Anda di halaman 1dari 3

Nama : Asalia Widjaja

NIM : 15715008
Tugas Hidrologi
Review Artikel National Geographic

Pada artikel tersebut disebutkan di suatu kota di Australia, dimana terjadi


kekeringan akibat iklim cuaca yang semakin memburuk dari tahun ke tahun.
Kekeringan tersebut sangat dirasakan oleh para petani dan peternak, dimana
mereka merasa dirugikan akibat kondisi tersebut. Namun sebenarnya kekeringan
akibat iklim tersebut tidak akan berdampak sangat buruk jika tidak ada program
pembangunan yang awalnya ditujukan untuk mengatasi kekeringan. Akibat
program pembangunan tersebut malah kekeringan bertambah parah dan terjadi
kekeringan untuk jangka waktu yang sangat panjang (tidak berhenti-berhenti).
Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Hal tersebut dapat terjadi dikarenakan
program pembangunan tersebut merupakan program pembuatan irigasi yang
mengubah kondisi jalur aliran sungai yang alami.

Pada program tersebut, aliran sungai sengaja dibelokkan untuk


memfasilitasi air ke tempat yang kering, dimana ternyata tempat tersebut
memang bukanlah tempat dengan tanah yang subur. Dari sungai yang
dibelokkan tersebut, para petani, peternak, dan pekebun semuanya mengambil
air dari sungai yang sudah dibelokkan tersebut dengan jatah sendiri-sendiri
(berbayar). Namun, kemakmuran tersebut tidak berlangsung lama. Lama
kelamaan air semakin sedikit mengalir dari hulu dan para pengusaha ladang dan
peternakan kesulitan mendapatkan air, walaupun mereka harus tetap membayar
padahal tidak mendapat jatah air sedikitpun. Hal tersebut merugikan para
pengusaha ladang dan peternakan karena jatah air mereka diambil untuk
pengaliran air ke perkotaan dan mereka harus tetap membayar. Dikarenakan
krisis tersebut, para petani, pekebun, dan peternak harus menjual asset mereka
(baik menjual sapi yang dimiliki dari berates-ratus sampai berpuluhan,
memotong tanaman yang butuh banyak air, dan berusaha menjual ladang) agar
mereka dapat tetap bertahan hidup dan tetap dapat menjalani pekerjaannya. Hal
tersebut berlangsung dengan sangat lama, sehingga akhirnya tidak
terselesaikan musim kemarau (kering) yang berkelanjutan ini, bahkan beberapa
pengusaha terpaksa untuk menjual seluruh assetnya agar tetap bertahan hidup
dan berhenti sebagai peternak.
Sebenarnya, sebelum program pembangunan ada ide dari salah satu
pengusaha perkebunan disana untuk mengatasi masalah kekeringan tersebut.
Namun sebelum rencana tersebut terlaksanakan, program pembangunan irigasi
langsung dilaksanakan karena krisis air yang sangat genting saat itu. Namun
pembangunan irigasi tersebut tidak berdampak baik setelah beberapa waktu,
dikarenakan air menjadi kering dan tidak ada air yang mengalir lagi dari hulu.
Hal tersebut terjadi karena air memiliki sifat alirannya sendiri, jika air dipaksa
untuk mengalir pada jalur yang tidak seharusnya (dibelokkan), maka lama
kelamaan air akan mencari jalan lain untuk tetap mengalir pada jalur awalnya
sehingga jalur buatan akan menjadi kering.

Ada faktor lain yang mengakibatkan air tidak mengalir dan tidak terjadi
hujan (selalu kering), yaitu karena irigasi tersebut mengalirkan air ke tanah yang
memang tidak subur dan kering sehingga tidak bermanfaat pengairannya. Jika
air dialirkan ke tanah yang memang kering atau tidak subur, maka tanah
tersebut tidak dapat menyerap air, dan jika air tidak terserap ke dalam tanah
maka air tersebut tidak dapat menguap dan melakukan evapotranspirasi atau
tidak dapat mengalir melalui aliran tanah. Dalam hal itu, kejadian ini memutus
hubungan siklus hidrologi yang secara alami terjadi. Seharusnya, air pada tanah
yang sudah dipakai dan diserap dapat melakukan evapotranspirasi yang
kemudian menguap ke udara untuk kemudian membentuk awan hujan dan
terjadi siklus berikutnya yaitu presipitasi (hujan). Pada hal ini, persentase air
yang menguap tidak ada dan tidak terjadi aliran air tanah (karena jenis tanah
yang kering tersebut tidak dapat menyerap dan mengalirkan air) tidak dapat
menguap dan evapotranspirasi ataupun infiltrasi dan perkolasi tidak terjadi
sehingga presipitasi juga terputus. Dikarenakan hubungan pada presipitasi
terputus maka tidak pernah terjadi hujan lagi, sehingga tidak terdapat air yang
dapat mengalir pada tanah-tanah yang subur. Lama kelamaan tanah-tanah yang
subur tersebut kekurangan air akibat panasnya iklim yang terjadi saat itu dan
akhirnya tanah tidak bisa dimanfaatkan lagi (untuk rumput dan bertanam atau
bertani) dan tidak ada air untuk organisme bertahan hidup.

Dalam menghadapi kasus kekeringan yang berkelanjutan ini, sebagai


seorang rekayasa infrastruktur lingkungan sebaiknya melakukan beberapa hal
sebelum kekeringan permanen terjadi. Sebaiknya tidak membelokkan aliran
sungai yang alami dan menutup aliran sungai yang seharusnya, melainkan bisa
menyalurkan air pada aliran sungai dengan cara-cara lain (baik ditampung
dengan sebuah perhitungan tertentu pada reservoir dan kemudian dialirkan
kepada warga-warga setelah perencanaan yang matang). Selain itu sebagai
rekayasawan kita harus memerhatikan kondisi tanah yang akan dialirkan oleh
air, uji dahulu jenis tanah yang akan dialirkan air tersebut, apakah tanah
tersebut dapat menyerap air (sehingga dapat evapotranspirasi) atau tanah
tersebut dapat mengalirkan air dan mendapat akses untuk mengalirkan air ke
laut. Lalu, harus memerhatikan siklus hidrologinya, jika seorang rekayasawan
melupakan keberadaan siklus hidrologi maka akan sulit mendapatkan hujan
karena terputusnya hubungan evapotranspirasi/transpirasi dengan presipitasi
sehingga akan terjadi kekeringan berkelanjutan. Terakhir, dari sudut pandang
seorang rekayasawan sebaiknya dilihat kondisi sekitar, masyarakat sekitar sana
dan perilakunya, atau dapat juga untuk mengingatkan masyarakat untuk
mengirit air sedemikian rupa pada saat musim kekeringan berlangsung sehingga
memiliki persediaan air sampai musim kering berakhir.