Anda di halaman 1dari 7

II.

PERMASALAHAN

Sejalan dengan pertumbuhan populasi penduduk baik di daerah


perkotaan maupun di perdesaan, kebutuhan air pasti akan mengalami
peningkatan beberapa kali lipat setiap harinya. Air yang digunakan berasal
dari air permukaan dan air yang dibawah tanah. Air yang dipermukaan
berasal dari curah hujan yang nantyinya menguap dan meresap menjadi air
bawah tanah. Namun air tersebut tidak dapat semuanya digunakan
langsung, karena bias saja air tersebut langsung mengalir hingga kelaut.
Data dari pusat statistik menunjukan tahun 2000 sekitar 74 persen
rumah tangga menggunakan air tanah sebagai sumber air minumnya.
Penggunaan air tanah sebagai air minum yang tertinggi terdapat di Pulau
Jawa dan Nusa Tenggara yaitu sekitar 79 persen rumah tangga, sedangkan
yang terkecil terdapat di Pulau Bali yaitu sekitar 46,5 persen rumah tangga.
Dibandingkan dengan keadaan tahun 1999, penggunaan air tanah ini
meningkat sekitar 0,4 persen dan kenaikan tertinggi terjadi di Pulau Jawa
yaitu sekitar 1,2 persen.4)
Data tersebut menunjukan bagaimana kebutuhan air di Indonesia yang
terus meningkat dari tahun ke tahun, namun potensi airnya yang dapat
digunakan relative tetap. Bahkan potensi air tersebut dapat saja menurun
bila pencemaran terjadi, apalagi jika berada di daerah perkotaan besar yang
mempunyai banyak sector industry. Permalahan selanjutnya adalah
mengenai limbah cair yang masuk ke dalam perairan sumber daya air bersih
untuk itu melalui makalah ini akan dikaji bagaimana pengendalian sumber
daya air agar dapat dikelola, supaya nanti nya dimaksud kan sumber daya
air mengalami peningkatan atau stabil dimasa yang akan datang.

4) Data menurut pusat statistik tahun 2000, dikutip dari buku Pengaturan Hukum Sumber Daya Air dan
Lingkungan Hidup Hal.14

III. PEMBAHASAN
Agar pencemaran terhadap sumber daya air tidak terus terjadi, saat ini
harus sudah mulai dilakukan berbagai macam cara pengendalian
pengelolaan sumber daya air. Dimaksudkan agar nantinya pencemaran tidak
semakin memburuk dan menimbulkan kelangkaan sumber daya air bersih.
Dalam bidang pengairan biasanya peraturan digunakan untuk mengatur
penyediaan dan pemanfaatan sumber daya air serta larangan untuk
melakukan perbuatan yang menyebabkan pengotoran air. Namun
kewenangan mengaturnya belum menjangkau sampai batas yang lebih
spesifik lagi. Karena biasanya pengaturan nya hanya untuk mengatur
standar kesehatan masyarakat. Upaya untuk mengendalikan pencemaran
lingkungan dan sumber daya air dapat dilakukan berbagai cara, salah
satunya adalah menetapkan baku mutu air, baik baku mutu air buangan,
maupun baku mutu air penerimaan. Teknik-teknik mengenai kualitas air juga
mempunyai kaitan yang erat dengan nilai air itu sendiri bila dilihat dari
berbagai dimensi, contohnya :
1. Zat kimia (tingkat kemurnian air)
2. Biologis (tanaman dan kehidupan rawa)
3. Mulai dari jenis binatang bersel satu (phytoplankton, 200plannkton) hingga
binatang besar yang terdapat diair.
4. Dimensi waktu, dimana setiap waktu terjadi perubahan yang sangat
kompleks, misalnya siklus air dan temperatur permukaan air yang dapat
mengubah sifat.
5. Reaksi berantai dari fotosintesa dan proses pernafasan dari tanaman,
binatang dan lain-lain.
6. Dimensi cultural, dilihat dari pentingnya nilai secara materil, maupun cita
rasa. Nilai ini akan berbeda bagi petani, perikanan kehidupan dikota,
industry, perhubungan serta rekreasi sport dan berenang di air.
Dari tanggapan air dapat dibagi atas beberapa kategori atau klasifikasi
secara umum, yaitu :
1. Penggunaan rumah tangga dan pemukiman
2. Penggunaan untuk industry dan pertanian
3. Penggunaan yang mempunyai nilai estetik dan cultural ( keindahan alam dan
rekreasi serta ibadah)
4. Untuk menjaga keseimbangan ekologis daya dukung bumi kehidupan
lingkungan alam yang sehat.
Kategori tersebut sangat penting bagi pengelolaan sumber daya air
untuk masa saat ini atau dimasa yang akan datang. Karena kriteria tersebut
merupakan titik tolak pengawasan kualitas air yang telah diakui oleh WHO,
walaupun tidak ada kriteria mutlak yang dipergunakan, dikarenakan
banyaknya zat pencemaran. Namun WHO telah memperkenalkan secara
internasional standar air minum yang menetukan standar minimal kualitas
air minum.5)
Menurut pengaturan Ketentuan perundang-undangan yang mengatur
kualitas air juga mengandung program nasional yang mengatur seluruh
sumber-sumber air, misalnya :
a. Menetapkan standart air buangan bagi setiap kegiatan disertai keharusan
adanya teknologi tertentu untuk mengolahnya.
b. adanya ukuran yang keras mengenai air bungan yang beracun
c. Memperkeras dan mengefektifkan tatacara penindakan
d. System dan beratnya denda
e. Dasar tuntutan bagi masyarakat dan dasar tanggung jawab para
pelaksana/penguasa
Undang-Undang Pokok Agraria No.5 tahun 1960 terdapat pengaturan
hak-hak atas air berupa hak guna iar dan hak pemeliharaan dan
penangkapan ikan.
Dan lebih lanjut lagi diatur dalam pasal 47 mengenai hak guna air adalah
hak memperoleh air untuk keperluan tertentu dan/atau mengalirkan air itu
diatas tanah orang lain. Dalam pasal 9 UUPA dijelaskan hanya warga Negara
Indonesia dapat mempunyai hubungan yang sepenuhnya dengan bumi, air,
dan ruang angkasa. Sehingga dapat diambil kesimpualn warga Negara
Indonesia dapat mempergunakan sumber daya air sesuai dengan
kebutuhannya, tetap setelah mendapatkan izin dari pihak yang berwenang.
Yang dimaksudkan pihak berwenang disini adalah pemerintah. Pemerintah
tidak harus memberikan izin terhadap masyarakat dalam menggunakan
sumber daya air, walaupun didalam pasal 9 UUPA dijelaskan bahwa air
termasuk hak dari warga Negara Indonesia. Karena pemberian izin harus
didasarkan pada tingkat daya rusak karena penggunaan air, adat kebiasaan
masyarakat setempat dan tehnik penyehatan kesehatan lingkungan. Dan
menjadi asas landasan hak atas air adalah kemanfaatan umum,
keseimbangan dan kelestarian. Dan hak atas air adalah hak guna air.6)

5) Water Pollution Control, Report of a WHO Expert Committee Jenewa,1996


6) Pasal 2 Peraturan Pemerintah No.22 tahun 1982 tentang Tata Pengaturan Air
Perizinan merupakan tindakan yang penting, karena perizinan
memberikan dan melandasi seluruh masalah yang bisa timbul nantinya.
Dalam pasal 7 ayat 1 UULH dimuat ketentuan yang mengharuskan setiap
orang yang menjalankan usaha memelihara kelestarian kemampuan
lingkungan. Setiap instansi terikat guna melakukan tindakan pelestarian
lingkungan dan sumber daya air alamnya, seperti sumber daya air dan
sebagainya.7)
Di Indonesia sitem perizinan di bidang lingkungan tidak ada satu
peraturan tetap yang mengaturnya, sistim perizinannya pun masih tumpang
tindih satu dengan yang lain, maka Indonesia perlu segera mengkaji ulang
Undang-Undang lingkungan Nomor 32 tahun 2009.8)
Izin lingkungan harus bersifat komprehensif yang mengatur tentang, yaitu :
1. Sistim perizinan lingkungan yang mencakup semua jenis pencemaran
2. Wewenangan untuk menetapkan baku mutu terhadap semua jenis
pencemaran
3. Prosedur perizinan dan peranserta masyarakat terhadap akses informasi
4. Ketententuan tentang perlindungan hukum administrasi
5. Ketentuan tentang pengawasan, pemantauan, dan penegakan hukum
lingkungan administratif pidana.
Dan selanjutnya yang dapat membantu untuk menjaga sumber daya air
bersih adalah peran serta dari masyarakat. Karena sesungguhnya
masyarakat yang akan dirugikan dari berbagai permasalahan pencemaran
sumber daya air. Peran serta masyarakat diatur didalam pasal 70 UUPPLH
Nomor 32 tahun 2009 yang memberikan hak kepada masyarakat dalam
memberikan penilaian dan perencanaan, hakekatnya peranserta ini adalah
mengenai prosedur pengambilan keputusan tata usaha Negara tentang izin
usaha lingkungan.9)

Peran serta masyarakat tersebut dapat berupa, salah satunya berbagai


contoh kegiatan adalah dengan pengawasan sosial, pemberian saran,
pendapat, usul, keberatan, pengaduan, dan/atau penyampaian informasi
dan/atau laporan.10)
Masyarakat ikut terlibat dalam mengajukan keberatan sebelum
dikeluarkannya izin usaha oleh pejabat tata usaha Negara, yang mungkin
saja izin usaha tersebut yang menjadi cikal bakal kerusakan sumber daya air.

7) Lihat AMDAL dalam PP 51/93


8) Diktat Hukum Lingkungan oleh Afif Syarif, SH,MH hal.43
9) Diktat Hukum Lingkungan oleh Afif Syarif, SH,MH hal.13
10) Pasal 70 UUPPLH Nomor 32 Tahun 2009

Peran serta masyarakat dapat dilakukan dengan cara :


a. Meningkatkan kepedulian dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan.
b. Meningkatkan kemandirian, keberdayaan masyarakat dan kemitraan
c. Menumbuh kembangkan ketanggap segeraan masyarakat untuk melakukan
pengawasan sosial dan
d. Mengembangkan dan menjaga budaya dan kearifan lokal dalam rangka
pelestarian fungsi lingkungan.
Peran serta masyarakat sangat penting dalam pengelolaan lingkungan,
khususnya sumber daya air. Namun ada beberapa hal yang dianggap bahwa
peran serta masyarakat tidak lah begitu diperlukan, karena terdapat pihak
yang keberatan akan hal itu. Pihak yang keberatan berpendapat bahwa
belum saatnya masyarakat dilibatkan dalam pengelolaan lingkungan, karena
mereka khawatir bahwa sebagian masyarakat belum cukup dewasa untuk
mengemukakan pendapat secara terbuka. Akan tetapi pihak tersebut
memberikan solusi berupa Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang
bergerak dibidang lingkungan hidup, yang diharapkan mampu membantu
masyarakat dalam mengambil keputusan yang dikeluarkan pejabat tata
usaha Negara, yang bias saja nantinya dapat merugikan masyarakat.
Dan hal yang terkahir yang dapat menekan pengendalain pencemaran
sumber daya air adalah memberikan sanksi terhadap pelanggar. Setiap
tindakan yang merupakan pelanggaran ketentuan-ketentuan perundang-
undangan di bidang sumber daya air, dapat dikenakan sanksi administratif
(pencabutan sementara atau selama-lamanya izin) termasuk sanksi
administrasi menurut pasal 25-27 UULH-97 dan sanksi pidana (kurungan
maupun denda) sebagai bagian dari sanksi administrasi.

IV. PENUTUP

kesimpulannya kebutuhan sumber daya air bersih setiap waktunya


mengalami peningkatan, akan tetapi jumlah baku mutu sumber daya air
bersih tidak mengalami peningkatan, bahkan tidak bertambah jumlahnya.
Ditambah lagi dengan pencemaran sumber daya air yang mengakibatkan
berkurangnya jumlah air bersih. Kebutuhan akan air bersih juga harus
diimbangi dengan menjaga dan mengendalikan sumber air agar tidak
tercemar dari berbagai limbah-limbah cair. Masyarakat pun harus lebih aktif
dalam pemantauan terhadap pengendalian pengelolaan sumber air.
Masyarakat juga harus diberikan informasi mengenai apa saja yang dapat
mengakibatkan pencemaran air bersih, sehingga masyarakat tau dan tidak
melakukan tindakan pencemaran air bersih. Masyarakat juga harus peka
terhadap lingkungan sekitar, sehingga dapat menanggulangi secara dini
pencemaran terhadap sumber air bersih. Dan yang terakhir perlu adanya
penyuluhan terhadap apa saja sanksi-sanksi yang akan didapat apabila
terjadi pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan. Sehingga
nantinya diharapkan berkurang atau tidak ada lagi pencemaran sumber daya
air bersih, agar masyarakat tidak mengalami krisis air bersih. Karena air
bersih merupakan awal dari kehidupan sejahtera dan sehat.

V. DAFTAR PUSTAKA

Muhammad Erwin(2003).Hukum Lingkungan Dalam Sistem Kebijaksanaan


Pembangunan Lingkungan Hidup.Bandung:P.T.Alumni
Silalahi,Daud(2003).Pengaturan Hukum Sumber Daya Air dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup di Indonesia.Bandung:P.T.Alumni
Syarif,Afif(2011).Diktat Kuliah Hukum Lingkungan.Jambi
Muhammad Erwin(2003).Hukum Lingkungan Dalam Sistem Kebijaksanaan
Pembangunan Lingkungan Hidup.Bandung:P.T.Alumni
UU No.32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan
Hidup
UU No.01 Tahun 2010 Tentang Tata Pelaksanaan Pengandilan Pencemaran Air