Anda di halaman 1dari 26

GANGGUAN ANSIETAS

(Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Kesehetan


Mental)
Dosen Pengampu: Devi Ratnasari., M.Pd

Disusun oleh:
Nuraini
201401500471

PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING


FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN DAN PENGETAHUAN SOSIAL
UNIVERSITAS INDRAPRASTA
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat
dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya.
Pada kesempatan ini penyusun ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah ikut
serta membantu penyusunan makalah yang berjudul Gangguan Mental: Anxiety Disorder.
Makalah ini dibuat sebagai salah satu tugas individu mata kuliah Kesehatan Mental.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih terdapat kekurangan. Oleh karena itu, dengan
segala kerendahan hati, penyusun memohon kritik dan saran yang membangun dari segenap
pembaca demi kesempurnaan makalah ini. Penulis berharap makalah ini dapat bermanfaat.

Jakarta, Februari 2017

Penulis

1
BAB I
PENDAHULUAN

l.1 Latar Belakang

Berbagai tingkah laku masyarakat yang beraneka ragam mendorong para ahli ilmu
kejiwaan untuk menyelidiki apa penyebab perbedaan tingkah laku orang-orang dalam
kehidupan bermasyarakat sekalipun dalam kondisi yang sama. Selain itu, juga menyelidiki
penyebab seseorang tidak mampu mendapatkan ketenangan dan kebahagiaan dalam
hidupnya. Usaha ini kemudian menimbulkan satu cabang ilmu jiwa yaitu kesehatan mental.
Dengan memahami ilmu kesehatan mental dalam arti mengerti, mau, dan mampu
mengaktualisasikan dirinya, maka seseorang tidak akan mengalami bermacam-macam
ketegangan, ketakutan, konflik batin. Selain itu, ia melakukan upaya agar jiwanya menjadi
seimbang dan kepribadiannya pun terintegrasi dengan baik. Ia juga akan mampu
memecahkan segala permasalahan hidup.
Kematangan dan kesehatan mental berhubungan erat antara satu sama lainnya dan
saling tergantung. Apabila kita bicara tentang keduanya secara terpisah maka hanya sekadar
untuk memudahkan penganalisaannya. Karena sangat sulit untuk membanyangkan seseorang
yang matang dari segi sosial dan tidak matang dari segi kejiwaan. Orang yang matang
bukanlah orang yang telah sampai kepada ukuran tertentu dari perkembangan, kemudian
berhenti sampai disitu. Akan tetapi ia adalah orang yang selalu dalam keadaan matang.
Artinya orang yang selalu bertambah kuat dan subur hubungannya dengan kehidupan. Karena
sikapnya mendorongnya untuk tumbuh, bukan berhenti dari pertumbuhan. Oleh karena itu
seorang yang matang, bukanlah orang yang mengetahui sejumlah besar fakta akan tetapi
orang yang matang adalah orang yang kebiasaan-kebiasaan mentalnya membantunya untuk
mengembangkan pengetahuannya dan mengunakannya dengan bijaksana.
Kecemasan adalah hal yang normal di dalam kehidupan karena kecemasan sangat
dibutuhkan sebagai pertanda akan bahaya yang mengancam. Namun ketika kecemasan terjadi
terus-menerus, tidak rasional dan intensitasnya meningkat, maka kecemasan dapat
mengganggu aktivitas sehari-hari dan disebut sebagai gangguan kecemasan yang merupakan
salah satu dari mental disorder (ADAA, 2010).
Gangguan kecemasan adalah salah satu gangguan mental yang umum dengan
prevalensi seumur hidup yaitu 16%-29% (Katz, et al., 2013). Dilaporkan bahwa perkiraan
gangguan kecemasan pada dewasa muda di Amerika adalah sekitar 18,1% atau sekitar 42 juta

1
orang hidup dengan gangguan kecemasan, seperti gangguan panik, gangguan obsesiv-
kompulsif, gangguan stres pasca trauma, gangguan kecemasan umum dan fobia (Duckworth,
2013). Sedangkan gangguan kecemasan terkait jenis kelamin dilaporkan bahwa prevalensi
gangguan kecemasan seumur hidup pada wanita sebesar 60% lebih tinggi dibandingkan pria
(NIMH dalam Donner & Lowry, 2013). Di Indonesia prevalensi terkait gangguan kecemasan
menurut hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 menunjukkan bahwa
sebesar 6% untuk usia 15 tahun ke atas atau sekitar 14 juta penduduk di Indonesia mengalami
gangguan mental emosional yang ditunjukkan dengan gejala-gejala kecemasan dan depresi
(Depkes, 2014). Terkait dengan mahasiswa dilaporkan bahwa 25% mahasiswa mengalami
cemas ringan, 60% mengalami cemas sedang, dan 15% mengalami cemas berat. Berdasarkan
hasil penelitian tersebut diketahui bahwa setiap orang dapat mengalami kecemasan baik
cemas ringan, sedang atau berat (Suyamto, et al., 2009).
Timbulnya sensasi kecemasan hampir dialami oleh hampir semua manusia. Perasaan
tersebut ditandai dengan adanya rasa ketakutan yang difus, tidak menyenangkan dan samar-
samar, seringkali disertai dengan gejala otonomik seperti nyeri kepala, berkeringat, palpitasi,
kekakuan pada dada dan gangguan pada lambung yang ringan. Kecemasan adalah hal normal
sebagai manusia, tetapi bagi beberapa orang kecemasan dapat keluar kendali sampai
mengacaukan kecemasan adalah panic disorder (2,3-2,7%). Ini biasanya terjadi saat penderita
menjadi sangat ketakutan terhadap gejala-gejala fisik yang ia rasakan dan mulai menghindari
tempat-tempat dan situasi-situasi yang dirasa akan memunculkan gejala-gejala itu. Rasa
khawatir, gelisah, takut, waswas, tidak tenteram, panik dan sebagainya merupakan gejala
umum akibat cemas. Bila kecemasan terjadi hebat sekali sehingga menyebabkan panik, maka
dapat menjadi berbahaya dengan sikap yang agresif dan mengancam.
Menelaah dari hal di atas, maka penulis melalui karya tulis ini akan mencoba untuk
menjelaskan mengenai gangguang ansietas atau gangguan kecemasan beserta contoh analisa
kasus dan hubungannya dengan kesehatan mental.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang di atas, maka permasalahan karya tulis ini adalah:
1. Apa yan dimaksud dengan gangguang ansietas?
2. Apa saja faktor-faktor penyebab gangguang ansietas?
3. Bagaimana pengaruh gangguang ansietas dengan kesehamatan mental?
4. Bagaimana terapi dan penanganan yang dapat diberikan untuk penderita gangguang
ansietas?
1.3 Tujuan Penulisan

2
Dengan adanya permasalahan yang muncul, maka tujuan daripada karya tulis ini
adalah sebagai berikut:
1. Menngetahui apa itu gangguang ansietas beserta faktor penyebabnya
2. Mempelajari pengaruh gangguang ansietas dengan kesehatan mental
3. Mempelajari cara-cara terapi dan penanganan yang dapat diberikan untuk penderita
gangguang ansietas

BAB II
TINJAUAN TEORI

3
2.1 Gangguan Mental (Mental Disorder)
2.1.1 Definisi Gangguan Mental (Mental Disorder)
Istilah gangguan mental (mental disorder) atau gangguan jiwa merupakan istilah resmi
yang digunakan dalam PPDGJ (Pedoman Penggolongan Diagnostik Gangguan Jiwa).
Definisi gangguan mental (mental disorder) dalam PPDGJ II yang merujuk pada DSM-
III adalah:
Gangguan mental (mental disorder) atau gangguan jiwa adalah sindrom atau pola
perilaku, atau psikologik seseorang, yang secara klinik cukup bermakna, dan secara
khas berkaitan dengan suatu gejala penderitaan (distress) atau hendaya
(impairment/disability) di adalm satu atau lebih fungsi yang penting dari manusia.
Sebagai tambahan, disimpulkan bahwa disfungsi itu adalah disfungsi dalam segi
perilaku, psikologik, atau biologik, dan gangguan itu tidak semata-mata terletak di
dalam hubungan orang dengan masyarakat.
Dari penjelasan di atas, kemudian dirumuskan bahwa di dalam konsep gangguan
mental (mental disorder) terdapat butir-butir sebagai berikut:
1. Adanya gejala klinis yang bermakna, berupa:
- Sindrom atau pola perilaku
- Sindrom atau pola psikologik
2. Gejala klinis tersebut menimbulkan penderitaan (distress), antara lain berupa: rasa
nyeri, tidak nyaman, tidak tentram, terganggu, disfungsi organ tubuh, dll.
3. Gejala klinis tersebut menimbulkan disabilitas (disability) dalam aktivitas
kehidupan sehari-hari yang biasa dan diperlukan untuk perawatan diri dan
kelangsungan hidup (mandi, berpakaian, makan, kebersihan diri, dll).
Secara lebih luas gangguan mental (mental disorder) juga dapat didefinisikan sebagai
bentuk penyakit, gangguan, dan kekacauan fungsi mental atau kesehatan mental, disebabkan
oleh kegagalan mekanisme adaptasi dari fungsi-fungsi kejiwaan/mental terhadap stimuli
ekstern dan ketegangan-ketegangan; sehingga muncul gangguan fungsional atau struktural
dari satu bagian, satu orang, atau sistem kejiwaan/mental (Kartono, 2000:80). Pendapat yang
sejalan juga dikemukakan Chaplin (1981) (dalam Kartono, 2000:80), yaitu:
Gangguan mental (mental disorder) ialah sebarang bentuk ketidakmampuan
menyesuaikan diri yang serius sifatnya terhadap tuntutan dan kondisi lingkungan yang
mengakibatkan ketidakmampuan tertentu. Sumber gangguan/kekacauannya bisa bersifat
psikogenis atau organis, mencakup kasus-kasus reaksi psikopatis dan reaksi-reaksi
neurotis yang gawat.

4
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa gangguan mental (mental disorder) adalah
ketidakmampuan seseorang atau tidak berfungsinya segala potensi baik secara fisik maupun
phsikis yang menyebabkan terjadinya gangguan dalam jiwanya.

2.1.2 Jenis-Jenis Gangguan Mental (Mental Disorder)


Dalam menjelaskan macam-macam gangguan mental (mental disorder), penulis
merujuk pada PPDGJ III yang digolongkan sebagai berikut:
1. Gangguan mental organik dan simtomatik;
Gangguan mental organik adalah gangguan mental yang berkaitan dengan penyakit
atau gangguan sistematik atau otak yang dapat di diagnosis secara tersendiri.
Sedangkan gangguan simtomatik adalah gangguan yang diakibatkan oleh pengaruh
otak akibat sekunder dari penyakit atau gangguan sistematik di luar otak
(extracerebral).
2. Gangguan mental dan perilaku akibat zat psikoaktif.
Gangguan yang disebabkan karena penggunaan satu atau lebih zat psikoaktif
(dengan atau tidak menggunakan resep dokter).
3. Gangguan waham
Gangguan waham adalah gejala ganguan jiwa di mana jalan pikirannya tidak benar
dan penderita itu tidak mau di koreksi bahwa hal itu tidak betul; suatu jalan pikiran
yang tidak beralasan, contohnya schizofrenia. (Sudarsono, 1993).
4. Gangguan suasana perasaan (mood/afektif).
Gangguan suasana perasaan (mood/afektif) adalah perubahan suasana perasaan
(mood) atau afek, biasanya kearah ansietas dan, atau kearah elasi (suasana perasaan
yang meningkat).
5. Gangguan neurotik, somatoform dan gangguan stres.
Gangguan neurotik, somatoform dan gangguan stes merupakan satu kesatuan dari
gangguan jiwa yang disebabkan oleh faktor psikologis.
6. Sindrom perilaku yang berhubungan dengan gangguan fisiologis dan faktor fisik.
Gangguan mental yang biasanya ditandai dengan mengurangi berat badan dengan
segaja, dipacu dan atau dipertahankan oleh penderita.
7. Gangguan kepribadian dan perilaku masa dewasa
Suatu kondisi klinis yang bermakna dan pola perilaku yang cenderung menetap, dan
merupakan ekspresi dari pola hidup yang khas dari seseorang dan cara-cara
berhubungan dengan diri-sendiri maupun orang lain.
8. Retardasi mental
Retardasi mental adalah keadaan perkembangan jiwa yang terhenti atau tidak
lengkap, terutama ditandai oleh terjadinya hendaya keterampilan selama masa
perkembangan sehingga berpengaruh pada tingkat keceradsan secara menyeluruh.
9. Gangguan perkembangan psikologis.

5
Gangguan yang disebabkan kelambatan perkembangan fungsi-fungsi yang
berhubungan erat dengan kematangan biologis dari susunan saraf pusat, dan
berlangsung secara terus menerus tanpa adanya remisi dan kekambuhan yang khas.
Yang dimaksud yang khas ialah hendayanya berkurang secara progresif dengan
bertambahnya usia anak (walaupun defisit yang lebih ringan sering menetap sampai
masa dewasa).
10. Gangguan perilaku dan emosional dengan onset masa kanak-kanak.
Gangguan yang dicirikan dengan berkurangnya perhatian dan aktivitas berlebihan.
Berkurangnya perhatian ialah dihentikannya terlalu dini tugas atau suatu kegiatan
sebelum tuntas/selesai. Aktivitas berlebihan (hiperaktifitas) ialah bentuk kegelisahan
yang berlebihan, khususnya dalam situasi yang menuntut keadaan yang relatif
tenang.

2.1.3 Faktor-Faktor Penyebab Gangguan Mental (Mental Disorder)


Untuk mendapatkan jawaban mengenai faktor faktor-faktor yang mempengaruhi
timbulnya gangguan mental (mental disorder), maka yang perlu ditelusuri pertama kali adalah
faktor dominan yang dapat mempengaruhi kepribadian seseorang. Dalam hal ini, penulis
merujuk pada pendapat Kartini Kartono (1982), yang membagi faktor dominan yang
mempengaruhi timbulnya gangguan mental (mental disorder) ke dalam dua faktor, yaitu:

1. Faktor organis (somatic), misalnya terdapat kerusakan pada otak dan proses dementia.
2. Faktor-faktor psikis dan struktur kepribadiannya, reaksi neuritis dan reaksi psikotis
pribadi yang terbelah, pribadi psikopatis, dan lain-lain. Kecemasan, kesedihan,
kesakitan hati, depresi, dan rendah diri bisa menyebabkan orang sakit secara psikis,
yaitu yang mengakibatkan ketidakseimbangan mental dan desintegrasi
kepribadiannya. Maka sruktur kepribadian dan pemasakan dari pengalaman-
pengalaman dengan cara yang keliru bisa membuat orang terganggu psikisnya.
Terutama sekali apabila beban psikis ternyata jauh lebih berat dan melampaui
kesanggupan memikul beban tersebut.
3. Faktor-faktor lingkungan (milieu) atau faktor-faktor sosial.
Usaha pembangunan dan modernisasi, arus urbanisasi dan industialisasi menyebabkan
problem yang dihadapi masyarakat modern menjadi sangat kompleks. Sehingga usaha
penyesuaian diri terhadap perubahan-perubahan sosial dan arus moderenisasi menjadi

6
sangat sulit. Banyak orang mengalami frustasi, konflik bathin dan konflik terbuka
dengan orang lain, serta menderita macam-macam gangguan psikis.

2.1.4 Pencegahan Gangguan Mental (Mental Disorder)


Tujuan utama pencegahan gangguan mental adalah membimbing mental yang
sakit agar menjadi sehat mental dan menjaga mental yang sehat agar tetap sehat. Namun
sebelumnya akan penulis paparkan terlebih dahulu tentang pengertian pencegahan gangguan
mental.
2.1.4.1 Pengertian Pencegahan Gangguan Mental
Dalam dunia kesehatan mental pencegahan didefinisikan sebagai upaya
mempengaruhi dengan cara yang positif dan bijaksana dari lingkungan yang dapat
menimbulkan kesulitan atau kerugian. (Prayitno, 1994).
Sementara AF. Jaelani (2000:87), berpendapat bahwa pencegahan mempunyai
pengertian sebagai metode yang digunakan manusia untuk menghadapi diri sendiri dan orang
lain guna meniadakan atau mengurangi terjadinya gangguan kejiwaan.
Dengan demikian pencegahan gangguan mental didasarkan pada upaya individu
terhadap diri dan orang lain untuk menekan serendah mungkin agar tidak terjadi gangguan
mental sesuai dengan kemampuannya.

2.1.4.2 Upaya Pencegahan Gangguan Mental


Banyak para ahli yang memberikan metode upaya pencegahan mulai dari faktor yang
mempengaruhi sampai akibat yang ditimbulkan. Pada dasarnya upaya pencegahan ialah
didasarkan pada prinsip-prinsip kesehatan mental. Prinsip-prinsip yang dimaksud adalah:
1. Gambaran dan sikap baik terhadap diri-sendiri;
Seseorang yang memiliki kemampuan mnyesuaikan diri, baik dengan diri sendiri
maupun hubungan dengan orang lain, hubungan dengan alam lingkungan, serta
hubungan dengan Tuhan. Hal ini dapat diperoleh dengan cara penerimaan diri,
keyakinan diri dan kepercayaan kepada diri-sendiri (Yahya, 1993).
2. Keterpaduan atau integrasi diri;
Berarti adanya keseimbangan antara kekuatan-kekuatan jiwa dalam diri,
kesatuan pandangan (falsafah dalam hidup) dan kesanggupan mengatasi ketegangan
emosi (stres) (Yahya, 1993).
3. Pewujudan diri (aktualisasi diri);

7
Merupakan sebuah proses pematangan diri dapat berarti sebagai kemampuan
mempengaruhi potensi jiwa dan memiliki gambaran dan sikap yang baik terhadap
diri-sendiri serta meningkatkan motivasi dan semangat hidup. Oleh karena itu, agar
terhindar dari gangguan mental, maka sedapat mungkin mengaktualisasikan diri dan
memenuhi kebutuhan dengan baik dan memuaskan (Kartono, 1986).
Dengan demikian upaya pencegahan dapat berhasil apabila manusia dapat
berpotensi untuk menjadikan dirinya sebagai yang terbaik dan tidak hanya pasrah
pada kemampuan dasar manusia seperti menggembangkan bakat dan sebagainya.

4. Kemampuan menerima orang lain;


Melakukan aktivitas sosial dan menyesuaikan diri dengan lingkungan tempat
tinggal.
Lingkungan di samping sebagai faktor penyebab timbulnya gangguan mental,
juga memiliki peran penting dalam usaha mencegah timbulnya gangguan mental.
Sebab bagi individu yang tidak mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya,
dapat menyebabkan timbulnya kecemasan dan kesulitan dalam mengahadapi tuntutan
dan persoalan yang dapat terjadi setiap hari. (Syukur, 2000). Dalam ungkapan kata
lain disebtkan bahwa mereka yang tidak mempunyai ikatan status di masyarakat dan
mereka yang tidak mempunyai fungsi atau peran dalam masyarakat lebih mudah
mengalami gangguan kejiwaan. (Hawari, 1999). Sebagai upaya pencegahannya
manusia sedapat mungkin menghindarinya, yaitu dengan melakukan aktivitas sosial
dalam masyarakat, dan lain sebagainya.
5. Agama dan falsafah hidup.
Dalam hal ini agama berfungsi sebagai therapy bagi jiwa yang gelisah dan
terganggu. Selain itu agama juga berperan sebagai alat pencegah (preventif) terhadap
kemungkinan gangguan mental dan merupakan faktor pembinaan (konstruktif) bagi
kesehatan mental. (Daradjat, 1975). Dengan keyakinan beragama, berarti seseorang
telah hidup dekat dengan Tuhan serta tekun menjalankan agama. Pada akhirnya akan
terwujud kesehatan mental secara utuh.
Sedangkan falsafah hidup merupakan wujud dari kumpulan prinsip atau nilai-
nilai. Sehingga setiap orang berusaha sesuai dengan ketentuannya. Dengan demikian
apabila seseorang memiliki falsafah hidup, maka akan dapat menghadapi
tantangannya dengan mudah (Fahmi, 1982).
6. Pengawasan diri
Agar dapat terhindar dari gangguan mental, maka sedapat mukin melindungi
diri dari dorongan dan keinginan atau berbuat maksiat dengan mengawasi diri kita.
Secara umum orang yang wajar adalah orang yang mampu mengendalikan

8
keinginannya dan mampu menunda sebagian dari pemenuhan kebutuhannya, serta
bersedia meninggalkan kelezatan-kelezatan dengan segera, demi untuk mencapai
keuntungan (pahala) yang lebih lama sifatnya serta lebih kekal. (Fahmi, 1982).
Berdasarkan pada eksplorasi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pencegahan
gangguan mental dimaksudkan untuk mewujudkan kesehatan mental yang didasarkan pada
kemauan dan kemampuan setiap pribadi untuk merubah dari masalah yang buruk agar
menjadi baik.

2.2 Gangguan Ansietas (Anxiety Disorder)


2.2.1 Definis Ansietas
Pada dasarnya, ansietas atau kecemasan merupakan hal wajar yang pernah dialami oleh
setiap manusia. Kecemasan sudah dianggap sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Kecemasan adalah suatu perasaan yang sifatnya umum, dimana seseorang merasa ketakutan
atau kehilangan kepercayaan diri yang tidak jelas asal maupun wujudnya (Sutardjo
Wiramihardja, 2005).
Menurut Kaplan, Sadock, dan Grebb (Fitri Fauziah & Julianti Widuri, 2007)
kecemasan adalah respon terhadap situasi tertentu yang mengancam, dan merupakan hal yang
normal terjadi menyertai perkembangan, perubahan, pengalaman baru atau yang belum
pernah dilakukan, serta dalam menemukan identitas diri dan arti hidup. Kecemasan adalah
reaksi yang dapat dialami siapapun. Namun cemas yang berlebihan, apalagi yang sudah
menjadi gangguan akan menghambat fungsi seseorang dalam kehidupannya.
Kecemasan merupakan suatu perasaan subjektif mengenai ketegangan mental yang
menggelisahkan sebagai reaksi umum dari ketidakmampuan mengatasi suatu masalah atau
tidak adanya rasa aman. Perasaan yang tidak menentu tersebut pada umumnya tidak
menyenangkan yang nantinya akan menimbulkan atau disertai perubahan fisiologis dan
psikologis (Kholil Lur Rochman, 2010).
Namora Lumongga Lubis (2009) menjelaskan bahwa kecemasan adalah tanggapan
dari sebuah ancaman nyata ataupun khayal. Individu mengalami kecemasan karena adanya
ketidakpastian dimasa mendatang. Kecemasan dialami ketika berfikir tentang sesuatu tidak
menyenangkan yang akan terjadi. Sedangkan Siti Sundari (2004) memahami kecemasan
sebagai suatu keadaan yang menggoncangkan karena adanya ancaman terhadap kesehatan.
Kecemasan adalah rasa khawatir , takut yang tidak jelas sebabnya. Kecemasan juga
merupakan kekuatan yang besar dalam menggerakkan tingkah laku, baik tingkah laku yang

9
menyimpang ataupun yang terganggu. Kedua-duanya merupakan pernyataan, penampilan,
penjelmaan dari pertahanan terhadap kecemasan tersebut (Singgih D. Gunarsa, 2008).
Kesimpulan yang dapat diambil dari beberapa pendapat diatas bahwa kecemasan
adalah rasa takut atau khawatir pada situasi tertentu yang sangat mengancam yang dapat
menyebabkan kegelisahan karena adanya ketidakpastian dimasa mendatang serta ketakutan
bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi.

2.2.2 Gejala-Gejala Ansietas


Kecemasan adalah suatu keadaan yang menggoncangkan karena adanya ancaman
terhadap kesehatan. Individu-individu yang tergolong normal kadang kala mengalami
kecemasan yang menampak, sehingga dapat disaksikan pada penampilan yang berupa gejala-
gejala fisik maupun mental. Gejala tersebut lebih jelas pada individu yang mengalami
gangguan mental. Lebih jelas lagi bagi individu yang mengidap penyakit mental yang parah.
Gejala-gejala yang bersifat fisik diantaranya adalah : jari tangan dingin, detak jantung
makin cepat, berkeringat dingin, kepala pusing, nafsu makan berkurang, tidur tidak nyenyak,
dada sesak.Gejala yang bersifat mental adalah : ketakutan merasa akan ditimpa bahaya, tidak
dapat memusatkan perhatian, tidak tenteram, ingin lari dari kenyataan (Siti Sundari, 2004).
Kecemasan juga memiliki karakteristik berupa munculnya perasaan takut dan kehati-
hatian atau kewaspadaan yang tidak jelas dantidak menyenangkan. Gejala-gejala kecemasan
yang muncul dapat berbeda pada masing-masing orang. Kaplan, Sadock, & Grebb (Fitri
Fauziah & Julianti Widury, 2007) menyebutkan bahwa takut dan cemas merupakan dua
emosi yang berfungsi sebagai tanda akan adanya suatu bahaya. Rasa takut muncul jika
terdapat ancaman yang jelas atau nyata, berasal dari lingkungan, dan tidak menimbulkan
konflik bagi individu. Sedangkan kecemasan muncul jika bahaya berasal dari dalam diri,
tidak jelas, atau menyebabkan konflik bagi individu.
Kecemasan berasal dari perasaan tidak sadar yang berada didalam kepribadian
sendiri, dan tidak berhubungan dengan objek yang nyata atau keadaan yang benar-benar ada.
Kholil Lur Rochman, (2010) mengemukakan beberapa gejala-gejala dari kecemasan antara
lain :
Ada saja hal-hal yang sangat mencemaskan hati, hampir setiap kejadian menimbulkan rasa
takut dan cemas. Kecemasan tersebut merupakan bentuk ketidakberanian terhadap hal-hal
yang tidak jelas.

10
Adanya emosi-emosi yang kuat dan sangat tidak stabil. Suka marah dan sering dalam
keadaan exited (heboh) yang memuncak, sangat irritable, akan tetapi sering juga dihinggapi
depresi.

Diikuti oleh bermacam-macam fantasi, delusi, ilusi, dan delusion of persecution (delusi yang
dikejar-kejar).

Sering merasa mual dan muntah-muntah, badan terasa sangat lelah, banyak berkeringat,
gemetar, dan seringkali menderita diare.

Muncul ketegangan dan ketakutan yang kronis yang menyebabkan tekanan jantung menjadi
sangat cepat atau tekanan darah tinggi.

Nevid Jeffrey S, Spencer A, & Greene Beverly (2005) mengklasifikasikan gejala-gejala


kecemasan dalam tiga jenis gejala, diantaranya yaitu :

Gejala fisik dari kecemasan yaitu : kegelisahan, anggota tubuh bergetar, banyak berkeringat,
sulit bernafas, jantung berdetak kencang, merasa lemas, panas dingin, mudah marah atau
tersinggung.

Gejala behavioral dari kecemasan yaitu : berperilaku menghindar, terguncang, melekat dan
dependen

Gejala kognitif dari kecemasan yaitu : khawatir tentang sesuatu, perasaan terganggu akan
ketakutan terhadap sesuatu yang terjadi dimasa depan, keyakinan bahwa sesuatu yang
menakutkan akan segera terjadi, ketakutan akan ketidakmampuan untuk mengatasi masalah,
pikiran terasa bercampur aduk atau kebingungan, sulit berkonsentrasi.

2.2.3 Faktor Penyebab Ansietas


Kecemasan sering kali berkembang selama jangka waktu dan sebagian besar tergantunga
pada seluruh pengalaman hidup seseorang. Peristiwa-peristiwa atau situasi khusus dapat
mempercepat munculnya serangan kecemasan. Menurut Savitri Ramaiah (2003) ada beberapa
faktor yang menunujukkan reaksi kecemasan, diantaranya yaitu :

Lingkungan

Lingkungan atau sekitar tempat tinggal mempengaruhi cara berfikir individu tentang diri
sendiri maupun orang lain. Hal ini disebabkan karena adanya pengalaman yang tidak
menyenangkan pada individu dengan keluarga, sahabat, ataupun dengan rekan kerja.
Sehingga individu tersebut merasa tidak aman terhadap lingkungannya.

Emosi yang ditekan

11
Kecemasan bisa terjadi jika individu tidak mampu menemukan jalan keluar untuk
perasaannya sendiri dalam hubungan personal ini, terutama jika dirinya menekan rasa marah
atau frustasi dalam jangka waktu yang sangat lama.

Sebab-sebab fisik

Pikiran dan tubuh senantiasa saling berinteraksi dan dapat menyebabkan timbulnya
kecemasan. Hal ini terlihat dalam kondisi seperti misalnya kehamilan, semasa remaja dan
sewaktu pulih dari suatu penyakit. Selama ditimpa kondisi-kondisi ini, perubahan-perubahan
perasaan lazim muncul, dan ini dapat menyebabkan timbulnya kecemasan.

Zakiah Daradjat (Kholil Lur Rochman, 2010:167) mengemukakan beberapa penyebab


dari kecemasan yaitu :

Rasa cemas yang timbul akibat melihat adanya bahaya yang mengancam dirinya. Kecemasan
ini lebih dekat dengan rasa takut, karena sumbernya terlihat jelas didalam pikiran.

Cemas karena merasa berdosa atau bersalah, karena melakukan hal-hal yang berlawanan
dengan keyakinan atau hati nurani. Kecemasan ini sering pula menyertai gejala-gejala
gangguan mental, yang kadang-kadang terlihat dalam bentuk yang umum.

Kecemasan yang berupa penyakit dan terlihat dalam beberapa bentuk. Kecemasan ini
disebabkan oleh hal yang tidak jelas dan tidak berhubungan

dengan apapun yang terkadang disertai dengan perasaan takut yang mempengaruhi
keseluruhan kepribadian penderitanya.

Kecemasan hadir karena adanya suatu emosi yang berlebihan. Selain itu, keduanya mampu
hadir karena lingkungan yang menyertainya, baik lingkungan keluarga, sekolah, maupun
penyebabnya.

Musfir Az-Zahrani (2005) menyebutkan faktor yang memepengaruhi adanya kecemasan


yaitu:

Lingkungan keluarga

Keadaan rumah dengan kondisi yang penuh dengan pertengkaran atau penuh dengan
kesalahpahaman serta adanya ketidakpedulian orangtua terhadap anak-anaknya, dapat
menyebabkan ketidaknyamanan serta kecemasan pada anak saat berada didalam rumah

Lingkungan Sosial

Lingkungan sosial adalah salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kecemasan individu.
Jika individu tersebut berada pada lingkungan yang tidak baik, dan individu tersebut
menimbulkan suatu perilaku yang buruk, maka akan menimbulkan adanya berbagai penilaian
buruk dimata masyarakat. Sehingga dapat menyebabkan munculnya kecemasan.

Kecemasan timbul karena adanya ancaman atau bahaya yang tidak nyata dan sewaktu-waktu
terjadi pada diri individu serta adanya penolakan dari masyarakat menyebabkan kecemasan

12
berada di lingkungan yang baru dihadapi (Patotisuro Lumban Gaol, 2004). Sedangkan Page
(Elina Raharisti Rufaidah, 2009) menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi
kecemasan adalah :

Faktor fisik

Kelemahan fisik dapat melemahkan kondisi mental individu sehingga memudahkan


timbulnya kecemasan.

Trauma atau konflik

Munculnya gejala kecemasan sangat bergantung pada kondisi individu, dalam arti bahwa
pengalaman-pengalaman emosional atau konflik mental yang terjadi pada individu akan
memudahkan timbulnya gejala-gejala kecemasan.

Lingkungan awal yang tidak baik.

Lingkungan adalah faktor-faktor utama yang dapat mempengaruhi kecemasan individu, jika
faktor tersebut kurang baik maka akan menghalangi pembentukan kepribadian sehingga
muncul gejala-gejala kecemasan.

Selain hal-hal tersebut, terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan resiko
kecemasan, meliputi:

Menjadi perempuan.

Wanita lebih mungkin dibandingkan pria untuk didiagnosis dengan gangguan kecemasan.

Trauma ketika anak anak.

Anak-anak yang mengalami pelecehan atau trauma atau menyaksikan peristiwa traumatis
beresiko lebih tinggi mengalami gangguan kecemasan di beberapa titik dalam hidup.

Stres karena sakit.

Memiliki kondisi kesehatan kronis atau penyakit serius seperti kanker dapat menyebabkan
kekhawatiran yang signifikan tentang masa depan, perawatan Anda dan mungkin keuangan
Anda.

Penumpukan stres.

Sebuah peristiwa besar atau penumpukan yang lebih kecil dalam situasi kehidupan yang
penuh stres dapat memicu kecemasan yang berlebihan misalnya, kekhawatiran yang sedang
berlangsung tentang keuangan atau kematian anggota keluarga.

Kepribadian.

Orang dengan beberapa tipe kepribadian lebih rentan terhadap gangguan kecemasan dari
orang lain. Selain itu, beberapa gangguan kepribadian, seperti gangguan kepribadian
borderline, mungkin berhubungan dengan gangguan kecemasan.

13
Memiliki hubungan darah dengan penderita gangguan kecemasan.

Gangguan kecemasan dapat diwariskan dalam keluarga.

Penyalahgunaan obat.

Penyalahgunaan narkotik atau alkohol dapat menyebabkan atau memperburuk kecemasan.

Jenis-jenis Ansietas

Kecemasan merupakan suatu perubahan suasana hati, perubahan didalam dirinya


sendiri yang timbul dari dalam tanpa adanya rangsangan dari luar. Mustamir Pedak (2009:30)
membagi kecemasan menjadi tiga jenis kecemasan yaitu :

Kecemasan Rasional

Merupakan suatu ketakutan akibat adanya objek yang memang mengancam, misalnya ketika
menunggu hasil ujian.Ketakutan ini dianggap sebagai suatu unsur pokok normal dari
mekanisme pertahanan dasariah kita.

Kecemasan Irrasional

Yang berarti bahwa mereka mengalami emosi ini dibawah keadaan-keadaan spesifik yang
biasanya tidak dipandang mengancam.

Kecemasan Fundamental

Kecemasan fundamental merupakan suatu pertanyaan tentang siapa dirinya, untuk apa
hidupnya, dan akan kemanakah kelak hidupnya berlanjut. Kecemasan ini disebut sebagai
kecemasan eksistensial yang mempunyai peran fundamental bagi kehidupan manusia.

Sedangkan Kartono Kartini (2006: 45) membagi kecemasan menjadi dua jenis kecemasan,
yaitu :

Kecemasan Ringan

Kecemasan ringan dibagi menjadi dua kategori yaitu ringan sebentar dan ringan
lama.Kecemasan ini sangat bermanfaat bagi perkembangan kepribadian seseorang,
karenakecemasan ini dapat menjadi suatu tantangan bagi seorang individu untuk
mengatasinya.Kecemasan ringan yang muncul sebentar adalah suatu kecemasan yang wajar
terjadi padaindividu akibat situasi-situasi yang mengancam dan individu tersebut tidak dapat
mengatasinya, sehingga timbul kecemasan. Kecemasan ini akan bermanfaat bagi individu
untuk lebihberhati-hati dalam menghadapi situasi-situasi yang sama di kemudian
hari.Kecemasan ringan yang lama adalah kecemasan yang dapat diatasi tetapi karena individu
tersebut tidak segera mengatasi penyebab munculnya kecemasan, maka kecemasan
tersebutakan mengendap lama dalam diri individu.

14
Kecemasan Berat

Kecemasan berat adalah kecemasan yang terlalu berat dan berakar secara mendalam dalam
diriseseorang. Apabila seseorang mengalami kecemasan semacam ini maka biasanya ia
tidakdapat mengatasinya. Kecemasan ini mempunyai akibat menghambat atau
merugikanperkembangan kepribadian seseorang. Kecemasan ini dibagi menjadi dua yaitu
kecemasanberat yang sebentar dan lama.Kecemasan yang berat tetapi munculnya sebentar
dapat menimbulkan traumatis padaindividu jika menghadapi situasi yang sama dengan situasi
penyebab munculnya kecemasan.Sedangakan kecemasan yang berat tetapi munculnya lama
akan merusak kepribadian individu. Halini akan berlangsung terus menerus bertahun-tahun
dan dapat meruak proses kognisiindividu. Kecemasan yang berat dan lama akan
menimbulkan berbagai macam penyakitseperti darah tinggi, tachycardia (percepatan darah),
excited (heboh, gempar).

2.2.5 Jenis-Jenis Gangguan Ansietas (Anxiety Disorder)


Gangguan kecemasan merupakan suatu gangguan yang memiliki ciri kecemasan atau
ketakutan yang tidak realistik, juga irrasional, dan tidak dapat secara intensif ditampilkan
dalam cara-cara yang jelas. Fitri Fauziah & Julianty Widuri (2007) membagi gangguan
kecemasan dalam beberapa jenis, yaitu :

Fobia Spesifik

Yaitu suatu ketakutan yang tidak diinginkan karena kehadiran atau antisipasi terhadap obyek
atau situasi yang spesifik.

Fobia Sosial

Merupakan suatu ketakutan yang tidak rasional dan menetap, biasanya berhubungan dengan
kehadiran orang lain. Individu menghindari situasi dimana dirinya dievaluasi atau dikritik,
yang membuatnya merasa terhina atau di permalukan, dan menunjukkan tanda-tanda
kecemasan atau menampilkan perilaku lain yang memalukan.

Gangguan Panik

Gangguan panik memiliki karakteristik terjadinya serangan panik yang spontan dan tidak
terduga. Beberapa simtom yang dapat muncul pada gangguan panik antara lain ; sulit
bernafas, jantung berdetak kencang, mual, rasa sakit didada, berkeringat dingin, dan gemetar.
Hal lain yang penting dalam diagnosa gangguan panik adalah bahwa individu merasa setiap
serangan panik merupakan pertanda datangnya kematian atau kecacatan.

Gangguan Cemas Menyeluruh (Generalized Anxiety Disorder)

Generalized Anxiety Disorder (GAD) adalah kekhawatiran yang berlebihan dan bersifat
pervasif, disertai dengan berbagai simtom somatik, yang menyebabkan gangguan signifikan
dalam kehidupan sosial atau pekerjaan pada penderita, atau menimbulkan stres yang nyata.

15
Sedangkan Sutardjo Wiramihardja (2005) membagi gangguan kecemasan yang terdiri
dari :

Panic Disorder

Panic Disorder ditandai dengan munculnya satu atau dua serangan panik yang tidak
diharapkan, yang tidak dipicu oleh hal-hal yang bagi orang lain bukan merupakan masalah
luar biasa. Ada beberapa simtom yang menandakan kondisi panik tersebut, yaitu nafas yang
pendek, palpilasi (mulut yang kering) atau justru kerongkongan tidak bisa menelan, ketakutan
akan mati, atau bahkan takut gila.

Agrophobia

Yaitu suatu ketakutan berada dalam suatu tempat atau situasi dimana ia merasa bahwa ia tidak
dapat atau sukar menjadi baik secara fisik maupun psikologis untuk melepaskan diri. Orang-
orang yang memiliki agrophobia takut pada kerumunan dan tempat-tempat ramai.

2.2.6 Dampak Kecemasan

Rasa takut dan cemas dapat menetap bahkan meningkat meskipun situasi yang betul-betul
mengancam tidak ada, dan ketika emosi-emosi ini tumbuh berlebihan dibandingkan dengan
bahaya yang sesungguhnya, emosi ini menjadi tidak adaptif. Kecemasan yang berlebihan
dapat mempunyai dampak yang merugikan pada pikiran serta tubuh bahkan dapat
menimbulkan penyakit-penyakit fisik (Cutler, 2004).

Yustinus Semiun (2006) membagi beberapa dampak dari kecemasan kedalam beberapa
simtom, antara lain :

Simtom suasana hati

Individu yang mengalami kecemasan memiliki perasaan akan adanya hukuman dan bencana
yang mengancam dari suatu sumber tertentu yang tidak diketahui. Orang yang mengalami
kecemasan tidak bisa tidur, dan dengan demikian dapat menyebabkan sifat mudah marah.

Simtom kognitif

Kecemasan dapat menyebabkan kekhawatiran dan keprihatinan pada individu mengenai hal-
hal yang tidak menyenangkan yang mungkin terjadi. Individu tersebut tidak memperhatikan
masalah-masalah real yang ada, sehingga individu sering tidak bekerja atau belajar secara
efektif, dan akhirnya dia akan menjadi lebih merasa cemas.

Simtom motor

Orang-orang yang mengalami kecemasan sering merasa tidak tenang, gugup, kegiatan motor
menjadi tanpa arti dan tujuan, misalnya jari-jari kaki mengetuk-ngetuk, dan sangat kaget
terhadap suara yang terjadi secara tiba-tiba. Simtom motor merupakan gambaran rangsangan

16
kognitif yang tinggi pada individu dan merupakan usaha untuk melindungi dirinya dari apa
saja yang dirasanya mengancam.

Kecemasan akan dirasakan oleh semua orang, terutama jika ada tekanan perasaan ataupun
tekanan jiwa.Menurut Savitri Ramaiah (2005) kecemasan biasanya dapat menyebabkan dua
akibat, yaitu :

Kepanikan yang amat sangat dan karena itu gagal berfungsi secara normal atau menyesuaikan
diri pada situasi.

Gagal mengetahui terlebih dahulu bahayanya dan mengambil tindakan pencegahan yang
mencukupi.

Dari beberapa pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa kecemasan adalah rasa takut atau
khawatir pada situasi yang sangat mengancam karena adanya ketidakpastian dimasa
mendatang serta ketakutan bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi. Kecemasan tersebut
ditandai dengan adanya beberapa gejala yang muncul seperti kegelisahan, ketakutan terhadap
sesuatu yang terjadi dimasa depan, merasa tidak tenteram, sulit untuk berkonsentrasi, dan
merasa tidak mampu untuk mengatasi masalah. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor
diantaranya adalah, kecemasan timbul karena individu melihat adanya bahaya yang
mengancam dirinya, kecemasan juga terjadi karena individu merasa berdosa atau bersalah
karena melakukan hal-hal yang berlawanan dengan keyakinan atau hati nurani.

Dari beberapa gejala, faktor, dan definisi diatas, kecemasan ini termasuk dalam jenis
kecemasan rasional, karena kecemasan rasional merupakan suatu ketakutan akibat adanya
objek yang memang mengancam. Adanya berbagai macam kecemasan yang dialami individu
dapat menyebabkan adanya gangguan-gangguan kecemasan seperti gangguan kecemasan
spesifik yaitu suatu ketakutan yang tidak diinginkan karena kehadiran atau antisipasi terhadap
objek atau situasi yang spesifik. Sehingga dapat menyebabkan adanya dampak dari
kecemasan yang berupa simtom kognitif, yaitu kecemasan dapat menyebabkan kekhawatiran
dan keprihatinan pada individu mengenai hal-hal yang tidak menyenangkan yang mungkin
terjadi. Individu tersebut tidak memperhatikan masalah-masalah real yang ada, sehingga
individu sering tidak bekerja atau belajar secara efektif, dan akhirnya dia akan menjadi lebih
merasa cemas.

2.2.7 Terapi dan Penanganan Gangguan Ansietas

Dua pengobatan utama untuk gangguan kecemasan adalah obat-obat dan konseling psikologis
(psikoterapi). Namun selain dua pengobatan utama tersebut, adapula jenis penanganan
dengan menggunakan teknik relaksasi hingga hyphoterapy. Penderita dapat mendapatkan
manfaat paling banyak dari kombinasi dari keduanya. Mungkin butuh beberapa trial and error
(coba coba) untuk menemukan perawatan apa yang cocok bagi penderita.

17
Obat

Beberapa jenis obat yang digunakan untuk mengobati gangguan kecemasan. Ini termasuk:

Antidepresan.

Obat-obat ini mempengaruhi aktivitas kimia otak (neurotransmitter) diperkirakan memainkan


peran dalam gangguan kecemasan. Contoh antidepresan digunakan untuk mengobati
gangguan kecemasan termasuk fluoxetine (Prozac), paroxetine (Paxil), escitalopram
(Lexapro), sertraline (Zoloft), venlafaxine (Effexor) dan imipramine (Tofranil).

Buspirone.

Ini obat anti-kecemasan dapat digunakan secara berkelanjutan. Seperti kebanyakan dengan
antidepresan , biasanya memakan waktu sampai beberapa minggu untuk menjadi sepenuhnya
efektif. Sebuah efek samping yang umum dari buspirone adalah perasaan kepala ringan tak
lama setelah meminumnya. Efek samping yang kurang umum termasuk sakit kepala, mual,
gugup dan insomnia.

Benzodiazepin.

Dalam keadaan terbatas dokter mungkin meresepkan salah satu obat penenang untuk
menghilangkan gejala kecemasan. Contohnya termasuk clonazepam (Klonopin), lorazepam
(Ativan), diazepam (Valium), chlordiazepoxide (Librium) dan alprazolam (Xanax).
Benzodiazepin biasanya digunakan hanya untuk menghilangkan kecemasan akut secara
jangka pendek. Karena mereka dapat membentuk kecanduan (adiktif), obat ini bukan pilihan
yang baik jika Anda punya masalah dengan penyalahgunaan alkohol atau obat (membuat
Anda lebih rentan terhadap kecanduan). Mereka dapat menyebabkan efek samping yang
mencakup kantuk, koordinasi berkurang, dan masalah dengan keseimbangan dan memori.

Psikoterapi

Juga dikenal sebagai terapi bicara dan konseling psikologis, psikoterapi menggarap
tekanan hidup dan kekhawatiran yang mendasari dan membuat perubahan perilaku.
Psikoterapil ini dapat menjadi pengobatan yang efektif untuk mengatasi kegelisahan.

Terapi perilaku kognitif (Cognitive behavioral therapy/CBT) adalah suatu pendekatan


psikoterapi dengan bicara. CBT bertujuan untuk memecahkan masalah tentang disfungsional
emosi, perilaku dan kognisi melalui prosedur yang berorientasi, dan sistematis di masa
sekarang. membantu pasien mengenali pikiran yang berkontribusi pada kecemasan. Cara ini
biasanya membutuhkan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.

Beberapa dokter dan peneliti lebih berorientasi kognitif (misalnya restrukturisasi


kognitif), sementara yang lain lebih berorientasi perilaku (dalam terapi pemaparan in
vivo). Intervensi lain mengkombinasikan keduanya (terapi eksposur misalnya imaginal). CBT
ini terutama dikembangkan melalui integrasi dari terapi perilaku dengan terapi
kognitif. Sementara berakar pada teori yang agak berbeda, kedua tradisi menemukan
landasan bersama dalam memfokuskan pada "di sini dan sekarang", dan mengurangi gejala

18
pada program pengobatan Banyak CBT untuk gangguan tertentu telah dievaluasi untuk
keberhasilan;. Tren kesehatan dari pengobatan berbasis bukti, di mana perawatan spesifik
untuk diagnosis berdasarkan gejala disarankan, telah disukai CBT atas pendekatan lain
seperti perawatan psikodinamik. Di Inggris, Institut Nasional untuk Kesehatan danClinical
Excellence (NICE) merekomendasikan CBT sebagai pengobatan pilihan bagi sejumlah
masalah kesehatan mental, termasuk gangguan stres pasca trauma, OCD, bulimia nervosa,
dan depresi klinis.

3. Emotional Freedom Technique (EFT)

Sebuah terapi akupuntur emosional yang memanfaatkan energy dalam tubuh dengan
cara menstimulasi pada titik-titik meridian tubuh untuk memperbaiki aliran energy
tubuh.Emotional Freedom Technique (EFT) adalah sebuah terapi psikologi praktis yang dapat
menangani banyak penyakit, baik itu penyakit fisik dan penyakit psikologis (masalah pikiran
dan perasaan). Dapat dikatakan EFT adalah versi psikologi dari terapi akupunktur yang
menggunakan jarum.EFT tidak menggunakan jarum, melainkan dengan menyelaraskan
sistem energi tubuh pada titik-titik meridian di tubuh Anda, dengan cara mengetuk (tapping)
dengan ujung jari.Cara ini merupakan cara yang efektif dan cepat untuk mengatasi tidak
hanya kecemasan, tapi juga masalah emosional lainnya.

Gary Craig, sang penemu EFT tidak mengklaim bahwa EFT itu sempurna. Tetapi
pada banyak kasus, EFT bekerja sangat cepat dan dengan hasil spektakuler. EFT sering kali
berhasil menyembuhkan dimana teknik lainnya tidak sanggup.

Berbeda dengan teknik akupuntur pada umumnya yang menggunakan jarum, EFT
menggunakan tapping (ketukan ringan) dengan jari di 18 titik meredian tubuh untuk
mengatasi hampir semua hambatan emosi dan fisik.
Beberapa masalah yang bisa diselesaikan dengan EFT antara lain: Kecemasan,
Kemarahan, Compulsive Behavior, Panic disorder, Kecanduan (rokok atau obat-obatan),
Stress dan Depresi, Trauma, Ketakutan dan Phobia (ketinggian, binatang, atau benda
tertentu), Kecemasan di tempat umum, Ketakutan berbicara di depan umum, Sakit Kepala /
Migren, Menghilangkan keyakinan negatif, Perasaan malu / bersalah, Insomnia, Kekecewaan
atau sakit hati, Peak Performance, Masalah seksual, Masalah pada anak atau wanita, Kanker,
Allergi dan masalah lainnya.

19
BAB III
ANALISA KASUS

3.1 Analisa Kasus

3.1.1 Gambaran Kasus

Profil singkat subyek :

Nama :F

Jenis Kelamin : Laki-laki

20
Usia : 25 Tahun

F adalah laki-laki berusia 25 tahun dan memiliki ketakutan berlebihan terhadap semua
kupu-kupu, sekali pun menurut orang lain kupu-kupu adalah hewan yang cantik dan lucu.
Ketika disekitar ia terdapat kupu, maka secara perlahan-lahan ia akan merasa cemas, gelisah,
emosi dan bahkan hingga kesulitan untuk bernafas. Semakin kupu-kupu tersebut mendekat, ia
akan jadi panik kemudian berlari menjauhi kupu-kupu atau meninggalkan tempat tersebut.
Dan ketika kupu-kupu tersebut mendekatinya diam-diam dan hinggap ditubuhnya, ia akan
langsung berteriak dan berlari sejauh mungkin atau bahkan hingga membunuh kupu-kupu
tersebut. Kemudian jantungnya akan berdebar kencang, gemetar dan berkeringat dingin. Oleh
karena itu ia berusaha untuk sejauh mungkin dari kupu-kupu, bahkan ia mengatakan jika
tidak akan pernah mau bersentuhan dengan kupu-kupu sekalipun itu dibayar mahal.

3.1.2 Jenis Gangguan Kecemasan


Jenis gangguan kecemasan yang diderita oleh F adalah fobia spesifik karena F takut
terhadap suatu objek tertentu. Fobia spesifik merupakan salah satu gangguan kecemasan
(anxiety disorder). Orang yang mengalami fobia akan cenderung mengalami ketakutan dan
penolakan terhadap objek atau situasi yang tidak mengandung bahaya yang sesungguhnya
(Psikologi Abnormal, 183). Kriteria fobia adalah:
a) Mengalami ketakutan yang berlebihan, tidak beralasan, dan menetap yang dipicu oleh
objek atau situasi.
b) Keterpaparan dengan pemicu menyebabkan kecemasan intens
c) Orang yang mengalami fobia menyadari bahwa ketakutannya tidak realistis
d) Orang tersebut menghindari suatu objek atau situasi tertentu, atau mungkin dapat
dihadapi namun dengan kecemasan yang intens

3.1.3 Etiologi
Ketakutan terhadap kupu-kupu berlangsung sejak kecil, dirinya sendiri tidak tahu
kapan pastinya ia takut terhadap kupu-kupu. Yang pasti dahulu almarhum ayah F juga
mengalami fobia dan selalu berusaha utuk menghindari kupu-kupu. Suatu hari F juga pernah
melihat dengan jelas struktur tubuh dan bulu-bulu yang terdapat di tubuh dan sayap kupu-
kupu di internet dan hal tersebut membuat F semakin takut, jijik sekaligus benci terhadap
kupu-kupu.
Etiologi yang dijelaskan oleh F sesuai dengan etiologi fobia berdasarkan
teori modeling dan behavioral. Menurut teori modeling, bahwa ketakutan juga dapat
dipelajari dengan meniru reaksi orang lain. Dalam membentuk perilakunya, seorang anak

21
akan lebih cenderung untuk meniru apa yang dilakukan oleh orangtuanya. Termasuk F, yang
tanpa disadarinya saat kecil sebenarnya ia meniru bagaimana ayahnya merespon akan
keberadaan kupu-kupu.
Sedangkan menurut teori behavioral yaitu melalui classical conditioning yang
mengatakan bahwa seorang dapat belajar untuk takut pada suatu stimulus netral (CS) jika
stimulus tersebut dipasangkan dengan kejadian yang secara instrinsik menyakitkan atau
menakutkan (UCS). Dan CS disini adalah kupu-kupu, sedangkan UCS-nya atau kondisi yang
menakutkann adalah struktur tubuh dan bulu-bulu sayap kupu-kupu sehinnga membuat F jadi
berpikiran negatif terhadap kupu-kupu.

3.1.4 Gejala Yang Tampak


Saya mengkategorikan kasus F sebagai kasus fobia spesifik, karena ketakutan F yang
berlebihan hanya muncul saat bertemu obyek tertentu, dalam hal ini adalah kupu-kupu.
Adanya objek yang menjadi stimulus fobia tersebut membuat F ketakutan, sehingga seketika
itu juga memicu munculnya beberapa gejala, antara lain :
- Panik
- Emosi
- Merasa cemas
- Merasa sulit bernapas
- Jantung berdebar
- Berkeringat
- Gemetar
- Sangat ingin menghindar dari objek tersebut

3.1.5 Penanganan
Ketakutan F terhadap kupu-kupu hingga saat ini relatif menetap karena persepsinya
yang negatif mengenai kupu-kupu. Karena itu, ada beberapa intervensi yang mungkin dapat
membantu subyek mengurangi fobia yang dialaminya.
1. Pendekatan behavioral
Berdasarkan pendekatan ini, teknik modelling dan operant conditioning dirasa yang
cukup sesuai dengan kondisi subyek. Pada teknik modeling, subyek dapat
diperlihatkan cara orang lain menyikapi kupu-kupu yang mendekat padanya,
bagaimana sebaiknya memposisikan diri, dan bagaimana sebenarnya kupu-kupu
tersebut adalah hewan yang cantik, lucu dan jinak. Sedangkan pada operant
conditioning, subyek dapat didorong untuk dapat mendekati objek nyata yang
ditakutinya, dan diberi hadiah meskipun pendekatannya pada objek tersebut sangat
minim.

22
2. Terapi perilaku kognitif
Dengan pendekatan ini, orang-orang di sekitar subjek dapat membantu
subyek untuk mengabaikan rasa takutnya dengan cara menghapuskan keyakinan
irasional subyek yang berlebihan tentang kupu-kupu.

BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Kecemasan merupakan suatu sensasi aphrehensif atau perasaan takut yang menyeluruh,
dan hal ini merupakan sesuatu yang wajar terjadi pada setiap individu, akan tetapi bila hal ini
terlalu berlebihan maka dapat menjadi suatu yang abnormal. Anxiety Disorder berupa
gangguan fobia, gangguan panik, gangguan obesif-komplusif, gangguananxietas menyeluruh,
dan gangguan stress pasca trauma.
Kecemasan muncul karena individu memikirkan atau membayangkan suatu tindakan atau
peristiwa yang dilakukan secara berlebihan, sehingga pada saat melakukan kegiatan tersebut
individu cenderung merasa tertekan akan tindakan yang pernah dibayangkan secara
berlebihan. Gangguan kecemasan ini merupakan salah satu bentuk dari penyakit mental.
Penyebabnya bisa apa saja, seperti ketidakseimbangan kimia dalam tubuh, perubahan struktur
otak, stress lingkungan, trauma dan phobia, dan lain-lain.

4.2 Saran

23
Sebagian besar kasus pada gangguan kecemasan dapat diatasi dengan salah satu atau
kombinasi dari terapi berikut:
- Obat-obatan: obat digunakan untuk mengurangi gejala gangguan kecemasan, seperti
obat anti-depresi dan pengurang kecemasan.
- Psikoterapi: sejenis konseling yang membahas respons emosional terhadap kelainan
jiwa. Hal ini merupakan proses dimana pakar kesehatan jiwa terlatih membantu
penderita dengan strategi wawancara untuk memahami dan menangani gangguan
mereka.
- Terapi perilaku kognitif: penderita gangguan kecemasan sering berpartisipasi dalam
jenis psikoterapi ini, dimana mereka belajar untuk mengenali dan mengubah pola pikir
dan perilaku yang menimbulkan perasaan cemas.
- Terapi relaksasi: usahakan untuk melakukan terapi relaksasi agar otak dan tubuh kita
tidak terlalu tegang.

DAFTAR PUSTAKA

Ardi Ardiani, Tristiadi. (2011). Psikologi Abnormal.Bandung: Penerbit Lubuk Agung

Davidson, G.C., Neale J.M., Kring A.M. (2006). Psikologi Abnormal (edisi ke-9). Jakarta :
PT. Raja Grafindo Persada

HIMPSI. (1993). Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa III.

Townsend, Mary C. (2004). Pedoman Obat dalam Keperawatan Psikiatri Edisi 2. Jakarta :
Penerbit Buku Kedokteran EGC.

http://utamitamii.blogspot.com//Anxiety Disorded(Gangguan Kecemasan).

http://irwan-wicaksono.blogspot.co.id/2012/05/penanganan-dan-terapi-untuk-
gangguan.html#.WJwdcG997IU

http://tirtojiwo.org/wp-content/uploads/2012/06/kuliah-anxiety.pdf

24