Anda di halaman 1dari 14

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kondisi Eksisting Wilayah Sampling

Sampel pada praktikum kali ini berasal dari Banda Bakali, Padang. Pengambilan
sampel dilakukan pada hari Selasa, 24 Maret 2015 pukul 14.25 WIB dengan titik
koordinat 00o 56 29,1 Lintang Selatan dan 100o 22 47 Bujur Timur. Lokasi
pengambilan sampel berada pada ketinggian 200 m di atas pemukaan laut.
Kondisi cuaca pada saat pengambilan sampel yaitu cukup cerah. Kondisi fisik air
pada lokasi sampling yaitu tidak jernih, terdapat banyak sampah berserakan di
sekitar lokasi sampling.

2.2 Teori

2.2.1 Umum

Dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak terpisah dari benda-benda yang bersifat
logam. Benda ini kita gunakan sebagai alat perlengkapan rumah tangga seperti
sendok, garpu, pisau dan lain-lain sampai pada tingkat perhiasan mewah yang
tidak dapat dimiliki oleh semua orang seperti emas, perak dan lain-lain. Secara
gamlang dalam konotasi keseharian kita beranggapan bahwa logam diidentikkan
dengan besi. Logam tersebut bersifat padat, keras, berat dan sulit dibentuk
(Alaerts, 1984).

2.2.2 Logam

Logam adalah sejenis unsur yang bersedia untuk membentuk ion (kation) dan
mempunyai ikatan logam. Logam-logam biasanya diterangkan sebagai sebuah
kekisi ion-ion positif (kation) yang dikelilingi awan-awan elektron tak setempat.
Logam adalah satu dari tiga kumpulan unsur yang dikenal pasti melalui sifat-sifat
pengionan dan ikatan, yang lainnya adalah metaloid dan bukan logam. Di dalam
jadwal berkala, satu garis pepenjuru yang dilukir daripada boron (B) kepada
polonium (Po) membedakan logam dan bukan logam. Unsur-unsur pada garis ini
adalah metaloid, unsur-unsur ke sebelah bawah kiri merupakan logam-logam,
manakala sebelah atas kanan adalah bukan logam (Effendi, 2003).
Logam secara kimia bersifat kurang stabil, dan bereaksi dengan oksigen dalam
udara untuk membentuk oksida pada waktu yang berbeda-beda (contohnya besi
berkarat setelah bertahun-tahun sedangkan kalium terbakar dalam beberapa saat).
Logam Alkali bereaksi paling cepat dengan logam Alkali Bumi, kedua jenis
didapati pada kumpulan penghujung terkiri dalam sistem periodik unsur. Logam
peralihan memerlukan waktu yang lebih lama untuk teroksida (contohnya besi,
tembaga, zink, nikel). Yang lainnya, seperti paladium, platinum dan emas,
langsung tidak bereaksi dengan atmosfer. Sebagian logam membentuk lapisan
pelindung oksida pada permukaannya yang tidak dapat ditembusi selanjutnya oleh
molekul-molekul oksigen, seterusnya mengekalkan rupa kilauan dan
kekonduksian yang baik setelah terkontaminasi lamanya (seperti aluminium,
sesetengah keluli, dan titanium). Oksida-oksida logam adalah bersifat berlawan
dengan bukan logam, yang bersifat asam (Chandra, 1997).

Dengan semakin pesatnya aktivitas perindustrian dewasa ini, berbagai jenis


limbah logam berat dan organik yang dihasilkan dapat menjadi permasalahan
serius bagi kesehatan dan lingkungan. Limbah logam berat Cr(VI), yang
merupakan salah satu jenis limbah berbahaya, dapat berasal dari industri cat,
pelapisan logam (electroplating), dan penyamakan kulit (leather tanning). Krom
terdapat di alam dalam dua bentuk oksida, yaitu Cr(VI) atau chromium hexavalent
dan Cr(III) atau chromium trivalent. Cr(VI) mudah larut dalam air dan
membentuk divalent oxyanion yaitu kromat (CrO4 dan dikromat Cr2O7). Tingkat
toksisitas Cr(VI) sangat tinggi sehingga bersifat racun terhadap semua organisme
untuk konsentrasi > 0,05 ppm. Cr(VI) bersifat karsinogenik dan dapat
menyebabkan iritasi pada kulit manusia. Sementara itu, toksisitas Cr(III) jauh
lebih rendah bila dibandingkan dengan Cr(VI), yaitu sekitar 1/100 kalinya,
sehingga untuk mengolah limbah krom maka Cr(VI) harus direduksi terlebih
dahulu menjadi Cr(III). Disamping itu, Cr(III) mudah diendapkan atau diabsorpsi
oleh senyawa-senyawa organik dan anorganik pada pH netral atau alkalin
(Effendi, 2003).

Contoh lainnya adalah logam besi (Fe). Besi adalah salah satu elemen kimiawi
yang dapat ditemui pada hampir di setiap tempat di bumi, pada semua lapisan
geologis dan semua badan air. Pada umumnya pada air permukaan jarang ditemui
kadar Fe lebih besar dari 1 mg/l tetapi didalam air tanah kadar Fe dapat jauh lebih
tinggi. Konsentrasi Fe yang tinggi ini dapat dirasakan dan dapat menodai kain dan
perkakas dapur (Alaerts, 1984).

Pada air yang tidak mengandung O2. Seperti seringkali air tanah, besi berada
sebagai Fe+2 yang cukup dapat terlarut. Sedangkan pada air sungai yang mengalir
dan terjadi aerasi, Fe+2 teroksidasi menjadi Fe+3. Fe+3 ini sulit terlarut pada pH 6-8,
bahkan dapat menjadi Ferihidroksida Fe(OH), atau salah satu jenis oksida yang
merupakan zat padat dan bisa mengendap. Demikian dalam air sungai, besi berada
sebagai Fe2+, Fe3+ terlarut dan Fe3+ dalam bentuk senyawa organis berupa koloidal
(Alaerts, 1984).

Logam terbagi 2 (Chandra, 1997):


1. Logam mulia
Secara umum logam mulia adalah logam-logam yang termasuk paduannya
yang biasa dijadikan perhiasan, seperti emas, perak, perunggu dan platina.
2. Logam berat
Logam berat adalah logam dengan massa jenis lima atau lebih, dengan nomor
atom 22 sampai 92. Logam berat dianggap berbahaya bagi kesehatan bila
terakumulasi secara berlebihan didalam tubuh. Seperti Kadmium (Cd), timbal
(Pb), raksa (Hg) dan lain-lain.

Non logam lebih banyak ditemukan atau terdapat di alam dari pada logam, tetapi
logam banyak terdapat dalam sisitem periodik. Beberapa jenis logam yang
terkenal adalah aluminium, tembaga, emas, besi, timah, perak, titanium, uranium,
dan zink. Alotrip logam cenderung mengkilap, lembek, dan konduktor yang baik.
Paduan logam merupakan pencampuran dari dua jenis logam atau lebih untuk
mendapatkan sifat fisik, mekanik, listrik dan visual yang lebih baik. Contoh
paduan logam yang popular adalah baja tahan karat yang merupakan
pencampuran dari besi (Fe) dengan Krom (Cr) (Hutagalung, 1997).

Jenis-Jenis industri pembuang limbah yang mengandung logam berat adalah


(Effendi, 2003):
1. Kertas: Cr, Cu, Hg, Pb, Ni, Zn;
2. Petro-chemical: Cd, Cr, Hg, Pb, Sn, Zn;
3. Pupuk: Cd, Cr, Cu, Hg, Pb, Ni, Zn;
4. Kilang minyak: Cd, Cr, Cu, Pb, Ni, Zn;
5. Baja: Cd, Cr, Cu, Hg, Pb, Ni, Sn, Zn;
6. Logam bukan besi: Cr, Cu, Hg, Pb, Zn;
7. Kendaraan bermotor, pesawat terbang: Cd, Cr, Cu, Hg, Pb, Sn, Zn;
8. Gelas, semen, keramik: Cr;
9. Tekstil: Cr;
10. Industri kulit: Cr;
11. Pembangkit listrik tenaga uap: Cr.

Logam berat memiliki densitas yang lebih dari 5 gram/cm 3 dan logam berat
bersifat tahan urai. Sifat tahan urai inilah yang menyebabkan logam berat semakin
terakumulasi di dalam perairan. Logam berat yang berada di dalam air dapat
masuk ke dalam tubuh manusia, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Logam berat di dalam air dapat masuk secara langsung ke dalam tubuh manusia
apabila air yang mengandung logam berat diminum, sedangkan secara tidak langsung apabila
memakan bahan makanan yang berasal dari air tersebut. Di dalam tubuh manusia,
logam berat juga dapat terakumulasi dan menimbulkan berbagai bahaya terhadap
kesehatan (Budiman, 1997).

2.2.3 Sifat Logam

Sifat-sifat kimia ion-ion logam biasanya adalah ion positif. Hal ini dihubungkan
dengan rendahnya energi ionisasi atom logam. Ionisasi atom logam dapat dilihat
dari tabel sistem periodik dari logam tersebut, logam banyak bersifat korosi,
logam mempunyai banyak kandungan dan unsur-unsur di dalamnya (Budiman,
1997).

Sifat fisika logam sebagai berikut (Effendi, 2003):


1. Permukaan berkilau;
2. Mempunyai daya hantar jenis listrik yang tinggi;
3. Mempunyai daya hantar jenis panas yang tinggi;
4. Mempunyai titik lebur yang tinggi.
2.2.4 Destruksi

Destruksi adalah perlakuan pendahuluan terhadap sampel sebelum dianalisa


zatnya berupa pemecahan partikel suatu zat seperti logam. Destruksi merupakan
suatu metode yang sangat penting dalam menganalisis suatu materi atau bahan
yang bertujuan merubah sampel menjadi bahan yang dapat diukur. seperti
kandungan logam. Senyawa logam dalam contoh uji didestruksi dalam suasana
asam, kemudian diukur kadarnya dengan spektrofotometer serapan atom secara
langsung pada panjang gelombang tertentu (Effendi, 2003).

Proses atomisasi adalah proses pengubahan sampel dalam bentuk larutan menjadi
spesies atom dalam nyala. Secara ideal fungsi dari sistem atomisasi (source)
adalah (R.A. Day, 1986):
1. Mengubah sembarang jenis sampel menjadi uap atom fase gas dengan sedikit
perlakuan awal atau tanpa perlakuan awal sekalipun;
2. Hal ini berlaku untuk semua elemen dalam sampel pada semua level
konsentrasi;

3. Hal ini bertujuan untuk memperoleh kondisi yang identik dengan setiap elemen
pada sampel;
4. Mendapatkan sinyal analitik sebagai fungsi sederhana dan konsentrasi tiap-tiap
elemen agar pengaruh media menjadi minimal.

2.2.5 Metode Analisis

Metode yang digunakan untuk mengetahui kandungan logam pada air adalah
dengan menggunakan SSA. Komponen-komponen SSA meliputi tabung katoda
berongga, pemenggal putar, sampel, oksigen, dan bahan bakar (nyala),
monokromator, detektor, penguat dan pembaca (R.A. Day, 1986).

Gambar 2.1 Skema Kerja SSA


Sumber : R.A. Day, 1986
Prinsip kerja dari AAS adalah adanya interaksi antara energi (sinar) dan materi
(atom). Jumlah radiasi yang terserap tergantung pada jumlah atom-atom bebas
yang terlibat dan kemampuannya untuk menyerap radiasi. Cara kerja SSA antara
lain (R.A. Day, 1986):
1. Sumber sinar yang berupa tabung katoda berongga menghasilkan sinar
monokromatis yang mempunyai beberapa garis resonansi;
2. Sampel diubah fasenya dari larutan menjadi uap atom bebas di dalam atomizer
dengan nyala api yang dihasilkan dari pembakaran bahan bakar dengan
oksigen;
3. Monokromator akan mengisolasi salah satu garis resonansi yang sesuai dengan
sampel dari beberapa garis resonansi yang berasal dari sumber sinar;
4. Energi sinar dari monokromator akan diubah menjadi energi listrik dalam
detektor;
5. Energi listrik dari detektor inilah yang akan menggerakkan jarum dan
mengeluarkan grafik;
6. Sistem pembacaan akan menampilkan data yang dapat dibaca dari grafik.

Adapun kelebihan pengukuran unsur logam menggunakan SSA adalah (R.A. Day,
1986):
1. Kepekaan lebih tinggi;
2. Sistemnya relatif mudah;
3. Dapat memilih temperatur yang dikehendaki;

4. Menganalisis konsentrasi logam berat dalam sampel secara akurat karena


konsentrasi yang terbaca pada alat SSA berdasarkan banyaknya sinar yang
diserap yang berbanding lurus dengan kadar zat.

Adapun kekurangan pengukuran unsur logam menggunakan SSA adalah (R.A.


Day, 1986):
1. Hanya dapat digunakan untuk larutan dengan konsentrasi rendah;
2. Memerlukan jumlah larutan yang cukup relatif besar (10-15 ml);
3. Sistem atomisasi tidak mampu mengatomkan secara langsung sampel padat;

4. Hanya dapat menganalisis logam berat dalam bentuk atom-atom. SSA


menganalisis logam berat dari atom-atom karena tidak berwarna;
5. Sampel yang dianalisis harus dalam suasana asam, sehingga semua sampel
yang akan dianalisis harus dibuat dalam suasana asam dengan pH antara 2
sampai 3;

6. Biaya operasional lebih tinggi dan harga peralatan yang mahal.

2.2.6 Hal-hal yang Mempengaruhi Kelarutan Fe dalam Air

Hal-hal yang mempengaruhi kelarutan Fe dalam Air (R.A. Day, 1986):

1. Kedalaman
Air hujan yang turun jatuh ke tanah dan mengalami infiltrasi masuk ke dalam
tanah yang mengandung FeO akan bereaksi dengan H2O dan CO2 dalam tanah
dan membentuk Fe (HCO3)2 dimana semakin dalam air yang meresap ke
dalam tanah semakin tinggi juga kelarutan besi karbonat dalam air tersebut.

2. pH air akan terpengaruh terhadap kesadahan kadar besi dalam air, apabila pH
air rendah akan berakibat terjadinya proses korosif sehingga menyebabkan
larutnya besi dan logam lainnya dalam air, pH yang rendah kurang dari 7 dapat
melarutkan logam. Dalam keadaan pH rendah, besi yang ada dalam air
berbentuk ferro dan ferri, dimana bentuk.ferri akan mengendap dan tidak larut
dalam air serta tidak dapat dilihat dengan mata sehingga mengakibatkan air
menjadi berwarna,berbau dan berasa.

3. Suhu
Suhu adalah temperatur udara. Temperatur yang tinggi menyebabkan
menurunnya kadar O2 dalam air, kenaikan temperatur air juga dapat
mengguraikan derajat kelarutan mineral sehingga kelarutan Fe pada air tinggi.

4. Bakteri besi

Bakteri besi (Crenothrix, Lepothrix, Galleanella, Sinderocapsa dan


Sphoerothylus ) adalah bakteri yang dapat mengambil unsur ber dari sekeliling
lingkungan hidupnya sehingga mengakibatkan turunnya kandungan besi dalam
air, dalam aktifitasnya bakteri besi memerlukan oksigen dan besi sehingga
bahan makanan dari bakteri besi tersebut. Hasil aktifitas bakteri besi tersebut
menghasilkan presipitat (oksida besi) yang akan menyebabkan warna pada
pakaian dan bangunan. Bakteri besi merupakan bakteri yang hidup dalam
keadaan anaerob dan banyak terdapat dalam air yang mengandung mineral.
Pertumbuhan bakteri akan menjadi lebih sempurna apabila air banyak
mengandung CO2 dengan kadar yang cukup tinggi.

5. CO2 agresif

Karbondioksida (CO2) merupakan salah satu gas yang terdapat dalam air.
Berdasarkan bentuk dari gas Karbondioksida (CO2) di dalam air, CO2
dibedakan menjadi : CO2 bebas yaitu CO2 yang larut dalam air, CO2 dalam
kesetimbangan, CO2 agresif. Dari ketiga bentuk Karbondioksida (CO2) yang
terdapat dalam air, CO2 agresif-lah yang paling berbahaya karena kadar CO2
agresif lebih tinggi dan dapat menyebabkan terjadinya korosi sehingga
berakibat kerusakan pada logam logam dan beton. Menurut Powell CO2
bebas yang asam akan merusak logam apabila CO2 tersebut bereaksi dengan
air.karena akan merusak logam. Reaksi ini dikenal sebagai teori asam, dengan
reaksi sebagai berikut:
2 Fe + H2CO3 ..> FeCO3 + 2 H+
2 FeCO3 + 5 H2O +1/2 O2 ..> 2 Fe(OH)2 + 2 H2CO3
Dalam reaksi di atas dapat dilihat bahwa asam karbonat tersebut secara terus-
menerus akan merusak logam, karena selain membentuk FeCO3 sebagai hasii
reaksi antara Fe dan H2CO3, selanjutnya FeCO3 bereaksi dengan air dan gas
oksigen (O2) menghasilkan zat 2FeOH dan 2H2CO3 dimana H2CO3 tersebut
akan menyerang logam kembali sehingga proses pengrusakan logam akan
berjalan secara terus-menerus mengakibatkan kerusakan yang semakin lama
semakin besar pada logam tersebut.

2.2 7 Penyebab utama Tingginya Kadar besi dalam Air

Penyebab utama Tingginya Kadar besi dalam Air (R.A. Day, 1986):
1. Rendahnya PH Air
Nilai pH air normal yang tidak menyebabkan masalah adalah 7. Air yang
mempunyai pH 7 dapat melarutkan logam termasuk besi.

2. Adanya Gas-gas Terlarut dalam Air.


Yang dimaksud gas-gas tersebut adalah CO2 dan H2S. Beberapa gas terlarut
dalam air terlarut tersebut akan bersifat korosif.

3. Bakteri
Secara biologis tingginya kadar besi terlarut dipengaruhi oleh bakteri besi yaitu
bakteri yang dalam hidupnya membutuhkan makanan dengan mengoksidasi
besi sehingga larut. Jenis ini adalah bakteri Crenotrik, Leptotrik, Callitonella,
Siderocapsa dan Iain-Iain. Bakteri ini mempertahankan hidupnya
membutuhkan oksigen dan besi.

2.2.8 Metode Penurunan Kadar Besi (Fe)

Metode Penurunan Kadar Besi (Fe) (R.A. Day, 1986):

1. Aerasi
Ion Fe selalu di jumpai pada air alami dengan kadar oksigen yang rendah,
seperti pada air tanah dan pada daerah danau yang tanpa udara Keberadaan
ferri larutan dapat terbentuk dengan adanya pabrik tenun, kertas, dan proses
industri. Fe dapat dihilangkan dari dalam air dengan melakukan oksidasi
menjadi Fe (OH)3 yang tidak larut dalam air, kemudian di ikuti dengan
pengendapan dan penyaringan. Proses oksidasi dilakukan dengan
menggunakan udara biasa di sebut aerasi yaitu dengan cara memasukkan
udara dalam air.

2. Sedimentasi
Sedimentasi adalah proses pengendapan partikel-partikel padat yang
tersuspensi dalam cairan/zat cair karena pengaruh gravitasi (gaya berat secara
alami). Proses pengendapan dengan cara gravitasi untuk mengendapkan
partikel-partikel tersuspensi yang lebih berat daripada air, ini yang sering
dipergunakan dalam pengolahan air. Sedimentasi dapat berlangsung
sempurna pada danau yang airnya diam atau suatu wadah air yang dibuat
sedemikian rupa sehingga air di dalamya keadaan diam. Pada dasarnya proses
tersebut tergantung pada pengaruh gaya gravitasi dari partikel tersuspensi
dalam air. Sedimentasi dapat berlangsung pada setiap badan air. Biaya
pengolahan air dengan proses sedimentasi relatif murah karena tidak
membutuhkan peralatan mekanik maupun penambahan bahan kimia.
Kegunaan sedimentasi untuk mereduksi bahan-bahan tersuspensi (kekeruhan)
dari dalam air dan dapat juga berfungsi untuk mereduksi kandungan
organisme (patogen) tertentu dalam air. Proses sedimentasi adalah proses
pengendapan dimana masing-masing partikel tidak mengalami perubahan
bentuk, ukuran, ataupun kerapatan selama proses pengendapan berlangsung.
Partikel-partikel padat akan mengendap bila gaya gravitasi lebih besar dari
pada kekentalan dan gaya kelembaban (Enersia) dalam cairan.

3. Filtrasi
Proses penyaringan merupakan bagian dari pengolahan air yang pada
prinsipnya adalah untuk mengurangi bahan-bahan organik maupun bahan-
bahan an organik yang berada dalam air. Penghilangan zat padat tersuspensi
denggan penyaringan memiliki peranan penting, baik yang terjadi dalam
pemurnian air tanah maupun dalam pemurnian buatan di dalam instalasi
pengolahan air. Bahan yang dipakai sebagai media saringan adalah pasir yang
mempunyai sifat penyaringan yang baik, keras dan dapat tahan lama dipakai
bebas dari kotoran dan tidak larut dalam air.
4.3 Pembahasan

Praktikum laboratorium lingkungan ini praktikan melakukan percobaan mengenai


penentuan besi. Penentuan besi ini bertujuan untuk mengetahui kadar besi yang
terdapat dalam sampel air. Praktikan menganalisis kadar logam Fe (besi) yang
terdapat pada larutan contoh uji (sampel) air Banda Bakali, Padang. Setelah
melakukan analisa kandungan logam pada sampel padat dan cair, didapatkan
konsentrasi pada sampel padat yaitu Fe sebesar 2,09 mg/l. Berdasarkan Peraturan
Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 492/Menkes/IV/2010 tentang
Persyaratan Kualitas Air Minum menyatakan bahwa baku mutu Fe sebesar 0,3
mg/l. Berdasarkan parameter ini dapat diketahui, kandungan logam Fe dalam
sampel melampaui baku mutu yang ada dan air tersebut tidak aman untuk di
konsumsi, sehingga harus ada penanganan lebih lanjut agar air tesebut dapat
dikonsumsi oleh masyarakat.

Kekurangan kadar Fe dalam tubuh menyebabkan ganggguan fungsi pankreas,


kekebalan, kelenjar tiroid, penurunan ketajaman indera serta menghambat
penyembuhan luka. Sedangkan kelebihan Fe dalam tubuh akan menyebabkan
degenerasi otot jantung, mempengaruhi metabolisme kolesterol, mempercepat
timbulnya aterosklerosis. Aterosklerosis adalah penumpukan lemak disepanjang
dinding arteri yang nantinya mengganggu kerja dinding arteri tersebut. Sedangkan
untuk timbal pada kadar yang tinggi menyebabkan anemia, kerusakan otak, liver,
ginjal, syaraf dan pencernaan, koma, kejang-kejang atau epilepsi, serta dapat
menyebabkan kematian (Hamidah, 1986).
Pengolahan logam berat dapat dilakukan dengan metode ion exchange. Dimana
pemisahan dilakukan menurut perubahan kimia. Selain itu, penyisihan logam
berat juuga dapat dilakukan dnegan metode adsorpsi dengan media karbon aktif.
Pori-pori ini dapat menangkap partikel-partikel sangat halus (molekul) terutama
logam berat dan menjebaknya disana. Penyerapan menggunakan karbon aktif
adalah efektif untuk menghilangkan logam berat. Ion logam berat ditarik oleh
karbon aktif dan melekat pada permukaannya dengan kombinasi dari daya fisik
kompleks dan reaksi kimia. Karbon aktif memiliki jaringan poros (berlubang)
yang sangat luas yang berubah-ubah bentuknya untuk menerima molekul
pengotor baik besar maupun kecil.

Dalam aplikasinya pada bidang Teknik Lingkungan kadar logam sangat penting
untuk diketahui. Dengan adanya diketahui kadar logam dalam suatu perairan
ataupun badan air maka kita akan mengetahui kualitas air tersebut dan
memudahkan kita untuk menentukan perlakuan pengolahan yang tepat pada air
tersebut.
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat diambil dari praktikum kali ini adalah:


1. Kadar Fe dalam sampel sebesar 2,09 mg/l;

2. Konsentrasi kedua logam ini pada sampel cair lebih tinggi di bandingkan
standar baku mutu yang telah ditetapkan pada Permenkes Nomor 492 Tahun
2010 tentang Persyaratan Kualitas air Minum;

3. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor


492/Menkes/IV/2010 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum menyatakan
bahwa baku mutu Fe sebesar 0,3 mg/l, dapat disimpulkan bahwa sampel air
telah melampaui batas baku mutu.

5.2 Saran

Saran yang dapat kami berikan setelah melakukan percobaan ini adalah:
1. Untuk masyarakat diharapakan berhati-hati dalam mengkonsumsi air minum,
karena dapat membahayakan kesehatan;
2. Pemerintah seharusnya menambah atau memperbarui peraturan-peraturan yang
terkait dengan baku mutu air minum.
DAFTAR PUSTAKA

Alaerts, G dan Sri Simestri. 1984. Metoda Penelitian Air. Surabaya : Usaha
Nasional

Budiman. 1997. Pengaruh Logam Berat terhadap Lingkungan. Pusat Penelitian


Ekologi, Lembaga Oseanologi Nasional-LIPI, Jakarta

Chandra, Dr. Budiman. 1997. Ilmu Kedokteran Pencegahan Komunitas. EGC:


Jakarta

Effendi, H.2003. Telaah Kualitas Air. Yogyakarta: Kanisius

Hutagalung, H.1997. Metode Analisis Air Laut, Sedimen, dan Biota. Jakarta:
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia

R. A. Day, Jr dan Underwood. 1986. Analisis Kimia Kuantitatif. Jakarta : Erlangga