Anda di halaman 1dari 35

BUKU PANDUAN DOSEN

Question Based Discussion (QBD)

MODUL PENGELOLAAN BENCANA

RUMPUN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS INDONESIA
2015

1
DAFTAR ISI
Daftar Isi 2
QBD 1 Pengertian bencana 3
Berbagai jenis bencana dan kaitannya dengan Indonesia
3
Ancaman, risiko, dan kerentanan yang dapat terjadi saat bencana
4
QBD 2 Siklus bencana 5
Tahapan pada setiap siklus bencana
5
Langkah pengelolaan bencana
6
QBD 3 Pengelolaan organisasi bencana pada skala lokal, nasional, dan 8
internasional
Masalah yang dapat terjadi dalam pengelolaan organisasi lokal,
8
nasional, dan internasional
Kesiapan pengelolaan bencana pada populasi besar
10
QBD 4 Prinsip kode etis yang harus diterapkan selama bencana 13
Efek bencana terhadap korban
15
Kesehatan mental dan psikososial berdasarkan aspek bencana
Arti relawan 17
Dilema etis sukarelawan dalam pengelolaan bencana
18
18
QBD 5 Peranan setiap tenaga kesehatan pada saat terjadi bencana 20
Dampak dari bencana terhadap tenaga kesehatan
22
Persiapan yang harus dilakukan tenaga kesehatan untuk mengurangi
23
dampak bencana

QBD 6 Rencana tindakan untuk mengurangi dampak bencana apabila 25


sedang berada dalam situasi tersebut
Daftar Rujukan 34

2
QBD 1
Berbagai jenis bencana dan kaitannya dengan Indonesia
1. Jelaskan pengertian bencana

2. Jelaskan berbagai jenis bencana dan kaitannya dengan Indonesia serta berikan 5
contoh pada setiap jenis bencana tersebut
3. Jelaskan ancaman, risiko, dan kerentanan yang dapat terjadi saat bencana
4. Sebutkan peraturan penanganan bencana di bidang kesehatan di Indonesia

JAWABAN:
1. Jelaskan pengertian bencana
Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam
dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan,
baik oleh faktor alam dan/atau faktor nonalam maupun faktor manusia
sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan
lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.
2 Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau
serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain berupa gempa
bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah
longsor.

Sumber: UU Republik Indonesia No. 24 Th 2007

2. Jelaskan berbagai jenis bencana dan kaitannya dengan Indonesia serta


berikan 5 contoh pada setiap jenis bencana tersebut
Bencana alam yang terjadi secara alami (Natural disaster)
- Gempa bumi
- Gunung meletus
- Tornado
- Tsunami
Bencana yang diakibatkan ulah manusia
- Oil spills
- Aircraft crashes
- Banjir

Sumber :

3
Schneid TD, Colins L. Disaster Management and Preparedness: New
York: 2001. [e-book]

3. Jelaskan ancaman, resiko dan kerentanan yang dapat terjadi saat bencana
Resiko potensial yang dapat terjadi selama proses penanggulangan bencana
umumnya dikarenakan fasilitas lokasi yang berdekatan dengan tempat yang
beresiko tinggi seperti dekat dengan gunung merapi, dekat dengan sungai,
hutan, daerah tersebut tertutupi sahu tebal,dan lain-lain sehingga hal tersebut
menyebabkan kekhawatiran untuk terjadinya kejadian ikutan pasca bencana.

Sumber : Schneid TD, Colins L. Disaster Management and


Preparedness: New York: 2001. [e-book]

QBD 2
Siklus bencana
1. Jelaskan mengenai siklus bencana

4
2. Jelaskan mengenai tahapan pada setiap siklus bencana
3. Jelaskan langkah pengelolaan bencana pada setiap siklus bencana
4. Jelaskan mengenai rapid need health assessment

JAWABAN:
1. Jelaskan mengenai siklus bencana
Pada prinsipnya siklus bencana dibagi menjadi 3 tahap yaitu preimpact,
transimpact, dan postimpact atau ada juga yang menggambarkan
sebagai kesiapsiagaan bencana, tanggap darurat, and pemulihan
bencana

Sumber: Koenig KL, Schultz CH. Koenig and Schultzs Disaster


Medicine Comprehensive Principles and Practices. Cambridge:
Cambridge University Press; 2010. P9-10

2. Jelaskan mengenai tahapan pada setiap siklus bencana


Tahap preimpact adalah waktu pra-bencana.
Upaya mempergunakan kemampuan untuk secara tepat dan cepat merespon
bencana.
Hal-hal yang dilakukan meliputi: Penyusunan rencana tanggap darurat
bencana untuk deteksi dini, mengembangkan sistem peringatan dini,
peningkatan kemampuan diri dalam menghadapi bencana dan perencanaan
serta riset untuk kesiapsiagaan darurat bencana. Data dasar bencana dan
informasi tentang kesiapan bencana juga dapat dikumpulkan.
Tahap transimpact adalah upaya-upaya untuk mengurangi akibat ancaman
bencana. Tahapan ini berfokus pada peringatan, evakuasi, respon cepat dan
aktifitas penanggulangan bencana seperti pengelolaan air bersih,
pembangunan tanggul banjir dan tempat evakuasi.
Tahap postimpact adalah upaya pemulihan dan rehabilitasi pascabencana.
Penting untuk dicatat bahwa ketiga tahapan ini tidak berdiri sendiri
melainkan dapat saling tumpang tindih bahkan dapat terjadi bersamaan
tergantung dari hasil yang terjadi.

5
Gambar 1. Siklus Bencana
Sumber: Koenig KL, Schultz CH. Koenig and Schultzs Disaster Medicine
Comprehensive Principles and Practices. Cambridge: Cambridge University
Press; 2010. P9-10

3. Jelaskan langkah pengelolaan bencana


Tahap pencegahan :
Early detection (deteksi dini) upaya penyusunan rencana tanggap darurat
bencana
Mitigasi yaitu upaya yang dilakukan untuk mengurangi dampak bencana
baik secara fisik struktural melalui pembuatan bangunan bangunan fisik
maupun non fisik struktural melalui perundang- undangan dan pelatihan
Early warning (peringatan dini) adalah upaya untuk memberikan tanda
peringatan bahwa kemungkinan bencana akan segera terjadi, yang
menjangkau masyarakat (accesible), segera (immediate), tegas tidak
membingungkan (coherent), dan resmi (official)

6
Evacuation (Evakuasi) memindahkan korban ke lingkungan yang lebih
aman dan nyaman untuk mendapatkan pertolongan medis lebih lanjut
Tahap respon bencana :
Rapid assesment and rapid respons adalah upaya yang dilakukan segera
pada saat kejadian bencana, untuk menanggulangi dampak yang
ditimbulkan, terutama berupa penyelamatan korban dan harta benda,
evakuasi dan pengungsian
Triage adalah proses khusus memilih korban berdasarkan beratnya cedera
atau penyakit untuk menentukan prioritas perawatan gawat darurat medik
serta prioritas transportasi
first treatment
Tahap rehabilitasi :
Capacity building masyarakat
Pembangunan sarana dan prasarana dasar
Pembangunan sarana sosial masyarakat
Membantu masyarakat memperbaiki rumah
Pemulihan kegiatan bisnis dan ekonomi

Sumber : (Pan American Health Organization, 2000) Chapter 2

QBD 3
Pengelolaan bencana
1. Jelaskan pengelolaan bencana pada skala lokal, nasional, dan internasional

7
2. Jelaskan masalah yang dapat terjadi dalam pengelolaan bencana di skala lokal,
nasional, dan internasional
3. Jelaskan kesiapan (mitigasi dan kesiapsiagaan) menghadapi bencana pada
skala lokal, nasional, dan internasional

JAWABAN:

1. Jelaskan pengelolaan bencana pada level lokal, nasional dan internasional?


Terdapat 3 aspek yang penting dalam penanganan bencana yaitu:
o Respon bencana
o Persiapan penanganan bencana
o Mitigasi bencana
Ketiga aspek dalam penanganan bencana ini sering berhubungan dengan fase
yang mana disebut siklus bencana (Disaster Cycle)
Sumber : (Pan American Health Organization, 2000) Chapter 2

2. Jelaskan masalah yang dapat terjadi dalam pengelolaan bencana di skala


lokal, nasional, dan internasional

Dalam menjalankan program penanganan bencana, harus diketahui risiko


yang terjadi di suatu negara tempat bencana tersebut terjadi.
Kemungkinan bahaya dan perubahan sistem dalam penanganan bencana
dapat berubah secara konstan tergantung dari informasi dan proses
perkembangan negara tersebut seperti perkembangan kota, perubahan
tata kota, dan instalasi dari industri baru.
Penanganan bencana juga memerlukan kolaborasi dari berbagai pihak
seperti komunitas ilmuwan, ahli lingkungan, teknisi, dan lain-lain

Sumber : (Pan American Health Organization, 2000) Chapter 2

8
Program penanganan bencana harus berperan dalam promosi dan
koordinasi dalam pencegahan, mitigasi, persiapan, respon dan rehabilitasi
dini yang berhubungan dengan kesehatan. Ruang lingkup program ini seperti
penanganan kasus gawat darurat dalam semua kasus bencana baik bencana
alam maupun bencana akibat ulah manusia.
Fase persiapan, program penanganan bencana harus memastikan bahwa
rencana yang akan digunakan dapat diaplikasikan di lokasi dan penanganan
terbaru.
Aktivitas yang berhubungan dengan pengurangan efek dari bencana
memerlukan dukungan dari berbagai pihak dalam memulihkan kondisi
daerah bencana seperti pembangunan sarana baru, memperbaiki fasilitas dan
meningkatkan program kesehatan di rumah sakit dan fasilitas kesehatan lain.
Selain itu juga sistem air bersih dan pembuangan limbah rumah tangga harus
ditingkatkan karena dapat mempengaruhi kesehatan.
Saat fase respon bencana dilakukan, program penanganan bencana harus
mengkoordinasikan seluruh sector kesehatan untuk mengurangi angka
kematian dan angka kehilangan barang serta menjaga pelayanan kesehatan

Sumber : National disasters (Pan American Health Organization, 2000)


Chapter 2

9
3. Jelaskan kesiapan (mitigasi dan kesiapsiagaan) menghadapi bencana pada
skala lokal, nasional, dan internasional
Hal yang penting untuk diperhatikan dalam kesiapan pengelolaan
bencana pada populasi besar adalah kesehatan lingkungan saat terjadi
bencana, seperti:

a. Peran air bersih dan air minum ketika terjadi bencana


Masalah penyediaan air
Manajemen penyediaan air
Infeksi dan kontaminasi melalui sumber air : air hujan, air permukaan,
air sungai, air danau, air rawa, air tanah, sumur gali.
Perindungan sumber air
Pertimbangan memilih sumber air
Jalur transmisi infeksi yang terkait air: Transmisi infeksi bawaan air,
transmisi infeksi bilasan air, transmisi infeksi berbasis air, transmisi
infeksi oleh vektor insekta yang terkait air, transmisi toxin.
Indikator keamanan kualitas air bersih dan air minum
Indikator keamanan terhadap infeksi
Menilai kualitas sumber air
Menjaga keamanan kualitas air
Mencegah penyakit dengan penyediaan air bersih
Kecukupan pengadaan air bersih
Penyediaan air bersih untuk institusi
Pengolahan air bersih
Penundaan dan sedimentasi
Saringan pasir lambat
Saringan pasir cepat
b. Masalah pangan saat bencana
Peran makanan dalam kesehatan masyarakat
Keamanan rangkaian pasokan pangan
Keamanan pangan pada tingkat produksi
Keamanan pangan pada tingkat transportasi, distribusi, dan penjualan
Keamanan pangan pada tingkat penyiapan/pengolahan makanan
konsumsi
Kuantitas pangan
Dapur umum
Ketenagaan di dapur umum
Fasilitas pendukung dapur umum : penyediaan air bersih, kamar kecil,
tempat mencuci tangan, fasilitas untuk air limbah, fasilitas untuk sampah
padat, meja dapur dan papan talenan, bak cuci piring, perlengkapan alat
dapur dan kulkas, tata letak ruang dapur, peralatan makan, pengendalian
rodentia dan serangga.

10
Membedakan antara intoksikasi/keracunan dan infeksi oleh makanan
Perencanaan distribusi makanan
Pemanfaatan biologis, status gizi, dan kesehatan
Ketersediaan makanan
c. Perumahan dan permukiman ketika bencana
Kualitas permukiman dan kesehatan
Tempat bernaung jangka pendek
Beberapa faktor risiko kesehatan tempat bernaung
Kualitas udara dalam bangunan
Permukiman pengungsian jangka panjang
d. Pengendalian penyakit menular ketika bencana
Penularan penyakit di daerah endemik
Langkah pencegahan dan pengendalian penyakit menular
Faktor risiko peningkatan insidens penyakit menular pada kejadian
bencana
Sistem surveilens
Siklus dasar penyakit menular
Strategi pengendalian penyakit menular
Rencana kegiatan sebelum terjadi letupan penyakit
Rencana kegiatan ketika terjadi letupan penyakit
e. Pengelolaan ekskreta dan air limbah ketika bencana
Air limbah dan kesehatan korban bencana
Karakteristik air limbah
Penyaluran air limbah
Konsep pembuangan ekskreta
Jenis sarana pembuangan ekskreta di tempat pengungsian
f. Pengendalian vektor ketika bencana
Beberapa jenis vektor
Pengendalian vektor
Faktor sosial yang menentukan pemajanan manusia di area fokal
Langkah terpadu untuk pencegahan penularan penyakit
Pencegahan penyakit yang ditularkan oleh nyamuk
g. Pengelolaan sampah padat ketika bencana
Masalah jumlah sampah
Masalah jenis sampah
Perencanaan dan pemanfaatan sampah dengan pengolahan
Sumber sampah padat
Penundaan dan pembuangan sampah di tempat
Penyimpanan dan pengumpulan sampah
h. Sumber daya ketenagaan saat terjadi bencana

Sumber : Purwana R. Manajemen kedaruratan kesehatan lingkungan dalam


kejadian bencana. Jakarta: Rajawali pers; 2013.

11
QBD 4
Efek bencana pada korban dan arti relawan
1. Jelaskan prinsip kode etis yang harus diterapkan selama bencana
2. Jelaskan efek bencana terhadap korban
3. Jelaskan kesehatan mental dan psikososial berdasarkan aspek bencana
4. Jelaskan arti relawan
5. Jelaskan dilema etis sukarelawan dalam pengelolaan bencana

JAWABAN:

1. Jelaskan prinsip kode etis selama bencana:


Pada dasarnya sebagai seorang dokter ataupun penolong, seluruh korban
pada bencana harus ditolong tanpa memandang bulu. Pertolongan yang
diberikan juga harus sebanding satu sama lain dengan berprinsip pada keadilan,
beneficence, autonomy, dan nonmaleficence. Tetapi adil disini juga masih
dipertanyakan karena tidak semua korban memerlukan bantuan yang sama rata,
pada pasien dengan keadaan kritis atau kecelakaan berat yang membutuhkan
pertolongan lebih banyak tentunya akan ditangani terlebih dahulu sesuai dengan
triase.
Pada suatu keadaan bencana terkadang bantuan yang ada tidak sebanding
dengan banyaknya korban yang berjatuhan, pertolongan diberikan lebih besar

12
kepada kelompok orang yang lebih banyak yang masih dapat terselamatkan
sesuai dengan utilitarianism yaitu dengan memberikan manfaat/bantuan terbesar
bagi jumlah terbesar untuk memaksimalkan kebahagiaan manusia.
Tetapi utilitarianism sendiri memiliki keterbatasan. Sebagai contoh, meskipun
pemberian manfaat/bantuan secara maksimal bagi kelompok mayoritas lebih
terdengar sesuai demokrasi dan keadilan, kelompok minoritas sangatlah
memprihatinkan dalam skema utilitarian. Status sosial dan VIP seseorang
menjadi bahan pertimbangan dalam bencana, apabila orang penting berada dalam
kelompok minoritas dan harus diperlakuan istimewa maka hal ini tidak etis pada
kelompok orang non VIP. Bila mengikuti aturan utilitarian maka kepentingan
VIP harus dikesampingkan.
Masalah lain yang tidak dapat dikontrol didalam prinsip utilitarianisme adalah
perlakuan untuk orang cacat dan sakit kronik. Ketika dua orang atau lebih dapat
diselamatkan dengan sumber daya yang sama yang diperlukan untuk
menyelamatkan orang cacat berat yang akan menggunakan bantuan barang dan
jasa yang tidak proposional/lebih banyak dari yg lainnya, prinsip utilitas dapat
membuat penolong mengabaikan untuk menolong orang-orang cacat.
Optimalisasi tindakan moral dalam bencana membutuhkan pemahaman lebih
dari utilitas, penjatahan, dan triase. Selain prinsip-prinsip bioetika standar, kode
etik dapat membantu memberikan kerangka moral yang membahas setidaknya
beberapa dari banyak nya tingkatan bencana. Oleh karena itu dibuatlah kode etik
oleh organisasi bencana untuk paling tidak menyeragamkan prinsip kode etis
selama bencana.
ICRC 10 Principles of Conduct
Pertolongan diberikan tanpa melihat ras, kepercayaan, atau warga negara
korban dan tidak memberikan perlakuan yang berbeda. Prioritas
pemberian pertolongan berdasar pada kebutuhannya masing-masing
Pertolongan tidak akan disalahgunakan untuk kepentingan politik atau
agama
Penolong bekerja keras bukan bertindak sebagai alat/ instrument
Menghargai adat istiadat
Membangun respons terhadap bencana sesuai dengan kapasitas lokal

13
Berusaha untuk mengikutsertakan penerima bantuan dalam mengatur
pertolongan
Pertolongan harus diusahakan sedapat mungkin untuk menurunkan
kerentanan di masa yang akan datang terhadap bencana, termasuk
pemenuhan kebutuhan primer
Penolong bersikap tanggung jawab terhadap orang-orang yang membantu
dan kepada orang-orang yang memberikan sumber pertolongan
Penolong harus menganggap korban bencana sebagai manusia seutuhnya,
bukan suatu objek
American Medical Association Code of Ethics: mengalami beberapa
perubahan, sehingga menjadi merawat pasien sebagai tanggung jawab
utamanya dan merespons secara tepat kepada siapapun yang
membutuhkan pertolongan mendesak.
Prinsip kode etik tersebut tetap harus dijalankan dengan dasar-dasar kebajikan,
yaitu: Kebijaksanaan, Keberanian, Keadilan, Kepengurusan, Kewaspadaan,
Ketahanan, Rendah hati, dan Komunikasi.

Bacaan lebih lanjut:


Sphere Board. Humanitarian Charter and Minimum Standards in
Humanitarian Response. United Kingdom: The Sphere Project; 2011. P.
368-376
Koenig KL, Schultz CH. Koenig and Schultzs Disaster Medicine
Comprehensive Principles and Practices. Cambridge: Cambridge
University Press; 2010. P. 66-74.

14
2. Jelaskan efek bencana terhadap korban

Korban bencana mengalami berbagai kejadian traumatik, termasuk ancaman


terhadap nyawa, kehilangan harta benda, dan kesulitan ekonomi. Bencana ini
mengakibatkan korbannya untuk pulih dalam kurun waktu bulanan hingga
tahunan.
Bencana ini dapat berakibat pada fisik, psikologis, sosial, sikap, emosi,
kognitif, dan spiritual korban. Secara umum, biasanya korban mengalami
ansietas (post traumatic stress), depresi, gejala medis yang meliputi berbagai
organ. Dampak bencana menurut IOM (Institute of Medicine) committee adalah
respons sress akut dan jangka pendek, perubahan perilaku, kelainan psikiatrik
yang signifikan. Dampak langsung adalah cidera berat, kejadian traumatic
(kehilangan pasangan, anak, atau orang tua), kehilangan tempat tinggal,
menjadi saksi kematian atau kesengsaraan orang lain, melihat nyawa orang lain
dalam bahaya, dan mengalami ketidakpastian terhadap bahaya-bahaya sekitar
terhadap kesehatan, keselamatan, dan keberadaannya.
Dampak bencana pada korban dewasa:

Dampak bencana pada korban anak-anak:

15
Pada dasarnya, prinsip pertolongan diberikan dengan persiapan terlebih dahulu,
pemeriksaan, kolaborasi dengan sistem lain, integrasi dengan pelayanan primer,
memberikan pelayanan kepada semua orang, melakukan pelatihan, melakukan
pertolongan jangka panjang, dan memonitor indikasi.

Bacaan lebih lanjut:


Koenig KL, Schultz CH. Koenig and Schultzs Disaster Medicine
Comprehensive Principles and Practices. Cambridge: Cambridge
University Press; 2010. P. 103-112.
WHO. Mental Health in Emergencies. Geneva: Department of Mental
Health and Substance Dependence World Health Organization Geneva;
2003.

3. Jelaskan kesehatan mental dan psikososial berdasarkan aspek bencana

Bencana alam senantiasa menimbulkan beban psikologis yang berat pada


masyarakat. Pada kelompok yang tinggal di daerah dengan risiko tinggi
mengalami bencana memiliki pengalaman mencekam seperti menyelamatkan
diri dari bangunan runtuh, mengurus korban meninggal maupun selamat dengan
luka parah, sentar berhadapan dengan kerusakan fisik yang berat pada
lingkungannya. Hal ini dapat memicu timbulnya gangguan stres. Keadaan

16
bencana membuat masyarakat korban menjadi resah akan timbulnya bencana
dikemudian hari. Kurangnya pemenuhan kebutuhan pokok membuat situasi
kehidupan semakin berat bagi korban yang selamat. Semua hal tersebut
menimbulkan masalah kesehatan mental yang berat bagi mereka yang selamat.
Bila tidak tertangani dengan baik pada fase tanggap darurat dan fase pemulihan,
masalah kesehatan mental tersebut dapat berkembang ke arah gangguan-
gangguan psikologis yang lebih serius seperti gangguan stress pasca trauma.
Penggunaan obat tidur dan obat penenang yang tidak sesuai selama fase tanggap
darurat sangat tidak dianjurkan. Di daerah industri atau metropolitan di negara
berkembang, masalah kesehatan mental dilaporkan menjadi hal yang signifikan
selama fase rehabilitasi dan pemulihan jangka panjang sehingga perlu
penanganan yang serius selama fase itu.
Dari aspek psikososial, bencana seringkali merusak sendi-sendi hubungan
sosial pada masyarakat yang terkena. Aktifitas sosial bersama yang rutin
dilakukan seperti kegiatan olahraga bersama, permainan oleh anak-anak,
pertemuan keagamaan dan sebagainya tidak dapat dilakukan untuk sementara.
Selain itu walaupun dampak bencana dirasakan oleh seluruh anggota masyarakat
tanpa pandang bulu, umumnya kelompok sosial ekonomi lebih tinggi akan
mampu pulih sendiri lebih cepat. Hal tersebut dapat memacu kecemburuan antar
kelompok masyarakat. Secara keseluruhan kerusakan pada struktur dan fungsi
kemasyarakatan akan menimbulkan masalah psikososial pada masyarakat
dengan bentuk seperti kekecewaan, kemarahan, keputusasaan, kebosana,
kecemburuan, dan lain-lain.

Sumber:
PAHO. Natural disaster: protecting the publics health. Washington DC:
Pan American Sanitary Bureau. Washington DC; 2000. P17

4. Jelaskan arti relawan


Relawan adalah seseorang atau sekelompok orang yang secara sukarela dari
panggilan nuraninya memberikan apa yang dimilikinya, dapat berupa pikiran,
tenaga, waktu, harta, dan sebagainya kepada masyarakat sebagai perwujudan
tanggung jawab sosialnya tanpa mengharapkan pamrih baik berupa
imbalan/upah, kedudukan, kekuasaan, kepentingan maupun karier.

17
Sumber : PNPM mandiri. Pemberdayaan dan kerelawanan. Jakarta:
Departemen Pekerjaan Umum. Jakarta; 2007.

5. Jelaskan dilema etis sukarelawan dalam pengelolaan bencana


Dari pengertian diatas relawan seharusnya bekerja sebagai individual yang
tidak terpengaruh dengan kelompok atau populasi tertentu. Tetapi dalam
kenyataannya sebagai relawan memiliki dilema etis yang berkaitan dengan 10
pihak yang terlibat dalam penanganan bencana lainnya, seperti:
1. Pasien : Kemungkinan menyaksikan kemarahan dan menurunnya rasa
syukur dalam masyarakat korban, perasaan sakit karena tidak bisa
memenuhi tuntutan yang ada, perasaan bersalah melihat korban bencana
tidak memiliki makanan, tempat bernaung dan kebutuhan hidup lain.
2. Provider lain : Kurangnya sumber-sumber yang tepat (adequate
resources) baik secara personil, waktu, bantuan logistik atau skill
(ketrampilan) untuk melakukan tugas yang dibebankan.
3. Provider groups/peers : Terdapat konflik interpersonal di antara anggota
kelompok relawan yang di lapangan mengharuskan mereka untuk dekat dan
saling bergantung pada waktu cukup lama.
4. Provider organizations/Local volunteer healthcare providers : Beban
birokratis yang berlebih atau kurangnya dukungan dan pengertian pimpinan
organisasi.

5. Public health : Adanya bahaya mengancam (penyakit, terkena gempa


susulan, dan sebagainya), perasaan takut dan tidak pasti yang berlebihan.
6. Policymakers/Politicians : Harus mampu menjaga netralitas (sikap netral)
jika berada dalam situasi politik yang terpolarisasi.
7. Payers/Insurers : Tuntuan fisik yang berat dan kondisi tugas (kerja) yang
tidak menyenangkan, beban kerja yang berlebihan dalam jangka waktu lama
dan kelelahan kronis (chronic fatigue) tanpa menerima bayaran/imbalan.
8. Lembaga Sosial Masyarakat (LSM) : Petugas kesehatan mungkin
menghadapi dilema etis ketika bekerja sebagai relawan, apakah perannya
sebagai anggota tim tanggap medis, penyedia layanan kesehatan publik, atau
sebagai pekerja sosial suatu LSM.
9. Press/Mass media : Perasaan tidak berdaya dikala menghadapi tuntutan
yang melewati batas (overwhwelming need) tetapi selalu disorot oleh media
massa sehingga harus selalu memberikan yang terbaik.
10. Populace/General public: adanya kecenderungan masyarakat menolak

18
atau mengingkari dampak psikososial dari pekerjaan kemanusiaan yang
penuh tekanan.

Sumber :
Ehrenreich JH, Elliot TL. Managing stress in humanitarian aid
workers: a survey of humanitarian aid agencies' psychosocial training
and support of staff. Journal of Peace Psychology. 2004; 10(1):5-6.
Koenig KL, Schultz CH. Koenig and Schultzs Disaster Medicine
Comprehensive Principles and Practices. Cambridge: Cambridge
University Press; 2010. P62-3
QBD 5
Efek bencana terhadap tenaga kesehatan
1. Jelaskan peranan setiap tenaga kesehatan pada saat terjadi bencana
2. Jelaskan dampak dari bencana terhadap tenaga kesehatan
3. Jelaskan persiapan yang harus dilakukan tenaga kesehatan untuk mengurangi
dampak bencana

JAWABAN:
1. Peranan setiap tenaga kesehatan pada bencana:
Pada bencana, dibutuhkan koordinasi antara tenaga medis, kesehatan
masyarakat, dan tim manajemen gawat darurat. Contoh:

19
Beberapa sistem yang digunakan untuk mengatur tenaga kesehatan:
National Disaster Medical System (NDMS): respons medis di lapangan,
transport pasien, terapi definitif.
National Response Plan (NRP)/National Response Framework (NRF)
Strategic National Stockpile
Metropolitan Medical Response System (MMRS)
Weapons of Mass Destruction Act of 1996
Homeland Security Act of 2002
various Homeland Security Presidential Direc- tives (HSPDs) and bioterrorism
focus and funding initiatives.

Peran tenaga medis dalam bencana:


Psikiatri: memberikan arahan terhadap kesiapan dan respons terhadap bencana,
memberikan psikoterapi jika dibutuhkan
Pediatri: mempersiapkan kesiapan individu dalam menghadapi bencana kepada
keluarga-keluarga
Anestesiologi: tenaga kesehatan pada fase akut, terutama airway management,
monitor, stabilisasi pasien dan life support, resusitasi cairan, manajemen krisis
Dokter gigi : Mempersiapkan peralatan untuk identifikasi mayat, menangani
trauma gigi dan mulut, melakukan edukasi pencegahan penyakit gigi akibat
bencana
Farmasi: menyediakan kebutuhan farmasi dan juga fungsi lain seperti resusitasi
jantung paru, manajemen trauma, dan triase
Perawat: siap siaga dalam komunitas dengan bahaya dan kerentanan, seperti
dalam sistem kesehatan dan kesiapannya, partisipasi utama dalam hal gawat
darurat dan triase dan mempersiapkan komunitas untuk korban. Perawat
bertindak secara administrates dengan dokter untuk mengkoordinasi,
menyampaikan, dan mendukung protokol untuk pasien dan managemen
departemen gawat darurat.

Bacaan lebih lanjut:

20
Koenig KL, Schultz CH. Koenig and Schultzs Disaster Medicine
Comprehensive Principles and Practices. Cambridge: Cambridge
University Press; 2010. P. 133-150.
Gad-el-Hak M. Large-scale Disasters Prediction, Control, and Mitigation.
Cambridge: Cambridge University Press; 2008. P. 150-160.

2. Jelaskan dampak dari bencana terhadap tenaga kesehatan

Tenaga kesehatan dalam menghadapi korban dalam aspek mental dan sosial
bertujuan untuk:
Menjadi sumber tenaga di lapangan baik dari pemerintah, nonpemerintah, atau
antarpemerintahan, bekerja sama dengan WHO
Menjadi pemimpin dan penunjuk untuk meningkatkan intervensi di lapangan
Memfasilitasi aktifitas di lapangan pada tahap komunitas dan sistem
kesehatan
Tuntutan seperti itu terkadang dapat memberikan dampak psikologis pada
tenaga kesehatan seperti perasaan takut dan tidak pasti yang berlebihan akibat
adanya bahaya susulan yang mengancam, Kelelahan karena beban kerja yang
berlebihan dalam jangka waktu lama, Trauma dengan kejadian bencana yang terjadi,
perasaan tidak berdaya dikala menghadapi tuntutan yang melewati batas,
kekecewaan karena tidak bisa memenuhi tuntutan yang ada, perasaan bersalah
melihat korban bencana yang menderita, kecemasan pada kondisi keluarga karena
jauh dari keluarga. Petugas kesehatan mental harus menghubungi setiap petugas
kesehatan yang membantu saat situasi kritis bencana sampai dengan 1 hingga 3
bulan setelah kejadian guna memeriksa suasana perasaan dan aktifitas para tenaga
kesehatan apakah dapat berkerja seperti biasa dan dapat memberikan terapi yang
sesuai atau merujuk ke yang ahli pada bidangnya apabila ada suatu gangguan
mental maupun fisik yang terjadi setelah bencana.

Sumber :

21
Ehrenreich JH, Elliot TL. Managing stress in humanitarian aid
workers: a survey of humanitarian aid agencies' psychosocial
training and support of staff. Journal of Peace Psychology. 2004;
10(1):5-6.
Koenig KL, Schultz CH. Koenig and Schultzs Disaster Medicine
Comprehensive Principles and Practices. Cambridge: Cambridge
University Press; 2010. P. 103-112.
Mental Health and Psychosocial Support in Humanitarian
Emergencies: What Should Humanitarian Health Actors Know?.
Geneva: IASC Reference Group for Mental Health and
Psychosocial Support in Emergency Settings; 2010.

3. Persiapan yang harus dilakukan tenaga kesehatan untuk mengurangi dampak


bencana:
Persiapan dilakukan pada setiap fase dalam bencana, mulai dari sebelum terjadi
bencana, saat terjadi dan pada masa rehabilitasi.
- Pra-bencana : para tenaga profesional yang akan bekerja sebagai tenaga
bantuan dalam bencana perlu memperoleh pendidikan tentang manajemen
kedaruratan kesehatan lingkungan dari institusi pendidikan yang dilengkapi
dengan ilmu hukum dan teknik. Rangkaian pelayanan keehatan mempunyai
peran sentral dalam kedaruratan akibat bencana karena tidak ada bencana
yang tidak menimbulkan mortalitas dan morbiditas. Rangkaian pelayanan
kesehatan terdiri dari Hospital emergency preparedness (termasuk pelatihan
tenaga kesehatan) yang dilakukan di Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu),
Pustu (Puskesmas pembantu), puskesmas kecamatan, Rumah sakit daerah,
rumah sakit kabupaten, rumah sakit umum pusat dilatih sehingga siaga
menghadapi bencana sewaktu-waktu menimpa daerah.

- Tahap Respon
1. Sistem Penanggulangan Gawat Darurat dan Bencana Terpadu (SPGDT)
dan First Aid:
o Basic Life Support, Special precaution, Lifting and Moving, Bleeding
Control, Fiksasi Imobilisasi.
2. Manajemen bencana (management support dan management treatment)
o Rapid Health Assessment,

22
o Rapid response
o Clinical Management
o Prinsip-prinsip triase lapangan dan hospital
o Prinsip evakuasi dan transportasi, rumah sakit lapangan
Rehabilitasi bencana:
Rehabilitasi bencana dapat dikatakan menjadi fase transisi antara penyembuhan
awal dengan pemulihan. Hal ini meliputi hal mendasar untuk korban agar dapat
kembali berfungsi, membantu korban untuk dapat memulihkan dirinya sendiri
dari cidera fisik, membantu mengembalikan aktivitas ekonomi, dan
menyediakan dukungan psikologi dan sosial. Terdapat 5 tahapan rehabilitasi
bencana, yaitu:
1. Persiapan terhadap bencana, dengan prinsip mencegah lebih baik
daripada mengobati. Hal ini meliputi seluruh langkah yang
dibutuhkan untuk membentuk struktur dan komunitas bencana.
2. Respons terhadap bencana, meliputi pencarian secepatnya terhadap
korban bencana dan operasi pertolongan korban.
3. Bantuan terhadap bencana, yaitu ketersediaan makanan, pakaian, dan
tempat tinggal untuk korban
4. Rehabilitasi dan rekonstruksi bencana yag bertujuan untuk
mengembalikan fungsi seperti sebelum bencana terjadi
5. Pemulihan dari bencana, yang terfokus pada rencana jangka panjang
pemulihan di bidang sosial, ekonomi, dan fisik, termasuk bencana di
masa yang akan datang.
Bacaan lebih lanjut:
Pinkowski J. Disaster Management Handbook. Florida: CRC Press; 2008.
P. 369-386, 477-492, 529-552

23
QBD 6
Rencana tindakan untuk mengurangi dampak bencana apabila saudara/i
berada dalam situasi tersebut
Seperti yang sudah diketahui sebelumnya, terdapat 3 fase dalam menurunkan
dampak bencana yaitu fase pencegahan, fase respons bencana, dan fase setelah
terjadinya bencana. Pada sesi ini, diskusikan rencana tindakan yang harus dilakukan
pada setiap fase kasus bencana yang mungkin terjadi di Indonesia:
1. Banjir
2. Tsunami
3. Gempa bumi
4. Gunung meletus
5. Kebakaran
Mahasiswa dapat menggunakan contoh yang terjadi sebelumnya seperti banjir
Jakarta, tsunami di Aceh, gempa bumi di Padang, gunung Sinabung meletus, dan
Kebakaran di Industri

JAWABAN:

Banjir
Adalah merupakan peristiwa meluapnya air yang menggenangi permukaan tanah,
yang ketinggiannya melebihi batas normal.

Apa yang dilakukan sebelum Banjir


1. Ketahui istilah-istilah yang digunakan untuk menggambarkan banjir:
Flood Watch Kemungkinan terjadi banjir. Selalu simak informasi dari radio
radio dan siaran televisi nasional mengenai cuaca. Peringatan banjir dikeluarkan
sekitar 12 sampai 36 jam sebelum kemungkinan terjadinya banjir.
Flash Flood Watch Kemungkinan terjadinya banjir bandang. Bersiap untuk
pindah ke dataran yang lebih tinggi. Banjir bandang dapat terjadi tanpa
peringatan. Selalu simak informasi dari radio dan siaran televisi nasional
mengenai cuaca.
Flood Warning Banjir sedang terjadi atau akan terjadi secepatnya. Apabila
ada perintah untuk evakuasi diri segera lakukan secepatnya.
Flash Flood Warning Banjir bandang sedang terjadi. Segera menuju dataran

24
yang lebih tinggi.
2. Caritahu kepada petugas setempat apakah properti anda berada di daerah rawan
banjir atau tidak. Tanyakan mengenai peringatan banjir resmi dan apa yang harus
dilakukan bila mendengar hal tersebut. Juga tanyakan bagaimana agar rumah
anda terlindung dari banjir.
3. Identifikasi waduk di daerah sekitar anda dan tentukan apakah menimbulkan
bahaya untuk anda.
4. Siapkan baterai penuh atau baterai cadangan dan aktifkan nada dering untuk radio
cuaca nasional dan komersial anda sehingga akan secara otomatis menyala saat
ada peringatan terhadap bahaya banjir.
5. Bersiaplah untuk evakuasi. Pelajari rute evakuasi banjir di daerah anda dan jalan
untuk ke dataran tinggi.
6. Bicaralah dengan anggota keluarga anda tentang banjir. Rencanakan satu tempat
untuk bertemu jika anda terpisah dengan satu sama lain dan tidak dapat
kembali ke rumah. Tentukan satu orang diluar kota untuk dihubungi oleh
setiap anggota keluarga untuk mengabarkan bahwa mereka aman. Dalam
beberapa keadaan darurat, menghubungi daerah luar dapat dilakukan bahkan
ketika saluran telepon lokal menurun.
7. Tentukan bagaimana cara menolong anggota keluarga yang mungkin tinggal di
tempat lain tapi mungkin perlu bantuan anda pada saat banjir. Tentukan
kebutuhan khusus yang mungkin dimiliki tetanggamu.
8. Persiapkan diri anda untuk bertahan hidup setidaknya tiga hari. Rakit persediaan
peralatan darurat. Simpan stok makanan dan air minum tambahan.
9. Ketahui cara mematikan listrik, gas dan air. Ketahui di mana lampu penunjuk
gas berada dan bagaimana sistem pemanas bekerja. Jangan benar-benar
mematikan gas untuk melihat cara kerjanya atau untuk menunjukkan cara
kerjanya kepada orang lain. Hanya petugas resmi gas yang dapat menyalakannya
kembali dengan aman,
10. Kalau tidak hujan, perhatikan kondisi air sungai terdekat, apakah lebih keruh
dari biasanya
11. Simpan surat-surat penting di dalam plastik atau bahan kedap air

25
Apa yang dilakukan saat banjir
1. Pantau informasi penting yang disampaikan melalui radio atau TV
2. Pindahkan barang-barang atau perabotan rumah ke tempat yang lebih tinggi dan
tidak terjangkau oleh genangan air
3. Segera padamkan aliran listrik dan gas di rumah
4. Bersiaplah untuk kemungkinan mengungsi
5. Perhatikan kecenderungan air, apakah meningkat atau berkurang
6. Jika hujan tidak berhenti dan air tidak surut atau bahkan meningkat, segera
mengungsi ke tempat yang aman atau tempat yang telah ditentukan oleh
pemerintah setempat
7. Jika ada himbauan mengungsi, segera lakukan dengan tenang dan tertib
8. Jika terjebak dalam rumah, tetap tenang dan berusaha mencari pertolongan
dengan menghubungi kerabat, PMI Cabang, Kantor Pemerintahan, atau kantor
Polisi
9. Tetap menjaga perilaku hidup sehat dan bersih
10. Usahakan untuk tidak tidur di tempat terbuka

Apa yang dilakukan setelah banjir


1. Hindari genangan air. Air dapat terkontaminasi oleh minyak, bensin atau limbah
2. Apabila mengungsi, kembalilah ke rumah hanya ketika pihak berwenang
menunjukkan itu keadaan sudah aman. Tetap berada diluar bangunan yang
terendam banjir. Berhati-hatilah jika ingin memasuki gedung. Terdapat
kemungkinan kerusakan yang tersembunyo terutama di bagian dasar gedung.
3. Jangan langsung masuk kerumah, tetapi lihat situasi terlebih dahulu dengan
seksama
4. Periksa lingkungan sekita rumah kalau-kalau ada bahaya yang tersembunyi
5. Gunakan selalu alas kaki
6. Mulailah membersihkan sekitar rumah dan lingkungan
7. Cuci perlengkapan makan dan barang lainnya dengan sabun anti kuman
8. Perhatikan kebersihan dan kesehatan diri serta lingkungan agar terhindar dari
berbagai penyakit

Tsunami
26
Berasal dari bahasa Jepang, Tsu yang berarti pelabuhan dan Nami yang berarti
gelombang. Gelombang tsunami mempunyai pola ketika mendekati pantai
gelombang meningkat ketinggian namun kelajuannya menurun. Tinggi dan besarnya
gelombang tsunami dipengaruhi oleh besar kecilnya pergeseran tanah dan bentuk
garis pantai

Apa yang dilakukan sebelum Tsunami


1. Kenali tanda-tanda tsunami
2. Tsunami biasanya didahului oleh gempa besar yaitu gempa yang berpusat di laut
dangkal (0 30 Km) dan memiliki kekuatan 6,5 SR atau gempa yang berpola
sesar naik atau sesar turun
3. Tanda-tanda sebelum terjadi Tsunami diantaranya air laut surut melewati garis
pantai sehingga bisa terlihat binatang laut, dan tercium bau garam yang
menyengat
4. Jika tinggal di tepi pantai atau sedang berada di pantai, ketahuilah jalur evakuasi
yang aman jika terjadi Tsunami
5. Jika tidak terdapat dataran tinggi, pilihlah gedung yang tinggi (minimal 3 lantai
dan memiliki konstruksi yang kuat)

Apa yang dilakukan saat Tsunami


1. Janganlah panik
2. Bertindak cepat dan tepat
3. Bergeraklah sesuai jalur evakuasi tsunami
4. Jika jalur evakuasi belum ada atau tidak diketahui, bergeraklah ke tempat yang
lebih tinggi
5. Jika tanda-tanda Tsunami ada, peringatkan orang lain dan ajaklah keluarga dan
orang-orang di sekiatrmu menyelamatkan diri
6. Jika hanyut, carilah benda-benda terapung yang dapat dijadikan rakit. Berpegang
eratlah dan usahakan tidak meminum air laut dan tetap di permukaan air untuk
dapat bernapas
7. Jika terbawa ke tempat yang lebih tinggi, tetaplah bertahan disitu sampai air surut
dan keadaan menjadi tenang

Apa yang dilakukan setelah Tsunami

27
1. Setelah air laut surut, berhati-hatikah. Jangan melewati jalan-jalan atau daerah
yang rusak
2. Ikuti himbuan dari pemerintah atau regu penyelamat
3. Jika sampai di rumah, jangan langsung masuk, tetapi waspadai ada bagian rumah
yang roboh atau lantai licin
4. Jangan lupa mengecek anggota keluarga satu persatu
5. Hindari instalasi listrik
6. Bantulah teman-temanmu terutama yang banyak mengalami penderitaan,
pengalaman mengerikan dan kehilangan
7. Datanglah ke Posko bencana untuk mendapatkan bantuan dan informasi
8. Jalin komunikasi dengan warga sekitar

Gempa Bumi
Ketahui Jenis Gempa:
Gempa Tektonik: Gempa yang disebabka oleh pergeseran lempengan tektonik
Gempa Vulkanik: Gempa yang disebabkan aktifitas gunung api
Gempa Induksi: Gempa yang disebabkan oleh pelepasan energi akibat sumber-
sumber lainnya

Apa yang dilakukan sebelum Gempa Bumi


1. Kenalilah daerah sekitar tempat tinggalmu
2. Ketika masuk ke sebuah gedung atau bangunan, perhatikan dimana letak pintu
keluar, tangga darurat atau cara-cara keluar jika sewaktu-waktu harus
menyelamatkan diri
3. Perhatikan tempat-tempat yang aman untuk berlindung ketika gempa
4. Perhatikan juga tempat-tempat berbahaya pada saat gempa terjadi. Seperti di
dekat atau di bawah jendela kaca, di dekat pilar atau tiang
5. Catat dan simpan nomor-nomor telepon penting yang harus dihubungi pada saat
gempa terjadi
6. Matikan kran air, kompor, gas dan listrik setelah selesai digunakan

Apa yang dilakukan saat Gempa Bumi

28
Di rumah
a. Berusahalah menyelamatkan diri dan keluarga
b. Berlindunglah di bawah meja agar tidak terkena benda yang jatuh
c. Lindungi kepala dengan apa saja seperti papan, bantal atau kedua tangan
dengan posisi telungkup
Di luar rumah
a. Merunduk dan lindungi kepala
b. Bergeraklah menjauh dari gedung dan tiang menuju daerah terbuka
c. Jangan lakukan apapun sampai keadaan tenang
d. Di pusat perbelanjaan atau tempat umum
e. Tetap tenang
f. Ikuti petunjuk dari satpam atau petugas penyelamat
g. Jangan gunakan lift
h. Gunakan tangga darurat
i. Bergeraklah ke tempat terbuka
Di dalam kendaraan
a. Berpeganglah dengan erat pada tiang atau apapun yang dekat
b. Tetap tenang
c. Ikuti perintah atau petunjuk petugas
d. Minta pengemudi untuk menghentikan kendaraan
e. Bergeraklah ke tempat terbuka
Di gunung atau pantai
a. Jika di gunung, bergeraklah ke daerah yang aman yaitu lapangan terbuka
yang jauh dari daerah lereng
b. Jika di pantai, bergeraklah ke daerah yang lebih tinggi atau perbukitan

Apa yang dilakukan setelah gempa Bumi


29
1. Bila masih berada di dalam gedung atau didalam ruangan, segeralah keluar
2. Periksa keadaan diri, apakah ada bagian tubuh yang terluka atau tertimpa
benda-benda
3. Matikan listrik dan gas
4. Jangan menyalakan api
5. Beri pertolongan pertama kepada orang lain bila mampu
6. Dengarkan informasi dari sumber-sumber yang terpercaya dan bertindaklah
sesuai himbauan

Gunung Meletus
Dalam letusan yang sangat besar atau luas, akan menghasilkan abu vulkanik
yang berbahaya untuk kesehatan. Abu vulkanik adalah batu yang telah dihancurkan
menjadi debu atau pasir oleh aktivitas vulkanik

Apa yang dilakukan sebelum Gunung Meletus

1. Pelajari jalur evakuasi apabila terjadi gunung meletus

2. Cukup bahan makanan untuk setidaknya tiga hari.

3. Cukup minum air sekurang-kurangnya tiga hari (satu galon per orang per
hari).

4. Siapkan bungkus plastik (untuk menjaga abu memasuki barang-barang


elektronik)

5. Siapkan kotak P3K dan obat-obatan biasa.

6. Radio yang dapat dioperasikan dengan baterai dalam jangka panjang dan
siapkan baterai cadangan

7. Lentera atau lampu senter dengan baterai tambahan

8. Tambahan selimut dan pakaian hangat.

9. Perlengkapan kebersihan (sapu, vakum, sekop, dll).

30
10. Sejumlah uang tunai ekstra dalam jumlah kecil (mesin ATM mungkin tidak
bekerja).

Apa yang dilakukan saat Gunung Meletus

1. Tutup pintu dan jendela. Tempatkan handuk lembab di bawah pintu dan
lubang angin lainnya untuk menghindari masuknya abu.

2. Basahi abu di halaman dan jalan-jalan untuk mengurangi debu berterbangan


kembali.

3. Lindungi barang-barang elektronik yang sensitif terhadap debu.

4. Karena atap tidak dapat menopang lebih dari empat inci abu basah, usahakan
atap rumah anda tetap terbebas dari tumpukan tebal. Setelah hujan abu
berhenti, sapu atau sekop abu dari atap dan talang. Pakailah masker debu
saat membersihkan tangga dan atap.

5. Lepaskan pakaian dari luar ruangan sebelum memasuki bangunan. Sikat,


gosok dan rendam pakaian yang terkena abu sebelum dicuci.

6. Jika ada abu dalam air Anda, biarkan mengendap dan kemudian gunakan
bagian air yang jernih. Dalam kasus yang jarang terjadi di mana ada banyak
abu pasokan air, jangan gunakan mesin cuci piring atau mesin cuci.

7. Anda dapat makan sayuran dari kebun, tetapi cucilah terlebih dahulu.

Apa yang dilakukan setelah Gunung Meletus


1. Minimalisasi mengemudi dan kegiatan lain yang dapat menerbangkan abu
kembali.
2. Bersihkan abu sebanyak mungkin dari daerah yang sering digunakan.
Bersihkan dari atas ke bawah. Pakailah masker debu.

31
3. Sebelum menyapu, basahkan abu untuk memudahkan penyapuan. Berhati
hatilah untuk tidak mencuci abu ke saluran pipa, got, dll karena akan
menyumbat.
4. Gunakan air sehemat mungkin. Penggunaan air yang banyak untuk bersih-
bersih dapat menguras persediaan air publik.
5. Menjaga perlindungan barang yang sensitif terhadap debu (komputer, mesin)
sampai lingkungan benar-benar bebas abu.
6. Ikuti petunjuk petugas untuk pembuangan abu gunung berapi di komunitas
Anda.
7. Abu basah bersifat licin. Berhati-hatilah saat menaiki atap atau tangga.

SUMBER: FEMA. Are You Ready? An In-depth Guide to Citizen


Preparedness. Washington D.C.: FEMA. P. 28-70

32
33
Daftar Rujukan
1. Pinkowski J. Disaster Management Handbook. Florida: CRC Press; 2008.
[E-BOOK]
2. Handmer J, Dovers S. Handbook of Disaster & Emergency Policies &
Institutions. London: Earthscan; 2007. [E-BOOK]
3. Rittinghouse JW, Ransome JF. Business Continuity and Disaster Recovery
for Infosec Managers. Burlington: Elsevier Digital Press; 2005. [E-BOOK]
4. Botterill LC, Wilhite DA. From Disaster Response to Risk Management.
Dordrecht: Springer; 2005. [E-BOOK]
5. Gad-el-Hak M. Large-scale Disasters Prediction, Control, and Mitigation.
Cambridge: Cambridge University Press; 2008. [E-BOOK]
6. WHO. Mental Health in Emergencies. Geneva: Department of Mental
Health and Substance Dependence World Health Organization Geneva;
2003. [E-BOOK]
7. Mental Health and Psychosocial Support in Humanitarian Emergencies:
What Should Humanitarian Health Actors Know?. Geneva: IASC Reference
Group for Mental Health and Psychosocial Support in Emergency Settings;
2010. [E-BOOK]
8. Sphere Board. Humanitarian Charter and Minimum Standards in
Humanitarian Response. United Kingdom: The Sphere Project; 2011. [E-
BOOK]
9. Gregory P. IT Disaster Recovery Planning for Dummies. Hoboken: Wiley
Publishing; 2008. [E-BOOK]
10. Gustin JF. Disaster & Recovery Planning: A guide for Facility Managers. 2 nd
edition. United Kingdom: Taylor & Francis e-Library; 2005. [E-BOOK]
11. FEMA. Are You Ready? An In-depth Guide to Citizen Preparedness.
Washington D.C.: FEMA. [e-book]
12. Marsella AJ, Johnson JL, Watson P, Gryczynski J. Ethnocultural
Perspectives on Disaster and Trauma Foundations, Issues, and Applications.
New York: Springer; 2008.
13. Koenig KL, Schultz CH. Koenig and Schultzs Disaster Medicine
Comprehensive Principles and Practices. Cambridge: Cambridge University
Press; 2010. P. 103-112.
14. PAHO. Natural disaster: protecting the publics health. Washington DC: Pan
American Sanitary Bureau. Washington DC; 2000. P17
15. Ehrenreich JH, Elliot TL. Managing stress in humanitarian aid workers: a
survey of humanitarian aid agencies' psychosocial training and support of
staff. Journal of Peace Psychology. 2004; 10(1):5-6

34
16. Purwana R. Manajemen kedaruratan kesehatan lingkungan dalam kejadian
bencana. Jakarta: Rajawali pers; 2013.

35