Anda di halaman 1dari 5

Akrolein

Akrolein merupakan aldehida tak jenuh yang sangat reaktif, saat ini mulai memiliki
potensi serius sebagai polutan lingkungan yang mengancam kesehatan. Manusia bisa terkena
akrolein melalui oral (makanan dan air), pernapasan (asap rokok, knalpot mobil, dan penggunaan
biosida), serta bisa juga melalui dermal. Akrolein mulai berperan dalam terjadinya beberapa
penyakit seperti penyakit jantung, alzheimer, hepatotoksik dan neurotoksik (Moghe et al., 2015).

Struktur Kimia Akrolein


Merupakan senyawa aldehid dengan rumus struktur H2C=CHCHO, rumus molekul
C3H4O. Zat cair tidak berwarna atau agak kekuningan dan mudah terbakar. Akrolein merupakan
senyawa organik yang tidak jenuh karena memiliki satu ikatan rangkap dua pada atom karbon
kedua. Akrolein digunakan sebagai bahan pembuat kolodial logam, bahan pembuat plastik dan
parfum. Dalam dunia militer akrolein digunakan sebagai gas beracun atau gas air mata karena
sifatnya yang iritan pada mata. Selain itu, akrolein juga dipakai untuk bahan herbisida (Gomes &
Meek, 2002).

Gambar rumus bangun akrolein

Akrolein tersebar di lingkungan melalui proses fermentasi dan pemasakan, pembakaran


hutan, pembakaran senyawa-senyawa organik yang tidak sempurna, dan proses oksidasi
fotokimia hidrokarbon di atmosfer. Akrolein juga dikenal sebagai akrilaldehida, akrilik aldehid,
allyl aldehid, ethylene aldehid, 2-propenal, dan prop-2-en-l-al. Nama dagang akrolein meliputi
aqualin, aqualine, biocide, magnacide, magnaide B, dan slimcide. Akrolein merupakan senyawa
aldehid tak jenuh yang paling sederhana dan banyak terdapat dalam masakan sebagai produk dari
reaksi dehidrasi dari karbohidrat, minyak nabati, lemak dan asam amino dengan pemanasan.
Akrolein akan mengalami oksidasi pada suhu diatas 120C membentuk asam akrilat atau
membentuk senyawa antara berupa radikal akrilat. Kedua senyawa tersebut, dengan adanya
sumber nitrogen yang berasal dari sumber makanan yang digoreng dan kondisi yang sesuai,
dapat membentuk akrilamida yang bersifat karsinogenik dan neurotoksik (Montagna, De D, &
Venturinio, 2011).

Sumber Akrolein
Akrolein adalah polutan makanan dan lingkungan umum dan juga dihasilkan oleh
metabolisme sel. Akrolein adalah aldehida tidak tersaturasi yang dilepaskan selama pembakaran
bahan bakar minyak bumi, biodiesel, plastik, kertas dan kayu, dan merupakan komponen utama
dari asap tembakau. Bahan paparan tersebut terpapar langsung pada kulit dan toksisitas
pernapasan. Pemadam kebakaran, pekerja industri, orang yang tinggal pada kota-kota padat yang
tercemar, dan perokok. Zat ini diperoleh dengan mengambil cairan dari glyceril atau dengan
mengeringkannya. Zat ini sedikit banyaknya mengandung bahan alkohol. Dengan kata lain,
acrolein adalah alkohol yang cairannya telah diambil. Cairan ini sangat mengganggu kesehatan.
Akrolein telah diidentifikasi sebagai sumber bahaya kesehatan yang umum ditemukan pada
kebanyakan rumah dan sekolah di Amerika Serikat. Akrolein dapat dihasilkan dari lemak nabati
dan hewani yang dimasak, oleh karena itu memasak, menggoreng lemak makanan merupakan
sumber penting dari akrolein. Akrolein juga terdapat pada bir, anggur, rum, dan roti (Moghe et
al, 2015).
Sistem gastrointestinal yang paling mungkin terpapar oleh akrolein karena tertelan.
Akrolein juga dapat dihasilkan secara endogen selama metabolisme sel oleh (1) degradasi treonin
oleh neutrofil yang diturunkan dari mieloperoksidase; (2) amina oksidase melalui katabolisme
poliamina seperti spermine dan spermidine; (3) metabolisme obat kanker seperti siklofosfamid;
dan (4) peroksidasi lipid (LPO) dari asam lemak tak jenuh ganda. Kadar akrolein dibentuk oleh
metabolisme sulit untuk diukur, dan dapat mencapai tingkat yang sangat tinggi pada jaringan
kecil sel tertentu (Moghe et al, 2015).

Toksodinamik Akrolein
Pekerja yang terpapar uap akrolein dengan konsentrasi yang tinggi di tempat kerja selama
kurang dari satu hari dapat berdampak pada sistem pernapasan, seperti infeksi paru-paru dan
infeksi saluran napas. Gejala yang timbul diantaranya demam tinggi, dispneu, batuk, dahak
berbusa, dan sianosis. Seseorang yang terpapar uap akrolein selama 35 menit akan mengalami
iritasi hidung pada 0,26 ppm, iritasi tenggorokan pada 0,43 ppm, dan penurunan tingkat
pernapsan pada 0,60 ppm. Delapan belas bulan setelah paparan tersebut, seseorang dapat terkena
efek sistemik pada organ lain termasuk jantung dan hati (ATSDR, 2016).

Toksikokinetik Akrolein
1. Absorbsi
Inhalasi
Konsentrasi penyerapan akrolein antara 172-262 ppm dalam periode waktu
(1-3 menit) dapat diserap oleh saluran pernapasan secara keseluruhan di
tingkat 6-20 pernapasan permenit dengan rata-rata 80-85% dari dosis inhalasi.
Retensi independen dari tingkat pernapasan adalah sekitar 20% dari dosis
inhalasi yang telah mencapai saluran pernapasan.
Oral
Jika diberikan dosis sebanyak 2,5mg/kgBB akan diserap secara ekstensif.
Sebanyak 12-15% dari dosis awal ditemukan dalam tinja. Pada pemberian
dosis tinggi, akan ditemukan 28-31% dosis awal dalam tinja.
Dermal
Jika diberikan secara dermal, kadar akrolein yang masuk ke dalam tubuh akan
lebih rendah jika dibandingkan pemberian dalam bentuk mineral dalam air.
(ATSDR, 2006)
2. Distribusi
Akrolein terkonjugasi metabolit asam S-carboxyethylmercapturic yang
terindentifikasi terdapat dalam urin setelah pemberian oral dosis tunggal 10
mg/kgBB. Hal ini menunjukan bahwa akrolein didistribusikan ke hati dan ginjal,
dimana tempat konjugasi kemungkinan besar terjadi (ATSDR, 2006).
3. Metabolisme
Akrolein merupakan zat yang sangat larut dalam air dan bisa dengan cepat masuk
ke jaringan tubuh. Akrolein dengan cepat membentuk konjugat dengan glutathione
(GSH), sistein, N-acetylcysteine (NAC), dan / atau thioredoxin. Akrolein-GSH
konjugasi dapat terjadi tanpa katalis atau mungkin dibantu oleh glutathione-S-
transferase, akrolein-GSH konjugat ini dapat dimetabolisme oleh pemecahan
enzimatik dari asam dan glisin residu c-glutamat. Metabolisme lebih lanjut melalui
hasil dari aldehyde dehydrogenase pada 2-carboxyethylmercapturic acid (CEMA),
atau dikatalisasi oleh hasil reduktase aldo-keto pada S- (3-hidroksipropil)-N-
acetylcysteine (3-HPMA). Glycidaldehyde berisiko terhadap kesehatan manusia
karena memiliki sifat karsinogenik pada tikus yang telah dipaparkan melalui kulit.
Akrolein dapat juga dikonversi menjadi asam malonat dan aldehida dehidrogenase.
Akhirnya, akrolein membentuk ikatan ireversibel dengan nukleofil selular, reaksi
metabolik ini yang sangat mungkin menjadi dasar beberapa efek racunnya (Moghe, et
al., 2015)
4. Eksresi
Akrolein dieksresi dalam bentuk metabolitnya melalui ginjal dan hati berupa urin
dan feses, dan sebagian kecil melalui keringat (ATSDR, 2006).

Kadar Toksik Akrolein


Saat ini perkiraan kadar yang terbaik untuk ditoleransi Daily Intake untuk akrolein adalah
7.5 mg / kg berat badan. Paparan reaktif tak jenuh aldehida seperti akrolein melalui konsumsi
makanan diperkirakan hampir 5 mg / kg makanan (Moghe et al, 2015).
Akrolein akan menimbulkan efek toksik pada respirasi dengan kadar 0,17 ppm hingga
0,43 ppm. Menimbulkan efek toksik pada mata dengan kadar 0,3 ppm. Serta menimbulkan
kematian pada kadar lebih dari 10 ppm (ATSDR, 2006).

Efek Akrolein
1. Masuk melalui inhalasi
Efek Respirasi : Percobaan pada hewan coba menunjukan efek iritasi
tenggorokan, dispneu, demam tinggi, batuk, sianosis, dan edema paru.
Efek Hematologi : Percobaan pada hewan coba secara signifikan menunjukan
efek peningkatan eritrosit, peningkatan hemoglobin, dan peningkatan limfosit,
hal ini mengarah pada peningkatan konsentrasi darah sehingga
memungkinkan terjadi pengentalan darah.
Efek Liver : Percobaan pada hewan coba menunjukan efek nekrosis hati dan
hepatomegali.
2. Masuk melalui oral
Efek Gastrointestinal : Percobaan pada hewan coba menunjukan efek ulcer
pada mukosa lambung dan hiperplasia epitel skuamosa.
Efek Metabolik : Percobaan pada hewan coba menunjukan penurunan kadar
kalsium dan menekan kreatinin fosfokinase pada serum.
(ATSDR, 2006)