Anda di halaman 1dari 11

PENGUKURAN DEBIT DI SALURAN TERBUKA

PENGUKURAN DEBIT DI SALURAN TERBUKA

1 LATAR BELAKANG
Dalam sebuah kegiatan pertaian, kebutuhan air sudah tak ter elakkan lagi. Tanaman
yang diusahakan dalam kegiatan pertanian pada umumya membutuhkan air yang cukup agar
dapat tumbuh dan berkembang dengan baik, hingga menghasilkan produksi yang maksimal
tentunya.

Pemberian air pada tanaman haruslah sesuai dengan yang dibutuhkan tanaman
tersebut, pemberian air yang berlebihan atau tidak sesuai dengan yang dibutuhkan tanaman
juga akan mengganggu pertumbuhan tanaman tersebut, atau bahkan akan berakibat pada
kematianpada tanaman tersbut.

Sedangkan pada tanaman yang pemberian airnya kurang juga akan berakibat
terhambatnya pertumbuhan pada tanaman, oleh karena itu pemberian air pada tanamn
hendaklah dilakukan sesuai dengan yang dibutuhkan tanaman.

Factor lain, susahnya air disuatu tempat atau kawasan tertentu membuat petani
kesusahan dalam usaha pertaniannya, hendaknya dalam situasi seperti ini diperlukan system
manajemen irigasi yang baik pengelolaan air.

Dalam sebuah saluran irigasi, mengetahui debit aliran dalam sebuah sluran irigasi
dalah sangat penting. Ini bertujuan untuk dapat mengontrol laju penggunaan air pada petak
sawah dengan sesuai dengan kebutuhan suatu lahan atau tanaman di sebuah lahan tersebut.
Dengan mengetahui besarnya laju aliran per satuan waktu (debit) diharapkan akan dapat
mengontrol laju aliran sesuai dengan yang dibutuhkan.

Oleh karena itu perlunya pengukuran debit aliran pada sebuah saluran irigasi adalah
merupakan suatu metoda ataupun kepentingan dalam sebuah manajemen irigasi atau dalam
sebuah system keirigasian.
Debit aliran merupakan satuan untuk mendekati nilai-nilai hidrologis proses yang terjadi
dilapangan. Kemampuan pengukuran debit aliran sangat diperlukan untuk mengetahui
potensi suatu sumber daya air disuatu daerah atau wilayah DAS. Debit aliran dapat dijadikan
sebuah alat untuk memonitor dan mengefaluasi neraca air suatu kawasan melalui pendekatan
potensi sumber daya air permukaan yang ada.

2 TUJUAN
Tujuan dari pengukuran debit saluran terbuka ini adalah :
1. Menentukan hubungan head dengan debit pada bangunan ukur cipoletti
2. Mengukur debit dengan pelampung
3. Mengukur debit dengan current meter

3 MANFAAT
Manfaat dari praktikum pengukuran debit saluran terbuka ini adalah :
1. Agar mahasiswa mengerti dalam penggunaan alat ukur current meter
2. Agar mahasiswa mengerti tentang pengukuran debit dengan pelampung
3. Agar mahasiswa dapat menentukan hubungan head dengan debit pada bangunan ukur
cippoleti

4 TINJAUAN PUSTAKA
4.1 Debit secaraLangsung ( debit sesaat)
Dalam pengukuran debit air secara langsung digunakan beberapa alat pengukur yang
langsung dapat menunjukkan ketersediaan air pengairan bagi penyaluran melalui jaringan-
jaringan yang telah ada atau telah dibangun. Dalam hal ini berbagai alat pengukur yang telah
biasa digunakan yaitu:
1. Alat Ukur Pintu Romijn
Ambang dari pintu Romijn dalam pelaksanaan pengukuran dapat dinaik
turunkan,yaitu dengan bantuan alat pengangkat. Pengukuran debit air dengan pintu ukur
romijin yaitu dengan menggunakan rumus:

Q= 1,71 b h3/2
Keterangan:
Q = debit air
b = lebar ambang
h = tinggi permukaan air

2.Sekat Ukur Thompson


Berbentuk segitiga sama kaki dengan sudut 90o dapat dipindah-pindahkan karena
bentuknya sangat sederhana (potable), lazim digunakan untuk mengukur debit air yang relatif
kecil. Penggunaan dengan alat ini dengan memperhatikan rumus sebagai berikut:

Q= 0,0138

Keterangan:
Q = debit air
h = tinggi permukaan air

3.Alat Ukur Parshall Flume


Alat ukur tipe ini ditentukan oleh lebar dari bagian penyempitan,yang artinya debit air
diukur berdasarkan mengalirnya air melalui bagian yang menyempit (tenggorokan) dengan
bagian dasar yang direndahkan.

4.Bangunan Ukur Cipoletti


Prinsip kerja bangunan ukur Cipoletti di saluran terbuka adalah menciptakan aliran kritis.
Pada aliran kritis, energi spesifik pada nilai minimum sehingga ada hubungan tunggal antara
head dengan debit. Dengan kata lain Q hanya merupakan fungsi H saja. Pada umumnya
hubungan H dengan Q dapat dinyatakan dengan:

Q=k.H.n
Keterangan:
Q = debit air
H = head
k dan n = konstanta
Besarnya konstanta k dan n ditentukan dari turunan pertama persamaan energi pada
penampang saluran yang bersangkutan. Pada praktikum ini besarnya konstanta k dan n
ditentukan dengan membuat serangkaian hubungan H dengan Q yang apabila diplotkan pada
grafik akan diperoleh garis hubungan H Q yang paling sesuai untuk masing masing jenis
bangunan ukur.

Dalam pelaksanaan pengukuran-pengukuran debit air,secara langsung, dengan pintu ukur


romijin,sekat ukur tipe cipoletti dan sekat ukur tipe Thompson biasanya lebih mudah karena
untuk itu dapat memperhatikan daftar debit air yang tersedia.

4.2 Pengukuran debit air secara tidak langsung:


1.Pelampung
Terdapat dua tipe pelampung yang digunakan yaitu: (i) pelampung permukaan, dan (ii)
pelampung tangkai. Tipe pelampung tangkai lebih teliti dibandingkan tipe pelampung
permukaan. Pada permukaan debit dengan pelampung dipilih bagian sungai yang lurus dan
seragam, kondisi aliran seragam dengan pergolakannya seminim mungkin. Pengukuran
dilakukan pada saat tidak ada angin. Pada bentang terpilih (jarak tergantung pada kecepatan
aliran, waktu yang ditempuh pelampunh untuk jarak tersebut tidak boleh lebih dari 20 detik)
paling sedikit lebih panjang dibanding lebar aliran. Kecepatan aliran permukaan ditentukan
berdasarkan rata rata yang diperlukan pelampung menempuh jarak tersebut. Sedang
kecepatan rata rata didekati dengan pengukuran kecepatan permukaan dengan suatu
koefisien yang besarnya tergantung dari perbandingan antara lebar dan kedalaman air.
Koefisien kecepatan pengaliran dari pelampung permukaan sebagai berikut:

B/H 5 10 15 20 30 40
Vm/Vs 0,98 0,95 0,92 0,90 0,87 0,85

Keterangan:
B = lebar permukaan aliran
H = kedalaman air
Vm = kecepatan rata rata
Vs = kecepatan pada permukaan
Dalam pelepasan pelampung harus diingat bahwa pada waktu pelepasannya,
pelampung tidak stabil oleh karena itu perhitungan kecepatan tidak dapat dilakukan pada saat
pelampung baru dilepaskan, keadaan stabil akan dicapai 5 detik sesudah pelepasannya. Pada
keadaan pelampung stabil baru dapat dimulai pengukuran kecepatannya. Debit aliran
diperhitungkan berdasarkan kecepatan rata rata kali luas penampang. Pada pengukuran
dengan pelampung, dibutuhkan paling sedikit 2 penampang melintang. Dari 2 pengukuran
penampang melintang ini dicari penampang melintang rata ratanya, dengan jangka garis
tengah lebar permukaan air kedua penampang melintang yang diukur pada waktu bersama
sama disusun berimpitan, penampang lintang rata-rata didapat dengan menentukan titik titik
pertengahan garis garis horizontal dan vertikal dari penampang itu, jika terdapat tiga
penampang melintang, maka mula mula dibuat penampang melintang rata rata antara
penampang melintang rata rata yang diperoleh dari penampang lintang teratas dan
terbawah. Debit aliran kecepatan rata rata:

Q = C . Vp Ap

Keterangan:
Q = debit aliran
C = koefisien yang tergantung dari macam pelampung yang digunakan
Vp = kecepatan rata rata pelampung
Ap = luas aliran rata rata

2. Pengukuran dengan Current Meter


Alat ini terdiri dari flow detecting unit dan counter unit. Aliran yang diterima
detecting unit akan terbaca pada counter unit, yang terbaca pada counter unit dapat
merupakan jumlah putaran dari propeller maupun langsung menunjukkan kecepatan aliran,
aliran dihitung terlebih dahulu dengan memasukkan dalam rumus yang sudah dibuat oleh
pembuat alat untuk tiap tiap propeller. Pada jenis yang menunjukkan langsung, kecepatan
aliran yang sebenarnya diperoleh dengan mengalihkan factor koreksi yang dilengkapi pada
masing-masing alat bersangkutan. Propeler pada detecting unit dapat berupa : mangkok, bilah
dan sekrup. Bentuk dan ukuran propeler ini berkaitan dengan besar kecilnya aliran yang
diukur.

Debit aliran dihitung dari rumus :


Q = V x A
dimana :
V = Kecepatang aliran
A = Luas penampang

Dengan demikian dalam pengukuran tersebut disamping harus mengukur kecepatan


aliran, diukur pula luas penampangnya. Distribusi kecepatan untuk tiap bagian pada saluran
tidak sama, distribusi kecepatan tergantung pada :
Bentuk saluran
Kekasaran saluran dan
Kondisi kelurusan saluran

Dalam penggunaan current meter pengetahuan mengenai distribusi kecepatan ini amat
penting. Hal ini bertalian dengan penentuan kecepatan aliran yang dapat dianggap mewakili
rata-rata kecepatan pada bidang tersebut. Dari hasil penelitian United Stated Geological
Survey aliran air di saluran (stream) dan sungai mempunyai karakteristik distribusi
kecepatan sebagai berikut:
a. Kurva distribusi kecepatan pada penampang melintang berbentuk parabolic.
b. Lokasi kecepatan maksimum berada antara 0,05 s/d 0,25 h kedalam air dihitung dari
permukaan aliran.
c. Kecepatan rata-rata berada 0,6 kedalaman dibawah permukaan air.
d. Kecepatan rata-rata 85 % kecepatan permukaan.
e. Untuk memperoleh ketelitian yang lebih besar dilakukan pengukuran secara mendetail
kearah vertical dengan menggunakan integrasi dari pengukuran tersebut dapat dihitung
kecepatan rata-ratanya. Dalam pelaksanaan kecepatan rata-rata nya.

Pengukuran luas penampang aliran dilakukan dengan membuat profil penampang


melintangnya dengan cara mengadakan pengukuran kea rah horikzonta l(lebar aliran) dan ke
arah vertical (kedalamam aliran).Luas aliran merupakan jumlah luas tiap bagian (segmen)
dari profil yang terbuat pada tiap bagian tersebut di ukur kecepatan alirannya.

Debit aliran di segmen = ( Qi ) = Ai x Vi


Keterangan : Qi : Debit aliran segmen i
Ai : Luas aliran pada segmen i
Vi : Kecepatan aliran pada segmen ini

5 BAHAN DAN METODA


5.1 ALAT DAN BAHAN
Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini antara lain :
Meteran
Current meter
Pelampung
Rambu ukur

5.2 METODA
Cara kerja dari praktikum ini adalah :
I. Dengan curren meter
Ukur kedalaman air
Hitung luas penampang basah
Ukur kecepatan aliran air dengan current meter pada jarak 1 meter dan kedalaman 0,6 dan
0.2.
Catat hasil pengamatan

II. Dengan pelampung


Ukur luas penampang basah
Jalankan (hanyutkan) pelampung dalam jarak tertentu dan catat waktu tempuh
Catat hasil pengamatan

III. Dengan bangunan ukur cipoleti


Ukur luas penampang basah
Catat hasil pengamatan
Cari debit dengan menggunakan rumus

6 HASIL DAN PEMBAHASAN


6.1 HASIL

a) Dengan menggunakan method cipoletti

Head (m) Kedalaman (m) Debit (m3/s)


6.8 0.39 3.08

b) Dengan menggunakan pelampung

No. Pelampung Waktu Kecepatan (m/s) Debit (m3/s)

1 50,06 s 0.639 3.475

2 59,44 s 0.504 2.741

3 58,86 s 0.509 2.768

Rata-rata 56,12 s 0.550 2.513

Luas terapusium = 5.439 m2


c) Dengan menggunakan methoda current meter.

no titik Kedalama Lebar Luas (m) Kecepatan rata- Debit


n rata (m3/det) (m3/det)
1 1 78 1 0.351 0.569 0.92
2 2 71 1 0.71 0.559 0.396
3 3 80 1 0.8 0.543 0.434
4 4 75 1 0.75 0.504 0.378
5 5 76 1 0.76 0.565 0.429
6 6 76 93 0.343 0.603 0.206
Debit total (m3/det) 2.763

1.6.2 PEMBAHASAN

Pada metode pelampung diperoleh debit air sebesar 2.513 m 3/s dan pada metode
Current meter diperoleh debit air sebesar 0,46 m 3/s. Selisih debit air pada kedua metode yang
digunakan ini adalah 2.053 m3/s. Hal ini memperihatkan bahwa apabila metode yang
digunakan berbeda, maka akan menghasilkan debit air yang berbeda pula.

Perbedaan ini disebabkan karena beberapa faktor yakni : pada metode pelampung
angin sangat berpengaruh besar terhadap cepat atau lambatnya pelampung bergerak, apabila
semakin kuat angin yang menghembus pelampung maka semakin cepat pula pelampung
bergerak dan juga kuatnya angin berhembus juga mempengaruhi arah gerak pelampung
mengikuti arah angin sehingga mengakibatkan jalannya pelampung tidak lurus dan jarak
yang ditempuh bertambah karna berbelok beloknya pelampungdan sebaliknya ketika
hembusan angin tidak kuat maka gerak pelampung yang dipengaruhi arus air menjadi lebih
stabil.

Pada metode current meter sesungguhnya dasar perairan berpengaruh juga terhadap
nilai h karena dasar perairan yang berlumpur membuat kaki atau dasar papan bercelah akan
terbenam beberapa centimeter yang mengakibatkan terjadi perubahan nilai h dan pada
akhirnya nilai H pun ikut berubah. Dari hasil debit air diatas juga dapat kita ketahui bahwa
perairan yang menjadi objek praktikum termasuk kedalam komunitas lotik zona tenang (pool
zone).

Menurut Kasry (2010) zona tenang adalah perairan yang lebih dalam dimana
kecepatan arus melemah dan material pasir dan material hanyut lainnya cendrung menempel
pada dasar, sehingga terdapat dasar lunak tidak cocok untuk benthos permukaan tetapi cocok
bagi organisme organisme yang membenamkan dirinya, nekton dan beberapa plankton.

1.7 PENUTUP
1.7 .1 KESIMPULAN
Pengukuran debit aliran dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan cara langsung
dan metoda tidak langsung. Pengukuran debit aliran sangat dibutuhkan untuk mengatur dan
ataupun dalam hal penglolaan jaringan irigasi maupun pengonttrolan.

Dari pengamatan paktikum diatas dapat dilihat bahwa pengukuran debitaliran juga
dapat dilakuka secara sederhana yaitu dengan menggunakan pelampung. Selain tiu
pengukuran debit dengan menggunakan alat ukur current meter juga mempunyai kelemahan.
Sehingga jika dalam sebuah pengamatan yang tidak teliti akan memberikan hasil yang
berbeda juga.

1.7.2 SARAN
Agar praktikum dilakukan dengan serius dan sunguh-sunguh, sehingga ilmu yang
dipelajari selama praktikum dapat diserap dengan baik. Dan juga agar praktikum dapat
dilakukan dengan waktu yang maksimal.

4.2 Pembahasan
Pengukuran debit sungai yang dilakukan pada saat praktikum menggunakan dua
metode, yaitu metode apung ( floating method) dan menggunakan alat current
meter.Berdasarkan data dan hasil perhitungan kedua metode tersebut menghasilkan debit
yang jauh berbeda dengan selisih antara keduanya mencapai 7,101 m 3/s.Tentunya hal tersebut
dikarena kedua debit didapatkan dari dua pengukuran yang berbeda.Dalam prakteknya di
lapangan banyak factor-faktor yang mengakibatkan ketidakakuratan dalam perhitungan debit
aliran sungai.
Pada pengukuran dengan metode apung, karakteristik sungai yang tidak beraturan,
baik dari segi kedalaman, kecepatan arus maupun medn yang berat sehingga menyulitkan
praktikan dalam menetukan lokasi yang tepat untuk pengukuran.Hasil praktikum dengan
menggunakan metode apung ini kecepatan aliran yang didapatkan relative dengan selisih
konstan, yaitu 1m/s namun pada pengukuran terakhir berubah signifikan, kecepatannya jauh
lebih lambat dari perngukuran sebelumnya, yaitu pada pengukuran dengan benda dua
pengamatan ketiga didapatkan kecepatan aliran sungai mencapai 0,92 m/s yang jauh lebih
kecil secara berturut-turut sebesar 0,37; 0,55 dari pengamatan 2 dan 1 dengan benda yang
sama.Hal tersebut dikarenakan aliaran air yang tidak beraturan sehingga sesekali benda yang
terapung di aliran permukaan sungai terjebak oleh cekungan arus sehingga perjalanan benda
dari pengamatan 1 dan 2 tidak lancer yang mengakibatkan waktu tempuhnya jauh dari
pengamatan yang lain.Penggunaan benda sebagi alat yang mengapung di aliran sungai juga
perlu diperhatikan.Hasil pengamatan antara benda 1 dan 2 yang mempunyai perbedaan
ukuran menyebabkan perbedaan kecepatan aliran yang di dapatnya.Pada pengamatan di
dapatkan benda 1 yang ukurannya lebih kecil dari benda 2 ternyata mempunyai kecepatan
rata-rata yang lebih besar dibandingkan dengan benda 2 yang berukuran lebih besar, yaitu
kecepatan rata-rata benda 1 mencapai 1,32 m/s sedangkan pada benda 2 kecepatnnya
mencapai1,22 m/s, terdapat perbedaan yang mencapai 1,1 m/s.Selain itu juga, menurut
referensi jarak pengamatan setidaknya benda untuk mencapai titik akhir pengamatan
memerlukan waktu 20 detik.Namun hasil praktikum hanya ada satu kali pengamatan yang
mencapai waktu lebih dari 20 detik selebihnya kurang dari 20 detik, itu juga benda yang
mencapai waktu lebih dari 20 detik dikarenakan terjebak di pusaran air sehingga waktu
tempuhnya menjadi lebih lama.Dengan demikian, jarak pengamatan yang mencapai 22 m itu
masih kurang untuk suatu pengamatan kecepatan aliran sungai pada keadaan aliran sungai
tersebut, sehingga data yang didapatkan pun kurang akurat.
Berbeda hal nya dengan metode apung, metode pengukuran debit air dengan current
meter ini lebih sulit penggunaannya.Pengukuran kecepatan aliran airnya tidak sesederhana
metode apung, pada metode ini kedalaman sungai menjadi suatu penentu dalam pengukuran,
selain itu juga sungai harus dibagi ke beberapa bagian untuk mendapatkan kecepatan rata-rata
aliran sungai pada dari bagian tepi dan tengah.Sehingga sebelum pelaksanaan pengamatan
perlu memperhatikan beberapa hal, yang utama adalah kedalaman sungai, selain itu juga arus
tidak boleh terhalang oleh suatu benda atau adanya batuan yang menghalangi sebab hal
tersebut akan mempengaruhi terhadap hasil pengamatan.Hasil pengamatan menunjukan
kecepatan aliran sungai pada segmen tengah lebih besar dai pada bagian tepi kiri dan
kanan.Dari hasil pengamatan 1 sampai dengan 3 pada segmen tengah paling besar, yaitu
berkisar antara 0,7 0,8 sedangkan pada bagian kiri dan kanan maksimal kecepatan aliran
sungai mencapai 0,5 m/s.Hal tersebut dikarenakan pada bagian tengah relatif lebih halus
permukaan dasarnya ssehingga air tidak terhalang perjalannya, berbeda dengan yang ada di
tepi yang banyak terhalang bebatuan.Faktor-faktor yang dapat mengurangi keakuratan data
hasil pengamatan adalah terbatasnya peralatan yang tersedia sehingga dalam penetuan titik
pengamatan terhamabat oleh arus yang besar, permukaan dasar sungai yang tidak beraturan
menyebabkan ketidak telitian dalam penghitungan kedalaman air.Namun demikian,jika
dibandingkan dengan hasil pengamatan dengan metode apung, metode current meter lebih
teliti terbukti dengan hasil pengamatan yang jauh jebih kecil.Selain itu juga penggunaan alat
yang cukup baik dapat mengghindari berbagai kesalahan dalam pengukuran dibandingkan
dengan metode apung.Debit aliran sungai yang didapatkan dari hasil pengamatan baik
berdasarkan metode apung maupun menggunakan current meter dapat dijadikan sebagai
informasi yang sangat penting dalam perancangan bangunan air.
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan di Sungai Cikuda Jatinagor dapat disimpulkan sebagai
berikut:
1. Debit aliran sungai berdasarkan pengukuran dengan metode apung sebesar 16,002 m3/s.
2. Debit aliran sungai berdasarkan pengukuran dengan menggunakan current meter sebesar 8,90
m3/s.
3. Pengukuran debit aliran sungai dengan menggunakan current meter lebih akurat dibandingkan
dengan metode apung.
5.2 Saran
Pada pengukuran debit aliran sungai dengan metode apung sebaiknya dikaji mengenai
pengaruh dimensi benda yang digunakan dan sebelum pengamatan dilakukan sebaiknya
dicoba dahulu berapa waktu tempuh benda dari jarak tertentu hingga dapat menetukan jarak
yang memenuhi syarat pengamatan, yaitu waktu perjalanan benda sekurang-kurangnya 20
detik.Untuk pengukuran dengan current meter perlu diperhatikan tempat pengukuran yang
arusnya tidak terhalang oleh batu atau benda lainnya sehingga kecepatan yang diukur benar-
benar kecepatan aliran sungai.

Young, Hugh D. & Freedman, Roger A,. 2002. Fisika Universitas (terjemahan). Jakarta: Penerbit
Erlangga.
Jurnal :
Tipler, P.A,. 1998. Fisika untuk Sains dan Teknik-Jilid I (terjemahan). Jakarta: Penebit Erlangga.
Young, Hugh D. & Freedman, Roger A,. 2002. Fisika Universitas (terjemahan). Jakarta: Penerbit
Erlangga.
Jurnal :
Apriyanto, Dwi Priyo. Sistem Pemberian Kebutuhan Air Untuk Lahan Pertanian. USM Surakarta:
Fakultas Pertanian.
Nadeak, Ronauli. 2009. Evaluasi Sistem Drainase Pada Daerah Irigasi Ular Di Kawasan Bendeng
Kabupaten Serdang Bedagai. USU : Fakultas Pertanian.