Anda di halaman 1dari 46

LAPORAN PRAKTIKUM

KIMIA ANORGANIK

REAKSI-REAKSI DASAR ANORGANIK KENDALI TERMOKIMIA DAN


KINETIKA
Tanggal percobaan : Selasa, 27 September 2016
Tanggal laporan : Selasa, 04- oktober 2016

Disusun oleh kelompok 4: Ahmad Hanif pahrudi (1147040003)


Anisa Budiman (1147040011)
Ayu Annisa latifah (1147040014)
Ayu Hasna Astari (1147040015)
Desanti Sarifufah (1147040018)
Dini Esa Pertiwi (1147040022)
Fitri Ayu Novitasari (1147040026)
Khairilla Aulia R (1147040035)
M Guswanda P (1147040040)
Sukma Mahardika (1137040070)

JURUSAN KIMIA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG
I TUJUAN
Mengidentifikasi jenis reaksi asam basa dan metatesis, reaksi redoks, reaksi
pembentukan kompleks, dan reaksi katalis.
Mengidentifikasi perbedaan karakteristik masing-masing reaksi.
Mengidentifikasi faktor-faktor yang memungkinkan reaksi berlangsung.

II DASAR TEORI
Senyawa Anorganik didefinisikan sebagai pada alam (di tabel periodik) yang pada
umumnya menyusun material/benda tak hidup. Semuanya senyawa yang berasal dari
makhluk hidup digolongkan dalam senyawa organik sedangkan yang berasal dari mineral
digolongkan senyawa anorganik. (Svehla,1990)

Asam basa didefinisikan oleh ahli kimia berabad abad yang lalu dalam sifat sifat
larutan air mereka.dalam penegrtian ini suatu zat yang larut airnya berasa asam , memerahkan
lakmus biru, bereaksi dengan logam aktif untuk membentuk hidrogen, dan menetralkan basa.
Dengan mengikuti pola yang serupa dengan suatu basa didefinisikan sebagai zat yang larutan
airnya berasa pahit, melarutkan lakmus merah menjadi biru dan menetralka, dan suatu asam
kuat dan basa kuat jika direaksikan akan membentuk garam dan air contohnya HCl(aq) +
NaOH (aq) NaCl +H2O (l) (achmad,1996).

Reaksi redoks atau reaksi reduksi oksidasi merupakan reaksi kimia yang disertai
perubahan bilangan oksidasi. Setiap reaksi redoks terdiri atas reaksi reduksi dan reaksi
oksidasi. Reaksi oksidasi adalah reaksi kiia yang dintai kenaikan bilangan oksidasi,
sedangkan reaksi reduksi adalah penurunan bilangan oksidasi. Bilangan oksidasi adalah
sebagai muatan yang dimiliki suatu atom jika seandainya elektron diberikan kepada atom
yang lain keelektromagnetikannya lebih besar. Jika kedua atom diberika maka atom yang
keelektromagnetifannya lebih kecil, lebih positif sedangkan atom yang
keelektromagnetifannya lebih besar memeiliki bilanagan oksidasi negatif . (Svehla,1990).

Analisis kuantitatif untuk zat zat anorganik yang mengandung ion ion logam seperti
alumunium, bismust, kalium, magnesium, dan zink dengan cara gravimetri memakan waktu
yang lama, karena prosedurnya memliputi pengendapan, penyaringan, pencucian, dan
pengeringan atau pemijaran sampai bobot konstan. Dalam pelaksanaan analisis anorganik
kualitif banyak digunakan reaksi reaksi yang menghasilkan pembentukan kompleks.Suatu in
on (atau molekul) kompleks terdiri dari satu atom (ion) pusat dan sejumlah ligan yang trikat
erat oleh atom pusat. Jumlah relatif komponen-komponen ini dalam kompleks yang stabil
nampak mengikuti stokiometri yang sangat tertentu, meskipun ini tak dapat ditafsirkan dalam
lingkup konsep valensi yang klasik. Atom pusat ini yang ditandai oleh bilangan koordinasi,
suatu angka bulat, yang menujukan jumlah ligan (monodentat) yang dapat membentuk
kompleks yang stabil dengan satu atom pusat.(Day,Underwood,1986)

Luas permukaan yang memiliki peranan yang penting dalam laju reaksi apabila
semakin kecil luas permukaan, maka semakin kecil tubukan yang trejadi antara partikel,
sehingga laju reaksi semakin lambat. Begitu pun pula sebaliknya. Katalis ialah zat yang
mengambil bagian dalam reaksi kimia dan mempercepat, tetapi ia sendiri tidak mengalami
perubahan kimia secara keseluruhan, teatpi kehadirannya sangat mempenaruhi hukum laju,
memodifikasi, dan mempercepat lintasan yang ada, atau lazimnya membuat lintasan yang
sama sekali baru bagi kelangsungan reaksi. Katalis menimbulkan efek yang nyata pada laju
reaksi, meskipun dengan jumlah yang sedikit (oxtoby,2001)
III CARA KERJA
1 Reaksi asam basa dan metatesis
Pada prosedur pertama dilakukan 4 kali percobaan dengan menggunakan 4 tabung
reaksi yang berbeda, dengan langkah-langkah sebagai berikut : pada percobaan pertama
dimasukkan 1 ml larutan HCl 6 N kedalam tabung reaksi pertama dan ditambahkan 1 ml
NaOH 6 N, lalu diuapkan sampai kering, dan diukur suhu akhir yang didapat. Percobaan
kedua, yaitu dimasukkan Na2CO3 0,01 mol sebanyak 2 tetes kedalam tabung reaksi yang
kedua, ditambahkan 1 tetes HCl 0,05 mol, lalu diupkan sampai kering dan diukur suhu
akhir yang didapat. Percobaan yang ketiga, dimasukkan 10 ml NH4OH 0,1 M kedalam
tabung reaksi yang ketiga, ditambahkan 1 ml CH3COOH 0,1 mol, dan diukur suhu akhir
yang didapat. Dan percobaan yang ke empat dimasukkan 2 tetes Na2CO3 0,01 M
kedalam tabung reaksi yang keempat, ditambahkan 1 ml CaCl2 0,01 M, kemudian
diuapkan hingga kering dan diukur suhu akhir yang didapat.
2 Reaksi redoks
Pada prosedur kedua dilakukan 2 kali percobaan dengan menggunakan 2 tabung
reaksi yang berbeda, dengan langkah-langkah sebagai berikut : pada percobaan pertama
dimasukkan 2 ml H2SO4 0,1 M kedalam tabung reaksi yang pertama, lalu dimasukkan 1
buah paku besi, dan diamati perubahan yang terjadi. Pada percobaan kedua, yaitu
dimasukkan 5 ml AgNO3 0,1 M kedalam tabung reaksi yang kedua, selanjutnya
ditambahkan 5 ml NaCl 0,1 M. kemudian disaring endapan yang terbentuk dan dibagi
menjadi 2 endapan. Endapan 1 didiamkan di tempat yang terang, dan endapan 2
didiamkan di tempat yang gelap. Dan diamati perubahan yang terjadi.
3 Reaksi pembentukkan kompleks dan substitusi ligan
Pada prosedur ketiga dilakukan 4 kali percobaan dengan menggunakan 4 tabung
reaksi yang berbeda, dengan langkah-langkah sebagai berikut : pada percobaan pertama
dimasukkan 5 tetes FeCl3 0,01 mol kedalam tabung reaksi pertama, dilarutkan hingga
larut sempurna dengan aquadest, ditambahkan NH4OH sebanyak 4 tetes, kemudian
ditambahkan Mg EDTA sebanyak 5 tetes, dan diamati perubahan yang terjadi. Pada
percobaan kedua dimasukkan 5 tetes FeCl3 0,01 mol kedalam tabung reaksi kedua,
dilarutkan dengan aquadest, ditambah dengan Mg EDTA sebanyak 5 tetes, kemudian
ditambahkan dengan NH4OH sebanyak 4 tetes, dan diamati perubahan yang terjadi.
Percobaan ketiga, dimasukkan CaCl2 0,01 mol sebanyak 1 ml kedalam tabung reaksi
ketiga, ditambahkan dengan aquadest hingga larut, ditambahkan NH4OH sebanyak 4
tetes dan ditambahkan 5 tetes Mg EDTA, kemudian diamati perubahan yang terjadi.
Yang terakhir pada percobaan keempat, dimasukkan CaCl2 0,01 mol sebanyak 1 ml
kedalam tabung reaksi yang keempat, dilarutkan dengan aquadest, ditambahkan Mg
EDTA sebanyak 5 tetes dan ditambahkan NH4OH sebanyak 4 tetes, kemudian diamati
perubahan yang terjadi.
4 Reaksi katalisis
Pada prosedur keempat dilakukan 4 kali percobaan dengan menggunakan 4 gelas ukur
100 ml yang berbeda dan disiapkan kertas yang telah digambar tanda silang dalam
lingkaran untuk diamati pada saat reaksi sedang terjadi, dengan langkah-langkah sebagai
berikut : pada percobaan pertama dimasukkan Na2S2O3.5H2O sebanyak 10 ml kedalam
gelas ukur pertama, kemudian ditambahkan FeCl3.6H2O sebanyak 10 ml, dan diamati
perubahan yang terjadi dari atas gelas ukur sampai tanda terlihat dan dihentikan
stopwatch, kemudian dicatat hasil yang didapatkan. Percobaan kedua yaitu dimasukkan
FeCl3.6H2O 10 ml kedalam gelas ukur kedua ditambahkan FeCl2.6H2O sebanyak 1
tetes, dan ditambahkan Na2S2O3 sebanyak 10 ml, kemudian diamati perubahan yang
terjadi dari atas gelas ukur sampai tanda terlihat dan dihentikan stopwatch, lalu dicatat
hasil yang didapatkan. Percobaan yang ketiga yaitu dimasukkan FeCl3.6H2O sebanyak
10 ml kedalam gelas ukur yang ketiga, ditambahkan 1 tetes FeSO4 dan ditambahkan
Na2S2O3 sebanyak 10 ml, kemudian diamati perubahan yang terjadi dari atas gelas ukur
sampai tanda terlihat dan dihentikan stopwatch, lalu dicatat hasil yang didapatkan. Dan
yang keempat, dimasukkan FeCl2.6H2O sebanyak 10 ml kedalam gelas ukur keempat,
ditambahkan 1 tetes CuSO4, dan ditambahkan Na2S2O3 sebanyak 10 ml, kemudian
diamati perubahan yang terjadi dari atas gelas ukur sampai tanda terlihat dan dihentikan
stopwatch, lalu dicatat hasil yang didapatkan.
IV ALAT DAN BAHAN
1 Alat

No Alat Ukuran Jumlah


1. Tabung reaksi 25 mL 12 buah
2. Rak tabung reaksi - 1 buah
3. Gelas Kimia 250 mL 2 buah
4. Batang pengaduk - 1 buah
5. Termometer Skala 100C 1 buah
6. Bunsen - 1 buah
7. Kaki tiga - 1 buah
8. Neraca analitik 1 set instrumen 1 buah
9. Penjepit Kayu - 1 buah
10. Gelas ukur 50 mL 2 buah
11. Gelas ukur 100 mL 2 buah
12. Corong 12 mL 1 buah

2 Bahan

No Bahan Jumlah
1. Paku besi 1 buah
2. Besi (III) sulfat 20.777 gram
3. HCl 6M 25 mL
4. NaOH 6N 25 mL
5. Mg.EDTA 250 mL
6. Lar. AgNO3 KClO3 0.5 gram
7. Lar. FeCl3 0.01M 250 mL
8. NH3OH 0.01 M 250 mL
9. CH3COOH 0.1 M 250 mL
10. NaCl 250 mL
11. H2SO4 pekat 2 mL
12. CuSO4 250 mL
13. FeCl3 250 mL
14. Na2CO3 250 mL
15. CaCl2 250 mL
16. Kertas Saring 3 buah
V SIFAT FISIK DAN KIMIA BAHAN

No. Nama bahan Sifat fisika Sifat kimia


Cairan tak berwarna Korosif
Mr=36,46 gr/mol Asam kuat
1 HCl = 1,18 gr/cm3 pH rendah
TD= 110C
TL= -27,23C
Kristal putih Basa kuat
Mr=39,997 gr/mol Korosif
2 NaOH = 2,19 gr/cm3 pH tinggi
TD= 1390C
TL= 318C
Padatan putih Oktahedral
Mr=105,99 gr/mol Irritan
3 Na2CO3
= 2,54 gr/cm3
TL= 851C
Cairan tak berwarna Korosif
Mr=60,05 gr/mol
4 CH3COOH = 1,049 gr/cm3
TD= 391C
TL= 289C
Cairan tak berwarna Berbahaya
Mr=35,04 gr/mol Kaustik
5 NH4OH = 0,88 gr/cm3 Korosif
TD= 27C
TL= -91,5C
Kristal putih Agen pengoksidasi
Mr=122,55 gr/mol Berbahaya
6 KClO3 = 2,32 gr/cm3
TD= 400C
TL= 350C
Cairan tak berwarna Korosif
Mr=98,08 gr/mol Asam kuat
7 H2SO4 = 1,849 gr/cm3 pH rendah
TD= 337C
TL= 10C
Padatan putih Korosif
Mr=169,82 gr/mol Beracun
8 AgNO3 = 4,35 gr/cm3
TD= 440C
TL= 209,7C
9 NaCl Kristal putih Netral
Mr=58,44 gr/mol Larut dalam air
= 2,16 gr/cm3 Oktahedral
TD= 801C
TL= 1465C
Padatan kuning Heksagonal
Mr=270,3 gr/mol
10 FeCl3 6.H2O
= 1,82 gr/cm3
TD= 280C
Cairan tak berwarna Pelarut universal
Mr=18,0153 gr/mol Geometri huruf "V"
11 H2O = 0,998 gr/cm3
TD= 100C
TL= 0C
Kristal tak berwarna Irritan
12 EDTA Mr=292,249 gr/mol
= 0,86 gr/cm3
Kristal ungu pucat Agen pengoksidasi
Mr=241,86 gr/mol Beracun
13 Fe(NO3)3 = 1,68 gr/cm3
TD= 125C
TL= 47,2C
Kristal putih Struktur kristal monoklinik
Mr=158,11 gr/mol
14 Na2S2O3 = 1,667 gr/cm3
TD= 100C
TL= 48,3C
Kristal biru Beracun
Mr=249,70 gr/mol Irritan
15 CuSO4 5.H2O
= 2,284 gr/cm3 Berbahaya
TL= 150C

VI. DATA PENGAMATAN

No Perlakuan Hasil
.
1. Reaksi Asam Basa dan Metatesi
o 1 mL HCl 6 N
- 1 mL NaOH 6 N dimasukan kedalam - Larutan tak berwarna
tabung reaksi
- Ditambah 1mL NaOH 6N - Larutan tak berwarna
- Diuapkan - Terdapat endapat putih
- Suhu Diukur - Truang= 27C Tuap= 83C
o 0.01 mol Na2CO3
- 2 tetes Na2CO3 0.01 mol - Larutan tak berwarna
- Ditambah 1 tetes HCl 0.005 mol - Larutan tak berwarna
- Larutan diuapkan - Larutan hilang
- Suhu diukur - Truang= 27C Tuap=57C
o 10 mL NH4OH 0.1 M
- 10 mL NH4OH 0.1 M dimasukan - Larutan tak berwarna
kedalam tabung
- Ditambah 1mL CH3COOH 0.01 mol - Menguap, larutan menjadi putih kemudian
- Suhu diukur larutan menjadi tak berwarna
- Truang=27C Tuap=32C
o Na2CO3 0.01 M
- 2 tetes Na2CO3 0.01 M dimasukan - Larutan tak berwarna
kedalam tabung
- Ditambah 1mL CaCl2 0.01 M - Larutan tak berwarna
- Dipanaskan - Terdapat endapan putih
- Suhu diukur - Truang=27C Tuap=83C
2. Reaksi Redoks
o 2mL H2SO4 0.01 M
- 2mL H2SO4 0.1 M dalam tabung - Larutan tak berwarna
- Dimasukan paku besi - Terdapat gelembung pada paku
- Diamati perubahan - Terdapat karat pada paku
o 5mL AgNO3 0.1 M
- 5mL NaCl 0.1 M dan 5mL AgNO3 0.1 - Larutan tidak berwarna
M - Larutan dan endapan putih
- Endapan disaring - Padatan abu-abu
- Diamkan (terang) - Endapan putih
- Diamkan (gelap)
3. Reaksi Pembentukan Kompleks
o FeCl3 0.01 mol
- 5 tetes FeCl3 0.01 mol - Larutan kuning (-)
- dilarutkan dengan aquades - Larutan tak berwarna
- Ditambah NH4OH 4 tetes - Larutan tak berwarna
- Ditambah Mg[EDTA] - Terdapat endapan merah
o FeCl3 0.01 mol
- 5 tetes FeCl3 0.01 mol - Larutan kuning
- dilarutkan dengan aquades - Larutan tak berwarna
- Ditambah Mg[EDTA] - Larutan kuning (-)
- Ditambah NH4OH - Larutan keruh
o CaCl2 0.01 mol
- 1mL CaCl2 0.01 mol - Larutan tak berwarna
- Diencerkan dengan aquades - Larutan tak berwarna
- Ditambah 4 tetes NH4OH - Berbau tajam dan tak berwarna
- Ditambah 3 tetes Mg[EDTA] - Berbau tajam dan tak berwarna
o CaCl2 0.01 mol
- 1mL CaCl2 0.01 mol - Larutan tak berwarna
- Dilarutkan dengan aquadest - Larutan tak berwarna
- Ditambah 4 tetes Mg[EDTA] - Larutan tak berwarna
- Ditambah 5 tetes NH4OH - Larutan tak berwarna
3. Reaksi Katalis
o 10mL larutan Na2S2O3.H2O + - Larutan tak berwarna
10mL larutan FeCl3.6H2O - Larutan berwarna hitam dalam waktu 9.17
detik berubah menjadi warna kuning
- tanda (x) terlihat jelas

- Larutan berwarna kuning


o 10mL larutan FeCl3.6H2O + 1
- Larutan berwarna kuning
tetes FeCl3.6H2O + 10mL Larutan menjadi hitam dalam waktu 7.80
Na2S2O3 detik berubah menjadi kuning
- tanda (x) terlihat jelas

- Larutan berwarna kuning


- Larutan berwarna kuning
o 10mL larutan FeCl3.6H2O Larutan menjadi hitam dalam waktu 8.70
ditambah 1 tetes larutan FeSO4 + detik menjadi warna kuning
- tanda (x) terlihat jelas
10mL larutan Na2S2O3
- Larutan berwarna kuning
- Larutan berwarna kuning
o 10mL FeCl3.6H2O + 1 tetes Larutan menjadi hitam dalam waktu 02.16
menit menjadi tidak berwarna,
CuSO4 + larutan Na2S2O3 10mL
- tanda (x) terlihat jelas

VII. PERHITUNGAN DAN PENGOLAHAN DATA

Pembuatan larutan 2 50 mL NaOH 6 N


1 25 mL HCl 6 N dari HCl 36% [ NaOH ] = massa 1000
Mr V (mL)
[ HCl ] = 10 massa 1000
Mr 6 N=
3
40 g mol1 500 mL
[ HCl ] = 10 1.19 g/cm 36 massa=12 gram
36.5 g/mol
[ HCl ] =11.74 M
V 1 M 1=V 2 M 2
25 mL 6 N =V 2 11.74 M
V 2=12.78 mL

3 50 mL NaOH 6 N 4 50 mL Na2CO3 0.01 M dari Na2CO3


0.5M
[ NaOH ] = massa 1000
Mr V (mL) n
M=
massa 1000 V ( L)
6 N=
40 g mol1 500 mL 0.01 mol
M=
massa=12 gram 0.05 L
M =0.02 M

V 1 M 1=V 2 M 2
50 mL 0.2 M =V 2 0.5 M
V 2=20 mL

5 25 mL HCl 0.05 M dari HCl 25 6 NH4OH


% a 10
M=
10 Mr
[ HCl ] =
Mr 25 0.91 g /cm3 10
3 M=
[ HCl ] = 10 1.18 g /cm 25 35.05 g/mol
36.5 g/mol M =6.49 M
[ HCl ] =8.0821 M
V 1 M 1=V 2 M 2
n V 1 6.49 M =50 mL 2 M
M=
V (L) V 1=15.41mL
0.005 mol
M=
0.025 L
M=0.02 M

V 1 M 1=V 2 M 2
V 1 8.0821 M =25 mL 0,2 M
V 1=0,618 mL

7 CH3COOH 8 250 mL CaCl2 0.01 M


a 10 Mr V M
M= m=
Mr 1000
3
98 1.05 g/cm 10 147.02 g /mol 250 mL 0.0025 M
M= m=
60.05 g /mol 1000
M =17.14 M m=0.0919 gram

V 1 M 1=V 2 M 2
V 1 17.14 M =50 mL 2 M
V 1=5.83 mL

9 25 mL H2SO4 1 M dari H2SO4 6 10 50 mL AgNO3 0.1 M


M massa 1000
M=
V 1 M 1=V 2 M 2 Mr V ( mL)
V 1 6 M =25 mL 1 M massa 1000
0.1 M =
V 1=4.167 mL 169.87 g mol1 50 mL
massa=0.8494 gram

11 50 mL NaCl 0.1 M 12 25 mL FeCl.6H2O 0.01 M


M=nxv
= 0.01 M x 25 mL
= 0.25 M
massa 1000 massa 1000
M= M=
Mr V (mL) Mr V ( mL)
massa 1000 massa 1000
0.1 M = 0.25 M =
58.44 g mol1 50 mL 270 g mol1 25 mL
massa=0.2922 gram massa=1.6894 gram

13 50 mL EDTA 1 M 14 100 mL FeCl3.6H2O 0.02 M


massa 1000 massa 1000
M= M=
Mr V (mL) Mr V (mL )
massa 1000 15 0.2 M = massa 1000
1M = 1 1
292.24 g mol 50 mL 270.5 g mol 100 mL
massa=14.612 gram massa=0.54 gram

16 150 mL Na2S2O3.5H2O 100 mL 17 150 mL CuSO4.5H2O 0.5 M


massa 1000 massa 1000
M= M=
Mr V (mL) Mr V ( mL)
massa 1000 massa 1000
0.5 M = 0.5 M =
1
248 g mol 150 mL 249 g mol1 150 mL
massa=18.6 gram massa=18.67 gram

18 150 mL FeSO4.7H2O 0.5 M


massa 1000
M=
Mr V (mL)
massa 1000
0.5 M =
277 g mol1 150 mL
massa=20.775 gram
VIII. PEMBAHASAN
Ahmad Hanif Fahrudi
Praktikum kali ini membahas tentang reaksi-reaksi yang sering terjadi pada senyawa
anorganik. Reaksi senyawa anorganik di antaranya yaitu reaksi asam basa, metatesis, redoks,
pembentukan kompleks, substitusi ligan, dan reaksi katalisis.

Pada reaksi asam basa dan metatesis, dilakukan 4 percobaan. Reaksi asam basa yaitu reaksi yang
melibatkan asam dan basa sebagai reaktan dan menghasilkan garam dan air sebagai produk. Reaksi
metatesis yaitu reaksi pertukaran ion dari 2 buah elektrolit pembentuk garam.

Percobaan pertama yaitu 1 ml HCl 6 N yang bereaksi dengan 1 ml NaOH 6 N. Ketika larutan
diuapkan, terdapat endapan putih pada dasar tabung reaksi. Hal ini disebabkan karena menguapnya air
dalam larutan, dan NaCl berubah menjadi padatan. Reaksi yang terjadi yaitu:

HCl(aq)+ NaOH(aq) NaCl(aq)+ H2O(l)

Reaksi asam basa yang kedua yaitu 2 tetes Na2CO3 0,01 mol dengan 1 tetes HCl 0,005 mol. Ketika
larutan tersebut diuapkan sampai suhunya 57C, larutan menguap sampai tak bersisa. Reaksi yang
terjadi yaitu:

Na2CO3(aq)+ 2HCl(aq) 2NaCl(aq)+ 2H2O(l)

Reaksi yang ketiga yaitu 10 ml NH4OH 0,1 M dengan 1 ml CH3COOH 0,1 mol. Larutan yang
awalnya tak berwarna menjadi putih ketika dicampur, dan menjadi bening kembali setelah beberapa
detik. Ketika diukur dengan termometer, suhunya yaitu 32C. Reaksi yang terjadi yaitu:

NH4+(aq)+ CH3COOH(aq) NH4OH(aq)+ CH3COO-(aq)

Reaksi terakhir untuk asam basa yaitu 2 tetes Na2CO3 0,01 M dengan 1 ml CaCl2 0,01 M. Beberapa
saat setelah larutan diuapkan, terbentuk endapan putih di dasar tabung reaksi. Hal ini menunjukkan
bahwa terdapat garam dalam larutan. Suhu setelah diuapkan yaitu 83C. Reaksi yang terjadi yaitu:

Na2CO3(aq)+ CaCl2(aq) 2NaCl(aq)+ CaCO3(aq)

Reaksi yang selanjutnya yaitu reaksi redoks. Reaksi redoks adalah reaksi yang menyebabkan
terjadinya penurunan dan kenaikan bilangan oksidasi. Reaksi redoks yang pertama yaitu 2 ml H 2SO4
0,1 M dengan paku besi. Ketika paku pertama kali dimasukkan, terdapat gelembung-gelembung pada
permukaan paku. Seiring waktu, terlihat adanya karat pada paku.

Pada awalnya, paku besi bermuatan +2, Fe2+. setelah bereaksi dengan asam sulfat, paku besi
mengalami oksidasi menjadi Fe3+. Asam sulfat merupakan oksidator (agen pengoksidasi), dan besi
merupakan reduktor (agen pereduksi). Reaksi yang terjadi yaitu:

2Fe2+ 2Fe3++ 2e-

2e-+ 2H++ SO42- SO32-+ H2O

2Fe2++2H++ SO42- 2Fe3++SO32-+H2O

Reaksi redoks yang kedua yaitu 5 ml AgNO3 0,1 M dengan 5 ml NaCl 0,1 M. Reaksi ini
menghasilkan endapan abu-abu berupa garam AgCl pada bagian bawah tabung reaksi. Setelah
endapan disaring, endapan yang didiamkan selama 5 menit pada tempat yang terang tidak berubah
warna, sedangkan endapan yang didiamkan di tempat yang gelap warnanya berubah menjadi putih.
Endapan AgCl dapat berubah warna karena AgCl cepat berubah menjadi gelap saat terkena cahaya
oleh disintegrasi menjadi unsur klorin dan perak metalik. Ketika terkena cahaya, AgCl melepaskan
ikatannya sehingga ion Ag+ mengalami reduksi menjadi Ag, dan Cl- teroksidasi menjadi Cl. Ketika
AgCl diletakkan di tempat yang gelap, ion-ion penyusun senyawa AgCl menyatu kembali. Reaksi
yang terjadi yaitu:

AgNO3(aq)+ NaCl(aq) AgCl(s)+ NaNO3(aq)

AgCl(s) Ag++ Cl-

Ag++Cl- AgCl(s)

Reaksi selanjutnya yaitu reaksi pembentukan kompleks dan substitusi ligan. Percobaan pertama yaitu
5 tetes FeCl3 0,01 mol dilarutkan dengan akuades, kemudian ditambah 4 tetes NH 4OH kemudian
ditambah Mg.EDTA. pada reaksi ini terjadi pembentukan senyawa kompleks [Fe(EDTA)] dan
substitusi ligan EDTA yang awalnya dimiliki oleh Mg menjadi milik Fe. Reaksi yang terjadi yaitu:

FeCl3(aq)+ 3NH4OH(aq) Fe(OH)3(s)+ 3NH4Cl(aq)

Fe(OH)3(s)+ [Mg(EDTA)](aq) [Fe(EDTA)](aq)+ Mg(OH)3(s)

Reaksi senyawa kompleks yang kedua yaitu 5 tetes FeCl 3 0,01 mol dengan Mg.EDTA, lalu ditambah
NH4OH. Pada reaksi ini, tidak terjadi substitusi ligan. Reaksi yang terjadi hanya pembentukan
kompleks [Fe(NH3)6]. Reaksi yang terjadi yaitu:

FeCl3(aq)+ NH4OH(aq) [Fe(NH3)6]Cl(aq)

Reaksi ketiga yaitu 1 ml CaCl2 0,01 mol dengan 4 tetes NH4OH dan 5 tetes Mg.EDTA. Pada reaksi
ini, terjadi pertukaran ligan EDTA dari Mg ke Ca. Reaksi yang terjadi yaitu:

CaCl2(aq)+ [Mg(EDTA)](aq) [Ca(EDTA)](aq)+ 2Cl-(aq)

Reaksi keempat yaitu 1 ml CaCl2 0,01 mol dengan 4 tetes Mg.EDTA dan NH4OH. Reaksi ini
merupakan reaksi pembentukan kompleks [Cu(NH3)6]Cl. Persamaan reaksinya yaitu:

CaCl2(aq)+ NH4OH(aq) [Cu(NH3)6]Cl(aq)

Reaksi senyawa anorganik yang terakhir yaitu reaksi katalisis. Reaksi katalisis pertama yaitu 10 ml
Na2S2O3.5H2O dengan 10 ml FeCl3.6H2O. Pada percobaan tanpa katalisator ini, reaksi berlangsung
selama 9,17 detik. Persamaan reaksinya yaitu:

FeCl3(aq)+ Na2S2O3(aq) FeS2O3(aq)+ NaCl(aq)

Percobaan kedua hampir sama dengan reaksi yang pertama, hanya saja pada reaksi yang kedua ini
ditambah 1 tetes FeCl3.6H2O sebagai katalis. Waktu yang dibutuhkan untuk bereaksi lebih cepat dari
pada tanpa menggunakan katalis, yaitu 7,80 detik. Persamaan reaksinya yaitu:

FeCl3(aq)+ Na2S2O3(aq) FeS2O3(aq)+ NaCl(aq)

Percobaan ketiga dilakukan dengan menambah 1 tetes larutan FeSO 4 sebagai katalis dari reaksi 10 ml
Na2S2O3.5H2O dengan 10 ml FeCl3.6H2O. Waktu yang dibutuhkan untuk bereaksi yaitu 8,7 detik,
lebih cepat dari pada tanpa katalis. Persamaan reaksinya yaitu:

FeSO4(aq)+ Na2S2O3(aq) Na2SO4(aq)+ FeS2O3(aq)


Percobaan terakhir dilakukan dengan menambah 1 tetes CuSO 4 sebagai katalis dari reaksi 10 ml
Na2S2O3.5H2O dengan 10 ml FeCl3.6H2O. Waktu yang dibutuhkan untuk bereaksi yaitu 2,16 detik,
yang menjadikannya reaksi katalisis tercepat di antara reaksi-reaksi katalisis yang lain. Persamaan
reaksinya yaitu:

CuSO4(aq)+ Na2S2O3(aq) CuS2O3(aq)+ Na2SO4(aq)

Anisa Budiman
Pada praktikum kali ini praktikan melakukan percobaan dengan judul identifikasi reaksi-
reaksi dengan bahan anorganik berdasarkan kendali termokimia dan kinetika. Jenis jenis
reaksi yang dilakukan yaitu reaksi asam basa (reaksi penetralan) dan metatesis, reaksi
redoks, reaksi pembentukan kompleks dan substitusi ligan, serta reaksi katalis.
1 Reaksi asam basa dan metatesis : reaksi asam basa(netralisasi) dalam larutan,
netralisasi akan terjadi antara suatu asam kuat dan basa kuat yang menghasilkan
persamaan reaksi ion. Jika diteliti, persamaan molekuler dari reaksi asam basa yang
umum akan menghasilkan garam dan air. Pada reaksi asam basa ini praktikan
menggunakan larutan asam kuat HCl dan dan basa kuat NaOH, sehingga setelah
direaksikan larutan menjadi tidak berwarna dan terdapat endapan putih pada suhu
8 33C. air yang dihasilkan pada percobaan ini merupakan elektrolit
yang sangat lemah sehingga sangat kecil untuk terionisasi, sedangkan NaCl
merupakan larutan yang mudah sekali terionisasi dalam air menjadi Na + + Cl- hal ini
membutikan bahwa adanya garam dan air pada reaksi tersebut, endapan terjadi
karena adanya zat yang memisahkan diri sebagai suatu padat yang keluar dari larutan.
Kenaikan suhu yang terjadi dikarenakan reaksi dipanaskan sehingga terjadi reaksi
eksoterm(pembebasan energy/kalor). sehingga entalpi sistem akan berkurang, yang
artinya entalpi produk lebih kecil dibandingkan entalpi pereaksi.
Reaksi yang terjadi yaitu :
NaOH(aq) + HCl(aq) NaCl(s) + HCl(l)
Selanjutnya praktikan mereaksikan Na2CO3 dengan HCl yang menghasilkan larutan
tidak berwarna, kemudian diuapkan dan pada suhu 5 73C larutan
hilang, larutan ini menguap karena adanya zat yang volatile, dan taka da zat yang non
volatile yang menempel pada dinding tabung reaksi. Reaksi yang terjadi yaitu:
Na2CO3(aq) + HCl(aq) 2NaCl(s) + H2O(aq) + CO2(g)
Kemudian selanjutnya praktikan mereaksikan NH4OH dengan CH3COOH produk
yang dihasilkan adalah larutan tidak berwarna, pada suhu 323C larutan menguap, tidak
ada endapan pada reaksi ini, percobaan ini mengalami reaksi eksoterm. Reaksi yang
terjadi yaitu: NH4OH(aq) + CH3COOH(aq) CH3COONH4(aq) + H2O(l)
Sedangkan reaksi metatesis adalah reaksi pertukaran pasangan ion dari dua elektrolit.
Setidaknya satu produk reaksi akan membentuk endapan, gas atau elektrolit lemah.
Pada reaksi metatesis ketika garam Na2CO3 direaksikan dengan asam kuat HCl maka
membentuk garam dan asam yang lain. Reaksi ini dikatakan reaksi metatesis karena
terbukti setelah direaksikan tidak terbentuk air. Setelah itu pada saat larutan NH 4OH
direaksikan dengan asam asetat produk yang terjadi adalah larutan tersebut menguap,
dikarenakan sifat dari alkohol itu sendiri mudah menguap, sedangkan pada saat garam
Na2CO3 direaksikan dengan CaCl2 larutan tersebut tidak berwarna, dan terbentuk
endapan berwarna putih pada suhu 8 33C hal ini disebabkan karena
adanya padatan yang tidak larut yaitu dari garam tersebut. Reaksi ini pun merupakan
reaksi eksoterm karena adanya pelepasan kalor Reaksi yang terjadi: Na2CO3(aq) +
CaCl2(aq) 2NaCl(s) +CaCO3(aq)
ciri-ciri terjadinya reaksi metatesis adalah:menghasilkan endapan, menghasilkan
perubahan warna, mengahsilkan gas/gelembung, mengalami perubahan suhu, dan dari
baunya.
2 Reaksi redoks: reaksi yang disertai perubahan bilangan oksidasi atau reaksi yang
didalamnya terdapat serah terima elektron antara zat. Pada percobaan ini hal pertama
yang dilakukan praktikan yaitu mereaksikan antara larutan asam sulfat 0,1 M dengan
paku besi, sehingga hasil yang diperoleh selain larutan tidak berwarna, terdapat pula
gelembung disekitar paku, dan terdapat serpihan paku besi disekitar gelembung,
kemudian terbentuk pula karat pada lapisan paku, hal ini dapat terjadi karena asam
sulfat itu sendiri merupakan larutan elektrolit, larutan elektrolit merupakan salah satu
faktor yang mempercepat korosi. Selain itu larutan H 2SO4 mengandung air dan
keadaan tabung terbuka , sehingga oksigen diudara dapat masuk ke tabung dan
menyebabkan adanya oksigen yang terlarut pada larutan H2SO4 ditabung ini.
Kemudian paku yang ditempatkan pada tabung yang berisi oksigen dan air mengalami
perkaratan, ini berarti menujukan bahwa paku teroksidasi oleh larutan H2SO4 . hal ini
disebabkan karena reaksi perkaratan membutuhkan oksigen dan air. Larutan H 2SO4
akan mengalami reaksi elektrolisis :
Katode: 2H+(aq) + 2e H2(g)
Anode: 2H2O(l) 4H+(aq) + O2 + 4e
Reaksi sel: 2H2O(l) : 2H2(g) + O2
Dan reaksi yang terjadi yaitu: Fe(s) + H2SO4 FeSO4(aq) + CO2(g) + H2O
Selanjutnya praktikan mereaksikan antara larutan perak nitrat (AgNO3) dengan
larutan natrium klorida (NaCl) yang menghasilkan adaya endapan putih. Endapan
tersebut terbentuk karena larutan yang digunakan merupakan ion logam yang sukar
larut dalam air sehingga terbentuk endapan. endapan ini pun berupa endapan putih
perak klorida. Reaksinya :AgNO3 + NaCl AgCl + NaNO3
Selanjutnya , endapan tersebut dibagi kedalam dua tabung, yang mana tabung 1
disimpan ditempat gelap dan tabung 2 disimpan ditempat terang, hasil yang diperoleh
pun berbeda karena cahaya mempengaruhi pula terhadap pengendapan sebagai efek
ion asing. Pada tempat gelap endapan tetap berwarna putih (tidak terjadi perubahan
warna) karena tidak terjadi reaksi redoks. sedangkan pada tempat terang terdapat
endapan berwarna abu-abu. Hal ini dikarenakan terjadinya reaksi redoks oleh sinar
matahari (UV).
3 Reaksi pembentukan kompleks dan substitusi ligan: reaksi pembentukan kompleks
adalah reaksi analisis kualitatif anorganik yang banyak digunakan reaksi-reaksi yang
melibatkan pembentukan ion kompleks. Suatu ion atau molekul terdiri dari satu atom
pusat dan sejumlah ligan yang terikat dengan atom pusat tersebut. Sedangkan reaksi
substitusi ligan adalah reaksi dimana satu atau lebih ligan dalam suatu komplek
digantikan dengan ligan yang lain. Dalam hal ini praktikan mereaksikan antara
larutan FeCl3 dengan NH4OH menghasilkan larutan berwarna kuning, ini
membuktikan bahwa terbentuknya senyawa kompleks berwarna, karena reaksi yang
terjadi melibatkan alkohol, warna kuning yang terbentuk karena alkohol tersebut
mengandung fenol, yang kemudian ditambah dengan Mg(EDTA) sehinga didapatlah
produk larutan berwarna kuning dan endapan berwarna merah hal ini pun
membuktikan adanya pembentukan ion kompleks, warna merah ini menujukan bahwa
alkoholnya mengandung resorsinol sehingga menyebabkan warna merah terbentuk.
Pergantian ligan ini dilakukan untuk mengetahui senyawa kuprisulfat lebih
membentuk kompleks dengan ligan yang mana. Sedangkan pada perlakuan
selanjutnya yaitu CaCl2 ditambah dengan NH4OH, hasil yang diperoleh yaitu berbau
tajam, dan larutan tidak berwarna, bau tajam dipengaruhi dari alkohonya itu sendiri,
sedangkan larutan yang tidak berwarna merupakan karakteristik dari masing-masing
zat itu sendiri. karena ligan mempunyai pasangan elektron bebas sehingga bersifat
nukleofil, maka reaksi tersebut juga dikenal sebagai reaksi substitusi nukleofilik. Pada
reaksi substitusi ligan dapat dilihat dengan reaksi antara :
FeCl3(aq) + Mg(EDTA)(aq) Fe(EDTA) (aq) + MgCl3(aq)
FeCl3(aq) + NH4OH(aq) [Fe(NH3)6]Cl(aq)
CaCl2(l) + Mg(EDTA)(aq) Ca(EDTA) (aq) + MgCl(aq)
CaCl2(l) + NH4OH(aq) Ca(NH4)Cl(aq)
4 Reaksi katalisis: katalis itu sendiri merupakan suatu zat yang mempercepat laju reaksi
kimia pada suhu tertentu tanpa mengalami perubahan oleh reaksi itu sendiri. Suatu
katalis memungkinkan reaksi berlangsung lebih cepat pada suhu lebih rendah akibat
perubahan yang dipicunya terhadap pereaksi. Fungsi katalis adalah menurunkan
energi aktivasi. Reaksi akan lebih cepat bereaksi dengan adanya katalis hal ini
disebabkan karena zat-zat yang bereaksi akan lebih mudah melampaui energy
aktivasi.
Pada percobaan ini praktikan mereaksikan Na2S2O3.H2O dengan FeCl3.6H2O yang
menghasilkan larutan berwarna hitam,. Dalam waktu 9,17 detik terjadi perubahan
warna yaitu menjadi kuning dan tanda X yang disimpan dibawah gelas kimia terlihat
jelas, hal ini dikarenakan adanya reaksi dari za Na2S2O3t.H2O dengan FeCl3.6H2O
yang berlangsung kembali. Sedangkan pada saat larutan CuSO 4 dengan FeCl3.6H2O
direaksikan kemudian ditambah dengan larutan Na2S2O3 sebanyak 10 ml perubahan
yang terjadi setelah perubahan warna menjadi hitam yaitu larutan menjadi tidak
berwarna yang pada waktu 02.16 menit dan tanda X terlihat jelas. Mengapa demikian
karena larutan Na2S2O3 larut dalam air dan memiliki kelarutan yang cukup tinggi.
Reaksi yang terjadi yaitu:
FeCl3(aq) + Na2S2O3(aq) FeCl2(aq) + Na2SO4O6 + NaCl
Na2S2O3(aq) + CuSO4(aq) Cu2SO3(aq) + Na2SO4
Na2S2O3(aq) + FeSO4(aq) Fe2SO3(aq) + Na2SO4

Ayu Annisa latifah


Pada percobaan kali ini yaitu mengidentifikasi hasil reaksi zat anorganik dari
beberapa jenis rekasi yang dilakukan diantaranya yaitu reaksi asam basa, reaksi redoks, reaksi
pembentukan kompleks, dan reaksi katalis.
Reaksi asam basa merupakan reaksi yang melibatkan senyawa asam dan basa
sehingga terjadi netralisasi. Percobaan pertama pada reaksi ini dilakukan dengan bahan
larutan HCl 6 N yang ditambahkan larutan NaOH 6 N menghasilkan larutan tidak berwarna,
kemudian campuran diuapkan sampai kering menghasilkan endapan putih. Dengan
persamaan reaksi sebagai berikut:
HCl(aq) + NaOH(aq) NaCl(s) + H2O(l)
Pada pencampuran ini, larutan asam dan basa direaksikan, maka menghasilkan garam dan air.
Ion H+ dari HCl akan bereaksi dengan OH - dari NaOH membentuk H2O. reaksi tersebut
disebut penetralan. Sementara Cl- dari HCl bereaksi dengan Na+ dari NaOH membentuk
garam NaCl. Campuran diuapkan untuk menghilangkan kadar air, sehingga diperoleh garam
berupa endapan putih. Kemudian diukur suhunya diperoleh suhu ruang.
Percobaan kedua dari reaksi ini yaitu Na2CO3 ditambahkan larutan HCl dengan
konsentrasi yang berbeda menghasilkan larutan tidak berwarna. Kemudian diuapkan hingga
larutan hilang, dan suhunya 57C. Dengan persamaan reaksi sebagai berikut:
Na2CO3(aq) + 2HCl(aq) 2NaCl(aq) + H2CO3(aq)
Pencampuran ini menghasilkan garam NaCl tetapi tidak terjadi pengendapan, karena bedanya
konsentrasi dari reaktan, juga produk yang dihasilkan adalah NaCl dan H2CO3 sehingga pada
suhu tersebut diuapkan menghasilkan larutan hilang.
Ketiga yaitu larutan NH4OH ditambahkan larutan CH3COOH menghasilkan larutan
tidak berwarna, dimana pada saat pencampuran terlebih dahulu perubahan warna menjadi
putih kemudian menjadi kembali tidak berwarna. Suhunya diukur, diperoleh 32C. dengan
persamaan reaksi sebagai berikut:
NH4OH(aq) + CH3COOH(aq) CH3COONH4(aq) + H2O(l)
Yang terjadi pada pencampuran ini yaitu basa lemah yang dicampurkan dengan asam
lemah, sehingga terbentuk garam CH3COONH4 dan air.
Keempat yaitu larutan Na2CO3 ditambahka larutan CaCl2 menghasilkan larutan tidak
berwarna. Kemudian dipanaskan menghasilkan endapan putih, dengan pengukuran suhu
83C. dengan persamaan reaksi sebagai berikut:
Na2CO3(aq) + CaCl2 2NaCl(s) + CaCO3(aq)
Pada pencampuran ini menghasilkan garam NaCl, karena terjadinya penguapan ketika
dipanaskan sehingga tersisa endapan dengan suhu tersebut.
Selanjutnya yaitu reaksi redoks pada zat anorganik. Reaksi redoks merupakan reaksi
yang melibatkan oksidasi dan reduksi untuk menentukan kadar logam yang bersifat oksidator
atau reduktor. Percobaan pertama yaitu dimasukkannya paku pada larutan H 2SO4
menghasilkan karat pada paku sehingga terjadi korosi. Dengan persamaan reaksi sebagai
berikut:
Fe2+ Fe3+ + 1e- x2
1e- + 2H+ + SO42- SO3 + H2O x1
2Fe2+ + 2H+ + SO42- 2Fe3+ + SO22- +
H2O
Korosi adalah reaksi redoks antara suatu logam dengan suatu zat sehingga menghasilkan
senyawa-senyawa yang tidak dikehendaki. Pada hal ini, logam mengalami oksidasi
sedangkan oksigen di udara mengalami reduksi. Faktor yang mempercepat korosi yaitu
tingkat keasamannya.
Percobaan kedua yaitu AgNO3 ditambahka NaCl menghasilkan endapan putih.
Dengan persamaan reaksi sebagai berikut:
AgNO3(aq) + 2NaCl(aq) AgCl2(S) putih + NaNO3(aq)
Endapan putih AgCl2 disaring kemudian dibagi dua dengan perlakuan yang berbeda. Satu
endapan disimpan di tempat gelap, dan yang lainnya disimpan di tempat terang. pada
endapan yang disimpan di tempat terang mengalami perubahan warna menjadi abu-abu,
sedangkan yang di simpan di tempat gelap tidak mengalami perubahan. Hal tersebut karena
ketika AgCl terkena sinar matahari, maka akan mengurai menjadi unsur-unsurnya yaitu
logam Ag dan unsur Cl. AgCl teroksidasi menjadi Ag+ dan Cl- tereduksi.
Selanjutnya yaitu reaksi pembentukan kompleks dan substitusi ligan, yang merupakan
kecenderungan ion logam membentuk ion kompleks dan pada substitusi ligan terjai
pertukaran ligan. Percobaan pertama yaitu pencampuran FeCl 3 dengan NH4OH menhasilkan
larutan tidak berwarna, kemudian ditambahka larutan Mg.EDTA membentuk endapan merah.
Pada percobaan kedua yaitu pencampuran FeCl3 dengan Mg.EDTA menhasilkan larutan
berwarna kuning, yang kemudian ditambahkan NH4OH menghasilkan larutan keruh. Dengan
persamaan reaksi sebagai berikut:
FeCl3(aq) + 3NH4OH(aq) Fe(OH)3 + 3NH4Cl(aq)
FeO(OH)3(s) + Mg.EDTA(aq)
FeCl3(aq) + Mg.EDTA(aq) [Fe(EDTA)](aq) + MgCl3(aq)
[Fe(EDTA)](aq) + NH4OH(aq) Fe(OH)3(aq) + NH4+ + EDTA2-
Pada percobaan ketiga yaitu pencampuran CaCl2 dengan NH4OH menghasilkan larutan tidak
berwarna, kemudian ditambahkan Mg.EDTA yang tidak terjadi perubahan. Dan pada
percobaan keempat yaitu pencampuran CaCl2 dengan Mg.EDTA menghasilkan larutan tidak
berwarna, kemudian ditambahkan NH4OH yang tidak terjadi perubahan. Dengan persamaan
reaksi sebagai berikut:
CaCl2(aq) + 2NH4OH(aq) Ca(OH)2(aq) + 2NH4Cl(aq)
Ca(OH)2(aq) + [Mg(EDTA)](aq)
CaCl2(aq) + Mg.EDTA(aq) MgCl2(aq) + Ca.EDTA(aq)
[Ca(EDTA)](aq) + NH4OH(aq) Ca(OH)2 + NH4+(g) + EDTA2-(aq)
Dari percobaan reaksi pembentukan senyawa kompleks dan substitusi ligan ini dipengaruhi
oleh ligan yang digunakan. Reaksi ini menghasilkan perubahan warna ketika bereaksi pada
pembentukan kompleks, dan menghasilkan pergantian senyawa pada substitusi ligan.
Selanjutnya yaitu reaksi katalis, dimana pada reaksi ini, katalis berperan dalam
mempercepat reaksi yang terjadi sehingga mempengaruhi laju reaksi. Percobaan pertama
yaitu pencampuran Na2S2O3 dengan FeCl3, terjadi perubahan warna larutan menjadi hitam
yang kemudian setelah 9.17 detik terjadi perubahan warna larutan menjadi kuning. Pada
percobaa kedua yaitu FeCl3 larutan berwarna kuning, lalu ditambahkan Na2S2O3
menghasilkan larutan berwarna hitam yang kemudian setelah 7.8 detik terjadi perubahan
menjadi tidak berwarna. Percobaan ketiga yaitu pencampuran FeCl 3 dengan FeSO4
menghasilkan larutan kuning dari FeCl3, lalu ditambahkan Na2S2O3 menghasilkan larutan
kuning yang kemudian setelah 8.7 detik terjadi perubahan menjadi tidak berwarna. Percobaan
keempat yaitu pencampuran FeCl3 dengan CuSO4 menghasilkan larutan kuning dari FeCl3,
lalu ditambahkan Na2S2O3 menghasilkan larutan tidak berwarna dan jelas setelah 2.16 detik.
Dengan persamaan reaksi sebagai berikut:
Na2S2O3(aq) + FeCl3(aq) 6NaCl(aq) + Fe2(S2O3)3(aq)
FeSO4(aq) + Na2S2O3(aq) Na2SO4(aq) + Fe2(S2O3)3(aq)
CuSO4(aq) + Na2S2O3(aq) Cu 2S2O3(aq) + Na2S2O3(aq)
FeCl3(aq) + CuSO4(aq) FeSO4(aq) + CuCl2(aq) + Fe+(s)
Katalis yang digunakan tersebut berperan dalam reaksi tetapi bukan sebagai pereaksi ataupun
produk. Pada temperatur tetap, katalis digunakan sebagai pengaktifan reaksi yang akan
mempercepat laju reaksi dengan menurunkan energi aktivasi. Katalis menyediakan reaksi
alternatif dalam suatu reaksi kimia. Katalis juga mempercepat tercapainya keadaan setimbang
reaksi. Perubahan warna dengan jangka waktu tersebut merupakan tahap pengikatan katalis
dan tahap pelepasan katalis pada akhir reaksi. penambahan katalis memberikan jalan baru
bagi reaksi yang memiliki energi aktivasi yang lebih rendah sehingga banyak olekul yang
bertumbukan pada suhu normal dan laju reaksi semakin cepat.

Ayu Hasna Astari


Desanti Sarifufah
Berdasarkan percobaan yang dilaksanakan yaitu mengenai reaksi reaksi kimia yang terjadi
pada senawa anorganik. Dapat digolongkan atas beberapa reaksi yang diantaranya adalah :
Yang pertama yaitu reaksi asam basa dan metatesis yang dilakukan berdasarkan 4 percobaan.
Reaksi asam basa yaitu reaksi yang melibatkan asam dan basa sebagai reaktan dan menghasilkan
garam dan air sebagai produk. Reaksi metatesis yaitu reaksi pertukaran ion dari 2 buah elektrolit
pembentuk garam. Percobaan pertama yaitu 1 ml HCl 6 N yang bereaksi dengan 1 ml NaOH 6 N.
Ketika larutan diuapkan, terdapat endapan putih pada dasar tabung reaksi. Hal ini disebabkan karena
menguapnya air dalam larutan, dan NaCl berubah menjadi padatan. Reaksi yang terjadi yaitu:

HCl(aq)+ NaOH(aq) NaCl(aq)+ H2O(l)

Kemudian proses raksi asam basa yang kedua yaitu dengan mereaksikan 2 tetes Na 2CO3 0,01
mol dengan 1 tetes HCl 0,005 mol.yang kemudian diuapkan hingga larutan yang berada dalam
tabung reaksi tersebut habis menguap. Dan suhu yang diperoleh saat larutan tersebut menguap
adalahpada suhu 57C Reaksi yang terjadi yaitu:

Na2CO3(aq)+ 2HCl(aq) 2NaCl(aq)+ 2H2O(l)

Untuk yang selanjutnya yaitu reaksi antara 10 ml NH 4OH 0,1 M dengan 1 ml CH3COOH 0,1
mol. Larutan yang awalnya tak berwarna menjadi putih ketika dicampur. Hal ini disebabkan oleh
adanya ikatan yang terjadi dari kedua senyawa tersebut dansetelah ditunggu beberapa detik lautan
kembali bening. Setelah dilakukan pengukuran degan menggunakan termometer suhu yang
didapatkan pada reaksi ini yaitu 32C dan Reaksi yang terjadi yaitu:

NH4+(aq)+ CH3COOH(aq) NH4OH(aq)+ CH3COO-(aq)

Proses selanjutnya yaitu dengan mereaksikan 2 tetes Na 2CO3 0,01 M dengan 1 ml CaCl2 0,01
M. Beberapa saat setelah larutan diuapkan, terbentuk endapan putih di dasar tabung reaksi. Hal ini
menunjukkan bahwa terdapat garam dalam larutan,dan Suhu yang dihasilkan setelah penguapan yaitu
83C. Reaksi yang terjadi yaitu:

Na2CO3(aq)+ CaCl2(aq) 2NaCl(aq)+ CaCO3(aq)

Pada percobaan ke-2 yaitu reakdi redoks. Reaksi redoks bisa dipahami sebagai transfer
elektron dari salah satu senyawa (disebut reduktor) kesenyawa lainnya (disebut olsidator).
Oksidasi dimengerti sebagai kenaikan bilangan oksidasi. Dan reduksi adalah penurunan
bilangan oksidasi. Dalam proses ini, senyawa yang satu akan teroksidasi dan senyawa lainnya
akan tereduksi, oleh karena itu disebut redoks. Untuk proses yang pertama yaitu dengan
mereaksikan larutan H2SO4 yang kemudian dimasukkan paku kedalam larutan didalam tabung reaksi,
hasil dari pengamatan terlihat ada gelembung yang semakin lama, gelembung tersebut semakin banyak. Ini
menunjukan bahwa pada larutan terjadi reaksi elektrolisis dimana larutan H2SO4 mengandung air, dan
oksigen di udara masuk pada tabung yang menyebabkan adanya oksigen terlarut pada larutan H 2SO4.
Adanya oksigen dan air ini juga dapat menyebabkan terjadinya korosi pada paku. Larutan H2SO4 merupakan
larutan elektrolit yang dapat mempercepat reaksi korosi. Reaksi yang terjadi yaitu :
Fe(s) + H2SO4 FeSO4(aq) + CO2(g) + H2O
Reaksi redoks yang kedua yaitu dengan mereaksikan 5 ml AgNO3 0,1 M dengan 5 ml NaCl
0,1 M. Reaksi ini menghasilkan endapan abu-abu yang berupa garam AgCl pada bagian bawah tabung
reaksi. Setelah endapan disaring, endapan yang didiamkan selama 5 menitdi empat yang terang dan
tidak terdapat perubahan warna, sedangkan endapan yang didiamkan di tempat yang gelap warnanya
berubah menjadi putih. Hal ini disebabkan oleh Endapan AgCl dapat berubah warna karena AgCl
cepat berubah menjadi gelap saat terkena cahaya oleh disintegrasi menjadi unsur klorin dan perak
metalik. Ketika terkena cahaya, AgCl melepaskan ikatannya sehingga ion Ag + mengalami reduksi
menjadi Ag, dan Cl- teroksidasi menjadi Cl.dan Ketika AgCl diletakkan di tempat yang gelap, ion-ion
penyusun senyawa AgCl menyatu kembali. Reaksi yang terjadi yaitu:

AgNO3(aq)+ NaCl(aq) AgCl(s)+ NaNO3(aq)

Percobaan selanjutnya adalah reaksi pembentukan kompleks dan substitusi ligan. Reaksi
kompleksometri adalah reaksi ion logam, yaitu kation dengan anion atau molekul netral.
Terdiri dari atom pusat dan sejumlah ligan yang terikat pada atom pusat. Satu ion atau
molekul kompleks terdiri dari atom pusat yang ditandai dengan bilangan koordinasi, yakni
suatu angka bulat yang menunjukan jumlah ligan (monodentat) yang membentuk kompleks
stabil dengan satu atan (ion) pusat.
Untuk proses pertama yaitu 5 tetes FeCl 3 0,01 mol yang merupakan laruta tidak erwarna
dilarutkan dengan akuades, kemudian ditambah 4 tetes NH 4OH sehingga terbentuk larutan berwarna
kuning kemudian ditambah Mg.EDTA sehingga terbentuk endapan merah pada reaksi ini terjadi
pembentukan senyawa kompleks [Fe(EDTA)] dan substitusi ligan EDTA yang awalnya dimiliki oleh
Mg menjadi milik Fe. Reaksi yang terjadi yaitu:

FeCl3(aq)+ 3NH4OH(aq) Fe(OH)3(s)+ 3NH4Cl(aq)

Fe(OH)3(s)+ [Mg(EDTA)](aq) [Fe(EDTA)](aq)+ Mg(OH)3(s)

Untuk proses yang kedua yaitu reaksi antara FeCl3 0,01 mol berupa larutan berwarna
kuning, ditambahkan dengan Mg EDTA menjadi berwarna kuning seulas, dan ditambahkan
dengan NH4OH, larutan menjadi sedikit keruh Pada reaksi ini, tidak terjadi substitusi ligan.
Reaksi yang terjadi hanya pembentukan kompleks [Fe(NH3)6] saja, sehingga Reaksi yang terjadi
yaitu:

FeCl3(aq)+ NH4OH(aq) [Fe(NH3)6]Cl(aq)

Untuk proses selanjutnya yaitu reaksi antara


CaCl2 berupa larutan tak berwarna,
ditambahkan NH4OH menghasilkan larutan yang tetap tak berwarna, dan ditambah Mg
EDTA menghasilkan larutan dengan bau khas menyengat. Hal ini disebabkan oleh terjadinya
pertukaran ligan EDTA dari Mg ke Ca. Reaksi yang terjadi yaitu:

CaCl2(aq)+ [Mg(EDTA)](aq) [Ca(EDTA)](aq)+ 2Cl-(aq)

Untuk proses selanjutny yaitu reaksi antara CaCl 0,01 mol berupa larutan tak berwarna,
ditambahkan Mg EDTA menghasilkan larutan yang tetap tak berwarna, dan ditambahkan lagi
dengan NH4OH menghasilkan larutan yang tak berwarna juga. Reaksi yang terjadi adalah :
CaCl2(aq)+ NH4OH(aq) [Cu(NH3)6]Cl(aq)

Pecobaan selanjtnya yaitu reaksi katalisis yang merupakan reaksi yang terjadi atas adanya
katalis yang akan mempercepat reaksi dengan cara menurunkan energi aktivasi. Hasil
akhirnya akan sama dengan reaksi tanpa katalis. Pada katalisis, reaksinya tidak berlangsung
secara spontan, tapi melalui substansi ketiga yang disebut dengan katalis. Reaksi katalisis yang
pertama yaitu dengan mereaksikan 10 ml Na 2S2O3.5H2O dengan 10 ml FeCl3.6H2O. Pada percobaan
tanpa katalisator ini, reaksi berlangsung selama 9,17 detik. Persamaan reaksinya yaitu:

FeCl3(aq)+ Na2S2O3(aq) FeS2O3(aq)+ NaCl(aq)


Sedangkan pada percobaan kedua yaitu dilakukan dengan cara penambahan 1 tetes
FeCl3.6H2O sebagai katalisator.kemudian Waktu yang dibutuhkan untuk bereaksi pada proses ini
hingga terlihatnya X lebih cepat dari sebelumnya yaitu 7,80 detik. Persamaan reaksinya yaitu:

FeCl3(aq)+ Na2S2O3(aq) FeS2O3(aq)+ NaCl(aq)

Untuk proses selanjutnya yaitu dengan mereaksikan FeCl3.6H2O sebanyak 1 0 ml


dan ditambahkan larutan FeSO4 sebanyak 1 tetes, tidak terjadi perubahan apapun pada proses
ini, lalu ditamahkan natrium tiosulfat sebanyak 10 ml, larutan ini berwarna hitam pekat,
sehingga waktu yang dibutuhkan untuk percobaan ini hingga munculnya X adalah pada 08.07
detik.dan persamaan reaksi yang terjadi adalah
FeSO4(aq)+ Na2S2O3(aq) Na2SO4(aq)+ FeS2O3(aq)

Percobaan selanjutnya yaitu diakukan dengan mereaksikan 1 tetes CuSO 4 sebagai katalis dari
reaksi 10 ml Na2S2O3.5H2O dengan 10 ml FeCl3.6H2O. dan Waktu yang dibutuhkan untuk bereaksi
hingga munculnya X adalah 2,16 detik, perobaan ini merupakan percobaan katalis tercepat dari
sebelum-sebelumnya, dan Persamaan reaksinya yaitu:

CuSO4(aq)+ Na2S2O3(aq) CuS2O3(aq)+ Na2SO4(aq)

Faktor- faktor yag mempengeruhi percobaan ini diantaranya adalah fakor suhu, faktor konsentrasi
laruttan yang digunakan, dan juga faktor dari senyawa yang digunakan.

Dini Esa Pertiwi


Pada percobaan pertama dilakukan uji reaksi asam basa dan reaksi metatesis pada
sampel. Dalam teorinya telah disebutkan bahwa asam mempunyai rasa masam, sedangkan
basa mempunyai rasa pahit. Namun begitu, tidak dianjurkan untuk mengenali asam dan basa
dengan cara mencicipinya, sebab banyak diantaranya yang dapat merusak kulit (korosif) atau
bahkan bersifat racun.Asam dan basa dapat dikenali dengan menggunakan zat indikator, yaitu
zat yang memberi warna berbeda dalam lingkungan asam dan lingkungan basa (zat yang
warnanya dapat berubah saat berinteraksi atau bereaksi dengan senyawa asam maupun
senyawa basa). Sedangkan reaksi metatesis adalah reaksi pertukaran ion dari dua buah
elektrolit pembentuk garam, terdapat tiga jenis reaksi penggaraman yang mungkin yaitu;
garam LA dengan garam BX, garam BX dengan asam HA dan garam LA dengan basa BOH.
Selain itu, Reaksi metatesis juga adalah reaksi-reaksi kimia yang melibatkan pertukaran
atom/ion atau gugus atom/gugus ion dengan atom/ion atau gugus atom/gugus ion yang lain.
Mula-mula uji ini dilakukan pada larutan 1 ml HCl 6N, larutan tersebut ditambahkan
1 ml NaOH 6N kemudian campuran diuapkan hingga terdapat endapan putih dan suhu
uapnya mencapai 83C. Selanjutnya pada larutan 0.01 mol Na2CO3 larutan menghilang ketika
diuapkan. Lalu pada 10 ml larutan NH 4OH 0.1 M ketika ditambahkan 1 ml CH 3COOH 0.1
mol menguap. Perlakuan terakhir pada Na2CO3 0.01 M dengan menambahkan 1 ml CaCl2
0.01 M dan menghasilkan endapan putih ketika dipanaskan. Dari keempat eksperimen, kita
dapat membedakan reaksi yang terjadi, dengan reaksi sebagai berikut dapat ditunjukan antara
reaksi asam basa dan reaksi metatesis:
HCl(aq) + NaOH(aq) NaCl(s) + H2O(l) (Asam-Basa)
Na2CO3(aq) + 2HCl(aq) 2NaCl(aq) + H2CO3(aq) (Metatesis)
NH4OH(aq) + CH3COOH(aq) CH3COONH4(aq) + H2O(l) (Asam-Basa)
Na4CO3(aq) + CaCl2(aq) 2NaCl(s) + CaCO3(aq) (Metatesis)
Percobaan selanjutnya ialah reaksi redoks melibatkan pertukaran elektron dan selalu
terjadi perubahan bilangan oksidasi dari dua atau lebih unsur dari reaksi kimia. Persamaan
reaksi redoks agak lebih sulit ditulis dan dikembangkan dari persamaan reaksi biasa yang
lainnya karena jumlah zat yang dipertukarkan dalam reaksi redoks sering kali lebih dari satu.
Sama halnya dengan persamaan reaksi lain, persamaan reaksi redoks harus disetimbangkan
dari segi muatan dan materi, penyeimbangan materi biasanya dapat dilakukan dengan mudah
sedangkan penyeimbangan muatan agak sulit. Karena itu perhatian harus dicurahkan pada
penyeimbangan muatan. Muatan berguna untuk menentukan faktor stoikiometri. Menurut
batasan umum reaksi redoks adalah suatu proses serah terima elektron antara dua sistem
redoks. Pada percobaan pertama larutan H2SO4 0.1 M dimasukan paku besi dan terjadi karat
pada besi, hal ini terjadi karena larutan H2SO4 mengandung air (H2O), dan keadaan tabung
terbuka, sehingga oksigen (O2) di udara dapat masuk ke tabung, dan menyebabkan adanya
oksigen terlarut pada larutan H2SO4 di tabung ini. Adanya oksigen dan air jelas dapat
menyebabkan terjadinya korosi pada paku di tabung ini. Larutan H 2SO4 adalah larutan
elektrolit, larutan elektrolit adalah salah satu faktor untuk mempercepat reaksi korosi.Faktor
penyebab besi berkarat adalah O2, H2O, dan pH. Bila konsentrasi O2, H2O, dan pH naik, maka
kecepatan korosi akan naik. AgNO3ditambahkan larutan NaCl menghasilkan endapan putih,
hal ini terjadi karena AgCl yang terbentuk akan mengendap, tetapi dengan kelebihan ion Cl-,
AgCl akan mengadsorpsi ion-ion Cl (NaCl berlebih) sehingga terbentuk koloid.
AgNO3(aq) + NaCl(aq) AgCl(s) + NaNO3(aq)

Percobaan pada pembentukan ion kompleks sering diperoleh dengan melarutkan zat
yang sukar larut. Dalam pelaksanaan analisis kualitatif anorganik banyak digunakan reaksi-
reaksi yang melibatkan pembentukan ion kompleks. Suatu ion atau molekul kompleks terdiri
dari satu atom pusat dan sejumlah ligan yang terikat dengan atom pusat tersebut. Atom pusat
memiliki bilangan koordinasi tertentu yang menunjukkan jumlah ruangan yang tersedia di
sekitar atom pusat. Pada beberapa reaksi yang melibatkan pembentukan ion kompleks,
kecepatan reaksinya sangat cepat. Dengan demikian bentuk ion yang dihasilkan secara
termodinamika adalah stabil. Menurut hukum kesetimbangan kimia suatu reaksi dapat
dengan cepat dikontrol sebagai kelangsungan suatu perubahan kondisi suatu reaksi. Kesulitan
yang timbul dari kompleks yang lebih rendah dapat dihindari dengan penggunaan bahan
pengkelat sebagai titran. Bahan pengkelat yang mengandung baik oksigen maupun nitrogen
secara umum efektif dalam membentuk kompleks-kompleks yang stabil dengan berbagai
macam logam. Keunggulan EDTA adalah mudah larut dalam air, dapat diperoleh dalam
keadaan murni, sehingga EDTA banyak dipakai dalam melakukan percobaan
kompleksometri. Namun, karena adanya sejumlah tidak tertentu air, sebaiknya EDTA
distandarisasikan dahulu misalnya dengan menggunakan larutan kadmium. Beberapa ion
kompleks adalah berwarna baik ada dalam bentuk padat maupun dalam larutan. Suatu cara
yang mudah untuk menentukan keadaan suatu ion kompleks adalah labil, yaitu mencatat
keadaan perubahan warna yang terjadi jika ditambahkan suatu reagent yang bereaksi dengan
ligan yang ada dalam ion kompleks.
FeCl3 + NH4OH Fe(OH)3 + NH4Cl
Fe(OH)3+ [Mg(EDTA)]
FeCl3+ [Mg(EDTA)] [Fe(EDTA)] + MgCl2
[Fe(EDTA)] + NH4OH Fe(OH)3+ NH4+ + EDTA2-
CaCl2 + 2NH4OH Ca(OH)2 + 2NH4Cl
Ca(OH)2 + [Mg(EDTA)] MgCl2 + [Ca(EDTA)]
[Ca(EDTA)] + NH4OHCa(OH)2NH4++ EDTA2-
Percobaaan terakhir adalah uji reaksi pengaruh katalis, katalis adalah suatu zat yang
mempercepat laju reaksi kimia pada suhu tertentu, tanpa mengalami perubahan atau terpakai
oleh reaksi itu sendiri. Suatu katalis berperan dalam reaksi tapi bukan sebagai pereaksi
ataupun produk. Katalis memungkinkan reaksi berlangsung lebih cepat atau memungkinkan
reaksi pada suhu lebih rendah akibat perubahan yang dipicunya terhadap pereaksi. Katalis
menyediakan suatu jalur pilihan dengan energi aktivasi yang lebih rendah. Katalis
mengurangi energi yang dibutuhkan untuk berlangsungnya reaksi. Dengan mereaksikan
setiap 10ml larutan FeCl3.6H2O dengan Na2S2O3menghasilkan larutan berwarna kuning,
larutan FeCl3.6H2O ditambahkan 1 tetes FeCl3.6H2O dan 10ml Na2S2O3, kemudian pada
larutan FeCl3.6H2O 1 tetes FeSO4 dan 10 ml Na2S2O3, kemudian yang terakhir ialah
FeCl3.6H2O dengan 1 tetes CuSO4 dan 10 ml Na2S2O3. Pada percobaan setiap percobaan ini
waktu yang tercatat untuk perubahan warna larutan selama 9.17 detik, 7.80 detik, 8.70 detik,
dan 2.16 menit. Terjadi perbedaan yang begitu signifikan pada larutan keempat, hal ini terjadi
karena sifat katalis yang spesifik, yaitu hanya cocok pada substansi tertentu. Penambahan
katalis pada percobaan dapat mempercepat laju reaksi tetapi zat tersebut tidak mengalami
perubahan yang kekal / tidak ikut bereaksi. Reaksi mendidih akibat dari tercapainya
kesetimbangan karena adanya katalis. Terjadinya kesetimbangan itu merupakan proses
eksoterm suhu yang menjadi naik dan sebaliknya.Karena, katalis hanya mampu mempercepat
reaksi, dan tidak mampu membuat reaksi. Artinya, katalis bukan berfungsi mengubah zat
yang tidak bereaksi menjadi bereaksi, melainkan mengubah zat yang bereaksi lambat menjadi
bereaksi cepat.Berikut persamaan reaksi yang terjadi pada keempat larutan:
2S2O32- + Fe3 [Fe(S2O3)2]-

FeSO4 + Na2S2O3 Na2SO4 + FeS2O3

CuSO4 + Na2S2O3 CuS2O3 + Na2S2O3

FeCl3 + CuSO4 FeSO4 + CuCl2 + Fe

Fitri Ayu Novitasari

Reaksi Asam Basa

Zat-zat Anorganik dapat diklasifikasikan dalam tiga golongan penting asam basa dan
garam. Asam secaa sederhana didefinisikan sebagai zat, yang bila dilarutkan dalam air,
mengalami disosiasi dengan pembentukan ion hidrogen sebagai satu-satunya ion positif.
Sedangkan basa merupakan zat yang bila dilarutkan dalam air, mengalami disosiasi dengan
pembentukan ion-ion hidroksil sebagai satu-satunya ion negatif. Hidroksida hidroksida logam
yang larut, seperti natrium hidroksida atau kalium hidroksida hampir sempurna dalam larutan
air yang encer. Karena basa itu merupakan basa kuat. Dilain pihak larutan-air amoniak, suatu
basa lemah. Bila dilarutkan dengan air amonia membentuk amonium hidroksida, yang
berdisosiasi menjadi ion amonium dan ion hidroksida. Karena basa kuat merupakan elektrolit
kuat sedangkan basa lemah merupakan elektrolit lemah. Menurut definisi garam merupakan
hasil reaksi dari asam dan basa.
Proses semacam ini disebut dengan reaksi netralisasi. Definisi ini adalah benar karena
jika basa murni dan asam murni ekuevalen dicampur dan larutannya diuapkan, suatu zat
kristalin akan tertinggal, yang tak mempunyai ciri khas suatu asam ataupun basa. Pada
praktikum kali ini sampel yang digunakan untuk reaksi asam basa adalah perlakuan pertama
dalah mencampurkan HCl dan NaOH sama-sama 1 ml setelah itu diuapkan dan membentuk
endapan berwarna putih fungsi dari penguapan adalah untuk membentuk suatu endapan
karena suatu basa kuat dan asam kuat bila di campurkan dan diuapkan akan membentuk
garam persamaan reaksi sebagai berikut :
HCl(aq) + NaOH (aq) NaCl +H2O (l)
NaCl yang terbentuk dalam reaksi tersebut merupakan endapan putih berupa garam
dan jika jika NaOH direaksikan dengan HCl maka selain membentuk gara maka aka
membentuk molkeul air yang bersifat netral, maka reaksi tersebut disebut netralisasi.
Sedangkan yang selanjutnya adalah natrium karbonat dengan asam klorida, reaksi ini juga
sama seperti reaksi pertama yaitu akan membentuk garam dan asam karbonat, ada saat
keduanya dicampurkan dan diuapkan maka larutan akan hilang karena asam karbonat akan
menguap jika dipanaskan sedangkan garam yang terbentuk akan menempel pada dinding
tanung reaksi. Persamaan reaksi yang yang terjadi adalah sebagai berikut :
Na2CO3 (aq) + 2 HCl 2 NaCl + H2CO3 (aq)
Terbentuknya NaCl merupakan garam yang diperoleh dari reaksi tersebut. Perlakuan
selanjutnya adalah amonium hidroksida dan asam asetat karena keduanya adalah asam lemah
dan basa lemah maka garam yang terbentuk pun merupakan elektrolit lemah. Persamaan
reaksi yang terbentuk adalah sebagai berikut :
NH4OH (aq) + CH3COOH (aq) CH3COONH4 (aq) + H2O (l)
Perlakuan asam abasa yang erakhir adala pencampuran antara natrium karbona dan
calsium klorida yang jika diuapkan akan menghasilkan endapan putih pada dinding tabung
karena terbentuk garam dan calsium karbonat , endapan pada dinding atbung merupakan
garam yang terbentuk dan tertinggal setelah diuapkan sedangkan calsium karbonat yang ciri
kimianya mudah menguap jika diuapkan hilang dan menguap sehingga meninggalkan garam
NaCl, berikut adalah persamaan reaksinya :
Na2CO3 (aq) + CaCl3 (aq) 2 NaCl + CaCO3.
Selain diuapkan dilakukan juga uji suhu. Secara berturut suhu yang didapatkan dari
perlakuan 1-4 yaitu 83C, 57C, 32C dan 83C, jika suhu akhir ketika diuapkan kurang
dari 60C maka reaksi tersebut merupakan reaksi asam lemah dan basa lemah yang pH nya
dihitung dengan kesetimbangan asam dan kesetimbangan basa yang biasa disingkat Ka dan
Kb.

Reaksi Redoks (Reduksi dan Oksidasi)

Semua reaksi yang disebut dalam seksi-seksi didepan adalah reaksi penggabungan
ion, dimana bilangan oksidasi (valensi) spesi spesi yang bereaksi tidaklah berubah. Namun
terdapat sejumlah reaksi dalam keadaan oksidasi berubah, yang disertai dengan pertukaran
elektron antara pereaksi, ini disebut reaksi oksidasi-reduksi atau pendek reaksi reaksi redoks.
Oksidasi merupakan proses diambilnya oksigen dari oleh suatu zat. Maka reduksi dianggap
sebagai proses dimana oksigen diambil dari suatu zat. Kemudian penangkapan hidrogen jga
disebut reduksi, sehingga kehilangan oksigen disebut dengan oksidasi
Pada percobaan kali ini yang dipakai adalah sampel asam kuat dan pekat yaitu asam
sulfat dan paku besi yang sudah pasti mengadung unsur Fe yaitu besi dimana perlakuannya
sangat seserhana yaitu memasukan baku besi tersebut dalam larutan asam kuat tersebut, 2ml
larutan H2SO4 dimasukan paku besi dan dari hasil yang diamati yaitu larutan menjadi
bergelembung dan paku mulai sedikit berkarat, fungsi penambahan asam kuat yaitu H 2SO4
yang pekat untuk mengaratkan paku karena pada saat paku dimasukan akan terjadi proses
oksidasi dan reduksi dimana asam sulfat atau H 2SO4 akan mengoksidasi unsur besi yang
terdapat dalam paku tersebut dan unsur besi yang terdapat dalam paku akan teroksidasi oleh
pereduksi yaitu asam sulfat terjadinya pertukan elektron antara asam sulfat dan besi tersebut
sehinga membuat besi tersebut berkarat karena pengambilan oksigen atau penangkapan
hidrogen oleh asam sulfat terhadap unsur besi terhadap paku, berikut persamaan reaksi yang
terjadi antara paku dan asam sulfat pekat :
H2SO4 (aq) + Fe (s) FeSO4 (aq) + H2 (g)
Gelembung yang keluar pada reaksi dilakukan adalah pengambilan hidrogen dari
asam sulfat yang membentuk gas H2 sehingga terjadilah gelembung gelembung tersebut.
Sedangkan FeSO4 merupakan hasil dari pengkaratan yang terjadi dari reaksi redoks tersebut.
Perlakuan selanjutnya pada reaksi redoks yaitu pencampuaran AgNO 3 dan NaCl yang
akan mengahasilkan suatu endapan berwarna putih, endapan putih tersebut terbentuk dari
pencampuran Ag+ bertumu ion Cl- yang bergabung membentuk endapan berwarna putih
reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut :
AgNO3 (aq) + 2 NaCl AgCl2 (s) + NaNO3 (aq)
Pertukaran elektron antara Ag dan Cl yang memiliki muatan positif dan negatif
sehingga membentuk endapan putih. Proses ini menjadi 2 bagian uji tempat terang dan uji
tempat tearng, jika ditempat terang terbentuk endapan berwarna abu-abu efek dari cahaya
maka endapan berwarna abu-abu sedangkan di tempat gelap tetap membentuk endapan putih.

Reaksi Pembentukan Kompleks


Dalam pelaksanaan analisis anorganik kualitif banyak digunakan reaksi reaksi yang
menghasilkan pembentukan kompleks.Suatu in on (atau molekul) kompleks terdiri dari satu
atom (ion) pusat dan sejumlah ligan yang trikat erat oleh atom pusat. Jumlah relatif
komponen-komponen ini dalam kompleks yang stabil nampak mengikuti stokiometri yang
sangat tertentu, meskipun ini tak dapat ditafsirkan dalam lingkup konsep valensi yang klasik.
Atom pusat ini yang ditandai oleh bilangan koordinasi, suatu angka bulat, yang menujukan
jumlah ligan (monodentat) yang dapat membentuk kompleks yang stabil dengan satu atom
pusat. Pada percobaan kali ini merupakan pembentukan kompleks dengan ligan EDTA
dengan perlakuan awal dengan atom pusat Fe dengan mereaksikan FeCl 3 dengan NH4OH
akan membentuk Fe(OH)3 dan ketika di campurkan dengan Mg EDTA tidak terjadi reaksi
karena besi(III)hidroksi tidak akan membentuk reaksi jika langsung dicampurkan dengan
unsur yang mengandung ligan sedangkan sebaliknya unsur yang mengandung ligan dapat
membentuk senyawa Fe(OH)3 akan membentuk kompleks [Fe(EDTA)] karena satu atom
pusat membentuk ikatan kovalen koordinasi dengan ligannya. Tidak terjadinya reaksi
diakibatkan karena ikatan kovalen koordinasi tidak bisa mengikat ligan EDTA dan ligan
Hidroksi,disini atom pusat Fe hanya bisa mengikat satu ligan saja. Berikut adalah persamaan
reaksinya :
FeCl3 (aq) + 3 NH4OH (aq) Fe(OH)3 (s) + 3 NH4Cl
Fe(OH)3 (s) + Mg. EDTA
FeCl3 (aq) + Mg. EDTA [Fe(EDTA)] (aq) + MgCl2 (aq)
Fe EDTA (aq) + NH4OH (aq) Fe(OH)3 (s) + 2 NH4Cl
Pembentukan kompleks yang kedua adalah dengan ligan EDTA dan atom pusat Ca
Atau kalsium. CaCl2 di larutkan dengan aquades dan ditambahkan NH4OH dan Mg.EDTA
dan tidak akan membentuk kompleks dengan atom pusat karena tidak terjadi ikatan kovalen
koodinasi antara ligan dan atom pusat. Sedangkan sebaliknya jika Mg.EDTA terlebih dahulu
yang ditambahkan lalu NH4OH akan terbentuk ikatan kovalen koordinasi antara atom pusat
dan ligan, berikut adalah persamaan reaksi :
CaCl2 (aq) + 2 NH4OH (aq) Ca (OH)2 (aq) + 2 NH4Cl
Ca (OH)2 (aq) + Mg. EDTA
CaCl2 (aq) + Mg. EDTA MgCl2 (aq) + [Ca(EDTA)] (aq)
[Ca(EDTA)] (aq) + NH4OH (aq) Ca (OH)2 (aq) + NH4+ + EDTA2-

Reaksi Katalisis

Pada uji katalisis yaitu suatu penambahan katalis akan mempengaruhi laju reaksi, biasanya
katalis mempercepat laju reaksi dilihat dali 3 katalis yang dipakai oleh percobaan kali ini dan
katalis yang pertama FeCl3.6H2O, pengaruh penambahan katalis FeCl3.6H2O pada campuran
Natrium tiosulfat yaitu mempercepat laju reaksi dibandingkan yang tidak memakai katalis,
campuran yang tidak memakai katalis membuktikan laju reaksi selam 9,17 detik sedangkan
yang memakai katalis FeCl3.6H2O laju reaksi selama 7,80 detik terlihat lebih cepat.
Sedangkan katalis yang kedua adalah FeSO4 dan laju reaksi yang tempuh oleh penambahan
katalis tersebut 8,70 detik dan katalis yang terakhir yaitu CuSO 4 yaitu laju reaksi yang
ditempuh oleh katalis tersebut yaitu 2,16 detik. Pengaruh penambahan katalis pada campuran
natrium tiosulfat yaitu berbeda beda tapi sama fungsinyanya mempercepat laju reaksi dengan
ditandai munculnya tanda x yang cepat terlihat tergantung katalis. Berikut persamaan reaksi
yang terbentuk dari uji reaksi katalis :
Na2S2O3 (aq) + FeCl3 (aq) 6 NaCl (aq) + Fe(S2O3) (aq)
FeSO4 (aq) + Na2S2O3 (aq) Na2SO4 (aq) + Fe(S2O3) (aq)
CuSO4 (aq) + Na2S2O3 (aq) CuS2O3 (aq) + Na2S2O3 (aq)
FeCl3(aq) + CuSO4 (aq) FeSO4 (aq) + CuCl2 (Aq) + Fe+

Khairilla Aulia R
Pada judul praktik kali ini yaitu mengenai Reaksi-reaksi Dasar Anorganik dengan
Kendali Termokimia dan Kinetika dimana faktor termokimia dapat diketahui melalui adanya
stabilitas relatif dari produk dan nilai energi bebasnya negatif sedangkan faktor kinetik dapat
diketahui dari kecepatan pembentukan produk dan energi bebasnya bernilai positif. Praktikan
melalukan beberapa reaksi reaksi dasar yakni reaksi asam basa dan metatesis, reaksi redoks,
reaksi pembentukan kompleks dan substitusi ligan, serta reaksi katalisis.
Reaksi asam-basa pada dasarnya ialah reaksi antara asam dan basa dan menghasilkan
garam, sementara metatesis ialah terjadinya pertukaran dari dua huah elektrolit pembentuk
garam. Dilakukan 4 perlakuan dalam reaksi ini, yaitu :
1. 1ml HCl 6N direaksikan dengan 1ml NaOH 6N
Pada perlakuan ini, yang pertama yaitu dimasukkannya larutan HCl 6M sebanyak 1 mL
kedalam tabung reaksi 1 yang mana larutan tersebut tidak berwarna kemudian ditambahkan
larutan NaOH 6M sebanyak 1 mL kedalamnya tidak terjadi perubahan. Kemudian campuran
dipanaskan hingga larutan kering dan timbulendapan berwarna putih di dasar dan di dinding
tabung reaksi. Suhu tertinggi yang dicapai saat pemanasan yaitu pada 83C dengan suhu
ruang sebesar 27C. Reaksi yang terjadi merupakan reaksi penetralan yang menghasilkan
garam NaCl, NaCl mudah sekali terionisasi dalam air menjadi Na+ dan Cl- . Pemanasan
menyebabkan kenaikan suhu sehingga terjadi reaksi eksoterm yakni pembebasan energi atau
kalor dan entalpi sistem akan berkurang. Reaksi yang terjadi dan perubahan entalpi yang
menyertainya berdasarkan literatur, yaitu

NaOH(aq) + HCl(aq) NaCl (aq) + H2O (l) H= - 252 kj/mol

Pada nilai entalpinya dapat dilihat bahwa untuk menguraikan 1 mol NaOH dan HCl menjadi
unsur-unsurnya dilepaskan kalor sebesar 252 kj/mol. Di dalam larutan, HCl dan NaOH akan terurai
menjadi ion-ionnya, sehingga reaksi ion yang terjadi adalah sebagai berikut:
H+ (aq) + Cl (aq) + Na+ (aq) + OH (aq) Na+ (aq) + Cl (aq) + H2O (aq)

Dari reaksi di atas dapat disederhanakan menjadi reaksi ion bersih sebagai berikut :

H+(aq) + OH(aq) H2O(aq)

2. Na2CO3 0.01 mol 2 tetes ditambahkan larutan HCl 0.005 mol 1 tetes

Pada perlakuan kedua, larutan Na2CO3(aq) 0,01 M sebanyak 2 tetes ditambahkan satu tetes
larutan HCl 6M terbentuk larutan bening tidak berwarna, setelah dipanaskan larutan hilang
menguap dengan suhu yang dihasilkan yaitu 57C. Hal tersebut terjadi karena terdapat H2CO3
dimana zat volatil menguap sehingga reaksi yang terjadi ;
2HCl(aq) + Na2CO3(aq) 2NaCl(aq) + H2CO3(aq) H=287 kj.mol-1
3. NH4OH dan CH3COOH
Pada tabung reaksi yang ke-3 yaitu larutan NH 4OH 0,1 mol sebanyak 10mL ditambahkan
larutan CH3COOH 0,5 mol sebanyak 1 mL menghasilkan campuran tidak berwarna dan
berbau menyengat dari larutan NH4OH kemudian dipanaskan terbentuk uap dengan suhu
tetinggi yaitu 32C dan dengan suhu ruang 27C. Reaksi ini mengalami reaksi eksoterm
(melepaskan energi atau kalor). Antara asam asetat dengan amonia membentuk amonium
asetat merupakan contoh reaksi netralisasi asam lemah dan basa lemah adalah. Reaksinya
adalah sebgai berikut:
CH3COOH(aq) + NH4OH(aq) CH3COONH4(aq)+H2O(l)

4. Na2CO3 dengan CaCl2


Senyawa karbonat jika direaksikan dengan asam kuat encer akan menghasilkan gas
karbon dioksida (CO2), air dan garam lain. Pada percobaan selanjutnya yaitu mereaksikan
Na2CO3 dengan CaCl2 dengan persamaan reaksi sebagai berikut :
Na2CO3(aq) + CaCl2(aq) --> CaCO3(s) + 2NaCl (aq)
Dari hasil pengamatan, pada saat mencampurkan kedua larutan, terbentuk endapan putih.
Endapan putih tersebut terbentuk karena anion dari Na2CO3(CO32-) bereaksi dengan kation
dari CaCl2 (Ca2+) membentuk senyawa yang tidak mudah larut dalam larutannya, yaitu
CaCO3. CaCO3 merupakan garam karbonat yang tidak dapat larut dalam air.
Percobaan kedua yaitu tentang reaksi reduksi oksidasi (redoks). Reaksi reduksi oksidasi (redoks)
adalah reaksi-reaksi kimia yang melibatkan terjadinya perubahan bilangan oksidasi suatu zat.
Pada percobaan reaksi redoks ini dilakukan 2 percobaan yaitu kedalam larutan tersebut,
sehingga terdapat gelembung di sekitar paku yang dimana semakin lama gelembung tersebut
semakin banyak. Hal tersebut menunjukkan terjadinya reaksi elektrolisis dimana larutan
H2SO4 mengandung air, dan oksigen (O2) di udara dapat masuk kedalam tabung reaksi yang
menyebabkan adanya oksigen terlarut pada larutan H2SO4. Adanya oksigen dan air juga dapat
menyebabkan terjadinya korosi pada paku di tabung tersebut. Larutan H2SO4 merupakan
larutan elektrolit, salah satu faktor yang dapat mempercepat reaksi korosi. Sehingga
reaksinya:
Katoda: 2 H+(aq) + 2 e- H2(g)
Anoda: 2 H2O(l) 4H+(aq) + O2(g) + 4 e-
Reaksi sel : 2 H2O(l) 2 H2(g) + O2(g)
Reaksi yang terjadi pada paku dan larutan H2SO4 yaitu
Fe(s) + H2SO4 FeSO4(aq) + CO2(g) + H2O
larutan H2SO4 akan mengalami reaksi elektrolisis. Berikut proses dalam suasana asam :
Anoda : Fe2+ (aq) Fe3+ (aq)+ 1e- (x2) E = +0,44 volt

Katoda : 2e- + 2H+ (aq) + SO42-(aq) SO32- (aq) + H2O (l) (x1) E = -0,77 volt
2+ + 2- 3+ 2-
2 Fe (aq) + 2H (aq) + SO4 (aq) 2 Fe (aq) SO2 (aq) + H2O (l) E = -0,33 volt
2 FeSO4 (aq) + 2 H2SO4 (aq) Fe2(SO4)3 (aq) + H2SO3 (aq) + H2O (l)
2. Reaksi AgNO3 dengan NaCl
Pada perlakuan ini larutan AgNO3 0,1 M sebanyak 2 mL dimasukkan kedalam tabung reaksi
kemudian ditambahkan larutan NaCl 0,1 M sebanyak 5 mL menghasilkan larutan berwarna
putih susu namun sedikit bening dan terdapat endapan berwarna putih Endapan ini ada karena
larutan yang digunakan merupakan ion logam yang sukar larut dalam air sehingga terbentuk
endapan.
Endapan yang dihasilkan adalah AgCl. Larutan kemudian disaring dan didapatkan endapan
pada kertas saring, kemudian padatan dibagi menjadi dua kemudian dilakukan pengamatan
pada dua perlakuan yang berbeda. Perlakuan pertama dimana kertas saring yang berisi
endapannya disimpan dibawah sinar matahari langsung sedangkan kertas saring dan endapan
yang lainnya disimpan ditempat yang gelap. Hasilnya dari endapan yang disimpan ditempat
gelap adalah endapan berwarna putih, tidak berubah dari endapan awal karena tidak terjadi
reaksi redoks sedangkan pada kertas saring yang ditempatkan dibawah sinar matahari
endapan berubah warna menjadi abu kebiruan dikarenakan adanya reaksi redoks oleh sinar
matahari (UV). Reaksi yang terjadi, yaitu
AgNO3(aq) + NaCl(aq) AgCl(aq) + NaNO3(aq)
Endapan warna abu kebiruan timbul karena terjadinya proses penguraian oleh cahaya
matahari. Berikut persamaan reaksinya :
2AgCl --> 2Ag + Cl-

Percobaan yang ketiga adalah reaksi pembentukan kompleks dan substitusi ligan. Reaksi
kompleksometri adalah terjadinya ikatan kovalen koordinasi antara ion pusat berupa logam
dengan lisannya. Percobaan ini dilakukan dengan 2 ion pusat yang berbeda, pertama dengan
logam Fe3+ sebagai ion pusatnya dan kedua menggunakan Ca2+ sebagai ion logam pusatnya.
Pada ion pusat Fe dilakukan dengan dimasukkannya larutan FeCl3 0,01 mol sebanyak 5 tetes
ke dalam tabung reaksi kemudian ditambahkan aquades larutan berwarna kekuningan namun
lebih pudar dari warna larutan FeCl3 kemudian ditambahkan larutan NH4OH sebanyak 5 tetes
menghasilkan endapan berwarna merah bata dan larutan tidak berwarna kemudian
ditambahkan larutan Mg-EDTA tidak mengalami perubahan. Kedua, larutan FeCl3 0,01 mol
sebanyak 5 tetes dimasukkan kedalam tabung reaksi kemudian ditambahkan aquades
menghasilkan larutan berwarna kuning pudar kemudian ditambahkan larutan Mg-EDTA
sebanyak 5 tetes tidak terjadi perubahan warna, kemudian ditambahkan larutan NH4OH
sebanyak 5 tetes menghasilakan larutan berubah warna menjadi warna jingga dan terdapat
endapan berwarna merah. Adanya perubahan warna menandakan Reaksi pembentukan
kompleks berjalan dengan baik. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut:
1 FeCl3 (aq) + 3 NH4OH (aq) Fe(OH)3 (s) + 3 NH4Cl (aq)
Fe(OH)3 (s) + Mg.EDTA (aq) [ Fe(EDTA)] (aq) + Mg (OH)3 (s)
2 FeCl3 (aq) + Mg.EDTA (aq) [ Fe(EDTA)] (aq) + MgCl2 (aq)
[Fe(EDTA)] (aq) + NH4OH (aq) Fe(OH)3 (aq) + [NH4(EDTA)] (aq)
Untuk perlakuan dengan ion Ca2+ sebagai ion logam pusat dimasukkan larutan CaCl 2
sebanyak 5 tetes kedalam tabung reaksi kemudian ditambahkan aquades, larutan tetap tidak
berwarna kemudian ditambahkan larutan NH4OH sebanyak 5 tetes tidak mengalami
perubahan kemudian ditambahkannya larutan Mg-EDTA tetap tidak terjadi perubahan warna
dimana larutan tetap tidak berwarna. Keempat, dimasukkan larutan CaCl 2 sebanyak 5 tetes
larutan yang tidak berwarna kemudian ditambahkannya aquades larutan tidak berubah warna
kemudian ditambahkannya larutan Mg-EDTA sebanyak 5 tetes tidak terjadinya perubahan
apapun kemudian ditambahkan larutan NH4OH sebanyak 5 tetes tidak terjadi perubahan
apapun. Reaksi yang terjadi, yaitu
3 CaCl2 (aq) + 2 NH4OH (aq) Ca(OH)2 (aq) + 2 NH4Cl (aq)
Ca(OH)3 (aq) + Mg.EDTA (aq) [ Ca(EDTA)] (aq) + Mg (OH)2 (aq)
4 CaCl2 (aq) + Mg.EDTA (aq) [ Ca(EDTA)] (aq) + MgCl2 (aq)
[Ca(EDTA)] (aq) + NH4OH (aq) Ca(OH)2 (aq) + [NH4(EDTA)] (aq)
Percobaan keempat yang dilakukan ialah reaksi katalisis. Fungsi katalis adalah
menurunkan energi aktivasi, sehingga jika ke dalam suatu reaksi ditambahkan katalis, maka
reaksi akan lebih mudah terjadi atau berlangsung lebih cepat. Hal ini disebabkan karena zat-
zat yang bereaksi akan lebih mudah melampaui energi aktivasi.
Pada reaksi katalisis ini dilakukan 4 perlakuan dengan katalisator yang berbeda beda dan
juga yang tanpa menggunakan katalisator. Berikut hasil pengamatannya:
1. Tanpa Katalisator
Percobaan tabung reaksi pertama, larutan Na2S2O3 ditambahkan dengan larutan FeCl2
sehingga terjadi perubahan warna pada saat pencampuran larutan Na2S2O3 dimana larutan
atas berwarna hitam keunguan dan larutan bawah tidak berwarna. Tanda lingkaran X dikertas
yang disimpan dibawah labu takar terlihat pada detik ke 9.17.
Na2SO45H2O(aq) + FeCl36H2O(aq) FeCl2(aq) + Na2SO4O6
2. Dengan katalisator FeCl3.6H2O
Pada percobaan tabung reaksi kedua, larutan FeCl 3 10 ml larutan kuning bening kemudian
ditambahkan dengan larutan Na2S2O3 10 ml terbentuk larutan berwarna hitam keunguan
kemudian coklat bening dan larutan kembali menjadi kuning bening. Tanda lingkaran X
dikertas yang disimpan dibawah labu takar terlihat pada waktu 7.80 sekon.
Na2S2O3 (aq) + FeCl3 (aq) Fe2(S2O3) (aq) + 6 NaCl (aq)
3. Dengan katalisator FeSO4
Percobaan tabung reaksi ketiga, larutan FeCl3 1 tetes larutan berwarna kuning bening
kemudian ditambahkan dengan larutan Na2S2O3 sebanyak 10 ml terbentuk larutan berwarna
ungu kehitaman kemudian coklat bening dan kembali kuning keruh dan terbentuk emulsi.
Tanda lingkaran X dikertas yang disimpan dibawah labu takar terlihat pada waktu 8.70 sekon.
FeSO4 (aq) + Na2S2O3 (aq) Na2SO4 (aq) + FeS2O3 (aq)
4. Dengan katalisator CuSO4
Pada tabung terakhir digunakan, larutan FeCl3 larutan kuning bening kemudian ditambah
dengan 1 tetes larutan CuSO4 larutan menjadi berwarna hitam, kemudian menjadi tidak
berwarna. Tanda lingkaran X dikertas yang disimpan didawah labu takar terlihat pada waktu
2.16 sekon
CuSO4 (aq) + Na2S2O3 (aq) CuS2O3 (aq) + NaSO4 (aq)
Dapat dilihat dari waktu berjalannya reaksi, tanpa menggunakan katalisator reaksi berjalan
lebih lambat dibandingkan dengan yang menggunakan katalisator. Katalisator yang paling
efektif ialah yang dapat mempercepat waktu berjalannya reaksi secara signifikan terjadi pada
saat penambahan katalis CuSO4, sehingga dapat dikatakan bahwa katalisator dari Cu yang
paling baik karena memiliki waktu jalannya reaksi yang paling singkat.
M Guswanda P
Termokimia adalah yang mempelajari hubungan antara energi panas dan energi kimia
sedangkan kinetika kimia adalah bidang ilmu kimia yang mempelajari kecepatan
berlangsungnya suatu reaksi kimia. reaksi kimia adalah suatu proses alam yang selalu
menghasilkan antar bahan kimia yang biasanya yang dikarakterisasikan ndengan perubahan
kimia dan akan menghasilkan satu atau lebih produk yang biasanya memiliki ciri-ciri yang
berbeda dari reaktan. Pada percobaan yang telah dilakukan, ada beberapa reaksi yaitu : reaksi
asam basa dan metatesis, reaksi redoks, reaksi pembentukan kompleks san substitusi ligan,
serta reaksi katalisis.
Reaksi asam basa secara luas merupakan reaksi antara asam dengan basa sedangkan
reaksi metatesis (reaksi penggantian ganda) yang mana dua senyawa saling berganti ion atau
ikatan untuk membentuk senyawa yang berbeda. Pada percobaan ini kita menyediakan 4
tabung reaksi dimana pada tabung reaksi yang pertama kita isi dengan larutan 1 ml HCl
kemudian ditambahkan dengan NaOH setelah itu kita ukur suhunya sebelum dipanaskan dan
suhunya mencapai 83oC dan diuapkan diatas penangas spirtus sampai larutan tersebut habis
dan kering. Ketika pemanasan berlangsung terjadu gelambung dan uap pada larutan, dan
larutan tersebut terbentuk endapan berwarna putih disekitar tabung reaksi itu hal ini
dikarenakan larutan HCl bersifat asam sedangkan NaOH bersifat basa jadi ketika larutan
tersebut bereaksi maka akan menghasilkan garam, dan suhu tertingginya mencapai 83 oC. Air
yang dihasilkan pada reaksi ini merupakan elektrolit yang sangat lemah sehingga sangat kecil
untuk terionisasi dalam air menjadi Na+ dan Cl-. Reaksi ini merupaka reaksi penetralan
dimana didalamnya terjadi reaksi antara asam kuat dan basa kuat. Asam ini akan memberikan
ion hidrogen yang dapat memperbesar konsentrasi dari ion OH- dalam air. Kenaikan suhu
yang terjadi ini dikarenakan reaksi dipanaskan sehingga terjadi reaksi eksoterm sehingga
entalpi reaksi akan berkurang. Reaksi yang terjadi yaitu:
HCl(aq) + NaOH(aq) NaCl(s) + H2O(l) (diuapkan) endapan putih.

Kemudian pada tabung yang ke dua perlakuannya sama seperti pada tabung reaksi
yang pertama 2tetes Na2CO3 ditambahkan dengan larutan HCl kemudian diuapkan pada
penangas spirtus yang bertujuan untuk melihat bahwa larutan tersebut akan terbentuk garam
atau tidak, akan tetapi sebelum menguapka larutan tersebut kita mengukur suhunya dan
suhunya 27oC, lalu kita uapkan dan terbentuk endapan berwatna kuning disekitar dinding
tabung reaksi hal ini karena zat yang volatil menguap dan zat yang volatil tetap berada pada
tabung, kemudian sambil larutan diuapkan kita sambil melihat suhu tertinggi yang terjadi
pada larutan dan suhu tertinggi yang diperoleh adalah 57 oC. Reaksi yang terjadi yaitu:

Na2CO3(aq) + 2HCl(aq) H2O(l) + 2NaCl(s) (diuapkan) endapan kuning

Pada tabung ketiga kita mengambil larutan NH4OH sebanyak 10 ml kemudian

ditambahkan dengan larutan asam asetat sebanyak 1 ml, kemudian kita mengukur suhunya
28oC lalu kita uapkan diatas penangas spirtus, pada larutan ini tidak terbentuk endapan,
karena percobaan ini mengalami reaksi eksoterm (melepaskan energi kalor). Reaksi yang
terjadi yaitu:
NH3(aq) + CH3COOH(aq) CH3COO-(aq) + NH3OH(aq) (diuapkan) tidak terjadi endapan

Kemudian pada tabung reaksi yang terakhir kita masukan larutan Na 2CO3 sebanyak 2
tetes dan ditambahkan dengan larutan CaCl2 sebanyak 2 ml kemudian dicek suhunya 25 oC
dan diuapkan diatas penangas spirtus dan hasilnya pada dinding tabung reaksi terdapat
endapan berwarna putih itu artinya bahwa reaksi ini mengalami reaksi eksoterm (melepaskan
energi kalor) dan suhu tertingginya mencapai 83oC. Reaksi yang terjadi :
Na2CO3(aq) + CaCl2(aq) 2NaCl(s) + CaCO3(aq) (diuapkan) terjadi endapan berwarna putih

Pada percobaan ke-2 yaitu reakdi redoks. Reaksi redoks bisa dipahami sebagai
transfer elektron dari salah satu senyawa (disebut reduktor) kesenyawa lainnya (disebut
olsidator). Oksidasi dimengerti sebagai kenaikan bilangan oksidasi. Dan reduksi adalah
penurunan bilangan oksidasi. Pertama 5 ml larutan AgNO3 ditambahkan 5 ml larutan NaCl
sehingga terbentuk larutan yang tidak berwarna saat dicampurkan. Namun setelah dididamlan
beberapa lama larutan menjadi tidak berwarna lagi dan ada endapan berwarna putih pada
larutan. Endapan ini karena yang digunakan karena ion logam yang sukar larut dama air
sehingga terbentuk endapan. Endapan yang dihasilkan adalah endapan AgCl. Larutan
kemudian disaring dan didapatkan padatan, padatan kemudian dibagi dua untu dilakukan
perbandingan perubahan yang terjadi dimana kertas saring disimpan dibawah sinar matahari,
sedangkan kertas saring yg disimpan ditempat gelap. Hasil padatan yang disimpan d tempat
gelap adalah endapan yang tidak berubah warna ( tetap berwarna putin) karena tidak terjadi
reaksi redoks. Sedangkan pada tempat yang dibawah sinar matahari endapan berubah menjadi
warna abu-abu dikarenakan terjadi reaksi redoks oleh sinar matahari (UV).
Selanjutnya kami memasukkan 2 ml H2SO4 kedalam tabung reaksi dan dimasukkan
sebuah paku besi kedalamnya, saat beberapa menit paku menjadi berkarat dan terdapat
gelembung disekitar paku, hal ini disebabkan karna ion logam yang ada pada paku ter
oksidasi oleh zat H2SO4 sehingga hasil oksidasi (gelembung) tersebut mengapung disekitar
paku. Reaksi yang terjadi adalah :
2Fe2+ 2Fe3+ + 2e- x1

2e- + 2H+ + SO42- SO32- + H2O x2

2Fe2+ + 2H+ + SO42- 2Fe3+ + SO32- + H2O

AgNO3 + NaCl AgCl + NaNO3

Pada percobaan ke-3 reaksi pembentukan kompleks dan substitusi ligan. Yang
pertama kita lakukan adalah 5 tetes larutan FeCl 3 ditambahkan dengan larutan NH4OH
larutan menjadi warna jingga dan terdapat endapan yang berwarna merah bata, kemudian
setelah itu ditambahkan dengan EDTA larutan menjadi warna kuning (+) dan endapan masih
berwarna merah bata hal ini disebabkan karena ion kompleks pada logam terbentuk karena
adanya penyatuan ion logam pada kedua reaksi. Sedangkan pada perlakuan yang selanjutnya
larutan FeCl3 ditambahkan dengan EDTA larutan menjadi warna kuning (++) dan
ditambahkan dengan larutan NH3 larutan berubah menjadi keruh dan endapan berwarna
merah bata. Pada larutan terbentuk endapan dan itu membuktikan bahwa terjadi reaksi
pembentukan kompleks pada larutan. Sedangkan perlakuan yang selanjutnya adalah larutan
CaCl2 ditambahkan dengan larutan EDTA larutan ini tidak berwarna kemudian ditambahkan
lagi dengan NH3 larutan ini masih tidak berwarna. Sedangkan ketika larutan CaCl2
ditambahkan NH3 terlebih dahulu dan ditambahkan EDTA larutan masih tidak berwarna dan
tidak terjadi endapan akan tetapi bau dari larutan menjadi sangat menyengat, hal ini terjadi
karena campuran dari ion amoniak dan CaCl2 akan menghasilkn bau amoniak yang
menyengat. Reaksi yang terjadi:
FeCl3 + H2O FeCl2(aq)

FeCl3 + 3NH4OH NH4Cl + Fe(OH)3

Fe(OH)3 + Mg-EDTA Fe-EDTA + Mg(OH)3

FeCl3(aq) + Mg-EDTA Fe-EDTA + MgCl2

MgCl2 + NH4OH 2NH4Cl + Mg(OH)2

CaCl2(s) + (H2O)(s) CaCl2(aq)

CaCl2(aq) + 2NH4OH Ca(OH) + Mg(OH)2

Ca(OH) + Mg-EDTA Ca-EDTA + MgCl2

CaCl2(aq) + Mg-EDTA Ca-EDTA + MgCl2

MgCl2 + 2NH4OH Mg(OH)2 + 2NH4Cl


Pada percobaan ke-4 yaitu reaksi katalis. Katalis adalah suatu zat yang berfungsi
mempercepat terjadinya reaksi, tetapi pada akhir reaksi diperoleh kembali. Percobaan yang
pertama kita menambahkan larutan FeCl3 1 5 ml ditambahkan larutan tiosulfat larutan ini
berwarna hitam pekat, akan tetapi dengan berjalannya waktu larutan memudar warnanya,
kemudian larutan diamati ketika pertama kali terlihat tanda X pada 09.17 detik.

Selanjutnya menambahkan larutan FeCl3.6H2O sebanyak 1 0 ml dan ditambahkan

larutan 1tetes FeCl3 pada proses ini tidak terjadi perubahan warna. Selanjutnya
ditambahkan dengan tetes tiosulfat dan terjadi perubahan warna kembali, larutan ini
berwarna hitam pekat, akan tetapi dengan berjalannya waktu larutan memudar warnanya,
kemudian larutan diamati ketika pertama kali terlihat tanda X pada 07.80 detik.

Kemudian menambahkan larutan FeCl3.6H2O sebanyak 1 0 ml dan ditambahkan

larutan FeSO4 sebanyak 1 tetes, tidak terjadi perubahan apapun pada proses ini, lalu
ditamahkan natrium tiosulfat sebanyak 10 ml, larutan ini berwarna hitam pekat, akan tetapi
dengan berjalannya waktu larutan memudar warnanya, kemudian larutan diamati ketika
pertama kali terlihat tanda X pada 08.07 detik.

Kemudian menambahkan larutan FeCl3.6H2O sebanyak 1 0 ml dan ditambahkan

larutan CuSO4 sebanyak 1 tetes, tidak terjadi perubahan apapun pada proses ini, lalu
ditambahkan natrium tiosulfat sebanyak 10 ml, larutan ini berwarna hitam pekat, akan tetapi
dengan berjalannya waktu larutan memudar warnanya, kemudian larutan diamati ketika
pertama kali terlihat tanda X pada 02.16 detik. Reaksi yang terjadi :
2FeCl3(aq) + 2Na2S2O3(aq) 2FeCl2(aq) + Na2SO4(aq) + 2NaCl(aq)

FeSO4(aq) + Na2S2O3(aq) + FeS2O3(aq) + Na2SO4(aq)


CuSO4(aq) + Na2S2O3(aq) + CuS2O3(aq) + Na2SO4(aq)

Sukma Mahardika
Reaksi kimia adalah suatu proses alam yang selalu menghasilkan antarubahan senyawa
kimia. Senyawa ataupun senyawa-senyawa awal yang terlibat dalam reaksi disebut sebagai
reaktan. Reaksi kimia biasanya dikarakterisasikan dengan perubahan kimiawi, dan akan
menghasilkan satu atau lebih produk yang biasanya memiliki ciri-ciri yang berbeda dari
reaktan. Secara klasik, reaksi kimia melibatkan perubahan yang melibatkan pergerakan
elektron dalam pembentukan dan pemutusan ikatan kimia, walaupun pada dasarnya konsep
umum reaksi kimia juga dapat diterapkan pada transformasi partikel-partikel elementer
seperti pada reaksi nuklir.

Termokimia adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara energi panas dan energi
kimia sedangkan kinetika kimia adalah bidang ilmu kimia yang mempelajari kecepatan
berlangsungnya suatu reaksi kimia. Reaksi kimia adalah suatu proses alam yang selalu
menghasilkan antarbahan kimia yang biasanya dikarakterisasikan dengan perubahan kimia
dan akan menghasilkan satu atau lebih produk yang biasanya memiliki ciri-ciri yang berbeda
dari reaktan. Pada percobaan yang telah dilakukan, ada beberapa reaksi yang terjadi yaitu
reaksi asam dan metatesis, reaksi redoks, reaksi pembentukan kompleks dan substitusi ligan,
serta reaksi katalisis.

Reaksi yang pertama adalah reaksi asam-basa dan metatesis, yaitu reaksi yang
mendonorkan proton dari sebuah molekul asam ke molekul basa. Disini, asam berperan
sebagai donor proton dan basa berperan sebagai akseptor proton. Pada tabung ke-1 pertama-
tama dimasukkan larutan HCl 6 M yang kemudian ditambahkan dengan larutan NaOH 6 M,
kemudian dilakukan pemanasan sehingga terbentuk gelembung dan uap pada larutan, ada
endapan putih dan suhu tertinggi yaitu pada 83C. Air yang dihasilkan pada reaksi ini
merupakan elektrolit yang sangat lemah sehingga sangat kecil untuk terionisasi sedangkan
NaCl mudah sekali terionisasi dalam air menjadi Na+ dan Cl -.Reaksi yang terjadi ini
merupakan reaksi penetralan dimana didalamnya terjadi reaksi antara asam kuat dengan basa
kuat. Asam ini akan memberikan ion hidrogen (H+) yang dapat memperbesar konsentrasi dari
ion OH dalam air. Kenaikan suhu yang terjadi ini dikarenakan reaksi dipanaskan sehingga
terjadi reaksi eksoterm ( pembebasan energi/kalor ), sehingga entalpi sistem akan berkurang
yang artinya entalpi produk lebih kecil dibandingkan entalpi pereaksinya. Reaksi yang terjadi
yaitu : NaOH(aq) + HCl(aq) NaCl(s) + H2O(aq)
Pada tabung ke-2 larutan Na2CO3 0,01 M ditambahkan dengan larutan HCl 6 M
terbentuk larutan berwarna kuning bening yang kemudian dipanaskan sehingga terbentuk uap
dan noda setitik berwarna putih dengan suhu yaitu 57C. Noda ini dihasilkan karena zat yang
volatil menguap dan zat yang non volatil tetap berada pada tabung reaksi. Reaksi yang terjadi
yaitu;
Na2CO3(aq) + 2HCl(aq) 2NaCl(s) + H2O (aq) + CO2(g)
Pada tabung ke-3 yaitu NH3 ditambah dengan CH3COOH dan dihasilkan tidak terbentuk endapan
pada tabung lalu suhu diukur mencapai 32C. Percobaan ini mengalami reaksi eksoterm ( melepaskan
energi/kalor). Reaksi yang terjadi yaitu :
NH3 (aq) + CH3COOH(aq) CH3COO -(aq) + NH4+ (aq)

Pada tabung ke-4, larutan Na2CO3 ditambah larutan CaCl2 kemudian dipanaskan
terbentuk uap dan ada noda putih kering sedikit dengan suhu tertinggi yaitu 83C. Reaksi ini
juga merupakan reaksi eksoterm karena adanya pelepasan kalor. Reaksi yang terjadi yaitu:
Na2CO3(aq) + CaCl2(aq) 2NaCl(aq) + CaCO3 (s)

Reaksi redoks dapat dipahami sebagai transfer elektron dari salah satu senyawa (disebut
reduktor) ke senyawa lainnya (disebut oksidator). Dalam proses ini, senyawa yang satu akan
teroksidasi dan senyawa lainnya akan tereduksi, oleh karena itu disebut redoks. Pertama-tama
dimasukkan larutan H2SO4 yang kemudian dimasukkan paku kedalam larutan didalam tabung reaksi, hasil
dari pengamatan terlihat ada gelembung dimana semakin lama, gelembung tersebut semakin banyak. Ini
menunjukan bahwa pada larutan terjadi reaksi elektrolisis dimana larutan H2SO4 mengandung air, dan
oksigen di udara masuk pada tabung yang menyebabkan adanya oksigen terlarut pada larutan H 2SO4.
Adanya oksigen dan air ini juga dapat menyebabkan terjadinya korosi pada paku. Larutan H2SO4 merupakan
larutan elektrolit yang dapat mempercepat reaksi korosi. Reaksi yang terjadi pada paku dan larutan H2SO4
yaitu :
Fe(s) + H2SO4 FeSO4(aq) + CO2(g) + H2O
Selanjutnya larutan AgNO3 ditambahkan larutan NaCl sehingga terbentuk larutan keruh saat
dicampurkan, namun setelah didiamkan beberapa lama larutan menjadi tidak berwarna kembali dan ada
endapan berwarna putih pada larutan. Endapan ini ada karena larutan yang digunakan merupakan ion logam
yang sukar larut dalam air sehingga terbentuk endapan . Endapan yang dihasilkan adalah AgCl . Larutan
kemudian disaring dan didapatkan padatan pada kertas saring. Padatan dibagi 2 untuk dilakukan perbandingan
perubahan yang terjadi dimana kertas saring 1 disimpan dibawah sinar matahari langsung sedangkan kertas
saring 2 disimpan ditempat yang gelap. Hasil dari padatan yang disimpan ditempat gelap adalah endapan yang
tidak berubah warna (tetap berwarna putih) karena tidak terjadi reaksi redoks sedangkan pada tempat yang
terang warna endapan berubah menjadi abu-abu dikarenakan terjadi reaksi redoks oleh sinar matahari (UV).
Reaksi yang terjadi pada larutan yaitu:
AgNO3 + NaCl AgCl + NaNO3

Percobaan selanjutnya adalah reaksi pembentukan kompleks dan substitusi ligan. Reaksi
kompleksometri adalah reaksi ion logam, yaitu kation dengan anion atau molekul netral.
Terdiri dari atom pusat dan sejumlah ligan yang terikat pada atom pusat. Satu ion atau
molekul kompleks terdiri dari atom pusat yang ditandai dengan bilangan koordinasi, yakni
suatu angka bulat yang menunjukan jumlah ligan (monodentat) yang membentuk kompleks
stabil dengan satu atan (ion) pusat. Persyaratan mendasar terbentuknya kompleks adalah
tingkat kelarutan tinggi. Tabung reaksi pertama dimasukkan FeCl3 0,01 mol berupa larutan
tak berwarna, ditambahkan NH4OH menjadi berwarna kuning dan ditambahkan Mg EDTA,
larutan terdapat endapan merah. Selanjutya didalam tabung reaksi 2 dimasukkan FeCl3 0,01
mol berupa larutan berwarna kuning, ditambahkan dengan Mg EDTA menjadi berwarna
kuning seulas, dan ditambahkan dengan NH4OH, larutan menjadi sedikit keruh. Pada tabung
reaksi ketiga dimasukkan CaCl2 berupa larutan tak berwarna, ditambahkan NH4OH
menghasilkan larutan yang tetap tak berwarna, dan ditambah Mg EDTA menghasilkan larutan
dengan bau khas menyengat. Dan pada tabung keempat dimasukkan CaCl 0,01 mol berupa
larutan tak berwarna, ditambahkan Mg EDTA menghasilkan larutan yang tetap tak berwarna,
dan ditambahkan lagi dengan NH4OH menghasilkan larutan yang tak berwarna juga.
Pergantian ligan ini dilakukan untuk mengetahui senyawa kuprisulfat, lebih membentuk
kompleks dengan ligan yang mana, dimana pada larutan terjadi perubahan warna dan itu
membuktikan bahwa terjadi reaksi pembentukan kompleks pada larutan. Persamaan reaksi
yang terjadi :

FeCl3(aq) + Mg-EDTA(aq) Fe- EDTA(aq) + Mg Cl(aq)


FeCl3(aq) + NH4OH(aq) [Fe(NH3)6]Cl(aq)
CaCl2(aq) + Mg-EDTA(aq) Ca- EDTA(aq) + MgCl(aq)
CaCl2(aq) + NH4OH(aq) Ca(NH3)4Cl(aq)

Reaksi katalisis yaitu adanya katalis akan mempercepat reaksi dengan cara menurunkan
energi aktivasi. Hasil akhirnya akan sama dengan reaksi tanpa katalis. Pada katalisis,
reaksinya tidak berlangsung secara spontan, tapi melalui substansi ketiga yang disebut
dengan katalis. Tidak seperti reagen lainnya yang ikut dalam reaksi kimia, katalis tidak ikut
serta dalam reaksi itu sendiri, tapi dapat menghambat, mematikan, atau menghancurkan
melalui proses sekunder. Pada prosedur ini dilakukan 4 kali percobaan menggunakan gelas
ukur yang berbeda. Pada gelas ukur ke-1 dimasukkan Na2S2O3.5H2O berupa larutan tak
berwarna, ditambahkan dengan FeCl3.6H2O dihasilkan larutan yang hitam dan setelah 09,17
detik tanda terlihat berwarna kuning.
Selanjutnya pada gelas ukur ke-2 dimasukkan FeCl3.6H2O berupa larutan berwarna
kuning, ditambahkan FeCl3.6H2O dihasilkan larutan yang tetap tak berwarna. Kemudian
ditambahkan Na2S2O3 dihasilkan larutan berwarna hitam, setelah detik ke 07,80 tanda terlihat
berwarna kuning.
Pada gelas ukur ke-3 dimasukkan FeCl3.6H2O berupa larutan kuning, ditambahkan
dengan FeSO4 didapat larutan dengan warna tetap, taka da perubahan. Dimasukkan Na 2S2O3
dihasilkan larutan dengan warna hitam pada detik ke 08,07 dan tanda terliat berwarna kuning.
Dan pada gelas ukur ke-4 dimasukkan larutan FeCl 3.6H2O berupan larutan berwarna
kuning, ditambahkan CuSO4 dihasilkan larutan yang tetap tak ada perubahan warna,
kemudian ditambahkan Na2S2O3 dan dihasilkan larutan hitam pada detik ke 02,16 dan tanda
terlihat tak berwarna.
Persamaan reaksi :
FeCl3(aq) + Na2S2O3(aq) FeCl2(aq) + Na2SO4O6 + NaCl
Na2S2O3(aq) + CuSO4(aq) CuS2O3(aq) + Na2SO4
Na2S2O3(aq) + FeSO4(aq) Fe S2O3(aq) + Na2SO4

IX. KESIMPULAN
Dari hasil prakatikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa:

Reaksi-reaksi yang dapat teridentifikasi yang melibatkan bahan anorganik diantaranya


reaksi asam basa, metatesis, reaksi redoks, reaksi pembentukan kompleks, dan reaksi
ligan, serta reaksi katalisis.
Perbedaan pada masing-masing reaksi berdasarkan karakteristiknya dapat terlihat
pada:
1 Reaksi asam basa: adanya reaksi asam basa yang menghasilkan garam dan air
seperti HCl dan NaOH sedangkan reaksi metatesis ditandai dengan tidak
terbentuknya air setelah setelah direaksikan seperti Na2CO3 + 2HCl.
2 Reaksi redoks: ditandai dengan teroksidasinya paku oleh larutan H2SO4
sehingga paku mengalami korosi (berkarat).
3 Reaksi substitusi ligan: ditandai dengan adanya pertukaran ligan seperti pada
reaksi FeCl3(aq) + Mg(EDTA)(aq) Fe(EDTA)(aq) + MgCl3(aq)
4 Reaksi katalisis: ditandai dengan turunnya energy aktivasi yang menyebabkan
tanda X jelas terlihat karena adanya katalis yang mempercepat laju reaksi.
Factor-faktor yang mempengaruhi reaksi berlangsung yaitu luas permukaan, suhu,
katalis, molaritas, konsentrasi, dan kelarutan dari suatu zat tersebut.

X. DAFTAR PUSTAKA

Sukma mahardika
Brady, J. E. 1992. Kimia Universitas Asas dan Srtuktur. Binarupa Aksara. Jakarta.
Cotton dan Wilkinson. 1989. Kimia Anorganik Dasar. Jakarta : Erlangga Harjadi. 1993.
Ilmu Kimia Analitik Dasar. Jakarta: Gramedia.
Ramlawati. 2005. Kimia Anorganik. Bandung : ITB

Sukardjo. 1989. Kimia Anorganik. Rineka Cipta. Yogyakarta.


Underwood, A.L dan Day, R.A. 1999. Analisis Kimia Kuantitatif. Jakarta: Erlangga.

Ahmad hanif Fahrudi


Sukardjo. 1989. Kimia Anorganik. Rineka Cipta. Yogyakarta.Underwood, A.L dan Day,
R.A. 1999. Analisis Kimia Kuantitatif. Jakarta: Erlangga.
Cotton, F. Albert. 1989. Kimia Anorganik Dasar. Jakarta; Universitas Indonesia
Keenan. 1980. Kimia untuk universitas. Jakarta: Erlagga
Ranawijaya, J. 1985. Ilmu Kimia 2. Jakarta: Depdikbud

Desanti Sarifufah
Sugiarto,Kristian.2003.Kimia Anorganik II.Yogyakarta:Universitas Negeri Yogyakarta.
Suhendar,Dede.2013.Buku Panduan Praktikum Kimia Anorganik.Bandung:Universitas Islam
Negeri Sunan Gunung Djati Bandung.
Svehla, G. 1985. "Analisis Kualitatif Makro dan Semi Mikro". Jakarta: Kalman Media
Pustaka.
Wahyuningsih, Sayekti. 2015. "Dasar Reaksi Anorganik (Kimia Anorganik II)". Surakarta:
DPN FMIPA Universitas Sebelas Maret.
Tobing, L. 1989. Kimia Bahan Alam. Jakarta: Depdikbud.

Ayu Anisa Latifah


Arifin. 2010. Penuntun Kimia Anorganik. Kendari: UH
Chang, raymond. 2004. Kimia Dasar. Jakarta; erlangga.
Cotton, F. Albert. 1989. Kimia Anorganik Dasar. Jakarta; Universitas Indonesia
Keenan. 1980. Kimia untuk universitas. Jakarta: Erlagga
Ranawijaya, J. 1985. Ilmu Kimia 2. Jakarta: Depdikbud
Suhendar, dede. 2015. Praktikum Kimia Anorganik. Bandung; Laboratorium Kimia
Anorganik UIN SDG
Svehla, G. 1979. Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro. Jakarta: PT. Kalman
Media Pustaka

Khairilla Aulia R
Suhendar, Dede. 2013.buku panduan praktikum kimia anorganik. Jurusan kimia fakultas
sains dan teknologi UIN SGD. Bandung
Svehla, G. 1985. "Analisis Kualitatif Makro dan Semi Mikro". Jakarta: Kalman Media
Pustaka.
Wahyuningsih, Sayekti. 2015. "Dasar Reaksi Anorganik (Kimia Anorganik II)". Surakarta:
DPN FMIPA Universitas Sebelas Maret.

Fitri ayu Novitasari


Syafnil.2015.Penuntun Praktikum Anorganik.Bengkulu: Laboratorium Teknologi Pertanian
Chang,Raymond.2005.Kimia Dasar Konsep Konsep Inti Jili 1 dan 2.Edisi Ketiga.Jakarta :
Erlangga
Petrucci,Ralph,H.1987.Kimia Dasar Prinsip Terapan Modern Jilid 3.Edisi Keempat.Jakarta :
Erlangga
Suhendar,Dede.2013.Praktikum Kimia Anorganik.Bandung : UIN SGD Bandung

Dini Esa pertiwi


Oxtoby, D.W. Gilis,H. 1999. Kimia Modern. Jakarta : Erlangga.
Svehla,G. 1990. Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semi Makro.Jakarta :
Kalman Media Pustaka.
Trethewey, K.R. 1991. Korosi. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.
Keenan, K. (1984). Kimia Untuk Universitas. Jakarta: Erlangga.
Ranawijaya, J. (1985). Ilmu Kimia 2. jakarta: depdikbud.
Handoyo,Kristian Suyiyarto.2001.Dasar-dasar kimia Anorganik
Nonlogam.Yogyakarta:PMIP Jurusan Kimia UI Yogyakarta

Anisa Budiman
Aris, Tris, dan Antonio Gomes.2009.Bahan Kontruksi Alat Proses Korosi.Malang:ITM.
Sugiarto,Kristian.2003.Kimia Anorganik II.Yogyakarta:Universitas Negeri Yogyakarta.
Suhendar,Dede.2013.Buku Panduan Praktikum Kimia Anorganik.Bandung:Universitas Islam
Negeri Sunan Gunung Djati Bandung.
Svehla,G.Vogel.1985.Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan
Semimikro.Jakarta:PT.Kalman Media Pustaka.
Oxtoby,D.W.Gilis,H.1999.Kimia Modern.Jakarta: Erlangga.
Trethewey,K.R.1991.Korosi.Jakarta:Gramedia Pusaka Utama.

M Guswanda
Hakim. 2007. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Universitas Lampung: Lampung.
Hardjowigeno. 1985. Ilmu Tanah. Jakarta: Akademika Pressindo.
Sugiyarto, Kristian H. 2010. Kimia Anorganik Logam. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Svehla, G. 1985. Analisis Kualitatif Makro dan Semi Mikro. Jakarta: Kalman Media Pustaka.
Tobing, L. 1989. Kimia Bahan Alam. Jakarta: Depdikbud.
Tugas pada pelaporan
1 Bagaimana persamaan reaksi dari setiap perlakuan percobaan diatas?
Jawab:
1 Reaksi asam basa dan metatesis
NaOH(aq) + HCl(aq) NaCl(s) + HCl(l)
Na2CO3(aq) + HCl(aq) 2NaCl(s) + H2O(aq) + CO2(g)
NH4OH(aq) + CH3COOH(aq) CH3COONH4(aq) + H2O(l)
Na2CO3(aq) + CaCl2(aq) 2NaCl(s) +CaCO3(aq)

2 Reaksi redoks
Fe(s) + H2SO4 FeSO4(aq) + CO2(g) + H2O
AgNO3 + NaCl AgCl + NaNO3
3 Reaksi pembentukan kompleks dan substitusi ligan
FeCl3(aq) + Mg(EDTA)(aq) Fe(EDTA) (aq) + MgCl3(aq)
FeCl3(aq) + NH4OH(aq) [Fe(NH3)6]Cl(aq)
CaCl2(l) + Mg(EDTA)(aq) Ca(EDTA) (aq) + MgCl(aq)
CaCl2(l) + NH4OH(aq) Ca(NH4)Cl(aq)
4 Reaksi katalisis
FeCl3(aq) + Na2S2O3(aq) FeCl2(aq) + Na2SO4O6 + NaCl
Na2S2O3(aq) + CuSO4(aq) Cu2SO3(aq) + Na2SO4
Na2S2O3(aq) + FeSO4(aq) Fe2SO3(aq) + Na2SO4

2 Carilah data entalpi dan entropi semua reaktan produknya, lalu hitung perubahan
energi bebasnya. Lalu tentukan jenis kendali (termokimia atau kinetika) yang
dominan pada tiap reaksi yang telah dilakukan!
Jawab:
Reaksi antara HCl dan NaOH . HCl merupakan asam kuat dan NaOH
merupakan basa kuat. Nilai entalpi = (-411,15 + (-285,83))-((-425,61) + (-
167,16). Sehingga jika dikalkulasikan nilai entalpi tersebut yaitu -104,21
kj/mol. Sedangkan nilai entropinya = (72,13 + 69,91)-(64,46 + 56,5)=21,08
kj.mol. nilai perubahan energi bebasnya= entalpi-Tentropi= (-140,21 kj/mol)
(311K(21,08 x 103 kj/mol)=-110,7559 kj/mol.
Reaksi antara ammonia dan asam asetat, entalpi=(-486,01) + (-132,51)-(-
485,76) + (80,29). jika dikalkulasikan nilai entalpi tersebut yaitu -52,47
kj/mol. Entropi=(86,6 +113,4)-(178,7 + 111,3)=-90kj/mol. nilai perubahan
energi bebasnya= entalpi-Tentropi=-52kj/mol-(305K(90 x 103 kj/mol)= -25,02
kj/mol.
Reaksi antara natrium karbonat dan kalsium klorida, entalpi= (2(-411,15) + (-
1207,1))-((-1157,38) + (-709,99) jika dikalkulasikan nilai entalpi tersebut yaitu
-162,03 kj/mol. Sedangkan nilai entropinya= (72,13 + 887) (61,1 + 3,4)=
96,33 kj/mol. nilai perubahan energi bebasnya= entalpi-Tentropi=(-162,03
kj/mol-(351K(96,33 x 103 kj/mol)=-195.8418 kj/mol.
Pada reaksi redoks terjadi peningkatan bilangan oksidasi sehingga jenis
kendalinya yaitu kendali termokimia.
Pada pembentukan kompleks dan substitusi ligan terjadi pergantian ligan dan
jenis kendalinya yaitu kinetika.
Pada reaksi katalisis, reaksi yang terjadi sangat cepat karena bantuan katalis.
Sehingga jenis kendalinya adalah termodinamika.

3 Pada nikel(II) sulfat tidak digunakan karena terbatasnya bahan


Pada tembaga(II)sulfat: larutan natrium tiosulfat ditambahkan dengan larutan
tembaga(II)sulfat hasilnya menjadi berwarna hitam, waktu yang diperlukan untuk
melihat tanda X 02.16 menit.
penambahan besi(II) sulfat pada larutan natrium tiosulfat membuat larutan berubah
warna menjadi warna hitam, dari yang asalnya berwarna kuning. Sedangkan waktu
untuk melihat tanda X adalah 8,70 detik.
Pada kobal(II) klorida tidak dilakukan karena terbatasnya bahan.

REAKSI-REAKSI

Reaksi asam basa


HCl(aq) + NaOH(aq) NaCl(s) + H2O(l)
Na2CO3(aq) + 2HCl(aq) 2NaCl(aq) + H2CO3(aq)
NH4OH(aq) + CH3COOH(aq) CH3COONH4(aq) + H2O(l)
Na2CO3(aq) + CaCl2 2NaCl(s) + CaCO3(aq)

Reaksi Redoks
Fe2+ Fe3+ + 1e- x2
1e- + 2H+ + SO42- SO3 + H2O x1
2Fe2+ + 2H+ + SO42- 2Fe3+ + SO22- + H2O
2FeSO4 + 2H2SO4 Fe2(SO4)3 + H2SO3 +
H2O

AgNO3(aq) + 2NaCl(aq) AgCl2(S) putih + NaNO3(aq)

Reaksi Pembentukan Kompleks


FeCl3(aq) + 3NH4OH(aq) Fe(OH)3 + 3NH4Cl(aq)
FeO(OH)3(s) + Mg.EDTA(aq)
FeCl3(aq) + Mg.EDTA(aq) [Fe(EDTA)](aq) + MgCl3(aq)
[Fe(EDTA)](aq) + NH4OH(aq) Fe(OH)3(aq) + NH4+ + EDTA2-
CaCl2(aq) + 2NH4OH(aq) Ca(OH)2(aq) + 2NH4Cl(aq)
Ca(OH)2(aq) + [Mg(EDTA)](aq)
CaCl2(aq) + Mg.EDTA(aq) MgCl2(aq) + Ca.EDTA(aq)
[Ca(EDTA)](aq) + NH4OH(aq) Ca(OH)2 + NH4+(g) + EDTA2-(aq)

Reaksi Katalisis
Na2S2O3(aq) + FeCl3(aq) 6NaCl(aq) + Fe2(S2O3)3(aq)
FeSO4(aq) + Na2S2O3(aq) Na2SO4(aq) + Fe2(S2O3)3(aq)
CuSO4(aq) + Na2S2O3(aq) Cu 2S2O3(aq) + Na2S2O3(aq)
FeCl3(aq) + CuSO4(aq) FeSO4(aq) + CuCl2(aq) + Fe+(s)