Anda di halaman 1dari 3

Nama : Puteri Aulia Rahmah

NIM : 131424020
Kelas : 3A Teknik Kimia Produksi Bersih

TITIK NYALA DAN NILAI KALOR BAHAN BAKAR

Titik nyala suatu bahan bakar adalah suhu terendah dimana bahan bakar dapat dipanaskan sehingga uap
mengeluarkan nyala sebentar bila dilewatkan suatu nyala api. Titik nyala untuk minyak tungku/furnace
oil adalah 66 oC. Titik nyala minimum untuk bahan bakar diesel adalah 60 oC. Titik nyala rendah bensin (-
10 sampai -15C) dan titik nyala tinggi bahan bakar solar (40 Csampai 100 C), terbakar spontan pada
350C, sedikit di bawah bensin.
Temperatur nyala dari bahan bakar gas pada umumnya antara 450 oC sampai dengan 650 oC. Dengan
temperatur seperti itu, gas yang diletakkan di udara bebas akan menjadi panas dan akan terjadi
pembakaran. Temperatur nyala untuk propan adalah 510 oC, sedangkan butan adalah 460 oC. Dari data ini
dapat diketahui bahwa apabila LPG yang terlepas atau bocor dari tabung gas ke udara bebas, gas tersebut
tidak akan terbakar dengan sendirinya karena temperatur udara bebas biasanya sekitar 27 oC. Untuk
menimbulkan nyala pada peralatan yang menggunakan bahan bakar gas, misalnya kompor gas, kita
menggunakan alat penyala atau api penyala. Apabila temperatur udara bebas ini minimal sama dengan
temperatur nyala, maka gas tersebut berada dalam kondisi autoignition temperature yaitu temperatur
terendah dimana bahan akan terbakar dengan sendirinya tanpa diberi sumber nyala.
Titik nyala adalah suhu terendah dari bahan bakar minyak yang dapat menimbulkan nyalaapi dalam
sekejap apabila pada permukaan bahan bakar minyak tersebut dipercikan api. Padabahan bakar minyak
dengan grafitasi API tinggi maka titik didihnya rendah, sehingga titiknyalanya juga rendah artinya bahan
bakar minyak tersebut akan mudah terbakar, demikian juga sebaliknya.
Nilai Kalor merupakan ukuran panas atau energi yang dihasilkan, dan diukur sebagai nilai kalor
kotor/ calorific gross value atau nilai kalor netto/nett calorific value. Perbedaannya ditentukan oleh panas
laten kondensasi dari uap air yang dihasilkan selama proses pembakaran. Nilai kalor kotor/gross calorific
value (GCV) mengasumsikan seluruh uap yang dihasilkan selama proses pembakaran sepenuhnya
terembunkan/terkondensasikan. Nilai kalor netto (NCV) mengasumsikan air yang keluar dengan produk
pengembunan tidak seluruhnya terembunkan. Bahan bakar harus dibandingkan berdasarkan nilai kalor
netto. Nilai kalor batubara bervariasi tergantung pada kadar abu, kadar air dan jenis batu baranya
sementara nilai kalor bahan bakar minyak lebih konsisten. Jumlah panas yang dihasilkan oleh bensin
adalah 9.500-10.500 kkal/kg. Sedangkan untuk solar memiliki jumlah panas sebesar 10.500 kkal/kg. GCV
untuk beberapa jenis bahan bakar cair yang umum digunakan terlihat dibawah ini:
Tabel 1. Nilai kalor kotor (GCV) untuk beberapa bahan bakar minyak
(diambil dari Thermax India Ltd.)
Bahan Bakar Minyak Nilai Kalor Kotor (CGV) (kkal/kg)
Minyak Tanah 11.100
Minyak Diesel 10.800
L.D.O. 10.700
Minyak Tungku/Furnace 10.500
L.S.H.S. 10.600
Spesifikasi khusus bahan bakar minyak terlihat pada tabel dibawah.
Tabel 2. Spesifikasi khusus bahan bakar minyak (diambil dari Thermax India Ltd.)
Bahan Bakar Minyak
Karakteristik
Minyak Furnace L.S.H.S L.D.O.
Massa Jenis (g/cc pada
0,89-0,95 0,88-0,98 0,85-0,87
150C)
Titik Nyala (oC) 66 93 66
C.G.V. (kkal/kg) 10.500 10.600 10.700
Tabel 3. Nilai Kalor Batubara di India
Kelas Kisaran Nilai Kalor (kkal/kg)
A Lebih dari 6.200
B 5.600-6.200
C 4.940-5.600
D 4.200-4.940
E 3.360-4.200
F 2.400-3.360
G 1.300-2.400

Batubara kelas D, E dan F biasanya tersedia bagi industri India.

Tabel 4. GCV untuk berbagai jenis batubara

Lignit Batubara Batu Bara Afrika


Parameter Batubara India
(Dasar Kering) Indonesia Selatan
CGV(kkal/kg) 4.500 4.000 5.500 6.000
*CGV Lignit pada as received basisadalah 2.500-3.000
Tabel 5. Sifat-sifat fisik dan kimia berbagai bahan bakar gas
Perbandingan
Nilai kalor yang udara/bahan Kecepatan
Bahan Bakar Massa Jenis Suhu nyala
lebih tinggi bakar (m3 Nyala Api
Gas Relatif 3 3
api (oC)
(kkal/N.m ) udara/m bahan (m/s)
bakar)
Gas Alam 0,6 9.350 10 1.954 0,29
Propane 1,52 22.200 25 1.967 0.46
Butane 1,96 28.500 32 1.973 0,87
Tabel 6. Nilai kalor macam-macam Bahan Bakar (RP. Koesoemadinata: 1980)
Bahan Bakar kal/g
Kayu 3.990-4.420
Arang Kayu 7.260
Batu bara lignit 3.328-3.339
Batu bara sub-bitumina 5.289-5.862
Batu barabitumina 5.650-8.200
Lemak Hewan 9.500
Minyak Nabati 9.300-9.500
Alkohol 6.456
Aspal 5.295
Minyak Mentah 10.419-10.839
Minyak bunker 10.283-10.764
Solar 10.667
Minyak Tanah 11.006
Bensin 11.528
Nilai kalori bahan bakar minyak adalah jumlah panas yang ditimbulkan oleh suatu gram bahan bakar
tersebut dengan meningkatkan temperatur 1 gram air dari 3,5 oC 4,5 oC, dengan satuan kalori (RP.
Koesoemadinata: 1980). Dengan kata lain nilai kalor adalah besarnya panas yang diperoleh dari
pembakaran suatu jumlah tertentu bahan bakar di dalam zat asam. Makin tinggi berat jenis minyak bakar,
makin rendah nilai kalori yang diperolehnya. Misalnya bahan bakar minyak dengan berat jenis 0,75 atau
grafitasi API 70,6 mempunyai nilai kalori 11.700 kal/g.

Sumber:

Kira, Dika. T.t. Diktat Ilmu Bahan, Bahan Bakar, dan Pelumas.
[https://www.scribd.com/doc/261816944/BAHAN-BAKAR-pdf]

[http://www.energyefficiencyasia.org/docs/ee_modules/indo/Chapter%20-%20Fuels%20and
%20combustion%20(Bahasa%20Indonesia).pdf]

Sihombing, R. 2015. Chapter II.


[http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/46704/4/Chapter%20II.pdf ]