Anda di halaman 1dari 28

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1.Tempat dan Waktu Penelitian

3.1.1. Tempat Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan di SMA Negeri 1 Tanjung Pura yang

beralamat di Jalan Sudirman No. 52 Kota Tanjung Pura.

3.1.2. Waktu Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan pada semester II T.P 2016/2017.

3.2. Populasi dan Sampel Penelitian

3.2.1. Populasi Penelitian

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X IPA SMA

Negeri 1 Tanjung Pura semester genap tahun pelajaran 2016/2017 yang terdiri dari

6 kelas yaitu dari kelas X-MIA 1 sampai X-MIA 7 yang berjumlah 280 orang.

Kelas Suku Jawa Suku Melayu Suku Batak


X MIA-1 19 6 3
X MIA-2 18 7 3
X MIA-3 11 5 18
X MIA-4 15 12 3
X MIA-5 11 11 5
X MIA-6 11 12 0
X MIA-7 10 11 3

3.2.2. Sampel Penelitian

Sampel penelitian ini diambil 2 (dua) kelas. Pengambilan sampel

dilakukan secara cluster random sampling.

3.3. Variabel Penelitain

Variabel dalam penelitian ini terdiri atas dua variabel yaitu variabel bebas

dan variabel terikat dengan penjelasan sebagai berikut :


1. Variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi variabel terikat. Variabel

bebas dalam penelitian ini adalah model pembelajaran scientific inquiry dan

model pembelajaran direct instruction.

2. Variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi

akibat karena adanya variabel bebas. Variabel terikat dalam penelitian ini

adalah keterampilan berpikir kritis siswa pada materi suhu dan kalor.

3.4. Jenis Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah dan tujuan penelitian yang ditetapkan,

maka penelitian ini dikategorikan ke dalam jenis penelitian pengembangan

(development of research) dengan menggunakan model pengembangan

Thiagaraian, Semmel dan Semmel yaitu model 4-D (four D Model). Penelitian

pengembangan berorientasi pada pengembangan produk dimana proses

pengembangannya dideskripsikan seteliti mungkin dan produk akhirnya

dievaluasi. Proses pengembangannya berkaitan dengan kegiatan pada setiap

tahap-tahap pengembangan. Produk akhir dievaluasi berdasarkan aspek kualitas

produk yang ditetapkan. Dengan demikianm, produk dalam penelitian ini adalah

perangkat pembelajaran model scientific inquiry berbasis kultur Jawa yang valid,

efektif dan praktis. Perangkat pembelejaran tersebut berupa rencana pelaksanaan

pembelajaran (RPP), buku guru (BG), buku siswa (BS), lembar aktivitas siswa

(lAS), tes keterampilan berpikir kritis (TKBK) dan angket self-efficacy siswa.

3.5. Prosedur Pengembangan Perangkat Pembelajaran

Penelitian ini dibagi dalam dua tahap, yaitu tahap pertama adalah

pengembangan perangkat pembelajaran. Pengemabangan perangkat pembelajaran


yaitu meliputi i) validasi rencana pembelajaran, ii)validasi buku siswa, iii) validasi

buku guru, iv) validasi LAS, dan v) validasi instrumen tes kemampuan

pemahaman konsep dan angket disposisi matematis. Tahap kedua adalah

implementasi perangkat pembelajaran dan instrumen penelitian yang dianggap

sudah layak berdasarkan hasil uji coba.

Prosedur pengembangan perangkat pembelajaran dalam penelitian ini


ANALISIS AWAL AKHIR
mengacu pada model pengembangan perangkat pembelajaran menurut
ANALISIS SISWA
Thiagarajan dkk, yaitu model 4D (four D Model) yang terdiri dari 4 tahap, yaitu
Define
tahap pendefenisian (define), tahap perencanaan (design), tahap pengembangan
ANALISIS KONSEP ANALISIS TUGAS
(develop) dan tahan peyebaran (disseminate). Model pengembangan pada

penelitian ini secara


PERUMUSAN skematis
TUJUAN terlihat pada gambar 3.1.
PEMBELAJARAN

PENYUSUNAN PERANGKAT PEMBELAJARAN

PENYUSUNAN TES PEMILIHAN FORMAT Design

Draft I PERANCANGAN AWAL

VALIDASI OLEH AHLI/PAKAR

Draft II REVISI I

Develop
UJI COBA I

ANALISIS

Draft III REVISI II

UJI COBA II

ANALISIS DATA

PERANGKAT FINAL

SEKOLAH UJI COBA


Diseminatee
Gambar 3.1. Bagan Pengembangan Perangkat Pembelajaran
Model 4-D

Penelitian pengembangan perangkat pembelajaran ini dilakukan

berdasarkan analisis kebutuhan dengan mengacu pada kurikulum. Tahap uji coba

hanya sampai uji coba 1 (uji coba terbatas).


Tahap-tahap pengembangan perangkat pembelajaran tersebut dirincikan

sebagai berikut :

3.5.1. Tahap Pendefenisian (Define)

Tujuan tahap pendefenisian adalah menetapkan dan mendefenisikan

syarat-syarat dan batar materi yang akan dikembangkan perangkatnya. Fase-fase

dalam tahap ini adalah analis awal-akhir, analisis siswa, analisis tugas, analisis

konsep, dan perumusan tujuan pemebalajaran.

a. Analisis awal-akhir (Font-And analysis)

Kegiatan analisis awal-akhir dilakukan untuk menetapkan masalah dasar yang

diperlukan dalam pengembangan bahan pelajaran. Metode yang digunakan pada

tahap ini adalah studi pustaka, yaitu menelaah kurikulum fisika SMA kelas X,

teori belajar yang relevan dan tuntutan masa depan sehingga diperoleh deskripsi

pola pemebalajaran yang dianggap cocok. Disamping itu, dilakukan diskusi

dengan guru untuk menentukan masalah mendasar yang diperlukan dalam

menggembangkan perangkat pembelajaran.

b. Analisis siswa (Learner Analysis)

Pada tahap analisis siswa, ditelaah tentang karakteristik siswa yang sesuai

dengan rancangan dan pengembangan bahan pelajaran. Karakteristik siswa yang

ditelaah meliputi perkembangan kognitif, kemampuan akademik dan latar

belekang sosial ekonomi siswa. Dengan demikian, peneliti dapat mengembangkan

perangkat pembelajaran dan soal tes keterampilan berpikir kritis sesuai dengan

karakteristik siswa di SMA Negeri 1 Tanjung Pura.


c. Analisis konsep

Fase ini ditujukan untuk mengidentifikasi, merinci dan menyusun secara

sistematis konsep-konsep yang akan dipelajari siswa pada materi suhu dan kalor :

d. Analisis Tugas

Analisis tugas ini bertujuan untuk mengidentifikasi keterampilan-

keterampilan utama yang akan dikaji oleh peneliti dan menganalisisnya kedalam

himpunan keterampilan tambahan yang mungkin diperlukan. Analisis ini

memastikan ulasan yang menyeluruh tentang tugas dalam materi pembelajaran.

Rincian analisis yang diidentifikasi untuk siswa kelas X SMA Negeri 1 Tanjung

Pura disesuaikan dengan kurikulumnya. Jika menggunakan kurikulum KTSP,

maka yang dianalisis mulai dari standart kompetensi (SK), kompetensi dasar

(KD). Begitu juga dengan kurikulum 2013 maka yang dianalisis berupa

kompetensi intin (KI) dan kompetensi dasar (KD) yang seharusnya dikuasai siswa

untuk materi suhu dan kalor.

e. Perumusan Tujuan Pembelajaran

Perumusan tujuan pembelajaran berguna untuk merangkum hasil analisis

konsep dan analisis tugas untuk menentukan perilaku objek penelitian. Kumpulan

objek penelitian tersebut menjadi dasar untuk menyusun tes dan merancang

perangkat pemebelajaran yang kemudian diintegerasikan ke dalam materi

perangkat pembelajaran yang akan digunakan oleh peneliti. Indikator tujuan

pembelajaran disesuaikan dengan kompetensi dasar yang sesuai dengan

kurikulum.
3.5.2. Tahap Perencanaan (Design)

Tujuan dari tahap ini adalah merancang perangkat pembelajaran sehingga

diperoleh prototype (contoh perangkat pembelajaran). Fase-fase yang dilakukan

pada tahap ini meliputi penyusunan tes, pemilihan media, pemilihan format dan

perancangan (desain).

a. Penyusunan Tes dan Non Tes

Tes yang dihasilkan pada fase ini adalah tes kemampuan pemahaman konsep

dan angket disposisi matematis. Untuk merancang tes ini maka ditetapkan kisi-

kisi soal dan acuan penskoran yang mengacu pada indikator materi suhu dan kalor

serta indikator kemampuan pemahaman konsep. Selanjutnya untuk merancang

angket disposisi matematis, ditetapkan indikator disposisi matematis yang

kemudian menjadi rujukan penyusunan angket.

b. Pemilihan Media

Pemilihan media dilakuakn untuk mengidentifikasi media pembelajaran

yang relevan dengan karakteristik materi. Lebih dari itu, media dipilih untuk

menyesuaikan dengan analisis konsep dan analisis tugas, serta karakteristik siswa.

Hal ini berguna untuk membantu siswa dalam pencapaian kompetensi dasar.

Artinya, pemilihan media dilakukan untuk mengoptimalkan penggunaan

perangkat pembelajaran dalam proses pengembangan perangkat pembelajaran

pada pembelajaran di kelas. Media yang digunakan dalam penelitian ini adalah

kertas berpetak, benda-benda budaya dan benda-benda disekitar yang mendukung

pembelajara.
c. Pemilihan Format

Sesuai dengan media yang dipilih maka format yang sesuai adalah format

visual. Format perangkat pembelajaran dikombinasikan antara gambar, alat

peraga, pendekatan penemuan terbimbing, dan acuan penyusunan. Format

penyusunan RPP mengacu pada pemendikbud no. 103 tahun 2014, format

penyusunan buku mengacu pada aturan BSNP (Badan Strandart Nasional

Pendidikan) dan format LAS yang merupakan pendukung buku ajar dan panduan

bagi siswa untuk memahami materi dan melakukan kegiatan untuk berlatih

menguasai kemampuan pemahaman konsep fisika

d. Perencanaan Awal (Initial Design)

Rencana awal yang dimaksud dalam penelitian ini adalah rancangan

seluruh kegiatan yang harus dilakukan sebelum uji coba dilaksanakan. Pada fase

ini adalah penulis menghasilkan rancangan awal perangkat pembelajaran materi

suhu dan kalor yang meliputi RPP, buku guru (BG), buku siswa (BS), LAS, tes

kemampuan pemahaman konsep dan angket disposisi matematis. Rancangan awal

ini disebut sebagai draft I.

3.5.3. Tahap Pengembangan

Tujuan dari tahap pengembangan adalah untuk menghasilkan draf final

yang baik. Tahap ini diawali dengan proses validasi oleh ahli yang ditukan dengan

uji coba ke lapangan. Revisi dari ahli dan nilai validasi yang diperoleh akan

dijadikan acuan revisi perangkat pembelajaran. Rincian langkah-langkah yang

dilakukan pada tahap ini adalah :


a. Validasi Ahli (Expert Appraisal)

Langkah ini ditujukan untuk menilai kelayakan draf I oleh ahli. Ahli yang

dimaksud adalah pada validator yang berkompeten untuk melakukan validasi

perangkat pembelajaran fisika meliputi dosen pendidikan fisika UNIMED dan

guru fisika SMA. Berdasarkan masukan dari para ahli, perangkat pembelajaran

yang telah dikembangkan direvisi untuk menghasilkan perangkat yang valid.

Perangkat pembelajaran yang dihasilkan pada fase ini disebut draf II.

Secara umum validasi ahli meliputi: 1) Format perangkat pembelajaran:

apakah format dari perangkat pembelajaran jelas, manarik, dan cocok untuk

pemakainya; 2) Ilustrasi perangkat pembelajaran: ilustrasi jelas, mudah dipahami,

dan memperjelas konsep; 3) Bahasa: apakah kalimat pada perangkat pembelajaran

menggunakan bahasa yang sesuai dengan kaidah Bahasa Indinesia dan apakah

kalimat pada perangkat pembelajaran tidak menimbulkan penafsiran yang ganda;

4) Isi dari perangkat pembelajaran: apakah isi dari perangkat pemebalajaran sesuai

dengan materi serta tujuan yang diukur.

Pada tiap-tiap lembar validasi, validator menuliskan penilainnya. Penilain

terdiri dari 5 kategori, yaitu tidak valid (nilai 1), kurang valid (nilai 2), cukup

valid (nilai 3), valid (nilai 4), sangat valid (nilai 5). Validator juga menuliskan

saran dan komentarnya. Berdasarkan masukan dari para ahli, materi dan

rancangan pembelajaran yang telah disusun direvisi agar perangkat pembelajaran

yang dikembangkan valid, praktis dan memiliki kualitas yang tinggi. Perangkat

pembelajaran yang dihasilakan pada fase ini disebut draf II.

b. Uji Coba Lapangan


Uji coba lapangan dilakukan untuk memperoleh masukan langsung

terhadap perangkat pembelajaran yang telah disusun sehingga menghasilkan

perangkat final. Perangkat pembelajaran tersebut diujicobakan di SMA N 1

tanjung Pura untuk melihat kepraktisan dan efektifitas perangkat pembelajaran

yang telah dirancang. Untuk efektifitas perangkat pembelajaran yang telah

dikembangkan yang diukur dari: (1) ketercapaian ketuntasan klasikal siswa; (2)

persentase waktu ideal aktivitas siswa; (3) Respon positif siswa melalui penerapan

perangkat pembelajaran model scientific inquiry berbasis kultur Jawa yang

dikembangkan serta melihat proses jawaban siswa dalam menyelesaikan tes.

Adapun rancangan uji coba yang digunakan dalam penelitian ini adalah one-

shot case study atau disebut dengan one-group posttest only design yang

dipresentasikan sebagai berikut.

Treatment Postest
X O
Sumber (Sugiyono, 2010:74)

Keterangan:

X : Perlakuan pembelajaran menggunakan perangkat pembelajaran dengan model

scientific inquiry berbasis kultur Jawa yang telah dikembangkan

O : Postes keterampilan berpikir kritis dan self-efficacy siswa

Data yang diperoleh dari hasil uji coba I dianalisis dan dijadikan acuan

revisi perangkat pembelajaran untuk uji coba berikutnya sampai diperoleh

kesimpulan bahwa kriteria telah dipenuhi. Pada akhir uji coba akan diperoleh

perangkat final (draf final)


3.5.4. Tahap Penyebaran (Disseminate)

Pengembangan perangkat pemebalajaran mencapai tahap akhir (draf final)

jika telah memperoleh penilaian positif dari tenaga ahli dan melalui tes

pengembangan. Perangkat pembelajaran tersebut akan dikemas, disebarkan dan

diterapkan untuk skala yang lebih luas. Oleh karena itu, diberikan kesempatan

kepada peneliti selanjutnya untuk melakukan penyebaran pada skala yang lebih

luas.

3.6. Instrumen dan Teknik Pengumpulan Data

Untuk mengatur kevalidan, kepraktisan dan keefektifan perangkat

pembelajaran fisika, maka disusun dan dikembangkan instrumen penelitian.

Instrumen yang dikembangkan dalam penelitian ini diuraikan sebagai

berikut.

3.6.1. Lembar Validasi Perangkat Pembelajaran


Seluruh lembar validasi dalam penelitian ini digunakan untuk

mengukur lembar validasi yang digunakan antara lain : (a). lembar validasi

yang rencana pelaksanaa pembelajaran (RRP), (b) Lembar validasi Buku

Guru (BG) dan lembar validasi Buku Siswa (BS), (c) lembar validasi Lembar

Aktivitas Siswa (LAS), (d) lembar validasi tes keterampilan berpikir kritis

(TKBK), dan (e) lembar validasi angket self-efficacy siswa. Lembar validasi

dapat dilihat pada lampiran.

Proses validasi dimulai dengan meminta validator untuk memeriksa

dan mememberi skor yang sesuai dengan membubuhi tanda ceklis () pada

baris dan kolom yang sesuai. Validator juga diminta memberikan


kesimpulan secara umum tentang Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP),

Buku Guru (BG), Buku Siswa (BS), Lembar Aktivitas Siswa (LAS), Tes

Keterampilan Berpikir Kritis (TKBK), dan Angket Self-Efficacy (ASE) yaitu :

tidak baik, kurang baik, cukup baik, baik sekali, belum dapat digunakan

dan masih memerlukan konsultasi, dapat disunakan dengan banyak revisi,

dapat disunakan dengan sedikit revisi, dan dapat digunakan tanpa revisi.

Selanjutnya, data tentang penilaian para ahli tersebut dianalisis dan hasil

analisisnya dijadikan dasar untuk perbaikan masing - masing perangkat

pembelajaran. Secara terperinci akan diuraikan komponen - komponen,

fungsi, dan kegunaan tiap - tiap lembar validasi, disajikan sebagai berikut:

a. Lembar Validasi Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)


Instrumen yang digunakan adalah lembar observasi yang bertujuan

untuk melihat apakah RPP yang dirancang sudah memenuhi standar terkait

dengan format, isi dan bahasa yang digunakan. Lembar ini juga bertujuan

untuk melihat apakah komponen RPP sudah mengikuti langkah - langkah

pendekatan penemuan terbimbing. Lembar ini terdiri dari lima skala

penilaian yaitu : 1 berarti tidak baik, 2 berarti kurang baik, 3 berarti cukup

baik, 4 berarti baik dan 5 berarti sangat baik.

b. Lembar Validasi Buku


Instrumen yang digunakan adalah lembar observasi yang bertujuan

untuk melihat apakah buku petunjuk guru dan buku siswa yang dirancang

sudah memenuhi standar terkait dengan format, isi dan bahasa yang

digunakan. Lembar ini juga bertujuan untuk melihat apakah komponen buku

sudah mengikuti prinsip dan langkah - langkah model scientific inquiry

berbasis kultur Jawa. Lembar ini terdiri dari lima skala penilaian yaitu: 1
berarti tidak baik, 2 berarti kurang baik, 3 berarti cukup baik, 4 berarti

baik dan 5 berarti sangat baik.


c. Lembar Validasi Lembar Aktivitas Siswa (LAS)

Instrumen yang digunakan adalah lembar observasi yang bertujuan

untuk melihat apakah LAS yang dirancang sudah memenuhi standar terkait

dengan format, isi dan bahasa yang digunakan. Lembar ini juga bertujuan

untuk melihat apakah komponen LAS sudah mengikuti langkah - langkah

pendekatan penemuan terbimbing. Lembar ini terdiri dari lima skala

penilaian yaitu : 1 berarti tidak baik, 2 berarti kurang baik, 3 berarti cukup

baik, 4 berarti baik dan 5 berarti sangat baik.

3.6.2. Lembar Penilaian Kepraktisan Pembelajaran


Teknik yang digunakan untuk memperoleh data penelitian ini adalah

dengan memberikan perangkat pembelajaran dan instrumen serta lembar

penilaiannya kepada para ahli. Jika para ahli menyatakan bahwa perangkat

tersebut dapat digunakan dengan sedikit/tanpa revisi, maka perangkat

tersebut dinyatakan praktis digunakan. Selain itu, bagi pengguna sendiri

khususnya siswa diberikan wawancara kepada siswa. Hal ini bertujuan

untuk mengetahui pendapat mereka ketika menggunakan produk yang telah

dikembangkan.
Sementara itu, terkait observasi keterlaksanaan pembelajaran. Ada

observer yang mengamati proses pembelajaran. Adapun pilihan yang disetiap

langkahnya adalah :

1 = Tidak baik ( tidak terlaksana sama sekali)

2 = Kurang baik ( dilaksanakan tetapi tidak selesai)


3 = Cukup baik ( dilaksanakan tetapi tidak lengkap)

4 = baik ( dilaksanakan tetapi tidak sistematis)

5 = Sangat baik ( dilaksanakan dengan baik dan sistematis)

3.6.3. Lembar Keefektifan Pembelajaran

Lembar ini digunakan untuk melihat keefektifan perangkat

pembelajaran dalam proses belajar mengajar yang telah dikembangkan.

Untuk memperoleh data respon siswa selama pembelajaran, digunakan

instrumen berupa lembar respon siswa selama proses pembelajaran. Data

tentang respon siswa diperoleh dengan memabgikannya kapada siswa.

Lembar tersebut berisi tentang senang dan tidaknya siswa dalam mengikuti

pembelajaran, apakah komponen pembelajaran (Buku Siswa dan LAS, cara

guru mengajar, suasan pembelajaran di kelas) baru dialami siswa atau tidak,

apakah siswa mengikuti pembelajaran, apakah siswa memahami isi dari

perangkat yang dibagikan serta apakah siswa tertarik/tidak dengan

penampilan perangkat tersebut.

3.6.4. Tes Keterampilan Berpikir Kritis Siswa

Tes keterampilan berpikir kritis siswa yang digunakan berbentuk essai

berdasarkan indikator pada berpikir kritis. Pemilihan soal dalam bentuk essai ini

bertujuan agar siswa dapat mengungkap seluruh kemampuannya. Selain itu, soal

dalam bentuk essai membutuhkan banyak variasi pertanyaan sehingga dapat

menggali konsep dan pola pikir siswa yang telah ada dalam struktur kognitif

siswa.

Tabel 3.2. Kisi-kisi Tes Keterampilan Berpikir Kritis Siswa


Materi
Suhu Kalor Azas Perubaha Perpinda
No Indikator
Black n Wujud han Kalor
1 Keterampilan 1

menganalisis
2 Keterampilan 2

menjelaskan

atau penalaran
3 Keterampilan 3,5

menyimpulkan
4 Keterampilan 4

meringkas
5 Keterampilan

strategi dan

taktik

Untuk melihat perbedaan keterampilan berpikir kritis siswa di kelas

eksperimen dan kontrol dilihat masing-masing indikator yang diukur untuk

keseluruhan siswa.

3.7. Analisis Data


3.7.1. Analisis Data Untuk Kepraktisan Perangkat Pembelajaran

Cara menganalisis kepraktisan perangkat pembelajaran yaitu sesuai

dengan memberikan perangkat pembelajaran kepada validator untuk validasi.

Perangkat pembelajaran dikatakan praktis jika validator menyatakan bahwa

pembelajaran yang dikembangkan dapat diterapkan dan digunakan


dilapangan sengan sedikit revisi atau tanpa revisi. Serta hasil dari

wawancara siswa/pengguna perangkat pembelajaran bahwa perangkat

pembelajaran yang dikembangkan sudah mudah dalam penggunaanya,

bahasanya mudah dimengerti.

Selain itu, dalam hal keteraksanaan pembelajaran, setelah data

diperoleh dari pengamatan (Observer), selanjutnya data dianalisis untuk

mengetahui seberapa besar tingkat ketidaksamaan pembelajaran. Analisis

tersebut sebagai berikut.

1. Mencari Kategori (NK) dari kriteria setiap aspek (NRK)


NK
2. NK = n , dimana n = banyaknya kriteria aspek i

3. Mencari Nilai Keterlaksaan Pembelajaran (NKP) dari rata - rata

NK
setiap kategori NKP = m , dimana m = banyaknya kategori

Kategori NKP menurut sinaga (2007.171) interval penentuan tingkat

keterlaksanaan pembelajaran dengan perangkat pembelajaran model

scientific inquiry berbasis kultur Jawa yang akan dikembangkan

sebagai berikut:

Sangat rendah, jika 0 P < 1

Rendah, jika 1 P < 2

Cukup, jika 2 P < 3

Tinggi, jika 3 P < 4

Sangat tinggi, jika 4 P 5

Kete rangan :

P adalah skor rata - rata

Perangkat yang telah dikembangkan dikatakan praktis atau mudah

diterapkan jika keterlaksanaan perangkat tersebut masuk dalam kategori

minimal tinggi.

3.7.2. Analisis Data Untuk Efektifitas Perangkat Pembelajaran Fisika

Analisis ini dilakukan untuk melihat apakah perangkat pembelajaran

yang telah dikembangkan efektif digunakan dalam pembelajaran. Berikut

uraian analisisnya.

1) Analisis Pencapaian Ketuntasan Belajar Siswa Secara Klasikal


Keefektifan perangkat pembelajaran terkait dengan kemampuan

pemahaman konsep ditentuka berdasarkan pencapaian ketuntasan belajar

siswa secara klasikal. Data yang diperoleh dari hasil posttest keterampilan

berpikir kritis siswa disetiap akhir uji coba, dianalisis untuk mengetahui

presentase siswa yang telah dapat menguasai konsep. Setiap siswa dikatakan

telah dapat memliki ketrampilan berpikir kritis jika jawaban benar siswa

75. Untuk menentukan ketuntasan tersebut dapat menggunakan persamaan

berikut.

T
KB = T 100

Trianto, (2011: 241)

Keterangan :

KB = Ketuntasan Belajar
T = Jumlah skor yang diperoleh siswa

T = Jumlah skor total

Sedangkan ketuntasan belajar per kelas atau Presentase Ketuntasan

Klasikal (PKK) diperoleh dengan menghitung presentase jumlah siswa yang

tuntas secara individu. Suatu kelas dikatakan tuntas belajarnya jika PKK

85%. Presentasenya dapat dihitung dengan rumus ;

jumlah siswa yang tuntas belajar


PKK = jumlah seluruh siswa 100%

Kriteria yang menyatakan siswa dikatakan telah mampu memahami

konsep dengan baik apabila terdapat 85% siswa yang mengikuti tes telah

memiliki kemampuan minimal nilai 75 ( Trianto, 2011: 241). Apabila kriteria

diatas belum terpenuhi maka perlu diadakan peninjauan ulang proses dan

hasil pembelajaran yang telah dilakukan dan dilakukakan uji coba ulang

dengan tujuan untuk mendapat perangkat pembelajaran efektif ditinjau dari

keterampilan berpikir kritis siswa.

1) Analisis Waktu Pembelajaran

Waktu pembelajaran dengan perangkat yang dikembangkan dengan

model scientific inquiry berbasis kultur Jawa dirancang sebanyak 3 x

pertemuan atau sekitar 3 x 45 menit. Adapun menganalisis waktu

pembelajaran adalah dengan melihat apakah waktu yang telah dirancang

tersebut melebihi atau sama dengan pembelajaran yang dilakukan guru


disekolah tersebut pada materi suhu dan kalor atau dengan melihat waktu

yang ada pada silabus yang telah ditetapkan.

2) Analisis Data Respon Siswa

Lembar respon siswa dianalisis dengan menghitung presentase banyak

siswa yang memberikan respon positif dan pada setiap kategori yang

dinyatakan dalam lembar respon dengan menggunakan rumus sebagai

berikut:

A
PRS = B 100%

Borich(Herman, 2012:5)

Keterangan :

PRS : Presentase banyak siswa yang memberikan respon positif terhadap

setiap kategori yang dinyatakan

A : Proporsi siswa yang memilih

B : Jumlah siswa (responden)

Kriteria yang ditetapkan untuk mengatakan bahwa para siswa

memiliki respon yang positif terhadap perangkat pembelajaran yang

dikembangkan apabila banyaknya siswa yang member respon posisf lebih

besar atau sama dengan 80% dari banyaknya subjek yang diteliti untuk

setiap uji coba lapangan (Sinaga, 2007:171).

3.7.3. Teknik Analisis Data Tes Keterampilan Berpikir Kritis Siswa


Data instrumen tes dianalisis untuk mengetahui keterampilan berpikir

kritis siswa dan menguji hipotesis menggunakan uji t menggunakan SPSS 20.0

Teknik penganalisaan data keterampilan berpikir kritis siswa pada

penelitian ini adalah :

3.7.3.1. Analisis Secara Deskriptif

Data penelitian berupa pemahaman konsep dan keterampilan berpikir kritis

siswa dinyatakan dalam nilai rata-rata, simpangan baku, median dan modus. Hal

ini akan dilakukan dengan cara mendistribusikan data baik pretes-postes kedua

kelas tersebut ke dalam program SPSS 20.0 pada kolom descriptive. Dari proses

tersebut maka akan menghasilkan tabel output berupa diskriptif data, tabel

frekuensi dan juga gambar chart tiap-tiap kelompok.

3.7.3.2. Analisis Secara Inferensial

a. Peningkatan Keterampilan Berpikir Kritis dan Self-Efficacy Siswa

Mengetahui peningkatan keterampilan berpikir kritis siswa yang

dikembangkan melalui pembelajaran dihitung berdasarkan skor gain yang

dinormalisasi. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari kesalahan dalam

menginterpretasikan perolehan gain masing-masing siswa.

Skor gain yang dinormalisasi digunakan rumus yang dikembangkan oleh

Hake yaitu :

S Pos S Pre
g
S Mak S Pre
(Hake, 1999: 1-4)

Keterangan: g = gain
Spos = skor postes

Spre = skor pretes

Smak = skor maksimum

dengan kategori perolehan N-gain :

tinggi : g >0,7
g
sedang : 0,3 0,7
rendah : g <0,3
(Hake, 1999: 1-4)

Sebelum pembelajaran, siswa diberikan tes awal. Setelah pembelajaran,

siswa kembali dilakukan postes. Hasil belajar tersebut dibandingkan dengan nilai

pretes dan postes.

b. Menghitung Nilai Rata-rata dan Simpangan Baku

Untuk menghitung nilai rata-rata dan simpangan baku digunakan rumus :

x
x i

n
(Sudjana, 2009)

Keterangan :

x
: Rata-rata pemahaman konsep dan keterampilan berpikir kritis

siswa

x i
: Jumlah nilai total

N : Jumlah sampel

Besar simpangan baku dapat dihitung dengan menggunakan rumus :


N xi xi
2 2

S
N N 1
(Sudjana, 2009)

Keterangan :

S : Simpangan baku

N : Banyaknya jumlah siswa

x i
: Jumlah total

c. Uji Normalitas

Uji normalitas dilakukan untuk populasi darimana sampel berasal. Uji

normalitas digunakan untuk mengetahui apakah data kedua sampel berdistribusi

normal atau tidak. Data yang diolah berasal dari sampel, maka populasi dari mana

data diambil dapat dikatakan berdistribusi normal. Menurut Sudjana (2009)

Langkah-langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut :

Pengamatan X1, X2, . . . . . Xn dijadikan bilangan baku Z1, Z2, . . Zn dengan

menggunakan rumus :

Xi X
S
1 =
Z

Keterangan :

X
: Rata-rata nilai pemahaman konsep dan berpikir kritis

siswa
Z : Bilangan baku

Xi : Nilai ujian siswa

Untuk bilangan baku dihitung dengan menggunakan daftar distribusi

normal baku dan kemudian dihitung peluang dengan rumus :

F (Zi) = P (Z Zi)

Selanjutnya menghitung proporsi Z1, Z2, . . . . . Zn yang lebih kecil atau

sama dengan Zi. Jika proporsi ini dinyatakan dengan oleh S (Zi), maka

banyaknya Z 1 , Z 2 ,...Z n Z i
n
S (Zi) =

Menghitung selisih F (Zi) S (Zi) kemudian menentukan harga mutlaknya.


Diambil harga yang paling besar diantara harga-harga mutlak selisih

tersebut. Harga terbesar disebut Lhitung, selanjutnya pada taraf signifikan

= 0,05 dicari harga Ltabel pada daftar nilai kritis L untuk uji Liliefors.

Kriteria pengujian ini adalah :

Jika Lhitung< Ltabel maka sampel berdistribusi normal.

Jika Lhitung> Ltabel maka sampel tidak berdistribusi normal.

d. Uji Homogenitas

Uji homogenitas berfungsi untuk mengetahui apakah penyebaran kedua

sampel berasal dari populasi yang homogen. Menurut Sudjana (2009), untuk uji

homogenitas data populasi digunakan uji kesamaan varians, dengan rumus:

2
S
F 12
S2

Keterangan :

2
s1
=Varians terbesar
2
s2
=Varians terkecil

Kriteria Pengujian :

Jika Fhitung>F tabel, maka kedua sampel tidak berasal dari populasi yang homogen.

Jika Fhitung <F tabel,, maka kedua sampel berasal dari populasi yang homogen.

Taraf Signifikan () = 0,05.

e. Pengujian Hipotesis ( Uji t )

Pengujian hipotesis dilakukan dengan dua cara yaitu :

1. Uji kesamaan rata-rata pretes (uji hipotesis dua pihak)

Uji hipotesis dua pihak dengan menggunakan uji t digunakan untuk

mengetahui kesamaan kemampuan awal siswa pada kedua kelompok sampel.

Hipotesis yang diuji berbentuk :

Ho : 1 2

Ha : 1 2

Keterangan :

1 2
: Rata-rata keterampilan berpikir kritis siswa pada kelas eksperimen

sama dengan keterampilan berpikir kritis siswa pada kelas kontrol.

1 2
: Rata-rata keterampilan berpikir kritis siswa pada kelas eksperimen tidak

sama dengan keterampilan berpikir kritis siswa pada kelas kontrol.

Syarat dari uji t adalah data harus berdistribusi normal dan homogen.

Menguji hipotesis menggunakan uji t dengan rumus, yaitu :


X1 X 2
t
1 1
S
n1 n 2

Dimana S adalah varians gabungan yang dihitung dengan rumus :

S2
n1 1 S12 n2 1 S 22
n1 n2 2

t 1 <t hit < t 1


Kriteria pengujian adalah : terima Ho jika 1
2
1
2 dimana

t 1
0,05
1
2 didapat dari daftar distribusi t dengan dk = n1+n2-2 dan . Untuk

harga t lainnya Ho ditolak.

t 1 <t hit < t 1


Analisis data yang menunjukkan bahwa 1
2
1
2 , maka

hipotesis Ho diterima, berarti keterampilan berpikir siswa pada kelas eksperimen

sama dengan keterampilan berpikir kritis siswa pada kelas kontrol. Dan jika

analisis data menunjukkan harga t yang lain, maka Ho ditolak dan terima Ha,

berarti pemahaman konsep dan keterampilan berpikir kritis siswa pada kelas

eksperimen tidak sama dengan keterampilan berpikir kritis siswa pada kelas

kontrol.

2. Uji kesamaan rata-rata postes (uji hipotesis satu pihak)

Uji hipotesis satu pihak digunakan untuk mengetahui pengaruh dari suatu

perlakuan yaitu penggunaan model pembelajaran scientific inquiry berbasis kultur

Jawa terhadap keterampilan berpikir kritis siswa. Hipotesis yang diuji berbentuk:
Ho : 1 2

Ha : 1 2

Keterangan :

1 2
: Rata-rata keterampilan berpikir kritis siswa pada kelas eksperimen dan

kelas kontrol lebih kecil atau sama,berarti tidak ada pengaruh

pengembangan perangkat pembelajaran dengan model scientific

inquiry berbasis kultur Jawa terhadap keterampilan berpikir kritis.

1 2
: Rata-rata keterampilan berpikir kritis siswa pada kelas eksperimen

lebih besar atau lebih baik dari keterampilan berpikir kritis siswa pada

kelas kontrol, berarti ada pengaruh pengembangan perangkat

pembelajaran dengan model scientific inquiry berbasis kultur Jawa

terhadap keterampilan berpikir kritis.

Uji hipotesis menggunakan uji t dapat digunakan jika data tersebut

berdistribusi normal dan homogen, maka untuk menguji hipotesis menggunakan

uji t dengan rumus, yaitu :

X1 X 2
t
1 1
S
n1 n 2

Dimana S adalah varians gabungan yang dihitung dengan rumus :


n1 1 S12 n2 1 S 22
S2
n1 n2 2

Keterangan :

t = Distribusi t

X1
Rata-rata keterampilan berpikir kritis siswa pada kelas eksperimen

X2
Rata-rata keterampilan berpikir kritis siswa pada kelas kontrol

n1
Jumlah siswa kelas eksperimen

n2
Jumlah siswa kelas kontrol

S12
Varian kelas eksperimen

S 22
Varian kelas kontrol

S2
Varian dua kelas sampel

th it t 1 t1
Kriteria pengujiannya adalah : Terima Ho jika dimana didapat

1 0,05
dari daftar distribusi t dengan peluang dan dk = n1 + n2-2 dan .

Untuk harga t lainnya Ho ditolak, apabila analisis data menunjukkan bahwa

th it t 1
, maka hipotesis Ha diterima, berarti keterampilan berpikir kritis siswa

pada kelas eksperimen (dengan pengembangan perangkat pembelajaran dengan

model scientific inquiry berbasis kultur Jawa terhadap keterampilan berpikir


kritis) lebih besar dibandingkan keterampilan berpikir kritis siswa pada kelas

kontrol (dengan menggunakan model pembelajaran direct instruction), maka

pengembangan perangkat pembelajaran dengan model scientific inquiry berbasis

kultur Jawa terhadap keterampilan berpikir kritis.memiliki pengaruh dalam

pembelajaran fisika untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa.