Anda di halaman 1dari 2

IDENTIFIKASI HAMA TUMBUHAN : Deskripsi

Morfologi dan Bioekologi Walang Sangit


(Leptocorisa oratorius) pada Tanaman Padi
NOVEMBER 4TH, 2012 WRITE COMMENT ARTIKEL PLANT PROTECTION

Abstract
Walang sangit (Leptocorisa oratorius L) adalah salah satu hama yang menyerang tanaman padi. Gejala
serangan berupa bulir padi yang hampa karena sudah dimakan habis. Hama ini sekarang menjadi hama
umum tanaman padi dan menyebar luas dengan cepat di seluruh wilayah di dunia.
Di Indonesia walang sangit merupakan hama potensial yang pada waktu-waktu tertentu menjadi hama
penting dan dapat menyebabkan kehilangan hasil mencapai 50%. Diduga bahwa populasi 100.000 ekor
per hektar dapat menurunkan hasil sampai 25%. Hasil penelitian menunjukkan populasi walang sangit 5
ekor per 9 rumpun padi akan menurunkan hasil 15%. Hubungan antara kepadatan populasi walang
sangit dengan penurunan hasil menunjukkan bahwa serangan satu ekor walang sangit per malai dalam
satu minggu dapat menurunkan hasil 27% (Balai Besar Penelitian tanaman padi, 2009).

Karakter Morfologi Walang Sangit (Leptocorisa oratorius)

Kingdom : Animalia, Phylum : Arthropoda, Kelas : Insecta, Ordo : Hemiptera, Famili : Alydidae, Genus :
Leptocorisa, Spesies : oratorius
Walang sangit (Leptocorisa oratorius) secara umum morfologi tersusun dari antenna, caput, toraks,
abdomen, tungkai depan, tungkai belakang, sayap depan dan sayap belakang. Serangga ini memiliki
sayap depan yang keras, tebal dan tanpa vena. Sayap belakang bertipe membranus dan terlipat dibawah
sayap dengan saat serangga istirahat. Tipe alat mulut yaitu penggigit-pengunyah dengan kemampuan
mandibular berkembang dengan baik. Pada beberapa jenis, khususnya dari suku Curculionadae alat
mulutnya terbentuk moncong yang terbentuk di depan kepala (Sudarmo, 2000).
Walang sangit muda berwarna hijau yang menyerupai warna daun untuk mengelabuhi musuh dan tidak
mempunyai kemampuan untuk terbang. Sedangkan pada Walang sangit dewasa berwarna coklat dan
mempunyai kemampuan terbang yang baik. Secara umum bentuk tubuh walang sangit langsing, kaki
dan antenna panjang. Telur walang sangit berbentuk bulat dan pipih berwarna coklat kehitaman. Telur
diletakkan berbaris, dalam satu atau dua baris telur berjumlah 12-16 butir (Pracaya, 2010).
Bioekologi
Selain padi, walang sangit juga mempunyai inang alternative yang berupa tanaman rumput-rumputan
antara lain : Panicum spp; Andropogon sorgum; Digitaria consanguinaria; Eleusine coracoma; Setaria
italica; Cyperus polystachys, Paspalum spp; dan Pennisetum typhoideum(Balai Besar Penelitian tanaman
padi, 2009).
Walang sangit (Leptocorisa oratorius) mengalami metamorfosis sederhana yang perkembangannya
dimulai dari stadia telur, nimfa dan imago (Harahap dan Tjahyono, 1997).Walang sangit dewasa
meletakkan telur pada bagian atas daun tanaman khususnya pada area daun bendera tanaman padi.
Lama periode bertelur 57 hari dengan total produksi terlur per induk + 200 butir. Lama stadia telur 7
hari, terdapat lima instar pertumbuhan nimpa yang total lamanya + 19 hari. Lama preoviposition + 21
hari, sehingga lama satu siklus hidup hama walang sangit + 46 hari (Balai Besar Penelitian tanaman
padi, 2009).
Telur setelah menetas menjadi nimfa aktif bergerak ke malai mencari bulir padi yang masih stadia
masak susu sebagai makananan. Nimpa-nimpa dan dewasa pada siang hari yang panas bersembunyi
dibawah kanopi tanaman. Serangga dewasa pada pagi hari aktif terbang dari rumpun ke rumpun
sedangkan penerbangan yang relatif jauh terjadi pada sore atau malam hari (Balai Besar Penelitian
tanaman padi, 2009).
Tanaman padi berbunga dewasa walang sangit pindah ke pertanaman padi dan berkembang biak satu
generasi sebelum tanaman padi tersebut dipanen. Banyaknya generasi dalam satu hamparan
pertanaman padi tergantung dari lamanya dan banyaknya interval tanam padi pada hamparan tersebut.
Makin serempak tanam makin sedikit jumlah generasi perkembangan hama walang sangit (Balai Besar
Penelitian tanaman padi, 2009).
Di alam hama walang sangit diketahui diserang oleh dua jenis parasitoid telur yaitu Gryon nixoniMesner
dan O. malayensis Ferr. Parasitasi kedua parasitoid ini di lapangan dibawah 50%. Pengamatan yang
dilakukan pada tahun 1997 dan 2000 pada beberapa daerah di Jawa Barat menunjukkan parasitoid G.
nixoni lebih dominan dibandingkan dengan parasitoid O. malayensis. Parasitoid O. malayensis hanya
ditemukan pada daerah pertanaman padi di daerah agak pegunungan dimana disamping pertanaman
padi banyak ditanaman palawija seperti kedelai atau kacang panjang O. malayensis selain menyerang
telur walang sangit juga menyerang telur hamaRiptortus linearis dan Nezara viridula yang merupakan
hama utama tanaman kedelai. Berbagai jenis laba-laba dan jenis belalang famili Gryllidae dan
Tettigonidae menjadi predator hama walang sangit. Jamur Beauveria sp juga merupakan musuh alami
walang sangit. Jamur ini menyerang stadia nimpa dan dewasa (Balai Besar Penelitian tanaman padi,
2009).
Faktor Lingkungan

Suhu Optimal : Suhu optimal untuk perkembang biakan walang sangit yaitu sekitaran 27-30 derajad
celcius.
Waktu : Hal ini berkaitan dengan waktu pergantian siang, sore dan malam hari. Waktu sore digunakan
walang sangit untuk bertelur. Selain itu perbandingan fase pertumbuhan dan perkembangan tanaman
juga mempengaruhi kapan walang sangit akan menyerang yaitu umumnya menyerang pada fase muda,
sedangkan pada fase tua (generatif umur tua) walang sangit tidak menyerang dan memilih untuk pindah
ke inang lain.
Habitat : Habitat tempat lahan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan walang sangat antara
lain letak sawah yang dekat dengan perhutani, populasi gula yang tinggi dan sistem budidaya pertanian
(penanaman serempak).
================================================================
=====
Source :
Harahap dan Tjahyono, 1997. Hama dan Penyakit Utama Padi di Lahan Pasang Surut. Monograf.
http://bbpadi.litbang.deptan.go.id/index.php/in/hama-padi/206hama-walang-sangit-leptcorisa-
oratorius-
http://planthospital.blogspot.com/2011/08/definisi-dan-macam-hama-dan-penyakit.html
Pracaya. 2010. Hama dan Penyakit Tanaman. Penebar Swadaya. Jakarta
Sudarmo, S. 2000. Tembakau Pengendalian Hama dan Penyakit. Kanisius. Yogyakarta