Anda di halaman 1dari 118

LAPORAN

DISEMINASI AWAL DEPARTEMEN MANAJEMEN


RUANG TERATAI RUMAH SAKIT UMUM KARSA HUSADA BATU

Laporan Disusun Untuk Memenuhi Tugas Kelompok Kepaniteraan Klinik


Departemen Manajemen
Dibimbing Oleh Ns. Linda Wieke S.Kep., M.Kep dan Ns. Sujud Priono S.Kep., M.Kep

Oleh:
Kelompok 7

Adimas Mokhtar S. 150070300011150


Farid D.N 150070300011085
Ella Ade Yantika 150070300011100
Priskilla P.N 150070300011042
Amanda Kardina S. 150070300011095
Rahajeng W. 150070300011096
Siti Khoiriya 150070300011065
Dwi Retno Selfitriana 150070300011156

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2016

1
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Keberhasilan organisasi suatu rumah sakit dalam mencapai tujuan


salah satunya ditentukan oleh pelayanan keperawatan. Pelayanan
keperawatan yang terorganisir dengan baik maka diharapkan dapat
memberikan pelayanan keperawatan yang prima yang akhirnya dapat
meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan khususnya pelayanan
keperawatan. Menurut WHO (World Health Organization) 2010, rumah
sakit adalah bagian integral dari suatu organisasi sosial dan kesehatan
dengan fungsi menyediakan pelayanan paripurna (komprehensif),
penyembuhan penyakit (kuratif) dan pencegahan penyakit (preventif)
kepada masyarakat. Rumah sakit juga merupakan pusat pelatihan bagi
tenaga kesehatan dan pusat penelitian medik. Menurut undang-undang No.
44 Tahun 2009 rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang
menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna
yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat.
Sesuai SK Menteri Kesehatan RI No. 983/Menkes/ASK/SK/XI/1992
tentang Pedoman Organisasi Rumah Sakit Umum, suatu rumah sakit
umum harus menjalankan beberapa fungsi, satu diantaranya adalah fungsi
pelayanan manajemen keperawatan, sehingga untuk rumah sakit umum
ditetapkan seorang wakil direktur pelayanan medis dan keperawatan yang
dibantu oleh kepala bidang keperawatan yang mempunyai tugas
melakukan bimbingan pelaksanaan asuhan/pelayanan keperawatan,
profesi keperawatan, logistik keperawatan, serta etika dan mutu
keperawatan (Aditama, 2006).
Manajemen keperawatan sendiri merupakan suatu proses
koordinasi dan integrasi sumber daya keperawatan dengan menerapkan
proses manajemen untuk mencapai perawatan, tujuan pelayanan dan
obejektif (Huber, 2006).Jadi manajemen keperawatan adalah suatu tugas
khusus yang harus dilaksanakan oleh pengelola keperawatan untuk
merencanakan, mengorganisasikan, mengarahkan serta mengawasi
sumber sumber yang ada, baik sumber daya maupun dana sehingga
dapat memberikan pelayanan keperawatan yang efektif baik kepada
pasien, keluarga dan masyrakat. Untuk mencapai hal tersebut dibutuhkan
Metode Asuhan Keperawatan Profesional (MAKP).
Dasar MAKP tersebut dituangkan dalam Undang-undang No. 44
Tahun 2009 Pasal 29 ayat 1 (b) Setiap Rumah Sakit mempunyai kewajiban
memberi pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, antidiskriminasi dan
efektif dengan mengutamakan kepentingan pasien sesuai dengan standar
pelayanan Rumah Sakit. MAKP merupakan suatu sistem (struktur, proses
dan nilai-nilai profesional) yang memungkinkan perawat profesional
mengatur pemberian asuhan keperawatan termasuk lingkungan untuk
menopang pemberian asuhan keperawatan. Tujuan utama MPKP adalah
untuk meningkatkan mutu pelayanan keperawatan,sehingga untuk
mencapai aplikasi MAKP terdapat tiga tahap antara lain tahap persiapan
(pra-implementasi), tahap pelaksanaan (intra-implementasi), dan tahap
evaluasi (paska implementasi) (Ahsan, 2012).
Dalam tahap persiapan sama seperti halnya asuhan keperawatan di
depertemen lain, departemen manajemen keperawatan juga melakukan
pengumpulan data dengan 5M terdiri dari Man/M1, Material and
machine/M2, Method/M3, Money/M4 dan Marketing/M5. Method/M3
merupakan data yang menitik beratkan pada penerapan MAKP sendiri,
penerimaan pasien baru-sentralisasi obat, timbang terima (TT), discharge
planning, supervisi, diskusi refleksi kasus atau biasa dikenal dengan ronde
keperawatan dan dokumentasi (Ahsan, 2012). Hal-hal tersebut sangat
penting untuk diperhatikan dan dapat memepengaruhi efektifitas
pelaksanaan model asuhan keperawatan di ruangan.
Lokasi Rumah Sakit Umum Karsa Husada Batu juga berada di jalur
transportasi dan komunikasi yang mudah dijangkau masyarakat sehingga
dapat mendorong pihak rumah sakit untuk memberikan pelayanan dengan
cepat dan mudah untuk mengembangkan pelayanan serta meningkatkan
mutu pelayanan. Maka dari itu, untuk memberikan pelayanan kesehatan
yang prima dengan cepat dan mudah sesuai standar pelayanan kesehatan
yang telah ditetapkan pemerintahdalam mengembangkan pelayanan serta
meningkatkan mutu pelayanan Rumah Sakit Umum Karsa Husada Batu
khususnya di ruang Teratai memerlukan peningkatan dengan perbaikan
mutu manajemen di ruang Teratai.
Berdasarkan hasil pengkajian tanggal 8 Agustus - 17 September
2016 didapatkan hasil bahwa ruang Teratai menggunakan model
pemberian asuhan keperawatan metode fungsional. Dalam melaksanakan
praktek profesi departemen manajemen, penulis mencoba mengidentifikasi
dan menganalisis proses manajemen keperawatan yang ada dan lebih
cocok untuk diterapkan dalam pemberian asuhan keperawatan di Ruang
Teratai Rumah Sakit Umum Karsa Husada Batu.

1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
Memberikan gambaran mengenai pelaksanaan manajemen
keperawatan serta pembuatan perencanaan strategi, manajemen ruangan
dan asuhan keperawatan, serta menyelesaikan masalah yang terjadi di
Ruang Teratai Rumah Sakit Umum Karsa Husada.

1.2.2 Tujuan Khusus


1 Mampu melakukan pengkajian terhadap pelaksanaan asuhan
keperawatan yang dilaksanakan di ruang teratai RSU Karsa Husada
Batu.
2 Mampu menganalisis situasi manajemen di ruang teratai RSU
Karsa Husada Batu.
3 Mampu mengidentifikasi permasalahan manajemen keperawatan
yang ada di ruang teratai RSU Karsa Husada Batu.
4 Mampu menentukan prioritas masalah berdasarkan permasalahan
yang teridentifikasi.
5 Mampu membuat tujuan dan rencana pemecahan masalah (plan of
action) untuk mengatasi permasalahan yang diprioritaskan.
6 Mengusulkan alternatif pemenuhan kebutuhan dan penyelesaian
masalah yang bersifat teknik operasional bagi ruang teratai RSU
Karsa Husada Batu.
7 Mampu melaksanakan kegiatan yang direncanakan pada plan of
action
8 Mampu mengevaluasi hasil kegiatan yang telah direncanakan.
9 Merencanakana tindak lanjut dari hasil yang dicapai berupa upaya
mempertahankan dan memperbaiki hasil melalui kerjasama dengan
ruang teratai RSU Karsa Husada Batu
10 Melaksanakan seminar evaluasi hasil pelaksanaan kegiatan
manajemen keperawatan di ruang teratai RSU Karsa Husada Batu.

2 Manfaat
1. Manfaat bagi ruangan atau institusi rumah sakit
Dapat dijadikan sebagai sarana dukungan, masukan, atau
pengembangan fungsi manajemen ruangan gunamempertahankan dan
peningkatan kualitas pelayanan keperawatan di ruangan pada khususnya
dan kualitas pelayanan rumah sakit pada umumnya dalam mencapai
pelayanan yang prima.
2. Manfaat bagi institusi pendidikan
a. Mengembangkan teori manajemen di dunia klinik.
b. Mendidik mahasiswa untuk menerapkan ilmu yang diajarkan pada
praklinik untuk menerapkan di klinik
3. Manaat bagi mahasiswa
a. Mengaplikasikan dan mengintegrasikan konsep manajemen
keperawatan dalam tatanan praktek klinik danpengembangan
wawasan pengetahuan atau teori manajemen melalui penerapan
fungsi manajemen bangsal.
b. Memberikan kesempatan untuk berfikir kritis dalam menganalisa
MAKP (Metode Asuhan Keperawatan Profesional).
c. Mengaplikasikan metode supervisi klinis dalam praktek manajemen
keperawatan.
d. Memberikan pengalaman pada mahasiswa dalam bidang
manajemen.

BAB II
GAMBARAN UMUM RUMAH SAKIT UMUM KARSA HUSADA
2.1 Rumah Sakit Umum Karsa Husada Batu
.1.1 Sejarah
Rumah Sakit Umum Karsa Husada didirikan sejak tahun 1912
pada masa penjajahan Belanda dengan pelayanan Rawat Jalan untuk
penyakit paru yang berlokasi di Jalan A. Yani No. 10-13 Kota Batu.
Selanjutnya pada tahun 1934 tepatnya tanggal 20 Maret 1934 dibuka
ruang perawatan (Rawat Inap) yang diresmikan oleh Mas Soemarto
(Patih Kabupaten Malang), JA Seven (Poning Master),de Ruyter de
Wild (Voorith Bob) dan dikenal dengan nama Sanatorium. Pada masa
penjajahan Belanda dengan nama Sanatorium dikuasai oleh
Pemerintah Belanda dan dijadikan Rumah Sakit Belanda. Setelah
Indonesia merdeka Sanatorium diserahkan ke Pemerintah Republik
Indonesia, khususnya Pemerintah Provinsi Jawa Timurberubah nama
menjadi Rumah Sakit Paru Batu.
Berdasarkan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 37
Tahun 2000 dan Keputusan Gubernur Nomor 26 Tahun 2002 Rumah
Sakit Paru ditetapkan sebagai salah satu Unit Pelaksana Teknis (UPT)
Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur yang berlokasi di Kota Batu.
Berdasarkan Peraturan Daerah Propinsi Jawa Timur Nomor 37
Tahun 2000 dan Keputusan Gubernur Nomor 26 Tahun 2002 Rumah
Sakit Paru ditetapkan sebagai salah satu Unit Pelaksana Tehnis
(UPT) Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur yang berlokasi di Kota
Batu yang secara geografis terletak didaerah dataran tinggi dengan
ketinggian 7001.100 m dari permukaan air laut dengan kemiringain
0450 C. Rumah Sakit Paru Batu memiliki luas tanah 41.490 m 2 dan
luas lahan bangunan 12.344 m2 dan masih ada tanah kosong seluas
29.146 m2 yang memungkinkan untuk mengembangkan pelayanan
kesehatan.
Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Nomor : YM.02.04.3.3.3228 Tanggal 4 Juli 2007 diberikan Ijin
penyelenggaraan Rumah Sakit Khusus dengan nama Rumah Sakit
Paru Batu dan pada tangaal 29Desember 2009 Nomor :
118/259/kpps/013/2009 Rumah Sakit Karsa Husada di tetapkan
sebagai Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) berstatus BLUD
penuh serta tahun 2011 penetapan akreditas 5 pelayanan.Rumah
Sakit Paru Batu berubah nama pada awal mei 2015 dengan nama
Rumah Sakit Umum Karsa Husada Batu.

2.1.2 Visi Rumah Sakit Umum Karsa Husada Batu


Visi Rumah Sakit Karsa Husada Batu adalah Menjadi Rumah Sakit
Pilihan Utama Masyarakat.

.1.3 MisiRumah Sakit Umum Karsa Husada Batu


Misi Rumah Sakit Karsa Husada Batu adalah sebagai berikut:
a. Mewujudkan pelayanan kesehatan aman, ramah dan berkualitas.
b. Mewujudkan pelayanan unggulan respirasi paripurna.
c. Mengembangkan manajemen dan sumber daya berbasis
teknologi informasi/iptek berwawasan wisata (hospital tourism).
d. Menyelenggarakan penelitian pengembangan, pendidikan dan
pelatihan di bidang pelayanan kesehatan.
e. Meningkatkan kesejahteraan karyawan berdasarkan
profesionalisme dan kepuasan pelanggan.

2.1.4 Luas Lahan


Rumah Sakit Umum Karsa Husada memiliki luastanah41.490 m2
dan luas lahan bangunan 12.344 m2dengan rinciansebagaiberikut:
Tanah Sebelah Barat (Jl. Abdul Rahman No.02 Batu) :
1 Luas Tanah : 27.120 m2
2 Luas Bangunan : 3.995 m2
Tanah Sebelah Timur (Jl. A. Yani No.10-13, Batu) :
1 Luas tanah : 14.370 m2
2 Luas Bangunan : 9.567 m2
3 Luas Bangunan : 11.882,01 m2

.1.5 Fasilitas Pelayanan


1. Instalasi Rawat Darurat
2. Instalasi Rawat Jalan
a Poli Penyakit Dalam
b Poli Bedah
c Poli Syaraf
d Poli Paru
e Poli Mata
f Poli THT
g Poli Anak
h Poli Kandungan
i Poli Orthopedi
j Poli Komplementer
k Poli Gigi
l Poli Anestesi
3. Instalasi Rawat Inap
4. Instalasi Penunjang
a Laboratorium
b Farmasi
c Radiologi
d Konsultasi Gizi
Rumah Sakit Umum Karsa Husada Batu mempunyai
kapasitas tempat tidur klien sebanyak 104 tempat tidur. Untuk
Saat ini Rumah Sakit Umum Karsa Husada Batu digunakan
sebagai lahan praktek mahasiswa DIII Keperawatan dan DIII
Kebidanan, Profesi Ners (S1 Keperawatan), S1 Gizi, serta Co-
as (Profesi Dokter) dan Program Pendidikan Dokter Spesialis
(PPDS).

2.2 Profil dan Gambaran Umum Ruang Teratai Rumah Sakit Umum Karsa
Husada
.2.1 Sejarah Singkat
Ruang Teratai berdiri bersamaan dengan berdirinya RS Paru Batu.
Ruangan ini ada 3 macam kelas yaitu kelas I, kelas II dan kelas III
dengan tipikal multiple case (banyak kasus).
Ruang teratai dahulunya 1 manajemen dengan ruang mawar.
Setelah Rumah Sakit Paru Batu berubah nama menjadi Rumah Sakit
Umum Karsa Husada Batu maka ruang teratai dengan ruang mawar
dipecah manajemennya dan sampai saat ini ruang teratai mempunyai
struktur organisasi sendiri. Ruang teratai merupakan ruang perawatan
pasien penyakit dalam.
BED

BED

KAMAR MANDI PASIEN

2.2.1 Denah Ruangan Teratai

KAMAR MANDI PASIEN

KAMAR MANDI PASIEN


BED

BED

KAMAR MANDI PASIEN


BED

BED
S

T B

BED
BED

BED
KAMAR MANDI PASIEN

BAB III
HASIL PENGKAJIAN DAN ANALISA SERTA SINTESA PERMASALAHAN

3.1 Hasil Pengkajian TEMPAT OBAT


3.1.1 Pengkajian 5 M
1 Man
Jumlah Tenaga NURSE STATION
Kualifikasi tenaga keperawatan di Ruang Teratai Rumah Sakit
Karsa Husada 11 orang dengan rincian sebagai berikut :
a. Kuantitas Sumber Daya Manusia KAMAR MANDI PERAWAT

Berdasarkan hasil rekapitulasi yang dilakukan didapatkan


kualifikasi tenaga perawat di RuangTeratai
KAMAR MANDIRumah
PASIENSakit Tingkat II
Karsa Husada Batu sebagai berikut:
R. KARU
Tabel 3.1Kuantitas Sumber Daya Manusia Ruang Teratai Rumah
Sakit Umum Karsa Husada Batu
Jumlah
No. Kualifikasi Jenis Jumlah Prosentase
total
S1 HR 1
1. 2 18,18%
Keperawatan PNS 1
Amd.Kep PNS 1
2. 8 72,72%
DIII HR 7
Keperawatan
S2 PNS 1
3. 1 9,1 %
Keperawatan
HR -
4 SPK PNS - 0 0%

KAMAR MANDI PASIEN


HR -
Jumlah 11 100%

Berdasarkan tabel diatas diinterpretasikan bahwa perawat di


KAMAR MANDI PASIEN
Ruang Teratai Rumah Sakit Umum Karsa Husada yaitu 18,18%
berpendidikan S1 Keperawatan, 72,72% DIII Keperawatan, 9,1%
berpendidikan S2 Keperawatan dan tidak ada SPK, sehingga perlu
ditingkatkan untuk bisa melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih
tinggi. Sedangkan untuk rekruitmen pegawai dan kriteria masuk RS
Karsa Husada tidak ada spesifikasi khusus atau sesuai dengan
spesifikasi dari Badan Kepegawaian Daerah.

b. Kualifikasi Sumber Daya Manusia


a. Tenaga Keperawatan

Tabel 3.2 Kualifikasi Sumber Daya Manusia RuangTeratai Rumah


BED Sakit Umum Karsa Husada Batu

Pendi- Jenis Masa Pelatihan yang Keterang


No Nama Jabatan
dikan Ketenagaan Kerja Pernah Diikuti an
BLS, Pelatihan
Perawat Ahli,
Ns.Sujud Managemen
M.Kep. KORYA
1. Priono, PNS 20 th Bangsal,
, Ners NKEP
S.Kep Managemen
Bidang
Keperawatan
DIII
Indah PPI, BLS,
2. Kepera PNS Karu 14 th
Sulistiowati BTLS, DM
watan
Maulan S1
3. Agung Kepera PNS PP 2 th BLS, BTLS
Nugroho watan
R. ISOLASI
S1
Niken
4. Kepera HR PP 1,5 th BLS, BTLS
watan
DIII
Immaculat
5. Kepera HR PP 6 th BLS, BTLS
a
watan
6. Utari DIII HR PP 11 th BLS, BTLS
Kepera
BED

watan
DIII
7. Efendi Kepera HR PP 2 th BLS, BTLS
watan
DIII
8. Ajeng Kepera HR PP 3 bulan BLS, BTLS
watan
DIII
9. Andi Kepera HR PP 3 bulan BLS, BTLS
watan
DIII
10. Cindy Kepera HR PP 3 bulan BLS, BTLS
watan
DIII
11. Pungky Kepera HR PP 3 th BLS, BTLS
watan
Berdasarkan tabel diatas diinterpretasikan bahwa sebanyak 100%
perawat yang bekerja di Ruang Teratai pernah mengikuti pelatihan atau kegiatan
untuk meningkatkan skill dan kemampuan dalam bidang keperawatan.

b. Tenaga Dokter Spesialis dan Sub Spesialis


Tabel 3.3 Tenaga Dokter di RuangTeratai Rumah Sakit Umum Karsa
Husada Batu
No Nama Spesialisasi
1 dr. Andi Mulyanto,Sp. A Anak
2 dr. Benny Marcel Pandango, Sp.Og, K Kandungan
3 dr. Didik Wahyudi Purwohartono, Sp. B Bedah
4 dr. Emmy Herawati, Sp.Pk. Patologi Klinik
5 dr. Faridatul Jannah,Sp. Tht-Kl Tht
6 dr. Heru Priyo Husodo, Sp. R Radiologi
7 dr. Julia Widiati, Sp.M Mata
8 dr. Lina Puspita Hutasoit, Sp. M Mata
9 dr. Lucia Puji Astuti, Sp.S Syaraf
10 dr. Ripto Tobing, Sp. Og Kandungan
11 dr. Wara Pertiwi, Sp. P Paru
12 dr. Ferdinandus Stevanus Kakiay, Sp. Pd Penyakit Dalam
13 dr. Frans J Huwae.Ms.Med, Sp. A Anak
14 dr. Anton Wuri Handayanto,Sp. An Anestesi
15 dr. Bambang Widiwanto,Sp.Ot Bedah Orthopedi
KELAS III

16 dr. Dyah Retno Wulandari,Sp.Pd Penyakit Dalam


17 dr. Bernandus Anggaru,Sp.Pd Penyakit Dalam
18 dr. Freddy, Sp.B-Kbd Bedah Digestif
BED

Berdasarkan tabel diatas diinterpretasikan bahwa ada


sebanyak 18 tenaga dokter spesialis dan sub spesialis yang bekerja
di Ruang Teratai. Jadwal visit dokter apabila hari efektif (Senin-Jumat)
pagi mulai pukul 08.00-12.00 WIB jadi tidak mengganggu waktu
operan jaga perawat.

c. Tenaga Non Keperawatan


Tabel 3.4 Tenaga Non Keperawatan Ruang Teratai Rumah Sakit
Umum Karsa Husada Batu
No. Kualifikasi Jumlah Presentase
1. Administrasi 1 16.67%
2. Gizi 1 16.67%
3. Apoteker 1 16.67%
4. Cleaning Service 3 50%
Total 6 100%
Berdasarkan tabel di atas diinterpretasikan bahwa tenaga non
keperawatan di Ruang Teratai sebanyak masing-masing 16,67%
adalah administrasi, Apoteker dan Gizi, dan cleaning service
sebanyak 50%.

c. Tingkat Ketergantungan Pasien


BED
Jumlah pasien, diagnosa medis, serta tingkat ketergantungan
pasien di Ruang Teratai Rumah Sakit Umum Karsa Husada Batu pada
tahap pengkajian yakni tanggal 19-24 Desember 2016 adalah sebagai
berikut:

Tabel 3.5 Diagnosa dan Skor Ketergantungan Pasien di RuangTeratai Rumah


Sakit Umum Karsa Husada Batu pada tanggal 19 Desember 2016
Nama Skor
Diagnosa Medis
Inisial Klien Ketergantungan
Ny. N DHF 2
An. V DHF 2
Tn. D DHF 2
Ny. S CHF + NSTEMI 2
Tn. S Hepatitis B 2
Tn.A CKD + CAPD 2
Tn. J Hidronefrosis 2
Ny.S CVA + IDDM + AKI 2
Ny. S Chronic diare 2
Ny. C B24 3
Ny. M Trombositopenia 3
Ny.F CHF + Pneumonia 2
Ny. S DHF 2
BED
Ny. F Urosepsis 2
Tn. S DHF 2
Ny. S Anemia + CHF 2
Tn. M Trombositopenia 2
Tn.K STEMI 2
Tn. N IDDM + Anemia + CKD 3
Sdr.A B24 3
BED Keterangan: 3: Total care; 2: Partial care; 1: Minimal care

Berdasarkan tabel di atas diinterpretasikan bahwa pada tanggal 19


Desember 2016 terdapat 20 pasien, sebanyak 20 % pasien yang dirawat
memiliki tingkat ketergantungan total, 80 % memiliki tingkat ketergantugan
parsial.

Tabel 3.6 Diagnosa dan Skor Ketergantungan Pasien di RuangTeratai Rumah


Sakit Umum Karsa Husada Batu pada tanggal 20 Desember 2016

Nama Skor
Diagnosa Medis
Inisial Klien Ketergantungan
Ny. N DHF 2
An. V DHF 2
Tn. D DHF 2
Ny. S CHF + NSTEMI 2
Tn.A CKD + CAPD 2
Tn. J Hidronefrosis 2
Ny.S CKD+dispepsia+Hipoalbumin 2
Ny. S Chronic diare 2
Ny. C B24 3
Ny. M Trombositopenia 3
Ny.F CHF + Pneumonia 2
Ny. S DHF 2
Ny. K Febris + malaise +ISPA 2
Tn. S DHF 2
Ny. S Anemia + CHF 2
Tn. M Trombositopenia 2
Tn.K Geriatric 2
BED problem+insomnia+anoreksia+ general
weakness
Tn. N IDDM + Anemia + CKD 3
Sdr.A B24 3

Keterangan: 3:Total care; 2: Partial care; 1: Minimal care


Berdasarkan tabel di atas diinterpretasikan bahwa pada tanggal 20
Desember 2016 terdapat 19 pasien, sebanyak 21,05% pasien yang dirawat
memiliki tingkat ketergantungan total, 78,95% memiliki tingkat ketergantugan
parsial.
Tabel 3.7 Diagnosa dan Skor Ketergantungan Pasien di RuangTerataiRumah
Sakit Umum Karsa Husada Batu pada tanggal 21 Desember 2016

Nama Skor
Diagnosa Medis
Inisial Klien Ketergantungan
Ny. N DHF 2
An. V DHF 2
Tn. J Hidronefrosis 2
Tn. K Efusi pleura 2
Ny.S CKD+dispepsia+Hipoalbumin 2
Ny. S Chronic diare 2
Ny. C B24 3
Ny.K Ca mammae 2
Ny. S DHF 2
Ny. K Febris + malaise +ISPA 2
Tn. S DHF 2
Ny. R Syok condition 2
Tn. M Trombositopenia 2
Tn.K Geriatric 2
problem+insomnia+anoreksia+ general
weakness
Tn. D CKD 2
Tn. N IDDM + Anemia + CKD 3

Keterangan: 3:Total care; 2: Partial care; 1: Minimal care


Berdasarkan tabel di atas diinterpretasikan bahwa pada tanggal 21
Desember 2016 terdapat 16 pasien, sebanyak 12,5% pasien yang dirawat
memiliki tingkat ketergantungan total, 87,5% memiliki tingkat ketergantugan
parsial.

Tabel 3.8 Diagnosa dan Skor Ketergantungan Pasien di RuangTerataiRumah


Sakit Umum Karsa Husada Batu pada tanggal 22 Desember 2016

Nama Skor
Diagnosa Medis
Inisial Klien Ketergantungan
An. V DHF 2
Tn. S CHF+ Pneumonia+CVA sequel + IDDM 2
Tn. A CKD + CAPD 2
Tn. K Efusi pleura 2
Ny.S CKD+dispepsia+Hipoalbumin 2
Ny. S Chronic diare 2
Ny. C B24 3
Ny.K Ca mammae 2
Ny. S DHF 2
Tn. S DHF 2
Ny. R Syok condition 2
Tn. D CKD 2
Tn. N IDDM + Anemia + CKD 3
Tn. N Urosepsis + DM 2
Keterangan: 3:Total care; 2: Partial care; 1: Minimal care
Berdasarkan tabel di atas diinterpretasikan bahwa pada tanggal 22
Desember 2016 terdapat 14 pasien, sebanyak 14,28% pasien yang dirawat
memiliki tingkat ketergantungan total, 85,72% memiliki tingkat ketergantugan
parsial.

Tabel 3.9 Diagnosa dan Skor Ketergantungan Pasien di RuangTerataiRumah


Sakit Umum Karsa Husada Batu pada tanggal 23 Desember 2016

Nama Skor
Diagnosa Medis
Inisial Klien Ketergantungan
Tn. S CHF+ Pneumonia+CVA sequel + IDDM 2
Tn. A CKD + CAPD 2
Tn. K Efusi pleura 2
Ny.S CKD+dispepsia+Hipoalbumin 2
Ny. C B24 3
Ny.K Ca mammae 2
Ny. S DHF 2
BED
Tn. S DHF 2
Ny. R Syok condition 2
Tn. D CKD 2
Tn. N Urosepsis + DM 2

Keterangan: 3:Total care; 2: Partial care; 1: Minimal care


Berdasarkan tabel di atas diinterpretasikan bahwa pada tanggal 23
Desember 2016 terdapat 11 pasien, sebanyak 9,1% pasien yang dirawat
memiliki tingkat ketergantungan total, 90,9% memiliki tingkat ketergantugan
parsial.

BED
Tabel 3.10 Diagnosa dan Skor Ketergantungan Pasien di RuangTerataiRumah
Sakit Umum Karsa Husada Batu pada tanggal 24 Desember 2016

Nama Skor
Diagnosa Medis
Inisial Klien Ketergantungan
Tn. A OF d.d DHF 2
Tn. S CHF+ Pneumonia+CVA sequel + IDDM 2
Tn. A CKD + CAPD 2
Tn. R DHF + TF 2
Tn. K Efusi pleura 2
Ny.S CKD+dispepsia+Hipoalbumin 2
Ny. D CHF 3

BED
Ny. C B24 3
Nn. D HT stg 2 + anemia + def besi 2
Ny.K Ca mammae 2
BED
Tn. A Chest pain stable 2
Tn. I DM + OF 2
Tn.D CKD 2
Tn. S Dehidrasi ringan-sedang 2
Tn. N Urosepsis + DM 2

Keterangan: 3:Total care; 2: Partial care; 1: Minimal care


Berdasarkan tabel di atas diinterpretasikan bahwa pada tanggal 24 Desember
2016 terdapat 15 pasien, sebanyak 13,3% pasien yang dirawat memiliki tingkat
BED
ketergantungan total, 86,7% memiliki tingkat ketergantungan parsial.

d. Kebutuhan Tenaga Perawat Sesuai Metode Gillies

1) Kebutuhan Tenaga Keperawatan Per Hari Berdasarkan


Metode Gillies
BED a) Tanggal 19 Desember 2016
(1) Tingkat ketergantungan pasien
(a) Minimal : 0 orang
(b) Parsial : 16 orang
(c) Total :4 orang
(2) Jumlah Jam Perawatan
1. Keperawatan Langsung
Minimal 2x0 =0 jam
Parsial 4 x 16 = 64 jam
Total 6 x 4 = 24 jam +
88 jam
2. Keperawatan tidak langsung
20x 60 menit = 1200 menit = 20 jam
3. Penyuluhan
20 x 15 menit = 300 menit = 5 jam
4. Total waktu keperawatan
Keperawatan langsung + keperawatan tidak langsung
+ penyuluhan=
88 jam + 20 jam + 5 jam = 113 jam
5. Jumlah kebutuhan perawat per hari
Total waktu keperawatan = 113 jam = 16 orang
Waktu kerja efektif 7 jam
6. Jumlah kebutuhan per shift
Pagi = 47% x 16 = 8 orang
Sore = 35% x 16 = 5 orang
Malam = 17% x 16 = 3 orang
b) Tanggal 20 Desember 2016
(1) Tingkat ketergantungan pasien
(a) Minimal :0 orang
(b) Parsial : 15 orang
(c) Total: 4 orang
TEMPAT OBAT

(2) Jumlah Jam Perawatan


KAMAR MANDI PASIEN KELAS II 1. Keperawatan Langsung
Minimal 2x0 =0 jam
Parsial 4 x 15 = 60 jam
BED Total 6 x 4 = 24 jam +
NURSE STATION
84 jam
2. Keperawatan tidak langsung
19 x 60 menit = 1140 menit = 19 jam
3. Penyuluhan
19 x 15 menit = 285 menit = 4,75 jam
4. Total waktu keperawatan
Keperawatan langsung + keperawatan tidak langsung +
penyuluhan=
TEMPAT ALKES 84 jam + 19 jam + 4,75 jam = 107,75 jam
5. Jumlah kebutuhan perawat per hari
Total waktu keperawatan = 107,75 jam = 15 orang
Waktu kerja efektif 7 jam
6. Jumlah kebutuhan per shift
Pagi = 47% x 15 = 7 orang
Sore = 35% x 15 = 5 orang
Malam = 17% x 15 = 3 orang
c) Tanggal 21 Desember 2016
(1) Tingkat ketergantungan pasien
(a) Minimal :0 orang
(b) Parsial : 14 orang
(c) Total: 2 orang
(2) Jumlah Jam Perawatan
1. Keperawatan Langsung
Minimal 2x0 =0 jam
Parsial 4 x 14 = 56 jam
Total 6 x 2 = 12 jam +
68 jam
2. Keperawatan tidak langsung
16x 60 menit = 960 menit = 16 jam
3. Penyuluhan
16 x 15 menit = 240 menit = 4 jam
4. Total waktu keperawatan
Keperawatan langsung + keperawatan tidak langsung +
penyuluhan=
68 jam + 16 jam + 4 jam = 88 jam
5. Jumlah kebutuhan perawat per hari
Total waktu keperawatan = 88 jam = 13 orang
Waktu kerja efektif 7 jam
6. Jumlah kebutuhan per shift
Pagi = 47% x 13 = 6 orang
Sore = 35% x 13 = 4 orang
Malam = 17% x 13 = 3 orang

d) Tanggal 22 Desember 2016


(1) Tingkat ketergantungan pasien
(a) Minimal :0 orang
(b) Parsial : 12 orang
(c) Total: 2 orang
(2) Jumlah Jam Perawatan
1. Keperawatan Langsung
Minimal 2x0 =0 jam
Parsial 4 x 12 = 48 jam
Total 6 x 2 = 12 jam +

BED
60 jam
2. Keperawatan tidak langsung
14x 60 menit = 840 menit = 14 jam
3. Penyuluhan
14 x 15 menit = 210 menit = 3,5 jam
4. Total waktu keperawatan
Keperawatan langsung + keperawatan tidak langsung +
penyuluhan=
60 jam + 14 jam + 3,5 jam = 77,5 jam
5. Jumlah kebutuhan perawat per hari
Total waktu keperawatan = 77,5 jam = 11 orang
Waktu kerja efektif 7 jam
6. Jumlah kebutuhan per shift
Pagi = 47% x 11 = 5 orang
Sore = 35% x 11 = 4 orang
Malam = 17% x 11 = 2 orang

e) Tanggal 23 Desember 2016


(1) Tingkat ketergantungan pasien
(a) Minimal :0 orang
(b) Parsial : 10 orang
(c) Total: 1 orang
(2) Jumlah Jam Perawatan
1. Keperawatan Langsung
Minimal 2x0 =0 jam
Parsial 4 x 10 = 40 jam
Total 6x1 =6 jam +
46 jam
2. Keperawatan tidak langsung
11x 60 menit = 660 menit = 11 jam
3. Penyuluhan
11 x 15 menit = 165 menit = 2,75 jam
4. Total waktu keperawatan
Keperawatan langsung + keperawatan tidak langsung +
penyuluhan=
46 jam + 11 jam + 2,75 jam = 59,75 jam
5. Jumlah kebutuhan perawat per hari
Total waktu keperawatan = 59,75 jam = 9 orang
Waktu kerja efektif 7 jam
6. Jumlah kebutuhan per shift
Pagi = 47% x 9 = 4 orang
Sore = 35% x 9 = 3 orang
Malam = 17% x 9 = 2 orang
f) Tanggal 24 Desember 2016
(1) Tingkat ketergantungan pasien
(a) Minimal :0 orang
(b) Parsial : 13 orang
(c) Total: 2 orang
(2) Jumlah Jam Perawatan
1. Keperawatan Langsung
Minimal 2x0 =0 jam
Parsial 4 x 13 = 52 jam
Total 6 x 2 = 12 jam +
64 jam
2. Keperawatan tidak langsung
15x 60 menit = 900 menit = 15 jam
3. Penyuluhan
15 x 15 menit = 225 menit = 3,75 jam
4. Total waktu keperawatan
Keperawatan langsung + keperawatan tidak langsung +
penyuluhan=
64 jam + 15 jam + 3,75 jam = 82,75 jam
5. Jumlah kebutuhan perawat per hari
Total waktu keperawatan = 82,75 jam = 12 orang
Waktu kerja efektif 7 jam
6. Jumlah kebutuhan per shift
Pagi = 47% x 12 = 6 orang
Sore = 35% x 12 = 4 orang
Malam = 17% x 12 = 2 orang

2) Kebutuhan Tenaga Keperawatan Per Unit


Dari hasil pengkajian selama 6 hari didapatkan penghitungan
jumlah kebutuhan tenaga perawat per unit dengan menggunakan
rumus sebagai berikut :
=Jumlah rata-rata jam perawatan pasien per hari (6 Hari) x 365
(365- jumlah hari libur selama 1 tahun (86 hari)) x Jam kerja per hari

=Jumlah keperawatan yg dibutuhkan/ tahun


Jumlah perawat yang dibutuhkan/ tahun

Diketahui:
- Jumlah rata-rata jam perawatan pasien perhari, selama 6 hari adalah :
= (113 + 107,75 + 88 + 77,5 + 59,75 + 82,75 = 528,75
6 6
= 88,125
- Jumlah Hari libur dalam 1 tahun adalah :
= 365 hari 86 hari (hari libur + cuti bersama)
= 279 hari
- Jumlah jam kerja perawat dalam sehari adalah :
= 7 jam sehari
- Jumlah kebutuhan tenaga perawat dalam 1 tahun adalah :
= Jumlah rata-rata jam perawatan pasien per hari x 365
Jumlah hari libur dalam 1 tahun x jam kerja perawat dalam 1 hari
= 88,125 x 365
279 x7
= 17 orang perawat per unit

3) Rata-Rata Kebutuhan Perawat Per Hari


Hasil pengkajian selama 6 hari didapatkan jumlah rata-rata tenaga
keperawatan per hari adalah :
16 + 15 + 13 + 11 + 9 + 12= 13 orang
6
Berdasarkan hasil dari perhitungan selama 6 hari jumlah tenaga
keperawatan yang ada di ruang teratai adalah 1 Kepala ruang, dan 9
perawat pelaksana, sehingga untuk pemenuhan kebutuhan tenaga
keperawatan berdasarkan hasil pengkajian selama 6 hari per hari,
maupun per unit sangat kurang. Hal tersebut terkait tentang cara
perekrutan jumlah pegawai yang melalui pemerintah atau Badan
Kepegawaian Daerah. Sehingga tidak bisa mendapatkan jumlah tenaga
keperawatan yang diinginkan sesuai dengan kriteria standar.
Ruang Teratai merupakan ruang keperawatan medikal yang sering di
gunakan sebagai wahana pendidikan bagi mahasiswa DIII Keperawatan,
Profesi Ners (S1 Keperawatan), serta Co-as (Profesi Dokter) sehingga
senantiasa update trend issue dalam pengembangan pelayanan. Adanya
mahasiswa praktik di ruang Teratai sehingga mampu membantu
pelayanan sehingga kebutuhan tenaga keperawatan tercukupi.
Terbukanya kesempatan bagi perawat dalam mengikuti program pelatihan
untuk meningkatkan skill. Jika ada praktikan jumlah tenaga keperawatan
yang ada dalam ruang teratai bisa terbantu dan juga bisa membentuk TIM
dalam melaksanakan tugas keperawatan.

ANALISA SWOT
STRENGTH WEAKNESS
Perawat yang bekerja di ruang Teratai Jumlah Tenaga kesehatan
pernah mengikuti pelatihan atau tidak sesuai dengan
kegiatan untuk meningkatkan skill dan perhitungan kebutuhan
kemampuan dalam bidang tenaga keperawatan. (1)
Jumlah tenaga
keperawatan sebanyak 100%. (1)
Tingkat pendidikan tenaga perawat keperawatan setiap shift
minimal sudah DIII. (2) belum sesuai dengan
Memiliki tenaga administrasi di dalam perhitungan. (2)
ruangan. (6) Hampir seluruh tenaga
Memiliki tenaga untuk menjaga perawat merupakan
kebersihan ruangan tiap shiff. (4) tenaga honorer. (3)
Memiliki tenaga pendistribusian Masa kerja perawat ruang
makanan pasien. (5) Teratai rata-rata kurang
Memiliki tenaga dokter spesialis dan
dari 3 tahun. (4)
sub spesialis. (3)

OPPORTUNITY THREAT
Mengingkatkan kapasitas SDM yang Ada tuntutan tinggi dari
professional. (1) masyarakat untuk
Ruang Teratai merupakan ruang pelayanan yang lebih
keperawatan medikal yang sering di profesional. (3)
gunakan sebagai wahana pendidikan Makin tingginya
bagi mahasiswa DIII Keperawatan, kesadaran masyarakat
Profesi Ners (S1 Keperawatan), serta akan hukum. (4)
Kebijakan pemerintah
Co-as (Profesi Dokter)sehingga
senantiasa update trend issue dalam yang mewajibkan semua

pengembangan pelayanan. (3) instansi rumah sakit


Adanya mahasiswa praktik di ruang melakukan akreditasi. (1)
Makin tinggi kesadaran
Teratai sehingga mampu membantu
pelayanan sehingga kebutuhan masyarakat akan

tenaga keperawatan tercukupi. (2) pentingnya kesehatan. (5)


Persaingan antar rumah
Terbukanya kesempatan bagi
sakit. (2)
perawat dalam mengikuti program
pelatihan untuk meningkatkan skill.
(4)

No Faktor Strategi Internal P K Bobot


Strength (Kekuatan)
1 Perawat yang bekerja di ruang Teratai pernah
mengikuti pelatihan atau kegiatan untuk
1 4 0,50
meningkatkan skill dan kemampuan dalam
bidang keperawatan sebanyak 100%.
2 Tingkat pendidikan tenaga perawat minimal
2 4 0,25
sudah DIII.
3 Memiliki tenaga administrasi di dalam ruangan. 6 4 0,03
4 Memiliki tenaga untuk menjaga kebersihan
4 4 0,08
ruangan tiap shiff.
5 Memiliki tenaga pendistribusian makanan
pasien. 5 4 0,04

6 Memiliki tenaga dokter spesialis dan sub


spesialis. 3 4 0,10

Total 1
No Faktor Strategi Internal P K Bobot Ra
Weaknesss (Kelemahan)
1 Jumlah Tenaga kesehatan tidak sesuai dengan 1 4
0,50
perhitungan kebutuhan tenaga keperawatan.
2 Jumlah tenaga keperawatan setiap shift belum 2 4
0,25
sesuai dengan perhitungan.
3 Hampir seluruh tenaga perawat merupakan 3 4
0,20
tenaga honorer.
4 Masa kerja perawat ruang Teratai rata-rata 4 4
kurang dari 3 tahun. 0,05

Total 1
S W = 3,28 2,25 = 1,03 (X)

No Faktor Strategi Eksternal P K Bobot Rat


Opportunity (O)
Mengingkatkan kapasitas SDM yang professional
1 1 4 0,35
Ruang Teratai merupakan ruang keperawatan
medikal yang sering di gunakan sebagai wahana
pendidikan bagi mahasiswa DIII Keperawatan,
2 3 4 0,20
Profesi Ners (S1 Keperawatan), serta Co-as
(Profesi Dokter)sehingga senantiasa update
trend issue dalam pengembangan pelayanan.
Adanya mahasiswa praktik di ruang Teratai
3 sehingga mampu membantu pelayanan sehingga 2 4 0,30
kebutuhan tenaga keperawatan tercukupi
Terbukanya kesempatan bagi perawat dalam
4 mengikuti program pelatihan untuk meningkatkan 4 4 0,15
skill

Total 1

No Faktor Strategi Eksternal P K Bobot Rat


Threat (T)
1 Ada tuntutan tinggi dari masyarakat untuk 3 4 0,20
pelayanan yang lebih profesional
2 Makin tingginya kesadaran masyarakat akan 4 4
0,10
hukum
3 Kebijakan pemerintah yang mewajibkan semua 1 4
0,35
instansi rumah sakit melakukan akreditasi
4 Makin tinggi kesadaran masyarakat akan 5 4
0,20
pentingnya kesehatan
5 Persaingan antar rumah sakit 2 4 0,15
Total 1
O-T = 3 -2,7= 0,3 (y)

Penghitungan SWOT
Skor Faktor Internal = skor kekuatan skor kelemahan
= 3,28 2,25

= 1,03 (x)

Skor Faktor Eksternal = skor kesempatan skor ancaman


= 32,7
= 0,3 (y)
KURVA SWOT

(+) Eksternal
Y
Kuadra
(0,3) Agresif
Kuadran III

X
(-) Internal (+) Internal

Kuadran IV Kuadra

(-) Eksternal

25
2. Material and Machine
A. Peralatan dan Fasilitas
I. Fasilitas untuk pasien
Berdasarkan hasil pengkajian di Ruang Teratai RSU Karsa
Husada Batu tentang inventaris, fasilitas dan alat-alat medis yang
tersedia. Fasilitas untuk pasien yang ada di ruang perawatan Ruang
Teratai RSU Karsa Husada Batu
Tabel 3.11 Fasilitas yang ada di ruangan teratai

Nama Jumlah Keterangan


Tempat tidur pasien : 23 tempat tidur di Ruang Kondisi tempat tidur
a. Kelas 1 : 8 tempat teratai pasien masih bagus
tidur semua. Pada ruang
b. Kelas 2 : 2 tempat kelas satu dilengkapi
tidur dengan fasilitas AC dan
c. Kelas 3: 13
TV
tempat tidur
d. Isolasi : 1 tempat
tidur
Wastafel : 5 buah wastafel yang Kondisi baik dan dapat
a. Kelas 1 : 4 digunakan digunakan
wastafel
b. Nurse station : 1
wastafel
Kamar mandi : 9 ruang kamar mandi Kondisi kamar mandi
a. Kelas 1 : 4 kamar yang digunakan bagus dan dapat
mandi digunakan hanya 1
b. Kelas 2 : 1 kamar kamar mandi yang ada
mandi di ruang kelas 3 ada 1
c. Kelas 3 : 4 kamar
yang tidak dapat
mandi
digunakan
Tempat sampah 7 buah tempat sampah Tempat sampah masih
a. Tempat sampah dalam 1 ruang teratai kurang jumlahnya sedikit
medis : 2 dan kurang label
b. Tempat sampah
non medis : 5

Ruang Teratai kelas 1 pada setiap kamar terdiri dari 2 tempat tidur
pasien dan pada kelas 2 juga terdapat 2 tempat tidur dalam setiap
ruangan. Di kelas 3 terdapat 13 tempat tidur pasien dan di ruang isolasi
terdapat 1 tempat tidur untuk pasien.

II. Fasilitas untuk perawat


1) Nurse Station

26
Ada satu ruang dengan kondisi cukup rapi. Untuk dokumentasi di
lengkapi dengan buku injeksi, buku observasi TTV, buku laporan
tim, buku operan jaga, buku radiologi, buku ekspedisi alat, buku
copy resep dinas, buku laporan bulanan dan sudah dilengkapi
dengan form pendokumentasian. Kemudian untuk keperluan
terapi pasien ruangan juga dilengkapi dengan 3 lemari kotak yang
digunakan untuk menyimpan obat-obatan dan cairan infus.
2) Kamar mandi
Kamar mandi untuk perawat ada 1 dengan keadaan yang cukup
bersih dan lokasi di samping nurse station. Wastafel terletak di
samping nurse station
3) Tempat Sampah
Terdapat tempat sampah medis dan non medis di ruang perawat
tetapi ada beberapa yang belum terpasang stiker yang
menunjukkan kriteria masing masing sampah.
B. Peralatan dan Bahan Kesehatan
1. Fasilitas Peralatan Medis
Fasilitas peralatan Kesehatan yang tersedia di Ruang Teratai RSU Karsa
Husada Batu
Tabel 3.12 alat alat medis yang ada di ruang Teratai RSU Karsa Husada
Batu
Jml KONDISI Usulan
JML
NO NAMA ALAT ideal BAIK RUSA
INVENTARIS
K
1 Kursi Roda 2 2 2
2 Korentang 2 + tempat 2 2 2
1
3 Resusitasi Dewasa 1 1 1
4 Brankat 1 5
5 Suction 1 2 1 1
7 Infusion Pump 1 1 1
8 Defibrilator 1 1
9 Syringe Pump 4 1 4
10 Bak instrument 1 2 1 1
11 Trolley Obat 1 2 1 1
12 EKG 1 1 1
13 Stetoscope 3 2 3
14 Lampu Senter 2 1 1
15 Pinset Anatomi 2 5 5
16 Standar Infus Beroda 5 2 5
17 Sterilisator Kering 1 1 1
18 Tabung O2 16 4 16

27
19 Tensimeter dewasa 1 1 1
20 Termometer Axila 4 5 2 1 3
21 Timbangan BB 1 1 1
22 Tongspatel stenlis 2 3 1 2
23 Torniquet 2 3 3
24 Troli Tindakan 2 2 2
25 Tromol Kecil 1 1 1
25 Urinal Plastik 6 6 6
26 Pinset Chirugi 2 2 1 1
27 Meja ECG 1 1 1

Berdasarkan tabel diatas didapatkan data bahwa beberapa alat medis


yang biasa digunakan, seperti alat pelindung diri dan peralatan rawat luka,
belum memenuhi standard dan fungsi (keadaan). Alat tensimenter yang
dimiliki ruang Teratai hanya 1 item dan dalam kondisi rusak sehingga
memerlukan pengadaan baru. Selain itu diperlukan alat oksimetri dan
gerusan obat yang baru.

2. Peralatan Non Medis


Peralatan Non Medis yang tersedia di Ruang Teratai Rumah Sakit Umum
Karsa Husada Batu
Tabel 3.13 Peralatan non medis yang tersedia di ruang Teratai
JML KONDISI
NO NAMA ALAT
INVENTARIS BAIK RUSAK
1 Bungkus Kasur Perlak 28 28
2 Selimut Lorek 26 26
3 Selimut Woll 8 8
4 Serbet 5 5
5 Skort Perawat 10 10
6 Sprei 28 28
7 Bantal Dacron 25 25
8 Tempat Tidur pasien 24 24
9 Kasur pasien Dewasa 24 24
Busa
10 Almari Obat 2 1 3
11 Almari Locker 1 1 1
13 Bantal dewasa 24 24
14 Penomoran Bed Pasien 24 24

Berdasarkan tabel diatas didapatkan data bahwa peralatan rumah


tangga jumahnya sudah melebihi dengan jumlah bed di ruangan. Namun
semua klien tidak dapat verbed setiap harinya.

28
3. Peralatan Rumah Tangga di Ruang Teratai
Fasilitas peralatan Kesehatan yang Tersedia di Ruang Teratai Rumah
Sakit Umum Karsa Husada Batu
Tabel 3.14 Peralatan rumah tangga Ruang Teratai RSU Karsa Husada Batu
N JML KONDISI
NAMA ALAT
O INVENTARIS BAIK RUSAK
1 Baki Melamin 4 4
2 Ceret Aluminium 1 1
3 Dispencer 1 1
4 Galon Aqua 1 1
5 Jam Dinding 5 4 1
6 Kereta Makan 1 1
7 Kunci Inggris 1 1
8 Kulkas 2 2
9 Kursi Petugas Jaga 11 11
10 Rak Sepatu Plastik 1 1
11 Tempat Sampah Kecil 4 4
Terbuka
12 Tempat Sampah Tanggung 2 2
Tertutup
13 AC 4 4
14 Meja Kepala Ruangan 1 1
15 Meja Perawat 1 1
16 Telepon Permanen 1 1
17 Televisi LCD 5 5

Berdasarkan tabel diatas didapatkan data bahwa masih ada


kekurangan dalam fasilitas perawatan yaitu penggunaan alat tensimenter
yang digunakan bersamaan dengan ruangan lain.

4. Fasilitas Alat Habis Pakai

Tabel 3.15 Alat yang habis pakai di Ruang Teratai

Nama Alat Jumlah Penggunaan Sisa stok Permintaan


Persediaan Sebulan
Alkohol 70% 7 7 1 7
Aseptik gell 12 12 - 12
ECG paper 2 2 - 2
50x30

29
ECG paper 3 3 - 3
210x50
Handscone 400 400 - 400
Non steril
Kasa husada 2 - - -
Alcohol swab 100 100 - 100
Hypafix 300 300 - 300
Kapas 1 1 - 1
Kasa steril 6 10 - 10
Masker ear lop - 50 - 50
Masker tie on - 50 - 50
One scrup 5 5 - 5
Verband 20 20 - 20

Berdasarkan pengkajian yang dilakukan di ruang Teratai


penggunaan alat spuit berasal dari pasien yang mengambil dari apotik
dan penggunaan spuit masih digunakan berulang

ANALISA SWOT
STRENGTH WEAKNESS
Terdapat nurse station dengan Rata-rata jumlah unit alat medis belum
kondisi cukup rapi dan sudah cukup memadai, hanya 1 item.
Tidak tersedia tempat cuci tangan
terstrukur mengenai penempatan
status dan dokumen asuhan (wastafel) untuk keluarga pasien. Hanya

keperawatan. ada 1 wastafel untuk tempat cuci tangan


Memiliki beberapa form perawat dan hanya ada wastafel di ruang
pendokumentasian yang dibutuhkan perawatan kelas 1
Masih terdapat beberapa alat
yang untuk kegiatan keperawatan
Ruangan memiliki fasilitas seperti AC keperawatan yang rusak seperti alat tensi
dan televisi di ruang perawatan kelas dan ambubag
Masih kurangnya alat-alat medis dan non
1
90% inventaris ruang teratai (alat medis seperti oksimetri, gerusan obat,
medis, peralatan rumah tangga) dan penomoran bed pasien
Masih kurangnya jumlah tempat sampah
dalam kondisi baik
Mempunyai kapasitas tempat tidur medis di ruang teratai
Sebagian alat masih meminjam ke
klien sebanyak 24 tempat tidur,
terdiri dari 14 tempat tidur kelas III, ruangan lain misalnya alat tensimeter
Kurang tersedia stiker kriterianya pada
isolasi 1 tempat tidur, 2 tempat tidur
penutup tempat sampah
di kelas II, dan 8 tempat tidur di kelas
I sehingga sangat cukup
kapasitasnya untuk melayani pasien
Ruang teratai memiliki alat

30
penunjang seperti syringe pump,
infus pump dan defibrillator
Ruang perawat cukup bersih dengan
buku dokumentasi ruangan yang
cukup lengkap
Adanya kesempatan bagi Ruang
Teratai untuk mengajukan
pengadaan ulang atau pengadaan
tambahan peralatan yang dibutuhkan
di ruangan
Tersedia handrub di setiap bed
pasien
. Tersedia handrub di setiap bed
pasien

OPPORTUNITY THREAT
Rumah sakit memiliki kebijakan dalam Masih ada pasien yang komplain dengan
perawatan alat secara rutin dalam satu peralatan yang ada di ruangan.
Makin tingginya kesadaran masyarakat
tahun sekali
Rumah sakit telah memiliki program akan hokum
kebijakan dalam pemilahan sampah
No Faktor Strategi Internal P K Bobot
Strength (Kekuatan)
1 Terdapat nurse station dengan kondisi cukup rapi dan
sudah terstrukur mengenai penempatan status dan
6 4 0.08
dokumen asuhan keperawatan.

2 Memiliki beberapa form pendokumentasian yang


dibutuhkan yang untuk kegiatan keperawatan 1 4 0.12

3 Ruangan memiliki fasilitas seperti AC dan televisi di


4 4 0.12
ruang perawatan kelas 1
4 90% inventaris ruang teratai (alat medis, peralatan
2 4 0.12
rumah tangga dan alsatri) dalam kondisi baik
5 Mempunyai kapasitas tempat tidur klien sebanyak 23
tempat tidur, terdiri dari 12 tempat tidur kelas III,
isolasi 1 tempat tidur, 2 tempat tidur di kelas II, dan 8 8 4 0.03
tempat tidur di kelas I sehingga sangat cukup
kapasitasnya untuk melayani pasien
6 Ruang teratai memiliki alat penunjang seperti syringe
pump, infus pump dan defibrillator 7 4 0.06

7 Adanya kesempatan bagi Ruang Teratai untuk 3 4 0.12


mengajukan pengadaan ulang atau pengadaan

31
tambahan peralatan yang dibutuhkan di ruangan
8 Tersedia handrub di setiap bed pasien 5 4 0.08
TOTAL 1

o Faktor Strategi Internal P K Bobot Rating Sk


Weakness (Kelemahan)
Rata-rata jumlah unit alat medis belum cukup
6 4 0.08 2 0.
memadai, hanya 1 item
Tidak tersedia tempat cuci tangan (wastafel) untuk
keluarga pasien. Hanya ada 1 wastafel untuk tempat
cuci tangan perawat dan hanya ada wastafel di ruang 5 4 0.17 1 0.
perawatan kelas 1

Masih terdapat beberapa alat keperawatan yang


2 4 0.17 2 0.
rusak seperti alat tensidan ambubag
Masih kurangnya alat-alat medis dan non medis
seperti oksimetri, gerusan obat, dan penomoran bed 3 4 0.14 2 0.
pasien
Masih kurangnya jumlah tempat sampah medis di
1 4 0.22 2 0.
ruang teratai
Sebagian alat masih meminjam ke ruangan lain
4 4 0.22 1 0.
misalnya alat tensimeter
OTAL 1 1,
SkorFaktor Internal = skor kekuatan skor kelemahan
= 2.19 1.61
= 0.58 (X)

o Faktor Strategi Eksternal P K Bobot Rating Sk


Opportunity (kesempatan)
Rumah sakit memiliki kebijakan dalam perawatan alat
1 4 0.75 3 2.
secara rutin dalam satu tahun sekali
Rumah sakit telah memiliki program kebijakan dalam
2 4 0.25 3 0.
pemilahan sampah
OTAL 1

o Faktor Strategi Eksternal P K Bobot Rating Sk


Threat (Ancaman)
Masih ada pasien yang komplain dengan peralatan
2 4 0.67 2 1.
yang ada di ruangan.
Makin tingginya kesadaran masyarakat akan hukum 1 4 0.33 2 0.
OTAL 1 2.

Skor Faktor Eksternal = skor kesempatan skor ancaman


= 3.00 2.00
= 1(Y)

32
SkorFaktor Internal = skor kekuatan skor kelemahan
= 2.19 1.61
= 0.58 (X)
Skor Faktor Eksternal = skor kesempatan skor ancaman
= 3.00 2.00
= 1 (Y)
KURVA SWOT

(+) Eksternal

Kuadra
Agresif
Kuadran III

Y (1)

(-) Internal (+) Internal

Kuadran IV Kuadra

(-) Eksternal

33
3. Metode (Cara Yang Digunakan Untuk Bekerja)

a. Penerapan Model MAKP

1. Struktur MAKP Ruangan


Ruang Teratai RSKH Batu menggunakan metode fungsional
dalam menjalankan asuhan keperawatan. Ruang Teratai terdiri dari
seorang kepala ruang dan 9 perawat pelaksana. Metode fungsional
diterapkan karena ruangan kekurangan tenaga jika menggunakan
metode tim.

2. Uraian Tugas dan Pelaksanaan


Berdasarkan tabel 3.26 tentang uraian tugas kepala ruang
dapat diinterpretasikan kepala ruang dalam menjalankan fungsi
manajemen keperawatan dilakukan 76% sehingga dapat dikatakan
fungsi tersebut dijalankan dengan cukup baik. Sehingga peran fungsi
perlu ditingkatkan lagi sesuai dengan uraian tugasnya. Beberapa hal
yang menjadi poin penting dari uraian tugas Kepala Ruangan adalah
belum optimalnya peran supervisi kepala ruangan terhadap anggota
baik secara pelaksanaan dan dokumentasi.
Tugas perawat pelaksana sesuai tabel 3.27 tentang uraian
tugas perawat pelaksana dapat dikatakan berjalan dengan sangat
baik. Hal tersebut dibuktikan oleh 96% tugas perawat pelaksana telah
dilakukan. Meskipun tugas perawat pelaksana melakukan 96%
tugasnya, namun pelaksanaan metode fungsional belum dapat
dikatakan berjalan dengan baik karena perawat pelaksana tidak ada
pembagian tugas yang jelas. Tugas yang tidak jelas tersebut tentunya
berdampak pada asuhan keperawatan yang berkualitas karena
tindakan mandiri keperawatan kurang dilakukan.
Tindakan keperawatan seperti pengkajian awal dan
pembuatan askep tidak berjalan dengan baik karena tidak ada
pembagian tugas siapa yang mengkaji, melaksanakan, dan
mengevaluasi. Karu selama ini bertugas mengisi rekam medis pasien
pada asesmen awal, namun karena tugas yang tidak jelas terkadang
asesmen awal tidak di isi. Pengisian atau pelengkapan rekam medis
dilakukan sebelum rekam medis dikembalikan ke ruang assembling.

34
Pelengkapan rekam medis selama ini dilakukan oleh karu. Hal ini
berdampak pada asuhan keperawatan karena melakukan tindakan
seharusnya berdasarkan rencana asuhan keperawatan telah dibuat.
Sehingga hal ini seharusnya menjadi koreksi bagi ruangan.

3. Justifikasi Kelompok terhadap MAKP di Ruangan


Model MAKP fungsional seharusnya sudah tidak lagi digunakan
di sebuah ruangan. Metode fungsional yang diterapkan di ruang
Teratai berdampak pada kualitas asuhan keperawatan. Asuhan
keperawatan di ruang Teratai kurang berjalan dengan baik dapat
dilihat dari cara pendokumentasian. Pendokumentasian yang
dilakukan di ruang Teratai tidak lengkap karena tidak ada yang
bertanggung jawab terhadap asuhan keperawatan.
Ruang Teratai harus merubah model asuhan keperawatan
profesional fungsional untuk dapat meningkatkan pelayanan
kesehatan yang berkualitas dan terjangkau sesuai dengan misi
ruangan. Pelayanan kesehatan yang berkualitas juga dapat
dipengaruhi oleh asuhan keperawatan. asuhan keperawatan yang
berkualitas dimulai dari pengkajian, diagnosis, rencana asuhan
keperawatan, implementasi, dan evaluasi. Oleh karena itu ruangan
harus dibentuk menjadi metode tim modifikasi agar ada yang
bertanggung jawab terhadap asuhan keperawatan sehingga terwujud
pelayanan kesehatan yang berkualitas dan mempunyai daya saing.

b. Timbang terima / operan


Timbang terima sudah dilakukan antar shift. Dari hasil pengkajian
mulai tanggal 19 24 Desember 2016 timbang terima dilakukan rutin
setiap pergantian shift, namun pelaksanaannya tidak sesuai dengan
waktu yang ditentukan (pagi : jam 07.00, siang : jam 14.00, malam : jam
21.00). 85,7% timbang terima yang dilakukan sudah berjalan sesuai SOP.
Hasil observasi berdasarkan SOP dan waktu dimulainya timbang terima
adalah sebagai berikut:

35
Tabel 3.16 Hasil Observasi Proses Timbang Terima

Langkah- Tanggal
No. 19 12 2016 20 12 2016 21 12 2016
langkah P S M P S M P S M
1. Buku laporan
shift
sebelumnya
2. Membaca
laporan shift
sebelumnya.
3. Shift yang akan
mengoperkan,
menyiapkan hal-
hal yang akan di
sampaikan.
4. Shift yang akan
menerima
membawa buku
catatan operan /
catatan harian
5. Kedua
kelo
mpok
suda
h
siap.
Prosedur pelaksanaan :
1. Kepala ruang / - - - - - - - - -
Ketua Tim
mengucapkan
salam (selamat
pagi/assalamua
laikum) dan
menyampaikan
akan segera di
lakukan operan.

36
2. Perkenalkan diri - - - - - - - - -
dan perawat
yang akan
bertugas
selanjutnya.
3. Kegiatan
dimulai dengan
menyebut/
mengidentifikasi
secara satu
persatu
(berurutan
tempat tidur /
kamar) :
Identifikasi
Klien:
nama,alamat,
no register
4. Jelaskan
kondisi/keadaan
umum klien.
5. Jelaskan
tindakan
keperawatan
yang telah dan
belum dilakukan
6. Jelaskan hasil
tindakan.
Masalah teratasi
sebagian belum
atau muncul
masalah baru.
7. Jelaskan secara
singkat dan
jelas rencana
kerja dan tindak
lanjut asuhan

37
(mandiri atau
kolaborasi)
8. Memberikan
kesempatan
anggota shift
yang menerima
operan untuk
melakukan
klarifikasi/
bertanya
tentang hal-hal
atau tindakan
yang kurang
jelas.
9. Perawat yang
menerima
operan
mencatat hal-
hal penting
pada buku
catatan harian
10. Lakukan
prosedur 1 7
untuk pasien
berikutnya
sampai seluruh
pasien
dioperkan.
11 Perawat yang
mengoperkan
menyerahkan
semua berkas
catatan
perawatan
kepada tim yang
akan

38
menjalankan
tugas
berikutnya.

1. Kepala
Ruang/ketua tim
(yang
memimpin)
kembali ke
Nurse Station
2. Berdoa - - - - - - - - -
bersama yang
di pimpin oleh
kepala
ruang/ketua
Tim.
3. Mengucap - - - - - - - - -
s
al
a
m
.
4. Mengucapkan - - - - - - - - -
selamat istirahat
bagi anggota
tim/shift
sebelumnya.
5. Mengucapkan - - - - - - - - -
selamat bekerja
untuk tim/shift
berikutnya
TOTAL 15 15 15 15 15 15 15 15 15
Prosentase 85. 85. 85. 85. 85. 85. 85. 85. 85.
7% 7% 7% 7% 7% 7% 7% 7% 7%
WAKTU (WIB) 07. 14. 21. 07. 14. 21. 07. 15. 21.
25 30 10 30 15 10 15 00 15

No. Langkah-langkah Tanggal

39
22 12 2016 23 12 2016 24 12 2016
P S M P S M P S M
1. Buku laporan shift
sebelumnya
2. Membaca laporan
shift sebelumnya.
3. Shift yang akan
mengoperkan,
menyiapkan hal-
hal yang akan di
sampaikan.
4. Shift yang akan
menerima
membawa buku
catatan operan /
catatan harian
5. Kedua kelompok
sudah
siap.
Prosedur pelaksanaan :
1. Kepala ruang / - - - - - - - - -
Ketua Tim
mengucapkan
salam (selamat
pagi/assalamuala
ikum) dan
menyampaikan
akan segera di
lakukan operan.
2. Perkenalkan diri - - - - - - - - -
dan perawat yang
akan bertugas
selanjutnya.
3. Kegiatan dimulai
dengan
menyebut/mengid
entifikasi secara
satu persatu

40
(berurutan tempat
tidur / kamar) :
Identifikasi
Klien:
nama,alamat,
no register
4. Jelaskan
kondisi/keadaan
umum klien.
5. Jelaskan tindakan
keperawatan
yang telah dan
belum dilakukan
6. Jelaskan hasil
tindakan.
Masalah teratasi
sebagian belum
atau muncul
masalah baru.
7. Jelaskan secara
singkat dan jelas
rencana kerja dan
tindak lanjut
asuhan (mandiri
atau kolaborasi)
8. Memberikan
kesempatan
anggota shift
yang menerima
operan untuk
melakukan
klarifikasi/bertany
a tentang hal-hal
atau tindakan
yang kurang
jelas.
9. Perawat yang

41
menerima operan
mencatat hal-hal
penting pada
buku catatan
harian
10. Lakukan prosedur
1 7 untuk
pasien berikutnya
sampai seluruh
pasien dioperkan.
11 Perawat yang
mengoperkan
menyerahkan
semua berkas
catatan
perawatan
kepada tim yang
akan
menjalankan
tugas berikutnya.

1. Kepala
Ruang/ketua tim
(yang memimpin)
kembali ke Nurse
Station
2. Berdoa bersama - - - - - - - - -
yang di pimpin
oleh kepala
ruang/ketua Tim.
3. Mengucap salam. - - - - - - - - -
4. Mengucapkan - - - - - - - - -
selamat istirahat
bagi anggota
tim/shift
sebelumnya.
5. Mengucapkan - - - - - - - - -
selamat bekerja

42
untuk tim/shift
berikutnya
TOTAL 15 15 15 15 15 15 15 15 15
Prosentase 85. 85. 85. 85. 85. 85. 85. 85. 85.
7% 7% 7% 7% 7% 7% 7% 7% 7%
WAKTU (WIB) 07. 14. 21. 07. 14. 21. 07. 14. 21.
30 30 00 15 15 10 15 30 00

Keterangan :
: Dilakukan
: Tidak Dilakukan
P : Operan Malam ke Pagi
S : Operan Pagi ke Sore
M : Operan Sore ke Malam

Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa timbang terima


selalu dilakukan di ruangan. Timbang terima dilakukan baik secara
langsung melihat kondisi pasien maupun tidak langsung. Masing-masing
perawat berkeliling untuk memastikan keadaan pasien terlebih dahulu
atau melalui laporan yang telah dibuat oleh perawat sebelumnya. Namun,
dalam melakukan timbang terima perawat tidak mempunyai SOP khusus
sebagai panduan melakukan timbang terima.

c. Pre dan post conference


Conference adalah diskusi kelompok tentang beberapa aspek
klinik dan kegiatan konsultasi (Nursalam, 2006). Pre conference adalah
diskusi tentang aspek klinik sebelum melaksanakan asuhan keperawatan
pada pasien. Post conference adalah diskusi tentang aspek klinik
sesudah melaksanakan asuhan keperawatan pada pasien. Berdasarkan
pengkajian pada tanggal 19 24 Desember 2016 tidak dilakukan pre dan
post conference di ruang teratai.

Tabel 3.17 Hasil Observasi Pre conference

No Tindakan Tanggal
19 20 21 22 23 24
1. Persiapan
1. Ruangan

43
2. Staff
2. Tatalaksana
a. Melakukan konferensi setiap - - - - - -
hari segera setelah dilakukan
pergantian dinas pagi atau sore
sesuai dengan jadwal
pelaksana.
b. Dipimpin oleh ketua tim atau
- - - - - -
penanggung jawab tim
Isi conference:
Rencana tiap asuhan (rencana
harian)
Tambahan rencana dari ketua
tim atau penanggung jawab tim
c. Konferensi dihadiri oleh perawat
- - - - - -
pelaksana dan PA dalam timnya
masing masing
d. Menyampaikan perkembangan
- - - - - -
dan masalah pasien
berdasarkan hasil evaluasi
kemarin dan kondisi pasien
yang dilaporkan oleh dinas
malam
e. Perawat pelaksana
menyampaikan hal-hal meliputi - - - - - -
Keluhan pasien
TTV dan kesadaran
pasien
Hasil pemeriksaan
laboratorium atau
diagnosis terbaru
Masalah keperawatan
Rencana keperawatan
hari ini
Perubahan keadaan
terapi medis
Rencana medis
f. Perawat pelaksana
mendikusikan dan
mengarahkan perawat asosiet

44
tentang masalah yang terkait
dengan perawatan pasien yang - - - - - -
meliputi :
Pasien yang terkait
dengan pelayanan
seperti : keterlambatan,
kesalahan pemberian
makan, kebisikan
pengunjung lain,
kehadiran dokter yang
dikonsulkan
Ketepatan pemberian
infuse
Ketepatan pemantauan
asupan dan pengeluaran
cairan
Ketepatan pemberian
obat / injeksi
Ketepatan pelaksanaan
tindakan lain
Ketepatan dokumentasi
g. Mengingatkan kembali standar
prosedur yang ditetapkan
h. Mengingatkan kembali tentang
kedisiplinan, ketelitian, kejujuran
dan kemajuan masingmasing
perawatan asosiet
i. Membantu perawatan asosiet
menyelesaikan masalaah yang - - - - - -
tidak dapat diselesaikan.
- - - - - -

- - - - - -

Total 0 0 0 0 0 0

Prosentase 0% 0% 0 % 0% 0% 0 %

45
Berdasarkan tabel 3.17 diatas dapat dilihat bahwa 0% langkah-
langkah pre conference tidak dilakukan di ruangan. Hal tersebut dikarenakan
di ruangan Teratai tidak melakukan pre conference setelah timbang terima.

Tabel 3.18 Hasil observasi post conference

STANDAR OPERASIONAL Tanggal


PROSEDUR
19 20 21 22 23 24
POST CONFERENCE
Prosedur 1 Persiapan
kerja a Masing-masing tim - - - - - -
menyiapkan tempat
pelaksanaan post
conference.
b Masing-masing - - - - - -
ketua tim sudah
menjadwalkan
kegiatan post
conference
2 Pelaksanaan
a Acara dimulai - - - - - -
dengan pembukaan
salam oleh ketua
tim
b Ketua tim - - - - - -
menanyakan hasil
dan hambatan dari
pemberian asuhan
pada masing-
masing pasien
c Perawat associate - - - - - -
menyampaikan
hasil asuhan pada
kasus yang
ditangani

46
d Ketua tim - - - - - -
menanyakan tindak
lanjut asuhan
pasien yang harus
di operkan kepada
perawat shift
berikutnya
e Ketua tim - - - - - -
memberikan
reinforcement
f Ketua tim menutup - - - - - -
kegiatan post
conference.
3 Dokumentasi
a Ketua tim - - - - - -
mendokumentasi
hasil dari post
conference
b Kepala ruangan - - - - - -
menilai
kemampuan ketua
tim dalam
melakukan post
conference
4 Evaluasi - - - - - -
Kepala ruang
mengisi format
evaluasi post
conference untuk
ketua tim
Total 0 0 0 0 0 0

Prosentase 0% 0% 0% 0% 0% 0%

Keterangan :

: Dilakukan

47
: Tidak Dilakukan

Pengkajian langkah-langkah post conference diatas dilakukan pada


tanggal 19 24 Desember 2016. Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui
selama 6 hari langkah-langkah preconference yang dilakukan yaitu 0%. Hal
tersebut dikarenakan selama pengkajian di ruang Teratai tidak pernah
dilakukan post conference.

d. Ronde Keperawatan

Dari hasil observasi dan wawancara dari tanggal 19 24


Desember 2016 di ruang Teratai belum dilakukan ronde keperawatan. Hal
ini disebabkan oleh banyaknya jumlah klien yang tidak sesuai dengan
beban kerja perawat. Diskusi kondisi klien hanya dlakukan antar perawat
dokter pada saat setelah visite tetapi belum terlaksana ronde
keperawatan yang membahas klien dengan penyakit unik secara multi
disiplin ilmu. Ronde keperawatan biasanya hanya dilakukan ketika ada
mahasiswa praktik untuk membantu mengajarkan proses ronde
keperawatan yang ada di pelayanan.

e. Penerimaan pasien baru

Dalam setiap perpindahan pasien baru di ruangan Teratai,


idealnya pasien dan keluarga diorientasikan mengenai fasilitas yang
dapat digunakan di ruangan, perawat yang bertanggung jawab terhadap
pasien, edukasi tentang cuci tangan yang benar dan apa saja yang perlu
dilakukan atau dilaporkan kepada perawat jaga. Selama observasi sejak
tanggal 19 24 Desember 2016, orientasi penerimaan pasien baru masih
belum maksimal. Jumlah perawat yang terbatas menyebabkan perawat
lebih berfokus pada kelengkapan dokumentasi dan administrasi.
Sehingga pasien baru dan keluarga belum memiliki pemahaman
mengenai siapa perawat penanggung jawab, apa saja yang perlu
dilaporkan kepada perawat, dan lain-lain.

Tabel 3.19 Penerimaan Pasien Baru

No Tanggal
Prosedur
. 19 20 21 22 23 24
1. Pasien di terima oleh

48
petugas ruangan
2. Melaksanakan serah
terima meliputi :
3. Surat pengantar dan
inform concent
4. Tindakan yang telah
dilaksanakan,
pengobatan yang
diberikan serta sisa obat
yang perlu di operkan.
5. Rencana tindakan lanjut
6. Menempatkan pasien
sesuai dengan kasusnya
7. Tanda tangan dan nama
terang pada lembar
pengiriman oleh petugas
pengantar dan penerima
8. Melaksanakan
pengkajian keperawatan
meliputi :
Pengisian formulir :
Masuk kamar
Anamnesa
Pemeriksaan fisik

Lapor dokter

pertelepon
Laporan proses
askep
Tindakan
Keperawatan
Pernyataan Rawat
Inap

Pernyataan
persetujuan tindakan
Resume askep

Melaksanakan tindakan
keperawatan kepada - - - - - -

pasien

49
TOTAL 15 15 15 15 15 15
Persentase 93,75 93,75 93,75 93,75 93,75 93,75
% % % % % %

Keterangan :

Dilakukan :

Tidak dilakukan : --

Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa prosedur


penerimaan pasien baru sudah baik, yaitu rata-rata 93,75 % prosedur
telah dilakukan perawat.

f. Discharge Planning

Discharge Planning adalah suatu proses dimana mulainya pasien


mendapatkan pelayanan kesehatan yang diikuti dengan kesinambungan
perawatan baik dalam proses penyembuhan maupun dalam
mempertahankan derajat kesehatannya sampai pasien merasa siap untuk
kembali ke lingkungannya. Discharge planning yang dilakukan di ruang
teratai selama pengkajian sudah direncanakan sejak klien MRS. Hasil
pengkajian selama tanggal 19 24 Desember 2016 dapat dilihat pada
tabel dibawah. Berdasarkan tabel 3.20 diketahui bahwa 100% item pada
discharge planning telah dilakukan seluruhnya. Format discharge
planning yang digunakan di ruangan dapat dilihat di lampiran 1.5.

Tabel 3. 20 Discharge Planning

No Indikator 19 20 21 22 23 24

1 Mengkaji nama pasien

Mendokumentasikan tanggal
2
masuk

3 Mendokumentasikan tanggal

50
keluar

Mendokumentasikan nomor
4
rekam medis

Mendokumentasikan ruang
5
dan kelas klien

Mendokumentasikan dokter
6
yang merawat

Mendokumentasikan
7
Diagnosa medis

Mendokumentasikan
8 diagnosa keperawatan
potensial

Mendokumentasikan Jenis
9
tindakan yang diberikan

Mengkaji riwayat penyakit


10
klien

Melakukan pemeriksaan fisik


11
dan mendokumentasikan

Mendokumentasikan hasil
12
laboratorium

Mendokumentasikan terapi
13
yang telah diterima

Mendokumentasikan
14 penyebab kematian bila
perlu

Mendokumentasikan
15 keadaan waktu pulang atau
keluar

Mendokumentasikan tanggal
16
kontrol ulang

Mengisi nama dan tanda


17
tangan perawat

51
TOTAL 17 17 17 17 17 17

PERSENTASE 100% 100% 100% 100% 100% 100%

g. Pendidikan kesehatan

Pendidikan kesehatan di ruangan dilakukan oleh tim PKRS


dengan sistem giliran dengan ruangan lain. Mahasiswa yang sedang
praktik biasanya diberikan tugas untuk memberikan pendidikan kesehatan
pada pengunjung pasien.

h. Dokumentasi

Dokumentasi keperawatan sudah mencakup pengkajian, diagnosa


keperawatan sampai evaluasi yang mencakup SOAP. Catatan
perkembangan pasien dibuat setiap hari secara berkesinambungan
sesuai dengan kondisi pasien saat itu, namun pendokumentasian kurang
optimal karena banyak beberapa sub yang kosong. Hal tersebut menurut
perawat karena pasien terlalu banyak dan tenaga perawat kurang,
sehingga tidak punya waktu untuk mengisi.

Tabel 3.21 Dokumentasi ruangan


19/12/ 20/12/ 21/12/ 22/12/201 23/8/201 24/8/201
No
Indikator 2016 2016 2016 6 6 6
. % % % % % %
1 Data pasien 20 10 19 10 16 10 14 100 11 10 15 10
0 0 0 0 0
2 Ringkasan 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
masuk dan
KRS
3 Asesmen 20 10 19 10 16 10 14 100 11 10 15 10
medis 0 0 0 0 0
4 Kajian awal 20 10 19 96 16 10 14 100 11 10 15 10
keperawatan 0 0 0 0
5 Pengkajian 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
gizi
6 Daftar 20 10 19 10 16 10 14 100 11 10 15 10
penggunaan 0 0 0 0 0
obat

52
7 Lembar OK 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
8 Catatan 20 10 19 10 16 10 14 100 11 10 15 10
perkembanga 0 0 0 0 0
n
Blue red 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Pemberian 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Obat injeksi
9 Pemeriksaan 20 10 19 10 16 10 14 100 11 10 15 10
penunjang 0 0 0 0 0
10 Resume 20 10 19 10 16 10 14 100 11 10 15 10
0 0 0 0 0
Jumlah pasien 20 19 16 14 pasien 11 15
pasien pasien pasien pasien pasien

Berdasarkan tabel diatas menunjukkan bahwa pengisian


pendokumentasian belum lengkap. Catatan perkembangan pasien
terintegrasi belum semua diisi, beberapa poin seperti blue red dan daftar
injeksi belum diisi sama sekali. Dari hasil klarifikasi mengenai masalah
pendokumentasian perawat mengatakan bahwa hal tersebut karena
kekurangan tenaga namun sebelum dikembalikan ke assembling, rekam
medis pasien akan dilengkapi oleh karu dan ahli gizi.

Sentralisasi obat

Sentralisasi obat masih dalam tingkat pengembangan di Ruang


Teratai. Obat oral dan injeksi sudah diatur dan diletakkan pada masing-
masing kotak penyimpanan yang bertuliskan nomer bed sesuai dengan
nama pasiennya.

Tabel 3.22 Sentralisasi obat


SENTRALISASI OBAT YA TIDAK
Penerimaan Obat 1. Obat yang telah diresepkan di
tunjukkan kepada perawat dan obat
yang telah diambil oleh keluarga
diserahkan kepada perawat dengan
menerima lembar terima obat.
2. Perawat menuliskan nama pasien,

register, jenis obat, jumlah dan

53
sediaan dalam kartu control, dan
diketahui oleh keluarga atau pasien
dalam buku masuk obat. Keluarga
atau pasien selanjutnya mendapatkan
penjelasan kapan atau bilamana obat
tersebut akan habis. Serta penjelasan
tentang 6B.
3. Pasien atau keluarga selanjutnya

mendapatkan salinan obat yang harus
ditebus beserta kartu sediaan obat.
4. Obat yang telah diserahkan

selanjutnya disampaikan kepada
perawat dan diletakkan dalam kotak
obat
Pembagian obat 1. Obat yang telah diterima untuk
selanjutnya disalin dalam buku daftar
pemberian obat.
2. Obat yang telah disimpan untuk

selanjutnya diberikan oleh perawat
dengan memerhatikan alur yang
tercantum dalam buku daftar
penerimaan obat: dengan terlebih
dahulu dicocokan dengan terapi yang
diinstruksikan dokter dan kartu obat
yang ada pada pasien.
3. Pada saaat pemberian obat, perawat

menjelaskan macam obat, kegunaan
obat, jumlah obat, dan efek samping.
Usahakan tempat atau wadah obat
kembali ke perawat setelah obat
dikonsumsi. Pantau efek samping pada
pasien.
4. Sediaan obat yang ada selanjutnya
diperiksa setiap pagi oleh kepala ruang
atau petugas yang ditujukan dan
didokumentasikan dalam buku masuk
obat. Obat-obatan yang hampir habis

54
akan diinformasikan kepada keluarga
dan kemudian dimintakan resep
kepada dokter penganggung jawab
pasien.
Penambahan obat 1. Bila terdapat penambahan atau
baru perubahan jenis, dosis atau perubahan
alur pemberian obat, maka informasi ini
akan dimasukkan dalam buku masuk
obat dan sekaligus dilakukan
perubahan dalam kartu sediaan obat.
2. Pada pemberian obat yang bersifat tidak

rutin, maka dokumentasi hanya
dilakukan pada buku masuk obat dan
selanjutnya diinformasikan kepada
keluarga dengan kartu khusus obat
Obat khusus 1. Obat dikategorikan khusus apabila
sediaan memiliki harga yang cukup
mahal, menggunakan alur pemberian
yang cukup sulit, memiliki efek samping
yang cukup besar atau hanya diberiakn
dalam waktu tertentu.
2. Pemberian obat khusus dilakukan

menggunakan kartu khusus obat,
dilaksanakan oleh perawat primer
3. Informasi yang diberikan kepada pasien

atau keluarga: nama obat, waktu
pemberian, efek smping,
penanggungjawab, pemberian, dan
wadah obat sebaiknya diserahkan atau
ditunjukkan kepada keluarga setelah
pemberian. Usahakan terdapat saksi
dari keluarga saat pemberian obat
TOTAL 9 4
PERSENTASE 69 % 31%

55
56
ANALISA SWOT

STRENGTH WEAKNESS
Model keperawatan yang digunakan di Pembagian tugas tiap perawat
ruang teratai adalah metode fungsional, pelaksana belum jelas.
dengan 1 orang kepala ruangan dibantu Pelaksanaan metode fungsional belum
oleh 9 perawat pelaksana efektif dan belum berjalan dengan
Perawat memberikan obat sesuai dengan 6 maksimal di ruang teratai.
benar yaitu benar waktu, benar dosis, benar Ronde keperawatan dilakukan saat ada
obat, benar pasien, benar rute, dan benar mahasiswa saja
Orientasi pasien baru belum dilakukan
dokumentasi.
perawat pelaksana mendampingi dokter sesuai SOP.
Pra dan post conference tidak
untuk melakukan visite dokter
Karu menjalankan fungsi manajemen dilaksanakan
Pendokumentasian / pencatatan
keperawatan dengan cukup baik dengan
Rekam medis pasien belum terisi
prosentase 67%.
Perawat pelaksana menjalankan fungsi dengan baik atau kurang lengkap

manajemen keperawatan dengan cukup


baik dengan prosentase 96%.
Jenis komunikasi yaitu atasan-bawahan dan
bawahan-atasan yang berjalan efektif.
Sistem operan telah berjalan di Ruang
Teratai.
Pengisian discharge planning telah
dilakukan di Ruang Teratai.

OPPORTUNITY THREAT
RS mempunyai beberapa rencana strategis Terdapat Rumah Sakit Umum (RSU)
yang harus dijalankan oleh Instalasi rawat dan banyak rumah sakit swasta yang
inap yaitu semua perawat menjalankan memiliki daya saing tinggi.
Tuntutan pelayanan yang berkualitas
program cuci tangan atau handscrub
sebelum dan setelah melakukan tindakan. dari pasien.
RS mempunyai visi dan misi yang jelas RSU KH merupakan rumah sakit tipe B

Ratin
No Faktor Strategi Internal P K Bobot Skor
g

Strenght (Kekuatan)

57
1 Model keperawatan yang digunakan
diruang teratai adalah metode
fungsional, dengan 1 orang kepala 5 4 0,09 3 0,27
ruangan dibantu oleh 8 perawat
pelaksana.

2 Perawat memberikan obat sesuai


dengan 6 benar yaitu benar waktu,
6 4 0,11 3 0,33
benar dosis, benar obat, benar
pasien, benar rute, dan benar
dokumentasi.
3 Karu dan perawat pelaksana
7 4 0,13 2 0,26
mendampingi dokter untuk
melakukan visite dokter
4 Karu menjalankan fungsi manajemen
8 4 0,15 2 0,3
keperawatan dengan cukup baik
dengan prosentase 76%
5. Perawat pelaksana menjalankan
fungsi manajemen keperawatan 10 4 0,18 4 0,72
dengan cukup baik dengan
prosentase 96%.
6. Jenis komunikasi yaitu atasan-
4 4 0,02 1 0,02
bawahan dan bawahan-atasan yang
berjalan efektif
7. Sistem operan telah berjalan di 1 4 0,07 2 0,14
Ruang Teratai
8. Pengisian discharge planning telah 2 4 0,04 2 0,08
dilakukan di Ruang Teratai
Total 1 2,12

No Faktor Strategi Internal P K Bobot Rating Skor


Weaknesss (Kelemahan)
1 Pembagian tugas tiap perawat 1 4
0,05 3 0,15
pelaksana belum jelas.
2 Pelaksanaan metode fungsional 2 4
belum efektif dan belum berjalan 0,09 3 0,27
dengan maksimal di ruang teratai
3. Pre dan post conference tidak 6 4
0,29 2 0,58
dilaksanakan
4. Orientasi pasien baru belum 4 4
0,19 2 0,38
dilakukan sesuai SOP
5 Ronde keperawatan hanya 5 4
dilakukan jika ada mahasiswa 0,14 2 0,28
yang melakukan seminar
6 Pendokumentasian / pencatatan 3 4
Rekam medis pasien belum terisi 0,24 3 0,72
dengan baik atau kurang lengkap
Total 1 2,38

58
Skor Faktor Internal = skor kekuatan skor kelemahan
= 2.12 2.38
= - 0.26 (X)

No Faktor Strategi Eksternal P K Bobot Rating Skor


Opportunity (O)
1 RS mempunyai beberapa rencana
strategis yang harus dijalankan
oleh Instalasi rawat inap yaitu
semua perawat menjalankan 1 4 0,5 4 2
program cuci tangan atau
handscrub sebelum dan setelah
melakukan tindakan.
2 RS mempunyai visi dan misi yang
2 4 0,5 4 2
Kuadran III jelas
Total 1 4

No Faktor Strategi Eksternal P K Bobot Rating Skor


Kuadran I
Threat (T)
1 Terdapat Rumah Sakit Umum 3 4
Kuadran IV (RSU) dan banyak rumah sakit Kuadran II
0,33 2 0,66
swasta yang memiliki daya saing
tinggi
2 Tuntutan pelayanan yang 2 4
0,5 4 2
berkualitas dari pasien
3. RSKH merupakan rumah sakit (+)tipe
Eksternal
1 4
(KESEMPATAN) 0,17 3 0,51
B
Total 1 3.17

Skor Faktor Eksternal = skor kesempatan skor ancaman


= 4 3,17
= 0.83 (Y)

KURVA SWOT

(-) Internal (+) Internal


(KELEMAHAN) (KEKUATAN)

59
(-) Eksternal
(ANCAMAN)
X (-

4. Money
3.4.1 Sistem Gaji dan Remunerasi
Sumber dana gaji pegawai PNS di Ruang Teratai Rumah Sakit
Umum Karsa Husada Batu berasal dari pemerintah dari dana APBD.
Sedangkan sumber dana gaji pegawai Non-PNS berasal dari dana BLUD
(Badan Layanan Umum Daerah) yang berasal dari rumah sakit itu sendiri
berdasarkan sepengetahuan BKD. Besaran gaji pokok yang diterima oleh

60
pegawai PNS maupun pegawai Non-PNS diatur berdasarkan golongan
pegawai yang dilihat dari jenjang pendidikan. Perawat yang masih dalam
fase orientasi sudah memperoleh gaji tetapi belum memperoleh
remunerasi karena belum masuk dalam unit atau ruang penetapan kerja,
sedangkan perawat magang tidak memperoleh gaji.
Kenaikan gaji berkala diberikan kepada PNS setiap 2 tahun sekali.
Dan juga terdapat tunjangan yang diberikan kepada pegawai di Ruang
Teratai, diberikan kepada pegawai PNS berdasarkan jasa pelayanan
dengan kriteria:
- Lama bekerja
- Dari ruang mana
- Jumlah pasien yang dirawat

Gaji maupun remunerasi didistribusikan oleh rumah sakit kepada


staf secara periodik setiap bulannya. Gaji didistribusikan setiap tanggal 1
setiap bulan.

3.4.2 Sumber Pendapatan Ruangan


Sistem anggaran di Ruang Teratai Rumah Sakit Umum Karsa
Husada Batu, semuanya berasal dari rumah sakit. Untuk bahan medis
habis pakai, setiap bulannya staf ruangan bagian administrasi akan
melaporkan kebutuhan bahan kepada kepala ruangan kemudian setelah
kepala ruangan memberikan persetujuan selanjutnya melakukan
pengajuan proposal ke Rumah Sakit, baru kemudian Rumah Sakit akan
melakukan pengadaan bahan-bahan tersebut melalui bagian farmasi.

3.4.3 Sistem Pembayaran Bagi Pasien


System pembayaran bagi pasien semuanya diurus oleh bagian
administrasi rumah sakit. Ruangan tidak mengetahui bagaimana proses
uang masuk atau keluar yang berasal dari pasien. Untuk pasien BPJS
maupun pasien asuransi lainnya apabila diharuskan menjalani terapi lain
yang alat atau bahannya tidak disediakan oleh ruangan (missal. Tranfusi,
dll) pembiayaannya akan diurus langsung oleh bagian asuransi.

Tabel 3.23 Biaya pelayanan ruang Teratai


No. Jenis layanan Kelas 1 Kelas 2 Kelas 3 Utama
1 Jasa akomodasi 150.000 100.000 75.000 200.000
2 Registrasi rawat inap - - 10.000 -
3 Jasa visite dokter 80.000 60.000 60.000 100.000
spesialis

61
4 Jasa visite dokter - 30.000 30.000 -
umum
5 Jasa asuhan 35.000 25.000 25.000 45.000
keperawatan
6 Konsultasi gizi 25.000 20.000 20.000 30.000
7 Jasa konsultasi 35.000 30.000 30.000 40.000
spesialis

62
ANALISA SWOT
STRENGTH WEAKNESS
Segi keuangan dipenuhi sesuai dengan sistem Tidak adanya alokasi dana khusus ruangan
pembiayaan pasien baik BPJS ataupun swasta untuk pembelian inventaris ruangan
Terdapat pemberian remunerisasi kepada
pegawai. Pemberian remunerisasi disesuaikan
dengan BOR dan kelas perawatan
Pemberian gaji pegawai selalu diberikan tepat
waktu di setiap awal bulannya
Kenaikan gaji berkala pegawai diberikan setiap
2 tahun sekali yang diberikan kepada pegawai
PNS
Terdapat tunjangan yang diberikan kepada
pegawai PNS yang diberikan setiap bulannya
bersamaan dengan pemberian gaji pegawai
dengan kriteria pemberian lama bekerja, berasal
dari ruang mana, dan jumlah pasien yang
dirawat dalam ruang tersebut

OPPORTUNITY THREAT
Sistem pemberian gaji pegawai golongan PNS Terkadang masih ada pasien yang
berasal dari pemerintah, dan sumber dana gaji memberikan uang tips pada petugas
pegawai Non-PNS (honorer) berasal dari rumah kesehatan
Belum adanya gaji untuk tenaga honorer
sakit itu sendiri.
Sumber pendapatan Ruang Teratai Rumah Sakit dari pemerintah
Karsa Husada Batu berasal dari Pemerintah yang
diatur oleh rumah sakit untuk dibagikan ke setiap
ruangan di rumah sakit sesuai kebutuhannya yang
tersentralisasi dari instalasi watnap.
No Faktor Strategi Internal P K PxK Bobot Rating Skor
Strength (Kekuatan)
1 Segi keuangan dipenuhi sesuai 2 4 8 0,1 3 0,3
dengan sistem pembiayaan pasien
baik BPJS ataupun swasta
2 Terdapat pemberian remunerisasi 3 4 12 0,2 4 0,8
kepada pegawai. Pemberian
remunerisasi disesuaikan dengan
BOR dan kelas perawatan
3 Pemberian gaji pegawai selalu 5 4 16 0,4 4 1,6
diberikan tepat waktu di setiap awal
bulannya
4 Kenaikan gaji berkala pegawai 1 4 4 0,1 2 0,2
diberikan setiap 2 tahun sekali yang
diberikan kepada pegawai PNS
5 Terdapat tunjangan yang diberikan 4 4 16 0,2 4 0,8

63
kepada pegawai PNS yang diberikan
setiap bulannya bersamaan dengan
pemberian gaji pegawai dengan
kriteria pemberian lama bekerja,
berasal dari ruang mana, dan jumlah
pasien yang dirawat dalam ruang
tersebut
Total 56 1 3,7

No Faktor Strategi Internal P K PxK Bobot Rating Skor


Weaknesss (Kelemahan)
Tidak adanya alokasi dana khusus
1 ruangan untuk pembelian inventaris 1 4 4 1 3 3
ruangan
Total 4 1 3
Faktor
Strategi
No P K PxK Bobot Rating Skor
Eksterna
l
Opportunity (O)
1 Sumber pendapatan Ruang Teratai 2 4 8 0,3 3 0,9
Rumah Sakit Karsa Husada Batu
berasal dari Pemerintah yang diatur
oleh rumah sakit untuk dibagikan ke
setiap ruangan di rumah sakit sesuai
kebutuhannya yang tersentralisasi
dari instalasi watnap.
2 Sistem pemberian gaji pegawai 1 4 4 0,2 3 0,6
golongan PNS berasal dari
pemerintah, dan sumber dana gaji
pegawai Non-PNS (honorer) berasal
dari rumah sakit itu sendiri.
Total 24 1 3
S W = 3,7 3 = 0,7 (x)

N P K PxK
o Faktor Strategi Eksternal Bobot Rating Skor
Threat (T)
1 Belum adanya gaji untuk tenaga 2 4 8 0,7 4 2,8
honorer dari pemerintah
2 Terkadang masih ada pasien yang 1 4 4 0,3 3 0,9
memberikan uang tips pada petugas
kesehatan
Total 12 1 3,7
O T = 3 3,7 = -0,7 (y)

KURVA SWOT

(+) Eksternal

64
Kuadra

Kuadran III

X (0,7)
Diversifikasi
(-) Internal (+) Internal

Y (-
Kuadran IV Kuadra

(-) Eksternal

65
5. Market
Market atau pasar adalah tempat di mana organisasi
menyebarluaskan (memasarkan) produknya. Memasarkan produk sangat
penting sebab bila barang yang diproduksi tidak laku, maka proses
produksi barang akan berhenti. Artinya, proses kerja tidak akan
berlangsung. Oleh sebab itu, penguasaan pasar merupakan faktor yang
menentukan dalam suatu organisasi atau perusahaan.

5.1. Daftar Sumber Pembiayaan Pasien di Ruang Teratai Pada


Tanggal 19-24 Desember 2016
Daftar Sumber Pembiayaan Pasien di ruang Teratai pada tanggal
19 Desember 24 Desember 2016 terdiri dari Sumber biaya Umum,
JKN, dan JKM. Untuk rincian sumber pembiayaan pasien per tanggal
19 Desember - 24 Desember 2016 dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 3.24 Sumber pembiayaan pasien

No. Nama pasien Sumber Permbiayaan

1 Sdr.V JKN

2 Ny.NA JKN

3 Ny. D JKN

4 Ny. SU JKN

5 Tn. A JKN

6 Tn. KR JKN

7 Tn. J JKN

8 Ny. SN JKN

9 Ny. SY Umum

10 Ny. K JKN

11 Ny. M Umum

12 Ny. F JKN

13 Ny. SI JKN

14 Ny. K Umum

15 Tn. SA Umum

16 Ny. R JKN

66
17 Tn. M Umum

18 Tn. KU Umum

19 Tn. NS JKN

20 Tn. A JKN

21 Tn. SP JKN

22 Ny. ST JKN

23 Ny. F JKN

24 Tn. K Umum

25 Ny. KN JKN

26 Tn. D JKN

27 Tn. NG JKN

5.2. Daftar Daerah Asal Pasien di Ruang Teratai Pada Tanggal 19-24
Desember 2016
Daftar Daerah Asal Pasien di ruang Teratai pada tanggal 19-24
Desember 2016 terdiri dari berbagai wilayah seperti Malang,
Kabupaten Malang, Batu, Kediri, Jombang bahkan Surabaya. Untuk
rincian daerah asal pasien per tanggal 19-24 Desember 2016 dapat
dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 3.25 Daftar daerah asal pasien

No. Nama pasien Alamat

1 Sdr.V Batu

2 Ny.NA Batu

3 Ny. D Malang

4 Ny. SU Batu

5 Tn. A Batu

6 Tn. KR Batu

7 Tn. J Batu

67
8 Ny. SN Karangploso

9 Ny. SY Ngantang

10 Ny. K Batu

11 Ny. M Batu

12 Ny. F Batu

13 Ny. SI Batu

14 Ny. K Batu

15 Tn. SA Pujon

16 Ny. R Batu

17 Tn. M Batu

18 Tn. KU Batu

19 Tn. NS Batu

20 Tn. A Malang

21 Tn. SP Malang

22 Ny. ST Batu

23 Ny. F Pujon

24 Tn. K Bantur

25 Ny. KM Batu

26 Tn. D Ngantang

27 Tn. NG Batu

5.3. Indikator Mutu Perhitungan rumah Sakit

5.3.1. BOR (Bed Occupancy Ratio = Angka Penggunaan Tempat Tidur)

Menurut Depkes RI (2005), BOR adalah prosentase pemakaian


tempat tidur pada satuan waktu tertentu. Indikator ini memberikan
gambaran tinggi rendahnya tingkat pemanfaatan tempat tidur rumah
sakit.
Rumus BOR adalah sebgai berikut:

Jumlah pasien 100%

68
Jumlah tempat tidur

Jumlah TTdi Ruang Teratai = 24 TT

Menurut Data Dari KPRS (Komite Pelaporan Rumah Sakit) di Rumah


Sakit Karsa Husada Jumlah Penggunaan Tempat Tidur di Ruang Teratai
sebagai berikut:

Tanggal 19 Desember 2016: 18 Pasien

Tanggal 20 Desember 2016: 18 Pasien

Tanggal 21 Desember 2016: 20 Pasien

Tanggal 22 Desember 2016 : 19 Pasien

Tanggal 23 Desember 2016 : 13 Pasien

Tanggal 24 Desember 2016 : 12 Pasien

Berdasarkan data tersebut didapatkan jumlah penghitungan BOR sebagai


berikut:

Tanggal 19 Desember 2016 = 18/24 x 100% = 75 %

Tanggal 20 Desember 2016 = 18/24 x 100%= 75%

Tanggal 21 Desember 2016= 20/24 x 100%= 83%

Tanggal 22 Desember 2016 = 19/24 x 100% = 79%

Tanggal 23 Desember 2016 = 13/24 x 100% = 54%

Tanggal 24 Desember 2016 = 12/24 x 100% = 50%

Rata-Rata BOR selama 6 hari adalah: 75% + 75% + 83% + 79% + 54% +
50% = 69,3%

Selama kurun waktu 3 hari yaitu dari tanggal 19-24 Desember


2016 didapatkan ratarata BOR sejumlah 69,3%. Nilai parameter BOR
yang ideal adalah antara 60-85% (Depkes RI, 2005). Sehingga dapat
disimpulkan bahwa BOR di ruangan Teratai pada Tanggal 19-24
Desember 2016 sudah sesuai dengan standar Depkes RI 2005. Semakin

69
baik nilai BOR menunjukkan bahwa market dari rumah sakit juga semakin
baik.

5.3.2. ALOS (Average Length of Stay = Rata-rata lamanya pasien


dirawat)

ALOS menurut Depkes RI (2005) adalah rata-rata lama rawat


seorang pasien dirawat. Indikator ini disamping memberikan gambaran
tingkat efisiensi, juga dapat memberikan gambaran mutu pelayanan,
apabila diterapkan pada diagnosis tertentu dapat dijadikan hal yang perlu
pengamatan yang lebih lanjut. Secara umum nilai ALOS yang ideal antara
6-9 hari (Depkes, 2005).

Rumus Menghitung ALOS:

(jumlah lama dirawat)

(jlh pasien keluar (hidup + mati)

Berdasarkan Pengkajian Pada Tanggal 19Desember-24 Desember


2016 di Ruang Teratai didapatkan Data Sebagai Berikut:

1 Sdr.Vintiara lama dirawat 3 hari

2 Ny.Nur Anita lama dirawat 4 hari

3 Ny. Djumaitah lama dirawat 4 hari

4 Ny. Siswindah lama dirawat 3 hari

5 Tn. Aris lama dirawat 5 hari

6 Tn. Kisworo lama dirawat 1 hari

7 Tn. Jumadi lama dirawat 2 hari

8 Ny. Sukemi lama dirawat 4 hari

9 Ny. Sutriani lama dirawat 2 hari

10 Ny. Khusnul lama dirawat 6 hari

11 Ny. Marianah lama dirawat 8 hari

70
12 Ny. Farikah lama dirawat 6 hari

13 Ny. Suparmi lama dirawat 6 hari

14 Ny. Kasiani lama dirawat 1 hari

15 Tn. Sodik lama dirawat 2 hari

16 Ny. Rustin lama dirawat 1 hari

17 Tn. Muazizin lama dirawat 3 hari

18 Tn. Kanan lama dirawat hari 4 hari

19 Tn. Nur Solikan lama dirawat 9 hari

20 Tn. Adi lama dirawat 10 hari

21 Tn. Suprantio lama dirawat hari 3 hari

22 Ny. Sutiari lama dirawat hari 5 hari

23 Ny. Fera lama dirawat hari 4 hari

24 Tn. Kurniadi lama dirawat 3 hari

25 Ny. Kartini lama dirawat 3 hari

26 Tn. Dodik lama dirawat 4 hari

27 Tn. Ngadiono lama dirawat 2 hari

Jumlah pasien keluar (hidup+mati) = 16

Total hari

Jumlah lama dirawat =

108 = 6,75 hari

16

Selama pengamatan 3 hari (19-24 Desember 2016) di ruang


Teratai RSU Karsa Husada didapatkan lama hari perawatan di ruang
Teratai rata-rata adalah 6,75 hari. Menurut Depkes 2005 nilai ALOS yang
ideal adalah 6-9 hari sehingga ALOS di ruang Teratai pada tanggal 19-24
Desember 2016 termasuk baik.

5.3.3. TOI (Turn Over Interval = Tenggang perputaran)

71
TOI menurut Depkes RI (2005) adalah rata-rata hari dimana
tempat tidur tidak ditempati (dari setelah diisi ke saat terisi berikutnya).
Indikator ini memberikan gambaran tingkat efisiensi penggunaan tempat
tidur. Idealnya tempat tidur kosong tidak terisi pada 1-3 hari.

Rumus TOI:

((jumlah tempat tidur kosong Periode) Hari Perawatan)

(jmlh pasien keluar (hidup + mati))

Jumlah TT Kosong di RuangTeratai

Tanggal 19Desember 2016 : 6 TT Kosong

Tanggal 20 Desember 2016 : 6 TT Kosong

Tanggal 21 Desember 2016 : 4TT Kosong

Tanggal 22 Desember 2016 : 5 TT Kosong

Tanggal 23 Desember 2016 : 11 TT Kosong

Tanggal 24 Desember 2016 : 12 TT Kosong

Total TT Kosong selama 6 hari : 44 TT

Jumlah Pasien Keluar (Hidup+ Mati) : 16 Pasien

(44X 7) 7

16

= 301

16

= 18.8 hari

Selama pengamatan selama 6 hari didapatkan TOI diruang Teratai


sejumlah 18.8 hari yang idealnya 1-3 hari menurut Depkes 2005, yang
berarti kurang ideal. Namun menurut hasil wawancara dijelaskan bahwa
setiap akhir tahun memang lebih sedikit jumlah pasien yang masuk di
Ruang Teratai.

72
5.3.4. BTO (Bed Turn Over = Angka perputaran tempat tidur)

BTO menurut Depkes RI (2005) adalah frekuensi pemakaian tempat


tidur pada satu periode, berapa kali tempat tidur dipakai dalam satu
satuan waktu tertentu. Idealnya dalam satu tahun, satu tempat tidur rata-
rata dipakai 40-50 kali.

BTO selama 6 hari (19 Desember sampai 24 Desember 2016) di Ruang


Teratai

Jumlah pasien dirawat (hidup + mati)

(jumlah tempat tidur)

Jumlah Pasien Dirawat (hidup+mati) selama 6 hari

Tanggal 19 Desember 2016 : 18 pasien

Tanggal 20 Desember 2016 : 0 pasien Baru

Tanggal 21 Desember 2016 : 2 Pasien baru

Tanggal 22 Desember 2016 : 1 pasien baru

Tanggal 23 Desember 2016 : 2 pasien baru

Tanggal 24 Desember 2016 : 1 pasien baru

24 = 1 kali putaran

BTO selama 3 hari penggunaan bed di Ruang Teratai yaitu 1 kali


putaran. Idealnya dalam 1 tahun adalah 40-50 kali digunakan.

5.4. Indikator Mutu Pelayanan

5.4.1 Tingkat Kecemasan Pasien


Tabel 3.27 Hasil kuesioner tingkat kecemasan yang dilakukan
pada tanggal 20 Desember 2016

Klien Item tingkat kecemasan Klien Tot


al
sk
or

73
1 2 1 1 1 1 1 3 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 1 25

2 2 1 3 3 4 4 3 2 3 4 2 2 3 1 3 2 4 2 3 1 52

3 2 1 3 3 3 3 3 2 3 4 2 2 3 1 3 2 3 2 2 1 48

4 2 1 2 3 3 3 3 2 3 2 2 2 2 1 2 1 2 2 1 1 40

5 2 1 2 3 3 3 3 2 4 2 3 3 3 1 3 2 3 4 2 2 51

6 2 1 2 3 3 3 3 2 3 2 3 3 3 1 3 2 2 2 2 1 46

7 3 2 1 3 3 3 4 4 4 1 3 3 3 1 3 3 3 3 4 2 56

8 1 2 1 2 2 1 2 1 1 2 1 2 3 2 1 1 1 2 1 1 30

9 2 1 3 3 3 3 3 2 3 4 2 2 3 1 2 2 2 2 2 1 46

10 4 3 4 4 4 4 4 4 4 3 4 4 3 4 4 4 4 4 4 3 76

11 3 2 1 3 3 3 4 4 4 1 3 3 3 1 3 3 3 3 4 4 58

12 2 2 1 2 2 1 2 1 1 2 1 2 4 3 1 2 1 2 1 1 34

13 2 1 3 3 3 3 1 2 3 4 2 2 3 1 2 2 2 2 2 1 44

14 1 1 1 1 1 2 2 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 23

15 3 3 1 3 3 3 4 4 4 1 3 3 3 1 4 3 3 3 4 4 60

16 2 1 2 3 3 3 3 2 4 2 3 3 3 1 3 2 3 4 2 2 51

17 2 2 1 2 2 1 2 1 1 2 1 2 2 3 1 2 1 2 1 1 32

18 2 1 1 1 1 1 3 3 1 1 2 1 1 1 1 1 1 2 2 1 28

19 4 3 4 4 4 4 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 78

20 2 1 3 3 3 3 1 2 2 3 2 2 2 1 2 2 2 2 2 1 41

21 2 1 1 1 1 1 3 3 1 1 2 1 1 1 1 1 1 2 2 1 28

22 2 1 2 1 1 1 2 2 1 1 2 1 2 3 1 1 1 2 2 1 30

23 3 3 3 3 4 3 4 4 4 1 3 3 3 1 3 3 3 3 4 4 62

24 3 2 1 3 3 3 4 4 4 1 3 3 3 1 2 3 3 3 4 4 57

25 1 2 1 2 2 1 2 1 1 2 1 2 2 2 1 1 1 2 1 1 29

26 2 2 2 3 3 3 3 2 3 2 2 2 2 1 2 2 2 2 1 1 42

27 2 1 1 1 1 1 3 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 1 25

74
Ket:

Skor 20-44 normal/tidak cemas


Skor 45-59 kecemasan ringan
Skor 60-74 kecemasan sedang
Skor 75-80 kecemasan berat
a. Prosentase kejadian cemas ringan di ruang teratai
= Jumlah pasien cemas ringan x 100%

Jumlah pasien yang dirawat

= 6/27 x100

= 22 %

b. Prosentase kejadian cemas sedang di ruang teratai


= Jumlah pasien cemas sedang x 100%
Jumlah pasien yang dirawat
= 3/27 x100%
= 11 %

c. Prosentase kejadian cemas berat di ruang teratai


= Jumlah pasien cemas beratx 100%
Jumlah pasien yang dirawat
= 2/27 x100%
= 7%

d. Prosentase kejadian tidak cemas di ruang kemuning-dahlia


= Jumlah pasien tidak cemas x 100%
Jumlah pasien yang dirawat
= 15/27 x100%
= 50 %

Dari koesioner Zung Self-Rating Anxiety Scale (SAS/SRAS)


diperoleh nilai tertinggi adalah 78, dan nilai terendah adalah 25,
dengan pengelompokan sebagai berikut: skor 20 - 44:
normal/tidak cemas, skor 45-59 mengalami kecemasan ringan,
skor 60-74 mengalami kecemasan sedang, skor 75-80 mengalami
kecemasan berat. Sehingga dari tabel dapat disimpukan bahwa
sebagian besar pasien di ruang teratai tidak mengalami
kecemasan. Fungsi instrumen kecemasan klien ini untuk melihat
tingkat cemas klien terhadap kondisinya maupun lingkungan
sekitarnya, sehingga tindakan keperawatan diharapkan mampu
menurunkan tingkat kecemasan klien tersebut. Perawat
melakukan intervensi dengan mengajarkan teknik relaksasi seperti
nafas dalam, teknik distraksi, juga dengan menjelaskan tindakan
yang diberikan kepada pasien agar pasien mengerti sehingga
dapat mengurangi tingkat kecemasan yang dialami.

75
5.4.2. Tingkat Kepuasan Pasien

Hasil dari kuesioner didapatkan hasil sebagai berikut

Tabel 3.28 Hasil dari kuesioner tingkat kepuasan yang


dilakukan pada tanggal 19-24 Desember 2016

Skor
Item Tingkat Kepuasan Pasien total
Respo
nden
1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2
1 2 3 4 5 6 7 8 9 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 0 1

1 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 60

2 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 60

3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 60

4 1 3 3 3 3 2 3 3 2 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 57

5 3 3 3 3 3 2 3 3 2 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 60

6 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 1 3 2 3 3 3 3 3 57

7 2 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 3 3 2 3 1 3 3 2 3 2 55

8 3 2 3 3 3 2 2 3 3 3 2 3 2 3 3 1 3 3 3 3 3 56

9 3 3 3 3 3 3 2 3 2 2 3 3 2 3 3 2 3 3 2 3 3 57

10 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 61

11 1 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 2 2 2 3 3 3 3 3 3 57

12 2 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 1 3 2 3 3 3 3 3 57

13 3 3 3 3 3 3 2 3 3 2 3 3 2 2 2 2 3 3 2 3 2 55

14 2 3 3 3 3 2 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 58

15 3 3 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 60

16 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 60

17 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 2 60

18 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 2 2 2 2 3 3 3 3 3 57

19 2 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 1 3 3 3 3 3 58

20 2 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 2 1 2 3 3 3 2 3 3 55

21 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 1 3 2 3 3 2 3 3 57

76
22 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 2 2 2 3 3 2 3 3 57

23 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 1 3 3 2 3 2 57

24 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 3 2 3 3 60

25 3 3 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 3 1 2 2 3 3 2 3 3 56

26 2 3 3 3 3 2 2 3 3 3 2 3 3 2 3 1 3 3 3 3 3 56

27 1 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 1 2 2 3 3 3 3 3 56

Ket:

Skor 21-44 tidak puas


Skor 45-59 kurang puas
Skor 60-74 puas
Skor 75-81 sangat puas

a) Prosentase Tingkat Kepuasan di ruang teratai


= jumlah klien memiliki tingkat kepuasan baik x 100%

Jumlah klien yang dirawat

= 9

27

= 33%

Dari tabel tersebut dibuat rentang tingkat kepuasan dengan


nilai terendah adalah 55 dan nilai tertinggi adalah 61. Nilai tidak
puas berada dalam rentang 27-44 merupakan skor tidak puas, 45-
59 merupakan skor kurang puas, 60-74 merupakan puas dan 75-
81 merupakan skor sangat puas. Dari hasil didapatkan bahwa dari
27 responden sebanyak 9 responden menunjukkan memiliki tingkat
puas terhadap layanan di Ruang Teratai dan sebanyak 18
responden menunjukkan ketidakpuasan terhadap layanan di
Ruang Teratai.

Hasil ini menjadi acuan bagi perbaikan tingkat layanan dan


program dari rumah sakit selanjutnya. Ada beberapa item yang
perlu diperhatikan oleh manajemen rumah sakit dan juga dari
perawat di Ruang Teratai untuk meningkatkan dalam hal

77
Kepastian, Kedisiplinan, Kecepatan, Keterbukaan Informasi,
Ketepatan Waktu, Kenyamanan Ruang dan Fasilitas dan yang
terakhir adalah Biaya dalam Pelayanan. Hal ini di karenakan ada
beberapa responden yang memberikan nilai sedang dalam item-
item tersebut sehingga dalam upaya peningkatan kualitas layanan
perlu adanya evaluasi dan peningkatan.

5.4.3. Tingkat Kenyamanan Pasien

Berdasarkan hasil pengkajian tentang Tingkat Kenyamanan


pasien selama 6 hari (19-24 Desember 2016) didapatkan hasil
sebagai berikut:

Prosentase Tingkat Nyeri di ruang teratai

jumlah pasiendengan nyeri


=
x 100
jumlah pasien yang dirawat

= 20 x 100%

2
27 11

= 74,07%

Berdasarkan Depkes tahun 2015 menjelaskan bahwa


seorang mulai dihitung nyeri ringan apabila skor nyeri pada pasien
adalah 1-3.

Untuk Tabel hasil Tingkat Kenyamanan Pasien selama 6


hari (19 Desember sampai 24 Desember 2016) di ruang teratai
sebagai berikut:

Pasien Skala
Ketidaknyamanan

1 4

78
2 6

3 0

4 4

5 6

6 7

7 0

8 5

9 5

10 6

11 4

12 0

13 5

14 6

15 0

16 3

17 6

18 2

19 4

20 0

21 5

22 0

23 4

24 0

25 2

26 5

27 6

Berdasarkan kuesioner menggunakan Wong Baker Scale


pada pasien terdapat beberapa klien yang mengalami nyeri pada

79
tingkat severe yaitu pada skala 5-6. Selanjutnya klien juga
mengalami nyeri pada tingkat minor yaitu pada skala 2 dan 3. Dan
sebagian klien tidak merasakan nyeri.

Pasien pada umumnya mengalami nyeri di karenakan


respon fisiologis klien terhadap penyakit yang dialaminya. Setiap
keluhan dari klien, pasti akan mendapatkan tindak lanjut dari
tenaga tenaga untuk mengurangi keluhan yang membuat klien
tidak nyaman tersebut. Termasuk pada keluhan nyeri yang dialami
oleh klien. Intervensi tersebut dilakukan dengan pemberian obat
ataupun dengan teknik-teknik distraksi yang dapat di ajarkan
terhadap klien. Sehingga dengan intervensi tersebut dapat
menurunkan nyeri yang di alami oleh klien dan memberikan
kenyamanan kepada klien.

Instrumen tersebut perlu adanya penyusunan dan perbaikan


redaksi sebagai bentuk untuk meningkatkan gambaran penjelasan
kepada pasien agar lebih jelas. Pada instrumen tersebut masih
sebatas sub-sub penting tanpa dijelaskan maksudnya sehingga
perlu adanya upaya memvalidkan instrumen dan juga penjabaran
lebih agar apa yang disampaikan masyarakat atau pasien bisa
tersampai kepada pihak-pihak terkait selaku pengelola ruang
teratai. Untuk Form Pengkajian Wong Baker Scale dapat dilihat
pada lampiran.

5.4.4. Tingkat Resiko Jatuh

Berdasarkan hasil pengkajian tentang Tingkat Kenyamanan


pasien selama 6 hari (19-24 Desember 2016) didapatkan hasil
sebagai berikut:
Tabel Hasil Kuesioner Tingkat Resiko Jatuh
Pasien 1 2 3 4 5 6 Skor
1 0 0 15 20 10 0 45
2 0 0 0 20 10 0 30
3 0 0 0 0 10 0 10
4 0 0 0 0 0 0 0
5 0 0 30 20 10 0 60
6 0 15 15 20 10 0 60
7 0 15 0 20 10 0 45

80
8 25 15 0 20 0 0 60
9 0 15 15 20 10 0 60
10 0 15 0 20 0 15 50
11 0 0 0 0 0 0 0
12 0 15 30 20 10 0 65
13 25 0 15 20 0 0 60
14 25 0 0 0 0 15 40
15 0 0 15 0 10 15 40
16 0 15 15 0 10 0 40
17 0 0 30 0 10 0 60
18 0 15 15 20 10 0 60
19 0 0 0 0 0 0 0
20 0 15 30 20 10 0 75
21 25 0 15 20 0 0 60
22 25 0 0 20 0 15 60
23 0 0 15 0 10 15 40
24 0 0 0 0 0 0 0
25 0 15 0 20 10 0 45
26 25 15 0 20 0 0 60
27 0 15 15 20 10 0 60

Angka Resiko Jatuh= Jumlah kejadian jatuh x 100%


Jumlah Pasien yang Beresiko Jatuh
= 0 x 100%
27
= 0%
Dari koesioner MORSE FALL SCALE diperoleh nilai
tertinggi adalah 75, dan nilai terendah adalah 0, dengan
pengelompokan sebagai berikut: skor >45:resiko tinggi, skor 25-44
mengalami resiko jatuh sedang, skor 0-24 mengalami resiko jatuh
rendah. Sehingga dapat disimpukan bahwa rata-rata pasien di
ruang teratai mengalami resiko jatuh tinggi yaitu sebanyak 15
orang. Untuk Kuesioner Morse Fall Scale bisa dilihat pada
lampiran.

5.4.5. Angka Kejadian Dekubitus

Pendokumentasiaan angka kejadian dekubitus telah


dilakukan dengan baik. Pada bulan Desember mulai tanggal 19
sampai 24 di ruang Teratai, angka kejadian dekubitus terdapat 0
kejadian dekubitus.

Tabel 3.30 Angka Kejadian Dekubitus

No Tanggal Kejadian Dekubitus

81
1 19 Desember 2016 0

2 20 Desember 2016 0

3 21 Desember 2016 0

4 22 Desember 2016 0

5 23 Desember 2016 0

6 24 Desember 2016 0

Menurut Depkes (2010) indikator dekubitus dapat diukur


sebagai berikut :

= jumlah kejadian dekubitus x 100 %

Jumlah pasien beresiko terjadinya dekubitus

= 0 X100%

= 0%

5.4.6. Angka Kejadian Plebitis

Pendokumentasian angka kejadian dekubitus telah dilakukan


dengan baik. Pada tanggal 19-24 Desember 2016 di ruang Teratai
angka kejadian plebitis terdapat kejadian plebitis. Menurut Depkes
(2010) indikator plebitis dapat diukur sebagai berikut

Tabel 3.31 Angka Kejadian Plebitis

No Tanggal Kejadian Plebitis

1 19 Desember 2016 6

2 20 Desember 2016 5

3 21 Desember 2016 3

4 22 Desember 2016 5

5 23 Desember 2016 6

6 24 Desember 2016 3

Menurut Depkes (2010) indikator dekubitus dapat diukur


sebagai berikut :

82
Jumlah kejadian plebitis
x
= Jumlah pasien beresiko terjadinya plebitis 100%

= 28
x
100 100%

= 28 %

83
ANALISA SWOT

STRENGTH WEAKNESS

Segi keuangan dipenuhi sesuai dengan Tingkat Kenyamanan Pasien adalah


sistem pembiayaan pasien baik JKN sebesar 74,07% (5)
Angka Kejadian plebitis selama
maupun umum (1)
BOR di Ruangan Teratai selama pengamatan 6 hari (19 Desember
pengamatan 6 hari (19 Desember sampai sampai 24 Desember 2016) di ruang
24 Desember 2016) adalah 69,3%(6) teratai ada 28% (3)
Rata-rata lamanya rawat inap di Ruang Pasien yang mengalami kecemasan
Teratai Rumah Sakit Umum Karsa Husada sebanyak 57,6%
dalam pengamatan selama 6 hari (19
Desember sampai 24 Deesmber
2016)adalah 6,75 hari (7)
Asal daerah Pasien adalah dari Kota
Malang, kabupaten Malang, Batu,
Karangploso, Ngantang (2)
Jumlah angka kejadian dekubitus selama
pengkajian selama 6 hari (19 Desember
sampai 24 Desember 2016)ada 0% (4)
Jumlah angka kejadian resiko jatuh selama
pengkajian selama 3 hari (19 Desember
sampai 21 Deesmber 2016) ada 0% (4)

OPPORTUNITY THREAT

Sumber pendapatan Ruang Teratai Menerima Terdapat Rumah Sakit Umum (RSU)
pasien umum, BPJS, dan jaminan lain seperti dan banyak rumah sakit swasta
JKN. (1) yang memiliki daya saing tinggi (1)
Mempunyai kapasitas tempat tidur klien Terdapat Rumah Sakit yang memiliki
sebanyak 24 tempat tidur, terdiri dari 13 tempat kapasitas tempat tidur yang lebih
tidur kelas III, isolasi 1 tempat tidur, 2 tempat banyak.(2)
tidur di kelas II, dan 8 tempat tidur di kelas I.
(2)
Merupakan satu-satunya rumah sakit Negeri
milik provinsi yang cukup besar di kawasan
Kota Batu

84
No Faktor Strategi Internal P K Bobot Rating Skor

Strength (Kekuatan)

1 Segi keuangan dipenuhi


sesuai dengan sistem
pembiayaan pasien baik JKN 7 4 0.2 3 0,6
maupun umum.

2 BOR di Ruangan Teratai 0.25 4 1


selama pengamatan 6 hari (19
Desember sampai 24
6 4
Desember 2016) adalah
69,3%.

3. Rata-rata lamanya rawat inap 0.175 3 0,52


di Ruang Teratai Rumah Sakit 5
Umum Karsa Husada dalam
pengamatan selama 6 hari (19 5 4

Desember sampai 24
Deesmber 2016)adalah 6,75
hari.
4. Asal daerah Pasien adalah 0.15 3 0,45
dari Kota Malang, kabupaten
Malang, Batu, Karangploso, 4 4
Ngantang.

5. Jumlah angka kejadian 0.225 4 0,9


dekubitus selama pengkajian
selama 6 hari (19 Desember 2 4
sampai 24 Desember
2016)ada 0% (4)

1 3.47
Total
5

85
No P K Ratin
Faktor Strategi Internal Bobot g Skor

Weaknesss (Kelemahan)

1 Pasien yang tidak mengalami


kecemasan sebanyak 43,4% 6 4 0,3 2 0,6

2 Tingkat Kenyamanan Pasien


adalah sebesar 60% 5 4 0.3 3 0.9

3. Tingkat Kepuasan pasien


kurang yaitu 33% 4 4 0.25 2 0.5

4. Angka Kejadian plebitis


selama pengamatan 6 hari (19
Desember sampai 24 3 4 0.15 2 0.3
Desember 2016) di ruang
teratai ada 28%

Total 1 2.3

Internal = S-W = 3,475 2.3 = 1.175 (x)

No P K Ratin
Faktor Strategi Eksternal Bobot g Skor

Opportunity (O)

1 Sumber pendapatan Ruang


Teratai Menerima pasien
umum, BPJS, dan jaminan 2 4 0,4 3 1.2
lain seperti JKN. (1)

2 Mempunyai kapasitas tempat 1 4 0,3 2 0,6


tidur klien sebanyak 24 tempat

86
tidur, terdiri dari 13 tempat
tidur kelas III, isolasi 1 tempat
tidur, 2 tempat tidur di kelas II,
dan 8 tempat tidur di kelas I.
3 Merupakan satu-satunya
rumah sakit Negeri milik 0.3 3 0.9
provinsi yang cukup besar di
kawasan Kota Batu
Total 1 2.7

No P K Ratin
Faktor Strategi Eksternal Bobot g Skor

Threat (T)

1 Terdapat Rumah Sakit Umum


(RSU) dan banyak rumah 1 4 0,5 2 1
sakit swasta yang memiliki
daya saing tinggi
2 Terdapat Rumah Sakit yang
memiliki kapasitas tempat 2 4 0,5 2 1

tidur yang lebih banyak.


Total 1 2.0

Eksternal = O T = 2.7 2.0 = 0,7 (y)

KURVA SWOT

87
(0,
7)

(1,175
)

88
3.1.2 Pengkajian Fungsi-Fungsi Manajemen Keperawatan
A. Fungsi Perencanaan
1. Visi dan Misi Organisasi
a. Visi dan Misi Rumah Sakit
Visi Rumah Sakit
Menjadi Rumah Sakit Pilihan Utama Masyarakat

Misi Rumah Sakit


a) Mewujudkan pelayanan kesehatan aman, ramah dan berkualitas.
b) Mewujudkan pelayanan unggulan respirasi paripurna.
c) Mengembangkan manajemen dan sumberdaya berbasis teknologi
informasi / iptek berwawasan wisata (hospital tourism).
d) Menyelenggarakan penelitian pengembangan, pendidikan dan
pelatihan di bidang pelayanan kesehatan.
e) Meningkatkan kesejahteraan karyawan berdasarkan
profesionalisme dan kepuasan pelanggan.
Motto Rumah Sakit
Dengan salam, sapa, senyum mengupayakan kesembuhan penderita
secara optimal, prosedural, dan bertanggung jawab.
Ruang Teratai belum mempunyai visi, misi dan motto. Berikut ini
adalah masukan visi, misi dan motto masukan dari kelompok delapan
untuk ruang teratai :

Visi

Ruangan Teratai unggul dalam pelayanan, terjangkau oleh semua,


hangat dan bersahabat

Misi :

1. Meningkatkan Pelayanan Kesehatan yang berkualitas dan


terjangkau
2. Mengoptimalkan sarana prasarana untuk menunjang pelayanan
kesehatan
3. Meningkatkan kapasitas SDM yang profesional pada bidang
tugasnya
4. Meningkatkan kinerja administrasi dan keuangan yang efektif
dan efisien.

MOTTO RUANG TERATAI

With smile, care, and cure, We are ready to give the best.

89
2. Filosofi Organisasi
Filosofi Rumah Sakit Karsa Husada Batu dalam melaksanakan
tugas dan fungsinya harus dipegang teguhagar arah organisasi tidak
dikacaukanoleh anggota organisasi yang berbeda nilai. Oleh sebab itu
dalam rangka mewujudkan Visi dan Misi Rumah Sakit Karsa Husada Batu
memiliki nilai-nilai dasar dan keyakinan yang merupakan budaya kerja
dan pegangan dan pedoman bagi Kepala Rumah Sakit dan seluruh
karyawan dalam melaksanakan tugas dan fungsinya.
Nilai-nilai yang diyakini Rumah Sakit Karsa Husada Batu sebagai
berikut :

Kami Insan Rumah Sakit, dalam memberikan pelayanan selalu


mengutamakan nilai-nilai Kejujuran, Keberanian, Profesionalisme dan
Kebersamaan.

Dengan makna sebagai berikut :

1. Kejujuran : Proses administrasi dan keuangan dilaksanakan secara


tertib dan transparan
2. Keberanian : berani dalam mengambil keputusan / tindakan dengan
selalu mengikuti peraturan peraturan dan ketentuan yang berlaku.
3. Profesional : Keyakinan terhadap tatanan dalam memberikan
pelayanan yang berlandaskan pada kaidah ilmiah dan profesi serta
tidak bertentangan dengan norma-norma yang berlaku dimasyarakat
4. Kebersamaan : Ikatan komitmen seluruh insan Rumah Sakit Karsa
Husada Batu dalam rangka mewujudkan visai dan misi organisasi

3. Tujuan Organisasi
Tujuan Rumah Sakit
1. Tujuan Umum :
Mengembangkan Rumah Sakit Umum Karsa Husada Batu
menjadi Rumah Sakit Umum dengan unggulan pelayanan prima
untuk segala jenis penyakit.

2. Tujuan khusus :
a. Menyediakan pelayanan kesehatan yang ramah, manusiawi, dan
terjangkau.

90
b. Mewujudkan pelayanan kesehatan yang memenuhi standar mutu
dan kebutuhan serta kepuasan pelangan.
c. Mengembangkan dan meningkatkan sarana dan prasarana serta
teknologi kesehatan dengan kebutuhan dan kemampuan.
d. Mengembangkan profesionalitas sumber daya manusia.
e. Meningkatkan kesejahteraan seluruh karyawan secara
berkeadilan dan bertanggungjawab.

4. Kebijakan, Prosedur, dan Peraturan Organisasi


Kebijakan, prosedur, dan peraturan terkait dengan
keperawatan saat ini masih mengikuti kebijakan, prosedur, dan
peraturan terkait dengan keperawatanrumahsakit.

5. Perencanaan Strategis
a. Rencana Strategis Rumah Sakit
Program Rumah Sakit UmumKarsa Husada Batu yang dijalankan
oleh Instalasi Rawat Inap yaitu:
1) Identifikasi pasien
Identifikasi pasien dilakukan dengan cara pemberian warna
gelang yang berbeda berdasarkan gender. Pada pasien laki-laki
menggunakan gelang berwarna biru dan perempuan
menggunakan gelang berwarna merah muda.

2) Cuci tangan
Program ini merupakan program yang dijalankan oleh Instalasi
Rawat Inap saat ini. Program ini penting dalam mengurangi
resiko infeksi pada pasien.
3) Komunikasi Situation Background Assessment Recomendation
(SBAR)
Program ini meliputi pemberian komunikasi efektif antar perawat
dan tenaga kesehatan lain.
4) Identifikasi pasien resiko jatuh, resiko dekubitus dan alergi
Program ini sudah disosialisasikan dengan pemberian gelang
khusus. Gelang sudah diproduksi namun implementasi belum
dilakukan. Pemberian tanda untuk pasien dengan resiko tinggi
dekubitus, masih belum dilakukan. Paviliun mawar telah memiliki
metode untuk screening pasien resiko tinggi ulkus dekubitus
namun masih perlu dibiasakan.

91
b. Keterlibatan Staf Keperawatan dalam Perencanan
Staf keperawatan terlibat dalam pemberian perawatan secara
langsung sesuai program yang telah direncanakan.

B. Fungsi Pengorganisasian
1 Struktur Organisasi Ruang Teratai

KORYANKEP
Ns. Sujud Priono, S. Kep, M. Kep
Administrasi
Marini
Kepala Ruangan
Indah Sulistiowati,Amd, Kep

Perawat Pelaksana Perawat Pelaksana Perawat Pelaksana Perawat Pelaksana


2 Uraian tugas
a Kepala Ruangan
Tabel 3.26 Uraian Tugas Kepala Ruang
Perawat Pelaksana Perawat Pelaksana Perawat Pelaksana Perawat Pelaksana
Tidak
Uraian Tugas Dilakukan
dilakukan
KEPALA RUANG
1 Melaksanakan fungsi perencanaan (p1) meliputi:
a Menyusun rencana kerja harian, mingguan, v
bulanan, dan tahunan.
b Menunjuk perawat primer dan tugasnya masing- v
masing.
c Mengidentifikasi tingkat ketergantungan klien v
dibantu perawat primer.
v
d Mengidentifikasi jumlah perawat yang dibutuhkan
berdasarkan aktivitas dan tingkat ketergantungan
pasien dibantu oleh perawat primer. v
e Merencanakan strategi pelaksanaan perawatan. v
f Mengikuti visite dokter untuk mengetahui kondisi,
patofisiologi, tindakan medis yang dilakukan
v
terhadap klien.
g Menjaga terwujudnya visi dan misi keperawatan dan
rumah sakit.
h Menyusun rencana kebutuhan tenaga keperawatan
dari segi jumlah maupun kualifikasi untuk ruang v
rawat, koordinasi dengan kepala perawatan/ kepala v
instalasi.
i Menyusun rencana kebutuhan fasilitas, alat, dan v
dana keperawatan. v
j Menyusun jadwal dinas. v
k Menyusun jadwal cuti. v

92
l Menyusun rencana pengembangan staf.
m Menyusun rencana kegiatan pengendalian mutu.

2 Melaksanakan fungsi penggerakan dan pelaksanaan


(p2) meliputi:
a Merumuskan metode penugasan yang digunakan. v
b Merumuskan tujuan metode penugasan. v
c Membuat rincian tugas ketua tim dan perawat
v
pelaksana secara jelas.
v
d Membuat rentang kendali.
e Mengatur dan mengendalikan tenaga keperawatan. v
f Mengatur dan mengendalikan sistem ruangan. v
v
g Menyelenggarakan konferen.
h Mengatur dan mengkoordinasikan seluruh kegiatan v
pelayanan di ruang rawat, melalui kerjasama
dengan petugas lain yang bertugas diruang
rawatnya. v
i Melaksanakan orientasi kepada tenaga
keperawatan baru/ tenaga lain yang akan kerja di
ruang rawat. v
j Memberikan orientasi kepada siswa/mahasiswa
keperawatan yang menggunakan ruang rawatnya
v
sebagai lahan praktik.
k Memberi orientasi kepada pasien/keluarganya
meliputi: penjelasan tentang peraturan rumah sakit,
tata tertib ruang rawat, fasilitas yang ada dan cara v
penggunaanya serta kegiatan rutin sehari-hari.
l Membimbing tenaga keperawatan untuk v
melaksanakan asuhan keperawatan.
m Mengadakan pertemuan berkala/sewaktu-waktu
dengan staf keperawatan dan petugas lain yang v
bertugas diruang rawatnya.
n Memberi kesempatan/ijin kepada staf keperawatan
untuk mengikuti kegiatan ilmiah/penataran dengan v
koordinasi kepala instalasi/kasi perawatan.
o Mengupayakan pengadaan peralatan dan obat-
v
obatan sesuai kebutuhan berdasarkan
ketentuan/kebijakan rumah sakit.
p Mengatur dan mengkoordinasikan pemeliharaan v
alat agar selalu dalam keadaan siap pakai.
q Mengelompokkan pasien dan mengatur
penempatannya di ruang rawat menurut tingkat v
kegawatan, infeksi/non infeksi, untuk kelancaran
pemberian asuhan keperawatan. v
r Meneliti pengisian formulir sensus harian pasien di
v
ruang rawat.
s Meneliti/memeriksa ulang pada saat penyajian
makanan pasien sesuai dengan program dietnya.
t Menyimpan berkas catatan pasien dalam masa
perawatan di ruang rawatnya dan selanjutnya v
mengembalikan berkastersebut ke bagian medical
record bila pasien keluar/pulang dari rumah sakit
tersebut. v
u Membimbing mahasiswa keperawatan yang

93
menggunakan ruang rawatnya sebagai lahan
praktik. v
v Memberikan penyuluhan kesehatan pada v
pasien/keluarga sesuai kebutuhan dasar dalam
batas wewenangnya.
w Melakukan serah terima pasien pergantian dinas.
V
x Mengatur dan mengendalikan tenaga keperawatan,
membuat daftar dinas, mengatur tenaga yang ada
setiap hari dan lain-lain.
y Mengatur dan mengendalikan sistem ruangan.
3 Melaksanakan fungsi pengawasan, pengendalian
dan penilaian (p3) meliputi:
a Mengawasi dan menilai mahasiswa keperawatan v
untuk memperoleh pengalaman belajar sesuai
tujuan program bimbingan yang telah ditentukan.
v
b Melakukan penilaian kinerja tenaga keperawatan
yang berada di bawah tanggung jawabnya dan mutu
pelayanan. v
c Memberikan pengarahan tentang penugasan
kepada ketua tim dan perawat pelaksana. v
d Memberikan pujian kepada perawat yang
mengerjakan tugas dengan baik. V
e Memberikan motivasi dalam peningkatan
pengetahuan, keterampilan, dan sikap. v
f Menginformasikan hal-hal yang dianggap penting
dan berhubungan dengan askep klien. v
g Membimbing bawahan yang mengalami kesulitan
v
dalam melaksanakan tugasnya.
v
h Meningkatkan kolaborasi.
i Melalui komunikasi, mengawasi dan berkomunikasi
langsung dengan perawatn primer mengenai v
asuhan keperawatan yang diberikan kepada klien.
j Mengobservasi pasien baru dan mengaudit v
dokumentasi asuhan keperawatan.
k Mengevaluasi upaya pelaksanaan dan
membandingkan dengan rencana keperawatan
yang telah disusun bersama.
Total 33 16
Prosentase 67 % 33 %

Berdasarkan tabel di atas diinterpretasikan kepala ruang dalam


menjalankan fungsi manajemen keperawatan dilakukan 67% sehingga
dapat dikatakan fungsi tersebut dijalankan dengan cukup baik. Sehingga
peran fungsi perlu ditingkatkan lagi sesuai dengan uraian tugasnya.
Beberapa hal yang menjadi poin penting dari uraian tugas Kepala
Ruangan diatas adalah belum optimalnya peran supervisi kepala ruangan
terhadap anggota baik secara pelaksanaan dan dokumentasi. Beberapa
contohnya adalah poin supervisi :
a Perencanaan:

94
- menyusun rencana kerja harian, mingguan, bulanan, dan tahunan,
serta membuat rentang kendali.
- Mengidentifikasi tingkat ketergantungan klien dibantu perawat
primer.
b Penggerakan dan Pelaksanaan
- Membuat rentang kendali.
- Membuat rincian tugas ketua tim dan perawat pelaksana secara
jelas.
- Meneliti/memeriksa ulang pada saat penyajian makanan pasien
sesuai dengan program dietnya.
- Mengelompokkan pasien dan mengatur penempatannya di ruang
rawat menurut tingkat kegawatan, infeksi/non infeksi, untuk
kelancaran pemberian asuhan keperawatan.
- Meneliti pengisian formulir sensus harian pasien di ruang rawat.
c Pengawasan, Pengendalian, penilaian :
- Memberikan pengarahan tentang penugasan kepada ketua tim
dan perawat pelaksana.
- Memberikan pujian kepada perawat yang mengerjakan tugas
dengan baik
- Mengaudit dokumentasi asuhan keperawatan.

b Perawat pelaksana
Tabel 3.27 Uraian Tugas Perawat Pelaksana
Tidak
Uraian Tugas Dilakukan
dilakukan
ANGGOTA TIM
a Memberikan pelayanan keperawatan secara langsung
berdasarkan proses keperawatan dengan sentuhan
kasih yaitu:
1 Menyusun rencana perawatan sesuai dengan v
masalah klien.
v
2 Melaksanakan tindakan perawatan sesuai dengan
rencana. v
3 Mengevaluasi tindakan keperawatan yang telah
diberikan. v
4 Mencatat atau melaporkan semua tindakan
perawatan dan respon klien pada catatan
perawatan.
b Melaksanakan program berikut dengan penuh tanggung
jawab: v
1 Pemberian obat. v
2 Pemeriksaan laboratorium. v
3 Persiapan klien yang akan operasi.
c Memperhatikan keseimbangan kebutuhan fisik, mental,
sosial, dan spiritual klien: v
1 Memelihara kebersihan klien dan lingkungan.
2 Mengurangi penderitaan klien dengan memberikan v
v
rasa aman, nyaman.
v

95
3 Pendekatan dan komunikasi terapeutik.
d Mempersiapkan klien secara fisik dan mental untuk
menghadapi tindakan perawatan dan pengobatan atau v
diagnosis.
e Melatih klien untuk menolong dirinya sendiri sesuai v
dengan kemampuannya.
f Memberikan pertolongan segera pada klien gawat atau
sakarotul maut. v
g Membantu kepala ruangan dalam ketatalaksanaan
ruang secara efektif: v
1 Menyiapkan data klien baru, pulang, atau v
meninggal.
2 Rujukan dan penyuluhan PKMRS. v
h Mengatur dan menyiapkan alat-alat di ruangan menurut
fungsinya supaya siap pakai. v
i Menciptakan dan memelihara kebersihan, keamanan,
kenyamanan, dan keindahan ruangan.
j Melaksanakan tugas dinas pagi/sore/malam atau hari v
libur secara bergantian sesuai dengan jadwal dinas.
k Memberikan penyuluhan kesehatan sehubungan v
dengan penyakitnya.
v
l Melaporkan segala sesuatu mengenai keadaan klien
v
baik secara lisan maupun tulisan. v
m Membuat laporan harian klien.
n Operan dengan dinas berikutnya.
o Menerima bantuan bimbingan katim/ ka shift dan
melaksanakan pendelegasian.
Total 24 1
Prosentase 96% 4%
Berdasarkan tabel di atas diinterpretasikan perawat pelaksana
dalam menjalankan fungsi manajemen keperawatan dilakukan 96%
sehingga dapat dikatakan fungsi tersebut dijalankan dengan sangat baik.
Sehingga peran fungsi perlu dipertahankan dan ditingkatkan lagi sesuai
dengan uraian tugasnya.

3 Pengorganisasian perawatan pasien


Perawatan pasien di ruang Teratai ini menggunakan metode fungsional.
Namun, pembagian tugas pp juga belum jelas. Semua dilakukan secara
situasional dan saling membantu.
4 Klasifikasi Pasien
Pengklasifikasian pasien yang dirawat di Ruang Teratai berdasarkan
kelas.

96
1. Pendokumentasian proses keperawatan
Tabel 3.28 Pendokumentasian Proses Keperawatan
2. Kode Berkas %
Aspek Yang Dinilai
1 2 3 4 5 6 7 8
A Pengkajian
1 Mencatat data yang dikaji dengan pedoman V v v V v - - v 37.5
pengkajian
2 Data dikaji sejak pasien masuk sampai V v v - - - v v 31.25
pulang
3 Masalah dirumuskan berdasarkan V - - - v - - - 12.5
kesenjangan antara status kesehatan dengan
norma dan pola fungsi kehidupan
B Diagnosa keperawatan
1 Diagnosa keperawatan berdasarkan V - v - v - - v 25
masalah yang telah dirumuskan
2 Merumuskan diagnosa keperawatan V - v - v - - v 25
actual/potensial
C Rencana tindakan
1 Berdasarkan diagnosa keperawatan V - v - v - v v 31.25
2 Disusun menurut urutan prioritas - - - - v - - - 6.25
3 Rumusan tujuan mengandung komponen - - - - v - - v 12.5
pasien/subjek perubahan, perilaku, kondisi
pasien dan atau criteria
4 Rencana tindakan mengacu pada tujuan V - - - v - - v 18.75
dengan kalimat perintah, terinci dan jelas
5 Rencana tindakan menggambarkan - - - - v - - - 6.25
keterlibatan pasien atau keluarga
6 Rencana tindakan menggambarkan V - v v v v v v 43.75
kerjasama tim kesehatan lain

97
D Tindakan
1 Tindakan dilaksanakan sesuai rencana V v v - v v - - 31.25
2 Perawat mengobservasi respon pasien V v v V v v v v 50
terhadap tindakan keperawatan
3 Revisi tindakan berdasarkan hasil evaluasi - v v - - - - v 18.75
4 Semua tindakan yang telah dilaksanakan - v v - v - v v 31.25
dicatat ringkas dan jelas
E Evaluasi
1 Perawat mengevaluasi respon pasien sesuai V - v - v - v - 25
dengan kriteria hasil yang sudah ditentukan
2 Perawat mengevaluasi respon pasien, V v v V v v v v 50
analisa masalah keperawatan dan rencana
tindak lanjut.
F Catatan asuhan keperawatan
1 Menulis pada format yang baku V v v - v - v v 37.5
2 Pencatatan dilakukan sesuai dengan V v v v - v v v 43.75
tindakan yang dilaksanakan
3 Setiap melakukan tindakan perawat V v v v - - - v 31.25
mancantumkan paraf/nama jelas dan
tanggal jam dilakukan tindakan
4 Berkas catatan keperawatan disimpan V v v v v v v v 50
sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

N Kode Berkas %
Aspek Yang Dinilai
o 9 10 11 12 13 14 15 16
A Pengkajian
1 Mencatat data yang dikaji dengan pedoman V v v v v - - v 37.5
pengkajian
2 Data dikaji sejak pasien masuk sampai V v v - - - v v 31.25
pulang

98
3 Masalah dirumuskan berdasarkan V - - - v - - - 12.5
kesenjangan antara status kesehatan dengan
norma dan pola fungsi kehidupan
B Diagnosa keperawatan
1 Diagnosa keperawatan berdasarkan V - v - v - - v 25
masalah yang telah dirumuskan
2 Merumuskan diagnosa keperawatan V - v - v - - v 25
actual/potensial
C Rencana tindakan
1 Berdasarkan diagnosa keperawatan V - v - v - v v 31.25
2 Disusun menurut urutan prioritas - - - - v - - - 6.25
3 Rumusan tujuan mengandung komponen - - - - v - - v 12.5
pasien/subjek perubahan, perilaku, kondisi
pasien dan atau criteria
4 Rencana tindakan mengacu pada tujuan V - - - v - - v 18.75
dengan kalimat perintah, terinci dan jelas
5 Rencana tindakan menggambarkan - - - - v - - - 6.25
keterlibatan pasien atau keluarga
6 Rencana tindakan menggambarkan V - v v v v v v 43.75
kerjasama tim kesehatan lain
D Tindakan
1 Tindakan dilaksanakan sesuai rencana V v v - v v - - 31.25
2 Perawat mengobservasi respon pasien V v v v v v v v 50
terhadap tindakan keperawatan
3 Revisi tindakan berdasarkan hasil evaluasi - v v - - - - v 18.75
4 Semua tindakan yang telah dilaksanakan - v v - v - v v 31.25
dicatat ringkas dan jelas
E Evaluasi
1 Perawat mengevaluasi respon pasien sesuai V - v - v - v - 25
dengan kriteria hasil yang sudah ditentukan

99
2 Perawat mengevaluasi respon pasien, V v v v v v v v 50
analisa masalah keperawatan dan rencana
tindak lanjut.
F Catatan asuhan keperawatan
1 Menulis pada format yang baku V v v - v - v v 37.5
2 Pencatatan dilakukan sesuai dengan V v v v - v v v 43.75
tindakan yang dilaksanakan
3 Setiap melakukan tindakan perawat V v v v - - - v 31.25
mancantumkan paraf/nama jelas dan
tanggal jam dilakukan tindakan
4 Berkas catatan keperawatan disimpan V v v v v v v v 50
sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

100
6. Sistem penghitungan tenaga keperawatan
Sistem penghitungan tenaga kerja dilakukan oleh kepala ruang
dengan menggunakan metode Gillies.
7. Jadwal/shift dinas
Pembuatan jadwal shift/dinas dilakukan bersama sama dengan
diskusi yang melibatkan kepala ruangan, ketua tim, dan perawat
pelaksana.
8. Ketenagaan
a. Rencana kebutuhan Tenaga
Menggunakan metode penghitungan Gillies, dijelaskan
lebih lanjut pada kebutuhan perawat.
b. Penerimaan pegawai baru
Kepala ruangan Ruang Teratai menyerahkan sepenuhnya
penerimaan pegawai baru baik itu medis maupun non medis
kepada pihak Rumah Sakit, penerimaan pegawai baru dilakukan
oleh tim yang sudah dibentuk oleh pihak rumah sakit.
c. Sistem seleksi
Ruang Teratai mempunyai persyaratan untuk pegawai
(perawat) sama dengan ruang ruang lainnya yang ada di RS
Karsa Husada Batu sesuai dengan syarat Rumah Sakit yaitu
melalui tes wawancara, tes tulis, dan skill. Setelah itu pegawai
baru harus mengikuti orientasi setelah menjalani perekrutan. Tidak
ada pelatihan khusus untuk seleksi di ruang teratai namun jika
mempunyai sertifikat atau pernah mengikuti pelatihan menjadi
pertimbangan khusus.
d. Penempatan
Untuk penempatan di ruang teratai diserahkan kepada tim
yang sudah menyeleksi, pegawai baru diorientasi terlebih dahulu
selama 2 bulan baru ditempatkan sesuai dengan kebutuhan
ruangan dan skill yang dimiliki pegawai baru tersebut. system
penempatan ini juga dipakai dalam penempatan pegawai baru di
ruang teratai.
e. Orientasi ruangan
Kepala ruangan dan perawat-perawat yang bertugas di
Ruang Teratai selalu mengorientasikan setiap karyawan baru yang
telah dipilih oleh tim penyeleksi. Orientasi diantaranya pengenalan
anggota tenaga kerja yang ada di ruangan, orientasi ruangan,
peralatan, peraturan-peraturan yang berlaku di ruangan, dll.
f. Pengembangan staff: pendidikan dan pelatihan
Masih ada kesulitan dalam ijin untuk melanjutkan
pendidikan bagi perawat - perawat yang bekerja di ruangan

101
pavilion teratai karena keterbatasan tenaga kerja.Ruangan tidak
membantu masalah finansial, namun ruangan tidak akan
mempersulit kepada perawat yang akan melanjutkan pendidikan.
Sedangkan untuk pengembangan staf berupa pelatihan,
pendelegasian perawat sebagai peserta ditentukan oleh pihak
Rumah Sakit. Selain itu, perawat bisa mengikuti pelatihan atau
seminar diluar pendelegasian oleh instalasi jika diperlukan.
g. Jenjang karier
Peningkatan jenjang karir di Ruang Teratai berdasarkan
golongan bagi perawat yang sudah PNS berdasarkan angka
kredit. Jenjang karir mengalami peningkatan setiap masa kerja
mencapai 4 tahun sekali. Sementara itu untuk pegawai swasta
tidak ada peningkatan jenjang karir

C. Fungsi Pengarahan dan Pengawasan


a. Komunikasi
Komunikasi yang diterapkan dalam ruang teratai sakit
karsa husada batu ada dua jenis komunikasi yaitu jenis
komunikasi botton-up dan up-down. Komunikasi ini diterapkan
dengan mekanisme dari kepala ruang mendengar aspirasi dan
masukan dari bawahan atau dari kepala ruang ke bawahan.
Komunikasi ini bertujuan untuk memberikan instruksi yang jelas
dan juga penyampaian kinerja yang jelas dari kepala ruang
maupun perawat lainnya. Pada ruang teratai juga diterapkan
sistem komunikasi musyawarah sebagai bentuk upaya
merumuskan masalah bersama dan menciptakan kekeluargaan
antar tenaga di ruang teratai. Berdasarkan jenis komunikasi,
instruksi yang diberikan jelas dan tepat pada tujuan. Kepala ruang
ada kalanya bertindak otoriter sebagai instruksi yang tegas
kepada perawat lainnya dan ada pula bertindak terbuka sebagai
bentuk menerima saran dan aspirasi.
Antar tenaga keperawatan diruang teratai tergabung dalam
group di media sosial. Hal ini memiliki keutungan dari
penyampaian informasi dan hambatan selama kinerja lebih cepat
dan akan bisa didiskusikan antar tenaga kesehatan yang lainnya.
Selain itu dengan adanya media sosial mempermudah dalam
proses berbagi masalah pasien terkini dan jika ada hambatan
terkait kinerja bisa di sampaikan ke petugas lain.

102
Ruang Teratai menerapkan pertemuan satu bulan sekali
sebagai bentuk perencanaan dan penyusunan program kerja dari
ruang teratai. Pertemuan yang dilakukan juga bisa seminggu 2 kali
tergantung dengan situasi dan kondisi apakah ada hal-hal yang
bersifat sangat mendesak dan perlu dilakukan penyelesaian
masalah. Kegiatan pertemuan rutin yang dilakukan satu bulan
sekali tidak mengalami hambatan karena dari pihak pimpinan
maupun staff sudah mempunyai komitmen yang jelas dan memiliki
rasa tanggung jawab terhadap profesi yang dijalaninya.
Pertemuan yang bersifat kondisional terkadang
mempunyai hambatan dari segi hal-hal yang tidak terduga. Faktor
yang biasa menjadi penghambat dalam pertemuan kondisional
adalah dari segi kesibukan perawat di ruang, adanya undangan
tertentu dan kondisi perawat yang sedang libur. Dari segi
keefektifan pertemuan yang dilakukan cukup efektif dan banyak
memberikan kontribusi terhadap kemajuan program dari rumah
sakit khususnya di ruang teratai.
Dokter setiap hari akan melakukan kunjungan rutin untuk
mengobservasi kondisi klien. Dokter memberikan resep dan terapi
untuk klien. Dokter juga akan memberikan dlegasi tindakan
kepada perawat yang bertugas. Dokter yang tidak dapat hadir
atau berhalangan untuk melakukan konsultasi kondisi klien, akan
dihubungi via telepon yang sudah tersedia di ruang perawat.
Selain via telepon, konsultasi hasil foto thorax atau USG dan
sejenisnya akan dikonsulkan dengan mengirim hasil pemeriksaan
via surat elektronik (email).
b. Motivasi
Teori Maslow Maslow dalam Reksohadiprojo dan Handoko
(1996), membagi kebutuhan manusia sebagai berikut:
i. Kebutuhan Fisiologis
Kebutuhan fisiologis merupakan hirarki kebutuhan
manusia yang paling dasar yang merupakan kebutuhan
untuk dapat hidup seperti makan,minum, perumahan,
oksigen, tidur dan sebagainya.
ii. Kebutuhan Rasa Aman
Apabila kebutuhan fisiologis relatif sudah
terpuaskan, maka muncul kebutuhan yang kedua yaitu
kebutuhan akan rasa aman. Kebutuhan akan rasa aman ini

103
meliputi keamanan akan perlindungan dari bahaya
kecelakaan kerja, jaminan akan kelangsungan
pekerjaannya dan jaminan akan hari tuanya pada saat
mereka tidak lagi bekerja.
iii. Kebutuhan Sosial
Jika kebutuhan fisiologis dan rasa aman telah
terpuaskan secara minimal, maka akan muncul kebutuhan
sosial, yaitu kebutuhan untuk persahabatan, afiliasi dana
interaksi yang lebih erat dengan orang lain. Dalam
organisasi akan berkaitan dengan kebutuhan akan adanya
kelompok kerja yang kompak, supervisi yang baik, rekreasi
bersama dan sebagainya.
iv. Kebutuhan Penghargaan
Kebutuhan ini meliputi kebutuhan keinginan untuk
dihormati, dihargai atas prestasi seseorang, pengakuan
atas kemampuan dan keahlian seseorang serta efektifitas
kerja seseorang.
v. Kebutuhan Aktualisasi diri
Aktualisasi diri merupakan hirarki kebutuhan dari
Maslow yang paling tinggi. Aktualisasi diri berkaitan
dengan proses pengembangan potensi yang
sesungguhnya dari seseorang. Kebutuhan untuk
menunjukkan kemampuan, keahlian dan potensi yang
dimiliki seseorang. Malahan kebutuhan akan aktualisasi
diri ada kecenderungan potensinya yang meningkat karena
orang mengaktualisasikan perilakunya. Seseorang yang
didominasi oleh kebutuhan akan aktualisasi diri senang
akan tugas-tugas yang menantang kemampuan dan
keahliannya.
Teori Maslow mengasumsikan bahwa orang berkuasa
memenuhi kebutuhan yang lebih pokok (fisiologis) sebelum
mengarahkan perilaku memenuhi kebutuhan yang lebih tinggi
(perwujudan diri). Kebutuhan yang lebih rendah harus dipenuhi
terlebih dahulu sebelum kebutuhan yang lebih tinggi seperti
perwujudan diri mulai mengembalikan perilaku seseorang. Hal
yang penting dalam pemikiran Maslow ini bahwa kebutuhan yang
telah dipenuhi memberi motivasi. Apabila seseorang memutuskan
bahwa ia menerima uang yang cukup untuk pekerjaan dari

104
organisasi tempat ia bekerja, maka uang tidak mempunyai daya
intensitasnya lagi. Jadi bila suatu kebutuhan mencapai
puncaknya, kebutuhan itu akan berhenti menjadi motivasi utama
dari perilaku. Kemudian kebutuhan kedua mendominasi, tetapi
walaupun kebutuhan telah terpuaskan, kebutuhan itu masih
mempengaruhi perilaku hanya intensitasnya yang lebih kecil.
Cara motivasi yang dilakukan di ruang teratai adalah
memberikan kesempatan bagi para perawat dengan mengikuti
pelatihan dan juga adanya peningkatan di bidang alih jenjang
yang di anjurkan kepada perawat yang bekerja di ruang teratai
untuk meningkatkan kualitas dan profesionalitas kerja.
Saat ini sistem pemberian reward belum berjalan,
dikarenakan belum ada agenda atau perencanaan. Pemberian
reward dipandang menjadi salah satu upaya peningkatan kinerja
perawat dalam dunia kerja. Tertundanya pelaksanaan pemberian
reward pada klien dikarenakan tidak ada penanggungjawab dan
monitoring untuk kategori reward yang diberikan.
Sistem punishment yang diterapkan di ruang teratai
mempunyai tahap-tahap tertentu. Pada fase pertama ada tahap
teguran yang dilakukan kepada perawat yang melakukan kesalah.
Tahap selanjutnya ada pembuatan surat pernyataan yang ditolerir
sampai 3 kali. Tahap selanjutnya bisa dilakukan pemberhentian
kerja bagi tenaga honorer, dan adanya laporan ke dinas terkait
bagi tenaga yang sudah pegawai negeri sipil.
Pemberian punishment dilakukan sebagai upaya
menciptakan rasa tanggung jawab dan peningkatan kualitas
sebagai profesional keperawatan. Setiap tindakan salah yang
dilakukan oleh perawat akan merusak citra dari rumah sakit
sehingga akan mengurangi tingkat kepuasan dari klien. Hal ini
yang melatar belakangi di ruang kemuning selalu memberikan
aturan yang jelas dan tegas terhadap kinerja setiap tenaga
kesehatan.
c. Supervisi
Kepala ruangan memiliki jadwal kerja, 5 hari kerja dan jika
tidak ada halangan hadir di rumah sakit kepala ruangan akan
langsung masuk dalam proses perawatan langsung ke pasien.

105
Kepala ruangan tidak memiliki jadwal khusus untuk melakukan
supervisi kepada stafnya dan tidak memiliki check list supervisi.
d. Pendelegasian
Kepala ruangan akan melakukan pendelegasian kepada
perawat yang memiliki kompetensi memimpin dan mampu
mengganti sementara posisi kepala ruangan yang berhalagan
hadir. Prosedur pendelegasian tugas karu jika berhalangan, akan
diserahkan kepada ketua tim tiap ruangan. Pendelegasian akan
dilakukan sehari sebelum hari H, sehingga ketua tim yang
mendapat pendelegasian sudah siap sesuai peran dan tugas
pendelegasiannya.
e. Mekanisme penyelesaian masalah
Konflik yang terjadi di Ruang Teratai bersifat accidental
dan secara kekeluargaan. Apabila ada kasus dan masalah
diselesaikan secara internal, namun jika masalah tidak dapat
diselesaikan dapat berkonsultasi dengan Ka. Instalasi Rawat Inap.
Kepala Ruang menggunakan teknik penyelesaian konflik secara
kompromi atau negosiasi secara bersama-sama.

D. Fungsi Pengendalian
a. Penampilan Kinerja
Penilaian kinerja perawat di ruang Teratai dilakukan dengan
rutin tiap semester. Ini dilakukan dengan tujuan agar kualitas
kinerja para perawat terjaga dan tetap berada di atas rata-rata
sehingga dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap
pelayanan yang diberikan. Instrumen yang digunakan untuk
penilaian kinerja perawat adalah format instrumen yang sudah
tersedia di rumah sakit yaitu berupa lembar observasi yang
meliputi penilaian intelektual, kognitif, afektif dan psikomotor.
Penilaian dilakukan secara menyeluruh agar menjaga kualitas dan
profesionalisme kerja.
Hasil penilaian kinerja perawat di ruang Teratai bersinergis
dengan program yang dirancang oleh manajemen rumah sakit.
Rumah sakit selalu melakukan follow-up terkait dengan upaya
peningkatan kualitas dan profesionalisme kerja para perawatnya.
Selama semester ini diperoleh hasil penilaian kinerja perawat
berada pada kategori diatas rata-rata atau dikatakan diatas 75%.
Ruang teratai menerapkan sistem yang tegas dan disiplin dimana

106
bila ada perawat yang yang melakukan pelanggaran akan ditindak
lanjuti dengan pemberian surat peringatan pertama. Bila masih
melakukan pelanggaran lagi, akan diberikan surat peringatan yang
kedua. Pemberian surat peringatan ini diiringi dengan pemberian
pembinaan pada perawat tersebut. Namun bila setelah pemberian
pembinaan tidak ada perubahan, perawat akan diberhentikan dari
pekerjaannya. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan atau tetap
menjaga profesionalisme kinerja para perawat di ruang kemuning.
Selama semester ini didapatkan bahwa tidak ada perawat yang
dikeluarkan. Hal ini menandakan perawat di ruang teratai tetap
menjunjung tinggi profesionalisme kinerjanya.

b. Pengendalian Mutu
a. Kegiatan Pengendalian Mutu
Kegiatan pengendalian mutu sangat menjadi perhatian di
ruang teratai. Dalam penilaian pengandalian mutu di ruang
teratai dilakukan oleh tim khusus yang berkoordinasi langsung
dengan komite pengendalian mutu. Ini merupakan salah satu
kegiatan yang rutin dilakukan mengingat tingkat kepercayaan
masyarakat terhadap pelayanan kesehatan sangat
dipengaruhi oleh mutu pelayanan yang diberikan oleh rumah
sakit. Sehingga ruang kemuning dan ruang dahlia yang
merupakan bagian dari Rumah Sakit Karsa HusadaBatu juga
sangat menyadari pentingnya menjaga mutu pelayanan.
Berbagai program untuk pengendalian mutu telah
dijalankan secara maksimal. Program yang dijalankan
diantaranya presentasi kasus, in house training, dan
pelatihan-pelatihan yang dapat meningkatkan kemampuan
perawat. Presentasi kasus merupakan kegiatan yang secara
rutin dilakukan setiap bulan pada minggu kedua. Sehingga
kegiatan ini menjadi salah satu kegiatan dimana seluruh
perawat maupun tenaga kesehatan lain dapat sharing
informasi tentang berbagai kasus yang ada di ruang kemuning
dan ruang dahlia. Ruang kemuning dan ruang dahlia juga rutin
mengikuti kegiatan pelatihan yang diadakan melalui kerja
sama rumah sakit dengan Event Organiser yang memberikan

107
program pelatihan untuk peningkatan profesionalisme kerja
perawat. Ruang Teratai juga mengirimkan perawat pilihan
yang diberi tugas untuk mengikuti pelatihan sebagai
perwakilan.
b. Indikator Mutu Pelayanan
1) Tingkat Kecemasan Pasien
Dalam mengukur tingkat kecemasan pasien, ruang
Teratai Rumah Sakit Karsa Husada Batu belum memiliki
form indikator yang baku sebagai acuan yaitu
menggunakan Zung Self-Rating Anxiety
Scale(SAS/SRAS). Sehingga dalam mengkaji tingkat
kecemasan pasien, perawat hanya mengobservasi
keadaan pasien karena masuk dalam tindakan intervensi.
Oleh sebab itu kelompok mengkaji tingkat kecemasan
pasien di ruang Teratai dengan menggunakan skala Zung
Self-Rating Anxiety Scale(SAS/SRAS) yang telah
dilampirkan. Terdapat 20 pernyataan yang diisi pasien
untuk menilai tingkat kecemasan pasien (instrumen
terlampir). Penilaian tingkat kecemasan pasien sebaiknya
dilakukan setiap hari, akan tetapi di rumah sakit tidak
pernah dilakukan penilaian tingkat kecemasan pasien
secara berkala.

2) Tingkat Kepuasan Pasien


Tingkat kepercayaan masyarakat sangat
dibutuhkan oleh rumah sakit sebagai evaluasi dan
pengembangan program kerja dan manajemen
pengelolaan rumah sakit. Dengan manajemen yang bagus
akan menjadi salah satu faktor rumah sakit dalam
memberikan pelayanan prima bagi pasien. Pada era
sekarang masyarakat bebas menilai dan memberikan
kritik terhadap kualitas pelayanan yang diterimanya. Oleh
karena itu dengan meningkatkan kualitas pelayanan akan
meningkatkan citra dari rumah sakit sehingga akan
menjadi layanan kesehatan yang dipercaya masyarakat
dan menjadi salah satu bentuk upaya kuratif yang
terpercaya.

108
Rumah Sakit Karsa Husada menerapkan
pelayanan dengan mengedepankan kualitas layanan oleh
tenaga kesehatan. Setiap pasien yang akan pulang
diberikan form Taylor Manifest Anxiety Scale (T-MAS)
untuk mengkaji tingkat kepuasan pasien dimana dalam
form tersebut di kaji beberapa aspek yang menjelaskan
tingkat kepuasan terhadap layanan rumah sakit dan
tingkat profesionalitas dari tenaga kesehatan. Ada 14 poin
yang menjadi item dalam menilai tingkat kepuasan pasien
terhadap layanan di Ruang Teratai.

3) Tingkat Kenyamanan klien


Skala nyeri yang di alami oleh klien sangat
dibutuhkan oleh rumah sakit sebagai evaluasi untuk
keberlanjutan intervensi yang akan di lanjutkan. Dengan
adanya skala nyeri klien rumah sakit dapat mengetahui
sejauh mana keberhasilan intervensi yang telah di berikan.
Oleh karena itu karena itu dengan adanya evaluasi skala
nyeri tersebut. Perawat dapat melakukan perencanaan
kembali pada intervensi yang dilakukan untuk mencapai
tujuan peningkatan kesehatan bagi klien ruang Teratai.
Kelompok mengkaji skala nyeri pada klien di ruang
Teratai dengan menggunakan Wong Baker Scale.
Terdapat 10 tingkat nyeri pada instrumen, dengan nilai 1
merupakan nilai nyeri sangat ringan dan nilai 10
merupakan nilai nyeri yang tidak dapat di ungkapkan.
pernyataan yang diisi pasien untuk menilai skala nyeri
klien.

4) Tingkat Resiko Jatuh Klien


Dalam mengukur kemampuan klien dalam
pergerakan, ruang Teratai dahlia Rumah Sakit Karsa
Husada menggunakan MORSE FALL SCALE yang telah
dilampirkan. Terdapat 6 pernyataan yang diisi pasien untuk
menilai kemampuan pergerakan klien.

5) Angka Kejadian Dekubitus

109
Dekubitus adalah istilah yang digunakan untuk
menggambarkan gangguan integritas kulit. Terjadi akibat
tekanan, gesekan dan/atau kombinasi di daerah kulit dan
jaringan di bawahnya (Nursalam, 2012). Untuk mengukur
Angka Kejadian Dekubitus ruangan belum memiliki form
baku. Sehingga kelompok mengukur angka kejadian
dekubitus menggunakan Norton Scale yang telah
dilampirkan.

6) Angka Kejadian Plebitis


Dalam mengukur Angka Kejadian Plebitis Ruangan
Tidak memiliki form khusus tetapi ruangan menggunakan
Stiker Penilaian yang berisikan score visual plebitis (V.I.P
Score) untuk mengukur jumlah pasien yang beresiko
plebitis mulai dari grade 0 sampai dengan grade 5. Untuk
Contoh Stiker Penilaian Plebitis yang dijadikan acuan
pada ruang Teratai bisa dilihat pada lampiran.

1. Pengembangan Standar Asuhan Keperawatan Dan


Kinerja
Ruang Teratai mempunyai beberapa rencana untuk
melakukan pengembangan standard asuhan
keperawatan dan kinerja untuk lebih meningkatan
kualitas pelayanan keperawatan yang optimal. Salah
satu pengembangan standard asuhan keperawatan
yang akan dilakukan ialah akan menggunakan acuan
asuhan keperawatan dengan Nanda, NIC, dan NOC,
karena di ruang kemuning belum menggunakan
standard acuan asuhan keperawatan tersebut. Selama
ini dalam memberi asuhan keperawatan kepada
pasien, ruang Teratai menggunakan Standard
Operasional Prosedure (SOP) Pelayanan
Keperawatan Rumah Sakit Karsa HusadaBatu sebagai
pedoman serta tolak ukur mutu pelayanan yang
diberikan sehingga seluruh staf keperawatan harus
melaksakan pelayanan sesuai standard yang telah
diterapkan. Ruang Teratai sedang dalam proses dalam

110
mengembangkan standard asuhan keperawatan
dengan menggunakan acuan Nanda, NIC, dan NOC,
namun dibutuhkan sosialisasi kepada perawat senior
untuk mengubah paradigma mengenai tindakan
asuhan keperawatan yang sesuai Nanda, NIC, dan
NOC.
Sedangkan dalam pengembangan standard
asuhan kinerja perawat yang dilakukan di ruang Teratai
adalah dengan memberikan kesempatan bagi para
perawat untuk mengikuti pelatihan, in house training,
serta program-program peningkatan kualitas kerja
lainnya. Ruang Teratai juga mengupayakan adanya
peningkatan pendidikan di bidang alih jenjang yang di
anjurkan kepada perawat yang bekerja di ruang Teratai
untuk meningkatkan kualitas dan profesionalitas kerja.
Selain itu ruang Teratai juga sedang mengusahakan
dalam pemberian reward kepada perawatyang
dipandang menjadi salah satu upaya peningkatan
kinerja perawat dalam dunia kerja.

BAB IV

PRIORITAS MASALAH, ALTERNATIF PENYELESAIAN MASALAH DAN POA


PENYELESAIAN MASALAH

111
Setelah dilaksanakan pengkajian selama enam hari (19-24 Desember
2016), didapatkan beberapa permasalahan di ruang Teratai, untuk
menyelesaikan masalah tersebut maka perlu ditentukan prioritas masalah dan
Plan Of Action dari tiap-tiap masalah yang diangkat..

4.1 Penentuan Prioritas Masalah


Teknik prioritas masalah yang digunakan di sini adalah teknik kriteria
matriks (criteria matrix technique), yaitu teknik pemungutan suara dengan
menggunakan kriteria tertentu. Secara sederhana dapat dibedakan atas 5
macam yaitu:
1. Magnitude : Berapa banyak populasi yang terkena masalah (Mg)
2. Severity : Besarnya kerugian yang timbul (Sv)
3. Manageability : Bisa diselesaikan (Mn)
4. Nursing concern :Menunjukkan sejauh mana masalah tersebut
menjadiconcern perawat (Nc)
5. Affordability : Menunjukan ada tidaknya sumber dayayang
tersedia (Af)

No Masalah Mg Sv Mn Nc Af Total Prioritas


1 Masih terdapat beberapa alat keperawatan 2 3 4 3 2 144 VII
yang rusak seperti alat tensi dan ambubag
2 Masih kurangnya alat-alat medis dan non 4 4 4 3 4 768 I
medis seperti oksimetri, gerusan obat, dan
penomoran bed pasien
3 Masih kurangnya jumlah tempat sampah 4 3 4 2 4 384 II
medis di ruang teratai
4 Berdasarkan perhitungan rata-rata 5 4 1 5 2 200 V
kebutuhan tenaga perawat per hari
adalah 17 perawat, sedangkan jumlah
perawat yang ada di ruangan hanya 9
pp
5 Pendokumentasian/pencatatan rekam 3 4 3 2 3 216 IV
medis pasien belum terisi dengan baik
atau kurang lengkap
6 Tidak dilakukannya pre dan post 2 2 3 2 3 240 III
conference sesuai SOP
7 Angka kejadian phlebitis selama 3 2 3 3 2 162 VI
pengamatan 6 hari di ruang teratai ada

112
28%
Keterangan :
5 = sangat penting
4 = penting
3 = kurang penting
2 = tidak penting
1 = sangat tidak penting

4.2 Alternatif Penyelesaian Masalah


Pemecahan masalah dilakukan dengan memperhatikan aspek :
1. Besarnya masalah yang diselesaikan (Magnitude = Mg)
2. Pentingnya cara penyelesaian masalah (Importancy = I)
3. Sensitivitas penyelesaian masalah (Vulnerability = V)
4. Efisiensi biaya (Cost = C)

No. Alternatif Penyelesaian Masalah Efektifitas Efisiens Total Prioritas


i
M I V C MxIxV/
C
1. Mengusulkan pengadaan alat yang 5 4 4 1 80 1
kurang
2. melakukan penambahan sampah medis 5 4 4 2 40 2
sesuai standar kebutuhan ruangan
Melakukan sosialisasi penggunaan 5 4 3 1 60 1
sampah medis dan non medis kepada
pasien
3. Menanyakan kepada perawat di ruangan 5 4 4 1 80 1
alas an kenapa tidak dilakukan pre dan
post conf

Sosialisasi Masalah 5 4 3 1 60 2
Menjelaskan Kepada Perawat 5 4 3 1 60 3
Pentingnya Melakukan Pre dan Post
Conference
4. Membuat SOP tindakan untuk Pre dan 4 5 4 1 80 1
Post Conference Pasien
Membuat SOP timbang terima pasien 4 3 4 1 48 2

Melakukan Sosialisasi SOP Pre dan Post 4 4 3 2 24 3


Conference dan timbang terima kepada
perawat di ruang Teratai

Penerapan SOP Kegiatan pre dan Post 5 4 3 3 20 4


Conference dan kepada perawat di
ruang Teratai

113
Melakukan Evaluasi Tindakan Pre-post 2 4 4 2 16 5
conference dan timbang terima pasien di
Ruang Teratai setelah dilakukan
pelatihan selama 1 minggu
5. Mengatur Pembagian shift sesuai 3 4 3 1 36 3
dengan metode Penugasan

Pembuatan form kejadian plebitis 4 5 2 1 40 2

Mengobservasi bagian tempat 5 4 3 1 60 1


pemasangan infus pada pasien yang
terpasang infus
6. Menjelaskan Kepada perawat 4 4 4 1 84 1
pentingnya mengisi rekam medis dengan
baik dan lengkap
Melengkapi kebutuhan form dokumentasi 5 4 3 1 60 2
untuk melengkapi dokumentasi pasien
per hari
Melakukan latihan kepada perawat di 5 4 4 2 40 3
Ruang teratai agar agar perawat mampu
mengisi rekam medis secara lengkap
Mengevaluasi tindakan yang telah 3 4 3 2 16 4
dilakukan
Keterangan :

5=Sangat bisa/Sangat bersedia


4=Bisa/Tersedia
3=Cukup
2=Sangat Kurang
1=Sangat Kurang

4.3 Tujuan Alternatif Penyelesaian Masalah

No. Masalah Tujuan Alternatif

114
1. Pre dan post - Pre dan Post Conference 1. Membuat SOP pre-
conference dilakukan secara rutin di post conference dan
tidak pernah Ruang teratai dan timbang terima
dilakukan serta berdasarkan SOP 2. Sosialisasi SOP pre-
Tidak ada SOP post conference dan
pre post tibang terima
conference dan 3. Role play
timbang terima pelaksanaan SOP
pre-post conference
dan timbang terima
4. Monitoring dan
evaluasi

.2. Adanya alat Adanya perbaikan alat atau 1. Melakukan


yang rusak penggantian dengan alat yang pengadaan alat
seperti tensi baru
meter dan
ambubag
3. Pendokumentas Pendokumentasian di ruang 1. Sosialisasi
ian / pencatatan Teratai dapat diisi dengan pentingnya mengisi
rekam medis lengkap rekam medis dengan
pasien belum baik dan lengkap
terisi dengan 2. Meningkatkan fungsi
baik atau supervisi karu
kurang lengkap 3. sosialisasi MAKP
metode tim
modifikasi di ruangan

4. Kurangnya Adanya penambahan sampah 1. dilakukan pengadaan


penyediaan sesuai dengan kebutuhan sampah medis dan
sampah medis ruangan non medis
dan non medis 2. dilakukan sosialisasi
tentang kegunaan
sampah medis dan
non medis kepada
pasien

115
5. Angka kejadian angka kejadian phlebitis 1. pembuatan form
phlebitis masih menurun menjadi 10-20 % kejadian phlebitis
ckup tinggi 2. mengatur shift
yaitu sebesar sesuai penugasan
28% 3. melakukan
observasi pada
pasien yang
terpasang infus

116
117
118