Anda di halaman 1dari 25

LABORATORIUM PILOT PLANT

SEMESTER GENAP TAHUN AJARAN 2015/2016

MODUL : Falling Film Evaporator


PEMBIMBING : Harita Nurwahyu Chamidy, LRSC.

Tanggal Praktikum : 26 November 2015

Tanggal Laporan : 10 Desember 2015

Oleh
Kelompok : I & II
1. Ambrianto Ghenatya 131424003
2. Anindya Dwi Kusuma M 131424004
3. Annisa Novita Nurisma 131424005
4. Caesaria Rizky Kinanti 131424007
Kelas : 3A Teknik Kimia Produksi Bersih

PROGRAM STUDI DIPLOMA IV TEKNIK KIMIA


JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
2015
I. TUJUAN
Dapat mengoperasikan peralatan Falling Film Evaporator
Memilih temperatur dan tekanan optimum untuk digunakan pada umpan
tertentu
Menghitung koefisien keseluruhan perpindahan panas untuk Falling Film
Evaporator
Menghitung nilai steam ekonomi
Menghitung efisiensi () penggunaan Falling Film Evaporator
Menjelaskan sistem pengendalian tekanan pada alat Falling Film Evaporator

II. LANDASAN TEORI

Evaporator selanjutnya disebut penguap jenis lapis tipis tabung vertical telah lama
digunakan misal pada produksi pupuk anorganik, proses desalinasi, industri kertas dan
bubur kertas, industri pangan dan bahan alami/larutan biologi dll yang adalah untuk
peningkatan konsentrasi dengan penguapan pelarutnya yang umumnya air. Proses ini
dapat/sering digunakan sering digunakan untuk penguapan larutan kental., larutan sensitif
akan panas, larutan yang mudah terdekomposisi dan penguapan perbedaan temperatur
rendah.
Penguapan yang terjadi akan berada di bawah titik didih air pelarut lain
dalam kondisi curah (bulk). Penguapan akan memerlukan kalor yang lebih sedikit untuk
umpan yang memang sedikit tersebut karena umpan mengalir dalam bentuk lapis
tipis(film).
Molekul-molekul dalam suatu gas cenderung saling menolak sehingga
energi kinetik transisional yang dikandung oleh setiap molekul memperlihatkan suatu
gerak sinambung yang acak yang mengakibatkan sebuah molekul yang lain mengalami
perubahan energi. Oleh sebab itu, molekul-molekul gas akan menyebar secara seragam
dan menempati ruang yang ada sebagai wadahnya. Sebaliknya, gaya tarik menarik antara
molekul-molekul gas akan menyebar secara seragam dan menempati ruang yang ada.
Sebaliknya gaya tarik menarik antara molekul-molekul menyebabkan mereka saling
merapat. Tetapi jika molekul-molekul tersebut diberi suatu tekanan, pada saat molekul-
molekul saling merapat hingga suatu jarak yang begitu dekat, suatu gaya tolakan yang
dikandung setiap molekul akan bekerja dan mengakibatkan suatu penyimpangan bentuk.
Ada dua kecendrungan yang dapat ditarik dari uraian diatas, pertama yang
bergantung pada temperatur. Kenaikan temperatur mengakibatkan energi kinetik
transisional setiap molekul bertambah dan oleh sebab itu menaikan kemampuan untuk
mengatasi gaya-gaya yang cenderung menarik molekul-molekul yang saling berdekatan.
Tendens kedua adalah agregasi, yang ditentukan oleh besar gaya tarik-menarik antara
molekul dan jarak terdekat antar molekul. Gaya tarik yang dimiliki suatu molekul
bertambah hingga mencapai harga maksimum tertentu dimana antara molekul tidak ada
lagi tingkah laku ini ditunjukan pada diagram dibawah ini.
Gaya tarik-menarik maksimum antara molekul terjadi pada jarak r m
sebanding dengan harga minimum energi intermolekul. Jika jarak tersebut diperdekat (r <
rm ), energi potensial berubah dengan segera mencapai harga nol pada saat mencapai r 0.
Akibatnya gaya tolak menolak antara molekul dan energi intermolekul akan bertambah
besar.
Suatu persamaan empiris yang dirumuskan oleh Lennard-Jonas
menyatakan bahwa energi antar molekul total sama dengan jumlah energi tolakan dan
energi tarik menarik anatar molekul.
Jika besar energi tolakan ER = 4E (r0/r)1/2 dan energi tarik menarik EA
sebesar 4, (r0/r)6 dimana tanda minus adalah konvensi untuk menunjukan arah gaya, maka
energi tolak intermolekul E adalah :
E = 4E [(r0/r)1/2 (r0/r)6] ...............................................................(1)
Dimana : e = Energi intermolekul
r = Jarak titik pusat dua yang saling bertumbukan
r0 = Jarak dimana energi tarik menarik dan energi tolak menolak dalam
keadaan
seimbang
E = Energi intermolekul minimum.
Jika energi tarik suatu molekul lebih besar dari energi kinetik
transisionalnya. Molekul-molekul dalam kondisi ini akan membentuk agregasi yang
disebut bentuk cair. Karakteristik yang membedakan bentuk cair dan bentuk gas adalah
bahwa cairan tidak harus menempati seluruh ruangan kosong sabagai wadahnya. Masing-
masing molekul cairan bergerak dengan energi kinetik internal, tetapi gerak ini berupa
getaran (vibrasi), yang mempunyai bertambah atau berkurangnya jarak molekul-molekul
yang terpisah.
Sebagai mana hal diatas, kondisi dari bentuk gas berubah menjadi bentuk
cair akan terjadi bila temperatur zat tersebut diturunkan , yang berarti energi kinetik
transisional berkurang, molekul-molekul mendekat satu dengan yang lain dan energi
tarik-menarik bertambah besar. Pada dasar teori permukaan lapisan, permukaan cairan
dianggap sebagai suatu lapisan molekul-molekul yang berkaitan dengan lapisan molekul-
molekul dibawah dengan gaya tarik menarik.
Sebuah lapisan molekul-molekul pada permukaan paling luar dapat
disingkirkan dengan mengatsi gaya tarik menarik yang bekerja. Hal ini mungkin jika
molekul diberi energi kinetik transional yang lebih besar dari pada energi potensial
maksimum yang bekerja sebagai energi tarik menarik, sehingga memungkinkan molekul
terebut untuk lepas dari gaya tarik menarik maksimum. Sekali molekul itu melampau
batas maksimum itu, molekul tersebut sudah bebas dari lapisan permukaan itu dan
bergerak dengan energi kinetik transional sendiri dan menjadi molekul gas.
Suatu mekanisme teori kinetik sederhana, sering kali dikatakan bahwa
semua molekul pada suatu temperatur memiliki energi yang sama dan bergerak dengan
kecepatan yang sama. Sebenarnya hal ini tidaklah benar kecepatan dan energi memiliki
molekul-molekul yang bervariasi baik lebih besar ataupun lebih kecil dari harga rata-rata.
Didalam zat cair atau gas selalu terdapat molekul-molekul yang lebih tinggi, bergerak
dengan kecepatan jauh melebihi kecepatan rata-rata. Jika molekul seperti itu menumbuk
lapisan permukaan cairan, dengan kecepatan itu dapat menghasilkan energi yang cukup
besar untuk melepaskan molekul-molekul pada lapisan permukaan dari gaya-gaya yang
menarik dan mengikat mereka dengan lapisan dibawahnya. Kejadian ini akan berlanjut
terjadi pada setiap lapisan permukaan terluar Zat cair, sehingga molekul-molekul zat cair
akan berubah wujud kebentuk gas.
Fenomena ini disebut vaporasi atau evaporasi tujuan dari setiap evaporasi
adalah menaikan konsentrasi atau kadar kepekatan suatu larutan yang terdiri dari suatu
zat terlarut yang mudah menguap dari zat pelarutnya yang relatif lebih mudah menguap.
Penguapan beberapa posisi pelarut tersebut akan memberikan produk yang berupa larutan
pekat dan kental, sedangkan kondensasi pelarutnya bisa dibuang langsung sebagai
limbah, yang seharusnya diberi perlakuan kimia kalau pelarut itu berbahaya atau didaur
ulang dan digunakan lagi sebagai pelarut. Hal-hal ini yang membedakan proses
penguapan (evaporasi) dengan pengeringan (drying) atau penyulingan (destilasi) ataupun
proses pemisahan (separasi) lainnya.
Falling Film Evaporator (FFE) adalah salah satu jenis alat untuk proses
penguapan yang diklasifikasikan dalam kelas long tube vertical evaporator . LTVE,
bersama-sama dengan climbing film evaporator (CFE). Sedangkan berdsarkan tipe
pemanasan dapat diklasifikasikan kedalam sistem pemanasan dipisahkan oleh dinding
pertukaran panas yaitu antara lain jenis kolom kolandria dan shell and tube. Untuk FFE
ada di laboratorium Politeknik Negeri Sriwijaya termasuk dalam jenis yang kedua.
Temperatur operasi yan rendah dalam hal ini satu kukus (steam) relatif kecil.

PROSES PENGUAPAN DI DALAM FFE


Umpan dimasukan melalui bagian atas kolom dan secara grafitasional.
Jika vakum tidak dioperasikan turun dan membasahi dinding bagian dalam kolom dan
dinding bagian luar tabung-tabung penukar panas yang diberikan oleh medium pemanas
di dalam penukar panas dan dipakai untuk memanaskan larutan mencapai titik didihnya.
Penguapan pelarut dan membawa temperatur uap dari titik temperatur diatasnya.
Sehingga didalam kolom evaporator akan terdapat campuran larutan pada temperatur
penguapan pelarut atau sedikit lebih rendah/tinggi dari uap pelarut. Karena temperatur
pada tangki pemisah dan pendingin lebih rendah dari pada temperatur bagian bawah
kolom, maka sistem pada kolom tersebut akan mengalami evakuasi (pengosongan) yang
dalam arti sebenarnya terjadi penurunan tekanan sehingga kondisi seprti vakum terjadi
oleh karena campuran tersebut akan terhisap menuju tangki pemisahan dimana bagian
campuran tersebut akan terhisap menuju tangki pemisah dimana bagian campuran yang
berupa larutan produk yang lebih berat dan pekat turun menuju tanki pengumpul produk
sedangkan uap pelarut menuju kondensor dikondensasikan dan turun ke tangki
pengumpul destilat.
Pada sistem kondisi vakum yang dioperasikan oleh pompa vakum proses
akan berlangsung serupa. Tetapi titik didih yang dicapai akan lebih rendah pda kondisi
atmosfir. Selain itu kemungkinan aliran balik (blow-back) karena pembentukan uap
pelarut dan tekanan persial yang dikandungannya lebih kecil.

PERHITUNGAN TEORITIKAL FFE SISTEM TUMPAH (BATCH)


Kinerja suatu evaporator ditentukan oleh beberapa faktor antara lain :
o Konsumsi uap
o Ekonomi uap atau ratio penguapan
o Kadar kepekatan, konsentrasi produk dan destilasi/kondensat dari umpan
o Persentase yield/produk
Untuk tujuan teknik dan karakterisasi evaporator yang perlu dierhatikan adalah :
o Neraca massa dan neraca energi
o Koefisien perpindahan panas
o Effesiensi
Pada dasarnya evaporator adalah alat dimana pertukaran panas terjadi. Laju
perpindahan panas dinyatakan dalam proses umum.
Q=U.A.dT...........................................................................................(2)
Dimana :
U = koefisien perpindahan panas keseluruhan
Untuk sistem tumpak tunggal kalor laten kondensasi uap sebagai medium
pemanasan, merambat melalui permukaan pemanasan untuk menguapkan pelarut dan
memisahkannya dari larutan yang mendidih. Sehingga kesetimbangan panas terjadi
disusun untuk proses kondensor uap didalan tabung-tabung panas dan untuk memanaskan
lapisan larutan pada dinding luar penukar panas proses penguapan pelarut dan menaikan
temperatur uap pelarut. Sebenarnya didalam kolom evaporator juga akan terjadi kontak
antara uap pelarut pada temperaturnya dengan larutan yang diumpankan dan membasahi
dinding sebelah kolom sehingga terjadi perpindahan panas dan massa serta ada panas
yang dipindahkan dari bagian dalam dinding ke bagian dalam dinding ke bagian luar
dinding luar kolom ke lingkungan yaitu berupa panas yang hilang. Karena proses
perpindahan panas dan massa terjadi didalam kolom adalah faktor minor dan dapat
diabaikan maka tinggal kehilangan panas ke lingkungan dari sitem yang diamati yang
diperhatikan.
Maka secara umum dapat dituliskan neraca panas yang terjadi didalam sistem
yang terjadi sebagai berikut :
Qst = +Qst + Qe + Q1.........................................................................................................(3)
Yang diturunkan dari perkiraan bahwa jumlah panas yang diberikan oleh medium
pemanas dari penukar panas digunkan untuk memanaskan sejumlah pelarut dalam
bentuk uapnya danpanas total yang dihilangkan ke lingkungan.
Jumlah panas yang diberikan uap dalam hal ini, Qst adalah seluruh panas
yang sudah berada didalam sistem, yang berbeda atau lebih rendah daripada jumlah total
panas yang dihasilkan oleh uap sehingga panas yang hilang selama dalam aliran menuj ke
sistem diabaikan. Maka jumlah panas yang diberikan kesistem adalah :

Qst =Mst. ..............................................................................................(4)

Dimana massa kukus/uap Mst adalah sejumlah massa kondensornya M c, dan


adalah kalor laten kondensasi pada tekanan uap didalam sistem, jika dianggap uap/kukus
tersebut langsung melepas panas tanpa mengalami perubahan tekanan ataupun
temperatur. Mempertimbangkan panas yang hilang dalam proses kondensas,

QL1 =Mst. -QL1..................................................................................................(5)


Pada seksi yang lain didalam kolom, panas yang dipancarkan dari dinding bagian
luar penukar panas hasil kondensasi uap diatas diambil oleh sistem dengan 2 cara :
1. Panas pendidihan Qse dan
2. panas penguapan
Qse adalah jumlah panas yang diperlukan oleh sejumlah volume larutan yang
berupa selaput tipis (film) yang dibasahi dinding-dinding tabung penukar panas sampai
titik didihnya. Pada tahap ini panas yang hilang terjadi pada awal proses dan selanjutnya
dikompensasi oleh yang terbentuk.
Sehingga kehilangan panas sangat kecil dapat diabaikan. Sehingga persamaan
untuk jumlah panas Qse adalah :
Qse =(Me+Md).Cp. dT....................................................................(6)
Dimana :
Me, Md = jumlah massa larutan umpan
Mt = jumlah massa yang dihasilkan berupa larutan pelarutnya
Cp = kalor jenis didalam evaporator
Maka koefisien perpindahan panas keseluruhan prses ini, Qse dapat dihitung
dengan persamaan :
Qse = Use. Ase. dTmse..........................(7)
Qse = Q1 Q2.(8)
Qse = 1/h + Xw/Kw..(9)
Dimana :
1/h = koefisien perpindahan panas
dt1mse = beda temperatur rata-rata logaritmik {LMTD}
Harga ini bergantung dari beda temperatur pada saat evaporasi dimulai. Juga
tergantung pada sistem pengaliran, yaitu aliran searah atau berlawanan arah.
o LMTD untuk yang searah

t1 t2
T1 T2
Keterangan :
T = temperatur fluida dingin
t = temperatur fluida panas
1 = masuk, 2 = keluar
Dimana :

o LMTD untuk berlawanan arah


t1
t2
T2
T1
Dimana :

NERACA ENERGI PADA KALANDRIA/FFE


Sistem langsung [pemanasan dengan steam/kukus langsung]
Kalor dilepas kukus = kalor awal kukus kalor kondensat + kalor
kondensat kalor kukus sisa
Q1= [m1 x hga] [m1a x hf] + [m1a x hag] [m1b x hgb].(10)
Dimana :
hg = energi dalam [entalpi] kukus pada P [tekanan yang diinginkan]
atau temperatur T14
hf = energi dalam kondensat pada temperatur kondensat keluar
[pengukuran dengan langsung]
hfg = kalor laten kondensasi kukus pada temperatur kondensasi
(asumsi T16). hg, hfg, hf didapatkan ditabel uap
m1 = laju massa kukus terpakai dalam kg/jam
m1a = laju massa kondensat saja dalam kg/jam
m1b = laju massa kukus tidak terpakai [sisa keluar] dalam kg/jam =
[m1-m2]
h1g = energi dalam [entalpi] kukus sisa pada temperatur kukus keluar.
Ket : disini bisa diasumsikan semua kukus mengalami kondensasi ie. M 1b
dianggap 0 [nol] dan m1a = m1

Pandangan atas
Gambar alat penguapan

III. ALAT DAN BAHAN


III.1. Alat yang digunakan
Satu unit peralatan Falling Film Evaporator
Beaker glass
Ember
Termometer
Sarung tangan
Stopwatch
Konduktometer
III.2. Bahan yang digunakan
Air kran

IV. PROSEDUR PERCOBAAN ( Pemanasan Langsung Oleh Steam)


Mengatur katup-katup yang harus tertutup dan yang harus terbuka. Katup-
katup yang harus tertutup rapat adalah V2, V4, V5, V6, V7 dan V8.
Memasukkan air ke dalam tangki umpan.
Menekan tombol 8 sampai lampu hijau (SP-W) menyala
Menekan tombol 10 (manual) sampai lampu kuning menyala
Menekan tombol 5.1 dan 5.2 warna kuning (OUT-Y) sampai menunjukkan
angka 9 %
Menekan tombol 13 sampai lampu hijau didekatkan menyala
Menekan tombol 12.1 dan 12.2 warna hijau (SP-W) sampai angka
ditampilkan 4 menunjukkan tekanan 1 bar
Menekan lagi tombol 13 sampai lampu warna hijau mati
Menekan tombol 8 sampai lampu merah [PV-X] menyala tampilan 4
sekarang menunjukkan tekanan operasi sebenarnya
Menekan tombol pompa umpan (kanan bawah panel), lampu hijau
menyala
Mengatur laju umpan 400 L/jam
Mencatat temperatur T1-1, T1-4, T1-6, T1-8, T1-10, T1-14, temperatur
produk, temperatur pelarut, tekanan steam, laju alir umpan, laju alir
produk, laju alir kondensat dari waktu 0 menit sampai 15 menit.

V. DATA PENGAMATAN
V.1. Kalibrasi Laju Alir
P = 0.1 bar
Run Massa =1 V t (s) Q (L/jam) Rata-rata
(g) (cm3) (l/jam)
g/cm3
1140 1 1140 20 205.2
1180 1 1180 20 212.4
1320 1 1320 20 237.6
I 259.4
1380 1 1380 20 248.4
900 1 900 20 162
960 1 960 20 172.8
960 1 960 20 172.8
168.3
II 920 1 920 20 165.6
1580 1 1580 20 284.4
1330 1 1330 20 239.4
III 1590 1 1590 20 286.2
273.6
1580 1 1580 20 284.4
V.2. Data Hasil Praktikum
V.3. T1 = Suhu steam
V.4. T4 = Suhu pemanas masuk ke dalam Falling Film Evaporator
V.5. T6 = Suhu keluar Heat Exchanger
V.6. T7 = Suhu air umpan
V.7. T8 =
V.8. T10 = Suhu kondensat
V.9. V.10. V.11. V.12. V.13. V.15. V.16. V.17. V.18. V.19. V.20. V.21. V.22. V.23.
Q DH
V.14.
V.24. V.27. V.29. V.30. V.31. V.32. V.33. V.35. V.36. V.37. V.38. V.39.
V.25. V.28. V.34.
2 28 0.1 0,09
V.26.

V.41. V.43. V.44. V.45. V.46. V.47. V.49. V.50. V.51. V.52. V.53.
V.42. V.48.
9 28 0.07 0,09

V.55. V.57. V.58. V.59. V.60. V.61. V.63. V.64. V.65. V.66. V.67.
V.56. V.62.
1 29 0.09 0,08

V.68.
V.69.
V.70.
V.71.
V.72.
V.73.
V.74.
V.75.
V.76. Perhitungan
Menghitung Massa Umpan
a. F = 168.3 lt/jam
g
1< x 1
cm 3
V.77. Untuk 15 menit proses maka: F = 168.3 jam x 1000 cm 3 x

15
60

V.78. = 42.075 kg
b. F = 259.4 lt/jam
g
1< x 1
cm 3
V.79. Untuk 15 menit proses maka: F = 259.4 jam x 1000 cm 3 x

15
60

V.80. = 64.85 kg
c. F = 273.6 lt/jam
g
1< x 1
cm 3
V.81. Untuk 15 menit proses maka: F = 273.6 jam x 1000 cm 3 x

15
60

V.82. = 68.40 kg
Volume destilat selama 15 menit
a. F umpan = 168.3 lt/jam
V.83. F destilat = 0.1 lt/menit
V.84. V =Fxt
V.85. = 0.1 lt/menit x 15 menit
V.86. = 1.5 Liter
1m3 Kg
x 1000
V.87. D (mv)=1.5 L x 1000 dm 3 m3

V.88. = 1.5 Kg
V.89.
V.90. F =P+D
V.91. 42.075 Kg = P + 1.5 Kg
V.92. P = 40.575 Kg
V.93.
b. F umpan = 259.4 lt/jam
V.94. F destilat = 0.075 lt/menit
V.95. V =Fxt
V.96. = 0.075 lt/menit x 15 menit
V.97. = 1.125 Liter
1m 3 Kg
x 1000
V.98. D (mv)=1.125 L x 1000 dm 3 m3

V.99. = 1.125 Kg
V.100.
V.101. F =P+D
V.102. 64.85 Kg = P + 1.125 Kg
V.103. P = 63.725 Kg
V.104.
c. F umpan = 273.6 lt/jam
V.105. F destilat = 0.040 lt/menit
V.106. V =Fxt
V.107. = 0.090 lt/menit x 15 menit
V.108. = 1.35 Liter
1m 3 Kg
x 1000
V.109. D (mv)=1.35 L x 1000 dm 3 m3

V.110. = 1.35 Kg
V.111.
V.112. F =P+D
V.113. 68.40 Kg = P + 1.35 Kg
V.114. P = 67.0.5 Kg
Menghitung Massa Steam
a. F umpan = 168.3 lt/jam
Cp = 1.5836 KJ/KgC (dari table steam)
V.115. Hg = 2716 KJ/Kg
V.116. Hf = 535KJ/Kg
V.117. T1. 10 = 63.2C T1. 7 = 26.3C
V.118. XT = 2182 KJ/Kg (didapat dari table steam)
V.119.
Q = m.Cp. dT
63.2 0
Kj
V.120.
Q1 = 26.3 40.575 Kg x 1.5836
Kg
Cx (63.226.3 0 C)

V.121. Q1 = 2370.99 Kj
V.122.
V.123.
xv = hg hf
V.124. = 2716 535 Kj/Kg
V.125. = 2181 Kj/Kg
V.126.
Q2 = mv . Xv
V.127. Q2 = 1.5 Kg x 2181 Kj/Kg
V.128. Q2 = 3271.5 Kj
V.129.
Qtotal = Q1 + Q2
V.130. Qtotal = 23.70.99 Kj + 3271.5 Kj
V.131. Qtotal = 5642.49 Kj
V.132.
Q total 5642.49 Kj
= =2.586 Kg
ms = XT 2182

V.133.
b. F umpan = 259.4 lt/jam
Cp 1.3972KJ/KgC (dari table steam)
V.134. Hg = 2685 KJ/Kg
V.135. Hf = 441.5 KJ/Kg
V.136. T1. 10 = 50.9 C T1. 7 = 26.5 C
V.137. XT = 2228.7 KJ/Kg (didapat dari table steam)
V.138.
Q = m.Cp. dT
50.9
Kj 0
V.139. Q1 = 63.725 Kg x 1.3972
Kg
Cx(50.926.50 C )
26.5

V.140. Q1 = 2172.49 Kj
V.141.
V.142.
xv = hg hf
V.143. = 2685 441.5 Kj/Kg
V.144. = 2243.5 Kj/Kg
V.145.
Q2 = mv . Xv
V.146. Q2 = 1.125 Kg x 2243.5 Kj/Kg
V.147. Q2 = 2523.94 Kj
V.148.
Qtotal = Q1 + Q2
V.149. Qtotal = 2243.5 Kj + 2523.94 Kj
V.150. Qtotal = 4767.44 Kj
V.151.
Q total 4767.44 Kj
= =2.139 Kg
ms = XT 2228.7

V.152.
c. F umpan = 273.6 lt/jam
Cp 1.768KJ/KgC (dari table steam)
V.153. Hg = 2737.2 KJ/Kg
V.154. Hf = 601.5 KJ/Kg
V.155. T1. 10 = 98.3 C T1. 7 = 26.6 C
V.156. XT = 2135 KJ/Kg (didapat dari table steam)
V.157.
Q = m.Cp. dT
98.3
Kj 0
V.158. 67.05 Kg x 1.768 Kg Cx (98.326.6 0 C )
Q1 = 26.6

V.159. Q1 = 8499.63 Kj
V.160.
V.161.
xv = hg hf
V.162. = 2737.2 601.5 Kj/Kg
V.163. = 2135.7 Kj/Kg
V.164.
Q2 = mv . Xv
V.165. Q2 = 1.35 Kg x 2135.7 Kj/Kg
V.166. Q2 = 12833.2 Kj
V.167.
Qtotal = Q1 + Q2
V.168. Qtotal = 8499.63 Kj + 2833.2 Kj
V.169. Qtotal = 11382.83 Kj
V.170.
Q total 11382.83 Kj
= =5.332 Kg
V.171. ms = XT 2135

V.172.
Menghitung massa cooling water
a. F umpan = 168.3 lt/jam
63.2

V.173. Qtotal = mcw . cp . dT


26.3

V.174. Qtotal = mcw . 1.5836 Kj/KgC . (63.2 26.3)


5642.49 Kj
V.175. =0,0966
mcw = 58.435 Kj /Kg m3

b. F umpan = 259.4 lt/jam


50.9

V.176. Qtotal = mcw . cp . dT


26.5

V.177. Qtotal = mcw . 1.3972 Kj/KgC . (50.9 26.5)


4767.44 Kj
V.178. =0,1398
mcw = 34.092 Kj /Kg m3
c. F umpan = 273.6 lt/jam
98.3

V.179. Qtotal = mcw . cp . dT


26.6

V.180. Qtotal = mcw . 1.768 Kj/KgC . (98.3 26.6)


11382.83 Kj
V.181. =0,0898
mcw = 126.7656 Kj /Kg m3

Menghitung kapasitas evaporato


a. F umpan = 168.3 lt/jam
Jumlah Uap 1.5 Kg
= =6 Kg /Jam
V.182. Jam 15
Jam
60

b. F umpan = 259.4 lt/jam


Jumlah Uap 1.125 Kg
= =4.5 Kg /Jam
V.183. Jam 15
Jam
60

V.184.
V.185.
c. F umpan = 273.6 lt/jam
Jumlah Uap 1.35 Kg
= =5.4 Kg/Jam
V.186. Jam 15
Jam
60

Menghitung efisiensi evaporator


a. F umpan = 168.3 lt/jam
Kg hasil destilat 1.5 Kg
= =0,5800 x 100 =58.00
V.187. Kg steam yang dibutu h kan 2.586 Kg

b. F umpan = 259.4 lt/jam


Kg hasil destilat 1.125 Kg
= =0,5259 x 100 =52.59
V.188. Kg steam yang dibutu h kan 2.139 Kg

c. F umpan = 273.6 lt/jam


Kg hasil destilat 1.35 Kg
= =0,2537 x 100 =25.37
V.189. Kg steam yang dibutu h kan 5.322 Kg

V.190.
Menghitung Koefisien Perpindahan Panas
V.191. V.192. Q V.193. T V.194. T V.195. T V.196. T V.197. V.198. U
F (kJ) steam steam umpan umpan (Kj/m2.K)
Tm
(lt/jam in (oC) out (oC) in (oC) out (oC)
)
V.199. V.200. 5 V.201. V.202. V.204. V.205.
168.3 642.49 101.4 63.2 27.1 32.0
V.203.
V.206.
17

V.207. V.208. 4 V.209. V.210. V.212. V.213.


259.4 767.44 106.3 50.9 24.7 18.3
V.211.
V.214.
25

V.215. V.216. 1 V.217. V.218. V.220. V.221.


273.6 1382.83 98.3 29.3 38.7
V.219.
V.222.
29

V.223.
V.224.
V.225. Data Hasil Perhitungan
V.226. P V.227. F V.228. Q V.229. V.230. U V.231. DHL V.232. DHL
(bar) (lt/jam) (kJ) (%) (Kj/m2.K) umpan destilat
(awal) (akhir)
V.233. V.235. 1 V.236. 5 V.237. V.238. V.239. V.240.
V.234. 0
68.3 642.49 58.00 175 0 0
.1

V.242. 2 V.243. 4 V.244. V.245. V.246. V.247.


59.4 767.44 52.59 259 0 0
V.249. 2 V.250. 1 V.251. V.252. V.253. V.254.
73.6 1382.83 25.37 293 0 0

V.255.
V.256.
V.257.
V.258.
V.259.

kurva hubungan antara F umpan Vs Koefisien perpindahan panas keseluruhan


350
300
250
200
150
100
50
0 U (kJ/m2.K)
U (kJ/m2.K)

F umpan (lt/jam)

V.260.
V.261.

kurva hubungan antara F umpan Vs efisiensi perpindahan panas


70

60

50

40
(%)
(%) 30

20

10

0
168.3 259.39999999999992 273.60000000000002

F umpan (lt/jam)

V.262.
V.263.
V.264.
V.265.
V.266.
VI. PEMBAHASAN
VI.1. Setelah melakukan percobaan Falling Film Evaporator (FFE) ini, maka dapat
dianalisa bahwa pada percobaan kali ini proses dilakukan secara langsung dengan menggunakan
steam.
VI.2.
VI.3.
VI.4.
VI.5.
VI.6.
VI.7.
VI.8.
VI.9.
VI.10.
VI.11.
VI.12.
VI.13.
VI.14.
VI.15.
VI.16.
VI.17.
VI.18.
VI.19.
VI.20.
VI.21.
VI.22.
VI.23.
VI.24.
VI.25.
VI.26.
VI.27.
VI.28.
VI.29.
VI.30.
VI.31.
VI.32.
VI.33.