Anda di halaman 1dari 8

Pendahuluan

Ektima adalah suatu infeksi kulit yang mirip dengan impetigo krustosa, namun
kerusakan dan daya invasifnya pada kulit lebih dalam daripada impetigo krustosa. Streptokokus
merupakan organisme yang biasanya menyebabkan infeksi pada ektima. Infeksi diawali pada lesi
yang disebabkan karena garukan atau gigitan serangga. Lesi pada ektima awalnya berbentuk
vesikel atau pustul pada daerah inflamasi kulit. Kemudian langsung ditutupi dengan krusta yang
lebih keras dan tebal daripada krusta pada impetigo. Ektima sering ditemukan pada anak-anak,
orang tua serta orang-orang dengan gangguan fungsi imun (Human Imunodeficiency Virus).

1. Anamnesis

Penyakit kulit bisa bermanifestasi sebagai gatal, nyeri, pembengkakan, berkurangnya mobilitas,
penurunan fungsi, dan gambaran sistemik seperti ruam atau demam. 1

a. Keluhan utama
Pasien datang dengan keluhan berupa luka. Lokasinya di mana dan bagaimana
perkembangan lesinya.
b. Riwayat penyakit terdahulu
Adakah riwayat penyakit kulit sebelumnya? Misalnya seperti diabetes mellitus dapat
menyebabkan penyembuhan luka yang lama.

c. Obat-obatan
Tanyakan juga pada pasien mengenai obat-obat yang pernah dikonsumsi sebelum datang
ke dokter, seperti kortikosteroid.

d. Penyelidikan fungsional
Tanyakan secara khusus mengenai gambaran sistemik penyakit, seperti demam,
penurunan berat badan, dan ruam. Tanyakan pula adakah penyakit genitourinarius atau
saluran cerna.

2. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan kulit:
Lokalisasi; Ekremitas bawah, wajah dan ketiak.
Efloresensi/sifat-sifatnya: Effloresensi ektima awalnya berupa pustul kemudian pecah
membentuk ulkus yang tertutupi krusta.2
Gambar 1. Krusta coklat berlapis lapis pada ektima2

Gambar 2. Pada Lesi ektima yang diangkat krustanya akan terlihat ulkus yang dangkal2

3. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan yaitu biopsi kulit dengan jaringan
dalam untuk pewarnaan gram dan kultur.3 Bahan untuk pemeriksaan bakteri sebaiknya
diambil dengan mengorek tepi lesi yang aktif. Pemeriksaan dengan gram merupakan
prosedur yang paling bermanfaat dalam mikrobilologi diagnostik ketika dicurigai adanya
infeksi bakteri. Sebagian besar bahan yang diserahkan harus diapus pada gelas objek,
diwarnai gram dan diperiksa secara mikroskopik.
Pada pemeriksaan mikroskopik, reaksi gram (biru-keunguan menunjukkan
organisme gram positif, merah gram negatif), dan morfologi bakteri (bentuk: kokus,
batang, fusiform atau yang lain) harus diperhatikan.3
Pada kultur atau biakan, kebanyakan streptokokus tumbuh dalam pembenihan
padat sebagai koloni discoid dengan diameter 1-2 mm. Strain yang menghasilkan bahan
simpai sering membentuk koloni mukoid.3
Selain itu, juga dapat dilakukan pemeriksaan histopatologi. Gambaran
histopatologi didapatkan peradangan dalam yang diinfeksi kokus, dengan infiltrasi PMN
dan pembentukan abses mulai dari folikel pilosebasea. Pada dermis, ujung pembuluh
darah melebar dan terdapat sebukan sel PMN. Infiltrasi granulomatous perivaskuler yang
dalam dan superficial terjadi dengan edema endotel. Krusta yang berat menutupi
permukaan dari ulkus pada ektima.3

Gambar 3. Pioderma3
Neutrofil tersebar pada dasar ulserasi

4. Diagnosis Kerja
Pada skenario diketahui bahwa pasien datang dengan keluhan terdapat luka kecil
bernanah dikelilingi daerah kemerahan yang luas dan membengkak di badan sejak tiga
hari yang lalu. Jika dikaitkan dengan skenario, ektima adalah pioderma yang
menyerang epidermis dan dermis, membentuk ulkus dangkal yang ditutupi oleh krusta
berlapis. Dari pengertian ektima ini, kita memang belum bisa mendiagnosis pasti
penyakit kulit yang diderita pasien itu ialah ektima karena dari kasus yang kurang
lengkap dan agak kurang jelas. Diagnosis ektima dapat ditegakkan berdasarkan hasil
kultur dan laboratorium dari kerokan kulit yang terinfeksi dan kultur darah, juga dengan
berdasarkan penemuan klinis.
5. Diagnosis Banding
1. Selulitis
Selulitis didiagnosa banding dengan ektima karena lesinya juga berawal
dari makula eritematosa yang terasa panas, selanjutnya meluas ke
samping dan ke bawah sehingga terbentuk benjolan berwarna merah dan
hitam yang mengeluarkan secret seropurulen. Selain itu, tempat
predileksinya juga di tungkai bawah. Akan tetapi pada selulitis ini
disertai dengan gejala konstitusi seperti demam dan malaise.2.
2. Impetigo Krustosa
Impetigo krustosa didiagnosa banding dengan ektima karena memberikan gambaran
effloresensi yang hampir sama berupa lesi yang ditutupi krusta. Bedanya, pada
impetigo krustosa lesi biasanya lebih dangkal, krustanya lebih mudah diangkat, dan
tempat predileksinya biasanya pada wajah serta terdapat pada anak-anak sedangkan
pada ektima lesi biasanya lebih dalam berupa ulkus, krustanya lebih sulit diangkat
dan tempat predileksinya biasanya pada tungkai bawah serta bisa terdapat pada usia
dewasa muda.2

Gambar 4. Impetigo. Eritema dan krusta pada seluruh


daerah centrofacial.2

6. Epidemiologi
Terjadinya ektima di seluruh dunia tepatnya tidak
diketahui. Ektima ini berhubungan erat dengan
keadaan sosial ekonomi. Ektima paling sering terjadi di lutut dan kaki anak-anak dan
dewasa muda, terutama pada lesi ekskoriasi karena penyakit yang gatal misalnya gigitan
serangga dan lesi yang diabaikan. Frekuensi terjadinya ektima berdasarkan umur
biasanya terdapat pada anak-anak dan orang tua, tidak ada perbedaan ras dan jenis
kelamin (pria dan wanita sama).3 Di daerah perkotaan, lesi-lesi pada ektima disebabkan
stafilokokus aureus dan didapatkan pada pengguna obat-obatan intravena dan pasien
terinfeksi HIV.4,6

7. Etiologi
Ektima merupakan pioderma ulseratif pada kulit yang umumnya disebabkan oleh
Streptococcus beta hemoliticus grup A. Penyebab lainnya bisa Stafilokokus atau
kombinasi. Streptokokus adalah bakteri gram positif berbentuk bulat yang secara khas
membentuk pasangan atau rantai selama masa pertumbuhannya. Bakteri ini tersebar luas
di alam. Beberapa diantaranya merupakan flora normal pada manusia; yang lain
dihubungkan dengan penyakit-penyakit penting pada manusia yang sebagian disebabkan
oleh infeksi streptokokus yang sebagian lagi oleh sensitisasi terhadap bakteri ini. Bakteri
ini menghasilkan berbagai zat ekstraseluler dan enzim.4
Berbagai proses penyakit dihubungkan dengan infeksi streptokokus. Sifat-sifat
biologik organisme penginfeksi, sifat respon inang dan jalan masuknya infeksi sangat
mempengaruhi gambaran patologik. Ektima mulanya sama dengan impetigo superfisial.
Streptokokus beta hemolitikus grup A dapat menyebabkan lesi atau menginfeksi secara
sekunder lesi yang sudah ada sebelumnya. Adanya kerusakan jaringan (seperti ekskoriasi,
gigitan serangga, dermatitis) dan keadaan imunokompromais (seperti diabetes dan
neutropenia) merupakan predisposisi pada pasien untuk timbulnya ektima. Penyebaran
infeksi streptokokus pada kulit diperbesar oleh kondisi lingkungan yang padat dan
hygiene yang buruk.4

8. Patogenesis
Staphylococcus aureus merupakan penyebab utama dari infeksi kulit dan
sistemik. Seperti halnya Staphylococcus aureus, Streptococcus sp. Juga terkenal sebagai
bakteri patogen untuk kulit. Streptococcus Grup A, B, C, D, dan G merupakan bakteri
patogen yang paling sering ditemukan pada manusia. Kandungan M-protein pada bakteri
ini menyebabkan bakteri ini resisten terhadap fagositosis.
Staphylococcus aureus dan Staphylococcus pyogenes menghasilkan beberapa
toksin yang dapat menyebabkan kerusakan lokal atau gejala sistemik. Gejala sistemik
dan lokal dimediasi oleh superantigens (SA). Antigen ini bekerja dengan cara berikatan
langsung pada molekul HLA-DR (Mayor Histocompability Complex II (MHC II)) pada
antigen-presenting cell tanpa adanya proses antigen. Walaupun biasanya antigen
konvensional memerlukan interaksi dengan kelima elemen dari kompleks reseptor sel T,
superantigen hanya memerlukan interaksi dengan variabel dari pita B. Aktivasi non
spesifik dari sel T menyebabkan pelepasan masif Tumor Necrosis Factor- (TNF-),
Interleukin-1 (IL-1), dan Interleukin-6 (IL-6) dari makrofag. Sitokin ini menyebabkan
gejala klinis berupa demam, ruam erythematous, hipotensi, dan cedera jaringan.7
Faktor host seperti immunosuppresi, terapi glukokortikoid, dan atopic memainkan
peranan penting dalam patogenesis dari infeksi Staphylococcus. Adanya trauma ataupun
inflamasi dari jaringan (luka bedah, luka bakar, trauma, dermatitis, benda asing) juga
menjadi faktor yang berpengaruh pada patogenesis dari penyakit yang disebabkan oleh
bakteri ini.7
9. Gejala klinis
Keluhan ektima ini: gatal. Penyakit ini dimulai lesi awal berupa vesikel atau
vesikopustula yang membesar dan beberapa hari kemudian menjadi krusta yang tebal.
Bila krusta terlepas, tertinggal ulkus superfisial berbentuk cawan dengan dasar merah dan
tepi meninggi. Lesi cenderung menjadi sembuh setelah beberapa minggu dan
meninggalkan sikatriks. Faktor-faktor predisposisi terjadinya ektima antara lain: gizi,
hygiene perorangan atau lingkungan, iklim, underlying disease misalnya diabetes melitus,
atopik, trauma dan penyakit kronik.2

10.Penatalaksanaan
Penatalaksanaan ektima, antara lain:2
1. Nonfarmakologi
Pengobatan ektima tanpa obat dapat berupa mandi menggunakan sabun antibakteri
dan sering mengganti seprei, handuk, dan pakaian.
2. Farmakologi
Pengobatan farmakologi bertujuan mengurangi morbiditas dan mencegah komplikasi.
a. Sistemik
Pengobatan sistemik digunakan jika infeksinya luas. Pengobatan sistemik dibagi
menjadi pengobatan lini pertama dan pengobatan lini kedua.
1. Pengobatan lini pertama (golongan Penisilin)
a. Dewasa: Dikloksasilin 4 x 250 - 500 mg selama 5 - 7 hari.
Anak : 5 - 15 mg/kgBB/dosis, 3 - 4 kali/hari.
b. Amoksisilin + Asam klavulanat 3 x 25 mg/kgBB
c. Sefaleksin 40 - 50 mg/kgBB/hari selama 10 hari
2. Pengobatan lini kedua (golongan Makrolid)
a. Azitromisin 1 x 500 mg, kemudian 1 x 250 mg selama 4 hari
b. Klindamisin 15 mg/kgBB/hari dibagi 3 dosis selama 10 hari
c. Dewasa: Eritomisin 4 x 250 - 500 mg selama 5 - 7 hari.
Anak : 12,5 - 50 mg/kgBB/dosis, 4 kali/hari.
b. Topikal
Pengobatan topikal digunakan jika infeksi terlokalisir, tetapi jika luas maka
digunakan pengobatan sistemik. Neomisin, Asam fusidat 2%, Mupirosin, dan Basitrasin
merupakan antibiotik yang dapat digunakan secara topikal. Neomisin merupakan obat topikal
yang stabil dan efektif yang tidak digunakan secara sistemik, yang menyebabkan reaksi kulit
minimal, dan memiliki angka resistensi bakteri yang rendah sehingga menjadi terapi antibiotik
lokal yang valid. Neomisin dapat larut dalam air dan memiliki kestabilan terhadap perubahan
suhu. Neomisin memiliki efek bakterisidal secara in vitro yang bekerja spektrum luas gram
negatif dan gram positif. Efek samping neomisin berupa kerusakan ginjal dan ketulian timbul
pada pemberian secara parenteral sehingga saat ini penggunaannya secara topical dan oral.

3. Edukasi
Menjelaskan kepada pasien tentang pentingnya menjaga kebersihan badan dan lingkungan
untuk mencegah timbulnya dan penularan penyakit kulit.2

11.Komplikasi
Ektima jarang menyebabkan gejala sistemik. Komplikasi invasif pada infeksi kulit
streptokokus termasuk selulitis, erysipelas, gangren, limfadenitis supuratif dan
bakterimia.3

12.Pencegahan
- Menjaga kebersihan lingkungan dan diri sendiri,
- Memakai lotion anti serangga untuk mencegah gigitan serangga,
- Meningkatkan daya tahan tubuh dengan intake gizi yang seimbang.

13.Prognosis
Ektima akan sembuh secara perlahan, tetapi biasanya meninggalkan jaringan parut (skar).
Pengobatan dengan antibiotic yang adekuat akan memberikan hasil yang memuaskan.2
14. Kesimpulan

Pada skenario ini cukup sulit sebenarnya untuk ditarik kesimpulan mengenai penyakit
yang diderita oleh pasien karena ektima dan selulitis sangat sukar dibedakan. Diagnosis dapat
ditegakkan selain dengan pemeriksaan kulit juga dapat didukung dengan pewarnaan gram dan
kultur. Tetapi dapat disimpulkan bahwa laki-laki berusia 30 tahun tersebut menderita ektima.
Penanganan yang cepat dapat memberikan hasil yang baik pada pasien tersebut.

15. Daftar Pustaka


1. Gleadle J. At a glance: anamnesis dan pemeriksaan fisik. Jakarta: Penerbit Erlangga;
2005.h.40-197.
2. Siregar RS. Ektima. Dalam: Wijaya C, Anugerah P, editor. Saripati penyakit kulit.
Jakarta: EGC, 2005.h.61-2.
3. Melnick J, Adelberg. Prinsip-prinsip mikrobiologi kedokteran diagnostik. In: Brooks GF,
Butel JS, Ornston LM, Nugroho E, Maulani RF, editors. Mikrobiologi kedokteran edisi
20. Jakarta, 1996.h.684-5.
4. Djuanda A. Pioderma. Dalam: Hamzah M, Aisyah S, Djuanda A, editor. Ilmu penyakit
kulit dan kelamin. Edisi keenam. Jakarta: FKUI, 2010.h.55-9.
5. Halpern A, Warren H. Gram-positive bacteria staphylococcal and streptococcal skin
infection. In: Bolognia JL, Jorozzo JL, Rapini RP, eds. Dermatology 2nd. USA: Mosby
Elsevier, 2008.h.73.
6. Goldstein BG, Goldstein AO. Penyakit bakteri. Dalam: Melfiawati S, Pendit BU, alih
bahasa. Dermatology praktis. Jakarta, 2001.h.72-3.
7. Craft N, et al. Superficial cutaneous infections and pyoederma, In: Klause W, Lowell G,
Stephen K, eds. Fitzpatrickss dermatology in general medicine 7th ed. New York:
McGraw-Hill Companies, 2008.h.1694-701.