Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN PRAKTIKUM SURVEI JENTIK NYAMUK

KELOMPOK 1:
1. FEBRI M. MAISAL
KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan yang telah memberikan rahmat-Nya sehingga kami
dapat menyelesaikan Laporan dengan judul Laporan Praktikum Survei Jentik
Nyamuk sebagai nilai pengganti Ujian Akhir Semester yang diberikan oleh dosen
pengampuh mata kuliah Pengendalian Vektor. Kami juga mengucapkan terima kasih
kepada pihak-pihak yang telah membantu kami dalam pelaksanaan praktikum dan
mendukung kami dalam penyusunan laporan ini.
Kami menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh
karena itu, segala kritik, saran dan pendapat yang bersifat membangun akan kami
terima guna penyempurnaan laporan ini. Akhir kata, kami berharap semoga laporan
ini dapat bermanfaat bagi semua pihak.

Kupang, Januari 2017

Penyusun

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR......................................................................

DAFTAR ISI...............................................................................

DAFTAR TABEL.........................................................................

DAFTAR GAMBAR.....................................................................

BAB I PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG..........................................................................


1.2. TUJUAN PRAKTIKUM........................................................................

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. DEFINISI CONTAINER........................................................................


2.2. DEFINISI NYAMUK.............................................................................
2.3. ANGKA KEPADATAN JENTIK...............................................................

BAB III METODE PRAKTIKUM

3.1. ALAT DAN BAHAN YANG DIGUNAKAN.............................................11


3.2. CARA KERJA YANG DILAKSANAKAN DALAM PRAKTIKUM..................11
3.3. PENGOLAHAN DATA........................................................................11

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. DATA HASIL PRAKTIKUM...............................................................13


4.2. BAHASAN..................................................................................... 14

BAB V PENUTUP

5.1. SIMPULAN.................................................................................... 17
5.2. SARAN......................................................................................... 17

DAFTAR PUSTAKA

2
DAFTAR TABEL

Tabel 1 Density Figure (DF) menurut WHO tahun 1971............................10


Tabel 2 Hasil Pengamatan Survei Jentik Pada Countainer.........................14

3
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Siklus Hidup Nyamuk Aedes Aegypti.........................................


Gambar 2 Perbedaan nyamuk Anopheles, Aedes, dan Culex.....................
Gambar 3 Countainer yang ditemukan jentik...........................................17

4
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG


Nyamuk merupakan salah saatu vektor penular penyakit. Penyakit-penyakit
yang di tularkan oleh nyamuk antara lain penyakit malaria oleh nyamuk Anopheles
sp., Demam Berdarah Dengue (Dengue Hoemorrogic Fever) dan Demam Kuning
(Yellow fever) oleh nyamuk Aedes sp, Filariasis oleh nyamuk Culex sp., serta
berbagai tipe penyakit Enchefalitis di tularkan oleh nyamuk Culex sp. dan Aedes sp.
juga kadang-kadang oleh nyamuk Anopheles sp. dan Manasonia sp.
Siklus hidup nyamuk sejak telur hingga menjadi nyamuk dewasa
mengalami tingkatan (stadia) yang berbeda-beda. Nyamuk mengalami
metamorphosis sempurna (holometabola). Dalam siklus hidup nyamuk terdapat
empat stadia yaknik stadium telur, jentik/larva, pupa/kepompong dan nyamuk
dewasa. Stadium telur sampai pupa/kepompong hidup dan berkembang biak di
dalam air , sedangkan stadium nyamuk dewasa hidup di alam bebas.
Nyamuk memiliki tempat perindukan yang spesifik. Nyamuk Aedes hanya
mau di tempat air yang berair cukup bersih dan tidak langsung beralaskan tanah.
Culex dapat berkembang di sembarangan tempat air. Mansonia senang di kolam,
rawa-rawa dan danau yang banyak tanaman airnya. Sedangkan Anopheles
tergantung dari species Anopheles.
Oleh sebab itu dalam rangka meningkatkan kemampuan mahasiswa untuk
mengetahui jenis jentik/larva yang ada di container, kepadatan jentik, serta tempat
perindukan jentik, maka mahasiswa perlu melakukan praktikum tentang survey
jentik nyamuk. Kegiatan praktikum survey jentik ini dilaksanakan di Desa Baumata
Kabupaten Kupang pada tanggal 17 Desember 2016.

1
1.2. TUJUAN PRAKTIKUM
a. Mahasiswa mengetahui jenis jentik yang ada di kontainer.
b. Mahasiswa mengetahui kepadatan jentk.
c. Mahasiswa mengetahui tempat perindukan jentik.
d. Mahasiswa mengetahui bionomic jentik.
e. Mahasiswa mengetahui penyebaran jenik.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2
2.1. DEFINISI CONTAINER
Kontainer merupakan semua tempat/wadah yang dapat menampung air yang
mana air didalamnya tidak dapat mengalir ke tempat lain. Dalam container
seringkali ditemukan jentik-jentik nyamuk karena biasanya kontainer digunakan
nyamuk untuk perindukan telurnya. Misalnya saja nyamuk Aedes aegypti menyukai
kontainer yang menampung air jernih yang tidak langsung berhubungan langsung
dengan tanah dan berada di tempat gelapsebagai tempat perindukan telurnya.
(Dinkes DKI Jakarta, 2003)
Menurut Dinas Kesehatan DKI Jakarta (2003), tempat perindukan nyamuk
Aedes aegypti dibedakan menjadi 3, yaitu:
1. Tempat penampungan air (TPA), yaitu tempat untuk menampung air
guna keperluan seharihari seperti tempayan, bak mandi, bak WC,
ember, dan lainlain.
2. Bukan TPA, seperti tempat minum hewan peliharaan, barangbarang
bekas (ban bekas, kaleng bekas, botol, pecahan piring/gelas), vas
bunga, dll.
3. Tempat penampungan air alami (natural/alamiah) misalnya tempurung
kelapa, lubang di pohon, pelepah daun, lubang batu, potongan bambu,
kulit kerang dll. Kontainer ini pada umumnya ditemukan diluar rumah.

2.2. DEFINISI NYAMUK


Nyamuk termasuk jenis serangga yang masuk pada kelas H e x a p o d a orde
D i p t e r a . Pada umumnya nyamuk mengalami 4 tahap dalam siklus hidupnya
(metamorfosis), yaitu telur, larva, pupa dan dewasa. Nyamuk Aedes aegypti
mengalami metamorfosis sempurna, yaitu telur larva pupa dewasa. Stadium
telur, larva dan pupa hidup didalam air, sedangkan stadium dewasa hidup diluar air.
Pada umumnya telur akan menetas dalam 1-2 hari setelah terendam dalam air.
Stadium jentik biasanya berlangsung antara 5-15 hari, dalam keadaan normal
berlangsung 9-10 hari. Stadium berikutnya adalah stadium pupa yang berlangsung

3
2 hari, kemudian menjadi nyamuk dewasa dan siklus tersebut akan berlangsung
kembali. Dalam kondisi yang optimal, perkembangan dari stadium telur sampai
menjadi nyamuk dewasa memerlukan waktu sedikitnya 9 hari.

Gambar 1 Siklus Hidup Nyamuk Aedes Aegypti

Induk nyamuk biasanya meletakkan telur nyamuk pada tempat yang berair
dan tidak mengalir. Pada tempat kering, telur nyamuk akan rusak dan mati.
Kebiasaan meletakkan telur dari nyamuk berbeda-beda tergantung dari jenisnya.
1. Nyamuk Anopheles akan meletakkan telurnya di permukaan air satu persatu
atau bergerombol tetapi saling lepas, telur Anopeles
2. mempunyai alat pengapung.
3. Nyamuk Culex akan meletakkan telur di permukaan air secara
bergerombolan dan bersatu berbentuk rakit sehingga mampu untuk
mengapung.
4. Nyamuk Aedes meletakkan telur yang mana menempel pada dinding
kontainer dan mengapung di permukaan air.

4
Gambar 2 Perbedaan nyamuk Anopheles, Aedes, dan Culex

Menurut Ririh Yudhastuti (2011), adapun sifat nyamuk dewasa


berbeda- beda bergantung dari spesies nyamuknya. Berikut sifat-sifat umum yang
dimiliki adalah :
1) Nyamuk betina membutuhkan darah untuk proses reproduksi seperti
pembentukan telur, sedangkan nyamuk jantan senang tetap tinggal didaerah
dekat perindukannya, atau di tumbuh-tumbuhan.

5
2) Nyamuk memiliki jarak terbang yang berbeda-beda tergantung jenis
spesiesnya. Misalnya nyamuk Anopheles bisa mencapai jarak terbang hingga
3 km. Selain itu, hal tersebut dipengaruhi oleh kelembaban udara. Penyebaran
dari nyamuk itu sendiri bisa bersifat aktif maupun pasif.
3) Nyamuk juga memiliki waktu yang spesifik dalam mencari mangsa. Misalnya
nyamuk Anopheles, Culex dan Mansonia menyukai senja hingga fajar dalam
mencari mangsanya. Sedangkan nyamuk Aedes aegypti mencari mangsa di
siang hari. Ditinjau dari tempat hidupnya, nyamuk dibedakan atas beberapa
macam yaitu : (1) Nyamuk yang senang berinduk di air payau (salt marsh
type); dan (2) Nyamuk yang senang berinduk di genangan air yang sifatnya
sementara, dibedakan atas :
4) Temporary pool type, jenis nyamuk ini senang berinduk di genangan air yang
sifatnya sementara, seperti bekas pijakan kerbau, manusia, dan sebagainya.
5) Artifial container type, nyamuk yang senang di perindukan genangan air
yang terdapat di kaleng bekas, ban bekas, gelas plastik bekas yang biasanya
dibuang oleh manusia disembarang tempat.
6) Treehole type, jenis nyamuk ini pada dasarnya memiliki selera yang sama
seperti jenis Temporary pool type, hanya saja pada jenis ini banyak ditemukan
terutama pada daerah yang sering hujan atau curah hujannya tinggi, misalnya
di lubang-lubang pohon.
7) Rock pool type , sama halnya dengan Treehole type, hanya saja yang dipilih
pada genangan air di lubang-lubang di batu karang atau padas.

Sedangkan jika ditinjau dari tempat persembunyiannya atau tempat


peristirahatannya, maka nyamuk dikategorikan kedalam dua jenis yaitu :

1) Natural resting station type, dimana tempat peristirahatannya dalam


lubang-lubang yang ditemui secara alamiah, misalnya pada pohon-pohon,
batu karang atau padas, dan lain sebagainya.
2) Artifial resting station type, dimana tempat peristirahatannya pada tempat-
tempat yang terbentuk karena hasil karya manusia, baik yang

6
sifatnyasengaja maupun tidak sengaja misalnya dalam rumah disela-sela
baju yang digantung, adanya kaleng bekas, dan sebagainya.

2.3. ANGKA KEPADATAN JENTIK


Untuk mengetahui kepadatan vektor nyamuk pada suatu tempat, diperlukan
survei yang meliputi survei nyamuk, survei jentik serta survei perangkap telur
(ovitrap). Data-data yang diperoleh, nantinya dapat digunakan untuk menunjang
perencanaan program pemberantasan vektor.
Jentik atau larva nyamuk memiliki tubuh yang panjangnya berkisar 20-25
mm. Tubuh jentik nyamuk terlihat berwarna kelanu kehitaman. Siklus hidup jentik
nyamuk sejak menetas hingga menjadi nyamuk dewasa sekitar 5-6 hari. Terdapat
beberapa jenis jentik nyamuk, tergantung jenis nyamuk induknya. Pengambilan
jentik nyamuk di alam dilakukan dengan menggunakan serok atau alat lainnya.
Survey jentik dan nyamuk merupakan kegiatan untuk mencari jenis jentik
nyamuk, mengetahu kepadatan jentik dan nyamuk, memantau sifat dan perilaku
jentik dan nyamuk serta menilai hasil pengendalian vektor yang dilakukan.
a. Aedes
Survey jentik ada dua cara yaitu :
1) Single larva
Pada setiap container yang diemukan ada jentik, maka satu ekor
jentik akan diambil dengan cidukan atau dengan pipet panjang
jentik sebagai sampel, untuk pemeriksaan specimen jentik
(identifikasi) lebih lanjut.
Jentik yang diambil ditempatlan dalam botol kecil/vial bottle dan
diberi label sesuai dengan nomor tim survei, nomor lembaran
formulir berdasarkan : nomor rumah yang disurvei dan nomor
container dalam formulir.
2) Visual
Cara ini cukup dilakukan dengan melihat ada atau tidaknya
jentik disetiap tempat genangan air tanpa mengambil jentik dan
pemeriksaan specimen jentik. Survei ini dilakukan pada survei

7
lanjutan untuk memonitor indeks-indeks jentik atau menilai
hasil Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) yang dilakukan.

Setelah dilakukan survei dengan metode diatas, pada survei jentik nyamuk
Aedes aegypti akan dilanjutkan dengan pemeriksaan kepadatan jentik dengan
ukuran sebagai berikut:
Indeks jentik/larva :
1. Angka Bebas Jentik (ABJ)
jumlah rumah ataubangunan yang tidak ditemukan jentik
100
jumlah rumah ataubangunan yang diperiksa

2. House Index (HI)


Merupakan jumlah rumah positif jentik dari seluruh rumah yang
diperiksa.
jumlah rumah ataubangunan yang ditemukan jentik
100
jumlah rumah ataubangunan yang diperiksa

3. Container Index (CI)


Merupakan jumlah kontainer positif jentik dari seluruh kontainer
yang diperiksa.
jumla h container dengan jentik
100
jumla h container yang diperiksa

4. Bretau Index (BI)


Merupakan jumlah kontainer dengan larva dalam seratus rumah atau
bangunan.
jumla h kontainer yang positif jentik
100
100 ruma h ataubangunan yang diperiksa

8
Density figure (DF) adalah kepadatan jentik Aedes aegypti yang merupakan
gabungan dari HI, CI dan BI yang dinyatakan dengan skala 1-9 seperti tabel menurut
WHO Tahun 1972di bawah ini :

Tabel 1 Density Figure (DF) menurut WHO tahun 1971

Density figure (DF) House Index (HI) Container Index (CI) Breteau Index (BI)
1 1-3 1-2 1-4
2 4-7 3-5 5-9
3 8-7 6-9 10-19
4 18-28 10-14 20-34
5 29-37 15-20 35-49
6 38-49 21-27 50-74
7 50-59 28-31 75-99
8 60-76 32-40 100-199
9 >77 >41 >200
Sumber: WHO (1972)

Keterangan Tabel :
DF = 1 = kepadatan rendah
DF = 2-5 = kepadatan sedang
DF = 6-9 = kepadatan tinggi.
Berdasarkan hasil survei larva dapat ditentukan Density Figure. Density
Figure ditentukan setelah menghitung hasil HI, CI, BI kemudian dibandingkan
dengan tabel Larva Index. Apabila angka DF kurang dari 1 menunjukan risiko
penularan rendah, 1-5 resiko penularan sedang dan diatas 5 risiko penularan tinggi.

b. Anopheles
1) Penangkapan jentik (menggunakan cidukan, pipet larva, serokan atau
cara lainnya).
2) Mencatat tempat perindukan, keadaan tempat perindukan (perkiraan
luas, pencahayaan, aliran air, warna air, kedalaman air, dasar air, lama
air tergenang, suhu air, pH, jenis tumbuhan yang ada di air, jenis

9
tumbuhan pelindung, jenis predator jentik, dan jenis ikan yang ada
pada genangan air).
3) Menghitung jumlah jentik yang ada pada setiap cidukan dan
menghitung setiap jumlah cidukan yang dilakukan.
4) Mengidentifikasi instar jentik yang didapat dan hitung jumlah jentik
masing-masing instar.
5) Mengidentifikasi jenis jentik yang didapat dan hitung jumlah jentik
masing-masing jenis jentik
6) Mengidentifikasi jenis parasit, pathogen yang terdapat ditubuh jentik
dan yang ada ditempat perindukan
7) Membuat denah peta tempat perindukan nyamuk
8) Menghitung kepadatan jentik percidukan
jumla h jentik yang didapat
100
Kepadatan jentik = jumlah cidukan yang dilakukan

9) Mengukur kerentanan jentik terhadap insektisida


10) Mengukur efikasi insektisida terhadap jentik
11) Menyajikan dan melaporkan hasil survei jentik.

BAB III
METODE PRAKTIKUM

3.1. ALAT DAN BAHAN YANG DIGUNAKAN


Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah :
1. Dipper/cidukan jentik
2. Ember Kecil untuk menampung jentik
3. Alat tulis
4. Buku Tulis
5. Kamera Handpone

3.2. CARA KERJA YANG DILAKSANAKAN DALAM PRAKTIKUM


Penangkapan jentik :
1. Tentukan lokasi penangkapan

10
2. Pada tempat yang diperkirankan dijumpai jentik maka lakukanlah
penangkapan dengan cidukan
3. Cara menciduk yaitu cidukan dicelupkan dengan mulut cidukan agak
miring 45 derjat kearah kumpulan jentik.
4. Pada saat melakukan penangkapan jentik Anopheles, cidukan hanya
dimasukan sebagian saja kedalam air dengan mulut cidukan miring kira-
kira 45 derajat. Kemudian tiap jentik ditempatkan ke dalam botol yang
berbeda.
5. Penangkapan tidak selalu harus terlihat adanya jentik terlebih dahulu,
teapi bila diperkirakan ada jentik maka lakukan pencidukan di tempat
tersebut.

3.3. PENGOLAHAN DATA


Pada nyamuk Aedes, data tempat perindukannya diperoleh dengan
cara metode visual. Tempat perindukan nyamuk yang berisi air diperiksa
positif tidaknya mengandung jentik/pupa kemudian dicatat jenis dan bahan
dasar dari tempat penangpungan air tersebut serta dilakukan perhitungan
indeks jentik/larva. Sedangkan pada nyamuk Anopheles, data tempat
perindukannya diperoleh dengan menghitung kepadatan jentik percidukan
dengan menggunakan rumus :
jumla h jentik yang didapat
100
Kepadatan jentik = jumlah cidukan yang dilakukan

11
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. DATA HASIL PRAKTIKUM


Hari/tanggal : Sabtu, 17 Desembar 2017
Waktu : Pukul 09:00 wita s/d selesai
Lokasi pengamatan : Baumata Kabupaten Kupang
Metode pengamatan : Metode
Hasil pengamatan :

Tabel 2 Hasil Pengamatan Survei Jentik Pada Countainer

NO JENIS JUMLAH CONTENER YANG POSITIF


CONTAINER DIPERIKSA JENTIK
1 Kaleng bekas 8 6
2 Dos mika 4 1
plastic bekas
makanan
3 Batok kelapa 4 4
yang terbuka
4 Bekas 4 -
kemasan aqua

12
gelas
5 Tumbuhan air 7 2
6 Kolam 1 -
7 Bekas 3 -
bungkusan
makanan
JUMLAH 31 13

Kelompok kami hanya melakukan survey jentik pada lokasi yang terbuka
yang berada di sekitar kolam Baumata Kabupaten Kupang. Tepatnya berada pada
tempat penangkaran ikan yang berada dekat dengan kolam Baumata. Jadi survey
yang kami lakukan hanya mengambil jentik yang terdapat pada container atau
tumbuhan-tumbuhan air yang tumbuh disekitaran mata air.

Container Index (CI)


jumlah container dengan jentik
100
jumlah container yang diperiksa

31
X 100
13

238.46

4.2. BAHASAN
Dari hasil pengamatan larva atau jentik di lingkungan Kolam Baumata
Kabupaten Kupang tepatnya di tempat penangkaran ikan pada tanggal 17 Desember
2016 pukul 09:00 wita dan dengan menggunakan metode visual di temukan jumlah
countener yang positif jentik ada 13 dari 31 countener-countener yang diperiksa.
Adapun container-container yang positif jentik ini berupa kaleng bekas, dos mika
plastic , batok kelapa yang terbuka. Selain jentik kami juga menemukan pupa yang
berada pada batok kelapa yang ditampungi air hujan kira-kira berjumlah 6 pupa.
Kami juga melakuka cidukan di sekitar mata air yang mengalir dan kolam renang

13
yang ada di dalam tempat penangkaran ikan tersebut. Kami melakukan cidukan
dengan mengunakan alat cidukan dan gelas-gelas bekas minuman mineral. Jumlah
cidukan yang kami lakukan yaiyu lebih dari 5 kali cidukan.
Kelompok kami berhasil menemukan beberapa jenis jentik yang terdapat
pada countener-contener dan tumbuhan air yang tumbuh di sekitaran mata air yaitu
jentik nyamuk culex dan jentik nyamuk aides.
Kelompok kami tentunya tidak bekerja sendiri tetapi kami dibantu oleh
dosen mata kuliah kami yang membantu kami dalam kegiatan survey jentik ini.
Beliau yang menunjukan kepada kami bagaimana cara menagkap dan mengamati
jentik yang terdapat pada countener-countener yang ada di sekitar tempat
penangkaran ikan tersebut.
Indeks Parameter yang kami gunakan disini adalah Container Index dimana
dengan rumusnya Countener Indeks yang positif jentik dibagi dengan jumlah
Countener yang diperiksa kemudian dikalikan 100. Kami hanya menggunakan
Countener Indeks dan tidak menggunakan parameter yang lainnya karena kelompok
kami hanya melakukan survey jentik pada lokasi yang terbuka yang berada di
sekitar kolam Baumata Kabupaten Kupang. Tepatnya berada pada tempat
penangkaran ikan yang berada dekat dengan kolam Baumata. Jadi survey yang
kami lakukan hanya mengambil jentik yang terdapat pada container atau tumbuhan-
tumbuhan air yang tumbuh disekitaran mata air. Dan adapun hasil dari Countener
Indeks adalah 238.46.
Pada survey kali ini kami lebih menemukan kepadatan jentik aides
dibandingkan jentik anopheles atau culex. Jadi untuk itu pengukuran yang kami
lakukan saat ini yaitu mengetahui hasil Countener Index dengan Density figure
(DF) adalah kepadatan jentik Aedes aegypti menurut WHO Tahun 1972, dimana:

Container Index (CI)


1-2
3-5

14
6-9
10-14
15-20
21-27
28-31
32-40
>41

Keterangan Tabel :
DF = 1 = kepadatan rendah
DF = 2-5 = kepadatan sedang
DF = 6-9 = kepadatan tinggi.
Jadi hasil yang di dapat oleh kelompok kami dalam melakukan survey jentik
ini adalah 10-14 yang berarti kepadatan jentik pada tempat penangkaran ikan tersebut
temasuk dalam kepadatan yang tinggi dimana risiko untuk penularan penyakit yang
ditimbulkan oleh nyamuk tinggi. Untuk itu perlu dilakukan pengendalian vector untuk
mencegah masalah-masalah yang akan terjadi di kemudian hari. Pengendalian vector
yang paling tepat dilakukan adalah menbersikan sampah-sampah yang beresiko untuk
menampung air hujan yang nantinya menjadi tempat perindukan nyamuk. Karena
banyak sekali terdapat jentik-jentik nyamuk yang bersarang pada sampah bekas
tersebut. Dan selalu membersikan kolam berenang yang berada didalam tempat
penangkaran ikan tersebut untuk menghindari kepadatan jentik pada daerah tersebut.

15
Gambar 3 Countainer yang ditemukan jentik

BAB V
PENUTUP

5.1. SIMPULAN
Dari hasil pengamatan larva atau jentik di lingkungan Kolam Baumata
Kabupaten Kupang tepatnya di tempat penangkaran ikan pada tanggal 17 Desember
2016 pukul 09:00 wita dan dengan menggunakan metode visual di temukan jumlah
countener yang positif jentik ada 13 dari 31 countener-countener yang diperiksa.
Kelompok kami berhasil menemukan beberapa jenis jentik yang terdapat pada

16
countener-contener dan tumbuhan air yang tumbuh di sekitaran mata air yaitu jentik
nyamuk culex dan jentik nyamuk aides. Indeks Parameter yang kami gunakan disini
adalah Container Index Kami hanya menggunakan Countener Indeks dan tidak
menggunakan parameter yang lainnya karena kelompok kami hanya melakukan
survey jentik pada lokasi yang terbuka yang berada di sekitar kolam. Dan adapun
hasil dari Countener Indeks adalah 238.46. Hasil yang di dapat oleh kelompok kami
dalam melakukan survey jentik ini adalah 10-14 yang berarti kepadatan jentik pada
tempat penangkaran ikan tersebut temasuk dalam kepadatan yang tinggi dimana
risiko untuk penularan penyakit yang ditimbulkan oleh nyamuk tinggi. Untuk itu
perlu dilakukan pengendalian vector untuk mencegah masalah-masalah yang akan
terjadi di kemudian hari.

5.2. SARAN
Perlu dilakukannya pengendalian vector di daerah tersebut untuk mencegah
masalah-masalah yang akan terjadi di kemudian hari yang diimbulkan oleh
nyamuk.

17
DAFTAR PUSTAKA

www.academia.edu/8446068/LAPORAN_SURVEI_JENTIK

ikma11.weebly.com/uploads/1/2/0/7/12071055/jentik_a5.pdf

lib.ui.ac.id/file?file=digital/20318186-S-Umi%20Kumayah.pdf

lib.ui.ac.id/file?file=digital/20318186-S-Umi%20Kumayah.pdf