Anda di halaman 1dari 15

4

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Umum


2.1.1 Transportasi
Transportasi dan aktivitas manusia merupakan sesuatu hal yang memiliki
keterkaitan erat. Hal ini dapat dilihat dari interaksi diantara empat komponen
dasar yaitu sistem kegiatan, pola kegiatan, perilaku orang, serta prasarana dan
sarana transportasi. Keempat komponen dasar tersebut berinteraksi sehingga
membentuk sistem transportasi perkotaan. (Tamin, 1997:70).

Gambar 2. 1 Pengertian Transportasi


Sumber : Tamin, 1997
Sistem kebutuhan akan transportasi merupakan pola kegiatan tata guna
lahan yang terdiri dari sistem, pola kegiatan sosial, ekonomi, kebudayaan dan
lain-lain. Kegiatan dalam sistem ini membutuhkan pergerakan sebagai alat
pemenuhan kebutuhan yang diperlukan dilakukan setiap hari. Pergerakan meliputi
pergerakan manusia atau barang membutuhkan sarana transportasi dan media
(prasarana) tempat sarana transportasi bergerak. Interaksi antara sistem kebutuhan
dan sistem prasarana transportasi akan menghasilkan pergerakan manusia atau
barang dalam bentuk pergerakan kendaraan atau orang. Sistem pergerakan yang
aman, cepat dan sesuai dengan lingkungannya dapat tercipta jika diatur oleh
sistem rekayasa dan manajemen yang baik.

Adanya sarana dan sarana transportasi disuatu daerah akan mempertinggi


aksesbilitas (daya jangkau) daerah yang bersangkutan, yang pada gilirannya akan
mempengaruhi sistem aktivitas dari daerah tersebut. Pengaruh ini lebih cenderung
disebabkan karena perilaku perorangan atau kelompok dalam menentukan lokasi
dimana mereka beraktivitas, yang mana mereka akan memilih daerah yang
memiliki aksesbilitas yang tinggi atau berarti daerah yang paling mudah
dijangkau. Dampak selanjutnya adalah daerah yang memiliki aksesbilitas yang
tinggi semakin cepat perkembangannya karena diminati oleh pihak-pihak yang
berkepentingan baik perorangan maupun kelompok.

2.1.2 Sistem Kegiatan


Pada dasarnya transportasi adalah kegiatan yang menghubungkan antara
tata guna lahan satu dengan yang lainnya dalam suatu daerah/kota. Dalam
perkembangan transportasi dan perkembangan suatu daerah tidak dapat diabaikan
karena merupakan dua hal yang saling mendukung. Berkembangnya tata guna
lahan dalam suatu daerah/kota merupakan salah satu sebab meningkatnya
kebutuhan akan transportasi. Sebaliknya kebutuhan transportasi yang baik dan
lancar akan mempercepat perkembangan suatu daerah/kota karena akan
mempercepat pergerakan penduduk.
Tata guna lahan dalam suatu daerah/kota memiliki pola yang berbeda
(Black,1981:23-24), yaitu menyebar (misalnya permukiman), mengelompok
(perkotaan) dan aktivitas tertentu yang memiliki lokasi one off (misalnya
terminal, bandar udara). Berkaitan dengan transportasi, tata guna lahan tersebut
menghasilkan bangkitan maupun tarikan lalu lintas yang berbeda, tergantung pada
jenis tata guna lahan dan intensitas kegiatan yang ada (Black, 1980:24). Perbedaan
tersebut dapat dilihat dari beberapa aspek, antara lain jumlah perjalanan, jenis
jalan, maupun waktu perjalanan (Tamin, 1997:61).

5
Demikian juga kalau dikaitkan dengan jumlah perjalanan dari suatu
terminal, sangat tergantung pada lokasi terminal tersebut. Jumlah perjalanan yang
dihasilkan tidak hanya ditentukan berdasarkan jumlah perjalan masing-masing
individu, tetapi terkait dengan tingkat kepadatan, maka akan makin banyak jumlah
individu yang melakukan perjalanan (Puskharev, 1977). Puskharev juga
mengatakan bahwa jumlah perjalanan ditentukan oleh jarak antar tata guna lahan.

2.1.3 Sistem Jaringan


Struktur tata ruang kota pada dasarnya dibentuk dari dua elemen utama,
yaitu link dan node. Kedua elemen tersebut sekaligus merupakan elemen
transportasi (Morlok, 1978:89), link (jalur) adalah suatu garis yang melewati
panjang tertentu dari suatu jalan, rel, atau rute kendaraan. Sedangkan node akan
membentuk suatu pola jaringan jalan transportasi perkotaan secara garis besar
dapat dibagi menjadi (Morlok, 1978:36-37).
1. Grid
Grid adalah bentuk paling sederhana dari sistem jaringan. Sistem ini
mampu mendistribusikan pergerakan secara merata keseluruhan bagian
kota, dengan demikian pergerakan secara merata keseluruh kota, dengan
demikian pergerakan tidak memusat pada beberapa fasilitas saja. Kota-
kota dengan sistem jaringan semacam ini umumnya memiliki topografi
yang datar.
2. Radial
Tipe ini akan memusatkan pergerakan pada suatu lokasi, biasanya
berupa pusat kota. Sistem radial biasanya dimiliki oleh suatu kota dengan
konsentrasi kegiatan pada pusat kota.
3. Circumferential
Tipe ini memisahkan lalu lintas dalam suatu kota, dengan cara
menyediakan jaringan jalan untuk lalu lintas menerus. Bentuk jaringan ini
umumnya berupa jalan bebas hambatan.

4. Electic

6
Electic Adalah jaringan yang terbentuk karena perluasan kota. Sistem
jaringan ini berfungsi untuk menghubungkan dua jaringan yang semula
terisolasi.

2.1.4 Sistem Pergerakan


Untuk memenuhi kebutuhan manusia melakukan perjalanan dari suatu
tempat ke tempat lainnya dengan memanfaatkan sistem jaringan transportasi dan
sarana transportasi. Hal ini menimbulkan pergerakan arus manusia, kendaraan dan
barang. Pergerakan yang terjadi dalam suatu daerah/kota sebagian besar
merupakan pergerakan rutin dari tempat tinggal ke tempat kerja. Pergerakan ini
akan membentuk suatu pola misalnya alat pergerakan, maksud perjalanan, pilihan
moda dan pilihan rute tertentu.
Secara keruangan pergerakan dapat dibagi menjadi tiga kelompok yaitu
internal, external dan through.
1. Pergerakan internal
Pergerakan internal adalah pergerakan yang berlangsung suatu
wilayah. Pergerakan tersebut merupakan perpindahan kendaraan atau
orang antara satu tempat lainnya dalam batas-batas wilayah tertentu.
2. Pergerakan external
Pergerakan external adalah pergerakan dari luar wilayah menuju
wilayah tertentu atau sebaliknya.
3. Pergerakan Through
Pergerakan Through Adalah pergerakan yang hanya melewati satu
wilayah tanpa berhenti pada wilayah tersebut.

Gambar 2. 2 Pola Pergerakan Spasial

7
Sumber : Marlok, 1978
Berdasarkan maksudnya diatas, pergerakan penduduk terbagi atas
pergerakan dengan maksud berbelanja, sekolah, bisnis dan keperluan sosial.
Maksud pergerakan akan menentukan dalam hal ini, tujuan pergerakan dalam hal
ini, tujuan pergerakan berbagi atas tujuan utama dan tujuan pilihan (Tamin,
1997:95), yang dimaksud dengan tujuan utama pergerakan adalah tujuan dari
pergerakan rutin yang dilakukan oleh setiap orang setiap hari, umumnya berupa
tempat kerja atau tempat pendidikan sedangkan tujuan pilihan merupakan tujuan
dari pergerakan yang tidak rutin dilakukan, misalnya ketempat rekreasi. Selain itu
pergerakan akan mengikuti pola waktu. Pada waktu tertentu, pergerakan akan
menyentuh jam sibuk (peak hours) karena volume pergerakan akan tinggi, yaitu
pada pagi hari dan sore hari.
Karateristik pola pergerakan ini dapat digunakan sebagai masukan untuk
analisis daerah asal tujuan serta pemilihan rute yang akan dilalui. Rute adalah
urutan jalan yang dilalui oleh kendaraan dalam kegiatan pelayanannya (Gray,
1979:76), rute tersebut dapat dibedakan atas (Edward, 1992:148).
1. Rute Radial
Rute Radial adalah rute yang melayani penumpang CBD menuju bagian
kota yang lain atau sebaliknya. Pola ini berbentuk radial dengan pusat
CBD.
2. Rute Circumferential
Rute Circumferential adalah rute yang menyediakan pelayanan antara dua
kawasan yang berbeda, tanpa melalui CBD.

3. Rute Crosstown
Rute Crosstown adalah rute yang melayani penumpang dari satu kawasan
ke kawasan lain dalam kota. Rute ini tegak lurus terhadap jalur radial dan
tangensial terhadap CBD.
4. Rute Feeder
Rute Feeder adalah rute yang menghubungkan jalur-jalur radial.
5. Rute Shuttle

8
Rute Shuttle adalah rute yang melayani di kawasan yang merupakan trik
generation. Misalnya antara CBD dengan terminal/parkir atau CBD
dengan perumahan.
Karena rute merupakan jalan yang harus di lalui antara asal dan tujuan
kendaraan, maka rute tersebut berfungsi untuk menggerakan pergerakan atau
distribusi pergerakan. Untuk mendistribusikan pergerakan tersebut dibutuhkan
sarana berupa kendaraan pribadi maupun kendaraan umum. Kendaraan
pribadibebas menentukan rute sesuai keperluannya. Akan tetapi untuk kendaraan
umum, rutetersebut telah ditentukan dan dibagi dalam trayek-trayek tertentu.
Trayekadalah lintasan kendaraan umum untuk pelayanan jasa angkutan orang
denganmobil bus/angkutan umum yang mempunyai asal dan tujuan perjalanan
tetap,lintasan yang tetap, baik terjadwal maupun tidak (DLLAJ, 1997).
Berdasarkan trayek tersebut, jenis pelayanan angkutan umum dibedakan atas
(Gray, 1979:72).
1. Short Haul Transit (angkutan jarak pendek/lokal)
Short Haul Transit adalah angkutan yang melayani wilayah kecil
misalnya dalam CBD dalam kampus atau dalam lingkungan perumahan.
2. City Transite (angkutan dalam kota)
Tipe ini merupakan tipe pelayanan yang umum, meliputi semua rute dalam
kota.
3. Regional Transite (angkutan regional)
Regional Transite yang termasuk dalam rute ini adalah angkutan kereta
api dan rute bus regional.
2.2 Pengertian terminal
Definisi terminal menurut Direktur Jendral Perhubungan Darat, No. 31
Tahun 1995, Terminal Transportasi merupakan :
1. Titik simpul dalam jaringan transportasi jalan yang berfungsi sebagai
pelayanan umum.
2. Tempat pengendalian, pengawasan, pengaturan dan pengoperasian lalu
lintas.
3. Prasarana angkutan yang merupakan bagian dari sistem transportasi untuk
melancarkan arus penumpang dan barang.

9
4. Unsur tata ruang yang mempunyai peranan penting bagi efisiensi
kehidupan daerah/kota.
Menurut Keputusan Mentri Perhubungan No.31 Tahun 1995 bahwa
Terminal Penumpang adalah prasarana transportasi jalan untuk keperluan
menurunkan dan menaikan penumpang, perpindahan intra dan /atau antar moda
transportasi serta mengatur kedatangan dan pemberangkatan kendaraan umum.
Menurut Direktur Jendral Perhubungan Darat, No.14 2002, terminal
angkutan penumpang merupakan salah satu agian dari sistem transportasi, tempat
kendaraan umum mengambil dan menurunkan penumpang dari satu moda ke
moda transportasi lainnya, juga merupakan prasarana angkutan penumpang dan
menjadi unsur ruang yang mempunyai peran penting bagi efisiensi kehidupan
wilayah.
Dilihat dari sistem jaringan transportasi secara keseluruhan, terminal
angkutan umum pusat dari sistem jaringan transportasi, tempat bertemunya
sekumpulan angkutan umum. Terminal berperan sangat penting dan berfungsi
secara signifikan karena terminal angkutan umum merupakan komponen utama
dari jaringan transportasi jalan (Purba 2008).

Dibutuhkan suatu pelayanan yang baik yang berfungsi secara efektif dan
efisien pada sebuah terminal agar mendukung terhadap kelancaran efektifitas dan
efisiensi kendaraan umum secara keseluruhan. Sebuah terminal harus mampu
memberikan pelayanan yang baik, untuk itu untuk mengoptimalkan fungsinya
sebagai sebuah terminal yang baik maka kapasitas terminal harus memadai untuk
mencakup semua pergerakan kendaraan umum di suatu wilayah.

2.2.1 Tipe dan fungsi terminal

10
Tipe dan fungsi terminal menurut Keputusan Mentri Perhubungan Tentang
Terminal Transportasi Jalan No 31 Tahun 1995 Terminal penumpang terdiri dari
tiga tipe yaitu terminal penumpang tipe A, terminal penumpang tipe B, dan
terminal penumpang tipe C.
1. Terminal penumpang tipe A berfungsi melayani kendaraan umum untuk
angkutan antar kota antar propinsi dan/atau angkutan lintas batas negara,
angkutan antar kota dalam propinsi, angkutan kota dan angkutan pedesaan.
2. Terminal penumpang tipe B berfungsi melayani kendaraan umum untuk
angkutan antar kota dalam propinsi, angkutan kota dan/atau angkutan
pedesaan.
3. Terminal penumpang tipe C berfungsi melayani kendaraan umum untuk
angkutan pedesaan.
Berdasarkan pedoman pengelolaan terminal menurut Dinas Pekerjaan
Umum Tahun 2010, Fungsi terminal adalah :
1. Menyediakan tempat dan kemudahan perpindahan moda transportasi.
2. Menyediakan sarana untuk simpul lalu lintas.
3. Menyediakan tempat untuk menyiapkan kendaraan.
Pengklasifikasian terminal ini yang mendasari suatu perencanaan, karena
setiap tipe terminal memiliki fungsi yang berbeda begitu pula kebutuhan akan
fasilitas terminal tersebut tentu berbeda pula. Tujuan dari perencanaan ketiga tipe
terminal ini tetap sama yaitu sebagai fasilitas yang melayani perpindahan dan
pergerakan penumpang dan kendaraan umum di wilayah tersebut (Purba 2008).

Selain dengan data langsung yang berkaitan dengan terminal, efisiensi atau
kemampuan layanan sebuah terminal dapat diukur dari beberapa variabel antara
lain :
1. Biaya dan waktu transport (cost and timeliness of transport)
2. Kebutuhan Transportasi (Demand transport).
3. Compliance cost.
4. Energy cost saving, dan
5. City cost transport efficiency
Fungsi terminal menurut Pedoman Teknis Pembangunan Terminal
Angkutan Jalan Raya Dalam Kota dan Antar Kota (Dirjen Perhubungan Darat

11
Direktorat Bina Sistem Prasarana) dapat ditinjau dari tiga unsur yang terkait
dengan terminal yaitu :
1. Fungsi terminal bagi penumpang adalah untuk kenyamanan menunggu,
kenyamanan perpindahan dari satu moda atau kendaraan ke moda atau
kendaraan yang lain, tempat tersedianya fasilitas-fasilitas dan informasi
serta fasilitas-fasilitas parkir bagi kendaraan pribadi.
2. Fungsi terminal bagi pemerintah antara lain adalah dari segi perencanaan
dan manajemen lalu lintas untuk menata lalu lintas dan menghindari
kemacetan, sebagai sumber pemungutan retribusi dan sebagai pengendali
arus kendaraan umum.
3. Fungsi terminal bagi operator bus adalah untuk pengaturan pelayanan
operasional bus, penyediaan fasilitas istirahat dan informasi bagi awak bus
dan fasilitas pangkalan.

2.2.2. Kriteria Lokasi Terminal


Penentuan lokasi terminal biasanya disesuaikan dengan kebutuhan dari
suatu daerah dalam menempatkan sebuah prasarana publik tergantung dari
jaringan transportasi jalan dan jumlah kendaraan umum yang ada di daerah
tersebut. Dilihat dari tipe terminal Geudong yang terletak di wilayah kecamatan
Samudera, Terminal Geudong merupakan Terminal penumpang Tipe C.

Menurut Keputusan Mentri Perhubungan No 31 Tahun 1995 bahwa


Penetapan lokasi terminal penumpang Tipe B selain harus memperhatikan
ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10, harus memenuhi persyaratan :
1. Terletak di dalam wilayah Kabupaten Daerah Tingkat II dan dalam
jaringan trayek angkutan pedesaan..
2. Terletak di jalan kolektor atau lokal dengan kelas jalan paling tinggi IIIA.
Tersedia lahan yang sesuai dengan permintaan angkutan.
3. Mempunyai jalan akses masuk atau jalan keluar ke dan dari terminal,
sesuai kebutuhan untuk kelancaran lalu lintas di sekitar terminal.
Rancangan pembuatan dan penetapan lokasi terminal Tipe B biasanya
dilakukan oleh Kepala Daerah Tingkat I setelah mendengar pendapat Kepala

12
Kantor Wilayah Departemen Perhubungan setempat dan mendapat persetujuan
Direktur Jenderal, untuk terminal penumpang tipe C.
Menurut Abubakar 1996, dalam Purba 2008 dalam pembangunan terminal
agar tercapainya tujuan dari pembangunan terminal harus mempertimbangkan
beberapa hal yaitu :
1. Terminal harus sesuai dengan tata ruang.
2. Terminal harus menjamin kelancaran lalu lintas barang maupun
penumpang.
3. Lokasi Terminal hendaknya dapat mendukung kegiatan serta penggunaan
terminal secara efektif dan efisien.
4. Lokasi terminal hendaknya tidak mengganggu kelancaran lalu lintas serta
tidak merusak kelestarian lingkungan sekitarnya.

2.2.3. Fasilitas Terminal Penumpang


Setiap terminal harus memiliki fasilitas yang menunjang fungsi dari
sebuah terminal tersebut. Fasilitas yang ada harus didasarkan dengan kebutuhan
dari terminal tersebut sesuai dengan Tipe Terminal. Fasilitas Terminal Menurut
Keputusan Mentri Perhubungan No 31 Tahun 1995 terbagi menjadi fasilitas utama
dan fasilitas penunjang. Fasilitas utama meliputi :

a. Jalur pemberangkatan kendaraan umum


b. Jalur kendaraan umum
c. Bangunan kantor terminal
d. Termpat tunggu penumpang dan /atau pengantar
e. Rambu-rambu dan papan informasi, yang sekurang-kurangnya memuat
petunjuk jurusan, tarif, dan perjalanan.
Fasilitas penunjang berupa :
a. Kamar kecil/toilet.
b. Musholla.
c. Kios/kantin.
d. Ruang pengobatan.
e. Ruang informasi dan pengaduan.
f. Telepon umum.
g. Tempat penitipan barang.
h. Tempat penitipan barang.

13
2.2.4 Kapasitas Terminal
Pada dasarnya terdapat dua konsep dari kapasitas Terminal, dimana
pengertiam dari kapasitas Terminal adalah suatu ukuran dari volume yang melalui
Terminal atau sebagian dari Terminal. Konsep pertama dari kapasitas Terminal
yaitu kemungkinan arus lalu-lintas maksimum yang melalui Terminal akan dapat
terjadi apabila selalu terdapat suatu satuan lalu-lintas yang menunggu untuk
memasuki tempat pelayanan segera setelah tempat tersebut tersedia. Kondisi ini
jarang dicapai dalam waktu yang panjang disebabkan karena arus lalu-lintas
biasanya mempunyai puncak. Secara praktis tertahannya jumlah arus yang besar
akan mengakibatkan kelambatan-kelambatan yang sangat mengganggu lalu-lintas
didalam dan diluar Terminal. Konsep kedua dari kapasitas Terminal yaitu volume
maksimum yang masih dapat ditampung dengan waktu menunggu atau
kelambatan yang masih dapat diterima.

Kapasitas Terminal juga sangat tergantung kepada luas areal dan jumlah
lajur-lajur pelayanan-nya, lajur-lajur tersebut terdiri dari :
1. Lajur kedatangan dimana diperlukan tempat untuk menurunkan
penumpang dan bagasi.
2. Lajur tempat parkir kenderaan untuk istirahat dalam hal ini bisa dilakukan
perawatan, membersihkan kabin dan persiapan.
3. Lajur pelayanan, yaitu tempat kenderaan menaikkan penumpang dan
bagasi.
4. Lajur tunggu, yaitu tempat kenderaan menunggu atau antri sebelum
memasuki jalur pelayanan.
5. Lajur keberangkatan, yaitu tempat kenderaan siap diberangkatkan setelah
terlebih dahulu dilakukan pengecekan administratif baik fisik maupun
dokumen terhadap kenderaan penumpang oleh petugas.
Kapasitas Terminal adalah besarnya volume atau tingkat kedatangan rata-
rata kenderaan persatuan waktu semua lajur bis di dalam Terminal. Adapun harga
kapasitas diperoleh dengan cara menjumlahkan volume/tingkat kedatangan ()
semua lajur bis yang ada didalam Terminal.

14
2.2.5 Aksessibilitas
Jalan masuk dan keluar kenderaan di Terminal harus lancar dan dapat
bergerak dengan mudah. Jalan masuk dan keluar calon penumpang kenderaan
umum harus terpisah dengan jalan keluar masuk kenderaan pribadi. Kenderaan
didalam Terminal harus dapat bergerak tanpa halangan yang tidak perlu. Sistem
sirkulasi kenderaan didalam Terminal ditentukan berdasarkan :
1. Jumlah arah perjalanan.
2. Frekwensi perjalanan.
3. Waktu yang diperlukan untuk turun atau naik penumpang.
Sistem sirkulasi ini juga harus ditata dengan memisahkan bus dalam kota
dengan jalur bus antar kota, sistem parkir kenderaan didalam Terminal harus ditata
sedemikian rupa sehingga rasa aman, lancar dan tertib dapat dicapai.

2.2.6 Penyelenggara Terminal


Penyelenggaraan Terminal Menurut Direktorat Jenderal Perhubungan
Darat 1995, meliputi kegiatan pengelolaan terminal, pemeliharaan terminal, dan
penertiban terminal.
1. Kegiatan pelaksanaan pengoperasian Terminal penumpang meliputi :
a. Pengaturan tempat tunggu dan arus kenderaan di dalam Terminal.
b. Pengaturan kedatangan dan pemberangkatan kenderaan menurut
jadwal yang telah ditetapkan.
c. Pemungutan jasa pelayanan Terminal penumpang.
d. Pemberitahuan tentang pemberangkatan dan kedatangan kendaraan
umum kepada penumpang.
e. Pengaturan arus lalu-lintas didaerah pengawasan Terminal.

a. Kegiatan pengawasan pengoperasian terminal penumpang meliputi :


a. Pemantauan pelaksanaan tarif.
b. Pemeriksaan kartu pengawasan dan jadwal perjalanan.
c. Pemeriksaan kenderaan yang tidak memenuhi kelayakan melakukan
perjalanan.
d. Pemeriksaan batas kapasitas muatan yang diijinkan.

15
e. Pemeriksaan pelayanan yang diberikan oleh penyedia jasa angkutan.
f. Pencatatan dan pelaporan pelanggaran yang terjadi.
g. Pemeriksaan kewajiban pengusaha angkutan sesuai dengan peraturan
perundang - undangan yang berlaku.
h. Pemantauan pemanfaatan Terminal serta fasilitas sesuai dengan
peruntukannya.

2. Terminal penumpang harus senantiasa dipelihara sebaik-baiknya untuk


menjamin agar Terminal tetap bersih, teratur, tertib, rapi serta berfungsi
sebagaimana mestinya. Pemeliharaan Terminal meliputi :
a. Menjaga kebersiahan bangunan serta perbaikannya.
b. Menjaga kebersihan pelataran terminal, perawatan tanda-tanda dan
perkerasan pelataran.
c. Merawat saluran-saluran air yang ada.
d. Merawat instalasi listrik dan lampu-lampu penerangan.
e. Menjaga dan merawat peralatan komonikasi.
f. Menyediakan dan merawat sistem hidrant atau alat pemadam
kebakaran lainnya yang siap pakai.

2.2.7 Penetapan Kriteria Efektifitas Terminal


Pada dasarnya efektifitas merupakan pencerminan hubungan antara
fasilitas yang telah disediakan dan manfaat yang dicapai dari penyediaan fasilitas
tersebut. Krishmono (1998) dalam Renward (2006) menjelaskan dalam kondisi
yang ideal dan optimum dimana keluaran akhir dari penyediaan fasilitas dari suatu
lokasi pelayanan umum mempunyai arah tujuan kedalam suatu sistem sehingga
efektifitas berdasarkan tujuan dalam sistem pelayanan umum dapat dianalisa
dengan kerangka yang jelas, terstruktur dan sistematis. Pengertian ini bermakna
bahwa konsep efektifitas pelayanan umum dapat dilakukan berdasarkan pada
tujuan penyediaan fasilitas pada lokasi pelayanan umum tersebut . Berdasarkan
tinjauan efektifitas fungsi Terminal melalui penyediaan fasilitas bagi angkutan
umum dilandasi oleh :
1. Pandangan berbagai elemen komponen tentang efektifitas Terminal.
2. Kriteria atau faktor-faktor yang mempengaruhi efektifitas Terminal,
Faktor internal Terminal dan external Terminal.

16
3. Metoda yang tepat untuk menetapkan efektifitas fungsi Terminal sebagai
tolok ukur pernyataan keberhasilan Terminal dalam mencapai tujuannya.

Efektifitas dikaitkan dengan pencapaian tujuan dan sasaran dimana tujuan


adalah keadaan atau kondisi yang ingin dicapai. Efektifitas menyatakan tingkat
keberhasilan dalam usaha mencapai tujuan. Hal ini menyangkut pengertian yang
luas karena pencapaian tujuan melibatkan seluruh komponen.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa dalam penilaian efektifitas
dari penyediaan asilitas dalam hal ini Terminal Sarantama sebagai Terminal
angkutan penumpang jalan ditinjau berdasarkan fungsi kepentingan pengguna jasa
layanan (user dan operator), dan juga kepentingan penyelenggara (regulator). Dan
mengacu pada kriteria penyediaan fasilitas yang ditinjau dari fungsi kepentingan
pengguna dan konsep umum Terminal dalam pelayanan maksimal, maka
disimpulkan penilaian efektifitas fungsi Terminal Sarantama dapat ditinjau dari
kriteria-kriteria, yang antara lain :
1. Tingkat pelayanan jalan, kriteria penilaian berdasarkan kondisi fhisik
eksisting di dalam dan sekitar Terminal yang menyangkut geometrik dan
permukaan jalan pada ruas jalan dan persimpangan, kondisi arus lalu
lintas disekitar Terminal.
2. Aksessibilitas, kr iteria penilaian yang berdasarkan suatu kemudahan
sirkulasi angkutan umum untuk masuk dan keluar di dalam dan sekitar
Terminal, kemudahan dalam sirkulasi yang aman dan nyaman bagi
penumpang untuk mendapatkan transit atau pertukaran bus sesuai dengan
tujuan perjalanan didalam lokasi Terminal.
3. Fasilitas dan manajemen Terminal, kriteria penilaian ini berdasarkan
ketersediaan dan pengaturan fasilitas yang aman dan nyaman untuk naik
dan turun bagi penumpang sesuai dengan lajur menurut tujuan bus,
tiketing, tempat menunggu, restoran dan pertokoan, telepon umum,
tempat sholat, toilet, p3k dan sebagainya.
4. Kenyamanan lingkungan, kriteria penilaian berdasarkan kondisi
didalam dan sekitar Terminal yang menyangkut kenyamanan lingkungan
yang diakibatkan dari limbah buangan kenderaan dan penumpang (oli

17
bekas, sampah), kebisingan dan getaran, kualitas udara yang mengganggu
lingkungan sekitar (asap kenderaan, toilet dan kamar mandi dan dapur
rumah makan), penempatan rumah makan khas daerah dan kondisi
drainase yang bersih dan lancar.
5. Keamanan lingkungan, kriteria penilaian berdasarkan situasi lingkungan
didalam Terminal yang aman dari tindak kriminal (pencopet, penodongan,
pembunuhan, pemerkosaan dan lain sebagainya).

18