Anda di halaman 1dari 5

Patofisiologi

Pasien dapat dikatakan menderita hipertensi primer/esensial hanya jika


tidak ditemukan sebab khusus terjadinya hipertensi. Hal ini bisa terjadi
karena pada kasus hipertensi esensial terdapat banyak sistem organ yang
bertanggungjawab, seperti sistem adrenergik; hormonal; renal; dan
vaskular. Sistem-sistem ini berelasi dengan sistem lain secara kompleks,
dan ada pengaruh dari gen pasien tersebut.

Walaupun begitu, para ahli sudah mulai merumuskan beberapa faktor


risiko yang dapat menyebabkan terjadinya hipertensi. Salah satu faktor
yang berperan penting adalah faktor lingkungan. Terdapat beberapa
faktor yang terkait dengan lingkungan seperti asupan garam, obesitas,
pekerjaan, dan asupan alkohol. Namun faktor yang paling mendapat
sorotan adalah asupan garam. Terdapat sekitar 60% pasien yang memiliki
sensitivitas tinggi terhadap garam, yang disebabkan beragam mekanisme
seperti aldosteronisme primer, stenosis arteri renalis bilateral, penyakit
parenkim renal, dan rendahnya level renin. Renin adalah sebuah enzim
yang disekresikan oleh sel jukstaglomerular di ginjal. Enzim ini
berinteraksi dengan angiotensin dan aldosteron. Faktor yang paling
mempengaruhi sekresi renin adalah volume cairan dari individual
tersebut. Oleh karenanya renin berperan penting dalam hipotesis ini.

Selain mekanisme hipersensitivitas terhadap garam, terdapat hipotesis


lainnya seperti rendahnya ion kalsium di tubuh, defek membran sel yang
mengatur transpor sodium, dan juga resistensi insulin (atau juga
hiperinsulinemia). Mekanisme resistensi insulin adalah dasar dari
masuknya hipertensi sebagai salah satu ciri dari sindrom metabolik
(sindrom X). Walaupun begitu, hipotesis ini masih berdasarkan hasil
epidemiologi dimana pada pasien dengan Diabetes mellitus dan obesitas
banyak dari mereka yang mengalami hipertensi. Saat ini terdapat empat
teori mengenai bagaimana hiperinsulinemia menyebabkan hipertensi.
Teori pertama adalah bahwa kondisi tersebut menyebabkan retensi
natrium di renal. Lalu, hipertensi juga bisa disebabkan adanya hipertrof
otot halus vaskular karena aksi mitogenotik dari insulin. Ketiga, insulin
juga memodifkasi transpor ion melewati sel membran, yang
menyebabkan peningkatan level kalsium sitosol di jaringan renal (atau
vaskular) yang sensitif terhadap insulin. Dan teori terakhir menyatakan
bahwa insulin merupakan penanda dari proses patologik lain yang
menyebabkan terjadinya hipertensi.

Komplikasi

Pasien dengan hipertensi seringkali mengalami kematian karena


komplikasi yang dialaminya. Terdapat beberapa komplikasi yang dapat
terjadi, namun yang paling sering adalah penyakit jantung, stroke,
retinopati, dan gagal ginjal.

Penyakit Jantung

Pasien dengan hipertensi membutuhkan kerja jantung yang lebih keras.


Jantung awalnya mengompensasi dengan hipertrof konsentrik ventrikel
kiri, yang menyebabkan dinding jantung menebal. Pada awalnya kondisi
ini dapat memberikan kompensasi yang baik, namun lama kelamaan
fungsi dari ventrikel jantung akan menurun. Akhirnya, terjadi atrof
jantung yang menyebabkan dilatasi dari ventrikel dan tanda-tanda gagal
jantung muncul. Angina pektoris juga dapat terjadi karena peningkatan
kebutuhan oksigen miokard dan juga meningkatnya kemungkinan
terjadinya penyakit jantung koroner.

Stroke dan Retinopati

Efek neurologis yang sering terjadi pada pasien hipertensi adalah


retinopati dan stroke. Pasien dengan hipertensi sebaiknya melakukan
pemeriksaan mata secara reguler. Karena, mata adalah satu-satunya
tempat dimana kita dapat melihat arteri dan arteriol secara langsung,
yang dapat merefleksikan progresi efek hipertensi pada jaringan vaskular.
Pasien hipertensi juga dapat mengalami stroke, baik stroke iskemik
maupun hemoragik, Stroke hemoragik dapat terjadi karena peningkatan
tekanan darah dan munculnya aneurisma, sementara stroke iskemik
terjadi lebih sering karena aterosklerosis yang terjadi pada pasien
hipertensi tersebut.

Gagal Ginjal

Pasien hipertensi sering mengalami gagal ginjal, yang disebabkan lesi-lesi


arteriosklerotik di arteriol dan kapiler glomerulus.

Diagnosis
Gambar x: Klasifkasi hipertensi berdasarkan panduan European Society of
Hypertension guidelines for the management of arterial hypertension
(2003)

Terapi

Pasien dengan tekanan darah sistolik >140mmHg atau tekanan darah


diastolik >90mmHg terus menerus harus diberi pengobatan kecuali
terdapat kontraindikasi, sementara pasien dengan tekanan darah yang
fluktuatif harus diperiksa rutin tiap enam bulan sekali. Pada pasien
normal, diharapkan tekanan darah turun menjadi <140/90mmHg,
sementara pada pasien diabetes, target tekanan darah yang diharapkan
<130/85mmHg.

Terapi yang pertama kali diberikan adalah terapi nonfarmakologik seperti:


stress relief, manajemen diet, aktivitas fsik, penurunan berat badan
(hanya jika berat badan pasien di atas normal), dan menghindari faktor
risiko arteriosklerosis. Pada beberapa pasien dengan pekerjaan yang
memiliki tekanan kerja tinggi (seperti pemadam kebakaran), ada baiknya
pasien disarankan untuk pindah pekerjaan. Manajemen diet dilakukan
dengan restriksi natrium (garam), kalori, serta asupan kolestrol dan lemak
jenuh.

Terapi nonfarmakologi di atas diharapkan dapat menurunkan tekanan


darah pasien. Namun apabila terapi nonfarmakologi tidak cukup, dapat
diberikan terapi farmakologik. Jenis obat yang dapat diberikan adalah
diuretik, obat antiadrenergik, vasodilator, inhibitor enzim pengonversi
angiotensin, antagonis reseptor angiotensin, dan antagonis kanal kalsium.

Diuretik

Terdapat bermacam obat yang termasuk jenis ini yaitu golongan tiazid
(hidroklortiazid, HCT) loop diuretic (furosemid), dan diuretik hemat kalium
(spinorolakton). Efek samping yang paling sering dari diuretik adalah
hipokalemia, walaupun golongan diuretik hemat kalium dapat
menyebabkan hiperkalemia. Untuk menghindari efek ini, umumnya
spinorolakton dipadukan dengan diuretik lain yang menyebabkan
hipokalemia.

Selain hipokalemia, efek samping lainnya yang dapat terjadi adalah


gangguan absorpsi natrium dan hiperurisemia.

Inhibitor Enzim Pengonversi Angiotensin (ACE-Inhibitor) dan Antagonis


Reseptor Angiotensin (ARB)
Obat di golongan ini menginhibisi enzim pengonversi angiotensin I
menjadi angiotensi II yang merupakan vasokonstriktor. Namun, obat ini
sekarang sering dipakai karena juga memiliki efek menurunkan degradasi
bradikinin (vasodilator), menurunkan produksi prostaglandin, dan
mengubah aktivitasi saraf adrenergik. Fungsi-fungsi tambahan ini
menyebabkan obat ACE-inhibitor efektif pada hipertensi renal dan pada
pasien diabetes. Walaupun begitu, obat ini juga sama efektifnya dengan
diuretik untuk penanganan hipertensi ringan. Terlebih, efek samping obat
ini juga relatif lebih sedikit.

Efek samping ACE-inhibitor yang paling sering dikeluhkan adalah batuk,


terutama pada pasien asma. Efek samping ini terjadi pada sekitar 5-10
persen pasien. Pada pasien yang mengeluhkan efek samping ini, dapat
diberikan obat ARB yang memiliki cara kerja sama dengan ACE-inhibitor
dengan efek samping yang lebih minimal.

Antagonis Kanal Kalsium (CCB)

Ada tiga kelas CCB yaitu derivat fenilalkilamin (verapamil), derivat


benzotiazepin (diltiazem), dan dihidropiridin (amlodipin, nifedipin). Obat
dari kelas ini mengganggu masuknya kalsium ke sel dengan cara interaksi
di kanal kalsium. Obat ini direkomendasikan pada pasien dengan angina
pektoris, namun harus digunakan dengan hati-hati pada pasien hipertensi
dan gagal jantung.

Beta blocker

Obat ini memblok reseptor beta-adrenergik di jantung, dan menurunkan


efek simpatetik jantung. Obat ini menyebabkan penurunan keluaran
jantung dan menurunkan tekanan darah arterial. Selain itu, obat ini juga
menurunkan pelepasan renin yang terkait dengan saraf adrenergik. Beta
blocker efektif digunakan dengan vasodilator ataupun diuretik. Walaupun
begitu, obat ini dapat memicu timbulnya gagal jantung kongestif dan
asma pada pasien tertentu, serta harus digunakan secara hati-hati pada
pasien diabetesyang mendapatkan terapi hipoglikemik. Beta blocker yang
selektif terhadap jantung (metoprolol, atenolol) lebih aman digunakan
pada pasien dengan bronkospasme. Sementara itu labetalol merupakan
beta blocker yang juga memiliki aktivitas alpha blocker. Labetalol
menurunkan resistensi vaskular sistemik, memiliki onset yang lebih cepat,
namun dapat menyebabkan gangguan postural dan disfungsi seksual.

Terdapat beta blocker yang beraktivitas di saraf sentral yaitu klonidin dan
metildopa. Obat-obat ini tidak diguankan sebagai obat lini pertama
hipertensi, namun sangat efektif menurunkan hipertensi. Penggunaan
klonidin perlu diwaspadai karena dapat terjadi fenomena rebound ketika
penggunaannya dihentikan.

Alpha blocker

Obat ini menurunkan resistensi vaskular sistemik, dan menyebabkan


hipotensi. Penggunaannya semakin berkurang karena banyaknya efek
samping kardiovaskular yang dilaporkan.

Vasodilator

Obat-obatan seperti hidralazin, nitrogliserin, nitroprusid, dan diazoxid


tidak digunakan sebagai obat lini pertama, dan lebih sering digunakan
pada keadaan darurat. Obat ini umumnya hanya digunakan pada kondisi
akut dimana cara kerjanya adalah dengan menyebabkan relaksasi otot
halus vaskular.

Gambar y: indikasi pemberian obat pertama hipertensi