Anda di halaman 1dari 56

47

BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Proses Pekerjaan Lapangan


Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan studi
kasus. Mukhtar (2013) dalam Rokhmah (2015:7) mengungkapkan bahwa metode
penelitian ini sangat cocok digunakan saat seorang peneliti ingin mengungkap
sesuatu dengan bertolak pada pertanyaan How atau Why. Penelitian ini
menganalisis risiko kecelakaan kerja dengan menggunakan metode Fault Tree
Analysis yang bertujuan untuk mengidentifikasi akar penyebab masalah, yang
berawal dari mempertanyakan dan menelusuri kembali mengapa suatu masalah
dapat terjadi.
Pada awal penelitian peneliti terlebih dahulu menentukan topik masalah
yang akan diteliti, yakni mengenai analisis kecelakaan kerja. Langkah selanjutnya
adalah menentukan tempat penelitian. Penentuan lokasi penelitian adalah
berdasarkan hasil rekomendasi dari informan kunci, bahwa pada tempat tersebut
memiliki data kecelakaan kerja yang cukup lengkap sehingga lebih mudah untuk
dilakukan analisis kecelakaan kerja. Tempat penelitian yang direkomendasikan
oleh informan kunci adalah di PT. SUB Unit Jember yang terletak di Desa
Gambirono Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember.
Peneliti mengumpulkan data menggunakan metode wawancara mendalam,
observasi, triangulasi, dan data sekunder perusahaan yang berupa rekapitulasi data
kecelakaan kerja dan berita acara kecelakaan kerja. Wawancara mendalam
dilakukan peneliti untuk memperoleh data awal kecelakaan kerja dan identifikasi
risiko. Berdasarkan data awal kecelakaan kerja peneliti kemudian mengidentifikasi
bahwa area yang sering terjadi kecelakaan kerja adalah area rotary, press dryer,
dan core setting. Peneliti kemudian memfokuskan identifikasi risiko pada tiga area
tersebut, dengan melakukan wawancara mendalam pada informan utama.
Penentuan informan utama berdasarkan informasi dari informan kunci.
Identifikasi risiko ini juga dilakukan sendiri oleh peneliti dengan cara
melakukan observasi sumber risiko dengan mengobservasi langsung pekerja pada
saat melakukan proses kerja. Hasil pengumpulan data identifikasi sumber risiko

47
48

yang didapat oleh peneliti dari hasil wawancara dan observasi ini kemudian
digabungkan oleh peneliti dalam satu tabel identifikasi risiko awal.
Tahap yang selanjutnya dilakukan oleh peneliti adalah memastikan risiko
yang telah terdaftar tersebut ada atau tidak, serta mengukur tingkat keparahan dan
kemungkinan risiko kecelakaan kerja untuk mendapatkan peringkat dari masing-
masing risiko kecelakaan kerja yang telah terdaftar. Tahap ini dilakukan peneliti
dengan menggunakan metode FGD. Irwanto (2006:1-2) mendefinisikan FGD
adalah suatu proses pengumpulan data dan informasi yang sistematis mengenai
suatu permasalahan tertentu yang sangat spesifik melalui diskusi kelompok.
Metode FGD dilakukan dengan mengumpulkan peserta sebanyak 6 orang yang
terdiri dari 2 orang pembina K3 dan 4 orang pekerja PT. SUB Unit Jember. Pada
tahap ini peneliti juga memastikan kepada forum FGD apakah risiko yang telah
terdaftar pada masing-masing area masih perlu ditambah ataukah dikurangi, untuk
memastikan bahwa risiko yang telah terdapat pada masing-masing area tersebut
telah terdaftar secara optimal dan faktual.
Peneliti kemudian menentukan peringkat risiko berdasarkan tingkat risiko
dan tingkat kemungkinan yang didapat dari hasil FGD. Peringkat risiko ditentukan
dengan cara mencocokkan hasil tingkat keparahan risiko dan tingkat kemungkinan
risiko pada matriks risiko. Hasil peringkat risiko yang telah didapatkan kemudian
digunakan sebagai pertimbangan untuk membuat diagram Fault Tree Analysis.
Diagram Fault Tree Analysis disusun berdasarkan risiko yang memiliki peringkat
risiko dimulai dari moderate risk, high risk, sampai dengan extreme risk. Data
untuk penyusunan diagram ini merupakan data kronologis kejadian kecelakaan
kerja, yang didapatkan dari hasil melakukan wawancara mendalam kembali dengan
informan utama dan juga melalui data sekunder yakni berita acara kecelakaan kerja.
Langkah selanjutnya yang dilakukan oleh peneliti adalah mengevaluasi
risiko. Evaluasi risiko dilakukan dengan menggunakan konsep ALARP (As Low As
Reasonably Practicable), yang menekankan pengertian practicable atau praktis
untuk dilaksanakan (Ramli, 2010:98). Risiko-risiko yang telah didapatkan akan
dikategorikan menjadi secara umum dapat diterima (generally acceptable), dapat
ditolerir (tolerable), atau tidak dapat diterima (generally unacceptable).
49

Menurut Ramli (2010:98) pada area merah atau risiko tidak dapat diterima
(generally unacceptable) adanya risiko tidak dapat ditolerir, sehingga harus
dilakukan langkah pencegahan. Pada bagian kuning atau area ALARP, risiko dapat
ditolerir dengan syarat semua pengamanan telah dijalankan dengan baik. Pada area
hijau risiko sangat kecil dan secara umum dapat diterima tanpa melakukan upaya
tertentu.
Untuk menentukan suatu risiko masuk dalam salah satu dari ketiga kategori
tersebut peneliti membuat matriks ALARP. Matriks ALARP ini dibuat berdasarkan
pertimbangan dari informan utama sejauh mana suatu risiko dapat diterima
(generally acceptable), dapat ditolerir (tolerable), atau tidak dapat diterima
(generally unacceptable) dengan mempertimbangkan konteks biaya dan manfaat
pengendaliannya. Matriks ALARP yang telah selesai dibuat kemudian digunakan
untuk menentukan evaluasi risiko-risiko yang telah didapatkan pada proses
sebelumnya.
Langkah terakhir yang dilakukan adalah menentukan pengendalian risiko.
Pada langkah ini peneliti kembali melakukan wawancara mendalam kepada
informan utama untuk mendapatkan data tentang pengendalian risiko yang telah
dilakukan perusahaan untuk menanggulangi risiko-risiko tersebut.

4.2 Gambaran Umum Tempat Penelitian


PT. Sejahtera Usaha Bersama (PT. SUB) merupakan salah satu industri
kayu lapis (plywood) yang berada di Indonesia. PT. SUB berdiri pada tanggal 20
Desember 2004 dengan akta No. 5 yang dibuat oleh Notaris Rosdiana S.H. dan
disahkan melalui SK Menteri Hukum dan HAM Republik Indonesia Nomor: C-
08064 HT.01.01.TH.2005 tanggal 28 Maret 2005, serta memulai produksi pertama
pada tanggal 07 Oktober 2006. PT. SUB berpusat di daerah Jombang, tepatnya di
Jl. Raya Diwek Jatipelem, Desa Diwek, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang,
Jawa Timur. PT. Sejahtera Usaha Bersama Unit Jombang mampu memproduksi
sebanyak 300.000 m3 plywood setiap tahunnya. PT. SUB Jombang memiliki 3 buah
anak perusahaan yang bertugas menyuplai bahan baku veneer diantaranya adalah
PT. SUB Unit Madiun yang mampu memproduksi sebanyak 40.000 m3 bahan baku
50

veneer setiap tahun, PT. SUB Unit Banyuwangi yang mampu memproduksi
sebanyak 70.000 m3 bahan baku veneer setiap tahun dan PT. SUB Unit Jember
yang mampu memproduksi sebanyak 160.000 m3 bahan baku veneer setiap
tahunnya.
PT. SUB memiliki visi dan misi yang menjadi landasan dalam setiap
aktivitas kerjanya. Visi PT. SUB adalah terwujudnya industri primer hasil hutan
kayu yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan melalui pemanfaatan dan
pemberdayaan/pembibitan hutan kemasyarakatan jenis kayu sengon. Misi PT. SUB
diantaranya adalah memanfaatkan hasil produksi tanaman sengon masyarakat
seoptimal mungkin, mensejahterakan petani sengon khususnya di Provinsi Jawa
Timur, dan melakukan pembibitan dan memperbanyak tanaman sengon di Provinsi
Jawa Timur bekerja sama dengan kelompok tani dan dinas kehutanan yang terkait
sebagai fasilitator.
51

4.3 Proses Produksi Veneer PT. SUB Unit Jember

Bahan baku

Limbah Cair Log Pool

Rotary Boiler

Hand clipper

Press dryer

Core Builder Sortir

Repair core

Packing

Gambar 4.1 Proses Produksi Veneer PT. SUB Unit Jember (Sumber: Upaya
Pengelolaan Lingkungan (UKL) & Upaya Pemantauan Lingkungan
UPL PT. SUB Unit Jember)

Secara prinsip proses produksi mulai dari penyimpanan bahan baku sampai
dengan produk akan terbagi menjadi beberapa bagian proses. Adapun rincian dari
bagian proses tersebut secara garis besar adalah sebagai berikut:
a. Log yard
Bahan baku yang digunakan adalah kayu bulat (log) sengon dengan standar
sebagai berikut:
1) Diameter antara 15-60 cm
2) Panjang 100-200 cm
3) Kupas kulit
4) Kayu dari supplier/ team pencari kayu diterima di seksi log yard untuk
ditata jumlah dan volumenya. Setelah selesai pendataan, kayu di supply
ke log pool dengan jumlah dan volume yang disesuaikan dengan
permintaan bagian produksi.
52

b. Rotary
Agar dapat diproses lebih lanjut, kayu yang sudah berada di log pool dicuci
bersih dan ditentukan titik tengah kayu atau centering dengan menggunakan
busur dan kapur tulis. Setelah selesai log siap diproses dengan mesin rotary.
Hasil dari proses rotary adalah :
1) Green Veneer
Green Veneer adalah lembaran kayu yang mempunyai standar tertentu,
dan dapat diproses lebih lanjut. Hasil dari proses rotary ini biasanya
sebesar 72% dari bahan baku (log) yang digunakan.
2) Limbah Padat/Sampah
Sampah dihasilkan dari hasil kupasan pertama, berupa lapisan kayu
paling luar dan tidak dapat diproses lebih lanjut. Limbah padat berupa
kupasan kayu tersebut kemudian dibawa ke boiler untuk dibakar.
Besarnya limbah padat yang dihasilkan dari proses ini kurang lebih
sebesar 28% dari bahan baku (log) yang digunakan.
c. Hand clipper dan Auto Clipper
Green Veneer yang dipotong sesuai dengan ukuran yang diinginkan atau
sesuai standar, ada tiga kategori hasil potongan Hand clipper, yaitu:
1) OPC
2) OPC Floorbase
3) Faceback
4) Poly-poly
d. Press dryer
Hasil dari potongan-potongan hand clipper yang berupa OPC, OPC
Floorbase, Faceback, Poly-poly dikeringkan dengan menggunakan mesin
press dryer.
e. Core Builder
Poly-poly dan potongan veneer yang tidak utuh diproses dengan mesin core
builder agar potongan-potongan veneer menjadi potongan yang utuh sesuai
dengan ukuran yang diinginkan.
53

f. Repair core
Veneer OPC diseleksi dan diperbaiki, yang sesuai dengan standard langsung
dikemas dengan volume 2 m3/bundle atau 230 pcs/bundel, sedangkan yang
tidak memenuhi standar kembali diproses dengan menggunakan mesin core
builder.
g. Packing
Packing merupakan tahapan akhir dari seluruh proses produksi, hasil
produksi disusun berdasarkan kualitasnya, yaitu:
1. OPC
2. OPC Floorbase
3. Faceback
4. Poly-poly
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, peneliti menemukan
bahwa area yang sering mengalami kejadian kecelakaan kerja adalah area rotary,
press dryer dan repair core, sehingga peneliti membagi berdasarkan ketiga area
tersebut, untuk mempermudah penelitian. Berdasarkan hasil wawancara mendalam,
peneliti juga menemukan bahwa bagian hand clipper merupakan bagian dari area
mesin rotary. Peneliti juga menambahkan satu area baru, yakni cakupan dari ketiga
area tersebut karena ditemukan satu risiko yang sama pada ketiga area tersebut,
yang disebut dengan lalu lintas area produksi, yakni forklift yang sedang berlalu
lalang pada ketiga area tersebut untuk mengangkut veneer dan limbah padat dari
hasil sisa pemrosesan kayu log.
Area rotary, press dryer, dan repair core tidak berada dalam gedung yang
berbeda, namun berada di dalam satu gedung yang sama. Satu set alat rotary, dan
dan satu set alat press dryer dipasang berjajar sampai ke area repair core. Hal ini
dilakukan untuk mengefisiensikan waktu sehingga aliran produk veneer tidak
terputus. Selengkapnya akan digambarkan dalam denah ilustrasi berikut:
54

2 2 2 2
U

5
3 3 3 3

4 4 4 4 4
5

4 4 4 4 4

5
4 4 4 4 4

Gambar 4.2 Ilustrasi Denah Area Rotary. Press dryer dan Repair core

Keterangan :
1. Log Pool : tempat pencucian kayu log sebelum masuk ke mesin rotary
2. Area Rotary : pada area ini kayu log yang telah dicuci dimasukkan ke mesin
rotary untuk dikupas menjadi lembaran veneer
3. Area Press dryer : pada area ini lembaran veneer dikeringkan menggunakan
mesin press dryer
4. Repair core : Area ini merupakan area workshop para pekerja repair core,
yakni bagian perbaikan dan penambalan veneer yang berlubang
55

5. Tumpukan Veneer yang siap dikirim : pada bagian ini veneer dipilah oleh
bagian quality control, dikemas dalam ukuran paket tertentu, kemudian siap
dikirimkan ke pabrik untuk selanjutnya diproses menjadi plywood
: arah aliran bahan
: pintu keluar

4.4 Identifikasi Risiko PT. SUB Unit Jember


Berdasarkan hasil wawancara mendalam dan observasi yang telah
dilakukan peneliti, beberapa risiko kecelakaan kerja yang telah ditemukan di area
rotary, press dryer, repair core, dan lalu lintas area produksi akan dijabarkan pada
tabel dibawah, tabel ini juga akan dijadikan sebagai acuan dalam menjabarkan
tingkat risiko, tingkat kemungkinan, sampai dengan peringkat risiko:
56

Tabel 4.1 Hasil Identifikasi Risiko, Tingkat Keparahan, Tingkat Kemungkinan, dan Peringkat Risiko

Keberadaan Peringkat /
Penilaian Risiko
No. Aktivitas kerja Sumber Risiko Risiko Konsekuensi Risiko Kategori
Ada Tidak Kemungkinan Keparahan Risiko
1. Area Rotary
Pisau Rotary Tergores pisau Rotary Tangan terluka
D 2 L (Low Risk)
saat proses produksi
Tergores saat membawa Cedera pada
M (Moderate
atau mengganti pisau anggota tubuh E 3
Risk)
Rotary yang terkena
Terpotong pisau Rotary Tangan atau
anggota badan H (High
E 4
lainnya cidera Risk)
berat (terpotong)
Pisau Hand clipper Terpotong pisau Hand Tangan atau
clipper anggota badan H (High
E 4
lainnya cidera Risk)
berat (terpotong)
Bahan (kayu log) Mata terkena pecahan Cedera pada mata
kayu pada saat proses E 2 L (Low Risk)
pemotongan
Kepala terkena pecahan Cedera ringan M (Moderate
C 2
kayu pada kepala Risk)
Kejatuhan log Cedera pada jari
E 2 L (Low Risk)
kaki
Terjepit ketika Cedera pada
memasang log tangan atau jari E 2 L (Low Risk)
tangan
Roll and Belt Terjepit atau tergores Cedera ringan
M (Moderate
Conveyor sambungan Roll and belt pada tangan atau E 3
Risk)
conveyor jari tangan

56
57

Keberadaan Peringkat /
Penilaian Risiko
No. Aktivitas kerja Sumber Risiko Risiko Konsekuensi Risiko Kategori
Ada Tidak Kemungkinan Keparahan Risiko
Alat-alat yang Baju atau anggota tubuh Cedera sedang,
H (High
berputar (Rotary, Roll tersangkut dan tertarik dan cedera berat. E 4
Risk)
and belt conveyor) masuk
Pecahan kayu dan Tersandung dan Cedera ringan
kulit kayu (sampah terpeleset pecahan kayu sampai sedang
E 2 L (Low Risk)
hasil pemotongan dan
pengupasan)
Chuck Tangan terjepit chuck Cedera ringan
E 2 L (Low Risk)
(penjepit kayu) sampai sedang
Ceceran oli Terpeleset oli pada saat Cedera ringan
E 2 L (Low Risk)
mesin diservis sampai sedang
Paku palet Kaki menginjak dan Cedera ringan
E 2 L (Low Risk)
tertusuk paku palet sampai sedang
Tumpukan kayu log Tertimpa tumpukan Cedera ringan
kayu yang roboh karena sampai sedang M (Moderate
D 3
tidak stabil akibat Risk)
melebihi tiga tumpukan
Veneer Tangan tertancap Veneer Cedera sedang E 2 L (Low Risk)
Ampulur Jari tertimpa ampulur Memar pada jari E 2 L (Low Risk)
2. Area press dryer
Proses pemasukan Panas Kontak dengan alat Luka bakar
dan pengeluaran press dryer yang masih ringan, dan H (High
B 2
veneer pada mesin panas sedang Risk)
press dryer
Panas Panas yang ada pada Kerusakan mesin,
mesin dapat area kerja
menimbulkan kebakaran terbakar, dapat - - -
memakan korban
jiwa
58

Keberadaan Peringkat /
Penilaian Risiko
No. Aktivitas kerja Sumber Risiko Risiko Konsekuensi Risiko Kategori
Ada Tidak Kemungkinan Keparahan Risiko
Getah, serbuk kayu, Getah, serbuk kayu, dan Cedera ringan,
dan uap panas uap panas pada saat sedang, sampai H (High
B 2
pemrosesan dapat berat pada mata Risk)
memercik ke mata
Plat press dryer Jari pekerja tanpa Cedera ringan H (High
E 4
sengaja terjepit plat sampai berat Risk)
Penyangga plat press Penyangga plat terjatuh Cedera kepala M (Moderate
E 3
dryer Risk)
Kipas veneer Jari pekerja tanpa Cedera ringan
sengaja masuk dalam sampai berat E 2 L (Low Risk)
kipas
3. Area core setting
Penambalan dan Pisau cutter Tangan tergores pisau Tangan terluka H (High
A 2
pemotongan veneer cutter Risk)
Paku Kaki atau tangan Kaki atau tangan
E 2 L (Low Risk)
tertusuk paku terluka
Serpihan kayu Kaki atau tangan Kaki atau tangan
E 2 L (Low Risk)
tertusuk serpihan kayu terluka
Peralatan yang Terpeleset atau Terjatuh, luka
E 2 L (Low Risk)
berserakan tersandung peralatan memar
Potongan sisa pisau Tergores potongan pisau Terluka, cedera
cutter yang cutter ringan dan sedang E 2 L (Low Risk)
berserakan
4. Lalu lintas area Forklift yang sedang Terserempet, tertabrak, Cedera sedang
produksi berlalu-lalang di area atau terlindas forklift, sampai berat H (High
E 4
rotary, press dryer, terjatuh ketika Risk)
dan repair core menumpang forklift
59

a. Area Rotary
Area rotary merupakan area awal dimulainya proses produksi veneer. Pada
area ini terdapat beberapa tahapan yakni kayu gelondongan (log) yang telah dicuci
bersih pada log pool atau log yard kemudian ditumpuk. Kayu log yang ditumpuk
untuk menunggu giliran dimasukkan dalam mesin rotary tidak boleh melebihi tiga
tumpukan, sebab tumpukan kayu log dapat terjatuh dan menimpa pekerja.
Tumpukan kayu log juga dapat terjatuh apabila kayu yang digunakan masih penuh
dengan getah, sehingga licin ketika ditumpuk. Proses selanjutnya adalah centering,
atau menentukan titik tengah kayu, yang digunakan untuk menjepit kayu log ketika
dimasukkan ke dalam mesin rotary. Berikut adalah contoh gambar mesin rotary
dan prinsip kerja mesin rotary, perusahaan tidak berkenan apabila peneliti
mengambil dokumentasi pada proses produksi, sehingga peneliti mengambil
ilustrasi dari sumber luar (internet), yang memiliki prinsip kerja yang sama dengan
mesin yang digunakan perusahaan.

Gambar 4.3 Mesin Rotary Ketika Digunakan (sumber: http://www.jamesklauder.com/


projects/?p=101)

59
60

Gambar 4.4 Prinsip Kerja Mesin Rotary (sumber: http://www.teakmarinewoodwork.com/


teak_info_page_7.htm)

Kayu log yang telah melalui centering selanjutnya dipasang pada penjepit
kayu (chuck). Menurut hasil wawancara, pada proses ini pekerja dapat terjepit oleh
penjepit kayu apabila pekerja kurang berhati-hati dan berkonsentrasi ketika
memasang penjepit kayu, namun cedera yang diakibatkan tergolong ringan, serta
sangat jarang terjadi. Kayu log juga dapat terjatuh dan mengenai jari kaki pekerja
apabila kayu log tidak terpasang dengan baik dan pekerja kurang berhati-hati dalam
memasang kayu log pada penjepit. Kayu log yang telah terpasang pada penjepit
kemudian diangkat dengan menggunakan sistem katrol, dan dipasang pada penjepit
rotary.
Kayu log yang telah dipasang pada mesin rotary kemudian diputar dengan
cepat, dan dikupas menggunakan pisau rotary sehingga menghasilkan lembaran-
lambaran kayu yang disebut dengan veneer. Pada awal-awal pengupasan kayu log
selalu menghasilkan sampah terlebih dahulu, karena potongan melintang kayu log
tidak berbentuk bulat sempurna, sehingga menghasilkan lembaran yang berlubang-
lubang. Kayu log yang telah terkupas bagian luarnya akan membentuk hampir
silindris sempurna dan menghasilkan lembaran-lembaran veneer yang baik, namun
61

menyisakan lubang-lubang mata kayu kecil, yang dapat diperbaiki dan ditambal
pada bagian repair core.
Pada proses tersebut, tangan pekerja dapat tergores oleh pisau rotary, dan
bahkan dapat pula terpotong oleh pisau rotary, apabila pekerja kurang berhati-hati.
Pisau rotary juga dapat melukai tangan pekerja ketika pekerja mengganti dan
membawa pisau rotary untuk diasah. Hal ini disebabkan pekerja tidak memasang
alat pembawa pisau dan penutup mata pisau ketika membawa pisau untuk diasah,
sehingga pisau terjatuh dan melukai pekerja.
Mesin rotary juga menimbulkan risiko dari sampah kayu yang dihasilkan.
Pecahan kayu dapat terlempar mengenai kepala ataupun mata pekerja. Selain itu
pecahan kayu dan kulit kayu yang berceceran di lantai dapat mengakibatkan pekerja
tersandung dan terpeleset. Namun hal ini dapat diminimalisir karena pekerja selalu
membersihkan lantai dengan cara disapu setiap beberapa menit sekali.
Pada saat mesin rotary sudah mengeluarkan lembaran-lembaran veneer,
lembaran-lembaran veneer ini selanjutnya akan dipotong oleh pisau hand clipper
yang memotong veneer sesuai ukuran yang diinginkan. Proses ini dapat
menimbulkan risiko tangan terpotong pisau hand clipper, terutama untuk pekerja
yang berada di bagian reeling. Reeling adalah proses pemasangan selotip pada
pinggiran veneer, yang dilekatkan secara otomatis oleh mesin, namun pekerja harus
mengganti gulungan selotip pada mesin secara manual apabila selotip pada mesin
habis. Bagian reeling tersebut terletak didekat pisau hand clipper.
Alat-alat yang berputar (rotary, roll and belt conveyor) juga dapat
menimbulkan risiko bagi pekerja. Anggota tubuh pekerja berisiko tergores
sambungan roll and belt conveyor atau bahkan dapat tertarik masuk. Sambungan
roll and belt conveyor yang digunakan biasanya terbuat dari kawat dan dapat
mengait apabila sedang berputar. Hal ini dapat terjadi apabila pekerja
membersihkan serpihan kayu di sela-sela roll and belt conveyor tanpa
menggunakan stick, dan langsung menggunakan tangan.
Risiko lain yang dihadapi pekerja adalah, dapat terpeleset oli ketika mesin
sedang diservis, menginjak paku palet, tangan tertancap veneer, dan jari tertimpa
ampulur. Palet adalah alas veneer pada troli yang digunakan untuk mengangkut
62

tumpukan veneer agar lebih dekat ke alat press dryer. Paku yang ada pada palet
dapat menembus sepatu pekerja apabila sol sepatu yang dipakai kurang tebal.
Risiko tertancap pinggiran veneer yang tajam dan jari tertimpa ampulur juga pernah
dialami pekerja, meski masing-masing hanya terdapat satu kejadian. Ampulur
adalah inti kayu yang sudah tidak dapat dikupas lagi oleh mesin rotary karena
terlalu kecil, biasanya berbentuk stick silindris panjang.
b. Area Press dryer
Area press dryer merupakan area kedua setelah area rotary. Pada area ini
lembaran veneer dimasukkan ke dalam alat press dryer dengan tujuan mengurangi
kadar air pada veneer dengan standard tertentu. Namun demikian kadar air dalam
veneer tidak boleh sampai 0 atau benar-benar kering, sebab lem tidak dapat
menempel apabila lembaran veneer sampai benar-benar kering. Berikut adalah
contoh alat press dryer, perusahaan tidak berkenan apabila peneliti
mendokumentasikan proses produksi, sehingga peneliti mengambil sumber ilustrasi
dari luar (internet).

Gambar 4.5 Alat Press dryer (sumber: http://www.wood-machine.com/Productlog-


debarker/#iLightbox[gallery]2)

Prosedur kerja di area press dryer diawali dengan mendekatkan tumpukan


veneer ke alat press dryer. Satu-persatu lembaran veneer kemudian dimasukkan ke
dalam alat press dryer, diletakkan diantara lempengan besi press dryer. Operator
kemudian mengaktifkan alat press dryer yang akan menekan dan memanaskan
63

lembaran veneer selama beberapa waktu tertentu. Veneer yang telah kering
kemudian dikeluarkan dari balik alat, lembaran veneer dikeluarkan satu persatu
dengan menggunakan pengait untuk menggapai ujung veneer, setelah tergapai
dikeluarkan memakai tangan.
Pada area ini risiko yang dihadapi pekerja terutama adalah luka bakar akibat
bersentuhan dengan plat press dryer, karena pada saat dioperasikan plat press dryer
berada dalam kondisi sangat panas dan pekerja bekerja dengan cepat untuk
memasukkan dan mengeluarkan lembaran veneer di sela-sela plat press dryer.
Risiko lain yang dihadapi pekerja yakni, ketika alat press dryer dioperasikan,
kandungan air dan getah pada lembaran veneer menjadi mendidih sehingga dapat
menyebabkan memerciknya getah, uap dan partikel lain ke mata pekerja. Namun
demikian kondisi plat press dryer yang panas tidak menimbulkan risiko kebakaran
sebab meski dalam kondisi sangat panas namun plat press dryer tidak menimbulkan
percikan api. Kasus kebakaran juga belum pernah terjadi di area ini.
Pada area ini pekerja juga berisiko terjepit plat press dryer, yang dapat
disebabkan karena kurangnya koordinasi antara operator dengan pekerja. Hal ini
juga dapat disebabkan rusaknya sistem hidrolis alat press dryer sehingga plat press
dryer dapat mengepres secara tiba-tiba. Pada saat mesin diservis, penyangga plat
press dryer juga dapat terjatuh dan mengenai kepala pekerja, apabila penyangga
tidak dibaut ketika diturunkan.
Terdapat beberapa kipas angin yang terletak di sekitar alat press dryer.
Fungsi kipas angin ini sebenarnya adalah untuk mengipasi lembaran veneer agar
cepat kering, namun pekerja terkadang menggunakannya untuk mengipasi tubuh
pekerja. Hal ini menimbulkan risiko pekerja dapat terkena bilah kipas angin yang
sedang berputar, terutama apabila pekerja kurang waspada, sebab kisi-kisi
pengaman kipas ini cukup besar untuk dapat dilewati anggota tubuh pekerja (karena
memang kipas ini didesain bukan untuk mengipasi tubuh pekerja).
c. Area Repair core
Area repair core merupakan salah satu area yang tersering mengalami
kecelakaan kerja. Langkah kerja pada proses repair veneer diawali dengan
meletakkan lembaran veneer yang tidak dipakai tepat diatas lubang atau mata kayu
64

pada veneer yang akan ditambal, atau pada pinggiran veneer yang retakannya
terlalu dalam, ditindas dengan kuat dengan menggunakan tangan yang tidak
memegang pisau cutter. Langkah selanjutnya pekerja memotong 2 lapis lembaran
veneer tersebut dengan menggunakan pisau cutter (selapis veneer yang digunakan
untuk menambal diletakkan diatas selapis veneer yang ditambal), potongan
berbentuk elips melingkari lubang atau mata kayu pada veneer yang akan ditambal,
sehingga menghasilkan dua potongan elips yang sama. Langkah terakhir adalah
membuang potongan veneer yang terdapat mata kayunya, dan mengganti atau
menambal dengan potongan veneer yang baik.
Potongan veneer tersebut direkatkan dengan menggunakan gummed tape.
Gummed tape adalah pita isolasi, yang dapat merekat atau lemnya aktif ketika
terkena air (seperti lem pada perangko), sehingga pekerja harus mengolesi gummed
tape dengan air terlebih dahulu, sebelum digunakan untuk merekatkan tambalan
veneer. Veneer yang digunakan untuk menambal adalah veneer yang kualitasnya
baik, namun potongannya terlalu kecil, dibawah lebar standar veneer yang
diinginkan perusahaan, sehingga menjadi limbah.
Pada area ini pekerja secara cepat dan cekatan menambal lubang mata kayu
pada veneer menggunakan pisau cutter dan gummed tape. Umumnya kecelakaan
kerja terjadi akibat jari tangan pekerja tergores pisau cutter. Jari yang tergores pisau
cutter umumnya adalah jari yang digunakan untuk menindas veneer, atau tangan
yang tidak dominan. Apabila pekerja menggunakan pisau cutter pada tangan kanan,
maka biasanya yang tergores adalah jari tangan kiri, dan sebaliknya. Kecelakaan
kerja di bagian ini biasa dijumpai pada pekerja yang masih baru, atau masih belum
terbiasa dengan prosedur kerja penambalan veneer.
Risiko lain yang mungkin terjadi pada area ini adalah kaki tertusuk paku
palet, tertusuk atau tergores serpihan kayu, terpeleset dan tersandung peralatan yang
berserakan, serta tergores potongan pisau cutter. Namun hal ini jarang terjadi sebab
pekerja sudah menerapkan sistem housekeeping yang baik. Setiap beberapa menit
sekali, apabila area sekitar dirasa sudah cukup kotor atau berantakan, pekerja
langsung berusaha merapikan dan menyapu tempat tersebut, sehingga risiko-risiko
yang telah disebutkan diatas dapat diminimalisir.
65

d. Lalu lintas area produksi


Lalu lintas area produksi merupakan keseluruhan dari ruangan tersebut.
Pada area ini forklift berlalu lalang mentransport veneer dan limbah padat sisa
veneer, di samping pekerja yang juga berlalu lalang melaksanakan aktivitas
pekerjaannya. Apabila pekerja kurang waspada, berisiko untuk tertabrak atau
terlindas forklift yang sedang melintas. Pekerja yang kurang mematuhi aturan
terkadang juga dapat menumpang pada forklift, yang berisiko terjatuh apabila
forklift berhenti tiba-tiba. Namun demikian, apabila ada pekerja yang melakukan
hal tersebut akan langsung mendapat peringatan keras dari pihak perusahaan.

4.5 Tingkat Keparahan dan Kemungkinan Risiko PT. SUB Unit Jember
Untuk menentukan tingkat keparahan dan tingkat kemungkinan masing-
masing serta menentukan peringkat risiko yang telah ditemukan, peneliti
menggunakan ukuran kualitatif kemungkinan dan keparahan menurut AS/NZS
4360:2004. Menurut standar AS/NZS 4360:2004, kemungkinan atau likelihood
diberi rentang antara suatu risiko yang jarang terjadi sampai dengan risiko yang
dapat terjadi setiap saat. Untuk keparahan atau consequency dikategorikan antara
kejadian yang tidak menimbulkan cedera atau kerugian atau hanya kerugian kecil
dan yang paling parah jika dapat menimbulkan kejadian fatal (meninggal dunia)
atau kerusakan besar terhadap aset perusahaan.
Tabel 4.2 Ukuran Kualitatif Kemungkinan Menurut AS/NZS 4360:2004

Level Descriptor Uraian


A Almost certain Dapat terjadi setiap saat
B Likely Kemungkinan sering terjadi
C Possible Dapat terjadi sekali-kali
D Unlikely Kemungkinan jarang terjadi
E Rare Hanya terjadi pada keadaan tertentu
66

Tabel 4.3 Ukuran Kualitatif Keparahan Menurut AS/NZS 4360:2004

Level Descriptor Uraian


1 Insignificant Tidak terjadi cedera, kerugian finansial kecil
2 Minor Cedera ringan, kerugian finansial sedang
3 Moderate Cedera sedang, perlu penanganan medis, kerugian
finansial besar
4 Major Cedera berat lebih satu orang, kerugian besar,
gangguan produksi
5 Catastrophic Fatal lebih satu orang, kerugian sangat besar dan
dampak luas yang berdampak panjang, terhentinya
seluruh kegiatan

Tata cara penentuan tingkat keparahan dan tingkat kemungkinan masing-


masing risiko, dilakukan dengan cara mengadakan Focus Group Discussion (FGD)
karena yang benar-benar mengenal tempat kerja rotary, press dryer, dan repair core
di PT SUB Unit Jember adalah para pekerja dan ahli K3 PT. SUB Unit Jember.
Mula-mula peneliti memberikan penjelasan dan pengarahan mengenai maksud dan
tujuan penelitian, kemudian peneliti juga menjelaskan mengenai ukuran kualitatif
keparahan dan kemungkinan hingga peserta FGD benar-benar mengerti. Langkah
selanjutnya yang dilakukan peneliti adalah membahas satu persatu risiko-risiko
yang telah terdaftar. Tingkat keparahan dan tingkat kemungkinan masing-masing
risiko baru ditulis oleh peneliti secara satu persatu apabila sudah mencapai
kesepakatan forum.
Peneliti juga menanyakan dan mengulas kembali kepada forum ketika risiko
yang terdaftar di suatu area sudah selesai diukur tingkat keparahan dan tingkat
kemungkinannya, apakah masih ada risiko di area tersebut yang masih belum
terdaftar, jika masih ada akan segera ditambahkan serta ditentukan tingkat
keparahan dan tingkat kemungkinannnya pada saat itu juga. Misal apabila pada area
rotary sudah selesai diukur tingkat keparahan dan tingkat kemungkinannya,
sebelum berlanjut ke area press dryer peneliti akan menanyakan kembali kepada
forum apakah masih ada risiko pada area rotary yang masih belum terdaftar.
Berikut adalah beberapa peserta yang mengikuti sesi Focus Group Discussion.
67

Tabel 4.4 Daftar Hadir Peserta Focus Group Discussion

No. Inisial Usia Pendidikan Jabatan Masa Waktu Shift


Kerja Kerja A/B/C
1. H.W 33 S1 Koordinator 9 tahun 7 jam Non
tahun K3 Shift
2. E.S 25 SMK Karyawan 3 tahun 7 jam A
tahun
3. B.H 25 SMK Karyawan 6 tahun 7 jam A
tahun
4. A.W 29 SMA Karyawan 8 tahun 7 jam A
tahun
5. S.W 30 SMK Karyawan 5 tahun 7 jam A
tahun
6. A.R 26 S1 HRD/K3 3 tahun 7 jam Non
tahun Shift

Sesi FGD dilaksanakan pada Hari Rabu tanggal 25 Februari 2016, pukul
10.00 WIB bertempat di ruang kesehatan PT. SUB Unit Jember. Sesi FGD
berlangsung lancar dan kondusif. Peserta FGD juga cukup antusias dalam
mengikuti sesi FGD. Hambatan yang ditemui peneliti adalah salah satu peserta
FGD yakni koordinator K3 harus meninggalkan forum karena harus mengurus
prosedur pembuangan limbah perusahaan. Hambatan lain yang ditemui peneliti
adalah waktu FGD yang sangat terbatas, yakni di sela-sela waktu istirahat pekerja
serta tempat FGD yang juga terbatas, sehingga hanya dapat menampung 6 orang
peserta.
Hasil FGD tersebut menilai tingkat keparahan dan tingkat kemungkinan
risiko masing-masing area. Tingkat keparahan dan kemungkinan risiko yang
didasarkan pada tabel 4.3 dan tabel 4.4, berikut gambaran tingkat keparahan dan
tingkat kemungkinan risiko pada masing-masing area:
a. Tingkat keparahan dan tingkat kemungkinan risiko area rotary
Tingkat keparahan dan tingkat kemungkinan risiko pada area rotary
disajikan dalam gambar 4.6 berikut:
68

16
14
12
10
8 Kemungkinan

6 Keparahan

4
2
0
A 5 B 4 C 3 D 2 E 1

Gambar 4.6 Tingkat Kemungkinan dan Tingkat Keparahan Area Rotary

Berdasarkan gambar 4.6 dapat dilihat bahwa tingkat keparahan risiko


tertinggi pada area rotary berada pada tingkat 4 (major) yang dapat menyebabkan
cedera berat lebih dari satu orang, kerugian besar, dan gangguan produksi. Pada
area rotary terdapat tiga risiko yang terdapat pada ketegori 4 (major), yakni risiko
tangan atau anggota badan yang cidera berat karena terpotong pisau rotary, risiko
tangan atau anggota badan cidera berat karena terpotong pisau hand clipper, dan
risiko baju atau anggota tubuh tersangkut dan tertarik masuk alat-alat yang berputar
(rotary, roll and belt conveyor). Tingkat kemungkinan risiko tertinggi pada area
rotary berada pada tingkat C (possible), yakni dapat terjadi sekali-kali. Risiko
tersebut adalah risiko cedera ringan pada kepala karena terkena pecahan kayu pada
saat proses pemasukan kayu log ke dalam mesin rotary. Tingkat keparahan dan
tingkat kemungkinan risiko area rotary yang lain secara lebih lengkap dapat dilihat
pada tabel 4.2
b. Tingkat keparahan dan tingkat kemungkinan risiko area press dryer
Tingkat keparahan dan tingkat kemungkinan risiko pada area press dryer
disajikan dalam gambar 4.7 berikut:
69

3,5

2,5

2
Kemungkinan
1,5 Keparahan
1

0,5

0
A 5 B 4 C 3 D 2 E 1

Gambar 4.7 Tingkat Kemungkinan dan Tingkat Keparahan Area Press Dryer

Berdasarkan gambar 4.7 dapat dilihat bahwa tingkat keparahan risiko


tertinggi pada area press dryer adalah tingkat 4 (major) yang dapat menyebabkan
cedera berat lebih dari satu orang, kerugian besar, dan gangguan produksi. Risiko
tersebut adalah risiko jari pekerja tanpa sengaja terjepit plat press dryer yang
sedang beroperasi, yang dapat mengakibatkan cedera ringan sampai berat. Tingkat
kemungkinan risiko tertinggi pada area press dryer adalah tingkat B (likely), yakni
risiko tersebut kemungkinan sering terjadi. Pada area press dryer terdapat dua risiko
yang terdapat pada kategori B (likely) yakni risiko kontak dengan alat press dryer
yang masih panas, yang dapat mengakibatkan luka bakar ringan sampai berat serta
risiko getah, serbuk kayu, dan uap panas (partikel) pada saat pemrosesan yang dapat
memercik ke mata dan mengakibatkan cedera pada mata. Pada akhir pembahasan
tingkat kemungkinan dan tingkat keparahan risiko di area press dryer, peneliti juga
tak lupa menanyakan kembali apakah ada risiko kebakaran di area press dryer, yang
kemudian dihilangkan karena setelah ditanyakan kembali ke forum FGD memang
tidak terdapat percikan api pada alat press dryer, dan sejauh ini belum pernah terjadi
kebakaran di area press dryer. Tingkat keparahan dan tingkat kemungkinan risiko
yang lain secara lebih lengkap dapat dilihat pada tabel 4.2.
70

c. Tingkat keparahan dan tingkat kemungkinan risiko area repair core


Tingkat keparahan dan tingkat kemungkinan risiko pada area repair core
disajikan dalam gambar 4.8 berikut:
6

3 Kemungkinan
Keparahan
2

0
A 5 B 4 C 3 D 2 E 1

Gambar 4.8 Tingkat Kemungkinan dan Tingkat Keparahan Area Repair Core

Berdasarkan gambar 4.8 dapat dilihat bahwa tingkat keparahan risiko


tertinggi pada area repair core berada pada tingkat 2 (minor) yang dapat
menyebabkan cedera ringan dan kerugian finansial sedang. Semua risiko yang
terdapat pada area repair core tingkat keparahannya berada pada tingkat 2 (minor),
yakni risiko jari tangan tergores pisau cutter, kaki atau tangan tertusuk paku, kaki
atau tangan tertusuk serpihan kayu, terpeleset atau tersandung peralatan yang
berserakan, dan anggota tubuh tergores potongan pisau cutter. Tingkat
kemungkinan risiko tertinggi pada area repair core berada pada tingkat A (almost
certain), yakni risiko tersebut kemungkinan sering terjadi. Risiko tersebut adalah
risiko jari tangan tergores pisau cutter. Risiko tertusuk paku dan tersandung
peralatan yang berserakan pada saat wawancara mendalam memang tidak
ditemukan, namun pada saat FGD ternyata ada peserta yang menyatakan bahwa
terdapat risiko tersebut, sehingga kedua risiko tersebut juga perlu untuk dimasukkan
dalam penilaian risiko. Tingkat keparahan dan tingkat kemungkinan risiko yang
lain secara lebih lengkap dapat dilihat pada tabel 4.2.
71

d. Tingkat keparahan dan tingkat kemungkinan risiko area lalu lintas produksi
Pada area lalu lintas area produksi hanya ditemukan satu risiko, yakni risiko
yang berkaitan dengan forklift yang sedang berlalu lalang di area produksi, seperti
terserempet, tertabrak, dan terlindas forklift. Forklift juga menimbulkan risiko
terjatuh apabila pekerja menumpang forklift yang sedang berjalan. Forum sepakat
bahwa risiko ini sangat jarang terjadi atau E (rare) serta menimbulkan cedera
sedang sampai berat apabila sampai terjadi atau 4 (major).

4.6 Penilaian Peringkat Risiko PT. SUB Unit Jember


Menurut Ramli (2010:83), metode kualitatif menggunakan matriks risiko
yang menggambarkan tingkat dari kemungkinan dan keparahan suatu kejadian yang
dinyatakan dalam bentuk rentang dari risiko paling rendah sampai risiko tertinggi.
Menurut standar AS/NZS 4360:2004, kemungkinan atau likelihood diberi rentang
antara suatu risiko yang jarang terjadi (E) sampai dengan risiko yang dapat terjadi
setiap saat (A). Untuk keparahan atau consequency dikategorikan antara kejadian
yang tidak menimbulkan cedera atau kerugian atau hanya kerugian kecil (1) dan
yang paling parah jika dapat menimbulkan kejadian fatal (meninggal dunia) atau
kerusakan besar terhadap aset perusahaan (5) (mengacu pada tabel 4.3 dan tabel
4.4). Dari hasil tersebut selanjutnya dikembangkan risk matriks yang
mengkombinasikan antara kemungkinan dan keparahan.
72

Tabel 4.5 Risk matriks Peringkat Risiko

Kemungkinan
Keparahan
1 2 3 4 5
A H H E E E
B M H H E E
C L M H E E
D L L M H E
E L L M H H

Keterangan :
E : Extreme Risk atau risiko sangat tinggi, dibutuhkan tindakan secepatnya
H : High Risk atau risiko tinggi, dibutuhkan perhatian dari manajemen puncak
M : Moderate Risk atau risiko sedang, tanggung jawab manajemen harus spesifik
L : Low Risk atau risiko rendah, menangani dengan prosedur lain.
Dalam matriks ini, tingkat keparahan ditinjau dari berbagai aspek yaitu
dampak terhadap manusia, keuangan, kelangsungan usaha, lingkungan, dan
tanggapan media massa. Masing-masing aspek diberi peringkat 1-5 mulai dari yang
terendah sampai tertinggi. Selanjutnya jika dikombinasikan dengan kemungkinan
akan diperoleh peringkat risiko yang dikategorikan atas risiko sangat tinggi (E),
risiko tinggi (H), risiko sedang (M), dan risiko rendah (M). Berikut adalah penilaian
peringkat risiko masing-masing area, berdasarkan tingkat kemungkinan dan tingkat
keparahan yang didapatkan dari sesi FGD:
a. Penilaian peringkat risiko area rotary
Pada area rotary membahas mulai dari risiko tergores pisau rotary. Pada
risiko tergores pisau rotary saat proses produksi, didapatkan hasil unlikely (D)
untuk tingkat kemungkinan, serta minor (2) untuk tingkat keparahan, sehingga
kombinasi tersebut menghasilkan low risk (L) pada matriks. Risiko yang kedua
adalah tergores pada saat membawa atau mengganti pisau rotary, didapatkan hasil
rare (E) untuk tingkat kemungkinan, serta moderate (3) untuk tingkat keparahan
sehingga kombinasi tersebut menghasilkan moderate risk (L) pada matriks. Risiko
73

selanjutnya adalah risiko terpotong pisau hand clipper, didapatkan hasil rare (E)
untuk tingkat kemungkinan, serta major (4) untuk tingkat keparahan, sehingga
kombinasi tersebut menghasilkan high risk (H) pada matriks. Berlanjut ke risiko
mata terkena pecahan kayu, didapatkan hasil rare (E) untuk tingkat kemungkinan,
serta minor (2) untuk tingkat keparahan, sehingga kombinasi tersebut menghasilkan
low risk (L) pada matriks. Risiko selanjutnya adalah kepala terkena pecahan kayu,
didapatkan hasil possible (C) untuk tingkat kemungkinan, serta minor (2) untuk
tingkat keparahan, sehingga kombinasi tersebut menghasilkan moderate risk (M)
pada matriks. Risiko selanjutnya adalah kejatuhan kayu log, didapatkan hasil rare
(E) untuk tingkat kemungkinan, serta minor (2) untuk tingkat keparahan, sehingga
kombinasi tersebut menghasilkan low risk (L) pada matriks.
Berlanjut ke risiko terjepit ketika memasang kayu log, didapatkan hasil rare
(E) untuk tingkat kemungkinan, serta minor (2) untuk tingkat keparahan, sehingga
kombinasi tersebut menghasilkan low risk (L) pada matriks. Selanjutnya adalah
risiko terjepit atau tergores sambungan roll and belt conveyor, didapatkan hasil
rare (E) untuk tingkat kemungkinan, serta moderate (3) untuk tingkat keparahan,
sehingga kombinasi tersebut menghasilkan moderate risk (M) pada matriks.
Berlanjut ke risiko baju atau anggota tubuh tertarik masuk alat-alat yang berputar
(rotary, roll and belt conveyor), didapatkan hasil rare (E) untuk tingkat
kemungkinan, serta major (4) untuk tingkat keparahan, sehingga kombinasi
tersebut menghasilkan high risk (H) pada matriks. Selanjutnya adalah risiko
tersandung dan terpeleset pecahan kayu, didapatkan hasil rare (E) untuk tingkat
kemungkinan, serta minor (2) untuk tingkat keparahan, sehingga kombinasi
tersebut menghasilkan low risk (L) pada matriks.
Risiko selanjutnya adalah risiko tertimpa tumpukan kayu log, didapatkan
hasil unlikely (D) untuk tingkat kemungkinan, serta moderate (3) untuk tingkat
keparahan, sehingga kombinasi tersebut menghasilkan moderate risk (M) pada
matriks. Risiko-risiko terakhir yang ditemukan di area rotary adalah risiko tangan
terjepit chuck, terpeleset ceceran oli pada saat diservis, kaki tertusuk paku palet,
tangan tertancap veneer, dan jari tertimpa ampulur. didapatkan hasil rare (E) untuk
74

tingkat kemungkinan, serta minor (2) untuk tingkat keparahan, sehingga kombinasi
tersebut menghasilkan low risk (L) pada matriks.
b. Penilaian peringkat risiko area press dryer
Pada area press dryer membahas mulai dari risiko kontak dengan alat press
dryer yang masih panas serta risiko getah, serbuk kayu, dan uap panas yang dapat
memercik ke mata, didapatkan hasil likely (B) untuk tingkat kemungkinan, serta
minor (2) untuk tingkat keparahan, sehingga kombinasi tersebut menghasilkan high
risk (H) pada matriks. Risiko selanjutnya adalah risiko jari pekerja tanpa sengaja
terjepit plat press dryer, didapatkan hasil rare (E) untuk tingkat kemungkinan, serta
major (4) untuk tingkat keparahan, sehingga kombinasi tersebut menghasilkan high
risk (H) pada matriks. Berlanjut ke risiko penyangga plat press dryer terjatuh dan
mengenai kepala, didapatkan hasil rare (E) untuk tingkat kemungkinan, serta
moderate (3) untuk tingkat keparahan, sehingga kombinasi tersebut menghasilkan
moderate risk (M) pada matriks. Risiko terakhir yang ditemukan di area press dryer
adalah risiko jari pekerja tanpa sengaja masuk dalam kipas veneer, didapatkan hasil
rare (E) untuk tingkat kemungkinan, serta minor (2) untuk tingkat keparahan,
sehingga kombinasi tersebut menghasilkan low risk (L) pada matriks.
c. Penilaian peringkat risiko area repair core
Pada area repair core, membahas mulai dari risiko tergores pisau cutter,
didapatkan hasil almost certain (A) untuk tingkat kemungkinan, serta minor (2)
untuk tingkat keparahan, sehingga kombinasi tersebut menghasilkan high risk (H)
pada matriks. Risiko lain yang terdapat di area repair core adalah risiko kaki atau
tangan tertusuk paku, kaki atau tangan tertusuk serpihan kayu, terpeleset atau
tersandung peralatan yang berserakan, dan tergores potongan pisau cutter,
didapatkan hasil rare (E) untuk tingkat kemungkinan, serta minor (2) untuk tingkat
keparahan, sehingga kombinasi tersebut menghasilkan low risk (L) pada matriks.
d. Penilaian peringkat risiko area lalu lintas produksi
Pada area lalu lintas area produksi hanya ditemukan satu risiko, yakni risiko
yang berkaitan dengan forklift yang sedang berlalu lalang di area produksi, seperti
terserempet, tertabrak, dan terlindas forklift. Forklift juga menimbulkan risiko
terjatuh apabila pekerja menumpang forklift yang sedang berjalan. Dari penilaian
75

sebelumnya didapatkan hasil rare (E) untuk tingkat kemungkinan, serta major (4)
untuk tingkat keparahan, sehingga kombinasi tersebut menghasilkan high risk (H)
pada matriks.

4.7 Pembuatan Diagram Fault Tree Analysis (FTA) Risiko Kecelakaan Kerja
PT. SUB Unit Jember
. Ramli (2010:146) mengemukakan bahwa Fault Tree Analysis (FTA)
menggunakan metode analisis yang bersifat deduktif. Dimulai dengan menetapkan
kejadian puncak yang mungkin terjadi dalam sistem atau proses, selanjutnya semua
kejadian yang dapat menimbulkan akibat dari kejadian puncak tersebut
diidentifikasikan dalam bentuk pohon logika ke arah bawah. FTA bertujuan untuk
menelusuri penyebab dasar terjadinya suatu kecelakaan kerja. Menurut hasil
penelitian Pitasari, et al (2014) yang meneliti mengenai analisis kecelakaan kerja
pada operator gerinda tangan dengan menggunakan metode HAZOPS dan Fault
Tree Analysis (FTA), metode Fault Tree Analysis (FTA) dapat pula digunakan
pada tahapan setelah penilaian peringkat risiko. Hal tersebut dilakukan agar event
atau risiko yang dianalisis adalah risiko yang benar-benar penting untuk dianalisis
dan ditelusuri lebih lanjut. Risiko-risiko yang penting untuk dianalisis lebih lanjut
dengan menggunakan metode Fault Tree Analysis (FTA) diantaranya adalah
risiko-risiko yang berada pada kategori peringkat Extreme Risk, High Risk, dan
Moderate Risk. Apabila direkapitulasi, risiko-risiko yang perlu dilakukan analisis
menggunakan metode Fault Tree Analysis (FTA), diantaranya sebagai berikut

Tabel 4.6 Daftar Risiko yang Dianalisis Menggunakan FTA

Peringkat /
No. Aktivitas kerja Risiko Konsekuensi Kategori
Risiko
1. Area rotary
1a. Membawa atau Tergores saat membawa Cedera pada
M (Moderate
memindahkan atau mengganti pisau anggota tubuh
Risk)
pisau rotary Rotary yang terkena
1b. Pemotongan Terpotong pisau Hand Tangan atau
lembaran veneer clipper anggota badan
H (High
dari mesin rotary lainnya cidera
Risk)
menggunakan berat (terpotong)
pisau hand clipper
76

Peringkat /
No. Aktivitas kerja Risiko Konsekuensi Kategori
Risiko
1c. Memasukkan kayu Kepala terkena pecahan Cedera ringan
M (Moderate
log ke dalam mesin kayu pada kepala
Risk)
rotary
1d. Membersihkan roll Terjepit atau tergores Cedera ringan
and belt conveyor sambungan Roll and belt pada tangan atau
yang macet akibat conveyor jari tangan M (Moderate
tersumbat sampah Risk)
sisa kayu hasil
produksi veneer
1e. Pekerjaan di sekitar Baju atau anggota tubuh Cedera sedang,
H (High
area rotary tersangkut dan tertarik dan cedera berat.
Risk)
masuk
1f. Meletakkan kayu Tertimpa tumpukan Cedera ringan
log pada rak kayu yang roboh karena sampai sedang
M (Moderate
sebelum tidak stabil akibat
Risk)
dimasukkan ke melebihi tiga tumpukan
mesin rotary
2. Area press dryer
2a. Proses pemasukan Kontak dengan alat Luka bakar
dan pengeluaran press dryer yang masih ringan, dan H (High
veneer pada mesin panas sedang Risk)
press dryer
2b. Proses pemasukan Getah, serbuk kayu, dan Cedera ringan,
dan pengeluaran uap panas pada saat sedang, sampai H (High
veneer pada mesin pemrosesan dapat berat pada mata Risk)
press dryer memercik ke mata
2c. Proses pemasukan Jari pekerja tanpa Cedera ringan
dan pengeluaran sengaja terjepit plat sampai berat H (High
veneer pada mesin Risk)
press dryer
2d. Proses maintenance Penyangga plat terjatuh Cedera kepala M (Moderate
mesin press dryer Risk)
3. Penambalan, Tangan tergores pisau Tangan terluka
H (High
perbaikan, dan cutter
Risk)
pemotongan veneer
4. Lalu lintas area Terserempet, tertabrak, Cedera sedang
produksi, forklift atau terlindas forklift sampai berat
yang sedang
H (High
berlalu lalang di
Risk)
area rotary, press
dryer, dan repair
core

Daftar risiko yang telah dipilih tersebut kemudian dijadikan acuan untuk
memilih risiko yang akan dianalisis lebih lanjut. Untuk mempermudah, peneliti
tetap mempertahankan urutan risiko sesuai urutan dalam identifikasi risiko, yakni
berdasarkan lokasi di area produksi. Data kronologis kejadian kecelakaan kerja
77

yang digunakan untuk menyusun diagram FTA, didapatkan peneliti dari hasil
wawancara mendalam dengan ahli K3 perusahaan, dan dari data kronologis
kejadian pada laporan kecelakaan kerja. Hasil dan pembahasan risiko kecelakaan
kerja dengan menggunakan FTA, akan dijelaskan sebagai berikut:
a. Area Rotary
Pada area rotary ditemukan enam risiko yang perlu ditelusuri lebih lanjut
dengan menggunakan diagram FTA, yakni risiko terpotong pisau hand clipper dan
risiko baju atau anggota tubuh tertarik masuk pada mesin yang berada pada kategori
high risk, serta risiko tergores saat membawa atau mengganti pisau rotary, risiko
kepala terkena pecahan kayu, risiko terjepit atau tergores sambungan roll and belt
conveyor dan risiko tertimpa tumpukan kayu yang roboh karena tidak stabil akibat
melebihi tiga tumpukan yang berada pada kategori moderate risk. Masing- masing
risiko tersebut akan dianalisis menggunakan diagram FTA sebagai berikut:
1) Tergores pada saat membawa pisau rotary
Risiko tergores saat membawa pisau rotary dapat terjadi karena beberapa
sebab, namun hanya dibutuhkan salah satu penyebab untuk dapat menimbulkan
kejadian tergores pada saat membawa pisau rotary. Penyebab yang pertama adalah
orang yang mengambil pisau bukan operator, operator pada waktu tersebut sedang
sibuk atau tidak berada di tempat sehingga menyuruh pekerja untuk membawakan
pisau, padahal pekerja yang bersangkutan belum pernah mendapatkan pelatihan
mengenai tata cara membawa pisau rotary yang benar.
Penyebab yang kedua adalah penutup dan alat pembawa pisau tidak terpasang
atau hanya terpasang salah satu, pekerja enggan mengambil kedua alat tersebut,
padahal kedua alat tersebut berfungsi untuk memantapkan pegangan tangan pekerja
pada pisau sehingga pekerja dapat membawa pisau dengan lebih aman. Penyebab
selanjutnya adalah pisau licin, pisau masih terlumuri oli bekas pemakaian pada
mesin rotary, sehingga pisau dapat tergelincir dari tangan pekerja, terjatuh dan
menggores tubuh pekerja.
Penyebab terakhir yang ditemukan adalah pekerja terpeleset lantai licin,
terjatuh dan pisau yang sedang dibawa menggores pekerja. Terpeleset lantai licin
ini bisa disebabkan karena lantainya basah (terkena tetesan air dari log pool),
78

pekerja tidak memakai sepatu secara semestinya (tumit pekerja tidak dimasukkan
dalam sepatu), atau sepatu yang dipakai pekerja tidak standard (memiliki sol yang
tipis dan licin apabila dipakai pada lantai basah, sepatu yang seharusnya dipakai
adalah yang memiliki sol tebal serta tidak licin apabila dipakai pada lantai basah).
Berikut adalah penggambaran penyebab-penyebab risiko tergores pada saat
membawa pisau rotary, apabila digambarkan dengan diagram FTA:

Tergores Pada saat membawa


pisau rotary

Orang yang mengambil Penutup mata pisau dan alat Pisau licin,terjatuh dan
pisau bukan operator pembawa pisau tidak terpasang menggores pekerja
atau hanya terpasang salah satu

Operator/asisten operator Pisau licin


tidak sedang di tempat karena Oli
Pekerja
enggan
mengambil
Operator atau memakai Pekerja terpeleset lantai licin, terjatuh dan
menyuruh alat pisau menggores pekerja
pekerja
membawa
pisau

Lantai Pemakaian Sepatu yang


basah dan sepatu tidak dipakai
licin karena semestinya tidak
tetesan air standard

Gambar 4.9 FTA untuk Tergores Pada Saat Membawa Pisau Rotary
2) Terpotong pisau hand clipper
Risiko terpotong pisau hand clipper dapat disebabkan oleh tiga hal. Penyebab
yang pertama adalah kurang konsentrasi, umumnya disebabkan karena pekerja
terburu-buru ingin menyelesaikan pekerjaan, atau dapat pula terjadi apabila pekerja
79

sedang mengantuk (pada shift malam) apabila pekerja tidak beristirahat dulu pada
siang harinya.
Penyebab yang kedua adalah kurang koordinasi pada saat servis mesin. Hal
ini dapat terjadi jika terdapat kesalahanpahaman komunikasi antara pekerja yang
sedang menyervis mesin dengan operator mesin, ketika pekerja sedang menyervis
mesin operator menyalakan alat tanpa sengaja, atau alat lepas dari pengawasan
operator sehingga tanpa sengaja dinyalakan orang lain.
Penyebab yang ketiga adalah kondisi tubuh pekerja sedang tidak sehat
sehingga pekerja melakukan kesalahan pada mesin hand clipper. Pekerja yang
paling berisiko terpotong pisau hand clipper adalah pekerja yang menangani bagian
reeling, yakni yang memasang dan mengganti roll selotip yang mengisolasi
pinggiran veneer agar tidak pecah. Bagian penggantian roll selotip reeling terletak
sangat dekat dengan pisau hand clipper, jadi setelah veneer dipotong, veneer
tersebut langsung diselotip pinggirannya oleh bagian reeling. Berikut adalah
diagram FTA untuk risiko anggota tubuh terpotong pisau hand clipper:

Anggota Tubuh Terpotong Pisau


Hand clipper

Kurang Konsentrasi
Kurang Kelelahan
koordinasi Kerja/kondisi
saat servis tubuh sedang
mesin tidak sehat
Mengantuk

Terburu-
buru Kurang
pulang atau tidur
istirahat pada
siang
hari
Gambar 4.10 FTA untuk Anggota Tubuh Terpotong Pisau Hand clipper
80

3) Kepala terkena pecahan kayu


Risiko kepala terkena pecahan kayu dapat disebabkan oleh dua hal. Yang
pertama adalah kayu yang digunakan tidak sesuai standard, contohnya seperti kayu
yang bengkok tetap diloloskan oleh checker, sehingga pecah pada saat diproses dan
mengenai kepala pekerja. Kayu tersebut sebenarnya masih dapat diproses, namun
harus secara pelan-pelan dan hati-hati, yang menjadi penyebab kedua pada risiko
ini, yakni kekurang hati-hatian pekerja dalam memproses kayu yang kurang
standar. Diagram FTA untuk risiko ini dapat dilihat seperti dibawah ini:

Kepala Terkena Pecahan Kayu

Kayu tidak sesuai


standard bisa pecah Kurang hati-
hati

Operator tidak
memilih bahan
baku dengan
baik

Gambar 4.11 FTA untuk Kepala Terkena Pecahan Kayu


81

4) Terjepit atau tergores sambungan roll and belt conveyor


Risiko terjepit atau tergores sambungan roll and belt conveyor dapat terjadi
karena tiga penyebab. Yang pertama adalah kurangnya koordinasi, sewaktu mesin
dibersihkan, tempat kontrol kurang pengawasan sehingga tanpa sengaja dinyalakan
oleh pekerja. Penyebab yang kedua adalah kelalaian, tidak melaksanakan SOP
pembersihan roll and belt conveyor yang telah diberlakukan. Pekerja langsung
membersihkan dengan tangan, tanpa menggunakan stick (apabila sampah kayu
masih sedikit) atau mematikan mesin terlebih dahulu (apabila sampah kayu sudah
menumpuk banyak), dengan alasan agar lebih cepat. Penyebab yang ketiga adalah
penggunaan APD yang kurang sesuai, yakni sarung tangan kain yang dapat
tersangkut pada kawat sambungan roll and belt conveyor. Diagram FTA risiko ini
dapat dilihat pada gambar dibawah:

Terjepit atau tergores Roll


and belt conveyor

Kurang koordinasi Lalai APD yang tidak sesuai

Tidak sesuai SOP

Waktu dibersihkan, APD yang dipakai


ada yang (sarung tangan kain)
menyalakan mesin dapat tersangkut di
Tidak memakai alat mesin
ketika membersihkan
mesin yang bekerja

Gambar 4.12 FTA untuk Terjepit atau Tergores Roll and belt conveyor
82

5) Baju atau anggota tubuh tersangkut dan tertarik masuk alat-alat yang berputar
Risiko baju anggota tubuh tertarik masuk alat-alat yang berputar (rotary, dan
roll and belt conveyor dapat terjadi karena baju pekerja yang kancingnya dibuka
oleh pekerja, untuk mendinginkan suhu tubuh, kemudian tersangkut dan tertarik
masuk mesin yang berputar. Faktor kekurang hati-hatian pekerja juga dapat menjadi
pencetus terjadinya risiko ini. Diagram FTA risiko ini dapat dilihat pada gambar
dibawah:

Baju atau anggota tubuh tersangkut dan


tertarik masuk Roll Belt Conveyor

Baju dibuka kancingnya waktu


bekerja Kurang hati-
hati

Suhu ruangan
panas, pekerja
mencoba
mendinginkan suhu
tubuh

Gambar 4.13 FTA untuk Baju atau Anggota Tubuh Tersangkut dan Tertarik Masuk Roll
Belt Conveyor
83

6) Tertimpa tumpukan kayu yang roboh karena tidak stabil akibat


melebihi tiga tumpukan
Risiko tertimpa tumpukan kayu yang roboh karena tidak stabil
akibat melebihi tiga tumpukan dapat terjadi karena tumpukan kayu log
melebihi tiga tumpuk, atau kayu licin karena getah, meskipun hanya tiga
tumpukan. Tumpukan kayu di rak yang terlalu tinggi biasanya dilakukan
pekerja karena pekerja ingin pekerjaan cepat selesai, sehingga mengabaikan
risiko tersebut. Kayu licin disebabkan karena kayu yang masuk masih belum
kering, kayu masih benar-benar baru, biasanya kayu akan kering apabila
diletakkan di log yard dalam waktu yang cukup lama. Diagram FTA risiko
ini dapat dilihat pada gambar dibawah:

Tertimpa Tumpukan Kayu yang


Roboh

Tumpukan kayu di rak terlalu


tinggi, lebih dari 3 tumpuk Kayu licin karena getah, meskipun
hanya 3 tumpukan

Agar cepat
selesai/pekerja Kayu masih
terburu-buru baru, belum
kering

Gambar 4.14 FTA untuk Tertimpa Tumpukan Kayu yang Roboh

b. Area press dryer


Pada press dryer ditemukan empat risiko yang perlu ditelusuri lebih lanjut
dengan menggunakan diagram FTA, yakni risiko kontak dengan alat press dryer
yang masih panas, getah, serbuk kayu dan uap panas yang dapat memercik ke mata,
serta jari pekerja tanpa sengaja terjepit plat, yang berada pada kategori high risk.
84

Risiko lain yang terdapat pada area press dryer adalah risiko penyangga plat
terjatuh dan mengenai kepala pekerja, yang berada pada kategori moderate risk.
Masing- masing risiko tersebut akan dianalisis menggunakan diagram FTA sebagai
berikut:
1) Kontak dengan alat press dryer yang masih panas
Risiko kontak dengan alat press dryer yang masih panas dapat terjadi apabila
pekerja tidak memakai atau tidak membawa APD yang telah diberikan perusahaan.
Kekurang hati-hatian pekerja dalam proses pemasukan dan pengeluaran veneer
pada mesin press dryer juga menjadi pencetus terjadinya risiko ini, seperti ketika
lupa memakai stick yang telah disediakan untuk menarik veneer dari alat press
dryer yang masih panas. Diagram FTA risiko ini dapat dilihat pada gambar
dibawah:

Kontak dengan alat press dryer


yang masih panas

Tidak memakai atau tidak


membawa APD Kurang hati-
hati

Karyawan
kurang
disiplin

Gambar 4.15 FTA untuk Kontak Dengan Alat Press dryer yang Masih Panas
85

2) Terkena percikan getah, serbuk kayu, dan uap panas pada mata
Risiko terkena percikan getah, serbuk kayu, dan uap panas pada
mata dapat terjadi apabila pekerja tidak memakai safety googles. Pekerja
tidak memakai safety googles karena pekerja merasa kurang nyaman dan
kurang terbiasa ketika memakai safety googles. Faktor kekurang hati-hatian
juga dapat berperan dalam menentukan terjadinya risiko ini. Diagram FTA
risiko ini dapat dilihat pada gambar dibawah:

Terkena percikan getah, serbuk


kayu, dan uap panas pada mata

Tidak memakai Safety


Googles Kurang
hati-hati

Kurang nyaman
memakai Safety
Googles

Gambar 4.16 FTA untuk Terkena Percikan Getah, Serbuk Kayu, dan Uap Panas
pada Mata
86

3) Jari pekerja tanpa sengaja terjepit plat


Risiko jari pekerja tanpa sengaja terjepit plat dapat terjadi apabila
mesin rusak sehingga plat terjatuh sendiri atau kurang konsentrasi karena
mengantuk. Kerusakan mesin yang menyebabkan plat terjatuh sendiri
biasanya terjadi karena adanya kebocoran seal hidrolis, yang menyebabkan
plat press dryer turun secara cepat dan tiba-tiba sehingga menjepit telapak
tangan pekerja. Kurang konsentrasi dapat disebabkan karena kurang tidur
pada siang harinya (pada shift malam), sehingga tanpa sadar pekerja masih
belum menarik tangannya ketika mesin press dryer mulai menjepit veneer.
Diagram FTA risiko ini dapat dilihat pada gambar dibawah:

Jari Pekerja Tanpa Sengaja Terjepit


Plat

Mesin rusak/plat jatuh sendiri Kurang konsentrasi

Mengantuk
Kebocoran
seal hidrolis

Kurang
tidur pada
siang hari

Gambar 4.17 FTA untuk Jari Pekerja Tanpa Sengaja Terjepit Plat
87

4) Penyangga plat terjatuh dan mengenai kepala pekerja


Risiko penyangga plat terjatuh dan mengenai kepala pekerja dapat
terjadi karena adanya human error, yakni pada saat perbaikan atau servis
plat press dryer, penyangga tidak diturunkan dan dibaut, sehingga dapat
terjatuh. Prosedur ini sebenarnya sudah tercantum di dalam SOP, hanya saja
pekerja terkadang tidak melaksanakan sesuai SOP. Penyebab lainnya adalah
pekerja kurang berhati-hati ketika melepas penyangga . Diagram FTA risiko
ini dapat dilihat pada gambar dibawah:

Penyangga plat terjatuh

Human Error
Kurang hati-
hati
Saat perbaikan penyangga tidak
diturunkan dan dibaut, sehingga
terjatuh

Tidak
Sesuai SOP

Gambar 4.18 FTA untuk Penyangga Plat Terjatuh


88

c. Area core setting (risiko tangan tergores pisau cutter)


Pada area core setting ditemukan beberapa risiko, namun setelah
dieliminasi pada penilaian peringkat risiko, tersisa risiko tangan pekerja
tergores pisau cutter, yang penting untuk dianalisis menggunakan diagram
FTA. Risiko tangan tergores pisau cutter menimbulkan cedera yang ringan
(minor) namun dapat terjadi setiap saat (almost certain), sehingga masuk
dalam kategori high risk pada penilaian risiko. Risiko ini dapat terjadi
apabila pekerja kurang hati-hati, ataupun kurang berkonsentrasi ketika
bekerja (disebabkan mengantuk, terjadi pada shift malam). Kekurang hati-
hatian pekerja terjadi apabila pekerja terburu-buru ingin menyelesaikan
pekerjaan karena ingin segera pulang, atau beda pengalaman (pekerja yang
masih baru lebih sering cedera karena risiko ini dibanding pekerja yang
lama). Diagram FTA risiko ini dapat dilihat pada gambar dibawah:

Tangan tergores pisau cutter saat


proses produksi

Kurang hati-hati Kurang konsentrasi

Mengantuk

Kurang
Terburu-buru Beda Pengalaman tidur pada
siang hari

Jam akhir, Karyawan


terburu- masih
buru pulang training

Gambar 4.19 FTA untuk Tangan Tergores Pisau Cutter


89

d. Area lalu lintas produksi (terserempet, tertabrak, atau terlindas


forklift)
Forklift melintas beberapa waktu sekali di sekitar area rotary, press
dryer, dan repair core untuk mengangkut hasil veneer serta sampah pecahan
kayu. Hal ini menimbulkan risiko terserempet, tertabrak, atau terlindas
forklift yang dapat terjadi karena beberapa sebab. Sebab yang pertama
adalah human error, yakni pekerja sengaja menumpang forklift yang sedang
berjalan, sehingga pekerja dapat terjatuh dari ketika forklift berhenti tiba-
tiba. Penyebab yang kedua adalah operator forklift kurang konsentrasi atau
hilang konsentrasi sesaat sehingga menabrak pekerja, ketika
mengoperasikan forklift. Penyebab yang terakhir adalah unsafe action,
pekerja kurang waspada, kurang konsentrasi, atau bercanda ketika melintas
di jalur forklift, sehingga tidak menyadari jika ada forklift yang sedang
melintas di dekatnya. Diagram FTA risiko ini dapat dilihat pada gambar
dibawah:

Terserempet, tertabrak, atau terlindas


Forklift

Human Error Pekerja kurang


Operator Forklift konsentrasi/waspada dengan
kurang lingkungan Kerja
Konsentrasi

Pekerja Menumpang
Forklift yang
berjalan Unsafe
action

Gambar 4.20 FTA untuk Terserempet, Tertabrak, atau Terlindas Forklift


90

4.8 Evaluasi Risiko PT. SUB Unit Jember


Menurut Ramli (2010:82) evaluasi risiko adalah metode yang digunakan
untuk menilai apakah risiko tersebut dapat diterima atau tidak, dengan
membandingkan terhadap standar yang berlaku, atau kemampuan organisasi untuk
menghadapi suatu risiko. Peringkat risiko digunakan sebagai dasar dalam
menentukan skala prioritas penanganannya dan mengalokasikan sumber daya yang
sesuai untuk masing-masing risiko sesuai dengan tingkat prioritasnya. Beberapa
pendekatan untuk menentukan prioritas risiko antara lain berdasarkan standar
Australia 10014b yang menggunakan tiga kategori risiko yaitu :
a. Secara umum dapat diterima (generally acceptable)
b. Dapat ditolerir (tolerable)/ ALARP
c. Tidak dapat diterima (generally unacceptable)
Pada pendekatan ini diperkenalkan konsep ALARP (As Low As Reasonably
Practicable) yang menekankan pengertian tentang practicable atau praktis untuk
dilaksanakan. Practicable artinya pengendalian risiko tersebut dapat dikerjakan
atau dilaksanakan dalam konteks biaya, manfaat, interaksi dan operasionalnya.
Konsep lain dari practicable adalah reasonable.
Untuk mempermudah evaluasi risiko, peneliti bersama dengan ahli K3
perusahaan membuat risk matriks ALARP terlebih dahulu, untuk menentukan
batas-batas risiko yang dapat diterima, dapat ditolerir (ALARP), atau tidak dapat
diterima. Risk matriks ALARP bersifat unik untuk setiap perusahaan, tergantung
dari sejauh mana batas risiko yang dapat diterima, dapat ditolerir (ALARP), atau
tidak dapat diterima oleh perusahaan. Risk matriks ALARP merupakan konversi
dari risk matriks peringkat risiko. Hasil dari pembuatan Risk matriks ALARP untuk
PT SUB Unit Jember adalah sebagai berikut:
91

Tabel 4.7 Risk matriks ALARP

Consequency
Likelihood
1 2 3 4 5
A T T GU GU GU
B T T T GU GU
C T T T T GU
D GA T T T GU
E GA GA GA T T

a. GA : Generally acceptable, secara umum dapat diterima


b. T : Tolerable , dapat ditolerir (ALARP)
c. GU : Generally unacceptable, tidak dapat diterima
Kriteria risiko diperlukan sebagai landasan untuk melakukan pengendalian
bahaya dan mengambil keputusan untuk menentukan sistem pengaman yang akan
digunakan. Pada area merah atau risiko yang tidak dapat diterima, adanya risiko
tidak dapat ditolerir, sehingga harus dilakukan langkah pencegahan. Pada area
kuning (ALARP), risiko dapat ditolerir dengan syarat semua pengamanan telah
dijalankan dengan baik. Pengendalian lebih jauh tidak diperlukan jika biaya untuk
menekan risiko sangat besar sehingga tidak sebanding dengan manfaatnya. Pada
area hijau risiko sangat kecil dan secara umum dapat diterima dengan kondisi
normal tanpa melakukan upaya tertentu.
Evaluasi risiko di PT. SUB hanya dilakukan untuk risiko-risiko yang telah
melewati tahap pembuatan diagram FTA, karena risiko-risiko tersebut telah
terbukti penting untuk dianalisis lebih lanjut. Hasil evaluasi risiko menunjukkan
bahwa semua risiko yang telah dianalisis menggunakan FTA terletak pada area
kuning (tolerable) atau ALARP, sehingga risiko dapat ditolerir dengan syarat
semua pengamanan dan pengendalian telah dijalankan dengan baik. Hasil dari
evaluasi risiko tersebut akan ditampikan pada tabel dibawah:
92

Tabel 4.8 Evaluasi Risiko

Penilaian Risiko Peringkat / Evaluasi


No. Aktivitas kerja Risiko
Kemungkinan Keparahan Kategori Risiko Risiko
1. Area rotary
1a. Membawa atau memindahkan pisau rotary Tergores saat membawa atau M (Moderate Tolerable
E 3
mengganti pisau Rotary Risk) (ALARP)
1b. Pemotongan lembaran veneer dari mesin rotary Terpotong pisau Hand clipper Tolerable
E 4 H (High Risk)
menggunakan pisau hand clipper (ALARP)
1c. Memasukkan kayu log ke dalam mesin rotary Kepala terkena pecahan kayu M (Moderate Tolerable
C 2
Risk) (ALARP)
1d. Membersihkan roll and belt conveyor yang macet Terjepit atau tergores sambungan Roll
M (Moderate Tolerable
akibat tersumbat sampah sisa kayu hasil produksi and belt conveyor E 3
Risk) (ALARP)
veneer
1e. Pekerjaan di sekitar area rotary Baju atau anggota tubuh tersangkut dan Tolerable
E 4 H (High Risk)
tertarik masuk (ALARP)
1f. Meletakkan kayu log pada rak sebelum dimasukkan ke Tertimpa tumpukan kayu yang roboh M (Moderate Tolerable
D 3
mesin rotary karena tidak stabil Risk) (ALARP)
2. Area press dryer
2a. Proses pemasukan dan pengeluaran veneer pada mesin Kontak dengan alat press dryer yang Tolerable
B 2 H (High Risk)
press dryer masih panas (ALARP)
2b. Proses pemasukan dan pengeluaran veneer pada mesin Getah, serbuk kayu, dan uap panas
Tolerable
press dryer pada saat pemrosesan dapat memercik B 2 H (High Risk)
(ALARP)
ke mata
2c. Proses pemasukan dan pengeluaran veneer pada mesin Jari pekerja tanpa sengaja terjepit plat Tolerable
E 4 H (High Risk)
press dryer (ALARP)
2d. Proses maintenance mesin press dryer Penyangga plat terjatuh M (Moderate Tolerable
E 3
Risk) (ALARP)
3. Penambalan, perbaikan, dan pemotongan veneer Tangan tergores pisau cutter Tolerable
A 2 H (High Risk)
(ALARP)
4. Lalu lintas area produksi, forklift yang sedang berlalu Terserempet, tertabrak, atau terlindas Tolerable
E 4 H (High Risk)
lalang di area rotary, press dryer, dan repair core forklift (ALARP)

92
93

4.9 Pengendalian Risiko Kecelakaan Kerja PT. SUB Unit Jember


Proses pengendalian risiko menurut AS/NZS 4360 dalam Ramli (2010:105)
adalah sebagai berikut:
a. Berdasarkan hasil analisis dan evaluasi risiko dapat ditentukan apakah suatu
risiko dapat diterima atau tidak. Jika risiko dapat diterima, tidak diperlukan
langkah pengendalian lebih lanjut, cukup dengan melakukan pemantuan dan
monitoring berkala dalam pelaksanaan operasi. Misalnya perusahaan telah
memilih menerima risiko penggunaan suatu peralatan mekanis dalam proses
produksinya.
b. Apabila selama proses pemantauan berkala baik di tempat kerja maupun
terhadap tenaga kerja terdapat efek yang tidak diinginkan atau tingkat bahaya
diketahui meningkat dan melampaui ambang batas aman yang diperkenankan,
maka risiko ini tidak dapat diterima lagi, sehingga perlu untuk dilakukan
tindakan pengendalian.
c. Jika risiko berada di atas batas yang dapat diterima (ALARP) maka perlu
dilakukan pengendalian lebih lanjut untuk menekan risiko dengan beberapa
pilihan yaitu: mengurangi kemungkinan (reduce likelihood), mengurangi
keparahan (reduce consequence), mengalihkan risiko sebagian (risk transfer)
atau seluruhnya dan menghindari risiko (risk avoidance).
Pengendalian risiko yang telah dilakukan oleh PT. SUB Unit Jember akan
dijabarkan pada tabel di bawah. Pada daftar pengendalian risiko ini, selain dari
pengendalian risiko yang umum dilakukan untuk risiko yang bersangkutan, peneliti
juga menggali informasi dari informan utama (ahli K3 PT. SUB. Unit Jember)
tentang cara-cara pengendalian risiko yang dapat dilakukan untuk menanggulangi
penyebab dasar risiko tersebut, yang didapatkan dari hasil penelusuran kronologis
diagram FTA sebelumnya. Berikut adalah daftar pengendalian risiko yang dapat
dilakukan untuk menanggulangi risiko-risiko yang terdapat pada kategori moderate
risk dan high risk di PT. SUB Unit Jember.

93
94

Tabel 4.9 Pengendalian Risiko

Pengendalian Penyebab Dasar Pengendalian Penyebab


No. Aktivitas Kerja Risiko Kategori Risiko Evaluasi Risiko
Risiko Risiko Dasar Risiko
1. Area Rotary
a. Membawa atau Tergores saat Moderate risk Tolerable Mematuhi Operator menyuruh Pekerja yang berwenang
memindahkan membawa (ALARP) Standard pekerja membawa dalam memasang, membawa
pisau rotary atau Operational pisau rotary dan mengasah pisau rotary
mengganti Procedure adalah operator dan asisten
pisau rotary (SOP) yang operator, karena telah
berlaku mendapatkan pelatihan
mengenai tata khusus terkait cara
cara membawa menangani pisau rotary
pisau rotary tersebut, sehingga sebisa
yang baik dan mungkin yang membawa
benar pisau rotary adalah operator
atau asisten operator.
Pekerja enggan Pekerja harus mematuhi
mengambil atau SOP yang berlaku, dengan
memakai alat memasang alat pembawa
pembawa (kunci T) (kunci T) dan penutup mata
dan penutup mata pisau terlebih dahulu
pisau sebelum membawa mata
pisau, tidak boleh hanya
memakai salah satunya atau
tidak memakai keduanya.
Pisau licin karena oli Diharuskan membersihkan
pisau sebelum dibawa agar
tidak licin dengan kain perca
Pemakaian sepatu Memakai sepatu dengan
tidak semestinya, baik dan benar, tidak dengan
menyebabkan pekerja menginjak bagian belakang
terpeleset, jatuh dan

94
95

Pengendalian Penyebab Dasar Pengendalian Penyebab


No. Aktivitas Kerja Risiko Kategori Risiko Evaluasi Risiko
Risiko Risiko Dasar Risiko
pisau mengenai sepatu (seperti menggunakan
pekerja sandal)
Sepatu yang dipakai Memakai sepatu yang
tidak standard, standard (sepatu yang
menyebabkan pekerja mempunyai hak atau sol
terpeleset, jatuh dan sepatu cukup tebal, serta
pisau mengenai tidak licin ketika terkena air)
pekerja
Lantai basah dan licin Membersihkan dahulu air
karena tetesan air, yang ada di lantai jika sudah
menyebabkan pekerja terasa licin
terpeleset, jatuh dan
pisau mengenai
pekerja
b. Pemotongan Anggota tubuh High Risk Tolerable Memasang alat Terburu-buru ingin Himbauan agar pekerja tidak
lembaran veneer terpotong (ALARP) pelindung mata pulang atau istirahat, terburu-buru terutama pada
dari mesin rotary pisau hand pisau ketika menyebabkan saat menjelang akhir shift
mennggunakan clipper mesin sedang kurangnya
pisau hand diperbaiki, konsentrasi
clipper
Memasang Kurang tidur pada Himbauan agar pekerja
papan siang hari, beristirahat pada siang
peringatan menyebabkan harinya apabila
apabila mesin mengantuk dan mendapatkan giliran shift
sedang konsentrasi malam. Shift selalu dirotasi
diperbaiki, berkurang (pada saat setiap minggu mulai dari
sehingga tidak shift malam) shift pagi, shift siang, dan
ada yang shift malam.
menyalakan
mesin secara
tiba-tiba saat
96

Pengendalian Penyebab Dasar Pengendalian Penyebab


No. Aktivitas Kerja Risiko Kategori Risiko Evaluasi Risiko
Risiko Risiko Dasar Risiko
mesin sedang
diperbaiki
Alat Pelindung Kurang koordinasi Antara operator dan pekerja
Diri (APD) pada saat servis harus terjalin koordinasi
yang digunakan mesin yang baik, dan selalu
pada bagian ini waspada. Mesin baru bisa
adalah masker diuji coba atau dinyalakan
kain. ketika pekerja sudah
memberi aba-aba pada
operator.
c. Memasukkan Kepala Moderate Risk Tolerable Mengikuti SOP Checker tidak Checker harus menerapkan
kayu log ke dalam terkena (ALARP) yang berlaku memilih bahan baku standar yang berlaku dalam
mesin rotary pecahan kayu tentang tata cara dengan baik menyeleksi kayu yang
memasukkan hendak masuk ke mesin
kayu log ke rotary
dalam mesin
rotary
APD yang Operator kurang hati- Kayu yang kurang standar,
digunakan pada hati dalam menangani seperti contohnya agak
area ini adalah kayu yang kurang bengkok, harus dimasukkan
masker kain dan standar, tetapi ke mesin rotary secara
helmet. diloloskan checker perlahan-lahan oleh operator
Penggunaan sehingga kayu tidak pecah
helmet dan mengenai kepala
tercantum di pekerja,serta himbauan agar
dalam SOP selalu berhati-hati dalam
namun belum bekerja
diterapkan.
d. Membersihkan Terjepit atau Moderate Risk Tolerable Mematuhi SOP Sewaktu mesin Setiap membersihkan roll
roll and belt tergores kawat yang berlaku, dibersihkan, ada yang and belt conveyor harus ada
conveyor yang sambungan jika sampah menyalakan mesin dua orang, orang pertama
macet akibat masih sedikit bagian membersihkan, orang
97

Pengendalian Penyebab Dasar Pengendalian Penyebab


No. Aktivitas Kerja Risiko Kategori Risiko Evaluasi Risiko
Risiko Risiko Dasar Risiko
tersumbat sampah roll and belt roll and belt kedua menjalankan mesin.
sisa kayu hasil conveyor conveyor dapat Orang kedua harus
produksi veneer dibersihkan memperhatikan aba-aba dari
menggunakan orang pertama kapan mesin
stick, namun siap untuk dijalankan
jika sampah kembali, serta mengawasi
sudah banyak jika sewaktu-waktu ada
menumpuk, orang yang akan
mesin harus menyalakan mesin ketika
dimatikan roll and belt conveyor
terlebih dahulu, sedang diberihkan
sampah
dibersihkan,
kemudian mesin
dapat dijalankan
kembali.
APD yang Tidak memakai alat Memakai alat (stick) untuk
digunakan pada ketika membersihkan membersihkan sisa sampah
area ini adalah roll and belt kayu yang menyumbat roll
masker kain conveyor and belt conveyor
APD yang dipakai Tidak perlu memakai sarung
(sarung tangan kain) tangan kain. Penggunaan
dapat tersangkut di sarung tangan kain biasanya
kawat sambungan merupakan inisiatif dari
roll and belt pekerja.
conveyor
e. Pekerjaan di Baju atau Moderate Risk Tolerable Memberikan Pekerja mencoba Menegakkan kembali
sekitar area anggota tubuh (ALARP) pengaman mendinginkan suhu kedisiplinan pekerja dalam
Rotary tersangkut dan berupa plat tubuh, takut baju hal pemakaian baju kerja
tertarik masuk penutup pada kotor, memakai kaos, saat bekerja, dengan cara
alat-alat yang alat-alat yang dll. langsung menegur dan
berputar berputar memberi peringatan.
98

Pengendalian Penyebab Dasar Pengendalian Penyebab


No. Aktivitas Kerja Risiko Kategori Risiko Evaluasi Risiko
Risiko Risiko Dasar Risiko
(rotary, roll
and belt
conveyor, dll)
APD yang Kurang hati-hati Himbauan kepada pekerja
dipakai adalah agar selalu berhati-hati
masker kain dalam bekerja serta
mendahulukan keselamatan
dalam bekerja
f. Meletakkan kayu Tertimpa Moderate Risk Tolerable Mematuhi SOP Tumpukan lebih dari Himbauan agar pekerja tidak
log pada rak tumpukan (ALARP) yang berlaku, 3 tumpukan karena terburu-buru serta mematuhi
sebelum kayu yang yakni pekerja terburu-buru SOP yang berlaku yakni
dimasukkan ke roboh meletakkan tidak melebihi 3 tumpukan.
mesin rotary kayu sesuai
spesifikasi pada
rak, dan tidak
boleh lebih dari
3 tumpukan
Kayu masih baru, Dengan cara mencuci kayu
kadar getah masih untuk menghilangkan getah,
banyak kotoran, dan kerikil di log
pool, dan menjemur kayu di
log yard untuk mengurangi
kadar getah.
2. Area press dryer
a. Proses pemasukan Kontak High Risk Tolerable Memberikan Kekurangdisiplinan Himbauan agar karyawan
dan pengeluaran dengan alat (ALARP) APD berupa karyawan dalam selalu membawa dan
veneer pada press dryer sarung tangan membawa dan memakai APD yang telah
mesin press dryer yang masih kain dan masker memakai APD dalam diberikan ketika bekerja
panas pada pekerja bekerja
Pekerja Kurang hati-hati Himbauan kepada pekerja
diharuskan dalam bekerja agar selalu berhati-hati
mematuhi SOP dalam bekerja serta
99

Pengendalian Penyebab Dasar Pengendalian Penyebab


No. Aktivitas Kerja Risiko Kategori Risiko Evaluasi Risiko
Risiko Risiko Dasar Risiko
keselamatan mendahulukan keselamatan
bekerja di area dalam bekerja, terutama di
press dryer area press dryer
b. Proses pemasukan Getah, serbuk High Risk Tolerable Memberikan Tidak memakai safety Memberikan sanksi berupa
dan pengeluaran kayu, dan uap (ALARP) APD berupa googles karena peringatan apabila tidak
veneer pada panas yang Safety googles kurang nyaman memakai Safety googles
mesin press dryer ada pada saat dan masker
pemrosesan
dapat
memercik ke
mata
Terdapat papan Kurang hati-hati Himbauan kepada pekerja
atau gambar agar selalu berhati-hati
peringatan dalam bekerja serta
pemakaian APD mendahulukan keselamatan
dalam bekerja, terutama di
area press dryer
c. Proses pemasukan Jari pekerja High Risk Tolerable Harus terjalin Mesin rusak sehingga Mesin harus selalu dikontrol
dan pengeluaran tanpa sengaja (ALARP) koordinasi yang plat terjatuh sendiri oleh bagian maintenance
veneer pada terjepit plat baik antara karena kebocoran agar selalu dapat bekerja
mesin press dryer press dryer pekerja yang seal hidrolis optimal dan tidak
memasukkan membahayakan pekerja
dan
mengeluarkan
veneer dan
operator mesin
press dryer.
Kurang konsentrasi Himbauan agar pekerja
akibat mengantuk beristirahat pada siang
karena kurang tidur harinya apabila
pada siang hari (shift mendapatkan giliran shift
malam) malam. Shift selalu dirotasi
100

Pengendalian Penyebab Dasar Pengendalian Penyebab


No. Aktivitas Kerja Risiko Kategori Risiko Evaluasi Risiko
Risiko Risiko Dasar Risiko
menyebabkan setiap minggu mulai dari
berkurangnya shift pagi, shift siang, dan
koordinasi antara shift malam
pekerja dan operator.
d. Proses Penyangga Moderate Risk Tolerable SOP Bekerja tidak sesuai Mematuhi SOP yang
maintenance plat terjatuh, maintenance dengan SOP berlaku, yakni pertama
mesin press dryer mengenai mesin pres s maintenance mesin memperhatikan penyangga
kepala pekerja dryer press dryer yang ada bautnya tidak, jika tidak
berlaku ada dibaut terlebih dahulu,
kemudian penyangga harus
diturunkan terlebih dahulu
untuk dapat diperbaiki.
APD yang Tidak memakai Himbauan agar selalu
digunakan pada helmet saat proses memakai helmet pada saat
saat proses perbaikan atau proses maintenance mesin
maintenance maintenance press dryer dan
mesin press mendahulukan keselamatan
dryer ketika bekerja
diantaranya
adalah masker
kain, dan
penggunaan
helmet
3. Area core setting/
repair core
Penambalan, Tangan High Risk Tolerable SOP Terburu-buru Himbauan agar pekerja tidak
perbaikan, dan tergores pisau (ALARP) penambalan, menyelesaikan terburu-buru, serta tetap
pemotongan cutter perbaikan, dan pekerjaan karena berkonsentrasi dan berhati-
veneer pemotongan ingin segera pulang hati, terutama pada saat
veneer atau istirahat, menjelang akhir shift
menyebabkan pekerja
kurang hati-hati
101

Pengendalian Penyebab Dasar Pengendalian Penyebab


No. Aktivitas Kerja Risiko Kategori Risiko Evaluasi Risiko
Risiko Risiko Dasar Risiko
APD yang Perbedaan Diberikan training bagi
digunakan pengalaman, karyawan baru selama
hanya masker karyawan baru lebih kurang lebih 3 bulan agar
kain, sebab jika mudah cedera terbiasa menggunakan pisau
menggunakan daripada karyawan cutter dalam pekerjaan
sarung tangan, yang sudah mahir penambalan, perbaikan, dan
pekerja tidak pemotongan veneer
bisa memegang
pisau cutter
dengan stabil.
Kurang konsentrasi Himbauan agar pekerja
akibat kurang tidur beristirahat pada siang
pada siang hari harinya apabila
mendapatkan giliran shift
malam. Shift selalu dirotasi
setiap minggu mulai dari
shift pagi, shift siang, dan
shift malam.
4. Lalu lintas area Terserempet, High Risk Tolerable Tersedia jalur Pekerja menumpang Peringatan dilarang
produksi, forklift tertabrak, (ALARP) untuk forklift, forklift yang sedang mengangkut orang, bagi
yang sedang terlindas, atau namun karena berjalan pekerja yang diketahui
berlalu lalang di terjatuh dari letak menumpang forklift
area rotary, press forklift yang penyimpanan langsung mendapat surat
dryer, dan repair sedang berlalu alat kerja peringatan 3.
core lalang berseberangan
dengan tempat
kerja, melintasi
jalur forklift,
sehingga jalur
tersebut masih
sering dilintasi
pekerja.
102

Pengendalian Penyebab Dasar Pengendalian Penyebab


No. Aktivitas Kerja Risiko Kategori Risiko Evaluasi Risiko
Risiko Risiko Dasar Risiko
Operator forklift Himbauan untuk selalu
kurang konsentrasi waspada kepada operator
dengan keadaan forklift ketika sedang
sekitar menggunakan forklift.
Unsafe action yang Himbauan untuk selalu
menyebabkan pekerja waspada dan berhati-hati
kurang konsentrasi kepada pekerja, terutama
dengan sekitarnya ketika berada atau melintas
di jalur forklift, serta tidak
melakukan unsafe action