Anda di halaman 1dari 68

PERCOBAAN 5

Laporan Kesetaraan Energi

KESETARAAN ENERGI
Zulkifli Tri Darmawan, Dian Utami, Riswati B, Salmira
Jurusan Fisika FMIPA UNM Tahun 2014
Abstrak. Telah dilakukan percobaan tentang Kesetaraan Energi yang bertujuan agar mahasiswa dapat
memahami prinsip kesetaraan (ekuivalensi) energi, dan menentukan nilai kesetaraan
energi panas dari energi mekanis. Percobaan ini dilakukan dengan menggunakan kalorimeter joule
lengkap, power supply DC variable, basicmeter, termometer celcius, stopwatch, neraca ohauss 311 gram, dan
kabel penghubung. Dalam praktikum ini, kami mencari nilai kesetaraan energi antara energi panas dan energi
mekanis. Prinsip kerja dari percobaan ini adalah dengan memberi beda potensial, maka arus listrik akan
mengalir melalui amperemeter, sehingga beda potensial akan timbul pada ujung-ujung kumparan yang akan
menghasilkan usaha listrik pada sistem untuk memanaskan air. Kumparan ini berfungsi sebagai penghambat
yang kuat arusnya tidak boleh lebih dari 2 A karena apabila lebih maka alat akan terganggu atau rusak. Energi
panas yang dilepaskan oleh elemen listrik itu akan diterima oleh air sebagai energi panas. Kesetaraannya bisa
didapatkan dari membagi antara energi mekanis dengan energi panas.

Kata Kunci : energi mekanis, energi panas, kuat arus, dan beda potensial.

PENDAHULUAN
Tujuan dari percobaan ini adalah agar mahasiswa dapat memahami prinsip kesetaraan
(ekuivalensi) energi, dan menentukan nilai kesetaraan energi panas dari energi
mekanis. Percobaan ini sangat penting untuk dilakukan karena energi mekanis dari listrik
akan menghasilkan energi panas apabila dihubungkan satu sama lain seperti pada pemanas
air. Didalam mesin pemanas air, arus listrik akan memanaskan air melalui perantara
kumparan pada mesin tersebut sehingga temperatur air akan naik dan air siap untuk kita
gunakan.
Percobaan ini dilakukan dengan mengukur massa kalorimeter kosong dan kalorimeter
yang telah diberi air dengan menggunakan neraca ohauss 311 gr. Setelah itu, mengukur suhu
awal dengan menggunakan termometer yang terdapat pada kalorimeter. Kemudian
menghubungkan basicmeter, power supply DC, multimeter digital dan kalorimeter dengan
kabel penghubung. Setelah semua percobaan selesai, kemudian mengambil data untuk
percobaan 1 dan 2 dan mengukur kenaikan dan penurunan suhu dengan selang waktu 1
menit.

TEORI
Hukum pertama termodinamika telah menjelaskan tentang hukum
kekekalan energi. Hukum ini dapat dijadikan dasar untuk menentukan kesetaraan
energi panas (Kalori) dan energi mekanis (Joule).
Air dalam kalorimeter berada dalam dinding insulasi agar temperatur sistem tidak
dapat dipengaruhi oleh panas yang masuk atau keluar darinya. Dengan pemberian
beda potensial Vs , arus listrik akan mengalir melalu amperemeter, sehingga beda
potensial akan timbul pada ujung-ujung kumparan yang akan menghasilkan usaha
listrik pada ssitem untuk memanaskan air. Usaha ini dikenal sebagai kalor joule,
yang dapat dinyatakan sebagai berikut:
Dimana:
V : Beda Potensial ujung-ujung elemen (V)
I: Kuat arus listrik dalam rangkaian (A)
t: waktu pengaliran arus ke sistem (s)
Energi yang dilepaskan oleh elemen listrik tersebut akan diterima oleh air dan
kalorimeter sehingga temperatur sistem menjadi meningkat. Besar energi panas Q
yang dibutuhkan oleh air untuk menaikkan temperaturnya sebanding dengan
perubahan temperatur dan massa m, yaitu:
Dimana c adalah kalor jenis air. Hasil eksperimen joule dan eksperimen-
eksperimen sesudahnya adalah bahwa dibutuhkan 4.18 Joule untuk meningkatkan
temperatur 1 g air dengan 1 , atau 4.18 J energi mekanis atau listrik adalah setara
dengan 1 kalori energi panas. Kalor jenis (c) adalah banyaknya kalor yang
dibutuhkan utnuk menaikkan atau menurunkan 1 kg sebesar 1 derajat Celcius.
Kapasitas kalor (C) adalah banyaknya kalor yang dibutuhkan untuk menaikkan atau
menurunkan suhu seluruh benda sebesar satu derajat Celcius.
METODOLOGI EKSPERIMEN
a. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah kalorimeter joule lengkap, power
supply DC variable, basicmeter, termometer celcius, stopwatch, neraca ohauss 311 gram, dan
kabel penghubung.
b. Prosedur Kerja
Percobaan ini dilakukan dengan cara mengukur massa kalorimeter kosong dan
kalorimeter yang telah diberi air dengan menggunakan neraca ohauss 311 gr.
Setelah itu, mengukur suhu awal dengan menggunakan termometer yang terdapat
pada kalorimeter. Kemudian menghubungkan basicmeter, power supply DC,
multimeter digital dan kalorimeter dengan kabel penghubung. Setelah semua
percobaan selesai, kemudian mengambil data untuk percobaan 1 dan 2 dan
mengukur kenaikan dan penurunan suhu dengan selang waktu 1 menit.
Adapun rambatan ralat yang diperoleh yaitu:
1. Rambat ralat Qair

2. Rambat ralat Qkalorimeter


3. Rambat ralat usaha mekanis

4. Rambat ralat ekuivalensi

HASIL PENGAMATAN DAN ANALISIS DATA


Percobaan 1
NST Neraca 311 gr : 0.01 gr
NST Stopwatch : 0.1 s
NST Termometer :1
NST Voltmeter : 0.2 V
NST Amperemeter : 0.01 A
Massa Kalorimeter Kosong : gr
Massa Kalorimeter + Air : gr
Massa Air : gr
Suhu Awal Air dalam Kalorimeter ( ) :
Kuat Arus Listrik : 1.53 A
Beda Potensial : V
No Waktu t (s)
1
2
3
4
5
6
7
Percobaan 2
NST Neraca 311 gr : 0.01 gr
NST Stopwatch : 0.1 s
NST Termometer :1
NST Basicmeter : 0.2 V
Massa Kalorimeter Kosong : gr
Massa Kalorimeter + Air : gr
Massa Air : gr
Suhu Awal Air dalam Kalorimeter ( ) :
Kuat Arus Listrik : 1.47 A
Beda Potensial : V
No Waktu t (s)
1
2
3
4
5
6
7
Analisis perhitungan
Percobaan 1
Untuk t = 60,0 s
kalori
kalori
kalori
kalori
J

Dengan menggunakan rumus yang sama, sehingga diperoleh data sebagai berikut:
Q
No waktu Q air kalorimete Q total W
. (s) (kal) r (kal) (kal) (Joule) (J/kal)
2 120 191.8 25.83 217.63 1248.48 5.736709093
3 180 335.65 45.2025 380.852 1872.72 4.917179223
5
489.667
4 240 431.55 58.1175 5 2496.96 5.099296972
598.482
5 300 527.45 71.0325 5 3121.2 5.215190085
707.297
6 360 623.35 83.9475 5 3745.44 5.295423779
7 420 719.25 96.8625 816.1125 4369.68 5.354261821
Sehingga diperoleh yaitu 5.34 J/kal
Analisis ketidakpastian
Untuk t = 60 s
kalori
kalori
kalori
Joule
J/kal
Dengan menggunakan rumus yang sama, sehingga diperoleh data sebagai berikut:
No. waktu Q air (kal) Q Q total (kal) W (Joule) (J/kal)
(s) kalorimeter
(kal)
1 60 47.955 6.45855 54.41355 5.1204 2.915729514
2 120 47.96 6.4596 54.4196 9.2004 1.47677165
3 180 47.9675 6.461175 54.428675 13.2804 0.737597757
4 240 47.9725 6.462225 54.434725 17.3604 0.602325513
5 300 47.9775 6.463275 54.440775 21.4404 0.510222755
6 360 47.9825 6.464325 54.446825 25.5204 0.443716275
7 420 47.9875 6.465375 54.452875 29.6004 0.393518479

Sehingga diperoleh = 1.01 J/kal


%
=
= 19 %
J/kal
J/kal

Percobaan 2
Untuk t = 60,0 s
kalori
kalori
kalori
kalori
J

Dengan menggunakan rumus yang sama, sehingga diperoleh data sebagai berikut:
No. waktu Q Q total (kal) W (Joule) (J/kal)
Q air
(s) kalorimeter
(kal) (kal)
1 60 109.58 12.9465 122.5265 599.76 4.894941094
2 120 219.16 25.893 245.053 1199.52 4.894941094
3 180 273.95 32.36625 306.31625 1799.28 5.873929313
4 240 328.74 38.8395 367.5795 2399.04 6.526588126
5 300 438.32 51.786 490.106 2998.8 6.118676368
6 360 547.9 64.7325 612.6325 3598.56 5.873929313
7 420 602.69 71.20575 673.89575 4198.32 6.229925029

Sehingga diperoleh yaitu 5.77 J/kal


Analisis ketidakpastian
Untuk t = 60 s
kalori
kalori
kalori
Joule
J/kal
Dengan menggunakan rumus yang sama, sehingga diperoleh data sebagai berikut:
Q
N waktu Q air kalorimete Q
o (s) (kal) r (kal) total (kal) W (Joule) (J/kal)
1 60 54.795 6.4743 61.2693 13.8996 2.561153827
2 120 54.8 6.47535 61.27535 26.7996 1.333339436
3 180 54.8025 6.475875 61.278375 39.6996 1.30467921
4 240 54.805 6.4764 61.2814 52.5996 1.231184159
5 300 54.81 6.47745 61.28745 65.4996 0.898780411
6 360 54.815 6.4785 61.2935 78.3996 0.715654632
7 420 54.8175 6.479025 61.296525 91.2996 0.702144739

Sehingga diperoleh = 1.30 J/kal


%
=
= 21 %
J/kal
J/kal
PEMBAHASAN
Pada percobaaan ini kita akan membuktikan nilai kesetaraan antara energi panas dan
energi mekanik. Ada dua kegiatan yang akan dilakukan pada percobaan ini yang akan
membuktikan nilai kesetaraan energi panas dan ebergi mekanik dengan memanipulasi massa
kalorimeter + air dan kuat arus listrik. Berikut adalah tabel pengamatan pada kegiatan I:
NST Neraca 311 gr : 0.01 gr
NST Stopwatch : 0.1 s
NST Termometer :1
NST Voltmeter : 0.2 V
NST Amperemeter : 0.01 A
Massa Kalorimeter Kosong : gr
Massa Kalorimeter + Air : gr
Massa Air : gr
Suhu Awal Air dalam Kalorimeter ( ) :
Kuat Arus Listrik : 1.53 A
Beda Potensial : V
No
1
2
3
4
5
6
7
Pada tabel tersebut kita bisa melihat pertambahan temperatur tiap menitnya
akibat adanya kuat arus yang mengalir pada kumparan sehingga temperatur dalam
kalorimeter terus meningkat. Menurut teori, ketika kalorimeter tidak diberi arus listrik
maka temperaturnya pun akan tetap pada posisinya dan tidak berubah. Tetapi, pada
percobaan I ini terdapat kesalahan yang menyebabkan antara teori dan hasil
percobaan saling kontradiksi. Kesamaan antara teori dengan percobaan terjadi pada
menit ke empat sampai lima saja dan pada menit pertama sampai pada menit ketiga
terjadi perubahan temperatur yang signifikan. Ini terjadi karena kalorimeter yang
dirancang terisolasi atau tidak ada kalor yang keluar masuk sistem ini tidak efisien.
Akibatnya, temperatur ketika arus diputus tidak tetap. Dalam percobaan yang
dilakukan joule, nilai kesetaraan energi adalah 4, 18 atau 4, 2 Joule tetapi pada
percobaan I ini nilai kesetaraan joule adalah 1,01 Joule/Kalori yang berbeda jauh
dari target 4,18 Joule. Hal ini terjadi karena kesalahan mutlak dari praktikan dan
sistem terisolasi kalorimeter yang tidak efisien. Berikut adalah tabel pengamatan
untuk kegiatan kedua:
NST Neraca 311 gr : 0.01 gr
NST Stopwatch : 0.1 s
NST Termometer :1
NST Basicmeter : 0.2 V
Massa Kalorimeter Kosong : gr
Massa Kalorimeter + Air : gr
Massa Air : gr
Suhu Awal Air dalam Kalorimeter ( ) :
Kuat Arus Listrik : 1.47 A
Beda Potensial : V

Sama halnya dengan kegiatan pertama, dimana temperatur ketika diberi kuat
arus terus meningkat walaupun pada menit kedua dan ketiga temperatur tetap.
Ketika kuat arus diputus pada menit kedelapan, temperatur seketika menurun pada
menit kedua. Ini kontradiksi dengan teori yang mengatakan bahwa ketika kalorimeter
tidak diberi arus listrik maka temperaturnya pun akan tetap pada posisinya dan tidak
berubah. Kesamaan antara teori dan percobaan terjadi pada menit dua sampai tiga
serta pada menit empat sampai tujuh. Alasannya pun sama dengan kegiatan yang
pertama disamping kesalahan mutlak pada praktikannya juga terjadi
ketidakefisiengan sistem isolasi yang diterpkan pada kalorimeter juga suhu dalam
ruangan ikut merubah hasil percobaan. Dalam percobaan ini, kuat arus dipasang
seri dan tegangan dipasang paralel agar kuat arus dapat mengalir satu arah dan
kuat arus dapat terdeteksi oleh alat berbeda hasilnya apabila kuat arus dipasang
paralel.

KESIMPULAN
Berdasarkan eksperimen maka dapat disimpulkan bahwa semakin lama proses
pemanasan akibat arus listrik yang mengalir kesistem atau kalorimeter maka temperatur akan
meningkat seiring dengan peningkatan waktu pengaliran arus listrik. Ketika arus diputus
maka temperatur tidak turun tetapi tetap pada posisinya karena menurut hukum kekekalan
energi Joule jumlah energi potensial dan energi kinetik benda akan tetap asal tidak ada energi
yang hilang dalam bentuk lain. Selain itu, semua energi pada benda tidak akan hilang begitu
saja tetapi energi tersebut telah berubah bentuk dari bentuk energi yang satu kebentuk energi
yang lain. Selain itu,
Selain itu, pada kedua kegiatan terjadi kesalahan yang mengakibatkan antara hasil
eksperimen dengan teori saling kontradiksi. Ini merupakan pembelajaran bagi kita agar pada
eksperimen selanjutnya kita berhati-hati dan teliti.
REFERENSI
Tim penyusun Fisika Dasar II. 2014. Penuntun Praktikum Fisika Dasar
II. Makassar:
Jurusan Fisika FMIPA UNM.

Kertiasa Njoman. 1972. Zat dan Energi 2. Jakarta: P.N. Balai Pustaka.
Tweet

Postingan terkait:
Kesetaraan Kalor Mekanik
Sesuai dengan hukum kekekalan energi, energi tidak dapatdiciptakan dan tidak
dapat dimusnahkan, tetapi energi dapat diubah darisatu bentuk ke bentuk lainnya.
Dengan menerapkan hukum kekekalan energitersebut, dapat dilakukan pengukuran-
pengukuran kalor . Adapun alatyang digunakan untuk mengukur kalor disebut
dengan kalorimeter.
James Prescott Joule melakukan suatu percobaan dengn menggunakan sebuah
peralatan, seperti terlihat pada gambar berikut

Air di dalam silinder diaduk oleh sudu-sudu yang daopatberputar, karena


dihubungkan dengan sebuah massa M. Pada saat Mdilepas, tali yag dihubungkan
dengan katrol akan memutar sudu-sududalam silinder. Sudu-sudu bergesekan
dengan air, sehingga menaikkansuhu air. Berdasarkan kenaikan suhu air tersebut,
maka dapat dihitungbesarnya kalor yang diterima oleh air. Dari hasil percobaan
tersebut,Joiule mendapatkan kesetaraan kalor mekanik, yaitu 1 kalori = 4,186joule
dan sering dibulatkan 1 kalori = 4,2 joule.

Percobaanyang dilakukan oleh joule menunjukkan hubungan antara energi


mekanikatau usaha yang dilakukan oleh benda bermassa m terhadap besarnya
kaloryang dihasilkan oleh gesekan sudu sudu dengan air. Dalam hal initerjadi
perubahan energi mekanik yang dimiliki oleh benda bermassa mmenjadi energi kalor
yang diserap oleh air, sehingga terjadi kenaikansuhu air.
Asas Black
Hukum kekekalan energi dalam bentuk kalor sering disebut dengan Asas Black.
Asas Black menyatakan bahwa kalor yang dilepaskan oleh sebuah benda sama
dengan kalor yang diterima oleh benda yang lain. Dengan menggunakan asas
Black, kalor jenis suatu zat dapat ditentukan dengan menggunakan kalorimeter.
Setelah terjadi kesetimbangan termal antara air dan zat yang akan diukur kalor
jenisnya, misalkan kalor jenis sebuah logam, akan berlaku persamaan

Gas tersusun atas atom. Kumpulan atom atom membentuk molekul. Molekul
molekul pembentuk zat senantiasa bergerak dan menimbulkan gaya tarik menarik .
Jika zat dipanaskan, gerakan molekul molekulnya semakin cepat. Hal inilah yang
menyebabkan dorongan antara satu molekul dengan molekul yang lain, sehingga
jarak antar molekulnya menjadi lebih makin besar. Molekul molekul akan menempati
ruang yang lebih besar. Peristiwa inilah yang dinamakan dengan pemuaian.
Sebaliknya jika zat didinginkan, gerakan molekul molekulnya menjadi lebih lambat.
Gaya tarik menarik antar molekulnya menjadi lebih besar, sehingga jarak antar
molekulnya menjadi lebih sempit. Dalam hal ini zat dikatakan mengalami
penyusutan. Jadi dapat disimpulkan bahwa jika suatu zat dipanaskan, maka zat
akan memuai dan sebaliknya jika zat tersebut didingainkan, maka zat akan
mengalami penyusutan.
Pemuaian Zat Padat
Pemuaian Panjang
Semua ukuran benda akan berubah jika terjadi pemuaian. Pemuaian benda pada
umumnya terjadi ke segala arah, yaitu ke arah panjang , lebar, dan tebal. Akan tetapi
jika hanya diperhatikan dalam arah panjang saja, berarti yang dibahas adalah muai
panjang atau muai linier saja tapa memperhitungkan arah pemuaian yang lain.
Untuk membedakan sifat pemuaian berbagai macam zat, digunakan konsep
koefisien muai dan untuk pemuaian panjang disebut dengan koefisisen muai
panjang. Koefisien muai panjang didefinisikan sebagai perbandingan antara
pertambahan panjang batang dari panjangnya semula untuk setuap kenaikan suhu
sebesar satu satuan suhu. Berikut adalah nilai koefisien mulai panjang beberapa
bahan

Secara matematis, koefisien muai panjang dinyatakan dengan persamaan berikut

Pemuaian Luas
Jika anda memiliki sebuah pelat besi atau pelat tembaga ataupun selembar kaca
yang akan dipasang sebagai kaca jendela, benda-benda tersebut akan memuai ke
arah panjang dan lebar. Pemuaian dalam dua arah ini disebut dengan muai luas.
Sebuah bidang pada sutu T0 meiliki luas A0. Jika terjadi kenaikan suhu pada bidang
tersebut sebesar T sehingga suhunya menjadi T1, bidang akan mengalami
pertambahan luas sebesar A, sehingga luas bidang menjadi At. Pertambahan luas
bidang dapat digambarkan seperti berikut
Dari pemuaian panjang diketahui bahwa

Substitusi persamaan muai panjang ke persamaan muai luas, maka akan didapat
persamaan baru seperti berikut

Oleh karena l02 sama dengan A0 dan l jauh lebih kecil dibandingkan dengan l0,
maka (l)2 dapat diabaikan. Dengan demikian, persamaan di atas dapat ditulis
menjadi

Dalam hal ini 2 = , sehingga persamaan pertambahan luas akan menjadi

Pemuaian Volume

Pemuaian ruang atau pemuaian volume merupakan pemuaian ke segala arah.


Sebuah kubus pada suhu T0, volumenya V0. Jika terjadi kenaikan suhu pada benda
yang berupa kubus tersebut sebesar T, sehingga suhunya menjadi T1,
pertambahan volume kubus menjadi V. Sama dengan perhitungan muai luas, akan
didapat persamaan muai volume benda seperti berikut

V = . V0 . T, di mana adalah koefisien muai volume

HUKUM KEKEKALAN ENERGI


09.49 1 comment
HUKUM KEKEKALAN ENERGI
Tujuan :
1. Untuk menjelaskan asal mula konversi energi.
2. Untuk mendeskripsikan hasil pemikran dan percobaan dari Michael Faraday mengenai listrik
dan magnet.
3. Untuk mengetahui pemikiran dari Count Rumford and Humphry Davy
4. Untuk mengetahui pemikiran dari Sadi Carnot.
5. Untuk mengenal pemikiran pemikiran dari Mohr.
6. Untuk menjelaskan sumbangsih dari James Prescott Joule mengenai Hukum Kekeklan
Energi.
7. Untuk menceritakan pemikiran Helmholtz mengenai Konversi Gaya.
8. Untuk mendeskripsikan biografi dai James Prescott Joule.
9. Untuk menjelaskan percobaan yang dilakukan oleh James Prescott Joule.
10. Untuk menyebutkan hasil percobaan James Prescott Joule mengenai hubungan antara kalor
dan usaha.
11. Untuk mendeskripsikan biografi dari William Thomson.
12. Untuk menjelaskan Hukum Termodinamika yang dikemukakan oleh William Thomson.

Pertanyaan :
1. Jelaskan asal mula konversi energi!
2. Deskripsikan hasil pemikran dan percobaan dari Michael Faraday mengenai listrik dan
magnet!
3. Sebutkan hasil pemikiran dari Count Rumford and Humphry Davy!
4. Apa saja hasil pemikiran dari Sadi Carnot?
5. Bagaimana hasil pemikiran- pemikiran dari Mohr?
6. Jelaskan sumbangsih dari James Prescott Joule mengenai Hukum Kekeklan Energi?
7. Ceritakan pemikiran Helmholtz mengenai Konversi Gaya!
8. Deskripsikan biografi dai James Prescott Joule!
9. Jelaskan percobaan yang dilakukan oleh James Prescott Joule!
10. Sebutkan hasil percobaan James Prescott Joule mengenai hubungan antara kalor dan usaha!
11. Deskripsikan biografi dari William Thomson!
12. Jelaskan Hukum Termodinamika yang dikemukakan oleh William Thomson!

Peta Konsep :
Pembahasan :
A. Asal Mula Konservasi Energi

Pada tahun 1831 Faraday telah memperkenalkan bidang listrik magnet. Ia telah menemukan
bahwa arus listrik dapat menghasilkan sifat kemagnetan, dan menunjukkan bahwa magnet
memiliki kekuatan dalam keadaan tertentu untuk menghasilkan listrik. Ia telah
membuktikannya, dan memang benar adanya hubungan antara listrik dan sifat kemagnetan.
Dan bahkan Ia mengatakan bahwa cahaya dapat dipengaruhi oleh magnet contohnya pada
fenomena polarisasi. Ia yakin bahwa ia telah melengkapi segala sesuatu yang berhubungan
dengan kelistrikan secara keseluruhan, konvertibilitas listrik dan aksi kimia. Kemudian ia
menghubungkannya dengan cahaya, afinitas kimia, sifat kemagnetan, dan kelistrikan. Dan
lebih jauh, ia mengetahui sepenuhnya bahwa tak seorangpun dapat memproduksi kekuatan
(energi) dan menyediakan satu sama lain sampai kapanpun. Tidak di tempat manapun
katanya. Apakah mungkin ada energi yang tercipta dengan sendirinya tanpa adanya suatu
pemasok yang cocok untuk menyediakannya.
Gagasan menakjubkan yang Faraday kemukakan ini kemuadian dikenal sebagai
sebagai doktrin dari konservasi energi, hukum yang menyatakan pengubahan energi dai
satu bentuk ke bentuk lainnyatidak akan pernah terjamin dalam suatu kuantitas yang sama,
atau singkatnya untuk menciptakan atau memusnahkan energi adalah suatu
ketidakmungkinan, dan seluruh fenomena dari materi di alam semesta terbentuk dari
transformasi energi.
# Note: pemikiran faraday ini merupakan dasar dari hukum kekekalan energi, dengan kata lain, mulai
muncul ide untuk melakukan penelitian mengenai konservasi energi ini muncul setelah gagasan faraday
muncul.
Doktrin Yong dan Frensel merupakan jalan utama yang mengarahkan pada masalah
konservasi. Disamping itu Fenomena elektromagnetik juga telah membantu mengarahkan
pada masalah konservasi energi. Tapi dari semua ini belum benar-benar dapat membantu
mengarahkan pada sebuah tujuan yang sama, yaitu masalah konservasi namun hal ini justru
mengarah ke sub bidang ilmu lain dari fisika.
Energi panas, tidak mampu dibuat, melainkan bentuk dari suatu transformasi
energi. Untuk membuktikan kebenaran mengenai konservasi energi ini, pada abad ke-18
Count Rumford and Humphry Davy menunjukkan, kerja mungkin diubah kedalam bentuk
panas, dan penafsiran yang benar dari fakta ini berarti transormasi dari molar menjadi
gerakan intro molekular.
Tapi pada 1824, ahli filsafat Perancis Sadi Carnot menyatakan hal yang sama namun
yakin bahwa pasti kuantitas dari kerja dapat diubah kedalam kuantitas yang pasti pula dalam
bentuk panas, baik dalam jumlah yang banyak ataupun sedikit. Sama seperti peneliti
sebelumnya, Carnot tidak dapat membuktikan keyakinannya atas pemikirannya mengenai
konservasi energi, ia masih menyatakannya dalam bentuk faktor-faktor berubah yang dapat
diperhitungkan, tapi ia tidak mampu memberi alasan dengan jelas hubungannya dengan
energi mekanik.
Pada 1837 pemikir asal Jerman ini, Mohr, telah memahami kebenaran yang
sebenarnya, dan menyatakannya dalam sebuah artikel Zeitschrift fur Physik dan lain
sebagainnya. Tapi artikel-artikel ini tidak menarik perhatian sama sekali bagi orang-orang
pada saat itu, bahkan dari negara Mohr sendiri. Namun Mohr masih mendapatkan
penghargaan atas usahanya dalam memecahkan masalah konsevasi energi dan berani
mengungkapkannya , dan mungkin belum pernah ada orang yang memikirkan masalah ini
sejauh dirinya dan berhasil menemukan kebenaran sesungguhnya sejelas seperti yang ia
dapatkan, meskipun ia idak berhasil menunujukkan validitasnya, namun hal itu tidak perlu
dipermasalahkan.
Pada tahun 1840, muncul seorang yang benar-benar meneliti kembali hasil pemikiran
Rumford dan Davy yaitu James Prescott Joule. Dari hasil demonstrasi yang dilakukan joule
ada sebuah kakuratan dan kesamaan mutlak antara mechanical work dan panas tanpa
memperhatikan bentuk perwujudan gerakan molar, dan dapat menghasilkan sebuah kepastian
dan terukur jumlah dari panasnya. Joule menemukan, sebagai contoh, permukaan lautan di
Manchester adalah setinggi 707 kali, dengan tinggi air yang hanya dua kaki dapat
mengahsilkan cukup panas untuk menaikkan suhu dari satu pound air dalam satu derajat
fahrenheit. Jika panas tidak dapat diciptakan namun hanya dapat ditranformasikan dalam
bentuk yang lain, maka tidak harus dalam bentuk jenis yang sama, misalnya dalam bentuk
energi cahaya, energi listrik, energi magnet yang kesemuanya itu memiliki hubungan yang
erat dan saling terkait anatara satu dengan yang lain, sehingga antara satu dengan lainnya
dapat saling bertransformasi dengan panas. Semua analogi tersebut nampakanya menuju pada
suatu kesimpulan yang benar, seluruh eksperimen yang dilakukanpun nampakanya
mendukung. Hukum setara mekanika panas kemudian menjadi kunci utama dari hukum
terbesar, hukum kekekalan energi.
Pada 1842 Dr. Julius Robert Mayer, seorang dokter praktik di kota kecil heilborn, di
jerman, menerbitkan makalah di Liebig Annalen The Forces of Inorganic Nature," yang
isinya tidak hanya mengenai teori mekanika panas saja, tetapi juga doktrin untuk kekekalan
energi yang secara eksplisit berhasil ia ungkapkan.
Dua tahun sebelumnya, ketika ia menjadi ahli bedah di sebuah kapal Hindia Belanda
yang tengah menjelajahi daerah tropis , ia mengamati bahwa darah vena pasien tampak lebih
merah dari darah vena yang biasanya diamati di daerah beriklim iklim sedang. Dia
merenungkan fakta yang tampaknya tidak berarti ini, dan akhirnya ia menemukan
kesimpulan bahwa penyebabnya oksidasi yang lebih rendah dari oksidasi yang dipelukan
untuk menjaga suhu tubuh di daerah tropis. Melalui refleksi ini dengan menganalogikan
tubuh sebagai mesin yangbergantung pada kekuatan luar agar meiliki kemampuan untuk
melakukan suatu hal, dan pada akhirnya ia menemukan pendapat yang bebas untuk
mechanicaltheory of heat.

a. Karangan Mayer pada 1847


Pada tanggal 23 Juli di tahun 1847, Helmholtz menyebutkan "Konservasi gaya " pada
Physical Society. Kata "Gaya", yang dimaksud Helmholtz disini setara dengan istilah modern
yang sering digunakan saat ini "energi." Kalimat ini ternyata diterima dengan sangat baik
oleh Masyarakat, tapi Helmholtz terpaksa menerbitkannya sebagai pamflet setelah
Poggendorff menolak Annalen-nya (sejenis jurnal fisika yang diterbitkan pada masa lampau)
karena dianggap terlalu spekulatif.
Helmholtz merangkum kesimpulan dalam esainya sebagai berikut : Tidak mungkin
untuk menurunkan jumlah tak terbatas dari kekuatan mekanik (energi) meskipun dengan cara
apapun termasuk mengkombinasikannya sedimikian rupa secara alamiah.
B. JAMES PRESCOTT JOULE DAN HUKUM KEKEKALAN ENERGI
James Prescott Joule, seorang ilmuwan Inggris yang

namanya diabadikan menjadi satuan energi Joule ini lahir di Salford, Lancashire, Inggris pada
24 Desember 1818. James Prescott Joule merumuskan Hukum Kekekalan , yaitu "Energi
tidak dapat diciptakan ataupun dimusnahkan." Ia adalah anak seorang pengusaha bir yang
kaya raya, namun sedikitpun ia tidak pernah merasakan pendidikan di sekolah hingga usia 17
tahun. Hal ini disebabkan karena sejak kecil ia selalu sakit-sakitan akibat luka di tulang
belakangnya. Sehingga, ia terpaksa hanya tinggal di rumah sepanjang hari.
Karena itu, ayahnya sengaja mendatangkan guru privat ke rumahnya dan
menyediakan semua buku yang diperlukan Joule. Tidak hanya itu, ayahnya bahkan
menyediakan sebuah laboratorium khusus untuk Joule. Meskipun begitu, Joule tidak hanya
mengandalkan pelajaran yang ia dapatkan dari guru privatnya. Joule tetap berusaha belajar
sendiri sehingga sebagian besar pengetahuan yang dimilikinya diperoleh dengan cara belajar
sendiri. Namun, ada satu pelajaran yang cukup sulit dipahaminya, yaitu Matematika. Setelah
berusia 17 tahun Joule baru bersekolah dan masuk ke Universitas Manchester dengan
bimbingan John Dalton, seorang ahli kimia Inggris yang begitu terkenal.
Joule dikenal sebagai siswa yang rajin belajar, rajin bereksperimen, dan juga rajin
menulis buku. Bukunya yang berjudul Tentang Panas yang Dihasilkan oleh Listrik terbit pada
tahun 1840 saat ia berusia 22 tahun. Tiga tahun kemudian tepatnya pada tahun 1843 bukunya
mengenai ekuivalen mekanik panas terbit. Lalu, empat tahun berikutnya (1847) ia juga
menerbitkan buku mengenai hubungan dan kekekalan energi. Buku-buku hasil karyanya
tersebut begitu menarik perhatian Sir William Thomson atau dikenal dengan nama Lord
Kevin. Sehingga, akhirnya Joule bekerja sama dengan Thomson dan menemukan efek Joule-
Thomson. Efek tersebut merupakan prinsip yang kemudian dikembangkan dalam pembuatan
lemari es. Efek tersebut menyatakan bahwa apabila gas dibiarkan berkembang tanpa
melakukan kerja ke luar, maka suhu gas itu akan turun. Selain itu, Joule yang sangat taat
kepada agama juga menemukan hukum kekekalan energi bersama dengan dua orang ahli
fisika dari Jerman, yaitu Hermann von Helmholtz dan Julius Von Mayer. Hukum kekekalan
energi yang mereka temukan menyatakan bahwa energi tidak dapat diciptakan atau
dimusnahkan, energi hanya dapat berubah bentuk menjadi energi listrik, mekanik, atau kalor.
Ia adalah seorang yang hobi fisika. Dengan percobaan ia berhasil membuktkan bahwa
panas (kalori) tak lain adalah suatu bentuk energi. Dengan demikian ia berhasil mematahkan
teori kalorik, teori yang menyatakan panas sebagai zat alir. Joule (simbol J) adalah satuan SI
untuk energi dengan basis unit kg.m2/s2. Nama joule diambil dari penemunya James Prescott
Joule. Joule disimbolkan dengan huruf J. Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Dr.
Mayer of Heilbronn.
Joule diambil dari satuan unit yang didefinisikan sebagai besarnya energi yang
dibutuhkan untuk memberi gaya sebesar satu Newton sejauh satu meter. Oleh sebab itu, 1
joule sama dengan 1 newton meter (simbol: N.m). Selain itu, satu joule juga adalah energi
absolut terkecil yang dibutuhkan (pada permukaan bumi) untuk mengangkat suatu benda
seberat satu kilogram setinggi sepuluh sentimeter.
Definisi satu joule lainnya yaitu pekerjaan yang dibutuhkan untuk memindahkan
muatan listrik sebesar satu coulomb melalui perbedaan potensial satu volt, atau satu coulomb
volt (simbol: C.V). 1 joule juga dapat didefinisikan sebagai pekerjaan untuk menghasilkan
daya satu watt terus-menerus selama satu detik, atau satu watt sekon (simbol: W.s).
Konversi 1 joule adalah sama dengan 107 erg.
1 joule mendekati sama dengan: 6.241506363x1018 eV (elektron volt), 0.239 kal
(kalori), 2.7778x10-7 kwh (kilowatt-hour), 2.7778x10-4 wh (watt-hour), atau 9.8692x10-3
liter-atmosfer. Berkat penemuan-penemuannya Joule menerima Medali Emas Copley,
menjadi anggota Royal Society sebuah Lembaga Ilmu Pengetahuan Inggris yang pernah
dipimpin Newton selama 25 tahun. Selain itu, Joule juga menjadi Presiden Asosiasi
Kemajuan Ilmu Pengetahuan di Inggris.
PERCOBAAN JAMES PRESCOTT JOULE

Kalor mengalir dengan sendirinya dari suatu benda yang suhunya lebih tinggi ke benda lain
dengan suhu yang lebih rendah. Satuan kalor yang masih umum dipakai sampai saat ini yaitu
kalori. Satu kalori didefinisikan sebagai kalor yang dibutuhkan untuk menaikkan suhu 1 gram
air sebesar 1C. Terkadang satuan yang digunakan adalah kilokalori (kkal) karena dalam
jumlah yang lebih besar, di mana 1 kkal = 1.000 kalori. Satu kilokalori (1 kkal) adalah kalor
yang dibutuhkan untuk menaikkan suhu 1 kg air sebesar 1 C.
Pada tahun 1800-an, seorang ilmuwan dari Inggris, James Prescott Joule (1818 -
1889) melakukan sejumlah percobaan yang penting untuk menetapkan pandangan bahwa
kalor merupakan bentuk transfer energi. Percobaan ini membuktikan bahwa apabila suatu
bentuk energi diubah menjadi bentuk energi lain, maka tidak ada energi yang musnah. Salah
satu bentuk percobaan Joule ditunjukkan secara sederhana seperti pada gambar di atas.
Inilah percobaan Joule yang paling terkenal, yang pada dasarnya tidak akan melibatkan arus
listrik. Peralatannya terdiri atas roda jantera kuningan yang memutar air didalam wadah
tembaga. Roda jantera diputar oleh sebuah beban yang dijatuhkan. Ketika jatuh, beban tadi
memiliki energi mekanis atau gerak. Joule menjatuhkan beban tadi berkali kali. Mekanisme
kerja alatnya adalah pada waktu jatuh, beban memutar roda jantera dan mengaduk air. Setiap
kali beban jatuh, suhu air akan naik. Jumlah kenaikannya bergantung pada jarak beban yang
dijatuhkan. Hal ini membuktikan bahwa energi gerak beban yang dijatuhkan. Hal ini
membuktikan bahwa energi gerak beban yang dijatuhkan berubah menjadi energi panas
dalam air. Kenaikan suhu yang sama juga bisa diperoleh dengan memanaskan air di atas
kompor. Joule menentukan bahwa sejumlah kerja tertentu yang dilakukan selalu ekivalen
dengan sejumlah masukan kalor tertentu. Secara kuantitatif, kerja 4,186 joule (J) ternyata
ekivalen dengan 1 kalori (kal) kalor. Nilai ini (4,186 J = 1 kal) dikenal sebagai tara kalor
mekanik.
Dari hasil percobaannya dengan tujuan untuk menentukan kesetaraan antara kalor dan
energi, Joule menyimpulkan hubungan antara kalor dan usaha yaitu sebagai berikut :
Kalor merupakan suatu bentuk energi yang dapat berpindah dari lingkungan ke suatu sistem
atau sebaliknya karena ada perbedaan suhu antara suatu sistem dengan lingkungannya. tanpa
pengaruh dari luar, kalor akan selalu berpindah dari suhu yang lebih tinggi ke suhu yang lebih
rendah. Misalnya, perpindahan kalor saat pendinginan sebuah mesin kendaraan.
Usaha juga merupakan suatu bentuk perpindahan energi melalui gaya yang dilakukan sistem
pada lingkungan atau sebaliknya dimana titik tangkap gaya mengalami perpindahan.
Misalnya, usaha pada beban yang bergerak ke bawah.
Pada percobaan Joule tersebut, terjadi kenaikan suhu air yang dapat disebabkan oleh
adanya aliran kalor akibat usaha yang dilakukan. Perubahan suhu air, tentu akan
menyebabkan perubahan energi kinetik partikel partikel air dan pada akhirnya akan
mengakibatkan perubahan energi dalam air. Energi dalam didefinisikan sebagai jumlah total
energi kinetik partikel partikel zat dalam suatu sistem.
C. THOMSON DAN HUKUM KEKEKALAN ENERGI
William Thomson lahir di Belfast, Irlandia, pada tanggal 26 Juni 1824. Dia adalah
anak ke-4 dari tujuh bersaudara, anak James Thomson, guru dan penulis buku pelajaran
matematika. William dan saudaranya yang lebih tua, James, sangat berbakat. Keduanya
masuk Universitas Glasgow pada usia 10 dan 11 tahun. Tahun 1846, saat berusia 22 tahun,
Thomson menjadi profesor dalam ilmu fisika (dulu disebut filsafat alam) di Universitas
Glasgow.
Tahun 1847, untuk pertama kalinya Thomson mendengar karya James Joule mengenai
hubungan panas dan gerak mekanis. Asas penyimpanan tenaga dalam karya Joule kelak
dikenal sebagai Hukum Termodinamika Pertama. Meskipun Joule diakui sebagai penemu
utama termodinamika, Thomsonlah yang "memantapkan termodinamika menjadi disiplin
ilmu yang resmi dan merumuskan hukumnya yang pertama dan kedua dengan terminologi
yang tepat."
Hukum Termodinamika Pertama menyatakan bahwa energi tidak dapat diciptakan
maupun dimusnahkan, tetapi bentuknya dapat diubah. Artinya, jumlah tenaga/zat di alam
semesta adalah tetap. "Hukum ini secara meyakinkan mengajarkan bahwa alam semesta tidak
menciptakan diri sendiri! Struktur alam semesta sekarang adalah hasil konservasi, bukan
inovasi sebagaimana dinyatakan oleh teori evolusi."Tahun 1851, Thomson menerbitkan
tulisan berjudul "On the Dynamical Theory of Heat", yang mendukung teori Joule mengenai
panasdan gerak. Tulisan ini merupakan langkah penting dalam prosesperpaduan bagian fisika
yang terpisah-pisah. Karya ini juga memuat Hukum Termodinamika Kedua versi Thomson.
(Tanpa diketahui Thomson,tahun sebelumnya, ahli fisika Jerman, R.J.E. Clausius sudah
mengajukan hukum yang sama dengan Hukum Termodinamika Kedua versi Thomson.)
Hukum Kedua Termodinamika juga disebut Hukum Peluruhan Energi. Asasuniversal
yang mendasari hukum ini menunjukkan bahwa semua sistem,jika tidak diprogram
sebelumnya atau tidak diatur dengan tepat,cenderung berubah dari keadaan teratur menjadi
tidak teratur. Inimenunjukkan bahwa secara keseluruhan, alam semesta berprosesterus-
menerus menuju kondisi di mana pengaturan semakin berkurang.Ringkasnya, hukum
termodinamika menunjukkan bahwa "jumlah tenaga dialam semesta tidak berubah, tapi
tenaga yang ada senantiasa berkurang."
Energi disipasi adalah energi yang hilang dalam suatu sistem. Hilang dalam arti
berubah menjadi energi lain yang tidak menjadi tujuan suatu sistem. Contohnya, energi panas
yang timbul akibat gesekan, Energi listrik yang terbuang akibat adanya hambatan pada kawat
penghantar.Energi panas pada trafo. trafo itu dikehendaki untuk mengubah tegangan. Namun
pada kenyataan timbul panas pada trafo. Panas ini dapat dianggap energi disipasi.
Daftar Pustaka
Akbar, Najwa. 16 Nopember 2012. Teknologi dan Perkembangannya. (Internet). (Terdapat
di :http://teknologiidanperkembangan.blogspot.com/2012/11/resume-sejarah-fisika-
perkembangan-ilmu.html ). Diakses pada 04 Mei 2013.
Huda, Tiyas. Sejarah Kimia Hukum Kekalan Energi. (Internet). (Terdapat
di :http://tiyasnnhuda.blogspot.com/2013/05/sejarah-kimia-hukum-kekekalan-energi.html).
Diakses pada 04 Mei 2013.

Violita, Amanda. 2012. Hukum kekekalan Energi. (Makalah). Indralaya : Universitas Sriwijya.
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

contoh laporan

EKSPERIMEN JOULE

Maula Asyari Ibrahim, Nur Ilmih Rusli,Nini Andriani,Siti Yulia Ningsih,Ika


Mentari,Muh Irfan,Muh Takwin,

Laboratorium Fisika Modern Jurusan GeografiFMIPA


Universitas Negeri Makassar

Abstrak. Telah dilakukan eksperimen mengenai Eksperimen joule. Eksperimen ini


bertujuan untuk memahami prinsip kesetaraan(ekuivalensi) energi panas dan energi
mekanis serta untuk menentukan nilai kesetaraan energi panas dan energi mekanis.
Pada eksperimen ini menggunakan beberapa alat dan bahan yang dirangkai sesuai
dengan rangkaian perangkat percobaan eksperimen joule. Pada eksperimen ini dilakukan
pengambulan data sebanyak tiga kali dan adapun yang diukur yaitu massa air,massa
kalorimeter,tegangan,kuat arus,suhu awal,suhu akhir,serta waktu. Pada analisis data

KATA KUNCI:

PENDAHULUAN

TEORI
Hukum pertama termodinamika merupakan pernyataan hukum
kekekalan energi. Hukum ini menggambarkan hasil banyak eksperimen yang
menghubungkan usaha yang dilakukan pada sistem, panas yang
ditambahkan atau dikurangkan dari sistem, dan energi internal sistem. Dari
definisi awal kalori, kita tahu bahwa dibutuhkan energi sebesar 1 kalori untuk
menaikkan temperatur 1 g air menjadi 1 0C. Akan tetapi kita juga dapat
menaikkan temperatur air atau sistem lain apapun dengan melakukan usaha
padanya tanpa menambahkan sedikit pun panas dari luar.
V
Termometer
VS
kalorimeter Joule + Elemen

A
+
_

Gambar 7.1. Perangkat percobaan Joule


Gambar.7.1 di atasmenunjukkan diagram skematis modifikasi dari
perangkat Joule yang dapat digunakan untuk menentukan jumlah usaha yang
ekivalen dengan sejumlah panas tertentu, yaitu, jumlah usaha yang
dibutuhkan untuk menaikkan temperatur satu gram air dengan satu Celcius
derajat.

Air dalam kalorimeter pada Gambar tertutup dalam dinding insulasi


agar temperatur system tidak dapat dipengaruhi oleh panas yang masuk
atau keluar darinya. Dengan pemberian beda potensial VS pada ujung-ujung
kumparan dalam kalorimeter, arus listrik akan mengalir melalui amperemeter
dan beda potensial akan timbul pada ujung-ujung kumparan yang akan
menghasilkan usaha listrik pada sistem untuk memanaskan air. Usaha ini
dikenal sebagaikalor joule, yang dapat dinyatakan sebagai,

[7.1]

di mana V adalah beda potensial ujung-ujung elemen, I adalah arus listrik


dalam rangkaian, dan t adalah waktu pengaliran arus ke sistem. Energi panas
yang dilepaskan oleh elemen listrik tersebut akan diterima oleh air dan
kalorimeter sehingga temperatur system menjadi meningkat (pengecualian
terjadi perubahan fase).

Besar energi panas Q yang dibutuhkan oleh air untuk menaikkan


temperaturnya sebanding dengan perubahan temperatur T dan massa m,
yaitu:

[7.2]

dimana c adalah panas jenis air.

Hasil eksperimen Joule dan eksperimen-eksperimen sesudahnya adalah


bahwa dibutuhkan 4,18 satuan usaha mekanis atau listrik (joule) untuk
meningkatkan temperatur 1 g air dengan 1 0C, atau 4,18 J energi mekanis
atau listrik adalah ekuivalen dengan 1 kal energi panas.

METODOLOGI EKSPERIMEN

Pada eksperimen kali ini menggunakan alat dan bahan diantaranya ialah
power supply DC, Amperemeter 0-5 A DC, Voltmeter 0-50 DC, Kalorimeter
joule lengkap, Termometer, Stopwatch, Neraca Ohauss 311 g, dan beberapa
kabel penghubung. Adapun proses
HASIL EKSPERIMEN DAN ANALISA DATA

a. Hasil Pengamatan

NST NeracaOhaus 311 g = 0,01 gr

NST Voltmeter = 1V

NST Amperemeter = 0,1 A

NST Termometer = 1C

NST Stopwatch = 0,1 s

Tabel 7.1.TabelHasilPengamatan

Besaran yang PengukuranKe -


diukur I II III

Massa kalorimeter
kosong + 134,00 134,00 134,00
pengaduk, m1 (g)

Massa kalorimeter +
241,49 287,30 295,60
air, m2(g)

Massa air, ma (g) 108,49 153,30 161,60


Tegangan, V (volt) 5,5 6,5 11,0

Kuat Arus, I (A) 0,95 1,25 2,05

Suhu awal, T0 (0C) 28,0 28,0 28,0

Suhu akhir, Tf (0C) 31,0 31,0 31,0

Waktu, t (s) 360,00 285,00 75,00

b. Analisa data

Data I
Data II

Data III
PEMBAHASAN

SIMPULAN

REFERENSI

Halliday, David danResnick, Robert.


1999.FisikaJilid2EdisiKelima (Terjemahan). Jakarta: Erlangga.
Tipler, Paul A. 2001.FisikauntukSainsdanTeknikEdisiKeduaJilid2(Terjemahan).
Jakarta: Erlangga.
fisika, kalor, usaha, energi, suhu, satuan,
Senin, 29 Agustus 2016

PENGERTIAN KALOR DAN ENERGI


Pengertian Kalor dan Energi
ukalah kedua telapak tanganmu kemudian telungkupkan. Setelah itu, gosok-gosokkan kedua
tanganmu dengan cepat untuk beberapa waktu lamanya. Apa yang kamu rasakan?
Setelah itu, lakukan kegiatan lain. Ambillah dua buah batu dari halaman sekolahmu. Lalu gesek-
gesekkan kedua batu itu beberapa waktu lamanya. Apakah yang terjadi?
Berdasarkan kedua percobaan di atas, tentu kamu dapat merasakan atau melihat timbulnya panas
(rasa hangat).Berasal dari manakah rasa panas pada telapak tangan dan kedua batu yang digosok-
gosokan itu?
Pada abad ke-18, Benyamin Thomson (1753-1804), salah seorang pekerja pabrik senjata di
Munchen, Jerman, mendapat tugas untuk mengebor laras-laras meriam. Ia heran, mengapa
potongan-potongan logam dalam pengeboran itu sangat panas, padahal ia tidak membakarnya.
Keheranan Benyamin Thomson ini baru terjawab setelah seorang ahli fisika Jerman, Robert van
Meyer (1818 -1878), melakukan percobaan dan berhasil menemukam sumber asal panas tersebut.
Robert van Meyer menggunakan air sebagai media percobaannyaa. Air dalam botol yang diguncang-
guncang selama beberapa menit ternyata berubah menjadi hangat (terasa panas). Hangatnya air
dalam botol ini karena memperoleh panas (kalor) yang berasal dari perubahan energi mekanik
(gerak) tangan. Perubahan ini sesuai dengan hukum kekekalan energi yang berbunyi:

Energi tidak dapat diciptakan dan dimusnahkan, tetapi hanya dapat diubah menjadi bentuk lain.

Berdasarkan hukum kekekalan energi ini, dapat ditarik kesimpulan bahwa apa yang diperoleh
Robert van Meyer, yaitu kalor atau panas, merupakan bentuk energi yang berasal dari perubahan
bentuk energi lain. Dengan demikian, keheranan Benyamin Thomson terhadap potongan-potongan
logam yang mengandung panas dapat terjawab.
Istilah kalor berasal dari kata caloric (bahasa latinnya adalah calor artinya panas). Istilah ini
pertamakali diperkenalkan oleh Antoine Laurent Lavosier(1743-1794). Seorang ahli kimia bangsa
Perancis, pada 1789. Satuan kalor diberi nama kalori dan disingkat menjadi kal. Secara luas, kalor
diartikan sebagai bentuk tenaga panas yang dapat diteruskan atau diterima oleh satu benda ke
benda lain secara hantaran (konduksi), penyinaran (radiasi), atau aliran
(konveksi).
Sementara kalor didefinisikan sebagai satuan panas yang menyatakan jumlah panas yang
diperlukan untuk menaikkan suhu 1 gram air setinggi 1 C. Alat yang digunakan untuk mengukur
jumlah kalor yang dibutuhkan adalah kalorimeter. Namun demikian, kita harus membedakan
pengertian suhu dan kalor. Suhu adalah ukuran derajat panas, sedangkan kalor adalah ukuran
banyaknya panas.
Di dalam kehidupan sehari-hari, satuan kalori masih sering digunakan. Misalnya, tubuh orang laki-
laki dewasa yang berusia antara 20-30 tahun dan bekerja, setiap harinya memerlukan energi
sebanyak 2800 kalori. Contoh lain, setiap satu mangkok mie baso mengandung 500
kalori.
Berdasarkan uraian di atas, dapat dikatakan bahwa kalori adalah salah satu bentuk energi yang
sangat diperlukan oleh tubuh manusia untuk menghasilkan tenaga. Oleh karena itu bila makanan
yang kita makan tidak mengandung kalori yang cukup sesuai dengan jumlah yang diperlukan, tubuh
kita tidak akan sehat. Lalu, apa yang dimaksud dengan energi itu?
Energi diartikan sebagai kemampuan untuk melakukan usaha (misalnya energi listrik dan
mekanika), atau daya yang dapat digunakan untuk melakukan berbagai kegiatan. Manusia, hewan,
dan benda lainnya dikatakan mempunyai energi bila kita memiliki kemampuan untuk melakukan
kerja atau usaha. Di dalam kehidupan sehari-hari, energi ini mengandung tenaga. Misalnya, energi
potensial, mekanik, listrik, kimia, cahaya, panas, bunyi, dan bentuk energi
lainnya.
Percobaan yang berhasil dilakukan oleh Robert van Meyer ini ternyata menimbulkan keragu-raguan
terhadap teori kalor dari Joseph Black (1720 -1799). Teori Joseph Black, yang kemudian melahirkan
Azas Black, itu adalah:
Kalor yang diterima sama dengan kalor yang dilepaskan

Robert van Meyer dalam teorinya mengemukakan:


Kalor dianggap sebagai fluida yang terdapat dalam benda.

Keragu-raguan terhadap teori kalor ini berakhir setelah ada pernyataan dari ilmuwan Inggris James
Prescott Joule (1818 -1889), yang menyatakan bahwa kalor merupakan zat alir. James Prescott
Joule menunjukkan bahwa kalor adalah suatu bentuk energi. Salah satu percobaannya, yakni
dengan cara mengaduk-aduk air dengan menggunakan beban berupa timbal (plumbum = Pb) yang
dijatuhkan.
Beban berupa plumbum itu digantungkan di sebuah tali yang dililitkan pada sebuah roda-roda.
Roda-roda sederhana itu dapat berputar di dalam sebuah bejana yang berisi air. Prinsip bejana ini
disebut kalorimeter. Roda-roda ini dapat diputar, dengan cara menjatuhkan beban tersebut pada
ketinggian lebih kurang 5 m. Dengan cara demikian, besarnya usaha yang dilakukan oleh beban
tersebut dapat dihitung. Demikian pula besarnya usaha yang dilakukan oleh beban tersebut dapat
dihitung. Demikian pula besarnya kalor yang terjadi.
Berdasarkan percobaan ini, Joule menyimpulkan, bahwa perbandingan antara usaha yang dilakukan
kalor merupakan bilangan tetap. Pada percobaan berikutnya yang dilakukan lebih teliti
menunjukkan, bahwa bilangan tetap yang dimaksud adalah 4,186. Disebabkan kalor merupakan
bentuk energi, perlu memiliki satuan. Satuan kalor yang diakui Sistem International (SI) adalah
joule.
Percobaan yang dilakukan oleh James Prescout Joule di atas, berhasil mengungkap dan mengetahui
adanya kesetaraan antara Sistem Joule dengan satuan kalori yang kemudian dikenal dengan tara
kalor mekanik. Tidak lama setelah itu, kalor diakui sebagai salah satu bentuk energi. Energi yang
digunakan sebenarnya tidak hilang, melainkan berubah. Perubahan bentuk energi itu terjadi akibat
pemakaian energi yang besamya sama dengan energi yang hilang atau terpakai.
Kalor sebenarnya adalah energi. Oleh karena itu, hukum yang berlaku bagi energi berlaku pula bagi
kalor. Berdasarkan hal ini, kalor atau derajat panas bisa diartikan sebagai:

Energi yang diterima atau dilepaskan oleh suatu benda dapat menyebabkan perubahan suhu atau
wujud

Adapun bilangan-bilangan yang berkaitan dengan kalor dan joule adalah sebagai berikut:
1 kalori = 4,2 joule
1 joule = 0,24 kalori
= 2,4 x l0 -6 kilo kalori
1 kilokalori = 4,2 x 103 joule
Dengan demikian, 1 kalori adalah banyaknya kalori yang diperlukan oleh satu gram air
untuk menaikkan suhu 1 C.
Diposkan oleh Kangh Yoedhi di 04.42

Pemanfaatan Kalor Dalam Kehidupan Sehari-Hari


College Loan Consolidation Friday, February 6th, 2015 - Kelas VII
Pemanfaatan kalor dalam kehidupan sehari-hari dapat kita jumpai dari eralatan rumah tangga
disekitar kita. Kalor adalah salah satu bentuk energi maka satuan kalor pun sama dengan satuan
energi, yaitu joule atau kalori. Kalor dapat menaikkan suhu suatu zat dan dapat mengubah wujud zat.
Benda yang mendapat kalor suhunya naik, sedang yang melepas kalor suhunya turun.
Advertisment
Pemanfaatan Kalor Dalam Kehidupan Sehari-Hari

Pemanfaatan kalor dalam kehidupan sehari-hari antara lain pada termos, seterika, panci, dan alat-alat
dapur lainnya.

Pemanfaatan Kalor Pada Termos

Termos berfungsi untuk menyimpan zat cair yang berada di dalamnya agar tetap panas dalam jangka
waktu tertentu. Termos dibuat untuk mencegah perpindahan kalor secara konduksi, konveksi,
maupun radiasi.

Pemanfaatan Kalor Pada Termos

Dinding termos dibuat sedemikian rupa, untuk menghambat perpindahan kalor pada termos, yaitu
dengan cara:
a. permukaan tabung kaca bagian dalam dibuat mengkilap dengan lapisan perak yang berfungsi
mencegah perpindahan kalor secara radiasi dan memantulkan radiasi kembali ke dalam
termos,
b. dinding kaca sebagai konduktor yang jelek, tidak dapat memindahkan kalor secara konduksi,
dan
c. ruang hampa di antara dua dinding kaca, untuk mencegah kalor secara konduksi dan agar
konveksi dengan udara luar tidak terjadi.
Pemanfaatan Kalor Pada Seterika

Seterika terbuat dari logam yang bersifat konduktor yang dapat memindahkan kalor secara konduksi
ke pakaian yang sedang diseterika. Adapun, pegangan seterika terbuat dari bahan yang bersifat
isolator.

Pemanfaatan Kalor Pada Panci Masak

Panci masak terbuat dari bahan konduktor yang bagian luarnya mengkilap. Hal ini untuk mengurangi
pancaran kalor. Adapun pegangan panci terbuat dari bahan yang bersifat isolator untuk menahan
panas.

Pemanfaatan Kalor Pada Lemari Pendingin (Kulkas)

Penurunan suhu dalam kulkas disebabkan oleh penguapan freon yang mengalir dalam pipa yang
melewati kulkas. Apabila freon menguap dalam pipa yang terletak di dalam ruang pembeku, maka
freon akan menyerap kalor dari ruang pembekuan.
Bagian dan Prinsip Kerja Kulkas

Pompa listrik mengalirkan freon yang sudah dimampatkan melalui pipa. Freon melepaskan kalor,
terjadi pengembunan. Freon berubah wujud dari gas ke cair. Pada waktu pengembunan, sirip pipa di
bagian belakang terasa panas. Freon cair dialirkan ke dalam ruang pembekuan. Freon menyerap
kalor, mengakibatkan suhunya menjadi turun. Uap freon terus dialirkan dan keluar ruang pembekuan,
kemudian dimampatkan lagi. Dan seterusnya secara berulang-ulang.

Beberapa contoh diatas merupakan konsep pemanfaatan kalor dalam kehidupansehari-hari.


Perpindahan Kalor Kelas 10
College Loan Consolidation Saturday, March 7th, 2015 - Kelas X
Perpindahan kalor pada suatu benda dapat melalui beberapa metode, hal ini karena kalor
merupakan energi yang dapat berpindah dari benda yang bersuhu tinggi ke benda yang bersuhu
rendah. Pada waktu memasak air, kalor berpindah dari api ke panci lalu ke air. Pada waktu
menyetrika, kalor berpindah dari setrika ke pakaian. Demikian juga pada waktu berjemur, badan kita
terasa hangat karena kalor berpindah dari matahari ke badan kita.
Advertisment
Metode Perpindahan Kalor

Ada tiga cara kalor berpindah dari satu benda ke benda yang lain, yaitu konduksi, kenveksi, dan
radiasi.

Perpindahan Kalor Secara Konduksi


kehidupan sehari-hari. Coba pegang leher kita! Terasa hangat, bukan? Hal ini menunjukkan ada kalor
yang mengalir ke tangan kita. Demikian jika sepotong sendok makan yang kita bakar pada api lilin,
lama kelamaan tangan kita merasakan hangat dan akhirnya panas. Peristiwa perpindahan
kalor melalui suatu zat tanpa disertai dengan perpindahan partikel-partikelnya disebut konduksi.
Ujung besi yang dipanaskan menyebabkan ujung
yang lain ikut panas

Perpindahan kalor dengan cara konduksi disebabkan karena partikel-partikel penyusun ujung zat
yang bersentuhan dengan sumber kalor bergetar. Makin besar getarannya, maka energi kinetiknya
juga makin besar. Energi kinetik yang besar menyebabkan partikel tersebut menyentuh partikel di
dekatnya, demikian seterusnya sampai akhirnya kita merasakan panas. Besarnya aliran kalor secara
matematis dapat dinyatakan sebagai berikut.

Jika merupakan kelajuan hantaran kalor


(banyaknya kalor yang mengalir per satuan waktu) dan T = T2 T1 , maka persamaan di atas
menjadi seperti berikut.

H=kA

Keterangan:

Q : banyak kalor yang mengalir (J)


A : luas permukaan (m2)
t : perbedaan suhu dua permukaan (K)
d : tebal lapisan (m)
k : konduktivitas termal daya hantar panas (J/ms K)
t : lamanya kalor mengalir (s)
H : kelajuan hantaran kalor (J/s)

Setiap zat memiliki konduktivitas termal yang berbeda-beda. Konduktivitas termal beberapa zat
ditunjukkan pada tabel berikut.

Konduktivitas Termal Beberapa Zat


Ditinjau dari konduktivitas termal (daya hantar kalor), benda dibedakan menjadi dua macam, yaitu
konduktor kalor dan isolator kalor. Konduktor kalor adalah benda yang mudah menghantarkan kalor.
Hampir semua logam termasuk konduktor kalor, seperti aluminium, timbal, besi, baja, dan tembaga.
Isolator kalor adalah zat yang sulit menghantarkan kalor. Bahanbahan bukan logam biasanya
termasuk isolator kalor, seperti kayu, karet, plastik, kaca, mika, dan kertas.

Berikut contoh alat-alat yang menggunakan bahan isolator dan konduktor kalor.
a. Alat-alat yang menggunakan bahan isolator kalor, antara lain:

1) pegangan panci presto,


2) pegangan setrika, dan
3) pegangan solder.

b. Alat-alat yang menggunakan bahan konduktor kalor, antara lain:

1) kawat kasa,
2) alat-alat untuk memasak,
3) setrika listrik, dan
4) kompor listrik.

Perpindahan Kalor Secara Konveksi


Konveksi adalah perpindahan kalor yang disertai dengan perpindahan partikel-partikel zat.
Perpindahan kalor secara konveksi dapat terjadi pada zat cair dan gas.
a. Konveksi pada Zat Cair

Ternyata zat warna bergerak mengalir berlawanan arah jarum jam. Mula-mula air yang dipanaskan
naik, kemudian membelok ke kiri mengikuti bentuk alat konveksi, lalu turun, dan membelok lagi ke
tempat yang dipanaskan, begitu seterusnya. Hal ini dapat terjadi karena massa jenis partikel-partikel
air yang dipanaskan akan mengecil sehingga bagian air ini akan terangkat ke atas, sedangkan bagian
air yang semula berada di atas akan turun karena massa jenis partikel-partikelnya lebih besar. Itulah
yang menyebabkan aliran partikelpartikel air pada alat konveksi terjadi.

Jadi, perpindahan kalor secara konveksi terjadi karena adanya perbedaan massa jenis zat. Konveksi
air banyak dimanfaatkan dalam pembuatan sistem aliran air panas di hotel, apartemen, atau
perusahaan-perusahaan besar.

b. Konveksi pada Gas

Ternyata asap di atas cerobong yang tidak dipanaskan akan bergerak turun ke dalam kotak lalu
mengalir ke atas lilin dan keluar lagi melalui cerobong yang dipanaskan. Hal ini terjadi karena udara di
dalam kotak yang terkena panas lilin, massa jenisnya mengecil dan terangkat ke atas melalui
cerobong yang dipanaskan, sedangkan massa jenis asap lebih besar sehingga akan bergerak turun
masuk ke dalam kotak.

Contoh konveksi udara dalam kehidupan sehari-hari, antara lain, sebagai berikut.

1. Sistem ventilasi rumah. Udara panas di dalam rumah akan bergerak naik dan keluar melalui
ventilasi. Tempat yang ditinggalkan akan diisi oleh udara dingin melalui ventilasi yang lain
sehingga udara di dalam rumah lebih segar.
2. Cerobong asap pabrik. Pada pabrik-pabrik, udara di sekitar tungku pemanas suhunya lebih
tinggi daripada udara luar, sehingga asap pabrik yang massa jenisnya lebih kecil dari udara
luar akan bergerak naik melalui cerobong asap.
3. Angin laut dan angin darat. Pada siang hari daratan lebih cepat panas daripada lautan. Udara
di daratan memuai sehingga massa jenisnya mengecil dan bergerak naik ke atas. Tempat
yang ditinggalkan akan diisi oleh udara dingin dari laut, maka terjadilah angin laut.
Sebaliknya, pada malam hari daratan lebih cepat dingin daripada lautan. Udara di atas laut
memuai, massa jenisnya mengecil dan bergerak ke atas. Tempat yang ditinggalkannya akan
diisi oleh udara dingin dari darat, maka terjadilah angin darat.

Proses terjadinya angin darat dan laut

Adapun secara empiris laju perpindahan kalor secara konveksi dapat dirumuskan sebagi berikut.

H = h A T4

Keterangan

H : laju perpindahan kalor (W)


A : luas permukaan benda (m )
T : t2 t1 = perbedaan suhu (K atau C)
h : koefisien konveksi (Wm-2K-4 atau Wm-2(C)4)
Perpindahan Kalor Secara Radiasi

Pernahkah kita berpikir, bagaimana panas matahari sampai ke bumi? kita ketahui bahwa di antara
matahari dan bumi terdapat lapisan atmosfer yang sulit menghantarkan panas secara konduksi
maupun konveksi. Selain itu, di antara matahari dan bumi juga terdapat ruang hampa yang tidak
memungkinkan terjadinya perpindahan kalor. Dengan demikian, perpindahan kalor dari matahari
sampai ke bumi tidak memerlukan perantara. Perpindahan kalor yang tidak memerlukan zat
perantara (medium) disebut radiasi.

Setiap benda mengeluarkan energi dalam bentuk radiasi elektromagnetik. Laju radiasi dari
permukaan suatu benda berbanding lurus dengan luas penampang, berbanding lurus dengan
pangkat empat suhu mutlaknya, dan tergantung sifat permukaan benda tersebut. Secara matematis
dapat di tulis sebagai berikut.

H = Ae T4

Keterangan:

H : laju radiasi (W)


A : luas penampang benda (m2)
T : suhu mutlak (K)
e : emisitas bahan
: tetapan Stefan-Boltzmann (5,6705119 10-8 W/mK4)
Dari uraian diatas dapat kita peroleh metode konduksi, konveksi, dan radiasi sebagai cara
perpindahan kalor. Kalor Laten Dan Perubahan Wujud Zat

College Loan Consolidation Wednesday, March 18th, 2015 - Kelas X


Kalor laten dan perubahan wujud zat dapat ditemukan pada suatu zat berubah wujud dari padat ke
cair, atau dari cair ke gas, sejumlah energi terlibat pada perubahan wujud zat tersebut. Sebagai
contoh, pada tekanan tetap 1 atm sebuah balok es (massa 5 kg) pada suhu -40 oC diberi kalor
dengan kecepatan tetap sampai semua es berubah menjadi air, kemudian air (wujud cair)
dipanaskan sampai suhu 100 oC dan diubah menjadi uap di atas suhu 100 oC.
Advertisment
Kalor Laten Dan Perubahan Wujud Zat

Grafik hubungan antara suhu dan kalor yang


ditambahkan
Gambar diatas menunjukkan grafik sejumlah kalor ditambahkan ke es, suhunya naik dengan
kecepatan 2 oC/kkal dari kalor yang ditambahkan, karena ces = 0,50 kkal/kg oC. Ketika suhu 0 oC
dicapai ternyata suhu berhenti naik walaupun kalor tetap ditambahkan. Akan tetapi, es secara
perlahan-lahan berubah menjadi air dalam keadaan cair tanpa perubahan suhu. Setelah kalor
sejumlah 40 kkal telah ditambahkan pada 0 oC, ternyata setengah dari es tetap dan setengahnya
telah berubah menjadi air. Kemudian setelah kira-kira 80 kkal (330 J) kalor ditambahkan, semua es
telah berubah menjadi air, masih pada suhu 0 oC. Penambahan kalor selanjutnya menyebabkan suhu
air naik kembali, dengan kecepatan sebesar 1 oC/kkal. Ketika 100 oC telah dicapai, suhu kembali
konstan sementara kalor yang ditambahkan mengubah air (cair) menjadi uap. Kalor sekitar 540 kkal
(2.260 kJ) dibutuhkan untuk mengubah 1 kg air menjadi uap seluruhnya. Setelah itu, kurva naik
kembali yang menkitakan suhu uap naik selama kalor ditambahkan.
Kalor yang diperlukan untuk mengubah 1 kg zat dari padat menjadi cair disebut kalor lebur, L B. Kalor
lebur air dalam SI adalah sebesar 333 kJ/kg (3,33 105 J/kg), nilai ini setara dengan 79,7 kkal/kg.
Sementara itu, kalor yang dibutuhkan untuk mengubah suatu zat dari wujud cair menjadi uap disebut
kalor penguapan, dengan simbol LU. Kalor penguapan air dalam satuan SI adalah 2.260 kJ/kg (2,26
106 J/kg), nilai ini sama dengan 539 kkal/kg. Kalor yang diberikan ke suatu zat untuk peleburan atau
penguapan disebut kalor laten.

Untuk zat yang lainnya, grafik hubungan suhu sebagai fungsi kalor yang ditambahkan hampir sama
dengan gambar diatas, tetapi suhu titik-lebur dan titik-didih berbeda. Besar kalor lebur dan kalor
penguapan untuk berbagai zat tampak seperti pada tabel berikut.
Kalor laten pada 1 atm

Kalor lebur dan kalor penguapan suatu zat juga mengacu pada jumlah kalor yang dilepaskan oleh zat
tersebut ketika berubah dari cair ke padat, atau dari gas ke uap air. Dengan demikian, air
mengeluarkan 333 kJ/kg ketika menjadi es, dan mengeluarkan 2.260 kJ/kg ketika berubah menjadi
air.

Tentu saja, kalor yang terlibat dalam perubahan wujud tidak hanya bergantung pada kalor laten, tetapi
juga pada massa total zat tersebut, dirumuskan:

Q=m.L

dengan:

Q = kalor yang diperlukan atau dilepaskan selama perubahan wujud ( J)


m = massa zat (kg)
L = kalor laten ( J/kg)
Hukum Kekakalan Energi Kalor
College Loan Consolidation Wednesday, March 18th, 2015 - Kelas X
Hukum kekekalan energi kalor memberikan penjelasan tentang perpindahan energi kalor dari suau
benda atau zat yang bersuhu lebih tinggi ke benda atau zat yang bersuhu lebih rendah.
Advertisment
Joseph Black

Joseph Black adalah seorang ilmuwan dari Skotlandia. Dia menyatakan bahwa es dapat mencair
tanpa berubah suhunya. Hal ini berarti bahwa es dapat menyerap panas dan menggunakan energi
panas tersebut untuk mengubah bentuknya menjadi cair. Ia juga menemukan bahwa kejadian yang
sama akan terjadi saat air berubah menjadi uap air.

Energi yang diserap oleh suatu bahan untuk berubah dari padat menjadi cair disebut kalor laten
peleburan, sedangkan saat benda cair berubah menjadi gas disebut kalor laten penguapan. Black
juga menyatakan bahwa sejumlah substansi yang berbeda akan membutuhkan sejumlah energi
panas yang berbeda pula untuk menentukan suhunya dengan kenaikan yang sama.
Hukum Kekakalan Energi Kalor (Asas Black)

kita ketahui bahwa kalor berpindah dari satu benda yang bersuhu tinggi ke benda yang bersuhu
rendah. Perpindahan ini mengakibatkan terbentuknya suhu akhir yang sama antara kedua benda
tersebut. Pernahkah kita membuat susu atau kopi? Sewaktu susu diberi air panas, kalor akan
menyebar ke seluruh cairan susu yang dingin, sehingga susu terasa hangat. Suhu akhir setelah
percampuran antara susu dengan air panas disebut suhu termal (keseimbangan).

Kalor yang dilepaskan air panas akan sama besarnya dengan kalor yang diterima susu yang dingin.
Kalor merupakan energi yang dapat berpindah, prinsip ini merupakan prinsip hukum kekekalan
energi. Hukum kekekalan energi di rumuskan pertama kali oleh Joseph Black (1728 1899). Oleh
karena itu, pernyataan tersebut juga di kenal sebagai asas Black.

Persamaan Hukum Kekekalan Energi kalor (Asas Black)

Apabila dua zat atau lebih mempunyai suhu yang berbeda dan terisolasi dalam suatu sistem, maka
kalor akan mengalir dari zat yang suhunya lebih tinggi ke zat yang suhunya lebih rendah. Dalam hal
ini, kekekalan energi memainkan peranan penting. Sejumlah kalor yang hilang dari zat yang bersuhu
tinggi sama dengan kalor yang didapat oleh zat yang suhunya lebih rendah.

Hal tersebut dapat dinyatakan sebagai Hukum Kekekalan Energi Kalor, yang berbunyi:
Kalor yang dilepas = kalor yang diserap
QL = Q S

Persamaan tersebut berlaku pada pertukaran kalor, yang selanjutnya disebut hukum kekekalan
energi kalor (Asas Black).

Kalor Jenis Dan Kapasitas Kalor


College Loan Consolidation Wednesday, March 18th, 2015 - Kelas X
Apabila sejumlah kalor diberikan pada suatu benda, maka suhu benda itu akan naik. Kemudian yang
menjadi pertanyaan, seberapa besar kenaikan suhu suatu benda tersebut? Pada abad ke-18,
sejumlah ilmuwan melakukan percobaan dan menemukan bahwa besar kalor Q yang diperlukan
untuk mengubah suhu suatu zat yang besarnya T sebanding dengan massa m zat tersebut.
Advertisment
Kalor Jenis Dan Kapasitas Kalor

Pernyataan tersebut dapat dinyatakan dalam persamaan :

Q = m.c. T

dengan:

Q = banyaknya kalor yang diperlukan ( J)


m = massa suatu zat yang diberi kalor (kg)
c = kalor jenis zat (J/kgoC)
T = kenaikan/perubahan suhu zat (oC)
Dari persamaan tersebut diatas, c adalah besaran karakteristik dari zat yang disebut kalor jenis zat.
Kalor jenis suatu zat dinyatakan dalam satuan J/kgoC (satuan SI yang sesuai) atau kkal/kgoC. Untuk
air pada suhu 15 oC dan tekanan tetap 1 atm, cair = 1 kkal/kgoC = 4,19 103 J/kgoC.
Kalor Jenis Dan Kapasitas Kalor Pada Zat
Tabel dibawah memperlihatkan besar kalor jenis untuk beberapa zat pada suhu 20 oC. Sampai batas
tertentu, nilai kalor jenis (c) bergantung pada suhu (sebagaimana bergantung sedikit pada tekanan),
tetapi untuk perubahan suhu yang tidak terlalu besar, c seringkali dianggap konstan.

Kalor jenis (pada tekanan 1 atm dan suhu 20 oC)


Untuk suatu zat tertentu, misalnya zatnya berupa bejana kalorimeter ternyata akan lebih
memudahkan jika faktor massa (m) dan kalor jenis (c) dinyatakan sebagai satu kesatuan. Faktor m
dan c ini biasanya disebut kapasitas kalor, yaitu banyaknya kalor yang diperlukan untuk menaikkan
suhu suatu zat sebesar 1oC.

Kapasitas kalor (C ) dapat dirumuskan:

C = m.c atau C =

Dari persamaan diatas, besarnya kalor yang diperlukan untuk menaikkan suhu suatu zat adalah:

Q = m.c. T = C. T

dengan:

Q = banyaknya kalor yang diperlukan (J)


m = massa suatu zat yang diberi kalor (kg)
c = kalor jenis zat (J/kgoC)
T = kenaikan/perubahan suhu zat (oC)
C = kapasitas kalor suatu zat (J/oC) Kalor Sebagai Transfer Energi

College Loan Consolidation Wednesday, March 18th, 2015 - Kelas X


Kalor mengalir dengan sendirinya dari suatu benda yang suhunya lebih tinggi ke benda lain dengan
suhu yang lebih rendah. Pada abad ke-18 diilustrasikan aliran kalor sebagai gerakan zat fluida yang
disebut kalori.
Advertisment
Kalor Sebagai Transfer Energi
Bagaimanapun, fluida kalori tidak pernah dideteksi. Selanjutnya pada abad ke-19, ditemukan
berbagai fenomena yang berhubungan dengan kalor, dapat dideskripsikan secara konsisten tanpa
perlu menggunakan model fluida. Model yang baru ini memkitang kalorberhubungan dengan kerja
dan energi. Satuan kalor yang masih umum dipakai sampai saat ini yaitu kalori. Satu kalori
didefinisikan sebagai kalor yang dibutuhkan untuk menaikkan suhu 1 gram air sebesar 1 oC.
Terkadang satuan yang digunakan adalah kilokalori (kkal) karena dalam jumlah yang lebih besar, di
mana 1 kkal = 1.000 kalori. Satu kilokalori (1 kkal) adalah kalor yang dibutuhkan untuk menaikkan
suhu 1 kg air sebesar 1 oC.
Percobaan Joule Tentang Kalor Sebagai Transfer Energi
Pendapat bahwa kalor berhubungan dengan energi dikerjakan lebih lanjut oleh sejumlah ilmuwan
pada tahun 1800-an, terutama oleh seorang ilmuwan dari Inggris, James Prescott Joule (1818
1889). Joule melakukan sejumlah percobaan yang penting untuk menetapkan pandangan bahwa
kalor merupakan bentuk transfer energi. Salah satu bentuk percobaan Joule ditunjukkan secara
sederhana seperti pada gambar berikut.

Percobaan Joule tentang kalor sebagai transfer energi


Beban yang jatuh menyebabkan roda pedal berputar. Gesekan antara air dan roda pedal
menyebabkan suhu air naik sedikit (yang sebenarnya hampir tidak terukur oleh Joule). Kenaikan suhu
yang sama juga bisa diperoleh dengan memanaskan air di atas kompor. Joule menentukan bahwa
sejumlah kerja tertentu yang dilakukan selalu ekivalen dengan sejumlah masukan kalor tertentu.
Secara kuantitatif, kerja 4,186 joule (J) ternyata ekivalen dengan 1 kalori (kal) kalor. Nilai ini dikenal
sebagai tara kalor mekanik. 4,186 J = 1 kal 4,186 103 J = 1 kkal
Pengaruh Kalor Terhadap Suatu Zat
College Loan Consolidation Friday, March 13th, 2015 - Kelas X
Pengaruh kalor terhadap suatu zat diantaranya kalor dapat mengubah suhu dan wujud suatu zat.
Setiap ada perbedaan suhu antara dua sistem, maka akan terjadi perpindahan kalor. Kalor mengalir
dari sistem bersuhu tinggi ke sistem yang bersuhu lebih rendah. Apa sajakah pengaruh
kalor terhadap suatu sistem atau benda?
Advertisment
Pengaruh Kalor Terhadap Suatu Zat
1. Kalor Dapat Mengubah Suhu Suatu Benda

Kalor merupakan salah satu bentuk energi, sehingga dapat berpindah dari satu sistem ke sistem yang
lain karena adanya perbedaan suhu. Sebaliknya, setiap ada perbedaan suhu antara dua sistem maka
akan terjadi perpindahan kalor. Sebagai contoh, es yang dimasukkan ke dalam gelas berisi air panas,
maka es akan mencair dan air menjadi dingin. Karena ada perbedaan suhu antara es dan air maka
air panas melepaskan sebagian kalornya sehingga suhunya turun dan es menerima kalor sehingga
suhunya naik (mencair).

2. Kalor Dapat Mengubah Wujud Zat


Kalor yang diberikan pada zat dapat mengubah wujud zat tersebut. Perubahan wujud yang terjadi
ditunjukkan oleh gambar dibawah. Cobalah mengingat kembali pelajaran SMP, dan carilah contoh
dalam kehidupan sehari-hari yang menunjukkan perubahan wujud zat karena dipengaruhi kalor.
Diagram Pengaruh Kalor Terhadap Suatu Zat
Diagram perubahan wujud zat yang dipengaruhi
kalor.
Digram perubahan wujud zat pada gambar diatas menjelaskan perubahan wujud zat padat, zat cair
dan zat gas karena perubahan kalor. Dari diagram tersebut diatas kita dapat lebih mudah memahami
alur pengaruh kalor terhadap suatu zat.
Pemuaian Gas
College Loan Consolidation Thursday, March 12th, 2015 - Kelas X
Pemuaian gas tidak sebesar pada pemuaian zat cair, karena gas umumnya memuai untuk
memenuhi tempatnya. Volume gas sangat bergantung pada tekanan dan suhu. Dengan demikian,
akan sangat bermanfaat untuk menentukan hubungan antara volume, tekanan, temperatur, dan
massa gas. Hubungan seperti ini disebut persamaan keadaan. Jika keadaan sistem berubah, kita
akan selalu menunggu sampai suhu dan tekanan mencapai nilai yang sama secara keseluruhan.
Advertisment
Hukum Fisika Dalam Pemuaian Gas
1. Hukum Boyle Tentang Pemuaian Gas

Untuk jumlah gas tertentu, ditemukan secara eksperimen bahwa sampai pendekatan yang cukup
baik, volume gas berbanding terbalik dengan tekanan yang diberikan padanya ketika suhu dijaga
konstan, yaitu:

dengan P adalah tekanan absolut (bukan tekanan ukur). Jika tekanan gas digandakan menjadi dua
kali semula, volume diperkecil sampai setengah nilai awalnya. Hubungan ini dikenal sebagai Hukum
Boyle, dari Robert Boyle (1627 1691), yang pertama kali menyatakan atas dasar percobaannya
sendiri. Grafik tekanan (P) terhadap volume gas (V) untuk suhu tetap tampak seperti pada gambar
berikut.

Grafik hubungan P V pada suhu konstan

Hukum Boyle juga dapat dituliskan:


PV = konstan, atau P1V1 = P2V2

dengan:

P= tekanan gas pada suhu tetap (Pa)


V= volume gas pada suhu tetap (m 3)
P1 = tekanan gas pada keadaan I (Pa)
P2 = tekanan gas pada keadaan II (Pa)
V1 = volume gas pada keadaan I (m 3)
3
V2 = volume gas pada keadaan II (m )
Persamaan diatas menunjukkan bahwa pada suhu tetap, jika tekanan gas dibiarkan berubah maka
volume gas juga berubah atau sebaliknya, sehingga hasil kali PV tetap konstan.
2. Hukum Charles Tentang Pemuaian Gas

Suhu juga memengaruhi volume gas, tetapi hubungan kuantitatif antara V dan T tidak ditemukan
sampai satu abad setelah penemuan Robert Boyle. Seorang ilmuwan dari Prancis, Jacques Charles
(1746 1823) menemukan bahwa ketika tekanan gas tidak terlalu tinggi dan dijaga konstan, volume
gas bertambah terhadap suhu dengan kecepatan hampir konstan, yang diilustrasikan seperti pada
gambar berikut.

Volume gas sebagai fungsi dari temperature


Celcius pada tekanan konstan
Perlu kita ingat bahwa semua gas mencair pada suhu rendah, misalnya oksigen mencair pada suhu
-183 oC. Dengan demikian, grafik tersebut pada intinya merupakan garis lurus dan jika digambarkan
sampai suhu yang lebih rendah, akan memotong sumbu pada sekitar -273 oC.
Untuk semua gas, grafik hubungan antara volume V dan suhu T dapat digambarkan seperti pada
gambar diatas, dan garis lurus selalu menuju kembali ke -273 oC pada volume nol. Hal ini
menunjukkan bahwa jika gas dapat didinginkan sampai -273 oC, volumenya akan nol, lalu pada suhu
yang lebih rendah lagi volumenya akan negatif. Hal ini tentu saja tidak masuk akal. Bisa dibuktikan
bahwa -273 oC adalah suhu terendah yang mungkin, yang disebut suhu nol mutlak, nilainya
ditentukan -273,15 oC.
Nol mutlak sebagai dasar untuk skala suhu yang dikenal dengan nama skala mutlak atau Kelvin, yang
digunakan secara luas pada bidang sains. Pada skala ini suhu dinyatakan dalam derajat Kelvin, atau
lebih mudahnya, hanya sebagai kelvin (K) tanpa simbol derajat. Selang antarderajat pada skala
Kelvin sama dengan pada skala Celsius, tetapi nol untuk skala Kelvin ( 0 K) dipilih sebagai nol mutlak
itu sendiri. Dengan demikian, titik beku air adalah 273,15 K (0 oC) dan titik didih air adalah 373,15 K
(100 oC). Sehingga hubungan antara skala Kelvin dan Celsius dapat dituliskan :
TK = TC + 273,15

Pada gambar dibawah menunjukkan grafik hubungan volume gas dan suhu mutlak, yang merupakan
garis lurus yang melewati titik asal. Ini berarti sampai pendekatan yang baik, volume gas dengan
jumlah tertentu berbanding lurus dengan suhu mutlak ketika tekanan dijaga konstan.
Volume gas sebagai fungsi dari suhu mutlak pada
tekanan konstan

Pernyataan tersebut dikenal sebagai Hukum Charles, dan dituliskan :

V T atau = konstan, atau

dengan:

V= volume gas pada tekanan tetap (m3)


T= suhu mutlak gas pada tekanan tetap (K)
V1 = volume gas pada keadaan I (m 3)
V2 = volume gas pada keadaan II (m 3)
T1 = suhu mutlak gas pada keadaan I (K)
T2 = suhu mutlak gas pada keadaan II (K)
3. Hukum Gay Lussac Tentang Pemuaian Gas

Hukum Gay Lussac berasal dari Joseph Gay Lussac (1778 1850), menyatakan bahwa pada volume
konstan, tekanan gas berbanding lurus dengan suhu mutlak, dituliskan:

P T atau = konstan, atau

dengan:

P= tekanan gas pada volume tetap (Pa)


T= suhu mutlak gas pada volume tetap (K)
P1 = tekanan gas pada keadaan I (Pa)
P2 = tekanan gas pada keadaan II (Pa)
T1 = suhu mutlak gas pada keadaan I (K)
T2 = suhu mutlak gas pada keadaan II (K)

Contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari adalah botol yang tertutup atau kaleng aerosol, jika
dilemparkan ke api, maka akan meledak karena naiknya tekanan gas di dalamnya.

4. Persamaan Gas Ideal (Hukum Boyle-Gay Lussac)


Hukum-hukum gas dari Boyle, Charles, dan Gay Lussac didapatkan dengan bantuan teknik yang
sangat berguna di dalam sains, yaitu menjaga satu atau lebih variabel tetap konstan untuk melihat
akibat dari perubahan satu variabel saja. Hukum-hukum ini dapat digabungkan menjadi satu
hubungan yang lebih umum antara tekanan, volume, dan suhu dari gas dengan jumlah tertentu: PV
T.
Hubungan ini menunjukkan bahwa besaran P, V, atau T akan berubah ketika yang lainnya diubah.
Percobaan yang teliti menunjukkan bahwa pada suhu dan tekanan konstan, volume V dari sejumlah
gas di tempat tertutup berbanding lurus dengan massa m dari gas tersebut, yang dapat dituliskan:
PV mT.

Perbandingan ini dapat dibuat menjadi persamaan dengan memasukkan konstanta perbandingan.
Penelitian menunjukkan bahwa konstanta ini memiliki nilai yang berbeda untuk gas yang berbeda.
Konstanta pembanding tersebut ternyata sama untuk semua gas, jika kita menggunakan angka mol.
Pada umumnya, jumlah mol, n, pada suatu sampel zat murni tertentu sama dengan massanya dalam
gram dibagi dengan massa molekul yang dinyatakan sebagai gram per mol.

n(mol) =

Perbandingan tersebut dapat dituliskan sebagai suatu persamaan sebagai berikut :

PV = n.R.T

Dengan, n menyatakan jumlah mol dan R adalah konstanta pembanding. R disebut konstanta gas
umum (universal) karena nilainya secara eksperimen ternyata sama untuk semua gas. Nilai R, pada
beberapa satuan adalah sebagai berikut:

R = 8,315 J/(mol.K), ini merupakan satuan dalam SI


R= 0,0821 (L.atm)/(mol.K)
R = 1,99 kalori/(mol.K)
Persamaan PV diatas disebut Hukum Gas Ideal, atau persamaan keadaan gas ideal. Istilah ideal
digunakan karena gas riil tidak mengikuti persamaan PV tersebut. Koefisienpemuaian gas adalah

sama yaitu volume pada suhu 0 oC.


Pemuaian Zat Cair Kelas X
College Loan Consolidation Thursday, March 12th, 2015 - Kelas X
Pemuaian zat cair sama halnya dengan pemuaian pada zat padat. zat cair akan memuai volumenya
jika dipanaskan. Sebagai contoh, ketika kita memanaskan panci yang berisi penuh dengan air, apa
yang akan terjadi pada air di dalam panci tersebut?
Advertisment
Pemuaian Zat Cair

Pada suhu yang sangat tinggi, sebagian dari air tersebut akan tumpah. Hal ini berarti volume air di
dalam panci tersebut memuai atau volumenya bertambah. Sebagian besar zat akan memuai secara
beraturan terhadap penambahan suhu.

Anomali Air Pada Pemuaian Zat cair


Akan tetapi, air tidak mengikuti pola yang biasa. Bila sejumlah air pada suhu 0 oC dipanaskan,
volumenya menurun sampai mencapai suhu 4 oC. Kemudian, suhu di atas 4 oC air berperilaku normal
dan volumenya memuai terhadap bertambahnya suhu, seperti gambar berikut.
Anomali air
Pada suhu di antara 0 C dan 4 C air menyusut dan di atas suhu 4 oC air memuai jika dipanaskan.
o o

Sifat pemuaian air yang tidak teratur ini disebut anomali air. Dengan demikian, air memiliki massa
jenis yang paling tinggi pada 4 oC. Perilaku air yang menyimpang ini sangat penting untuk
bertahannya kehidupan air selama musim dingin. Ketika suhu air di danau atau sungai di atas 4 oC
dan mulai mendingin karena kontak dengan udara yang dingin, air di permukaan terbenam karena
massa jenisnya yang lebih besar dan digantikan oleh air yang lebih hangat dari bawah. Campuran ini
berlanjut sampai suhu mencapai 4 oC. Sementara permukaan air menjadi lebih dingin lagi, air
tersebut tetap di permukaan karena massa jenisnya lebih kecil dari 4 oC air di sebelah bawahnya. Air
di permukaan kemudian membeku, dan es tetap di permukaan karena es mempunyai massa jenis
lebih kecil dari air.
Perilaku yang tidak biasa dari air di bawah 4 oC, menyebabkan jarang terjadi sebuah benda yang
besar membeku seluruhnya, dan hal ini dibantu oleh lapisan es di permukaan, yang berfungsi
sebagai isolator untuk memperkecil aliran panas ke luar dari air ke udara dingin di atasnya. Tanpa
adanya sifat yang aneh tapi istimewa dari air ini, kehidupan di planet kita mungkin tidak bisa
berlangsung. Air tidak hanya memuai pada waktu mendingin dari 4 oC sampai 0 oC, air juga memuai
lebih banyak lagi saat membeku menjadi es. Hal inilah yang menyebabkan es batu terapung di air
dan pipa pecah ketika air di dalamnya membeku karena terjadi pemuaian zat cair.
HomeFisika SMAKelas XPemuaian Zat SMA Kelas X
Pemuaian Zat SMA Kelas X
College Loan Consolidation Wednesday, January 2nd, 2013 - Kelas X
Pemuaian terjadi jika benda yang dapat memuai diberi panas. Ada 3 jenis pemuaian jenis zat, yaitu
pemuaian zat padat, pemuaian zat cair, dan pemuaian zat gas. Pada bagian ini hanya akan
dibahas pemuaian zat padat, yaitu pemuaian panjang, pemuaian luas danpemuaian volume.
Advertisment
Pemuaian Panjang
Jika temperatur dari sebuah benda naik, kemungkinan besar benda tersebut akan mengalami
pemuaian. Misalnya, sebuah benda yang memiliki panjang L0 pada temperatur T akan
mengalami pemuaian panjang sebesar L jika temperatur dinaikan sebesar T. Secara matematis,
perumusan pemuaian panjang dapat dituliskan sebagai berikut.
dengan adalah koefisien muai panjang.

Satuan dari adalah kebalikan dari satuan temperatur skala Celsius (1/ C) atau kelvin (1/K). Tabel
berikut ini menunjukkan nilai dari koefisien muai panjang untuk berbagai zat.
Tabel Nilai Pendekatan Koefisien Muai Panjang Berbagai Zat

Bahan
(1/K)

Aluminium 24 106
Kuningan 19 1061,2 106
Karbon 7,9 106
-Intan 17 1069 106
-Grafit 3,2 106
Tembaga 51 106
Gelas 1 106
-Biasa 11 106
-Pyrex
Es
Invar
Baja
Pemuaian Luas
Sebuah benda yang padat, baik bentuk persegi maupun silinder, pasti memiliki luas dan volume.
Seperti halnya pada pemuaian panjang, ketika benda dipanaskan, selain terjadi pemuaian panjang
juga akan mengalami pemuaian luas. Perumusan pada pemuaian luashampir sama seperti pada
pemuaian panjang, yaitu sebagai berikut.

dengan adalah koefisien muai luas.

satuan dari adalah /K sama seperti koefisien muai panjang (). Coba kita perhatikan sebuah
tembaga berbentuk persegi sama sisi. Misalkan, panjang sisi tembaga adalah L0 maka luas tembaga
adalah L02. Jika tembaga tersebut dipanasi sampai terjadi perubahan temperatur sebesar T maka
sisi-sisi tembaga akan memuai dan panjang sisi tembaga menjadi L0 + T. Luas tembaga setelah
memuai akan berubah menjadi (L0 + T)2 dan perubahan luas setelah pemuaian adalah

dari perumusan koefisien muai luas, yaitu


Oleh karena perubahan panjang L tembaga sangatlah kecil maka nilai L2 dapat diabaikan. Jika
ditulis ulang, persamaan tersebut menjadi

maka

Pemuaian Volume
Seperti yang telah dibahas sebelumnya, setiap benda yang padat pasti memiliki volume. Jika panjang
sebuah benda dapat memuai ketika dipanaskan maka volume benda tersebut juga ikut memuai.
Perumusan untuk pemuaian volume sama dengan perumusan panjang dan luas, yaitu

dengan adalah koefisien muai volume

Perlu kita ketahui terdapat hubungan antara dan terhadap waktu , yaitu

Suhu (Temperatur)
College Loan Consolidation Saturday, March 7th, 2015 - Kelas X
Suhu (temperatur) merupakan ukuran mengenai panas atau dinginnya suatu zat atau benda. Oven
yang panas dikatakan bersuhu tinggi, sedangkan es yang membeku dikatakan memiliki suhu rendah.
Advertisment
Suhu dapat mengubah sifat zat, contohnya sebagian besar zat akan memuai ketika dipanaskan.
Sebatang besi lebih panjang ketika dipanaskan daripada dalam keadaan dingin. Jalan dan trotoar
beton memuai dan menyusut terhadap perubahan suhu. Hambatan listrik dan materi zat juga berubah
terhadap suhu. Demikian juga warna yang dipancarkan benda, paling tidak pada suhu tinggi. Kalau
kita perhatikan, elemen pemanas kompor listrik memancarkan warna merah ketika panas. Pada suhu
yang lebih tinggi, zat padat seperti besi bersinar jingga atau bahkan putih. Cahaya putih dari bola
lampu pijar berasal dari kawat tungsten yang sangat panas.
Alat Ukur Suhu (Temperatur)
Alat yang dirancang untuk mengukur suhu suatu zat disebut termometer. Ada beberapa jenis
termometer, yang prinsip kerjanya bergantung pada beberapa sifat materi yang berubah terhadap
suhu. Sebagian besar termometer umumnya bergantung pada pemuaian materi terhadap naiknya
suhu. Ide pertama penggunaan termometer adalah oleh Galileo, yang menggunakan pemuaian gas,
tampak seperti pada gambar berikut.
Termometer umum saat ini terdiri dari tabung kaca dengan ruang di tengahnya yang diisi air raksa
atau alkohol yang diberi warna merah.

Mengukur Suhu (Temperatur)


Untuk mengukur suhu secara kuantitatif, perlu didefinisikan semacam skala numerik. Skala yang
paling banyak dipakai sekarang adalah skala Celsius, kadang disebut skala Centigrade. Di Amerika
Serikat, skala Fahrenheit juga umum digunakan. Skala yang paling penting dalam sains adalah skala
absolut atau Kelvin.
Satu cara untuk mendefinisikan skala suhu adalah dengan memberikan nilai sembarang untuk dua
suhu yang bisa langsung dihasilkan. Untuk skala Celsius dan Fahrenheit, kedua titik tetap ini dipilih
sebagai titik beku dan titik didih dari air, keduanya diambil pada tekanan atmosfer. Titik beku zat
didefinisikan sebagai suhu di mana fase padat dan cair ada bersama dalam kesetimbangan, yaitu
tanpa adanya zat cair total yang berubah menjadi padat atau sebaliknya. Secara eksperimen, hal ini
hanya terjadi pada suhu tertentu, untuk tekanan tertentu. Dengan cara yang sama, titik didih
didefinisikan sebagai suhu di mana zat cair dan gas ada bersama dalam kesetimbangan. Karena titik-
titik ini berubah terhadap tekanan, tekanan harus ditentukan (biasanya sebesar 1 atm).
Pada skala Celsius, titik beku dipilih 0 oC (nol derajat Celsius) dan titik didih 100 oC. Pada skala
Fahrenheit, titik beku ditetapkan 32 oF dan titik didih 212 oF. Termometer praktis dikalibrasi dengan
menempatkannya di lingkungan yang telah diatur dengan teliti untuk masing-masing dari kedua suhu
tersebut dan menkitai posisi air raksa atau penunjuk skala. Untuk skala Celsius, jarak antara kedua
tanda tersebut dibagi menjadi seratus bagian yang sama dan menyatakan setiap derajat antara 0 oC
dan 100 oC. Untuk skala Fahrenheit, kedua titik diberi angka 32 oF dan 212 oF, jarak antara keduanya
dibagi menjadi 180 bagian yang sama. Untuk suhu di bawah titik beku air dan di atas titik didih air,
skala dapat dilanjutkan dengan menggunakan selang yang memiliki jarak sama. Bagaimana pun,
termometer biasa hanya dapat digunakan pada jangkauan suhu yang terbatas karena
keterbatasannya sendiri.
Konversi skala termometer Fahrenheit, Celcius dan Kelvin
Setiap suhu pada skala Celsius berhubungan dengan suatu suhu tertentu pada skala Fahrenheit.
Gambar diatas menunjukkan konversi suhu suatu zat dalam skala Celsius dan Fahrenheit. Tentunya
sangat mudah untuk mengonversikannya, mengingat bahwa 0 oC sama dengan 32 oF, dan jangkauan
100o pada skala Celsius sama dengan jangkauan 180o pada skala Fahrenheit. Hal ini berarti

1 oF = o
C= o
C.

Perbandingan beberapa skala termometer adalah sebagai berikut:

TC : (TF 32) : TR = 5 : 9 : 4

Konversi antara skala Celsius dan skala Fahrenheit dapat dituliskan:

TC = (TF 32) atau TF = TC + 32

Konversi antara skala Celsius dan skala Reamur dapat dituliskan:

TC = TR atau TR = TC

Konversi antara skala Fahrenheit dan skala Reamur dapat dituliskan:

TR = (TF 32) atau TF = TR + 32


Persamaan-persamaan diatas merupakan rumus untuk konversi suhu (temperatur)termometer.

FISIKA SMP
o KELAS VII
MATERI FISIKA SMP KELAS 7
o KELAS VIII
MATERI FISIKA SMP KELAS 8
o KELAS IX
MATERI FISIKA SMP KELAS 9
FISIKA SMA
o KELAS X
MATERI FISIKA SMA KELAS 10
o KELAS XI
MATERI FISIKA SMA KELAS 11
o KELAS XII
MATERI FISIKA SMA KELAS 12
FISIKA KULIAH
SOAL FISIKA
o SMP KELAS 7
o SMP KELAS 8
o SMP KELAS 9
o SMA KELAS 10
o SMA KELAS 11
o SMA KELAS 12
o SOAL KULIAH
TOKOH FISIKA
ARTIKEL FISIKA
Main Menu

HomeFisika SMAKelas XPengertian Dan Pengukuran Temperature Untuk SMA Kelas X


Pengertian Dan Pengukuran Temperature Untuk SMA Kelas X
College Loan Consolidation Tuesday, January 26th, 2016 - Kelas X
Temperatur dapat didefinisikan sebagai sifat fisik suatu benda untuk menentukan apakah keduanya
berada dalam kesetimbangan termal. Dua buah benda akan berada dalam kesetimbangan termal jika
keduanya memiliki temperatur yang sama.
Advertisment
Pengukuran Temperatur
Apabila dua benda berada dalam kesetimbangan termal dengan benda ketiga maka keduanya
berada dalam kesetimbangan termal. Pernyataan seperti ini dikenal sebagai hukum ke nol
termodinamika, yang sering mendasaripengukuran temperatur. Materi mengenai termodinamika akan
kita pelajari lebih mendalam di Kelas XI. Berdasarkan prinsip ini, jika kita ingin mengetahui apakah
dua benda memiliki temperatur yang sama maka kedua benda tersebut tidak perlu disentuh dan
diamati perubahan sifatnya terhadap waktu, yang perlu dilakukan adalah mengamati apakah kedua
benda tersebut, masing-masing berada dalam kesetimbangan termal dengan benda ketiga? Benda
ketiga tersebut adalah termometer.
Benda apapun yang memiliki sedikitnya satu sifat yang berubah terhadap perubahan
temperatur dapat digunakan sebagai termometer. Sifat semacam ini disebut sebagai sifat
termometrik (thermometric property). Senyawa yang memiliki sifat termometrik disebutsenyawa
termometrik.
Temperatur zat yang diukur sama besarnya dengan skala yang ditunjukkan olehtermometer saat
terjadi kesetimbangan termal antara zat dengan termometer. Jadi, temperatur yang ditunjukkan oleh
termometer sama dengan temperatur zat yang diukur.

Zat cair yang umum digunakan dalam termometer adalah air raksa. Hal ini dikarenakan air raksa
memiliki keunggulan dibandingkan zat cair lainnya. Keunggulan air raksa dari zat cair lainnya, yaitu

1. dapat menyerap panas suatu benda yang akan diukur sehingga temperatur air raksa sama
dengan temperatur benda yang diukur
2. dapat digunakan untuk mengukur temperatur yang rendah hingga temperatur yang lebih
tinggi karena air raksa memiliki titik beku pada temperatur 39C dan titik didihnya pada
temperatur 357C
3. tidak membasahi dinding tabung sehingga pengukurannya menjadi lebih teliti
4. pemuaian air raksa teratur atau linear terhadap kenaikan temperatur, kecuali pada temperatur
yang sangat tinggi
5. mudah dilihat karena air raksa dapat memantulkan cahaya
Selain air raksa, dapat juga digunakan alkohol untuk mengisi tabung termometer. Akan tetapi, alkohol
tidak dapat mengukur temperatur yang tinggi karena titik didihnya 78C, namun alkohol
dapat mengukur temperatur yang lebih rendah karena titik bekunya pada temperatur 144C. Jadi,
termometer yang berisi alkohol baik untuk mengukur temperaturyang rendah, tetapi tidak dapat
mengukur temperatur yang lebih tinggi.
Skala Pada Beberapa Termometer
Ketika mengukur temperatur dengan menggunakan termometer, terdapat beberapa skala yang
digunakan, di antaranya skala Celsius, skala Reamur, skala Fahrenheit, dan skala Kelvin. Keempat
skala tersebut memiliki perbedaan dalam pengukuran suhunya. Berikut rentang temperatur yang
dimiliki setiap skala.
1. Termometer skala Celsius, Memiliki titik didih air 100C dan titik bekunya 0C. Rentang
temperaturnya berada pada temperatur 0C 100C dan dibagi dalam 100 skala.
2. Temometer skala Reamur, Memiliki titik didih air 80R dan titik bekunya 0R. Rentang
temperaturnya berada pada temperatur 0R 80R dan dibagi dalam 80 skala.
3. Termometer skala Fahrenheit, Memiliki titik didih air 212F dan titik bekunya 32F. Rentang
temperaturnya berada pada temperatur 32F 212F dan dibagi dalam 180 skala.
4. Termometer skala Kelvin, Memiliki titik didih air 373,15 K dan titik bekunya 273,15 K. Rentang
temperaturnya berada pada temperatur 273,15 K 373,15 K dan dibagi dalam 100 skala.
Jadi, jika diperhatikan pembagian skala tersebut, satu skala dalam derajat Celsius sama dengan satu
skala dalam derajat Kelvin, sementara satu skala Celsius kurang dari satuskala Reamur dan
satu skala Celsius lebih dari satu skala Fahrenheit. Secara matematis perbandingan keempat skala
tersebut, yaitu sebagai berikut.

http://fisikazone.com/pengertian-dan-pengukuran-temperature-untuk-sma-kelas-
x/

Jumat, 22 Februari 2013

BAB III. LISTRIK DINAMIS


Hambatan pada kawat Penghantar
Ketika itu, Sedang Pelajaran Fisika. Pelajaran yang
menyenangkan buat Yusron. Bab yang dipelajari
mengenai listrik. Guru sedang menerangkan materi
Hukum Ohm. Yusron sebenarnya sudah paham. Setelah
menerangkan, guru menanyakan kepada siswa, Sudah
paham semua belum?. Yusron dengan semangatnya
bertanya Pak, penjelasan mengenai hambatan jenis
kawat penghantar bagaimana dan yang mempengaruhi
apa saja?
Nah, ada yang mau membantu Yusron?????
Lets GOO,
Hambatan jenis kawat penghantar merupakan hal lain
dari hukum Ohm kata Yusron. Kalian sudah tahu kabel
terbuat dari apa?? Ada dari tembaga, alumunium dll.
Dalam Kabel tersebut, ada kawat yang mempunyai
hambatan.
Apa sich, yang mempengaruhi hambatan pada
kawat ????
- Bila kita naik motor, manakah yang lebih banyak
Hambatannya , 1 Km atau 10 Km? Tentu yang 10 km,
Semakin panjang perjalanan semakin besar hambatan
yang kita alami.
Begitu Juga dengan perjalanan listrik,
semakin panjang kawat penghantar yang
dilaluinya semakin besar hambatannya.
- Lebih enak manakah, Berkendaraan di Jalan lebar atau
di Jalan Sempit ???
Tentu Saja jalan yang labih lebar, karena semakin lebar
hambatannya semaikn sedikit.
Begitu juga listrik yang melalui kawat
penghantar, Senakin besar diameter kawat
penhantar yang ia lalui, maka semakin kecil
hambatan yang ia alami. Jadi semakin besar
diameter kawat penghanmtarnya, semakin
kecil hambatannya.
- Lebih lancar manakah, berkendaraan di jalan Pasar,
jalan pemukiman atau jalan Tol?
Tentu saja jalan tol karena bebas hambatan, jalan
pemukiman kurang lancar karena ada hambatan,
sedang jalan pasar banyak hambatannya.
Hambatan jalan bergantung pada jenis jalannya, begitu
juga hambatannya tergantung dari Bahan penyusunnya.
Jadi hambatan kawat penghantar tergantung
dari jenisnya.
Dari pernyataan diatas dapat disimpulkan
bahwa :
Hambatan kawat sebanding dengan panjang
kawat, berbanding terbalik dengan luas
penampang kawat dan dipengaruhi oleh bahan
penyusun kawat.
Besar hambatan suatu kawat penghantar 1. Sebanding
dengan panjang kawat penghantar. artinya makin
panjang penghantar, makin besar hambatannya, 2.
Bergantung pada jenis bahan kawat (sebanding dengan
hambatan jenis kawat), dan 3. berbanding terbalik
dengan luas penampang kawat, artinya makin kecil luas
penampang, makin besar hambatannya. Jika panjang
kawat dilambangkan , hambatan jenis , dan luas
penampang kawat A. Secara matematis, besar hambatan
kawat dapat ditulis:

Nilai hambatan suatu penghantar tidak bergantung pada


beda potensialnya. Beda potensial hanya dapat
mengubah kuat arus yang melalui penghantar itu. Jika
penghantar yang dilalui sangat panjang, kuat arusnya
akan berkurang. Hal itu terjadi karena diperlukan energi
yang sangat besar untuk mengalirkan arus listrik pada
penghantar panjang. Keadaan seperti itu dikatakan
tegangan listrik turun. Makin panjang penghantar,
makin besar pula penurunan tegangan listrik.
Simak pula Video
Hambatan Listrik Berikut :
Rangakain Hambatan
Rangkaian Seri
Berdasarkan hukum Ohm: V = IR, pada hambatan
R1 terdapat teganganV1 =IR1 dan pada hambatan
R2 terdapat tegangan V2 = IR 2. Karena arus listrik
mengalir melalui hambatan R1 dan hambatan
R2, tegangan totalnya adalah VAC = IR1 + IR2.
Mengingat VAC merupakan tegangan total dan kuat
arus listrik yang mengalir pada rangkaian seperti di atas
(rangkaian tak bercabang) di setiap titik sama maka
VAC = IR1 + IR2
I R1 = I(R1 + R2)
R1 = R1 + R2 ; R1 = hambatan total
Rangkaian seperti di atas disebut rangkaian seri.
Selanjutnya, R1 ditulis Rs (R seri) sehingga Rs = R1 + R2 +
+Rn, dengan n = jumlah resistor. Jadi, jika beberapa
buah hambatan dirangkai secara seri, nilai hambatannya
bertambah besar. Akibatnya, kuat arus yang mengalir
makin kecil. Hal inilah yang menyebabkan nyala lampu
menjadi kurang terang (agak redup) jika dirangkai
secara seri. Makin banyak lampu yang dirangkai secara
seri, nyalanya makin redup. Jika satu lampu mati
(putus), lampu yang lain padam.
Contoh Rangkain Seri :

Rangakaian Paralel
Mengingat hukum Ohm: I = V/R dan I = I1+ I2, maka

Pada rangkaian seperti di atas (rangkaian bercabang),


V AB =V1 = V2 = V. Dengan demikian, diperoleh
persamaan :

Rangkaian yang menghasilkan persamaan seperti di atas


disebut rangkaian paralel. Oleh karena itu, selanjutnya
Rt ditulis Rp (Rp = R paralel). Dengan demikian, diperoleh
persamaan

Berdasarkan persamaan di atas, dapat disimpulkan


bahwa dalam rangkaian paralel, nilai hambatan total
(Rp) lebih kecil dari pada nilai masing-masing hambatan
penyusunnya (R1 dan R2). Oleh karena itu, beberapa
lampu yang disusun secara paralel sama terangnya
dengan lampu pada intensitas normal (tidak mengalami
penurunan). Jika salah satu lampu mati (putus), lampu
yang lain tetap menyala.
Contoh Gambar Rangkaian Pararel :

Untuk lebih jelasnya, lihat Video berikut :

RINGKASAN :

KUAT ARUS LISTRIK (I)


Aliran listrik ditimbulkan oleh muatan listrik yang bergerak di dalam suatu penghantar. Arah
arus listrik (I) yang timbul pada penghantar berlawanan arah dengan arah gerak elektron.
Muatan listrik dalam jumlah tertentu yang menembus suatu penampang dari suatu penghantar
dalam satuan waktu tertentu disebut sebagai kuat arus listrik. Jadi kuat arus listrik adalah
jumlah muatan listrik yang mengalir dalam kawat penghantar tiap satuan waktu. Jika dalam
waktu t mengalir muatan listrik sebesar Q, maka kuat arus listrik I adalah:

para ahli telah melakukan perjanjian bahwa arah arus listrik mengalir dari kutub positif ke kutub
negatif. Jadi arah arus listrik berlawanan dengan arah aliran elektron.
BEDA POTENSIAL ATAU TEGANGAN LISTRIK (V)
Terjadinya arus listrik dari kutub positif ke kutub negatif dan aliran elektron dari kutub negatif
ke kutub positif, disebabkan oleh adanya beda potensial antara kutub positif dengan kutub
negatif, dimana kutub positif mempunyai potensial yang lebih tinggi dibandingkan kutub negatif.
Beda potensial antara kutub positif dan kutub negatif dalam keadaan terbuka disebut gaya gerak
listrik dan dalam keadaan tertutup disebut tegangan jepit.

HUBUNGAN ANTARA KUAT ARUS LISTRIK (I) DAN TEGANGAN LISTRIK (V)
Hubungan antara V dan I pertama kali ditemukan oleh seorang guru Fisika berasal dari Jerman
yang bernama George Simon Ohm. Dan lebih dikenal sebagai hukum Ohm yang berbunyi:
Besar kuat arus listrik dalam suatu penghantar berbanding langsung dengan beda potensial
(V) antara ujung-ujung penghantar asalkan suhu penghantar tetap.
Hasil bagi antara beda potensial (V) dengan kuat arus (I) dinamakan hambatan listrik atau
resistansi (R) dengan satuan ohm.

HUBUNGAN ANTARA HAMBATAN KAWAT DENGAN JENIS KAWAT DAN


UKURAN KAWAT
Hambatan atau resistansi berguna untuk mengatur besarnya kuat arus listrik yang mengalir
melalui suatu rangkaian listrik. Dalam radio dan televisi, resistansi berguna untuk menjaga kuat
arus dan tegangan pada nilai tertentu dengan tujuan agar komponen-komponen listrik lainnya
dapat berfungsi dengan baik.
Untuk berbagai jenis kawat, panjang kawat dan penampang berbeda terdapat hubungan sebagai
berikut:
HUKUM I KIRCHOFF
Dalam alirannya, arus listrik juga mengalami cabang-cabang. Ketika arus listrik melalui
percabangan tersebut, arus listrik terbagi pada setiap percabangan dan besarnya tergantung ada
tidaknya hambatan pada cabang tersebut. Bila hambatan pada cabang tersebut besar maka
akibatnya arus listrik yang melalui cabang tersebut juga mengecil dan sebaliknya bila pada
cabang, hambatannya kecil maka arus listrik yang melalui cabang tersebut arus listriknya besar.
Hukum I Kirchoff berbunyi:
Jumlah kuat arus listrik yang masuk ke suatu titik simpul sama dengan jumlah kuat arus
listrik yang keluar dari titik simpul tersebut.
Hukum I Kirchhoff tersebut sebenarnya tidak lain sebutannya dengan hukum kekekalan muatan
listrik.
Hukum I Kirchhoff secara matematis dapat dituliskan sebagai:

HUKUM II KIRCHOFF
Pemakaian Hukum II Kirchhoff pada rangkaian tertutup yaitu karena ada rangkaian yang tidak
dapat disederhanakan menggunakan kombinasi seri dan paralel.
Umumnya ini terjadi jika dua atau lebih ggl di dalam rangkaian yang dihubungkan dengan cara
rumit sehingga penyederhanaan rangkaian seperti ini memerlukan teknik khusus untuk dapat
menjelaskan atau mengoperasikan rangkaian tersebut. Jadi Hukum II Kirchhoff merupakan
solusi bagi rangkaian-rangkaian tersebut yang berbunyi:
Di dalam sebuah rangkaian tertutup, jumlah aljabar gaya gerak listrik () dengan penurunan
tegangan (IR) sama dengan nol.
Hukum Kirchoff II dirumuskan sebagai berikut:

ENERGI LISTRIK

Karena q = I . t, dimana I adalah kuat arus listrik dan t waktu, maka besar usaha
yang dilakukan adalah:
W=V.I.t
Karena V = I . R, maka besar usaha W yang sama dengan energi listrik adalah

DAYA LISTRIK
Besar Daya listrik (P) pada suatu alat listrik adalah merupakan besar energi listrik (W) yang
muncul tiap satuan waktu (t), kita tuliskan.
Diposkan oleh tar man

Kamis, 14 Februari 2013

BAB II. SUHU DAN KALOR


Suhu dan Kalor
Definisi Suhu dan Kalor
(Klas X Semester 2)
Definisi Suhu
Suhu merupakan ukuran relative panas dinginnya suatu benda atau sistem. Alat ukur untuk
mengukur perubahan suhu yaitu thermometer. Ada beberapa jenis thermometer yang memiliki
skala bawah dengan acuan es pada saat membeku dan skala atas dengan acuan air mendidih.
Acuan ini ditentukan pada tekanan 1 atm = 76 cm Hg.

Lihat gambar(1) berikut

Gambar 1

Dari gambar (1) diatas, rentang skala Celcius adalah 100 skala, Reamur 80 skala, Fahrenheit 180
skala dan Kelvin 100 skala. Jika skala C, R, F dan K kita bandingkan melalui pembagian skalanya
akan didapat : C : R : F : K adalah 100 : 80 : 180 : 100 dan disederhanakan menjadi C : R : F : K
adalah 5 : 4 : 9 : 5. Dari gambar (1), kita mendapatkan hubungan anatar C, R, F dan K sebagai
berikut (gambar 2)
Gambar 2

Contoh Soal :
Sejumlah air didalam teko dpanaskan hingga suhunya 50 C. Hitunglah suhu air tersebut jika
diukur dalam skala Reamur, Fahrenheit dan Kelvin.
Jawab :
50 C = 4/5 X 50 R = 40 R
= 9/5 X 50 + 32 F = 122 F
= 50 + 273 K = 323 K
Definisi Kalor
adalah bentuk Energi yang berpindah dari suhu tinggi ke suhu rendah. Jika suatu benda
menerima / melepaskan kalor maka suhu benda itu akan naik/turun atau wujud benda berubah.

BEBERAPA PENGERTIAN KALOR

1 kalori: adalah kalor yang dibutuhkan untuk menaikkan suhu 1 gram air sebesar 1C.
1 kalori = 4.18 joule atau 1 joule = 0.24 kalori
Kapasitas kalor (C): adalah banyaknya kalor yang dibutuhkan oleh zat untuk menaikkan
suhunya 1C (satuan kalori/C).
Kalor jenis (c): adalah banyaknya kalor yang dibutuhkan untuk menaikkan 1 gram atau 1 kg
zat sebesar 1C (satuankalori/gram.C atau kkal/kg C).
Kalor yang digunakan untuk menaikkan/menurunkan suhu tanpa mengubah wujud zat,
mempunyai persamaan :

Gambar 3
hubungan antar Q, m, c, C dan ^t

Keterangan :

Q = kalor yang di lepas/diterima (kalori, Joule)

C = kapasitas kalor ( kal/C, Joule/K)


m = massa benda ( gram. kg)
c = kalor jenis benda (kal/grC, Joule/kg K)
^t = kenaikan/penurunan suhu, perubahan suhu (C, K)

Konversi Suhu
Test kemampuan anda sebelum anda klik tombol Convert. Anda ingin memasukkan angka /skala yang lain?
Klik Konversi Suhu

Perubahan wujud Zat


Suhu dan Kalor
Contoh Soal dan Pembahasan tentang Kalor dan
Pemuaian, Materi Fisika SMA Kelas 10 (X)
mencakup kalor jenis, kalor laten (kalor lebur,
kalor uap), Asas Pertukaran kalor / Asas Black dan
pemuaian panjang, volume suatu bahan.

Soal No. 1
Panas sebesar 12 kj diberikan pada pada sepotong logam bermassa 2500 gram yang memiliki
suhu 30oC. Jika kalor jenis logam adalah 0,2 kalori/groC, tentukan suhu akhir logam!
Pembahasan
Data :
Q = 12 kilojoule = 12000 joule
m = 2500 gram = 2,5 kg
T1 = 30oC
c = 0,2 kal/groC = 0,2 x 4200 joule/kg oC = 840 joule/kg oC
T2 =...?

Q = mcT
12000 = (2,5)(840) . T
T = 12000/2100 = 5,71 oC

T2 = T1 + T = 30 + 5,71 = 35,71 oC

Soal No. 2
500 gram es bersuhu 12oC dipanaskan hingga suhu 2oC. Jika kalor jenis es adalah 0,5 kal/goC,
tentukan banyak kalor yang dibutuhkan, nyatakan dalam satuan joule!

Pembahasan
Data :
m = 500 gram
T1 = 12oC
T2 = 2oC
T = T2 T1 = 2o (12 ) = 10oC
c = 0,5 kalori/groC
Q = ....?

Q = mcT
Q = (500)(0,5)(10) = 2500 kalori

1 kalori = 4,2 joule


Q = 2500 x 4,2 = 10500 joule

Soal No. 3
500 gram es bersuhu 0oC hendak dicairkan hingga keseluruhan es menjadi air yang bersuhu 0oC.
Jika kalor jenis es adalah 0,5 kal/goC, dan kalor lebur es adalah 80 kal/gr, tentukan banyak kalor
yang dibutuhkan, nyatakan dalam kilokalori!
Pembahasan
Data yang diperlukan:
m = 500 gram
L = 80 kalori/gr
Q = ....?

Q = mL
Q = (500)(80) = 40000 kalori = 40 kkal

Soal No. 4
500 gram es bersuhu 0oC hendak dicairkan hingga menjadi air yang bersuhu 5 oC. Jika kalor jenis
es adalah 0,5 kal/goC, kalor lebur es adalah 80 kal/gr, dan kalor jenis air 1 kal/g oC, tentukan
banyak kalor yang dibutuhkan!

Pembahasan
Data yang diperlukan:
m = 500 gram
cair = 1 kalori/groC
Les = 80 kalori/gr
Suhu akhir 5oC
Q = .....?

Untuk menjadikan es 0oC hingga menjadi air 5oC ada dua proses yang harus dilalui:
Proses meleburkan es 0oC menjadi air suhu 0oC, kalor yang diperlukan namakan Q1
Q1 = mLes = (500)(80) = 40000 kalori

Proses menaikkan suhu air 0oC hingga menjadi air 5oC, kalor yang diperlukan namakan Q2
Q2 = mcairTair = (500) (1)(5) = 2500 kalori

Kalor total yang diperlukan:


Q = Q1 + Q2 = 40000 + 2500 = 42500 kalori

Soal No. 5
500 gram es bersuhu 10oC hendak dicairkan hingga menjadi air yang bersuhu 5oC. Jika kalor
jenis es adalah 0,5 kal/goC, kalor lebur es adalah 80 kal/gr, dan kalor jenis air 1 kal/g oC, tentukan
banyak kalor yang dibutuhkan!

Pembahasan
Data yang diperlukan:
m = 500 gram
ces = 0,5 kalori/groC
cair = 1 kal/groC
Les = 80 kal/gr
Suhu akhir 5oC
Q = .....?

Untuk menjadikan es 10oC hingga menjadi air 5oC ada tiga proses yang harus dilalui:
Proses untuk menaikkan suhu es dari 10oC menjadi es bersuhu 0oC, kalor yang diperlukan
namakan Q1
Q1 = mcesTes = (500)(0,5)(10) = 2500 kalori

Proses meleburkan es 0oC menjadi air suhu 0oC, kalor yang diperlukan namakan Q2
Q2 = mLes = (500)(80) = 40000 kalori

Proses menaikkan suhu air 0oC hingga menjadi air 5oC, kalor yang diperlukan namakan Q3
Q3 = mcairTair = (500)(1)(5) = 2500 kalori

Kalor total yang diperlukan:


Q = Q1 +Q2 + Q3 = 2500 + 40000 + 2500 = 45000 kalori

Soal No. 6
200 gram air bersuhu 80oC dicampurkan dengan 300 gram air bersuhu 20oC. Tentukan suhu
campurannya!

Pembahasan
Data yang diperlukan:
m1 = 200 gram
m2 = 300 gram
T1 = 80 t
T2 = t 20
Suhu akhir = t = ......?

Qlepas = Qterima
m1c1T1 = m2c2T2
(200)(1) (80 t) = (300)(1)(t 20)
(2)(1)(80 t) = (3)(1)(t 20)
160 2t = 3t 60
5t = 220
t = 44oC

Soal No.7
Sepotong es bermassa 100 gram bersuhu 0C dimasukkan kedalam secangkir air bermassa 200
gram bersuhu 50C.

Jika kalor jenis air adalah 1 kal/grC, kalor jenis es 0,5 kal/grC, kalor lebur es 80 kal/gr dan
cangkir dianggap tidak menyerap kalor, berapa suhu akhir campuran antara es dan air tersebut?
Pembahasan
Soal di atas tentang pertukaran kalor / Asas Black. Kalor yang dilepaskan air digunakan oleh es
untuk mengubah wujudnya menjadi air dan sisanya digunakan untuk menaikkan suhu es yang
sudah mencair tadi.

dengan Q1 adalah kalor yang dilepaskan air, Q2 adalah kalor yang digunakan es untuk
melebur/mencair dan Q3 adalah kalor yang digunakan untuk menaikkan suhu es yang telah
mencair.

Berikutnya adalah contoh soal tentang pencampuran air panas dan air dingin dengan
memperhitungkan kalor yang diserap oleh bejana atau wadahnya:

Soal No. 8
Air bermassa 100 g bersuhu 20C berada dalam wadah terbuat dari bahan yang memiliki kalor
jenis 0,20 kal/gC dan bermassa 200 g. Ke dalam wadah kemudian dituangkan air panas
bersuhu 90C sebanyak 800 g. Jika kalor jenis air adalah 1 kal/gC, tentukan suhu akhir air
campuran!

Pembahasan
Kalor yang berasal dari air panas 90C saat pencampuran, sebagian diserap oleh air yang
bersuhu 20 dan sebagian lagi diserap oleh wadah. Tidak ada keterangan terkait dengan suhu
awal wadah, jadi anggap saja suhunya sama dengan suhu air di dalam wadah, yaitu 20C.

Data :
-Air panas
m1 = 800 g
c1 = 1 kal/gC

-Air dingin
m2 = 100 g
c2 = 1 kal/gC

-Wadah
m3 = 200 g
c3 = 0,20 kal/gC

Qlepas = Qterima
m1c1T1 = m2c2T2 + m3c3T3

Soal No. 9
Perhatikan gambar berikut! Dua buah logam terbuat dari bahan yang sama disambungkan.
Jika panjang logam P adalah dua kali panjang logam Q dan konduktivitas thermal logam P
adalah setengah dari logam Q, tentukan suhu pada sambungan antara kedua logam!

Pembahasan
Banyaknya kalor persatuan waktu yang melalui logam P sama dengan kalor yang melalui logam
Q. Gunakan rumus perpindahan kalor secara konduksi :

Soal No. 10
Sebuah tangki baja yang memiliki koefisien muai panjang 12 x 10-6/C, dan bervolume 0,05
m3 diisi penuh dengan bensin yang memiliki koefisien muai ruang 950 x 10 -6/C pada temperatur
20C. Jika kemudian tangki ini dipanaskan sampai 50C, tentukan besar volume bensin yang
tumpah! (Sumber : Soal SPMB)

Pembahasan

Soal No. 11
Plat baja dipanaskan hingga suhunya mencapai 227C hingga kalor radiasi yang dipancarkan
sebesar E J/s. Jika plat terus dipanasi hingga suhunya mencapai 727 tentukan kalor radiasi yang
dipancarkan!

Pembahasan
Data :
T1 = 227C = 227 + 273 = 500 K
T2 = 727C = 727 + 273 = 1000 K

Kalor yang diradiasikan oleh suatu permukaan benda berbanding lurus dengan pangkat empat
suhu mutlaknya, sehingga:
Soal No. 12
Panjang batang rel kereta api masing-masing 10 meter, dipasang pada suhu 20C. Diharapkan
pada suhu 30C rel tersebut saling bersentuhan. Koefisien muai rel batang rel kereta api 1210
6
/C. Jarak antara kedua batang yang diperlukan pada suhu 20C adalah...
A. 3,6 mm
B. 2,4 mm
C. 1,2 mm
D. 0,8 mm
E. 0,6 mm
(Soal Ebtanas 1988)

Pembahasan
Dengan asumsi rel sebelah kiri memanjang ke kanan sebesar l dan rel sebelah kanan
memanjang ke kiri sebesar l, maka lebar celah yang diperlukan d adalah sama dengan dua kali
l

sehingga