Anda di halaman 1dari 22

PERKEMBANGAN EMBRIO AVES

MAKALAH

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Matakuliah SPH II


Yang dibina oleh Dra, Amy Tenzer, M.Si

Disusun oleh:

Kelompok 4/ Offering H
Ainul Mahmudah 150342603333
Chairil Akmal 150342602536
Madaniyatus Saidah 150342608308

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM


UNIVERSITAS NEGERI MALANG
JURUSAN BIOLOGI

Oktober 2016

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat,
taufik, dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul
Perkembangan Embrio Aves. Makalah ini dibuat dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah
Struktur Perkembangan Hewan II. Meskipun terdapat beberapa hambatan dalam proses
pengerjaan makalah ini, tetapi kami berhasil menyelesaikannya dengan tepat waktu.

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Dra, Ami Tenzer, M.Si selaku dosen mata kuliah Struktur Perkembangan Hewan II,
2. kedua orang tua kami yang telah memberikan dukungan moril dan spiritual,
3. seluruh teman seperjuangan Biologi kelas H tahun 2015, yang banyak membantu dan
memberi masukan dalam pengerjakan makalah ini, dan
4. semua pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu.
Penulis berharap adanya masukan yang bersifat membangun sehingga makalah ini dapat
lebih sempurna. Penulis juga berharap agar makalah ini nantinya dapat berguna bagi semua
kalangan.

Malang, 14 Oktober 2016

Penulis

2
DAFTAR ISI

Halaman judul................................................................................................................i

Kata pengantar.......ii

Daftar isi....iii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang............................................................................................1

1.2 Rumusan masalah........1

1.3 Tujuan ........................................................................................................2

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pembelahan pada Aves...............................................................................3

2.2 Gastrulasi dan Pembentukan Lapisan Germinal pada Aves.......................5

2.3 Proses Neurulasi Aves...............................................................................13

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan ..............................................................................................18

3.2 Saran ........................................................................................................18

Daftar Pustaka ............................................................................................................19

3
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Embriogenesis adalah proses pembentukan dan perkembangan embrio. Proses ini


merupakan tahapan perkembangan sel setelah mengalami pembuhan atau fertilisasi.
Embriogenesis meliputi pembelahan sel dan pengaturan di tingkat sel. Sel pada embriogenesis
disebut sebagai sebagai sel embrigenik. Secara umum, sel embriogenik tumbuh dan berkembang
melalui beberapa fase, antara lain sel tunggal (yang telah dibuahi), Blastomer, Blastula, Gastula,
Neurula, dan Embrio atau Janin. Setelah fertilisas zigot mulai membentuk suatu organisme
multiseluler dimulai dengan proses pembelahan yaitu urutan pembelahan mitosis membagi
volume telur menjadi banyak sel-sel kecil. Selama tahapan pembelahan tidak terjadi
pertambahan volume embri, jadi walaupun terjadi pembelahan sel tetapi tidak diikuti dengan
pertumbuhan sel. Ciri khas stadium pembelahaan adalah bahwa pembelahan berlangsung tanpa
istirahat dan rasio inti sitoplasma bertambah kecil. Pembelahan blastomer terdiri atas
pembelahan inti (kariokenesis) yang kemudian diikuti oleh pembelahan sel (sitokenesis), dan
alur pembelahan sama dengan bidang metaphase dari fase mitosis yang telah dialaminya.
Salah satu peristiwa yang terjadi dalam reproduksi adalah rangkaian tahapan
perkembangan janin atau embrio. Pada tahap ini terjadi perkembangan yang signifikan dari janin.
Mulai dari awalnya hanya serupa satu sel kemudian terus membelah menjadi beberapa sel dan
akhirnya berbentuk organisme sempurna yang terdiri dari ribuan bahkan jutaan sel, polar dasar
perkembangan embrio aves dan embrio katak, yaitu melalui tahapan pembelahan, blastula,
gastrula, neurula dan organogenesis. Pembelahan aves merupakan pembelahan meroblastik,
artinya pembelahan hanya berlangsung dikeeping lembaga saja. Semua proses tersebut
merangkum dalam beberapa tahapan seperti tahapan morula, blastula, gastrula, dan
organogenesis.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana pertumbuhan dan perkembangan embrionik aves ?
2. Bagaimana tahap tahap pembelahan zigot aves ?
3. Bagaimana proses neurulasi pada aves ?
4. Apa sajakah ciri khas proses embriogenesis Aves ?

4
1.3 Tujuan
1. Mengetahui pertumbuhan dan perkembangbiakan embrionik aves
2. Mengetahui tahapan pembelahan zigot aves
3. Mengetahui proses neurulasi pada aves
4. Mengetahui ciri khas proses embriogenesis Aves

5
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pembelahan Pada Aves

Tipe pembelahan zigot aves

Aves termasuk dalam amniota, yaitu vertebrata yang dalam embrionya terdapat amnion,
sama seperti reptile dan mamalia . Aves dan reptil miliki perkembangan yang hampir sama, tapi
perkembangan aves lebih maju dari reptile menurut(Gillbert,2006).

Awal perkembangan embrio ayam atau aves menunjukkan bahwa splanknopleura dan
somatopleura meluap keluar dari tubuh embrio hingga di atas yolk. Daerah luar tubuh embrio
dinamakan daerah ekstra embrio. Mula-mula tubuh embrio tidak mempunyai batas sehingga
lapisan-lapisan ekstra embrio dan intra embrio saling berkelanjutan. Dengan terbentuknya tubuh
embrio, secara berurutan terbentuk lipatan-lipatan tubuh sehingga tubuh embrio hampir terpisah
dari yolk. Adanya lipatan-lipatan tubuh, maka batas antara daerah intra dan ekstra embrio
menjadi semakin jelas. Daerah kepala embrio mengalami pelipatan yang disebut dengan lipatan
kepala dan meisahkan antara bagian intra dan ekstra embrio. Lipatan kepala membentuk sub
sephal. Pada bagian lateral tubuh juga terbentuk lipatan tubuh lateral dan memisahkan bagian
ekstra dan intra embrio. Bagian posterior mengalami pelipatan dan dukenal dengan nama lipatan
ekor membentuk kantung sub kaudal. Lipatan-lipatan tersebut embentuk dinding saluran
percernaan primitive. Bagian tengah usus tengah yang menghadap yolk tetap terbuka dan pada
daerah ini, dinding kantung yolk berhubungan dengan dinding usus pada kantung yol. Walaupun
kantung yolk berhubungan dengan usus melalui tangkai yolk, namun makanan tidak diambil
embrio melalui tangkai yolk (Adnan, 2008).

Ayam lokal( Gallus galus ) menjadi organisme favorit dalam studi embriologi. Karena
telur ayam berukuran besar sehingga mudah untuk diamati, selain itu perkembangan pada telur
ayam dapat diprediksikan secara akurat, dan pergerakan selnya menyerupai pergerakan sel pada
mamalia menurut (Gillbert,2006). Bagian kuning telur beserta blastodiskusnya pada aves
merupakan sel tunggal (ovum). Besarnya sel telur ini bisebabkan oleh banyaknya timbunan zat
cadangan makanan (yolk) di dalamnya komponen telur lainnya adalah putih telur, membrane

6
cangkang telur, dan cangkang telur bersifat nonseluler dan dihasilkan ketika sel telur melalui
saluran reproduksi betina menurut (Sugiyanto,1996).

Fertilisasi pada aves terjad di oviduk, tepatnya di infundibulum sebelum albumin dan
cangkang telur menyelubunginya.Tipe telur aves adalah telolecital, yaitu sel telur yang banyak
mengandung yolk dan hampir mengisi seluruh isi telur, sedangkan inti dan sedikit sitoplasma
menempati hanya bagian puncak dari animal menurut (Sugiyanto,1996 ).

Tipe pembelahan pada aves adalah meroblastic diskoidal, sama seperti pisces dan reptil.
Alur pembelahanhanya terjadi pada bagian tengah blastodiskus. Blastodiskus adalah suatu
struktur berbentuk cakram atau keeping keputihan padatelur yang baru dibuahi (zigot),
bastodiskus merupakan protoplasma aktif yang berdiameter kurang lebih 3 mm dan terdapat di
kutub animal. Daerah seputar blastodiskus tampakgelap dan disebut periblas (Sugiyanto,1996).
Pembelahan tidak terjadi pada sitoplasma yang mengandung banyak yolk (Gillbert,2006).

Mekanisme pembelahan zigot aves

Seluruh periode pembelahan pada aves terjadi pada waktu telur bergerak melewati oviduk
pada saat dikeluarkan embrio aves telah berada pada stadium gastrula (Lestari,dkk,2013).
Tahapan pembelahan embrio aves tidak selalu beraturan dan setelah pembelahan kelima
prosesnya sudah tidak sinkron lagi (Sugiyanto,1996),

Gambar menunjukkan terjadinya pembelahan sel telur burung. Gambar tersebut mewakili
bentukan permukaan dari blastodisc dan area yang menyelimuti yolk, sel, dan albumin. Pada
bagian A menunjukkan pembelahan sel I secara vertikal, membelah tepat pada sumbu dari
blastodskus namun tidak menembus seluruh permukaan telur. Pada bagian B menujukkan
embelahan sel II, secara horizontal (tegak lurus dengan pembelahan I). pembelahan III secara
vertikal memotong alur dari pembelahan II, baik di sebelah kiri maupun kanan. Pembelahan IV
secara sirkumferensial (melingkar) yang memotong bagian tengah deretan blastomer dari daerah
periferal, pembelahan V terjadi pada 4 bidang pembelahan meridian atau vertikal yang asimetris,
sehingga menghasilkan 32 sel. Pembelahan selanjutnya tidak dapat diikuti. Pembelahan
selanjutnya tidak teratur,ada yang melalui bidang vertikal maupun horizontal dan ada juga yang
sebelum selesai satu pembelahan terjadi pembelahan berikutnya (Lestari,dkk,2013).

7
Blastomer-blastomer yang terbentuk dari hasil beberapa pembelahan awal, dar bagian
atas dan pinggir tertutup oleh membran plasma, tetapi terbuka pada bagian bawahnya.
Pembelahan selanjutnya menyebabkan embrio semakin meluas secara radial kearah periblas. Sel-
sel yang terdapat pada blastoderm di daerah perifer jarang berinti. Selain pembelahan yang
terjadi di daerah permukaan telur, pada embrio 32 sel memperhatikan pola pembelahan yang
berbeda. Pada saat ini bidang pembelahan menjadi secara ekuatorial di bawah permukaan lapsan
sel berinti, sehingga sel-sel tersebut terbagi menjadi dua lapisan, yaitu lapisan atas dan lapisan
bawah yang terbaras dengan yolk. Pembelahan selanjutnya yang sejenis menyebabkan sel
berlapis-lapis. Pembelahan terjadi secara sentrifugal ketka blastoderm membesar pada
salurannya, tetapiperluasannya tidak sampai mencapai daerah paling tepi. Hal ini demikian
membuat sebagian tepi daerah perifer blastoderm masih mempunyai ketebalan selapis sel. Ketika
embrio mencapai kurang lebih 100 sel, bagian dasar blastoderm berbatasan dengan rongga
subgerminal (Lestari,dkk,2013).

2.2 Gastrulasi dan Pembentukan Lapisan Germinal pada Aves

Gastrulasi merupakan pembentukan lapisan lembaga dan menempatkanya ditempat yang


semestinya, ektoderm paling luar, mesoderm di tengah, dan endoderm berada paling dalam.
Lapisan lembaga merupakan bahan baku untuk organogenesis. Selain itu, akan dibentuk

8
arkenteron atau bakal saluran pencernaan makanan dan sumbu anterior-posterior embrio(Lestari,
2013).

Setelah selesai tahap pembelahan selanjutnya sel-sel blastoderm akan bermigrasi secara
individual kedalam rongga subgerminal, kemudian beragregasi dan dengan proses delaminasi
terbentuk lapisan kedua. Kemudian embrio aves terdiri atas dua lapisan, yaitu laipasan atas
(epiblas) dan lapisan bawah (hipoblas) dan blastosol yang berada diantaranya. Bergabungnya
hipoblas primer dan hipoblas sekunder dari bagian posterior embrio (Kollers sickle). Hal
tersebut sebagai tahap pragastrulasi (Lestari,2013).

Proses pembentukan epiblast dan hipoblast

Gambar. Pembentukan epiblast dan hipoblast (Gilbert, 2000)

Pembentukan dua lapisan dari sel-sel blastoderm pada embrio ayam. (A, B) beberapa sel
blastoderm berdelaminasi ke dalam rongga subgerminal(C)sel hipoblas terbentuk memanjang
mengarah kebagian anterior . sel epiblast berkumpul dari anterior ke daerah sabit Koller untuk
membentuk streak primitif.

9
Proses umum gastrulasi pada aves

Gambar. Proses Grastulasi pada Aves (Campbell, 2010)

Gastrulasi pada embrio ayam (aves). (a, b) hasil pembelahan Meroblastik dalam
pembentukan blastoderm. (c) Sel blastoderm naik dari yolk dan membentuk menjadi dua lapisan
epiblast dan hypoblast. (d) Gastrulasi menghasilkan perpindahan (migrasi) sel epiblast kedalam
alur memanjang yang disebut Alur primitif. Sel-sel bermigrasi membentuk mesoderm dan
endoderm, dan sel-sel yang tersisa dalam bentuk epiblast ektoderm (Campbell, 2010).

Ciri utama dari gastrulasi Aves adalah adanya daerah unsur primitif (primitive streak).
Daerah ini mula-mula tampak sebagai suatu penebalan pada bagian tengah dari area pelucida
bagian posterior yang disebabkan karena adanya migrasi sel-sel dari daerah posteriolateral ke
bagian tengah area pelucida. Pembentukan alur primitif merupakan awal gastrulasi dan ditandai
dengan terjadinya penebalan di bagian posterior yang mula-mula bentuknya menyerupai segitiga.
Bagian penebalan menyempit, bergerak ke anterior dan mengerut membentuk suatu parit yang
disebut daerah unsur primitif. Lekukannya disebut lekukan primitif dan berperan sebagai
blastoporus. Pada ujung anterior terjadi penebalan disebut nodus Hensen (Hensen node). Bagian
tengah nodus Hensen berbentuk sebagai suatu sumur dan melalui tepinya akan dilalui oleh sel-
sel yang masuk ke rongga blastula. Gastrulasi pada Aves dilaksanakan oleh sel-sel yang

10
bergerak secara sendiri-sendiri serta terkoordinasi, dari luar masuk ke dalam embrio, bukan
melalui gerakan sel bersama dalam bentuk suatu lempengan. Gastrulasi pada Aves tidak
membentuk archentron sejati. (Yatim, 1994).

Gambar. Gastrulasi pada embrio ayam (Campbell, 2010).

Blastula ayam terdiri dari lapisan sel-sel bagian atas (epiblas) dan lapisan bagian bawah
(hipoblas), dengan ruang (blastosol) diantara keduanya. Ini adalah irisan melintang disisi kanan
alur primitif, mengarah keujunganterior embrio yang sedang bergastrulasi. Selama gastrulasi,
beberapa sel-sel epiblas bermigrasi(anak panah) kebagian interior embrio melalui jalur primitif.
Sebagian dari sel-sel ini bergerak kebawah dan membentuk endoderm,mendorong sel-sel
hipoblas kepinggir, sementara yang lain bermigrasi secara lateral dan membentuk mesoderm.
Sel-sel yang tertinggal di permukaan embrio pada akhir grastulasi akan menjadi ektoderm
(Campbell, 2010).

Adanya sel-sel botol akan menyebabkan sel-sel dibelakangnya untuk bermigrasi juga.
Setelah melewati parit primitif, sel-sel botol kembali ke bentuknya semula. Sel-sel presumtif
endoderm akan beringresi lebih jauh ke atas blastosol dan menyelinap dalam hipoblas, serta
mendesak hipoblas semula, selanjutnya akan diisi oleh endoderm intraembrio dan menjadi atap
dari rongga subgerminal yang ada di bawah blastosol. Rongga subgerminal tersebut akan

11
menjadi arkenteron. Pada unggas, arkenteron bukanlah suatu rongga baru yang dibentuk oleh
suatu gerakan morfogenetik. Arkenteron ini baru atapnya saja berupa lapisan selular, yakni
endoderm, tetapi belum mempunyai dinding lateral yang selular, yakni endoderm, tetapi belum
mempunyai dinding lateral yang selular, dan alasnya pun masih yolk dan inert nonseluler, alas
dan dinding lateral yang terdiri dari endoderm, baru dibentuk setelah ada pelipatan-pelipatan
pemisah wilayah antarembrio dan ekstraembrio. (Lestari, dkk., 2013)

Gambar. Pergerakan alur primitif (Streak Primitive) (Gilbert, 2000)

12
Gerakan sel dari streak primitif embrio ayam. (A-C) lihat punggung pembentukan dan
pemanjangan streak primitif. blastoderm terlihat di (A) 3-4 jam, (B) 7-8 jam, dan (C) 15-16 jam
setelah pembuahan. Gerakan awal sel epiblast bermigrasi ditunjukkan oleh anak panah. (D-F)
Pembentukan notochord dan mesoderm somit sebagai streak primitif regresi, ditampilkan di (F)
19-22 jam, (E) 23-24 jam, dan (F) tahap empat somite. peta nasib epiblast cewek ditunjukkan
untuk dua tahap, definitif primitif streak tahap (C) dan neurulasi (F). endoderm telah ingressed
bawah epiblast, dan ekstensi konvergen terlihat di garis tengah. (Gilbert, 2000).

Alur primitif unggas, homolog dengan blastoporus katak, sebab merupakan tempat
bermigrasinya sel-sel dari permukaan ke dalam embrio. Nodus Hensen, yang dibangun terutama
oleh sel-sel yang akan membentuk notokorda, dianggap homolog dengan bibir dorsal blastoporus
sebab dapat menginduksi pembentukan keping neural bila ditransplasntasikan ke epidermis
(Sudarwati, 1990).

Gambar 2.6.3. Penyebaran mesoderm hasil ingresi ke seluruh arah pada blastoderm
(Lestari, 2013)

Ingresi sel-sel persumtif mesoderm tidak sejauh migrasi bakal endoderm, tidak sampai ke
lapisan hipoblas, namun tetap di dalam blatrosol dan berupa mesenkim bebas yang tidak

13
berkelompok. Sel-sel itu akan membentuk mesoderm intraembri, terletak di antara ektoderm dan
endoderm, kemudian menyebar ke arah lateral, posterior, dan interior. Daerah interior untuk
sementara belum mendapat mesoderm, sehingga tempat ini baru dibangun oleh lapisan ektoderm
dan endoderm. Dari permukaan, wilayah blastoderm dalam mendapat mesoderm tampak lebih
bening dan disebut sebagai proamnion. Makin lanjut umur embrio, proamnion pun akan semakin
mengecil dan akhirnya menghilang karena sudah sama dengan wilayah lainnya pada ektoderm
yaitu memiliki ketiga lapisan lembaga. Proamnion bukanlah bakal amnion (Lestari, dkk., 2013)
Saat terjadinya migrasi sel-sel melalui parit primitif disebut tahap utama gastrulasi yang
merupakan saat terpenting dalam gastrulasi. Setelah wilayah persumtif semuanya pindah ke
tempat yang semestinya, maka permukaan embrio hanya terdiri atas ektoderm. Ektoderm terus
berepiboli agar dapat merangkum dan menutup yolk. Yolk pada unggas sangatlah banyak, sel-sel
yang berperan penting dalam epiboli adalah sel-sel marginal pada perbatasan antara area pelusida
dan opaka yang masih menempel pada yolk. Sel-sel marginal ini bertautan erat dengan membran
vitelin dan menyeret sel-sel lain untuk meluas. Perluasan ektoderm terjadi serempak dalam
bentuk hamparan (Lestari, dkk., 2013)

Gambar .Regresi alur primitif dan pertumbuhan notokorda(Claudio, 2012)

14
Gambar 2.6.5. Pembentukan notokorda dan sel-sel yang bermigrasi lewat nodus Hansen
(Claudio, 2012)

Fase selanjutnya dari gastrulasi ialah regresi alur primitif. Alur primitif yang sudah
mencapai panjang maksimum, kira-kira 75% dari panjang blastoderm akan mulai memendek
ditandai dengan mundurnya nodus Hensen. Sel-sel nodus Hensen dan presumtif notokorda yang
beringresi dan berinvolusi lewat nodus ini, bermigrasi ke arah anterior membentuk mesoderm
kepala (mesenkim) di paling anterior dan diikuti oleh notokorda. Pembentukan notokorda sejalan
dengan melarutnya membran basal di bawahnya dan di bawah epiblas, serta oleh adanya faktor
penyebab yang dihasilkan hanya oleh nodus Hensen. Bakal notokorda yang baru muncul dari
nodus hensen ke arahinterior disebut sebagai head process. Mundurnya nodus Hensen sejalan
dengan terbentuknya notokorda bagian posterior. Pembentukan notokorda bagian posterior bukan
dengan ingresi lewat nodus Hensen melainkan dengan berkondensasinya mesoderm yang
menyebar ke bagian posterior (Sudarwati,1990).

15
Gambar .Pembentukan notokorda (Voiculescu, 2007)

Pada akhirnya, nodus Hensen dan alur primitif akan habis, sedangkan bagian intraembrio
akan tampak memanjang pada bagian blastoderm dan ujung posterior hingga ke anterior. Pada
akhir gastrulasi, seperti halnya pada amfibia dihasilkan ketiga macam lapisan lembaga,
notokorda, dan arkenteron tetapi masih belum terjadi pemisahan antara bagian intraembrio dan
ekstraembrio (Sudarwati, 1990).

2.3 Proses Neurulasi Aves


Pembentukan yang mengiringi pembentukan gastrula ialah neurulasi atau tubulasi
(pembumbungan). Neurulasi merupakan proses awal pembentukan sistem saraf yang melibatkan
perubahan sel-sel ektoderm bakal neural, dimulai dengan pembentukan keping neural, lipatan
neural dan berakhir dengan terbentuknya tabung neuron (neural tube) (Roesma, 2008).
Tahap-tahap Neurulasi

16
Gambar tahapan neurulasi (Gilbert, 2000)

1. Pembentukan neural plate


Setelah fase gastrulasi selesai maka berlanjutlah pada fase neurulasi. Pada tahap awal
Notochord ( Sumbu primitif embrio dan bakal tempat vertebral column ) menginduksi ektoderm
di atasnya. Sel sel ectoderm berubah menjadi panjang dan tebal daripada sel disekitarnya atau
disebut juga dengan poliferasi menjadi lempeng saraf (neural plate). Pembentukan ini terleak
pada bagian dorsal embrio tepatnya di daerah kutub animal.

Gambar. Perkembagan Neural Plate (Gilbert, 2000)

17
2. Pembentukan neural fold
Setelah neural plate terbentuk, maka akan diikuti dengan penebalan bagian neural plate
itu sendiri. Karena pertumbuhan dan perbanyakan sel ectoderm epidermis lebih cepat
dibandingkan dengan pertumbuhan ectoedrm neural, mengakibatkan lapisan neural plate menjadi
tertekan dan mangalami pelekukan ke bagian dalam (invaginasi) . Bagian Pelekukan inilah yang
disebut sebagai neural fold.

Gambar.Pembentukan Neural Fold (Gilbert, 2000)

3. Pembentukan neural groove


Terbentunya neural fold atau lebih sederhananya adalah pematang neural yang
merupakan lipatan dari kedua sisi lempeng neural secara bersamaa akan didiringi dengan
terbentuknya neural groove, atau parit neural. Yaitu bagian paling dasar dari lipatan ectoderm
neural itu sendiri

Gambar.Tabung Neural (Kalthoff, 1996)

18
4. Pembentukan neural tube
Karena pertumbuhan ectoderm epidermis lebih cepat, maka akan semakin mendorong
lipatan neural yang telah terbentuk, mengakibatkan fusi anatara neural fold bagian kanan serta
neural fold pada bagian kiri. Pada akhirnya terbentuk tabung/bumbung saraf (neural tube)
dengan lubangnya yang disebut neural canal atau neurocoel.

Pada perkembngan selanjutnya, neural tube akan menjadi organ beirkut ini.
a. Otak dan sumsum tulang belakang.
b. Saraf tepi otak dan tulang belakang.
c. Bagian persarafan indra seperti mata, hidung dan kulit.
d. Chromatophore kulit dan alat-alat tubuh yang berpigmen.

Saat awal terbentunya, neural tube akan memiliki dua ujung yang belum menutup, yang
dinamakan neurophore.
a. Neurophore anterior, yang akan membentuk otak dan bagian-bagiannya.
b. Neurophore posterior, yang akan membentuk fleksura atau lipatan yang terdapat dalam otak,
dan berperan dalam menentukan daerah-daerah otak.

19
Gambar Proses Menutupnya Bumbung Neural (kenyon,2008)

Jaringan pada daerah pertemuan pinggir-pinggir tabung itu memisah dari tabung sebagai
pial neuron (neural crest). Sel-sel neural crest tersebut bergerak dari neural tube dan
menghasilkan banyak variasi struktur jenis sel, seperti sel tulang, sel tulang rawan di tengkorak,
sel-sel pigment kulit dan sel-sel ganglion punggung dan saraf otak. (Campbell, 2002). Epidermis
dan neural plate mampu membentuk sel-sel neural crest. Pada peristiwa ini notochord juga
berperan untuk menginduksi pembentukan neural plate (Kenyon, 2008).
Sebuah embrio dengan tabung neuron (neural tube) yang sudah selesai terbentuk
mempunyai banyak somit yang membentuk notokord. Somit terbentuk dari pemanjangan
mesoderm yang memisah menjadi blok-blok, tersusun berseri pada kedua sisi sepanjang
notokord itu.

Gambar. Pembentukan neural tube (Kalthoff,1996)

20
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Aves mempunyai tipe telur Megalesital. Pada tipe telur ini tipe pembelahan yang terjadi
adalah Meroblastik yang disebut juga tipe Partial karena sebelum satu pembelahan selesai
pembelahan tahap selanjutnya sudah terjadi. Pembelahan pada embrio Aves tepatnya berada pada
germinal disc, karena pembelahan yang dilakukan hanya pada bagain inti sel yang berada pada
kutub animal dan jika dilihat dari bagian sisi atas pada saat pembelahan atau hasil morulanya
berbentuk seperti piringan (disc).
Neurulasi dimulai dengan pembentukan lempeng neuron (neural plate), suatu lapisan
ectoderm yang tebal yang menyebabkan sel-sel epitel cuboidal menjadi columnar (Kenyon,
2008). Setelah notokord terbentuk, lempeng neuron (neural plate) melipat ke arah dalam dan
menggulung diri menjadi tabung neuron (neural tube).
Aves memiliki ciri khas pada proses gastrulasinya yakni adanya daerah primitif (primitive
streak). Perbedaan utama antara perkembangan lanjut mesoderm Aves ialah karena tidak seluruh
mesoderm lateral Aves akan membentuk bagian intraembrio. Perbedaan lainnya yaitu bahwa
embrio Aves terdapat pada suatu daerah berbentuk diskus (blastodiskus atau blastoderm),
sedangkan embrio amfibia dan amfioksus terdapat dalam bentuk bola atau silindris.

3.2 Saran

Selanjutnya untuk pembuatan makalah tentang perkembangan embrio aves, harus


menyertakan rujukan pada setiap kutipan yang dipergunakan, dan selalu memberikan keterangan
pada setiap gambar yang disertakan. Memperbanyak referensi pendukung materi, agar lebih luas
pemahamannya mengenai perkembangan emrio aves.

21
DAFTAR PUSTAKA

Adnan. 2008. Perkembangan Hewan. Makassar: Jurusan Biologi FMIPA UNM.

Campbell, N.A., J.B. Reece, & L. G. Mitchell. 2010. Biologi. Edisi ke-8. Terj. Dari: Biology. 8th
ed. oleh Manulu, W. Jakarta: Erlangga.

Gilbert, S. F. (2000). Developmental Biology (6th edition ed.). Sunderland: Sinauer Associates.

Kalthoff, Klaus. 1996. Analysis of Biological Development. Mc Graw-Hill Mc, New York.

Kimball, John W. 1992. Biology. Addison-Wesley Publishing Company, Inc., New York.

Lestari, Umi, dkk. 2013. Struktur Perkembangan Hewan II. Malang : FMIPA Universitas Negeri
Malang

Stern, Claudio .D., and Karen M. Downs. 2012. The hypoblast (visceral endoderm): an evo-devo
perspective. Development. Vol.139(6). Hal :1059-1069.

Sudarwati, Sri.1990. Dasar Dasar Perkembangan Hewan. Bandung : FMIPA ITB

Sudarwati, Sri.1990. Dasar Dasar Perkembangan Hewan. FMIPA ITB

Sugiyanto.1996.Perkembangan hewan. Fakultas Biologi UGM:Yokyakarta.

Voiculescu, O., Federica, B., Lewis, W., Ray, E. K., and Claudio D. S. 2007. The amniote
primitive streak is defined by epithelial cell intercalation before gastrulation. Nature.
Vol.449. Hal :1049-1052.

Yatim, Wildan. (1994). Reproduksi dan Embriologi. Bandung : Tarsito

22