Anda di halaman 1dari 30

MAKALAH

AKUNTABILITAS YAYASAN DAN PENGENDALIAN KEUANGAN

Ditulis untuk memenuhi tugas mata kuliah Akuntansi Sektor Publik


Dosen Pembimbing : Andriana S.E, M.Sc

Disusun oleh :

1. Intan Fajar Puteri (140810301090)


2. Shabrina Aldilia Anandiba (140810301120)
3. Ayu Puspita Sari (140810301121)

FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS JEMBER
TAHUN AKADEMIK 2015 / 2016
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kami kemudahan sehingga dapat
menyelesaikan makalah ini. Tanpa pertolongan-Nya mungkin penyusun tidak akan sanggup
menyelesaikannya dengan baik. Shalawat dan salam semoga terlimpah curahkan kepada
baginda tercinta kita yakni Nabi Muhammad SAW.
Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang "Akuntansi Sektor
Publik", yang kami sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber. Makalah ini di
susun oleh penyusun dengan berbagai rintangan. Baik itu yang datang dari diri penyusun
maupun yang datang dari luar. Namun dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan
dari Tuhan akhirnya makalah ini dapat terselesaikan.
Makalah ini memuat tentang Akuntabilitas Yayasan dan Pengendalian Keuangan
yang sangat berpengaruh bagi pendidikan seorang mahasiswa, khususnya bagi siswa yang
sedang menempuh pada fakultas ekonomi. Dengan mempelajari makalah ini, kita dapat
dengan mudah dan mengerti apa saja yang harus dilakukan dalam sebuah organisasi terutama
dalam yayasan.
Semoga makalah ini dapat memberikan pengetahuan yang lebih luas kepada pembaca.
Walaupun makalah ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Penyusun membutuhkan kritik
dan saran dari pembaca yang membangun. Terima kasih.
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Laporan keuangan adalah hal penting dari suatu perusahaan karena dari laporan
keuangan, pemilik perusahaan dapat mengetahui bagaimana kondisi usaha dan keuangan dari
perusahaan yang dimilikinya. Definisi laporan keuangan menurut PSAK nomor 1 (revisi
2009) laporan keuangan adalah suatu pengajian terstruktur dari posisi keuangan dan kinerja
keuangan suatu entitas. Laporan keuangan menjadi sebuah kewajiban yang harus dipenuhi
oleh sebuah perusahaan karena pentingnya pengawasan untuk keberlangsungan usahanya.
Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) telah menerbitkan Standar Akuntansi Keuangan untuk
Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK-ETAP). SAK-ETAP ini berlaku secara efektif untuk
penyusunan laporan keuangan yang dimulai pada atau setelah 1 Januari 2011. (IAI) juga
menyatakan entitas tanpa akuntabilitas publik (ETAP) adalah suatu entitas yang tidak
memiliki akuntabilitas publik signifikan dan menerbitkan laporan keuangan untuk tujuan
umum (general purpose financial statement) bagi pengguna eksternal.
SAK-ETAP membantu perusahaan kecil menengah dalam menyediakan pelaporan
keuangan yang tetap relevan dan andal. SAK-ETAP akan khusus digunakan untuk perusahaan
tanpa akuntabilitas publik yang signifikan. Perusahaan yang terdaftar dalam bursa efek dan
yang memiliki akuntabilitas publik signifikan tetap harus menggunakan PSAK yang umum.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana penerapan laporan keuangan yang sesuai SAK-ETAP pada Yayasan?

1.3 Tujuan Penulisan


Makalah ini bertujuan untuk mengetahui penerapan laporan keuangan yang sesuai
SAK-ETAP pada yayasan.

1.4 Manfaat
1. Menerapkan ilmu teori akuntansi yang didapat di perkuliahan dalam praktik yang
terjadi di kehidupan nyata.
2. Dapat dijadikan informasi untuk penelitian lebih lanjut di bidang akuntansi keuangan.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Akuntabilitas Yayasan


Pengertian yayasan menurut Undang-undang Nomor 16 Tahun 2001 adalah Badan
Hukum yang kekayaan terdiri dari kekayaan yang dipisahkan dan diperuntukan untuk
mencapai tujuan tertentu dibidang sosial, keagamaan, dan kemanusiaan.
Yayasan memiliki karakteristik yang berbeda dengan organisasi swasta (profit).
Dimana organisasi swasta biasa memperoleh modal usaha awal dari setoran modal para
pemilik dengan cara penjualan saham, sedangkan Yayasan memperoleh sumber daya awal
yang dibutuhkan umumnya diperoleh dari sumbangan.
Pada beberapa bentuk organisasi nonprofit yang tidak ada kepemilikan, kebutuhan
modal didanai dari utang, sementara kebutuhan operasinya diperoleh dari pendapatan atau
jasa yang diberikan, karenanya arus kas merupakan ukuran yang penting bagi para pemakai
laporan keuangan seperti kreditor dan pemasok dana, karena dalam arus kas terdapat
perubahan yang terjadi pada aktivitas pendanaan dan aktivitas operasi.
Laporan posisi keuangan pada yayasan menyajikan informasi mengenai aktiva,
kewajiban, aktiva bersih, dan informasi mengenai hubungan antara unsur-unsur tersebut,
tujuan dari laporan posisi keuangan ini adalah untuk memberitahu para pemakai informasi
mengenai kemampuan yayasan dalam mengelola jasa.

Ruang Lingkup (Karakteristik Laporan Keuangan Yayasan)


Laporan keuangan yayasan memiliki karakteristik (PSAK nomer 1 revisi 2011) antara lain:
1. Sumber daya atau modal berasal dari sumbangan dimana para penyumbang tidak
mengaharapkan imbalan yang sebanding dengan jumlah sumber daya atau modal
yang telah diberikan.
2. Yayasan menghasilkan barang dan/atau jasa namun bukan merupakan kegiatan
operasional perusahaan sehingga tidak semata-mata bertujuan untuk memperoleh
laba, dan apabila suatu yayasan menghasilkan laba maka laba yang diperoleh tersebut
tidak akan dibagikan kepada pemilik maupun pendiri yayasan tersebut.
3. Dalam yayasan tidak terdapat kepemilikan yang mengakibatkan suatu yayasan tidak
dapat dijual, dialihkan, atau ditebus kembali, ataupun apabila yayasan dilikuidasi atau
dibubarkan tidak ada kepemilikan yang menggambarkan pembagian sumberdaya dari
yayasan tersebut.

Definisi istilah dalam akuntansi yayasan (PSAK nomer 5 revisi 2011)


1. Pembatasan permanen, artinya pembatasan penggunaan sumber daya yang
ditetapkan oleh penyumbang agar sumber daya tersebut dapat dipertahankan
secara permanen. Yayasan diizinkan untuk menggunakan sebagian atau semua
penghasilan atau manfaat ekonomi lainnya yang berasal dari sumber daya
tersebut.
2. Pembatasan temporer, artinya pembatasan penggunaan sumber daya oleh
penyumbang, agar sumber daya tersebut dapat dipertahankan sampai dengan
periode tertentu atau sampai dengan terpenuhinya keadaan tertentu.
3. Sumbangan terikat, adalah sumber daya yang penggunaannya dibatasi untuk
tujuan tertentu oleh penyumbang. Pembatasan tersebut dapat bersifat temporer
maupun permanen.
4. Sumbangan tidak terikat, adalah sumber daya yang penggunaannya tidak
dibatasi untuk tujuan tertentu oleh penyumbang.

2.2 Tujuan laporan Keuangan


Laporan keuangan yayasan terdiri dari laporan posisi keuangan, laporan aktivitas,
laporan arus kas, dan catatan atas laporan keuangan.
Tujuan dari pelaporan keuangan yayasan (PSAK nomer 6 revisi 2011) adalah untuk
menyajikan informasi yang relevan artinya informasi tersebut diperoleh dari kegiatan yang
benar-benar terjadi dari kejadian ekonomi masa lalu yang dilakukan oleh yayasan. Laporan
keuangan digunakan bagi para pemakai kepentingan seperti penyumbang, anggota pengelola,
kreditor, dan pihak lain yang menyediakan sumber daya bagi yayasan dalam membantu
pengambilan keputusan.
a. Laporan Posisi Keuangan
Tujuan penyusunan laporan posisi keuangan adalah untuk menyediakan informasi
mengenai aktiva, kewajiban, dan aktiva bersih dan informasi mengenai hubungan
diantara unsur-unsur tersebut pada waktu tertentu. Informasi yang disajikan dari
laporan posisi keuangan ini dapat membantu para pengguna dalam menilai
kemampuan organisasi untuk memberikan jasa secara berkelanjutan, dan likuiditas,
fleksibilitas keuangan, kemampuan untuk memenuhi kewajibannya, dan kebutuhan
pendanaan eksternal.
b. Laporan Aktivitas
Tujuan utama laporan aktivitas adalah menyediakan informasi mengenai pengaruh
transaksi dan peristiwa lain yang mengubah jumlah dan sifat aktiva bersih, hubungan
antar transaksi, dan peristiwa lain, dan bagaimana penggunaan sumber daya dalam
pelaksanaan berbagai program atau jasa. Informasi dalam laporan aktivitas, yang
digunakan bersama dengan pengungkapan informasi dalam laporan keuangan lainnya.
Laporan ini dapat membantu para pemakai informasi untuk mengevaluasi kinerja
dalam suatu periode: menilai upaya, kemampuan, dan kesinambungan organisasi dan
memberikan jasa, dan menilai pelaksanaan tanggung jawab dan kinerja manajer.
c. Laporan Arus kas
Tujuan utama laporan arus kas adalah menyajikan informasi mengenai penerimaan
dan pengeluaran kas dalam suatu periode. Yang didalamnya mengungkapkan
mengenai aktivitas pendanaan dan aktivitas investasi yayasan.
d. Catatan atas Laporan Keuangan
Merupakan bagian dari laporan keuangan yang tak terpisahkan karena berisikan
penjelasan-penjelasan rinci atas akun-akun dalam laporan keuangan.

Unsur-unsur dalam sistem akuntansi


Sistem akuntansi bertujuan untuk memastikan semua data keuangan dan transaksi
ekonoi telah dicatat seara lengkap dan laporan akuntansi yang dihasilkan akan lebih akurat
serta tepat waktu.
Sistem akuntansi terdiri dari catatan-catatan akuntansi (buku cek, jurnal, dan buku
besar), serta serangkaian proses dan prosedur yang ditetapkan untuk staf, sukarelawan,
dan/atau para profesional dari luar yayasan.
Komponen-komponen Sistem Akuntansi
1. Bagan Perkiraan/Akun
Adalah daftar masing-masing item yang pencatatannya dibagi kedalam lima kategori:
a. Aktiva
b. Utang
c. Aktiva Bersih
d. Pendapatan
e. Belanja
2. Buku Besar
Buku besar digunakan untuk mengklasifikasikan informasi pencatatan, isi dari buku
besar adalah bagan perkiraan akun. Buku besar mencerminkan total keseluruhan
transaksi yang pencatatannya lebih ringkas karena berasal dari ringkasan total dari
semua jurnal.
3. Jurnal
Jurnal merupakan catatan akuntansi yang digunakan untuk merekam semua transaksi
dan peristiwa ekonomi yang terjadi pada yayasan.
4. Buku cek
Pada yayasan berskala kecil, buku cek menyajikan kombinasi jurnal dan buku besar.
Sebagian besar transaksi keuangan akan dicatat melalui buku cek, dimana tanda
penerimaan yang disetor ke dan dari saldo pembayaran akan dibuat.
5. Manual Prosedur Akuntansi
Yaitu suatu pencatatan prosedur dan kebijakan untuk menangani transaksi keuangan.
6. Siklus Akuntansi
Terdapat tiga tahap siklus akuntansi dalam yayasan :
(1) Tahap pencatatan, pada tahap ini semua transaksi akan diidentifikasi, kemudian
dicatat dalam jurnal dan diposting kebuku besar.
(2) Kedua tahap pengikhtisaran, yaitu tahap untuk penyusunan neraca saldo
berdasarkan akun buku besar, penyesuaian, penyusunan kertas kerja, jurnal
penutup, neraca saldo setelah penutupan sampai jurnal pembalik.
(3) Ketiga tahap pelaporan kedalam neraca, laporan surplus deficit/lapporan aktivitas,
laporan arus kas, laporan perubahan aktiva bersih, dan catatan atas laporan
keuangan.

Mempertahankan Integritas Sistem Akuntansi


1. Neraca saldo (Trial Balance)
Dihitung berdasarkan saldo semua buku besar dan harus dipastikan jumlah saldo
debet dan kredit sama karena jumlah dari neraca saldo digunakan untuk penyusunan
laporan keuangan.
2. Rekonsiliasi Bank
Rekonsiliasi bank dilakukan untuk memastikan bahwa saldo buku cek menurut
catatan perusahaan sama dengan saldo perkiraan bank.

2.3 Tahap Pengembangan Sistem Akuntansi


Sistem akuntansi yang di terapkan akan berubah sebagaimana halnya dengan sumber
daya dan kebudayaan yayasan. Dengan kompleksitas dan volume kerja yayasan yang
semakin berkembang, aktivitas manajemen keuangan membutuhkan peningkatan jumlah staf
sukarelawan atau staf yang dibayar atau kombinasi staf dan penyedia jasa dari luar. Jadi,
sistem akuntansi harus dirancang sesuai dengan kebutuhan dan kompetensi pemakainya.
Perbedaan antara Akuntansi untuk Yayasan dan Organisasi Bisnis
Prinsip akuntansi yang diterima umum bisa diterapkan dalam praktek akuntansi
nonprofit. Namun, ada beberapa perbedaan yang signifikan yaitu:
a. Akuntansi untuk Sumbangan
Yayasan yang memenuhi syarat untuk mendapatkan status bebas pajak akan
ditunjuk untuk menerima sumbangan. Adapun prosedur yang ekuivalen untuk
menangani akuntansi sumbangan dalam yayasan adalah prosedur khusus, yaitu:
1. Janji atau komitmen (Jaminan untuk Memberikan).
2. Jasa dan materi yang didermakan (Jenis Sumbangan).
3. Kejadian-kejadian khusus Hak Keanggotaan Pembina.
b. Kapitalisasi dan Penyusutan Aktiva
Yayasan melakukan pencatatan atas pembelian peralatan dan barang
substansial jangka panjang lainnya serta melakukan pencatatan atas penyusutan
asset tersebut.
c. Klasifikasi Pengeluaran Fungsional
Yayasan perlu melaporkan klasifikasi pengeluaran kas primer dan klasifikasi
aktivitas pendukung.
d. Implikasi Perbedaan antara Akuntansi Nonprofit dan Akuntansi Swasta
Dalam praktik akuntansi yayasan diperlukan keahlian tambahan bagi personil,
penasihat keuangan dan auditor. Jadi, sumbangan dan pembelian barang-barang
serta peralatan yang memerlukan penasihat khusus, diatur dengan melibatkan
seorang akuntan spesialis yayasan.

Perbedaan Akuntansi Berbasis Kas dan Berbasis Akural


Pada akuntansi berbasis kas pendapatan diakui pada saat kas benar-benar diterima,
dan beban diakui pada saat kas dikeluarkan untuk membayar beban tersebut. Sedangkan pada
akuntansi berbasis akrual pendapatan diakui pada saat pendapatan tersebut diperoleh dan
beban diakui pada saat beban tersebut muncul.
Beberapa yayasan tidak memiliki sumber daya untuk mengembangkan sistem
akuntansi yayasan. Faktor-faktor pertimbangan basis akuntansi adalah:
1. Besaran transaksi yayasan dalam piutang dan pembayaran atas basis yang terus-
menerus. Jika tagihan atau hibah belum dibayar atau dilunasi sepanjang tahun, maka
akuntansi berbasis kas akan memberikan gambaran keuangan yang sama baiknya
dengan akuntansi berbasis akrual.
2. Keahlian dan waktu yang membatasi staf pembukuan.
3. Posisi arus kas yayasan. Jika arus kas dijadikan fokus, maka akun pembayaran dan
piutang dapat dijadikan pengendali.
4. Ukuran anggaran yayasan. Beberapa yayasan yang baru belum memiliki kewajiban
pembayaran dan tidak memiliki piutang akan memilih akuntansi berbasis kas.

2.4 BAGAN AKUN


A. Unsur-unsur yang Harus Ada dalam Bagan Akun
Bagan akun merupakan daftar perkiraan atau rekening sistem akuntansi yang
dirancang untuk mendapatkan informasi keuangan, mempertahankan jalur informasi
keuangan, dan membuat keputusan keuangan. Bagan tersebut dibagi ke dalam lima
kategori, yaitu aktiva, utang, aktiva bersih, pendapatan, dan biaya. Masing-masing
akun ditentukan dengan nomor identifikasi yang ditentukan berdasarkan persetujuan
serta dapat disesuaikan dengan kebutuhan khusus yayasan.
Pertimbangan dalam memutuskan apa yang harus ada dalam bagan akun:
Laporan apa yang perlu dipersiapkan?
Keputusan, evaluasi, dan penilaian keuangan apa yang perlu dibuat secara
teratur?
Tingkat perincian apa yang diperlukan?
Kapasitas apa yang perlu dimiliki untuk melacak informasi keuangan?
Aturan yang baik adalah membuat akun yang sesederhana mungkin serta
memperbaikinya untuk meningkatkan ketersediaan informasi secara
berkesinambungan.

B. Ciri-ciri Bagan Akun yang Sederhana


Kategori akun disajikan dalam urutan standar, dimulai dengan akun yang
disajikan dalam Laporan Posisi Keuangan, yaitu:
a. Aktiva (Asset)
Aktiva merupakan item nyata dari yayasan yang mengungkap sumber daya,
seperti kas, piutang, perlengkapan dan kekayaan. Sebelum adanya IFRS asset
disajikan menurut urutan menurun dari tingkat yang paling liquid. Namun setelah
adanya IFRS urutan dalam asset tidak ditentukan.
b. Utang (Liabilitas)
Utang merupakan kewajiban yayasan kepada kreditor seperti pinjaman dan
utang usaha. Sama halnya seperti asset, sebelum IFRS liabilitas disajikan menurut
urutan yang jatuh temponya lebih awal. Namun setelah adanya IFRS aturan tersebut
tidak menjadi keharusan tergantung pada kebijakan perusahaan.
c. Aktiva Bersih
Aktiva bersih mencerminkan nilai keuangan dari suatu yayasan yang
mencerminkan saldo yang ada setelah kewajiban yayasan dilunasi.

C. Akun Penerimaan dan Pengeluaran Kas dalam Laporan Posisi Keuangan


Banyaknya item dalam suatu kategori akun akan selalu berkembang seiring
dengan berkembangnya aktivitas suatu yayasan. Akun yang saling berkaitan akan
dikelompokan bersama dengan nomor yang saling berkaitan.

D. Menangkap Informasi Keuangan yang Lebih Kompleks


Jika dana secara terpisah (dana terikat secara permanen maupun temporer)
dipilah menurut setiap program, departemen, dan tempat, maka bagan akun dirancang
untuk mengakomodasi kebutuhan tersebut dengan bagan akun multi-tiered (deretan
bertingkat banyak). Sebagai contoh, dalam bagan akun yang memperlihatkan deretan
bertingkat tunggal, penambahan bagian atau deretan bertingkat yang kedua untuk
kode akun akan memberikan kode dari berbagai item kedalam berbagai kategori.
Misalkan suatu yayasan memiliki tiga program yaitu: konseling, tutorial, dan rekreasi.
Setiap program itu mempunyai kode akun sendiri, seperti:
Konseling 01
Tutorial 02
Rekreasi 03
Bagan akun akan menjadi lebih kompleks jika yayasan menginginkan laporan
yang lebih rinci. Namun, sekali lagi, hal itu tergantung pada waktu dan kemampuan
staf keuangan serta kerumitan transaksi keuangan.
Contoh Bagan Akun Yayasan
Aktiva Pengeluaran
1010 Kas 7110 Gaji dan upah karyawan, direktur, dsb
1011 Akun Pengecekan
1012 Kas Kecil 7210 Gaji dan upah lain-lain
1020 Tabungan dan Investasi Kas Temporer 7310 Pajak upah dan sebagainya
1030 Piutang 7311Pembayaran FICA
1040 Biaya tidak terduga 7312 Pajak dan Asuransi Pengangguran
1050 Piutang Sumbangan 7313 Asuransi Para Pekerja dan Kompensasi
1060 Biaya tidak terduga 7314 Asuransi Cacat
1070 Pi
7520 Biaya Akuntansi
1130 Biaya dibayar dimuka 7520 Biaya Akuntansi dan Audit
1610 Tanah 7521 Diluar Jasa Pembukuan
1620 Gedung 7522 Diluar Jasa Upah
1640 Peralatan 7523 Biaya Jasa Bank
Utang
2010 Utang Usaha 7710 Persediaan
2410 Pinjaman dari Komisaris dan Karyawan 7810 Telepon
2510 Utang Hipotek 7910 Perangko dan pengiriman
Aktiva Bersih
3100 Aktiva Lancar yang tidak dibatasi 8010 Kepemilikan
8011 Sewa Kanntor
8012 Biaya Jasa Jaga Rumah dan Jasa Serupa
Penerimaan
4010 Sumbangan (Pos Langsung) 8110 Pemeliharaan dan Sewa Peralatan
4050 Acara Khusus (Porsi Pemberian)
8210 Pencetakan dan Duplikasi
4100 Jasa Sumbangan dan Penggunaan Fasilitas
8220 Publikasi
4220 Hibah Badan Hukum
4230 Hibah Yayasan
4510 Sumbangan Pemerintah 8310 Perjalanan

5040 Penjualan untuk Publik dari Program Terkait 8710 Asuransi


Investarisasi
5060 Biaya Jasa Program Lainnya
5110 Hak Keanggotaan Individu

E. Penyusutan (Depresiasi)
Yayasan harus mencatat pembelian peralatan dan kekayaan yang bersifat jangka
panjang, karena jenis aktiva tersebut menanggung biaya per tahun sesuai dengan umur
manfaatnya. Proses ini disebut sebagai kapitalisasi dan penyusutan aktiva tetap.
Pencatatan akuntansi untuk mencatat penyusutan aktiva tetap yang dimiliki oleh
yayasan sama dengan pencatatan akuntansi untuk penyusutan aktiva tetap pada
umumnya.

F. Pajak Pengghasilan dari Usaha yang Tidak Terkait


Pendapatan usaha yang tidak terkait adalah pendapatan yang dihasilkan dari
suatu perdagangan atau aktivitas usaha yang tidak terkait secara substansial dengan
tujuan yayasan. Aktivitas usaha atu aktivitas perdagangan adalah aktivitas yang
dilakukan untuk meraih pendapatan melalui aktivitas penjualan barang dagangan atau
jasa. Misalnya, toko buku universitas melakukan aktivitas usaha dengan menjual buku
textbook ke para mahasiswa dan masyarakat umum.

G. Mencatat Akun Sumbangan


Komitmen untuk memberikan kontribusi secara tertulis bisa dijadikan dasar
untuk pencatatan transaksi utang sumbangan. Sebagai contoh, seorang donatur
berjanji secara tertulis akan memberikan sumbangan senila Rp 1.000.000,- selama
tiga tahun mendatang. Dengan menyajikan piutang hibah dalam neraca, yayasan
memperlihatkan jumlah uang yang diharapkan akan diterima di masa mendatang
dalam bentuk sumbangan hibah.
Piutang hibah yang bisa dipercaya sebaiknya dicatat dalam sistem akuntansi.
Terdapat dua jenis piutang, yaitu piutang yang mengikat dan piutang yang tidak
mengikat. Pituang yang tidak mengikat adalah piutang yang dilakukan oleh donatur
untuk memberikan hibah kepada yayasan di masa yang akan datang. Namun yayasan
tersebut tidak perlu memenuhi beberapa persyaratan khusus sebelum menerima hibah
dan tidak ada kondisi lain yang ditetapkan oleh donatur.
Piutang yang mengikat adalah kesatuan peristiwa yang tidak menentu di masa
mendatang. Misalnya, seorang donatur berniat untuk memberikan uang sebesar seribu
rupiah jika yayasan telah memperoleh hibah yang sesuai sebesar dua ribu rupiah dari
sumber lain. Sedangkan untuk piutang yang tidak dapat terkumpul, maka yayasan
mencatatnya pada akun Cadangan untuk Piutang yang Tidak Terkumpul, dan akan
mengurangi Piutang Hibah yayasan.

Pentingnyakah Mencatat Piutang Hibah?


Apabila piutang hibah sudah dipastikan dan nilai kepercayaan atas komitmen yang telah
dibuat adalah kuat, maka sebaiknya dilakukan pencatatan atas piutang ini, sebelum
melakukan pencatatan hendaknya dipastikan apakah piutang hibah ini akan benar-benar
terwujud pada masa yang akan datang seperti yang telah dijanjikan oleh donatur, kata-kata
yang bisa menunjukan valid atau tidaknya bukti yang dibuat oleh donatur biasanya
menggunakan kata sepakat, atau menyetujui .

Piutang yang terwujudnya tidak menentu dan dalam mewujudkannya diperlukan beberapa
kondisi yang harus terpenuhi disebut piutang yang mengikat, piutang yang mengikat ini akan
dicatat ketika kondisi terpenuhi, ketika dicatat ini maka secara otomatis piutang yang
mengikat ini telah berpindah status menjadi piutang yang tidak mengikat karena telah
dipenuhinya kondisi yang disyaratkan. Namun, sebelum kondisi yang disyaratkan terpenuhi
piutang yang mengikat ini dimasukan dalam catatan kaki laporan keuangan.

Sedangkan piutang yang tidak memerlukan persyaratan disebut piutang yang tidak mengikat,
artinya secara otomatis donatur akan memberikan kontribusi pada masa yang akan datang
tanpa adanya syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh yayasan.
Akuntansi untuk Pencatatan Piutang Hibah

Piutang hibah diakui sebagai penerimaan di tahun munculnya piutang bukan pada
saat kas atas piutang dapat terealisasi, misalnya: terdapat piutang yang tidak mengikat, pada
tahun 2013 seorang donatur berjanji akan memberikan piutang hibah sebesar Rp3000 pada
tahun berikutnya serta terdapat pula piutang hibah lain Rp 1500 per tahun selama empat
tahun berikutnya, sehingga totalnya adalah Rp 6000. Pada akhir tahun 2013, untuk mencatat
adanya piutang tidak mengikat ini adalah ayat jurnal sebagai berikut :

Piutang Hibah Rp 9.000

Piutang Sumbangan Rp 9.0000

Untuk mencatat piutang hibah


Ketika piutang hibah dibayarkan pada tahun 2014, ayat jurnal yang dibuat adalah sebagai
berikut :

Kas Rp 3.000

Piutang Hibah Rp 3000

Contoh diatas adalah pencatatan untuk piutang yang tidak mengikat, sedangkan untuk
contoh piutang yang mengikut misalnya : seorang donatur berjanji akan memberikan bantuan
sebesar Rp 30.000 ketika yayasan terkena musibah. Munculnya piutang mengikat ini akan
dimuncukan di catatan kaki, sedangkan ketika yayasan terkena musibah, piutang akan dicatat
dan diakui sebagai penerimaan.

Mencatat Piutang yang Tidak Dapat Terkumpul

Pada dasarnya akuntansi untuk mencatat piutang yang tidak dapat terkumpul sama
halnya akuntansi untuk mencatat piutang yang dapat terkumpul. Misalnya, dana sebesar Rp
15.000 berupa piutang (sumbangan) yang tidak trikat yang diberikan kepada yayasan selama
tahun berjalan, menunjukakan bahwa rata-rata 20% dari dana tersebut tidak terkumpul. Akun
pengeluaran yang dibuat untuk nilai yang rata-rata tidak terkumpul ini, dibuat dalam satu
akun Cadangan untuk Piutang yang Tidak Dapat Terkumpul. Jurnal yang disajikan pada akhir
tahun adalah sebagai berikut:

Pengeluran piutang yang tidak terkumpul Rp 3000 (15.000 x 20% )

Cadangan untuk piutang yang tidak terkumpul Rp 3000 (15.000x20%)

Cadangan untuk piutang yang tidak terkumpul ini akan ditandingkan dengan nilai
piutang dalam laporan neraca, hasilnya adalah piutang bersih sebagai berikut:

Piutang hibah Rp 15.000

Dikurangi :

Cadangan untuk piutang yang tidak terkumpul (Rp 3.000)

Total Bersih Piutang Hibah Rp 12.000

H. Persolan Pelaporan

Semua pedoaman FASB mengarah ke hasil surplus (laba), hal ini karena pendapatan
merupakan piutang yang telah diterima. Yayasan akan melaporkan peningkatan yang besar
pada aktiva bersih jika piutang-piutang tersebut dicatat. Jadi, jumlah tersebut akan
disalahinterpretasikan oleh para pengguna laporan keuangan.
Ringkasan: suatu pengakuan hibah (bantuan), atau penerimaan, harus secara akurat
menggambarkan jenis hibah dan bukan jumlah uang yang disebutkan.

1.5 ANALISIS FASB NO 116

(Financial Accounting Stadards Board atau Dewan Standar Akuntansi Keuangan)

AKUNTANSI UNTUK SUMBANGAN YANG DITERIMA DAN SUMBANGN YANG


DIBUAT

Pernyataan Dewan Standar Akuntans Keuangan No. 116 Akuntansi untuk Sumbangan yang
Diterima dan Sumbangan yang Dibuat mencakup seluruh entitas yang menerima atau
membuat sumbangan.

Beberapa definisi kunci yang ada dalam pernyataan ini adalah :


Sumbangan suatu transfer kas atau aktiva lain yang tidak mengikat untuk entitas
lembaga nonprofit atau penyelesaian atau pembatalan utang dari transfer timbal balik
secara sukarela oleh entitas lainnya yang bertindak atas nama pemilik.
Komitmen untuk Memberikan suatu penyataan tertulis atau lisan untuk memberikan
sumbangan secara tunai atau dalam bentuk aktiva lainnya.
Kondisi yang Ditentukan Donor (Donatur) suatu kejadian tidak pasti atau di masa
yang akan datang memiliki kegagalan yang mengakibatkan pengembalian aktiva yang
telah ditransfer untuk orang yang memberikan piutang atau melepaskan orang yang
memberikan piutang dari suatu kewajiban untuk memberikan aktiva.
Batasan yang Ditentukan Donatur suatu batasan dan ketentuan dalam penggunaan
aktiva sumbangan. Pembatasan ini dapat dijadikan batasan sebagaimana untuk tujuan,
waktu, atau keduanya.

Sumbangan yang diterima: termasuk piutang-piutang yang tidak mengikat, sebaiknya diakui
sebagai penerimaan pada saat ditrima. Untuk tujuan Laporan Posisi Keuangan, piutang
tersebut sebaiknya dicatat sebagai penambahan pada aktiva atau pengurangan pada pasiva
dan sebagai salah satu bantuan yang dibatasi atau penerimaan yang tidak dibatasi.
Sumbangan tanpa pembatasan yang ditentukan oleh donatur, dilaporkan sebagai bantuan
yang tidak dibatasi dan menambah aktiva bersih yang tidak dibatasi.
Bantuan dengan batasan yang ditentukan oleh doantru dilaprkan sebagai bantuan yang
dibatasi, kecuali batasan ini dipenuhi pada periode pelapran yang sama.
Penerimaan dari piutang yang tidak mengikat untuk melakukan pembayaran di masa
mendatatng pada umumnya dilaporkan sebagai bantuan yang dibatasi. Pada umumnya,
realisasi piutang yang tidak mengikat untuk memberikan uang di masa mendatang akan
disajikan sebagai suatu tambahan pada aktiva bersih terikat temporer.
Sumbangan terikat sebaiknya dilaprkan sebagai aktiva bersih terikat permanen atau aktiva
bersih terikat temporer.
Sumbangan aktiva jangka panjang, tanpa ketentuan berapa lama aktiva yang diberikan
harus digunakan, dilaporkan sebagai sumbangan terikat jika hal itu adalah suatu kebijakan
akuntansi yayasan untuk mengyatakan ikatan waktu yang berakhir pada umur manfaat
dari aktiva yang diberikan.
Sumbangan dengan kondisi yang ditentukan oleh donatur, diakui sebagai aktiva dan
dicatat sebagai tambahan dapat dibayar kembali, sehingga kondisi dipenuhi pada waktu
penerimaan diakui.
Jasa yang diberikan diakui saat jasa yang diterima membuat atau menambah akiva
nonkeuangan atau memerlukan keahlian khusus yang diberikan oleh individu yang
memiliki keahlian tersebut.
Sumbangan, sebagaimana aturan umum, diukur menurut nilai wajar pada saat (tanggal
penerimaan). Untuk jasa yang diberikan,nilai wajar mungkin ditentukan berdsarkan nilai
wajar jasa yang diteima tau nilai wajr aktia penambahan aktia hasil dari jasa tersebut.
Piutang-piutang yang tidak mengikat untuk memberikan uang (kas) sebaiknya dinilai
pada nilai saat ini dari perkiraan arus kas di masa mendatang, dengan tambahan bunga
berikutnya yang diakui sebagai pendapatan sumbangan.
Berakhirnya batasan yang ditentukan oleh donatur sebaiknya digambarkan ketika waktu
yang ditetapkan telah lewat atau tujuan yang ditetapkan telah terpenuhi. Berakhirnya
batasan yang ditentukan donatur dilaporkan sebagai penggolongan ulang(antara tidak
terikat dan terikat temporer) dan dilaporkan secara terpisah dari transaksi operasional
lainnya.
Sumbangan kerja atau seni atau item kumpulan barangkali diakui dan ditulis secara jelas
jika kondisi tertetu dipenuhi.

Pencatatan mengenai Keuntungan Bersih atas Acara Penggalangan Dana

Dalam software akuntansi tidak menjelaskan secara rinci perubahan anggara untuk
pengeluaran, penerimaan dan pembiayaan yang terjadi dalam acara penggalangan dana,
namun hanya mengungkapkan satu pos yakni pos akuntansi.

Yayasan harus mempertanggungjawabkan acara penggalian dana dalam formulir


tahunan karena penerimaan dan pengeluaran dari acara penggalian dana dapat mengubah
posisi keuangan yayasan.

PERNYATAAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN NOMOR 45


PELAPORAN KEUANGAN ORGANISASI NONPROFIT

LAPORAN KEUANGAN ORGANISASI NONPROFIT


Laporan keuangan organisasi nonprofit seperti yayasan meliputi laporan posisi
keuangan pada akhir periode pelaporan, laporan aktivitas serta laporan arus kas untuk
suatu periode pelaporan, dan catatan atas laporan keuangan
LAPORAN POSISI KEUANGAN
Klasifikasi aktiva dan kewajiban
Informasi mengenai likuiditas diberikan dengan cara sebagai berikut:
a) Menyajikan aktiva berdasarkan urutan likuiditas dan kewajiban berdasarkan
tanggal jatuh tempo.
b) Mengelompokkan aktiva ke dalam bagian lancer dan tidak lancar, serta
kewajiban ke dalam bagian jangka pendek dan jangka panjang.
c) Mengungkapkan informasi mengenai likuidasi aktiva atau saat jatuh tempo
kewajiban termasuk pembatasan penggunaan aktiva pada catatan atas laporan
keuangan.
Klasifikasi Aktiva Bersih Terikat atau Tidak Terikat
Laporan posisi keuangan menyajikan jumlah setiap kelompok aktiva bersih
berdasarkan ada atau tidaknya pembatasan oleh penyumbang, yaitu terikat secara
permanen, terikat secara temporer, dan tidak terikat
Informasi mengenai sifat dan jumlah dari pembatasan permanen atau temporer
akan diungkapkan dengan cara menyajikan jumlah tersebut dalam laporan keuangan
atau catatan atas laporan keuangan.

LAPORAN AKTIVITAS
Tujuan dan Fokus Laporan Aktivitas
Laporan aktivitas difokuskan pada yayasan secara keseluruhan dan
menyajikan perubahan jumlah aktiva bersih selama suatu periode. Perubahan aktiva
dalam laporan aktivitas akam tercermin pada aktiva bersih dalam laporan posisi
keuangan.
Perubahan Kelompok Aktiva Bersih
Laporan aktivitas menyajikan jumlah perubahan aktiva bersih yang terikat
permanen, terikat temporer, dan tidak terikat selama suatu periode.
Klasifikasi Pendapatan, Beban, Keuntungan, dan Kerugian
Laporan aktivitas menyajikan pendapatan sebagai penambah aktiva bersih
tidak terikat, kecuali penggunaannya dibatasi oleh penyumbang, dan menyajikan
beban sebagai pengurang aktiva bersih tidak terikat.
Sementara itu, sumbangan disajikan sebagai penambah aktiva bersih tidak
terikat, terikat permanen, atau terikat temporer, tergantung pada tindakannya ada
tidaknya pembatasan. Jika sumbangan terikat yang pembatasnya tidak berlaku lagi
dalam periode yang sama, maka dapat disajikan sebagai sumbangan tidak terikat
sepanjang disajikan secara konsisten dan diungkapkan sebagai kebijakan akuntansi.
Laporan aktivitas menyajikan keuntungan dan kerugian yang diakui dari
investasi dan aktiva lain (atau kewajiban) sebagai penambah atau pengurangan aktiva
bersih tidak terikat, kecuali jika penggunaanya dibatasi
Informasi Mengenai Pendapatan dan Beban
Laporan aktivitas menyajikan jumlah pendapatan dan beban secara bruto,
namun demikian, pendapatan investasi dapat disajikan secara netto dengan syarat
beban-beban terkait, seperti beban penitipan dan beban penasihat investasi,
diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan.
Informasi Mengenai Pemberian Jasa
Laporan aktivitas atau catatan atas laporan keuangan harus menyajikan
informasi mengenai beban menurut klasifikasi fungsional, seperti menurut kelompok
program jasa utama dan aktivitas pendukung.

LAPORAN ARUS KAS


Tujuan Laporan Arus Kas
Tujuan utama laporan arus kas adalah menyajikan informasi mengenai
penerimaan dan pengeluaran kas dalam suatu periode.
Klasifikasi Penerimaan dan Pengeluaran Kas
Laporan arus kas disajikan sesuai dengan PSAK 2 tentang laporan arus kas
dengan tambahan berikut ini:
a) Aktivitas pembiayaan:
(1) Penerimaan kas dari penyumbang yang pengggunaannya dibatasi untuk jangka
panjang.
(2) Penerimaan kas dari sumbangan dan penghasilan investasi yang penggunaanya
dibatasi untuk perolehan, pembangunan, dan pemeliharaan aktiva tetap, atau
peningkatan dana abadi (endowment).
(3) Bunga dan dividen yang dibatasi penggunaannya untuk jangka panjang.
b) Pengungkapan informasi mengenai aktivitas investasi dan pendanaan nonkas: seperti
sumbangan berupa bangunan atau aktiva investasi.

TANGGAL BERLAKU EFEKTIF


Pernyataan ini berlaku efektif untuk penyusunan laporan keuangan yang
mencakup periode pelaporan yang dimulai pada atau setelah tanggal 1 Januari 2000.
Penerapan lebih dini sangat dianjurkan.
1.6 PENGENDALIAN KEUANGAN
A. Pengembangan Sistem Pengendalian Akuntansi

Langkah pertama dalam sistem pengendalian akuntansi yang efektif adalah


mengidentifikasi bidang dimana penyalahgunaan atau kesalahan-kesalahan mungkin terjadi.
Beberapa akuntan dapat memberikan checklist (daftar pengecekan) atas bidang dan
pertanyaan tentang waktu perencanaan sistem. Price Waterhouses Booklet, Effective
Internal Accounting Control for Nonprofit Organizations: A Guide for Directors and
Management, memasukkan bidang dan tujuan pengembangan sistem pengendalian
akuntansi yang efektif, seperti:

Penerimaan Kas, untuk memastikan bahwa seluruh kas telah diterima, didepositokan secara
cepat, dicatat dengan sesuai, direkonsiliasi, dan dipertahankan menurut prosedur keamanan
yang memadai.

Pengeluaran Kas, untuk memastikan bahwa semua pembayaran kas hanya dilakukan atas
kewenangan pengelola yang tepat, untuk tujuan aktivitas yang valid, dan dicatat secara tepat.

Kas Kecil (petty cash), untuk memastikan bahwa kas kecil dan dana kerja lainnya dibayar
hanya untuk tujuan yang tepat, disimpan secara aman, dan dicatat secara tepat.

Gaji, untuk memastikan bahwa pembayaran gaji hanya dibuat atas kewenangan yang tepat
untuk karyawan yang berhak serta dicatat secara tepat dan berhubungan dengan persyaratan
yang sah (seperti setoran pajak gaji).

Hibah, Sumbangan, dan Warisan, untuk memastikan bahwa semua hiba, sumbangan, dan
warisan diterima serta dicatat secara tepat dan memenuhi syarat-syarat yang berlaku

Aktiva Tetap, untuk mamastikan bahwa aktiva tetap diperoleh dan diatur oleh otorisasi yang
tepat, dijaga dengan aman, dan dicatat secara tepat.

Sistem pengendalian akuntansi juga diperlukan untuk memastikan pencatatan yang


tepat atas barang yang didermakan, sumbangan dan penerimaan lainnya. Laporan keuangan
dan pengembalian informasi harus dicatat secara akurat dan tepat waktu, dan memenuhi
peraturan pemerintah lainnya.

Untuk mencapai tujuan ini yayasan perlu menetapkan prosedur yang jelas untuk
menangani per bidang, termasuk sistem check and balance. Prinsip ini disebut sebagai
pemisahan tugas, dimana tugas dapat dibagi di antara staf dan sukarelawan yang dibayar.
Misalnya, dalam yayasan yang kecil, direktur menyetujui pembayaran sekaligus dan
menandatangani cek yang disiapkan oleh kasir atau manajer kantor. Sementara itu bendahara
akan meninjau pembayaran tersebut dengan disertai dokumen bulanan, menyiapkan
rekonsiliasi bank, dan meninjau ulang cek-cek yang dibatalkan.

Di samping itu ada juga hal-hal umum yang memerlukan perhatian pengelola yaitu:

Pengeluaran cek, jumlah tanda tangan pada cek, jumlah rupiah yang memerlukan
persetujuan atau tanda tangan pengurus pada cek, yang mengakui pembayaran, serta
komitmen keuangan.

Setoran, bagaimana pembayaran yang dilakukan secara tunai akan ditandatangani dan
sebagainya.

Transfer, jika dan kapan dana umum dapat dipinjam dari dana terikat dan sebagainya

Persetujuan rencana dan komitmen sebelum dilaksanakan, anggaran tahunan dan


perbandingan periodik antara laporan keuangan dengan jumlah, sewa, persetujuan pinjaman,
dan komitmen utama lainnya yang dianggarkan

Kebijakan-kebijakan personalia, yaitu tingkat gaji, liburan, lembur, waktu pengganti,


keuntungan, uang pesangon, dan persoalan personalia lainnya.

B. Manual Prosedur Akuntansi

Kebijakan dan prosedur untuk menangani transaksi keuangan didokumentasikan


dalam Manual Prosedur Akuntansi, dimana tugas-tugas administrasi dan siapa yang
bertanggung jawab atas masing-masing tugas tersebut dijelaskan. Manual tersebut merupakan
gambaran yang sederhana tentang penanganan fungsi seperti pembayaran tagihan, setoran
kas, dan transfer uang. Revisi atas Manual Prosedur Akuntansi biasanya dilakukan untuk
mengevaluasi efektivitas pengendalian yang ada.

C. Mempertahankan Pengendalian yang Efektif

Pelaksana biasanya bertanggung jawab atas pengawasan pelaksanaan kebijakan dan


prosedur yang ada. Dengan pensyaratan yang rici dari lembaga donor, sebaiknya harus ada
satu orang yang memahami dan memonitor peraturan khusus serta faktor pemenuhannya.
Surat manajemen merupakan indikator kualitas pengendalian sistem akuntansi dan
bagian dokumen audit yang menyebutkan kelemahan signifikan dari sistem yayasan atau
pelaksanaanya. Dengan surat manajemen tersebut pengelola diminta untuk melakukan
perubahan sesuai dengan rekomendasi yang diajukan auditor. Dengan membandingkan surat
manajemen dari tahun ke tahun, pengelola akan memiliki mekanisme pengawasan tentang
penjagaan keuangan dan ketaatan atas kebijakan keuangan.

D. Pengendalian Internal yang Dibutuhkan untuk Pembayaran Kas

Tujuannya adalah untuk memastikan ketepatan otorisasi pembayaran kas, keakurasian


pencatatan transaksi, dan pencapaian tujuan yayasan.

Pemisahan Tugas

Pemisahan tugas berarti penanganan transaksi keuangan oleh lebih dari satu orang
sejak dari awal hingga akhir. Namun dalam yayasan yang kecil, prinsip ini akan sulit
dipraktekkan. Secara umum, diperlukan satu petugas untuk menandatangani cek dan satu
orang lagi untuk meninjau ulang pembayaran, laporan bank, dan membatalkan cek secara
bulanan.

Otorisasi dan Proses Pembayaran

Kebijakan mengenai siapa petugas pengesahan pembayaran perlu ditentukan. Dalam


berbagai yayasan, pengurus merupakan orang yang bertanggungjawab atas pembayaran uang.
Namun diperlukan kebijakan khusus untuk mengesahkan belanja dalam jumlah yang
signifikan seperti pembelian komputer atau aktiva lain. Jadi kesepakatan formal merupakan
hal yang penting dalam mendefinisikan belanja yang signifikan. Seluruh pembayaran
sebaiknya disertai dengan dokumentasi yang memadai, seperti kwitansi atau faktur.

Pengelolaan Dana Terbatas

Sumbangan terikat adalah bentuk penerimaan yang unik bagi yayasan. Uang yang
telah dibatasi penggunaannya oleh donor untuk hal-hal khusus sebaiknya hanya digunakan
untuk tujuan yang telah ditetapkan tersebut. Namun, sebagian besar yayasan tergoda untuk
meminjam dana terbatas dalam menghadapi kekurangan kas. Jadi larangan untuk meminjam
perlu diberlakukan guna menjaga kepercayaan, karena hilangnya kepercayaan dapat berarti
penarikan kembali hibah yang telah diberikan. Pada akhirnya, peranan pengelola adalah
memastikan pemenuhan kewajiban yayasan kepada pihak donor. Oleh karena itu, alam kasus
pinjaman terhadap dana terbatas, manajemen harus menetapkan kebijakan pinjaman.

Penandatanganan Cek

Pengesahan cek merupakan titik kritis. Dalam beberapa kasus, mungkin saja
ddiperlukan dua tanda tangan pada cek, terutama untuk pembelian di atas jumlah yang
ditentukan, yang jumlahnya akan bervariasi sesuai dengan anggaran; Jumlah
penandatanganan yang sah sebaiknya djadikan patokan minimal. Tujuan pengendalian
internal ini adalah untuk memastikan siapa yang membayar, seberapa besar jumlah
pembayaran, dan kapan pembayaran tagihan dilakukan. Jika lebih dari satu penandatanganan
tidak tersedia secara reguler, maka pembukuan rekening cek kas kecil perlu dilakukan.

Checklist Pengendalian Akuntansi Internal

Perlu dibuat pertanyaan-pertanyaan yang mencerminkan pengendalian akuntansi atas


pembayaran tagihan. Daftar tagihan ini akan digunakan untuk meninjau ulang pengendalian
akuntansi.

Apakah Pengendalian Internal diperlukan untuk Gaji?

Tujuan pengendalian internal atas gaji adalah untuk memastikan bahwa pengeluaran
gaji hanya dibuat oleh otorisasi yang tepat untuk karyawan yang berhak, dicatat secara tepat
dan persyaratan hukum yang terkait dipenuhi.

Setiap karyawan memiliki file pribadi/gaji yang berisi gaji terbaru, keuntungan, status
pekerjaan, dan informasi tentang pemotongan pajak serta tanggal awal masuk kerja dan
tanggal berhenti. Manual personalia sebaiknya menggambarkan kebijakan yayasan mengenai
libur, hari besar, dan cuti sakit.

Presensi adalah alat dokumentasi jam kerja karyawan. Presensi juga dapat dirancang
untuk menggabungkan informasi tentang libur, cuti sakit, dan libur hari raya. Donor dari
pihak pemerintah seringkali emmerlukan presensi untuk memberikan hibah atau kontrak.
Presensi biasanya diajukan oleh karyawan kepada supervisor.

Cek gaji sebaiknya ditulis di dalm pembukuan sesuai dengan prosedur pengeluaran
kas. Pemisahan tugas dalam fungsi gaji ditujukan untuk:

a. Meninjau ulang daftar gaji dan posting gaji ke buku besar


b. Meninjau ulang pemotongan pajak terkait gaji, setoran, dan pelaporan
c. Mendistribusikan ringkasan pajak akhir tahun kepada para karyawan

Beberapa yayasan memilih memisahkan rekening cek untuk gaji dengan tujuan menerbitkan
cek pembayaran dan membayar pemotongan pajak pemerintah serta pajak lainnya yang
terkait dengan gaji.

1.7 Aktivitas Pengendalian Dalam Siklus Akuntansi Tahunan


A. Pengelolaan Anggaran Operasional

Anggaran menggambarkan apa yang diharapkan menyangkut belanja (pengeluaran)


dan pendapatan (penerimaan) pada suatu periode waktu. Anggaran operasional juga
membantu dalam menjalankan anggaran lainnya, seperti anggarn modal (untuk aktiva utama
seperti peralatan, gedung, dll) dan anggaran proposal (untuk penggalian dana).

Anggaran tahunan dipersiapkan dengan langkah-langkah sebagai berikut:

Pemilihan waktu aktivitas anggaran

Paling tidak dua atau tiga bulan sebelum awal tahun pembukuan, anggaran untuk
tahun yang akkan datang sudah mulai dipikirkan. Anggaran tersebut biasanya sesuai dengan
tahun pembukuan, yang mencerminkan siklus operasional yayasan.

Pihak yang terlibat dalam proses anggaran

Pengelola harus berpartisipasi di semua tahap proses penganggaran, dimana


pertanggungjawaban atas tiap item juga akan dilakukan. Bagi sebagian besar yayasan,
manajemen perencanaan dan keuangan adalah aktivitas yang cenderung memisahkan
organisasi.

Langkah-langkah dalam proses anggaran

Langkah pertama dalam proses penganggaran adalah mereview program dan


pencapaian manajemen serta pelaksanaan keuangan pada akhir tahun. Ini mencakup review
atas tujuan yang dicapai, anggaran, dan kinerja perorangan. Selanjutnya, perkiraan biaya
yang diperlukan meliputi staff, persediaan, dan sumber daya lain. Pengalaman masa lalu juga
dapat menjadi dasar penyusunan anggaran dengan tambahan informasi mengenai
kesinambungan program. Penerimaan sumbangan sebaiknya diproyeksikan dengan
menggunakan informasi terbaik yang tersedia. Hal itu bukan merupakan angka yang
diturunkan dari perbedaan antara biaya yang diproyeksikan dan pendapatan yang diperoleh
lainnya serta pengeluaran yang diproyeksikan.

Menyiapkan anggaran bulanan

Menyiapkan anggaran bulanan yang mencerminkan pembagian anggaran ke dalam 12


bulan dari penerimaan dan pengeluaran yang ada secara seimbang merupakan hal yang
bermanfaat. Dengan menyiapkan rincian anggaran bulanan dan realisasinya, akurasi
perubahan dan revisi anggaran dapat dilakukan secara tepat. Anggaran dan proses anggaran
dapat menjadi kendaraan yang penting bagi manajemen keuangan dalam mencapai misi
secara lebih baik.

Kriteria untuk cadangan operasional yayasan

Definisi cadangan operasional atau saldo tidak terikat mirip dengan sisa laba atu
kekayaan pemilik. Sisa laba atu kekayaan pemilik adalah dana yang biasanya terakumulasi
selama beberapa tahun yang digunakan oleh yayasan sesuai dengan kebijakan pengurus
(yaitu penghasilan bersih tidak terikat). Cadangan operasional mempunyai beberapa fungsi
sebagai berikut:

Memungkinkan yayasan bertahan hidup bila terjadi kerugian operasional yang


disebabkan oleh kondisi ekonomi atau kesalahan manajemen.
Meningkatkan fleksibilitas yayasan, yang dapat digunakan sebagai modal ventura
untuk mengembangkan program baru, menggantikan program yang telah usang, atau
mengembangkan jasa dan kepentingan yayasan.
Memperluas kesempatan memperoleh kredit dan membolehkan pembiayaan yang
menguntungkan dari perluasan dan pertumbuhan yayasan. Hal ini termasuk
membolehkan perubahan arah atau fokus program dan aktivitas.

Besarnya cadangan operasional kas tergantung pada: reliabilitas sumber daya pendapatan,
arus kas musiman, skedul arus kas, ketersediaan keuangan eksternal, stabilitas pengeluaran,
sifat-sifat utang, sifat-sifat aktiva lainnya, dan sifat-sifat kesempatan.

Menetapkan dana kas kecil

Kas kecil memungkinkan pembelian atau pembayaran dalam jumlah kecil secara tunai
untuk item-item seperti perangko, persediaan kantor, parkir, dan sebagainya. Pengelola harus
mengembangkan suatu kebijakan menyangkut berapa uang yang seharusnya tersedia di kas
kecil, dan pengeluaran maksimum yang dapat dibayarkan melalui kas kecil.

B. Manajemen Kas

Seluruh pengelola yayasan harus mempelajari perbedaan antara keuntungan dan kas.
Keuntungan adalah jumlah uang yang diharapkan bisa diperoleh dari seluruh pelanggan yang
membayar tepat pada waktunya. Namun, hal itu bukanlah realitas yang terjadi sehari-hari.
Kas adalah apa yang harus dimiliki untuk mempertahankan pintu usaha tetap terbuka.
Bahkan, keuntungan yang diraih yayasan hanya merupakan hal kecil jika tidak disertai
dengan arus kas bersih yang positif. Perhatikan bahwa keuntungan tidak dapat dibelanjakan,
sementara kas memiliki kemampuan belanja yang riil.

Arus kas secara sederhana mengarah pada arus kas masuk dan arus kas keluar yang
terjadi dalam suatu yayasan selama periode waktu tertentu. Jika arus kas yang masuk lebih
besar dari arus kas yang keluar, maka yayasan memiliki arus kas positif. Sedangkan jika
arus kas keluar lebih besar dari arus kas masuk, maka yayasan memiliki arus kas negatif.

Laporan arus kas secara khusus dibagi ke dalam tiga komponen, sehingga sumber-
sumber dan penggunaan kas tersebut dapat dipahami. Komponen tersebut termasuk sumber-
sumber eksternal dan internal.

1. Arus Kas Operasional


Arus kas operasional sering kali mengarah pada modal kerja, yaitu arus kas yang
dihasilkan dari operasi internal. Arus kas ini merupakan kas yang diperoleh dari
penjualan produk atau jasa dalam usaha dan juga merupakan darah kehidupan nyata
dalam usaha, sehingga arus kas tersebut dihasilkan secara internal di bawah
pengendalian yayasan.
2. Arus kas Investasi
Arus kas investasi dihasilkan secara internal dari aktivitas non operasional.
Komponen ini akan memasukkan investasi dalam pabrik dan peralatan atau aktiva
tetap lainnya, rugi-laba yang tidak berulang, atau sumber-sumber lain dan penggunaan
kas diluar operasi normal.
3. Arus kas Keuangan
Arus kas keuangan adalah kas untuk dan dari sumber eksternal, seperti pinjaman,
investor dan shareholder.

Bagaimana mengelola kas dengan baik


Manajemen kas yang baik adalah hal yang sederhana yaitu:

1. Mengetahui kapan, di mana, dan bagaimana menggunakan kas tersebut.


2. Mengetahui sumber terbaik apa untuk memenuhi kebutuhan kas tambahan.
3. Menyiapkan dana untuk memenuhi kebutuhan kas ketika diperlukan, dengan
mempertahankan hubungan baik dengan bankir dan kreditor lainnya.

Langkah awal untuk menghindari krisis kas adalah mengembangkan proyeksi arus kas.
Pengelola yayasan yang cerdas pasti mengetahui cara mengembangkan proyeksi arus aks
jangka pendek untuk mengelola kas harian, dan proyeksi arus kas jangka panjang untuk
membantu mengembangkan strategi modal dalam emmenuhi kebutuhan bisnis. Pengelola
yayasan juga akan menyiapkan dan menggunakan laporan arus kas secara berurutan untuk
mendapatkan pemahaman mengenai kemana perginya semua uang.

Teknik-teknik memperbaiki arus kas diantaranya:

a. Gunakan kas atau kartu kredit, jika praktek-praktek dalam industri mengijinkan.
b. Jika menggunakan kas atau kartu kredit, tentukan kebijakan kredit yang baik.
c. Tagihlah tepat pada waktunya dan sebelum pelanggan menuliskan cek.
d. Analisis dan klasifikasikan piutang usaha menurut umur setiap bulannya.
e. Gunakan teknik-teknik penagihan yang agresif.

Menyiapkan laporan arus kas

Laporan arus kas digunakan untuk menganalisis arus kas masuk dan keluar selama periode
waktu tertentu. Jika yayasan secara rutin membuat laporan laba rugi, maka ada item-item
tertentu yang tidak mempengaruhi laporan tersebut untuk beberapa waktu, seperti:

1. Tambahan pokok dalam pembelian inventori/persediaan


2. Tambahan dalam akun piutang
3. Pengurangan kredit oleh pemasok
4. Pembelian peralatan
5. Keusangan persediaan yang tidak diakui
6. Penolakan bank untuk memperbarui atau memperpanjang pinjaman
7. Pembayaran utang secara lump sum

Laporan arus kas akan menyoroti aktivitas-aktivitas tersebut dengan cara yang tidak
melibatkan laporan laba rugi.

Penggunaan Laporan Keuangan

Neraca memperlihatkan suatu gambaran tentang aktiva, kewajiban, dan modal


(kekayaan bersih) dari suatu bisnis. Neraca memperlihatkan dua pandangan sumber daya
apa yang dimiliki (Aktiva) dan kreditor atau investor/pemilik yang membuat neraca tersebut
mungkin mendapatkan sumber daya ini (Modal dan Kewajiban).

Ingat bahwa

Aktiva = Kewajiban + Modal

atau diperlihatkan dengan cara lain:

Aktiva Kewajiban = Modal

Apa yang dimiliki Utang yang dimiliki = Kekayaan yayasan yang dimiliki

Proyeksi arus kas tahunan

Pada bagian penyiapan proyeksi arus kas tahunan, perincian atas seluruh sumber
operasional dan penggunaan kas harus telah dilakukan. Metode ini mungkin lebih mudah
diterapkan ketika menyiapkan suatu proyeksi, dan juga dapat digunakan untuk meyiapkan
laporan arus kas aktual pada akhir periode.

Kertas kerja dan instruksi

Kertas kerja membagi lagi proyeksi arus kas ke dalam tiga komponen yaitu arus kas
operasional, arus kas investasi, dan arus kas pembiayaan. Pendekatan ini memperlihatkan kas
yang dihasilkan dari operasi yang terpisah dengan aktivitas nonoperasional dan dari sumber
eksternal. Pendekatan lainnya adalah memisahkan bukti penerimaan kas dari kas yang
dibayarkan, apakah dari sumber internal atau eksternal. Catatan instruksional yang menyertai
kertas kerja yang berupa catatan-catatan akan membantu ketika menyiapkan proyeksi laporan
laba rugi.

Proyeksi arus kas jangka panjang

Proyeksi arus kas merupakan salah satu dari sebagian besar alat manajemen yang
dapat digunakan. Anggaran operasional tahunan akan mengikuti proyeksi arus kas tahunan
yang ada pada daftar, terutama untuk binis kecil. Sebagian besar investor akan meminta
untuk menyertakan proyeksi arus jangka panjang dalam rencana usaha sesuai dengan
proyeksi laba rugi.

Proyeksi arus kas tahunan


Proyeksi arus kas tahunan sebaiknya disiapkan saat anggaran operasional tahunan
dibuat. Rencana arus kas akan membantu menganalisis masalah-masalah kas tersebut
sehingga perencanaan kas yang lebih baik dapat dilakukan. Bebrapa analis akan memulai
proyeksi dengan anggaran laba-rugi, menyesuaikan item-item non kas, dan kemudian
menyesuaikan perbedaan waktu. Setelah berkonsultasi tentang proyeksi kelayakannya,
proyeksi arus kas tahunan dapat ditentukan.

Proyeksi arus kas strategi

Berdasarkan proyeksi arus kas tahunan, perlu dibuat perkiraan jangka panjang yang
menyertai rencana strategis dan persyaratan modal. Sebagian besar pemberi pinjaman atau
investor pasti ingin melihat proyeksi arus kas untuk 3-5 tahun. Perkiraan jangka panjang ini
akan memperlihatkan:

a. Kapan arus kas yang positif akan dicapai


b. Berapa lama hal itu akan berlangsung untuk menutup kerugian modal awal,
khususnya arus kas negatif.
c. Kapasitas untuk membayar pinjaman atau dividen
d. Kecenderungan pertumbuhan dan pengaruhnya terhadap arus kas
e. Persyaratan untuk investasi baru (kapan dan berapa banyak)

Proyeksi arus kas strategis disiapkan atas basis tahunan atau triwulanan atau beberapa
kombinasi. Jadi merupakan ide yang bagus untuk mengikuti format arus kas operasional yang
terpisah dari aktivitas investasi dan pembiayaan. Proyeksi arus kas tahunan dan perkiraan 3-5
tahun yang dibarengi dengan teknik manajemen kas jangka pendek yang baik, akan membuat
pengelolaan keuangan di masa mendatang berada pada jalur yang benar.

Proyeksi arus kas jangka pendek

Proyeksi arus kas jangka pendek sebaiknya digunakan untuk mengelola kas harian,
mingguan atau bulanan karena hal itu penting bagi yayasan. Jika ingin memanfaatkan
beberapa kas yang nganggur untuk menjalankan hal-hal yang dapat memberikan penghasilan,
pindahkan kas tersebut dari rekening cek ke pasar uang atau rekening deposito jangka
pendek.

Untuk menyiapkan proyeksi arus kas jangka pendek, akun-akun neraca perlu
diverifikasi, tambahkan kas yang diharapkan dapat diterima dalam periode tersebut,
kemudian kurangi kas yang dibayarkan selama periode tersebut. Bagi yayasan yang masih
baru, menyiapkan proyeksi arus kas dapat menjadi tugas yang sulit, karena irama kerja dari
seluruh biaya start up belum diketahui. Tetapi pertahankan proyeksi arus kas tersebut sampai
alat manajemen keuangan ini dapat dipergunakan.

Kertas kerja arus kas

Kertas kerja ini dapat digunakan untuk menyiapkan Laporan Arus Kas dengan mengikuti
langkah-langkah sbb:

Langkah 1 Menentukan Arus Kas Operasional

Memulai dengan pendapatan bersih dan menambahkan item-item nonkas.

Menentukan perubahan pada seluruh akun neraca yang terkait dnegan operasi
harian.

Langkah 2 Menentukan Arus Kas Investasi

Menentukan perubahan pada seluruh aktiva bisnis jangka panjang

Langkah 3 Menentukan Arus Kas Pembiayaan

Menentukan perubahan pada seluruh pinjaman, akun aktiva bersih

Langkah 4 Menambah tiga komponen secara bersama-sama untuk menjumlah


Total Arus Kas

Tambahkan saldo pada awal periode untuk mendapatkan saldo pada akhir periode, jika tidak,
suatu kesalahan telah dibuat. Cek kembali perhitungan dan berikan tanda +/- untuk masing-
masing perubahan akun neraca.
BAB III

3.1 KESIMPULAN

Laporan keuangan yayasan dibutuhkan bagi para pemakai kepentingan untuk menilai
bagaimana jasa yang diberikan yayasan serta bagaimana kemampuan yayasan dalam
memberikan jasa tersebut. Laporan keuangan juga digunakan untuk mengetahui mekanisme
pertanggungjawaban dan aspek kinerja pengelola yayasan.

Laporan keuangan yang dimiliki yayasan terdiri dari laporan posisi keuangan dimana
terdapat informasi mengenai asset, kewajiban, asset bersih, dan informasi mengenai
hubungan diantara unsure-unsur tersebut. Laporan aktivitas yang menyajikan mengenai
perubahan yang terjadi dalam kelompok asset bersih. Laporan arus kas bertujuan
untuk menyajikan informasi mengenai penerimaan dan pengeluaran kas dalam suatu
periode. Yang didalamnya mengungkapkan mengenai aktivitas pendanaan dan aktivitas
investasi yayasan. Serta Catatan atas laporan keuangan yang merupakan bagian dari laporan
keuangan yang tak terpisahkan karena berisikan penjelasan-penjelasan rinci atas akun-akun
dalam laporan keuangan.

Pengelola yayasan harus mempelajari bagaimana menyusun laporan keuangan dan


menganalisis laporan tersebut agar dapat memahami kondisi keuangan dari aktivitas yayasan
tersebut dengan benar.
Sistem pengendalian keuangan (akuntansi) merupakan serangkaian prosedur yang
melindungi praktek manajemen secara umum maupun dari segi keuangan. Prosedur
pengendalian akuntansi bertujuan agar:
1. Informasi keuangan reliabel (dapat dipercaya) sehingga pengelola dapat memperoleh
informasi yang akurat untuk perencanaan program dan keputusan lainnya
2. Aktiva dan catatan-catatan organisasi tidak dicuri, disalahgunakan, atau dirusak
dengan sengaja.
3. Kebijakan-kebijakan yayasan diikuti.
4. Peraturan-peraturan pemerintah terpenuhi

Sistem pengendalian akuntansi diperlukan untuk memastikan pencatatan yang tepat


atas barang yang didermakan, sumbangan, dan penerimaan lainnya. Laporan keuangan dan
pengembalian informasi harus dicatat secara akurat serrta tepat waktu, dan memenuhi
peraturan pemerintah lainnya. Dalam mencapai tujuan tersebut, yayasan perlu menetapkan
prosedur yang jelas untuk menangani per bidang, termasuk sistem check and balance.
3.2 Saran
Mengingat begitu rumitnya permasalahan untuk mengkaji berbagai kondisi tentang
akuntabilitas yayasan dan pengendalian keuangan, kiranya perlu adanya aplikasi yang
konkret guna membantu mahasiswa dalam memahami dan mengkaji berbagai penjelasan
yang telah di paparkan pada makalah ini.
DAFTAR PUSTAKA

Bastian, Indra. 2007. Akuntansi Yayasan dan Lembaga Publik. Jakarta: Erlangga.