Anda di halaman 1dari 11

Nama : Hartini Adha Dewi

Nim : M1B114020

Metode Penyerapan Absorpsi dan Adsorpsi terhadap Pengaruh Kadar FFA

1. Pengertian Absorpsi, Adsorpsi, dan FFA


Absorpsi adalah proses pemisahan bahan dari suatu campuran gas dengan cara
pengikatan bahan tersebut pada permukaan absorben cair yang diikuti dengan pelarutan.
Kelarutan gas yang akan diserap dapat disebabkan hanya oleh gaya-gaya fisik (pada
absorpsi fisik) atau selain gaya tersebut juga oleh ikatan kimia (pada absorpsi kimia).
Komponen gas yang dapat mengadakan ikatan kimia akan dilarutkan lebih dahulu dan juga
dengan kecepatan yang lebih tinggi. Karena itu absorpsi kimia mengungguli absorpsi fisik.
(Ginting, 2008)
Terdapat beberapa jenis absorpsi diantaranya:
Absorbsi fisik
Absorbsi fisik merupakan absorbsi dimana gas terlarut dalam cairan penyerap tidak
disertai dengan reaksi kimia. Contoh absorbsi ini adalah absorbsi gas H 2S dengan air,
metanol, propilen, dan karbonat. Penyerapan terjadi karena adanya interaksi fisik, difusi
gas ke dalam air, atau pelarutan gas ke fase cair.
Absorbsi kimia
Absorbsi kimia merupakan absorbsi dimana gas terlarut didalam larutan penyerap
disertai dengan adanya reaksi kimia. Contoh absorbsi ini adalah absorbsi dengan adanya
larutan MEA, NaOH, K2CO3, dan sebagainya. Aplikasi dari absorbsi kimia dapat dijumpai
pada proses penyerapan gas CO2 pada pabrik amoniak.
Adsorpsi adalah merupakan suatu proses yang terjadi ketika suatu fluida (cairan
maupun gas) terikat pada padatan dan akhirnya membentuk suatu lapisan tipis pada
permukaan tersebut. Dalam adsorpsi digunakan istilah adsorbat dan adsorban, dimana
adsorbat adalah substansi yang terjerap atau substansi yang akan dipisahkan dari
pelarutnya, sedangkan adsorban adalah merupakan suatu media penyerap yang dalam hal
ini berupa senyawa karbon.(Webar, 1972)
Ditinjau dari bahan yang teradsorpsi dan bahan pengadsorben adalah dua fasa yang
berbeda, oleh sebab itu dalam peristiwa adsorbsi, materi teradsorpsi hanya akan terkumpul
dan menempel di permukaan adsorben. Menurut prosesnya adsorpsi ada 2 macam:
Adsorpsi Kimia
Adsorpsi kimia terjadi karena adanya reaksi antara molekul-molekul adsorbat dengan
adsorben, dimana terbentuk ikatan kovalen dengan ion. Adsorbsi ini bersifat tidak
reversible dan hanya membentuk lapisan (monolayer). Umumnya terjadi pada temperatur
tinggi, sehingga panas adsorpsi tinggi. Adsorpsi ini terjadi dengan pembentukan senyawa
kimia, hingga ikatannya lebih kuat.
Adsorpsi Fisika
Adsorpsi fisika terjadi apabila gaya intermolekuler lebih besar dari gaya tarik antar
molekul atau gaya tarik menarik yang relative lemah antara adsorbat dengan permukaan
adsorben. Gaya ini disebut gaya Van Der Waals, sehingga adsorbat dapat bergerak dari satu
bagian permukaan ke bagian permukaan lain dari adsorben. Panas adsorpsi rendah,
berlangsung cepat, dan kesetimbangan adsorpsi bersifat reversible (dapat bereaksi balik),
dan dapat membentuk lapisan jamak (multilayer).
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Adsorpsi:
a. Adsorben : Tiap jenis adsorben punya karakteristik tersendiri, artinya sifat dasar dari
adsorben yang berperan penting.
b. Adsorbat : Dapat berupa zat padat elektrolit maupun non-elektrolit. Untuk zat
elektrolit adsorpsinya besar,karena mudah mengion, sehingga antara molekul-
molekulnya saling tarik menarik, untuk zat non-elektrolit adsorpsinya sangat kecil.
c. Konsentrasi : Makin tinggi konsentrasi larutan, kontak antara adsorben dan adsorbat
akan makin besar, sehingga adsorpsinya juga makin besar.
d. Luas Permukaan : Semakin luas permukaan adsorben, gaya adsorpsi akan besar
sebab kemungkinan zat untuk diadsorpsi juga makin luas. Jadi, semakin halus suatu
adsorben, maka adsorpsinya makin besar.
e. Temperatur: Temperatur tinggi, molekul adsorbat bergerak cepat, sehingga
kemungkinan menangkap atau mengadsorpsi molekul-molekul semakin sulit.
Mekanisme proses adsorpsi dapat digambarkan sebagai proses dimana molekul
meninggalkan larutan dan menempel pada permukaan zat adsorben akibat kimia dan fisika.
Kriteria adsorben yang baik :
1. Adsorben-adsorben digunakan biasanya dalam wujud butir berbentuk bola, belakang
dan depan, papan hias tembok, atau monolit-monolit dengan garis tengah yang
hidrodinamik antara 05 dan 10 juta.
2. Harus mempunyai hambatan abrasi tinggi.
3. Kemantapan termal tinggi.
4. Diameter pori kecil, yang mengakibatkan luas permukaan yang diunjukkan yang
lebih tinggi dan kapasitas permukaan tinggi karenanya untuk adsorbsi.
5. Adsorben-adsorben itu harus pula mempunyai suatu struktur pori yang terpisah jelas
yang memungkinkan dengan cepat pengangkutan dari uap air yang berupa gas.
Faktor-faktor yang mempengaruhi absorpsi:
1) Laju alir air. Semakin besar,penyerapan semakin baik.
2) Komposisi dalam aliran air. Jika terdapat senyawa yang mampu beraksi dengan
CO2(misalnya NaOH) maka penyerapan lebih baik.
3) Suhu operasi.Semakin rendah suhu operasi,penyerapan semakin baik.
4) Tekanan operasi.Semakin tinggi tekanan operasi, penyerapan semakin baik sampai
pada batas tertentu. Diatas tekanan maksimum (untuk hidrokarbon biasanya 4000-
5000 kPa), penyerapan lebih buruk.
5) Laju alir gas. Semakin besar laju alir gas,penyerapan semakin buruk.
Asam lemak bebas (FFA) adalah asam lemak yang berada sebagai asam bebas tidak
terikat sebagai trigliserida. Asam lemak bebas dihasilkan oleh proses hidrolisis dan
oksidasi biasanya bergabung dengan lemak netral. Hasil reaksi hidrolisa minyak sawit
adalah gliserol dan ALB.(Sokarjo, 2003)
Salah satu faktor utama penentu keberhasilan produksi biodiesel adalah kadar FFA.
Kadar FFA yang tinggi dalam produksi biodiesel mampu memicu terjadinya reaksi
saponifikasi yang akan berakibat pada penurunan kadar FAME (fatty acid methyl ester).
Reaksi saponifikasi ini merupakan reaksi yang terjadi antara asam lemak bebas (FFA)
dengan katalis basa, sehingga efektifitas katalis akan menurun karena sebagian katalis
bereaksi dengan asam lemak. Selain itu, kondisi tersebut akan menurunkan kadar metil
ester yang dihasilkan dan mempersulit proses pemisahan metil ester dengan gliserol.
Biodiesel adalah bahan bakar alternatif untuk mesin diesel yang dihasilkan dari reaksi
transesterifikasi antara minyak nabati atau lemak hewani yang mengandung trigliserida
dengan alkohol seperti metanol dan etanol. Reaksi transesterifikasi ini memerlukan katalis
basa kuat seperti natrium hidroksida atau kalium hidroksida sehingga menghasilkan
senyawa kimia baru yang disebut dengan metil ester. Salah satu contoh minyak nabati yang
dapat dimanfaatkan untuk pembuatan biodiesel antara lain minyak goreng bekas. Bahan ini
dinilai lebih ekonomis dan berdayaguna. Namun kekurangannya adalah kandungan asam
lemak bebas (Free Fatty Acid, FFA) yang tinggi danadanya senyawa pengotor lainnya.
Kadar FFA yang tinggi dapat menghambat reaksi pembentukan biodiesel, karena KOH
yang digunakan sebagai katalis akan bereaksi dengan FFA membentuk sabun. Selain itu
sabun yang dihasilkan akan mempersulit separasi pemurnian biodiesel. Oleh karena itu
perlu diadakan pretreatment terhadap minyak goreng bekas sebelum diproses menjadi
biodiesel agar kandungan FFAnya dapat diturunkan. Melakukan proses esterifikasi untuk
menurunkan kandungan FFA dalam minyak goreng bekas. Produk esterifikasi selanjutnya
dilakukan transesterifikasi.
Permasalahan yang timbul adalah katalis asam sulfat yang digunakan pada proses
esterifikasi sulit dipisahkan dari produk sehingga dapat mengganggu proses
transesterifikasi. Maka pada penelitian ini digunakan proses adsorpsi menggunakan zeolit
alam yang berasal dari Lampung untuk menurunkan kadar asam lemak bebas (FFA) dan
dilanjutkan dengan proses transesterifikasi. Pemilihan zeolit zeolit alam dari Lampung ini
didasarkan pada kualitasnya yang baik. Selain itu karena ketersediannya yang cukup
melimpah, harga murah dan aman. Sebelum digunakan zeolit alam terlebih dahulu
diaktivasi untuk menghilangkan senyawa pengotor yang terdapat dalam zeolit tersebut.
Zeolit alam yang telah diaktivasi mempunyai kemampuan sebagai adsorben. Proses
aktivasi menyebabkan terjadinya perubahan perbandingan Si/Al, luas permukaan
meningkat, dan terjadi peningkatan porositas zeolit. Hal ini dapat meningkatkan kinerja
zeolit, yaitu meningkatkan kemampuan adsoprsi zeolit sehingga lebih efisien dalam
menurunkan jumlah asam lemak bebas. Perlakuan adsorpsi ini diharapkan dapat
memberikan pengaruh terhadap kualitas biodiesel yang dihasilkan.

1. Penyerapan Adsorpsi Terhadap Pengurangan Kadar FFA


Minyak goreng merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia sebagai alat pengolah
bahan-bahan makanan yang biasanya digunakan untuk menggoreng. Minyak goreng nabati
biasa diproduksi dari kelapa sawit, kelapa, atau jagung. Penggunaan minyak nabati lebih
dari empat kali sangat membahayakan kesehatan. Hal ini terjadi karena penggunaan
minyak goreng yang dipakai secara berulang-ulang, bahkan sampai berwarna coklat tua
atau hitam dan barulah dibuang. Hal ini dapat menimbulkan dampak negatif bagi yang
mengkonsumsinya, yaitu menyebabkan berbagai gejala keracunan, seperti pusing, mual-
mual dan muntah. Maka dari itupenggunaan minyak jelantah secara berulang-ulang sangat
berbahaya bagi kesehatan.
Minyak goreng merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia yang berfungsi sebagai
media pengolahan bahan pangan. Selain memperbaiki struktur fisik dari bahan pangan
yang digoreng, minyak goreng dapat menambah gizi dan nilai kalori serta memberikan
citarasa yang khas dari bahan pangan. Namun, yang menjadi masalah adalah penggunaan
minyak goreng yang berulang - ulang dapat menyebabkan kerusakan pada minyak tersebut.
Dalam bukunya menyebutkan bahwa jika minyak dipanaskan berulang - ulang pada suhu
tinggi dan waktu yang cukup lama, maka akan menghasilkan senyawa polimer yang
berbentuk padat dalam minyak.
Lebih lanjut, Ketaren (1986) menjelaskan bahwa berbagai macam gejala keracunan,
yaitu iritasi saluran pencernaan, pembengkakan organ tubuh, depresi pertumbuhan, dan
kematian telah diobservasi pada hewan yang telah diberi lemak yang dipanaskan dan
teroksidasi. Minyak goreng sering dipakai untuk menggoreng secara berulang - ulang,
bahkan sampai warnanya coklat tua atau hitam dan kemudian dibuang. Penggunaan
minyak goreng secara berulang - ulang ini akan menyebabkan oksidasi asam lemak tidak
jenuh yang kemudian membentuk gugus peroksida dan monomer siklik.
Hal tersebut dapat menimbulkan dampak negatif bagi yang mengkonsumsinya, yaitu
menyebabkan berbagai gejala keracunan. Beberapa penelitian pada binatang menunjukkan
bahwa gugus peroksida dalamdosis yang besar dapat merangsang 2 terjadinya kanker
kolon. Karena itu, maka penggunaan minyak jelantah secara berulang - ulang akan sangat
berbahaya bagi kesehatan.
Dalam penggunaannya, minyak goreng mengalami perubahan kimia akibat oksidasi dan
hidrolisis, sehingga dapat menyebabkan kerusakan pada minyak goreng tersebut. Melalui
proses - proses tersebut beberapa trigliserida akan terurai menjadi senyawa -senyawa lain,
salah satunya Free Fatty Acid (FFA) atau asam lemak bebas. Minyak goreng yang telah
dipakai berulang - ulang sudah tentu tidak layak untuk dipakai menggoreng akibat
penurunan mutu minyak karena kerusakan - kerusakan seperti yang disebutkan di atas.
Minyak goreng bekas agar dapat dimanfaatkan kembali, perlu dimurnikan sehingga
kualitasnya akan naik. Salah satu cara peningkatan kualitas minyak goreng bekas adalah
dengan proses adsorpsi. Adsorbenakan menjerap zat warna pada minyak, suspense koloid,
serta hasil degradasi minyak. Berbagai macam adsorben dapat digunakan untuk proses
adsorpsi ini, antara lain fuller earth, activated clay, bentonit, dan karbon aktif.(Dwi, 2000)
Proses adsorpsi menggunakan suatu bahan yang dapat mengadsorpsi kotoran pada
minyak, bahan ini disebut dengan adsorben. Adsorben bukan hanya memisahkan minyak
goreng baru, tetapi juga dapat memisahkan padatan pada minyak goreng bekas.Asam
lemak merupakan material penting dalam industri oleokimia untuk memproduksi fatty
alkohol, sabun, obat, plastik, pelumas, detergen dan secara luas digunakan dalam industri
obat dan makanan. Asam lemak bebas pada tumbuhan diperoleh melalui pemutusan ikatan
ester, yang kemudian biasanya dipisahkan dalam proses industri. Penelitian untuk
menemukan metode yang tepat untuk memisahkan asam lemak bebas telah dilakukan dan
adsorpsi telah terbukti sebagai proses yang baik untuk memisahkan asam lemak bebas.
Masalah yang akan dibahaspada penelitian ini, adalah mempelajari cara pengurangan FFA
dan warna dari minyak jelantah dengan menggunakan serabut kelapa dan jerami padi
sebagai adsorben.
Minyak goreng bekas (jelantah) adalah minyak goreng yang sudah digunakan beberapa
kali pemakaian oleh konsumen. Selain warnanya yang tidak menarik dan berbau tengik,
minyak jelantah juga mempunyai potensi besar dalam membahayakan kesehatan tubuh.
Minyak jelantah mengandung radikal bebas yang setiap saat siap untuk mengoksidasi
organ tubuh secara perlahan. Minyak jelantah kaya akan asam lemak bebas. Terlalu sering
mengkonsumsi minyak jelantah dapat meningkatkan potensi kanker didalam tubuh.
Menurut para ahli kesehatan, minyak goreng hanya bolehdigunakan dua sampai empat kali
untuk menggoreng.
Adsorben bahan alami adalah adsorben yang berasal dari bahan-bahan alami, seperti
tumbuh-tumbuhan dan kayu. Jenis-jenis adsorben ini yang biasanya digunakan
dalampembuatan dan pemisahan minyak, yaitu ampas tebu,kulit kacang tanah, daun nenas
dan serbuk gergaji. Adsorben ini dapat digunakan sebagai penjernih pada pemisahan
minyak, terutama minyak jelantah, karena menggandung selulosa yang terdapat didalam
adsorben yang berasal dari bahan-bahan alami tersebut.
Serabut kelapa dan jerami padi mengandung selulosa yang di dalam struktur
molekulnya mengandung gugus hidroksil atau gugus OH. Zat warna mengandung gugus-
gugus yang dapat bereaksi dengan gugus OH dari selulosa sehingga zat warna tersebut
dapat terikat pada serabut kelapa dan jerami padi. Zat warna reaktif dapat mewarnai serat
selulosa dalam kondisi tertentu dan membentuk senyawa dengan ikatan kovalen atau
ikatan hidrogen dengan selulosa.
Bila dibandingkan dengan harga adsorben yang berasal dari zeolit alam, harga adsorben
yang berasal daribahan-bahan alami jauh lebih murah. Hal ini dikarenakan, umumnya
adsorben yang berasal dari bahan-bahan alami adalah sisa dari bahan (suatu proses) yang
tidak memiliki harga ekonomis dan terkadang tidak bisa digunakan kembali untuk suatu
proses.(Julius, 2013)
Penggunaan minyak goreng yang berulang ulang dengan pemanasan pada suhu tinggi
akan menyebabkan terbentuknya berbagai senyawa hasil oksidasi lemak berupa seyawa
alkohol, aldehid, keton, hidrokarbon,ester serta bau tengik yang akan mempengaruhi mutu
dan gizi bahan pangan yang digoreng. Minyak goreng bekas merupakan limbah yang dapat
diolah kembali dengan proses pemucatan menggunakan adsorben Peningkatan kualitas
minyak goreng bekas dapat dilakukan dengan proses adsorpsi. Zat warna dalam minyak
akan diserap oleh permukaan adsorben dan juga menyerap suspensi koloid, serta hasil
degradasi minyak.
Penggunaan adsorben merupakan metode alternatif dalam pengolahan limbah.Metode
ini efektif dan murah karena dapat memanfaatkan produk samping atau limbah
pertanian.Beberapa produk samping pertanian yang berpotensi sebagai adsorben, yaitu
tongkol jagung, gabah padi, gabah kedelai, biji kapas, jerami, ampas tebu, serta kulit
kacang tanah.

2. Pengaruh Waktu Adsorben Terhadap Kadar FFA


Semakin lama waktu adsorpsi maka kadar FFA semakin turun, adanya peningkatan
penyerapan adsorbat oleh adsorben menunjukkan belum jenuhnya situs aktif adsorben oleh
molekul adsorbat, namun pada kondisi konsentrasi adsorbat yang teradsorpsi telah konstan
diakibatkan oleh jenuhnya situs aktif dari adsorben oleh molekul adsorbat. Hal ini juga
menunjukkan bahwa adanya batas adsorben dalam mengadsorpsi adsorbat yang dalam hal
ini adalah FFA yang terkandung dalam minyak goreng bekas.
Kemampuan senyawa silikat yang berada pada zeolit untuk menurunkan kadar FFA
dapat disebabkan karena adanya gugus silanol (Si-OH) pada permukaan zeolit. Yang
menyebutkan bahwa gugus silanol inilah yang berperan dalam adsorpsi air dan senyawa
organik. Gugus oksigen dengan karbonil pada FFA yang bereaksi dengan hidrogen silanol,
sehingga molekul FFA teradsorpsi pada permukaan dengan membentuk ikatan hidrogen.
(Lisa, 2016)

3. Pengaruh Konsentrasi Adsorben Terhadap Kadar FFA


Semakin besar konsentrasi zeolit yang ditambahkan maka kadar FFA semakin
berkurang. Hal ini disebabkan penambahan konsentrasi zeolit akan meningkatkan jumlah
total luas permukaan dan jumlah pori yang digunakan untuk mengikat adsorbat dalam
proses adsorbsi. Parameter konsentrasi zeolit yang digunakan juga berpengaruh terhadap
luas bidang kontak antara adsorben dengan adsorbat.
4. Pengaruh Suhu Adsorpsi terhadap Kadar FFA
Proses adsorpsi minyak goreng bekas dengan menggunakan H-zeolit dapat dilakukan
pada suhu kamar tanpa memerlukan pemanasan. Kenaikan suhu adsorpsi dapat
meningkatkan energi kinetik molekul-molekul pengotor yang terdapat dalam minyak
goreng bekas, sehingga molekul-molekul pengotor ini mampu berdifusi lebih cepat ke
dalam pori-pori adsorben. Adsorpsi semakin menurun dengan meningkatnya temperatur.
Hal ini terjadi karena meningkatnya temperatur menyebabkan desorpsi semakin besar.
Desorpsi terjadi akibat permukaan adsorben yang telah jenuh. Pada keadaan jenuh, jumlah
adsorbat yang teradsorpsi akan terlepas dari pori-pori adsorben sehingga laju adsorpsi
menjadi berkurang. Berdasarkan hasil ini, diduga mekanisme adsorpsi didominasi oleh
adsorpsi fisika.
Penggunaan temperatur reaksi esterifikasi yang tinggi menyebabkan
gerakan molekul-molekul senyawa semakin cepat atau energi kinetik
yang dimiliki molekulmolekul pereaksi semakin besar sehingga
tumbukan antara molekul pereaksi juga meningkat. Hal ini sesuai
dengan pernyataan Levenspiel, yang menyatakan bahwa bahwa laju
reaksi sebanding dengan temperatur reaksi dimana semakin tinggi
temperatur reaksi, konstanta laju reaksi (k) semakin besar, sehingga
laju reaksi semakin besar, sesuai dengan persamaan Arrhenius.

5. Pengaruh Ukuran Partikel Adsorben terhadap kadar FFA


Zeolit dengan ukuran partikel paling kecil memiliki luas permukaan yang lebih besar
dibandingkan dengan zeolit lainnya. Semakin halus ukuran partikel zeolit maka daya serap
akan semakin tinggi. Hal ini juga membuktikan bahwa ukuran partikel zeolit juga turut
mempengaruhi daya adsorpsinya untuk menyerap sejumlah asam lemak bebas yang terikat

pada minyak jelantah.


Selain kadar FFA yang berkurang, proses adsorpsi pada minyak goreng bekas juga
mengakibatkan warna pada minyak goreng bekas semakin berkurang seiring dengan
semakin kecilnya ukuran partikel pada adsorben. efisiensi adsorpsi merupakan fungsi luas
permukaan adsorben, dimana semakin besar luas permukaan adsorben semakin besar pula
kapasitas suatu adsorben dalam mengadsorpsi suatu adsorbat.
Berikut ini adalah contoh dari penerapan adsorpsi yang dijadikan sebagai adsorben yang
digunakan untuk melakukan proses pengurangan kadar FFA. Tahap adsorpsi asam lemak
bebas dan senyawa peroksida dengan menggunakan piropilit adapun tahap-tahapnya antara
lain:
a. Preparasi minyak jelantah
Sampel minyak jelantah diambil dari minyak goreng bekas yang telah dipakai
pedagang gorengan untuk menggoreng pisang, tahu, dan tempe sebanyak 3 kali,
kemudian dipisahkan dari pengotor padat. Struktur piropilit yang berupa lembaran
berlapis tetrahedral silikat dan oktahedral alumina mengakibatkan proses pelepasan
pengotor keluar dari sistem piropilit menjadi lebih sulit. Pengotor-pengotor yang telah
larut tersebut tidak dapat terlepas seluruhnya melalui proses pencucian akan tetapi
sebagiantertahan pada lapisan atas permukaan piropilit.
b. Adsorpsi Piropilit Sebelum dan Sesudah Aktivasi terhadap Bilangan Peroksida
serta Asam Lemak bebas dalam Minyak Jelantah
Bilangan peroksida ditentukan dengan mengukur jumlah iodium (I2) yang terbentuk
akibat reaksi ion iodida (I-) dengan peroksida berdasarkan reaksi sebagai berikut :

Berdasarkan reaksi tersebut, jumlah peroksida (ROOH) sama dengan jumlah iodium
(I2) yang terbentuk. Untuk mengukur Jumlah iodium (I 2) yang terbentuk, maka perlu
direaksikan dengan ion tiosulfat (S2O32-) sesuai dengan reaksi, reaksi yang didapat
adalah sebagai berikut :

Sebagai sumber ion tiosulfat (S2O32-), digunakan larutan natrium tiosulfat (Na2S2O3).
Iodium (I2) yang tidak berwarna akan menjadi berwarna biru-kehitaman jika dicampur
dengan kanji yang mengandung amilum. Proses titrasi menggunakan tiosulfat (S 2O32-),
maka iodium akan perlahan-lahan diubah menjadi ion iodida (I-) sehingga warna biru
kecoklatan akan berubah menjadi bening. Jumlah peroksida yang terbentuk dihitung
dengan menggunakan rumus :
POV = S x N x 1000/gram sampel
S (volume titran, mL), N (normalitas Larutan Natrium Tiosulfat, N).
Penurunan bilangan peroksida menunjukan terjadinya pemutusan ikatan rangkap
oleh piropilit, selain itu peroksida yang mengandung oksigen merupakan senyawa polar
sehingga lebih mudah terikat pada adsorben yang berbahan dasar lempung.
Bilanganperoksida merupakan nilai terpenting dalam menentukan derajat kerusakan
pada minyak, semakin kecil kandungannya dalam minyak maka semakin baik kualitas
minyak tersebut.
Proses oksidasi dapat berlangsung apabila terjadi kontak antara sejumlah oksigen dan
minyak atau lemak. Oksidasi biasanya dimulai dengan pembentukan peroksida
(Kateren, 1986).Sehingga keberadaan air dalam suatu produk sangat menentukan
kualitas dari produk tersebut tak terkecuali sabun padat. Kadar air yang terlalu banyak
dalam sabun akan membuat sabun tersebut mudah menyusut dan tidak nyaman saat
akan digunakan. Keberadaan air dan udara dapat memicu terjadinya oksidasi.
Perlakuan adsorpsi yang paling banyak menurunkan kandungan bilangan peroksida
adalah penambahan piropilit teraktivasi H2SO4 sebanyak 5gram. Untuk membuktikan
hipotesis penelitian yakni mengetahui adanya pengaruh yang signifikan antara
kelompok kontrol dan perlakuan maka digunakan analisa statistik anava dua arah. Hasil
analisis tidak ada pengaruh interaksi antara penggunaan adsorben dan penambahan
massater hadap penyerapan peroksida. Penggunaan piropilit teraktivasi memperoleh
rata-rata penyerapanlebih baik dibandingkan dengan piropilit tanpa aktivasi.
Signifikansi penurunan bilangan peroksida terbesar ditunjukkan oleh penambahan
massa 5 gram baik dengan penambahan piropilit sebelum maupun sesudah ativasi.
Angka asam dinyatakan sebagai jumlah mg KOH yang dibutuhkan untuk menetralkan
asam lemak bebas dari 1 gr minyak.
Minyak dapat menjadi tengik karena adanya asam lemak bebas dan senyawa
aldehida sebagai akibat terjadinya pemutusan ikatan rangkap melalui pembentukan
peroksida oleh oksidasi udara atau hidrolisis oleh mikroorganisme. Asam lemak bebas
dapat dihasilkan dari proses hidrolisis trigliserida oleh enzim lipase. Enzim lipase ini
terdapat pada hampir semua jaringan yang mengandung minyak. Jumlah asam lemak
bebas yang terdapat dalam minyak dapat menunjukkan umur penyimpanan dan kualitas
minyak tersebut. Kadar asam lemak bebas dapat menunjukkan kualitas dari minyak
tersebut, makin tinggi kadarnya, maka makin jelek kualitas dari minyak.
Kadar asam lemak bebasmerupakan nilai terpenting yang menunjukkan tingkat
ketengikan pada minyak, semakin besar kandungannya dalam minyak maka semakin
jelek kualitas minyak tersebut. Dari hasil penelitian, perlakuan adsorpsi yang paling
banyak menurunkan kandungan asam lemak bebas adalah penambahan piropilit
teraktivasi H2SO4 sebanyak 5 gram. Berdasarkan hasil analisis tidak terdapat pengaruh
interaksi antara penggunaan adsorben dan penambahan massa terhadap penyerapan
asam lemak bebas. Berdasarkan hasil analisis data terlihat bahwa penggunaan piropilit
teraktivasi memperoleh rata-rata penyerapan lebih baik dibandingkan dengan piropilit
tanpa aktivasi.(Sai Dewi, 2011)
Referensi
Dwi, M. N. (2000). OPTIMASI PENCAMPURAN CARBON AKTIV BENTONET
SEBAGAI ADSORBEN DALAM PENURUNAN KADAR FFA , 2.
Ginting, F. D. (2008). Pengujian Alat Pendingin , 1.
Julius, T. A. (2013). PENGURANGAN FFA DAN WARNA DARI MINYAK JELANTAH , 2.
Lisa, I. S. (2016). Pembuatan Biodiesel dengan Cara Adsorpsi dan Transesterifikasi Dari
Minyak Goreng Bekas , 5.
Sai Dewi, S. (2011). PEMANFAATAN PIROPILIT SEBELUM DAN SESUDAH AKTIVASI
SEBAGAI ADSORBEN PADA PROSES PENURUNAN BILANGAN PEROKSIDA DAN
KADAR ASAM LEMAK BEBAS MINYAK JELANTAH , 2-7.
Sokarjo, M. (2003). ANALISIS ASAM LEMAK BEBAS , 1.
Webar. (1972). Proses Adsorpsi , 2.