih. Setelah
ditambahkan dengan semua pereaksi, hasil yang didapatkan adalah
kebanyakan sampel tidak bereaksi. Ini menandakan pada sampel FeSO4
tidak mengalami perubahan warna atau tidak adanya reaksi yang terjadi.
Tetapi hanya pada saat direaksikan dengan larutan Na2SO4, NH4OH, dan
NaH2PO4, berurutan larutan mengalami perubahan warna menjadi larutan
berwarna kuning (---), kuning (-), dan jingga. Ini dikarenakan pereaksi
tersebut dapat membentuk suatu senyawa yang baru dengan larutan
PbSO4, walaupun reaksi yang terjadi sangat lemah.

604. Berdasarkan persamaan reaksi :

605. PbSO4 (aq) + NaOH(aq)

606. PbSO4 (aq) + NaCl (aq)


607. PbSO4 (aq) + Na2S aq)

608. PbSO4 (aq) + NaH2PO4 (aq) Na2SO4 (aq) + Pb(H2PO4)3 (aq)

609. PbSO4 (aq) + Na2SO4 (aq) PbSO4(aq) + Na2SO4(aq)

610. PbSO4 (aq) + EDTA (aq)

611. PbSO4 (aq) + NH4OH aq) (NH4)2SO4 (aq) + Pb (OH)2 (s)

612. PbSO4 (aq) + Na2CO3aq)

613. PbSO4 (aq) + 2NH4Cl (aq)

614.

615. Sampel keempat, yaitu Seng (Zn). Larutan Zn berupa


larutan tidak berwarna. Setelah ditambahkan dengan semua pereaksi, hasil
yang didapatkan adalah sampel Zn berupa larutan tidak berwarna. Ini
menandakan pada sampel Zn tidak mengalami perubahan warna atau tidak
adanya reaksi yang terjadi. Ini dikarenakan Zn merupakan salah satu unsur
transisi, logam Zn sangat sukat larut di dalam air.

616. Berdasarkan persamaan reaksi :

617. Zn(aq)

618. Sampel kelima, yaitu CaCO3. Larutan CaCO3 berupa


larutan tidak berwarna dan terdapat endapan putih. Setelah ditambahkan
dengan semua pereaksi, hasil yang didapatkan adalah sampel CaCO3
berupa latutan tidak berwarna dan terdapat endapan putih. Ini menandakan
pada sampel CaCO3 tidak mengalami perubahan warna atau tidak adanya
reaksi yang terjadi. Ini dikarenakan pereaksi tersebut tidak dapat
membentuk suatu senyawa yang baru dengan larutan CaCO3.

619. Berdasarkan persamaan reaksi :

620. CaCO3 (aq)


621. Sampel keenam, yaitu CaCl2. Larutan CaCl2 berupa larutan
tidak berwarna. Setelah ditambahkan dengan semua pereaksi, hasil yang
didapatkan hampir keseluruhan reaksi adalah sampel CaCl2 berupa larutan
tidak berwarna. Ini menandakan pada sampel CaCl2 tidak mengalami
perubahan warna atau tidak adanya reaksi yang terjadi. Tetapi hanya pada
saat direaksikan dengan larutan Na2CO3, larutan mengalami perubahan
menjadi terdapat endapan putih pada larutan. Ini dikarenakan pereaksi
tersebut dapat membentuk suatu senyawa yang baru dengan larutan CaCl 2,
walaupun reaksi yang terjadi sangat lemah.

622. Berdasarkan persamaan reaksi :

623. CaCl2 (aq) + NaOH(aq)

624. CaCl2 (aq) + NaCl (aq)

625. CaCl2 (aq) + Na2S aq)

626. CaCl2 (aq) + NaH2PO4 (aq)

627. CaCl2 (aq) + Na2SO4 (aq)

628. CaCl2 (aq) + EDTA (aq)

629. CaCl2 (aq) + NH4OH aq)

630. CaCl2 (aq) + Na2CO3aq) CaCO3 (aq) + 2 NaCl (s)

631. CaCl2 (aq) + 2NH4Cl (aq)

632. Sampel ketujuh, yaitu KCl. Larutan KCl berupa larutan


tidak berwarna. Setelah ditambahkan dengan semua pereaksi, hasil yang
didapatkan adalah sampel KCl berupa larutan tidak berwarna. Ini
menandakan pada sampel KCl tidak mengalami perubahan warna atau
tidak adanya reaksi yang terjadi. Ini dikarenakan pereaksi tersebut tidak
dapat membentuk suatu senyawa yang baru dengan larutan KCl.

633. Berdasarkan persamaan reaksi :


634. KCl (aq)

635. Sampel ke-8, yaitu BaCl2. Larutan BaCl2 berupa larutan


tidak berwarna. Setelah ditambahkan dengan semua pereaksi, hasil yang
didapatkan adalah kebanyakan sampel tidak bereaksi. Ini menandakan
pada sampel BaCl2 tidak mengalami perubahan warna atau tidak adanya
reaksi yang terjadi. Tetapi hanya pada saat direaksikan dengan larutan
Na2CO3 dan Na2S, berurutan larutan mengalami perubahan terdapat
endapan putih dan larutan biru. Ini dikarenakan pereaksi tersebut dapat
membentuk suatu senyawa yang baru dengan larutan BaCl2, walaupun
reaksi yang terjadi sangat lemah.

636. Berdasarkan persamaan reaksi :

637. BaCl2 (aq) + NaOH(aq)

638. BaCl2 (aq) + NaCl (aq)

639. BaCl2 (aq) + Na2S aq) BaS (aq) + 2 NaCl (aq)

640. BaCl2 (aq) + NaH2PO4 (aq)

641. BaCl2 (aq) + Na2SO4 (aq)

642. BaCl2 (aq) + EDTA (aq)

643. BaCl2 (aq) + NH4OH aq)

644. BaCl2 (aq) + Na2CO3aq) BaCO3 (aq) + 2 NaCl (s)

645. BaCl2 (aq) + 2NH4Cl (aq)

646. Sampel ke-9, yaitu NaH2PO4. Larutan NaH2PO4 berupa


larutan tidak berwarna. Setelah ditambahkan dengan semua pereaksi, hasil
yang didapatkan adalah sampel NaH 2PO4 berupa larutan tidak berwarna.
Ini menandakan pada sampel NaH2PO4 tidak mengalami perubahan warna
atau tidak adanya reaksi yang terjadi. Ini dikarenakan pereaksi tersebut
tidak dapat membentuk suatu senyawa yang baru dengan larutan
NaH2PO4.

647. Berdasarkan persamaan reaksi :

648. NaH2PO4(aq)

649. Sampel ke-10, yaitu Al2(SO4)3. Larutan Al2(SO4)3 berupa


larutan tidak berwarna. Setelah ditambahkan dengan semua pereaksi, hasil
yang didapatkan adalah kebanyakan sampel tidak bereaksi. Ini
menandakan pada sampel Al2(SO4)3 tidak mengalami perubahan warna
atau tidak adanya reaksi yang terjadi. Tetapi hanya pada saat direaksikan
dengan larutan EDTA, larutan mengalami perubahan menjadi larutan putih.
Ini dikarenakan pereaksi tersebut dapat membentuk suatu senyawa yang
baru dengan larutan Al2(SO4)3, walaupun reaksi yang terjadi sangat lemah.

650. Berdasarkan persamaan reaksi :

651. Al2(SO4)3 (aq) + NaOH(aq)

652. Al2(SO4)3 (aq) + NaCl (aq)

653. Al2(SO4)3 (aq) + Na2S aq)

654. Al2(SO4)3 (aq) + NaH2PO4 (aq)

655. Al2(SO4)3 (aq) + Na2SO4 (aq)

656. Al2(SO4)3 (aq) + EDTA (aq) [Al(EDTA)] (aq) + 3 MgSO4 (aq)

657. Al2(SO4)3 (aq) + NH4OH aq)

658. Al2(SO4)3 (aq) + Na2CO3aq)

659. Al2(SO4)3 (aq) + 2NH4Cl (aq)

660. Sampel ke-11, yaitu MgSO4. Larutan MgSO4 berupa larutan


tidak berwarna. Setelah ditambahkan dengan semua pereaksi, hasil yang
didapatkan adalah sampel MgSO4 berupa larutan tidak berwarna. Ini
menandakan pada sampel MgSO4 tidak mengalami perubahan warna atau
tidak adanya reaksi yang terjadi. Ini dikarenakan pereaksi tersebut tidak
dapat membentuk suatu senyawa yang baru dengan larutan MgSO4.

661. Berdasarkan persamaan reaksi :

662. MgSO4(aq)

663. Sampel ke-12, yaitu Cu(CH3COO)2. Larutan Cu(CH3COO)2


berupa larutan berwarna biru. Setelah ditambahkan dengan semua
pereaksi, hasil yang didapatkan adalah kebanyakan sampel bereaksi yaitu
warna ungu kebiruan, larutan hijau dan larutan coklat (Na 2S) . Ini
menandakan pada sampel Cu(CH3COO)2 membentuk senyawa lain dengan
pereaksi. Tetapi hanya pada saat direaksikan dengan larutan NH 4Cl dan
EDTA, larutan tidak mengalami perubahan. Ini dikarenakan pereaksi
tersebut tidak dapat membentuk suatu senyawa yang baru dengan larutan
Cu(CH3COO)2, walaupun reaksi yang terjadi sangat lemah.

664. Berdasarkan persamaan reaksi :

665. Cu(CH3COO)2 (aq) + NaOH(aq) Cu(OH)2 (s) +


Na2CH3(COO)2 (aq)

666. Cu(CH3COO)2 (aq) + 2NaCl (aq) CuCl2(aq) + CH3COONa (aq)

667. Cu(CH3COO)2 (aq) + Na2S aq) CuS(aq) + CH3COONa(aq)

668. Cu(CH3COO)2 (aq) + NaH2PO4 (aq) Cu (H2PO4) (aq) +


Na2CH3(COO)2 (aq)

669. Cu(CH3COO)2 (aq) + Na2SO4 (aq) CuCl(aq) + CH3COONa(aq)

670. Cu(CH3COO)2 (aq) + EDTA (aq)

671. Cu(CH3COO)2 (aq) + NH4OH aq) Cu (OH)2 (aq) +


(NH4)CH3COO2 (aq)

672. Cu(CH3COO)2 (aq) + Na2CO3aq) CuCO3(aq) +


CH3COONa(aq)
673. Cu(CH3COO)2 (aq) + 2NH4Cl (aq)

674.

675. Sampel ke-13, yaitu silika gel. Larutan silika berupa larutan
berwarna kuning. Setelah ditambahkan dengan semua pereaksi, hasil yang
didapatkan adalah sampel silika berupa larutan tidak berwarna. Ini
menandakan pada sampel silika tidak mengalami perubahan warna atau
tidak adanya reaksi yang terjadi. Ini dikarenakan pereaksi tersebut tidak
dapat membentuk suatu senyawa yang baru dengan larutan silika.

676. Berdasarkan persamaan reaksi :

677. Si2+ (aq)

678. Sampel ke-14, yaitu MnO2. Larutan MnO2 berupa larutan


berwarna hitam. Setelah ditambahkan dengan semua pereaksi, hasil yang
didapatkan adalah sampel MnO2 berupa larutan berwarna hitam. Ini
menandakan pada sampel MnO2 tidak mengalami perubahan warna atau
tidak adanya reaksi yang terjadi. Ini dikarenakan pereaksi tersebut tidak
dapat membentuk suatu senyawa yang baru dengan larutan MnO2.
Seharusnya zat Mangan ini dapat menghasilkan rekasi karna sifat umum
zat Mangan yaitu senyawa yang larut dalam air.

679. Berdasarkan persamaan reaksi :

680. MnO2 (aq)

681. Sampel ke-15, yaitu NiSO4. Larutan NiSO4 berupa larutan


berwarna hijau. Setelah ditambahkan dengan semua pereaksi, hasil yang
didapatkan adalah kebanyakan sampel tidak bereaksi. Ini menandakan
pada sampel NiSO4 tidak membentuk senyawa lain dengan pereaksi.
Tetapi hanya pada saat direaksikan dengan larutan NH 4OH dan EDTA,
larutan mengalami perubahan menjadi larutan biru. Ini dikarenakan
pereaksi tersebut dapat membentuk suatu senyawa yang baru dengan
larutan NiSO4, walaupun reaksi yang terjadi sangat lemah.
682. Berdasarkan persamaan reaksi ;

683. NiSO4(aq) + NaOH(aq)

684. NiSO4(aq) + NaCl (aq)

685. NiSO4(aq) + Na2S aq) NiS (aq) + Na2SO4 (aq)

686. NiSO4(aq) + NaH2PO4 (aq)

687. NiSO4(aq) + Na2SO4 (aq) NiSO4 (aq) + Na2SO4(aq)

688. NiSO4(aq) + EDTA (aq) Ni-(EDTA)

689. NiSO4(aq) + NH4OH aq) Ni (OH)2 (aq) + (NH4)2SO4 (aq)

690. NiSO4(aq) + Na2CO3aq)

691. NiSO4(aq) + 2NH4Cl (aq)

692.

693. Sampel ke-16, yaitu K2Cr2O7. Larutan K2Cr2O7 berupa


larutan berwarna jingga. Setelah ditambahkan dengan semua pereaksi,
hasil yang didapatkan adalah semua sampel bereaksi. Dimana larutan
berubah menjadi berwarna kuning. Ini menandakan pada sampel K 2Cr2O7
membentuk senyawa lain dengan pereaksi.

694. Berdasarkan persamaan reaksi :

695. K2Cr2O7(aq) + 2NaOH(aq) 2KOH(aq) + Na2Cr2O7(aq)

696. K2Cr2O7 (aq) + 2NaCl (aq) 2KCl(aq) + Na2Cr2O7(aq)

697. K2Cr2O7 (aq) + Na2S aq) K2S (aq) + Na2Cr2O7(aq)

698. K2Cr2O7 (aq) + 2NaH2PO4 (aq) 2KH2PO4 (aq) + Na2Cr2O7(aq)

699. K2Cr2O7 (aq) + Na2SO4 (aq)K2SO4 (aq) + Na2Cr2O7(aq)

700. K2Cr2O7 aq) + EDTA (aq) K-(EDTA)


701. K2Cr2O7 (aq) + NH4OH aq) KOH(aq) + (NH4)2Cr2O7(aq)

702. K2Cr2O7 (aq) + Na2CO3aq) K2CO3(aq) + Na2Cr2O7(aq)

703. K2Cr2O7(aq) + 2NH4Cl (aq) KCl(aq) + (NH4)2Cr2O7(aq)


704.
705. Kurnia Wardana (1147040036)

706. Praktikum kali ini bertujuan mempelajari sifat kelarutan


pada setiap sampel C, FeSO4, PbSO4, Zn, CaCO3, CaCl2, KCl, BaCl2,
NaH2PO4, Al2(SO4)3, MgSO4, Cu(CH3COO)2, Silika, MnO2, NiSO4,
K2Cr2O7 serta mengidentifikasi sifat kelarutan dan sifat magnet pada setiap
sampel (C, FeSO4, PbSO4, Zn, CaCO3, CaCl2, KCl, BaCl2, NaH2PO4,
Al2(SO4)3, MgSO4, Cu(CH3COO)2, Silika, MnO2, NiSO4, K2Cr2O7)

707. Semua sampel berupa padatan dilarutkan terlebih dahulu


dilarutkan dengan air dingin, air panas, larutan HCl encer, HCl pekat,
HNO3 encer, HNO3 pekat dan air raja, pelarutan ini dilakukan bertujuan
agar terdisosiasi dan terbentuk senyawa baru yang diinginkan dengan
pelarut, tingkat pelarut dan kelarutan zat yang dilakukan berbeda-beda,
misalnya seperti CaCO3 yang larut dalam larutan HCl tetapi tidak dalam
air ini dikarenakan CaCO3 adalah garam yang sukar larut dalam air. Tidak
semua sampel larut dalam air, akan tetapi masih ada beberapa sampel yang
larut dengan larutan HCl, HNO3 dan air raja. Sampel padatan yang larut
dalam air dingin diantaranya (FeSO4, CaCl2, KCl, BaCl2, Al2(SO4)3,
MgSO4, MnO2) sampel padatan tersebut larut karena memiliki kelarutan
yang besar sehingga memungkinkan sampel untuk larut serta mudah
terdisosiasi, kemudian sampel padatan yang larut dalam air panas
diantaranya (NaH2PO4, Cu(CH3COO)2, NiSO4, K2Cr2O7) sampel padatan
tersebut larut karena memiliki kelarutan yang besar pula akan tetapi
termodinamika () disini di perlukan untuk melarutkan yang berupa suhu
air yang panas, kemudian sampel padatan CaCO 3 yang memang sudah
dijelaskan diatas bahwa larutan tersebut larut oleh larutan HCl pekat,
kemudian sampel padatan yang larut dalam larutan HNO3 encer yaitu Zn,
Zn larut oleh HNO3 dikarenakan sampel tersebut teroksidasi sehingga
memudahkan Zn untuk larut, hampir pada semua logam transisi mudah
teroksidasi oleh HNO3, kemudian sampel padatan yang larut dalam air raja
diantaranya (C, PbSO4, Silika) sampe padatan tersebut tidak larut
dikarenakan tidak sama sekali bereaksi, memiliki kelarutan yang kecil
serta sampel memungkinkan hanya bisa larut dengan pelarut non polar
atau pelarut organik.

708. Sampel yang berupa padatan di uji kemagnetan dengan


didekatkan pada magnet akan tetapi didalam percobaan tidak terjadi
tarikan dan dorongan apapun pada semua sampel padatan tersebut, ini
dikarenakan mungkin terjadi kesalahan pada alat magnetnya dikarenakan
patah sehingga dalam pengujian kemagnetan memungkinkan tidak
maksimal dalam penganalisaannya, akan tetapi seharusnya pada setiap
atom dan molekul mempunyai sifat magnetik, yaitu paramagnetik di mana
atom, molekul, atau ion sedikit dapat ditarik oleh medan magnet karena
ada elektron yang tidak berpasangan pada orbitalnya dan diamagnetik di
mana atom, molekul, atau ion dapat ditolak oleh medan magnet karena
seluruh elektron pada orbitnya berpasangan. Dalam literatur unsur-unsur
transisi (seperti Fe, Ni) bersifat paramagnetik karena mempunyai elektron
yang tidak berpasangan pada orbital-orbital d-nya. Kekuatan tarikan dan
dorongan pada Al lebih kuat dibandingkan dengan logam transisi lainnya,
ini karena sifat paramagnetik ini akan semakin kuat jika jumlah elektron
yang tidak berpasangan pada orbitalnya semakin banyak dan logam Al
bersifat paramagnetik, sedangkan Cu, Zn, Na, Mg, Mn, dan lainnya
bersifat diamagnetik. Untuk Fe, dan Ni bersifat feromagnetik, yaitu
kondisi yang sama dengan paramagnetik hanya saja dalam keadaan padat.

709. Semua sampel padatan akan direaksikan dengan pereaksi


yang telah tersedia yaitu diantaranya (NaOH, NaCl, Na 2S, NaH2PO4,
Na2SO4, EDTA, NH4OH, Na2CO3 dan NH4Cl).

710. Sampel pertama yaitu karbon (C) , karbon setelah di


larutkan ternyata tidak bereaksi sama sekali dengan ke-9 pereaksi yang ada
dikarenakan karbon itu berbentuk zat dan bukan berbentuk
senyawa/molekul, serta karbon itu sendiri memang tidak larut di dalam
semua pereaksi dan hanya bisa larut dengan pereaksi organik yang
memiliki sifat larutan non polar.

711. Berdasarkan persamaan reaksi :

712. C(aq)

713. Sampel kedua yaitu FeSO4, FeSO4 setelah di larutkan


membentuk larutan tak berwarna serta adanya endapan berwarna hijau
kemudian direaksikan dengan ke-9 pereaksi akan tetapi dari semua
pereaksi hanya dengan larutan NaH2PO4 yang tidak beraksi dikarenakan
larutan tersebut memungkinkan untuk larutan tidak membentuk unsur atau
senyawa yang lain. Dari pencampuran dengan pereaksi yang ke-9 ini
hampir semua campuran berubah warnanya menjadi warna kuning ataupun
hijau sehingga dapat dikatan dalam FeSO4 banyak terbentuk senyawa baru.

714. Dalam percobaan FeSO4 yang direaksikan dengan basa


tidak terbentuk endapan padahal menurut literatur seharusnya tatkala
direaksikan dengan suatu basa akan membentuk endapan Fe(OH)2(s),
berarti dapat dikatakan larutan tidak terbentuk senyawa baru meskipun
hanya berubah warna nya saja.

715. Berdasarkan persamaan reaksi ;

716. FeSO4(aq) + NaOH(aq)

717. FeSO4(aq) + 2NaCl (aq) FeCl2(aq) + Na2SO4(aq)

718. FeSO4(aq) + Na2S aq) FeS(aq) + Na2SO4(aq)

719. FeSO4(aq) + NaH2PO4 (aq)

720. FeSO4(aq) + Na2SO4 (aq) FeSO4(aq) + Na2SO4(aq)

721. FeSO4(aq) + EDTA (aq) Fe-(EDTA)


722. FeSO4(aq) + NH4OH aq)

723. FeSO4(aq) + Na2CO3aq) FeCO3(aq) + Na2SO4(aq)

724. FeSO4(aq) + 2NH4Cl (aq) FeCl2(aq) + (NH4)2SO4(aq)

725. Sampel ketiga yaitu PbSO4, PbSO4 setelah di larutkan


ternyata tidak bereaksi sama sekali dengan ke-9 pereaksi yang ada
dikarenakan karbon itu sendiri berbentuk zat dan bukan berbentuk
senyawa/molekul, serta PbSO4 itu sendiri memang tidak larut di dalam
semua pereaksi dan hanya bisa larut dengan pereaksi organik yang
memiliki sifat larutan non polar.

726. Berdasarkan persamaan reaksi :

727. PbSO4 (aq)

728. Sampel keempat yaitu Seng (Zn), seng setelah di larutkan


ternyata membentuk larutan yang tidak berwarna akan tetapi tidak bereaksi
sama sekali dengan ke-9 pereaksi dengan menandakan ketika di tambah
pereaksi larutan tidak mengalami perubahan apapun dan tetap tak
berwarna serta tatkalaa ditambah larutan basa sama sekali tidak terbentuk
endapan padahal Zn sendiri itu termasuk logam transisi dimana akan
membentuk endapan tatkala di reaksikan dengan basa, jadi dapat dikatakan
Zn tidak bereaksi dengan ke-9 pereaksi yang ada.

729. Berdasarkan persamaan reaksi :

730. Zn(aq)

731. Sampel ke 5,6,7,8,9,10,13 dan 14 yaitu CaCO3, CaCl2, KCl,


BaCl2, NaH2PO4, Al2(SO4)3 Silika dan MnO2, (CaCO3, CaCl2, KCl, BaCl2,
NaH2PO4, Al2(SO4)3, Silika dan MnO2)ke enam sampel setelah di larutkan
ternyata membentuk larutan yang tidak berwarna akan tetapi tidak bereaksi
sama sekali dengan ke-9 pereaksi dengan menandakan ketika di tambah
pereaksi larutan tidak mengalami perubahan apapun dan tetap tak
berwarna serta tatkalaa ditambah larutan basa sama sekali tidak terbentuk
endapan padahal Ca&Ba sendiri itu termasuk logam alkali tanah dimana
akan membentuk endapan tatkala di reaksikan dengan basa, Sama seperti
Ca & Ba, K & Na jika direaksikan dengan basa akan membentuk endapan
karena kedua zat tersebut termasuk dalam golongan alkali. Jadi dapat
dikatakan CaCO3, CaCl2, KCl, BaCl2, NaH2PO4, Al2(SO4)3, Silika dan
MnO2tidak bereaksi dengan ke-9 pereaksi yang ada.

732. Berdasarkan persamaan reaksi :

733. CaCO3 (aq)

734. CaCl2 (aq)

735. KCl (aq)

736. BaCl2 (aq)

737. NaH2PO4(aq)

738. Al2(SO4)3 (aq)

739. Si2+ (aq)

740. MnO2 (aq)

741. Sampel kesebelas yaitu MgSO4, MgSO4 setelah di larutkan


membentuk larutan tak berwarna serta adanya endapan berwarna hijau
kemudian direaksikan dengan ke-9 pereaksi akan tetapi dari semua
pereaksi tidak ada yang bereaksi dengan ke-9 pereaksi serta dengan larutan
yg basa pun tidak terbentuk endapan padahal pada dasarnya Mg itu sendiri
termasuk logam transisi.

742. Berdasarkan persamaan reaksi :

743. MgSO4(aq)

744. Sampel kedua belas yaitu Cu(CH3COO)2, Cu(CH3COO)2


setelah di larutkan membentuk larutan berwarna serta adanya endapan
berwarna hijau kemudian direaksikan dengan ke-9 pereaksi. Dari
pencampuran dengan pereaksi yang ke-9 ini hampir semua campuran
berubah warnanya menjadi warna hijau biru ataupun coklat sehingga dapat
dikatakan sampelCu(CH3COO)2 banyak terbentuk senyawa baru.

745. Dalam percobaan Cu(CH3COO)2 yang direaksikan dengan


basa tidak terbentuk endapan padahal menurut literatur seharusnya tatkala
direaksikan dengan suatu basa akan membentuk endapan Cu(OH) 2(s),
berarti dapat dikatakan larutan tidak terbentuk senyawa baru meskipun
hanya berubah warna nya saja.

746. Berdasarkan persamaan reaksi :

747. Cu(CH3COO)2 (aq) + NaOH(aq)

748. Cu(CH3COO)2 (aq) + 2NaCl (aq) CuCl2(aq) + CH3COONa (aq)

749. Cu(CH3COO)2 (aq) + Na2S aq) CuS(aq) + CH3COONa(aq)

750. Cu(CH3COO)2 (aq) + NaH2PO4 (aq)

751. Cu(CH3COO)2 (aq) + Na2SO4 (aq) CuCl(aq) + CH3COONa(aq)

752. Cu(CH3COO)2 (aq) + EDTA (aq) Cu-(EDTA)

753. Cu(CH3COO)2 (aq) + NH4OH aq)

754. Cu(CH3COO)2 (aq) + Na2CO3aq) CuCO3(aq) +


CH3COONa(aq)

755. Cu(CH3COO)2 (aq) + 2NH4Cl (aq) CuCl2(aq) +


CH3COONH4(aq)

756. Sampel kelimabelas yaitu NiSO4, NiSO4 setelah di larutkan


membentuk larutan berwarna hijauserta adanya endapan berwarna hijau
kemudian direaksikan dengan ke-9 pereaksi Dari pencampuran dengan
pereaksi yang ke-9 ini hampir semua campuran berubah warnanya menjadi
warna hijau biru ataupun hitam sehingga dapat dikatakan sampel NiSO 4
banyak terbentuk senyawa baru
757. Dalam percobaan NiSO4 yang direaksikan dengan basa
tidak terbentuk endapan padahal menurut literatur seharusnya tatkala
direaksikan dengan suatu basa akan membentuk endapan Ni(OH)2(s),
berarti dapat dikatakan larutan tidak terbentuk senyawa baru meskipun
hanya berubah warna nya saja.

758. Berdasarkan persamaan reaksi ;

759. NiSO4(aq) + NaOH(aq)

760. NiSO4(aq) + 2NaCl (aq) NiCl2(aq) + Na2SO4(aq)

761. NiSO4(aq) + Na2S aq) NiS(aq) + Na2SO4(aq)

762. NiSO4(aq) + NaH2PO4 (aq)

763. NiSO4(aq) + Na2SO4 (aq) NiSO4 (aq) + Na2SO4(aq)

764. NiSO4(aq) + EDTA (aq) Ni-(EDTA)

765. NiSO4(aq) + NH4OH aq)

766. NiSO4(aq) + Na2CO3aq) NiCO3(aq) + Na2SO4(aq)

767. NiSO4(aq) + 2NH4Cl (aq) NiCl2(aq) + (NH4)2SO4(aq)

768. Sampel keenambelas yaitu K2Cr2O7, K2Cr2O7 setelah di


larutkan membentuk larutan berwarna jingga kemudian direaksikan
dengan ke-9 pereaksi Dari pencampuran dengan pereaksi yang ke-9 ini
hampir semua campuran berubah warnanya menjadi warna kuning
sehingga dapat dikatakan sampel K2Cr2O7 banyak terbentuk senyawa baru

769. Berdasarkan persamaan reaksi ;

770. K2Cr2O7(aq) + 2NaOH(aq) 2KOH(aq) + Na2Cr2O7(aq)

771. K2Cr2O7 (aq) + 2NaCl (aq) 2KCl(aq) + Na2Cr2O7(aq)

772. K2Cr2O7 (aq) + Na2S aq) K2S (aq) + Na2Cr2O7(aq)

773. K2Cr2O7 (aq) + 2NaH2PO4 (aq) 2KH2PO4 (aq) + Na2Cr2O7(aq)


774. K2Cr2O7 (aq) + Na2SO4 (aq)K2SO4 (aq) + Na2Cr2O7(aq)

775. K2Cr2O7 aq) + EDTA (aq) K-(EDTA)

776. K2Cr2O7 (aq) + NH4OH aq) KOH(aq) + (NH4)2Cr2O7(aq)

777. K2Cr2O7 (aq) + Na2CO3aq) K2CO3(aq) + Na2Cr2O7(aq)

778. K2Cr2O7(aq) + 2NH4Cl (aq) KCl(aq) + (NH4)2Cr2O7(aq)

779. Faktor kesalahan yang terjadi dalam praktikum kali ini


yaitu :

1. Seharusnya terlalu banyak sampel itu ketika direaksikan jangan di plat


tetes sehingga membuat larutan bereaksi hanya berkutat pada warna
semata saja sehingga mengakibatkan banyak larutan yang tidak berwarna
2. Sesudah pemanasan kemungkinan yang terjadi yaitu kelebihan asam
ataupun kelebihan basa, sehingga untuk menetralkan butuh pH universal
yang notabene akan menghabiskan pH universal itu sendiri seharusnya
memakai saja pH meter.
3. Konsentrasi dari setiap larutan baik sampel dan pereaksi yang kecil
sehingga larutan hanya bisa berubah dari warna saja.

780. X. Kesimpulan

781. Abdul Hakim (1147040001)

782. Sifat-sifat unsur kimia dapat kita ketahui dari


sifat fisis dan kimianya. Sama seperti pada unsur-unsur
dari gas mulia dan halogen. Dari sifat fisis kita dapat
mengetahui penampilan dari suatu unsur namun tanpa
melibatkan pengubahan zat itu menjadi zat lain, serta dari
sifat kimianya kita dapat mengetahui reaksi-reaksi yang
dapat dialami oleh zat itu, seperti kereaktifan, daya
oksidasi, daya reduksi, sifat asam, sifat basa, dan
kelarutan.

783. Ai Kusmiati (1147040004)


1. Pada beberapa sampel mengalami perubahan warna,
terbentuk endapan dan adanya gelembung yang
menunjukkan adanya reaksi.
2. Sifat kemagnetan setiap unsur berbeda-beda, pada
percobaan ini yang teridentifikasi memiliki sifat
kemagnetan adalah sampel karbon dan FeSO4
3. Pada sampel FeSO4, CaCl2, KCl, BaCl2, Al2(SO4)3, MgSO4, dan MnO2
dapat larut dalam aquades dingin, pada sampel NaH 2PO4, Cu(CH3COO)2,
NiSO4, dan K2Cr2O7 dapat larut dalam aquades panas, pada sampel CaCO 3
larut dalam HCl pekat, sampel Zink larut dalam HNO 3 encer dan untuk
sampel karbon, PbSO4 dan silika gel tidak dapat larut sampai dengan
penambahan air raja.
4. Setiap sampel yang direaksikan memiliki tingakat kelarutan yang berbeda-
beda yang dapat larut dalam aquades dingin memiliki kelarutan paling
besar sedangkan yang tidak dapat larut dalam air raja memiliki kelarutan
yang kecil.

784. Aida Rismawati (1147040006)

785. Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan dapat


disimpulkan bahwa:

1. Pada uji kelarutan senyawa anorganik, pada semua sampel yang digunakan
tidak semua sampel dapat bereaksi dengan pelarut. Dimana dapat dilihat
terlebih dahulu sampel yang digunakan dan pelarut yang cocok untuk
melarutkannya, serta dapat dilihat dari harga Ksp nya dimana semakin
besar harga Ksp suatu zat semakin mudah larut senyawa tersebut.
2. Pada uji kemagnetan, interaksi antara zat dan medan magnet dibedakan
menjadi dua, yaitu diamagnetik dan paramagnetik. Zat paramagnetik
dimana daya medan magnetnya tinggi, sedangkan zat diamagnetik daya
medan magnetnya rendah.
3. Pada uji reaksi dengan reagen NaOH, NaCl, Na2S, Na2HPO4, Na2SO4,
EDTA, NH4OH, Na2CO3, dan NH4Cl mengalami beberapa perubahan yaitu
perubahan warna, terbentuk endapan, adanya gelembung
bahkan terbentuknya senyawa komplek yang menunjukkan
adanya reaksi.

786. Emay Maesaroh (11470400024)

787. Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan dapat


disimpulkan:

1. Karbon, PbSO4 dan Cu(CH3COO)2 tidak dapat larut dalam aquaregia.


2. Semua unsur zat anorganik tidak tertarik oleh magnet emanadakan sifat
magnetnya lemah, kecuali pada FeSO4 dan karbon hanya tertarik sedikit
3. FeSO4 larutannya berwarna hijau dan kuning pada berbagai pereaksi
788. Cu(CH3COO)2 larutannya berwarna ungu kebiruan hingga
hijau pada berbagai pereaksi
789. MnO2 larutannya berwarna hitam pada berbagai pereaksi
790. NiSO4 larutannya berwarna hijau pada berbagai pereaksi

791. Hadya Ayu Hajayasti (11470400032)

792. Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, dapat


disimpulkan bahwa :

1. Pada uji kelarutan semua sampel, didapatkan hasil :


- Sampel (C, PbSO4 dan Silika gel) merupakan sampel yang tidak dapat
larut meskipun sudah dilarutkan dengan air raja.
- Sampel (FeSO4, CaCl2, KCl, BaCl2, Al2(SO4)3, MgSO4, MnO2)
merupakan sampel yang dapat larut ketika direaksikan dengan
aquades.
- Sampel (NaH2PO4, Cu(CH3COO)2, NiSO4, K2Cr2O7 ) merupakan
sampel yang dapat larut ketika direaksikan dengan aquades panas.
- Sampel CaCO3 dapat larut dalam HCl pekat dan sampel Zn dapat larut
dalam HNO3.
793.
2. Interaksi antara zat dan medan magnet dibedakan menjadi dua, yaitu
diamagnetik dan paramagnetik. Zat paramagnetik tertarik oleh medan
magnet, sedangkan zat diamagnetik tidak tertarik magnet. Yang termasuk
sifat paramagnetik adalah sampel (C dan FeSO4) sedangkan yang
termasuk dalam sifat diamagnetik adalah sampel (PbSO4, Zn, CaCO3,
CaCl2, KCl, BaCl2, NaH2PO4, Al2(SO4)3, MgSO4, Cu(CH3COO)2, Silika
gel, MnO2, NiSO4,dan K2Cr2O7).
794.
3. Pada uji sampel dengan pereaksi, didapatkan pada semua sampel memiliki
reaksi yang berbeda-beda saat dicampurkan dengan pereaksi. Jika
bereaksi akan menghasilkan senyawa yang lain.

795. Hidayah (11470400033)

796. Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa,


1. Kelarutan suatu senyawa hampir semua larut dalam aquadest sedangkan
dalam percobaan ini yang tidak dapat larut adalah PbSO4 dan Silika.
2. Reaksi yang terjadi dalam unsur unsur kimia ditandai dengan adanya
gelembung pada beberapa unsur kimia.
3. Kekuatan interaksi suatu unsur dalam suatu senyawa berbeda- beda, dalam
uji kemagnetan yang memiliki interaksi magnet adalah FeSO4 dan carbon.
4. Perubahan reaksi yang terjadi dalam unsur unsur kimia dengan pereaksi
NaOH, NaCl, Na2S, Na2HPO4, Na2SO4, EDTA, NH4OH, Na2CO3, dan
NH4Cl mengalami perubahan yang ditandai dengan adanya perubahan
warna.
797. Kurnia Wardana (11470400036)

798. Berdasarkan hasil percobaan dapat disimpulkan bahwa :

1. Dalam pelarutan semua sampel :


A. sampel(FeSO4, CaCl2, KCl, BaCl2, Al2(SO4)3, MgSO4, MnO2) larut
dalam air dingin karena memiliki kelarutan yang besar.
B. sampel (NaH2PO4, Cu(CH3COO)2, NiSO4, K2Cr2O7) larut dalam air
panas karena memiliki kelarutan yang besar .
C. sampel (CaCO3) larut dalam larutan HCl pekat karena CaCO3 karena
sukar larut dalam air dingin maupun air panas.
D. sampel (Zn) larut dalam larutan HNO3encer karena Zn teroksidasi oleh
larutan HNO3 tersebut yang bersifat sebagai reduktor.
E. sampel(C, PbSO4, Silika) tidak larut dalam larutan air raja karena
sampel padatan tersebut kelarutan yang kecil serta sampel
memungkinkan hanya bisa larut dengan pelarut non polar atau pelarut
organik.
799.
2. Dalam mengidentifikasi kemagnetan pada semua sampel, semua sampel
tidak terjadi dorongan, tidak bergerak serta tidak ada interaksi sama sekali
sehingga dapat dikatakan negatif (-) tidak bersifat magnet.
800.
3. Semua sampel yang direaksikan memilki tingkat kelarutan yang berbeda-
beda dari satu sampel dengan lainnya

801. M. Alfathan Rahman (1147040039)

802. Dari percobaan tersebut kami mendapatkan :

- Adanya sifat kemagnetan pada beberapa bahan


- Bahan tersebut antara lain Karbon, Fe, dan Pb

803. Dari praktikum kali ini juga didapati sifat kelarutan dari
beberapa bahan :

- Beberapa bahan yang kelarutannya baik diantaranya Fe2SO4, CaCl2, KCl,


BaCl2, Al2(SO4)3, MgSO4, dan MnCl.
- Beberapa bahan yang kelarutannya kurang baik diantaranya Karbon,
PbSO4, Zn, Na2HPO4, dan silica

804. Sampel sampel yang direaksikan memiliki tingkat kelarutan


yang berbeda

805.XI. Daftar Pustaka

806. Abdul Hakim (1147040001)

Harvey, David.2000.modern analytical of chemistry.


Chicago:McGrawHill press

Saito, Taro.1996.Buku Teks Kimia Anorganik


Online.Tokyo:iwanami press

Suhendar, Dede. 2013. kimia anorganik III. Bandung: UIN SGD.


http://alfina30.blogspot.com/2014/07/ciri-ciri-terjadinya-
reaksi-kimia-dalam.html
http://la-randy.blogspot.com/2012/12/makalah-kimia-
unsur.html

807. Ai Kusmiati (1147040004)

808. Anonim. (2016, April 25). Kelarutan. Retrieved Oktober 8,


2016, from www.google.com:
https://id.wikipedia.org/wiki/Kelarutan

809. Antonia, M. (2016, Maret 9). Uji Kelarutan. Retrieved


Oktober 8, 2016, from www.google.com:
https://id.scribd.com/doc/303306465/Uji-Kelarutan

810. Joshua. (2016, Mei 15). Kimia Unsur. Retrieved Oktober 8,


2016, from www.google.com:
http://www.slideshare.net/joshutoso/kimia-unsur-28234895

811. Svehla, G. (1985). Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif


Makro dan Semimikro Bagian I Edisi V. In I. Setiano. Jakarta:
PT. Kalman Media Pusaka.

812. Yudi. (2016, April 12). Kimia Unsur. Retrieved Oktober 8,


2016, from www.google.com: http://tanya-tanya.com/kimia-
unsur-gas-mulia-halogen-alkali-alkali-tanah/

813.

814. Aida Rismawati (1147040006)

815. Hiskia.Achmad.1990. Penuntun Kimia Anorganik. FMIPA.ITB Bandung.

816. Petrucci, Riaph. 1987. Kimia Dasar. Jakarta : Erlangga.

817. Saito, Taro.1996.Buku Teks Kimia Anorganik


Online.Tokyo:iwanami-press

818. Suhendar. Dede. 2015. Buku Panduan Praktikum Kimia Anorganik.


FSAINTEK. UIN SGD bandung

819. Svehla, G. (1985). Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif


Makro dan Semimikro Bagian I Edisi V. In I. Setiano. Jakarta:
PT. Kalman Media Pusaka.

820.
821. Emay Maesaroh (11470400024)

Hiskia.Achmad.1990. Penuntun Kimia Anorganik. FMIPA.ITB Bandung


Nitiadmodio. Maksum. 1983. Kimia Anorganik.Buku 1.FMIPA IKIP
Malang.
Suhendar. Dede. 2015. Buku Panduan Praktikum Kimia Anorganik.
FSAINTEK. UIN SGD bandung
Sutrisno. E.T. dan Nurminabari.I.S.2010. penuntun praktikum kimia dasar.
Universitas Pasundan: Bandung
http://anonim.2012/id.shvoong.com/exact-sciences/chemistry/2046598
reaksi reaksi kimia/ diakses pada tanggal 10 oktober 2016 pada pukul
09.00 WIB

822. Hadya Ayu Hajayasti (11470400032)

823. A, Day. N dan A.L. Underwood.1986. Analisis Kimia


Kuantitatif Edisi Kelima. Jakarta : Erlangga.

824. Harjadi, W.1993. Ilmu Kimia Analitik Dasar. Jakarta :


Gramedia

825. Khopkar, S. M.1990. Konsep Dasar Kimia Analitik.


Jakarta : UI-Press.

826. Svehla, G.1990. Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif


Makro dan Semimakro Edisi II. Jakarta : Kalman Media
Pustaka.

827. Winarni.2007. Kimia untuk SMA dan MA kelas XII IPA.


Jakarta : Satubuku.

828. Hidayah (11470400033)

829. Effendy.2007. Kimia Koordinasi Jilid1.Malang: Bayu


media.
830. www.scirbd.com//laporan praktikum kimia anorganik. Diakses
pada tanggal 09 Oktober 2016 Pukul 08.00 WIB.
831. Suhendar,Dede.2015. Penuntun Praktikum Kimia
Anorganik.Bandung: Uin SGD Bandung
832. Svehla,G.1985. Analisis Kualitatif Makro dan Semi Mikro.Jakarta:
Kalman Media Pustaka.
833. Tiffany. 2015. Laporan Praktikum Kimia Anorganik.//
www.scirbd.com//laporan // Diakses pada tanggal 9 Oktober 2016 pada pukul
21.56.
834. Kurnia Wardana (11470400036)

Chang, Raymond. 2004. Kimia Dasar. Jakarta : Erlangga


Harvey, David.2000. modern analytical of chemistry.
Chicago:McGrawHill press
Petrucci, Riaph. 1987. Kimia Dasar. Jakarta : Erlangga
Saito, Taro.1996. Buku Teks Kimia Anorganik Online.Tokyo : iwanami
press
Suhendar, Dede. 2013. kimia anorganik III. Bandung: UIN SGD.
Svehla, G. 1979. Vogel: Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan
Semimikro. Jakarta: PT. Media Kalman Pustaka

835. M. Alfathan Rahman (1147040039)

836. Winarni. 2007. Kimia untuk SMA dan MA kelas XII IPA.
Jakarta : Satubuku.

837. Rahardjo, Sentot Budi. 2008. KIMIA 3 Berbasis


Eksperimen. Solo: Platinum.

838. Campbell, N.A, J.B Reece, L.G.Mitchell. 2003. Biologi


Edisi Kelima jilid II. Jakarta:Erlangga.

839.