Anda di halaman 1dari 9

1

LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN STROKE

I. DEFINISI

Merupakan keadaan dimana terjadi gangguan aliran darah ke otak yang terjadi
secara mendadak, sehingga menimbulkan gangguan neurologist yang bersifat
fokal. (Ignatavicius, 1999).
Stroke adalah disfungsi neurologist akut yang disebabkan oleh gangguan
aliran darah yang timbul secara mendadak dengan tanda dan gejala sesuai dengan
daerah fokal pada otak yang terganggu. ( WHO, 1984).
Stroke oleh The National Stroke Association di Amerika juga disebut juga
dengan Brain Attack, dimana stroke merupakan keadaan yang bersifat
emergency yang terjadi secara mendadak dan harus ditangani secara cepat untuk
mencegah terjadinya gangguan dan kerusakan neurologist yang permanent.
( Ignatavicius, 1999.)

II. ETIOLOGI

Stroke disebabkan adanya sumbatan di pembuluh darah arteri karena thrombus


atau emboli dan juga disebabkan oleh terjadinya perdarahan karena hipertensi,
aneurisma yang pecah atau AVM ( ArterioVenous Malformation ). Beberapa
faktor resiko yang diientifikasi menjadi penyebab stroke diantaranya adalah :
penyakit cerebrovascular, khususnya hipertensi, diabetes mellitus, penyakit
jantung, dan atrial fibrilasi nonvalvular .
Berat ringannya gangguan yang terjadi pada stroke dipengaruhi oleh 3 faktor,
yaitu:
1. Cepatnya kejadian
Efek stroke akan terlihat dalam beberapa menit atau beberapa jam secara
tiba-tiba pada seseorang yang tadinya tampak normal menjadi paralise atau
muncul gejala neurologist lain.
2. Daerah otak yang terkena
Manifestasi klinis dari stroke tergantung dari daerah otak yang terkena
2

3. Berkaitan dengan suplai darah ke bagian otak tertentu.


Terjadi bila area otak tertentu mengalami gangguan aliran darah.

Faktor-faktor resiko stroke dapat dikelompokkan sebagai berikut:


1. Akibat adanya kerusakan arteri yaitu: usia, hipertensi, DM
2. Penyebab timbulnya trombosis: polycitemia
3. Penyebab emboli: MCI, kelainan katub, heart rate tidak teratur, penyakit
jantung
4. Penyebab hemoragik: tekanan darah terlalu tinggi, aneurisma arteri, penurunan
faktor pembekuan darah (leukemia, pengobatan antikoagulan)
5. Bukti yang menyatakan kerusakan arteri sebelumnya: PJK seperti angina, TIA.

Faktor resiko lainnya adalah :


Merokok
Penggunaan obat-obatan ( Kokain)
Obesitas
Pola hidup sedentary
Stress
Hiperkolesterol, Hiperlipoprotein, Hiperlipidemia
Riwayat Stroke, TIA
Peminum alcohol
Penghentian obat-obatan antihipertensi secara mendadak

III. PATHOFISIOLOGI

Secara klinis, stroke dibagi menjadi 2 yaitu :


a. Stroke Iskemia, dibagi juga menjadi stroke trombotik, yang disebabkan oleh
thrombus dan stroke embolik, yang disebabkan oleh embolus
b. Stroke Hemoragik, adalah stroke yang disebabkan oleh pecahnya pembuluh
darah sehingga menyebabakan terjadinya perdarahan di jaringan otak maupun
ruangan otak ( ventrikuler, subdural, subarahnoid )
3

Pathofisiologi Stroke Iskemi

Stroke Iskemi

Oklusi

Iskemi

Hipoxia Cerebral

Metabolisme Anaerob

Gangguan Keseimbangan Asam Basa & Elektrolit

Kegagaklan pompa Na dan K

Edema serebral

Penurunan perfusi serebral Defisit Neurologis

Pada stroke trombotik, oklusi disebabkan karena adanya penyumbatan lumen


pembuluh darah otak karena thrombus yang makin lama makin menebal, sehingga
aliran darah menjadi tidak lancer. Penurunan aliran arah ini menyebabakan iskemi
yang akan berlanjut menjadi infark. Dalam waktu 72 jam daerah tersebut akan
mengalami edema dan lama kelamaan akan terjadi nekrosis. Lokasi yang tersering
pada stroke trombosis adalah di percabangan arteri carotis besar dan arteri
vertebra yang berhubungan dengan arteri basiler. Onset stroke trombotik biasanya
berjalan lambat.
Sedangkan stroke emboli terjadi karena adanya emboli yang lepas dari bagian
tubuh lain sampai ke arteri carotis, emboli tersebut terjebak di pembuluh darah
otak yang lebih kecil dan biasanya pada daerah percabangan lumen yang
menyempit, yaitu arteri carotis di bagian tengah atau Middle Carotid Artery
( MCA ). Dengan adanya sumbatan oleh emboli akan menyebabkan iskemi
4

Pathofisiologi Stroke Hemoragik

Stroke Hemoragik

Ruptur pembuluh darah cerebral

Pe volume / massa cranial

TTIK

Defisit neurologis mendadak

Pada stroke hemoragik, perdarahan disebabkan oleh karena pecahnya


aneurisma, AVM ( ArterioVenous Malformation ) atau yang paling sering karena
hipertensi. Peningkatan tekanan sistolik dan diastolic menyebabkan perubahan
pada dinding arteri sehingga menjadi mudah pecah. Aneurisma lebih sering
ditemukan pada daerah percabangan arteri cerebral besar, pecahnya aneurisma
menyebabkan perdarahan di ruang subarachnoid atau langsung masuk di dalam
ventrikel sehingga menyebabkan perdarahan intra cerebral, hal ini menyebabkan
aliran darah menjadi berkurang dan selanjutnya akan terjadi iskemi dan keudian
penurunan fungsi neurologist.

IV. MANIFESTASI KLINIK


Tanda dan gejala yang muncul angat tergantung dengan daerah otak yang terkena
1. Pengaruh terhadap status mental: tidak sadar, konfus, lupa tubuh sebelah
2. Pengaruh secara fisik: paralise, disfagia, gangguan sentuhan dan sensasi,
gangguan penglihatan
3. Pengaruh terhadap komunikasi: bicara tidak jelas, kehilangan bahasa
Dilihat dari bagian hemisfer yang terkena tanda dan gejala dapat berupa:
Hemisfer kiri Hemisfer kanan
Mengalami hemiparese kanan hemiparese sebelah kiri tubuh
Perilaku lambat dan hati-hati penilaian buruk
5

Kelainan lapang pandang kanan mempunyai kerentanan terhadap


Disfagia global sisi kontralateral sehingga

Afasia memungkinkan terjatuh ke sisi


yang berlawanan tersebut
Mudah frustasi

V. KOMPLIKASI

Komplikasi utama pada stroke hemoragik seperti Sub Arahnoid Hemoragik


(SAH) adalah seperti : Vasospasme, Hidrosephalus, dan Disritmia.
Pasien dengan stroke yang mendapatkan terapi antikoagulan beresiko untuk
terjadinya perdarahan di tempat lain.
Komplikasi lainnya:
1. Berhubungan dengan imobilisasi: infeksi pernafasan, nyeri pada daerah
tertekan, konstipasi, tromboplebitis
2. Berhubungan dengan paralise: nyeri punggung, dislokasi sendi,
deformitas, terjatuh
3. Berhubungan dengan kerusakan otak: epilepsy, sakit kepala
4. Hidrosefalus

VI. PEMERIKSAAN PENUNJANG


1. Laboratorium :
Pe Hb, Ht biasa menyertai pada stroke yang berat
Pe Leukosit menandakan selain adanya infeksi juga stress fisik ataupun
terjadi kematian jaringan
PT / PTT untuk melihat fungsi pembekuan darah sebelum pemberian terapi
antikoagulan
Lumbal Pungsi dilakukan bila tidak ada peningkatan TIK, untuk melihat
adanya perdarahan subarahnoid, ditandai dengan adanya darah pada cairan
CSF dari lumbal pungsi
2. Radiografi:
CT Scan, untuk melihat adanya edema, hematoma, iskemi dan infark
MRI : menunjukkan daerah yang mengalami infark, hemoragik, dan
adanya AVM
6

Angiografi serebral : menentukan penyebab stroke secara spesifik, seperti


perdarahan, oklusi, rupture, obstruksi
Rontgen Kepala : menggambarkan perubahan kelenjar lempeng pineal
daerah yang berlawanan dari massa yang meluas, kalsifikasi karotis
interna.

VII. PENGKAJIAN KEPERAWATAN


1. Aktivitas / istirahat :
Merasa kesulitan melakukan kegiatan karena kelemahan, kehilangan sensasi
atau paralysis ( hemiplegia), gangguan penglihatan, gangguan tingkat
kesadaran
2. Sirkulasi :
Riwayat penyakit jantung, polisitemia, hipotensi postural, hipertensi arterial,
frekuensi nadi yang bervariasi, disritmia, perubahan irama EKG, Bruits pada
arteri karotis, femoralis, iliaka yang abnormal
3. Integritas Ego :
Perasaan tidak berdaya, putus asa, emosi yang labil, kesulitan untuk
mengekspresikan diri
4. Eliminasi :
Perubahan pola berkemih seperti inkontinensia urin, anuria, distensi abdomen,
bising usus bisa negatif
5. Makanan/cairan ;
Nafsu makan berkurang, mula muntah selama fase akut, kehilangan sensasi
pada lidah, pipi, tenggorokan, disfagia, adanya riwayat DM, penngkatan lemak
dalam darah, obesitas.
6. Neurosensori ;
Pusing, sakit kepala, sinkop selama periode serangan, kelemahan, kesemutan,
kebas, penglihatan menurun, penglihatan ganda, hilangnya rangsang sensorik
seperti sentuhan yang bersifat kontralateral, gangguan rasa pengecapan dan
penciuman, penuruna status mental / tingkat kesadaran, paralysis kontralateral
pada ekstremitas, paralysis pada wajah yang ipsilateral, afasia, apraksia,
ukuran / reaksi pupil yang tidak sama, dilatasi atau miosis pupil yang
ipsilateral biasanya karena perdarahan atau herniasi, kejang
7

7. Nyeri / kenyamanan :
Sakit kepala, tingkah laku yang berbeda-beda, gelisah, ketegangan otot
8. Pernafasan :
Riwayat merokok, ketidakmampuan menelan, membatukkan, nafas tidak
teratur, suara nafas ronkhi karena aspirasi
9. Keamanan :
Gangguan penglihatan, perubahan sensori persepsi, tidak mampu mengenali
objek, warna, kata dan wajah, gangguan respon terhadap panas, dingin,
kesulitan menelan, gangguan dalam memutuskan.
10. Interaksi social ;
Masalah bicara, ketidakmampuan dalam berkomunikasi
11. penyuluhan / pembelajaran :
Adanya riwayat hipertensi pada keluarga, stroke, kecanduan alcohol.

VIII. PENATALAKSANAAN MEDIS


Penatalaksanaan pada stroke trombotik/emboli didasarkan pada:
a. Mempertahankan perfusi jaringan serebral secara adekuat: misalnya
dengan tirah baring, monitor tekanan darah dan tingkat kesadaran.
b. Melindungi jaringan marginal disekitar infark
c. Merangsang pulihnya fungsi neuron yang mengalami kerusakan ireversibel
d. Mencegah pembentukan bekuan darah dan gangguan serebral lainnya,
misalnya pemberian antikoagulan seperti Dicumarol, heparin.
Sedangkan tindakan pembedahan dilakukan untuk:
a. Mengeluarkan bekuan darah atau thrombus dari arteri carotid atau vertebra
b. Merekonstruksi arteri yang sebagian teroklusi
c. Melakukan bypass pada arteri yang tersumbat dengan venous graft.
Penatalaksanaan pada stroke hemoragik bertujuan untuk:
a. Mempertahankan hidup
b. Meminimalkan kecacatan
c. Mencegah kekambuhan
Tindakan yang dilakukan:
a. mengontrol hipertermia
b. Mengontrol kejang: pemberian Dilantin, barbiturate, sedative
c. Mengatasi hipertensi: biasanya diuretic, pembatasan intake Na
8

d. Pengobatan simptomatik dari delirium dan kelelahan: Clorpromazin


e. Mengurangi sakit kepala atau nyeri leher: pemberian sedative dan posisi
nyaman
f. Mencegah mengedan: batuk, muntah, mengangkat benda berat, konstipasi
g. Berikan istirahat yang cukup
h. Menurunkan peningkatan TIK: elevasi kepala, pemberian kortikosteroid
i. Pembedahan untuk mengeluarkan bekuan darah

IX. PRIORITAS MASALAH KEPERAWATAN


1. Gangguan perfusi jaringan serebral
2. Gangguan mobilitas fisik
3. Kerusakan komunikasi verbal
4. Perubahan sensori-persepsi
5. Defisit perawatan diri
6. Gangguan konsep diri : harga riri rendah
7. Resiko tinggi terjadi gangguan menelan
8. Kurangnya pengetahuan mengenai kondisi dan pengobatan

X. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN


( pada lampiran )
9

DAFTAR PUSTAKA

Doenges, M.(2000). Rencana asuhan keperawatan: Pedoman untuk


perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien. (edisi ke-3). EGC:
Jakarta.

Ignativicius, D. (1999). Medical surgical nursing : across the health care


continuum. ( 3rd edition). W.B. Saunders Company: Philadelphia.

Lewis, Heitkemper & Dirksen. (2000). Medical surgical nursing: Assesment


and managements clinical problems. (5th ed.). Mosby Company.

Luckman & Sorensen. (1995). Medical surgical nursing: A psychophysiologic


approach. (2nd ed.). WB Saunders Co.

Reksoprojo, S. (1995). Kumpulan kuliah ilmu bedah. Bagian Bedah FKUI.

Sjamsuhidajat, R. (1997). Buku ajar ilmu bedah.(edisi revisi). Jakarta: EGC.

Smeltzer & Bare. (1996). Brunner & Suddarth textbook of medical


surgicalNursing.(8th ed.). Philadelphia: Lippincott-Raven.

Noer, S., dkk. (1996). Buku ajar ilmu penyakit dalam, jilid I. (edisi ke-).Jakarta:
Balai Penerbit FKUI.